Docstoc

ALAT UKUR LISTRIK

Document Sample
ALAT UKUR LISTRIK Powered By Docstoc
					                 DATA PEMILIK


                                Foto
                                3x4




Nama              :   ……………………………………
Nim               :   ……………………………………
Alamat            :   ……………………………………
                      ……………………………………
                      ……………………………………
                      ……………………………………
                      ……………………………………
Telepon           :   ……………………………………
Handphone         :   ……………………………………
E-Mail            :   ……………………………………
No. KTP           :   ……………………………………
No. SIM           :   ……………………………………
No. Paspor        :   ……………………………………
Golongan Darah    :   ……………………………………

Keadaan Darurat Hubungi
Nama                :   ……………………………………
Alamat              :   ……………………………………
                        ……………………………………
                        ……………………………………
                        ……………………………………
                        ……………………………………
Telepon             :   ……………………………………
Handphone           :   ……………………………………
Modul Praktikum Fisika Terapan (FI-1901)


               KETIDAKPASTIAN PADA PENGUKURAN DAN
                   PENGOLAHAN DATA SEDERHANA

Setiap pengukuran dihinggapi suatu ketidakpastian. Adapun penyebabnya
banyak sekali, beberapa diantaranya:
o Keterbatasan Alat: nst (nilai skala terkecil) yang selalu ada, kalibrasi yang
    tidak tepat, gesekan yang terjadi antar bagian alat yang bergerak, kelelahan
    pegas, dan lain sebagainya.
o Keterbatasan Pengamat: dalam zaman modern ini semakin banyak peralatan
    berteknologi tinggi digunakan. Pengoperasiannya memerlukan keterampilan
    yang tinggi seperti: osiloskop, komputer, scaler- counter, dan lain
    sebagainya.
o Ketidakpastian Acak: tegangan listrik yang digunakan tidak pernah tetap
    nilainya sehingga selalu mengalami fluktuasi, gerak Brown partikel udara –
    dan lain sebagainya.
Karena itu suatu hasil pengukuran harus dilaporkan bersama dengan
ketidakpastiannya. Berikut adalah cara yang lazim digunakan:
                              T = {x x}       T

dengan       T       :Lambang besaran yang diukur, misal suhu;
             x       : Nilai yang diperoleh, misal 36;
             x      : Ketidakpastian (ktp) pada x, misal 0,5;
             [T]     : Dimensi atau satuan besaran x, misal 0C.

Sebagai contoh, kita ingin mengukur suhu (T) dan diperoleh hasil pengukuran
260C, sedangkan ketidakpastian pada alat ukur suhu adalah 0,5 0C, maka hasil
pengukuran suhu tersebut dituliskan sebagai:
                               T = (36 ±0,5) 0C

Untuk memperoleh nilai {x±x} dibedakan 2 kasus berikut ini :
1) Pengukuran Dilakukan 1 (Satu) Kali.
   Bila pengukuran hanya dilakukan satu kali saja, maka x adalah nilai yang
   terbaca pada waktu pengukuran, dan Δx = .nst. Nst adalah jarak antara dua
   titik yang berdekatan pada skala alat ukur. Akan tetapi, apabila skala alat
   ukur dirasa cukup besar, kadang kala digunakan Δx = .nst.
2) Pengukuran Dilakukan Lebih dari 1 (Satu) Kali.
   Lebih dari 1 kali maksudnya adalah pengukuran dilakukan sebanyak N kali,
   dengan N > 1. Apabila ini yang dilakukan, maka nilai x adalah nilai rata-rata
   hasil pengukuran, atau x  x , dengan
          xi x1  x2  ... x N
    x                          ,
          N           N
   dengan                      dan i = 1, 2, 3, …, N.

                                                             FakultasSainsIT Telkom
Modul Praktikum Fisika Terapan (FI-1901)


   Atau juga dapat menggunakan deviasi standar nilai rata-rata:

                       dengan S n1  xi  x        N  xi  ( xi ) 2
                                                2               2
                 S n1
    x  S x 
                   N                    N 1               N ( N  1)
   dan i = 1,2,3,..., N.

   Contoh: Pengukuran berulang atas besaran A menghasilkan sampel berikut:
   11,8; 12,0; 12,2; 12,0; 11,9; 12,0; 12,2; 11,8; 11,9; dan 12,2.

   Jawab: Diperoleh N = 10;             ;      = 0,05; x = 0,02. Sehingga
   pelaporan hasil pengukuran dituliskan x = (12,00  0,02) satuan.

Mengukur Besaran secara Tak Langsung
Jarang sekali besaran yang hendak ditentukan lewat percobaan dapat diukur
dengan langsung. Lebih sering besaran tersebut merupakan fungsi dari besaran –
besaran lain yang dapat kita ukur.

Contoh: Tidak dikenal alat untuk mengukur massa jenis (). Akan tetapi, dengan
mengukur massa (m) dan volume (V), kita dapat menentukan massa jenis ().
Perlu diingat sewaktu mengukur m dan V, terdapat ktp m dan ktp V. Bagaimana
hubungan antara ktp  dengan ktp m dan ktp V?

Jawab: Misalkan Y adalah besaran yang dicari dari besaran x,ditulis dalam
bentuk fungsi persamaan Y = F(x). Mengingat adanya ketidakpastian nilai x,
maka fungsi tersebut dapat ditulis menjadi Y = F(x Δx),serta apabila diurutkan
dengan deret Taylor disekitar x =                 , fungsi tersebut menjadi:
                              df    1 d f 
                                            2
 y  f ( x  x)  f ( x )    x   2  (x) 2  ... dimana nilai y adalah
                              dx  x 2!  dx  x
                                             
                   x
y  f (x ) . Untuk      1 maka f ( x  x) dapat didekati dengan dua suku
                    x
                        df               df
saja, sehingga y  y       x dan y        x .Dengan proses yang tidak
                        dx  x            dx x
jauh beda, maka dapat dibuktikan bahwa untuk fungsi yang lebih dari satu
                                           dz            dz
variabel, misal Z = F(x,y) didapat z              x           y .
                                           dx x , y      dy x , y

Contoh:
Percepatan gravitasi setempat ingin ditentukan dengan mengukur periode T
suatu bandul matematis sepanjang L. Misalkan dari pengukuran menghasilkan:

                                                                    FakultasSainsIT Telkom
Modul Praktikum Fisika Terapan (FI-1901)


T         = (2,00  0,02 ) s;
L         = (100  1 ) cm; dengan
         = 3,14.

Jawab: Dengan menggunakan rumus T = 2 L/ g , maka:

               43,14 
           L                  100
g  4 2                              985 ,6
                          2

           T2               2,00 2
g L         T
                          2       3%  g  3% 985 ,6  29 ,578 .
                      1        0,02
         2       
 g     L      T      100       2,00
Mengingat bahwa ktp relatip adalah sebesar 3% maka hasil akhir harus
dilaporkan dengan 3 Angka Berarti (AB), jadi menurut pengukuran ini nilai g =
986  30  cm s 2 atau g  9,86  0,30 m / s 2
Metoda Persamaan Garis Linier
Akan diberikan 2 cara untuk metode ini:
1. Setelah semua titik percobaan di-plot pada kertas grafik, garis lurus ditarik
   dengan sebaik-baiknya. Walaupun cara ini kurang cermat, namun dalam
   beberapa hal, cara ini sudah memadai, apalagi skala grafik sudah dipilih
   dengan baik.
2. Data percobaaan tidak di-plot, melainkan langsung diolah dengan suatu
   analisis yang dikenal sebagai “metoda kuadrat terkecil untuk garis lurus”
   (regresi linier).

Misalkan, suatu hukum fisika atau rumus sudah „dilinierkan‟ sehingga
berbentuk persamaan   y0  a  bx0 , dan pengukuran telah dilakukan untuk
selang tertentu dan menghasilkan titik-titik xi  xi dan titik-titik yi  yi
.Dengan metoda kedua diatas, kita akan mendapatkan persamaan garis lurus
terbaik berbentuk y  a  bx dimana:
    N  xi yi    xi  yi dan    xi2 yi2  xi xi yi 
                                        
b                               a
      N  xi2   xi                    
                                                  2
                                       N xi2  xi
                        2


sedangkan simpangan atau ketidakpastian dari b dalam menaksir nilai Δb
adalah:
                  N
b  y
           N  xi2   xi 
                           2




                                                           FakultasSainsIT Telkom
Modul Praktikum Fisika Terapan (FI-1901)



       1            x 2  y   2 xi  yi   xi yi   N   xi yi  
            yi2   i  i
                              2                                        2

y 
  2
                                                                         
      N 2                      N  xi2    xi                       
                                                    2
                                                                        
dimana i = 1,2,3,4, …, N; N menyatakan jumlah data pengamatan besaran x dan
besaran y.

Ktp Mutlak dan Ktp Relatip
Perhatikan penunjukan amperemeter dari dua pengukuran berikut ini:
I a  1,7  0,05mA dan Ib = (1,74 0,02)mA
Ktp Mutlak adalah Nilai ketidakpastian(   pada nilai pengukuran. Sebagai
contoh Ktp Mutlak pada pengukuran pertama adalah 0,05 mA dan Ktp Mutlak
pada pengukuran kedua adalah 0,02 mA. Untuk Ktp relatif dapat diperoleh
sebagai berikut:
I a 0, 05         I   0, 02
           3% dan b         1%
 Ia   1, 7          Ib  1, 74
Dari hasil pengukuran, didapatkan Ktp relatif 3% dan 1%, semakin kecil nilai
Ktp relatif maka semakin presisi hasil yang didapatkan. Dari dua pengukuran
diatas yang paling baik adalah dengan Ktp 1% ,dapat dilihat dengan nilai Ib =
(1,74    0,02)mA artinya rentang nilai Ib diantara 1,72 mA sampai 1,76 mA,
sedangkan Ia = (1,7 0,05) mA artinya rentang nilai Ia diantara 1,65 mA sampai
1,75 mA.

Notasi Eksoponensial dan Angka Berarti.
Hasil suatu pengukuran sebaiknya dilaporkan dengan menggunakan notasi
eksoponensial yang merupakan cara termudah menuliskan bilangan yang besar
sekali maupun kecil sekali (bilangan demikian, sering kita jumpai dalam ilmu
fisika). Disamping itu notasi eksopnensial dengan mudah dapat menonjolkan
ketelitian yang tercapai dalam pengukuran.Yakni dengan menggunakan jumlah
angka desimal yang sesuai dengan AB yang diperkenankan.
Ketentuannyaadalah:
    Ketelitian 10%                2 AB
    Ketelitian 1%                 3 AB
    Ketelitian 0,1%               4 AB
Dalam notasi eksponensial semua bilangan ditulis sebagai bilangan antara 1 dan
9 (bilangan ini disebut „mantisa„) dikalikan dengan faktor 10n (disebut orde),
dimana n adalah bilangan bulat positip atau negatip.




                                                          FakultasSainsIT Telkom
Modul Praktikum Fisika Terapan (FI-1901)


                               MODUL 1
                       ALAT UKUR BESARAN LISTRIK

I.    Tujuan:
      1. Memahami fungsi dan aplikasi dari alat ukur osiloskop dan multimeter;
      2. Mengukur frekuensi dan amplitudo getaran harmonik dengan
         osiloskop;
      3. Memahami superposisi yang sejajar dan tegak lurus melalui osiloskop;
      4. Memahami fungsi dan aplikasi dari alat ukur multimeter;
      5. Mengukur hambatan dalam dari amperemeter dan voltmeter;
      6. Dapat merangkai dan menaikkan batas ukur amperemeter dan
         voltmeter.

II.   Alat-Alat:
      1. Osiloskop GOS -622 (Dual trace; 20 Mhz);
      2. Generator Audio;
      3. Multimeter;
      4. Resistor;
      5. Kisi Soket;
      6. Hambatan Shunt (Rshunt);
      7. Hambatan Multiplier (RM);
      8. Kabel Penghubung / Jumper;
      9. Catu daya;
      10. Basic Meter;

III. Percobaan
A. Osiloskop
     Osiloskop adalah alat ukur besaran listrik yang mampu menampilkan
     masukan sinyal listrik dalam penskalaan tertentu. Sinyal listrik yang
     tampak pada layar osiloskop berupa domain tegangan terhadap
     waktu.Bagian-bagian osiloskop dapat dilihat pada gambar 1.




                       Gambar 1. Osiloskop (Tampak Depan)

                                                            FakultasSainsIT Telkom
Modul Praktikum Fisika Terapan (FI-1901)


                  Tabel 1. Keterangan Bagian-Bagian Osiloskop
1    Layar                             10 Input ch–1

2    Tombol on – off                       11   Input ch–2

3    Trace rotation                        12   Penggeser posisi horisontal

4    Pengatur fokus       pada    layar    13   Pengatur nilai     skala   horisontal
     (FOCUS)                                    (time/div)
5    Pengatur intensitas pada layar        14   Tombol kalibarasi sweep
     (INTENS)
6    Kalibrasi: Gelombang square,          15   Pengatur trigger: holdoff dan level
     2Vpp, 1 KHz
7    Penggeser                 posisi      16   Tombol normal / auto pada
     vertikalchannel:a.ch1 b.ch2                pengatur trigger
8    Selektor ch–1 & 2,dual,add            17   Pemilih channel dan modus kerja
                                                osiloskop
9    Pengatur        nilai       skala
     vertikal:a.ch1 b.ch2 (volts/div)

     Besaran-besaran yang dapat diukur dengan menggunakan osiloskop
     adalah:
      Amplitudo: menyatakan besarnya tegangan maksimum sinyal listrik
        yang terukur.
        a. Tegangan maksimum (Vm) =Amplitudo sinyal terbaca.
        b. Tegangan puncak ke puncak (Vpp) = 2x Amplitudo sinyal terbaca.
        b) Tegangan effektif(Veff)= 1/   dari ampiltudo sinyal terbaca.
      Frekuensi: menyatakan jumlah gelombang sinyal listrik tiap detik dari
        skala time/div yang digunakan.
      Periode: Menyatakan waktu untuk mencapai panjang lintasan satu
        gelombang sinyal yang terbaca pada layar osiloskop.

     Cara Kerja Praktikum:
     1. Persiapan sebelum alat dinyalakan:
         Tombol-tombol INTENS, FOCUS,dan kedua tombol POS
           ditempatkan di kedudukan tengah-tengah.
         Tombol SWP VAR diputar habis kekanan, dalam keadaan tertekan.
         Hubungkan osiloskop dengan sumber tegangan AC.
         Tekan tombol POWER pada osiloskop .

                                                                FakultasSainsIT Telkom
Modul Praktikum Fisika Terapan (FI-1901)


     2. Kalibrasi Osiloskop




                                  Gambar 2. Kalibrasi Osiloskop

          Pasang probe kesoket ch-1 atau ch-2 dan kaitkan ujung probe
           (magnitude 1x) ke call 2 Vpp.
          Putar Knop time/div ke 1ms; dan volt/div 1 volt pada layar tampak
           garis horisontal. Atur hingga tampak garis jelas ditengah layar.
          Pada layar akan tampak gambar gelombang square.
          Atur posisi horisontal dan vertikal berada ditengah-tengah layar.
          Bila gelombang square tampak miring, atur posisi trace rotation.

         Periksa apakah amplitudo gelombang square ini sudah tepat 2 Vppdan
         periksa apakah frekuensi pada gelombang square sudah tepat 1KHz?
         Jika Ya, jelaskanjawaban Anda!
         ...................................................................................................................
         ...................................................................................................................
         ...................................................................................................................
         ...................................................................................................................
         ...................................................................................................................
         ...................................................................................................................

3. Pengamatan frekuensi (f) dan Amplitudo (A) getaran Harmonik pada
   osiloskop




       Gambar 3.Percobaan Pengamatan Frekuensi dan Amplitudo dengan
            menggunakan Osiloskop dan Signal Audio Generator

                                                                                           FakultasSainsIT Telkom
      Modul Praktikum Fisika Terapan (FI-1901)


                     Signal Audio Generator:
                      a. Atur tombol ATT di tengah;
                      b. Tombol mVpp pada posisi 100;
                      c. Atur    tombol-tombol      sebelah    kanan     sehinggadapat
                         getaranharmonik sederhana sinosoidal 500 HZ atau lainnya.
                     Osiloskop:
                      a. Pasang probe pada ch-1;
                      b. Ujung probe (magnitude 1x) dihubungkan pada output osilator
                         demikian pula hubungkan negatipnya.
                      c. Dengan memutar-mutar knop time/div dan volt/div, usahakan
                         agar pada layar tampak gelombang sinusoidal.

           Tabel 2. Pengamatan Frekuensi dan Ampitudo pada Generator dan Osiloskop
            Data
                         Fgenerator      Fosiloskop    Agenerator     Aosiloskop
Ke-
                1
                2

                3

      Samakah nilai A dan f generator dengan osiloskop, mengapa demikian?
      Jelaskan!
          ............................................................................................................................
          ............................................................................................................................
          ............................................................................................................................
          ............................................................................................................................
          ............................................................................................................................
          .........................................................................................................................

      4. Superposisi 2 Getaran Harmonik yang Sejajar
        a. Pelayangan




      Gambar 4.Percobaan Superposisi Getaran Harmonik yang Sejajar pada Proses

                                                                                                     FakultasSainsIT Telkom
Modul Praktikum Fisika Terapan (FI-1901)


Pelayangan dengan menggunakan Osiloskop dan 2 Signal Audio Generator
         Osiloskop:
           a. Putar tombol time/div ke 1 ms; dan volt/div sesuai yang
              ditentukan.
           b. Pasang probe ke ch-1 dan ch-2.
         Generator -1:
           a. Tombol ATT di tengah; tombol mVpp pada posisi 100.
           b. Pasang f1 600 kHz sinusoidal (atau nilai lain menurut asisten).
           c. Hubungkan probe ch-1 ke generator, atur f1 dan ATT hingga
              pada layar osiloskop tampak gelombang sinusoidal, dan tidak
              bergerak /diam.
         Generator -2:
           a. Tombol ATT di tengah; tombol mVpp pada posisi 600.
           b. Pasang f2 700 kHz sinusoidal(atau nilai lain menurut asisten).
           c. Hubungkan probe ch-2 ke generator, atur f2 dan ATT hingga
              pada layar osiloskop tampak gelombang sinusoidal.
           d. Pindahkan switch mode ke dual. Kedua getaran f1 dan f2 akan
              tampak bersama, atur hingga f2 berfrekuensi dan beramplitudo
              sama dengan f1 (dan sedapat-dapatnya diam).
           e. Pindahkan switch mode ke ADD untuk mendapatkan hasil
              superposisi.

   Tabel 3. Pengamatan Hasil Superposisi Gelombang Harmonik yang Sejajar
   pada Proses Pelayangan
    No.         F1          F2             Gelombang Hasil Superposisi

        1       300 Hz        400 Hz


        2        600Hz        900Hz



            b. Kompleks




                                                          FakultasSainsIT Telkom
Modul Praktikum Fisika Terapan (FI-1901)


                          Gambar 5. Getaran Harmonik Kompleks

         Getaran Harmonik kompleks: Ubah f2 hingga kembali 600 kHz; dan f1
         berturut-turut 6 kHz dan 60 kHz.

         Tabel 4. Pengamatan Hasil Superposisi Gelombang Harmonik yang
         Sejajar pada Proses Gelombang Kompleks
          No        F1                Gelombang Hasil Superposisi
           1      6 KHz


            2        60 KHz



         Bandingkan kedua gambar pada superposisi getaran harmonik sejajar
         diatas? Jelaskan perbedaannya?
         ...................................................................................................................
         ...................................................................................................................
         ...................................................................................................................
         ...................................................................................................................
         ...................................................................................................................
         ...................................................................................................................

     5. Superposisi Getaran Harmonik yang Saling Tegak Lurus




                        (a)                         (b)
           Gambar 6. Gambar Lissajous: (a) F1:F2= 1:1; (b) F1:F2 = 1:2

         Cara mendapatkan gambar-gambar Lissajous :
          Generator – Pertama:
            Pilih f1 = 800 Hz sinusoidal; amplitudo disesuaikan (atau nilai lain
            ditentukan asisten).
          Osiloskop ch-1:

                                                                                           FakultasSainsIT Telkom
Modul Praktikum Fisika Terapan (FI-1901)


               -Arahkan seluruh tombol/knop pada x-y.
               -Pasang probe ch-1 dengan osilator pertama.
               -Ubah-ubah amplitudo osilator dan knop volt/div (bila
                perlu)hingga pada Osiloskop diperoleh garis horizontal.
           Generator - Kedua:
            Pilih f2 = 800 Hz Sinusoidal; amplitudo disesuaikan.
           OSILOSKOP Ch -2 : - Pindahkan switch 17 ke AC
            - Pasang probe ke 2 dengan generator kedua.
            - Ubah-ubah amplitudo osilator hingga pada layar diperoleh garis
                vertikal.

          Catatan: Bila gambar-gambar tidak dapat diam, ini disebabkan kedua
          generator merupakan 2 sumber getaran yang tidak koheren, sehingga
          beda fase setiap saat berubah/tidak konstan.

                         Tabel 5. Gambar Lissajous
     f1 = 200 Hz
     No     Perbandingan f1 dan f2             Gambar Lissajous
      1             1:1



      2                       1:2



      3                       1:3




          Gambarkan secara manual lissajous dengan f = 1: 2 dengan θ = 90°,
          dan Amplitudo =2 V!
          ...................................................................................................................
          ...................................................................................................................
          ...................................................................................................................
          ...................................................................................................................
          ...................................................................................................................
          ...................................................................................................................




                                                                                            FakultasSainsIT Telkom
Modul Praktikum Fisika Terapan (FI-1901)




B.   MULTIMETER
     Multimeter adalah alat pengukur besaran listrik yang dapat berfungsi untuk
     mengukur tegangan (voltmeter) suatu komponen listrik ataupun mengukur
     besarnya arus (amperemeter) yang melalui komponen tersebut. Ada dua
     jenis multimeter, yaitu multimeter digital dan multimeter analog. Baik
     multimeter digital ataupun analog, dapat digunakan untuk mengukur listrik
     AC maupun listrik DC. Lihat gambar 7 contoh multimeter digital.




                           Gambar 7. Multimeter DIgital

     Kemudian berikut adalah fungsi dari tombol – tombol pada multimeter
     yang sering digunakan dalam praktikum, dan yang pertama adalah tombol
     – tombol yang ada di bawah layar multimeter (yang berwarna kuning pada
     gambar),
     a. MODE berfungsi untuk mengubah-ubah fungsi dari multimeter, dari
         sebagai alat ukur arus dan tegangan rangkaian DC menjadi alat ukur
         arus dan tegangan pada rangkaian AC, ataupun sebaliknya. Kemudian
         untuk melihat multimeter dalam keadaan yang mana, dapat kita lihat
         disebelah kiri layar. Jika bertanda “~” berarti bahwa multimeter dalam
         keadaan berfungsi untuk mengukur arus dan tegangan pada rangkaian
         AC. Kemudian jika bertanda “-“ maka multimeter dalam keadaan untuk
         mengukur arus dan tegangan pada rangkaian DC.
     b. OFF: Jika tombol putar kita arahkan kearah OFF, maka multimeter
         dalam keadaan mati dan belum siap untuk digunakan.
     c. V: Jika tombol putar kita arahkan kearah V, maka multimeter bertindak
         sebagai voltmeter (alat ukur tegangan yang dialami oleh suatu
         komponen listrik).
     d. Ω: Jika tombol putar kita arahkan kearah Ω, maka multimeter bertindak
         sebagai ohmmeter (alat ukur nilai resistansi dari suatu hambatan).

                                                          FakultasSainsIT Telkom
Modul Praktikum Fisika Terapan (FI-1901)


     e. A: Jika tombol putar kita arahkan kearah A, maka multimeter bertindak
        sebagai amperemeter (alat ukur arus listrik yang melalui suatu
        komponen listrik).

     Cara Kerja Praktikum:

     1. Mengukur Hambatan Dalam Amperemeter
        Mengukur hambat dalam rA suatu amperemeter dapat dilakukan
        dengan mengukur arus I yang melalui amperemeter dan mengukur beda
        potensial V antara kedua terminalnya. Sebagai amperemeter digunakan
        Basic Meter (BM).
                                           CD



                            RB                  rA
                                  
                                                BM



                                                M



      Gambar 8 Skematik Rangkaian Percobaan Hambatan Dalam Amperemeter

         Sebagai voltmeter digunakan multimeter digital (M), lihat gambar 8.
         Jika arus yang melalui BM adalah I Ampere dan beda potensial yang
         ditunjukan voltmeter adalah V volt, maka rA 
                                                         V .
                                                           
                                                         I
         Langkah- Langkah Percobaan :
         Rangkai rangkaian seperti skematik rangkaian Gambar 8, dengan R=47
         Kohm (sesuai asisten), lihat gambar dibawah ini:




        Gambar 9. Rangkaian Percobaan Hambatan Dalam Amperemeter

                                                           FakultasSainsIT Telkom
 Modul Praktikum Fisika Terapan (FI-1901)


Tabel pengamatan :

 Data Ke                          IBM (µA)                                            VBM (mV)
    1
    2
    3
    4
    5

 Hitung hambatan dalam(ra) pada percobaan diatas ?
 (V=I.R, dengan Y=bx, ket : V=Y, X=I dan b=R)
 .................................................................................................................................
 .................................................................................................................................
 .................................................................................................................................
 .................................................................................................................................
 .................................................................................................................................
 .................................................................................................................................
 .................................................................................................................................
 ..............................................................................................................................

 2. Meningkatkan Batas Ukur Amperemeter
    Pada percobaan ini juga disediakan 3 buah R shunt bernomor 1, 2 dan 3 yang
    besar hambatannya ditentukan dengan rangkaian untuk menaikan batas ukur
    amperemeter, lihat gambar 10.


                                           CD                                       CD             : CatuDaya
                                                                                    RB             : Hambatanbeban
                                                                                                     (Bangku Resistor)
                  RB                                   rA                           M              : Multimeter Digital
                          M                          BM                             BM             : Basic Meter
                                                                                    Rsh            : Hambatan-shunt
                                                     Rshunt                                          1, 2dan 3


               Gambar10. Skematik Rangkaian Meningkatkan Batas Ukur Amperemeter


               Langkah-langkah Percobaan:
               Rangkai rangkaian seperti skematik rangkaian gambar 10,dengan R=
               10kohm(sesuai asisten).


                                                                                                 FakultasSainsIT Telkom
Modul Praktikum Fisika Terapan (FI-1901)


              Lihat gambar dibawah ini:




             Gambar 11. Rangkaian Meningkatkan Batas Ukur Amperemeter

  Tabel pengamatan :
   Shunt    Batas                         Pengamatan                                                              N
     ke      ukur
           Teoritis
                                            IBasic Meter                      IMultimeter




Jelaskan pengaruh faktor N pada peningkatan Batas ukur Amperemeter?
Turunkan dari rumus : ra = Rshunt ( N-1), dimana N= Imultimeter/Ibasicmeter!
.................................................................................................................................
.................................................................................................................................
.................................................................................................................................
.................................................................................................................................
.................................................................................................................................
...............................................................................................................

                                                                                                FakultasSainsIT Telkom
Modul Praktikum Fisika Terapan (FI-1901)


 3. Meningkatkan Batas Ukur Voltmeter

 Setelah hambatan dalam rA dari BM ditentukan, dan jika misalnya batas ukur
 arusnya BM sebagai amperemeter adalah 1 ampere, maka sebagai voltmeter,
 batas ukur tegangannya adalah 1 r A volt. Batas ukur tegangan ini akan
 dinaikkan dengan menggunakan RM.

                         CD
                                           Pada percobaan Voltmeter ini
                                           disediakan dua buah multiplier RM
                                           bernomor 1 dan 2 yang digunakan
                                           untuk menaikan batas ukur voltmeter.
           RB       RM          rA
                          B           C    Pada percobaan ini kita akan
              A
                               BM          menentukan hambatan dari masing-
                                           masing multiplier. Rangkaiannya
                                           tampak pada gambar 7.
                         M


  Gambar 12. Skematik Rangkaian Meningkatkan Batas Ukur Voltmeter

Multimeter M berfungsi sebagai voltmeter yang mengukur batas ukur baru dari
voltmeter BM yang diberi hambatan depan RM.

   Langkah-langkah Percobaan:
Rangkai rangkaian seperti skematik gambar 12, R= 47kohm(sesuai asisten).
Lihat gambar dibawah ini:




Gambar 13. Rangkaian Meningkatkan Batas Ukur Voltmeter



                                                          FakultasSainsIT Telkom
Modul Praktikum Fisika Terapan (FI-1901)


 Tabel pengamatan :

  Multiplier             Batas               Pengamatan                                                          N
     ke                  ukur
                        Teoritis
                                                IBasic Meter                   VMultimeter




Jelaskan pengaruh faktor N pada peningkatan Batas ukur Amperemeter?
Turunkan dari rumus : Rm = (n-1) rv, dimana N= Vmultimeter/Ibasicmeter.ra!
.................................................................................................................................
.................................................................................................................................
.................................................................................................................................
.................................................................................................................................
.................................................................................................................................
...............................................................................................................




                                                                                                FakultasSainsIT Telkom

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Stats:
views:6575
posted:1/5/2011
language:Indonesian
pages:18
Description: modul praktikum fisika ini menjelaskan tentang bagaimana cara mengukur ketelitian dan menggunakan alat ukur listrik