Docstoc

Dialog Peradaban NASR

Document Sample
Dialog Peradaban NASR Powered By Docstoc
					                       Agama dan Dialog Peradaban
                           Seyyed Hossein Nasr

        Pertama-tama, apa yang Anda maksud dengan peradaban? Tentu sudah
banyak tulisan tentang permasalahan ini. Salah satu esei paling brilian yang
pernah ditulis mengenai persoalan ini dilakukan oleh almarhum Ananda
Kumansrani dalam sebuah artikel yang berjudul “Apa yang dimaksud dengan
peradaban?” yang diterbitkan di Inggris kira-kira sepuluh tahun yang lalu.
Sebagaimana dia dan banyak siswa metafisik yang serius, Anda mungkin telah
mengatakan dari beberapa tradisi yang dibahas, peradaban bukan hanya
berhubungan dengan etimologi kata “Civetas” dalam bahasa latin yang berarti
“kata.”
        Peradaban sebenarnya mencakup aplikasi pandangan dunia, visi realitas
yang khusus pada kumpulan manusia. Saat ini definisi peradaban sudah samar
dalam pikiran banyak orang karena kemunduran agama di dunia modern ini dan
penyebarannya pada belahan dunia lain sejak abad ke-19. Oleh karena itu, saya
ingin melihat kembali dengan selintas peradaban-peradaban tertua di dunia dan
asal-usulnya secara ringkas serta mengapa disebut peradaban-peradaban. Dan
mengapa kita memakai bentuk jamak, peradaban-peradaban, bukannya tunggal.
        Salah satu warisan paling buruk dan tragis abad ke-18 dan 19 adalah
anggapan Eropa bahwa seluruh dunia adalah peringkasan peradaban-peradaban
menjadi peradaban, yaitu penggunaan bentuk tunggal kata “peradaban.”
Penyakit intelek ini mencapai puncaknya di abad ke-18 Perancis dengan abad
pencerahannya, dan pada abad ke-19 Jerman dan Inggris dengan ide kemajuan
dan perkembangannya. Ide yang berlaku pada saat itu adalah bahwa secara
faktuil hanya terdapat satu peradaban dan seluruh peradaban yang lainnya
adalah blok-blok bangunan yang merupakan bagian dari satu peradaban.
        Agar kita bisa mengetahui betapa parahnya kesalahan ini, kita dapat
melihat fakta bahwa kita sering menggunakan kata “beradab” dalam bahasa
Inggris sehari-hari. Bahkan secara politik dibenarkan sebagai sebuah istilah
istimewa jika Anda membunuh beberapa juta orang dengan bom nuklir
mutakhir atau dengan teknologi modern lainnya maka Anda disebut beradab.
Tetapi jika Anda membunuh 15 orang dengan sebuah tombak maka Anda
disebut tidak beradab. Begitulah penggunaan kata “beradab” sehingga kita akan
dianggap bercanda bila kita berkata “tingkah laku yang beradab” tapi orang-
orang tidak berpendapat bahwa istilah itu amat tragis.
        Adalah hal yang menyenangkan menyelimuti dialog antar peradaban ini
sebab telah ada kesadaran akan kepluralan kata “peradaban.” Ini sebuah
langkah yang sangat besar yang dapat mengeluarkan awan kebodohan total dan
ketidaktahuan yang melanda sejarah Eropa dan bahkan bagian dunia lainnya di
waktu lampau. Perhatikan bagaimana kita menggunakan kata “beradab” dalam
bahasa Arab dan Persia yang kemudian menjadi bahasa Islam. Misalnya, dalam
bahasa ibu Saya, Persia, Anda mengatakan sesuatu mutamadin atau tidak
mutamadin yang mempunyai arti beradab atau tidak beradab. Hal ini tidak
berarti buruk, melainkan pengaruh abad pencerahan pemikiran Eropa. Dan
Anda pun akan mendapatkannya dalam bahasa Jepang, Cina dan bahasa Asia
lainnya.
        Oleh karena itu kita sudah terlepaskan dari kesalahan menunggalkan
sesuatu yang jamak. Sekarang kita mesti mengetahui mengapa menurut sejarah
terkandung sebuah peradaban dan mengapa pula jamak. Bila Anda melihat
berbagai peradaban dunia dan peradaban-peradaban lain yang disebutkan oleh
Huntington dalam bukunya “Clash to Civilisation” yang memancing begitu
banyak diskusi mengenai kebudayaan saat ini, maka Anda tidak akan melihat
perkecualian. Dalam berbagai perkara, sebuah peradaban dibentuk oleh agama.
Atau bila Anda tidak mau menggunakan kata agama, mari kita gunakan istilah
yang menarik yang digunakan oleh Marco Palis yaitu “ide yang mendasari” (the
presiding idea). Di atas setiap peradaban terdapat sebuah ide yang mendasari
yaitu sebuah pandangan dunia yang total yaitu agama menurut arti yang luas.
Tidak ada perkecualian.
        Jadi apa peradaban-peradaban modern itu? Saya akan membahasnya
sebentar lagi. Peradaban modern merupakan sisa peradaban agama. Sumbernya
bukan filsafat sekular. Agama Kristen datang ke Eropa maka terciptalah
kebudayaan Eropa Kristen. Bila sekarang, setelah 2000 tahun hanya tiga persen
orang Inggris beribadah di gereja pada hari Paskah di hari Minggu, ini tidak
berarti telah tercipta sebuah peradaban baru, tapi merupakan penyimpangan dari
norma sebuah peradaban yang telah dibentuk sebelumnya. Begitu pula
peradaban Islam, Hindu, Budha Asia Tenggara, Konghucu, Taoisme, Maori di
New Zealand, Indian Amerika Utara, Indian Amazon, Yourba. Kemanapun
Anda pergi di dunia ini, jantung peradabannya adalah agama. Dalam diskusi
teoritis yang diselenggarakan saat ini mengenai dialog peradaban-peradaban,
kita tidak boleh melupakan realitas sejarah ini.
        Namun situasi saat ini tidak benar-benar berdasarkan realitas sejarah
sebab sekarang kita mempunyai satu peradaban yang sangat kuat yang bernama
globalisasi yang mengklaim tidak berdasarkan agama, walaupun tentu saja jauh
lebih kuat elemen-elemen agama dalam peradaban ini daripada orang-orang
ingin terima. Tapi peradaban Barat benar-benar dikontrol oleh elit intelektual
yang benar-benar sekular yang jauh lebih sekular daripada keseluruhan populasi
dan yang menentukan, atau sedikitnya merefleksikan nilai-nilai yang populasi
orang biasa pegang.
        Bagaimana peradaban ini? Inilah permasalahan utama dalam dialog ini.
Agar dialog terlaksana, Anda sekalian mesti memiliki landasan yang sama.
Saya adalah filosof profesional. Plato adalah ayah pemikiran dialogis di Barat
dan juga dalam tradisi yang Islam warisi dari masa lalu. Pertanyaan besar untuk
hari ini adalah bagaimana membedakan antara dialog antar peradaban walaupun
sudah berusia tapi tetap berakar dalam ide yang mendasari tersebut dalam
agama, dimengerti dalam arti yang lebih luas dengan peradaban Barat modern
dan bagian-bagiannya di belahan dunia lainnya. Saya ingin membahas
permasalahan lainnya.
        Namun sebelumnya kita mesti bertanya pada diri sendiri dengan penuh
kejujuran. Kenapa dialog? Kenapa Anda ingin berdialog? Bila Anda mulai
dengan tesis bahwa tidak ada satu peradaban di dunia, bahwa ada
keserberagaman peradaban dan ada keserbaragaman cara melihat dunia yang
menentukan ketika kita mengevaluasi sesuatu, bagaimanakah kita melihat
sesuatu, bagaimana kita memahami kehidupan manusia, tujuan keberadaan,
kualitas spiritual yang mendominasi kita. Bila ada keberagaman peradaban dan
kita memiliki beberapa peradaban, kemudian ada seseorang yang mencoba
menolak asal-usul utama peradaban-peradaban ini, mengapa kita mau
berdialog?
        Saya kira tahun ini, yang dinyatakan secara internasional sebagai tahun
dialog peradaban akan menjadi sia-sia bila kita tidak jujur menjawab
pertanyaan ini. Peradaban-peradaban lama sudah menjalani dialog walaupun
tidak formal. Tradisi-tradisi seni, filosofis, spritual mereka bersentuhan satu
sama lain dengan cara dialog. Islam dan Hindu di India; Islam, Kristen dan
Yahudi di Spanyol; Budha ke Konghucu Cina; Konghucu ke Shinto Jepang; dan
contoh-contoh sejenisnya yang lain.
        Selama beberapa abad terakhir, peradaban yang mendominasi secara
politis dan militer di dunia adalah peradaban Barat, tapi umumnya peradaban
ini tidak tertarik pada kegiatan dialog dengan peradaban-peradaban lain. Saya
tidak sedang membicarakan satupun peradaban tertentu. Sikap Inggris ke India
atau Perancis ke Aljazair bukan untuk dialog peradaban. Kenyataan ini mesti
dipahami.
        Dari sisi lain, pihak yang didominasi biasanya terbagi menjadi dua
kelompok: yang pertama adalah kelompok yang mencoba melindungi diri dari
keterusiran di permukaan bumi sebagai identitas yang jelas dan oleh karena itu
mereka mencoba menghalau kekuatan yang menganggap mereka. Ulama kami
di dunia Islam baik dari Mesir, Iran, Irak, Syria, dan Maroko selama dua abad
sampai sekarang mencoba menjauh dari pemikiran Barat. Mereka tidak mau
informasi dari mereka. Begitu pula yang kita saksikan di peradaban-peradaban
lainnya. Sikap ini bukanlah sikap yang orang ingin berdialog. Saya yakin dialog
intelektual pertama yang serius antara Islam dan Barat mengenai filsafat dan
metafisik terjadi di tahun 1950-an dan 60-an di Teheran, hanya setengah abad
yang lalu, bukan di abad ke-19.
        Kelompok kedua adalah kelompok yang mengekor gerakan Barat.
Mereka tidak tertarik berdialog dengan Barat, tapi mereka ingin seperti Barat.
Kelompok ini menyepelekan seluruh budaya non-Barat – bukan hanya Islam,
bukan hanya Hindu, bukan hanya Budha tapi semuanya. Di antara mereka, ada
yang lebih pintar meniru Barat daripada yang lainnya. Beberapa orang menjadi
peniru yang lebih baik. Tapi hanya tiruan yang tidak mirip. Tiruan (imitation)
tidak sama dengan dialog. Ini adalah poin yang sangat penting. Dalam dialog
Anda melakukan tindakan give and take tapi identitas Anda masih terpelihara.
Imitasi berarti penyerapan sebuah identitas ke identitas yang lain.
        Oleh karena itu seluruh pertanyaan mengenai dialog bukanlah
pertanyaan lama. Bila kita akan berdialog berarti kita akan mengadakan
perubahan tingkah laku yang sangat mendalam pada dua pihak. Artinya,
peradaban Barat yang dominan menerima eksistensi peradaban-peradaban
lainnya dan meyakini bahwa mereka mempunyai sesuatu yang bernilai yang
patut didiskusikan. Adapaun bagi pihak peradaban yang didominasi (dominated
civilisations) mesti yakin pada eksistensinya secara eksternal dan internal.
        Saya dibesarkan di sebuah generasi di Iran yang pada saat itu setiap
orang berpikir bahwa pada tahun 2000 seluruh orang Iran akan seperti orang-
orang Perancis dan Swedia, dan ada orang-orang di dalam kubur yang akan
melongokkan badan dan wajahnya untuk memastikan bagaimana agama Allah
menyadarkan seluruh dunia dan bagaimana penolakan pada ide-ide Barat akan
muncul satu hari. Ketika berdialog, pihak yang terdominasi mesti percaya diri
akan keberadaannya, identitas dirinya sendiri dan pada saat yang sama
mempunyai keterbukaan untuk berbagi.
        Saat ini kita melihat sikap dunia non-Barat yang bersikap menolak yang
lain secara total dari thaliban Afghanistan sampai Takaraij di Bombay Gujarat.
Saya menyebutkan seorang Muslim dan seorang Hindu dan Anda sekalian
punyai contoh-contoh lainnya. Bentuk seperti ini merupakan bentuk penolakan
yang total. Tentu pihak Barat juga berpikir seperti itu, tapi mereka tidak disebut
dengan sebutan pihak-pihak selain mereka. Orang-orang di Barat yang menolak
semua nilai yang lain tidak disebut para fundamentalis. Mereka adalah kaum
sekular yang berpikiran terbuka.
        Tapi sebenarnya sikap mereka separah para fundamentalis. Mereka
menolak semua pandangan dunia lainnya. Mereka berpihak pada hak-hak asasi
manusia selama Anda menerima pendapat mereka tentang umat manusia. Bila
Anda percaya bahwa umat manusia merupakan bayang-bayang Tuhan dan
diciptakan untuk sesuatu yang transedental maka tentu saja Anda tidak akan
dianggap. Kita memiliki keterbukaan yang palsu ini (pseudo-openess).
        Tapi bila Anda bersikap pseudo-openess maka Anda memiliki dua sikap
dalam kedua peradaban: Barat dan non-Barat yang memiliki orang-orang
tertentu yang benar-benar menolak yang lainnya. Tapi secara faktual ada orang-
orang lain yang ingin melakukan give and take untuk belajar mengajar serta
berdialog. Inilah babak yang sangat penting dalam sejarah kita bila dilakukan
dengan serius. Jika tidak begitu maka hal tersebut akan menjadi tipu muslihat
politik semata. Terdapat banyak manusia di dunia non-Barat yang takut
berdialog dengan Barat karena mereka meyakini bahwa dengan kata globalisasi
yang mengatasnamakan kebebasan Anda mencuri sesuatu dengan lebih mudah
dari bangsa-bangsa lainnya. Ketika seorang pencuri masuk kerumahmu dengan
membawa alat penerang maka ia dapat mencari benda-benda yang baik saja.
Beberapa orang di dunia Islam, Hindu, India, Budha, dan seluruh dunia
mempunyai sikap seperti ini. Tidak ada kerugian pada sikap tersebut. Sikap
tersebut mesti dikonfrontir dan beberapa tahun mendatang akan diketahui
jilatan kecil api di atas penggorengan atau apakah ada sesuatu yang serius.
Apakah peradaban Barat benar-benar ingin berdialog dengan peradaban-
peradaban lainnya dan begitu pula sebaliknya.
        Sikap seperti ini tidak sepenuhnya benar dalam arti saling menggantikan
(equation) sebab tidak ada persamaan dalam struktur kekuatan. Saya tahu
bahwa para pembicara dan penulis Muslim di kota London mengatakan bahwa
kita memasuki abad dialog peradaban, saya melihat orang-orang Inggris sedang
berbicara dengan orang Kawali dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Mereka
tidak melakukan ini di zaman Victoria. Benar mereka tidak melakukannya di
zaman tersebut namun mereka memilih apakah mereka ingin mendengar
Kawali atau tidak. Sedangkan di Iran, tidak lebih begitu mudah untuk memilih
apakah anda ingin mendengar Michael Jackson atau tidak. Pengaruh tekanan
fisik pada psikologis tidaklah sama. Tidak ada persamaan pada hal yang hakiki
yaitu bagaimana kita menghadapi konfrontasi peradaban.
         Terdapat kedinamisan yang luar biasa dalam peradaban. Dari luar
nampak bahwa peradaban postmodern menjadi semakin dominan. Dan dari
dalam peradaban ini cepat rusak. Nilai-nilai dari peradaban-peradaban lain yang
ia kuasai malah menempati posisi penting. Tempat berdiri Anda ini dulunya
tempat Peter O‟toole, salah seorang aktor Inggris yang terkenal, bermain
sandiwara. Dia masih hidup sekarang. Tapi tempat ini menjadi Islamic Center.
Pada tahun 1930 tak seorang pun dapat membayangkan keadaan ini. Anda juga
dapat melihat fenomena yang sangat aneh ini di tempat lain misalnya masuknya
Michael Jackson ke Teheran, Lahore, dan Karachi. Dan Anda bisa pula melihat
gerakan lain di sudut yang lainnya. Dengan kedinamisan total seperti ini maka
kita mesti mengerti maksud dari dialog peradaban.
         Menurut saya terdapat tiga bentuk dialog yang tampak bila orang-orang
mau memperhatikan dengan sungguh-sungguh. Bentuk dialog pertama adalah
dialog antara sisa peradaban transisional yaitu peradaban yang meliputi seluruh
umur saya. Saya sebut sisa peradaban tradisional sebab tidak ada peradaban
tradisional yang benar-benar utuh di dunia saat ini. Tapi masih ada perbedaan
besar antara siswa di Kairo dan siswa di New York walaupun apa kata orang
tentang globalisasi dan lain sebagainya. Perbedaan besar ini dikarenakan oleh
adanya sesuatu yang transedental yaitu kesadaran akan unsur-unsur spiritual
pada bagian-bagian dunia tertentu dan kemunduran di bagian dunia lainnya.
         Jadi terdapat satu jenis dialog yang bisa diwujudkan dan berdampak
signifikan bila dilakukan dengan sungguh-sungguh. Misalnya dialog yang dapat
berlangsung antara bagian India yang beragama Islam (berperadaban Islam) dan
yang beragama Hindu (berperadaban Hindu). Tiga puluh ribu orang meninggal
di Kashmir dan ribuan lainnya di bagian India yang lain. Bila terjadi dialog
yang dapat mengarah pada kesalingpahaman akan kedua peradaban ini maka
akan mengakibatkan konsekuensi politik yang besar.
         Dialog semacam ini tidak terlalu sukar sebab Anda punya emosi, faktor
psikologis, kehendak pada uang, kekuatan, unsur-unsur etnis dan lain
sebagainya. Anda mempunyai nilai tertentu yang sangat kuat dan jelas yang
bisa berfungsi sebagai jembatan, sebagai dua sisi jembatan atau yang dapat
membuat pemahaman.
         Seperti begitulah yang dipahami oleh orang-orang seribu tahun yang
lalu, oleh Muslimin yang masuk India. Walaupun ada banyak keanehan di India
namun pada suatu keyakinan pada kesatuan Tuhan yang dapat ditemukan di
antara kelompok Hindu tertentu. Kemudian diulangi dengan bentuk yang jauh
lebih mendalam oleh Dora Shakob dan yang lainnya yang tidak saya sebutkan
di sini.
         Dialog antar sisa peradaban tradisional telah dilakukan selama abad 20,
tentu saja dengan kemunculan para penulis tradisional yang besar yang
memperkenalkan secara universal peradaban-peradaban tradisional yang dapat
berfungsi sebagai wacana, seperti yang pernah dikatakan oleh Komar Somi. Dia
berkata bahwa berbagai macam ajaran tradisional mempunyai kebenaran yang
sama walau diutarakan dalam bahasa yang berbeda-beda, kalau dilihat dari satu
sisi. Mereka tidak identik namun mereka sangat dekat.
        Kemudian terdapat dialog kedua yang jauh lebih sulit dan betul-betul
membebani kita, yaitu dialog antara peradaban non-Barat dan peradaban Barat.
Kenapa sangat sulit? Pertama-tama, karena struktur kekuatan. Sebuah
peradaban mempunyai pembom B52, bom nuklir, kapal selam dan sarana-
sarana lainnya yang tidak dimiliki oleh peradaban-peradaban lain. Dan tatkala
mereka mencoba memiliki sarana-sarana seperti itu maka mereka mesti
menyempurnakan karakter mereka sendiri yang tidak dimengerti oleh umat
Islam. Kita berbicara mengenai bom atom Islam. Bila Kristen dan Yahudi
mempunyainya maka Islam pun mesti memilikinya pula. Berapa kalikah orang-
orang membaca hal ini dalam surat kabar Pakistan? Berapa harganya? Dan apa
manfaatnya bagi peradaban Islam, bagi pemikiran Islam? Tidak seorang pun
ingin memikirkannya. Tatanan kekuatan tidaklah sama.
        Yang kedua. Hal kedua ini adalah hal yang banyak pemikir Islam tidak
paham, tapi seyogyanya mereka pahami. Menurut kebiasaan, masing-masing
peradaban akan membuat agendanya sendiri dan akan berdialog dengan
peradaban-peradaban yang lain. Saat ini Barat menentukan seluruh agenda.
Apakah Anda pernah memikirkannya? Barat menentukan seluruh agenda, untuk
seluruh peradaban.
        Mengapa begitu banyak Muslim saat ini menulis tentang perempuan
dalam Islam? Perempuan suci Maroko. Kenapa tidak laki-laki suci Maroko?
Siapa yang melakukannya? Ini semua adalah agenda buatan Barat. Bagaimana
tentang hak azasi manusia. Barat pada tahun 1750 tidak tertarik pada tulisan hak
azasi manusia, lalu hak-hak binatang. Sekarang kita mesti berbicara mengenai
hak-hak binatang. Saya dapat menuliskan daftarnya satu persatu. Ini juga
merupakan agenda buatan Barat dan semakin cepat para pemikir non-Barat
mengerti maka semakin bebas intelektualnya.
        Ada agenda-agenda tertentu yang tidak dibuat oleh para pemikir Barat
tapi oleh tindakan-tindakan Barat. Ketika Anda membunuh satu juta binatang di
Inggris dalam rangka mencari rezeki sehingga mengakibatkan masalah
lingkungan global yang mengundang perhatian setiap pemikir, Anda tidak bisa
membenamkan kepala Anda di pasir. Ungkapan ini mengimplikasikan
ketidakseimbangan yang mencolok antara teknologi modern dan dunia alami.
Hal seperti itulah yang disebut tindakan.
        Tapi kebanyakan agenda tidak sebanyak tindakan, pemikiran, teori, ide-
ide yang mencuat. Tiba-tiba seorang di Perancis terjaga di suatu pagi dan
membuat kerusakan. Mengerjakan kembali pemahaman naskah-naskah suci
seolah-olah tidak mengandung arti. Dan kemudian orang-orang yang lainnya
mesti berjuang bertahun-tahun untuk mencoba dan menjawab persoalan-
persoalannya. Juga berdasarkan seperti inilah dunia beraksi. Olah karena itu
dialog antar peradaban-peradaban dan peradaban modern tidak hanya berdasar
pada ketidaksamaan kekuatan, militer, media, politik dan kekuatan ekonomi.
Tetapi juga berdasarkan porsi asing yang tidak pernah anda ketahui di sejarah
dunia di mana satu peradaban menentukan agenda. Walaupun peradaban-
peradaban yang lain ingin memberi jawaban mereka sendiri, mereka mesti
menajwab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh Barat.
        Di hari-hari lainnya diadakan konferensi sangat besar di Washington di
mana beberapa perempuan yang sangat terkenal berkumpul untuk menunjukkan
simpati mereka pada perempuan-perempuan malang di Afrika, Timur Tengah,
dan lain-lain. Saya ingin konferensi khusus mengenai anak laki-laki yang
malang di Kairo persis saat ini, mereka ditembak di sekolah-sekolah di berbagai
tempat di Amerika. Tetapi tidak ada konferensi di Kairo tentang penembakan
anak-anak di sekolah-sekolah Amerika. Bila Anda tahu tentang ini, maka beri
tahu saya dan saya akan mengubah pandangan saya. Tetapi saya belum pernah
mendengar berita seperti itu di koran-koran.
        Bila kekurangan kesamaan (the lock of equality) ini tidak
dipertimbangkan dengan sungguh-sungguh maka seluruh dialog agama hanya
membuang-buang energi bumi saja, berterbangan dengan kapal-kapal mereka
dari satu benua ke benua lainnya. Peradaban-peradaban non-Barat sedikitnya
harus menentukan agendanya sendiri. Mereka tidak mempunyai kekuatan untuk
menentukan agenda bagi Barat tapi sedikitnya mereka mesti dapat menentukan
agenda mereka sendiri. Tapi saat ini masalahnya tidak seperti demikian.
Apakah Anda komunis Cina, kekaisaran Jepang, demokratik India, dunia Islam,
nama apapun yang Anda ingin pakai, kiri, kanan, tengah, para pemikir, orang-
orang yang bertekad membuat keputusan tdiak dapat memastikan apa yang
mesti dipikirkan. Pertimbangan harus ditentukan oleh peradaban lain, oleh
karena itu akan sia-sia belaka bila benar-benar melaksanakan dialog seperti ini.
Anda tidak sedang melaksanakan dialog. Anda hanya menerima sesuatu yang
sudah final, kecuali dalam wewenang tertentu yang kecil dan lebih pribadi.
Masalahnya terjadi bila menghadapi wewenang yang besar dan umum.
        Bahkan bila dialog dilaksanakan dalam kasus kedua, yaitu kasus sisa
peradaban-peradaban dan Barat, pertanyaan utamanya tetap pada dasar prinsip-
prinsip yang umum. Pendapat saya hampir benar-benar berbeda dari mayoritas
ahli teori mengenai pokok permasalahan saat ini. Saya tidak percaya bahwa
alam manusia mencukupi prinsip umum bagi dialog antar peradaban. Dan tidak
ada humanisme yang akan mencukupi basis pemahaman umum antar
peradaban.
        Hal ini merupakan deklarasi besar di zaman yang disebut zaman
humanisme, tapi saya tidak takut apapun sejak saya muda, saya telah lama
sekali merenungi gelombang-gelombang tersebut. Tapi menurut saya sejarah
abad 20 menunjukkan hal seperti itu yaitu kemungkinan humanisme. Kecuali
humanisme yang Anda maksudkan adalah humanisme spititual. Tapi kenapa
menggunakan istilah ini? Orang-orang berbicara mengenai humanisme Kristen,
Islam, Hindu, Budha, walaupun menggunakan istilah yang salah. Bila
humanisme mengacu kembali pada peristiwa yang terjadi zaman Renaissance
yaitu deklarasi kemerdekaan umat manusia dari Tuhan, deklarasi kemerdekaan
manusia dan substitusi dari apa yang filosof Swedia terkenal De Marco
gambarkan sebagai substitusi kerajaan manusia dengan kerajaan Tuhan. Jika
yang seperti itu yang disebut humanisme, maka tidak mencukupi sebagai
landasan umum bagi dialog yang serius. Humanisme membutuhkan sesuatu
lebih dari itu. Dan oleh karena itu menjadi sangat sulit. Saya tidak bermaksud
mengatakan bahwa keadaannya menjadi mudah.
        Hal terbaik yang dapat dilakukan adalah menentukan cakupan-cakupan
persetujuan tertentu. Tetapi bila tidak ada persetujuan pada prinsip-prinsip
realitas akan asal-usul dunia, di mana mereka berasal, ke mana mereka menuju
maka Anda tidak dapat memperoleh persetujuan hanya demi perdamaian.
Perdamaian tidak datang dengan perjanjian seperti yang Inggris alami di tahun
1939. Perdamaian mesti berdasar pada beberapa kebenaran. Jika tidak ada
kebenaran umum maka kebijaksanaan tidak cukup.
        Tapi walaupun demikian hal terbaik yang seseorang lakukan adalah
membuat sebuah dialog sebagai sebagai cara menyadarkan posisi yang lain, bila
kita mempunyai niat yang baik. Ada banyak orang di Barat yang mempunyai
niat baik dan kejujuran penuh, mereka berpikir bahwa tak ada sesuatu pun yang
dapat meningkatkan kondisi orang-orang Sri Lanka selain hidup seperti orang-
orang Amerika.
        Oleh karena itu anda pelru memahami sejenis tegangan di dalam
peradaban-peradaban ini. Anehnya lima puluh tahun yang lalu ketegangan tidak
terjadi di Barat. Di dunia Islam terjadi di Mesir yaitu antara Mesir modern dan
Mesir tradisional, di Persia antara Persia modern dan Persia tradisional. Di
dunia Hindu ketegangan terjadi di mana-mana. Saat ini ketegangan dan dialog
peradaban antara peradaban-peradaban besar ini juga akan mempunyai intra
aspek. Saya tidak mengatakan bahwa saya juga akan membahas peranan agama.
Seperti yang saya katakan bhawa bila berdasarkan sejarah anda menganggap
bahwa setiap peradaban diciptakan oleh agama dan tidak ada perkecualian.
Oleh karena itu, bila dialog akan diarahkan pada pemahaman maka intinya,
dialog peradaban adalah memahami agama-agama. Bila tiap-tiap agama ingin
memahami satu sama lain bukan hanya pada tataran resmi tapi pada tataran
saling hormat-menghormati demi kebenaran yang sama yaitu dengan
penghormatan yang mendalam maka kita telah mempersiapkan pondasi bagi
dialog peradaban yang benar.
        Saya yakin bahwa apa yang orang sebut sebagai kesatuan agama-agama
yang transedental yang sekarang telah menjadi istilah umum adalah sesuatu
yang benar-benar penting. Orang-orang muslim yang meyakini bahwa ide ini
bertentangan dengan al-Quran adalah muslim-muslim yang belum membaca al-
Quran. Tidak ada kitab suci yang perspektifnya seuniversal Islam. Al-Quran
menyatakan bahwa kami telah mengutus seorang utusan pada setiap bangsa dan
kami memiliki tradisi ini dalam Islam dalam waktu yang sangat lama. Islam
adalah agama kemanusiaan yang terakhir. Inilah ide keuniversalan wahyu.
        Beberapa agama lain mempunyai banyak masalah dan agama yang
terparah adalah Kristen, karena menggambarkan Tuhan dengan tempat tertentu
yaitu penjelmaan Tuhan dalam Kristus. Keyakinan ini adalah Kristosentris
bukannya theosentris bagi banyak orang. Oleh karena itu amat sulit menyatukan
agama lain kepada Kristus kecuali kalau Anda mengganti arti kata Kristus ke
logo-logo yang universal. Begitulah caranya, namun cara ini tidak sesuai
dengan teologi Kristen yang umum, baik ortodoks, Katolik ataupun Protestan.
        Itulah masalah utama beberapa agama. Namun permasalahannya tidak
begitu dalam Islam dan dalam beberapa segi dalam Hindu. Saya yakin kunci
utama adalah pemahaman yang sama antar agama. Saya tidak akan
menggambarkan caranya sebab bukan masalah pokok.
        Perlu diketahui bahwa setelah 50-60 tahun kita menggelar pertemuan
dan wacana umum kita tidak dapat melakukannya berdasarkan pada kesopanan
atau kebijaksanaan. Tuhan tidak akan pernah memaafkan siapa pun yang
mengabaikan-Nya semata-semata untuk perdamaian bumi saja. Sungguh buruk
perkara semacam ini. Saya mengenyampingkan setengah kepercayaan saya
pada Tuhan dan Anda pun seperti itu dan kita hidup damai bersama dengan
sisa-sisa yang ada. Bagaimana kita sebagai orang yang percaya pada Tuhan
akan mempertanggungjawabkan diri kita pada Tuhan di Hari Pembalasan?
Bukan, ini bukan permasalahan yang saya bicarakan.
        Saya juga tidak hanya bicara tentang toleransi. Saya tahu ini adalah kata
kunci yang diterapkan oleh Barat. Tentu saja untuk bersikap toleran kepada
siapa saja. Kecuali kalau mereka menentang saya, maka saya tidak toleran pada
mereka. Ada sebuah artikel di Manchester Guardian yang tidak setuju pada
pendapat saya dan menyebut saya orang fanatik. Namun toleran ini adalah
pseudo-toleran yang termasuk salah satu kebaikan palsu (pseudo virtues) dunia
modern. Walaupun Anda menganggapnya sebagai suatu kebenaran belum
cukup. Saya selalu memberi contoh seperti berikut: Ketika Anda sakit gigi dan
dokter giginya sedang berlibur, istri Anda bilang tahanlah rasa sakitnya hingga
dokter gigi itu tiba. Anda mentoleransi sakit Anda. Anda mentolerir apa-apa
yang Anda tidak suka. Tentu saja hal seperti itu tidak akan menjembatani
pengertian antar peradaban dan agama. Pengertian yang tercipta mesti benar-
benar berdasarkan pada kebenaran, realitas dan hak yang dalam bahasa Arab
berarti kebenaran dan realitas. Tanpa ini semua tidak akan ada pengertian.
        Ada konsekwensi politis dari pernyataan di atas, ketika toleransi hanya
berdasarkan pada politik maka toleransi semacam ini tidak mempunyai arah.
Saya melakukan dialog selama 40 tahun dengan gereja Katolik. Sejak 24 tahun
saya pergi ke Maroko. Setelah 40 tahun Kardinal Ratsinger menyatakan bahwa
seluruh non-Katolik adalah ahli neraka. Dia mempertahankan katolikisme
permasalahannya tidak benar-benar mencair. Oleh karena itu saya telah menyia-
nyiakan waktu selama 40 tahun sebab saya jadi ahli neraka, dan dia ke Surga,
jadi apa yang sedang kami dialogkan? Kenapa menyia-nyiakan waktu kita?
Saya bicara sangat jujur. Tapi begitukah Kardinal Rasinger yang saya tahu
secara personal dan merupakan salah seorang kardinal terhormat di gereja
Katolik?
        Orang-orang yang ingin memahami dan respek pada pernyataan saya
tidak percaya lagi pada Katolik. Mereka tidak akan menajdi umat Kristen yang
sangat baik. Saya pernah diserang di Kota Qum oleh seseorang karena saya
berkata bahwa saya lebih suka bila John Hick masih percaya pada inkarnasi
daripada tidak setuju pada saya bukannya percaya pada saya dan tidak percaya
pada inkarnasi. Alasannya adalah jika John Hick mau berkompromi dengan
pemikir Islam misalnya saya sendiri dan menanggalkan inkarnasi, lalu siapa
John Hick? [[]]Bila saya setuju kepada John Hick maka ada seorang laki-laki di
kota Birminghan bersama satu juta orang lainnya. Apa yang dia wakili? Yang
masing-masing agama mesti wakili adalah kolektivitas, teologi mayor,
padnagnan filosofis, bukan pandangan pribadi saya. Saya mengambil satu
langkah menjauh dari umat saya untuk menentramkan seseorang di sisi lain.
Banyak muslim telah melakukannya untuk mendapatkan pekerjaan selama
enam bulan di universitas tertentu atau visa untuk kembali ke Barat, Masya
Allah kita selalu melakukannya.
        Yang mesti dilakukan adalah berpegang pada kebenaran untuk mencapai
pengeritan. Saya percaya jika masalah ini tidak terpecahkan, maka dialog
peradaban tidak akna pernah terjadi di mana-mana. Saya sedikit khawatir
karena dialog peradaban diumumkan oleh UNESCO karena UNESCO
menghilangkan satu huruf yaitu huruf “a”, agama. Ini terjadi karena dilarang
dari UNESCO oleh pemerintah Soviet dan komunis Cina ketika UNESCO
didirikan, dan berdasarkan definisi UNESCO adalah organisasi sekuler yang
selalu mencoba untuk tidak berbicara tentang agama.
        Apabila kita bicara tentang Ghazali sebagai seorang pemikir dari
Kurasan apa arti kata „pemikir‟? pemikir tidak berarti suatu hal yang buruk.
Ghazali adalah salah seorang figur terpenting dalam sejarah Islam saya sedikit
khawatir. Saya berpidato di UNESCO tahun allu mengenai isu sebelum tahun
2001. Bila dialog peradaban tdiak memeprtimbangkan sentralitas agama maka
segala sesuatu yang lain menjadi sekunder, ini tidak relevan. Bila Islam dan
Hindu tidak dapat saling memahami maka membandingkan Taj Mahal dengan
beberapa bangunan Hindu dan lain sebagainya benar-benar sekunder. Kita tidak
akan memahami peradaban-peradaban satu sama lainnya.
        Hal seperti ini juga berlaku untuk Barat. Untungnya di Barat masih
tersisia sesuatu dari Yahudi dan Kristen. Jadi dialog antara Islam dan barat, atau
dunia Hindu dan Barat pertama-tama mesti menyentuh orang-orang di Barat
yang masih percaya pada realitas metafisik dan sistem etis yang secara faktual
sama dengan kita, yaitu orang-orang yang masih Yahudi dan Kristen atau masih
bergantung pada-Nya. Malangnya, tentu saja terdapat begitu banyak
penyimpangan yang terjadi antar Kristen sehingga sulit mengatakan siapa yang
Kristen. Ada sebuah lelucon di Amerika Serikat: seorang laki-laki bertanya
pada seseroang, apa yang anda percayai? Dia menjawab saya tidak percaya
pada sesuatu pun. Kalau begitu anda adalah seorang Anglikan. Lelucon ini terus
menggelinding dan menjadi tragedi yang besar.
        Seluruh agama adalah jantung peradaban-peradaban. Ada beberapa
elemen yang semuanya berdasarkan agama dalam satu sisi atau pada sisi
lainnya, tapi tdiak identik dengannya, hal ini mesti diperhatikan dalam dialog
peradaban yang serius.
        Pertama-tama dalah pandangan dunia. Ide yang mendasari yang nota
bene-nya adlaah agama dalam pemahaman metafisik, filosofis dan teologis,
yaitu prima. Mungkin ada keharmonisan antar peradaban jika tidak ada
keharmonisan pada pandangan dunia. Tidak akan pernah ada keharmonisan
yang sempurna. Mungkin ada perjanjian untuk tidak saling membunuh, itu
adalah hal yang lain, bukan berarti keharmonisan. Harmonis artinya dua sifat
yang sesuai bagi kedua pihak. Mereka dikombinasikan satu sama lain dengan
cara yang harmonis. Jadi hal yang pertama adalah pandangan dunia. Alasan
saya menggunakan istilah ini, tidak pakai istilah agama adalah karena seseroang
akan ikut-ikutan mengatakan Budha dan Konghucu bukan agama. Kata-kata ini
adalah kata-kjata yang tidak bermanfaat (nonsense). Tetapi jika anda
menggunakan istilah pandangan dunia maka alam mencakup semuanya, yaitu
pemahaman puncak kita pada realitas. Apa pemahaman puncak kita mengenai
realitas? Ia (pemahaman puncak tentang realitas) adalah yang menentukan
bagaimana kita bertindak, berpikir dan bersikap. Pandangan kita visa vis
ultimate (puncak) menentukan segala sesuatu yang kita lakukan, baik yang
positif ataupun yang negatif, setengahnya sepenuhnya, yaitu jantungnya. Oleh
karena mengapa agama begitu signifikan. Lalu siapa manusia itu? Tentu saja
saya menggunakan istilah “man” dengan arti umat manusia, insan. Seperti apa
umat manusia itu? Kemana kita pergi? Apa tujuan kehidupan manusia? semua
pertanyaan ini dihubungkan oleh setiap peradaban ke agama? Setiap agama
mencoba menjawab pertanyaan ini. Beberapa agama, misalnya Konghucu tidak
berbicara banyak tentang asal kita? Cosmogory, anthropogenesis. Tetapi
semuanya telah berbicara mengenai apa kita, bagaimana kita sebaiknya
bertindak, kemana kita pergi, apa tujuan kehidupan manusia. bila suatu agama
tidak melakukan ini, maka ini bukan agama. Jadi inilah elemen penting pertama
yang dihasilkan oleh pandangan dunia. Sifat umat manusia dan tujuan
kehidupan dihubungkan dengan alam dunia sekitar kita, dunia alam cosmos.
Oleh karena itu walaupun mengacu pada Islam, pada Al-Qur‟an …. Hadits
Nabi, selalu saja mengacu pada “umat manusia” dan “sifat” dalam Bahasa
Arab.
        Dalam Al-Qur‟an kita mendapati beberapat ayat mengacu pada manusia,
beberapa yang lainnya pada matahari, bulan, langit, tanaman, binatang, buah-
buahan, dan lain-lain. Terdapat keseimbangan di antara mereka. Bagaimana kita
melihat diri ktia sendiri menentukan bagaimana kita melihat dunia. Lihatlah
dunia modern. Pertama-tama duni ini (sekuler) mensekulerkan dunia modern,
lalu menciptakan manusia sekuler dalam bentuk lingkaran setan yang membawa
kita pada ujung jurang.
        Kemudian ada interaski sosial dan struktur sosial. Kita bukan hanya
individu-individu yang hidup sebagai manusia di masyarakat. Setiap peradaban
besar menciptakan strukutr sosial yang luar biasa, semuanya tidak identik.
Identitas hanyalah dalam kesatuan pelaku. Di setiap tempat terdapat perbedaan
ungkapan. Sangat mencengangkan ternyata tatanan keluarga Konghucu identik
dengan tatanan keluarga Islam. Kemiripan seperti ini adalah kemiripan seluruh
peradaban tradisional bahkan pada tingkat sosial. Misalnya, hirarki dalam
keluarga, baik anda seorang Indian Amerika, hindu, Muslim atau Sinta Jepang
nenek moyang selalu lebih dekat pada Tuhan karena dia lebih dekat ke sumber
ras manusia. dalam Islam, kita tidak mempuyai sesembahan nenek moyang
seperti di Cina. Namun, menghormati orang tua dan kakek nenek adalah bagian
surah dalam Islam pemuda muslim di zaman saya telah kehilangan karunia ini.
Saya punya teman seorang Persi yang mengatakan bahwa setiap kali saya
menghadap ayah saya, saya harus berdiri dengan hormat pada ayah saya. Dan
apa saja yang dia katakan saya akan mengatakan ya. Saya selalu berpikir bahwa
ketika saya berumur 50 tahun, anak saya harus seperti begitu juga. Sekarang
saya berdiri di depan anak saya dan mengatakan ya apa pun perkataan dia.
Tentu saja ini merupakan perkecualian dari rusaknya hirarki yang selalu ada.
Selalu ada kepentingan keluarga, perbedaan jenis k eluarga, ikatan yang dekat.
        Pentingnya etika. Tidak ada peradaban yang tiak mempunyai etika.
Setiap tindakan mempunyai efek pada jiwa. Kata orang para pengikut Yoga di
India percaya bahwa segala sesuatu adalah maya, mereka tak percaya pada
etika, kepercayaan ini tidak bermakna apa-apa (nonsense). Mereka tak mengerti
apa-apa tentang Hindu. Tidak ada perkecualian dalam Islam, Hindu, Budha,
Yahudi, Kristen. Ide bahwa tatanan sosial mesti diikat oleh norma etis tertentu
yang pada akhirnya mempengaruhi kita sebagai umat manusia yang dilahirkan
untuk keabadian. Etika mempengaruhi kita dalam cara yang terbaik, dan oleh
karena itu etika tidak hanya baik tapi juga berfungsi sebagai pemelihara nilai-
nilai tertentu, kemungkinan-kemungkinan sikap tertentu. Etika mengikuti
kehidupan agama tertentu yang benar-benar penting bagi keberadaan manusia.
        Oleh karena itu anda memiliki apa-apa yang orang sedikit perhatikan
yaitu seni. Seni adalah seluruh wewenang pembuatan segala sesuatu. Saya
menggunakan kata seni dalam arti tradisional berdasarkan kata bahasa latin atau
dari kata Arab Sina‟a yang berarti pembuatan segala sesuatu. Tuhan adalah
seniman terbesar, Dia telah memberi kemampuan kepada kita. Kemampuan ini
kemampuan yang sangat penting bagi dialog dan pengertian antar peradaban.
Seringkali kekuatan seni juga dapat memberi arti yang tidak mudah dikaitkan
dengan teologi atau filosofi.
        Pada saat seru-serunya Barat berseteru dnegan Iran, bila orang-orang
mendengar konser musik Persia atau melihat pameran miniatur Persia di
Musium Victoria dan Musium Albert maka merka akan tertarik. Inilah peran
besar seni dalam menyampaikan pesan. Tapi, ingat bahwa dalam peradaban
tradisional, seni selalu menggambarkan ungkapan kebenaran agama. Saat ini
seni religius mungkin benar-benar tidak religius. Subjeknya adalah religius.
Oleh karena itu, kami membedakan seni religius dan seni sakral. Seni religius
adalah seni yang kebetulan berbau religius. Seni sakral adalah seni yang
bentuknya merefleksikan realitas Ilahiyah, yang prinsip dan simpbolnya adalah
meta individual. Oleh karena itu, saya telah menyebutkan bahwa beberapa surat
dalam Mazmur yang dijadikan lagu pada abad 20 lebih mempunyai muatan
religius daripada lagu-lagu pengiring minum-minuman keras di abad
pertengahan, begitulah kenyataannya.
        Taba abad 13 lebih dekat pada seni Kristen daripada ke gereja-gereja di
London ddan di banyak kota lainnya. Seni peradaban tradisional selalu
berkatian dengan sesuatu yang sakral, yaitu kejantungnya peradaban.
Arsitektur, puisi, musik, kaligrafi, masing-masing peradaban menghasilkan
jenis-jenis seni tertentu, bukan seluruh bentuk. Tapi semuanya merupakan kunci
yang sangat penting. Inilah paradoks besar kesulitan dialog.
        Dalam Barat modern, seni menempati posisi teramat penting. Bagi
banyak orang, seni telah mengambilalih posisi agama. Bila anda menodai nama
Kristus maka tidak akan seorang yang merespon pada anda. Tapi bila anda
merendahkan lukisan Michael Angelo maka pasti ada yang merespon pada
anda. Anda benar-benar tak berada. Kenyataan ini nyata ketika terjadi tragedi
besar di Afganistan bulan yang lalu. Taliban yang merupakan ciptaan Wahabi
di jantung Islam Timur (saya tidak pernah melihat bentuk Islam ini) dengan
pertolongan tentara Pakistan, Taliban menghancurkan patung Budha di Banyan.
Perbuatan ini bertentangan dengan sunah Nabi. Saya menulis sesuatu saat itu
dan setiap orang di Departemen Serikat (USA, pent) memanggil saya. Saya
biasanya tidak mau terlibat dalam politik kecuali menulis sedikit surat. Saya
berkata bahwa tatkala Umar memasuki Yerusalem dia menolak sholat di dalam
Gereja Sepecure Suci. Dia meletakan sejadahnya di luar pintu dan sholat di sana
sehingga tak ada seorang pun shalat di dalam. Tidak ada patung Kristen yang
dirusakkan oleh khalifah.
        Jadi apa yang diperbuat Taliban? Yang betul-betul mereka ingini adalah
melukai Barat sebab Barat telah melakukan embargo yang membunuh begitu
banyak anak-anak Afghanistan. Mereka tahu bahwa bila mereka mengutuk
Kristen maka tak seorang pun yang peduli. Tetapi perusakan seni akan
membuat orang-orang bereaksi. Ketika lebih dari 10.000 anak-anak Afganistan
meninggal karena embargo, beberapa artikel singkat muncul di halaman 55
pada New York Times. Tapi tidak lama setelah tragedi penghancuran ini
beritanya dimuat di halaman depan di setiap koran di Inggris dan Amerika.
Begitulah sebenarnya makna dialog agama. Arti seni. Bagi banyak orang seni
biasanya tidak berarti, banyak bentuk sisi yang menggiring ke Neraka. Mereka
merupakan ekspresi gerak hati yang terendah dan kejam. Walaupun demikian
seni nyaris suci, ia menggantikan posisi kagama bagi banyak orang. Bila
seseorang akan berdialog bukan antar peradaban-peradaban tradisional tetapi
antara peradaban-peradaban tradisional dan Barat maka inilah salah satu
permasalahan-permasalahan yang penting. Misalnya, saat ini Amerika merasa
mengalahkan peradaban non Barat bila mereka mendengarkan rock and roll.
Inilah tanda kemenangan peradaban Barat. Dalam satu sisi mereka (orang
Amerika) benar karena ini (tanda kemenangan) mereka merupakan satu jenis
terobosan jiwa pemuda. Tak ada seni yang tidak memiliki psan, apakah ia
patung atau miniatur Parsi. Tidak ada pesan dua peradaban yang sama. Dalam
dialog ini perlu dijalin saling pengertian. Banyak kaum muslimin yang tidak
mengerti pengaruh seni Barat. Oleh karena muncullah begitu banyak mesjid
buruk di dunia Islam. Sekali waktu mantan mentri Agaf di Indonesia bertanya
kepada saya tentang masa depan Islam di Indonesia. Kata saya, pertama-tama
hancurkan mesjid nasional anda yang dibangun oleh seorang pendeta Belgia
yang telah menjadi seorang Ateis. Saya yakin bahwa mesjid nasional ini
merupakan salah satu dari tiga atau empat bangunan terburuk di dunia yang
digunakan untuk beribadah. Halnya seperti demikian karena umat Islam tidak
mengerti pengaruh seni pada jiwa. Saya memberikan contoh-contoh konkrit ini
dari Taliban sampai masjid di Jakarta untuk menunjukkan betapa pentingnya
dialog antar agama ini dalam kategori terakhir.
        Dan akhirnya saya ingin menyimpulkan dengan mengatakan sesuatu
yang berlawanan dengan kata-kata banyak sekuralis katakan, khususnya di
Eropa yaitu kata kata: agama tidak pergi jauh. Saya ingin menunjukkan sebuah
buku yang baru saja keluar di Amerika yang telah memancing banyak
perdebatan yang disebut desekulerisasi masyarakat. Bahkan sekulerisasi
masyarakat tapi desekulerisasi. Keduanya merupakan proses yang bertentangan.
Buku ini ditulis oleh sosiologis Amerika yang paling terkenal, yaitu Peter
Berger. Dia adalah salah seorang teoritis terbesar tentang teori sekuler. Buku ini
terdiri dari beberapa essei karya para ahli terkenal selruuh dunia, dan esei
pembukanya ditulis oleh Peter Berger sendiri. Semua isinya menyajikan, tesis
bahwa seluruh agama dunia mengalami peningkatan luar biasa, kecuali di Eropa
Barat, apakah itu Amerika Utara, Amerika Selatan, dunia Islam, Budha Asia,
bahkan Komunis Cina. Apakah Konghucu lebih kuat di jaman sekarang atau di
jaman Mao Tse Tung. Saya kira semua orang tahu bahwa Konghucu mengalami
kemajuan bahkan di Komunis Cina. Pada Hindu India seluruh sekulerisme,
Nehru adalah sejarah, tak seorang pun membicarakannya lagi. Di dunia Islam
figur yang anti Islam pada abad 20 yaitu Kemal Ataturk. Saya yakin bahwa
semua tidak akan berlangsung lama.
         Seluruh gelombang sekulerisasi yang terjadi di awal atau pertengahan
abad 20 bertentangan dalam atu atau dua hal. Jadi apa yang akan keluar
darinya? Tapi ide yang orang-orang pegang dan masih dipegang oleh banyak
ahli sejarah Inggris dan Perancis adalah bahwa ini semua adalah sebuah
epiphenomena yang berdasarkan faktor ekonomi dan sosiologis dan agama akan
benar-benar dilupakan. Hal ini benar-benar salah, sedikitnya bagi masa depan
yang dapat diterka.
         Orang yang berpikiran bahwa Iran dan Mesir akan memasuki fase pasca
Islam seperti halnya Inggris yang sekarang mengalami pasca Kristen adalah
orang yang sedang mengalami. Apa yang sedang terjadi di Eropa adalah
persoalan rumit yang tidak akan saya bicarakan. Saya akan menyimpulkan
bahwa wagama tidak sedang melemah di dunia. Bahkan semkain menguat,
kadang-kadang muncul dalam bentuk yang buruk yaitu bentuk yang fanatik.
Kapan saja sesuatu mengancam bila seseorang meninju perut anda maka anda
dengan segera mengerutkan otot-otot perut anda. Itulah reaksi pada pemukulan.
Begitu pula yang terjadi di dunia Islam, Hindu, Budha. Namun bila anda
melihat dari kejauhan, jelas bahwa di bidang seni bahkan di bidang pemkirkan
sekulerisasi nampak melemah. Oleh karena itu bila anda melakukan dialog
peradaban maka agama jelas menjadi titik tumpunya. Tanpa pemahaman
terhadap agama yang merupakan kebenaran universal dan berkaitan dengan
kita, Islam sebagai komunitas yang religius dan politis, maka dialog peradaban
tidak akan pernah sukses.
         Dunia telah berubah sedemikian rupa sehingga ktia semua akan selamat
atau tenggelam bersama-sama. Pikiran beberapa penyebar Kristen bahwa
Kristen bakal datang dan menyelamatkan beberapa ribu orang, sementara yang
lainnya akan dikutuk dan dimasukkan ke Neraka. Dengan karunia Ilahiyahnya
Allah tidak mungkin melakukan hal semacam itu. Anda akan mengalami
semakin banyak peperangan antara orang yang beriman dan orang tidak
beriman. Orang-orang yang mendasarkan pandangannya pada Tuhan dan orang-
orang yang selainnya. Keadaan seperti ini akan menyebar sedemikian rupa
sehingga pengaruh modern menyebar ke Timur, sedangkan elemen yang
lainnya ke Barat. Kita sekarang sedang menyaksikan sejenis pertempuran darat
yang Tuhan ketahui, mungkin menjadi pemandangan terakhir dalam sejarah
manusia. Peperangan ini adalah peperangan untuk tidak membicarakan kiasan
yang sudah biasa yaitu gelap dan terang tetapi peperangan antara orang-orang
beriman, orang-orang yang baginya aspek realitas yang transedental dan luhur,
dan orang-orang yang tidak beriman.[]

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:356
posted:12/27/2010
language:Indonesian
pages:15