Bentuk Perjanjian Yang Dibiayai Oleh Finance

W
Description

Bentuk Perjanjian Yang Dibiayai Oleh Finance document sample

Document Sample
scope of work template
							LAPORAN PELAKSANAAN JICA (Japan International Cooperation Agency)
I, II, III.

     Berkat kegigihan dan perjuangan Yth. Ketua DPD RI yaitu Bapak Prof.
Dr. Ginanjar Kartasasmita, sedikit demi sedikit nama DPD RI berkiprah, salah
satu keberhasilannya adalah Rencana Kerja beliau dalam melobby
Negara sahabat, yakni Kerajaan Jepang untuk memberikan Program
Training / sejenis study banding, untuk menunjang keperluan dan
kebutuhan dalam pengembangan dan kemajuan DPD RI pada saat ini
dan dimasa mendatang, khususnya di 33 propinsi seluruh wilayah Negara
Kesatuan Republik Indonesia.

Kunjungan JICA (Japan International Cooperation Agency) ke- I
dilaksanakan pada tgl. 19 February s.d. 27 February 2006, dalam acara
“Seminar on Declaration and Role of Parliament and Its Secretariat in
Japan”.

Daerah-daerah yang dikunjungi antara lain :

   1.  Tokyo;
   2.  Akashi;
   3.  Kyoto;
   4.  Majelis Tinggi Jepang;
   5.  Kantor Pusat Japan International Cooperation Agency (JICA);
   6.  Kementerian Luar Negeri Jepang;
   7.  Kementerian Dalam Negeri Jepang;
   8.  Diskusi dengan pakar/narasumber dari National Graduate Institute
       for Policy Studies;
   9. Pemerintah Daerah Prefektur Kyoto;
   10. DPRD Prefektur Kyoto.

I. Nama-Nama Anggota DPD RI/Peserta yang berangkat dalam acara
     JICA ke I adalah sebagai berikut :

   A. Anggota DPD RI
      1. Drs. Rusli Rahman, M.Si. (B-34)           Provinsi Kepulauan
                                                   Bangka Belitung
        2. Ir. Ruslan Wijaya, SE., M.Sc. (B-24)    Provinsi Sumatera
                                                   Selatan
        3. Fajar Fairy Husni, SH. (B-35)           Provinsi Kepulauan
                                                   Bangka Belitung
        4. Muhammad Nasir (B-19)                   Provinsi Jambi
        5. Ir. H.M Yunus Sjamsoedin (B-107)        Provinsi Sulaweesi
                                                   Tenggara
        6. Dr. Ir. Abdul M. Killian, Ms. (B-123)   Provinsi Papua Barat
        7. H. Yopie Sangkot Batubara (B-8)         Provinsi Sumatera Utara
      8. Dr. Piet Herman Abik, M.App, Sc (B-77) Provinsi Kalimantan
                                                Barat
      9. Joseph Bona Manggo (B-75)              Provinsi Nusa Tenggara
                                                Timur
      10. H. Biem Triani Benyamin S. (B-43)     Provinsi DKI Jakarta

   B. Peserta dari Sekretariat Jenderal DPD RI :
      1. Syiaruddin, SH.
      2. Adam Bachtiar, SH, M.H.
      3. Nursalim, SH.
      4. Drs. Sadarieli Zebua, M.Si.
      5. Drs. Irdam Imran, M.H.

II. Nama-Nama Anggota JICA ke II yang berangkat ke Jepang,
dilaksanakan pada tgl. 24 Maret s/d 2 April 2007 adalah sebagai berikut :

   A. Anggota DPD RI :
      1. Drs. H. Faisal Mahmud               Provinsi Sulawesi Tengah
      2. Ir. Hj. Nur Andriyani               Provinsi Kalimantan Timur
      3. Hj. Hariyanti Safrin, SH.           Provinsi Lampung
      4. Ishak Mandacan                      Provinsi Papua Barat
      5. Dra. Hj. Mediati Hafni Hanum        Provinsi Nanggroe Aceh
                                             Darussalam
      6. Aryanti Baramuli Putri              Provinsi Sulawesi Utara
      7. H. Rosman Djohan                    Provinsi Kepulauan Bangka
                                             Belitung
      8. Tony Tesar, S.Sos                   Provinsi Papua
      9. P.R.A. Arief Natadiningrat          Provinsi Jawa Barat
      10. Dra. Hj. Ratu Cicih Kurniasih      Provinsi Banten

   B. Sekretariat Jenderal DPD RI
      1. Dr. Ir. Siti Nurbaya Bakar, M.Sc.
      2. Dra. Sri Sumarwati Isfandiari
      3. Dra. Sri Susilowati
      4. Drs. Muhammad Sururi
      5. Anies Mayangsari Muninggar, SIP


      Obyek Training Daerah-daerah Negara Jepang yang dikunjungi
      rombongan JICA II adalah sbb :
        1. Majelis Tinggi Jepang;
        2. Kantor Pusat jepang International Cooperation Agency (JICA)
        3. kantor Pusat Japang bank for International Coopertion (JBIC)
        4. Kementerian Luar Negeri Jepang;
        5. kementerian Dalam Negeri;
        6. Diskusi dengan pakar/narasumber dari National Graduate
           Institue for Policy Studies;


                                                                            1
        7. Pemerintah Daerah Kota Prefektur Kyoto;
        8. DPRD Prefektur Kyoto;
        9. DPRD Pemerintah Kota Nantan;
        10. Desa Miyama; dan
        11. Pemerintah Kota Yamato;

III.   Nama-Nama Anggota JICA ke III, yang berangkat tanggal 2
       Februari s/d 11 Februari 2008

        Anggota DPD RI :
       1. Drs. H.M Kafrawi Rahim             Provinsi Sumatera Selatan
       2. HJ. Djamila Somad, B.Sc            Provinsi Kepulauan Bangka
                                             Belitung
       3. Ir. H. Idris Zaini, MBA            Provinsi Kepulauan Riau
       4. H. Amir Adam                       Provinsi Gorontalo
       5. Wilhelmus Wua Openg                Provinsi Nusa Tenggara Timur
       6. Drs. Ida Bagus Gede Agastia        Provisi Bali
       7. Afdal, S.Si                        Provinsi Sumatera Barat
       8. Dinawati , S.Ag                    Provinsi Riau
       9. Drs. A.D. Khaly                    Provinsi Gorontalo
       10. Mirati Dewaningsih, ST.           Provinsi Maluku

  A. Sekretariat Jenderal DPD RI

       1.   R. Wiweko SH., M.Si. (Kepala Biro Kerumahtanggaan DPD RI)
       2.   Dra. Eulis Watidihati M.Si. (Kepala Bagian Tata Usaha DPD RI)
       3.   Yunus Pasnaolif, SE. (Kepala Bagian Risalah DPD RI)
       4.   Drs. Marfungi ( KaBag. Persidangan Paripurna/PANMUS DPD RI
       5.   Rancang Aribowo, SE.(KaBag. Akomondasi dan Angkutan DPD RI).


  Obyek Training perjalanan JICA III ke Jepang adalah sebagai berikut :

  1.   Kantor Pusat Japan International Cooperation Agency (JICA)
  2.   Kedutaan Besar Republik Indonesia
  3.   Ministary of Internal Affairs and Communications (MIC)
  4.   Japan International Cooperation Agency (JICA) Tokyo
  5.   Majelis Tinggi Jepang;
       a.     Perpustakaan Majelis Tinggi Jepang;
       b.     Kediaman Dinas Ketua Majelis Tinggi Jepang;
       c.     Ruang Rapat Majelis Tinggi Jepang;
       d.     Wisma Anggota Majelis Tinggi Jepang;
       e.     Fasilitas Akomodasi Anggota Majelis Tinggi Jepang;
  6.   DPRD Kabupaten/Kota Tokyo
  7.   Gubernur Prefektur Kochi
  8.   DPRD Prefektur Kochi
  9.   DPRD Kota Kochi


                                                                            2
10. Walikota Kochi
11. Kepala Desa Umaji/ DPRD desa Umaji.


Untuk itu di sini diulas hanya kunjungan JICA ke III saja berhubung,
kunjungan JICA I, II, III pada dasarnya adalah sama yaitu studi
banding parlemen dan pemerintahan Jepang.

     Dalam sistem ketatanegaraan Indonesia telah menganut sistem
 bikameral yang berarti ada dua lembaga legislasi dan mengawasi
 pelaksanaan legislasi. Dalam pelaksanaannya lembaga DPD RI belum
 mempunyai wewenang yang seimbang sehingga peranan check
 and balances belum terlaksana. Bikameral di Indonesia masih
 termasuk soft bikameralism atau bikameral yang lunak karena DPD RI
 belum mempunyai wewenang untuk turut memutuskan.
     Dewan Perwakilan Daerah (DPD) anggotanya terdiri atas wakil-
 wakil daerah provinsi yang dipilih langsung oleh rakyat melalui
 pemilihan umum dan merupakan calon independen yang
 mempunyai kewajiban memberikan pertanggungjawaban secara
 moral dan politis kepada pemilih dan daerah pemilihannya. Sebagai
 konsekuensi dari hal itu semua, Anggota Dewan Perwakilan Daerah
 secara pribadi-pribadi mempunyai kewajiban untuk tangkas memacu
 kreativitas, untuk menyerap, menghimpun, menampung dan
 menindaklanjuti aspirasi masyarakat dan daerah pemilihannya agar
 apa yang diperlukan masyarakat dan daerah dapat menjadi
 kenyataan atau paling tidak mendekati kenyataan, terutama yang
 berkaitan dengan kesejahteraan masyarakat.
     Menghangatnya isu daerah pada awal masa reformasi serta
 menonjolnya keinginan melaksanakan otonomi daerah menjadikan
 otonomi daerah sebgai instrumen utama dalam manajemen
 hubungan pusat dan daerah, serta untuk dapat menekan angka
 kemiskinan di daerah-daerah. Perlunya perhatian yang besar pada
 kepentingan daerah juga disebabkan oleh kenyataan bahwa
 Indonesia adalah sebuah negara yang sangat majemuk (heterogen).
     UUD 1945 mengatur bahwa Pemerintahan daerah provinsi,
 kabupaten, dan kota mengatur dan mengurus sendiri urusan
 pemerintahan menurut asas otonomi dan asas pembantuan
 (medebewind). Dengan konsep otonomi diyakini bahwa daerah akan
 lebih memacu perkembangan daerah dibandingkan dengan konsep
 sentralisasi. Dengan pemberian otonomi daerah diharapkan segala


                                                                       3
keanekaragaman dan kearifan lokal dapat muncul dan menjadi
kekuatan bagi daerah untuk berkembang.
    Sejalan dengan tujuan nasional, kepentingan daerah untuk
mengembangkan potensi daerah guna memajukan kesejahteraan
rakyat diselenggarakan dengan tetap menjaga persatuan dan
kesatuan bangsa serta keutuhan Negara Kesatuan Republik
Indonesia.
    Sebagai lembaga negara yang menghimpun wakil-wakil daerah
dan berjuang untuk kepentingan daerah, kehadiran DPD
mengandung misi antara lain untuk memantapkan integrasi bangsa
sekaligus meningkatkan kualitas penyelenggaraan otonomi daerah
bagi kemajuan dan kesejahteraan masyarakat di daerah. Karena
itulah, berbagai upaya dilakukan oleh DPD guna menemukan
formulasi yang tepat bagi Indonesia dalam mewujudkan
pemerintahan daerah yang berkualitas, sekaligus konsep otonomi
daerah yang tepat bagi Indonesia. Kondisi ini mendorong DPD untuk
menindaklanjuti melalui program berupa studi khusus tentang
pemerintahan daerah dan implementasi otonomi daerah, dengan
memilih pengalaman negara Jepang.
   Jepang dikenal sebagai negara yang sejak tahun 1947 telah
melakukan reformasi desentralisasi dalam rangka penataan ulang
hubungan pusat dan daerah.
    Reformasi    desentralisasi  tersebut    dilakukan    dengan
menggabungkan beberapa wilayah pemerintahan daerah menjadi
satu wilayah pemerintahan daerah. Pada tahun 1888, Jepang
memiliki 71.314 daerah otonom yang disebut Municipalities. Melalui
reformasi desentralisasi dengan menerbitkan peraturan perundang-
undangan di bidang otonomi daerah, pada bulan Februari 2007,
Jepang hanya memiliki 1.811 Municipalities. Situasi ini berbanding
terbalik dengan Indonesia. Setelah reformasi dengan alasan untuk
mengembangkan kemampuan daerah dengan semangat otonomi
daerah, banyak terjadi pemekaran daerah dan terbentuk sekitar 173
kabupaten/kota baru sepanjang 1999 sampai dengan awal 2007 ini.
    Selain dari pada itu Dewan Perwakilan Daerah sebagai lembaga
baru diharapkan dapat memperkuat sistem Parlemen di indonesia
yang secara otomatis akan memperkuat sistem demokrasi di
Indonesia yang sedang mencari bentuk yang sesungguhnya dengan
mengacu sistem bikameralism murni.



                                                                 4
Kegiatan training ini dimaksudkan untuk :
1.   Memperoleh pengalaman tentang keberadaan Majelis Tinggi
     dan Majelis Rendah dalam segala aspek, mekanisme sistem
     ketatanegaraan dengan menganut sistem bikameral.
2.   Studi khusus dari pengalaman Jepang dalam melakukan
     reformasi desentralisasi sebagai masukan bagi Indonesia dalam
     memformulasikan kebijakan otonomi daerah yang lebih maju
     dalam memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa;
3.   Memperoleh gambaran menyeluruh mengenai dinamika
     otonomi daerah, konsep penyelenggaraan pemerintahan
     daerah, termasuk dengan proses dan kriteria pembentukan,
    pemekaran, dan penggabungan wilayah di negara Jepang.
Sedangkan tujuan dari kegiatan training ini adalah :
1. Mencari bahan/pandangan untuk meningkatkan peran DPD
     dalam penyelenggaraan sistem ketatanegaran            dengan
     mekanisme proses penyusunan Legislasi sistem dua kamar;
2.   Mencari format pelayanan sistem persidangan        dua kamar
     dalam pelaksanaan penyelenggaraan pemerintahan.
3.   Mencari bahan/pandangan untuk bahan kajian DPD tentang
     penyusunan    kriteria pembentukan,        pemekaran,    dan
     penggabungan wilayah.



                        -------------------




                                                                5
            SEKILAS TENTANG KEGIATAN TRAINING PROGRAM
    Hari Minggu, 3 Februari 2008 merupakan permulaan kegiatan Training
Program ”Seminar on Decentralitation and Role of Parliament and Its
Secretariat in Japan” untuk waktu kurang lebih 9 (sembilan) hari. Dengan
menggunakan pesawat Japan Airlines, peserta training diketuai oleh Drs.
H. Kafrawi Rahim sebagai Ketua Rombongan berangkat menuju bandar
udara Narita Tokyo Jepang, dengan waktu tempuh 8 (delapan) jam.
Sesampainya di Jepang Anggota dan Sekretariat ini disambut oleh
koordinator training program Taki Kitada dan Sachi Akimoto (staf JICA)
yang juga sekaligus penterjemah yang mendampingi peserta training
dalam mengikuti program selama 9 (sembilan) hari.
     Jepang merupakan negara kepulauan di Timur Asia, terletak di
Samudera Pasifik dan berbatasan dengan Cina bagian Timur, Korea, dan
Rusia. Huruf Kanji merupakan ciri khas Jepang yang berarti “Matahari
Terbit”, sehingga Jepang disebut juga sebagai “Negara Matahari Terbit”.

     Ibu kota            :   Tokyo
     Lagu Kebangsaan     :   Kimigayo
     Sistem              :   Monarki Konstitusional
     Pemerintahan
     Kaisar              :   Kaisar Akihito
     Perdana Menteri     :   Yasuo Fukuda,        Partai    Demokrasi
                             Liberal (LDP)
     Konstitusi          :   Konstitusi Meiji
     Luas Wilayah        :   377.873 km2
     Populasi            :   128.085.000 (2005)
     GDP                 :   2006
                             Total       : $4.91 triliun
                             Perkapita : $38.341
     Mata uang           :   Yen

    Senin, 4 Februari 2008, pukul 10.10 s.d. 12.00 waktu setempat, kami
melakukan kunjungan kehormatan dan makan siang di Kedutaan Besar
Republik Indonesia berkuasa penuh untuk Jepang. Yusuf Anwar dialog dan
diskusi dengan Duta Besar di sampaikan beberapa pengarahan tentang
kondisi Jepang, adat dan budaya serta kebiasaan-kebiasaan rakyat
Jepang dalam kehidupan sehari-hari.
      Pada hari yang sama, pukul 14.00 s.d. 15.00 waktu setempat, peserta
training mengadakan pertemuan dengan Mr. Watanabe Shiro, Deputy



                                                                          6
Director of the Local Administration Division, MIC untuk mendapatkan
materi tentang sistem pemerintahan di Jepang.
      Menjelang sore hari pukul 15.00 s.d. 16.00 kami mengadakan
pertemuan dengan Mr. Kurono Yoshiyuki, Deputy Derector of Helping
Striving Regions to Help Themselves di kantor Ministary of Internal Affairs and
Communications (MIC) tentang ”Program Mendukung Daerah (Helping
Striving Regions to Help Themselves)”.       Pada pukul 16.45 s.d. 17.45
dijadwalkan untuk berdiskusi dan berdialog dengan mantan gubernur
Prefektur Kochi Bapak Hashimoto Daijoro dan menjelang malam hari pada
pukul 18.00 s.d. 18.30 bertempat di kantor JICA Tokyo diadakan pertemuan
dengan Mr. Watanabe Masato, Deputy Director-General, International
Cooperation Bereau, serving concurrently as Deputy Director-General,
Southeast and Southwest Asian Affairs Departement, Ministry of Foreign
Affairs diakhiri dengan acara welcome Party.
     Selasa, 5 Februari 2008, peserta training melakukan peninjauan ke
National Diet Library, yang merupakan perpustakaan nasional Jepang
yang didirikan sejak tahun 1948. perpustakaan ini memberikan support
substansi materi kepada kebutuhan Majelis Tinggi dan Majelis Rendah
dalam penyusunan rancangan Undang-Undang yang akan dibahas
dalam parlemen. Anggaran perpusatakaan ini ditentukan panitia
musyawarah Jepang, dengan jumlah pegawai 923 (sembilan ratus dua
puluh tiga) orang dengan koleksi buku sebanyak 8.830.000 (delapan juta
delapan ratus tiga puluh ribu) eksemplar.
     Rabu, 6 Februari 2008 merupakan jadwal bagi peserta training untuk
melakukan observasi di Majelis Tinggi Jepang, diskusi dan dialog dengan
Ketua Majelis Tinggi Mr. Eda Satsuki dan para pejabat Sekretariat Majelis
Tinggi. Peserta training memperoleh padangan/pendapat mengenai
tugas dan wewenang Majelis Tinggi serta dukungan yang diberikan oleh
Sekretariat Majelis Tinggi dalam rangka pelaksanaan tugas dan wewenang
Majelis Tinggi. Di samping itu, peserta training juga berkesempatan
mengikuti Sidang Paripurna Majelis Tinggi Jepang yang sedang
memutuskan beberapa rancangan undang-undang (RUU). Sidang ini
berlangsung sangat cepat dan efektif, serta didukung oleh sistem absensi
kehadiran dan sistem penghitungan suara dengan komputer/digital pada
saat terjadi pemungutan suara untuk memutuskan persetujuan RUU.
peserta training juga berkesempatan untuk mengadakan observasi pada
pendidikan politik bagi pelajar.




                                                                             7
    Terkait dengan sarana dan prasarana Majelis Tinggi Jepang, peserta
training diberi kesempatan untuk meninjau beberapa ruang rapat alat
kelengkapan Majelis Tinggi dan studio mini. Setiap ruang rapat alat
kelengkapan Majelis Tinggi memiliki studio mini yang dapat digunakan oleh
stasiun televisi untuk menyiarkan secara langsung jalannya persidangan
atau rapat-rapat Alat Kelengkapan Majelis Tinggi.
       Dalam kunjungannya peserta training juga mengadakan peninjauan
fasilitas kegiatan hubungan masyarakat (humas), kunjungan ke Ketua
Majelis Tinggi. Di akhir kunjungan di Majelis Tinggi, peserta training
berkunjung ke ruang rapat paripurna dam menyaksikan langsung jalannya
rapat paripurna, selanjutnya diadakan peninjauan pada ruang kerja
Anggota Majelis Tinggi Jepang. Ruang kerja ini tidak jauh berbeda dengan
ruang kerja yang dimiliki Anggota DPD RI.
    Kamis, 7 Februari 2008, pukul 09.00 waktu setempat, peserta training
melakukan perjalanan ke Prefektur Kochi dengan menggunakan Pesawat
Japan airlines. Di Prefektur Kochi diterima dan berdialog dengan Gubernur
Kochi Mr. Ozaki Masanoa yang pernah bertugas di Kedubes Jepang di
Jakarta, mengenai kebijakan pembangunan daerah di bidang pertanian,
kehutanan, perdagangan, dan industri. Jepang dikenal sebagai negara
yang telah memiliki teknologi tinggi di berbagai bidang, sehingga tidak
aneh apabila teknologi telah menyentuh pedalaman pedesaan Jepang.
    Selanjutnya peserta training mengadakan kunjungan kehormatan dan
dialog dengan Ketua DPRD Kota Kochi yang merupakan prefektur
percontohan (pilot project) dari pelaksanaan otonomi daerah. Pada
kesempatan ini, peserta training berkesempatan berdialog dengan Ketua
DPRD Kochi mengenai perkembangan desentralisasi di kota Kochi.
     Jumat, 8 Februari 2008 peserta training mengadakan kunjungan
kehormatan dan diterima oleh Walikota Kochi Mr. Okazaki Seiya dan
kunjungan kehormatan kepada ketua DPRD Kota Kochi yang bertempat di
ruang tamu walikota dan peserta training mendapatkan materi tentang
pembangunan kota Kochi, proses pembuatan Peraturan Daerah (perda).
Kota Kochi adalah merupakan city system dengan kota Surabaya.
Rombongan disambut dengan meriah oleh staf dan pegawai kota
dengan mengibarkan bendera merah putih dan bendera Jepang.
Menjelang siang hari peserta training bertolak menuju desa umaji, dengan
jumlah penduduk kurang lebih 1150 jiwa. di kantor kepala desa, peserta
training berdialog dengan kepala desa dan Ketua DPRD tentang
pembangunan tekhnologi Industri, Pertanian, kehutanan, dan upaya



                                                                       8
pembangunan desa umaji. Desa umaji adalah desa mandiri dan produsen
utama minuman kyuzu di Prefektur Kochi dan pabrik pengolahan kayu
      Sabtu, 9 Februari 2008 peserta training kembali ke Tokyo dengan
menggunakan Japan Airlines, pada tanggal 10 Februari 2008 peserta
training mengadakan tour menuju Asakusa dan Akibahara, pada tanggal
11 Februari 2008 peserta training kembali ketanah air dengan
menggunakan pesawat Japan Airlines.




                    -----------------------------------




                                                                    9
                           SISTEM PEMERINTAHAN JEPANG


A.    Demokrasi Di Jepang
           Pasca Perang Dunia II, sistem politik demokrasi yang menjadi
      kerangka kerja bagi politik saat ini di Jepang dibangun dengan
      dipimpin oleh Markas Umum (General Headquartes, GHQ) untuk
      mencegah Jepang menjadi pihak yang berperang di masa yang
      akan datang. Pejabat-pejabat pemerintah pra perang yang memiliki
      poisi berpengaruh diberhentikan. Militerisme pun dihapus.
           Penetapan Konstitusi Jepang pada tanggal 3 November 1946
      dan diberlakukan mulai 3 Mei 1947.         Kedaulatan rakyat berarti
      keputusan terakhir berada di tangan rakyat. Konsitusi Jepang
      menjelaskan bahwa Kaisar adalah simbol Negara dan simbol
      pemersatu rakyat Jepang, serta Kaisar tidak boleh ikut campur dalam
      keputusan pemerintah. Di samping itu, secara tegas Konsitusi Jepang
      menyatakan bahwa perang tidak dipakai sebagai jalan penyelesaian
      perselisihan dan diputuskan untuk tidak memiliki angkatan bersenjata.
                Gambar 4.1. Pembagian Kekuasan Pemerintah

                                    KUASA LEGISLATIF
                                         DIET


                                             Pemilihan Umum
                          Tuntutan
                          pembubaran
                                                   Kuasa Inspeksi
                          Majelis Rendah
      Pengambilan                                  kekonstitusionalitasan     Pemecatan
      keputusan                                    hukum                      hakim oleh
      atas mosi                                                               pengadilan
      tidak percaya             KEDAULATAN MUTLAK                              parlemen
      terhadap                       RAKYAT
      kabinet


                                                   Penilaian rakyat
                       Pernyataan                  terhadap Mahkamah
                       protes kepada               Agung melalui
                       Pemerintah                  referendum nasional




                          Kuasa inspeksi atas pelanggaran konstitusi
     KUASA EKSEKUTIF                                                        KUASA YUDIKATIF
        KABINET                                                              PENGADILAN
                             Penunjukan Ketua Mahkamah Agung
                                  Penugasan Hakim Agung




                                                                                              10
B.   Parlemen (Demokrasi Parlementer)
          Parlemen adalah badan pemegang kekuasaan tertinggi negara
     yang menyampaikan aspirasi rakyat karena dipilih melalui pemilu
     Parlemen terdiri atas Majelis Rendah (the House of Representatives
     istilah Jepangnya Kokkai) dan Majelis Tinggi (the House of Councilors
     istilah Jepangnya Sangiin). Keduanya dipilih oleh rakyat Majelis rendah
     memiliki kelebihan daripada Majelis tinggi dalam kewenangan atas
     beberapa jenis rancangan UU, persidangan masalah anggaran,
     pengesahan perjanjian, pemilihan Perdana Menteri Pengesahan UU,
     dan sebagainya

             Majelis Rendah                                   Majelis Tinggi

      Dari distrik pemilu (tunggal):                   Dari distrik pemilu
       300 orang                          Jumlah         (tunggal): 146 orang
                                         anggota
      Wakil berdasarkan                   (kursi)      Wakil berdasarkan
       perbandingan: 180 orang                           perbandingan: 56 orang

            20 tahun ke atas              Hak pilih          20 tahun ke atas

                                        Persayaratan
            25 tahun ke atas                                 30 tahun ke atas
                                            dipilih

                 4 tahun                               6 tahun
          (atau lebih, sampai                          (setengah jumlah
                                        Masa tugas
             dibubarkan)                               anggota dipolih setiap 3
                                                       tahun)

     Sistem Pemilihan Umum:

     Pemilu nasional (untuk kedua majelis)
     Distrik pemilihan untuk kursi tunggal (pemilihan langsung oleh
     penduduk)
     Distrik perwakilan berdasarkan perbandingan (penduduk memberi
     suara kepada partai politik pilihan mereka. Jumlah kursi yang
     diberikan kepada partai tergantung jumlah suara yang diperoleh oleh
     partai tersebut).


C.   Kabinet (Sistem Kabinet Parlementer)
     Kabinet dalam sistem ketatanegaraan jepang mempunyai kekuasaan
     eksekutif tertinggi, terdiri atas Perdana menteri dan menteri-menteri
     negara. Badan ini dirancang untuk mencerminkan kehendak


                                                                                11
     parlemen dengan benar dan melalui sistem kabinet parlementer
     (kabinet dibentuk dengan dukungan parlemen dan kepada
     parlemen inilah kabinet bertanggung jawab bersama-sama).
     Perdana menteri dipilih dari anggota parlemen dengan persetujuan
     parlemen , lalu dilantik oleh kaisar. Menteri-menteri negara diangkat
     dan diberhentikan oleh perdana menteri, mayoritas menteri-menteri
     diangkat dari parlemen.

D.   Pengadilan (Kuasa Yudikatif yang independen)
          Pengadilan dibagi menajdi dua tingkatan yaitu, Mahkamah
     Agung dan pengadilan-pengadilan yang lebih rendah (pengadilan
     tinggi, Pengadilan Negeri, Pengadilan Keluarga dan Pelabuhan
     Sumir). Pengadilan pengadilan tersebut antara satu dengan yang lain
     Independen. Keanggotaan mahklamah Agung berjumlah 15 orang
     hakim agung, Ketua mahkamah agung dicalonkan oleh kabinet dan
     dilantikik oleh kaisar. Hakim hakim ditunjuk oleh kabinet. Mereka dinilai
     oleh rakyat melalui referendum nasional pada saat pemilihan umum,
     sistim pengadilan tiga tingkaytan ini untuk menjkamin hak-hak individu.
           Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa tiga kekuasaan
     pemerintahan, yaitu kekuasaan legislatif yang dipegang oleh Diet,
     kekuasaan eksekutif yang dipegang oleh Kabinet (dipimpin oleh
     Perdana Menteri), dan kekuasaan yudikatif yang dimiliki oleh
     pengadilan.
          Diet terdiri atas 2 kamar, yaitu the House of Representatives
     (Kokkai /Majelis Rendah) dan House of Councilors (Sangiin/Majelis
     Tinggi). Diet adalah lembaga kekuasaan tertinggi negara dan satu-
     satunya lembaga negara pembentuk peraturan perundang-
     undangan. Keduanya dipilih oleh rakyat melalui pemilu. Majelis
     Rendah memiliki kelebihan daripada Majelis Tinggi dalam
     kewenangan atas beberapa jenis rancangan undang-undang (RUU),
     persidangan masalah anggaran, pengesahan perjanjian, pemilihan
     Perdana Menteri, pengesahan UU, dan sebagainya.
          Kabinet adalah badan yang mempunyai kekuasaan eksekutif
     tertinggi, terdiri atas Perdana Menteri dan menteri-menteri Negara.
     Badan ini dirancang untuk mencerminkan kehendak parlemen
     dengan benar. Kabinet dibentuk dengan dukungan parlemen dan
     kepada parlemen inilah kabinet bertanggung jawab. Perdana
     Menteri dipilih dari anggota parlemen dengan persetujuan parlemen
     dan dilantik oleh Kaisar. Menteri-menteri Negara diangkat dan


                                                                           12
     diberhentikan oleh Perdana Menteri. Menteri-menteri dipilih dari
     anggota parlemen.
          Pengadilan dibagi menjadi dua tingkatan utama, yaitu
     Mahkamah Agung dan pengadilan-pengadilan yang lebih rendah
     (pengadilan tinggi, pengadilan negeri, pengadilan keluarga, dan
     pengadilan sumir). Pengadilan independen satu sama lain.
     Pengadilan lebih rendah tidak dikendalikan dan diawasi ole
     pengadilan yang lebih tinggi. Mahkamah Agung terdiri dari 15 orang
     Hakim Agung. Ketua Mahkamah Agung dicalonkan oleh kabinet dan
     dilantik oleh Kaisar. Hakim-hakim yang lainnya ditunjuk oleh kabinet.


E.   Sistem Administrasi
         Adanya depresi berkepanjangan, Kabinet Koizumi menjalankan
     reformasi structural pada tahun 2001 guna mewujudkan manajemen
     pemerintahan dan pembuatan ketetapan politik yang pimpin oleh
     politikus. Oleh sebab itu, defisit kekuangan yang telah mencapai 700
     trilyun yen harus dipotong. Lalu, tidak berfungsinya pemerintahan
     yang serius karena terbentuknya politik yang dipimpin birokrat melalui
     ketergantungan yang tidak sehat antara komunitas politik dan
     birokrasi harus diperbaiki. Reorganisasi ini dianggap paling besar sejak
     Restorasi Meiji dan reformasi pasca perang. Reformasi tersebut adalah
     sebagai berikut:
     1. Reorganisasi deprtemen pemerintah pusat, yaitu penciutan dari 1
        kantor dan 22 departemen/badan menjadi 12 departemen/badan
        (termasuk penghapusan dan penggabungan seksi pada tiap
        departemen/badan      dan  pengurangan       jumlah   pegawai
        pemerintah nasional);
     2. Penguatan sistem bantuan pada Perdana Menteri (peningkatan
        fungsi Sekretaris Kabinet) dan pendirian kantor kabinet;
     3. Penempatan Wakil Menteri Senior dan Sekretaris Parlemen yang
        membantu menteri-menteri;
     4. Penghapusan, swastanisasi, serta penyerahan urusan dan proyek-
        proyek yang dahulunya dikelola oleh pemerintah kepada sektor
        swasta;
     5. Penghapusan perusahaan swasta yang berafiliasi dengan
        pemerintah. Pembentukan badan pemerintah yang independen
        dan mereformasi perusahaan yang dibentuk untuk kepentingan
        masyarakat;



                                                                          13
     6. Deregulasi dan penetapan zona khusus untuk reformasi.


F.   Pemerintah Pusat dan Badan Pemerintah Daerah
        Pasca Perang Dunia II, otonomi daerah dianggap sangat penting
     bagi demokrasi. Oleh sebab itu itu, UU Negara, termasuk konstitusi
     Jepang, menetapkan posisi sistem pemerintahan sendiri di daerah
     dalam organisasi Negara dan menjamin otonomi daerah melalui
     pemberian kekuasaan legislative. UU Otonomi Daerah yang
     diresmikan pada tahun 1947 menetapkan hal-hal yang terpenting
     mengenai pemerintahan daerah. UU Desentralisasi pada tahun 1999
     memberikan otonomi dan kebebasan lebih jauh kepada badan
     pemerintah daerah untuk memperluas desentralisasi.
       Pada umumnya pemerintah pusat dan pemerintah daerah
     membentuk hubungan saling ketergantungan dan melengkapi. Prinsip
     dasar yang melandasi filosofi sistem otonomi daerah adalah
     pemerintah pusat harus menghormati otonomi daerah sebanyak
     mungkin tanpa pengarahan, pengawasan atau campur tangan. Di
     lain pihak proyek yang diwujudkan sukses oleh badan pemerintah
     daerah akan mempengaruhi kebijakan pemerintah pusat.
         Unit administrasi pemerintah di Jepang ada tiga tingkat, yaitu
     pemerintah negara, regional, dan dasar/terkecil. Sistem pemerintahan
     daerah terdiri dari dua jenis kekuasaan. Yang pertama adalah
     kekuasaan tingkat prefektur untuk pemerintahan unit regional. Yang
     kedua adalah kekuasaan tingkat kota/desa untuk pemerintahan unit
     dasar/terkecil.
        Jepang terdiri dari 47 prefektur (provinsi) yaitu: Aichi, Akita, Aomori,
     Chiba, Ehime, Fukui, Fukuoka, Fukushima, Gifu, Gumma, Giroshima,
     Hokkaido, Hyogo, Ibaraki, Ishikawa, Iwate, Kagawa, Kagoshima,
     Kangawa, Kochi, Kumamoto, Kyoto, Mie, Miyagi, Miyazaki, Nagano,
     Nagasaki, Nara, Niigata, Oita, Okoyama, Okinawa, Osaka, Saga,
     Saitama, Shiga, Shimane, Shizouka, Tochigi, Tokushima, Tokyo, Toottori,
     Toyama, Wakayama, Yamagata, Yamaguchi, Yamanashi dengan
     3200 buah kota/desa. Jumlah penduduk prefektur bervariasi, dari
     Tokyo yang berpenduduk lebih dari 12 juta orang, sampai Prefektur
     Tottori yang berjumlah sekitar 600 ribu orang. Pada kota/desa, ada
     Kota Yokohama yang jumlah penduduknya lebih dari 3,5 juta,
     sedangkan ada di beberapa desa, jumlah penduduknya beberapa
     ratus orang. Saat ini, pemerintah nasional sedang mempromosikan



                                                                             14
penggabungan kota/desa untuk meningkatkan usaha memperkuat
dasar keuangan mereka sehubungan dengan menurunnya angka
kelahiran dan meningkatknya kaum lanjut usia. Guna memenuhi
permintaan terhadap layanan administrative yang tumbuh lebih
memuaskan dan bervariasi serta untuk meningkatkan desentralisasi.
   Sebanyak 23 buah ku (ward) Tokyo ditetapkan sebagai badan
pemerintah daerah khusus, tetapi pada prinsipnya diperlakukan
sebagai kota.
   Pada sistem pemerintahan daerah di Jepang, penduduk secara
langsung memilih kepala pemerintah daerah dan anggota DPRD.
Selain itu, penduduk berhak meminta penarikan mundur kepala
pemerintah daerah atau pembubaran DPRD. DPRD membahas dan
memutuskan anggaran dan peraturan daerah. Penduduk berhak
meminta penetapan perubahan atau pencabutan peraturan daerah
tersebut. Kepala pemerintahan daerah dan DPRD mempunyai
wewenang yang setara, serta kedua-duanya secara langsung
bertanggung jawab kepada penduduk.
    Otoritas pemerintahan daerah di Jepang dikenal sebagai
“Pemerintah yang paling sibuk di dunia”. Hal ini karena berbagai
ragam jenis pelayanan yang diberikan oleh pemerintah daerah.
Sebagian besar pelayanan tersebut berkaitan langsung dengan
kehidupan penduduknya. Misalnya, urusan administrasi yang
berkaitan dengan register pokok penduduk; imunisasi; pembuangan
sampah; kesejahteraan orang tua; pengadaan dan manajemen
fasilitas pendidikan (sekolah ), polisi, pemadam kebakaran;
pembangunan dan manajemen pengolahan air limbah; sistem
penyediaan air dan jalan-jalan; serta promosi kegiatan budaya. Selain
itu, pemerintah daerah juga mengerjakan beberap urusan
administrasi pemerintah pusat yang berkaitan dengan pendataan
keluarga, pengumpulan premi asuransi pension nasional, pemilihan
anggota Majelis Rendah dan Majelis Tinggi.
   Terkait dengan keuangan daerah, hanya sepertiga dari
pendapatan pemerintah daerah berasal dari pajak daerah. Namun,
pada kenyataannya, otoritas pemerintah daerah sangat tergantung
pada kekayaan nasional, seperti pembagian pajak yang dialokasikan
ke pemerintah daerah dan pembayaran kekayaan nasional. Salah
satu factor utama yang membatasi otonomi daerah adalah struktur
keuangan di bawah badan pemerintah daerah yang terpaksa



                                                                  15
bergantung pada subsidi nasional yang hanya dapat digunakan
untuk pekerjaan umum skala besar. Beberapa tahun belakangan ini,
pemerintah pusat tengah mempromosikan reformasi tritunggal
terhadap administrasi perpajakan dengan kerja sama pemerintah
daerah. Reformasi ini difokuskan pada pemotongan subsidi untuk
pekerjaan umum skala besar dan menyediakan dana bebas untuk
dipergunakan oleh pemerintah daerah.
   Sepertiga anggaran belanja pemerintah daerah ditujukan untuk
investasi, termasuk pekerjaan permesinan, pertanian, kehutanan, dan
perikanan yang dihitung sekitar sepertiga, dan seperempatnya untuk
belanja pegawai. Belanja pemerintah daerah ini merupakan masalah
yang utama, terutama bagi pemerintah daerah yang mengalami
kesulitan dalam keuangan karena banyaknya hutang daerah.



                        -------------------------




                                                                 16
                           PARLEMEN JEPANG


     Lembaga parlemen Jepang dinamakan Diet yang terdiri dari 2 kamar,
yaitu the House of Representatives (Shugi-in/Majelis Rendah) dan House of
Councilors (Kokkai/Majelis Tinggi). Perbedaan antara Majelis Rendah dan
Majelis Tinggi adalah sebagai berikut:



      Majelis Rendah                                 Majelis Tinggi

     Dari distrik pemilu                           Dari distrik pemilu
    (tunggal): 300 orang     Jumlah Anggota      (tunggal): 146 orang
    Wakil berdasarkan            (Kursi)          Wakil berdasarkan
 perbandingan: 180 orang                       perbandingan: 96 orang
      20 tahun ke atas           Hak Pilih         20 tahun ke atas
      25 tahun ke atas         Persyaratan         30 tahun ke atas
                                  dipilih
          4 tahun                                      6 tahun
    (atau lebih, sampai                           (setengah jumlah
                               Masa Tugas
       dibubarkan)                              anggota dipilih setiap 3
                                                       tahun)



     Masa Sidang Diet adalah 150 hari kerja yang dimulai pada bulan
Januari setiap tahunnya yang dapat diperpanjang hanya satu kali oleh
Diet. Kabinet dapat memutuskan untuk mengadakan pertemuan di luar
masa sidang apabila diperlukan. Apabila Majelis Rendah dibubarkan,
persidangan Majelis Tinggi dihentikan.
     Kedua Majelis memiliki pegawai dan peraturan tata tertib sendiri.
Setiap Majelis dibagi menjadi beberapa Panitia Ad Hoc, Panitia Khusus,
Panitia Penelitian/Pengkajian dan Komisi Penelitian/Pengkajian Konsitusi.
Jumlah Panitia Ad Hoc mengikuti pembagian kementerian dalam kabinet.
Masing-masing panitia terbagi lagi dalam sub panitia. Pembahasan materi
dilakukan oleh Panitia-panitia tersebut. Keanggotaan panitia/komisi
tersebut terdiri dari kelompok partai politik yang susunannya sesuai
dengan proporsional jumlah anggota partai politik dalam Majelis. Panitia
tersebut merupakan wahana bagi anggota Majelis dalam melakukan
perdebatan terhadap materi peraturan perundang-undangan.



                                                                         17
    Majelis Rendah memiliki kekuasan lebih besar dari pada Majelis Tinggi.
Majelis Rendah bukan hanya memilih perdana menteri, tetapi juga bisa
menolak keputusan Majelis Tinggi dengan suara mayoritas 2/3. Dalam
beberapa jenis perundang-undangan, Majelis Rendah bisa bertindak
tanpa persetujuan Majelis Tinggi. Rencana Anggaran Belanja yang
disahkan oleh Majelis Rendah otomatis akan jadi anggaran resmi jika
dalam waktu 30 hari Majelis Tinggi tidak mengambil keputusan. Hal ini juga
berlaku bagi ratifikasi perjanjian internasional. Kecuali mengenai
perubahan konstitusi, diperlukan suara 2/3 anggota kedua Majelis dan
kemudian mayoritas suara dalam referendum nasional.
     Dalam hal persetujuan anggaran dan pemilihan perdana menteri,
Majelis Tinggi hanya dapat menunda pelaksanaan, tetapi tidak dapat
memveto legislasi. Majelis Tinggi tidak dapat dibubarkan oleh perdana
menteri.
    Susunan pejabatan Majelis Tinggi Jepang terdiri dari satu orang Ketua
Majelis Tinggi, satu orang Wakil Ketua Majelis Tinggi, 17 orang Ketua Panitia
Ad Hoc, dan seorang Sekretaris Jenderal. Para pejabat tersebut dipilih
melalui Sidang Paripurna Majelis Tinggi. Sedangkan Pimpinan Panitia
Khusus, Panitia Penelitian/Pengkajian, dan Komisi Penelitian/Pengkajian
Konstitusi dipilih diantara anggota masing-masing panitia tersebut.
    Dalam menjalankan tugas dan wewenangnya, setiap Anggota
Majelis Tinggi memiliki tiga orang sekretaris/asisten yang membantu
Anggota Majelis Tinggi dalam membuat/ merumukan kebijakan atau
materi peraturan perundang-undangan. Ketiga sekretaris tersebut dibiayai
oleh anggaran negara. Anggaran dan kepegawaian Diet diatur dalam
undang-undang tersendiri. Jika dipandang perlu, Anggota Majelis Tinggi
dapat memperkerjakan lebih dari 3 orang sekretaris/asisten untuk
membantu dalam menjalankan tugas-tugasnya. Namun, yang dibiayai
oleh Negara hanya 3 orang sekretaris/asisten.




                                                                          18
                                                Bagan 4.1. Struktur Organisasi Diet




                                                                                        Secretariat
                                                            Standing Committees
                                                                                                      Judge Indictment             Secretariat
                                                                                       Legislative       Committee
                              Plenary Sitting                                           Bureau
                                                             Special Committees
          House of
       Representatives
                                                                Research
                                                             Commission on the
                                                               Constitution




                                     Conference Committee of Both Houses                              National Diet Library


DIET

                                                       Standing Committees            Secretariat

                                                       Special Committees
                                                                                        Legislative
                                                                                         Bureau
                                                       Research Committees
            House of     Plenary Sitting                                                                 Judge                Secretariat
           Councillors                                                                                Impeachment
                                                                                                         Court

                                                        Research Commission
                                                         on the Constitution
A. Fasilitas yang diberkan oleh pemerintah Jepang kepada Anggota dan
  Sekretariat
  1. Fasilitas Anggota
      a. Gaji Anggota
                            Gaji/bulan             Bonus
                Jumlah
                       (1 bulan)                     (Desember                    Jumlah
                 orang           (1tahun) ¥ (Jun) ¥
                           ¥                             )¥
                           2.182.0       26.184.0       5.062.2                   36.783.0
     Ketua           1                                            5.536.000
                             00             00             40                        65

     Wakil                 1.593.0       19.116.0       3.695.7                   26.853.9
                     1                                            4.042.000
     Ketua                   00             00             60                        97

                           1.301.0       15.612.0       3.018.3                   21.931.6
   Anggota          240                                           3.301.288
                             00             00             20                        08
     b.    Biaya Dokumen Komunikasi Transportasi
            Ketua
                                         1.000.000/bulan
          Wakil Ketua

           Anggota
     c.     Pilihan JR Pass (Japan Railway) – Kupon Tiket Pesawat
          1) JR Pass
          2) JR Pass + Kupon Tiket Pesawat (3 Kali PP)
          3) Kupon Tiket Pesawat (4 Kali PP)
     d. Majelis Tinggi – Majelis Rendah

                                            Majelis Tinggi          Majelis Rendah
      Hak di Pilih              (usia)              30                    25
      Masa keanggotaan (tahun)                      6                         4
      Jumlah Anggota
      yg                 (Orang)                242                      480
      ditentukan
               (distrik)                        146                      300
              (Proporsional)                        96                   180
                                                    44                    45
            (Anggota Wanita)
                                                18%                       9%
              Pemilu terakhir                 Juli 2007        Desember 2005
                     Dll                 Setiap tiga tahun Jika         Majelis
                                         separuh        dari Rendah
                                 semua         (121     dibubarkan semua
                                 orang, distrik 73      anggota 480 orang
                                 orang,                 (Distirik 300 orang.
                                 proporsional     48    Proporsional      180
                                 orang)       dipilih   orang) dihentikan
                                 melalui pemilu.        keanggotaannya
                                                        dan         dilakukan
                                                        pemilu
2. Sekretariat Majelis Tinggi – Majelis Rendah

   a. Garis Besar Sistem Kepegawaian

                 Pegawai Diet                      Pegawai negeri sipil
    UU    yang UU Pegawai Diet                     UU Pegawai negeri
    diterapkan
    Gaji         Ketentuan          mengenai UU                   mengenai
                 penggajian Pegawai Diet           penggajian      Pegawai
                                                   negeri sipil
    Jumlah       Ketentuan Jumlah Pegawai UU mengenai Jumlah
    pegawai      tetap Sekretariat Majelis Pegawai tetap sipil
    tetap        Tinggi
    Organisasi   UU Diet, UU Sekretariat UU Kabinet, UU pokok
                 Majelis, Ketentuan Komisi reformasi pemerintah
                 Riset UUD Majelis Tinggi  pusat,            UU
                                                   Pembentuakan
                                                   kementrian О О, UU
                                                   Organisasi Administrasi
                                                   Negara
                 Ketentuan         Pembagian
                 tugas             Administrasi
                 Sekretariat Majelis Tinggi. Hal
                 pembentukan             kantor
                 perencanaan                dan
                 koordinasi, Ketentuan Kantor
                 Riset Standing Committee
                 Majelis       Tinggi.      Hal
                 pembentukan kantor riset
                 khusus,     Hal      organisasi
                 secretariat kantor riset UUD.
    UU           Pada dasarnya mengenai pegawai Diet, disediakan


                                                                          21
                 UU (ketentuan) khusus. Akan tetapi ada juga UU uang
                 pensiun pegawai negeri, UU koperasi asuransi mutural
                 pegawai negeri, UU perumahan dinas pegawai negeri
                 yang diterapkan pada pegawai Diet.

b. Gaji

О Jenis gaji dibagi menjadi gaji pokok dan tunjangan
О Keputusan gaji ditetapkan berdasarkan
  1) Daftar gaji, 2). golongan, 3). jabatan
  1) daftar gaji ada 5 jenis, 6 daftar berdasarkan jenis pekerjaan
     Daftar gaji khusus, daftar penggajian pekerjaan tertentu,
     daftar penggajian pegawai administrasi (1), daftar penggajian
      pegawai administrasi (2), daftar penggajian petugas steno,
      daftar penggajian petugas sekuriti.
   2) Golongan, kategorisasi berdasarkan tingkat kerumitan,
      kesulitan, berat tanggungjawab tugas
   3) Jabatan      ditentukan berdasarkan masa kerja di setiap
      golongan
      О tunjangan
        Berdasarkan sifat khusus tugas
        Bayaran biaya penyesuaian khusus gaji
        Mengenai jam kerja khusus ..... Tunjangan kerja lembur
             Mengenai tunjangan untuk kehidupan sehari-hari
             Tunjangan keluarga, tunjangan rumah, tunjangan
              transportasi, tunjangan tinggal pisah dari keluarga
             Mengenai sifat daerah ..... tunjangan daerah (+ 16% jika di
              Tokyo)
             Bonus ..... bonus akhir tahun (3 bulan, gaji), Gaji rajin masuk
              kerja (1.5 bulan gaji)
             DLL. Uang perjalanan dinas, uang pemindahan tempat
              kerja, uang pesangon, dll.

c. Kenaikan golongan, kenaikan jabatan, kenaikan gaji

 О kenaikan golongan,ditugaskan yang lebih atas (kepala tim ,wakil
    kepala seksi)
 О kenaikan jabatan, naik jabatan dalam daftar gaji yang sama
    kenaikan jabatan, dinaikan gaji dalam jabatan yang sama.
    Setiap tahun pada 1 Januari dilakukan berdasarkan evaluasi
    hasil kerja.


                                                                          22
d. Jam kerja, hari libur, cuti
e.  40 jam kerja, sabtu, Minggu libur
f. 09.00 – 18.00 (istirahat 12:00 – 13:00)
g. Hari libur
h. Apabila bekerja pada hari libur, diganti dengan libur pada hari
   kerja dalam 8 minggu kemudian.
i. cuti
j. Cuti tahunan (20 hari/tahun, tahun pertama 15 hari/tahun)
k. (jika tak terhabis cuti dalam 1 tahun, dapat digunakan juga pada
   tahun fiskal berikutnya dengan batasan 20 hari)
l. cuti sakit
m. cuti khusus (pernikahan, sebelum dan setelah melahirkan, musim
   panas dll)
n. cuti merawat

o. Gaji pegawai Sekretariat

                    Sekretaris Khusus       Sekretaris 1      Sekretaris 2
                    untuk Kebijakan

 Masa      Kerja     Usia                  48thn   49thn
                              49thn ↑                      35thn ↓   36thn ↑
            (thn)   48thn ↓                  ↓       ↑

      ~     3           420.100               398.803          305.486

 3    ~     5           486.167               420.100          314.417

 5    ~     8           498.533               486.167          356.095

 8    ~     11          510.899               498.533          365.140

 11   ~     14          523.265               510.899          374.186

 14   ~     17          535.631                                      424.45
                                              523.265      383.231
                                                                       1

 17   ~     20                                                       434.41
                    547.997      597.232      535.631      392.277
                                                                       3

 20   ~     23                             547.99 597.23
                    560.363      610.743                       444.489
                                             7      2

                                           560.36 610.74
 23   ~     25      568.607      619.788                       454.450
                                             3      3

 25   ~                                    568.60 619.78
                    576.851      628.834                       461.206
                                             7      8


                                                                             23
p. Bonus – Tunjangan Masuk Kerja Penuh
                         Juni               Desember      Jumlah
     Bonus          Gaji 1.4 bulan          1.6 bulan    3.0 bulan

  Tunjangan
  Masuk Kerja         0.75 bulan            0.75 bulan   1.5 bulan
    Penuh
q. Tunjangan Rumah
   Kontrak           ¥ 27.000 (Bonus maksimal)
   Rumah sendiri     ¥ 2.500 (sampai 5 tahun sampai dibangun)
r. Tunjangan transportasi
   Tak tergantung jaraknya semua ¥ 30.000 /bulan
s. Uang Pesangon
   Tergantung alasan berhenti kerja (karena anggota berhenti kerja,
   karena kepentingan)
t. Fasilitas Sosial
   Ikut koperasi asuransi kesehatan sekretaris Dana pensiun sekretaris
u. ada juga program kompensasi kecelakaan pada waktu dinas
   pulang/pergi


                      -------------------




                                                                     24
                   HASIL-HASIL PELAKSANAAN SEMINAR


      Manfaat    dari beberapa kunjungan mengikuti training program
seminar decentralitation and role of parliament and its secretariat in japan
yang yang dapat diambil dan dipelajari dari pelaksanaan kegiatan
tersebut secara garis besar substansinya adalah sebagai berikut :
     National Library Perpustakaan ini merupakan pusat buku nasional
yang mem mbawahi 26 (dua puluh enam) cabang yang tersebar di
seluruh departemen dan lembaga non departemen termasuk
perpustakaan khusus anak-anak yang didirikan pada tahun 2000. adapun
tugas-tugas pelayanan perpustakaan ini antara lain:
   Melayani anggota Majelis Tinggi dan Majelis Rendah untuk kebutuhan
    materi persidangan, dengan cara pemesanan melalui intranet yang
    kemudian akan di antar langsung.
 Melayani masyarakat umum dengan cara membaca di tempat
  perpustakaan tersebut, dan bagi masyarakat umum tidak di
  perkenankan meminjam buku dengan dibawa pulang.
   Disamping pelayanan tersebut diatas perpustakaan nasional juga
memiliki dua bidang tugas:
 pelayanan secara umum adalah pelayanan dengan cara mengkoreksi
  buku, memfotokopi untuk dibaca di tempat perpustakaan
 pelayanan khusus (legislative study) adalah departemen khusus riset-
    riset, dan anggota Majelis Tinggi dan Majelis Rendah dapat meminta
    kajian ke perpustakaan ini.

    1. Peranan dan fungsi Diet
           Berdasarkan pasal 41 konstitusi Jepang, DIET merupakan
       lembaga tertinggi dalam kekuasaan Negara, dan merupakan satu-
      satunya lembaga yang membuat peraturan perundang-undangan
      dalam Negara. Oleh karena Jepang menjalankan pemisahan
      diantara tiga cabang kekuasaan yaitu:
      a. Kekuasaan pembuatan undang-undang oleh DIET
      b. Kekuasaan administratif oleh kabinet,
      c. Kekusaan oleh Mahkamah Agung.
      Maka dalam hubungan antara cabang-cabang kekuasaan itu
      terdapat check and balances satu dengan yang lain.
          Sesuai dengan ketentuan konstitusi Jepang, maka DIET adalah
      lembaga tertinggi dalam Negara. Hal ini berarti bahwa DIET



                                                                         25
  merupakan lembaga utama dalam mewakili rakyat yang memiliki
  kedaulatan. Sebagai satu-satunya lembaga pembuat undang-
  undang dalam Negara, DIET merupakan kewenagan sebagai
  berikut:
  a. Memutuskan APBN
  b. Melakukan amandemen konstitusi
  c. Menyetujui perjanjian-perjanjian Internasional mengangkat
     Perdana Menteri
  d. Berhak memberhentikan seorang hakim melalui impeachment


2. Sistem parlemen Jepang
  a. sistem Parlemen dua kamar (bicameral)
     parlemen Jepang (DIET) mengadopsi sistem bikameral yang
     terdiri atas Majelis rendah (House of Representative) dan Majelis
     Tinggi (House of councillors). Anggota dari setiap Majelis dipilih
     secara langsung dan mewakili seluruh rakyat. Oleh karena itu,
     setiap Majelis sama-sama terdiri atas anggota-anggota yang
     dipilih langsung oleh rakyat, akan tetapi kreteria kenggotaannya
     dibedakan berdasarkan persyaratan usia setiap calon, batas-
     batas daerah pemilihan, metode pemilihan dan berbagi
     persyaratan lain. Dengan demikian, majelis mewakili berbagai
     ragam opini masyarakat yang berbeda. Sistem kenggotaan dari
     kedua majelis adalah sama, dan selama DIET bersidang setiap
     anggota DIET tidak dapat ditahan tanpa persetujuan dari majelis
     dimana yang bersangkutan menjadi anggota. Anggota DIET juga
     tidak dapat dimintai pertanggungjawaban atas ucapan,
     pendapat, perdebatan, dan hasil pemungutan suara (Voting)
     yang dilaksanakan dalam sidang-sidang DIET. Setiap anggota
     menerima pembayaran gaji dan tunjangan yang sesuai serta
     bagi setiap anggota dipersiapkan 3 (tiga) orang sekretaris, dan
     peralatan/perlengkapan kantor yang dibiayai oleh pemerintah.
  b. Sistem Pemilihan Anggota Majelis Rendah dan Majelis Tinggi
     Pasca pembubaran Majelis Rendah tanggal 8 Agustus 2005 oleh
     PM Koizumi dan hasil pemilihan anggota Majelis Rendah yang
     berlangsung tanggal 11 September 2005, majelis Tinggi memiliki
     242 kursi, anggotanya dipilih setiap 6 tahun sekali, separuh
     anggotanya dipilih setiap 3 tahun, berdasarkan single-seats
     constituency sebanyak 146 kursi dan atas dasar proporsional



                                                                    26
        sebanyak 96 kursi. Disamping itu Majelis Rendah memiliki 480 kursi,
        anggotanya dipilih setiap 4 tahun, sebanyak 300 kursi dipilih atas
        dasar single-seats constituency dan 180 kursi dipilih atas dasar
        perwakilan proporsional pada 11 regional block. Selain itu, dalam
        Undang-Undang Pemilu Jepang ada ketentuan tentang sistem
        deposit bagi setiap calon dengan jumlah yang berbeda untuk
        masing-masing lembaga (Anggota Majelis Tinggi, Majelis Rendah,
        Gubernur, Anggota DPRD, atau walikota) yang dilakukan
        pemilihannya.
        Adapun sistem pemilihan dari kedua majelis dapat dilihat pada
        tabel sebagai berikut:
                           SISTEM PEMILIHAN ANGGOTA
                        MAJELIS RENDAH DAN MAJELIS TINGGI

Candidates for     Term of office    Number of Seats          constituencis
Public Service

Members      of    4        years,          480          Single-seat
the House of       though there                          constituencies:    300
                                     Single-seat
representative     may be a                              (constituency   for I
                                     constituencies:
s                  dissolution of                        seat)
                                     300
                   the Diet                              Proportional
                                     Proportional
                                                         representation
                                     Representation:
                                                         constituencies:     11
                                     180
                                                         (wide-area block: 6-29

Members     of 6       years                242         Constituencies:      47
the House of though half                                (Prefectures: 1-4 seat
                                     Single-seat
Councillors    of        the                            constituencies)
                                     constituencies:
               members are           146 Proportional Proportional
               to         be                            representation
                                     representation
               reelected             constituencies: 96 constituencies: 1
               every theree                             (entire country: 48)
               years.

Prefectural           4 years                1                      ---
governors

City / Town /         4 years                1                      ---
Village Mayor

Members       of      4 years        Provided for in the In principle, city, ward


                                                                              27
Candidates for      Term of office   Number of Seats          constituencis
Public Service

the Prefectural                      ordinance within or country
Assemblies                           the provisions of
                                     the           Local
                                     Autonomy       Law
                                     (within the range
                                     of     40-130    in
                                     accordance with
                                     the population)

Members        of      4 years       Provided for in the No principle (ward in a
the City / Town                      ordinance within designaten city)
/        Village                     the provisions of
Assemblies                           the          Local
                                     Autonomy      Law
                                     (within the range
                                     of     12-96    in
                                     accordance with
                                     the population)
  Sumber : Kementerian Dalam Negeri dan Komunikasi (Ministry of
           International Affairs and Communication), Tokyo
             Jepang, 6 februari 2008
     c. Hubungan antara Majelis Tinggi dengan Majelis Rendah
             Pada prinsipnya Majelis Tinggi dan Majelis Rendah dalam
        menjalankan tugasnya bekerja secara bebas dan independent
        satu dengan yang lain. Seluruh keputusan penting yang
        dihasilkan oleh Parlemen (Diet) harus mendapat persetujuan
        bersama dan mencerminkan hubungan yang setara diantara
        kedua Majelis kecuali dalam hal anggaran, perjanjian
        internatsional dan lpengangkatan Perdana Menteri, Majelis
        Rendah memiliki kedudukan yang lebih penting sebagaimana
         telah diatur dalam konstitusi Jepang. Disamping itu, kedua majelis
         memiliki otonom dalam memilih pegawai dan menetapkan tata
         tertibnya.
         1. Pengajuan Rancangan Undang-Undang dan Komite Bersama
             (Conference Committe)




                                                                              28
      Sebagaimana telah dikemukakan di atas bahwa hak
  legislasi merupakan prerogatif dari Diet dan tidak ada fungsi
  legislasi di luar Diet. Untuk mengajukan Rancangan Undang-
  Undang, setiap anggota dari kedua majelis memiliki hak yang
  sama, termasuk RUU lain yang berkaitan dengan pelaksanaan
  APBN. Dalam pengajuan RUU seorang anggota dari kedua
  majelis harus mengajukan secara tertulis kepada pimpinan
  majelis dimana yang bersangkutan menjadi anggota serta
  menjelaskan alasan-alasan yang menjadi dasar pengajuan
  RUU tersebut. Perdana Menteri atas nama kabinet dapat
  mengajukan sejumlah RUU kepada Diet, dan sejak
  pembukaan sidang Diet jumlah RUU yang diajukan oleh
  kabinet tidak dibatasi atau dapat lebih dari jumlah RUU yang
  diajukan oleh anggota dari salah satu majelis secara
  individual. Apabila anggota dari salah satu Majelis ingin
  mengajukan sebuah RUU, ia harus mendapatkan dukungan
  dari 20 atau lebih anggota Majelis Rendah dan 10 atau lebih
  anggota dari Majelis Tinggi. Dalam hal pengajuan RUU yang
  berkaitan dengan APBN, anggota harus mendapatkan
  dukungan dari 50 atau lebih anggota Majelis Rendah dan 20
  atau lebih anggota Majelis Tinggi. Selanjutnya Pimpinan Majelis
  Tinggi mengirim usul RUU itu kepada Komisi sesuai dngan
  bidang tugasnya, yang kemudian melaporkan hasil
  pembahasannya kepada rapat pleno. Setelah melewati rapat
  pleno, lalu RUU tersebut (disepakati bulat atau disepakati
  dengan perubahan), dikirim kembali kepada Majelis Rendah,
  dan jika disepakati oleh Majelis Rendah, kemudian dikirimkan
  kepada Perdana Menteri (Kabinet), untuk selanjutnya diajukan
  kepada Kaisar, kemudian disahkan menjadi Undang-Undang
  sebaliknya, jika RUU dimaksud tidak disepakati oleh Majelis
  Rendah, harus dikirim kembali kepada Majelis Tinggi, dan
  disepakati, untuk selanjutnya diajukan kepada Kaisar,
   kemudian disahkan menjadi Undang-Undang. Akan tetapi,
   apabila kedua majelis berbeda pendapat, maka dibentuk
   sebuah komisi bersama (conference committee) dari kedua
   majelis, untuk melakukan penyesuaian.
2. Ketidaksepahaman diantara kedua Majelis dan kelebihan
   Majelis rendah (House of Representative)



                                                              29
      Meskipun    telah   dibentuk   sebuah   komisi   bersama
  (conference committee) dari kedua majelis, untuk melakukan
  penyesuan, namun apabila kedua Majelis tetap mengambil
  keputusan yang berbeda, maka keputusan Majelis Rendah
  akan mendapat prioritas dalam hal sebagai berikut:
  a) Sebuah RUU yang telah disetujui oleh Majelis Rendah akan
     disahkan menjadi Undang-Undang setelah melalui
     pembahasan kedua dalam Majelis Rendah (dengan
     perolehan suara duapertiga atau lebih dari anggota yang
     hadir),    meskipun      Majelis     Tinggi     membuat
     keputusan/pendapat yang berbeda dengan Majelis
     Rendah (Pasal 59 konstitusi Jepang)
  b) APBN harus terlebih dahulu diajukan kepada Majelis
     Rendah(pasal 60 konstitusi Jepang)
  c) Dengan pertimbangan atas APBN, apabila Majelis Tinggi
     membuat keputusan/pendapat yang berbeda dengan
     Majelis Rendah dan jika tidak dicapai kesepakatan,
     meskipun telah dibentuk komite bersama (conference
     committee) antar kedua majelis yang dipersiapkan untuk
     undang-undang itu, atau dalam hal Majelis Tinggi
     gagal/tidak mencapai kesepakatan akhir dalam 30 hari
     (tidak termasuk masa reses), setelah menerima APBN dari
     Majelis Rendah, keputusan majelis rendah akan menjadi
     keputusan DIET (pasal 60 konstitusi Jepang)
  d) Sama halnya dengan pengangkatan perdana menteri,
     yang menjadi prioritas adalah persetujuan majelis rendah
     dengan ketentuan sebagaimana disebutkan di atas.
     Dalam hal ini batas waktu 30 hari dirubah menjadi 10 hari
     (pasal 67 Konstitusi Jepang)


3. Kedudukan dan peranan penting majelis tinggi (house of
   councillors)
      Dalam sistem bikameral, majelis tinggi memainkan
  peranan      penting    untuk     mengisi   kesenjangan
  menyeimbangkan berbagai hal yang merupakan bagian lain
  yang tidak termasuk dalam pembahasan majelis rendah dan
  merefleksikan berbagai opini publik yang berbeda dalam
  mewujudkan demokrasi politik. Pada dasarnya semua RUU



                                                            30
harus   diajukan   melalui   majelis   tinggi,   meskipun   khusus
mengenai anggaran harus terlebih dahulu oleh kabinet
diajukan kepada majelis rendah. Selain itu, majelis tinggi tidak
dapat dibubarkan oleh perdana menteri. Sejak awal
pembentukkannya, majelis tinggi telah melakukan yang
terbaik terutama dalam menjaga posisinya yang bersifat
”khusus”     dengan     sikap   moderat,     serta     menjaga
keseimbangan (checks and balances) untuk melengkapi
kekuarangan-kekurangan majelis rendah.
Beberapa kebijakan sebagai wujud reformasi kelembagaan
Majelis Tinggi adalah sebagai berikut:
a) Pembentukan Komite Reset; komisi ini dibentuk pada tahun
   1986 untuk mengani isu-isu jangka panjang. Anggotanya
   ditunjuk dari antara anggota yang memiliki masa kerja
   yang panjang yakni selama 6 tahun. Komisi riset ini tidak
   dapat dibubarkan oleh majelis tinggi sebagaimana majelis
   ini juga tidak dapat dibubarkan.
b) Pembentukan komisi pengawasan Administratif; Komisi
   Tetap ini dibentuk mulai pada tahun 1998, dengan tugas
   utama meningkatkan fungsi majelis tinggi dalam
   melakukan pengawasan administrasi.
c) Push button voting; majelis tinggi telah menggunakan push
   button voting pada sejak tahun 1998, sistem ini digunakan
   untuk memperlihatkan siapa yang memilih atau
   menentang sebuah RUU. Sistem voting ini digunakan untuk
   lebih menjamin dan memperjelas pertanggungjawaban
   politik dari setiap anggota.
d) Pemeriksaan keuangan lebih dini; Pada tahun 2003 majelis
   tinggi memutuskan untuk melaksanakan pemeriksaan lebih
   dini atas rekening tetap APBN selama pelaksanaan sidang-
   sidang rutin DIET. Dengan demikian pembahasan atas hasil
   pemeriksaan keuangan dapat disampaikan dalam APBN
   tahun fiskal yang akan datang.
e) Pengiriman delegasi parlemen untuk penyelidikan overseas
   Development Agency (ODA). Pada tahun 2004, majelis
   tinggi telah mengirim delegasi parlemen untuk penyelidikan
   ODA ke beberapa Negara, guna memberi kontribusi
   terhadap peningkatan efisiensi kegiatan bantuan ODA dan



                                                                31
      melakukan pemeriksaan atas keuangan ODA dari sejak
      lembaga ini didirikan.
   f) Membuat peraturan atau kebijakan untuk lebih membuka
      majelis tinggi kepada publik. Meningkatkan penyiaran
      melalui TV setiap pembukaan sidang DIET, membuka
      layanan internet kepada masyarakat untuk mengikuti
      sidang-sidang DIET dan menyiapkan database rekaman
      atas kegiatan-kegiatan DIET; serta membuka ruang lobby
      khusus bagi pengunjung.


4. Rapat Gabungan Komisi Tetap (Joint Meeting of The Standing
   Committee)
      Masing-masing komisi dari kedua majelis dapat
   memutuskan dan mengajukan kepada pimpinan komisi untuk
   melakukan rapat gabungan komisi tetap diantara kedua
   majelis sesuai dengan bidang tugasnya. Setelah menerima
   usul mengenai pelaksanaan rapat gabungan komisi tetap,
   pimpinan komisi dari kedua Majelis, melakukan rapat konsultasi
   diantara pimpinan komisi yang sesuai/terkait. Dalam rapat
   konsultasi itu dibicarakan kapan mulai (tanggal, waktu dan
   tempat), penentuan anggota rapat gabungan komisi dari
   antara anggota komisi yang sesuai, dan siapa yang akan
   memimpin rapat gabungan komisi dari antara pimpinan komisi
   yang paling sesuai bidang tugasnya berkaitan dengan
   substansi materi yang ingin dibahas antara kedua Majelis.


5. Hubungan antara majelis tinggi dengan masyarakat dan
   lembaga pemerintahn
    Dalam hal komisi ingin mengirimkan para anggota untuk
suatu tugas tertentu perlu mendapat persetujuan atau keputusan
majelis. Akan tetapi jika hal tersebut sangat penting dan majelis
sedang     tidak    bersidang,     Ketua   dapat     menentukan
pengiriman/penugasan anggota dimaksud. Selanjutnya, sebuah
komisi, dengan persetujuan Ketua dapat mengirimkan
anggotanya untuk suatu tugas penyelidikan yang berkaitan
dengan permasalahnan tertentu. Apabila suatu komisi ingin
meminta dokumen dari kabinet, kantor pemerintah dan/atau
masyarakat atau pihak lain, maka harus diminta melalui Ketua



                                                              32
Majelis. Selanjutnya apabila sebuah komisi meminta lembaga
Audit untuk mengaudit sesuatu rekening dan meminta hasilnya,
harus dimintakan melalui Ketua Majelis. Jika ada keinginan untuk
menghadirkan seorang saksi untuk penyelidikan dalam rapat
pleno, Ketua dapat memutuskan untuk meminta kehadrannya,
setelah menyampaikannya kepada Majelis. Untuk meminta
kehadiran seorang saksi, sebuah komisi harus meminta melalui
ketua. Lalu Ketua Majelis atau ketua Komisi dapat terlebih dahulu
meminta kehadiran saksi dan ringkasan kesaksiannya. Seorang
saksi harus menghadiri sendiri secara fisik rapat Majelis untuk
memberi kesaksiannya. Akan tetapi dalam keadaan yang tidak
dapat dihindarkan, pernyataan tertulis dapat disampaikan
sebagai ganti kesaksiannya. Seorang saksi harus menyampaikan
keterangan tentang sesuatu hal yang diminta kesaksiannya.
Komisi dapat meminta kesaksian dari seorang relawan untuk
penyelidikan. Permintaan kehadiran seorang relawan harus
melalui Ketua Majelis.


6. Hubungan antara Majelis Tinggi dengan Partai Poliitik.
     Sebagaimana telah dikemukakan di atas bahwa Majelis
Tinggi (House of Councillors) di Jepang memiliki 242 kursi,
anggotanya dipilih setiap 6 tahun sekali, separuh anggotanya
dipilih setiap 3 tahun, berdasarkan single-seats constituency
sebanyak 146 kursi dan atas dasar proporsional sebanyak 96 kursi.

7. Hubungan antara Legislatif (DIET), Yudikatif (Pengadilan dan
   Eksekutif (Kabinet)
    Sesuai dengan ketentuan dalam konstitusi Jepang terdapat
pemisahan diantara cabang-cabang kekuasaan dalam sistem
ketatanegaraan Jepang yaitu kekuasaan Legislatif (DIET),
Kekuasaan Eksekutif (Kabinet), dan Kekuasaan Yudikatif
(Pengadilan). Walaupun dipisahkan tetap terjalin hubungan
timbal balik yang seimbang (Checks and Balances) diantara
cabang-cabang kekuasaan tersebut. Kekuasaan tertinggi
berada ditangan rakyat dan rakyat melalui pemilihan umum
memilih Anggota DIET, dan selanjutnya DIET memilih Perdana
Menteri. Selain itu rakyat dapat merubah sistem peradilan dalam
Mahkamah Agung melalui referendum nasional dan meminta



                                                              33
pelayanan administratif kepada Eksekutif (kabinet). Hubungan
timbal balik yang setara dan seimbang sebagaimana
digambarkan diatas, adalah prinsip yang paling penting dalam
demokrasi politik dan tidak boleh terjadi dominasi dari sebuah
lembaga sehingga lembaga lain berada pada posisi asymetric
Dr. Kohno Takeshi dari National Graduate Institute for Policy
studies (GRIPS), Tokyo Jepang mengemukakan hal itu dalam
pertemuan dengan delegasi DPD, 14 Maret 2006. Ia
menyarankan agar DPD RI berupaya memperoleh posisi yang
jelas dalam cabang-cabang kekuasaan negara khususnya
dalam pembentukan Undang-Undang, sebab kalau tidak, maka
kehadirannya tidak ada gunanya mengingat lembaga DPD
sudah terbentuk dengan biaya yang tidak sedikit. Kekuasaan
Legislatif (DIET) terdiri atas:
    O Penghentian     seorang     hakim      melalui persidangan
       impeachment
    O Memiliki hak suara mosi tidak percaya kepada kabinet.
   Kekuasaan Yudikatif (Pengadilan) terdiri atas:
    O Menguji keabsahan peraturan-peraturan pemerintah
    O Menguji keabsahan peraturan-peraturan perundang-
       undangn
   Kekuasaan Eksekutif (Kabinet) terdiri atas:
   O Mengajukan usul permbubaran Majelis Rendah (DPR)
   O Pengangkatan       Ketua    Mahkamah      Agung      dan
      pengangkatan hakim-hakim
 Jenis-jenis Sidang
    Diet tidak bersidang sepanjang tahun. Hanya ada tiga jenis
sidang dengan jangka waktu yang berbeda yaitu: sidang biasa,
sidang luar biasa, dan sidang khusus. Setiap anggota Kabinet
diharuskan hadir dalam sidang-sidang tersebut:
 Sidang biasa, yaitu sidang yang dilaksanakan selama 150 hari,
   pelaksanaannya      dimulai   pada    bulan   Januari  dan
    dilaksanakan sekali dalam setahun. Pada prinsipnya APPN
    dan UU yang berkaitan dengan APBN dibahas dalam sidang
    ini.
   Sidang luar biasa, yaitu sidang yang dilakukan berkaitan
    dengan kebutuhan yang mendesak. Lamanya sidang
    ditentukan sesuai dengan kebutuhan. Apabila seperempat



                                                              34
    atau lebih dari jumlah anggota dari salah satu majelis dalam
    DIET meminta pelaksanaan sidang luar biasa, maka kabinet
    harus mematuhi dan melaksanakan hal itu.
   Sidang khusus, yaitu sidang yang dilakukan sesudah pemilihan
    umum, yang juga           yang juga dilaksanakan dengan
    pembubaran Majelis Rendah. Lamanya sidang ditentukan
    setap waktu melalui resulusi dari Diet. Disamping itu rapat-
    rapat komisi juga dapat dilaksanakan berdasarkan resolusi dari
    DIET, meskipun DIET tidak bersidang. Apabila Majelis Rendah
    dibubarkan, maka Majelis Tinggi juga ditutup dalam waktu
    tyang sama. Akan tetapi dalam keadaan darurat, kabinet
    dapat mengundang Majelis Tinggi unuk mengadakan sidang
    darurat (pasal 54 konstitusi Jepang)


8. Pengorganisasian Majelis Tinggi
      Pengambilan keputusan mengenai segala sesuatu yang
telah dipersiapkan oleh Majelis Tinggi diambil dalam sidang pleno
yang dihadiri oleh seluruh anggota Majelis Tinggi. Materi
persidangan disiapkan oleh komite tetap, komite khusus, komite
riset dan komite riset konstitusi. Anggota dari beberapa komite ini
diisi oleh kelompok politik dengan proporsi yang mencerminkan
jumlah anggota dalam Majelis Tinggi
   Komite tetap (standing committee) sebagaimana telah
    ditetapkan dlam undang-undang tentang DIET, Majelis Tinggi
    memiliki 17 komete tetap yang mempunyai tugas mengkaji
    berbagai isu dan melakukan penyelidikan mengenai berbagai
    hal terkait dengan kebijakan-kebijakan nasional.
   Komite Khusus (spesial committee) beberapa komite khusus
    dibentuk untuk setiap sidang Diet, yang mempunyai tugas
    menyelidiki berbagai masalah yang memerlukan pengkajian
    mendalam dan beberapa hal yang tidak dapat ditangani
    oleh komite tetap. Sekarang terdapat 5 (lima) komite khusus.
   Beberapa komite riset (research committee); salah satu
    keunikan Majelis Tinggi yakni adanya komite riset yang
    mempunyai tugas melakukan penelitian secara umum dalam
    jangka panjang. Beberapa komite riset ini dibentuk setelah
    pemilihan anggaran yang rutin. Mereka bekerja selama tiga
    tahun hingga pemilihan berikutnya. Pembentukkan komite



                                                                35
       riset diputuskan dalam sidang pleno dan sekarang terdapat 3
       (tiga) komite riset.
      Komisi riset konstitusi (research commission on the constitution);
       komisi ini adalah sebuah organ/badan yang dibentuk untuk
       melakukan penelitian dengan ruang lingkup yang luas, dan
       komprehensif terhadap konstitusi.


        Adapun nama-nama komisi dalam Majelis Tinggi dan jumlah
  anggotanya adalah sebagai berikut:
Komisi-komisi dalam Majelis Tinggi (House of Councillors).

                                                                    No of
                                                                    memb
                                                                    ers
Standing         Committee on cabinet                                 20
Committees       Committee on General Affairs                         25
                 Committee on Judicial Affairs                        20
                 Committee on Foreign Affairs and Defense             21
                 Committee on Financial Affairs                       25
                 Committee on Education, Culture and                  20
                 Science
                 Committee     on    Health,   Welfare    and         25
                 Labaour
                 Committee on Agriculture, Forestry and               20
                 Fisheries
                 Committee on Economy and Industy                     21
                 Committee on Land and Transport                      25
                 Committee on Environment                             20
                 Committee      on   Fundamental      Natural         20
                 Policies
                 Committee on Budget                                  45
                 Committee on Audit                                   30
                 Committee on Oversight of Administration             30
                 Committee on Rules and Administration                25
                 Committee on Discipline                              10
Special          Special Committee on Disasters                       20
Committees       Special Committee       on    Okinawa    and         20
                 Northern Problems



                                                                      36
                                                                     No of
                                                                     memb
                                                                     ers
                 Special Committee on Political Ethics and             35
                 Election System

                 Special Committee on North Korean                     20
                 Abduction Issue and Related Matters

                 Special   Committee            on     Official        30
                 Development Assistance         and   Related
                 Matters

                 Special Committee on Research on the                  35
                 constitution of Japan
Research         Research    Committee     on    International         25
Committees       Affairs
                 Research Committee on Economy, Industry               25
                 and Employment

                 Research Committee on Aged Society with               25
                 Declining Birthrate
Research Commission on the Constitution                                45
Deliberative Council on Political Ethics                               15
  Sumber: sekretariat Majelis Tinggi (House of Councillors), Tokyo
          Jepang, 5 Februari 2008


  9. Pemilihan Pimpinan Majelis Tinggi
        Para pimpinan dalam Majelis Tinggi adalah: Ketua (1), Wakil
    Ketua (1), Ketua Komite Tetap (17), dan Sekretaris Jenderal (1).
    Mereka dipilih dalam sidang pleno, sedangkan ketua komite
    khusus, komite riset dan komisi riset konstitusi dipilih dari antara
    anggota dalam setiap komite. Tata cara pemilihan pimpinan
    Majelis Tinggi adalah sebagai berikut:
   Pemilihan Ketua dan Wakil Ketua dilakukan dalam sidang pleno.
   a. Jika anggota Majelis Tinggi yang hadir telah mencapai
      sepertiga dari jumlah seluruh anggota, pimpinan dapat
      membuka sidang
   b. Pemilihan ketua dilakukan melalui pemungutan suara secara
      rahasia dengan cara satu demi satu.


                                                                       37
 c. Apabila namanya dipanggil, setiap anggota mengambil kartu
       suara dan papan namanya menuju ke mimbar/bilik suara.
 d.    Sekretaris A, akan menerima papan nama dan sekretaris B,
       menerima kartu suara.
 e.    Setelah selesai pemungutan suara terlebih dahulu dilakukan
       penghitungan jumlah papan nama anggota dan jumlah kartu
       suara
 f.    Apabila jumlah kartu suara melebihi jumlah papan nama
       anggota, maka dilakukan pemungutan suara ulang
 g.    Apabila jumlah kartu suara sama dengan jumlah papan nama
       anggota, maka Sekretaris Jenderal mengumumkan hasil
    pemungutan suara.
 h. Anggota yang memperoleh suara lebih dari setengah jumlah
    anggota yang mengikuti pemungutan suara, dinyatakan
       terpilih sebagai ketua.
 i.    Apabila tidak ada anggota yang memperoleh suara lebih dari
       setengan jumlah anggota yang mengikuti pemungutan suara,
       maka pemungutan suara untuk menentukan pemenang akan
       dilakukan diantara dua anggota yang memperoleh suara
       ternyak, dan salah satu anggota yang memperoleh suara
       terbanyak dinyatakan terpilih sebagai ketua.


10. Desentralisasi dan otonomi Tata Pemerintahan (Local Self
    Government)
         Meskipun dari segi hierarkhi, struktur pemerintahan
    Jepang terdiri atas tiga tingkat yaitu: pemerintah pusat
    pemerintah prefektur, dan pemerintah municipality (pemerintah
    daerah kota, town dan villages), namun dari persepektif
      otonomi daerah (local autonomy) sistem pemerintah
      daerah/lokal hanya terdiri atas dua tingkat yaitu: perfektur dan
      meunicipality, walaupun, pemerintah pusat dan pemerintah
      daerah/lokal di Jepang memiliki landasan, wilayah hukum serta
      struktur yang berbeda, akan tetapi dalam hubungan pusat dan
      daerah yang diatur dalam undang-undang otonomi daerah
      Jepang. Terdapat hubungan timbal balik yang berlangsung
      secara proporsional serasi, dan terpadu satu dengan yang lain.
             Setiap pemerintah daerah memiliki Dewan Perwakilan
      Daerah sebagai badan pengambil keputusan tertinggi, dengan



                                                                   38
    anggota-anggota yang dipilih secara langsung oleh rakyat.
    Dewan Perwakilan Rakyat Derah berhak memutuskan APBD
    dan berhak menetapkan peraturan daerah. Pemerintahan
    prefektural City, Town dan Village dijalankan secara professional
    berdasarkan sistem kepada pemerintahan (governors dan
    Mayors), yang juga dipilih secara langsung oleh rakyat.
    Menjawab pertanyaan anggota delegasi DPD mengenai
    bagaimana pengelolaan pelabuhan Kochi, dalam pertemuan
    dengan gubernur. (Prefektur Kochi Assembly), disampaikan
    bahwa pengelolaan pelabuhan Kochi, sepenuhnya berada
    ditangan pemerintahan Prefektur Kochi.
         Adapun bentuk-bentuk pemerintahan daerah adalah
    sebagai berikut:
             BENTUK-BENTUK PEMERINTAHAN DAERAH
                        (Types of Local Government)
classificatio
n
                          Metropolis (to) (Tokyo) ....................................... 1
                          Province (do) (Hokaido) ................................... 1
 prefectures     47
                          City prefectures (fu) (Osaka – Kyoto) ............... 2
                          Prefectures (Ken) .............................................. 43
                          Cities.....           Government-designated cities. 14
                          739
 Municipaliti   2.39
                                                Core Cities................................... 35
    es            5
                                                Special case cities...................... 40
                                                Other cities ................................ 650
                Towns ....................................................................... 1.317
                Villages ........................................................................ 339
Special
wards
                ........................................................................................ 23
(Established
in Tokyo)
Sumber: Kementerian Dalam Negeri dan Komunikasi (Ministry of
         International Affairs and Communication), Tokyo Jepang, 6
         februari 2008.


    Pemerintah daerah relatif memiliki tanggungjawab dan fungsi
yang lebih besar dan sebagian besar kegiatan pemerintah daerah



                                                                                                        39
diatur secara mandiri (local self government). Oleh karena itu,
masalah-masalah yang diatur dari pusat dalam bentuk undang-
undang sangat terbatas. Hubungan antara pemerintah pusat dan
daerah diwujudkan dalam bentuk perimbangan keuangan berupa:
local transfer tax, local special subsidi, local allocation tax, treasury
disbursement, dan rekruitmen pejabat pemerintah (PNS).


 11. Desentralisasi dan Otonomi kepada Kesatuan Masyarakat Lokal
     (Local Public Entities Autonomy)
         Sebagaimana telah ditetapkan dalam konstitusi Jepang
     pengaturan mengenai organisasi dan pemberian layanan
    kepada masyarakat local sebagai suatu kesatuan, telah diatur
    dalam undang-undang dngan ketaatan penuh pada prinsip-
    prinsip otonomi daerah (local autonomy). Kemudian, pemilihan
    anggota DPRD dan pimpinan daerah (gubernur, walikota, lurah
    dan desa) dilakukan secara langsung oleh masyarakat local
    sebagai suatu pluralistik dan heterogen. Lalu masyarakat local
    sebagai suatu kesatuan, memiliki hak untuk mengelola segala
    peralatan/asset urusan administrasi dan membuat peraturan-
    peraturan darah mereka sendiri dalam kerangka undang-
    undang otonomi. Disamping itu, ada ketentuan bahwa segala
    bentuk rencana undang-undang khusus, yang berkaitan
    dengan kepentingan masyarakat daerah tertentuk, tidak dapat
    disahkan menjadi undang-undang tanp persetujuan dari
    sebagian besar masyarakat yang ada di daerah tersebutl.
    Dengan demikian terlihat bahwa secara fundamental ada dua
    prinsip utama dalam pelaksanaan otonomi daerah (local
    autonomy) di Jepang yaitu:
    a.   Otonomi bukan hanya diartikan sebagai otonomi
         pemerintahan semata, akan tetapi otonomi kepada
         kesatuan masyarakat local (local public entities)
    b.   Otonomi yang diberikan bukan dalam pengertian sempit
         ”kedaerah” yang sering dikaitkan dengan etnis dan suku
         asli yang berdomisili di daerah tertentu, tetapi otonomi
         kepada masyarakat lokal yang pluralistik dan heterogen.
         Dengan pemahaman terhadap prinsip otonomi tersebut
    diatas, kehidupan masyarakat lokasi di Jepang dapat
    berlangsung secara serasi, aman dan tertib.



                                                                      40
       Disampaikan itu bahwa otonomi daerah dengan model
  seperti sekarang, mulai dikembangkan sesudah Perang Dunia
  Kedua. Bagi masyarakat Jepang yang paling penting bukanlah
  apa yang tercantum dalam undang-undang secara normatif
  atau teori saja, melainkan pelaksanaan nyata dari otonomi itu
  sendiri. Meskipun demikian, otonomi daerah sebagai sebuah
  sistem tidaklah kaku, tetapi bersifat dinamis mengikuti
  perkembangan kehidupan masyarakat bangsa dan Negara.
  Berkaitan dengan itu, kondisi yang demikian yang berkaitan
  dengan keberadaan desa Umaji walaupun dengan jumlah
  penduduk yang sangat sedikit : 1150 jiwa yang terbagi dalam
  400 kepala keluarga dengan luas wilayang 96.% adalah hutan.
       Pada desa tersebut juga merupakan simbol kekuatan
  bahwa dengan wilayah daratan, wilayah hunian yang sangat
  sedikit mampu menghasilkan kegiatan komoditas industri yang
  sangat maju dengan jumlah kurang lebih ada 60 komoditas
  dengan pendapatan sekitar 1,5 milyar Yen pertahun( sumber
  Kepala desa Umaji )


12. Prinsip Keadilan dalam Pelayanan Masyarakat (Public Services
    Equality)
         Menjawab pertanyaan dan permintaan dan anggota
  delegasi DPD, pada pertemuan denga Mr. Yamazaki Motoki,
  Director International Affairs Office for Local Authorities dari
  Kementrian Dalam Negeri Jepang mengenai bantuan
  kemanusiaan untuk Rekonstruksi Aceh dan Nias yang sampai
  saat ini realisasinya baru sekitar 20%, agar pelaksanaannya
  langsung diserahkan kepada kontraktor dari Jepang dan bukan
  semata-mata harus kontraktor dalam negeri karena banyak
  kejanggalan dan ketidakjujuran dalam proses pelaksanaan
  tender, beliau mengatakan bahwa pendapat itua akan
  dipertimbangkan, namun ia juga menyarankan agar keinginan
  tersebut terlebih dahulu dibicarakan dengan pihak yang
  berwenang dallam negeri, mengingat kebijakan itu tidak dapat
  diintervensi oleh pemerintah Jepang (Mr. Yamazaki Motoki, 14
  Maret 2006)
       Untuk mengegakkan prinsip keadilan dalam memberikan
  pelayanan kepada masyarakat dan upaya mengatasi



                                                               41
kesenjangan    antar   daerah,    serta   kesenjangan     antara
penerimaan dengan pengeluaran maka diambil kebijakan-
kebijakan mengenai sumber-sumber pendapatan Pemerintah
Derah sebagi berikut:
a. pajak Daerah (Local Tax)
b. Transfer Pajak dari Pusat (Local Transfer Tax)
c. Subsidi dari Pusat (Local Special Subsidi)
d. Hasil bagi Pajak dari Pusat (Local Allocation Tax)
e. Biaya infrastruktur dari Pusat (Treasury Disbursement)
f.   Obligasi Daerah (Local Bonds)
g. Lain-lain


    Ada hal yang menarik dalam perimbangan kecurangan
atara Pusat dan Derah di Jepang adalah bahwa pemerintah
daerah/lokal yang meiskin dan lebih bergantung pada Pusat,
kondisi anggarannya lebih sehat daripada pemerintah
daerah/lokal yang tidak bergantung seperti Kota Tokyo dan
Osaka. Selain itu, perbandingan penerimaan pajak nasional
dengan daerah adalah 3;2, sebaliknya perbandingan
pengeluaran nasional dengan pengeluaran daerah adalah 2;3
dalam satu tahun fiscal. Dengan demikian, terlihat bahwa ada
kesenjangan yang cukup lebar antara penerimaan dengan
pengeluaraan Negara. Hal ini merupakan masalah politik yang
sangat besar di Jepang (Kohno Takeshi, 14/03/2006). Kebijakan
jangka pendek untuk mengatasi masalah ini adalah dengan
mengizinkan daerah menerbitkan obligasi, tetapi dalam jangka
panjang hal tersebut akan mengakibatkan terjadinya defisit
keuangan daerah serta semakin menurunnya kemampuan
keuangan Negara untuk membayar utang kepada rakyat.
Menurut pendapat Mr. Yamazaki Motoki, Director International
Affairs Office for Local Authorities dari Kementrian Dalam Negeri
Jepang, ada beberapa alternatif kebijakan yang dapat diambil
untuk mengatasi hal tersebut:
a. Menaikkan pajak, jika langkah ini diambil, maka dapat
    menjadi masalah politik yang sangat tajam. Perdana
    Menteri Koizumi tidak melakukan hal ini.
b. Mangurangi bagi hasil lpajak ke daerah. Walaupun hal ini
    agak sulit, tapi dapat dicoba karena kebijakan ini lebih



                                                              42
        baik daripada menaikkan pajak dengan asumsi bahwa
        penerimaan pajak dapat maksimal
   c.   Mengurangi subsidi. Jika kebijakan ini diambil maka
        berbagai jenis pelayanan kepada masyarakat akan
        berkurang
   d.   Mengurangi kualitas pelayanan kepada masyarakat.
        Walaupun kebijakan ini akan sulit diterima oelh rakyat tapi
        harus dilakuan misalnya pemotongan gaji pegawai
        pemerintah daerah dan sebagainya.


13. Pembaharuan Desentralisasi (desentralization reformed)
        Meskipun Jepang sempat mengalami stagnasi ekonomi
   berupa krisis moneter pada tahun 1992, yang telah
   mengakibatkan pemerintah pusat, mengalami kesulitan
   keuangan dalam membiayai pembangunan infrastuktur di
   daerah dan beberapa pemerintah kota mengalami defisit
   anggaran seperti Kota Tokyo dan Osaka. Akan tetapi Perdana
   Menteri Junichiro Koizumi pada tahun 2001 mengambil langkah
   kebijakan yang tepat yaitu mulai mengurangi bantuan luar
   negeri secara bertahap. Dan pada tahun 2004 mencanangkan
   reformasi yang disebut ”trinity reform” : fiscal, taxation and
   administrative policies for central government and local
   authority finance”
          Reformasi dilakukan secara konsisten dalam bidang
   perundang-undangan sistem keuangan, pajak dan belanja
   pemerintah. Juga mencakup reformasi sistem jaminan social,
   privatisasi dan stabilisasi pasar uang serta mengatasi deflasi nilai
   mata uang yang berkepanjangan. Dalam pelaksanan
   desentralisasi, dilakukan pembahauan yang disebut sebagai
   ”Decentralization Package Law”. Adapun garis besar isi
   kebijakan tentang Pembaharuan siste desentralisasi tersebut
   adalah sebagai berikut:
   a. Hubungan Pusat dan Daerah/Lokal meliputi:
      1) memperjelas peranan dari pemerintah pusat dan lokal
      2) menghapuskan fungsi pengutusan/pembantuan dari
         pusat ke daerah (sistem dekonsentrasi)
      3) mengkaji ulang partisipasi pemerintah pusat dalam
         pembangunan lokal



                                                                    43
      4) meningkatkan       pendelegasian       wewenang         dari
         pemerintah pusat kepada pemerintah lokal.
      5) Membatasi pengaturan tentang organisasi pemerintah
         lokal
   b. Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah/Lokal meliputi:
      1) Pembaharuan kontribusi subsidi dari kas Negara ke
         daerah
      2) Transfer atau memindahkan penerimaan pajak dan
         pemerintah pusat ke pemerintah daerah
      3) Reformasi hasil bagi pajak antara pusat dan daerah
   c. Penggabungan Municipality (Municipal Merger)
         Dari sejumlah 71.314 municipality pada tahun 1889, telah
      digabung menjadi 3.229 (April 1999), kemudian menjadi
      2.834 (Januari 2005), dan direncanakan menjadi 1.820 pada
      April 2006
   d. Reformasi Administrasi Pemerintah Daerah/Lokal meliputi:
      1) reorganisasi dan penyesuaian administrasi perkantoran
      2) meningkatkan kontribusi/konsinyasi swasta
      3) menjamin/menjaga jumlah pegawai yang sesuai
      4) menjamin gaji yang sesuai bagi pegawai
      5) mengkaji ulang keberadaan lperusahaan sektor-sektor
         ketiga (patungan pemerintah dengan swasta)
      6) mengumumkan/menyebarluaskan           penggunaan
         anggaran secara positif dengan menjelaskan rincian
         biaya-biaya secara lengkap.


    Berbagai langkah reformasi yang dilakukan telah
 menunjukkan hasil positif, dimana situasi perekonomian yang saat
 ini mulai pulih seiring denga berkembangnya kembali sektor
 ekspor dan produksi. Tingkat pertumbuhan GDP untuk tahun 2005
 mendekati 2,7% dan pada tahun 2006 ini diperkirakan akan
 mendekati 2,9%


14. Dukungan Kesekretariatan
         Struktur kesekretariatan   Majelis      Tinggi terdiri dari
    Departemen Persidangan (3 Divisi), Biro Komisi-Komisi (8 Divisi)
    menggambarkan tugas dan fungsi Komisi Tetap, Biro
    Risalah/Record Hasil Sidang (5 Divisi), Biro Keamanan (4 Divisi),



                                                                  44
Biro   Urusan     Umum       (7    Divisi),   Biro    Administrasi
Properti/Perlengkapan (6 Divisi), dan Biro Urusan Internasional (2
Divisi), Pusat Perencanaan dan Koordinasi (3 Pusat Riset) serta
Pusat Penelitian Konstitusi (1 Divisi)
      Semua urut kerja yang ada pada Sekretariat Majelis Tinggi
pada hakekatnya memiliki tugas pokok dan fungsi untuk
mendukung seluruh kegiatan Majelis Tinggi, termasuk dalam
bidang keamanan yaitu dibentuknya polisi khusus Majelis Tinggi
yang kepala polisinya diangkat langsung oleh Ketua Majelis,
dengan biaya Negara. Dari keseluruhan struktur organisasi pada
Sekretariat Majelis Tinggi terdapat beberapa pejabat yang
dapat berdiskusi langsung dengan delegasi DPD khususnya
pejabat Sekretariat Jenderal dengan ringkasan materi sebagai
berikut:
a. Divisi urusan Anggota adalah salah satu bagian pada
   Departemen atau Biro Urusan Umum (general Affairs
   Departemen)
          Divisi inilah yang mengurusi semua urusan dan
   kepentingan        anggota     Majelis,  seperti   masalah
   kesejahteraan, asuransi kesehatan, perjalanan anggota
   Majelis sebulan tiga kali ke daerah pemilihannya atas biaya
   Negara, baik dengan kereta api maupun dngan pesawat
   terbang serta masalah-masalah mengenai hubungan
   anggota Majelis dengan konstituen dan stakeholder lainnya.
   Namun demikian, untuk pengangkatan sekretaris pribadi
   Anggota Majelis tidak dibiayai oleh Negara, dan oleh karena
   itu anggota bebas mengangkat sekretaris pribadi, baik latar
   belakang maupun jumlahya, asal dibiayai sendiri.
b. Divisi Personalia, juga salah satu bagian pada Departemen
   atau Biro Urusan Umum (General Affairs Departement)
           Bagian personalia, pada saat ini dikepalai oleh Mr.
   Irozumi sekarang jumlah personalianya ada 1300 (seribu tiga
   ratus) orang yang tersebar di seua unit kerja, termasuk di
   kantor-kantor atau Sekretariat Daerah pemilihan, tempat
   dimana seorang anggota Majelis Tinggi berasal. Sistem
   rekruitmen pegawai yang menjadi tanggungjawab bagian
   ini dilakukan dengan sangat ketat. Level pendidikan mulai
   dari sekolah menengah hingga pendidikan tingggi dari



                                                               45
   berbagai    jenis   bidang   keahlian.   Berdasarkan    level
   pendidikan inilah bisa dilihat prosplek kedepan karier
   seorang pegawai Majelis Tinggi
c. Divisi penyelenggaraan sidang/rapat adalah salah satu
   Bagian pada Departemen atau Biro Persidangan
   (Proceeding Departement)
          Pada saat ini, Mr. Okumura, menjabat Kepala Bagian
   Persidangan menuraikan secara singkat tugas dan fungsi
   bagian ini srta fasilitas pendukungnya. Dijelaskan bahwa
   menjadi keharusan untuk mendukung target 100 (sertus)
   undang-undang setiap tahun oleh Majelis Tinggi. Untuk itu
   diperlukan dukungan personail persidangan yang cerdas,
   cekatan efektif dan efisien.
         Oleh karena itu, perlu diciptakan suasana kerja dari
   peralatan kerja yang sangat mendukung misalnya setiap
   ruangan rapat dilengkapi dengan beberapa kamera dan
   dikendalikan dari ruangan khusus, gunanya adalah di
   samping untuk memantau juga sekaligus merekam materi
   yang sedang dibicarakan dan langsung diproses menjadi
   tulisan atau risalah rapat. Oleh karena itu, pada saat rapat-
   rapat komite, staf yang hadir di ruangan rapat hanya satu
   dua orang saja untuk pelayanan yang bersifat insidental,
   serta dua orang stenografer di ruang khusus yang terletak
   ditengah    antara   meja   pimpinan    sidang  dengan
   ruang/tempat duduk anggota. Semua staf persidangan lain
   bekerja   di   ruangan   khusus   pemantauan    dengan
   menggunakan peralatan canggih. Pada saat sidang
   paripurna sedang berlangsung, dimana delegasi DPD hadir,
   tak nampak satupun juru kamera televisi, yang ada hanya
   beberapa juru kamera biasa yang mengambil gambar
   dokumentasi dari balkon yang sama dengan tempat kita
   berada. Itupun tak dibenarkan menggunakan lampu kilat.


d. Pusat Research ada dua jenis yaitu: Pusat Riset pada Komisi
   Khusus dan Komisi Riset Majelis Tinggi, dan Pusat Riset pada
   Komisi Riset Konstitusi (Research Commission on the
   /constitution)




                                                             46
         Pusat riset ini, sangat mengesankan karena personilnya
   mencapai 200 (dua ratus) orang. Tugasnya adalah
   menyiapkan supply berbagai informasi hasil survey dan
   research, untuk membantu anggota Majelis Tinggi dalam
   merancang sebuah undang-undang, membuat makalah
   dan memberi saran atau nasehat-nasehat yang berkaitan
   dengan berbagai bidang kedupan masyarakat. Pada Pusat
   Riset ini pula ada staf khusus yang cakap dan handal dalam
   menangani kajian atas kelemahan dan berbagai
   permasalahan undang-undang yang sedang diberlakukan.
e. Divisi keuangan (Account Division) adalah salah satu bagian
  pada Departemen atau Biro Urusan Umum (General Affairs
  Departement).
       Sebagai negara dengan pendapatan perkapita
   sekitar US$ 30.000, jauh di atas rata-rata negara Asia, tentu
   berpengaruh pada standar gaji anggota maupun pegawai
   Majelis Tinggi yang relatif jauh lebih tinggi bila dibandingkan
   dengan negara-negara lain di Asia maupun dunia. Gaji
   seorang anggota Majelis Tinggi secara resmi adalah ¥
   23.000.000, pertahun, belum termasuk berbagai tunjangan
   dan honorarium. Akan tetapi, karena mereka umumnya
   berasal dari partai, maka sebagian dari gaji tersebut harus
   disumbangkan juga kepada partainya.
         Oleh karena itu, agar tidak ada keperluan dan
   kebutuhan Majelis Tinggi dan anggotanya yang tak
   terakomodasi, maka bagian keuangan ini dalam
   merancang anggaran tahunannya bekerja secara terus
   menerus dari bulan Januari hingga Juli. Seperti diketahui
   bahwa tahun anggaran di Jepang adalah bulan April-Maret.
   Setelah itu bulan Agustus dimulai pembahasan anggaran
   dengan departemen keuangan Jepang.
f. Divisi Humas (Public Information Divisin) adalah salah satu
  bagian pada Departemen atau Biro Urusan Umum (General
  Affairs Departement)
         Pada saat ini Bagian Humas dikepalai oleh Ms. Aoki.
  Sejak tahun 1981 Majelis Tinggi baru mulai membuka diri
  kepada rakyat Jepang dan melakukan sosialisasi




                                                               47
lembaganya secara luas melalui berbagai media cetak dan
elektronik
       Dijelaskan bahwa sejak tahun 1987 Majelis Tinggi sudah
menggunakan internet dan disediakan internet yang khusus
untuk anak-anak. Sedangkan pada tahun 1997 proses
sidang –sidangnya sudh disisarkan langsung melalui televisi
bekerjasama dengan stasiun televisi swasta.
       Setiap tahun Majelis Tinggi dikunjungi tidak kurang dari
200 (dua ratus ribu) orang, mulai tingkat anak-anak sekolah
dasar sampai dengan mahasiswa dan masyarakat umum,
baik dari dalam negeri maupun luar negeri
      Oleh karena itu, bagian ini membuat berbagai bentuk
program simulasi persidangan bagi anak sekolah dari
berbagai tingkat, dan juga membuat brosur, booklet serta
leaflet khusus kartun dengan bahasa yang mudah dicerna
oleh anak-anak. Selain itu, bagi masyarakat umum
disediakan nomir telepon khusus untuk menampung
pertanyaan-pertanyaan      dan     siapa saja anggota
masyarakat tentang Majelis Tinggi.


                  ----------------------------




                                                            48
                        KESIMPULAN, SARAN DAN PENUTUP


A. Kesimpulan


  a) Dukungan national diet library terhadap referensi dan substansi
     yang dibutuhkan dalam penyusunan undang-undang kepada
     majelis tinggi sangat tinggi dan hal ini patut untuk dicontoh di
     Indonesia.
  b) Dalam sistem parlemen Jepang, hubungan antara Majelis Tinggi dan
     Majelis Rendah berjalan secara serasi dalam keseimbangan dan
     kesetaraan. Selain itu, dalam menjalankan tugasnya masing-masing
     lembaga berada pada posisi bebas dan independen, saling
     mengisi, saling melengkapi dan saling mengawasi (checks and
     balances) sehingga terdapat sinergi diantara kedua Majelis. Hal ini
     tercermin dari proses pengajuan RUU, pembentukan komite
     bersama (Conference Committee) dan adanya rapat Gabungan
     Komisi Tetap (Joint Meeting of The Standing Committee) diantara
     kedua Majelis dan hal ini diatur oleh Undang-Undang.
  c) Desentralisasi dan otonomi daerah dilaksanakan melalui tata
     pemerintahan secara proporsional, serasi dan terpadu, baik antara
     pusat dengan       daerah/lokal, maupun        antara prefektural,
     municipality, towns dan villages. Otonomi diartikan bukan semata-
     mata hanya otonomi pemerintahan kepada aparat lokal, melainkan
     secara fundamental otonomi diberikan kepada kesatuan
     masyarakat local (Local public entities). Pola seperti ini telah
     menunjukkan hasil-hasil pembangunan yang menakjubkan di
     Jepang.    Meskipun    sempat      mengalami     krisis moneter
     berkepanjangan sejak tahun 1992, situasi perekonomian pemerintah
     Jepang mulai pulih kembali seiring dengan berkembangnya laju
     ekspor dan sektor produksi. Dengan perkiraan tingkat pertumbuhan
     GDP pada tahun 2006, yang mendekati 2,9% diharapkan
     kemampuan Jepang untuk mengurangi kesenjangan antar
     penerimaan dan       pengeluaran untuk pelayanan masyarakat
     semakin meningkat.
  d) Desentralisasi dan otonomi daerah dilaksanakan melalui tata
     pemerintahan secara proporsional ini di jalankan dengan baik pada
     Perfektur Kochi sebagai ( Pilot Project ), dan desa Umaji.




                                                                     49
  e) Dukungan kesekretariatan dalam pelaksanaan tugas dan fungsi
     Majelis Tinggi Jepang sangat penting. Keberhasilan pelaksanaan
     tugas-tugas majelis tinggi, mendapat dukungan penuh dari
     sekretariat   yang    strukturnya    terdiri dari  Departemen/Biro
     Persidangan, Biro Komisi-komisi sesui dengan jumlah Komisi Tetap,
     Biro Risalah/Record hasil Sidang, Biro Keamanan, Biro Urusan Umum,
     Biro    Administrasi Properti/Perlengkapan,     dan    Biro  Urusan
     Internasional, serta Pusat Penelitian Konstitusi Pegawai Undang-
     Undang Pegawai Parlemen (Diet), dengan sistem penggajian khusus
     yang berbeda dengan pegawai Negeri Sipil biasa.
  f) Pada umumnya, program/kegiatan yang didukung oleh ODA
     mengalami peningkatan terutama produksi pertanian dan sarana
     dan prasarana. Namun, apabila masa kontrak ODA terhadap
     program/kegiatan tersebut, produksi pertanian kembali menurun
     dan sarana dan prasarana tidak terpelihara bahkan di beberapa
     wilayah mengalami kerusakan.
  g) Jepang menganut sistem bikameral secara tegas, sehingga
     kedudukan Majelis Rendah dan Majelis Tinggi setara, yaitu Majelis
     Tinggi diberi kewenangan untuk ikut dalam pengambilan keputusan
     suatu undang-undang dan hal ini diatur dengan jelas dalam
     perundang-undangan lainnya.
  h) Umumnya, Anggota Majelis Tinggi juga merupakan anggota partai
     politik
  i) Tidak adanya gejolak politik maupun faktor keragaman budaya
     seperti di Indonesia, menjadikan reformasi desentralisasi yang
     berupa penggabungan wilayah dapat terlaksana.
  j) Penggabungan wilayah di Jepang didasarkan pada prinsip
     konsistensi dan efisiensi, yaitu mendudukkan peran vital wilayah
     dalam pembangunan ekonomi dan tetap konsisten dalam
     mensejahterakan penduduknya. Alasan welfare sering kali
     dinomorduakan, termasuk efek negatif pada pembangunan bidang
     politik misalnya. Meskipun begitu, konsistensi untuk melindungi
     daerah-daerah produktif tetap dilakukan.


B. Saran-saran


  a) Belajar dari pelaksanaan tugas dari fungsi Majelis Tinggi Jepang
     yang menunjukkan kinerja yang sangat baik, dengan hubungan



                                                                     50
   yang serasi dari setara dengan Majelis Rendah DPD RI perlu
   berupaya memperjelas posisinya dalam cabang kekuasaan
   legislatif, terutama dalam pengajuan RUU, pembahasan, dan
   pengawasan terhadap undang-undang sehingga checks and
   balances diantara cabang kekuasaan itu dapat diwujudkan secara
   nyata dalam demokrasi politik di Indonesia
b) Belajar dari pengalaman pelaksanaan disentralisasi dan otonomi
   daerah/lokal di Jepang, yang sejak lama telah diterapkan secara
   konsisten dengan mengedepankan kepentingan dan kearifan
   masyarakat lokal, perlu dilakukan evaluasi terhadap pemekaran
   daerah dan perlunya pengkajian dan pembuatan grand desain
   atau model disentralisasi dan otonomi yang sesuai dengan kondisi
   masyarakat daerah/lokal di Indonesia.
c) Sudah saatnya didirikan perpustakaan DPD RI atau perpustakaan
   MPR RI yang lengkap dan didukung tenaga yang handal dan
   profesional sebagai sumber pengkajian dan pendukung kerja
   Anggota.
d) Dengan mencermati pelaksanaan dukungan kesekretariatan
   kepada Majelis Tinggi di Jepang, perlu diambil hal-hal positifnya
   untuk menyesuaikan dan membangun kesekretariatan DPD baik dari
   aspek kelembagaan maupun kepegawaian dengan sumber daya
   aparatur yang memiliki standar kompetensi yang baik. Dengan
   kondisi kelembagaan dan kepegawaian seperti itu, dukungan
   terhadap pelaksanaan tugas dan fungsi DPD dapat dikerjakan
   dengan secara lebih optimal. Perlu pelatihan dan peningkatan
   tenaga kesekretariatan yang terus menerus. Tenaga Stenografer
   (penulis cepat) masih perlu di pertahankan karena dinegara maju
   seperti Jepang masih menggunakan Stenografi di Majelis lebih dari
   100 orang.
e) Bagian research, yang di DPD disebut pusat pengkajian data dan
   informasi, perlu dikaji lagi apakah tugas dan fungsi seperti di Majelis
   Tinggi Jepang bisa kita terapkan. Kalau bisa apakah kita bisa
   merekrut tenaga-tenaga ahli yang memiliki kompetensi hukum yang
   memadai untuk itu. Tentu saja tergantung pada anggaran yang bisa
   diperjuangkan. Persoalan tenaga ahli kelihatannya tidaklah terlalu
   sukar untuk mendapatkannya.
f) Khusus bagi Angota Dewan Perwakilan Daerah dalam melakukan
   persidangan, bahwa efektifitas waktu yang digunakan oleh majelis



                                                                       51
     tinggi dalam melaksanakan sidang komisi, sidang paripurna sangat
     efisien dan efektif oleh karenanya apabila diterapkan di Dewan
     Perwakilan Daerah terutama pembatasan waktu bicara dan
     adanya catatan tertulis.
  g) Perlu diadakan penghematan dan efisiensi dalam hidangan
     persidangan atau rapat-rapat cukup dengan minuman dan
     makanan yang sederhana.
  h) Bagi kegiatan kehumasan semua sarana dan dengan dukungan
     teknologi kegiatan persidangan telah dapat diakses oleh
     masyarakat, hal ini layak untuk sesegera mungkin Dewan Perwakilan
     Daerah mengikuti hal yang sama.
  i) Terkait dengan sekretariat di daerah, Majelis Tinggi tidak memiliki
     sekretariat di daerah. Namun demikian, setiap Anggota Majelis
     Tinggi memiliki kantor sekretariat di daerah pemilihan yang seluruh
      pembiayaannya berasal dari Anggota Majelis Tinggi .
C. Penutup
       Demikian laporan dalam mengikuti training program seminar
   decentralitation and role of parliament and its secretariat in japan
   yang diselenggarakan oleh JICA pada tanggal 3 s.d 11 Februari 2008,
   diakui masih banyak kekurangan dalam laporan ini karena tidak
   mungkin mendapatkan semua hal-hal yang diinginkan dengan waktu
   yang sangat terbatas dan kegiatan yang kurang terfokus.
      Semoga kegiatan seminar ini ada          manfaatnya    dan   atas
  perhatiannya kami sampaikan terima kasih.




                                                                     52

						
Related docs
Other docs by zqc88403
Best Husband Certificates
Views: 373  |  Downloads: 0
Betting Management - PowerPoint
Views: 0  |  Downloads: 0
Bermuda Investment Agreement
Views: 15  |  Downloads: 0
Betting Spreadsheet - Excel - Excel
Views: 69  |  Downloads: 1
Beta Testing Agreement Template
Views: 82  |  Downloads: 0
Best Available Technology Bref Olive Oil
Views: 72  |  Downloads: 0
Best Employee Nomination Form - DOC
Views: 562  |  Downloads: 0
Beverage Industry Corporate Profile - DOC
Views: 0  |  Downloads: 0
Best Buys Income Statement 2010
Views: 11  |  Downloads: 0