Docstoc

JAWABAN SOAL TARIKH TASYRI

Document Sample
JAWABAN SOAL TARIKH TASYRI Powered By Docstoc
					                          JAWABAN SOAL TARIKH TASYRI’

                                      Pertanyaan Ke 1

a. Kondisi masyarakat Arab Pra-Islam

   Orang-orang Arab hidup secara komunal, hidup dalam suku-suku yang umumnya
   terbentuk berdasarkan pertalian darah. Dengan hidup secara komunal, seseorang bisa
   bertahan hidup. Suku ketika itu adalah pelindung bagi eksistensi seseorang. Jika seseorang
   terbunuh oleh suku yang lain, suku orang tersebut akan melakukan tindakan menuntut
   balas. Inilah satu-satunya hukum yang berlaku bagi tindak kriminal pembunuhan. Tidak
   ada sistem hukum mapan dan canggih yang mengatur hal ini. Ini akhirnya menciptakan
   lingkaran setan pembunuhan, sehingga berakibat pada terjadinya konflik dan peperangan
   antar suku yang tidak pernah berhenti.

   Meski demikian masih ada hal-hal positif yang ada pada suku-suku tersebut. Mereka pada
   umumnya sangat membangga-banggakan muru’ah (sifat-sifat ksatria). Para penyair ketika
   itu biasa memuji-muji suku atas sifat-sifat muru’ah yang mereka miliki.

   Berbicara tentang wanita, secara singkat bisa dikatakan bahwa di Arab pada masa itu
   kaum wanita tidak mendapat kedudukan dan penghargaan yang layak.

   Masyarakat Mekkah sendiri adalah masyarakat pamganis, penyembah berhala. Mereka
   politeis, menyembah banyak tuhan. Meski Allah bagi mereka adalah The Supreme God,
   Tuhan Tertinggi, namun mereka masih memiliki banyak dewa yang mereka posisikan
   sebagai perantara antara mereka dan Allah. Yang paling populer dari dewa-dewa tersebut
   adalah Latta, ’Uzza, Manat dan Hubal.

   Situasi Masyarakat Arab Pra Islam Sebelum Nabi saw diutus, orang-orang Arab adalah
   umat yang tidak memiliki aturan dan mereka dikendalikan oleh kebiadaban, dinaungi oleh
   kegelapan dan kejahilan, serta tak ada agama yang mengikat dan undang-undang yang
   harus mereka patuhi. Hanya sedikit saja dari mereka yang berjalan dengan aturan yang
   dapat menyelesaikan perselisihan mereka, adat yang dianggap baik serta langkah yang
   mulia. Bangsa Arab pra Islam dikenal sebagai bangsa yang sudah memiliki kemajuan
   ekonomi.

   Adapun ciri-ciri utama tatanan Arab pra Islam adalah sebagai berikut:
   1. Menganut paham kesukuan (kafilah)
   2. Memiliki tata sosial politik yang tertutup dengan partisipasi warga yang terbatas
   3. Mengenal hirarki sosial yang kuat
   4. Kedudukan perempuan cenderung direndahkan.

b. Hikmah mengetahui kondisi di atas bagi awal pembentukan tasyri’ yang diperankan
   Nabi SAW:
   Dengan mengetahui kondisi di atas maka kita dapat mengetahui bagaimana tasyri’ itu
   disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW dengan kondisi budaya masyarakat yang seperti
   itu, dan juga dapat diketahui asbabunnuzul-asbabunnuzul dari setiap hukum yang
   diwahyukan Allah SWT.




                                                                            Jawaban soal tarikh tasyri’
                                     Pertanyaan ke 2

a. Fase Makkiyah, Pada fase ini umat Islam keadaannya masih terisolir, masih sedikit
   kuantitasnya dan kapasitasnya masih lemah, belum bisa membentuk komunitas umat yang
   mempunyai lembaga pemerintahan yang kuat. Oleh karena itu, perhatian Rasulullah saw
   pada fase ini dicurahkan kepada aktivitas penyebaran dakwah dalam rangka proyek
   penanaman tauhid kepada Allah swt dan meninggalkan praktek-praktek penyembahan
   berhala.

b. Fase Madaniyah, ialah sejak Rasulullah saw hijrah dari Mekkah ke Madinah hingga
   wafatnya tahun II H/632 M, yakni sekitar 10 tahun lamanya. Pada fase ini Islam sudah
   kuat, kuantitas umatnya sudah banyak dan telah mempunyai tata pemerintahan tersendiri
   sehingga media-media dakwah berlangsumg dengan aman dan damai. Periode Madinah
   dikenal sebagai periode penataan dan pemapanan masyarakat sebagai masyarakat
   percontohan. Karenanya, diperiode Madinah inilah ayat-ayat yang memuat hukum-hukum
   untuk keperluan tersebut turun, baik yang berbicara tentang ritual maupun sosial. Alasan
   beberapa produk hukum itu berada dalam periode Madinah, antara lain :

   1. Dalam periode ini diperkirakan umat Islam sudah memiliki modal akhlak atau mental
      dan akidah yang kuat sebagai landasan melaksanakan tugas-tugas lain. Hanya orang
      yang mempunyai kepercayaan yang tinggi kepada pembuat aturanlah yang dapat
      melaksanakan dan memelihara peraturan.
   2. Hukum itu akan dapat terlaksana bila dilindungi oleh kekuatan politik. Di periode ini,
      Rasulullah saw dipercaya oleh masyarakatnya sebagai pemegang kekuasaan politik
      karena keberhasilannya menyelesaikan perselisihan yang disebabkan oleh perebutan
      pengaruh masyarakat Madinah karena primordialisme. Masyarakat Madinah yang
      kemudian terdiri atas penduduk asli dan imigrasi dari Mekkah (Muhaijrin) tidak lagi
      merasakan kesukuan sebagai ikatan solidaritas, tetapi kepercayaan agama.

c. Sumber Hukum Islam Pada Masa Rasulullah saw. Pada periode Rasulullah saw pada
   dasarnya hanya ada 2 sumber hukum (perundang-undangan), yaitu wahyu Ilahi (Al qur'an)
   dan Sunnah.

                                     Pertanyaan Ke 3
a. Hukum Poligami
    Sebelum Islam
      Poligami adalah praktik masyarakat Arab pra-Islam. Dr Najmân Yâsîn dalam kajian
      mutakhirnya tentang perempuan pada abad pertama Hijriah (abad ketujuh Masehi)
      menjelaskan memang budaya Arab pra-Islam mengenal institusi pernikahan tak
      beradab (nikâh al-jâhili) di mana lelaki dan perempuan mempraktikkan poliandri dan
      poligami. Pertama, pernikahan sehari, yaitu pernikahan hanya berlangsung sehari
      saja.Kedua, pernikahan istibdâ’ yaitu suami menyuruh istri digauli lelaki lain dan
      suaminya tidak akan menyentuhnya sehingga jelas apakah istrinya hamil oleh lelaki
      itu atau tidak. Jika hamil oleh lelaki itu, maka jika lelaki itu bila suka boleh
      menikahinya. Jika tidak, perempuan itu kembali lagi kepada suaminya. Pernikahan ini
      dilakukan hanya untuk mendapat keturunan.Ketiga, pernikahan poliandri jenis
      pertama, yaitu perempuan mempunyai suami lebih dari satu (antara dua hingga
      sembilan orang). Setelah hamil, istri akan menentukan siapa suami dan bapak anak
      itu.Keempat, pernikahan poliandri jenis kedua, yaitu semua lelaki boleh menggauli
      seorang wanita berapa pun jumlah lelaki itu. Setelah hamil, lelaki yang pernah
      menggaulinya berkumpul dan si anak ditaruh di sebuah tempat lalu akan berjalan
      mengarah ke salah seorang di antara mereka, dan itulah bapaknya.Kelima pernikahan-
                                                                         Jawaban soal tarikh tasyri’
       warisan, artinya anak lelaki mendapat warisan dari bapaknya yaitu menikahi ibu
       kandungnya sendiri setelah bapaknya meninggal.Keenam, pernikahan-paceklik, suami
       menyuruh istrinya untuk menikah lagi dengan orang kaya agar mendapat uang dan
       makanan. Pernikahan ini dilakukan karena kemiskinan yang membelenggu, setelah
       kaya perempuan itu pulang ke suaminya. Ketujuh, pernikahan-tukar guling, yaitu
       suami-istri mengadakan saling tukar pasangan.
       Sebagaimana yang telah dijelaskan tentang kondisi masyarakat Arab pra-Islam, bahwa
       kedudukan perempuan cenderung direndahkan dan tidak mendapat kedudukan dan
       penghargaan yang layak. Dengan demikian, maka poligami sebelum islam datang
       adalah suatu hal yang biasa dilakukan dalam masyarakat arab.
      Setelah Islam
       Setelah Islam datang, maka poligami dibatasi dan diatur dalam Al-Qur’an.
       Sebagaimana dalam QS.4:3 bahwa “pria muslim dapat menikahi empat perempuan”.

b. Syarat penerimaan Harta Pusaka
   Sebelum Islam:
   Syarat-syarat mempusakai pada zaman arab Jahiliyah adalah:
   1. Pertalian kerabat (Qarabah)
   2. Janji setia (Muhalafah)
   3. Adopsi (Tabanni)
   Setelah Islam:
   Pada zaman awal Islam (setelah Nabi Muhammad dan shahabat hijrah ke Madinah) selain
   karena pertalian nasab atau kerabat, terdapat tiga sebab mendapatkan harta pusaka, yaitu:
   1. Adopsi
   2. Hijrah, dan
   3. Mu’akhakh (persaudaraan antara muhajirin dan anshor).
   Akomodasi al-Quran terhadap tradisi arab pra-Islam diantaranya dengan menjadikan
   perempuan sebagai anggota keluarga yang mendapatkan harta pusaka. Baik sebagai anak,
   istri, ibu, maupun saudara. Pokok-pokok hukum waris tercantum dalam surat An-Nisaa’
   ayat 7-14.

c. Sangsi Potong Tangan
   Dalam Al-Quran dikatakan bahwa sangsi bagi pencuri, baik laki-laki maupun perempuan
   adalah potong tangan (Al-Maidah:38). Menurut Muhammad Azhar dalam fiqih
   kontemporer dalam pandangan neo modernisme islam (1996), sanksi potong tangan itu
   sangat mengerikan dan merupakan tradisi Arab Saudi sebelum Islam. Jadi, itu bukan
   hukum Islam. Dengan demikian, sanksi potong tangan bagi pencuri merupakan akomodasi
   terhadap hukum yang hidup di masyarakat arab saat itu.
   Menurut Ibrahim Dasuqi al-Syahawi (1961), sebagian ulama berpendapat bahwa salah
   satu arti memotong tangan pencuri yang terdapat dalam surat Al-Maidah: 38 itu adalah
   mencegah pelaku dari kemungkinan mencuri lagi. Kata al-qath’ ditafsirkan dengan kata
   al-man’. Mencegah pencuri dari tindakan pengulangan pencurian tidak mesti dengan
   potong tangan; dapat diganti dengan yang lain seperti dipenjara.

                                       Pertanyaan ke-4
Poligami hukumnya tergantung pada situasi dan kondisi si pelaku. bisa haram, boleh, maupun
wajib.
Dikatakan haram, apabila dengan melakukan poligami tersebut dapat membawanya kepada
hal yang dilarang oleh Allah dan lebih banyak yang madharat daripada maslahatnya.
Dikatakan boleh, apabila dengan poligami bisa menambah keimanan dan ketaqwaan kepada
Allah SWT dengan syarat suami bisa berbuat adil. Sebagaimana yang telah dicontohkan Nabi

                                                                          Jawaban soal tarikh tasyri’
SAW dengan menikahi beberapa perempuan. Serta firman Allah SWT QS.4:3 bahwa “pria
muslim dapat menikahi empat perempuan”.
Dikatakan wajib, apabila terjadi dalam suatu tempat terdapat jumlah laki-laki yang sedikit
sementara jumlah perempuan banyak.

                                       Pertanyaan ke 5
          Kalau melihat sejarah Rasul SAW, beliau berijtihad dengan tuntunan wahyu yang
diperolehnya serta memperbolehkan kepada sahabatnya untuk berijtihad sendiri. Dikarenakan
banyaknya persoalan-persoalan yang belum diatur dalam Al-Quran.
          Hikmah Nabi SAW berijtihad adalah:
 untuk memperjelas dan merinci hukum yang tercantum dalam Al-Quran yang bersifat
    global. Seperti tentang shalat.
 Untuk menjawab permasalahan-permasalahan hukum yang terjadi pada masa itu yang
    tidak dijelasdkan dalam Al-Qur’an.
          Hikmah dibolehkannya ijtihad kepada shahabat:
Untuk menjawab permasalahan-permasalahan hukum yang terjadi yang belum /tidak
dijelaskan dalam Al-Qur’an dan Hadits. Dalam hal ini, maka shahabatpun diperbolehkan
untuk berijtihad.
                                       Pertanyaan ke-6
Pengaruh fatwa terhadap perkembangan tasyri’:
1. shahabat melakukan penelaahan terhadap al-Quran dan Sunnah dalam menyelesaikan
    suatu kasus. Apabila tidak ditemukan dalam Al-Quran dan Sunnah, mereka melakukan
    ijtihad.
2. Shahabat telah menentukan thuruq al-istinbath dalam menyelesaikan kasus yang dihadapi.

                                     Pertanyaan ke-7

   a. Rasulullah melarang menulis hadits karena Rasulullah menghendaki agar jangan
      sampai Al-Qur’an tercampur dengan lainnya, apalagi di kalangan kaum ummu (tuna
      baca tulis) yang beranggapan bahwa Al-Qur’an dan hadits adalah satu macam. Dan
      Beliau juga benar-benar yakin bahwa kaumnya memiliki kekuatan hafalan dan mampu
      mengingatnya saat-saat diperlukan.
   b. Pengaruh pembukuan hadits terhadap tasyri’:
         - munculnya musnad-musnad hadits.
         - Munculnya ulama-ulama peneliti hadits
         - Adanya pemisahan hadits shahih dan dho’if.
   c. Mulculnya madrasah al-hadits dan madrasah al-ro’yu:

       Pertengahan abad ke-1 H sampai awal abad ke-2 H. Periode ini merupakan awal
       pembentukan fiqh Islam. Sejak zaman Usman bin Affan (576-656), khalifah ketiga,
       parasahabat sudah banyak yang bertebaran di berbagai daerah yang ditaklukkan Islam.
       Masing-masing sahabat mengajarkan Al-Qur’an dan hadits Rasulullah SAW kepada
       penduduk setempat. Di Irak dikenal sebagai pengembang hukum Islam adalah
       Abdullah bin Mas’ud (Ibnu Mas’ud), Zaid bin Sabit (11 SH/611 M-45 H/665 M) dan
       Abdullah bin Umar (Ibnu Umar) di Madinah dan Ibnu Abbas di Makkah. Masing-
       masing sahabat ini menghadapi persoalan yang berbeda, sesuai dengan keadaan
       masyara’at setempat.

       Para sahabat ini kemudian berhasil membina kader masing-masing yang dikenal
       dengan para thabi’in. Para thabi’in yang terkenal itu adalah Sa’id bin Musayyab (15-
       94 H) di Madinah, Atha bin Abi Rabah (27-114H) di Makkah, Ibrahiman-Nakha’i (w.
       76 H) di Kufah, al-Hasan al-Basri (21 H/642 M-110H/728M) di Basra, Makhul di
                                                                         Jawaban soal tarikh tasyri’
       Syam (Suriah) dan Tawus di Yaman. Mereka ini kemudian menjadi guru-guru
       terkenal di daerah masing-masing dan menjadi panutan untuk masyara’at setempat.
       Persoalan yang mereka hadapi di daerah masing-masing berbeda sehingga muncullah
       hasil ijtihad yang berbeda pula. Masing-masing ulama di daerah tersebut berupaya
       mengikuti metode ijtihad sahabat yang ada di daerah mereka, sehingga muncullah
       sikap fanatisme terhadap para sahabat tersebut.

       Dari perbedaan metode yang dikembangkan para sahabat ini kemudian muncullah
       dalam fiqh Islam Madrasah al-hadits (madrasah = aliran) dan Madrasah ar-ra’yu.
       Madrasah al-hadits kemudian dikenal juga dengan sebutan Madrasah al-Hijaz dan
       Madrasah al-Madinah; sedangkan Madrasah ar-ra’yu dikenal dengan sebutan
       Madrasah al-Iraq dan Madrasah al-Kufah.

                                      Pertanyaan ke-8

Karena adanya sikap ta’assub madzhab (fanatisme mazhab imamnya) di kalangan pengikut
mazhab. Ulama ketika itu merasa lebih baik mengikuti pendapat yang ada dalam mazhab
daripada mengikuti metode yang dikembangkan imam mazhabnya untuk melakukan ijtihad.

                                      Pertanyaan ke-9

Sebab terhentinya ijtihad pada periode ulama murajihin:

1. Terpecahnya daulah Islamiyah ke dalam beberapa kerajaan yang antara satu dan lainnya
    saling bermusuhan.
2. Tokoh-tokoh fuqoha terpolarisasi dalam beberapa golongan. Masing-masing golongan
    membentuk menjadi aliran hukum tersendiri dan mempunyai khittah tersendiri pula.
3. Umat Islam mengabaikan sistem kekuasaan perundang-undangan, sementara disisi lain
    mereka juga tidak mampu merumuskan peraturan yang bisa menjamin agar seseorang
    tidak ikut berijtihad kecuali yang memang ahli dibidangnya.
4. Para ulama dilanda krisis moral yang menghambat mereka sehingga tidak bisa sampai
    pada level orang-orang yang melakukan ijtihad.

Usaha-usaha ulama dalam mengatasi taqlid dan jumud:
a. Para ulama menyerukan untuk kembali kepada Al-Quran dan Assunnah.
b. Mulculnya Golongan Salafiyyin mengajak para ulama kepada :
    1. Meninggalkan taqlid buta
    2. Mempersatukan mazhab
    3. Kembali kepada sumber-sumber tasyri' yang asli
    4. Membasmi bid'ah dan khurafat

                                    Pertanyaan ke-10
a. Jamaludin Al-Afghani 1254 H/1838 M
        Pertama; Perlawanan terhadap kolonial barat yang menjajah negri-negri Islam
(terutama terhadap penjajah Inggris). Beliau turut ambil bagian dalam peperangan
kemerdekaan India pada bulan Mei 1857, juga mengadakan ziarah ke negri-negri Islam yang
berada di bawah tekanan imperialis dan kolonialis barat seperti tersebut di atas.
        Kedua; upaya melawan pemikiran naturalisme di India, yang mengingkari adanya
hakikat ketuhanan. Menurutnya, dasar aliran ini merupakan hawa nafsu yang menggelora dan
hanya sebatas egoisme sesaat yang berlebihan tanpa mempertimbangkan kepentingan umat
manusia secara keseluruhan.

                                                                       Jawaban soal tarikh tasyri’
       Al Afghani lebih kepada pendekatan provokasi (dalam term positif) atau membakar
semangat, menyadarkan ummat atas realitas keterpurukan mereka, serta menjalin komunikasi
dengan para ulama dan pemimpin kaum Muslimin.
       Pengaruhnya terhadap perkembangan tasyri’: bahwa Al-Afghani berusaha
menghancurkan pemikiran tentang pengingkaran hakikat ketuhanan dengan menunjukkan
bahwa agama Islam mampu memperbaiki kehidupan masyarakat dengan syariat dan ajaran-
ajarannya.

b. Muhammad Abduh
Menurut DR. M. Quraisy Syihab dalam Studi Kritis Tafsir Al-Manar terbitan Pustaka
Hidayah tahun 1994 halaman 19, ada dua pemikiran pokok yang menjadi fokus utama
pemikiran Muhammad Abduh, yaitu:
1. Membebaskan aqal fikiran dari belenggu-belenggu taqlid yang menghambat perkembangan
pengetahuan agama sebagaimana haqnya salaful ummah, yakni memahami langsung dari
sumber pokoknya, Al-Qur’an dan Hadits.
2. Memperbaiki gaya bahasa Arab, baik yang digunakan dalam percakapan resmi di kantor-
kantor pemerintahan maupun dalam tulisan-tulisan di media massa.

Menurut Muhammad Abduh, aqal dapat mengetahui hal-hal berikut ini:
1. Tuhan dan sifat-sifat-Nya.
2. Keberadaan hidup di akhirat.
3. Kebahagian jiwa di akhirat bergantung pada upaya mengenal Tuhan dan berbuat baik,
sedangkan kesengsaraannya bergantung pada sikap tidak mengenal Tuhan dan melakukan
perbuatan jahat.
4. Kewajiban manusia mengenal Tuhan.
5. Kewajiban manusia untuk berbuat baik dan menjauhi perbuatan jahat untuk kebahagiaan di
akhirat.
6. Hukum-hukum mengenai kewajiban-kewajiban itu.

Pengaruhnya terhadap perkembangan tasyri’:
Membebaskan umat Islam dari sifat Taqlid.
Memberikan pencerahan kembali dalam pemikiran umat Islam.


c. Muhammad Rasyid Ridla

Beliau berusaha mengemukakan kemerosotan kaum muslimin dilihat dari berbagai situasi dan kondisi
menurut pemikiran dan cara pandang beliau dalam meneliti sebuah realita hidup yang tentunya tidak
terlepas dari suatu penyebab kelemahan itu sendiri yaitu;
1). Orang-orang Eropa identik dalam hidupnya itu serba mewah, dalam hal ini akan mengakibatkan
     kehancuran dalam aspek sosial masyarakat apabila ini tidak ada pendidikan yang benar sebagai
     fondasinya. Begitu pula mereka senantiasa memisahkan hubungan sosial yang ada dibagian benua
     Timur, mereka mengendalikan kehidupan itu pada lima perkara yaitu; arak, judi, riba, prostitusi
     dan perdagangan.
2). “Tentara-tentara penjajah” itu identik dengan golongan yang mengekor (taqlid) pada orang-orang
     Eropa dalam aspek kehidupan tanpa mengambil ibrah dari intisari peradaban mereka. Dimana
     Jamaluddin al-Afghani beranggapan mereka itu sebagai unsur pemecah belah negara dan kaum
     penjajah maka dijulukilah sebagai golongan syaitan, bahwa ingatlah golongan syaitan itu akan
     merugi.
3). Orang-orang muslim telah menjauh dari nilai-nilai agama yang merupakan keutamaan yang mudah
     sehingga segala aktifitasnya tidak pernah ada kesederhanaan, karena mungkin menganggapnya
     bahwa agama itu mudah dan sederhana saja. Maka mengakibatkan orang non muslim sangat
     mudah untuk mengorek-ngorek dan kelemahan memahami bahasa Arab. Dengan demikian
     tersebarlah ketergesaan yang tidak seimbang.
                                                                                Jawaban soal tarikh tasyri’
4). Pemerintah yang dzalim, kesewenang-wenangan dalam bertindak adalah suatu kehancuran dan
    kerusakan sebagaimana diibaratkan; apabila kamu melihat kebohongan, perkataan yang kotor,
    sombong, munafik, iri hati, dengki dan yang serupa dengan prilaku itu, merupakan suatu kehinaan
    yang terjadi pada umat. Maka hukumlah para pemimipin yang melakukan kedzaliman dan
    kesewenang-wenangan, rakyatnya kalau bertindak seperti demikian dan juga para ulama, para da’I
    yang melakukan bid’ah dan kerusakan-kerusakan dalam ibadah ataupaun sebaliknya.
5). Yang dialami orang muslim saat ini adalah banyak kebingungan, fitnah dan tampaknya perbedaan,
    perpecahan sehingga dapat melemahkan kekuatan orang muslim.
6). Sempitnya dan sedikitnya para fuqaha yang mampu dalam berijtihad malahan sampai tidak
    mampu, juga tidak dapat menyesuaikan perkembangan-perkembangan modern. Sehingga hukum
    itu merasa sempit ketika contohnya dalam masalah riba atau yang berhubungan dengan masalah
    transaksi harta.
7). Tidak melaksanakan syari’at hukum Islam, bahkan sebagian orang muslim mendorong untuk
    mempalajari teori sosialis. Sebenarnya dalam Islam itu sudah mencakup substansi dari pelajaran-
    pelajaran seperti ini.
8). Tersebarnya kemunkaran-kemunkaran yang dikedepankan seperti menciptakan agama-agama baru
    yang mungkin ini bakal atau celah yang jauh dari agama yang lurus.

Barangkali dari intisari yang dikemukakan beliau memberikan solusi yang bakal menjauhkan segala
kelemahan dari timbulnya penyebab tadi. Dalam hal ini beliau tanpa memandang waktu tertentu dan
dalam kondisi bagaimana. Dengan demikian ada beberapa cara diantaranya:
1). Penuh perhatian pada orang yang terkemuka dari segala pendidikan dan pembentukan muslim
    sejati. Begitu pula semangatnya dalam memperjaungkan Islam contohnya Syaikh Muhammad
    Abduh dalam mencetak tingkatan seorang muslim yang berpendidikan yang mampu mendorong
    masyarakat untuk maju.
2). Ulama itu harus tunduk dan taat juga mengakui terhadap ilmu kontemporer untuk kemajuan.
    Karena agama itu bukanlah yang memelihara dirinya akan tetapi bagaimana mengolah dirinya
    untuk maju.
3). Penting mengubah gambaran yang di rasakan kaum muslim bahwa agama itu hanya sebatas ibadah
    saja. Akan tetapi agama itu sebuah ruh yang akan mendatangkan kemenangan tanpa menjauhkan
    prilaku yang jelek. Sehingga keinginan beliau, bahwa orang-orang muslim itu perlu belajar agama
    yang bukan hanya sebatas rahasia ruhiyyah saja, bahkan perlu mengetahui hakikat hidup di dunia
    seperti halnya kebahagiaan manusia yang mengharapkan kebahagiaan dunia dan akhirat.
4). Sesungguhnya perbaikan kaum muslimin itu adalah pentingnya mengembalikan kepada manhaj
    salafus shaleh dalam memahami agama tanpa menambah atau menguranginya.
5). Perlunya membangun universitas Islam dengan anggapan bahwa itu adalah bentuk strategis dalam
    tujuan terbesar pergerakan reformis yang berangkat untuk memahami Islam dengan benar.
6). Perubahan dan perbaikan itu tidaklah sempurna oleh seorang pemimpin saja bahkan umatnya pun
    perlu bertanggung jawab memperbaikinya.
7). Perlunya berijtihad dalam urusan dunia yang berdasarkan pada hukum-hukum yang sesuai dengan
    kebutuhan yang akan dijalankan oleh pemerintah sebagai bahan untuk melaksanakan keadilan,
    menjaga keamanan, aturan, negeri yang aman, kemasalahatan umat yang didasari oleh perubahan
    waktu dan tempat keadaan manusia dilihat pada sisi agama dan kondisi masyarakat.
8). Mengistinbat suatu hukum itu harus berdasarkan sebuah majma’ (lembaga fatwa) dan dakwah
    dengan maksud untuk menghilangkan perbedaan. Sampai beliau menyarankan untuk memahami
    dan memilih bukunya Imam Ghazali “al-qisthasul mustaqim” yang mungkin bisa dijadikan sebuah
    hujjah.
9). Menyebarluaskan pendidikan yang bersifat analisa, pengajaran yang sesuai dengan agama.
    Kemudian perlu dibangun sekolah-sekolah untuk kemasalahatan umat. Dan beliau menyebutkan
    bahwa hal ini sebagai sebab akan bangkitnya dalam bentuk wasilah-wasilah yang di berikan untuk
    umat sebagai tujuan kebahagian di dunia yang sesuai dengan kebutuhan.




                                                                               Jawaban soal tarikh tasyri’

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:1427
posted:12/25/2010
language:Indonesian
pages:7