makalah - Get Now DOC

Document Sample
makalah - Get Now DOC Powered By Docstoc
					                               ULUMUL HADITS


                               Kata Pengantar
       Puji syukur kami panjatkan kepada Rida Illahi karena berkat Rahmat dan
Karunia-Nya kami berhasil menyelesaikan makalah yang telah diberikan oleh
dosen kami. Tidak lupa juga kami mengucapkan terimakasih kepada semua pihak
yang telah membantu kami dalam menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu.
Kami juga menyadari dalam pembuatan makalah ini masih banyak kekurangan,
oleh karena itu kami mohon saran dari para pembaca sekalian demi perbaikan
makalah yang selanjutnya.
       Makalah ini memuat tema “Al-Jarh wat Ta’dil serta hadits maudhu”.
Ilmu hadits menurut para ulama Mutaqadimin yaitu ilmu yang membicarakan
tentang cara – cara persambungan Hadits sampai kepada Rasul SAW. Dari segi
ihwal para rawinya, kedabitan, keadilan, dan dari bersambung tidak sanadnya, dan
sebagainya.
              Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua.




                                                  Penyusun, 22 Juni 2010




                                                          Penyusun




                                                                                   1
                                STAIMI 2010
                         ULUMUL HADITS




                           DAFTAR ISI
BAB I P E N D A H U L U A N
I.A Latar Belakang                            3
I.B Tujuan                                    3
I.C Sistematika                               3
BAB II P E M B A H A S A N
II.A pengertian Al-Jarh wat Ta‟dil            4
II.B Penerapan al-jarh wat ta'dil             5
II.C Pengertian hadits maudhu                 6
II.D Sejarah awal terjadinya hadits Maudhu    7
II.E Hukum Meriwayatkan Hadits Maudhu         8
II.F Tanda – tanda hadits Maudhu pada Sanad   9
II.G Tanda – tanda hadits Maudhu pada Matan   10
BAB III PENUTUP
III.A Kesimpulan                              13
III.B Saran                                   13
DAFTAR PUSTAKA                                13




                                                   2
                           STAIMI 2010
                                  ULUMUL HADITS


                                      BAB I
                                  PENDAHULUAN
I.A Latar Belakang
      Secara bahasa, dengan mem-fathah-kan huruf jim (dibaca ja) jarh artinya
adalah akibat atau bekas luka pada tubuh disebabkan oleh senjata.
      Sementara hadits ialah sesuatu yang disandarkan kepada Nabi Muhammad
SAW baik berupa perkataan, perbuatan, pernyataan, taqrir, dan sebagainya.
I.B Tujuan
      Adapun tujuan pembuatan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas
kelompok yang telah diberikan oleh Bpk Faqih mengenai Al-Jarh wat Ta‟dil dan
Hadits Maudhu.
I.C Sistematika
      Untuk memudahkan pemahaman, maka kami menggunakan sitematika yang
terdiri dari beberapa sub bab :
       BAB I P E N D A H U L U A N
       I.A Latar Belakang
       I.B Tujuan
       I.C Sistematika
       BAB II P E M B A H A S A N
       II.A pengertian Al-Jarh wat Ta‟dil
       II.B Penerapan al-jarh wat ta'dil
               II.C Pengertian hadits maudhu
       II.D Sejarah awal terjadinya hadits Maudhu
       II.E Hukum Meriwayatkan Hadits Maudhu
       II.F Tanda – tanda hadits Maudhu pada Sanad
       II.G Tanda – tanda hadits Maudhu pada Matan
       BAB III PENUTUP
       III.A Kesimpulan
       III.B Saran
       DAFTAR PUSTAKA




                                                                                3
                                   STAIMI 2010
                                    ULUMUL HADITS


                                                BAB II
                                       PEMBAHASAN
II.A Pengertian Al-Jarh wat Ta’dil
        Secara istilah, jarh adalah sifat atau keadaan seorang rawi yang
menyebabkan ditolak atau dilemahkan periwayatannya terhadap suatu hadits.
Adapun ta‟dil secara bahasa sama artinya dengan taswiyah, yaitu mengukur atau
menimbang sesuatu dengan yang lainnya. Secara istilah mempunyai pengertian
yang sebaliknya dari jarh.
        sebaliknya dari jarh. Asy-Syaikh „Abdurrahman Al-Mu‟allimi Al-Yamani
mengatakan bahwa ilmu al-jarh wat ta'dil ialah ilmu yang mempelajari tentang al-
jarh dan at-ta‟dil terhadap seorang rawi melalui lafadz-lafadz penilaian yang
tertentu, sekaligus untuk mengetahui tingkatan lafadz-lafadz tersebut1.
        Kritikan yang dilakukan para pakar ilmu hadits terhadap suatu hadits
berkaitan dengan dua hal penting, yaitu berkaitan dengan para rawi (yang
menyampaikan) hadits dan matan (redaksi) hadits tersebut. Sehingga dari sini, jika
kriteria rawi tidak sesuai dengan yang diharapkan maka riwayatnya ditolak.
Begitu pula jika redaksi hadits itu sendiri menimbulkan sesuatu yang diragukan
untuk diterima, inipun ditolak (2). Mereka mengatakan: “Shahihnya isnad (mata
rantai periwayatan suatu hadits) belum tentu shahih matannya (redaksinya).”2
        Kecacatan rawi itu bisa ditelusuri melalui perbuatan – perbuatan yang
dilakukannya3. Dalam hal ini mencangkup perbuatan – perbuatanya:
               Bidáh, yakni melakukan perbuatan diluar ketentuan syariah
               Mukhalafah, yakni berbeda dengan periwayatannya dari rawi yang
                lebih siqqah
               Ghalath, yakni banyak kekeliruan dalam meriwayatkan hadits
               Jahalal al-hal, yakni tidak dikitahui ID secara lengkap dan jelas
               Da‟wal al-inqitha, yakni praduga sanadnya tidak bersambung




1
  http://id.wikipedia.org/wiki/hadits
2
  Manhajun Naqdi „indal Muhadditsin hal 20-21
3
  Drs Munzier Suparta, Ilmu hadits, hal 32


                                                                                     4
                                      STAIMI 2010
                                        ULUMUL HADITS


Adapun cara mengetahui jarh dan ta‟dilnya seorang rawi bisa kita peroleh melalui
2 jalan4:
      1. Popularitas para rawi dikalangan para ahli ilmu bahwa mereka dikenal
           seorang yang adil, atau rawi yang mempunyai aib.
      2. Berdasarkan pujian atau pen-tajrih-an dari rawi lain yang adil.       Bila
           seorang rawi yang adil menta‟dilkan seorang rawi yang lain yang belum
           dikenal keadilannya, maka telah dianggap cukup dan rawi tersebut bisa
           menyandang gelar dan periwayatannya bisa diterima. Begitu juga dengan
           rawi yang di-tarih. Bila seorang rawi yang adil telah mentajrihnya maka
           periwayatannya menjadi tidak bisa diterima.
      Sementara orang yang melakukan ta‟dil dan tajrih harus memenuhi syarat,
sebagai berikut:
                   Berilmu pengetahuan
                   Jujur
                   Menjauhi sifat fanatik terhadap golongan
                   Mengetahui ruang lingkup ilmu jarh dan ta„dil


II.B Penerapan al-jarh wat ta'dil
           Melihat sisi lain dari penerapan al-jarh wat ta'dil ini dalam menjaga
kemurnian dan kelestarian syariat Islam yang mulia ini. Kesempurnaan Syariat
Islam Allah SWT telah mengutus Rasul-Nya Muhammad SAW membawa risalah
sekaligus menutup para Nabi dan Rasul.
           Diantara landasan syariat yang dipertimbangkan dalam pelaksanaan al-jarh
wat ta‟dil ini adalah:
           Firman Allah SWT:
            “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik
membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak
menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya
yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (Al-Hujurat: 6) Ayat
ini adalah dalil yang tegas tentang wajibnya tabayyun, tatsabbut (meneliti
4
    Drs Munzier Suparta, Ilmu hadits, hal 33


                                                                                      5
                                          STAIMI 2010
                                    ULUMUL HADITS


kebenaran berita) dari seseorang yang fasik. Dan mafhum dari ayat ini, semua
berita dari orang yang tsiqah (terpercaya) diterima.
       Kemudian sabda Nabi yang dijadikan dasar (hukum) tentang perlunya
penilaian dhabith (kekuatan hafalan):

            ‫س مع م أ ع مبّلغ فرة سم َ كم فبّلغه ش ئ مّن َمع رأ هلل نّضر‬
            َ َ َ ُ ‫َب ِ ٍ ِنْ َوْ َى ُ َِ ٍ َ ُ َ َ ِع َ َب َ ََ َ ُ َيْ ًب َِب س ِ َ امْ ًَ ا‬
       “Semoga Allah mencerahkan wajah orang yang mendengar sesuatu dari
kami, kemudian dia menyampaikan (kepada orang lain) sebagaimana yang dia
dengar. Bisa jadi orang yang diberi kabar darinya lebih paham dari dia (yang
mendengar langsung).” (HR. At-Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Majah, Ahmad dan
lainnya dari Jubair bin Muth‟im, Zaid bin Tsabit, Ibnu Mas‟ud, Mu‟adz bin Jabal
dan lain-lain.
       Al-Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarh Shahih Muslim (1/83)
mengatakan: “Jadi, al-jarh (kritik) terhadap para rawi yang menukilkan suatu
berita atau riwayat adalah boleh. Bahkan wajib, berdasarkan kesepakatan (para
ulama) karena adanya kebutuhan darurat yang memang mengharuskannya, demi
melindungi syariat yang mulia ini.”
       Kemudian beliau melanjutkan: “Wajib atas seorang kritikus untuk
bertakwa kepada Allah dalam men-jarh (mengkritik) seseorang. Perlu adanya
tatsabbut (meneliti kebenaran berita), berhati-hati, tidak bermudah-mudah dalam
men-jarh orang yang (sebetulnya) selamat (bersih) dari jarh (cacat). Atau
merendahkan orang-orang yang tidak tampak kekurangannya, karena kerusakan
akibat jarh ini sangat besar. Dan dia akan menggugurkan semua hadits atau
riwayat dari rawi tersebut, yang tentunya akan menggugurkan sunnah-sunnah
Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam.”


II.C Pengertian hadits maudhu
       Hadits maudhu adalah hadits bohong atau hadits palsu, bukan dari
Rasulullah tetapi dikatakan dari Rasulullah oleh seorang pembohong.oleh karena
itu, sebagian Ulama ada yang tidak memasukkannya bagian dari hadits Daíf
karena ini bukan hadits dalam arti yang sebenarnya dan ada pula yang



                                                                                                  6
                                      STAIMI 2010
                                      ULUMUL HADITS


memasukkannya, karena walaupun dikatakan hadits tetapi palsu dan bohongdalam
arti palsu dan bohong ini meniadakan makna hadits5.


II.D Sejarah awal terjadinya hadits Maudhu
          Awal terjandinya hadits maudhu dalam sejarah muncul setelah terjadi
konflik anta relit politik dan antara dua pendukung Ali dan Muáwiyah, umat Islam
terpecah menjadi 3 kelompok, yaitu Syiáh, Khawarij, dan Jumhur atau Sunni.
Masing – masing mengaku bahwa kelompoknya paling benar sesuai dengan
ijtihad mereka, masing – masing kelompok mencari simpatisan massa yang lebih
besar dengan cara mencari dalil Al-Qurán dan Hadits yang mendukung
kelompoknya6.
          Ketika mereka tidak mendapatkan ayat – ayat Qurán atau hadits yang
mendukung tujuannya, maka sebagian dari mereka membuat hadits palsu
(maudhu). Awal dari kemunculan hadits maudhu lebih disebabkan situasi politik
serta tersebarnya biáh dan fitnah.


          Sebab- sebab terjadinya hadits maudhu :


                  Factor politik
                           Untuk mendekatkan diri kepada Sultan, Raja, Penguasa,
                   Presiden, dan lain-lainnya dengan tujuan mencari kedudukan.
                  Dendam musuh Islam
                           Adanya kesengajaan dari pihak lain untuk merusak ajaran
                   Islam. Misalnya dari kaum Orientalis Barat yang sengaja
                   mempelajari Islam untuk tujuan menghancurkan Islam (seperti
                   kaum zindik).
                  Fanatisme kabilah
                           Untuk menguatkan pendirian atau madzhab suatu golongan
                   tertentu.

5
    Dr.H Abdul Majid Khon, Ulumul hadits, hal 199
6
    Dr.H Abdul Majid Khon, Ulumul hadits, hal 200


                                                                                     7
                                        STAIMI 2010
                                         ULUMUL HADITS


                   Fitnah dari tukang dongeng
                             Untuk menarik perhatian orang sebagaimana yang telah
                    dilakukan oleh para ahli juru khutbah, dan lain-lainnya demi
                    mencari uang.
                   Perbedaan Khilafiyah dalam Madzhab
                             Umumnya dari golongan Syi'ah, golongan Tareqat,
                    golongan Sufi, para Ahli Bid'ah, orang-orang Zindiq, orang yang
                    menamakan diri mereka Zuhud, golongan Karaamiyah, para Ahli
                    Cerita, dan lain-lain. Semua yang tersebut ini membolehkan untuk
                    meriwayatkan atau mengadakan Hadits-hadits Palsu yang ada
                    hubungannya dengan semua amalan-amalan yang mereka kerjakan.
                    Yang disebut 'Targhiib' atau sebagai suatu ancaman yang yang
                    terkenal dengan nama 'At-Tarhiib'.


II.E Hukum Meriwayatkan Hadits Maudhu
       Ada beberapa pendapat mengenai hukum meriwayatkan hadits maudhu7:

          Secara Muthlaq, meriwayatkan hadits-hadits palsu itu hukumnya haram
           bagi mereka yang sudah jelas mengetahui bahwa hadits itu palsu.
          Bagi mereka yang meriwayatkan dengan tujuan memberi tahu kepada
           orang bahwa hadits ini adalah palsu (menerangkan kepada mereka sesudah
           meriwayatkan atau mebacakannya) maka tidak ada dosa atasnya.
          Mereka yang tidak tahu sama sekali kemudian meriwayatkannya atau
           mereka mengamalkan makna hadits tersebut karena tidak tahu, maka tidak
           ada dosa atasnya. Akan tetapi sesudah mendapatkan penjelasan bahwa
           riwayat atau hadits yang dia ceritakan atau amalkan itu adalah hadits
           palsu, maka hendaklah segera dia tinggalkannya, kalau tetap dia amalkan
           sedang dari jalan atau sanad lain tidak ada sama sekali, maka hukumnya
           tidak boleh (berdosa - dari Kitab Minhatul Mughiits).



7
    http://mediaislam.fisikateknik.org


                                                                                       8
                                          STAIMI 2010
                                      ULUMUL HADITS


          Menciptakan       hadits   maudhu         sama   dengan   mendustakan   kepada
Rasulullah. Karena perkataan iu berasal dari perkataannya sendiri atau perkataan
orang lain yang kemudian diklaim Rasulullah yang menyabdakannya.

II.F Tanda – tanda hadits Maudhu pada Sanad

                  Pengakuan pembuatnya sendiri
                   Sebagaimana pengakuan Abdul Karim bin Abu Al-Auja ketika
                   dihukum mati ia mengatakan : “demi Allah aku palsukan padamu
                   4000 buah hadits. Di dalamnya aku haramkan yang halal dan aku
                   halalkan yang haram.” Serta Maysarah bin Abdi Rabbih Al-Farisi
                   mengaku banyak membuat hdits maudhu tentang keutamaan Qurán
                   dan keutamaan Ali8.
                  Adanya bukti menempati pengakuan
                   Seperti seseorang yang meriwayatkan hadits dengan ungkapan
                   yang mantap serta menyakinkan dari seorang syaikh disuatu negri,
                   padahal ia tidak pernah bertemu dengan orang yang dimaksudkan
                   atau orang yang dimaksud sudah wafat sementara ia masih kecil.
                   Untuk mengetahui hal ini kita harus mempelajari buku Tawarikh
                   Ar-Ruwah.
                  Adanya bukti pada perawi
                   Seperti yang disndarkan Al-Hakim dari Saif bin Umar Al-Tamimi,
                   aku di sisi Saád bin Tharif, ketika anaknya pulang dari sekolah
                   menangis, ditanya bapaknya: “mengapa engkau menagis ?”
                   anaknya menjawab : “dipukul Gurunya”. Lanta Saád berkata:
                   “sungguh saya bikin hina mereka sekarang”.
                           Guru – guru anak kecilmu adalah orang yang paling jelek
                           diantara kamu. Mereka paling sedikit sayangnya terhadap
                           anak yatim dan yang paling kasar terhadap orang – orang
                           miskin


8
    Dr.H Abdul Majid Khon, Ulumul hadits, hal 208


                                                                                           9
                                        STAIMI 2010
                                      ULUMUL HADITS


                          Ibnu Maín berkata “tidak halal seseorang meriwayatkan
                 suatu hadits dari Saád bin Tharif. “ Ibnu Hibban berkomenta: “ia
                 memalsukan hadits”. Al-Hakim juga berkata : “ia dituduh sebagi
                 zindik dan gugur dalam periwayatannya.”9
                Kedustaan perawi
                 Meriwayatkan hadits sendirian, sementara diri siperwai dikenal
                 sebagai pembohong serta tidak ditemukan dalam riwayat lain10.




II.G Tanda – tanda hadits Maudhu pada Matan
                Lemah sususnan lafal dan maknanya
        Salah satu tanda ke- maudhuan suatu hadits adalah lemah dari segi bahasa
        dan maknanya. Secara logis tidak dibenarkan bahwa ungkapan tersebut
        datang dari Rasul. Hadits palsu jika diriwayatkan secara jelas bahwa lafal
        ini dari Nabi dapat dideteksi oleh para pakar ahli dibidangnya sehingga
        tercium bahwa ini hadits sesungguhnya dan hadits palsu.11
                Rusaknya Makna
        Maksud ruskanya makna karena bertentangan dengan rasio akal sehat,
        menyalahi kaidah kesehatan, mendorong pelampiasan bioloigis, tidak bisa
        ditakwilkan, dll. Misalnya sebagaimana yang diriwayatkan Ibnu Al-Jauzi
        dari jalan Thariq Abdurrahman bin Zaid bin Aslam dari ayahnyadari
        kakeknya secara marfu‟:
                 Bahwasanya perahu Nabi Nuh berthawaf di Bait (Ka’bah) 7 kali
                 dan shalat di maqam Ibrahim 2 rakaát.12
        Hadits ini maudhu sebab irrasional, tidak mungkin secara akal perahu
        melakukan puritan – putaran (thawaf) mengelilingi Ka‟bah) 7 kali seperti
        orang yang melakukan thawaf haji. Demikian juga melakukan shalat di
        maqam Ibrahim.

9
  Muhammad Syarir, al-bait al hadits syarh Ikhtishar, hal 68
10
   Drs Munzier Suparta, Ilmu hadits, hal 189
11
   Dr.H Abdul Majid Khon, Ulumul hadits, hal 210
12
   Ibid hal 69


                                                                                     10
                                        STAIMI 2010
                     ULUMUL HADITS


   Menyalahi teks Al-Qurán atau Hadits Mutawatir
Menyalahi Al-Qurán atau Hadits Mutawatir dan tidak mungkin
ditakwilkan, kecuali jika dapat dikopromikan melalui takhshish al-
a’mm dan lain – lain sebagai langkah – langkah pemecahan yang telah
dilakukan oleh ulama ushul Fikih.
    1. Contoh hadits yang bertentangan dengan Al-Qu;an :
    Dan tidaklah seorang membuat dosa melainkan kemadhartannya
    kembali kepada dirinya sendiri. (QS. Al-An’am (6): 164)
    2. Contoh hadits yang bertentangan dengan hadits mutawatir :
    Jika kalian memberitakan suatu haduts dari padaku sesuai
    kebenaran, maka ablilah baik aku memberitakan atau tidak
   Menyalahi realita sejarah
    Misalnya hadits yang menjelaskan bahwa Nabi memungut jizyah
    (pajak) pada penduduk Khaibar dengan disaksikan oleh Saád bin
    Muádz padahal Saád telah meninggal pada masa perang Khandaq
    sebelum kejadian tersebut. Jizyah disyariatkan setelah perang
    Tabuk pada Nashrani Najran dan Yahudi yaman.
   Hadits sesuai dengan madzhab perawi
    Misalnya, hadits yang diriwayatkan oleh Habbah bin Juwaini, ia
    berkata : saya mendengar Ali berkata:
            Aku menyembah Tuhan bersama Rasul-Nya             sebelum
    menyembah-Nya seorang pun dari umat ini lima atau tujuh tahun.
    Hadits ini mengkultuskan Ali sesuai dengan prinsip madzhab
    Syiáh, tetapi pengkultusan itu juga tidak masuk akal, bagaimana
    Ali beribadah bersama Rasul 5 atau 7 tahun sebelum umat ini.
   Mengandung pahala yang berlebihan bagi amal yang kecil
    Biasanya motif pemalsuan hadits ini disampaikan para tukang
    dongeng yang ingin menarik perhatian para pendengarnya atau
    agar menarik pendengar untuk melakukan amal saleh. Misalnya:
    Barang siapa yang shalat dhuha sekian rakaat diberi pahala 70
    nabi.


                                                                        11
                      STAIMI 2010
                     ULUMUL HADITS


   Sahabat dituduh menyembunyikan hadits
    Sahabat dituduh menyembunyikan hadits dan tidak menyampaikan
    atau tidak meriwayatkan kepada orang lain, padahal hadits itu
    secara transparan harus disampaikan Nabi. Misalnya, nabi
    memegang tangan Ali bin Abu Thalib di hadapan para sahabat,
    kemudian bersabda:
           Ini wasiatku dan saudaraku dan Khalifah setelah aku.
    Seandainya itu benar hadits nabi tentu banyak di antara sahabat
    yang   meriwayatkannya,      karena   masalahnya     adalah   untuk
    kepentingan umum yakni kepemimipinan. Tidak mungki para
    sahabat tidak meriwayatkan jika hal itu benar terjadi.




                                                                          12
                       STAIMI 2010
                                        ULUMUL HADITS


                                                BAB III
                                            PENUTUP
III.A Kesimpulan
           Ilmu Al-Jarh wat Ta‟dil adalah ilmu yang mempelajari kecacatan para
perawi, seperti keadilan dan kedhabitannya.13 Sementara hadits Maudhu adalah
sesuatu yang disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW baik perbuatan,
perkataan, taqrir, dan sifat beliau secara dusta. Lebih tepat lagi ulama hadits
mendefinisikannya sebagai apa-apa yang tidak pernah keluar dari Nabi SAW baik
dalam bentuk perkataan, perbuatan atau taqrir, tetapi disandarkan kepada beliau
secara sengaja.14
III.B Saran
           Dalam penyusunan makalah ini penulis meyakini banyak sekali
kekurangan dan penulis berharap kepada para pembaca untuk memberikan keritik
dan saran yang membangun terhadap makalah ini, sehingga makalh ini akan
mencapai kesempunaan. amin


                                         DAFTAR PUSTAKA
           Muhammad Syarir, al-bait al hadits syarh Ikhtishar,
           Drs Munzier Suparta, Ilmu hadits,
           Dr.H Abdul Majid Khon, Ulumul hadits,
           http://mediaislam.fisikateknik.org
           http://id.wikipedia.org/wiki/hadits
           Manhajun Naqdi „indal Muhadditsin
           Ibid
           http://asysyariah.com




13
     Drs Munzier Suparta, Ilmu hadits, hal 31

14
     http://asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=265




                                                                                  13
                                          STAIMI 2010

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:2943
posted:12/26/2010
language:Indonesian
pages:13