Esensi Islam n Kemasyarakatan-ok
Shared by: zmikin
-
Stats
- views:
- 15
- posted:
- 12/27/2010
- language:
- Indonesian
- pages:
- 2
Document Sample


Bismihi Taala
Esensi Ajaran Islam tentang Kemasyarakatan
Oleh Andito
1. Pusat kemanusiaan adalah masing-masing pribadi manusia dan kemerdekaan pribadi adalah hak
asasinya yang pertama. Tiada sesuatupun yang berharga selain kemerdekaan itu.
2. Di sisi lain, kehidupan manusia sec ara fitri bersifat kemasyarakatan yang hidup dalam suatu bentuk
hubungan tertentu dengan dunia sekitarnya. Kebutuhan, keuntungan, kepuasan, karya dan kegiatan
manusia tidak mungkin terpenuhi dengan baik tanpa berada di tengah sesamanya dalam suatu
perangkat tradisi dan sistem tertentu.
3. Masyarakat merupakan senyawa sejati, sebagaimana senyawa ilmiah, yang bersintesis dalam
kebudayaan, buk an kefisikan. Sedangkan yang disintesis adalah jiwa, pikiran dan hasrat manusia
yang memas uki kehidupan bermasyarakat. Dengan karunia-karunia y ang diperoleh dari alam dan
kemampuan-kemampuan bawaan mereka, secara kejiwaan melebur unt uk mendapatkan suatu
identitas baru, yaitu jiwa k emasyarakatan. Sintesis ini bersifat alamiah, unik dan khas. Unsur unsur
individu dan masyarak at saling mempengaruhi dan diubah oleh pengaruh timbal balik untuk
mendapakan suatu kepribadian baru.
4. Namun, suatu bentuk dan identitas baru ini tidak mengubah kejamakan perseorangan menjadi suatu
ketunggalan. Sintesis tidak menjadikan manusia tunggal, suat u entitas kefisikan yang di dalamnya
seluruh inividu terlebur secara fisikal. Masyarak at yang diartikan sebagai suatu entitas tunggal
kefisikan hanyalah sebuah abstraksi rekaan. Individu yang merupak an salah sat u unsur pembentuk
masyarakat – selain alam dan sistem sebagai ikatan kemanusiaan – tetap merdeka dalam berfikir dan
berkehendak secara perseorangan. Keberadaan individu mendahului masyarak atnya.
5. Pertanggungjawaban individual terjadi ketika sebuah perbuatan memiliki dua dimensi, pelaku (sebab-
aktif) dan sasaran yang disiapkan oleh pelaku (sebab -akhir). Apabila dalam perbuatan tersebut
terdapat dimensi ketiga, berupa saran dan peluang y ang diberikan untuk terjadinya tindakan tersebut
menjadi tindakan kolektif. Masyarakat adalah pih ak yang memberikan landasan bagi tindakan kolektif
dan membentuk sebab material. Untuk itu, ia menjadi catatan amal suat u bangsa di hari akhir.
6. Tidak ada manusia yang memiliki hak secara intrinsik untuk mengatur orang lain, bahkan jika ia
mengeluarkan ketetapan-k etetapan yang benar dan adil, karena semua orang, sebagaimana
makhluk-makhluk lain, adalah diciptakan dan merupakan kepuny aan Allah Yang Mahak uasa, dan tak
seorang pun y ang boleh turut campur dengan kepunyaan orang lain tanpa izin pemiliknya. Seora ng
manusia tidak memiliki hak, bahk an untuk menggunakan anggot a tubuhny a sendiri dengan c ara yang
bertentangan dengan kehendak Tuhan, dan sebagai konsekuensinya, ia tidak bisa membiarkan orang
lain melakukannya juga. Karenany a, satu-sat unya yang memiliki hak mutlak untuk memerintah dan
menolak siapapun dan apapun hanyalahTuhan Yang Mahaesa. Semua ot oritas dan wilayah harus
berasal dari Dia atau paling tidak sesuai dengan hukum-hukum-Nya.
7. Islam tidak hanya menek ankan pentingnya kehidupan sosial, bahkan menga nggap perhatian pada
permasalahan sosial dan perjuangan bagi kepentingan semua umat manusia sebagai suatu
kewajiban. Tidak peduli pada permasalahan semacam itu, dalam Islam dianggap sebagai dosa besar.
8. Agar t ercipta k eteraturan sosial, diperlukan suatu hukum dalam kehidupan sosial, karena tak ada
masyarakat yang bisa bertahan hidup t anpa adanya peraturan dan ketentuan s osial. Tujuan hukum
bukan hanya untuk menciptak an peraturan dan disiplin sosial, namun lebih dari itu adalah untuk
menjaga keadilan sosial.
9. Dalam perpsektif Islam, hukum-hukum sosial harus bisa mempersiapkan landasan dan kondisi yang
mendukung perk embangan spiritual dan kebahagiaan abadi bagi manusia. Paling tidak, hukum -
hukum sosial tidak boleh bertentangan dengan perkembangan spiritual. Bahk an jika suatu hukum
bisa menegakkan suatu tatanan sosial namun meny ebabkan kemalangan abadi bagi manusia, dari
sudut pandang Islam hukum ini tidak bisa dit erima, bahkan jika hukum t ersebut diterima oleh
mayoritas.
10. Teori yang berlak u di kebanyakan masyarakat dewasa ini adalah bahwa hukum harus disahkan dan
disepakati oleh masyarakat itu sendiri, atau wakil-wakil mereka. Karena konsensus dari semua
anggota masyarakat maupun dari semua wakil-wakil mereka itu praktis mustahil t erjadi, maka
pendapat mayoritas (bahkan jika hanya setengah plus satu) merupak an krit eria validitas hukum
tersebut.
11. Dari sudut pandang Islam, huk um-hukum harus disahkan sedemikian rupa sehingga bisa memberikan
manfaat bagi anggota masyarakat, khususnya bagi mereka yang ingin meningkatkan diri dan ingin
memperoleh kebahagiaan abadi. Jelas bahwa hukum semacam itu harus disahkan oleh seseorang
yang memiliki pengetahuan yang memadai tentang manfaat yang sejati dan ses ungguhnya bagi
manusia, dan y ang k edua, yang tidak mengorbankan manfaat bagi orang lain demi kepentingannya
pribadi dan nafsu yang sia-sia.
12. Jelas bahwa tak ada yang lebih bijaksana daripada Tuhan Yang Mahakuasa, yang tidak memiliki
kepentingan atas hamba-hamba-Nya atau apa yang mereka lak ukan, dan yang telah menet apkan
ketentuan ketuhanan hanya demi memberikan manfaat bagi hamba -hamba-Nya itu. Tentu saja,
hukum-hukum sosial yang digambarkan dalam kitab-kitab yang diturunkan dari langit itu tidak sec ara
eksplisit menyatakan semua ketentuan sosial yang berlaku di semua tempat dan waktu melainkan
sekadar memberikan kerangka umum yang bisa menjadi sumber penetapan perat uran yang
diperlukan, berkaitan dengan perbedaan waktu dan tempat.
13. Islam, sebagaimana kebanyak an mazhab politik yang lain, membutuhkan k eberadaan suatu negara
sebagai kekuatan yang bisa mencegah penyimpangan hukum, dan kelemahan suatu negara akan
berarti terhambatnya penerapan hukum, keadaan chaos, dan pelanggaran hak-hak kaum yang
lemah.
14. Jelas bahwa ada dua kualifikasi fundament al bagi mereka y ang bertugas menerapkan hu kum,
terutama bagi yang berada di puncak piramida kekuasaan: pertama, pengetahuan yang memadai dari
hukum tersebut untuk menghindari penyimpangan y ang disebabkan oleh ketidaktahuan; dan yang
kedua, kont rol pribadi atas kehendaknya untuk mencegah keinginan yang disengaja untuk
menerapkan huk um secara salah. Dalam termonologi religius, orang seperti ini disebut sebagai
maksum (terjaga dari dosa). Semua umat Islam percaya pada kemaksuman Nabi Muhammad saw.
15. Di sisi lain, kita menget ahui bahwa kecuali bagi para nabi tidak ada orang lain yang secara khusus
ditunjuk oleh Tuhan untuk menjalankan hukum dan untuk memerintah. Jadi, manusia harus berusaha
untuk menemukan orang-orang yang sebisa mungkin menyerupai para nabi, yang kemudian lebih
dikenal dengan istilah manusia sempurna (insan kamil).[]
Makalah ini merupakan sebagian dari bahan rek onstruksi NDP. Disampaikan pada Intermediate Training
Tingkat Nasional HMI Cabang Ciamis, 9 Juli 2005. Penulis adalah Ketua PBHMI Bidang Pembinaan
Anggota (2004-2005) dan MAULA (Masyarakat Universal Lintas Agama) (sejak 1999).
Alamat: Jl. Buncit Raya Kav. 35 Pejaten Barat JAKARTA 12510
aandito@yahoo.com
0812 9642 333, [021] 7065 8931
faks. [021] 799 6777
Related docs
Other docs by zmikin
MIND MAPPING DALAM METODE QUANTUM LEARNING PENGARUHNYA TERHADAP PRESTASI BELAJAR DAN KREATIFITAS SISWA
Views: 1056 | Downloads: 26
Get documents about "