latar belakang masalah_perkembangan_

Document Sample
latar belakang masalah_perkembangan_ Powered By Docstoc
					     GAMBARAN RESIKO MELAHIRKAN

DENGAN MENGGUNAKAN METODE WATER BIRTH




                    Disusun oleh :



       Reny Febriana             108070000089

       Siti Sharah Febriani      108070000052

       Febri Pradana             108070000069

       Dea Riska                 108070000072




       Universitas Islam Negri (UIN)
        SYARIF HIDAYATULLAH
                    JAKARTA
                        2010
                                      KATA PENGANTAR

  Bismillahirahmanirahim
  Alhamdulillah, puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT yang telah melimpahkan
rahmat, hidayah, serta kasih sayangnya yang tak terhingga kepada penulis, sehingga penulis
dapat menyelesaikan makalah ini. Shalawat dan salam selalu tercuraahkan kepada junjungan
umat, nabi besar muhammad SAW, yang telah membawa umatnya dari zaman kegelapan menuju
zaman yang terang benderang dengan agama Allah dan ilmu-ilmu pengetahuan.
  Makalah ini disusun sebagai salah satu syarat dari nilai mata kuliah psikolog perkembangan.
Makalah ini membahas tentang gambaran dari resiko proses menggunakan metode water birth
Penulis menyadari apa yang diuraikan dalam hasil makalah ini tidaklah sempurna. Pasti
didalamnya tak luput dari kekurangan dan keterbatasan. Dalam penulisan makalah ini banyak
pelajaran yang dapat penulis peroleh, baik itu ketika mengalami kesulitan, kebingungan dan
menghadapi tantangan. Namun hal tersebut dapat penulis hadapi dengan penuh kesabaran dan
tetap optimis.
  Akhir kata semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi semua orang yang membaca makalah
ini.


                                                                              Hormat Kami




                                                                                  Penulis
                                                BAB I

                                        PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
    Perempuan adalah manusia yang diciptakan Tuhan dengan segala kesempurnaan sehingga
   dapat melahirkan seorang bayi ke dunia. Sebelum melahirkan perempuan harus melewati
   tahapan kehamilan. Andriana (2007) menyatakan proses kehamilan terdiri dari tiga masa yang
   disebut trimester. Trimester adalah minggu pertama sampai 11minggu 6 hari, trimester kedua
   adalah minggu ke-12 hingga 27 minggu 6 hari. Dan trimester ketiga adalah minggu ke-28 hingga
   si buah hati lahir dalam waktu yang cukup (40 minggu).
    Kehamilan merupakan karunia terbesar dari Tuhan. Sudah sepantasnya setiap perempuan
   bersyukur atas kehamilanya. Hal tersebut berarti seorang perempuan telah diberi kepercayaan
   oleh Tuhan untuk menjadi seorang ibu, sebab hamil dan menjadi seorang ibu adalah kodrat
   seorang perempuan.
    Pada saat perempuan mengetahui hamil, sebagian mereka merasa bahagia namun di sisi lain
   juga merasakan kecemasan tentang kelahiran (Stoppard, 2007). Artur and Coleman (1980)
   (dalam Dariyo, 1998) mengatakan bahwa menghadapi kelahiran bayi merupakan pengalaman
   kongkret yang dapat menimbulkan kondisi psikologis tidak stabil pada perempuan hamil,
   misalnya : perasaan tegang , khawatir, atau takut.
    Santrock (2002) menjelaskan bahwa ketika seseorang hamil mengalami ketakutan, kecemasan,
   dan emosi lain yang mendalam, terjadi perubahan psikologis antara lain :meningkatnya
   pernapasan dan sekresi kelenjar. Adanya produksi hormone adrenalin sebagai tanggapan
   terhadap ketakutan dapat menghambat aliran darah ke daerah kandungan sehingga membuat
   janin kekurangan oksigen. Dengan demikian kondisi emosional perempuan yang sedang hamil
   akan berpengaruh terhadap tumbuh kembang bayi dalam kandungan.
    Menurut dr. Doddy Susanto, Sp.OG, seorang wanita akan diliputi berbagai macam pertanyaan
   tentang apa yang akan terjadi pada saat persalinan, khususnya rasa sakit yang akan dialami.
   Persepsi rasa nyeri selama persalinan, dan reaksinya sangat bervariasi pada masing-masing
   wanita hamil. Konsultasi yang baik, persiapan fisik dan mental, serta olahraga (senam hamil)
   akan dapat membantu mengurangi rasa nyeri dan mempersiapkan wanita hamil mengahadapi
   persalinan tanpa cemas yang berlebihan. Namun meski hal tersebut telah dilakukan, tidak sedikit
wanita hamil yang masih merasa cemas menghadapi nyeri persalinan, dan jika dibiarkan maka
proses persalinan akan terganggu, menyebabkan kepanikan, dan banyak yang akan berakhir
dengan operasi Caesar. (dalam http://www.hamil.info/persalinan.htm, 2005)
 Obstetri Fisiologi Universitas Padjajaran (dalam Nurbaeti, 1998) mendefinisikan persalinan
sebagai serangkaian kejadian yang berakhir dengan pengeluaran bayi cukup bulan, disusul
dengan pengeluaran plasenta dan selaput janin dari tubuh ibu.
 Pada umumnya persalinan dilakukan diatas ranjang secara normal maupun operatif maupun
bedah caesar, namun saat ini terdapat metode baru dalam persalinan yang dilakukan dalam
kolam berisi air atau water birth.
 The New Zaeland College of Midwives (2002) mendefinisikan water birth sebagai kelahiran
bayi yang dilakukan sepenuhnya dengan berendam di dalam air. Metode ini pertama kali
diperkenalkan pada tahun 1960-an oleh Igor Tjakovsky di Rusia kemudian berkembang di eropa
dan amerika.
 Di Indonesia metode melahirkan di dalam air masih tergolong baru. Metode ini baru muncul di
Indonesia pada oktober 2006 di klinik Sam Marrie Family Healthcare Jakarta. Saat ini terdapat
beberapa rumah sakit yang juga menyediakan metode water birth, yaitu MMC, RSIA bunda, dan
RSIA Budhi jaya di Jakarta dan dua tempat di bali yaitu Klinik Bumi Sehat di kawasan ubud dan
RS Harapan Bunda Maternity Hospital, Denpasar.
 Banyak keuntungan yang diperoleh ibu dan bayi dari metode water birth. Di dalam air hangat,
badan ibu akan terasa ringan, otot-otot rahim menjadi elastic sehingga memudahkan ibu untuk
melakukan kontraksi. Ibu yang melahirkan menggunakan water birth dapat relaks tanpa
menggunakan obat-obatan dan juga pengalaman rasa sakit dalam melahirkan akan berkurang.
Selain itu air hangat juga dapat menurunkan hormone adrenalin ibu dan mendorong keluarnya
hormone endorphin. (Church, 1989).
 Pada studi komparatif yang dilakukan oleh Verena Geissbuhler dan Jakob Eberhard (2000) di
Switzerland pada 7,508 kasus kelahiran bayi yang terjadi antara November 1991sampai mei
1997 menghasilkan beberapa keuntungan dari metode water birth antara lain kehilangan darah
pada ibu yang melahirkan dengan menggunakan metode water birth lebih rendah, penggunaan
obat penghilang rasa sakit lebih sedikit digunakan pada ibu yang melahirkan dengan
menggunakan metode water birth, pengalaman melahirkan out sendiri lebih menyenangkan
setelah melahirkan didalam air. Infeksi pada bayi lebih sering tidak terjadi setelah menggunakan
   metode water birth. Tidak ditemukan adanya kasus aspirasi air atau komplikasi kelahiran lainya
   yang berhubungan dengan air pada ibu atau bayinya.
     Disamping keuntungan yang ditawarkan, terdapat beberapa resiko dari metode water birth.
   Dalam American journal of obstetric and ginecology tahun 2004 (dalam Triatmodjo dan
   Sitohang, 2008) disebutkan ada resiko kematian janin leweat metode ini. Misalnya karena bayi
   tenggelam, hipotermia atau penurunan suhu tubuh secara drastic dan juga infeksi. Selain itu juga
   ada resiko bayi kekurangan oksigen karena terlalu lama didalam air sedangkan tali pusar sudah
   lepas.
     Pada suatu penelitian yang dilakukan di inggris pada tahun 1994 sampai 1996 dan diterbitkan
   pada tahun 1999 dilaporkan hasil dari 4032 kelahiran di dalam air. Kasus kematian bayi
   sebanyak 12% namun tidak ada kasus kematian yang dihubungkan dengan kelahiran didalam air.
   Dua orang bayi diberikan perawatan khusus karena kemungkinan aspirasi air. Diperkirakan telah
   ada lebih dari 150.000 kasus water birth di seluruh dunia antara tahun 1985 sampai 1999. Tidak
   ada hasil penelitian yang valid mengenai kematian bayi yang disebabkan oleh aspirasi air. Fakta
   kematian bayi tidak disebabkan oleh aspirasi air tetapi oleh asphyxia dikarenakan bayi berada
   didalam air lebih dari 15 menit setelah seluruh tubuhnya keluar (bayi lahir) dan pada saat yang
   sama plasentanya terlepas dari dinding rahim dan pasokan oksigen bagi bayi berhenti. Setelah
   bayi diangkat dari air, bayi tidak mulai bernapas dan sudah tidak hidup lagi. Hasil pemeriksaan
   pada bayi tidak ditemukanya adanya air pada paru-paru bayi, dan kematian bayi dihubungkan
   dengan asphyxia.
     Metode water birth banyak memberi keuntungan pada ibu saat menjalani proses persalinan,
   namun disisi lain metode ini juga memiliki resiko. Sementara itu rumah sakit yang menyediakan
   metode water birth masih jarang di Indonesia sehingga kasus ibu yang melahirkan di dalam air
   (water birth) masih sedikit. Hal ini menarik perhatian penulis untuk meneliti lebih dalam guna
   melihat resiko dari melahirkan didalam air.
     Berdasarkan latar belakang diatas, penulis melakukan penelitian yang berjudul : Gambaran
   Resiko Pada Bayi yang Dilahirkan Dengan Menggunakan Metode Water Birth.
1.2.Identifikasi Masalah
a. Mengapa ibu-ibu memilih menggunakan metode water birth dalam proses persalinannya?
b. Bagaimana bentuk-bentuk resiko pada bayi yang dilahirkan denan menggunakan metode water
   birth?
   c. Faktor apa saja yang dapat mepengaruhi terjadinya resiko pada bayi yang dilahirkan dengan
      menggunakan metode water birth?


   1.3.Perumusan dan Pembatasan Masalah
1.3.1. Perumusan Masalah
      Adapun masalah yang hendak dikaji lebih jauh dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut :
      bagaimanakah gambaran resiko pada bayi yang diahirkan menggunakan metode water birth?
1.3.2. Pembatasan Masalah
   a. Resiko adalah suatu kemungkinan terjadinya peristiwa yang dapat merugikan akibat adanya
      sebuah proses yang sedang berlangsung atau yang akan datang.
   b. Melahirkan dengan menggunakan metode water birth yaitu salah satu metode alternatif
      persalinan pervaginam, dimana ibu hamil aterm tanpa komplikasi bersalin dengan jalan
      berendam dalam air hangat (yang dilakukan pada bathtub atau kolam) dengan tujuan mengurangi
      rasa nyeri kontraksi dan memberi sensasi rasa nyaman.
   1.4.Tujuan Penelitian
      Penelitian ni bertujuan untuk melihat gambaran resiko pada bayi yang dilahirkan dengan
      menggunakan metode wter birth sehingga nantinya resiko tersebut dapat diminimalisir.
   1.5.Manfaat Penelitian
1.5.1. Manfaat teoritis
      Penelitian ini dapat memberi manfaat dan memperkaya kajian ilmu pengetahuan pada bidang
      psikologi perkembangan, psikologi klinis, ilmu kedokteran, ilmu kebidanan.
1.5.2. Manfaat Praktis
   a. Bagi istri-istri yang telah mengandung dan dalam tahap perencanaan proses melahirkan anaknya,
      maka akan mendapat pengetahuan baru yaitu adanya metode persalinan baru yang bisa
      mengurangi rasa sakit serta membuat lebih nyaman dengan cara di dalam kolam atau bathup
      yang disebut water birth.
   b. Bagi para praktisi kesehatan seperti dokter serta pihak yang berada dalam lingkup tersebut agar
      dapat mengambil tindakan yang benar untuk mengurasi resiko yang ditakutkan oleh para
      pasiennya.
   1.6.Sistematika Penulisan
      Sistematika penulisan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
   BAB I PENDAHULUAN, berisi latar belakang, identifikasi masalah, perumusan dan
    pembatasan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian dan sistematika penelitian.
   BAB II TINJAUAN PUSTAKA, membahas konsep
   BAB III METODOLOGI PENELITIAN
   BAB IV HASIL PENELITIAN
   BAB V KESIMPULAN
                                            BAB II
                                      Tinjauan pustaka
 2.1 Resiko
 2.1.1. pengertian resiko
 Menurut Arthur Williams dan Richard, M. H resiko adalah suatu variasi dari hasil-hasil yang
dapat terjadi selama periode tertentu. Sedangkan Prof Dr.Ir. Soemarno,M.S. menyatakan bahwa
resiko adalah suatu kondisi yang timbul karena ketidakpastian dengan seluruh konsekuensi tidak
menguntungkan yang mungkin terjadi. Berbeda dengan yang lainnya, Vaughan mendefinisikan
resiko sebagai berikut:
  Risk is the chance of loss (Risiko adalah kans kerugian).
 Chance of loss berhubungan dengan suatu exposure (keterbukaan) terhadap kemungkinan
kerugian. Dalam ilmu statistik, chance dipergunakan untuk menunjukkan tingkat probabilitas
akan munculnya situasi tertentu. Sebagian penulis menolak definisi ini karena terdapat perbedaan
antara tingkat risiko dengan tingkat kerugian. Dalam hal chance of loss 100%, berarti kerugian
adalah pasti sehingga risiko tidak ada.
 · Risk is the possibility of loss (Risiko adalah kemungkinan kerugian).
 Istilah possibility berarti bahwa probabilitas sesuatu peristiwa berada diantara nol dan satu.
Namun, definisi ini kurang cocok dipakai dalam analisis secara kuantitatif.
 · Risk is uncertainty (Risiko adalah ketidakpastian).
 Uncertainty dapat bersifat subjective dan objective. Subjective uncertainty merupakan penilaian
individu terhadap situasi risiko yang didasarkan pada pengetahuan dan sikap individu yang
bersangkutan. Objective uncertainty akan dijelaskan pada dua definisi risiko berikut.
 Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa resiko adalah suatu kemungkinan terjadinya
peristiwa yang dapat merugikan akibat adanya sebuah proses yang sedang berlangsung atau yang
akan datang.
 2.1.2. Resiko dalam melahirkan
 Resiko merupakan suatu kondisi atau keadaan yang merugikan dan dapat ditemui dalam
kehidupan sehari-hari. Resiko sebagai suatu keadaan yang tidak diinginkan dapat mempengaruhi
individu dalam menjalani kehidupannya.
 Kehamilan pada seorang perempuan akan memicu sejumlah perasaan dan emosi (Mongan,
2007). Ada beberpa resiko yang mungkin terjadi dalam proses persalinan baik yang secara
normal maupun yang secara bedah caesar.


 2.1.3. faktor penyebab resiko dalam melahirkan
 2.1.4. gejala-gejala resiko dalam melahirkan


 2.2 Persalinan Normal
 2.2.1. Pengertian
 Persalinan dan kelahiran merupakan kejadian fisiologi normal. Persalinan merupakan proses
membuka dan menipisnya serviks, dan janin akan turun ke dalam jalan lahir. Kelahiran adalah
proses dimana janin dan ketuban di dorong keluar melalui jalan lahir. Persalinan dan kelahiran
normal merupakan proses pengeluaran janin yang terjadi pada kehamilan cukup bulan/aterm (37-
42 minggu), lahir spontan dengan presentasi belakang kepala yang berlangsung dalam 18 jam,
tanpa komplikasi baik pada ibu maupun janin.
 Persalinan / partus adalah suatu proses pengeluaran hasil konsepsi yang dapat hidup, dari dalam
uterus melalui vagina atau jalan lain ke dunia luar. Menurut dr. Nugroho Kampono / dr. H. Endy
M. Moegni (www.fisiologiprosespersalinan.wordpress.com) proses persalinan yang normal atau
partus biasa, merupakan cara bayi yang dilahirkan melalui vagina dengan letak belakang kepala
atau ubun-ubun kecil, tanpa memakai alat atau pertolongan istimewa, serta tidak melukai ibu
maupun bayi (kecuali episiotomi), berlangsung dalam waktu kurang dari 24 jam.
 2.2.2 Tahapan Persalinan Normal
 Tahap persalinan normal memiliki 4 fase atau kala, yaitu:
        Kala 1 (fase pematangan / pembukaan serviks)
         Dimulai pada waktu serviks membuka karena his : kontraksi uterus yang teratur, makin
         lama, makin kuat, makin sering, makin terasa nyeri, disertai pengeluaran darah-lendir
         yang tidak lebih banyak daripada darah haid, dan berakhir pada waktu pembukaan
         serviks telah lengkap (pada periksa dalam, bibir porsio serviks tidak dapat diraba lagi).
         Selaput ketuban biasanya pecah spontan pada saat akhir kala I.
        Kala 2 (fase pengeluaran bayi)
         Dimulai pada saat pembukaan serviks telah lengkap, dan berakhir pada saat bayi telah
         lahir lengkap. His (kekuatan mengedan ibu) menjadi lebih kuat, lebih sering, lebih
         lama, sangat kuat. Selaput ketuban mungkin juga baru pecah spontan pada awal kala 2.
        Kala 3 (fase pengeluaran plasenta)
         Dimulai pada saat bayi telah lahir lengkap, dan berakhir dengan lahirnya plasenta.
         Kelahiran plasenta : lepasnya plasenta dari insersi pada dinding uterus, serta
         pengeluaran plasenta dari kavum uteri. Lepasnya plasenta dari insersinya : mungkin
         dari sentral (Schultze) ditandai dengan perdarahan baru, atau dari tepi / marginal
         (Matthews-Duncan) jika tidak disertai perdarahan, atau mungkin juga serempak sentral
         dan marginal. Pelepasan plasenta terjadi karena perlekatan plasenta di dinding uterus
         adalah bersifat adhesi, sehingga pada saat kontraksi mudah lepas dan berdarah.
         Pada keadaan normal, kontraksi uterus bertambah keras, fundus setinggi sekitar / di atas
         pusat. Plasenta lepas spontan 5-15 menit setelah bayi lahir.
        Kala 4 (observasi pascapersalinan)
         Sampai dengan 1 jam postpartum, dilakukan observasi.
         7 pokok penting yang harus diperhatikan pada kala 4 :
         1) kontraksi uterus harus baik,
         2) tidak ada perdarahan pervaginam atau dari alat genital lain,
         3) plasenta dan selaput ketuban harus sudah lahir lengkap,
         4) kandung kencing harus kosong,
         5) luka-luka di perineum harus dirawat dan tidak ada hematoma,
         6) resume keadaan umum bayi, dan
         7) resume keadaan umum ibu.


 2.2.3. Persiapan


 2.3 Water Birth
 2.3.1. Pengertian
 Water Birth merupakan salah satu metode alternatif persalinan pervaginam, dimana ibu hamil
aterm tanpa komplikasi bersalin dengan jalan berendam dalam air hangat (yang dilakukan pada
bathtub atau kolam) dengan tujuan mengurangi rasa nyeri kontraksi dan memberi sensasi rasa
nyaman.


 2.3.2 SEJARAH PERKEMBANGAN WATER BIRTH
 Dokumen modern pertama ditemukan pada suatu desa di Perancis tahun 1805 dan secara
lengkap pada kumpulan jurnal medis di Perancis, dimana terjadi pengurangan yang signifikan
ibu bersalin dengan distosia (yang tidak mengalami kemajuan dalam proses persalinannya) akan
menjadi lebih progresif dengan menggunakan metode persalinan water birth, di mana bayi akan
lahir lebih mudah. Peneliti Rusia Igor Charkovsky yang meneliti tentang keamanan dan
kemungkinan manfaat water birth di Uni Soviet selama tahun 1960-an. Pada akhir tahun 1960-
an, ahli obstetri Perancis Frederick Leboter mengembangkan teknik baru berendam di air hangat
untuk memudahkan transisi bayi dari jalan lahir ke dunia luar, dan dapat mengurangi efek trauma
yang mungkin terjadi. Pada awal tahun 70-an Dr. Michel Odent, kepala instalasi bedah rumah
sakit Pithiviers, Perancis, pertama kali memperkenalkan keuntungan dari persalinan dan
kelahiran di dalam air. Ia mencatat bahwa banyak wanita ingin menggunakan water birth selama
persalinan untuk mendapatkan “ Labor Became Easier, More Comfortable, Less Painful, And
More Efficient”.
 Selama tahun 1980-1990, water birth bertumbuh pesat di Inggris, Eropa, dan Kanada.11 Pada
tahun 1985, The family Birthing di Upland, California Selatan yang di pimpin oleh Dr. Michael
Rosenthal menyarankan wanita untuk bersalin dan melahirkan di air. Setelah 5 tahun akumulasi
pengalaman water birth, pada tahun 1993 telah terjadi 1000 kelahiran, di Odent’s Birthing Center
Pithiviers tanpa komplikasi atau infeksi pada ibu atau bayi. Pada tahun 1989 Water Birth
International Project, Barbara Harper mengembangkan “Topic Of Gentle Alternatives In
Childbirth”. Pada tahun 1991, Monadnock Community Hospital di Peterborough, New
Hampshire menjadi rumah sakit pertama yang membuat protokol water birth. Pada tahun 1990,
The Scientific Advisory Committee membuat pernyataan tentang water birth dengan penekanan
pada pentingya penelitian ilmiah. Pernyataan tersebut di revisi tahun 1994 tentang pentingnya
keamanan persalinan dan kelahiran di air, serta perlunya informasi yang tepat tentang manfaat
dan risiko water birth. Pada 1-2 april 1995 pada Wembley Conference Center di London, Inggris,
menggelar konferensi pertama water birth untuk mengekplorasi masalah-masalah yang
berkembang, dihadiri 39 negara dengan data 19.000 persalinan di dalam air. Konferensi berlanjut
tahun 1996, 2004, dan bulan September 2007. Pada tahun 2005, terdapat lebih dari 300 rumah
sakit di Amerika Serikat telah mengadopsi protokol water birth. Lebih dari ¾ dari seluruh rumah
sakit di Inggris telah menyediakan water birth.
 Di Indonesia water birth masih baru dan mulai populer ketika Liz Adianti Harlizon melahirkan
dengan metode ini, selasa 4 Oktober 2006 pukul 06.05 WIB di SanMarie Family Healthcare,
Jakarta ditangani oleh dr. T. Otamar Samsudin, SpOG dan dr. Keumala Pringgadini, SpA.
 Di Bali telah ada sejak tahun 2003, Robin Lim dari klinik Yayasan Bumi Sehat Desa Nyuh
Kuning, Ubud-Bali telah menangani lebih dari 400 kasus water birth per tahun termasuk Oppie
Andaresta (20 Juli 2007). Sementara Rumah Sakit Umum di Bali yang pertama kali
menyediakan fasilitas water birth adalah Rumah Sakit Umum Harapan Bunda ~ Maternity
Hospital, Jl. Tukad Unda No. 1, Renon, Denpasar-Bali. Water Birth telah dilaksanakan sejak 7
Oktober 2007. dan persalinan ini ditangani oleh dr. I Nyoman Hariyasa Sanjaya, SpOG.


 2.3.2. Metode Persalinan dengan Cara Water Birth
 Pada persalinan dengan metode water birth, calon ibu akan dimasukan ke dalam kolam berisi
air hangat pada saat memasuki bukaan ke-enam. Tujuannya agar kulit vagina menjadi tipis dan
lebih elastis sehingga akan lebih mudah untuk meregang saat kepala bayi keluar melewati
vagina, bahkan dikatakan jika persalinan berjalan lancar maka tidak perlu sampai harus merobek
perineum (bibir vagina. Selain itu, air hangat pada kolam juga akan memberikan rasa nyaman,
tenang dan rileks, pada keadaan rileks ini tubuh akan melepaskan endorphin (semacam morfin
yang dibentuk oleh tubuh sendiri)untuk mengurangi rasa sakit. Air hangat juga mampu untuk
menghambat impuls – impuls saraf yang menghantarkan rasa sakit, sehingga membuat
persalinan tidak begitu terasa berat.
 Pada persalinan dalam air ini, suami juga memiliki peran yang sangat penting di dalam
kelancaran persalinan, yaitu dengan melakukan pemijatan pada punggung ibu yang bertujuan
untuk memberikan rasa rileks dan nyaman kepada ibu saat persalinan dilakukan di dalam kolam.
Persalinan dengan metode water birth ini berlangsung kurang lebih 1-2 jam setelah bukaan
keenam dimana pada persalinan biasa membutuhkan waktu hingga 8 jam.
 Kemudian setelah bayi lahir maka dokter akan mengangkat bayi ke permukaan air untuk
diberikan ASI pertama kali. Kebanyakan ibu kadang merasa khawatir bayi mereka akan tersedak,
tetapi sebenarnya hal tersebut tidak akan terjadi karena pada saat bayi sudah berada diluar, bayi
tersebut masih bernafas melalui ari – ari dan tali pusat yang masih tersambung ke perut ibu,
sehingga        tidak   akan     menjadi   masalah   bagi   bayi   yang dilahirkan    di    dalam   air.
Ada 2 metode water birth
           1.      Water       birth   murni.   Ibu masuk   ke kolam   persalinan setelah   mengalami
          pembukaan 6 sampai proses melahirkan terjadi.
           2.      Water birth emulsion. Ibu hanya berada di dalam kolam hingga masa kontraksi
          akhir. Proses melahirkan tetap dilakukan di tempat tidur.
  Peralatan yang di butuhkan dalam tekhnik water birth?
  Persalinan dengan metode water birth ini juga sudah banyak diterapkan di beberapa pusat
kesehatan dan rumah sakit di Indonesia seperti di Jakarta dan Bali. dengan budget yang relatif
llebih mahal di bandingkan persalinan normal. yah, ada barang ada rupa.. :)
  Beberapa peralatan yang diperlukan dalam water birth adalah kolam plastik berukuran cukup
besar (diameter 2 meter) dengan benjolan – benjolan dibagian bawahnya agar ibu tidak merosot
saat persalinan berlangsung. Ketinggian air di dalam kolam juga harus diatur supaya berada di
atas pusar baik saat ibu dalam posisi duduk, jongkok atau tiduran. Posisi saat melahirkan dapat
dilakukan sebebas mungkin bisa sambil duduk, menghadap ke belakang atau terserah nyamannya
si ibu.
  Selain itu juga diperlukan water heater dan termometer untuk menjaga suhu air agar tetap
dalam suhu 37ºC. Hal ini bertujuan agar bayi tidak merasakan perbedaan suhu yang ekstrem
antara di dalam perut dengan di luar dan agar bayi tidak mengalami hipotermia. Suhu air yang
hangat juga menjadi sebab mengapa bayi sesaat setelah dilahirkan di dalam air tidak akan
menangis, karena bayi masih merasa berada di dalam kandungan akibat suhu air yang tetap
hangat. Air yang digunakan juga air suling yang steril dan tidak mengandung kuman sehingga
tidak akan menimbulkan infeksi apabila tertelan.


Yang harus di perhatikan dalam tekhnik water birth ?
  Melahirkan di air juga ada batasan dan beberapa pertimbangan medisnya. Berikut adalah
beberapa kriteria calon ibu yang tidak diperkenankan untuk melakukan water birth :
           1.      Calon ibu yang memiliki panggul sempit,
           2.      Bayi lahir sungsang atau melintang
           3.      Ibu yang sedang dalam perawatan medis
           4.    Ibu yang mempunyai penyakit herpes, sebab virus herpes tidak mati dalam air dan
          dapat menular kepada bayi yang dilahirkan
 Tips persiapan persalinan di dalam air / water birth :
     1. Ada kemauan dan keyakinan untuk melahirkan di dalam air
     2. Mengikuti senam hamil saat kehamilan, agar proses persalinan berjalan lancar
     3.   Pastikan kolam yang akan dipakai dalam persalinan adalah kolam yang memenuhi
          standart untuk water birth, dan yakinkan kebersihan serta sterilitas kolam.
     4. Menyiapkan data lengkap, seperti pemeriksaan laboratorium sebagai salah satu prasyarat
          mutlak dalam pelaksanaan persalinan di dalam air.
 Bagi para calon ibu, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter kandungan selama masa kehamilan
untuk dapat mengetahui metode persalinan apa yang paling sesuai dengan kondisinya.


 Resiko Water Birth Bagi Neonate
 Terdapat risiko penting secara klinik pada bayi, termasuk masalah pernapasan, ruptur tali pusat
disertai perdarahan, dan penularan infeksi melalui air.32,40,41 Laporan dari sejumlah kasus
menghubungkan water birth dengan respiratory distress, hyponatremia, infeksi, hypoxic ischemic
encephalopathy, ruptur tali pusat, kejang, takikardia, demam (dihubungkan dengan temperatur
air), serta near drowning pada bayi atau fetus.


a.        Terputusnya Tali Pusat
 Mekanisme terputusnya tali pusat ini terjadi ketika bayi lahir sesegera mungkin dibawa ke
permukaan air tidak secara “gentle”, jika tali pusat pendek akan dapat mengakibatkan tegangan
yang berlebihan pada tali pusat. Suatu review yang mengidentifikasi 16 artikel, melaporkan
adanya 63 komplikasi neonatal diakibatkan oleh water birth, salah satu diantaranya adalah
masalah putusnya tali pusat.40 Suatu penelitian yang tidak terduga menunjukkan hasil bahwa 5
dari 37 bayi (14%) yang lahir di air dan memerlukan perawatan khusus karena terputusnya tali
pusat, 1 bayi memerlukan tranfusi. Kasus terputusnya tali pusat kemungkinan disebabkan oleh
terlalu cepat mengangkat bayi kepermukaan sehingga menyebabkan tarikan cepat dari tali pusat
yang melampaui panjang tali dibandingkan biasanya.32,42 Tidak ada data risiko terputusnya tali
pusat pada persalinan normal di luar air.
b.        Takikardi
     Takikardi adalah denyut jantung dasar diatas 160 dpm, yang bertahan selama 10 menit atau
lebih. Takikardi sulit dibedakan dengan akselerasi, yang merupakan perubahan prioritas
sementara. Bila takikardi janin terjadi umumnya dihubungkan dengan penurunan variabelitas
dasar menghilangnya aktivitas/ mic parasimpatik.
c.        Infeksi
     Risiko infeksi jarang terjadi pada water birth. Infeksi saluran pernapasan pada bayi yang
dilahirkan secara water birth jarang terjadi, namun risiko ini tetap harus diperhitungkan.
Sejumlah kasus yang mungkin membahayakan bayi antara lain infeksi herpes, perdarahan luas,
dan berbagai infeksi lainnya. Metode water birth tidak direkomendasikan pada bayi preterm.
Berdasarkan laporan kasus yang dipublikasikan, infeksi P. aeruginosa didapatkan pada swab
telinga dan umbilicus bayi yang lahir dengan water birth.Pada suatu Randomized Controlled
Trial dari akibat water birth di Canada, tidak menemukan perbedaan pada ibu risiko rendah dan
adanya tanda infeksi pada ibu dengan ruptur membran ketuban. Penelitian tahun 1999 tentang
kultur bakteri di Oregon Health Sciences University Hospital, tidak menemukan secara langsung
bakteri pada kultur kolam persalinan, sementara bakteri pseudomonas yang umumnya ada pada
kran air ditemukan, namun janin yang terinfeksi bakteri tersebut tidak memerlukan terapi
antiinfeksi. Ini mengkonfirmasi terhadap apa yang ditemukan pada penelitian di Inggris lebih
dari 3 tahun. Sebaiknya ada protokol ketat untuk menjaga kebersihan kolam antara persalinan
satu dengan yang lain (terutama di rumah sakit), karena ada sedikit risiko perpindahan bakteri
dari bayi ke bayi atau ibu ke ibu. Selain itu biasanya pada keran air terdapat bakteri
Pseudomonas. Pediatri menganjurkan untuk mempertimbangkan adanya gejala infeksi
pseudomonas pada bayi dengan persalinan water birth.
d.        Hipoksia
     Tali pusat secara terus menerus akan menyediakan darah beroksigen, sambil bayi merespon
stimulasi baru yaitu pertama kali mengisi paru-parunya dengan udara. Penundaan pengkleman
dan pemotongan tali pusat sangat bermanfaat dalam proses transisi bayi untuk hidup di luar
uterus. Ini akan memaksimalkan fungsi perfusi jaringan paru. Garland (2000) tidak
merekomendasikan pemotongan dan pengkleman tali pusat sampai bayi mencapai permukaan air
disebabkan oleh meningkatnya risiko hipoksia. Hipoksia bayi akan mengganggu baby’s dive
reflex, yang mengakibatkan penekanan respon menelan sehingga akan menimbulkan bayi
menghirup air selama proses water birth. Odent (1998) merekomendasikan pengkleman tali pusat
4-5 menit setelah persalinan. Namun menurut Austin, Bridges, Markiewicz and Abrahamson
(1997) penundaan pengkleman tali pusat dapat mengakibatkan polisitemia, berdasarkan hipotesa
bahwa air hangat mencegah vasokonstriksi tali pusat sehingga banyak darah ibu tertransfer ke
bayi (vasokontriksi terjadi ketika kontak dengan udara).
e.        Aspirasi Air dan Tenggelam
     Terdapat berbagai kritikan tentang water birth, dimana adanya risiko tenggelam jika bayi
menghirup air atau bernapas dalam air. Secara teoritis risiko terjadinya aspirasi air pada water
birth sekitar 95%. Risiko masuknya air ke dalam paru-paru bayi dapat dihindari dengan
mengangkat bayi yang lahir sesegera mungkin ke permukaan air. Pemanjangan fase berendam
mengakibatkan kekurangan oksigen, emboli air, dan perdarahan. Air hangat mencegah
pembekuan darah setelah persalinan, dan juga risiko infeksi. Menurut British Medical Journal
(BMJ) bulan juni 2005, bayi-bayi dengan sendirinya tidak akan bernapas sampai terpapar udara,
kecuali mengalami asfiksia yang diakibatkan penekanan tali pusat.Berdasarkan penelitian
diperkirakan sekitar 38% bayi yang lahir dengan water birth berisiko tenggelam. Pada bulan
Nopember 2005, dokter-dokter di New Zealand menemukan 4 kejadian bayi baru lahir nyaris
tenggelam. Hal ini menandakan mengapa mereka percaya bahwa fakta-fakta lebih baik dan lebih
dapat membuktikan pentingya keamanan pada persalinan ini, serta adanya risiko-risiko lain
seperti severe respiratory distress dan masalah pernapasan lainnya.
                                          BAB III
                              METODOLOGI PENELITIAN


3.1 Desain Penelitian
 Desain penelitian pada dasarnya adalah suatu rencana, struktur, dan strategi penelitian untuk
manjawab permasalahan (Salam dkk, 2006). Dalam penelitian ini dilakukan dengan metode
kualitatif. Alasan menggunakan pendakatan kualitatif ini adalah agar memperoleh informasi
mendalam tentang suatu fenomena yang terjadi karena menyajikan secara langsung hakikat
hubungan antara peneliti dengan responden serta lebih peka dan dapat menyesuaikan diri dengan
banyak penajaman pengaruh terhadap pola-pola nilai yang dihadapi (Moeloeng, 1991). Selain itu
pendekatan kualitatif diarahkan pada individu tersebut secara utuh, sehingga peneliti dapat
memperoleh informasi yang mendalam mengenai resiko pada bayi yang dilahirkan dengan
menggunakan metode water birth di RSIA Budhi Jaya Jakarta Selatan tahun 2010.


3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian
 Penelitian ini dilakukan di RSIA Budhi Jaya, Jakarta Selatan. Untuk menguatkan pengamatan
penulis, maka dilakukan studi pendahuluan melalui wawancara mendalam dengan beberapa
dokter dan juga pasien yang pernah melahirkan di RSIA Budhi Jaya tahun 2010. Dari studi
pendahuluan, didapatkan hasil bahwa resiko yang biasa dialami olah bayi yang dilahirkan
dengan menggunakan metode water birth ialah terjadinya pneumonia atau infeksi pada otak,
terkompresinya tali pusar yang menyebabkan bayi akan terengah-engah dan mengisap air
kedalam paru-paru mereka, bayi tenggelam, serta serangan kekurangan oksigen. pengambilan
data dilakukan dalam kurun waktu satu minggu pada tanggal 24-31 Mei 2010.


3.3 Informan
 Pengambilan informan dilakukan dengan menggunakan prinsip kecukupan dan kesesuaian.
Azas kecukupan dapat diartikan data yang diperoleh dari informan diharapkan dapat
menggambarkan fenomena yang berkaitan dengan topik penelitian. Oleh karena itu, jumlah
informan tidak menjadi penentu dalam penelitian akan tetapi kelengkapan data yang dibutuhkan.
Azas kesesuian artinya informan dipilih berdasarkan keterkaitan informan dengan topik
penelitian (Kresna, dkk 1999).
  Informan utama adalah petugas kesehatan di RSIA Bunda yang terkait dengan pelaksanaan
water birth yaitu dokter dan perawat. Sedangkan informan pendukung adalah pasien yang
perilakunya dapat mempengaruhi petugas kesehatan dalam pelaksanaan dan kesuksesan water
birth yang berjumlah ...... orang. Kriteria informan yang digunakan adalah :
     1. Petugas kesehatan yang memiliki latar belakang pendidikan kesahatan, lama bertugas
          sebagai petugas kesahatan di RSIA Bunda selama 1-5 tahun lebih, ikut membantu dokter
          saat persalinan, dan bersedia untuk diwawancara.
     2. Pasien yang pernah melahirkan baik secara normal maupun water birth di RSIA Bunda,
          dimana ibu dan bayi dalam keadaan selamat. Penentuan informan pasien didasarkan pada
          hasil telaah dokumen yang dimiliki rumah sakit saat penelitian berlangsung.
     3. Direktur sebagai penentu kebijakan yang terkati dengan semua kegiatan di RSIA Bunda.
     4. Dokter anak sebagai pemberi keputusan yang harus diambil bila bayi dalam keadaan
          tidak sehat dan rekan kerja dokter kandungan.


3.4 Pengumpulan dan Pengolahan Data
  Pengumpulan data dilakukan dengan proses wawancara mendalam dan observasi dengan
menggunakan peralatan lembaran panduan wawancara dan lembar panduan observasi untuk
observasi. Wawancara ini dilakukan sebagai upaya pengambilan data primer yang bertemu
langsung dengan informan dilapangan dan menanyakan hal-hal yang berkaitan dengan water
birth dan resiko bayi yang dilahirkan dengan menggunakan metode water birth. Sedangkan
observasi dilakukan sebagai kroscek atas wawancara mendalam yang telah dilaksanakan dengan
cara............
  Hasil dari pengumpulan data yang diperoleh akan diolah dengan tahap pengolahan data yaitu
(siswanto, 2005):
       1. Mencatat kembali hasil wawancara yang diperoleh kedalam bentuk tulisan (transkrip).
       2. Informasi yang diperoleh dibuat menjadi sistematis (sorting data) dan disusun dengan
            diklasifikasikan berdasarkan variabel.
       3. Menyajikan ringkasan data dan interpretasinya kedalam bentuk matriks.
       4. Membuat kesimpulan dan laporan akhir penelitian.
 3.5. Teknik Analisis Data
 Analisa data yaitu mengolah hasil penelitian menjadi suatu laporan. Analisis data adalah proses
pengorganisasian dan pengurutan data dalam pola, kategori dan uraian dasar sehingga dapat
ditemkan tema dan dapat dirumuskan hipotesis kerja yang disarankan oleh Lexy J. Moleong
(2004).
 Langkah-langkah yang penulis ambil adalah data yang telah diperoleh dari hasil wawancara
akan dianalisis secara kualitatif yaitu menggambarkan data dengan kata atau kalimat yang
dipisah-pisahkan menurut kategori tertentu untuk memperoleh kesimpulan dan gambaran secara
umum.Data yang terkumpul selanjutnya dianalisis untuk menjawab masalah yang diangkat
dalam penelitian ini




 .
                                            BAB IV

                                      HASIL OBSERVASI

         Pada bab ini penulis akan menguraikan bagaimana hasil pengolahan data yang terkumpul,
meliputi: gambaran umum subjek penelitian, riwayat kasus, analisa kasus, dan perbandingan
antar kasus.

4.1. Gambaran Umum Subjek Penelitian

         Subjek yang dijadikan sebagai responden dalam penelitian penulis adalah bayi yang
dilahirkan melalui metode water birth serta bayi yang dilahirkan secara normal juga secara caesa
yang berusia baru lahir hingga 2 minggu.

         Nama-nama subjek dalam penelitian ini sengaja penulis samarkan dengan menggunakan
nama samaran, sehingga kerahasiaan subjek dapat terpenuhi, sebagaimana yang telah disyaratkan
dalam etika penelitian. Berikut gambaran umum subjek dengan menggunakan nama-nama
samaran mereka.

Tabel 1.1

Gambaran Umum Seluruh Subjek

        Bayi yang dilahirkan secara normal

NO.                 Nama (inisial)             Usia

1.       Young. R                          2.5 bulan

2.       Young. P                          3 bulan

3.       Young.




        Bayi yang dilahirkan secara caesar
NO.                   Nama (inisial)                 Usia

1.           Young. AQ                       3 bulan 3 hari

2.           Young.FJ                        40 th

3.           Young.                          42 th




              Bayi yang dilahirkan secara water birth

NO.                   Nama (inisial)                 Usia

1.           Young. AQ                       3 bulan 3 hari

2.           Young.FJ                        40 th

3.           Young.                          42 th




IV.2 Penyajian Kasus

            Bayi yang dilahirkan secara normal

1. Gambaran Umum Young. R

Hasil Observasi terhadap Young. R

A. Young. R

     1) Usia: Dua setengah bulan
     2) Ya,
     3) Asi eksklusif diberikan sejak lahir, dalam sehari lebih dari 10x menyusui
     4) tidak
     5) Berat: - kg
     6) tinggi: 53 cm
     7) Tidak, tidak ada penyakit yang diderita oleh bayi
   8) tidak
   9) motorik kasar yang sudah dikuasai adakah tengkurap dan berguling.
   10) Ibu bekerja




       Young.R adalah seorang bayi yang berusia dua setengah bulan. Ia memiliki berat badan
empat koma tujuh kilogram dan tinggi badan 53 cm.pada saat wawancara orang tua Young R
terlihat santai dan terbuka dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan.

       Orang tua Young. R mendengarkan dengan mata lurus kearah penulis.Tempat peneliti
mewawancarai young. R beserta orang tuanya adalah pada tempat terbuka yaitu di beranda
rumah Young.R. Wawancara berlangsung pada sore hari.

Gambaran kesehatan Young. R

Young.R memiliki perkembangan fisik normal dan motorik berkembang dengan pesatmotorik
yang sudah dikuasai adalah berguling, tengkurap dan dapat menggenggam.Young R juga terlihat
sehat, aktif dan tanggap terhadap rangsang.

Berdasarkan berat badan, Young R memiliki berat badan yang....... danmemiliki tinggi badan
yang kurang ideal,

Gambaran Umum Young.P




Hasil Observasi terhadap Young.P

       Bapak SG adalah seorang suami yang mempunyai 2 orang anak. Selama wawancara
berlangsung bapak SG terlihat santai dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan
peneliti. Bapak SG adalah pribadi yang humoris, terlihat dari jawaban-jawaban bapak SG yang
dibubuhi dengan candaan-candaan yang menyegarkan.

       Tempat peneliti mewawancarai bapak SG adalah pada tempat terbuka yaitu di beranda
rumah bapak SG. Wawancara berlangsung pada malam hari.
Gambaran Kesehatan Young.P

E . Young FJ

          a. Usia: 2 bulan
          b. tidak
          c. Asi eksklusif dan susu formula diberikan sejak lahir
          d. Tidak, hanya mengkonsumsi susu lactona 4x sehari
          e. Berat: 5 kg
          f. Tinggi: 50 cm
          g. Tidak, Jenis penyakit: tidak ada
          h. Tidak
          i. Motorik yang diamati kurang gesit, kurang tanggap (lamabat) terhadap
               menanggapi rangsang.
          j. Ibu rumah tangga
      Bayi yang bukan ASI eksklusif (susu formula)

1 . Gambaran Umum Young.FJ




Hasil Observasi terhadap Young.FJ

       Ibu SM adalah seorang ibu yang memiliki 3 anak dan suami yang tidak bekerja. Selama
wawancara berlangsung ibu LS terlihat sangat santai dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan
peneliti. Ibu LS tergolong orang yang menyenangkan.

       Tempat peneliti mewawancarai ibu LS adalah pada tempat terbuka yaitu di beranda
rumah ibu LS. Wawancara berlangsung pada malam hari.

Gambaran Kepuasan kerja LS

Faktor-faktor penentu kepuasan kerja

      Ciri intrinsic pekerjaan
    Ibu SM sudah 19 tahun bekerja pada suatu sekolah swasta di Depok sebagai guru. Pekerjaan
    ibu LS termasuk pekerjaan yang ringan karena sudah termasuk dalam hobi.

         Gaji/penghasilan, imbalan yang disarankan adil (equitable reward)

    Ibu SM mengaku gaji yang diterima belum sesuai dengan hasil pekerjaan yang dia lakukan.

         Penyelia

    Penyelia atau atasan pun terjalin hubungan yang sangat baik.

         Rekan sejawat yang menunjang

    Dalam pertemanan antar pekerja ibu LS mengatakan bahwa terjadi hubungan yang sangat
    baik.

    Kondisi kerja yang menunjang

    Ibu LS merasa lingkungan kerjanya kurang nyaman.

    4.Gambaran Umum AM

Inisial              AM

Usia                 40

Jenis kelamin        Laki-laki

Pendidikan           S1

Pekerjaan            PNS walikota Depok




Hasil Observasi terhadap AM

          Bapak AM adalah seorang ayah yang memiliki 3 anak dan isteri yang tidak bekerja.
Selama wawancara berlangsung bapak AM terlihat sangat santai dalam menjawab pertanyaan-
pertanyaan peneliti. Bapak AM tergolong orang yang menyenangkan.
          Tempat peneliti mewawancarai bapak AM adalah pada tempat tertutup yaitu di ruang
tamu rumah bapak AM. Wawancara berlangsung pada siang hari.

Gambaran Kepuasan kerja bapak AM

Faktor-faktor penentu kepuasan kerja

         Ciri intrinsic pekerjaan

    Bapak AM sudah 7 tahun bekerja di walikota Depok sebagai PNS. Mnurut bapak AM
    pekerjaannya termasuk pekerjaan yang berat.

         Gaji/penghasilan, imbalan yang disarankan adil (equitable reward)

    Bapak AM mengaku gaji yang diterima sudah sesuai dengan pangkat dan golongan serta
    tunjangan yang diterima.

         Penyelia

    Penyelia atau atasan pun terjalin hubungan yang sangat baik karena selalu memberi
    motivasi..

         Rekan sejawat yang menunjang

    Sangat baik, karena dengan kerja sama dan hubungan baik akan mencapai tujuan dan hasil
    kerja yang maksimal.

         Kondisi kerja yang menunjang

    Bapak AM merasa lingkungan kerjanya sangat nyaman.




5. Gambaran Umum R

Inisial              R
Usia              47 tahun

Jenis kelamin     Laki-laki

Pendidikan        SMA

Pekerjaan         Karyawan Swasta




Hasil Observasi terhadap R

       Bapak AM adalah seorang ayah yang memiliki 3 anak dan isteri yang bekerja. Selama
wawancara berlangsung bapak R terlihat sangat santai dan antusias dalam menjawab pertanyaan-
pertanyaan peneliti. Bapak R tergolong orang yang menyenangkan.

       Tempat peneliti mewawancarai bapak AM adalah pada tempat tertutup yaitu di ruang
tamu rumah bapak R. Wawancara berlangsung pada malam hari.

Gambaran Kepuasan kerja bapak R

Faktor-faktor penentu kepuasan kerja

      Ciri intrinsic pekerjaan

   Bapak R sudah 7 tahun bekerja di perusahaan suplayer sebagai karyawan swasta. Menurut
   bapak R pekerjaannya termasuk pekerjaan yang berat.

      Gaji/penghasilan, imbalan yang disarankan adil (equitable reward)

    Sudah cukup memenuhi kebutuhan keluarga. Bapak R mengaku gaji yang diterima sudah
   sesuai dengan jabatan yang diterima.

      Penyelia

   Penyelia atau atasan pun terjalin hubungan yang sangat baik karena selalu memberi motivasi.

      Rekan sejawat yang menunjang
    Sangat baik, karena dengan kerja sama dan hubungan baik akan mencapai tujuan dan hasil
    kerja yang maximal.
          “wahh sangat akrab sekali, bahkan sudah seperti saudara.”

         Kondisi kerja yang menunjang

    Bapak R merasa lingkungan kerjanya sangat nyaman.




    1. Gambaran Umum S

Inisial              S

Usia                 50 tahun

Jenis kelamin        Laki-laki

Pendidikan           SMA

Pekerjaan            PNS




Hasil Observasi terhadap S

          Bapak S adalah seorang ayah yang memiliki 4 anak dan isteri yang sudah meninggal.
Selama wawancara berlangsung bapak S terlihat sangat santai dalam menjawab pertanyaan-
pertanyaan peneliti. Bapak S tergolong orang yang menyenangkan.

          Tempat peneliti mewawancarai bapak S adalah pada tempat terbuka yaitu di teras rumah
bapak S. Wawancara berlangsung pada malam hari.

Gambaran Kepuasan kerja S

Faktor-faktor penentu kepuasan kerja

         Ciri intrinsic pekerjaan
   Bapak S sudah 33 tahun bekerja di Kodam Jaya sebagai PNS. Mnurut bapak S pekerjaannya
   termasuk pekerjaan yang berat.

      Gaji/penghasilan, imbalan yang disarankan adil (equitable reward).

   Bapak S mengaku gaji yang diterima sudah sesuai dengan pangkat dan golongan serta
   tunjangan yang diterima.

      Penyelia

   Penyelia atau atasan pun terjalin hubungan yang sangat baik karena selalu memberi motivasi.

      Rekan sejawat yang menunjang

   Sangat baik, karena dengan kerja sama dan hubungan baik akan mencapai tujuan dan hasil
   kerja yang maksimal, selain itu sudah sangat akrab hubungannya.

      Kondisi kerja yang menunjang

   Bapak S merasa lingkungan kerjanya sangat nyaman.

   “Nyaman sekali, sekarang kantor saya sudah menggunakan AC.”




IV.3 Analisis perbandingan antar kasus

Bagian ini akan membandingkan hasil observasi selama wawancara berlangsung dan factor-
faktor yang menjadi penentu kepuasan kerja pada keenam responden.

Analisa hasil observasi seluruh responden

Pada analisa hasil observasi seluruh responden, peneliti menyimpulkan secara garis besar
responden menjawab pertanyaan dengan santai dan tanpa beban. Bahkan ada responden yang
sangat antusias dalam menjawab pertanyaa-pertanyaan peneliti. Seperti yang dilakukan oleh
bapak R. bapak R sangat bersemangat dalam menjawab pertanyaa-pertanyaan peneliti.

Ada juga sikap gugup serta takut seperti yang ditunjukkan oleh ibu SM.
“ ini bukan untuk diapa-apain kan mbak...........?”

Peneliti menyimpulkan bahwa sikap ibu SM yang gugup serta takut dan malu dalam menjawab
pertanyaan-pertanyaan peneliti mungkin disebabkan karena situasi yang ramai pada saat
wawancara berlangsung.

Gambaran Kepuasan kerja seluruh responden

Gambaran kepuasan kerja seluruh responden kami tentukan berdasarkan factor-faktor penentu
kepuasan kerja. Secara ringkas peneliti simpulkan dalam table berikut :

                                                Table 1.2

No .   Faktor-faktor penentu kepuasan       SM        SG     LS           AM   R        S
       kerja
1.     Cirri-ciri intrinsic pekerjaan       P         P      P            P    P        P
2.     Gaji atau penghasilan yg sesuai      TP        TP     TP           TP   P        P
3.     Penyelia                             TP        TP     P            P    P        P
4.     Rekan sejawat yg menunjang           P         P      P            P    P        P
5.     Kondisi kerja yg menunjang           P         TP     TP           P    P        P



Keterangan :

P      : Puas

TP     : Tidak puas
                                          BAB V

                               KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis pada bab sebelumnya, maka dapat disimpulkan beberapa hal sebagai
berikut :

     Menurut hasil wawancara yang kami lakukan, kami mendapat sebuah hasil bahwa secara
kasat mata perkembangan fisik, yakni perkembangan motoris bayi yang diberi ASI ekslusif
dengan bayi sus formula cenderung tidak memiliki perbedaan yang sgnifikan, namun setelah
melakukan penghitungan terhadap berta badan dan tinggi bayi, terdapat perbedaan, yaitu bayi
yang diberi susu formula sebagian mengalami obesitas dan sebagian memiliki gizi kurang



1. Kesehatan bayi

2. Tidak ada perbedaan yang signifikan pada perkembangan motoris bayi yang diberi ASi secara
eksklusif dengan bayi yang diberi susu formula. Rata-rata perkembangan motoris bayi yang
diebri ASI secara eksklusif dengan bayi yang bukan ASI eksklusif atau susu formula adalah
normal dan tidak ada perbedaan yang menonjol dalam perkembangan ini.

2.

2. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa terdapat factor penting lain yang
mempengaruhi kesehatan bayi, yakni kehadiran dan kasih saying ibu, karena berdasarkan hasil
pengamatan kami, bayi yang sering ditinggal oleh orang tuanya, terutama ibu memiliki gizi
kurang dan lebih kurus dibanding bayi yang ibu kandungnya berada di rumah dan lebih banyak
mencurahkan perhatian kepada sang bayi



Saran

Saran praktis sehubungan dengan hasil penelitian

Berdasarkan dari hasil penelitian yang telah didapat mengenai factor-faktor penentu kepuasan
kerja pada dewasa madya, ada beberapa saran bagi pekerja dewasa madya. Bagi para pekerja
dewasa madya hendaknya menentukan target pekerjaan agar lebih terencana. Dan dalam mencari
pekerjaan sebaiknya memikirkan factor-faktor kepuasan kerja agar ketika mencapai usia dewasa
madya tidak ada perubahan minat dalam pekerjaan mereka.

Saran metodologi penelitian

        Jalinan rapport harus dibina dengan baik, agar responden bisa lebih dengan terbuka lagi
         menjawab pertanyaan peneliti. Agar nantinya responden tidak terkesan ingin terlihat
         tampil baik didepan peneliti.

        Menambah jumlah sample yang lebih banyak lagi untuk melihat kecenderungan kepuasan
         kerja pada usia dewasa madya

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Tags:
Stats:
views:1927
posted:1/5/2011
language:Indonesian
pages:32
reny febriana reny febriana mahasiswi
About