Docstoc

Uang dan Lembaga Keuangan

Document Sample
Uang dan Lembaga Keuangan Powered By Docstoc
					Uang, Institusi Keuangan dan Penawaran Keuangan


A. Uang


  Uang memiliki peranan penting dalam menetukan kegiatan ekonomi

  masyarakat suatu negara. Sudah sejak lama para ahli ekonomi sepakat

  bahwa uang bisa berakibat baik bagi perekonomian, tetapi uang kadang-

  kadang juga bisa berakibat buruk bagi perekonomian, dan para ahli

  ekonom juga sepakat bahwa uang yang tersedia dalam perekonomian

  sangat   besar   pengaruhnya   dalam     menentukan   kesetabilan   dan

  pertumbuhan ekonomi suatu negara.


     Uang adalah benda yang disetujui oleh masyarakat umum sebagai alat

  perantara tukar menukar dalam perdagangan.


  Fungsi uang dalam perekonomian yaitu ;


  1. sebagai alat pertukaran

  2. sebagai pengukur nilai

  3. sebagai perhitungan dan akuntansi

  4. sebagai penyimpan nilai

  5. sebagai instrumen term of payment


  Motif orang menyimpan uang adalah;

                                                                        1
1. motif transaksi

2. motif berjaga-jaga

3. motif spekulasi


Penggunaan uang memungkinkan roda perekonomian berjalan lancar.

Hal ini terjadi karena perekonomian menghasilkan produk lebih banyak

dan mengurangi waktu yang digunakan oleh para penjual dan pembeli

dalam mengatur perekonomian dan transaksi.


Para ekonomi klasik pada masa lalu berpendapat bahwa uang terbuat dari

logam, emas, perak dan uang juga dapat pula berupa lembaran –

lembaran kertas yang merupakan ;


1. Pernyataan atau perjanjian kesediaan membayar sejumlah emas atau

   perak atas permintan pada waktu yang ditentukan.

2. Surat sertifikat yang menyatakan uang logam disimpan di bank dan

   dapat diambil dengan menunjukan sertifikat.

3. Surat sertifikat gudang berarti pemegang surat memiliki barang yang

   ada di gudang bernilai jumlah uang tertentu.


Teori Irving Fisher dilatar belakangi oleh pandangan para ekonom

sebelumnya bahwa semakin banyak jumlah uang yang beredar, harga

semakin tinggi harga akan semakin rendah jika jumlah uang semakin

                                                                     2
sedikit, ketidakmampuan orang-orang mangatasi inflasi disebabkan oleh

belum dapat menerjemahkan uang itu sendiri.


   Irving Fisher menerjemahkan uang sebagai segala sesuatu yang

digunakan sebagai alat transaksi seperti uang logam (emas dan perak)

dan semua jenis kertas yang dapat digunakan dalam transaksi . Transaksi

yang dimaksud adalah pertukaran barang / jasa dan arus uang, jadi jika

arus uang dan barang sesuai harga akan stabil dengan asumsi jumlah

uang yang beredar tetap.


   Kesimpulan dari Irving Fisher dan Alfred Marshall bahwa semakin

sedikit kebiasaan masyarakat memegang uang, akan semakin cepat laju

perederan uang dan sebaliknya kesimpulan tersebut sesuai dengan

kenayataan saat ini bahwa peredaran uang sngat cepat karena

masyarakat saat ini sangat jarang untuk uang yang lama. Hal ini

disebabkan oleh masyarakat yang sangat cepat membelanjakan uangnya

dengan barang atau jasa. Dengan demikian percepatan tersebut akan

semakin meningkatkan produksi barang atau jasa dalam perekonomian

yang sesuai dengan jumlah uang yang beredar, kecepatan peredaran

uang juga didukung oleh masyarakat yang banyak menyimpan uang di

Bank dan mengganti uang untuk transaksi dengan cara mengambil uang

secukupnya di ATM atau cukup menunjukan kartu ATM, Kartu Kredit, dan

                                                                      3
alat transaksi produk perbankan lainnya. Pada umumnya, dinegara

berkembang yang mengalami defisit neraca pembayaran, pemerintah

akan mengambil kebijakan menambah uang beredar dengan mencetak

uang untuk membiayai operasional pemerintahan dan proyek – proyek

pemerintah. Pengambilan kebijakan seperti itu dimungkinkan karena uang

yang beredar saat ini tidak terlalu di back up dengan jalan emas (tetapi

seharusnya di back up dengan sejumlah devisa yang diterima oleh negara

tersebut akibat surplus neraca pembayaran).


Uang dikenal dalam beberapa istilah yakni :


   1. Uang Kartal, biasanya disimbolkan dengan huruf C, yakni uang

      kertas dan logam yang dikeluarkan oleh Bank sentral

   2. Uang Giral, biasanya disimbolkan dengan huruf D, adalah

      simpanan sektor swasta domestik pada Bank Pencipta Uang Giral

      (BPUG) yang setiap saat dapat ditarik dan dapat ditukarkan

      dengan uang kartal sebesar nominalnya. Yang termasuk uang ini

      adalah rekening giro, deposito yang telah jatuh tempo, kiriman

      uang, dan kewajiban segera lainnya

   3. Uang Kuasi, ynag disimbolkan dengan huruf T, yakni simpanan

      milik swasta domestik pada BPUG yang dapat berfungsi sebagai

      uang, tapi untuk sementara waktu kehilangan fungsinya sebagai

                                                                       4
            alat tukar menukar. Yang termasuk uang ini adalah deposito

            berjangka rupiah dan valuta asing, simpanan lainnya dalam bentuk

            valuta asing.


Dari sisi penawaran, yang mempengaruhi jumlah penawaran uang adalah :


   1. Uang Primer, yang secara umum dapat dikendalikan oleh Bank Sentral

   2. Angka Pengganda Uang (Money Multiplier), yang dalam kurun waktu

      tertentu akan stabil dan dapat diperkirakan berdasarkan data empiris


Dengan kedua kondisi seperti itu, maka jumlah uang yang beredar/ditawarkan

dapat diatur oleh Bank Sentral memalui pengaturan uang primernya.


Yang dimaksud dengan Uang Primer adalah :

   1. Uang Kartal (C)

   2. Simpanan giro milik swasta domestic

   3. Alat-alat likuid yang dimiliki BPUG, berupa kas BPUG dan simpanan giro

      BPUG pada Bank Sentral (R = reserve).




Uang Primer merupakan variabel moneter yang cukup penting karena fungsinya

sebagai indikator bagi kebijakan moneter terhadap perekonomian. Alasannya

adalah :




                                                                               5
   1. Adanya teori moneter yang memasukkan uang primer sebagai salah satu

      mata rantai yang memiliki dampak bagi besarnya pendapatan, output

      produksi, dan harga

   2. Uang primer merupakan variabel yang relatif dapat dikendalikan olah

      Bank Sentral

Besar kecilnya Uang Inti, dihitung dengan beberapa konsep berikut ini :

   1. Source Base, yang terdiri dari :

          a. Aktiviva Luar negeri

          b. Tagihan-tagihan bank sentral

          c. Rekening pemerintah

          d. Rekening-rekening lainnya

          e. Cadangan perbankan pada bank sentral dan uang kartal yang

             dipegang oleh perbankan dan masyarakat

   2. Reserve Adjustment, dengan memperhitungkan perubahan cadangan

      minimum yang diwajibkan dan proporsi kekayaan likuid yang dikenai

      peraturan tersebut

   3. Monetary Base, yang merupakan penjumlahan antara Source base dan

      Reserve Adjustment




                                                                            6
Mekanisme Penciptaaan uang

Bila penciptaan uang kartal dilakukan oleh Bank Sentral, maka penciptaan uang

giral dan uang kuasi oleh BPUG, dilakukan melalui tiga cara sebagai berikut :

1. Melalui Transformasi

Penciptaan uang terjadi saat seseorang menyetor uang kartal ke BPUG untuk

dimasukkan ke dalam rekening giro, atau ke dalam deposito berjangka, atau

tabungan

2. MelaluiSubstitusi

Penciptaan uang terjadi apabila BPUG membeli surat-surat berharga dan

membukukan harga surat berharga tersebut ke dalam rekening giro atau

deposito atas nama yang bersangkutan (yang memiliki surat berharga)

3. Melalui Pemberian Kredit

Penciptaan uang terjadi saat BPUG memberikan pinjaman/kredit kepada

nasabahnya dan kemudian membukukannya ke dalam rekening giro nasabah

yang bersangkutan




Pengertian Perbankan


Menurut Undang-Undang No. 10 Tahun 1998, tentang Perbankan menyatakan:

Bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam

bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit


                                                                                7
atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat

banyak.


      Menurut Prof. G.M. Verryn Stuart mendefinisikan: Bank adalah suatu

badan yang bertujuan untuk memuaskan kebutuhan kredit, baik dengan alat

pembayarannya sendiri atau dengan uang yang diperolehnya dari orang lain

maupun dengan jalan memperedarkan alat-alat penukar baru berupa uang giral.


Fungsi Bank


      Fungsi perbankan Indonesia adalah sebagai penghimpun, penyalur dan

pelayan jasa dalam lalulintas pembayaran dan peredaran uang di masyarakat

yang bertujuan menunjang pelaksanaan pembangunan nasional, dalam rangka

meningkatkan pemerataan, pertumbuhan ekonomi dan stabilitas nasional ke

arah peningkatan kesejahteraan rakyat banyak.


      Secara ringkas fungsi bank dapat dibagi menjadi sebagai berikut:


      1. Penghimpun dana


          Untuk menjalankan fungsinya sebagai penghimpun dana maka bank

          memiliki beberapa sumber yang secara garis besar ada tiga sumber,

          yaitu:




                                                                              8
   a. Dana yang bersumber dari bank sendiri yang berupa setoran modal

      waktu pendirian.

   b. Dana yang berasal dari masyarakat luas yang dikumpulkan melalui

      usaha perbankan seperti usaha simpanan giro, deposito dan

      tabanas.

   c. Dana yang bersumber dari Lembaga Keuangan yang diperoleh dari

      pinjaman dana yang berupa Kredit Likuiditas dan Call Money (dana

      yang sewaktu-waktu dapat ditarik oleh bank yang meminjam)




2. Penyalur/pemberi Kredit


   Bank dalam kegiatannya tidak hanya menyimpan dana yang diperoleh,

   akan tetapi untuk pemanfaatannya bank menyalurkan kembali dalam

   bentuk kredit kepada masyarakat yang memerlukan dana segar untuk

   usaha. Tentunya dalam pelaksanaan fungsi ini diharapkan bank akan

   mendapatkan sumber pendapatan berupa bagi hasil atau dalam

   bentuk pengenaan bunga kredit. Pemberian kredit akan menimbulkan

   resiko, oleh sebab itu pemberiannya harus benar-benar teliti dan

   memenuhi persyaratan.




                                                                    9
      3. Penyalur dana


         Dana-dana yang terkumpul oleh bank disalurkan kepada masyarakat

         dalam bentuk pemberian kredit, pembelian surat-surat berharga,

         penyertaan, pemilikan harta tetap.




      4. Pelayan Jasa


         Bank   dalam    mengemban      tugas   sebagai   “pelayan   lalu-lintas

         pembayaran uang” melakukan berbagai aktivitas kegiatan antara lain

         pengiriman uang, inkaso, cek wisata, kartu kredit dan pelayanan

         lainnya.




                                Bank Sentral




Pada dasarnya, bila dilihat dari istilah/namanya, bank sentral tidak dapat

diartikan sebagai "bank" seperti pada bank umum. Dalam hal ini bank sentral

memiliki konsepsi yang berbeda. Bank umum cenderung untuk berusaha


                                                                             10
menginvestasikan assets-nya dengan tujuan memaksimumkan profit. Di sisi lain,

bank sentral sebagai bank milik pemerintah, adalah lembaga keuangan yang

tidak bertujuan untuk memaksimumkan profit melainkan untuk mencapai tujuan

tertentu seperti mencegah kegagalan yang dialami perbankan maupun bukan

bank, kestabilan tingkat harga, kesempatan kerja dan akhimya pada pertum-

buhan ekonomi. Dengan kata lain, bank sentral bertugas untuk melaksanakan

fungsi-fungsi pemerintah karena, bank sentral adalah juga bagian dari

pemerintah.




Perkembangan Bank Sentral




Berdasarkan sejarahnya, bank sentral bukanlah suatu lembaga yang sejak awal

didirikan dengan tujuan untuk menjalankan fungsinya sebagai bank sentral.

Sampai dengan awal abad ke-20 tidak ada konsepsi yang jelas mengenai central

banking. Konsepsi tersebut baru terlihat kemudian setelah mengalami proses

panjang dan hal tersebut bukan merupakan suatu proses yang sengaja

diarahkan pada terbentuknya konsep central banking, sehingga tidak terdapat

teknik yang sistematis dan konsisten ke arah terbentuknya bank sentral.




                                                                           11
    Di banyak negara yang lebih tua, perkembangan ke arah bank sentral

tersebut dimulai dari adanya suatu bank yang secara bertahap, melaksanakan

berbagai macam posisi, baik bersifat lembaga pemerintah, maupun non-

pemerintah yang kemudian dikenal dengan nama bank sentral. Beberapa

posisi/wewenang yang dimiliki lembaga tersebut antara lain: hak untuk

mengeluarkan uang         (partial monopoly), dapat bertindak sebagai banker dan

agen pemerintah.. Bank yang memiliki posisi tersebut dikenal sebagai "bank of

issue" atau "national bank". Dalam perkembangan selanjutnya, bank tersebut

memperoleh kekuasaan yang lebih luas, sehingga muncul istilah: "central bank".




    Dari bank-bank sentral yang ada, the Riskbank of Sweden adalah yang

pertama kali didirikan (yang tertua), tetapi Bank of England adalah bank of issue

pertama yang memperoleh posisi sebagai bank sentral dan mangembangkan

dasar-dasar "the art of central banking". Dengan demikian sejarah Bank of

England secara umum diterima sebagai gambaran evolusi dasar-dasar dan

teknik central banking.




    Pada tahun 1920 diselenggarakan International Financial Conference di

Brussel. Hasil konferensi tersebut adalah menyetujui resolusi yang menghendaki



                                                                              12
agar negara-negara yang belum mendirikan bank sentral diharapkan secepatnya

untuk mendirikan bank sentral. Di samping untuk membantu pemulihan dan

pemeliharaan stabilitas sistim moneter dan perbankan tetapi juga untuk

kepentingan kerjasama dunia. Dimulai dengan berdirinya South African Reserve

Bank di tahun 1921, bank-bank sentral didirikan di negara-negara yang sudah

merdeka dan di negara-negara yang baru merdeka.




   Di Indonesia, fungsi bank sentral pada masa penjajahan dilakukan oleh De

Javasche Bank yang bertindak sebagai bank sirkulasi dan menjalankan

beberapa fungsi bank sentral lainnya. De Javasche Bank didirikan pada tanggal

24 Januari 1828. Di samping menjalankan fungsinya sebagai bank sentral, bank

tersebut juga melakukan kegiatan bank umum. Pada masa perjuangan

kemerdekaan, Bank Negara Indonesia didirikan berdasarkan Undang-Undang

Nomor 2 tanggal 5 Juli 1946 sebagai bank sentral pemerintah RI dengan tugas

utama sebagai berikut :


1. memberikan pinjaman kepada pemerintah,


2. menarik uang tentara pendudukan Jepang untuk diganti dengan ORI (Oeang,

   Repoeblik Indonesia),




                                                                          13
3. menyediakan fasilitas kredit untuk, perusahaan-perusahaan industri dan

   perdagangan yang beroperasi di daerah kekuasaan pemerintah RI,


4. membantu pembiayaan misi-misi pemerintah ke luar negeri.




    Pada saat tentara Belanda menduduki Yogyakarta pada bulan Desember

1948, Bank Negara Indonesia terpaksa ditutup dan dibuka kembali tahun 1949

dengan lapangan usaha yang berbeda. Hal ini berkaitan dengan keputusan

Konperensi Meja Bundar (KMB) yang memutuskan bahwa hanya De Javasche

Bank yang diberi hak untuk melaksanakan fungsi bank sentral. De Javasche

Bank kemudian dinasionalisasi berdasarkan Undang-Undang Nomor 24 tahun

1951. Pada tahun 1953 De Javasche Bank dibubarkan bersamaan dengan

dikeluarkannya Undang-Undang Pokok Bank Indonesia (UU No.11 Tahun 1953).




    Berdasarkan Ketetapan Presiden No.17 tahun 1965, Bank Indonesia

bersama-sama dengan Bank Koperasi Tani & Nelayan, Bank Negara Indonesia,

Bank Umum Negara dan Bank Tabungan Negara dilebur ke dalam Bank Tunggal

dengan nama Bank Negara Indonesia (BNI). Berdasarkan Surat Keputusan

Menteri Urusan Bank Sentral nomor KEP.65/UBS/65, bank-bank tersebut di atas

menjalankan usahanya masing-masing dengan nama BNI unit I, unit II, unit III,


                                                                           14
unit IV, dan unit V. Bank Negara Indonesia unit I berfungsi sebagai bank

sirkulasi, bank sentral dan bank umum.




    Setelah masa Orde Baru, dilakukan penataan kembali sistem perbankan di

Indonesia dengan maksud untuk membentuk satu kesatuan sistem yang

menjamin adanya kesatuan pimpinan dalam mengatur seluruh perbankan di

Indonesia serta mengawasi pelaksanaan kebijaksanaan pemerintah di bidang

moneter. Untuk keperluan tersebut, dikeluarkan Undang-Undang Nomor 14

tahun 1967 tentang Pokok-Pokok Perbankan dan UU Nomor 13 tahun 1968

tentang Bank Sentral.




    Berdasarkan UU No. 13 tahun 1968, BNI unit I dipisahkan kembali dari

Bank Tunggal dan didirikan sebuah bank sentral di Indonesia dengan nama

Bank Indoesia. Di sisi lain, berdasarkan UU Nomor 14 tahun 1967 dan UU

Nomor 13 tahun 1968, bank-bank negara yang dilebur ke dalam BNI dipisahkan

kembali dan kemudian didirikan bank-bank negara baru, masing-masing dengan

Undang-Undang tersendiri.




                                                                        15
Fungsi dan Peran Bank Sentral




Bank Sentral adalah bank yang merupakan pusat struktur moneter dan

perbankan di negara yang bersangkutan dan yang melaksanakan (sejauh dapat

dilaksanakan dan untuk kepentingan ekonomi nasional) fungsi-fungsi sebagai

berikut:




1. Memperlancar lalu lintas pembayaran

   a. menciptakan uang kartal


   b. menyelenggarakan kliring antar bank umum.




2. Sebagai bankir, agen dan penasehat pemerintah.

   Bank Sentral sebagai bankir :


   a. memelihara rekening pemerintah


   b. memberikan pinjaman sementara


   c. memberikan pinjaman khusus


   d. melaksanakan transaksi yang menyangkut jual beli valuta asing (valas)


                                                                              16
   e. menerima pembayaran pajak


   f. membantu pembayaran pemerintah dari pusat ke daerah,


   g. membantu pengedaran surat berharga pemerintah


   h. mengumpulkan dan menganalisis data ekonomi




   Bank sentral sebagai agen dan penasehat pemerintah :


   a. mengadministrasi dan mengelola hutang nasional


   b. memberikan jasa pembayaran bunga atas hutang


   c. memberikan saran dan informasi mengenai keadaan pasar uang dan

   modal.




3. Memelihara cadangan/cash reserve bank umum


4. Memelihara cadangan devisa negara :


   a. internal reserve, untuk keperluan jumlah uang beredar


   b. eksternal reserve, untuk alat pernbayaran internasional


5. Sebagai bankers bank dan lender of last resort,


                                                                       17
6. Mengawasi kredit


7. Mengawasi bank (bank supervision):


   a. Prudential Supervision: pengawasan bank yang diarahkan agar individual

      bank dapat dijaga kelangsungan hidupnya sehingga kepentingan

      masyarakat dapat dilindungi.


   b. Monetary    Supervision:    menjaga   nilai   mata    uang   negara   yang

      bersangkutan     sehingga   bank   tersebut   dapat   menjadi   penyangga

      kebijakan moneter maupun kebijakan ekonomi pemerintah lainnya.




Neraca Bank Sentral


Kegiatan bank sentral di dalam perumusan dan pelaksanaan kebijakan moneter

tercermin pada bentuk umum neraca yang disusun. Secara singkat pos-pos atau

rekening utama pada neraca bank sentral adalah sebagai berikut :


1. Kekayaan (Assets)


   a. Cadangan, yang meliputi :


       - Sertifikat Emas


       - Special Drawing Rights (SDR)



                                                                              18
       - Valuta Asing


   b. Pinjaman yang diberikan (loans), terutama kepada bank umum.


   c. Surat berharga (sebagian besar adalah surat berharga milik pemerintah).


   d. Kekayaan lain-lain, dapat berupa tanah, gedung atau peralatan-peralatan,




2. Hutang (Liabilities)


   a. Uang kertas


   b. Deposito merupakan bagian terbesar adalah deposito bank umum.


   c. Surplus diperoleh dari : bunga surat berharga yang ditahan, bunga

       pinjaman yang diberikan dan dari kegiatan lain.


   d. Lain-lain (misalnya: pengeluaran yang belum dibayar).




     Dari uraian di atas jelas tampak bahwa pada dasarnya kekayaan bank

sentral diperoleh dengan menciptakan hutang terhadap dirinya sendiri. Seperti

pada contoh pembelian surat berharga, kekayaan yang berupa surat berharga ini

dapat diperoleh dengan menciptakan hutang berupa deposito bank umum.




                                                                                19
Alat (instrumen) Kebijakan Moneter


     Peranan kebijakan moneter biasanya tampak jelas pada saat suatu

perekonomian berusaha untuk menciptakan dan memelihara tingkat kestabilan

ekonomi. Kebijakan ini sangat besar pengaruhnya bagi kemajuan perdagangan,

industri, keuangan, kesempatan kerja dan hal-hal lain yang berkaitan dengan

pola kebijakan ekonomi pada umumnya. Untuk mendorong pertumbuhan dan

perkembangan      ekonomi,    kebijakan      moneter   amat   diperlukan   dalam

pembentukan tabungan sebagai sumber pembiayaan pembangunan.


     Kebijakan moneter merupakan tindakan yang dilakukan oleh penguasa

moneter untuk mempengaruhi jumlah uang beredar dan tingkat kredit, yang

nantinya akan mempengaruhi kegiatan ekonomi masyarakat. Bank sentral

sebagai salah satu otorita moneter dapat melaksanakan kebijakan moneter yang

dapat diklasifikasikan , ke dalam bentuk :


1. Instrumen umum :


   a. Politik Pasar Terbuka (Open Market Operation)


   b. Politik Gadangan Minimum (Reserve Requirement Policy)


   c. Politik Diskonto (Rediscount Rate Policy)




                                                                              20
2. Instrumen selektif :


   a. Margin Requirements


   b. Penentuan Tingkat Bunga




3. Instrumen Moral Suasion (Open Mouth Policy).




Bank Indonesia sebagai Bank Sentral




     Setelah diuraikan mengenai tugas/fungsi serta kebijakan moneter bank

sentral, berikut akan dibicarakan mengenai Bank Indonesia sebagai bank sentral

di Indonesia. Undang-undang yang mengatur tentang Bank Indonesia adalah UU

Nomor 13 tahun 1968. Ada beberapa hal yang penting untuk dibicarakan,

berkaitan dengan Undang-undang Bank Indonesia, yang antara lain:


A. Tugas Pokok Bank Indonesia




   Disebutkan bahwa tugas pokok Bank Indonesia adalah membantu

   pemerintah dalam:



                                                                            21
1. Mengatur, menjaga dan memelihara kestabilan nilai rupiah.


2. Mendorong kelancaran produksi dan pembangunan serta mempesluas

   kesempatan kerja, guna meningkatkan taraf hidup rakyat.




Kedua tugas pokok Bank Indonesia dapat dirinci menjadi :


1. Pengedaran uang


   a. Bank Indonesia mempunyai hak tunggal untuk mengeluarkan uang

      kertas dan logam.


   b. Bank Indonesia dapat mencabut kembali uang yang telah dikeluarkan

      serta menarik kembali dari masyarakat.




2. Perbankan dan Perkreditan


   Di bidang perbankan, pembinaan dilakukan dengan :


   a. Merperluas, memperlancar, dan mengatur lalu lintas pembayaran giral

      dan kliring.


   b. Menetapkan ketentuan-ketentuan umum tentang solvabiltas dan

      likuiditas bank umum


                                                                       22
  c. Membimbing bank umum.


  d. Meminta laporan dan memeriksa aktivitas bank.




  Di bidang perkreditan :


  a. Menyusun rencana kredit.


  b. Menetapkan tingkat dan struktur bunga.


  c. Menetapkan batasan pemberian kredit.


  d. Memberikan kredit likuiditas kepada bank.


  e. Sebagai lender of last resort.




3. Berkaitan dengan pemerintah/APBN


  a. Sebagai pemegang kas pemerintah,


  b. Menyelenggarakan pemindahan uang pemerintah ke seluruh wilayah

     Republik Indonesia,


  c. Membantu penempatan surat hutang negara, penatausahaan serta

     pembayaran kupon, dan pelunasannya,



                                                                 23
     d. Memberikan kredit dalam bentuk rekening koran untuk memperkuat

        kas negara..




  4. Bidang pengerahan dana masyarakat


     Bank Indonesia mendorong pengerahan dana masyarakat oleh perbankan

     umum dengan tujuan untuk usaha pernbangunan yang produktif dan

     berencana.




  5. Bidang hubungan internasional


     a. Menyusun rencana devisa guna menjaga dan memelihara kestabilan

        nilai rupiah terhadap valuta asing


     b. Melaporkan dan menjaga keseimbangan neraca pembayaran.




A. Dewan Moneter




  Dalam menjalankan togas pokok tersebut harus bertitik tolak pada kebijakan

  yang telah ditetapkan oleh pemerintah dengan bantuan dewan moneter. Hal

                                                                          24
  ini berkaitan dengan tugas/fungsi dewan moneter untuk membantu

  Pemerintah dalam merencanakan dan menetapkan kebijakan moneter

  dengan mengajukan patokan-patokan dalam usaha menjaga kestabilan

  moneter, pemenuhan kesempatan kerja, dan peningkatan taraf hidup rakyat.

  Di samping itu, dewan moneter juga bertugas memimpin dan mengkoordinir

  pelaksanaan kebijakan moneter yang telah ditetapkan oleh pemerintah.

  Keputusan Dewan Moneter diambil dengan hikmah musyawarah untuk

  mufakat. Apabila Gubernur Bank Indonesia tidak dapat memufakati hasil

  musyawarah Dewan Moneter, maka ia dapat mengajukan pendapatnya

  kepada pemerintah. Dewan Moneter ini terdiri atas 3 orang anggota yaitu

  menteri-menteri yang membidangi keuangan dan perekonomian serta

  Gubemur Bank Indonesia. Ketua Dewan moneter dipegang oleh Menteri

  Keuangan.




C. Usaha-usaha Bank Indonesia


  Dalam melaksanakan tugas sebagai bank sentral maka Bank Indonesia :


  a. Memindahkan uang dan penarikan saldo.


  b. Menerima dan membayarkan kembali uang dalam rekening koran.

                                                                        25
   c. Membeli dan menjual wesel kertas perbendaharaan atas beban negara,

      dan surat hutang negara.


   d. Membeli dan menjuat cek, surat berharga. Membeli jaminan bank (bank

      garansi).


   e. Menyediakan tempat penyimpanan barang-barang berharga.




Intrumen Moneter Bank Indonesia




Dalam menjalankan fungsinya untuk mengendalikan sektor moneter. Bank Indo-

nesia meng-gunakan beberapa instrumen moneter berupa kebijakan :




   1. Cash Ratio (minimum reserve requirement ratio)

   2. Discount rate (kebijaksanaan suku bunga)

   3. Open market operation (operasi pasar terbuka)

   4. Refinancing facility

   5. Credit Allocation

   6. Foreign exchange rate




                                                                            26
       Cash ratio adalah perbandingan antara alat-alat likuid yang dikuasai

 dengan kewajiban-kewajiban yang segera dapat dibayar (current liabilities).

 Perbandingan tersebut harus menghasilkan minimal 2%, sesuai dengan

 ketentuan Pakto (Paket Oktober) 1988 yang menyebutkan bahwa Bank

 Indonesia menurunkan cash ratio dari 15% menjadi 2%, sehingga kemampuan

 loanable funds perbankan menjadi bertambah besar. Komponen alat-alat likuid

 yang dikuasai pada dasarnya adalah primary reserve yang terdiri dari uang kas

 dan saldo rekening di Bank Indonesia. Di sisi lain, secondary reserve tidak

 diperhitungkan di dalam cash ratio tetapi digunakan untuk menyangga primary

 reserve atau usaha-usaha lain yang memperoleh earning assets.




       Kebijakan suku bunga yang dimaksud, baik dalam bentuk simpanan

maupun kredit, lebih bersifat tidak langsung dalam arti Bank Indonesia hanya

memberikan pedoman saja kepada perbankan. Beberapa ciri penting kebijakan

suku bunga selama masa perbangunan adalah bersifat aktif, realistik, fleksibel,

dan selektif.




                                                                             27
       Kebijakan yang terakhir tersebut merupakan operasi moneter bank sentral

yang amat populer. Operasi pasar terbuka yang dilakukan bank sentral adalah

erat kaitannya dengan pengaturan jumlah uang yang beredar, khususnya total

uang (uang kartal dan uang giral). Artinya, Bank Indonesia terjun dalam

perdagangan surat berharga di pasar uang. Bila Bank Indonesia ingin

menambah jumlah uang beredar, maka Bank Indonesia menjual surat berharga.

Dengan policy ini, uang masyarakat akan tersedot ketangan Bank Indonesia, dan

sebaliknya.




       Instrumen fasilitas pembiayaan dimaksudkan sebagai fasilitas yang

diberikan oleh Bank Indonesia bagi bank-bank umum dalam bentuk kredit

likuiditas. Tujuan utama instrumen ini adalah untuk memperlancar pemberian

kredit oleh bank bagi kegiatan investasi, pengadaan barang kebutuhan

masyarakat dan kelancaran distribusi. Kredit likuiditas dapat dibagi menjadi

kredit likuiditas biasa, kredit likuiditas gadai ulang dan kredit likuiditas darurat.

Semenjak deregulasi perbankan 1 Juni 1988, kebijakan ini lebih dikenal sebagai

fasilitas diskonto (discount window) dan dibagi menjadi dua macam yaitu fasilitas

diskonto I dan II.




                                                                                  28
      Instrumen credit allocation atau dikenal juga sebagai selective credit

control, merupakan pengaturan Bank Indonesia terhadap arah pemberian kredit

sesuai dengan prioritas pembangunan maupun jumlah total pemberian kredit

menurut sektor ekonomi yang perlu dibantu oleh perkreditan Bank Indonesia.




      Perbandingan nilai mata uang rupiah dengan seperangkat mata uang

asing yang beredar di pasaran dunia merupakan suatu kebijakan yang amat

penting. Sebagai bank sentral yang diberi tugas untuk mengatur neraca

pembayaran Indonesia, penetapan kurs mata uang asing harus dilakukan

dengan pertimbangan-pertimbangan yang matang. Penyesuaian kurs mata uang

rupiah terhadap mata uang asing harus dilakukan secara terus menerus, agar

tidak terjadi penilaian yang terlalu rendah atau pun yang terlalu tinggi, karena

kedua kondisi tersebut akan merugikan perekonomian Indonesia.




Sistem Moneter di Indonesia




Di dalarn pasar uang terdapat dua pelaku utama yaitu kelompok kreditur (yang

menawarkan dana) dan kelompok debitur (yang membutuhkan dana). Pelaku:

pasar uang juga dapat dilakukan dalam bentuk pengelompokan sesuai dengan

                                                                             29
perannya dalam proses penciptaan uang. Atas dasar ini, maka terdapat tiga

pelaku utama dalam pasar uang yaitu :




1. Otorita moneter (bank sentral dan pemerintah)


2. Lembaga keuangan (bank dan bukan bank)


3. Masyarakat (rumah tangga dan produsen)




    Otorita moneter mempunyai peran utama sebagai sumber awal terciptanya

uang beredar. Kelompok ini merupakan sumber penawaran uang kartal yang

menjadi sumber untuk memenuhi permintaan masyaraloat akan uang, di sisi lain

juga merupakan sumber penawaran uang (dikenal sebagai reserve bank) yang

dibutuhkan oleh lembaga-lembaga keuangan. Dengan demkian, uang kartal

(currency) dan cadangan bank adalah uang inti atau uang primer.




    Lembaga keuangan dapat berbentuk bank atau bukan bank. Peran utama

kelompok ini adalah sebagai sumber penawaran uang giral (demand deposit,

deposito berjangka (time deposit), simpanan tabungan (saving deposio), serta

aktiva aktiva keuangan lain yang dibutuhkan masyarakat. Seluruh jenis


                                                                          30
penawaran tersebut dikenal juga sebagai uang sekunder. Berdasarkan peran

yang dipegang oleh kedua kelompok di atas, yakni sebagai supplier seluruh

kebutuhan uang yang diinginkan masyarakat maka kedua kelompok ini (otorita

moneter dan lembaga keuangan). Disebut dengan sistim moneter (monetary

system).




     Masyarakat sebagai pelaku pasar uang ketiga, dapat diartikan sebagai

konsumen akhir uang yang tercipta. Uang yang diperoleh dalam hal ini dapat

digunakan untuk memperlancar kegiatan-kegaitan produksi, konsumsi, dan

pertukaran.




Kliring




Salah satu fungsi, yang dimiliki oleh bank umum adalah melakukan transaksi

lalu lintas pembayaran. Mekanisme pembayaran bagi bank umum dari satu

pihak ke pihak lain, akan lebih mudah bila kedua pihak mempunyai rekening di

bank yang sama. Tetapi akan lebih sukar untuk menyelesaikan pembayaran

antara pihak-pihak yang memiliki rekening, di bank yang berbeda dan lebih

sukar lagi kalau bank tersebut tidak berada disatu daerah. Konsekuensinya,

                                                                           31
satu bank umum akan berhubungan langsung dengan bank umum lain dalam

menyelesaikan utang piutangnya. Ini pun masih banyak dijumpai kesulitan-

kesulitan antara lain jam pertemuan, tempat pertemuan, dan sebagainya.

Sebagai contoh, apabila bank akan menyelesaikan utang piutangnya dengan

bank B, C, D dan E; maka bank A harus berhubungan langsung dengan bank-

bank tersebut. Demikian pula apabila bank B akan menyelesaikan utang-

piutangnya kepada bank A, C, D, F dan G, maka bank B akan berhubungan

langsung dengan bank-bank tersebut. Mekanisme penyelesaian utang-piutang

ini akan menyangkut banyak bank, memerlukan waktu yang cukup lama, biaya

yang besar, serta tenaga yang kurang efisien. Keadaan demikian ini dirasa

dapat menghambat kegiatan operasional perbankan. Oleh karena itu, muncul

suatu    gagasan   untuk   membentuk    lembaga    kliring    yang    kemudian

diselenggarakan oleh Bank Indonesia sebagai bank sentral (pada tanggal 7

Maret 1967). Dengan adanya lembaga kliring, masalah seperti waktu

pertemuan, tempat, siapa yang hadir, besarnya dana yang dibutuhkan untuk

penyelesaian utang piutang dan sebagainya, telah ditentukan dan diorganisir.

Tujuan yang diinginkan dari terbentuknya lembaga kliring adalah untuk

memajukan atau memperlancar lalu lintas pembayaran giral serta layanan

kepada    masyarakat   yang   menjadi   nasabah   bank.      Dengan   demikian,




                                                                              32
perhitungan utang piutang diharapkan dapat dilakukan secara mudah, cepat,

aman, dan efisien.




     Kata kliring berasal dari kata clear (bahasa Inggris). Kamus The New

Grolier Webster International Dictionary of the English Language, memberikan

definisi clearing sebagai berikut




       “The act of exchanging drafts on each other and settling the differences."




 (Kegiatan mengadakan tukar menukar warkat antara satu bank dengan bank

 lainnya dan menetapkan perbedaan-perbedaannya)




     Menurut kamus perbankan yang disusun oleh Tim Penyusun Kamus

Perbankan Indonesia 1980, kliring adalah perhitungan utang-piutang antara para

peserta secara terpusat di satu tempat dengan cara saling menyerahkan surat-

surat berharga dan surat-surat dagang yang telah ditetapkan untuk dapat

diperhitungkan.




                                                                                33
     Syarat-syarat yang ditetapkan oleh bank Indonesia bagi suatu bank untuk

dapat ikut serta dalam kliring adalah :




1. Bank-bank yang telah mendapat ijin dari bank Indonesia terlebih dahulu.


2. Bank tersebut telah menjalankan usahanya minimal 3 bulan atas ijin Menteri

   Keuangan.


3. Bank tersebut telah memenuhi penilaian sebagai bank yang sehat, ditinjau

   dari bidang administrasi, pimpinan, maupun keuangan.


4. Jumlah simpanan giro milik masyarakat di bank yang besangkutan telah

   mencapai jumlah minimal 20% dari modal yang disetor.


5. Bank.peserta kliring wajib membuka rekening koran di Bank Indonesia.


6. Bank peserta kliring wajib menyetor saldo jaminan kliring.


7. Bank yang tidak tercatat sebagai peserta dapat ikut serta secara tidak

   langsung melalui pengikut sertaannya dengan bank lain (peserta).




     Bank peserta kliring pada suatu saat dapat dihentikan kegiatannya oleh

bank Indonesia jika bank tersebut tidak dapat memenuhi kewajibannya dalam



                                                                             34
kliring serta keadaan keuangan bank yang bersangkutan tidak memungkinkan

untuk memenuhi kewajiban dalam kliring.




       Di dalam lembaga kliring, semua peserta kliring bertemu untuk mengadakan

perhitungan/ penyelesaian dokumen-dokumen yang diterima dari masing-masing

nasabah. Dokumen-dokumen yang diselesaikan di dalam lembaga kliring disebut

warkat kliring. Dengan kata lain, warkat adalah alat lalu lintas pembayaran giral

yang        diperhitungkan   dalam   kliring.   Warkat-warkat     yang     dapat

diperhitungkan.dalam kliring antara lain harus memenuhi syarat-syarat sebagai

berikut :




1. Warkat dinyatakan dalam mata uang rupiah dan bernilai nominal penuh (face

    value).


2. Warkat-warkat tersebut dikeluarkan oleh bank peserta kliring


3. Warkat telah jatuh tempo pada waktu diperhitungkan dalam kliring.




    Pada dasamya warkat-warkat tersebut dapat dikelompokkan menjadi :




                                                                              35
1. Warkat debit. Adalah warkat bank peserta lain yang diterima di loket sendiri

   atau yang dapat menimbulkan tagihan bank pada peserta lain. Di dalam

   praktiknya, warkat debit dapat berupa cak, bilyet giro, wesel, nota kiriman

   uang dari kota lain untuk keuntungan nasabah.


2. Warkat kredit. Adalah warkat bank peserta sendiri yang diterima di loket,

   dengan maksud untuk dipindahbukukan ke rekening lain di bank peserta lain.

   Dengan demikian, warkat semacarn ini merupakan utang pada bank peserta

   lain. Warkat kredit dapat berupa surat perintah pemindahbukuan dan

   nasabah giro ke rekrning giro di bank peserta lain.




   B. Uang, Tingkat Bunga, PDB Riil dan Tingkat Harga


      Teori Permintaan Uang Keynes


      1. Permintaan uang untuk tujuan transaksi dan berjaga-jaga


         Keynes menyatakan, bahwa permintaan uang kas untuk tujuan

         transaksi dan berjaga-jaga tergantung dari pendapatan. Makin tinggi

         tingkat pendapatan, maka besar keinginan akan uang kas untuk

         transaksi dan berjaga-jaga. Seseorang atau masyarakat yang tingkat

         pendapatannya tinggi, biasanya melakukan transaksi yang lebih


                                                                             36
   banyak     dibanding   seseorang   masyarakat     yang   pendapatannya

   rendah.


2. Permintaan uang untuk tujuan spekulasi


   Permintaan uang untuk tujuan spekulasi, menurut Keynes ditentukan

   oleh tingkat bunga. Makin tinggi tingkat suku bunga makin rendah

   keinginan masyarakat akan uang kas untuk tujuan tujuan / motifasi

   spekulasi. Alasannya, pertama apabila tingkat bunga naik, berarti

   ongkos memegang uas kas (opportunity cost of holding money) makin

   tinggi, sehingga keinginan masyarakat akan uang kas akan makin

   kecil. Sebaliknya, makin rendah tingkat bunga makin besar keinginan

   masyarakat untuk menyimpan uang kas. Kedua, hipotesa Keynes

   bahwa masyarakat menganggap akan adanya tingkat bunga normal

   berdasar pengalaman, terutama pengalaman tingkat bunga yang baru-

   baru terjadi.


      Menurut Keynes terjadinya inflasi disebabkan oleh permintaan

   agregat sedangkan permintaan agregat ini tidak hanya karena

   ekspansi    bank   sentral,   namun   dapat     pula   disebabkan   oleh

   pengeluaran investasi baik oleh pemerintah, maupun oleh swasta dan

   pengeluaran konsumsi pemerintah yang melebihi penerimaan (defisit


                                                                         37
anggaran belanja negara) dalam kondisi full employment. Secara garis

besar Keynes menyebutkan inflasi terjadi karena suatu masyarakat

ingin    hidup   di    luar   batas    kemampuan       ekonominya.

Pertumbuhan jumlah uang beredar yang tinggi sering menjadi

penyebab tingginya tingkat inflasi, naiknya jumlah uang beredar akan

menaikkan permintaan agregat (agregate demand) yang pada

akhirnya jika tidak diikuti oleh pertumbuhan di sektor riil akan

menyebabkan naiknya tingkat harga. Hal ini berarti jika pertumbuhan

di sektor moneter yang dicerminkan oleh meningkatnya jumlah uang

beredar diikuti dengan pertumbuhan di sektor riil yang dicerminkan

oleh pertumbuhan GDP, maka peristiwa meningkatnya inflasi bisa

diminimalisir.




Tingkat Suku Bunga


Menurut Nopirin (1996) suku bunga adalah biaya yang harus dibayar

oleh peminjam atas pinjaman yang diterima dan merupakan imbalan

bagi pemberi pinjaman atas investasinya. Suku bunga mempengaruhi

keputusan individu terhadap pilihan membelanjakan uang lebih banyak

atau menyimpan uangnya dalam bentuk tabungan. Suku bunga juga


                                                                  38
merupakan sebuah harga yang menghubungkan masa kini dengan

masa depan, sebagaimana harga lainnya maka tingkat suku bunga

ditentukan oleh interaksi antara permintaan dan penawaran (Suhaedi,

2000).


   Suku bunga dibedakan menjadi dua, suku bunga nominal dan suku

bunga riil. Suku bunga nominal adalah rate yang dapat diamati di

pasar. Sedangkan suku bunga riil adalah konsep yang mengukur

tingkat bunga yang sesungguhnya setelah suku bunga nominal

dikurangi dengan laju inflasi yang diharapkan.


   Tingkat   suku      bunga    juga    digunakan     pemerintah    untuk

mengendalikan tingkat harga, ketika tingkat harga tinggi dimana

jumlah uang yang beredar di masyarakat banyak sehingga konsumsi

masyarakat    tinggi   akan    diantisipasi   oleh   pemerintah    dengan

menetapkan tingkat suku bunga yang tinggi. Dengan tingkat suku

bunga tinggi yang diharapkan kemudian adalah berkurangnya jumlah

uang beredar sehingga permintaan agregat pun akan berkurang dan

kenaikan harga bisa diatasi.




                                                                       39
Daftar Pustaka

Drs. A. Arifinal Chaniago, Christian Toweula, dkk. Ekonomi 2, Bandung :Angkasa.


M. Suparmoko, PENGANTAR EKONOMI MAKRO, BPFE, Yogyakarta;1994.


Rahardja, pratama. Mandala manurung. Teori Ekonomi Makro edisi keempat.
    Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Jakarta; 1999.

Samuelson Nordhaus.2005. ECONOMICS ( Eighteenth Edition ).




                                                                                  40

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:1467
posted:12/30/2010
language:Indonesian
pages:40