makalah agama

					                                    BAB I
                             PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang

   Pendidikan Islam pada intinya adalah sebagai wahana pembentukan
   manusia yang bermoralitas tinggi. Di dalam ajaran Islam etika, sikap, dan
   toleransi beragama tidak dapat dipisahkan dari keimanan. Keimanan
   merupakan pengakuan hati. Makalah belajar ini merupakan salah satu
   bagian dari layanan mahasiswa untuk mahasiswa yang dapat dipergunakan
   sebagai salah satu bagian penunjang pembelajaran Terkait dengan. Oleh
   karena itu, diharapkan kepada mahasiswa tidak ragu lagi untuk
   menggunakan bahan ajar ini sebagai salah satu bagian dari perangkat yang
   dipergunakan dalam proses pembelajaran.Penghargaan setinggi-tingginya
   kami sampaikan kepada dosen pembimbing, semoga menjadi amal
   kebaikan dan mendapatkan pahala yang setinggi-tingginya dari Tuhan Yang
   Maha Esa. Amien.Kami yakin makalah ini jauh dari sempurna, dengan hati
   yang tulus kami mohon kritik maupun saran demi perbaikan-perbaikan
   dimasa yang akan datang Semoga bermanfaat dan tercapai tujuannya.




1.2 Tujuan
a. Mengetahui etika beragama.
b. Mengetahui sikap beragama.
c. Mangetahui toleransi beragama.
                                      BAB II
                              LANDASAN TEORI




2.3 Etika Beragama
        Dari segi etimologi (ilmu asal usul kata), etika berasal dari bahasa yunani,
ethos yang berarti watak kesusilaan atau adat. Dalam Kamus Umum Bahasa
Indonesia etika berarti ilmu pengetahuan tentang asas-asas akhlak (moral).
Sedangkan etika menurut filsafat dapat disebut sebagai ilmu yang menyelidiki
mana yang baik dan mana yang buruk dengan memperhatikan amal perbuatan
manusia sejauh yang dapat diketahui oleh akal pikiran. Pada dasarnya,etika
membahasa tentang tingkah laku manusia.
        Tujuan etika dalam pandangan filsafat ialah mendapatkan ide yang sama
bagi seluruh manusia disetiap waktu dan tempat tentang ukuran tingkah laku yang
baik dan buruk sejauh yang dapat diketahui oleh akal pikiran manusia. Akan
tetapi dalam usaha mencapai tujuan itu, etika mengalami kesulitan, karena
pandangan masing-masing golongan dunia ini tentang baik dan buruk mempunyai
ukuran (kriteria) yang berlainan.
        Secara metodologi, tidak setiap hal menilai perbuatan dapat dikatakan
sebagai etika. Etika memerlukan sikap kritis, metodis, dan sistematis dalam
melakukan refleksi. Karena itulah etika merupakan suatu ilmu. Sebagai suatu
ilmu, objek dari etika adalah tingkah laku manusia. Akan tetapi berbeda dengan
ilmu-ilmu lain yang meneliti juga tingkah laku manusia, etika memiliki sudut
pandang normatif, yaitu melihat perbuatan manusia dari sudut baik dan buruk .
        Etika terbagi menjadi tiga bagian utama: meta-etika (studi konsep etika),
etika normatif (studi penentuan nilai etika), dan etika terapan (studi penggunaan
nilai-nilai etika).

Adapun Jenis-jenis Etika adalah sebagai berikut:
1. Etika Filosofis
   Etika filosofis secara harfiah dapat dikatakan sebagai etika yang berasal
   dari kegiatan berfilsafat atau berpikir, yang dilakukan oleh manusia.
   Karena itu, etika sebenarnya adalah bagian dari filsafat; etika lahir dari
   filsafat.
   Ada dua sifat etika, yaitu:


   a. Non-empiris Filsafat digolongkan sebagai ilmu non-empiris. Ilmu
       empiris adalah ilmu yang didasarkan pada fakta atau yang kongkret.
       Namun filsafat tidaklah demikian, filsafat berusaha melampaui yang
       kongkret dengan seolah-olah menanyakan apa di balik gejala-gejala
       kongkret. Demikian pula dengan etika. Etika tidak hanya berhenti pada
       apa yang kongkret yang secara faktual dilakukan, tetapi bertanya
       tentang apa yang seharusnya dilakukan atau tidak boleh dilakukan.
   b. Praktis Cabang-cabang filsafat berbicara mengenai sesuatu “yang ada”.
       Misalnya filsafat hukum mempelajari apa itu hukum. Akan tetapi etika
       tidak terbatas pada itu, melainkan bertanya tentang “apa yang harus
       dilakukan”. Dengan demikian etika sebagai cabang filsafat bersifat
       praktis karena langsung berhubungan dengan apa yang boleh dan tidak
       boleh dilakukan manusia. Etika tidak bersifat teknis melainkan
       reflektif, dimana etika hanya menganalisis tema-tema pokok seperti
       hati nurani, kebebasan, hak dan kewajiban, dsb, sambil melihat teori-
       teori etika masa lalu untuk menyelidiki kekuatan dan kelemahannya.
2. Etika Teologis
   Terdapat dua hal-hal yang berkait dengan etika teologis. Pertama, etika
   teologis bukan hanya milik agama tertentu, melainkan setiap agama dapat
   memiliki etika teologisnya masing-masing. Kedua, etika teologis
   merupakan bagian dari etika secara umum, karena itu banyak unsur-unsur
   di dalamnya yang terdapat dalam etika secara umum, dan dapat dimengerti
   setelah memahami etika secara umum.
       Secara umum, etika teologis dapat didefinisikan sebagai etika yang bertitik
       tolak dari presuposisi-presuposisi teologis. Definisi tersebut menjadi
       kriteria pembeda antara etika filosofis dan etika teologis.
       Setiap agama dapat memiliki etika teologisnya yang unik berdasarkan apa
       yang diyakini dan menjadi sistem nilai-nilai yang dianutnya. Dalam hal
       ini, antara agama yang satu dengan yang lain dapat memiliki perbedaan di
       dalam merumuskan etika teologisnya.




Dalil-dalil yang berhubungan dengan etika
Firman Allah swt:




Sesungguhnya dalam penciptaan langit langit dan bumi, dan silih bergantinya
malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (QS. Ali
Imran: 190)




Tidak ada kebaikan dari banyak pembicaraan mereka, kecuali pembicaraan
rahasia dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat
maruf, atau mengadakan perdamaian diantara manusia. Dan barangsiapa yang
berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami memberi
kepadanya pahala yang besar. (QS. An-nisa: 114)
Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama
Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah
iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal. (QS.
Al Anfal:2)




Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan
memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Rabbnya dan ampunan serta rezki
(nimat) yang mulia. (QS. Al Anfal:4)




Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mumin, diri dan harta
mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan
Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar
dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al-Quran. Dan siapakah yang lebih menepati
janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah
kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar. (QS. At Taubah: 111)
Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu hai Bani Adam supaya kamu
tidak menyembah syaitan? Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagi
kamu, (QS. Yasin: 60)




Sesungguhnya Kami telah mensucikan mereka dengan (menganugerahkan kepada
mereka) akhlak yang tinggi yaitu selalu mengingatkan (manusia) kepada negeri
akhirat. (QS. Sad: 46)


2.4 Sikap Beragama

Perburuan makna agama, akhir-akhir ini sudah menghinggapi wilayah regulasi
atau perundang-undangan. Kelompok agamis, yang meyakini bahwa agama
adalah satu sistem yang komprehensif, berkehendak untuk menjadikan agama
sebagai bagian dari dasar, élan vital setiap aturan yang ditelurkan oleh negara. Tak
puas dengan hanya menjadikan agama sebagai spirit kehidupan berbangsa dan
bernegara, kelompok ini juga berusaha menjadikan diktum hukum agama tertentu
sebagai bagian dari bahasa undang-undang.

Tak hanya berada di level pemerintahan pusat, pergolakan mencari medan makna
agama juga turun gunung sampai ke daerah-daerah. Di Tangerang dan Depok
muncul peraturan daerah (Perda) anti maksiat yang dalam salah satu butir
ketetapannya memuat tentang aturan “jam malam” bagi wanita. Di daerah lain di
Jawa Barat seperti Cianjur dan Indramayu, Perda yang memiliki spirit kurang
lebih sama seperti di Tangerang dan Depok juga mulai disosialisasikan. Salah satu
pasal yang menjadi titik tekan adalah keharusan memakai jilbab, sama seperti di
Padang Sumatera Barat.

Perda serupa juga diterapkan di Bulukumba, Sulawesi Selatan. Di Bulukumba ada
aturan yang mengharuskan calon pasangan suami istri harus bisa baca tulis al-
Qur‟an. Keruan saja perda ini memantik reaksi dari kalangan yang kontra dengan
peraturan ini. Tapi juga banyak kalangan yang sepakat dengan aturan ini seperti
kelompok yang menamakan dirinya Komite Persiapan Penegakan Syariat Islam
(KPSI).

Apa yang melatarbelakangi keinginan kelompok agamis untuk menerapkan
syari‟at Islam di daerah-daerah adalah adanya satu keyakinan bahwa Islam huwa
al-hal atau Islam adalah solusi. Imbasnya, mereka berusaha untuk menjadikan
hukum Islam sebagai hukum publik. Sebagai negara yang berpenduduk umat
Islam     terbesar   di   dunia,   semangat   menerapkan    syari‟at   wajar   jika
dimunculkannya.

Ada jawaban historis yang sangat mungkin bisa dijadikan rujukan, terutama pada
masa sejarah awal kemerdekaan kita. Perjuangan kelompok Islam, untuk
memasukkan syari‟at begitu kuat mengemuka, saat itu. Semangat yang muncul
ketika itu adalah menjadikan syari‟at sebagai bagian dari ideologi negara.

2.5     Toleransi Beragama

Tiap-tiap agama mempunyai hari raya. Pada prinsipnya, hari raya suatu agama
dirayakan oleh masing-masing pemeluknya, sebab motivasi atau titik tolaknya
adalah karena keyakinan atau kepercayaan keagamaan yang dianut.

Bertitik tolak dari paham yang demikian, maka di dalam perayaan suatu agama
yang di dalamnya terdapat upacara ritual, tidaklah relevan apabila diundang orang
lain yang menganut keyakinan atau kepercayaan agama lain untuk turut
merayakannya.


Sebagai contoh dapat kita kemukakan tentang hari raya agama Islam. Seperti
diketahui, hari raya dalam Islam ada dua, „Idul Fithri dan „Idul Adha. Kedua hari
raya Islam itu dilakukan dalam bentuk sholat dan khutbah, yang sifatnya
ta‟abbudi/ritual. Karenanya tidaklah wajar apabila umat Islam mengundang orang
yang menganut agama lain untuk hadir bersama-sama merayakan hari raya itu.
Kalaupun ada orang-orang yang dari agama lain ingin turut bersama-sama
merayakan hari raya Islam dengan mengerjakan shalat hari raya karena hendak
menunjukkan sikap toleransi /tasamuh, tentu setiap individu muslim yang arif
akan mencegah yang demikian dengan sikap yang layak dan etis.

Harus dipahamkan perbedaan antara shalat “idul Fithri dengan pertemuan
silaturrahim „Idul Fithri yang umum dikenal sebagai halal bi halal, atau
memperingati satu Muharram, Maulid Nabi, dan Isra‟ Mi‟raj. Sikap jiwa yang
demikian diharapkan pula diterapkan oleh saudara-saudara kita yang beragama
lain, baik penganut agama Kristen, Budha, dan Hindu terhadap pemeluk agama
Islam.

Apabila umat Islam diundang misalnya, untuk merayakan Hari Natal atau Tahun
Baru yang di dalamnya ada pemujaan atas Yesus Kristus atau perayaan agama
lainnya yang juga memiliki upacara ritual, tidaklah relevan dengan ajaran
keberagamaanpun dengan sendirinya akan menempatkan pihak yang diundang
dalam satu posisi yang sulit.

Kalau undangan itu dipenuhinya, akan bertentangan dengan norma-noram aqidah
yang menjadi pegangan hidupnya., sebaliknya kalau tidak dihadiri, apalagi karena
yang mengundang adalah pimpinan kantor,bos perusahaan, gubernur dan lain-
lain, maka khawatir akan dicap atau dianggap tidak memiliki sikap hidup
kerukunan atau toleransi.

Dalam hubungan ini perlu kita kutip petunjuk yang pernah dikeluarkan oleh eks
Mentri Agama Alm. Munawir Syazali tentang pedoman penyiaran agama No.70
tahun 1978. Inti edaran tersebut, ialah peringatan hari besar keagamaan yang
diselenggarakan oleh masyarakat dan sekolah, perguruan tinggi pada dasarnya
diselenggarakan dan dihadiri oleh pemeluk agamanya masing-masing.

Karenanya, hendaknya jangan ada satu pemikiran memberikan kwalifikasi
Perayaan Bersama terhadap perayaan keagamaan pemeluk suatu agama. Bagi
umat Islam, sudah ada pegangan dan petunjuk yang dituangkan oleh Fatwa
Majelis Ulama Indonesia tanggal 7 Maret tahun 1981, yang pada pokoknya kaum
muslimin tidak diperbolehkan menghadiri perayaan Natal, berdasarkan ajaran
aqidah Islam.

Pendirian yang demikian hendaknya jangan sampai diartikan sebagai tidak
berusaha menciptakan kerukunan hidup umat beragama. Dalam rangka
menciptakan kerjasama yang memberikan dorongan kerukunan hidup, masih
banyak harihari besar bersama dimana penganut bermacam macam agama dapat
menggalang dan menunjukkan kesatuan dan kerukunan itu. Umpamanya,dalam
merayakan tujuh belas Agustus, Hari Pahlawan, Hari Sumpah Pemuda, Hari
Kesetia Kawanan Sosial, Hari Ibu, dan hari-hari lain yang sifatnya Nasionalis,
bukan Agamis. Untuk menciptakan keterpaduan dan kebersamaan dari berbagai
macam penganut agama, maka dapat dibentuk satu Panitia Bersama dalam
merayakan dan menye-marakkan hari-hari nasioal itu yang pada gilirannya akan
tercipta sikap kebangsaan dalam setiap diri, bukan justru merayakan hari-hari
keagamaan yang dapat menimbulkan keyakinan abu-abu.

Dalam Islam, telah jelas dan baku dalam mengatur hubungan antara manusia
dengan manusia, walau berbeda keyakinan. Banyak ditemukan ayat-ayat Al Quran
yang mengajarkan setiap individu muslim bersikap luwes/ fleksibelity,
terbuka/open minded, berlapang dada/hostelity dan tasamuh/toleransi, seperti ayat
pada muqaddimah di atas, surat Yunus ayat 99, surah al Ankabut ayat 46 dan lain-
lain, meletakkan prinsip-prinsip bagaimana seharusnya seorang muslim
memandang        dan      menghadapi       pemeluk       agama-agama        lain.
Dari keterangan ayat-ayat Alqur‟an itu terdapat sedikitnya empat prinsip; yaitu :
Pertama, menjauhkan sikap paksaan , tekanan, intimidasi dan yang seumpanya.
Islam tidak mengenal tindak kekerasan. Dalam pergaulan dengan pemeluk agama-
agama lain harus bersikap toleran/tasamuh. Kedua, Islam memandang pemeluk
agama-agamalain, terutama Ahli Kitab memiliki persamaan landasan akidah,
yaitu sama-sama mempercayaai Allah Yang Maha Esa.

Islam mengaukui kebenaran dan kesucian Kitab Taurah dan Injil dalam keadaan
orisinil/asli. Ketiga, Islam mengulurkan tangan persahabatan terhadap pemeluk
agama-agama lain, selama pihak yang bersangkutan tidak menunjukkan sikap
bermusuhan dan memerangi.

Keempat, pendekatan/approach terhadap pemeluk agama-agama lain untuk
meyakinkan mereka terhadap kebenaran ajaran Islam, haruslah dilakukan dengan
diskusi yang baik, sikap sportif dan elegan. Jelaslah bahwa, toleransi dalam Islam
itu ada batasbatasnya, ada ketentuan-ketentuan yang berdasarkan hukum menurut
al Qur‟an dan as Sunnah. Rasulullah Muhammad SAW menunjukkan contoh yang
jelas dan tegas tatkala beliau diajak oleh orangorang yang tidak beriman/kafir
Quraisy untuk melakukan sikap kompromistis, yaitu sehari bersama-sama
menyembah Allah, dan pada hari lainnya bersama-sama pula menyembah tuhan-
tuhan mereka lata, mana dan uzza-tuhan-tuhan warisan nenek moyang mereka.


Maka pada saat itu Allah menurunkan surah al Kafirun “ Katakanlah (wahai
Muhammad) wahai orang-orang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang
kamu sembah......” dan di ayat terakhir, “ Untuk kamu agama kamu, untuk saya
agama saya”.

Karenanya dapat disimpulkan, bahwa mengenai perayaan keagamaan haruslah
ditempatkan secara proporsional seperti yang diuaraikan, dan bagi umat Islam
harus mampu meyakini dirinya bahwa turut serta dalam merayakan hari Natal atau
mengucapkan „Selamat Natal dan Tahun baru‟ berarti telah mencedrai aqidahnya.
Artinya, dengan turut serta dalam upacara kebaktian Natal dan ucapan selamat,
secara langsung ia telah mengakui adanya ilah-ilah/tuhan-tuhan lain selain Allah.

Padahal ia telah mengucapkan kalimat syahadat, dan kalimat itu terdiri dari dua
frame (bingkai) yaitu; „asyhadu‟, dan „la ilaha illallah‟, dankalimat „asyhadu‟
secara bahasa dapat bermakna sebagai berikut : 1. Asyhadu sebagai al i‟lan, yang
bermakna „pengumuman, pernyataan (statement), atau proklamasi. Jika seseorang
telah bersyahadat, maka itu artinya, ia telah menyatakan, mengumumkan, atau
memproklamirkan dirinya sebagai pemeluk atau penganut Islam yang memiliki
tata nilai tertentu. Pernyataan itu menunjukkan adanya penegasan dan perbedaan
yang lain dari yang lain.
Jika sebuah negara misalnya, memproklamasikan negaranya, maka sejak itu pula
negara itu memiliki lambang negara sendiri, lagu, dan bendera sendiri, batas
wilayah dan undang-undang yang diberlakukannya sesuai dengan semangat dan
cita-cita yang mendasari proklamasinya.

Demikian juga bila seseorang telah mengucapkan syahadat, pada dasarnya ia telah
memproklamirkan dirinya bahwa ia telah terbebas dari semua ikatan-ikatan,
kecuali ikatan kepada Allah SWT, dan ia menjadi seorang muslim, “isyhadu
bianna muslimun“/ saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang yang berserah
diri (kepada Allah). Q.s.3.a 64.

Hanya Allah yang ada dalam dirinya, di hati, di pikiran dan di lidahnya. Dari
ketiga pengertian di atas akan membentuk satu makna yang utuh, yaitu bila
seseorang yang telah bersyahadat, maka ia adalah orang yang memproklamirkan
dirinya sebagai pribadi dengan identitas dan ciri khas untuk membuktikan sumpah
dan janjinya yang telah ia ucapkan.

Dan secara otomatis ia pun berbeda dengan golongan agama lain, baik dalam hal
niat, perbuatan (amalan), dan tujuan hidupnya. Toleransi beragama di negara
kita ini jelas menuntut kejujuran, kebebasan jiwa, kebijaksanaan, dan tanggung
jawab
                                    BAB III
                               KESIMPULAN




       Perbedaaan antara etika adalah terletak pada sumber yang dijadikan
patokan untuk menentukan baik dan buruk. Pada etika, sikap, dan toleransi
penilaian baik buruk berdasarkan pendapat akal pikiran, dan moral berdasarkan
kebiasaan yang berlaku umum di masyarakat, maka pada manusia ukuran yang
digunakan untuk menentukan baik buruk itu adalah al-Qur'an dan al-hadis.




DAFTAR PUSTAKA
http://wizanies.blogspot.com/2007/08/akhlak-etika-moral.html
http://grms.multiply.com/journal/item/26
http://dewon.wordpress.com/2007/11/03/kategori-19/




LPM Justisia Fakultas Syari‟ah IAIN Walisongo Semarang

Tempat : Auditorium I Lantai 2 Kampus I IAIN Walisongo Semarang

Waktu : Rabu, 24 Mei 2006, Pukul 08.00 WIB – Selesai




http://www.waspada.co.id/
   SIKAP DAN ETIKA BERAGMA ISLAM




               Disusun oleh :
           Nama : Rozy mahardika
           Prodi : S1 Keperawatan




SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KENDEDES
    PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN
                MALANG
                  2010
                                             DAFTAR ISI


                                                                                                                halaman
Sampul Depan ...............................................................................................        i
Lembar Persetujuan ......................................................................................           ii
Kata Pengantar ..............................................................................................       iii
Daftar Isi .....................................................................................................    iv
Daftar Gambar ...............................................................................................       vi
Daftar Tabel ..................................................................................................     viii
Lembar Lampiran .........................................................................................           x
BAB I      PENDAHULUAN
           1.1 Latar Belakang ...................................................................                    1
           1.2 Rumusan Masalah ..............................................................                        1
           1.3 Tujuan Penelitian ...............................................................                     3
                     1.3.1 Tujuan Umum .......................................................                       3
                     1.3.2 Tujuan Khusus .......................................................                     3
           1.4 Manfaat Penelitian .............................................................                      3
                     1.4.1 Bagi Penulis ...........................................................                  3
                     1.4.2 Bagi Profesi ............................................................                 4
                     1.4.3 Bagi Institusi Pendidikan .......................................                         4
                     1.4.4 Bagi Masyarakat ....................................................                      4
                     1.4.5 Bagi Reverensi .......................................................                    4
BAB II     TINJAUAN PUSTAKA
           2.1 Konsep Pengetahuan ..........................................................                         5
                     2.1.1 Pengertian Pengetahuan .........................................                          5
                     2.1.2 Tingkat Pengetahuan ..............................................                        6
           2.2 Konsep Remaja ..................................................................                      9
                     2.2.1 Pengertian Remaja .................................................                       9
                     2.2.2 Ciri-ciri Masa Remaja ............................................                        10
                     2.2.3 Pertumbuhan dan Perkembangan Fisik Remaja Akhir 17
                     2.2.4 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan                                              18
           2.3 Konsep Virus HIV/AIDS ...................................................                             21
                     2.3.1 Penyakit AIDS .......................................................                     21
                     2.3.2 Cara Penularan .......................................................                    22
                     2.3.3 Penularan AIDS .....................................................                      25
                     2.3.4 Cara Pencegahan ....................................................                      25
                     2.3.5 Prinsip Pencegahan Penularan HIV .......................                                  26
                     2.3.6 Tanda-tanda Seseorang Tertular HIV ....................                                   26
                     2.3.7 Program Penanggulangan HIV ..............................                                 28
           2.4 Konsep PMS ......................................................................                     28
                     2.4.1 Macam-macam PMS ..............................................                            32
                     2.4.2 Gejala Umum PMS ................................................                          33
           2.5 Kerangka Konsep ...............................................................                       34

BAB III METODE PENELITIAN
        3.1 Desain penelitian ................................................................                    35
        3.2 Kerangka Kerja................................................................. .                     36
              Populasi, Sampel, Sampling...............................................
             3.3                                                                                   36
              3.3.1 Populasi ...................................................................   36
              3.3.2 Sampel .....................................................................   37
              3.3.3 Sampling .................................................................. 37
        3.4 Identifikasi Variabel ...........................................................      38
        3.5 Definisi Operasional ........................................................          38
        3.6 Kriteria Inklusi dan Eksklusi ...............................................          38
        3.7 Tempat dan Waktu Penelitian .............................................              38
        3.8 Teknik Pengumpulan Data ..................................................             39
              3.9.1 Perijinan ...................................................................  39
              3.9.2 Cara Kerja dan Teknik Pengumpulan Data ..............                          39
        3.9 Pengolahan Data..................................................................      40
              3.9 Editing ........................................................................ 40
              3.92 Coding ......................................................................   40
              3.93 Tabulating ................................................................     41
        3.10 Teknik Analisa Data...........................................................        41
              3.10.1 Analisis Deskriptif ................................................          41
        3.11 Etika Penelitian .................................................................    42
              3.11.1 Informed Consent ..................................................           42
              3.11.2 Anonimity .............................................................       42
              3.11.3 Confidentiality ......................................................        42
        3.12 Jadwal Penelitian terlampir ................................................          42
BAB IV HASIL PENELITIAN
        4.1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian ................................                      43
        4.2. Hasil Penelitian ................................................................     43
               4.2.1 Data Umum Peneliti ..............................................             44
               4.2.2 Data Khusus Penelitian .........................................              45
        4.2.2.1. Distribusi Feekuensi Responden yang Mendengar
                   tentang Penyakit HIV/AIDS di SMK Negeri 08 Malang 45
        4.2.2.2. Distribusi Feekuensi Responden menyukai Sumber
                   untuk informasi tentang Penyakit HIV/AIDS di SMK
                   Negeri 08 Malang........................................................        46
        4.2.2.3. Distribusi Frekuensi Penjelasan/Pengertian cara
                   untuk menghindari Penyakit HIV/AIDS di SMK
                   Negeri 08 Malang........................................................        46
        4.2.2.4. Distribusi frekuensi penjelasan/pengertian cara
                   menghindari penyakit HIV/AIDS ..............................                    46
        4.2.2.5. Distribusi frekuensi mengetahui tentang macam-macam
        4.2.2.6. penularan HIV/AIDS ..................................................             47
        4.2.2.7. Distribusi frekuensi penjelasan tentang mengurangi
                   kemungkinan tertular penyakit HIV/AIDS .................                        48
        4.2.2.8. Distribusi frekuensi yang mengetahui seseorang
                   dapat terkena penyakit HIV/AIDS ..............................                  48
        4.2.2.9. Distribusi frekuensi yeng mengetahui tentang mengurangi
                   kemungkinan penyakit HIV/AIDS ..............................                    49
        4.2.2.10. Distribusi frekuensi responden yang mengetahui seseorang
                   dapat tertular HIV/AIDS .............................................           50
        4.2.2.11. Distribusi frekuensi yang mengetahui mengurangi
                  kemungkinan tertular penyakit AIDS dengan cara
                  minum obat/jamu ........................................................              51
        4.2.2.12. Distribusi frekuensi responden yang mengetahui tentang
                  seseorang tang terkena penyebab virus HIV/AIDS ....                                   52
        4.2.2.13. Distribusi frekuensi responden yang mengetahui tentang
                  seseorang tang terkena penyebab virus HIV/AIDS ....                                   52
        4.2.2.14. Distribusi frekuensipenyebab AIDS dapat ditularkan dari
                  seseorang ibu ke anaknya ............................................                 53
        4.2.2.15. Distribusi frekuensi penyebab AIDS dapat ditularkan dari
                  seseorang ibu ke anaknya ............................................                 54
        4.2.2.16. Distribusi frekuensi mengenai merahasiakan anggota
                  keluarga yang menderita anggota keluarga yang
                  menderita virus penyebab penyakit HIV/AIDS ..........                                 54
        4.2.2.17. Distribusi frekuensi dengan bersedia merawat anggota
                  keluarga di rumah yang menderita penyakit AIDS .....                                  55
        4.2.2.18. Distribusi frekuensi tentang mengetahui pemeriksaan/tes
                  untuk mengetahui seseorang terkena AIDS ................                              56
        4.2.2.19. Distribusi frekuensi responden yang mengetahui tempat
                  pemeriksaan/tes AIDS .................................................                56
        4.2.2.20. Distribusi frekuensi yang mengetahui atau mendengar
                  infeksi lain yang ditularkan melalui hubungan seksual 57
        4.2.2.21. Distribusi frekuensi yang mengetahui infeksi lain ......                              58
        4.2.2.22. Distribusi frekuensi yang memperoleh informasi
                  tentang penyakit menular seksual ...............................                      58
        4.3. Pembahasan .......................................................................         59
        4.4. Keterbatasan Penelitian ....................................................               60
BAB V PENUTUP
        5.1. Kesimpulan ........................................................................        61
        5.2. Saran .................................................................................... 62
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:1884
posted:12/23/2010
language:Indonesian
pages:16