PERANAN MEDIA GAMBAR DALAM PEMBELAJARAN - DOC by Beny_Madiun

VIEWS: 13,554 PAGES: 54

									     PERANAN MEDIA GAMBAR DALAM PEMBELAJARAN
       MEMBACA NYARING DI SEKOLAH LUAR BIASA
      DHARMA WANITA JIWAN KABUPATEN MADIUN
              TAHUN PELAJARAN 2006/2007




                       SKRIPSI




                        OLEH
                    WIWIK IRIANI
                    NPM 05311174/P




PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
        FAKULTAS PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI
                  IKIP PGRI MADIUN
                      April 2007
                                    ABSTRAK



Wiwik Iriani, 2007, Peranan Media Gambar Dalam Pembelajaran Membaca
     Nyaring di Sekolah Luar Biasa Dharma Wanita Jiwan Kabupaten Madiun
     Tahun Pelajaran 2006/2007, Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FPBS,
     IKIP PGRI Madiun, Pembimbing (I) Drs. Bambang Eko Hari Cahyono,
     M.Pd., II) Panji Kuncoro Hadi, S.S

Kata Kunci: Peranan, Media Gambar, Membaca Nyaring, Tunagrahita, Sekolah Luar
      Biasa

        Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa jauh peranan media
gambar dalam meningkatkan keterampilan membaca nyaring kata berstruktur
konsonan vokal konsonan vokal (kvkv) bagi siswa tunagrahita di Sekolah Luar Biasa
Dharma Wanita Jiwan Kabupaten Madiun, tahun pelajaran 2006/2007.
        Penelitian ini termasuk Penelitian Tindakan Kelas (PTK) karena dilaksanakan
bersamaan dengan proses pembelajaran di kelas. PTK ini tidak memerlukan populasi
dan sampel, dan tidak berkolaborasi dengan pihak lain. Peneliti sekaligus bertindak
sebagai praktisi.
        Subjek penelitian tindakan kelas ini adalah 1 rombongan kelas (kelas 2)
dengan 6 siswa tunagrahita yang terdiri atas 4 siswa laki-laki dan 2 siswa perempuan.
Kesemuanya sudah berumur 11 tahun ke atas. Siswa ini mengalami kesulitan belajar
membaca.
        Pengumpulan datanya menggunakan teknik observasi atau pengamatan dan
teknik tes, dengan menggunakan instrumen pengamatan dan dilaksanakan bersamaan
dengan proses pembelajaran. Data yang diperoleh dianalisis dengan teknik statistik
deskriptif, dalam bentuk uraian atau narasi, tabel dan grafik.
        Hasil penelitian visual menunjukkan bahwa 5 siswa mempunyai ketajaman
penglihatan normal (efisiensi 100%) dan 1 siswa mempunyai ketajaman kurang
normal (efisiensi 91,5%) atau kehilangan ketajaman penglihatan sebesar 8,5%.
        Hasil penelitian membaca 26 huruf alphabet menunjukkan adanya variasi
kemampuan membaca. Ada 1 siswa yang sudah mampu membaca 26 huruf alphabet
(100%) dengan benar. 5 siswa lainnya baru bisa membaca 11 huruf (42,3%) ke
bawah. Tes awal membaca 5 kata (buku, baju, bola, topi, kupu) menunjukkan nilai
rata-rata skor sebesar 1,16. Nilai modus sebesar 0 (3 siswa), skor terendah 0. Setelah
diadakan pembelajaran membaca kata dengan metode kata lembaga dan metode
VAKT (Visual, Auditory, Kinesthetic and Tactile) yang memanfaatkan media gambar,
ada peningkatan perolehan skor tes. Tes pertama, rata-rata skor 2,33. Nilai Modus 2
(4 siswa), skor terendah 1. Tes kedua, rata-rata skor 2,83. Nilai Modus 2 (2 siswa),
skor terendah 2. Tes ketiga, rata-rata skor 3,16. Nilai Modus 3 (4 siswa), skor
terendah 2.
        Kesimpulan penelitian tindakan kelas ini adalah media gambar mempunyai
peranan dalam meningkatkan keterampilan membaca kata berstruktur konsonan vokal
konsonan vokal (kvkv) bagi siswa tunagrahita kelas 2, di Sekolah Luar Biasa Dharma
Wanita Jiwan Kabupaten Madiun, tahun pelajaran 2006/2007.


                                          ii
MOTTO
Nasi seseorang tidak akan berubah, selama orang itu tidak berusaha merubah
nasibnya sendiri




                                             Skripsi ini kupersembahkan kepada::
                                                        Keluargaku yang terkasih,
                                          dan anak-anak luar biasa yang tersayang.




                                    iii
                              KATA PENGANTAR


        Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang telah
melimpahkan rahmat-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian tindakan
kelas dan menyusun skripsi dengan judul “Peranan Media Gambar Dalam
Pembelajaran Membaca Nyaring di Sekolah Luar Biasa Dharma Wanita Jiwan
Kabupaten Madiun Tahun Pelajaran 2006/2007”.
        Skripsi ini penulis susun untuk memenuhi salah satu persyaratan dalam
menyelesaikan Program Sarjana Strata 1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.
        Penulis menyadari bahwa penyusunan skripsi ini masih banyak terdapat
kekurangan, dikarenakan keterbatasan kemampuan, beaya, waktu dan tenaga yang
ada pada penulis. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan saran dan kritik dari
para pembaca dan pemerhati.
        Dalam menyelesaikan skripsi ini penulis banyak sekali mendapat bantuan
dari beberapa pihak, oleh karena itu penulis ingin sekali menghaturkan rasa terima
kasih yang sebanyak-banyaknya kepada :
1. Bapak Drs. Parji, M.Pd., Rektor Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan PGRI
   Madiun, yang telah memberi kesempatan kepada penulis untuk mengikuti
   pendidikan di lembaga yang dipimpinnya.
2. Bapak Drs. Bambang Eko Hari Cahyono, M.Pd., selaku Dekan Fakultas
   Pendidikan Bahasa dan Seni, sekaligus Dosen Pembimbing I yang telah banyak
   memberi bimbingan sejak dari awal hingga selesainya penyusunan skripsi ini.
3. Bapak Panji Kuncoro Hadi, S.S., selaku Dosen Pembimbing II yang telah banyak
   memberi bimbingan sejak dari awal hingga selesainya penyusunan skripsi ini.
4. Bapak Drs. V. Teguh Suharto, M.Pd., selaku Dosen Mata Kuliah Metode
   Penelitian Pendidikan, yang telah memberi bekal ilmu dasar-dasar penelitian
   pendidikan, sehingga penulis dapat melaksanakan penelitian tindakan kelas.




                                         iv
5. Bapak Zaenuddin, BA., selaku Kepala Sekolah Luar Biasa Dharma Wanita Jiwan,
   Kabupaten Madiun yang telah memberi ijin kepada penulis untuk melaksanakan
   penelitian di sekolah yang dipimpinnnya.
6. Rekan-rekan guru di Sekolah Luar Biasa Dharma Wanita Jiwan, Kabupaten
   Madiun yang telah banyak memberikan bantuan kepada penulis, dalam
   melaksanakan penelitian dan penyusunan skripsi ini.
       Semoga budi baik yang telah diberikan kepada penulis, mendapat imbalan
yang berlipat ganda dari Tuhan Yang Maha Esa. Amin.
       Akhirnya, penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi para
pembaca, pengelola dan pemerhati Sekolah Luar Biasa.




                                                         Madiun, April 2007
                                                              Penulis,




                                        v
                                                    DAFTAR ISI

                                                                                                                   Halaman

HALAMAN JUDUL.........................................................................................                    i

LEMBAR PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING ....................................                                                 ii

LEMBAR PENGESAHAN PANITIA PENGUJI SKRIPSI ............................                                                  iii

ABSTRAK .......................................................................................................         iv

MOTTO DAN KATA PERSEMBAHAN .......................................................                                       v

KATA PENGANTAR ......................................................................................                   vi

DAFTAR ISI .....................................................................................................       viii

DAFTAR GAMBAR ........................................................................................                   x

DAFTAR LAMPIRAN .....................................................................................                   xi

BAB I            PENDAHULUAN ..........................................................................                  1

                 A. Latar Belakang Masalah ..........................................................                    1

                 B. Identifikasi Masalah ................................................................                5

                 C. Rumusan Masalah ....................................................................                 6

                 D. Tujuan Penelitian ......................................................................             6

                 E. Kegunaan Penelitian .................................................................                6

BAB II           KAJIAN PUSTAKA ......................................................................                   7

                A. Pengertian Anak Luar Biasa ....................................................                       7

                     1. Anak Tunanetra ..................................................................                8

                     2. Anak Tunarungu wicara ......................................................                     8

                     3. Anak Tunagrahita ...............................................................                 9

                     4. Anak Tunadaksa .................................................................               10

                     5. Anak Tunalaras ...................................................................             11




                                                             vi
              B. Membaca ..................................................................................        13

                   1. Pengertian Membaca ...........................................................               13

                   2. Metode Pembelajaran Membaca .........................................                        15

              C. Media Pembelajaran .................................................................              17

                   1. Pengertian Media Pembelajaran .........................................                      18

                   2. Tujuan Penggunaan Media Pembelajaran ..........................                              19

BAB III        METODE PENELITIAN ..............................................................                    20

               A. Rancangan Penelitian ..............................................................              22

               B. Siklus Penelitian ......................................................................         23

                   1. Perencanaan ........................................................................         23

                   2. Tindakan dan Pengamatan .................................................                    24

                   3. Refleksi ..............................................................................      26

BAB IV         HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ............................                                        29

               A. Hasil Penelitian.........................................................................        29

               B. Pembahasan ..............................................................................        33

BAB V          PENUTUP ......................................................................................      40

               A. Simpulan ..................................................................................      40

               B. Saran ........................................................................................   40

DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................              42

PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN .......................................................                                43

DAFTAR RIWAYAT HIDUP .........................................................................                     44

LAMPIRAN-LAMPIRAN ...............................................................................                  45




                                                           vii
                                          DAFTAR GAMBAR



Gambar                                                                                                  Halaman

1 Poligon Hasil Tes Membaca .........................................................................       38

2 Histogram Hasil Tes Membaca ......................................................................        38




                                                      viii
                                      DAFTAR LAMPIRAN



Lampiran                                                                                                    Halaman

       1 Pernyataan Keaslian Tulisan ..........................................................                 43

       2 Daftar Riwayat Hidup ....................................................................              44

       3 Media Pembelajaran .......................................................................             45

       4 Kartu Snellen ..................................................................................       46

       5 Surat Keterangan Penelitian ...........................................................                47




                                                      ix
                                     BAB I

                              PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

          Manusia merupakan makhluk sosial. Mereka selalu hidup dalam
   kelompok, mulai kelompok kecil sampai kelompok besar yang kemudian disebut
   dengan masyarakat. Dalam kelompok masyarakat ini, terjadilah komunikasi
   timbal balik. Komunikasi ini dapat berlangsung karena adanya sarana pokok
   berupa bahasa yang dapat dimengerti oleh kedua belah pihak.

          Dini Dahlia (2001:24) menyebutkan bahwa bahasa adalah lambang bunyi
   suara yang dihasilkan oleh alat ucap manusia sebagai alat komunikasi antar
   manusia. Jujun Suriasumantri (2000:167) berpendapat bahwa bahasa merupakan
   alat kumunikasi untuk menyampaikan jalan pikiran kepada orang lain. Kedua
   pendapat ini menegaskan bahwa fungsi praktis bahasa adalah alat komunikasi
   antar manusia..

          Dilihat dari cara penyampaianya, ragam bahasa dapat digolongkan
   menjadi ragam bahasa tulis dan ragam bahasa lisan. Untuk memahami ragam
   bahasa lisan yang diucapkan oleh lawan bicara, orang harus mendengarkan
   dengan penuh perhatian menggunakan indera pendengaran, yang lebih dikenal
   dengan istilah menyimak. Cara yang seperti ini disebut komunikasi langsung.

          Untuk memahami ragam bahasa tulis, seseorang harus melakukan
   kegiatan membaca rangkaian lambang bunyi bahasa itu. Dalam kehidupan
   modern seperti sekarang ini, manusia hampir tidak dapat dipisahkan dari buku.

          Peradaban manusia identik dengan buku. Kemajuan ilmu pengetahuan
   yang dikuasai oleh manusia ditulis dalam buku, dilestarikan dan diwariskan
   kepada generasi berikutnya. Agar tidak ketinggalan informasi tentang kemajuan
   ilmu pengetahuan, orang harus selalu membaca buku. Oleh karena itu,
   keterampilan membaca dan keterampilan memahami paparan yang tertulis dalam
   buku merupakan kunci penguasan ilmu pengetahuan.




                                        1
         Sampai sekarang para ahli bahasa belum mempunyai kata sepakat tentang
pengertian membaca. Hal ini terbukti masih adanya perbedaan pengertian yang
dikemukakannya. I Gusti Ngurah Oka (1983:11) menyebutkan bahwa membaca
adalah proses melisankan paparan bahasa tulis, atau kegiatan mempersepsi
tuturan tertulis. Pendapat I Gusti Ngurah Oka ini menitikberatkan bahwa kegiatan
membaca adalah proses melisankan paparan bahasa tulis, yang berarti keluar
suara melalui mulut, baik lirih atau keras/nyaring, sesuai bunyi lambang bahasa..
Kegiatan mempersepsi mengandung pengertian bahwa agar seseorang dapat
memahami makna paparan bahasa tulis itu maka ia harus memadukan kerja
indera belajar (indera visual, indera memori kognitif), kemudian mengambil
makna dan memadukan dengan memori bahasa yang telah dimiliki sebelumnya.
Henry Guntur Tarigan (1985:7) menyebutkan bahwa membaca adalah suatu
proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh
pesan yang hendak disampaikan oleh penulis melalui media kata-kata bahasa
tulis.

         Dari kedua pendapat tentang membaca di atas nampaklah bahwa
tujuan utama kegiatan membaca adalah berusaha memperoleh pemahaman
terhadap wacana yang dibacanya.

         Keterampilan berbahasa ada empat, yaitu (1) keterampilan menyimak,
(2) keterampilan berbicara, (3) keterampilan membaca, dan (4) keterampilan
menulis. Jadi keterampilan membaca merupakan salah satu dari keterampilan
berbahasa. Keempat keterampilan berbahasa ini berhubungan erat. Mula-mula
seorang anak belajar bahasa melalui kegiatan menyimak bahasa ibu, kemudian
berbicara (menirukan), lalu belajar membaca kemudian baru menulis, baik di
rumah maupun di sekolah.

         Tanpa memiliki keterampilan membaca yang memadai seorang anak
akan mengalami banyak hambatan atau kesulitan dalam mengikuti pembelajaran
beberapa mata pelajaran di jenjang kelas yang lebih tinggi. Hal ini bisa dilihat
dari prestasi akademik yang rendah atau tinggal kelas (mengulang kelas) bagi
anak yang mengalami keterlambatan dalam penguasaan keterampilan membaca



                                       2
dan menulis permulaan, di kelas awal (kelas I). Keadaan yang demikian ini juga
dialami oleh sebagian besar anak luar biasa, khususnya anak tunagrahita, yang
sedang mengikuti pendidikan formal di Sekolah Luar Biasa.

       Keterampilan membaca dan menulis bagi anak luar biasa, sangat
bermanfaat bagi pertumbuhan dan perkembangan kognitif, emosi, dan
perilakunya.

       Mengingat pentingnya peranan keterampilan membaca dan menulis dalam
proses kegiatan pembelajaran maka pembelajarannya harus lebih banyak
mendapat perhatian yang lebih serius oleh guru kelas atau guru mata pelajaran
bahasa Indonesia.

       Dalam proses pembelajaran membaca dan menulis, ada beberapa metode
yang dapat digunakan. Menurut Buku Petunjuk Pengajaran Membaca dan
Menulis Permulaan, yang diterbitkan oleh Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan (1995:14) antara lain disebutkan: (1) metode abjad, (2) metode
suku kata, (3) metode kata lembaga, (4) metode global, dan (5) metode Struktur
Analisis Sintesa (SAS). Metode-metode tersebut kesemuanya dapat diterapkan
karena setiap metode mempunyai dasar dan alasan yang kuat, sesuai dengan
tingkat perkembangan kognitif anak. Akan tetapi tingkat keberhasilan dari
penerapan metode yang dipilih, amat tergantung kepada faktor guru dalam
membuat dan melaksanakan skenario pembelajaran yang telah direncanakan.
Disamping itu faktor psikologis anak luar biasa, dalam mengoptimalkan kinerja
indera belajar, daya tangkap, daya tanggap, memori visual, dan daya rekam
memori kognitif, terhadap isi pembelajaran membaca dan menulis, juga ikut
berpengaruh.

       Siswa Sekolah Luar Biasa Dharma Wanita Jiwan, khususnya yang
memiliki daya tangkap dan daya tanggap rendah, yang lebih dikenal dengan
sebutan penyandang tunagrahita, banyak mengalami kesulitan belajar membaca
dan menulis, akibat dari rendahnya ketrampilan membaca dan menulis.




                                     3
          Berangkat dari uraian tersebut di atas maka guru di Sekolah Luar Biasa
   Dharma Wanita Jiwan harus melakukan refleksi diri, evaluasi diri untuk mencari
   atau mengidentifikasi faktor penyebab, sekaligus mencari alternatif
   pemecahannya, melalui penelitian tindakan kelas, pada kelas atau mata pelajaran
   yang menjadi tanggung jawabnya.

          Pada tahun pelajaran 2006/2007 ini, Sekolah Luar Biasa Dharma Wanita
   Jiwan, mengasuh dua jenis anak luar biasa, yaitu penyandang tuna rungu
   wicara dan penyandang tunagrahita.

          Kegiatan membaca nyaring, yang harus mengeluarkan suara sesuai bunyi
   lambang bahasa, hanya dapat dilakukan oleh siswa penyandang tuna grahita.
   Oleh karena itu, pada penelitian ini hanya difokuskan bagi siswa penyandang
   tunagrahita. Perlakuan yang dipilih dalam penelitian ini adalah penerapan media
   gambar dalam meningkatkan keterampilan membaca nyaring siswa.

B. Identifikasi Masalah

          Berdasarkan uraian dalam latar belakang masalah tersebut, dapat
   diidentifikasi beberapa masalah yang muncul, sebagai berikut

   1. Apakah pembelajaran membaca nyaring pada siswa penyandang tuna

       grahita telah mengacu pada kurikulum yang berlaku?

   2. Apakah pembelajaran membaca nyaring pada siswa penyandang tuna

       grahita, telah dilaksanakan dengan metode yang bervariasi?

   3. Sejauh mana pengetahuan guru terhadap media pembelajaran yang dapat

       meningkatkan keterampilan membaca nyaring siswa penyandang tuna

       grahita?

   4. Apakah guru telah memliki pengetahuan yang cukup memadai mengenai

       aspek-aspek yang dipakai untuk mengukur keterampilan membaca nyaring

       siswa penyandang tunagrahita?




                                         4
   5. Kendala-kendala apakah yang sering dihadapi guru dalam

      pembelajaran    membaca     nyaring   pada     siswa    penyandang

      tunagrahita?

C. Rumusan Masalah

         Berangkat dari latar belakang masalah yang telah dipaparkan di
   depan maka rumusan masalah penelitian ini adalah seberapa jauh
   peranan media gambar dalam membantu meningkatkan keterampilan
   membaca nyaring, bagi siswa penyandang tunagrahita di Sekolah
   Luar Biasa Dharma Wanita Jiwan, pada tahun pelajaran 2006/2007.
D. Tujuan Penelitian

         Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan paparan yang jelas
   mengenai seberapa jauh peranan media gambar dalam meningkatkan
   keterampilan membaca nyaring bagi siswa penyandang tunagrahita,
   di Sekolah Luar Biasa Dharma Wanita Jiwan pada tahun pelajaran
   2006/2007.
E. Kegunaan Penelitian

        Hasil konkret dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan
   manfaat sebagai berikut:
   1. Umpan balik bagi guru untuk lebih memerhatikan dan

      memperbaiki skenario pembelajaran membaca dan menulis bagi

      siswa penyandang tunagrahita.

   2. Umpan balik bagi sekolah          untuk      lebih     memerhatikan

      pengadaan      dan perawatan     alat-alat peraga      pembelajaran,

      khususnya media gambar sebagai sarana untuk memperbaiki

      skenario    pembelajaran   membaca     dan     menulis bagi siswa

      penyandang tunagrahita.



                                   5
                                 BAB II

                           KAJIAN PUSTAKA



A. Pengertian Anak Luar Biasa

          Sebagian besar orang menyebut anak luar biasa dengan sebutan
   anak berkelainan. Istilah berkelainan dalam percakapan sehari-hari
   dikonotasikan sebagai kondisi yang menyimpang dari kondisi anak
   yang sebaya atau rata-rata pada umumnya. Penyimpangan ini
   memiliki nilai lebih atau kurang.
          Dalam pendidikan luar biasa atau pendidikan bagi anak
   berkebutuhan khusus, istilah penyimpangan ditujukan bagi anak yang
   memiliki penyimpangan dari kondisi rata-rata anak normal umumnya,
   dalam hal keadaan fisik, mental atau perilakunya. Istilah
   penyimpangan atau kelainan dirasa kurang bisa diterima secara
   psikologis oleh para penyandangnya. Untuk mengurangi beban
   psikologis tersebut, istilah kelainan diganti dengan istilah luar biasa.
          Menurut “Kamus Besar Bahasa Indonesia” (1988:553), luar
   biasa adalah keadaan tidak seperti yang biasa; tidak sama dengan lain;
   istimewa. Sub Dinas Pendidikan Luar Biasa, Propinsi Jawa Timur
   (1993:5) menyebutkan bahwa anak luar biasa adalah anak yang
   kondisi/keadaan dan perkembangannya demikian menyimpang dari
   anak normal, baik secara fisik, mental, sosial maupun emosinya.
   Peraturan Pemerintah Nomer 72 tahun 1991 (1992:219) tentang
   Pendidikan Luar Biasa, menyebutkan bahwa anak luar biasa adalah
   anak yang menyandang kelainan fisik dan atau mental dan
   kelainan perilaku. Jenis kelainan yang disandang oleh anak luar biasa
   dapat berupa (1) kelainan indera penglihatan disebut tunanetra-A, (2)
   kelainan indera pendengar dan indera bicara disebut tunarungu
   wicara-B, (3) kelainan daya serap pelajaran/akademik disebut
   tunagrahita-C, (4) kelainan keadaan dan fungsi sebagian anggota
   tubuh disebut tunadaksa-D, (5) kelainan perilaku sosial disebut
   tunalaras-E, dan (6) kelainan ganda dari beberapa kelaina tersebut di
   atas, yang disebut tunaganda atau majemuk-G.
          Berikut ini akan dipaparkan sepintas pengertian anak luar biasa
   tersebut.
   1. Anak Tunanetra-A



                                    6
          Anak tunanetra adalah anak yang mengalami kerusakan
   sebagian dari mata secara fisik atau fungsi mata dalam derajat
   kerusakan total atau sebagian, yang masih mempunyai sisa
   penglihatan, dengan tidak membedakan faktor penyebabnya.
   Dengan kata lain istilah tunanetra mencakup dua tingkat
   kerusakan mata, yaitu buta total (tidak mempunyai sisa
   penglihatan sama sekali), atau masih mempuyai sisa penglihatan
   (low vision).
          Mohammad Effendi (2006:52) menyatakan bahwa secara
   definitif seseorang dikatakan tunanetra apabila memiliki visus
   sentralis kurang dari/lebih kecil dari 6/6, atau setelah
   dikoreksi/dibantu tindakan medis secara maksimal, tidak
   mungkin menggunakan fasilitas pendidikan seperti yang
   dipergunakan oleh orang awas.
2. Anak Tunarungu wicara-B

          Anak tunarungu wicara adalah anak yang kurang mampu
   atau tidak mampu sama sekali mendengar bunyi/suara pada
   intensitas tertentu (keras atau lemah), dalam satuan deciBell (dB),
   menggunakan telinganya sendiri, sebagai akibat dari kerusakan
   organ pendengarannya. Akibat kerusakan ini, menjadikan organ
   pendengaran tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Dengan
   kondisi seperti ini, mempengaruhi tingkat perkembangan anak
   dalam belajar bahasa lisan, prestasi akademik, emosi dan
   sosialisasi dengan lingkungannya.
          Mohammad Effendi (2006:58) menyatakan bahwa
   berdasarkan nilai ambang batas, seseorang yang mengalami
   kehilangan daya dengar 0 - 20 dB, masih dianggap normal.
          Dari pernyataan Mohammad Effendi di atas
   nampaklah bahwa kehilangan daya dengar di atas atau lebih dari
   20 dB, baru dinyatakan tuna rungu.
3. Anak Tunagrahita-C

          Anak tunagrahita adalah anak yang mengalami kelainan
   mental atau terbelakang mental atau anak yang mentalnya tidak
   dapat mencapai perkembangan penuh, seperti anak yang
   sebayanya sehingga mengakibatkan terbatasnya kemampuan
   belajar, mengalami kesulitan/hambatan penyesuaian dengan
   lingkungan sosialnya. Dengan kata lain, anak tunagrahita



                                7
   merupakan merupakan anak yang intelegensinya di bawah rata-
   rata subnormal, atau IQ sekitar 70 ke bawah.
          Mohammad Effendi (2006:88) menyatakan bahwa
   seorang anak yang dikategorikan berkelainan mental/subnormal
   atau tunagrahita, jika ia memiliki tingkat kecerdasan yang
   sedemikian rendahnya sehingga untuk mencapai tingkat
   perkembangannya memerlukan bantuan atau layanan yang
   khusus termasuk dalam program pendidikannya.
          Menurut derajat ketunaanya, anak tunagrahita dapat
   digolongkan menjadi tiga, yaitu (1) tunagrahita mampu didik
   (debil), (2) tunagrahita mampu latih imbisil), dan (3) tunagrahita
   mampu rawat (idiot).
4. Anak Tunadaksa-D

          Anak tunadaksa adalah anak yang mengalami keadaan tidak
   sempurna dan atau tidak lengkapnya organ/anggota tubuhnya,
   terutama tangan, kaki atau badan, sehingga mengalami gangguan
   fungsi atau manfaat dari organ tubuh itu, yang disebabkan karena
   penyakit, kelainan sejak lahir (natal), atau karena kecelakaan
   masa pertumbuhan (post natal).
          Mohammad Effendi (2006:114) menyebutkan bahwa anak
   tunadaksa adalah anak yang mengalami kesulitan dalam
   memaksimalkan fungsi anggota tubuh sebagai akibat dari luka,
   penyakit, pertumbuhan di dalam kandungan yang salah bentuk
   (tidak sempurna), akibatnya kemampuan untuk melakukan
   gerakan anggota tubuh tertentu mengalami hambatan.
5. Anak Tunalaras-E

          Anak tunalaras adalah anak yang memiliki kelainan tingkah
   laku atau sering disebut dengan anak nakal.
          Bandi Delphie (2006:100) menyatakan bahwa anak
   tunalaras adalah anak yang mempunyai kondisi perilaku yang
   menyimpang dari perilaku normal. Perilaku yang menyimpang ini
   pada umumnya dapat menimbulkan keresahan atau gangguan
   ketenteraman kehidupan anggota keluarga dan masyarakat di
   sekitarnya. Jenis perilaku kenakalan anak tunalaras ini, apabila
   dilakukan oleh orang dewasa dapat dikategorikan sebagai perilaku
   yang melanggar hukum. Tunalaras dikenal juga dengan sebutan
   tunasosial.



                                8
      Mohammad Effendi (2006:159) menyatakan sebagai
berikut.
      “Anak tunalaras adalah anak yang mempunyai
      perilaku menyimpang, suka melakukan pelanggaran
      terhadap norma sosial di sekitarnya, dengan frekuensi
      yang cukup besar/banyak kurang mempunyai sikap
      toleransi terhadap anggota kelompok dan orang lain,
      mudah terpengaruh oleh perubahan suasana, sehingga
      membuat kesulitan bagi dirinya dan orang lain”.

       Dari beberapa pengertian tentang anak luar biasa tersebut di
atas nampak nyata bahwa anak luar biasa itu memerlukan
pelayanan pendidikan secara khusus, ditangani oleh
guru/pembimbing khusus, di sekolah khusus, yang dikenal
dengan Sekolah Luar Biasa/SLB.
       Mengingat bahwa kegiatan membaca nyaring, sebagai tema
dari penelitian ini hanya dikhususkan bagi siswa tunagrahita,
maka pembahasan berikut hanya dikhususkan kepada siswa
penyandang tunagrahita.
       Pada umumnya prestasi belajar akademik dipengaruhi
oleh tingkat intelegensi. Untuk mengetahui tingkatan intelegensi
seseorang/siswa dipergunakan kriteria, yaitu (1) IQ 140 ke atas
dikatakan anak jenius, (2) IQ 130 - 139 dikatakan sangat superior,
(3) IQ 120 – 129 dikatakan anak superior, (4) IQ 110 – 119
dikatakan anak di atas normal, (5) IQ 90 – 109 dikatakan anak
normal, (6) IQ 80 – 89 dikatakan anak di bawah normal, dan (7)
IQ 79 kebawah dikatakan anak lemah jiwa/mental atau kelainan
mental.
       Mulyono Abdurrahman (1999:22) menyatakan bahwa anak
yang dapat digolongkan sebagai anak berkesulitan belajar
adalah anak yang memiliki skor IQ 79 ke bawah. Anak/siswa
tunagrahita memiliki skor IQ 79 ke bawah, akan mengalami
banyak kesulitan dalam mengikuti pembelajaran akademik.
       Mulyono Abdurrahman (1999:6) menyatakan bahwa
kesulitan belajar adalah suatu gangguan dalam satu atau lebih
proses psikologis yang mencakup pemahaman dan penggunaan
bahasa ujaran dan tulisan. Gangguan tersebut menampakkan diri
dalam bentuk kesulitan dalam mendengarkan, berpikir, berbicara,
membaca, mengeja dan berhitung.



                             9
       Sebuah lembaga di Amerika Serikat, The National Joint
Comitte for Learning Disabilitas (NJCLD), sebagaimana dikutip
oleh Mulyono Abdurrahman (1999:7) menyebutkan bahwa
kesulitan belajar menunjuk pada sekolompok kesulitan yang
dimanifestasikan dalam bentuk kesulitan yang nyata, dalam
kemahiran dan penggunaan kemampuan mendengarkan, bercakap-
cakap, membaca, menulis, menalar, atau kemampuan bidang
studi matematika.
       Dari kedua pendapat yang terakhir tersebut nyatalah bahwa
anak yang mengalami kesulitan belajar membaca, juga akan
mengalami kesulitan dalam hal lain, seperti kesulitan menulis,
berpikir, bercakap-cakap/berbicara, mengeja huruf, kekurangan
dalam memori visual, memori kognitip. Hal ini sesuai dengan
pendapat yang dikemukakan oleh Vernon, seperti dikutip oleh
Mulyono Abdurrahman (1999:164) yang mengemukakan
bahwa perilaku anak berkesulitan belajar membaca adalah
sebagai berikut.
       a. Memiliki kekurangan dalam diskriminasi bahasa, Tidak
           mampu menganalisa kata menjadi huruf,
       b. Memiliki kekurangan dalam memori visual,
       c. Memiliki kekurangan dalam diskriminasi audio,
       d. Tidak mampu memahami simbul bunyi,
       e. Kurang mampu mengintegrasikan penglihatan dan
           pendengaran,
       f. Kesulitan dalam mengurutkan kata-kata dan huruf,
       g. Kurang mampu membaca kata-kata, dan
       h. Kurang mampu berfikir konseptual, abstrak.

      Pendapat di atas menunjukkan bahwa anak tunagrahita
memiliki kekurangan dalam memori kognitip, yang lebih dikenal
dengan istilah disfungsi minimal otak. Akibatnya ia akan
mengalami kesulitan dalam membedakan/mendiskriminasikan
audio, visual, huruf, sebagai bekal dasar dalam kegiatan membaca
dan mengikuti pembelajaran.
      Yuyus Suherman (2005:15) menyebutkan bahwa
karakteristik anak dengan kesulitan belajar seperti anak
tunagrahita, meliputi sebelas gugus kesalahan yaitu:
      a. Kesalahan ejaan,
      b. Kesalahan membedakan apa yang didengar,



                           10
           c.   Kesulitan mengenal huruf,
           d.   Kesulitan mengucapkan bunyi atau huruf awal kata,
           e.   Kesulitan mengingat apa yang didengar,
           f.   Kesalahan membilang dan mengingat angka,
           g.   Kesulitan mengingat apa yang dilihat,
           h.   Ketidaktepatan dalam koordinasi anggota gerak,
           i.   Kesalahan orientasi pada bidang datar,
           j.   Kesalahan ucapan unsur kata,
           k.   Kesalahan gerak halus yang nampak pada saat ia
                menulis.

B. Membaca

  1. Pengertian Membaca

           Menurut “Kamus Besar Bahasa Indonesia-KBBI”
     (1988:620), membaca adalah proses kegiatan mengeja atau
     melafalkan apa yang tertulis dengan melesankan atau dalam hati.
           I Gusti Ngurah Oka (1993:11) menyebutkan bahwa
     membaca sebagai (a) kegiatan mempersepsi tuturan tertulis, (b)
     penerapan seperangkat keterampilan kognitip untuk memperoleh
     pemahaman dari tuturan tertulis.
           Mulyono Abdurrahman (1999:200) memberikan batasan
     bahwa membaca bukan hanya mengucapkan bahasa tulis atau
     lambang bunyi bahasa, melainkan juga menanggapi dan
     memahami isi bahasa tulisan.
           Henry Guntur Tarigan (1984:7) juga memberikan batasan
     bahwa membaca adalah suatu proses yang dilakukan serta
     dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan yang
     hendak disampaikan oleh penulis melalui media kata-
     kata/bahasa tulis.
           Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa membaca
     merupakan proses mengucapkan secara lisan atau dalam hati,
     lambang-lambang bunyi dari tuturan tertulis, dan berusaha
     memahami/memperoleh makna yang dikandung oleh serangkaian
     kata-kata dalam tuturan tertulis itu. Membaca merupakan suatu
     proses penafsiran atau interpretasi terhadap ujaran yang ditulis.
     Dengan demikian, membaca merupakan bentuk komunikasi tak
     langsung. Membaca dengan melisankan, baik lirih atau keras



                                 11
   sehingga orang lain dapat mendengar lebih dikenal dengan
   istilah membaca nyaring. Hal ini sesuai dengan pendapat Dini
   Dahlia (2001:152) dalam bukunya Bimbingan Pemantapan
   Bahasa Indonesia bahwa membaca nyaring adalah membaca
   dengan disuarakan, yakni dengan tujuan agar pembaca dan orang
   lain secara bersama-sama dapat menyimak dan memahami isi
   bacaan.
          Kegiatan membaca nyaring menuntut si pembaca memiliki
   kecepatan dan ketepatan pandangan mata, sebab ia harus selalu
   melihat bahan bacaan berupa tulisan, dan memelihara kontak
   visualnya dengan tulisan, agar bunyi bacaannya sesuai benar
   dengan lambang bunyi bahasanya.
          Membaca nyaring banyak dilakukan oleh anak yang sedang
   belajar membaca dan menulis permulaan. Kegiatan membaca
   nyaring yang didengarnya sendiri dapat membantu meningkatkan
   pemahaman membaca anak, karena proses pemerolehan bahasa
   pertama kali, anak juga mendengar sendiri dari anggota keluarga
   terdekatnya (ibu).
          Jika anak sudah terbiasa melisankan dengan membaca
   nyaring bunyi bahasa yang didengarnya, maka akan lebih
   membantu mengenali kembali unsur bahasa yang diperoleh dan
   didengarnya. Oleh karena itu kegiatan membaca keras dan nyaring
   banyak dilatihkan pada tahap awal pembelajaran membaca dan
   menulis, di kelas I. Menghalangi dan mencegah terjadinya
   kesalahan membaca, lebih baik daripada membetulkan kesalahan
   membaca, hal ini merupakan salah satu prinsip dalam
   pembelajaran membaca.
2. Metode Pembelajaran Membaca

         Ada beberapa metode dalam pembelajaran membaca.
   Berikut ini adalah metode-metode yang dimaksud.
   a. Metode abjad/metode alfabetik, dengan langkah-langkah

      sebagai berikut:

      1) Mengenalkan         dan    membaca   huruf,   misalnya   b

          dilafalkan [bé];




                                   12
   2) Merangkai huruf yang telah dilafalkan, menjadi suku kata,

      misalnya bu dilafalkan bé-u [bu]; ku dilafalkan ka-u

      [ku].

   3) Merangkai suku kata menjadi kata, misalnya bu-ku

      dilafalkan [buku]

   4) Merangkai kata menjadi kalimat, misalnya ini+buku

      dilafalkan [ini buku]

b. Metode bunyi, yang melafalkan huruf sebagaimana bunyi

   huruf itu, misalnya:         b   dilafalkan [éb] atau [beh],   d

   dilafalkan [êd] atau [déh]

c. Metode suku kata, yang mengeja kata menjadi suku kata,

   misalnya: i + tu, dilafalkan [itu]

d. Metode kata lembaga, dengan langkah-langkah sebagai

   berikut:

   1) Mengenalkan kata lembaga, misalnya mina

   2) Menguraikan kata menjadi suku kata, misalnya mi + na

   3) Menguraikan suku kata menjadi huruf, misalnya m i + n

      a

   4) Menggabungkan huruf menjadi suku kata, misalnya mi +

      na



                              13
   5) Menggabungkan suku kata menjadi kata, misalnya mina

e. Metode    Struktur   Analisis dan Sintetis   (SAS),     dengan

   langkah- langkah sebagai berikut:

   1) Guru menunjukkan kepada siswa sebuah kata, misalnya “

      ini baju”.

   2) Menganalisa bacaan “ini baju” menjadi kata “ini” dan

      “baju”,

   3) Menganalisa menjadi suku kata “i + ni” dan “ba + ju”

   4) Menganalisa menjadi huruf        “i n i   b a j u”

   5) Menggabungkan menjadi suku kata “ i + ni”      dan “ba +

      ju”

   6) Menggabungkan suku kata menjadi kata “ini” dan “baju”

   7) Menggabungkan kata menjadi kalimat “ ini baju”

        Mulyono Abdurrahman (1999:217) menyebutkan bahwa
pembelajaran membaca, khusus bagi siswa yang mengalami
kesulitan belajar membaca, seperti siswa tunagrahita, bisa
menggunakan metode multi sensoris, yang disebut dengan metode
VAKT (Visual, Auditory, Kinesthetic, and Tactile).
        Dengan metode ini, guru menuliskan sebuah kata di papan
tulis atau di atas kertas. Siswa disuruh menelusuri huruf-huruf
dengan jari tangannya (kinesthetic and tactile). Pada saat siswa
menelusuri huruf-huruf dengan jari tanganya, siswa melihat
tulisan (visual), dan siswa mendengarkan (auditory) lalu
menirukan ucapan guru dengan keras.
        Dalam pembelajaran membaca dengan metode VAKT
ini, siswa dilatih mengoptimalkan kerjasama/sinerji fungsi



                           14
     indera lihat, indera dengar, indera motorik tangan dan
     memori kognitif. Latihan pembelajaran ini dilakukan berulang-
     ulang, dengan penajaman pada huruf yang belum dipahami oleh
     siswa.
C. Media Pembelajaran

   1. Pengertian Media Pembelajaran

            Kata “media” berarti alat, perantara atau pengantar. Dengan
      demikian media merupakan perantara penyalur informasi belajar
      atau penyalur pesan kepada peserta didik/siswa.
            Menurut Soeparno (1988:1) media adalah alat yang

      dipakai sebagai saluran untuk menyampaikan suatu pesan atau

      informasi dari suatu sumber kepada penerimanya.

            Media dapat berupa manusia, benda, alat, bahan

      ataupun peristiwa yang memungkinkan siswa memperoleh

      pengetahuan dan keterampilan. Dalam proses pembelajaran di

      sekolah, pesan tersebut berasal dari guru, sebagai penerima pesan

      adalah siswa. Akhirnya dapat dipahami bahwa media adalah alat

      bantu berupa apa saja, yang dapat dijadikan sebagai penyalur

      pesan guna mencapai tujuan pembelajaran. Sebagian besar

      orang atau guru menyebut media pembelajaran ini sebagai alat

      peraga atau alat bantu.

   2. Tujuan dan Latar Belakang Penggunaan Media Pembelajaran

            Tujuan utama penggunaan media pembelajaran adalah

      agar pesan atau isi pembelajaran yang disampaikan oleh



                                  15
guru dapat dengan mudah diserap oleh siswa sebagai penerima

pesan.

         Sedang latar belakang perlunya penggunaan media

pembelajaran adalah informasi belajar yang dikomunikasikan

secara verbal/ceramah saja, kemungkinan terserapnya amat kecil,

sebab informasi yang demikian itu bersifat abstrak, sedang siswa

masih dalam taraf tingkatan berfikir secara konkret, nyata.

Sesuatu yang diamati, diraba, dilihat, dipegang akan lebih

berkesan bagi siswa, dari pada kalau disampaikan dengan cara

ceramah yang bersifat abstrak.

         Semakin abstrak bahan pembelajaran, semakin sulit

diterima oleh siswa, sebaliknya semakin konkret, nyata isi

pembelajaran, akan semakin mudah dipahami oleh siswa.

         Media/peraga sebagai alat bantu dapat menjelaskan secara

visual pengertian isi pembelajaran yang tidak dapat diwakili

dengan kata-kata. Dengan media, proses pembelajaran yang

bersifat verbalisme dapat diminimalkan.

         Penggunaan media sebagai alat peraga/bantu pembelajaran,

juga sesuai dengan cara belajar siswa tunagrahita yang bersifat

konkret. Hal ini sesuai dengan pendapat Mulyono Abdurrahman

(1999:87) yang menyatakan bahwa:



                              16
          Pada usia 7 hingga 11 tahun siswa berada pada

          tahapan operasi konkret. Pada tahapan ini yang dapat

          dipikirkan siswa masih terbatas pada benda-benda

          konkret yang dapat diraba dan dilihat. Banyak siswa

          tunagrahita meskipun umurnya telah mencapai 11 tahun,

          tetapi masih berada pada tahapan operasi konkret.



      Badan Penelitian dan Pengembangan, Departemen

Pendidikan Nasional (2006:3) menyatakan bahwa cara belajar

siswa usia sekolah dasar berada pada tahapan operasi konkret,

yang mengandung makna proses belajar beranjak dari hal-hal

yang konkret, yakni yang dapat dilihat, didengar, dibaui dan

diraba.

      Dari paparan tersebut di atas jelaslah bahwa asas peragaan

merupakan salah satu usaha guru untuk membantu mempermudah

siswa dalam menyerap isi pembelajaran. Oleh karena itu maka

tepatlah kiranya bila pembelajaran membaca permulaan bagi

siswa penyandang tunagrahita menggunakan salah satu alat

bantu/media berupa gambar.




                               17
                                 BAB III
                            METODE PENELITIAN


A. Rancangan Penelitian

          Rancangan      penelitian     yang    dipergunakan dalam penelitian ini

   adalah penelitian tindakan kelas (PTK).

          Suharsimi Arikunto      (2006:2) menyatakan bahwa penelitian tindakan

   kelas adalah    sebuah    kegiatan    penelitian   yang     dilakukan    di   kelas.

   Suharjono (2006:57) menyatakan sebagai berikut.

          Penelitian tindakan kelas adalah penelitian yang dilakukan oleh guru
          bekerja sama dengan peneliti (atau dilakukan oleh guru sendiri yang juga
          bertindak sebagai peneliti) di kelas atau sekolah tempat ia mengajar,
          dengan penekanan pada penyempurnaan atau peningkatan proses dan
          praktis pembelajaran.


          Pendapat Suharjono ini menyebutkan adanya pelaku penelitian yaitu

   guru atau peneliti lain, tempat penelitian yaitu kelas atau sekolah, dan dampak

   yang diharapkan dari tindakan penelitian yaitu adanya penyempurnaan dan

   perbaikan proses    pembelajaran.     Pada    bagian lain       Suharjono (2006:72)

   menegaskan bahwa apabila guru melakukan PTK untuk kelasnya sendiri maka

   ia bertindak selaku peneliti yang sekaligus sebagai praktisi.

          Berdasarkan uraian di atas, seorang guru boleh melakukan penelitian

   tindakan kelas tanpa berkolaborasi atau bekerjasama dengan peneliti/pihak lain

   lain. Penelitian tindakan kelas yang dilakukan oleh guru tanpa berkolaborasi

   dengan pihak lain (peneliti ahli) mempunyai kelemahan, antara lain (1) guru

   pada umumnya belum menguasai teknik dasar penelitian, (2) guru tidak



                                          18
memiliki waktu yang cukup karena padatnya kegiatan pembelajaran dan tugas

administrasi kelas/sekolah, s erta tugas lain di luar tugas pembelajaran,

(3) tingginya     unsur   subjektifitas proses, data penelitian. Akibatnya hasil

penelitian kurang memenuhi kriteria validitas metodologi ilmiah.

         Kelas   adalah   sekelompok        siswa, yang   pada   waktu yang sama

mengikuti dan memperoleh pembelajaran dari guru. Pada penelitian tindakan

kelas, data penelitian diperoleh dari objek penelitian yaitu siswa y ang berada

pada satu kelompok/rombongan belajar yang dikenai tindakan oleh peneliti.

         Penelitian tindakan kelas ini tidak menggunakan populasi dan sampel. Hal

ini sesuai dengan pendapat Suharsimi Arikunto (2006:27) yang menyatakan

bahwa penelitian tindakan kelas tidak mengenal populasi dan sampel karena

dampak perlakuannya hanya berlaku pada siswa yang dikenai tindakan saja.

         Penelitian tindakan kelas ini dilakukan dalam bentuk atau model siklus,

yaitu suatu putaran/rangkaian kegiatan yang beruntun-urut dan kembali ke

langkah semula. Satu siklus kegiatan terdiri atas empat kegiatan utama, yaitu

perencanaan, tindakan, pengamatan dan refleksi. Kegiatan               pengamatan

dilakukan bersamaan dengan kegiatan tindakan. Setiap siklus selalu melaui

keempat tahapan itu.        Siklus kedua dan seterusnya merupakan usaha

perbaikan/penyempurnaan       dari    siklus pertama.     Penelitian   ini   hanya

berlangsung dalam satu     siklus.   Siklus     kedua dan seterusnya    diserahkan

kepada     pemangku kepentingan/steakholder pendidikan luar biasa atau peneliti

lain.




                                       19
1. Lokasi Penelitian

         Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di Sekolah Luar
   Biasa Dharma Wanita Jiwan yang beralamat di Jl. Sumbermoro
   No. 3 Kecamatan Jiwan Kabupaten Madiun 2006/2007.
2. Waktu penelitian

         Penelitian dilaksanakan selama 33 hari efektif masuk
   sekolah, mulai tanggal 20 Nopember 2006 sampai dengan tanggal
   28 Desember 2006, pada jam pelajaran ke 1 dan 2, mata pelajaran
   bahasa Indonesia, dengan 2 jam pelajaran/minggu, @ 30 menit.
3. Target/Sasaran Penelitian

          Target yang diharapkan dari penelitian ini adalah adanya
   perubahan kemampuan yang positif atau peningkatan
   kemampuan/keterampilan membaca kata (sederhana) berstruktur
   konsonan-vokal-konsonan-vokal (kvkv), bagi siswa tunagrahita
   dengan indikator keberhasilan kegiatan belajar, siswa mampu
   membaca dengan benar kata-kata buku, baju, bola, topi dan kupu,
   dengan asumsi kata yang dipilih ini mudah dalam pengadaan
   media gambarnya. Target ini sesuai dengan rumusan dari Badan
   Standar Nasional Pendidikan (2006:67) bahwa (a) standar
   kompetensi dasar aspek membaca dari mata pelajaran Bahasa
   Indonesia kelas 2 semester 1, adalah membaca nyaring suku kata,
   kata dan kalimat sederhana, (b) kompetensi dasar (1)
   membaca nyaring suku kata dan kata, dan (2) membaca nyaring
   kata sederhana dengan lafal dan intonasi yang tepat.
          Subjek penelitian ini adalah siswa tunagrahita kelas 2
   sebanyak 6 siswa terdiri atas 4 laki-laki dan 2 perempuan. Secara
   umum mempunyai karakteristik akademik antara lain: (1)
   mempunyai daya memori kognitif yang rendah atau disfungsi
   minimal otak sehingga mudah lupa, (2) kurang bisa memusatkan
   perhatian pada pelajaran atau satu objek, sehingga mudah
   mengalihkan perhatian kepada objek lain, (3) pada pengucapan
   kata sering terjadi omisi/penghilangan unsur kata (suku kata)
   sehingga kata yang diucapkan terdengar tidak lengkap, (4)
   mempunyai kekurangan dalam diskriminasi huruf dan angka, (5)
   mempunyai aktifitas gerak yang berlebihan/hiperaktif, (6) gerakan
   tangan pada waktu menulis terlihat kaku, (7) emosi yang tidak



                               20
      stabil, dan (8) mudah menyakiti fisik teman atau orang lain, tanpa
      menunjukkan ekpresi wajah menyesal.
B. Siklus Penelitian

   1. Perencaanaan

             Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan dengan
       rencana seperti tabel di bawah.




                                   21
                    Tabel 3.1 Rencana Penelitian
   No                                         Minggu ke
                 Rencana kegiatan
    .                                         1   2    3    4   5    6
    1    Persiapan
         Mengajukan ijin kepada Kepala
                                              x
         Sekolah
         Menyusun jadwal                      x
         Menyusun instrumen (media
         gambar soal tes, lembar
                                              x
         pengamatan dan skenario
         pembelajaran)
    2    Pelaksanaan
         Menyiapkan dan menata
                                              x
         instrumen
         Melakukan tes pra kondisi (tes
                                                  x
         visual, auditori, kognitif
         Melakukan pembelajaran
         membaca dengan metode kata               x x x
         lembaga dan vakt
    3    Pelaporan
         Menyusun konsep                                        x
         Seminar/diskusi hasil, dengan
                                                                     x
         sesama guru
         Perbaikan konsep                                            x

2. Pelaksanaan Tindakan dan Pengamatan

         Tindakan dan pengamatan dalam penelitian ini
   dilaksanakan secara bersamaan dengan langkah-langkah sebagai
   berikut.
   a. Mengetes ketajaman penglihatan/tes visual kepada semua

        siswa   dengan   kartu   Snellen.   Hasilnya       sebagai       dasar

        penempatan tempat duduk siswa dan pemilihan ukuran besar

        kecilnya huruf yang dipakai sebagai media pembelajaran baik




                                 22
  di buku dan papan tulis. Siswa yang mempunyai ketajaman

  penglihatan kurang ditempatkan pada kursi terdekat dengan

  papan tulis Diyakini bahwa ketajaman penglihatan siswa

  berpengaruh                  dalam                 kemampuan

  mendiskriminasi/membedakan huruf dan angka yang mirip.

  Misalnya huruf m dengan n, l dengan i, b dengan d, p dengan

  q, u dengan o, h dengan b; angka 3 dengan 8, angka 6

  dengan 8, angka 4 dengan 9, angka 1 dengan 7.

b. Mengetes ketajaman pendengaran kepada semua siswa/tes

  auditori, dengan menanyakan langsung, apakah suara guru

  dapat   didengar   dengan    baik.   Hasilnya   sebagai   dasar

  pengaturan volume bicara guru, pada waktu pembelajaran.

  Diyakini bahwa ketajaman pendengaran berpengaruh dalam

  kemampuan membedakan bunyi huruf yang mirip, misalnya b

  dengan p, u dengan o, e dengan i, m dengan n.

c. Mengetes   kemampuan       mengenal   huruf    kepada    semua

  siswa/tes kognitif. Kemampuan siswa dalam mengenal huruf

  merupakan bekal dasar membaca kata.

d. Mengetes kemampuan membaca beberapa kata berstruktur

  konsonan vokal konsonan vokal (kvkv) kata: buku, baju,



                          23
   bola, topi, kupu, menggunakan instrumen kartu kata dan

   diamati dengan instrumen/lembar pengamatan.

         Hasil dari langkah-langkah ini dirangkum dalam
   instrumen pengamatan sebagai data awal pra
   kondisi/pembelajaran, yang nanti akan dibandingkan dengan
   data hasil pengamatan setelah siswa mengikuti pembelajaran.
e. Peneliti memulai pembelajaran membaca kata-kata buku,

   baju, dasi, topi dan kupu dengan menuliskan kata-kata itu di

   papan tulis atau kartu kata, dengan gabungan metode kata

   lembaga, dan metode VAKT (Visual Auditori Kinesthetic and

   Tactile).

f. Selanjutnya dilakukan tes membaca kata-kata tersebut di atas

   kepada semua siswa satu persatu (bergantian), hasilnya dicatat

   dalam lembar/instrumen pengamatan.

g. Langkah e diulang, tetapi menggunakan bantuan media

   gambar, dengan penajaman pada kata-kata yang belum dapat

   dibaca dengan benar oleh sebagian besar siswa.

h. Dilakukan tes membaca, hasilnya dicatat dalam lembar

   pengamatan.

Langkah-langkah di atas bila dibuat bagan akan nampak seperti di
bawah.
               Kata                 Kata + gambar



           Pembelajaran              Pembelajaran
                           24

               Tes                       Tes
                               dibandingkan


3. Refleksi

          Pada kegiatan refleksi ini peneliti mengkaji secara mendalam, cermat

   dan menyeluruh terhadap seluruh kegiatan penelitian atau perlakuan beserta

   dampaknya kepada siswa dan guru/peneliti berdasarkan data yang berhasil

   dikumpulkan dengan bantuan instrumen pada tahap pengamatan.

          Kegiatan bantu sebagai dasar refleksi ini adalah analisis data,

   pemaknaan, penjelasan dan penyimpulan.

          Dalam penelitian tindakan kelas ini ada dua jenis data yang dapat

   dikumpulkan oleh guru sebagai peneliti:

   a. Data kuantitatif berupa skor nilai hasil belajar siswa. Dalam hal ini

       peneliti   menggunakan         teknik     analisis    ststistik   deskriptif.

       Misalnya mencari rerata dan persentase.

   b. Data kualitatif yaitu data yang berbentuk informasi, uraian kalimat,

       keterangan, pernyataan. Data jenis ini dapat dianalisis secara kualitatif.




                                     25
       Kegiatan yang dilakukan pada tahap refleksi ini adalah data,

pemaknaan, penjelasan dan penyimpulan data.

       Langkah analisis data dalam penelitian tindakan kelas ini, dilakukan

dalam tiga tahap sebagai berikut.

a. Menelaah seluruh data yang telah dikumpulkan. Penelaahan dilakukan

    dengan cara menganalisis, memaknai, menerangkan dan menyimpulkan.

    Kegiatan penelaahan pada prinsipnya bisa dilakukan sejak awal data

    dikumpulkan/diperoleh.

b. Mereduksi data (menghilangkan data yang tidak bermanfaat), yang

    didalamnya melibatkan kegiatan pengkategorian dan pengklasifikasian.

    Hasil   yang    diperoleh    berupa    pola-pola    dan   kecenderungan-

    kecenderungan kecenderungan yang muncul dalam proses penelitian.

c. Memferikasi dan menyimpulkan data.

       Data hasil pembahasan dalam penelitian ini akan dituangkan

dalam bentuk tabel, grafik dan narasi/uraian. Sebagai uji penunjang/koreksi

akan digunakan teknik analisis statistik deskriptif berupa penghitungan

tendensi sentral (mean, mode dan median). Hal ini sesuai dengan pendapat

Riyanto (2006:105) bahwa jenis-jenis analisis data dengan statistik

deskriptif antara lain: (1) tabel-tabel, (2) penyajian dalam bentuk grafik, dan

(3) tendensi sentral (mean, mode, dan median).




                                    26
                                     BAB IV

                    HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN



      Pada bagian ini akan dipaparkan dan dibahas data yang telah berhasil

dikumpulkan dengan bantuan instrumen pengumpul data pada tahap pengamatan.

A. Hasil Penelitian

   1. Subjek Penelitian

              Subjek penelitian tindakan kelas ini adalah 6 siswa tunagrahita yang

       pada tahun 2006/2007 ini duduk di kelas 2, seperti tersebut dalam tabel di

       bawah ini.

                               Tabel 4.1 Subjek Penelitian

                                                                       Jenis
       No       Nama Lengkap              Tempat, tanggal lahir       kelamin
                                                                      L     P
        1   Tanbihul Ulum             Madiun, 26 - 5 - 1993           v
        2   Eni Astutik               Madiun,11- 12 - 1993
        3   Anggita Febri Restiwi     Jakarta, 25 - 7 - 1992
        4   Moch. Sandrio             Palembang,15 - 4 - 1996         v     v
        5   Guntur Prasetyo           Magetan, 27 - 3 -1995           v     v
        6   Lubis Muchtar             Kediri, 31 - 6 - 1991           v

                                 Jumlah                               4     2



   2. Tes Pra Kondisi

              Tes pra kondisi dalam penelitian ini berupa tes visual dan tes kognitif

       dilaksanakan pada tanggal 27 Nopember 2006.


                                        27
28
a. Tes visual atau ketajaman penglihatan

            Setelah tes visual dilaksanakan memperoleh data seperti tabel

   di bawah ini.

                        Tabel 4.2 Hasil Tes Ketajaman Penglihatan

                        Ukuran huruf kartu
      No.               Snellen yang mampu                  Angka/Indeks
                                                                                  Keterangan
     Subjek                      terbaca

                  6/6      6/9     6/12    6/15   6/21    Efisiensi   Hilang

        1         v         -       -       -         -     100        0,0         Normal

        2         v         -       -       -         -     100        0,0         Normal

        3         v         -       -       -         -     100        0,0         Normal

        4          -        v       -       -         -     91,5       8,5         Kurang

        5         v         -       -       -         -     100        0,0         Normal

        6         v         -       -       -         -     100        0,0         Normal



b. Tes kognitif

   1) Tes membaca 26 huruf alpabet

                  Tes membaca 26 huruf alphabet kepada subjek penelitian

       ini memperoleh hasil seperti tabel di bawah ini.

                         Tabel 4.3 Hasil tes membaca 26 huruf alpabet

            No.
                                 Huruf-huruf yang terbaca               Jumlah         %
        Subjek
            1          a, b, d, e, f, r, o, s                                9       34,6
            2          a, b, d, e, f, g, h, o, r, s                          11      42,3



                                           29
    a, b, c, d, e, f, g, h, i, j, k, l, m, n, o, p,
3                                                     26   100
    q, r, s, t, u, v, w, x, y, z
4   a, b, c, d, o, p, r, s                            8    30,76
5   a, b, o, r, s                                     5    19,23
6   a, b, c, d, o, r, s                               7    26,92




                          30
       2) Tes membaca kata tanpa bantuan gambar

                        Tes membaca kata tanpa bantuan gambar memperoleh hasil

              seperti tabel di bawah ini.

              Tabel 4.4 Hasil tes membaca kata tanpa bantuan gambar

                                  Kata-kata yang diujikan/diteskan
                No.                                                                      Jumlah
                          buku        baju         bola         topi       kupu
               Subjek
                          S   B      S    B       S    B    S      B       S     B   S B Skor

                 1        v   -      v    -        -   v    v          -   v     -   4 1      1

                 2        v   -      v    -        v   -    v          -   v     -   5 0      0

                 3        -   v      -    v        -   v    -      v       -     v   0 5      5

                 4        v   -      v    -        v   -    v          -   v     -   5 0      0

                 5        v   -      v    -        v   -    v          -   v     -   5 0      0

                 6        -   v      v    -        v   -    v          -   v     -   4 1      1



              Keterangan :

              S = Salah, B = Betul

3. Tes Setelah Pembelajaran

          Pembelajaran membaca dengan bantuan gambar dilaksanakan dalam

   3   kali     pertemuan      @      2x30        menit.   Pertemuan           pertama    tanggal

   4 Desember 2006, kedua tanggal 11 Desember 2006 dan ketiga tanggal

   17 Desember 2006. Di setiap akhir pertemuan diadakan tes membaca,

   sehingga ada 3 kali tes.

          Hasil masing-masing tes seperti tabel di bawah ini.




                                             31
Tabel 4.5 Hasil tes pertama kemampuan membaca kata

                    Kata-kata yang diujikan/diteskan
  No.                                                                          Jumlah
           buku           baju           bola           topi       kupu
 Subjek
           S   B      S      B       S      B       S      B       S   B   S    B Skor
   1       -    v     -      v       v          -   v          -   v   -   3    2       2
   2       -    v     -      v       v          -   v          -   v   -   3    2       2
   3       -    v     -      v       -      v       -          v   -   v   0    5       5
   4       v    -     v          -   v          -   -          v   -   v   3    2       2
   5       -    v     v          -   v          -   v          -   v   -   4    1       1
   6       -    v     -      v       v          -   v          -   v   -   3    2       2



Tabel 4.6 Hasil tes kedua kemampuan membaca kata

                    Kata-kata yang diujikan/diteskan
  No.                                                                          Jumlah
           buku           baju           bola           topi       kupu
 Subjek
           S   B      S      B       S      B       S      B       S   B   S   B    Skor
   1       -    v     -      v       v          -   v          -   v   -   3   2        2
   2       -    v     v          -   -      v       v          -   -   v   2   3        3
   3       -    v     -      v       -      v       -          v   -   v   0   5        5
   4       v    -     v          -   v          -   -          v   -   v   3   2        2
   5       -    v     -      v       -      v       v          -   v   -   2   3        3
   6       -    v     -      v       v          -   v          -   v   -   3   2        2




                                     32
       Tabel 4.7 Hasil tes ketiga kemampuan membaca kata

                            Kata-kata yang diujikan/diteskan
         No.                                                                         Jumlah
                  buku            baju           bola         topi       kupu
       Subjek
                 S      B     S      B       S        B   S      B       S   B   S   B   Skor

          1       v     -     -      v       -        v   -          v   v   -   2   3        3

          2       -     v     -      v       -        v   v          -   v   -   2   3        3

          3       -     v     -      v       -        v   -          v   -   v   0   5        5

          4       v     -     v          -   -        v   -          v   -   v   2   3        3

          5       -     v     v          -   -        v   v          -   v   -   3   2        2

          6       -     v     -      v       -        v   v          -   v   -   2   3        3



B. Pembahasan Hasil Penelitian

          Bagian ini akan dibahas satu persatu deskripsi data penelitian.

   1. Tes Pra Kondisi

       a. Tes Visual

                  Dari data hasil tes visual atau tes ketajaman penglihatan terhadap

          6 siswa tunagrahita yang menjadi subjek penelitian ini, dapat diketahui

          bahwa ada 5 siswa yang masih mempunyai ketajaman penglihatan

          normal, dengan efisiensi 100% (normal). Ia masih mampu melihat dan

          membaca huruf di kartu Snellen berukuran 6 pada jarak baca 6 meter

          atau mempunyai visus mata 6/6. Ada 1 siswa yang kehilangan ketajaman

          penglihatan sebesar 8,5% sehingga efisensi ketajaman penglihatannya

          sebesar 91,5%.



                                                 33
          Pada waktu dilakukan tes membaca huruf standar seperti

   huruf yang biasa dicetak di buku-buku pelajaran sekolah, yaitu

   huruf jenis New Times Roman ukuran 12 dengan jarak baca standar

   antara kertas dengan mata     sejauh 30 cm, mereka mampu membaca

   beberapa huruf.

b. Tes mengenal dan membaca 26 huruf alphabet

          Hasil tes membaca 26 huruf alphabet menunjukkan adanya

   variasi kemampuan membaca kata. Ada 1 siswa yang bisa membaca 26

   huruf (100%), ada 5 siswa yang masing-masing baru mampu membaca

   11 huruf (42,3%), 9 huruf (39,6%), 8 huruf (30,76%), 7 huruf (26,93%)

   dan 5 huruf (19,23%).

c. Data hasil tes membaca kata tanpa gambar

          Hasil   tes   dalam   tabel   4.4 menunjukkan bahwa minimnya

   kemampuan membaca huruf alphabet berbanding lurus dengan

   kemampuan membaca kata atau berpengaruh terhadap            kemampuan

   membaca kata. Semakin banyak huruf yang mampu dibaca semakin

   banyak kata yang mampu dibaca. Hal ini bisa dilihat dari hasil tes

   pertama membaca kata tanpa gambar, dengan deret skor 1, 0, 5, 0, 0, 1.

          Untuk menghitung nilai rata-rata dan mode dari deret skor 1,

   0, 5, 0, 0, 1, seperti   tersebut dalam tabel       4.4 terlebih dahulu

   disusun menjadi tabel distribusi tunggal sebagai berikut.




                                34
       Tabel 4.8 Distribusi skore hasil tes membaca kata tanpa gambar

             Xi                                fi                    fi.Xi

              0                                3                      0

              1                                2                      2

              2                                0                      0

              3                                0                      0

              4                                0                      0

              5                                1                      5

              -                             Σ fi = 6              Σ fi.Xi = 7



              Nilai   rata-rata (mean) dihitung dengan rumus, jumlah skor

       (ΣfiXi) dibagi dengan banyak skor (Σfi):


       Mean (Mn) =
                      f X
                         i       i
                                     
                                         8
                                            1,33
                      f     i           6


       Dicari nilai modus yaitu nilai atau skor dengan jumlah frekuensi

       Terbanyak. Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui nilai modus (Mo)

       adalah 0 dengan jumlah frekuensi 3. Artinya dari 6 siswa yang mengikuti

       uji membaca kata tanpa gambar, ada 3 siswa yang memperoleh skor 0.

2. Tes membaca kata dengan bantuan gambar

   a. Tes pertama

              Dari    deret          skor      2, 2, 5, 2, 1, 2    dalam        tabel   4.5

       kemudian disusun menjadi tabel distribusi tunggal sebagai berikut.




                                             35
Tabel 4.9 Distribusi skore hasil tes membaca kata dengan gambar

            Xi                                   fi                      fi.Xi

            1                                    1                        1

            2                                    4                        8

            3                                    0                        0

            4                                    0                        0

            5                                    1                        5

                                             Σfi = 6                  ΣfiXi = 14




           Nilai    rata-rata           (mean)        dihitung dengan rumus jumlah skor

   (ΣfiXi) dibagi dengan banyak skor (Σfi).


   Mean (Mn) =
                    f Xi       i
                                    
                                        14
                                            2,33
                    f      i            6


           Dicari    nilai          modus, yaitu         nilai   atau skor dengan jumlah

   frekuensi terbanyak              Berdasarkan tabel 4.5 di atas dapat diketahui

   nilai modus(Mo) adalah 2 dengan jumlah frekuensi 4, artinya dari

   6 siswa yang mengikuti uji membaca kata tanpa gambar, ada 4 siswa

   yang memperoleh skor 2.

b. Tes kedua




                                            36
           Dari deret skor 2, 3, 5, 2, 1, 2 dalam tabel 4.6 dihitung

   dengan cara yang sama seperti cara menghitung pada tes pertama, dapat

   diperoleh nilai     mean sebesar   2,83   dan        nilai modus adalah    2

   dengan jumlah frekuensi 3.

c. Tes Ketiga

           Dari deret skor      3, 3, 5, 3, 2, 3 dalam tabel 4.7 dihitung

   dengan cara yang sama seperti cara menghitung pada tes pertama, dapat

   diperoleh nilai mean      sebesar 3,16    dan       nilai   modus    adalah 3

   dengan jumlah frekuensi 4.

           Nilai hasil penghitungan tes awal, tes pertama, tes kedua dan tes

   ke tiga kemudian dituangkan dalam tabel perbandingan seperti di bawah

   ini.

   Tabel 4.10 Perbandingan nilai tes membaca tanpa gambar dengan

   bantuan gambar

                                      Nilai Hitung
  No      Intervensi    Periode tes                            Keterangan
                                      Mean    Modus

          Tanpa         Tes Awal/
   1                                  1,16         0               -
          gambar        Pra kondisi

                        Tes Pertama   2,33         2             Naik
          Dengan
   2                    Tes Kedua     2,83         2             Naik
          gambar
                        Tes Ketiga    3,16         3             Naik




                                 37
                  Hasil dalam tabel 4.10 di atas dapat diketahui adanya kenaikan

nilai mean dari (1) tes awal ke tes pertama sebesar (2,33 – 1,16) = 1,17;

(2) tes awal ke tes kedua sebesar (2,83 – 3,16) = 1,67 dan (3) tes awal ke

tes ketiga sebesar (3,16 – 1,16) = 2,00.

                  Kenaikan nilai mean dan modus ini menunjukkan                  adanya

peranan gambar dalam meningkatkan keterampilan membaca kata

secara nyaring bagi siswa tunagrahita.

                  Untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas tentang kenaikan

nilai mean dan modus hasil tes sebagai wujud peranan gambar dalam

meningkatkan keterampilan membaca, maka deret skor tes awal 1, 0, 5,

0, 0, 1; tes pertama 2, 2, 5, 2, 1, 2; tes kedua 2, 4, 5,2, 4, 3 dan tes ketiga

3, 3, 5, 3, 2, 3 dibuat grafik poligon dan garfik histrogram/diagram

batang, seperti di bawah ini.


              6
              5                                                       tes awal
  Frekuensi




              4
                                                                      tes pertama
              3
                                                                      tes kedua
              2
                                                                      tes ketiga
              1
              0
                     1        2      3         4   5       6
                                      Skor/Nilai




                         Grafik 4.1 Poligon hasil tes keterampilan membaca




                                         38
      6

      5
                                                               tes awal
      4
                                                               tes pertama
      3
                                                               tes kedua
      2
                                                               tes ketiga
      1

      0
              1       2       3        4      5




              Grafik 4.2 Histogram hasil tes keterampilan membaca

          Grafik poligon dan histogram tersebut menunjukkan bahwa:

1) Pada tes awal, ada 3 siswa yang memperoleh skor 0, ada 2 siswa

    memperoleh skor 1, dan ada 1 siswa memperoleh skor 5. Skor

    terendah adalah 0 (3 siswa).

2) Pada tes pertama, ada 1 siswa yang memperoleh skor 1, ada 4 siswa

    yang memperoleh skor 2, dan ada 1 siswa yang memperoleh skor 5.

    Skor terendah adalah 1 (1 siswa).

3) Pada tes kedua, ada 2 siswa yang memperoleh skor 2, ada 1 siswa

    yang mempereoleh skor 3, ada 2 siswa yang memperoleh skor 4, dan

    ada 1 siswa yang memperoleh skor 5. Skor terendah adalah 2 (2

    siswa).

4) Pada tes ketiga, ada 1 siswa yang memperoleh skor 2, ada 4 siswa

    yang memperoleh skor 3, dan ada 1 siswa yang memperoleh skor 5.

    Skor terendah adalah 1 (2 siswa).

          Berdasarkan peningkatan perolehan skor terendah dari tes awal ke

tes pertama, tes awal ke tes kedua, tes awal ke tes ketiga tersebut di atas,



                                  39
maka dapat disimpulkan bahwa gambar mempunyai peranan dalam

meningkatkan keterampilan membaca kata secara nyaring bagi siswa

tunagrahita




                         40
                                     BAB V

                                    PENUTUP



A. Simpulan

           Berdasarkan uraian dari seluruh kegiatan penelitian tindakan kelas ini,

   maka dapat disimpulkan bahwa penerapan media gambar dalam strategi

   pembelajaran membaca kata, berdampingan dengan metode kata lembaga dan

   metode VAKT (Visual, Auditory, Kinesthetic dan Tactile) dapat meningkatkan

   keterampilan membaca nyaring bagi siswa tunagrahita kelas 2 di Sekolah Luar

   Biasa Dharma Wanita Jiwan, pada tahun pelajaran 2006/2007.



B. Saran

           Ada 2 saran yang disampaikan berkaitan dengan hasil dan proses

   penelitian tindakan kelas ini.

   1. Saran Berkaitan dengan Penerapan Hasil Penelitian

       a. Mengingat penerapan media gambar dapat meningkatkan keterampilan

           membaca nyaring bagi siswa tunagrahita maka dalam kegiatan proses

           pembelajaran membaca permulaan, guru dapat memanfaatkan media

           gambar tersebut.

       b. Penerapan metode kata lembaga dan metode VAKT (Visual, Auditory,

           Kinesthetic dan Tactile) dalam kegiatan proses pembelajaran membaca

           nyaring pada membaca permulaan perlu lebih diefektifkan lagi.




                                       41
2. Saran Berkaitan Dengan Penelitan Lanjutan

   a. Mengingat pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini baru berlangsung 1

       siklus maka peneliti atau guru lain, diharapkan dapat melanjutkan siklus

       penelitian ini sehingga dapat diperoleh temuan strategi pembelajaran

       yang tepat.

   b. Instrumen tes dan pengamatan yang dipergunakan dalam penelitian ini

       adalah buatan guru yang tingkat validitasnya rendah. Oleh karena itu,

       pada penelitian siklus berikutnya diharapkan menggunakan instrumen

       yang standar sehingga memperoleh hasil penelitian yang lebih berbobot.




                                   42
                              DAFTAR PUSTAKA


Bandi Delphie, 2006, Pembelajaran Anak Berkebutuhan Khusus Dalam Setting
         Pendidikan Inklusi, Bandung. PT. Refika Aditama.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1988, Kamus Besar Bahasa Indonesia,
         Jakarta, Balai Pustaka

Direktorat Jenderal Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1995, Petunjuk
           Pengajaran Membaca dan Menulis Permulaan, Jakarta, Departemen
           Pendidikan dan Kebudayaan.

Dini Dahlia, 2001, Bimbingan Pemantapan Bahasa Indonesia, Bandung, CV.
          Yrama Widya.

Direktorat Pembinaan Sekolah Luar Biasa, 2006, Standar Kompetensi dan
           Kompetensi dasar SDLB Tunagrahita, Jakarta, Departemen Pendidikan
           Nasional.

Henry Guntur Tarigan, 1985, Membaca Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa,
         Bandung, Angkasa.

I Gusti Ngurah Oka, 1983, Pengantar Membaca dan Pengajarannya, Surabaya,
          Usaha Nasional

Jujun Suriasumantri, 2000, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, Jakarta,
          Pustaka Sinar Harapan.

Mulyono Abdurrahman, 1999, Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar, Jakarta,
         PT. Rineka Cipta.

Mohammad Effendi, 2006, Psikopedagogik Anak Berkelainan, Jakarta, PT. Bumi
       Aksara

Soeparno, 1988, Media Pengajaran Bahasa, Jogjakarta, PT. Intan Pariwara.

Sekretariat Jenderal Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1992, Peraturan
           Pemerintah No. 72 Tahun 1991 Tentang Pendidikan Luar Biasa,
           Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Sub Dinas Pendidikan Luar Biasa, 1993, Pedoman Penyelenggaraan Pramuka Luar
          Biasa, Surabaya, Dinas Pendidikan Propinsi Jawa Timur.

Suharsimi Arikunto, Suhardjono, dkk, 2006, Penelitian Tindakan Kelas, Jakarta, PT.
          Rineka Cipta.



                                       43
Yatim Riyanto, 2001, Metodologi Penelitian, Surabaya, SIC

Yuyus Suherman, 2005, Adaptasi Pembelajaran Siswa Berkesulitan Belajar,
        Bandung, Risqi Press.




                                       44
                      PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN



Yang bertanda tangan di bawah ini :

       Nama            : WIWIK IRIANI

       NPM             : 05311174

       Program Studi : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

       Fakultas        : Pendidikan Bahasa dan Seni

Menyatakan dengan sebenarnya, bahwa skripsi yang saya tulis ini benar-benar

merupakan hasil karya saya sendiri, bukan pengambilalihan tulisan atau pikiran orang

lain yang saya akui hasil pikiran saya sendiri.

Apabila di kemudian hari terbukti atau dapat dibuktikan skripsi ini plagiat, maka saya

bersedia menerimasangsi atas perbuatan tersebut.



                                                      Madiun,

                                                      Yang membuat pernyataan,

                                                      Materei 6.000

                                                      dan tanda tangan



                                                      WIWIK IRIANI




                                           45

								
To top