METODE TEKNIK ANALISIS RISIKO by bushido02

VIEWS: 4,476 PAGES: 10

									        METODE TEKNIK ANALISIS RISIKO



1. Skema Pemeringkatan Risiko
   Secara umum, teknik ini merupakan teknik analisis kualitatif yang paling
   sederhana dan paling sering digunakan. Skema pemeringkatan risiko
   haruslah distandarisasi dan digunakan secara konsisten untuk keseluruhan
   organisasi. Ini penting untuk mendapatkan kesamaan pemahaman
   terhadap pengertian kemungkinan dan dampak yang akan digunakan.
   Melalui skema ini akan ditentukan gambaran dan kuantifikasi atau besaran
   yang akan digunakan untuk istilah-istilah yang digunakan seperti “besar”
   “sedang” dan “rendah”.

   Input untuk mengembangkan skema pemeringkatan berasal dari mereka-
   mereka yang berpengalaman dari dalam organisasi atau proyek dan
   mempunyai keahlian dalam bidang tersebut. Dengan demikian, diperoleh
   uraian yang “cocok dan pas” untuk nilai kemungkinan serta dampak yang
   akan digunakan. Metode pengumpulan informasi ini dapat dilakukan
   dengan teknik Expert judgement, baik melalui metode terstruktur seperti
   Delphi Technique maupun melalui wawancara atau bentuk Focus Group
   Discussion lainnya. Hal ini penting untuk mengurangi aspek subjektif dan
   kelemahan tidak tersedianya data yang memadai. Masukan dari para ahli
   ini kemudian akan diolah oleh penanggung jawab manajemen risiko
   menjadi peringkat yang akan digunakan dan disahkan oleh manajemen
   organisasi menjadi standar bagi seluruh organisasi.

   Dalam penerapan teknik ini terdapat dua macam aspek, yaitu aspek
   pengembangan dan penerapan. Proses pengembangan dilakukan dengan :
       Identifikasi nilai-nilai kemungkinan
        Melalui proses pengumpulan informasi dengan teknik expert
        judgement (pendapat para ahli) akan ditetapkan nilai-nilai
        kemungkinan untuk setiap kondisi dengan sebutan “tinggi”, “sedang”
        “kecil” dan “kecil sekali”. Sebutan atau istilah tersebut dapat
        disesuaikan dengan industri terkait dan yang penting merefleksikan
        suatu kondisi yang sesuai dengan industri tersebut serta familiar
        bagi penggunaannya.
       Publikasi peringkat nilai kemungkinan
        Peringkat nilai kemungkinan ini harus didokumentasikan dan
        diedarkan keseluruh pemangku risiko serta anggota dan tim terkait.
        Melalui publikasi dan distribusi ini diharapkan terdapat pemahaman

             property@DinoRimantho/dhiyas.org | Metode Analisis Risiko/Dec.2010   1
    yang sama untuk seluruh organisasi terhadap suatu frekuensi
    kejadian dikaitkan dengan peringkat nilai kemungkinannya.
    Peringkat nilai kemungkinan yang digunakan sebaiknya tunggal dan
    bukan suatu cakupan (range). Hal ini diperlukan untuk menghindari
    diskusi yang tidak perlu untuk menentukan nilai kemungkinan serta
    mendorong konsistensi penafsiran terhadap suau risiko sebagai
    hasil perkaian dampak dan kemungkinan.
   Identifikasi bidang dampak
    Perlu ditetapkan area utama yang menjadi perhatian dimana risiko
    yang terjadi akan mempunyai dampak yang paling dominan atau
    signifikan, khususnya dalam mempengaruhi pencapaian sasaran
    organisasi atau proyek. Selain itu, area ini juga akan memperoleh
    dampak akibat risiko-risiko di bidang lainnya. Contoh area utama
    untuk proyek adalah biaya, mutu dan waktu (jadwal). Sedangkan
    area lain dapat meliputi hokum, politik, ekonomi, social dan lain-lain.
    Semua dampak di bidang lain bagi proyek pasti akan kembali pada
    salah satu dari tiga bidang utama di atas, yaitu biaya, waktu dan
    mutu.
   Menetapkan peringkat nilai dampak
    Cara menentukan peringkat dampak sama dengan menentukan
    peringkat nilai kemungkinan. Tetapi, proses ini sedikit lebih rumit
    daripada penentuan peringkat nilai kemungkinan. Untuk proyek,
    peringkat nilai dampak dapat ditentukan untuk masing-masing
    proyek, tetapi untuk organisasi perlu dipertimbangkan lebih lanjut.
    Apakah peringkat nilai dampak yang ditentukan akan digunakan
    untuk keseluruhan organisasi ataukah sebagai panduan bagi
    manajer proyek dan manajer unit bisnis dalam menyusun peringkat
    nilai dampak bagi unit kerjanya.
    Peringkat nilai dampak secara sederhana dapat ditentukan dengan
    mengukur tingkat tertinggi dan tingkat terendah. Misalnya tingkat
    tertinggi dampak adalah bila kejadian tersebut timbul maka akan
    menyebabkan organisasi kehilangan penghasilannya (revenue)
    selama sebulan penuh atau sasaran organisasi tidak tercapai.
    Akibatnya perhatian dan upaya seluruh jajaran manajemen dan
    karyawan akan sedapat mungkin mengatasi risiko ini. Kondisi ini
    dapat direfleksikan dalam nilai uang atau besaran lain yang sesuai.
    Peringkat nilai dampak terendah dapat ditentukan, misalnya melalui
    dampak risiko yang bila terjadi kerugiannya tidak berdampak apapun
    terhadap pencapaian sasaran organisasi sehingga cukup ditangani
    dengan perubahan prosedur. Peringkat nilai dampak lainnya akan
    berada di antara kedua nilai tersebut. Misalnya peringkat nilai
    menengah akan berada tepat di antara nilai tertinggi dan nilai
    terendah. Kondisi ini juga diterapkan untuk bidang-bidang dampak
        property@DinoRimantho/dhiyas.org | Metode Analisis Risiko/Dec.2010   2
      yang dominan lainnya, baik frekuensi kejadian maupun waktu dan
      sebagainya.
     Publikasi peringkat nilai dampak
      Peringkat nilai dampak ini harus didokumentasikan dan diedarkan
      keseluruh pemangku risiko serta anggota team lainnya. Melalui
      publikasi dan distribusi ini diharapkan terdapat pemahaman yang
      sama pada seluruh organisasi terhadap persepsi suatu organisasi,
      dikaitkan dengan besarnya dampak yang diakibatkan oleh
      organisasi. Peringkat nilai dampak yang digunakan merupakan
      suatu cakupan (range). Yang terpenting salam peringkat nilai
      dampak ini adalah bahwa uraian mengenai dampak tersebut harus
      jelas dan tidak menimbulkan multi interprestasi serta sesuai dengan
      kondisi nyata di lapangan.

Sebelum proses penerapan dilakukan, biasanya dilakukan semacam
proses quality assurance terhadap skema peringkat risiko yang telah
diperoleh. Hal tersebut dilaksanakan sebagai berikut :

     Peninjauan ulang risiko terhadap peringkat nilai kemungkinan
      Setelah table peringkat nilai kemungkinan selesai dibuat, perlu di
      adakan peninjauan ulang terhadap peringkat nilai kemungkinan
      tersebut bersama dengan manajemen puncak dan para ahli terkait.
      Secara bersama-sama mereka memeriksa risiko-risiko yang pernah
      terjadi dan memastikan bahwa persepsi peringkat nilai kemungkinan
      yang ada telah sesuai dengan kondisi risiko. begitu pula sebutan an
      “tinggi”, “sedang” “kecil” dan “kecil sekali” yang digunakan memang
      memberikan persepsi yang sama dan jelas bagi setiap orang serta
      tidak menimbulkan bias pengertian.

     Peninjauan ulang risiko terhadap peringkat nilai dampak
      Setelah table peringkat dampak selesai dibuat oleh tim yang sama di
      atas akan memeriksa risiko-risiko yang pernah terjadi dan
      memastikan bahwa persepsi peringkat nilai dampak yang ada sesuai
      dengan kondisi risiko tersebut. Begitu pula sebutan dan “tinggi”,
      “sedang” “kecil” dan “kecil sekali” yang digunakan memang
      memberikan persepsi yang sama dan jelas sekali bagi setiap orang
      serta tidak menimbilkan bias pengertian.

      Selain itu juga perlu diperhatikan karena dampak risiko terjadi pada
      berbagai bidang. Selain itu dapat pula terjadi dampak rendah untuk
      biaya dan waktu, tetapi dampak tertinggi secara politis atau reputasi.
      Untuk kondisi demikian harus ditetapkan bersama mengenai
      bagaimanakah menentukan suatu risiko berdampak tinggi,

          property@DinoRimantho/dhiyas.org | Metode Analisis Risiko/Dec.2010   3
          menengah dan rendah sebagai kombinasi dari berbagai macam
          bentuk ini. Dalam hal ini, peran manajemen puncak sangat
          menentukan.

         Peninjauan ulang skema peringkat risiko
          Skema peringkat risiko yang digunakan harus ditinjau ulang sejalan
          dengan perkembangan organisasi dan kematangan dalam
          penerapan manajemen risiko. selain itu juga perlu dipertimbangkan
          tuntutan eksternal serta perubahan kondisi usaha. Bila dulu tingkat
          kerusakan 1% masih dapat diterima, kini kondisi persaingan bisnis
          menuntut mutu suatu produk adalah 100% baik dan bebas
          kesalahan (defect free). Peninjauan secara berkala ini akan
          membuat skema peringkat risiko mempunyai keandalan yang tinggi.

   Peringkat nilai risiko ini menunjukkan postur organisasi                       dalam
   mempersepsikan risiko melalui aspek dampak dan kemungkinan.


2. Analisis Sebab Akibat
   Sasaran analisis sebab akibat adalah untuk mengenali sumber asal risiko
   dalam organisasi. Bila telah dikenali dengan baik apa saja sumber risiko
   dan pemicunya maka dapat dilakukan penanganan yang tepat untuk
   mencegah terjadinya risiko tersebut terjadi kembali.

   Kata kunci untuk analisis sebab akibat adalah keberhasilan dalam
   menemukan penyebab dasar (root cause) yang mendorong timbulnya
   risiko. Analisis sebab akibat tidak mencari apa yang mungkin terjadi atau
   bagaimana hal tersebut dapat terjadi, tetapi lebih menekankan pada
   “mengapa” suatu risiko terjadi. Cara pencegahan agar risiko tersebut tidak
   terjadi hanyalah akibat logis dari proses pencarian dengan pertanyaan
   berturut-turut “mengapa” (sering disebut dengan Seven Whys). Setiap
   jawaban atas pertanyaan “mengapa” selalu ditanyakan lagi hingga 7 kali.
   Bila sudah tidak mampu lagi menjawab maka jawaban terakhir tadi
   merupakan dasar penyebab risiko. Proses ini dapat digambarkan dalam
   bentuk diagram atau bentuk format checklist (daftar pertanyaan).

   Format daftar pertanyaan dari analisa sebab akibat ini ditunjukkan dalam
   table 1 di bawah ini. Dalam table tersebut terlihat bahwa setiap jawaban
   atas pertanyaan akan ditanyakan ulang sehingga diperoleh sebab kunci
   dari risiko yang terjadi.

   Cara lain untuk menggambarkan analisis sebab akibat adalah dengan
   membuat peta mengenai apa saja yang dapat menimbulkan akibat dan

             property@DinoRimantho/dhiyas.org | Metode Analisis Risiko/Dec.2010   4
             pada setiap penyebab digambarkan lagi rincian penyebab-penyebab lain.
             Diagram ini berbentuk seperti tulang ikan dan sering disebut sebagai
             diagram tulang ikan (fishbone diagram). Diagram ini dipopulerkan perama
             kali oleh Ishikawa sehingga seringkali disebut juga dengan Ishikawa
             diagram.

                         Gambar 1. Diagram proses analisis sebab akibat


                                      Pemeriksaan
  Sebab lain                          berkala jelek                        Sebab lain


  Tidak               Tangki         Tangki            Minyak        Piston mesin             Mesin
termasuk             berkarat       pelumas           pelumas        macet sukar             produksi
  dalam            dan sering        bocor             habis           bergerak               no. xyz
 checklist          terbentur                                                                  rusak



                     Sebab lain                                           Sebab lain



                      Tabel 1. Format Tanya Jawab Analisis Sebab Akibat

   No.            Pertanyaan                             Jawaban
   1.  Mengapa mesin produksi no. xyz Karena piston mesin tersebut
       rusak ?                             macet dan sukar bergerak.
   2.  Mengapa      pistonnya      menjadi Karena minyak pelumasnya habis
       macet?
   3.  Mengapa minyak pelumasnya bisa  Karena tangki oli pelumasnya
       habis?                                  bocor
                                             Karena pemeriksaan tingkat oli
                                               pelumas tidak dilaksanakan
                                               dengan baik
   4.  Mengapa tangki oli pelumas bias Karena tangki oli pelumas tersebut
       bocor?                              telah berkarat
   5.  Mengapa pemeriksaan tingkat oli Karena belum ada SOP bahwa
       pelumas tidak terlaksana dengan operator harus memeriksa tingkat
       baik?                               oli pelumas sebelum menjalankan
                                           mesin.
   6.  Mengapa tangki berkarat yang Karena dalam SOP perawatan
       dapat menyebabkan bocor tidak mesin           tidak   terdapat  butir
       dapat dideteksi lebih dini?         pemeriksaan tangki oli pelumas
                                           mesin.


    Sumber : Leo J. Susilo dan Victor Riwu Kaho, Manajemen Risiko berbasis ISO
        31000 untuk industri non perbankan, Penerbit PPM, Jakarta, 2010
                        property@DinoRimantho/dhiyas.org | Metode Analisis Risiko/Dec.2010     5
Analisis sebab akibat ini biasanya digunakan bila tindakan langsung dalam
mengatasi risiko hanya memberikan hasil yang sifatnya sementara, tetapi
masalah tersebut tidak hilang, bahkan berulang kembali lagi. Keandalan
proses analisis sebab akibat ini tinggi dalam menemukan penyebab kunci
risiko yang mungkin terjadi. Tetapi tingkat keandalan ini bergantung pada
kemampuan tim ketika mengumpulkan data dan informasi serta menseleksi
informasi tersebut dalam menentukan mana yang betul-betul penyebab
ataukah penyebab palsu. Hasil analisis ini cukup rinci dan bersifat teknis.

Penerapan analisis ini merupakan proses penguraian rangkaian sebab dari
sebab pada level yang lebih rendah lagi sehingga ditemukan sebab yang
paling dasar. Mengatasi sebab yang paling dasar ini dapat meniadakan
atau memperkecil terjadinya risiko. Tahapan pelaksanaan proses ini secara
ringkas sebagai berikut :
     Pengumpulan data
       Proses pengumpulan data harus dilakukan secara luas dan dalam,
       termasuk dari peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi. Teknik
       pengumpulan data ini dilakukan dengan sumbang saran
       (brainstorming atau idea generation). Penggalian informasi dan data
       ini dilakukan dengan berkali-kali menanyakan “mengapa” risiko
       tersebut terjadi. Pengulangan pertanyaan ini akan memacu kita
       untuk mencari ide-ide baru mengapa suatu risiko terjadi dan apa
       penyebabnya hingga ditemukan penyebab dasarnya.

      Pembuatan CEDAG (Cause Effect Diagram) Board
       Proses ini memastikan agar setiap sebab dari suatu jawaban
       digambarkan secara berangkai sehingga level yang cukup rinci.
       Semakin rinci gambaran pada diagram sebab akibat semakin baik,
       karena diagram inni akan lebih mampu menggambarkan keadaan
       yang mendekati kondisi dari risiko yang terjadi. Proses ini selalu
       dapat disempurnakan dengan adanya tambahan atau perubahan
       informasi yang terjadi. Sasaran utama proses ini adalah menemukan
       penyebab dasar suatu risiko.

      Pemetaan hasil
       Apabila semua penyebab dasar telah ditemukan maka harus
       disusun daftar penyebab dasar untuk digunakan pada tahap
       berikutnya, khususnya untuk penentuan strategi mitigasi risiko.

Teknik analisis sebab akibat ini relatif sederhana dan dapat diterima oleh
semua pihak. Ini karena mendasarkan diri pada pertanyaan “mengapa”
berkali-kali sehingga penyebab dasar ditemukan. Praktek ini memudahkan
          property@DinoRimantho/dhiyas.org | Metode Analisis Risiko/Dec.2010   6
    setiap anggota kelompok pelaku analisis melakukannya dengan baik dan
    mempertanyakan kembali lagi bila mereka tidak puas dengan hasil yang
    mereka peroleh sendiri.


3. Metode Kuantitatif
   Metode ini hanya dapat digunakan bila tersedia cukup data untuk
   memperkirakan kemungkinan dan dampak risiko dalam bentuk ukuran
   interval atau rasio. Selain itu, bila menggunakan teknik probabilitas maka
   sebaran distribusi data-data tersebut harus sudah diketahui dengan baik,
   atau populasinya cukup sehingga dapat diperkirakan jenis distribusinya.

   Salah satu pertimbangan penting lain dalam menggunakan metode
   kuantitatif adalah data yang akurat, baik data internal maupun eksternal.
   Hal ini merupakan tantangan untuk memperoleh hasil pengukuran yang
   valid. Tanpa data yang akurat dan valid ada kemungkinan hasil kuantitatif
   malah menyesatkan dan menghasilkan kesimpulan yang keliru.

   Metode kuantitatif dapat dilaksanakan melalui teknik benchmarking, non-
   probabilistic dan probabilistic. Di bawah ini akan diuraikan secara ringkas
   mengenai beberapa teknik kuantitatif yang dapat digunakan untuk
   menganalisa suatu risiko.
   A. Benchmarking, merupakan teknik yang digunakan oleh organisasi
      untuk melakukan asesmen suatu risiko tertentu dengan tujuan
      mengurangi baik ampak maupun kemungkinan terjadinya, melalui cara
      membandingkannya dengan organisasi lain yang lebih baik kondisinya.
      Benchmarking juga digunakan dalam melakukan perbaikan proses
      bisnis.
      Contoh penggunaan benchmarking adalah untuk memperbaiki suatu
      kehilangan di toko swalayan. Misalnya, jaringan swalayan A mengalami
      risiko kerugian pencurian di toko (shoplifting) sebesar 2% dari
      penjualannya. Jaringan swalayan A melakukan benchmarking dan
      menemukan data industri tingkat pencurian yang ada sebagai berikut :

      Tabel 2. Data pencurian pada toko swalayan di Jakarta
         Tingkat kehilangan karena pencurian (% revenue)
       Terendah                Menengah                Tertinggi
 0,5 %                    1,5 %                  35

      Dari data pada tabel di atas terlihat bahwa tingkat pencurian di jaringan
      swalayan A termasuk di atas rata-rata. Melalui analisis risiko pencurian
      dengan teknik benchmarking ini, manajemen jaringan swalayan A dapat
      melakukan tindak lanjut, misalnya melakukan benchmarking terhadap

             property@DinoRimantho/dhiyas.org | Metode Analisis Risiko/Dec.2010   7
   proses bisnis dengan took swalayan lainnya yang berada di posisi
   terendah atau melakukan perbaikan internal sendiri.

B. Analisa sensivitas (Sensivity analysis), analisa ini merupakan
   metode analisis kuantitatif non-probabilistic. Analisa sensivitas bertujuan
   untuk memahami risiko yang akan terjadi bila terjadi suatu perubahan
   dalam elemen-elemen operasional atau kegiatan rutin. Secara
   sederhana, analisas sensivitas mengajukan pertanyaan apakah yang
   akan terjadi bila ada perubahan pada besaran yang sudah
   diperhitungkan ini (revenue, harga, peraturan yang memberikan fasilitas
   pajak, nilai tukar dan sebagainya). Tujuan analisa sensivitas adalah
   memahami risiko yang timbul bila perubahan tersebut memang
   terjadi,kemudian melakukan antisipasi untuk melakukan mitigasi guna
   meredakan atau mengurangi dampak risiko tersebut.

   Perhitungan dengan analisa sensivitas relatif sederhana dan praktis
   dapat digunakan untuk berbagai macam perubahan. Analisa sensivitas
   sering digunakan untuk melengkapi analisis kuantitatif probabilistic.
   Karena sifatnya yang khusus maka setiap analisis harus dilakukan
   tersendiri, tergantung dari data kunci yang digunakan dalam
   perhitungan tersebut, misalnya asumsi dasar, latar belakang, rasional
   dan pendekatan yang digunakan. Contohnya dalah pertanyaan
   terhadap studi kelayakan (feasibility study) proyek investasi sebagai
   berikut ;
    Bagaimanakah akibatnya bila penjualan lebih tinggi 20% dari yang
       diperhitungkan?bagaimana jika 10% lebih rendah?
    Bagaimanakah nilai pengembalian investasi proyek bila tingkat suku
       bunga naik dari 10% per tahun menjadi 14%? Bagaimana bila turun
       menjadi 8%?
    Bagaimanakah bila nilai tukar rupiah ke US dolar menguat 10% lebih
       tinggi dari yang diperkirakan?bagaimanakah kalau melemah 15%?

   Hasil perhitungan terhadap perubahan-perubahan di atas dapat
   mempersiapkan manajemen untuk antisipasi hal-hal yang tidak
   diinginkan, sekaligus peluang yang mungkin terjadi. Setidak-tidaknya
   memberikan “perasaan” terhadap adanya ketidakpastian dan akurasi
   perhitungan atau data yang digunakan.

   Apabila analisis sensivitas hanya menggunakan satu variabel
   perubahan maka analisa skenario dan simulasi menggunakan beberapa
   variabel sekaligus.



           property@DinoRimantho/dhiyas.org | Metode Analisis Risiko/Dec.2010   8
         C. Simulasi Monte Carlo, adalah metode analisis kuantitatif yang
            probabilistic. Simulasi Monte Carlo adalah suatu simulasi yang
            mencoba menjawab pertanyaan “bagaimana jika (what if)” secara
            komperehensif. Teknik ini dikembangkan pada waktu Perang Dunia ke
            II bersamaan dengan rencana penggunaan bom atom.

            Untuk melakukan simulasi Monte Carlo, diperlukan peralatan berupa
            komputer dan perangkat lunak lainnya. Ini karena jumlah penghitungan
            ulang (iterasi) yang besar bagi masing-masing variabel dan operasi
            statistik terkait. Dalam suatu skenario investasi suatu proyek di mana
            akan digunakan simulasi Monte Carlo maka :
                 Pada setiap variable yang akan digunakan ditentukan distribusi
                    probabilitas kemungkinan timbulnya dan diberikan pembobotan
                    sesuai dengan karakteristik dari masing-masing variabel serta
                    situasi bisnis terkait. Proses ini disesuaikan dengan model atau
                    tuntutan perangkat lunak yang digunakan.

                         Gambar 2. Hasil simulasi risiko biaya


             35.0                                                              1.0

             31.5                                                              0.9

             28.0                                                              0.8

             24.5                                                              0.7

Sample       21.0                                                              0.6    Cumulative
Count
             17.5                                                              0.5    probability

             14.0                                                              0.4
              10.5                                                             0.3

              7.0                                                              0.2

              3.5                                                              0.1


                     104.5 M                122.5 M            134.3 M

                                          TOTAL COST




                     property@DinoRimantho/dhiyas.org | Metode Analisis Risiko/Dec.2010   9
               Memasukkan data, ini merupakan tugas yang paling berat dan
                memakan waktu. Walaupun data yang digunakan tidak terlalu
                banyak, harus diuji terhadap berbagai macam tentang
                kemungkinan risiko serta distribusi kemungkinanannya.
               Simulasi kemudian dilaksanakan dengan komputer untuk
                sejumlah iterasi (sekitar 5000 kali) dan hasilnya sebanyak 5000
                kemungkinan dan frekuensinya sesuai dengan distribusi
                kemungkinan yang ditentukan.
               Hasil simulasi akan ditampilkan dalam bentuk histogram untuk
                menunjukkan rentang hasil yang mungkin, distribusi
                probabilitasnya juga kurva jumlah kumulatif frekuensi kejadian
                (dalam %).
               Tahap berikutnya adalah menganalisis tampilan data dan
                mengkomunikasikan hasilnya. Dari tampilan pada gambar 2.
                terlihat bahwa besarnya biaya proyek berada pada kisaran Rp.
                122.5 M dengan probabilitas sekitar 0.90 sedangkan nilai biaya
                proyek terendah adalah Rp. 104.5 M yang mempunyai
                probabilitas terkecil yaitu sekitar 0.10.
               Setiap variabel proyek lainnya, misalnya jadwal penyelesaian,
                keandalan sistem yang dirancang dan sebagainya, juga harus
                ditampilkan dan dianalisis sehingga diperoleh gambaran
                menyeluruh dari berbagai kemungkinan risiko proyek.

         Masih banyak metode kuantitatif probabilistic lainnya yang dapat
         digunakan sesuai dengan kebutuhan, selama data dan model distribusi
         kemungkinannya tersedia. Salah satu metode yang sering digunakan
         adalah metode probabilistic “at risk model”, termasuk di dalamnya value
         at risk (VaR), cash flow at risk, earning at risk dan lain-lain.

         Penggunaan      metode      analisa      kuantitatif    probabilistic selain
         mensyaratkan adanya data yang memadai dan distribusi probabilitas
         yang diketahui juga memerlukan spesialisasi yang kompeten untuk
         bidang tersebut (aktuaris, ahli statistik dan lain-lain).



Sumber Pustaka :

Leo J. Susilo dan Victor Riwu Kaho, Manajemen Risiko berbasis ISO 31000 untuk
industri non perbankan, Penerbit PPM, Jakarta, 2010




                property@DinoRimantho/dhiyas.org | Metode Analisis Risiko/Dec.2010   10

								
To top