KLASIFIKASI HADITS

Document Sample
KLASIFIKASI HADITS Powered By Docstoc
					KLASIFIKASI HADITS MENURUT AL-HAKIM : Dalam
                   Aspek Kualitas dan Kuantitas Rawi


                                   MUQODDIMAH


       Satu hal yang jelas adalah bahwa kaum muslimin sangat mementigkan
Kitabullah   (Al-Qur‟an).       Mereka   menjaganya,    mengkajinya,     membacanya,
memahaminya, dan menafsirkannya. Para Ahli Hadits sependapat bahwa sepantasnya
orang yang akan mempelajari Hadits adalah orang yang telah hafal Al-Qur‟an
seluruhnya atau sebagiannya. Sungguhpun mereka (orang yang ingin belajar Hadits)
meredih ingin    diriwayatkan Hadits oleh Para Ahli Hadits, mereka tidak akan
diterimanya sebelum memahami dan hafal Al-Qur‟an seluruhnya atau sebagiannya. Ini
dimaksudkan Al-Qur‟an yang menjadi pedoman hidup ummat Islam merupakan induk
bagi Hadits, dan Hadits sebagai penjelasan bagi Al-Qur‟an. Sehinnga sampai sejauh
ujung timur pun orang mempelajari Hadits tanpa memahami dulu isi Al-Qur‟an atau
menghafalnya, pasti sulit dipelajarinya, dan serasa hampa dalam mengamalkannya.
       Begitu besar pengaruh Hadits dalam pengambilan hokum yang dilakukan oleh
para ulama, sehingga memposisikan Hadits dalam urutan kedua setelah Al-Qur‟an
dalam Istimbatul Hukum. Para Ulama menggambarkan Hadits sebagai penjelasan yang
memberikan penerangan ketika sedang menggali isi dan makna kandungan Al-Qur‟an
yang memang sulit dipahaminya. Oleh karenanya, Para Ulama menjadi semakin mudah
dalam menentukan hukum sekalipun waktu terus berjalan dan kondisi terus berupah
dengan keadaan yang variatif.
       Al-Hakim menetapkan status Hadits secara tersendiri sesuai dengan sudut
pandang ulama yang menjadi gurunya. Pada dasarnya acuan untuk menentukan status
Hadits mengacu pada Kitab Ma‟rifah Ulum al-Hadits dan al-Madkhal ila Kitab al-Ikil.
Al-Madkhal dikutipnya untuk mengupas tentang status Hadits dilihat dari Kualitas rawi,
sedangkan Kitab Ma‟rifah lebih ditekankan pada aspek kuantitas rawi dan istilah-istilah
teknis yang berkaitan dengan sanad dan matan.
       Adapun yang dimaksud dengan klasifikasi disini adalah derajat atau tingkatan
yang digunakan al-Hakim dalam mengkategorikan Hadits dilihat dari aspek kualitas dan
kuantitas rawi. Dengan penelitian kedua aspek ini, upaya pembuktian shahih suatu
Hadits lebih dapat dipertanggungjawabkan. Ketika orang membicarkan Hadits yang
tidak mutawathir, maka saat itulah telaah Hadits dilihat dari kuantitas rawi sangat
diperlukan. Telaah Hadits dari aspek kualitas rawi juga sangat diperlukan, karena
menjadi salah satu bagian dari tujuan penentuan klasifikasi Hadits.


A. HADITS DILIHAT DARI ASPEK KUANTITAS RAWI


       Dalam aspek kuantitas rawi, Al-Hakim membagi Hadits ke dalam empat bagian
: 1. Mutawathir ; 2. Hadits Masyhur ; 3. Hadits Gharib ; 4. Hadits Afrad dan Fard


1. Mutawathir
       Dalam mengkategorikan Hadits-hadits yang dimasukkan ke bagian Hadits
Mutawathir, Al-Hakim kurang begitu rapi dan sistematis dalam penyusunannya, karena
secara idealis, Al-Hakim dalam mendefinisikan Hadits Mutawathir kurang begitu
eksplisit, Al-Hakim hanya menunjuk Hadits tertentu yang dianggap Mutawathir.
       Sekalipun Al-Hakim kurang definitive dalam memberikan pengertian dari
Hadits Mutawathir, ada beberapa ulama yang secara definitive mengemukakan konsep
pengertian Hadits Mutawathir, diantaranya :


   1. al-Baghdadi
       Hadits Mutawathir adalah suatu Hadits yang diriwayatkan oleh sekelompok
       orang dengan jumlah tertentu yang menurut kebiasaan mustahil mendustakan
       kesaksiannya.


   2. Ibn Shalah
       Hadits Mutawathir adalah “suatu ungkapan tentang berita yang diriwayatkan
       oleh orang yang memperoleh pengetahuan, yan kebenarannya dipastikan dan
       sanadnya konsisten memenuhi persyaratan tersebut dari awal sanad sampai
       akhir”.Ibn Shalah termasuk Ulama Hadits yang menganggap Hadits Mutawathir
       termasuk bagian dari Hadits Mansyur.
   3. al-Asqalani
       Hadits Mutawathir adalah “Hadits yang diriwayatkan oleh sejumlah orang yang
       mustahil, menurut kebiasaan, mereka melakukan kesepakatan untuk berdusta
       dan merekalah yang meriwayatkan Hadits itu dari awal sampai akhir (sanad)”.
       Menurutnya bahwa proses konsep Mutawathir ada dan berjalan secara gradual
       dari generasi ulama ke generasi ulama yang lain.


   4. al-Hibban
       adalah ulama yang meniolak terhadap adanya Hadits Mutawathir, baginya ada
       pendapat controversial yaitu mengenai kewajiban mengamalkan Hadits Ahad.
       Tapi banyak ulama Hadits yang menentang pendapatnya itu, karena secara
       definitive Hadits kata para ulama Hadits bahwa Hadits Ahad adalah Zhanni
       bukan Qoth‟i. al-Hibban mengatakan demikian, karena pada situasi zamannya,
       yang sedang berkembang faham rasional Mu‟tazilah dan faham filusuf-filusuf
       yang hanya mengakui Hadits Mutawathir saja. Sedangkan Hadits Mutawathir
       sendiri jumlahnya sangat sedikit, sehingga hampa dalam beribadah.


       Hadits Mutawathir itu sendiri terbagi ke dalam dua bagian : Hadits Mutawathir
Lafdzi ; dan Hadits Mutawathir Ma‟nawi. - Hadits Mutawathir Lafdzi adalah Hadits
yang lafal-lafalnya bersamaan atau redaksinya sama. - Sementara Hadits Mutawathir
Ma‟nawi adalah Hadits yang diriwayatkan oleh sekelompok orang yang mustahil
bersepakat untuk mendustakan Nabi terhadap riwayat yang bermacam-macam, tetapi
menunjukan kesamaan peristiwa.


2. Hadits Masyhur
       Al-Hakim membagi Masyhur ke dalam dua bagian, yaitu yang Shahih dan yang
tidak Shahih. Ada beberapa konsep yang menjadi dasar al-Hakim dalam menetukan
Hadits-hadits yang ditelaahnya unuk dimasukkan ke dalam Hadits yang termasuk
kategori Shahih :
       1. Hadits yang Masyhur itu sendiri ada yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan
           Muslim dan ada pula yang tidak.
       2. Hadits Masyhur ada yang diketahui oleh para ahli Hadits dan ada pula yang
           diketahui oleh banyak orang.
           Dari definisi di atas, terkadang ada Hadits yang dinyatakan al-Hakim adalah
           Masyhur, tapi Hadits tersebut tidak tercantum dalam kitab Shahih. Dan ada
           pula Hadits yang dinyatakan tidak Shahih tetapi tercantum dalam kitab
           Hadits Shahih. Seperti Hadits yang menerangkan : “batalnya orang yang
           dibekam dan yang membekam” dan Hadits yang menerangkan “Allah sangat
           terkesan terhadap orang yang memelihara Hadits”. Hadits ini tidak
           tercantum dalam kitab Hadits Shahih, tapi menurut al-Hakim hadits tersebut
           adalah Shahih.
           Dari sini dapat ditanggapi, bahwa al-Hakim terlihat tidak teliti dalam
           menyeleksi Hadits untuk dijadikan contoh Hadits Masyhur. Tetapi kemudian
           muncul pertanyaan, Kitab Shahih yang mana yang layak dan digunakan al-
           Hakim dalam menyeleksi Hadits Shahih ? atau al-Hakim sendiri lupa atau
           keliru dalam menunjuk Hadits-Hadits Shahih.


     3.    Al-hakim sendiri juga menganggap beberapa Hadits yang panjang yang tidak
           ada dalam kitab Shahih sebagai Hadits Masyhur. Seperti Hadits tentang :
           “Al-Tayr (burung yang dihidangkan kepada „Ali), Syura (kesepakatan),
           Tsaqifah Bani Sa‟idah, Utsman dan lain-lain”.


     4.    Dalam konsep al-Hakim, ada juga Hadits yang diketahui oleh ahl al-Shun‟ah
           dan dianggapnya sebagai Hadits Masyhur. Seperti Hadits tentang qunut
           Rasul yang dilakukan aesudah ruku‟ selama sebulan kepada kaum Ri’il dan
           Dzakwan.


          Dari keterangan diatas diteragkan bahwa secara tekstual definisi Hadits
Masyhur menurut al-Hakim adalah Hadits yang diriwayatkan oleh orang banyak. Hanya
al-Hakim tidak menjelaskan berapa jumlah banyak itu ? tapi kalau mengacu pada
gramatika bahasa Arab, yang berarti jamak, mempunyai makna : lebih dari dua. Alhasil
maksud al-Hakim dengan Hadits Masyhur disini adalah riwayat yang diketahui oleh
orang banyak atau riwayat yang diketahui oleh lebih dari dua orang.
       Tetapi ada ulama Hadits yang mendefinisikan Hadits Masyhur yang lebih
dimengerti, yaitu pendapatnya Imam al-Asqalani. Ia mengemukakan bahwa definisi
Hadits Masyhur adalah Hadits yang mempunyai jalan yang banyak dan lebih dari dua.
Menurutnya Hadits Masyhur termasuk bagian dari Hadits Ahad, atau sering juga disebut
Hadits Mustafidl (menurut istilah para Fuqaha).


3. Hadits Gharib
       Al-Hakim membagi Hadits Gharib menjadi tiga bagian, yaitu Gharib Shahih,
Gharib al-Syuyukh, dan Gharib al-Mutun. Contoh Gharib Shahih adalah Hadits yang
menerangkan bahwa Rasulullah SAW mengganjal perutnya dengan batu untuk menahan
lapar. Contoh Gharib al-Syuyukh adalah Hadits yang menerangkan “larangan Nabi
terhadap pedagang di kota langsung menjual barang ke desa”. Sedangkan contoh
Gharib al-Mutun adalah Hadits yang menerangkan “kekuasaan yang akan dipegang „Ali
Bin Abi Thalib”.
       Al-Hakim menyatakan bahwa Gharib juga adalah Tafaru., artinya terkadang al-
Hakim memposisikan Gharib sama dengan Tafarud. Ini karena al-Hakim sering
menyebut Gharib yang ditumpang tindih dengan menyebut Tafarud. Al-Hakim
mengakui bahwa yang dinamakan Hadits Gharib          adlah Hadits yang diriwayatkan
secara menyendiri. Munsil pertanyaan : bagaimana dengan Hadits Gharib al-Syuyukh
yang merupakan bagian dari Hadits Gharib ?
       Ibn Shalah mengidentifikan Hadits Gharib tanpa adanya Hadits yang lafalnya
dilansir sendiri. Maksudnya, bahwa Hadits tidak boleh dibuat oleh sendiri demi menjaga
pemaknaan hadits tersebut. Begitu pula dengan perubahan lafal dari Hadits yang sudah
ada.
       Sedangkan al-Asqalani menbagi Hadits Gharib ke dalam dua bagian, yaitu
Gharib Muthlaq (Hadits yang diriwayatkan oleh seorang rawi saja pada setiap
generasi), dan Hadits Gharib Nisby (apabila ke-Garib-an itu terjadi pada salah satu
generasi rawi).
       Para Ulama sependapat, bahwa inti dari Hadits Gharib adalah Hadits yang pada
riwayatnya hanya ada seorang rawi sajapada tingkat maupun terjadinya.
4. Hadits Afrad atau Fard
       Sekalipun al-Hakim memposisikan Hadits Gharib dan Hadits Fard sama
mengenai riwayat yang menyendiri, tapi al-Hakim dalam Hadits Gharib lebih ditekan
kan pada kepada sekelompok orang yang berada di kota tertentu yang menerima Hadits
tersebut dari seorang Sahabat; lalu diterima pula dari seorang ulama terkenal dan Hadits
yang diterima yang dari penduduk kota tertentu dari penduduk kota lain. Ibn shalah
mengemukakan hak yang sama dengan apa yang diungkapkan oleh al-Hakim mengenai
Hadits fard.


B. HADITS DILIHAT DARI ASPEK KUALITAS RAWI


       Al-Hakim sering menyebut Hadits Shahih dengan Saqim yang berarti ke-Shahih-
an Hadits bisa diterima, terkadang al-Hakim juga sering menyebut Hadits Shahih
dengan Marjuh yang mempunyai arti bahwa ke-Shahih-an Hadits tersebut berimplikasi
untuk ditolaknya, atau dengan kata lain adalah Hadits Dla‟ip.


1. Hadits Shahih Menurut al-Hakim

       Hadits Shahih itu adalah Hadits yang mempunyai atau memiliki lima
persyaratan, yiatu 1. Musnad (sanadnya bersambung) ; 2. rawi-nya adil ; 3. Dlabith ; 4.
tidak Syadzdz ; dan 5. tidak ber-„illah.

       Al-Hakim tidak mendefinisikan Hadits Shahih dengan kategori Hadits yang
disebutkan diatas yang disepakati banyak Ulama. Namun al-Hakim menjelaskan Hadits
Shahih dalam pemabahasan yang terpisah-pisah dan berpencar dalam karyanya. Dalam
kitab alma‟rifah saja, al-Hakim hanya membahas Hadits Musnad dan Shidiq al-
Muhaddits (benar atau jujurnya ahli Hadits) atau dengan kata lain adalah dlabith (adil).

       Dalam kitab al-Madkhal, al-Hakim membagi Hadist Shahih ke dalam sepuluh
bagian. Yang dari sepuluh bagian tersebut dibagai lagi menjadi dua bagian, yaitu Hadits
Shahih yang disepakati ke-Shahih-annya yang berjumlah lima bagian, dan Hadits
Shahih yang tidak disepakati ke-Shahih-annya yang berjumlah lima bagian pula.
1. Hadits yang disepakati ke-Shahih-annya

 a. Hadits Shahih menurut criteria al-Bukhari dan Muslim

    Menurut al-Hakim bahwa al-Bukhari dan Muslim adalah dua Ulama ahli Hadits
    yang membuat kriteria persyaratan penerimaan Hadits yang sangat ketat.

 b. Hadits yang diriwayatkan oleh seorang rawi

    Pada tingkat ini adalah Hadits yang tidak diriwayatkan oleh al-Bukhari dan
    Muslim. Seperti Al-Syu‟ubi yang menerima Hadits dari „Urbah bin Mudris,
    Ubayd yang menerima Hadits dari Umayr bin Qatadah al-Laysi yang tersebar
    luas di kalangan ahli Hadits dan Fuqaha.

 c. Hadits dari Kelompok Thabi‟in

    Adalah Hadits yang diterima oleh sekelompok Tabi‟in dari seorang sagabat.
    Kemudian     Tabi‟in     yang   dianggap     Tsiqah    masing-masing     hanya
    meriwayatkannya kepada seorang muridnya saja. Contohnya Muhammad bin
    Hunayn, Abd al-Rahman bin Farukh, Abd al-Rahman bin Ma‟bad, dan „Iyadl
    bin Harits yang hanya mengajarkan Hadits kepada „Umar bin Dinar, dll.

 d. Hadits Fard dan Gharib

    Menurut al-Hakim, Hadits Fard atau Gharib yang disepakati ke-Shahih-annya
    adalah Hadits yang diriwayatkan oleh orang-orang yang Tsiqah dan adil, yang
    kemudian diterima oleh oleh seorang yang Tsiqah.

    Al-Hakim mengakui bahwa Hadits Fard dan Gharib yang dianggapnya Shahih,
    terkadang tidak tercantum dalam kitab-kitab Hadits Shahihayn. Tetapi ada juga
    yang tercantum yang sekalipun di dalam kitab Shahihayn dikatakan Syadzdz,
    tapi menurutnya tetap disebut Shahih. Pendapatnya yang kontroversialnya ini
    banyak menperoleh kritikan setelah masanya, seperti Ibn Hajar, tetapi ada pula
    ulama ahli Hadits yag sepakat dengannya.
 e. Hadits diterima melalui jalur keluarga

    Adalah Hadits yang diriwayatkan oleh sekelompok rawi yang menerima dari
    para Imam ahli hadits. Para Imam ahli Hadits itu juga menerima dari ayah-ayah
    mereka, dan ayah-ayah mereka menerimanya pula dari kakek-kakeknya. Mereka
    ini (kakek-kakeknya) adalah para sahabat Nabi dan cucu-cucunya orang yang
    terpercaya. Hadits-haditsnya banyak tercantum dalam kitab-kitab Hadits selain
    Shahihayn.

2. Hadits yang diperselisihkan ke-Shahih-annya

 a. Hadits-Hadits Mursal

    Hadits Mursal adalah ucapan tabi‟in atau athba‟ thabi‟in yang langsung
    dinisbatkan kepada Rasulullah SAW, padahal jarak antara mereka dengan
    Rasullah SAW mencapai satu abad atau dua abad lamanya dan tidak ada rawi-
    rawi yang menjadi perantaranya.

 b. Riwayat Orang-orang Mudallis

    Diantara orang-orang Mudallis adalah Abu Nadr Hasyim bin Qasyim, Abu Nuh
    Abd Al-Rahman bin Ghazwan, Abu Kamil Muzhaffar bin Mudrik, dan masih
    banyak lagi.

    Orang-Orang Mudallis menurut al-Hakim Haditsnya tidak Shahih, mereka
    terbagi dalam enam generasi, sedangkan Ibn Hajar membaginya dalam Lima
    generasi dengan jumlah keseluruhan sebanyak 153 Orang.

 c. Riwayat Orang yang Tsiqah

    Hadits yang termasuk diperselisihkan oleh Ulama adalah yang diriwayatkan oleh
    orang-orang yang terpercaya yang diterima dari orang yang terpercaya pula.
    Prosesnya adalah Hadits diterima dari orang Tsiqaah, diterima dari seorang
    Imam yang diberi sanad olehnya, kemudian diriwayatkan oleh sekelompok
    orang yang Tsiqah pula, tetapi dengan cara Mursal. Hadis seperti ini banyak dan
    sering dianggap shahih oleh ulama Fuqaha, tetapi      ditolak oleh ulama ahli
       Hadits, atau sebaliknya. Hal ini terjadi karena bedanya sudut pandang antara
       Ulama Fuqaha dan Ulama hadits.

   d. Hadits yang diriwayatkan dan Diyakini pernah Didengar dari Gurunya

       Maksudnya adalah seorang ahli Hadits yang tulisannya abash dan betul-betul
       mendengar dari gurunya, namum, mereka tidak yakin benar dan tidak hafal
       Hadits yang diriwayatkannya, meskipun ia termasuk golongan orang yang
       sangat sulit untuk diterima riwayatnya.

   e. Riwayat Ahli Bid‟ah

       Hadits yang diterima dari ahli Bid‟ah diperselisihkan oleh ulama antara diterima
       dan tidak diterimanhya. Menurut kebanyakan para ulama, riwayat mereka boleh
       diterima dengan syarat orangnya jujur. Al-Hakim mendefinisikan lain, dengan
       menambahkan definisi kebanyakan ulama. Adalah Riwayat Hadits ahli Bid‟ah
       bisa diterima asal isinya bukan merupakan propaganda mereka untuk mengikuti
       kebid‟ahannya.

2. Hadits Dla’if Menurut al-Hakim

   Al-Hakim lebih mengutamakan Majruh untuk Hadits yang tidak dapat diterima.
Karena itu, dalam membicarakan Hadits Mardud (ditolak) versinya, al-Hakim
membaginya dalam Thabaqah (generasi orang-orang tercela). Ia membaginya ke dalam
sepuluh generasi yang periwayatannya lemah atau dengan kata lain Dla‟if. Kesepuluh
generasi itu adalah :

   1. Orang yang mendustakan Nabi.

   2. Rekayasa Sanad Agar Asing bagi Pendengar

   3. Orang yang Rakus Meriwayatkan Hadits

   4. Orang yang Mengubah Perkataan Para Sahabat.

   5. Orang yang Sengaja Me-Nawshul-kan Hadits Mursal.

   6. Orang-Orang Saleh dan Ahli Bid‟ah

   7. Menggeneralisasi Sanad
8. Orang-orang yang Lalai Ketika Mendengar dan Menerima Hadits dari Gurunya.

9. Orang yang Profesinya bukan Ahli Hadits.

10. Orang-Orang yang Catatannya Ruksak.
TUGAS MAKALAH
KLASIFIKASI HADITS MENURUT AL-HAKIM :
Dalam Aspek Kualitas dan Kuantitas Rawi

Diajukan dalam Upaya Perbaikan Nilai Mata Ulumul Hadits
Pada Semester IV

Dosen : Drs. H. Abdul Fattah




           Disusun Oleh :


           Nama           : Luqman Awwalia
           NPM            : 01.02.1594
           Fakultas       : Syariah
           Jurusan        : Al-Ahwal Al-syakhsyiyah
           Semester       : VIII ( Delapan )




INSTITUT AGAMA ISLAM DARUSSLAM (IAID)
CIAMIS JAWA BARAT
2004 / 2005

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:2873
posted:1/9/2011
language:Indonesian
pages:11