kaidah-kaidah hukum

Document Sample
kaidah-kaidah hukum Powered By Docstoc
					Filsafat Hukum Islam
Icep Abdil Aziz Amin
Fak syari’ah
Semester V

                KAIDAH-KAIDAH HUKUM ISLAM
1. Prinsip-Prinsip Hukum Isalm
A. Meniadakan Kepicikan Dan Tidak Memberatkan (Adamul Haraj)
       Tabi’at manusia tidak menyukai beban yang membatasi kemerdekaannya dan
manusia senantiasa memperhatikan beban hukum dengan sangat hati-hati. Manusia
tidak bergerak mengikuti perintah terkecuali kalau perintah-perintah itu dapat
menawan hatinya, mempunyai daya dinamika, kecuali perintah yang dikerjakan
dengan keterpaksaan. Syari’at Islam dapat nenarik manusia dengan amat cepat dan
mereka dapat menrimanya dengan penuh ketetapan hati. Hal ini adalah karena Islam
menghadapkan pembicaraannya kepada akal, dan mendesak manusia bergerak dan
berusaha, serta memenuhi kehendak firtah yang sejahtra. Hukum Islam menuju
kepada toleransi, persamaan, kemerdekaan, menyuruh yang ma’ruf mencegah yang
munkar.
       Tentang dasar-dasar hukum yang berpangkal kepada tujuan dan prinsif
kemaslahatan, demikian pula tentang perubahan-perubahannya berhubung dengan
perubahan waktu dan keadaan serta hubungan perubahan itu dengan ketentuan nash
hukum. Bagian terbesar daripada ketentua-ketentuan hukum yang mungkin mendapat
perubahan-perubahan itu, hanyalah aturan-aturan hukum yang berhubungan dengan
soal perincian saja. Disamping itu, ada bagian hukum yang sifatnya umum yang juga
mengenai muamalat yang tetap tidak berubah karena soal waktu, tempat atapun
keadaan.
       Hukum Islam senantiasa memberikan kemudahan dan menjauhi kesulitan,
semua hukumnya dapat dilaksanakan oleh umat manusia. karena itu dalam hukum
Islam dikenal isatilah rukhsoh.
B. Menyedikitkan Beban (Taklilu At-Takalif)
       Nabi melarang para sahabat memperbanyak pertanyaan tentang hukum yang
belum ada yang nantinya akan memberatkan mereka sendiri, Nabi SAW justru
menganjurkan agar mereka memetik dari kaidah-kaidah umum. Kita ingat bahwa
ayat-ayat alqura’an tentang hukum hanya sedikit. Yang sedikit tersebut justru



                                                                               1
Filsafat Hukum Islam
Icep Abdil Aziz Amin
Fak syari’ah
Semester V

memberikan lapangan yang luas bagi manusia untuk berijtihaj. Dengan demikian
hukum isalm tidaklah kaku, keras, dan berat bagi umat manusia.
Dugan-dugan atau sangkan-sangkaan tidak boleh dijadikan dasar penetapan hukum.
Allah berfirman dalam surat 5 ayat 101:




     Arinya: “Hai orang-orang yang beriman: janganlah kamu brtanya-tanya
 tentang sesuatu yang kalau diterangkan kepadamu akan menyusahkanmu, tetapi
 kalau kamu tanyakan atau tentang ayat-ayat itu pada waktu turunnya, akan
 diterangkan kepadamu; Allah mema’fkan dan allah pengampun lagi penyabar”.


C. Ditetapkan secara bertahap (tadriijiyan)
       Tiap-tiap masyarakat tentu mempunyai adat kebiasaan atau tradisi atau adat,
baik tradisi tersebut meurupakan teradisi yang baik maupun terdisi yang
membahayakan mereka sediri. Tradisi tersebut ada yang berurat dan berakar secara
mendalam dalam darah daging mereka dan ada yang sifatnya hanya dangkal.
       Dengan mengingat faktor tradusi dan ketidak senangan manusia untuk
menghadapi perpindahan sekaligus dari suatu keadaan ke keadaan lain yang asing
sama sekali bagi mereka, alqur’an diturunkan berangsur-angsur, surat demi surat ayat
demi ayat sesuai dengan peristiwa, kondisi, dan situasi yang terjadi. Dengan cara
demikian, hukum yang diturunkannya lebih disenangi oleh jiwa dan lebih mendorong
kearah mentaatinya, serta bersiap-siap meninggalakan ketentuan lama dan menerima
ketentuan baru.
D. Memperhatikan Kemaslahatan Manusia
       Hubungan sesama manusia merupakan manifestasi dari hubungan dengan
pencipta jika baik hubungan dengan manusia lain, maka baik pula hubungan dengan
penciptanya. Karna itu hukum islam menekankan kemanusiaan.
Dalam penetapan hukum senantiasa didasarkan pada tiga sendi pokok, yaitu:


                                                                                  2
Filsafat Hukum Islam
Icep Abdil Aziz Amin
Fak syari’ah
Semester V

   1. Hukum-hukum ditetapakan sudah masyarakat membutuhakan hukum-hukum
        itu.
   2. Hukum-hukum ditetapakan oleh sesuatu kekuasaan yang berhak menetapakan
        hukum dan menundukan masyarakat ke bawah ketetapannya.
   3. Hukum-hukum ditetapakan menurut kadar kebutuhan masyarakat.
        Adapun tujuan syara dalam menetapakan hukum diantaranya:
   1. Memelihara kemasalahatan agama.
   2. Memelihara jiwa.
   3. memelihara akal.
   4. Memelihara keturunan.
   5. memelihara harta benda dan kehormatan.
E. Mewujudkan Keadilan Yang Merata.
        Menurut syriat islam, semua orang sama. Tidak ada kelebihan seorang
manusia dari yang lain dihadapan hukum. Penguasa tidak terlindung oleh
kekuasaannya ketika ia berbuat kedoliman. Begitu pula orang kaya dan orang
berpangkat. Dengan itu kaidah-kaidah umum yang harus di perhatikan dalam
menerapakan hukum adalah:
   1. Mewujudkan keadilan.
   2. Mendatangkan kesejahtraan dan kemakmuran masyarakat.
   3. Menetapkan hukum yang berpadanan dengan keadaan darurat.
   4. Pembalasan harus sesuai dengan dosa yang dilakukan.
   5. Tiap-tiap manusia memikul dosanya sendiri.
2. Kaidah Hukum Dalam Islam
        Para ulama ushul telah menetapakn sejumlah kaidah-kaidah tasyri yang wajib
diketahui dan diperhatiakan oleh mereka yang hendak mentafsirkan nash-nash tasyri.
Kaidah-kaidah itu dipetik dari penelitian hukum-hukum yang telah didatangkan nash
untukanya serta illat-illat hukum-hukum itu, dan prinsip-prinsip syariat yang umum.
Jelaslah bahwa syara bertujuan dari syariatnya mewujudkan maksud-maksud yang
umum.



                                                                                 3
Filsafat Hukum Islam
Icep Abdil Aziz Amin
Fak syari’ah
Semester V

       Secara etimologis, kaidah berarti asas. Dalam istilah ahli grmatika bahasa
arab, ia bermaksud:




Artinya: “ dlobith yang mempunyai makna hukum kulli yang mencakup bagian-
bagiannya (particular)”.
       Sebagian ahli hukum merumuskan kaidah dengan:




Artinya:” Suatu hukum dominan yang mencakup seluruh bagiannya.”


       Penyusun pemula kitab Qowa’id diperkirakan adalah Abu Thair Al-Dabbas,
seorang ulama yang hidup pada abad III dan IV Hijriyah. Dia mengumpulkan
sebanyak 17 buah kaidah yang terpenting dari madhab hanafi. Di antranya adalah
lima kaidah yang menurut Al-Qadhi Husain merupakan kaidah induk yaitu:
a.                           : Segala sesuatu itu bergantung kepada maksud
                              pelakunya.
b.                           : Kemudharatan itu harus di hilangkan
c.                           : Adat kebiasaan itu menjadi hakim
d.                           : Keyakinan itu tidak bisa di hilangkan lantaran
                              munculnya keraguan.
e.                           : Kesukaran itu mendatangkan kemudahan.
       Kaidah-kaidah asasiyah adalah kaidah yang di pegang oleh semua madzhab,
yang terdiri dari enam kaidah; yang keenamnya berbunyi:




Artinya:” Tak ada pahala tanpa niat”.



                                                                                4
Filsafat Hukum Islam
Icep Abdil Aziz Amin
Fak syari’ah
Semester V

       Adapun kaidah-kaidah ghair asasiyah, terdiri dari 19 kaidah dalam berbagai
maudhu’. Dari 19 kaidah ini bercabang beberapa kaidah yang lain.
Dibawah ini disajikan sejumlah kaidah dalam:
A. Hukum Dharurat Dan Hajat
. 1.


       “ Kesukaran itu mendatangkan kemudahan”


  2.


       “ Kemudharatan itu harus di hilangkan”.


  3.


       “ Keadaan-keadaan dharurat membolehkan sesuatu yang di hilangkan”.


  4.


       “ Kemudharatan khusus dapat diambil demi menolak kemudharatan umum”.


  5.




       “Menolak kerusakan harus didahulukan dari pada mengambil kemaslahatan”
  6.


       “Hukum itu mengikuti kemaslahatan yang lebih kuat”


  7.


                                                                                5
Filsafat Hukum Islam
Icep Abdil Aziz Amin
Fak syari’ah
Semester V



        “Hajat itu ditempatkan pada tempat darurat”




B. Maksud dan Tujuan Perbuatan
   1.


        “Segala urusan itu didasarkan pada maksud”


   2.




        “Yang dihargai dalam bidang aqad itu makna dan tujuannya, bukan ucapan
        dan perkataannya”


   3.




        “Keyakinan itu tidak dapat dihilangkan dengan persangkaan”


C. Mempergunakan Adat Kebiasaan sebagai Dasar Hukum




Artinya: Adat (kebisaan) adalah sesuatu yang sudah dikenal masyarakat atau dikenal
manusia dan telah menjadi kebiasaan yang digemari serta berlaku dalam
perikehidupan mereka.



                                                                                6
Filsafat Hukum Islam
Icep Abdil Aziz Amin
Fak syari’ah
Semester V

      Kaidah-kaidah ini bertujuan untuk memelihara ruh Islam dalam membina
hukum dan mewujudkan idea-idea yang tinggi, baik mengenai hak, keadilan,
persamaan, maupun dalam memelihara maslahat, menolak mafsadat, serta
memperhatikan keadaan dan suasana.




                                                                        7

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:1658
posted:1/9/2011
language:Indonesian
pages:7