Docstoc

Dinamika Kelompok Penyelesaian Konflik Perusahaan dan Kompetitor

Document Sample
Dinamika Kelompok Penyelesaian Konflik Perusahaan dan Kompetitor Powered By Docstoc
					                                    BAB I

                                   KASUS




Jakarta - Telkomsel menuding kompetitornya, Excelcomindo Pratama (XL),
telah melakukan praktik persaingan tidak sehat dengan membakar umbul-umbul
milik Telkomsel di Sidikalang, Sumatera Utara.

GM Corporate Communications Telkomsel, Azis Fuedi, dengan berang
mengatakan kasus pembakaran ini telah menodai era kompetisi berbasis kualitas
layanan   yang    sedang   dikumandangkan        pemerintah   melalui   Peraturan
Menkominfo No.12/2008.

“Tingginya investasi dan sengitnya kompetisi di industri selular membuat
operator yang tidak siap menjadi salah kaprah sebatas banyak-banyakan materi
promosi dan iklan, bukan mengedepankan kualitas layanan,” cibirnya dalam
siaran pers yang dikutip detikINET, Rabu (26/11/2008).

Tanpa perlu menunggu lama, XL pun langsung bereaksi. Dalam klarifikasinya,
Febriati Nadira, Manager Public Relations XL, menyatakan pihaknya telah
melakukan pengecekan terhadapsoftcopy foto yang jadi bukti acuan Telkomsel
untuk menuding XL.

Foto itu ternyata diambil pada 12 Januari 2008. “Kami sudah melakukan
pengecekan bahwa orang yang terdapat dalam foto tersebut bukan karyawan XL,
walaupun yang bersangkutan terlihat menggunakan atribut XL,” sanggah Ira,
demikian ia biasa dipanggil.

Menurut Ira, berdasarkan fakta di lapangan, para outlet, dealer dan para petugas
operator juga berkompetisi sehingga kerap menimbulkan permasalahan. Namun
biasanya, masalah seperti memperebutkan wilayah promosi bisa langsung dapat
diselesaikan di lapangan.

XL juga mengklaim punya foto dan beberapa bukti lain tentang kasus serupa
yang telah menimpa pihaknya. “Bahkan hingga tindak kekerasan,” sergah Ira.

“Kami sangat menyayangkan karena sebagai pemimpin pasar (telkomsel
mencapai market share terbesar di antara kompetitornya dalam industry jasa
telekomunikasi, yaitu sebesar 80%, www.lintasberita.com), Telkomsel tidak
melakukan klarifikasi terlebih dahulu. Sebab, kami juga sangat menjunjung tinggi
etika persaingan sehat,” tandas Ira dalam pernyataan tertulis XL.

Keterangan Foto: VP Telkomsel Area Sumatera Mirza Budiawan (kanan) dan
GM    Corporate    Communications      Azis   Fuedi   memperlihatkan   foto-foto
pembakaran umbul-umbul Telkomsel oleh pihak XL di Sidikalang, Sumatera
Utara.

Sumber : http://www.detikinet.com




Jakarta - Kisruh saling tuding antar operator Telkomsel dan Excelcomindo
Pratama (XL) terkait pembakaran spanduk iklan milik Telkomsel di Sidikalang,
Sumatera Utara akhirnya menemukan titik cerah. Kedua operator sepakat
berdamai.


Departemen Komunikasi dan Informatika (Depkominfo) melalui Badan Regulasi
Telekomunikasi Indonesai (BRTI) mencoba melakukan mediasi dengan
memanggil kedua operator tersebut.
Pertemuan dipimpin langsung oleh Koesmiharihati, anggota Komite Regulasi
Telekomunikasi (KRT) BRTI. Hadir dari pihak XL Direktur Utama
Excelcomindo Pratama Hasnul Suhaimi, sedangkan Telkomsel diwakili Direktur
Perencanaan dan Pengembangan Syarif Syarial Ahmad.


BRTI meminta kedua pihak untuk menyampaikan penjelasan sesuai versi
masing-masing. Berdasarkan laporan, terungkap bahwa kejadian konfrontatif
seperti itu sudah sering terjadi di lapangan, namun langsung dapat diselesaikan
oleh internal kedua belah pihak.


Kepala Pusat Informasi dan Humas Depkominfo, Gatot S. Dewa Broto, yang juga
turut hadir dalam mediasi, dalam keterangan resminya, Rabu (26/11/2008)
mengatakan bahwa secara keseluruhan pertemuan berlangsung lancar.
"Pertemuan berlangsung lancar, kooperatif, kritis dan terbuka untuk saling
mengungkapkan keluhan satu sama lain tanpa ada nuansa emosional," ujar Gatot.


Sumber : http://techno.okezone.com
                                     BAB II

                          PERUMUSAN MASALAH



I.1 Latar Belakang Masalah

        Seperti yang bisa kita lihat saat ini, industri selular semakin mengalami
kemajuan yang pesat dikarenakan perkembangan teknologi yang juga semakin
pesat. Banyak perusahaan saling bersaing ketat memperebutkan perhatian
masyarakat dan berusaha menjadikan diri sebagai Provider Komunikasi terbaik
dan terlaris.

        Indikator yang menjadi dasar ketatnya persaingan yaitu semakin
bertambahnya provider penyedia jasa telekomunikasi termasuk kalangan
Operator Selular. Bahkan saat ini persaingan di antara Operator Selular semakin
kurang sehat. Terlebih lagi banyak Operator Selular yang menerbitkan iklan-iklan
di media yang saling menjatuhkan.

        Banyak Operator Selular yang menawarkan tarif murah kepada calon
konsumen maupun konsumen mereka yang sudah menggunakan produk mereka.
Tetapi sebenarnya semua tarif murah itu hanya strategi dari pihak marketing
operator selular saja. Karena semua tarif itu tidak benar-benar murah karena ada
syarat dan ketentuan lain yang berlaku dibalik tariff murah yang ditawarkan
pihak provider.

        Syarat dan ketentuan ini yang tidak diinformasikan secara jelas dan
terang-terangan oleh mereka. Jadi sebenarnya, operator-operator itu sedikit
menipu konsumen dengan obral tarif murah, padahal harga yang dibayar
konsumen justru lebih mahal kalau dilihat dari perhitungan profit operator.
I.2 Identifikasi Masalah


       Berdasarkan contoh kasus dan latar belakang yang telah diuraikan
sebelumnya, maka dapat diidentifikasi masalah yang ditemui dalam konflik
persaingan antara perusahaan dan kompetitor adalah:


Perebutan pelanggan akibat tingginya kompetisi menyebabkan persaingan usaha
yang tidak sehat berupa pembakaran umbul-umbul milik PT Telkomsel oleh
pihak PT Excelcomindo Pratama (XL).
                                    BAB III
                            TINJAUAN PUSTAKA


I.   Pengertian Konflik
     Konflik adalah suatu bentuk hubungan interaksi seseorang dengan orang lain
atau suatu kelompok dengan kelompok lain, dimana masing-masing pihak secara
sadar, berkemauan, berpeluang dan berkemampuan saling melakukan tindakan
untuk mempertentangkan suatu isu yang diangkat dan dipermasalahkan antara
yang satu dengan yang lain berdasarkan alasan tertentu.
     Konflik juga dapat diartikan sebagai pergesekan atau friksi yang
terekspresikan di antara dua pihak atau lebih, dimana masing-masing
mempersepsi adanya interferensi dari pihak lain, yang dianggap menghalangi
jalan untuk mencapai sasaran. Konflik hanya terjadi bila semua pihak yang
terlibat, mencium adanya ketidaksepakatan.
     Para pakar ilmu perilaku organisasi, memang banyak yang memberikan
definisi tentang konflik. Robbins, salah seorang dari     mereka merumuskan
Konflik sebagai : "sebuah proses dimana sebuah upaya sengaja dilakukan oleh
seseorang untuk    menghalangi usaha yang dilakukan oleh orang lain dalam
berbagai bentuk hambatan (blocking) yang menjadikan orang lain tersebut
merasa     frustasi dalam usahanya mencapai tujuan yang diinginkan atau
merealisasi minatnya". Dengan demikian yang dimaksud dengan Konflik adalah
proses pertikaian yang terjadi sedangkan peristiwa yang berupa gejolak dan
sejenisnya adalah salah satu manifestasinya.
     Konflik vertical adalah suatu hubungan interaksi antara satu kelas social
yang berbeda tingkatan akibat adanya pertentangan kepentingan yang difasilitasi
atau kelompok sosil yang berbeda di satu pihak dengan satu kelompok di pihak
lainnya.
     Konflik horizontal adalah suatu hubungan interaksi vertikal (antar kelas
sosial) yang memanfaatkan secara sengaja menciptakan konflik horizontal, dan
atau sebaliknya suatu konflik horizontal yang memanfaatkan/secara sengaja
menciptakan konflik,        sebagai   kamuplase      atau cara untuk      mendukung
terwujudnya tujuan atau kondisi yang dikehendaki.
     Kerusuhan adalah merupakan tindakan suatu kelompok orang yang
berkehendak menyampaikan sesuatu atau melakukan sesuatu tujuan secara
bersama-sama, yang menimbulkan suasana gangguan ketertiban dan ketentraman
umum dengan adanya kegaduhan dan kekacauan yang menggunakan kekerasan,
perusakan dan pengambilan.
     Korban adalah orang atau benda atau barang yang akibat sesuatu tindakan
atau perlakukan mengakibatkan kematian, kerusakan, kehancuran.
     Dinamika adalah kekuatan yang dating dari dalam atau dari luar yang dapat
mempengaruhi        suatu   kehidupan   organisasi    atau   lingkungan    kehidupan
masyarakat.
     Rehabilitasi adalah suatu proses untuk membantu masyarakat yang terkena
berncana termasuk sarana dan prasarana agar segera berfungsi kembali,
memulihkan tata kehidupa serta kemampuan masyarakat dalam menghadapi
bencana berdasarkan azas kemandirian agar kembali mampu melaksanakan
fungsi-fungsinya dengan baik.


II. Sumber-sumber Konflik
     Menurut Anoraga (dalam Saputro, 2003) suatu konflik dapat terjadi karena
perbendaan pendapat, salah paham, ada pihak yang dirugikan, dan perasaan
sensitif.
            a. Perbedaan pendapat
               Suatu konflik yang terjadi karena pebedaan pendapat dimana masing-
               masing pihak merasa dirinya benar, tidak ada yang mau mengakui
            kesalahan, dan apabila perbedaan pendapat tersebut amat tajam maka
            dapat menimbulkan rasa kurang enak, ketegangan dan sebagainya.
        b. Salah paham
            Salah paham merupakan salah satu hal yang dapat menimbulkan
            konflik. Misalnya tindakan dari seseorang yang tujuan sebenarnya
            baik tetapi diterima sebaliknya oleh individu yang lain.
        c. Ada pihak yang dirugikan
            Tindakan salah satu pihak mungkin dianggap merugikan yang lain
            atau masing-masing pihak merasa dirugikan pihak lain sehingga
            seseorang yang dirugikan merasa kurang enak, kurang senang atau
            bahkan membenci.
        d. Perasaan sensitive
            Seseorang yang terlalu perasa sehingga sering menyalah artikan
            tindakan orang lain. Contoh, mungkin tindakan seseorang wajar,
            tetapi oleh pihak lain dianggap merugikan.


    Baron & Byrne (dalam Kusnarwatiningsih, 2007) mengemukakan konflik
disebabkan antara lain oleh perebutan sumber daya, pembalasan dendam, atribusi
dan kesalahan dalam berkomunikasi.


III. Manajemen Konflik
    Manajemen konflik merupakan serangkaian aksi dan reaksi antara pelaku
maupun pihak luar dalam suatu konflik. Manajemen konflik termasuk pada suatu
pendekatan yang berorientasi pada proses yang mengarahkan pada bentuk
komunikasi (termasuk tingkah laku) dari pelaku maupun pihak luar dan
bagaimana mereka mempengaruhi kepentingan (interests) dan interpretasi. Bagi
pihak luar (di luar yang berkonflik) sebagai pihak ketiga, yang diperlukannya
adalah informasi yang akurat tentang situasi konflik. Hal ini karena komunikasi
efektif di antara pelaku dapat terjadi jika ada kepercayaan terhadap pihak ketiga.
       Nasikun (1993), mengidentifikasi pengendalian konflik melalui tiga cara,
yaitu dengan konsiliasi (conciliation), mediasi (mediation), dan perwasitan
(arbitration). Ada dua tipe utama dalam campur tangan pihak ketiga yaitu:
         a. Arbitrasi (Arbitration)
            Arbitrasi merupakan prosedur di mana pihak ketiga mendengarkan
            kedua belah pihak yang berselisih, pihak ketiga bertindak sebagai
            hakim dan penengah dalam menentukan penyelesaian konflik
            melalui suatu perjanjian yang mengikat.
         b. Mediasi (Mediation)
            Mediasi dipergunakan oleh Mediator untuk menyelesaikan konflik
            tidak seperti yang diselesaikan oleh abriator, karena seorang
            mediator tidak mempunyai wewenang secara langsung terhadap
            pihak-pihak yang bertikai dan rekomendasi yang diberikan tidak
            mengikat.


IV. Pengertian Mediasi
    Ada beberapa pengertian mediasi yang dapat disebutkan disini, antara lain :
         1. “Mediasi” adalah proses negosiasi penyelesaian masalah (sengketa)
             dimana suatu pihak luar, tidak memihak, netral, tidak bekerja
             dengan para pihak yang besengketa, membantu mereka (yang
             bersengketa) mencapai suatu kesepakatan hasil negosiasi yang
             memuaskan. (Goodpaster, 1999 : 241)

         2. Mediasi adalah proses penyelesaian sengketa melalui proses
             perundingan atau mufakat para pihak dengan dibantu oleh mediator
             yang tidak memiliki kewenangan memutus atau memaksakan
             sebuah penyelesaian. Ciri utama proses mediasi adalah perundingan
             yang esensinya sama dengan proses musyawarah atau konsensus.
             Sesuai dengan hakikat perundingan atau musyawarah atau
             konsensus, maka tidak boleh ada paksaan untuk menerima atau
   menolak sesuatu gagasan atau penyelesaian selama proses mediasi
   berlangsung. Segala sesuatunya harus memperoleh persetujuan dari
   para pihak. (http://pn-yogyakota.go.id)
3. Mediasi adalah cara penyelesaian dengan melibatkan pihak ketiga,
   yaitu pihak ketiga yang dapat diterima (accertable) Artinya para
   pihak yang bersengketa mengizinkan pihak ketiga untuk membantu
   para rihak yang bersengketa dan membantu para pihak untuk
   mencapai penyenyelesaian. (http://pedulihukum.blogspot.com)
4. Kamus Hukum Ekonomi ELIPS (1997) memberikan batasan bahwa
   mediation, mediasi: salah satu alternatif pengelesaian sengketa di
   luar pengadilan, dengan menggunakan jasa seorang mediator atau
   penengah. Mediator, penengah: seseorang yang menjalankan fungsi
   sebagai penengah terhadap pihak-pihak yang bersengketa dalam
   menyelesaikan sengketanya.
5. Christopher W. Moore menyebutkan bahwa mediasi adalah
   intervensi dalam sebuah sengketa atau negosiasi oleh pihak ketiga
   yang bisa diterima pihak yang bersengketa, bukan merupakan
   bagian dari kedua belah pihak dan bersifat netral. Pihak ketiga ini
   tidak mempunyai wewenang untuk mengambil keputusan. Dia
   bertugas untuk membantu pihak-pihak yang bertikai agar secara
   sukarela mau mencapai kata sepakat yang diterima oleh masing-
   masing pihak dalam sebuah persengketaan
6. (Rachmadi Usman, 2003) menyimpulkan bahwa mediasi adalah
   cara penyelesaian sengketa di luar pengadilan melalui perundingan
   yang melibatkan pihak ketiga yang bersikap netral (non-intervensi)
   dan   tidak   berpihak    (impartial)     kepada   pihak-pihak   yang
   bersengketa. Pihak ketiga tersebut disebut “mediator” atau
   “penengah” yang tugasnya hanya membantu pihak-pihak yang
   bersengketa    dalam     menyelesaikan      masalahnya    dan    tidak
             mempunyai kewenangan untuk mengambil keputusan. Dengan
             perkataan lain, mediator di sini hanya bertindak sebagai fasilitator
             saja. Dengan mediasi diharapkan dicapai titik temu penyelesaian
             masalah atau sengketa yang dihadapi para pihak, yang selanjutnya
             akan dituangkan sebagai kesepakatan bersama. Pengambilan
             keputusan tidak berada di tangan mediator, tetapi di tangan para
             pihak yang bersengketa.


V. Pentingnya mediasi
    Mediasi merupakan suatu proses dimana sengketa antara dua pihak atau lebih
(apakah berupa perorangan, kelompok atau perusahaan) diselesaikan dengan
menyampaikan sengketa tersebut pada pihak ke tiga yang mandiri dan
independent (mediator) yang berperan untuk membantu para pihak mencapai
penyelesaian yang dapat diterima atas masalah yang disengketakan. (H. Priyatna
Abdurrasyid, 2002: 43)
    Mediasi merupakan tata cara berdasarkan “ Iktikad Baik “ dimana para pihak
yang bersengketa menyampaikan saran-saran melalui jalur yang akan ditempuh
oleh mediator dalam upaya penyelesaian sengketa tersebut. ( H. priyatna
Abdurrasyid, 2002 : 34 )
       Mediasi memiliki prinsip-prinsip antara lain:
   a. Sukarela
       Prinsip ini sangat penting karna para pihak mempunyai kehendak yang
       bebas untuk melakukan perbuatan hokum terhadap obyek sengketa hal ini
       dimaksudkan agar dikemudian hari tidak terdapat keberatan-keberatan
       atas kesepakatan yang telah diambil dalam rangka penyelesaian sengketa
       tersebut.
   b. Independent dan tidak memihak
       Penyelesaian sengketa melalui jalur mediasi harus bebas dari pengaruh
       para pihak, baik dari masing-masing pihak, mediator, maupun pihak ke
       tiga. Untuk itu seorang mediator disini harus independent dan netral.
   c. Hubungan personal antar pihak
       Penyelesaian sengketa akan selalu difokuskan pada substansi persoalan,
       untuk mencari penyelesaian yang lebih baik daripada rumusan
       kesepakatan yang baik.


   Mediasi biasanya cukup efektif menyelesaikan permasalahan, karena masalah
terbesar dalam dunia kerja dan bisnis adalah masalah manusianya, baik dari
persepsi, ucapan dan tindakannya. Faktor manusia inilah yang biasanya akan
memicu perbedaan.
   Perbedaan itulah yang berujung kepada konflik. Mekanisme formal, biasanya
tidak diiringi dengan kelegaan hati dan itu berarti tiap hari adalah sambungan dari
konflik yang sudah terjadi. Terus menerus, beranak cucu dan menular.
   Konflik selalu berbiaya, menelan stress, membuang waktu, membuang energi
dan menurunkan produktifitas. Konflik mengalihkan fokus perhatian kepada hal-
hal negatif dan membiarkan yang positif. Iklim bisnis dan kerja akan menjadi
negatif, mendung, dingin dan hilang semangat. Jikapun ada semangat, semangat
penghancuran saja yang akan muncul. Konflik yang ditangani dengan efektif bisa
sekali berubah menjadi pemicu peningkatan prestasi dan menghindarkan stagnasi.


VI. Mediator
    Mediator adalah orang perorangan yang karena kompetensi dan integritasnya
dipilih oleh para pihak untuk membantu dalam perundingan guna mencari solusi
penyelesaian masalah melalui proses Mediasi. Dalam hal menyelesaikan konflik,
mediator harusnya menstimulasi terjadinya keterbukaan atas pikiran dan perasaan
yang dirasakan oleh semua pihak. Kemudian mediator merangsang pikiran positif
sehingga semua pihak bisa saling mendengar.
    Mediator memberikan kesempatan yang sama untuk berkomunikasi,
bernegosiasi dan memikirkan kesempatan yang realistis serta adil kepada semua
pihak. Mediator memastikan terhindarkannya segala bentuk penghujatan,
penyalahgunaan, penyimpangan dan segala perilaku yang menghalangi orang
melakukan negosiasi dengan adil.
    Mediator tidak berpihak kepada salah satu pihak dan mengambil alih hal
mengambil keputusan bagi pihak-pihak yang terlibat konflik. Mediator tidak akan
menyarankan atau mengatakan apa yang harus anda lakukan. Mediator akab
membantu pihak yang terlibat untuk memikirkan solusi yang bisa dilakukan.
Mediator juga kan menguji kemungkinan hasil hasil, mengklarifikasi apa yang
akan terjadi kemudian, dan memikirkan apa hendaknya yang harus dilakukan jika
ada sesuatu yang salah.
                                   BAB IV
                               PEMBAHASAN


I.   Konflik
     Artikel pada bab I di atas membahas mengenai konflik yang terjadi antara
Telkomsel dan XL. Dimana Persaingan yang terjadi adalah kedua perusahaan
saling mengklaim adanya persaingan usaha tidak sehat yang dilakukan
kompetitor dengan cara melakukan pembakaran umbul-umbul yang digunakan
sebagai media untuk melakukan promosi perusahaan.


II. Sumber-sumber Konflik
     Menurut Anoraga (dalam Saputro, 2003) salah satu penyebab terjadinya
konflik adalah karena adanya pihak yang dirugikan. Artikel pada bab I
menyebutkan bahwa pihak Telkomsel menjadi pihak yang dirugikan karena
pembakaran umbul-umbul yang dilakukan oleh oknum XL. Sehingga Telkomsel
meluncurkan tudingan bahwa XL melakukan persaingan usaha yang tidak sehat.
Dan karena adanya tudingan tersebut maka XL melakukan pembelaan dengan
mengklarifikasi dan melayangkan tudingan serupa, bahwa Telkomsel juga
melakukan tindakan persaingan tidak sehat dan bahkan hingga tindak kekerasan.


III. Penyelesaian Konflik antara Telkomsel dan XL
     Mengatasi dan menyelesaikan suatu konflik bukanlah suatu yang sederhana.
Cepat tidaknya suatu konflik dapat diatasi tergantung pada kesediaan dan
keterbukaan pihak-pihak yang bersengketa untuk menyelesaikan konflik, berat
ringannya bobot atau tingkat konflik tersebut serta kemampuan campur tangan
(intervensi) pihak ketiga yang turut berusaha mengatasi konflik yang muncul.
     Setiap konflik bisa diselesaikan dengan negosiasi atau musyawarah, dengan
mediasi, dengan arbitrasi atau dengan litigasi. Dalam tingkatan konflik yang
rendah dan atmosfir hubungan masih sejuk, musyawarah atau negosiasi biasanya
menghasilkan kesepakatan-kesepakatan yang bagus bagi semua pihak yang
terlibat. Prosesnya disepakatai oleh pihak-pihak yang terlibat dan dalam konflik
tersebut.
    Mediasi prosesnya dilakukan oleh orang-orang yang terlibat konflik dengan
bimbingan seorang mediator. Beda madiator dengan perantara yang lain adalah
bahwa mediator bersifat seperti fasilitator, independen dan netral tetapi tetap
tegas walaupun secara informal bersama pihak yang berkonflik. Sebagai
fasilitator, mediator berpartisipasi penuh dalam proses pengambilan keputusan.
Tipe hasil yang diharapkan muncul dengan mediasi adalah keputusan yang
diatahkan kepada penerimaan bersama dan saling menguntungkan.
    Demikian pula yang terjadi pada Telkomsel dan XL yang memutuskan untuk
menyelesaikan konflik mereka melalui jalan mediasi. Dalam pertemuan yang
berlangsung antara dua perusahaan operator dan di mediatori oleh BRTI, maka
kedua operator ini pun mencapai kata sepakat untuk menandatangani draft yang
tertuang dalam 'terminologi penyelenggara telekomunikasi', yang isinya adalah
sebagai berikut:
     1. BRTI dan masing-masing penyelenggara telekomunikasi merasa prihatin
       dengan apa yang terjadi di lapangan terhadap friksi pemasangan branding
       dan para pihak merasa kecewa bahwa kasus ini keluar sebelum dilaporkan
       ke BRTI.
     2. Masing-masing penyelenggara telekomunikasi akan melaksanakan upaya-
       upaya untuk meredam peristiwa yang telah terjadi.
     3. Akan dilakukan koordinasi level pimpinan penyelenggara telekomunikasi
       dalam penetapan etika dalam pemasangan branding. Masing-masing
       pimpinan penyelenggara telekomunikasi sepakat akan melakukan
       sosialisasi tentang etika promosi ke karyawan masing-masing dan para
       branding vendor.
     4. Penyelenggara telekomunikasi akan mereview kembali kontrak dengan
       vendor branding mengenai KPI yang ditentukan sehingga tidak
  menimbulkan usaha-usaha untuk melaksanakan promosi secara tidak
  sehat.
5. Penyelenggara telekomunikasi akan memberi sanksi kepada karyawan dan
  vendor yang melaksanakan tindakan-tindakan yang melanggar etika
  bersama.
                                    BAB V
                           KESIMPULAN DAN SARAN


1.   KESIMPULAN
Mediasi merupakan bentuk intervensi penyelesaian konflik dalam masyarakat
yang membutuhkan kehadiran pihak ketiga sebagai penengah. Telkomsel dan XL
sepakat menempuh jalan mediasi dan menghasilkan draft 'terminologi
penyelenggara telekomunikasi', yang isinya adalah sebagai berikut:
     1. BRTI dan masing-masing penyelenggara telekomunikasi merasa prihatin
        dengan apa yang terjadi di lapangan terhadap friksi pemasangan branding
        dan para pihak merasa kecewa bahwa kasus ini keluar sebelum dilaporkan
        ke BRTI.
     2. Masing-masing penyelenggara telekomunikasi akan melaksanakan upaya-
        upaya untuk meredam peristiwa yang telah terjadi.
     3. Akan dilakukan koordinasi level pimpinan penyelenggara telekomunikasi
        dalam penetapan etika dalam pemasangan branding. Masing-masing
        pimpinan penyelenggara telekomunikasi sepakat akan melakukan
        sosialisasi tentang etika promosi ke karyawan masing-masing dan para
        branding vendor.
     4. Penyelenggara telekomunikasi akan mereview kembali kontrak dengan
        vendor branding mengenai KPI yang ditentukan sehingga tidak
        menimbulkan usaha-usaha untuk melaksanakan promosi secara tidak
        sehat.
     5. Penyelenggara telekomunikasi akan memberi sanksi kepada karyawan dan
        vendor yang melaksanakan tindakan-tindakan yang melanggar etika
        bersama.
II. SARAN
  1. Untuk Perusahaan
     Dalam melakukan persaingan usaha sebaiknya dilakukan secara sehat
     agar tidak memicu adanya konflik dan tidak menimbulkan pihak yang
     dirugikan. Selain itu sebaiknya antar perusahaan dalam industry yang
     sama, dalam hal ini industry jasa telekomunikasi, melakukan kesepakatan
     pembagian wilayah pasar dan promosi dengan baik dan adil.
  2. Untuk Pemerintah (KPPU)
     Hendaknya persaingan usaha diawasi dan di pantau lebih ketat, apalagi
     dengan semakin meningkatnya kompetisi, maka perusahaan akan lebih
     gencar melakukan promosi. Selain itu agar pemerintah (KPPU) bertindak
     tegas terhadap perusahaan yang melanggar etika persaingan usaha yang
     sehat (seperti melakukan perusakan atribut promosi dari perusahaan
     pesaing).
                                      BAB VI
                               DAFTAR PUSTAKA


http://www.detikinet.com
http://usu.ac.id
http://kmpk.ugm.ac.id
http://id.wikipedia.org/wiki/Penyelesaian_konflik
http://inilah.com
http://techno.okezone.com
http://jurnal-sdm.blogspot.com/.../manajemen-konflik-definisi-ciri-sumber.html
http://rajapresentasi.com/2009/05/manajemen-konflik-cara-mengelola-konflik-
secara-efektif/




                            KATA PENGANTAR
       Perkembangan dunia teknologi informasi dan komunikasi telah membuka
peluang usaha bagi para pelaku ekonomi untuk bermain di dalamnya. Peluang
tersebut dapat di raih mulai dari penyedia headset telekomunikasi, penyedia jasa
operator seluler, penyedia jasa content dan aplikasi, serta jasa telekomunikasi
yang lainnya.
       Akibat dari kondisi tersebut banyak perusahaan yang bergerak di bidang
jasa telekomunikasi terutama operator seluler berlomba lomba menawarkan
keunggulan produknya kepada konsumen dan calon konsumen terutama melalui
sarana promosi yang menurut mereka potensial menarik calon konsumen. Tidak
sedikit juga timbul konflik antara perusahaan penyedia jasa operator selular
dikarenakan adanya benturan kepentingan saat mereka berusaha memasarkan
produk yang mereka miliki sebagai dampak tingginya tingkat persaingan antar
perusahaan tersebut.
       Fenomena inilah yang menjadi perhatian dari kelompok kami untuk kami
angkat ke dalam sebuah bentuk karya penulisan yang membahas mengenai
konflik perusahaan dengan pesaing bisnis berdasarkan studi kasus yang benar-
benar terjadi. Selain itu pula kami analisa dan bahas studi kasus tersebut
berdasarkan teori yang kami ketahui agar karya tulis ini dapat menjadi sumber
informasi bagi pihak lain di saat mereka membutuhkannya.
       Karya tulis ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu kami selaku
kelompok penulis membuka pintu saran dan kritik yang membangun sehingga
karya tulis ini dapat menjadi lebih sempurna lagi.


                                                           Jakarta, Juni 2010




                                                           Tim Penulis

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:2867
posted:12/30/2010
language:Indonesian
pages:20