Bank Syariah Surat Perjanjian Jual Beli TUGAS FIQH by hpn14372

VIEWS: 0 PAGES: 6

More Info
									                     TUGAS
        FIQH MUAMALAH


     “Riba dalam Perspektif Islam”




                 Disusun oleh:


       Gia Putra            20040410100
       Elvin Ramdo          20040410183



           FAKULTAS EKONOMI
          JURUSAN MANAJEMEN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
                 2007
A. Pendahuluan


       Dewasa ini perbincangan mengenai riba di kalangan negeri Islam mencuat
kembali. Sehingga upaya-upaya melakukan usaha yang bertujuan menghindari
persoalan riba mulai dilaksanakan. Istilah dan persepsi mengenai riba begitu
hidupnya di dunia Islam. Oleh karenanya, terkesan seolah-olah doktrin riba adalah
khas Islam. Orang sering lupa bahwa hukum larangan riba, sebagaimana
dikatakan    oleh   seorang Muslim        Amerika,     Cyril   Glasse,    dalam    buku
ensiklopedinya, tidak diberlakukan di negeri Islam modern manapun. Sementara
itu, kebanyakan orang tidak mengetahui bahwa di dunia Kristenpun, selama satu
milenium, riba adalab barang terlarang dalam pandangan theolog, cendekiawan
maupun menurut undang-undang yang ada.
       Di sisi lain, kita dihadapkan pada suatu kenyataan bahwa praktek riba yang
merambah ke berbagai negara ini sulit diberantas, sehingga berbagai penguasa
terpaksa dilakukan pengaturan dan pembatasan terhadap bisnis pembungaan uang.
Perdebatan panjang di kalangan ahli fikih tentang riba belum menemukan titik
temu. Sebab mereka masing-masing memiliki alasan yang kuat. Akhirnya timbul
berbagai pendapat yang bermacam-macam tentang bunga dan riba.


B. Sejarah Singkat Riba


       Para ulama fikih memecahkan berbagai macam persoalan muamalah.
Banyak ayat-ayat al-Qur'an yang membicarakan riba sesuai dengan periode
larangan, sampai akhimya datang larangan secara tegas pada akhir periode
penetapan hukum riba. Riba pada agama-agama langit (samawi) telah dinyatakan
haram. Tersebut di dalam Perjanjian Lama Kitab Keluaran ayat 25 pasal 22 : “Bila
kamu menghutangi seseorang di antara warga bangsamu uang maka Janganlah
kamu berlaku laksana seorang pemberi hutang, jangan kami meminta keuntungan
padanya untuk pemilik uang ”.1 Namun orang Yahudi beranggapan bahwa riba itu

1
  Karnaen Perwataatmadja, “Apakah Bunga sama dengan Riba?”, Kertas Kerja Seminar Ekonomi
Islam,Jakarta: LPPBS, 1997.
hanyalah terlarang kalau dilakukan di kalangan sesama Yahudi. Tetapi tidak
terlarang dilakukan terhadap non-Yahudi. Hal ini tersebut di dalam Kitab Ulangan
ayat 19 pasal 23 “Janganlah engkau membungakan kepada saudaramu, baik uang
maupun bahan makanan, atau apa pun yang dapat dibungakan”2. Demikian pula
dalam Kitab Levicitus (Imamat) pasal 35 ayat 7 menyatakan : “janganlah engkau
mengambil bunga uang atau riba darinya, melainkan engkau harus takut akan
Allahmu, supaya saudaramu bisa hidup di antaramu. Janganlah engkau memberi
uangmu kepadamu dengan meminta bunga, juga makananmu janganlah kau
berikan dengan meminta riba”.3
          Namun,       Islam     menganggap        bahwa       ketetapan-ketetapan         yang
mengharamkan ribil yang hanya berlaku pada golongan tertentu, sebagaimana
tercantum dalam Perjanjian Lama merupakan ketetapan yang telah dipalsukan.
Sebab riba ini diharamkan bagi siapa saja dan terhadap siapa saja, sebab tindakan
ini adalah dhalim dan ke-dhalim-an diharamkan kepada semua orang tanpa
pandang bulu. Dalam Hadist Qudsi disebutkan: “Wahai hamba-Ku! Aku
mengharamkan kedhaliman kepada diri-Ku dan Aku telah tetapkan sebagai
perbuatan haram di tengah kamu. Karena itu janganlah kamu saling berbuat
dhalim!.”4
          Islam tidak membedakan manusia karena bangsanya atau warna kulitnya
atau keturunannya. Karena manusia adalah hamba Allah. Namun, umat Yahudi
menganggap ada perbedaan besar antara umat Yahudi dengan umat yang lain.
Orang Yahudi mengharamkan riba sesama mereka tetapi menghalalkannya kalau
dilakukan pada pihak lain. Hal inilah yang mendorong umat Yahudi memakan
riba dari fihak lain dan menurut al-Qur'an, perbuatan semacam ini dikatakan
sebagai hal memakan riba.


2
  Steve Keeen, “From Prohibition To Depression : the western Attitude to usury”, Australia, 18-20
february 1997, h. 57.
3
    M. Syafi‟i Antonio, Pengenalan Umum bank Syariah, Edisi Khusus, Jakarta.
4
  Hadi, Abu Sura’i Abdul, 1993, Bunga bank Dalam Islam, (terjemahan : Drs. M. Thalib), Surabaya:
Al-Ikhlas.
            Menurut Muhammad Assad, dalam The Message of the Qur'an
dinyatakan, bahwa setelah dibebaskan oleh Nabi Musa dari belenggu perbudakan
Fir'aun, bangsa Yahudi mendapatkan berbagai kenikmatan hidup. Tetapi sesudah
itu, terutama setelah mass Nabi Isa, bangsaYahudi mengalami malapetaka dan
kesengsaraan dalam sejarah mereka. Salah satu sebabnya adalah karena mereka
suka menjalankan praktek riba dan memakan harts manusia secara basil. Dalam
kitab orang Yahudi sendiri (Taurat dan Zabur) telah dilarang praktek-praktek
riba.5
            Kajian tentang larangan riba di dalam pandangan Islam, telah jelas
dinyatakan dalam Al-Qur'an (2: 278). Larangan tersebut dilatarbelakangi suatu
peristiwa atau asbabun nuzulnya ayat yang dinyatakan : "Dalam suatu riwayat
dikemukakan bahwa turunnya ayat 278-279 (QS. : 2) berkenaan dengan
pengaduan Banil Mughirah kepada gubernur Mekah setelah Fathu Makkah, yaitu
„Attab bin As-yad tentang hutang-hutang yang berriba sebelum ada hukum
penghapusan riba, kepada Banu 'Amr hal 'Auf dari suku Tsaqif. Bani Mughirah
berkata kepada 'Attab bin As-yad : "kami adalah manusia yang paling menderita
akibat dihapusnya riba. Kami ditagih membayar riba oleh orang lain, sedang kami
tidak mau menerima riba karena mentaati hukum penghapusan riba". Maka
berkata Banu 'Amr; "Kami minta penyelesaian alas tagihan riba kami". Maka
Gubenur Attab menulis surat kepada Rasulullah SAW. yang dijawab oleh Nabi
Muhammad saw sesuai dengan ayat 278-279 :


     “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan tinggalkan
       sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman ";
            "Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka
      ketahuilah bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu
           bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu
                       tidak menganiaya dan tidak (pull) dianiaya”6

5
    Ibid
6
    Hadi, ibid
C. Definisi Riba


          Riba secara bahasa bermakna : Ziadah (tambahan). Dalam pengertian lain
secara linguistik, riba juga berarti tumbuh dan membesar.7 Adapun menurut istilah
teknis, riba berarti pengembilan tambahan dari harta pokok atau modal secara
batil.8 Ada beberapa pendapat dalam menjelaskan riba, namun secara umum
terdapat benang merah yang menjelaskan bahwa riba adalah pengambilan
tambahan, baik dalam transaksi jual beli maupun pinjaman meminjam secara batil
atau bertentangan dengan prinsip muamalah dalam islam.
          Mengenai hal ini, Allah SWT mengingatkan dalam firman-Nya: (An-
Nisaa‟ : 29)..............................


          Dalam kaitannya dengan pengertian Al-bathil dalam ayat tersebut, Ibnu al-
Arabi almaliki dalam kitabnya, Ahkam Al-Qur‟an, menjelaskan;


      “pengertian riba secara bahasa adalah tambahan, namun yang dimaksud
         riba dalam ayat Qur’ani yaitu setiap penambhan yang diambil tanpa
                     adanya satu transaksi pengganti atau penyeimbang
                                      yang dibenarkan syari’ah.”


          Yang dimaksud dengan transaksi pengganti atau penyeimbang yaitu
transaksi bisnis atau komersial yang melegitimasi adanya penambahan tersebut
secara adil, seperti transaksi jual bali, gadai, sewa, atau bagi hasil proyek. Dalam
transaksi simpan-pinjam dana, secara konvensional, si pemberi pinjaman
mengambil tambahn dalam bentuk bunga tanpa adanya suatu penyeimbang yang
diterima si peminjamm kecuali kesempatan dan faktor waktu yang berjalan
selama proses peminjaman tersebut. Yang tidk adil disini adalah sipeminjam

7
  Abdullah Saeed, Islamic Banking and Interest: A Study of the Prohibition of Riba and its
Contemporary Interpretation (Leiden: Ej Brill, 1996.
8
  Muhammad Syafi‟i Antonio, Bank Syariah: Wacana Ulama dan Cendekiawan (jakarta: Central
Bank of Indonesia and Tazkia Institute, 1999).
diwajibkan utuk selalu, tidak boleh tidak, harus, mutlak, dan pasti untung dalam
setiap penggunaan kesempatan tersebut.9
          Berikut ini ada beberapa pengertian dari berbagi mazhahib Fiqhiyyah,
antara lain sebagai berikut :



    Untuk mengakses dan mendownload tugas kuliah ini selengkapnya
                        anda harus berstatus Paid Member




9
     Anwar Iqbal Quresyi, Islam and Theory of Interest (Lahore: SH. Muhammad Ashraf, 1991).

								
To top