BANI UMAYAH

					                                BANI UMAYAH


PENDAHULUAN
      Permulaan perpecahan umat Islam boleh dikatakan sejak wafatnya Nabi
Muhammad SAW. Perpecahan memuncak setelah terpilihnya Ali sebagai khalifah
keempat. Sebagian orang-orang turut membai‟at Ali menghianati janji-janji mereka,
maka timbullah huru-hara perang saudara di kalangan kaum muslimin sampai
pemerintah dipegang oleh Bani Umayah. Tetapi pembinaan masyarakat Islam telah
hancur berantakan dan tali kesatuan yang mengikat mereka telah putus. Perselisihan
paham memperebutkan kursi kekhalifahan selalu ada. Masing-masing golongan
memperkuat pendirian mereka dan berusaha keras mengalahkan lawannya baik
dengan kata-kata maupun dengan langkah dan perbuatan.
      Dalam pertempuran antara golongan Ali dengan golongan Muawiyah, tentara
Ali dapat mendesak tentara Muawiyah sehingga tentara Muawiyah bersedia untuk
lari. Tetapi tangan kanan Muawiyah yaitu „Amr bin Al-„Ash yang terkenal orang
yang licik meminta berdamai dengan mengangkat Al-Qur‟an ke atas. Dengan
demikian dicarilah perdamaian dengan mengadakan arbitrase. „Amr bin Al-„Ash dari
pihak Muawiyah dan Abu Musa Al-Asy‟ary dari pihak Ali. Sejarah mengatakan
bahwa diantara keduanya mendapat kesepakatan untuk menjatuhkan pemuka yang
bertentangan. Abu Musa Al-Asy‟ary sebagai yang tertua berdiri mengemukakan
kepada orang-orang ramai memutuskan menjatuhkan pemuka itu. Sedangkan Amr
bin „Ash hanya menyetujui penjatuhan Ali. Sejak peristiwa itu maka lahirlah dinasti
Bani Umayah.
      Bani   Umayah     merupakan     kekhalifahan   setelah   berakhirnya    masa
khulafaurrasyidin yaitu sampai Ali bin Abi Thalib. Bani Umayah terdiri dari dua
masa peradaban yaitu peradaban Islam pada masa Umayah di Timur atas rintisan
Muawiyah (661-680 M) yang berpusat di Damaskus dan bani Umayah Barat atau
terkenal dengan Bani Umayah II yang berpusat di Andalusia di bawah pimpinan
Abdurrahman Ad-Dakhil.




                                                                                 1
       Daulah Bani Umayah Timur merupakan fase ketiga kekuasaan Islam
berlangsung selama kurang lebih satu abad (661-750 M). Fase ini bukan saja
merupakan adanya perubahan system kekuasaan dari masa sebelumnya (masa Nabi
dan khulafaurrasyidin), tetapi terjadi juga perubahan di bidang polotik, social, budaya
dan ekonomi. Ciri yang paling menonjol danya:
1.     Sistem pemerintahan secara depotisme, yaitu pemerintahan yang dipegang oleh
       satu tangan kaisar atau raja.
2.     Pemindahan ibu kota kekuasaan Islam dari Madinah ke Damaskus.
3.     kekuasaan dikuasaioleh militer arab dari lapisan bangsawan.
4.     Expansi kekuasaan secara besar-besaran ke spanyol, afrika utara, timur tengah
       samai ke tiongkok.
       Dengan demikian selama periode initelah berlangsung langkah-langkah baru
untuk merekonstruksi otoritas dan sekaligus kekuaaan khalifah, dan merupakan
faham golongan bersama dengan elit pemerintahan. Kekuasaan arab menjadi sebuah
sentralisasi monarkis.
       Dinasti Umayah dalam melakukan expansinya telah menunjukkan satu
kekuasaan besar yang melebihi imperium Roma, keberhasilan expansinya ditunjang
oleh kehalusan agama Islam yang menarik minat masyarakat yang dibelenggu oleh
kekuasaan Romawi pada saat itu untuk lepas merdeka dapat terasa telah adanya
expansi daulah yang dilakukan oleh pahlawan-pahlawan Islam.


A. KELAHIRAN BANI UMAYAH
     1. Silsilah Bani Umayah
                Umayah adalah salah satu putra ”Abdi Syam Abdi Manaf” yang
        merupakan bangsawan arab yang sangat terkenal karena memimpin kabilah
        Quraisy di zaman jahiliyah, Umayah selalu bersaing dengan pamannya
        Hasyim ibn Abdi Manaf dalam memperebutkan pimpinan dan kehormatan
        pada masyarakat dan bangsanya. Dalam persaingan ini keluarga Umayah




                                                                                     2
           lebih unggul karena secara adat masa itu ia memiliki persyaratan cukup
           sebagai pimpinan Quraisy.1
                   Sesudah Islam datang, persaingan antara Bani Umayah dan Bani
           Hasyim mengarah pada persaingan yang bersifat konfrontasi (permusuhan).
           Dua keluarga ini berpegang teguh pada fahamnya yang bertentangan.
           Keluarga Bani Hasyim adalah pendukung Rasulullah sedangkan keluarga
           Umayah menentang Rasulullah kecuali Usman bin Affan RA.
           Dari silsilah di bawah ini dapat dilihat hubungan yang erat antasa Rasulullah
           dengan keluarga Bani Umayah yang bersatu di Abdul Manaf.




                                  SILSILAH BANI UMAYAH




                                                   2




1
    Prof. Dr. A. Syalaby, Sejarah kebudayaan Islam, Pustaka Al-Husna Jakarta, 2003 hlm. 21
2
    Dudung Abdurrahman, Peradaban Islam Masa Umayyah Timur cet. 2002, hlm. 83



                                                                                             3
      2. Siapakah Muawiyah itu?
                   Dari silsilah diatas dapat dilihat bahwa Muawiyah adalah putra Abu
           Sofyan Ibn Harb dan Putra Muawiyah menikah dengan Hindun Ibnu Syaibah
           putra Rabiah yang bertemu dengan Syam. Yang masih satu keturunan puncak
           yaitu Abdul Manaf. Muawiyah lahir 15 tahun sebelum Hijrah tepatnya
           Mekkah 602 M, dan meninggal di Damaskus rajab 60 Apal 680 M, sebagai
           keturunan Abdul Manaf Muawiyah mempunyai hubungan keluarga dengan
           Nabi Muhammad SAW. Ia menganut Islam pada saat Fathu Mekkah tahun
           629 M.3
                   Pada saat fathu mekkah, Rasulullah ingin sekali mendekatkan orang-
           orang yang masuk Islam, agar perasaan mereka pada Islam lebih terjamin, dan
           ajaran Islam lebih tenteram di hati mereka. Sebab itu, Rasulullah berusaha
           supaya Muawiyah lebih akrab dengan Rasulullah. Diantaranya dengan
           mengangkat nama bapaknya yaitu Abu Sofyan pada saat penaklukan kota
           Mekkah dengan ancaman rasulullah:
           “Barang siapa masuk Islam ke rumah Abu Sofyan maka amanlah”.4
           Karir politik Muawiyah dimuali pada zaman khulafaurrasyidin diantaranya:
           1.     Pada masa khalifah Abu Bakar Shidiq, Muawiyah ikut menumpas
                  Nabi-Nabi palsu.
           2.     Umar bin Khattab mengangkat Muawiyah sebagai gubernur Yordania.
           3.     Usman bin „Affan mengangkat Muawiyah sebagai gubernur Syam.
           4.     sebagai panglima perang yang ditugaskan merebut wilayah Palestina,
                  Sunna, Mesir dan Roma 632 M.
           Ambisi politiknya sudah terlihat ketika ia nasuk Islam. Ia selalu bersaing
           dengan pamannya Hasyim sebagai keturunan bangsawan Quraisy Muawiyah
           masih punya pengaruh di Mekkah pada saat itu. Sepeninggal Rasulullah,
           muawiyah        sudah      menginginkan         jabatan     khalifah      tetapi   tidak
           menampakkannya pada masa Abu Bakar                   dan Umar. Baru setelah Umar

3
    Ensiklopedi Islam hl. 247, PT Ichar Baru Van Hoeve Jakarta, Jld 3
4
    Prof. Dr. A. Syalaby, Sejarah kebudayaan Islam, Pustaka Al-Husna Jakarta, 2003 hlm. 23



                                                                                                 4
           meninggal, Muawiyah menyokong pencalonan Usman sehingga akhirnya
           Usman terpilih. Mulai saat itulah Muawiyah meletakkan dasar-dasar untuk
           menegakkan khalifah Bani Umayah. Pada masa khalifah Usman inilah
           Muawiyah mencurahkan segala tenaganya untuk memperkuat dirinya dengan
           menyiapkan dan menyiapkan daerah Syam sebagai pusas kekuasaannya di
           kemudian hari.5


      3. Peranan Muawiyah Dalam Membangun Bani Umayah
                   Pemerintahan Usman bin „Affan merupakan pintu bagi Muawiyah
           untuk meniti karirnya di bidang pemerintahan dengan didukung oleh
           kepribadian kuat, jujur, demawan derta ahli dalam bidang politik. Muawiyah
           yang pada saat itu memegang jabatan gubernur Syam dengan diberi
           kekuasaan penuh oleh Usman bin „Affan berhasil memanfaatkan peluangnya,
           dengan cara:
           a. Meletakkan dasar-dasar pemerintahan yang kuat di wilayah Syam
           b. Menata administrasi pemerintahan yang baik
           c. Membentuk Angkatan Bersenjata Professional yang digaji Negara
           d. Meningkatkan kesejahteraan rakyat.
                   Ketika Ali bin Abi Thalib naik menggantikan khalifah Usman bin
           „Affan yang dibunuh oleh al-Ghafiki. Muawiyah selaku gubernur Syam
           membentuk partai yang kuat dan menolak memenuhi perintah-perintah Ali.
           Dia mendesaknya untuk membalas kemarahan khalifah Usman atau kalau
           tidak dia akan menyerang Ali bersama tentara Syiria. Desakan Muawiyah ini
           akhirnya tertumpah pada perang Shiffin (37 H).
                   Dalam pertempuran sengit antara pasukan Ali dan pasulkan Muawiyah
           itu, hamper-hampir pasukan Muawiyah terkalahkan. Tetapi pada saat
           Muawiyah dalam keadaan terdesak, Amr bin Ash menasehati Muawiyah agar
           pasukannya mengangkat mushaf-mushaf Al-Quran di ujung lembing-lembing
           mereka sebagai seruan          damai. Ali emenasihati pasukannya agar terus

5
    Dr. A. Syalaby, Sejarah kebudayaan Islam, Pustaka Al-Husna Jakarta, 1983 hlm. 27



                                                                                       5
        berperang secara sempurna sehingga mencapai kemenangan, tapi di lain pihak
        sebagian pasukannya menginginkan Ali berperang. Dengan demikian
        pasaukan Ali pecah menjadi dua golongan dan akhirnya menghentikan
        peperangan dan berjanji untuk menerima.6
                Ali dan Muawiyah mengadakan perundingan dengan ketentuansebagai
        berikut:
        1. Perundingan diadakan di Daumatul Jandal, sebuah kota kecil dekat terusan
            Suez.
        2. Masing-masing pihak diwakili 100 utusan.
        3. dari pihak Ali dipimpin oleh Abu Musa Al-Asy‟ary dari pihak muawiyah
            dipimpin oleh Amr Bin Ash.
                Perundingan ini berlangsung pada bulan Ramadhan th 34 H terkenal
        dengan sebutan “Tahkim Daumatul Jandal”. Peristiwa tahkim itu justru
        merugikan Ali, mengakibatkan banyak pengikut Ali telah ingkar yang
        kemudian disebut Kaum Khawarij, pada saat itu ummat Islam terbagi ke
        dalam 3 golongan:
        1. Bani Umayah dipimpin oleh Muawiyah
        2. Syi‟ah atau pendukung Ali yaitu golongan yang mendukung kekhalifahan
            Ali.
        3. Khawarij yang menjadi lawan kedua golongan.7
                Kaum Khawarij bukan saja meninggalkan Ali, tapi lebih dari itu
        membentuk komplotan pembunuh yang akan dilakukan pada Ali, Muawiyah,
        dan Amr bin‟Ash yang mereka anggap sebagai pemecah belah umat Islam.
        Dari ketiganya Ali-lah yang berhasil dibunuh oleh Ibnu Muljam, ketika
        sedang memanggil orang untuk shalat Shubuh tanggal 20 Ramadhan 40 H
        (66 M) di Mesjid Kuffah wafatnya Ali maka berakhirlah masa pemerintahan
        Khulafaurrasyidin.


6
 Abdul A‟la Al Maududi, Khalifah dan Kerajaan, terj. Bandung, Mizan 1984, hlm 179
7
 Hasan Ibrahim Hassa, Sejarah Kebudayaan Islam, terj. Jahdan Ibnu Humam, Yogyakarta, Kota
Kembang, hal. 63



                                                                                            6
                    Semula ada upaya pihak Hasan, putra Ali untuk menuntut balas
           kematian ayahnya. Selain itu ada yang mengusulkan agar Hasan
           menggantikan posisi ayahnya, tetapi Hasan tidak punya kekuatan pengikutnya
           dari segi peralatan perang dan Hasan tidak mengizinkan adanya pertumpahan
           darah lagi, akhirnya dia bersedia mengakui Muawiyah sebagai khalifah
           dengan syarat-syarat sebagai berikut:
           1. Muawiyah tidak menaruh dendam terhadap penduduk Irak.
           2. Muawiyah menjamin keamanan dan memaafkan penduduk Irak dan tidak
               menjelek-jelekan nama Ali dalam Khutbah dan pidatonya.
           3. Pajak tanah Negara Ahwaz diserahkan pada Hasan tiap tahun.
           4. Muawiyah membayar kepada saudaranya Husain 2 Dirham.
           5. setelah muawiyah wafat, penentu kekhalifahan diserahkan musyawarah
               kaum muslimin untuk menentukan penggantinya.
                    Bagi Muawiyah syarat itu bukan hal yang penting, karena pengakuan
           Hasan dan Husain sebagai cucu Rasul akhirnya membawa Muawiyah sebagai
           Khalifah bersama penduduk Kuffah bulan Rabi‟ul Awwal 41 H. peristiwa
           tersebut terkenal dengan sebutan “Ammil Jammaah” atau Tahun Persatuan.8


B. KHALIFAH YANG POPULER PADA BANI UMAYAH
      1. Muawiyah bin Abi Sofyan (40-60 H/661-680 M)
                    Muawiyah dilahirkan kira-kira 15 tahub sebelum hijrah, dan masuk
           Islam pada saat penaklukan kota Mekkah waktu berusia 23 tahun. Pada masa
           Rasul Muawiyah diangkat sebagai anggota dari siding penulis wahyu dan
           banyak meriwayatkan hadits, pada masa Abu Bakar muawiyah dikirim ke
           Damaskus untuk membantu Yazid ibn Abi Sufyan. Setelah kaum muslimin
           mencapai kemenangan yang gemilang di masa Usman RA, Muawiyah
           diangkat oleh Umar menjadi gubernur Yordania disinilah dia membuktikan
           sebagai seorang pemimpin yang berkepribadian kuat, jujur serta ahli dalam
           bidang politik. Pada masa Usman Muawiyah memegang jabatan gubernur

8
    Ensiklopedi Islam Jld. 3 hal. 248 Diknas Th. 2003



                                                                                     7
        Syam selama 20 tahun dengan kekuasaan penuh sampai pada saat
        terbunuhnya Usman.
                 Langkah-langkah Muawiyah dalam membangun politiknya dan
        pemerintahannya:
        1. Menjalin hubungan baik dengan keluarga Ali bin Abi Thalib
        2. Menetapkan pejabat pemerintahan secara tepat sesuai keahliannya.
        3. bersifat lapang dada tidak emosional dalam menghadapi persoalan
        4. bersikap toleransi pada agama Lain, sehingga mereka mengakui keadilan
             Muawiyah.9
                 Di masa pemerintahannya, Muawiyah telah menciptakan hal-hal yang
        baru, diantaranya:
        1. Prajurit harus mengangkat tombak bila mereka berhadapan.
        2. Membuat anjungan di mesjid.
        3. Mengadakan dinas pos.
        4. Mendirikan “kantor Cap” (percetakan uang)
        5. mendirikan Istana untuk Khalifah.10


        Masa kekuasaan khalifah
                 Ibnu katsir berkata bahwa Muawiyah telah mengganti Rasul SAW dan
        khulafaurrasyidin dalam masalah diyat. Muawiyah juga telah bertindak
        mewariskan orang-orang muslim dari seorang kafir.11
        Berkuasanya Muawiyah atas kendali pemerintahan merupakan tahapan
        peralihan yang menyimpangkan Negara Islam atau “daulah Islamiyah” dari
        sistem kekhalifahan ke sistem kerajaan adatu dari sistem dimokrat ke sistem
        depotisme. Masa kekhalifahan telah habis dengan turunnya Ali RA dan
        menyerahkannya pada Muawiyah.
        Ciri sistem pemerintahan depotisme:

9
  Prof. Dr. A. Syalaby, Sejarah kebudayaan Islam, jld. II cet. 10 Pustaka Al-Husna Jakarta, 2003 hlm.
26-27
10
   A. Hasymy, Sejarah Kebudayaan Islam, Bulan Bintang Jakarta, 1993 cet. IV hal 243
11
   Ibnu Katsir, Al Bidayan Wan Nihayan, jld VIII hal. 139



                                                                                                        8
           1. Raja adalah penguasa tunggal yang wajib ditaati
           2. Raja memiliki hak penuh untuk menetapkan hukum
           3. Rakyat berfungsi pengabdi pada raja.12


           Perluasan Kekuasaan Pada Masa Muawiyah
           1. ke Timur, yaitu Afganistan, Pakistan dan India
           2. ke Barat, Romawi dan Byzantium
           3. ke Afrika Utara perluasan ke daerah selatan.
                   Kepribadian Muawiyah yang menimbulkan kontroversional, tidak
           terlepas dari jasa-jasa beliau, beliau sebagian sahabat Rasulullah SAW harus
           pula diakui beliau menyatukan umat Islam dalam bendera yang satu,
           memperluas daerah expansi dakwah.


       2. Abdul Malik bin Marwan (65 – 86 H)
                   Abdul Malik bin Marwan di pandang sebagai pendiri kedua bani
           umayah, ketika dia diangkat sebagai khalifah, dunia Islam dalam kondisi yang
           terpecah belah. Ibnu Zubair di hizaj telah memproklamirkan diri sebagai
           khalifah, kaum syi‟ah dan khawarij mengadakan pemberontakan. Namun
           berkat kepiawaiannya akhirnya sedikit demi sedikit Abdul Malik bin Marwan
           dapat memudahkan kondisi kekhalifahan.
                   Abdul Malik bin Marwan memperoleh pendidikan yang tinggi,
           seorang ahli fiqih yang kenamaan, tampaknya abdul Malik orang yang tepat
           yang diangkat pada masa itu, ia tabah dan dapat menahan goncangan dan
           kesukaran yang dihadapi saat itu. Sehingga daulah bani Umayah kembali
           bersatu dibawah kekuasaannya.
                   Jasa-jasa besar Abdul Malik bin Marwan
           1. Berhasil mempersatukan umat Islam yang terpecah-pecah
           2. menetapkan       bahasa     arab   sebagai     bahasa    resmi    sehingga    besar
               pengaruhnya bagi perkembangan:

12
     Abdul A‟la Al Maududi, Khalifah dan Kerajaan, terj. Bandung, Mizan 1984, hlm 190-191



                                                                                               9
             a. Dunia ilmu pengetahuan
             b. Berkembang pesatnya sastra arab
             c. Terbinanya persatuan umat Islam
        3. mendirikan percetakan mata uang yang menggunakan tulisan arab
        4. mendirikan lembaga mahkamah tinggi
        5. berkembangnya seni arsitektur
        6. mendirikan berbagai industri.13
     3. Al-Walid bin Abdul Malik (86 -96 H)
                 Al-Walid lahir tahun 50 H. ketika ayahnya wafat, al-Walid diwarisi
        kerejaan stabil, tenteram dan bersatu. Al-Walid terkenal sangat pengasih
        terhadap rakyat kecil, beliau sangat menjunjung tinggi nasib rakyat di bawah
        kepemimpinannya. Maka terkenallah semboyan Abdul Walid Malik Bin
        Marwan sebagai arsitektur, maka al-Walib sebagai dekorator.14


        Karya-Karya Besar Al-Walid
                 Beberapa pembangunan yang dilakukan al-Walid menunjukkan jelas,
        petapa tinggi Islam dan betapa murni prinsip-prinsip dan bimbingannya, karya
        al-Walid antara lain:
        1. Mendirikan lembaga pemeliharaan anak yatim dan orang jompo
        2. mengangkat pegawai khusus untuk menuntun orang buta
        3. mendirikan rumah sakit kusta
        4. membangun jalan raya yang teratur
        5. membangun tempat minum di pinggir jalan
        6. membangun mesjid “Umair di Damaskus”15
                 Al-Walid dengan penuh arif dan bijaksana sehingga sangat dicintai
        oleh rakyatnya, maka berkembanglah Islam ke penjuru dunia diantaranya:
        1. dakwah ke wilayah Timur yaitu Samarkand, Turkistan dan Tiongkok
        2. dakwah ke afrika ke daerah maroko
13
   Prof. Dr. A. Syilabi-sama, hal 58-59
14
   Prof. Dr. A. Syilabi-sama, hal 71-73
15
   Prof. Dr. Hamka, Sejarah Umat Islam cet II Bulan Bintang Jakarta 1975 Hal. 85



                                                                                   10
           3. dakwah ke Andalusia dipimpin oleh Musa Bin Nusair dan Thariq Bin Jiad
               yang terkenal dengan penakluk selat Gilbartar.16
       4. Khalifah Umar bin Abdul Aziz (99-101 H)
                    Setelah khalifah walid bin Abdul Malik, wafat, pemerintah umayah
           dipegang saudaranya Sulaiman bin Abdul Maul (96-99 H) dan sejak 717
           Masehi pemerintahan dipegang Umar bin Abdul Aziz yang secara keturunan
           dari garis ibu bersambung ke Umar bin Khattab.
           Ia menghabiskan masa kecilnya bersama paman-pamannya dari pihak ibu di
           Madinah, pendidikannya yang begitu baik dimasa kecil mempengaruhi sifat
           istimewanya setelah jadi khalifah. Pada saat remaja Umar menikah dengan
           Fatimah putrid Abdul Malik pamannya pada masa pemerintahan al-Walid
           Umar menjadi gubernur di Madinah. Ketika khalifah Sulaiman sakit, beliau
           meminta nasehatnya kepada wazirnya yaitu raja bin halwan tentang siapakah
           yang dianggap cocok untuk menggantikan artinya sebagai khalifah Bani
           Umayah tanpa diketahui oleh Umar raja halwan meunjuk dirinya sebagai
           khalifah.
                    Terpilihnya Umar bin Abdul Aziz sebagai khalifah adalah hal yang
           tepat, dia merupakan khalifah yang dipilih oleh rakyat, dia juga di juluki
           Umar Bin Khatab2, tampilnya Umar             Ibnu Aziz telah membuka kembali
           cakrawala dunia islam. Ia berhasil mengelola pemerintahannya sesuai dengan
           ajaran islam seperti yang dilakukan pada masa Abu Bakar dan Umar bin
           Khatab
                    Umar bin Abdul Aziz telah membatalkan ketentuan-ketentuan
           mengenai praktek Depohsme yang diangkat Muawiah. Ketentuan-ketentuan
           yang tidak sesuai dengan hokum Agama di batalkan oleh Umar bin Abdul
           Aziz . pada masa itupun mencaci keluarga Ali bin Abi Thalib dihentikan.
                    Kelebihan-kelebihan Umar dalam mengembalikan pemerintahan
           hamper mendekati kehalifahan pada saat khulafaurrasyidin semuanya


16
     Hasar, Sejarah dan Kebudayaan Islam, Kota Kembang 1989 hal. 83-84



                                                                                     11
           berfungsi lagi termasuk Baitul Maal. Ia juga membebaskan jizyah yang di
           tetapkan pada orang yang akan masuk Islam. 17
                    Riwayat singkat di atas menggambarkan tugas pemimpin yang
           memiliki tanggung jawab yang tinggi dan luar biasa, dan dalam
           pelaksanaannya pun Umar bin Abdul Aziz.
           1. Pengangkatannya sebagai khalifah atas kehendak rakyat
           2. Menjual kekayaan pribadinya dan dimasukkan ke Baitul Maal
           3. Meninggalkan kemewahan dan berpola hidup sederhana
           4. Bertindak adil terhadap semua pihak, tanpa membedakan Agama
           5. Lebih mengutamakan Agama dari pada politik
           6. Mengutamakan persatuan Umat Islam dari pada golongan
                    Umar berusaha keras untuk pemerintahannya sesuai dengan ajaran
           Agama Islam . untuk mencapai keinginannya itu, maka Umar melakukan
           langkah-langkah sebagai berikut:
           1. Mengangkat pejabat Negara yang cakap setra menempatkan sesuai dengan
               keahliannya
           2. Mengajak seluruh masyarakat meningkatkan wawasan keislaman setra taat
               kepada Alloh.
           3. Mengajak rakyatnya untuk berpola hidup sederhana
           4. Menghentikan sikap permusuhan kepada keturunan Ali,syiar baik
               ditempat umum atau pada khutbah-khutbah
           5. Menghentikan segala bentuk peperangan
           6. Dakwah Islam dilakukan dengan hikmah bijaksana serta pelajaran nasihat-
               nasihat yang baik.18


           Bentuk Dakwah Islam ke Luar Negeri




17
     Abdul A‟la Al Maududi, Khalifah dan Kerajaan, terj. Bandung, Mizan 1984, hlm 246-247
18
     Prof. Dr. A. Syalaby, Sejarah kebudayaan Islam, Pustaka Al-Husna Jakarta, 2003 hlm. 81-82




                                                                                                 12
          Umar memperlihatkan kepada dunia Internasional bahwa Islam
   sebagai Rohmatan Lil ‘Alamin. Sehingga bentuk-bentuk dakwah yang
   dilakukan Umar berbeda dengan khalifah yang lain.
          Bentuk dakwah yang dilakukan Umar:
   1.   Mengirim mubalig serta misi perdamaian ke India,T   urki dan Afrika
   2.   Mengirim buku-buku Islam dan ilmu pengetahuan ke berbagai daerah
   3.   Menarik pasukan dari konstantinopel diganti dengan juru dakwah
          Jasa-jasa Umar bin Abdul Aziz:
   1.   Menciptakan perdamaian yang dilandasi Islam
   2.   Membukukan hadits Rosululloh SAW.
   3.   Melindungi hak-hak azasi manusia
   4.   Melindungi perbedaan suku,bangsa dan agama
   5.   Menyusun undang-undang tentang ghonimah
   6.   Membagun mesjid-mesjid
   7.   Membangun tanah pertanian dan irigasi
   8.   Membangun jalan-jalan raya
   9.   Membangun rumah sakit
   10. Menyediakan rumah khusus orang sakit
          Meskipun pemerintah Umar hanya 2,5 tahun waktu yang sangat
   pendek sekali memulihkan harta emas kejayaan Islam setelah masa
   Khulafaurrasyidin
5. Hisyam Bin Abdul Malik (105-125 H)
          Hisyam naik tahta setelah wafatnya Yazid bin Abdul Malik yang
   menggantikan Umar bin Abdul Aziz. Masa pemerintahan Hisyam cukup lama
   yang itu kira-kira 20 tahun. Ia termasuk khalifah yang arif bijaksana dan
   berkepribadian kuat sehingga banyak sekali pembangunan yang di lakukan
   pada masa Hisyam bin Abdul Malik.
          Diantara jasa Hisyam bin Abdul Malik:
   1.   Menata administrasi pemerintahan dan keuangan yang sangat stabil
   2.   Membangun irigasi untuk pertanian



                                                                              13
           3.    Membangun pusat kerajinan sutra
           4.    Membangun pabrik pembuatan pakaian tentara
           5.    Membangun pabrik senjata
           6.    Mengembangkan usaha peternakan19


C. SISTEM PEMERINTAHAN
                Pemindahan kekuasaan kepada Muawiyah mengakhiri bentuk demokrasi
       kekhalifahan menjadi monarki heidehs (kerajaan turun menurun) yang diperoleh
       tidak dengan tangan pemilihan atau suara terbanyak.20
                Penggantian khalifah secara turun menurun dimulai dari sikap Muawiyah
       yang mengangkat anaknya Yazid, sebagai putra walikota. Sikap muawiyah seperti
       ini dipengaruhi oleh keadaan syiria selama dia menjadi gubernur di sana.dia
       memang bermaksud mencontoh “monarki heidehs” di Persia dan kerajaan
       Byzantium.
                Pada masa Muawiyah mulai diadakan perubahan-perubahan administrasi
       pemerintahan, dibentuk pasukan bertombak, pengawal raja dan dibangun bagian
       khusus di dalam mesjid untuk pengamanan tatkala dia menjalankan shalat.
       Muawiyah juga memperkenalkan materai resmi untuk pengiriman memorandum
       yang berasal dari khalifah. Muawiyahlah yang pertama kali mendirikan balai-
       balai pendaftaran dan menaruh perhatian atas jawatan pos yang tidak lama
       kemudian berkembang menjadi suatu susunan teratur, yang menghubungkan
       berbagai unsure kepemerintahan, yang terdiri dasi lima orang sekretaris, yaitu:
       1. Katib Ar-Rosail
       2. katib al-Kharraj
       3. katib al Jund
       4. katib Asy-Syurtah
       5. Katib Al-Qodi



19
     Drs.H. Meriyana Dkk. Syarah Islam untuk madrasah Tsanawiyah, Muhan Jakarta 1982 hal. 82
20
     Hasan, Sejarah dan Kebudayaan Islam, Kota Kembang, 1989 hal 86



                                                                                               14
               Untuk mengurusi administrasi pemerintahan di daerah, diangkat seorang
       Amir AL-Umara (gubernur Jenderal) yang membawahi beberapa Amir sebagai
       penguasa satu wilayah.21
               Pada masa Abdul Malik bin Marwan, terdapat departemen (kementrian)
       itu adalah:
       1. Kementrian Pajak Tanah (Diwan al-Kharraj) yang tegasnya mengawasi
           departemen keuangan.
       2. kementrian Khatami (Diwan al-Khattam) yang bertugas mereancang dan
           mengesahkan ordinasi pemerintah. Sebagaimana masa Muawiyah telah
           diperkenalkan materai resmi untuk memorandum dari khalifah maka setiap
           tiruan dari memorandum itu dibuat. Kemudian ditembus dengan benang segel
           dengan lilin. Yang akhirnya dipres dengan segel kantor.
       3. kementrian surat menyurat (Diwan al-Mustagallat) 22


D. ORIENTASI KEBIJAKAN POLITIK DAN EKONOMI
               Kebijakan politik Umayah, selain usaha-usaha pengamanan di dalam
       negeri yang sering dilakukan oleh saingan-saingan politiknya. Serta pertentengan
       diantara suku-suku arab, adalah upaya-upaya memperluas wilayah kekuasaan.
       Pada zaman Muawiyah, Uqbah ibn Nati berhasil menguasai Tunisi dan kemudian
       mendirikan kota Qoirawan tahun 760 M yang kemudian menjadi kebudayaan
       Islam. Expansi ke timur maupun ke barat mencapai keberhasiilan yang gemilang
       pada zaman Walid I. Selama pemerintahanya, terdapat tiga orang pimpinan
       pasukan terkemuka sebagai penakluk. Qutaibah Ibnu Muslim, Muhammad Ibn
       Al-Qasim, Musa bin Mushair, Thariq bin Ziyad akhirnya dapat menundukkan
       pasukan tentara Spanyol dibawah pimpinan Redorick.
               Kemenangan-kemenangan yang diperoleh umat Islam secara luas itu,
       menjadikan orang-orang arab menjadi tuan tanah. Prinsip keuangan Negara yang
       diberlakukan mengikuti apa yang ada pada masa khulafaurrasidin yaitu penetapan

21
     A. Hasymy, Sejarah Kebudayaan Islam, Bulan Bintang Jakarta, 1975 hal 151
22
     Hasan, Sejarah dan Kebudayaan Islam, Kota Kembang, 1989 hal 85



                                                                                    15
       pajak tanah (kharraj) dan pajak perorangan (jijyah) ini merupakan income bagi
       pemerintah Umayah.23


E. STRUKTUR MASYARAKAT DAN TALI IKATAN PERSAUDARAAN
               Keanggotaan masyarakat dalam pemerintahan Islam sejak zaman Nabi
       Muhammad SAW cenderung dibatasi pada pengertian yang berdasarkan pada
       keagamaan apalagi dihubungkan dengan politik keanggotaannya dibatasi oleh
       pengertian religius maka secara garis besar masyarakat tersebut terdiri dari
       muslim dan non muslim. Orang-orang Islam sebagai penduduk mayoritas dapat
       dibedakan menurut dua kriteria. Kriteria pertama menjurus pada hal-hal yang
       praktis dan sering diterapkan pada kelompok, seperti pelaksanaan ibadah shalat
       dan pembayaran zakat, sedangkan kriteria kedua tampaknya berupa suatu
       tindakan pengabdian pada masyarakat yang sifatnya lebih personal. Sebagai
       tambahan atas kedua kriteria ini, pada periode Umayah syarat keanggotaan
       masyarakat harus berasal dari orang arab, sedangkan orang non arab setelah
       menjadi muslim harus menjadi pendukung (mawali) bangsa arab. Dengan
       demikian masyarakat muslim pada masa umayah terdiri dari kelompok arab dan
       mawali.24
               Adapun orang-orang nonmuslim yang merupakan masyarakat minoritas
       yang dilindungi, atau secara kolektif dikenal sebagai ahl ad-dimmah (al-
       musa‟min) terutama yahudi dan Kristen. Kebiasaan melindungi orang-orang
       Djimi ini bias berjalan baik karena di kalangan orang-orang arab pra Islam
       terdapat satu kebiasaan untuk melindungi orang lain sebagai sikap yang
       dihormati. Bagaimanapun posisi mereka dalam kenyataannya selalu dianggap
       sebagai warga Negara kelas dua, dan keberadaan mereka selalu didorong agar
       menjadi muslim. Tindakan kaum muslimin melalui dakwah atau politik pada
       akhirnya banyak membawa orang-orang Dzimmi itu untuk berpindah agama
       karena mereka ingin tetap bertahan di Negara Islam. Hal ini sangat

23
     Hasan, Sejarah dan Kebudayaan Islam, Kota Kembang, 1989 hal 90-92
24
     W. Montgomery Watt, Pergolakan Pemikiran Politik Islam, hal. 57



                                                                                  16
       menguntungkan orang-orang Islam dalam membentuk mayoritas yang lebih luas,
       homogenitas masyarakat pada masa umayah, menimbulkan ambisi para penguasa
       daulah ini untuk mempersatukan masyarakat dengan politik arabisme. Mereka
       membangun bangsa arab yang besar yang sekaligus membangun kaum muslimin.
       Organisasi Militer
               Pada masa Muawiyah organisasi militer terdiri dari angkatan darat (al-
       Jund), angkatan laut (al-Bahriyah) dan angkatan kepolisian (As-Syirtah). Berbeda
       pada masa Usman, bala tentara pada masa ini bukan muncul atas kesadaran
       sendiri untuk melakukan perjuangan, tetapi semacam dipaksakan. Sesuai dengan
       politik arabnya, angkatan bersenjata terdiri dari orang-orang arab atau unsur arab.
       Setelah wilayah kekuasaan meluas sampai ke Afrika Utara, orang luar pun
       terutama bangsa Barbar turut ambil bagian dalam kemiliteran ini. Pada masa
       Abdul Malik bin Marwan diberlakukan undang-undang wajib militer (Nidam at-
       Tajdid al-Ijbari). Pada waktu aktivitas bala tentara dilegkapi dengan kuda, baju
       besi, pedang dan panah.25
               Angkatan laut yang sesungguhnya telah dirintis oleh Muawiyah sejak
       masa umar tatkala ia akan melakukan penyerangan ke negeri Romawi melalui
       jalan laut, kemudian pada masa Usman usahanya itu dilanjutkan dengan
       pembentukan angkatan musim panas dan musim dingin. Maka semenjak ia resmi
       menjadi khalifah, Muawiyah mulai usahakan pembuatan kapal-kapal perang guna
       menangkis serangan armada Byzantium serta keperluan sarana transportasi dalam
       usaha perluasan Islam ke daerah-daerah lain. Waktu itu armada laut Muawiyah
       mencapai di Raudah.26
               Adapun organisasi kepolisian pada mulanya merupakan bagian dari
       organisasi kehakiman. Tetapi kemudian bersifat independent, dengan tugas
       mengawasi dan mengurus soal kejahatan. Pada masa Hisyam bin Abdul Malik, di




25
     Hasan, Sejarah dan Kebudayaan Islam, Kota Kembang, 1989 hal 478
26
     Ibid. hal. 483



                                                                                       17
       dalam organisasi kepolisian dibentuk Nimada al-Ahdas (Brigade Mobil) yang
       bertugas serupa dengan tugas-tugas tentara.27


       Perdagangan
                Setelah daulah Umayah berhasil menguasai wilayah yang cukup luas
       maka lalu lintas perdagangan mendapat jaminan yang layak. Lalulintas darat
       melalui jalan sutera Tiongkok guna memperlancar perdagangan sutera, kramiki,
       permata, logam mulia, gading dan bulu-buluan. Keadaan demikian membawa ibu
       kota Basrah di teluk Persia menjadi pelabuhan dagang yang sangat ramai dan
       makmur, begitu pula dengan kota Aden. Dari kedua kota pelabuhan itu iring-
       iringan kafilah dengan hamper tak putus menuju Syam dan Mesir kapal-kapal
       dagang dibawah lindungan armada Islam mengangkatnya lagi ke kota-kota
       dagang di laut tengah. Perkembangan perdagangan itu telah mendorong
       meningkatnya kemakmuran bagi daulah Umayah.


       Kerajinan
                Pada masa khalifah Abdul Malik mulai dirintis pembuatan tiraz (semacam
       bordiran) yakni cap resmi yang dicetak pada pakaian khalifah dan para pembesar
       pemerintahan. Format tiraz yang mula-mula merupakan terjemahan dari rumus
       Kristen, kemudian Abdul Aziz (gubernur Mesir) digandi dengan rumus Islam,
       lafadz “La Ilaaha Illa Allah”. Guna memperlancar produktifitas pakaian resmi
       kerajaan, maka Abdul Malik mendirikan pabrik-pabrik kain. Setiap pabrik
       diawasi oleh “Sihab at-Tiraz” yang bertujuan mengawasi tukang emas dan
       penjahit, menyelidiki hasil karya dan membayar gaji mereka.28
                Di bidang seni lukis, sejak khalifah Muawiyah sudah mendapatkan
       perhatian masyarakat. Seni lukis tersebut selain terdapat di mesjid-mesjid, juga
       timbuh di luar mesjid. Adanya lukisan dalam istana Bani Umayah, merupakan
       langkah baru yang muncul di kalangan bangsawan arab. Sebuah lukisan berbagai

27
     Ibid. hal. 460
28
     Ibid. Hal. 448



                                                                                    18
     gambar binatang. Adapun corak dan warna lukisan masih bersifat helennisme
     murni, tetapi kemudian dimodifikasi menurut cara-cara Islam, sehingga sangat
     menarik perhatian para penulis Eropa.29


     Reformasi Fiskal
             Selama pemerintahan Umayah hampir semua pemilik tanah baik muslim
     atau nonmuslim diwajibkan membayar pajak tanah. Sementara itu pajak kepala
     yang tidak berlaku bagi penduduk muslim, sehingga banyaknya penduduk yang
     masuk Islam secara ekonomis merupakan latar belakang berkurangnya
     penghasilan Negara. Namun demikian, dengan banyaknya dengan banyaknya
     keberhasilan umayah dalam menaklukan imperium Sassani (persi) beserta
     wilayah kepunyaan imperium Byzantium, sesungguhnya kemakmuran bagi
     daulah ini melimpah-limpah yang mengalir ke dalam pembendaharaan Negara.
     Bagi golongan Dzimmi, sebagaimana pada masa Rasul mereka tidak
     memperkenankan andil dalam mengangkat senjata, tetapi harus membayar upeti
     sebagai ganti perlindungan muslimin kepada mereka. Dalam kondisi demikian,
     kaum dzimmi hidup dalam kemerdekaan dengan jalan membayar pajak tanah dan
     pajak kepala.30
             Disamping itu, memang masih ada perbedaan beban pajak antara muslim
     arab dan muslim non arab maupun yang nonmuslim. Muslim arab menikmati
     kelapangan-kelapangan yang istimewa dalam perpajakan. Muslim arab Cuma
     diwajibkan membayar pajak kekayaan beserta sumbangan wajib atas hak milik
     tanah, sedangkan yang lain mendapatkan beban pajak-pajak yang teramat penting.
     Sistem yang berbeda itu pada gilirannya menyebabkan keresahan dan
     ketidakpuasan dalam lingkungan muslim non arab, sehingga pada gilirannya
     menimbulkan gerakan untuk menumbangkan kekuasaan dari pihak Umayah.31




29
   Husen. Kultur Islam Hal. 356
30
   Hitti, Dunia Arab. Hal. 98-99
31
   John. Esposito, Islam dan Politik, Terj. H.M. Joesoef Souyb, Jakarta Bulan Bintang, 1990 hal. 19



                                                                                                      19
Kesimpulan
       Demikian kekuasaan Islam dalam kepemimpinan Bani Umayyah di Timur
meskipun berlangsung dalam pembentukan monarki arab dengan mengandalkan
panglima-panglima arab lapisan aristokrasi yang sesungguhnya berlawanan
dengan kebijaksanaan Nabi dan para Khalifah sebelumnya. Bagaimanapun ia
telah memperkenalkan dan memperkembangkan lembaga-lembaga istimewa dari
pemerintahan Islam. Hal demikian didukung pula oleh sumbangan para
khalifahnya terhadap pembentukan dan pengembangan peradaban Islam,
sekalipun belum cukup sebanding dengan kegiatan kebudayaan yang dibangun
oleh pemerintahan Islam sesudahnya. Daulah Abasyiyah yang berhasil
mengembangkan kebudayaan terbesar dalam perkembangan peradaban Islam itu.
Hal itu barangkali karena selama pemerintahan Umayah seringkali dilanda
konflik-konflik internal ummat Islam yang muncul akibat perselisihan politik
antar golongan umat Islam sendiri.




                                                                         20
                        DAFTAR PUSTAKA


Syalaby, Ahmad               Sejarah dan Kebudayaan Islam,
     2003                    Jakarta, Pustaka Al-Husna Baru
Ibrahim, Hasan               Sejarah dan Kebudayaan Islam,
     1989                    Yogyakarta, Kota Kembang
Al Maududi, Abu A‟la         Khilafiyah dan Kerajaan,
     1984                    Terj. Bandung, Mizan
Nasution, Harun              Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya,
     1978                    Jakarta, UI Press
Hasjmy, A,                   Sejarah Kebudayaan Islam,
     1975                    Jakarta, Bulan Bintang
Hitti, Philip K              Dunia Arab,
                             terj.   Ushuludin   Hutagulung   dan   ODP
                             Sihombing, Bandung, Sumur Bandung.


Watt, W. Montgomerry,        Pergolakan Pemikiran Politik Islam,
     1985                    Jakarta, Bennabi Cipta




                                                                      21
22

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:5407
posted:12/27/2010
language:Malay
pages:22