KEBENARAN DAN UKURAN KEBENARAN by thewiejayanie

VIEWS: 3,490 PAGES: 5

									                 KEBENARAN DAN UKURAN KEBENARAN



PENDAHULUAN

       Berpikir merupakan suatu kegiatan untuk menemukan pengetahuan yang
benar. Apa yang disebut benar bagi seseorang belum tentu benar bagi orang lain.
Karena itu, kegiatan berpikir adalah usaha untuk menghasilkan pengetahuan yang
benar itu atau criteria kebenaran.

       Secara umum orang merasa bahwa tujuan pengetahuan adalah untuk
mencapai kebenaran. Cara untuk menemukan kabenaran berbeda-beda. Dari
berbagai cara untuk menemukan kebenaran dapat dilihat cara yang ilmiah dan
yang non ilmiah. Cara-cara untuk menemukan kebenaran menurut Hartono
Kasmadi, dkk (1990) dapat diuraikan sebagai berikut: 1. Penemuan kebenaran
secara kebetulan, 2. Penemuan Trial and Error, 3. Penemuan melalui otoritas atau
kewibawaan, 4. Penemuan secara spekulatif, 5. Penemuan kebenaran lewat cara
berpikir kritis dan rasional, 6. Penemuan kebenaran melalui penelitian ilmiah.

ISI

A. KEBENARAN

       Hal kebenaran sesungguhnya memang merupakan tema di dalam filsafat
ilmu. Problematic mengenai kebenaran, seperti halnya problematic tentang
pengetahuan, merupakan masalah-masalah yang mengacu pada tumbuh dan
berkembangnya filsafat ilmu. Apabila orang memberikan prioritas kepada peranan
pengetahuan, dan apabila orang percaya bahwa dengn pengetahuan itu manusia
akan menemukan kebenaran dan kepastian, maka mau tidak mau orang harus
berani menghadapi pertanyaan tersebut, sebagai hal yang mendasar dan hal yang
mendasari sikap dan wawasannya.

       1. JENIS-JENIS KEBENARAN
          Menurut A.M.W. Pranarka (1987) kebenaran dibagi dalam tiga jenis,
yaitu: 1. Kebenaran Epistemologikal, 2. Kebenaran Ontologikal, 3. Kebenaran
Semantikal.
          Kebenaran      Epistemologikal adalah pengertian kebenaran        dalam
hubungannya dengan pengetahuan manusia. Kebenaran dalam arti ontological
adalah kebenarn sebagai sifat dasar yang melekat kepada segala sesuatu yang ada
ataupun diadakan. Adapun kebenaran dalam arti semantikal adalah kebenaran
yang terdapat serta melekat di dalam tutur kata dan bahasa, disebut juga
kebenaran moral.


       2. SIFAT KEBENARAN
          Sifat kebenaran dalam Tim Dosen Filsafat Ilmu Fak. Filsafat UGM
Yogyakarta (1996) dibedakan menjadi 3 hal, yaitu:
          1. Kebenaran berkaitan dengan kualitas pengetahuan. Artinya, setiap
              pengetahuan yang dimiliki oleh seseorang yang mengetahui
              sesuatu objek dilihat dari jenis pengetahuan yang dibangun.
              Maksudnya apakah pengetahuan itu berupa:
              a. Pengetahuan biasa atau disebut knowledge of the man in the
                   street atau common sense knowledge. Pengetahuan seperti ini
                   memiliki inti kebenaran yang sifatnya subjektif, artinya amat
                   terikat pada subjek yang mengenal. Dengan demikian,
                   penegathuan tahap pertama ini memiliki sifat selalu benar,
                   sejauh sarana untuk memperoleh pengetahuan bersifat normal
                   atau tidak ada penyimpangan.
              b. Pengetahuan ilmiah, yaitu pengetahuan yang telah menetapkan
                   objek yang khas atau spesifik dengan menerapkan metodologis
                   yang khas pula, artinya metodelogi yang telah mendapatkan
                   kesepakatan di antara ahli yang sejenis. Kebenaran yang
                   terkandung dalam pengetahuan ilmiah bersifat relative.
              c. Pengetahuan      filsafat,   yaitu   jenis   pengetahuan    yang
                   pendekatannya melalui metodologi pemikiran filsafati, yang
                 sifatnya mendasar dan menyeluruh dengan model pemikiran
                 yang analitis, kritis, dan spekulatif. Sifat kebenaran yang
                 terkandung dalam pengetahuan filsafati adalah absolute-
                 intersubjektif. Maksudnya nilai kebenaran yang terkandung
                 selalu merupakan pendapat yang selalu melekat pada
                 pandangan filsafat dari seorang pemikir filsafat itu serta selalu
                 mendapat pembenaran dari filsuf kemudian yang menggunakan
                 metodologi pemikiran yang sama pula.
              d. Kebenaran pengetahuan yang terkandung dalam pengetahuan
                 agama. Pengetahuan agama memiliki sifat dogmatis, artinya
                 pernyataan dalam suatu agama selalu dihampiri oleh keyakinan
                 yang telah tertentu sehingga pernyataan dalam ayat kitab suci
                 agama memiliki nilai kebenaran sesuai dengan keyakinan yang
                 digunakan untuk memahaminya.
          2. Kebenaran dikaitkan dengan sifat atau karakteristik dari bagaimana
              cara   atau    dengan   alat   apakah     seseorang    membangun
              pengetahuannya
          3. Kebenaran yang dikaitkan atas ketergantungan terjadinnya
              pengetahuan.


B. UKURAN KEBENARAN
       Secara umum orang merasa bahwa tujuan pengetahuan adalah untuk
mencapai kebenaran, namun masalahnya tidak hanya sampai di situ saja. Problem
kebenaran inilah yang memacu tumbuh dan berkembangnya epistemology. Telaah
epistemology terhadap kebenaran membawa orang kepada suatu kesimpulan
bahwa perlu dibedakan adanya tiga jenis kebenaran, yaitu kebenaran
epistemologis, kebenaran ontologism, dan kebenaran semantis.
       Kebenaran epistemologis adalah kebenaran yang berhubungan dengan
pengetahuan manusia. Kebenaran dalam arti ontologis adalah kebenaran sebagai
sifat dasar yang melekat pada hakikat segala sesuatu yang ada atau diadakan,
kebenaran dalam arti semantic adalah kebenaran yang terdapat serta melekat
dalam tutur kata dan bahasa.
       Namun, dalam pembahas ini dibahas kebenaran epistemologis karena
kebenaran lainnya secara inheren akan masuk dalam kategori kebenaran
epistemologis adalah sebagai berikut:
       1.Teori Korespondensi
                 Teori pertama adalah teori korespondensi. Menurut teori ini,
kebenaran atau keaadaan benar itu apabila ada kesesuaian antara arti yang di
maksud oleh suatu pernyataan atau pendapat dengan objek yang dituju oleh suatu
pernyataan atau pendapat tersebut. Dengan demikian, kebenaran epistemologis
adalah kemanunggalan antara subjek dan objek. Pengetahuan itu dikatakan benar
apabila di dalam kemanunggalan yang sifatnya intristik, intensional, dan pasif-
aktif terdapat kesesuaian antara apa yang ada di dalam pengetahuan subjek dengan
apa yang ada di dalam objek. Hal itu karena puncak dari proses kognitif manusia
terdapat di dalam budi atau pikiran manusia, maka pengetahuan adalah benar bila
apa yang terdapat di dalam budi pikiran subjek itu benar sesuai dengan apa yang
ada di dalam objek.
       Suatu proposisi atau pengertian adalah benar apabila terdapat suatu fakta
yang diselaraskannya, yaitu apabila ia menyatakan apa adanya. Kebenaran adalah
yang bersesuaian dengan fakta, yang berselaras dengan realitas, yang serasi
dengan aktual.
       Dengan demikian, kebenaran dapat didefinisikan sebagai kesetiaan pada
realitas objektif. Yaitu, suatu pernyataan yang sesuai dengan fakta atau sesuatu
yang selaras dengan situasi. Kebenaran ialah kesesuain antara pernyataan
mengenai fakta dengan fakta actual, atau antara putusan dengan situasi seputar
yang diberi interpretasi.
       Teori korespondensi ini pada umumnya dianut oleh para pengikut realism.
Diantara pelopor teori korespondensi adalah Plato, Aristoteles, Moore, Russel,
Ramsey, dan Tarsky. Teori ini dikembangkan oleh Bertrand Russel (1872-1970) .
Seseorang yang bernama K. Roders, seorang penganut realism kritis Amerika,
berpendapat bahwa: keadaan benar ini terletakdalam kesesuaian antara asensi atau
arti yang kita berikan dengan asensi yang terdapat di dalam objeknya.
       Namun yang menjadi permasalahan sekarang adalah apakah realitas itu
objektif atau subjektif? Dalam hal ini ada dua pandangan realisme epistemologis
dan idealisme epistemologis.
       Realisme epistemologis berpandangan, bahwa terdapat realitas        yang
independen, yang terlepas dari pemikiran, dan kita tidak dapat mengubahnya bila
kita mengalaminya atau memahaminya. Itulah sebabnya realisme epistemologis
kadangkala disebut objektvisme. Dengan perkataan lain: realism epstemologis
atau objektivisme berpegang pada kemandirian kenyataan, tidak tergantung pada
yang di luarnya. Sedangkan idealisme epistemologis berpandangan bahwa setiap
tindakan mengetahui berakhir di dalam suatu ide, yang merupakan suatu peristiwa
subjektif.

								
To top