Docstoc

Pengaruh Litosfir Terhadap Kesehatan

Document Sample
Pengaruh Litosfir Terhadap Kesehatan Powered By Docstoc
					             Pengaruh Litosfir terhadap kesehatan


       Pengaruh ini dapat terjadi secara langsung ataupun tidak langsung bila
manusia mampu memanfaatkan mineral yang terkandung serta lahan yang
tersedia untuk meningkatkan kesejahteraan. Tetapi secara langsung litosfir daoat
mempengaruhi kesehatan karena mengandung beberapa zat atau unsur fisis,
kimia dan biologi yang dapat memberikan pengaruh pada kesehatan manusia. Hal
ini dapat terjadi disebabkan manusia menggunakan sumberdaya alam terutama
dari litosfir ini untuk menunjang dan meningkatkan taraf hidup serta
kesejahteraannya. Pengaruh litosfir terhadap kesehatan dapat dilihat dari
berbagaiaspek pengaruh yang ditimbulkan secara langsung dalam bentuk
penyakit bawaan tanah (soil-borne) dan pengaruh kesehatan yang tidak langsung
akibat pemanfaatan lahan, yaitu kesehatan lingkungan kelembagaan,
persampahan, kesehatan lingkungan kerja dan kesehatan radiologis.
       Pengaruh litosfir terhadap kesehatan dapat dikelompokkan pada beberapa
penyakit yang menyebar melalui tanah. Zat-zat atau unsur-unsur yang terkandung
dapat berasal dari tanah itu sendiri maupun berasal dari luar tanah yang
disebabkan oleh terjadinya pencemaran. Penyakit tersebut dapat disebut sebagai
penyakit bawaan tanah atau soil borne disease, sebagaimana tabel di bawah ini :

                       Tabel 1. Penyakit bawaan tanah

                        Penyakit                 Penyebab
                Penyakit menular bacterial
                :
                    Tetanus               C. tetani
                    Antrax                B. anthracis

                Penyakit menular Jamur :
                    Histoplasmosis          H. capsulatum
                    Aspergillosis           A. fumigatus

                Penyakit cacing :
                    Oxyuriasis              E. vermicularis
                    Ancylostomiasis         N. duadenale

                Penyakit tidak menular
                P. Itai-itai Byo             Keracunan Cd
                Fuorosis                     Keracunan fluor
             Sumber : Benenson, A.,1970 (7) dan Waldbott, G.,1973 (8)
             dalam Juli Soemirat Slamet (Kesehatan Lingkungan), 2000.

Penyakit bawaan ini dapat berupa penyakit menular dan tidak menular, dimana
penyakit yang menular dapat disebabkan oleh bakteri terutama pada pembuat
spora seperti bakteri tetanus dan anthrax. Selanjutnya penyakit yang disebabkan
oleh jamur, yang juga dapat membuat spora dan cacing, dimana spora dan cacing
ini semuanya dapat menyebar bersama-sama debu.




                Kesehatan Lingkungan/Dinorimantho/dec2010                Page 1
Sedangkan pengaruh yang ditimbulkan secara tidak langsung secara umum dapat
disebabkan oleh pemanfaatan lahan atau tanah pada aktivitas dan kegiatan
manusia dalam rangka peningkatan kesejahteraannya. Pengaruh yang
ditimbulkan dari tata guna lahan terhadap kesehatan dapat terjadi karena
pemanfaatannya sebagaimana tabel di bawah ini :

     Tabel 2. Pengaruh tata guna lahan terhadap kesehatan lingkungan

           Tata Guna Lahan              Pengaruh terhadap Kesehatan
                                                Lingkungan
     Kehutanan                  Reservoir vector, agent dan lain-lain
     Taman                      Kesehatan lingkungan rekreasi
     Bercocok tanam             Kesehatan makanan, air dan lain-lain
     Tanah berair, danau, rawa, Perkembangbiakan vector dan lain-lain
     teluk
     Tempat tinggal             Kesehatan lingkungan permukiman
     Perkotaan                  Kesehatan lingkungan bangunan dan
                                persampahan
     Industry                   Kesehatan dan keselamatan lingkungan
                                kerja
     Transportasi               Kesehatan lingkungan dan pariwisata
     Eksploitasi mineral        Kesehatan dan keselamatan lingkungan
                                kerja
                                     Toksikologi lingkungan
             Sumber : Miller Jr.,1975 (9) dalam Juli Soemirat Slamet
                        (Kesehatan Lingkungan), 2000.


Beberapa kegiatan penting sebagaimana yang telah disebutkan dalam tabel di
atas antara lain :
   1. Kesehatan lembaga seperti, pemukiman, pedidikan dan latihan,
      pemeliharaan orang sakit, perusahaan/industri, angkutan, perhotelan.
      Usaha kesehatan lingkungan yang berhubungan dengan pemanfaatan
      litosfir untuk berbagai aktivitas ini diketahui sebagai suatu usaha kesehatan
      institusi atau kelembagaan. Institusi atau lembaga disini dapat diartikan
      sebagai suatu organisasi atau bangunan yang digunakan oleh suatu
      organisasi untuk mencapai tujuan, baik populasi maupun bentuk fisik
      bangunan serta fungsinya. Usaha kesehatan kelembagaan diperlukan
      akibat pemanfaatan bangunan dengan kepadatan yang berlebihan
      (overcrowding), timbulnya daerah pemukiman yang kumuh dan tempat
      kerja yang sangat tidak saniter. Beberapa saran dari Lemuel Shattuck
      untuk sanitasi antara lain : perlunya penyediaan air yang aman dan cukup,
      iluminasi, ventilasi, drainase, penyaluran air buangan yang baik dan
      kebersihan kota dan desa, sedangkan untuk bangunan umum seperti
      sekolah, gereja dan lain-lain hal yang perlu diperhatikan adalah kesehatan
      lokasinya, strukturnya, pemanasannya dan ventilasinya.
      Lembaga pemukiman terbentuk karena manusia memerlukan tempat untuk
      tinggal dan bernaung. Dengan meningkatnya teknologi, manusia dapat
      bermukim disuatu kawasan sehingga terbentuk daerah perumahan atau
      pemukiman yang pada akhirnya dapat menimbulkan permasalahan


                 Kesehatan Lingkungan/Dinorimantho/dec2010                  Page 2
kesehatan yang berhubungan dengan pemukiman ini. Pemukiman dapat
menjadi reservoir bagi penyakit bagi keseluruhan lingkungan. Timbulnya
permasalahan kesehatan dalam lingkungan pemukiman pada dasarnya
ditimbulkan karena secara umum orang belum sepakat mengenai fungsi
suatu rumah. Apakah rumah sekedar tempat bernaung saja ataukah untuk
istirahat total (jasmaniah, rohaniah dan sosial) ataukah untuk
membesarkan anak atau juga tempat belajar dan tempat berusaha.
Menurut WHO, definisi rumah adalah tempat untuk tumbuh dan
berkembang baik secara jasmani, rohani dan sosial.
Definisi ini membawa banyak konsekuensi seperti kualitas rumah yang
harus baik, diperlukan segala fasilitas yang dibutuhkan untuk tumbuh dan
berkembang. Fasilitas itu sebaiknya ada pada suatu daerah pemukiman
atau letaknya tidak jauh dari rumah. Misalnya fasilitas pendidikan,
pasar/toko, tempat kerja, air bersih dan sanitasi, tempat ibadah dan lain-
lain. Tidak adanya kemudahan untuk mendapatkan fasilitas ini dapat
menimbulkan permasalahan dalam hal kesehatan. Selanjutnya faktor-faktor
pada rumah yang berpengaruh pada kesehatan perumahan adalah kualitas
bangunan, pemanfaatan bangunan dan pemeliharaannya.
Evaluasi kondisi pemukiman di dunia mendapatkan paling sedikitnya 10
ribu orang meninggal tiap tahunnya akibat kecelakaan atau penyakit yang
disebabkan rumah yang tidak mempunyai pelayanan air bersih dan
sanitasi, disamping itu terdapat kematian yang disebabkan karena penyakit
saluran pernafasan akut akibat asap dari dapur maupun dari udara kotor di
luar rumah. Oleh karena rumah itu merupakan tempat untuk perkembangan
dan pertumbuhan manusia secara utuh, maka pembangunan pemukiman
harus dapat meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan penghuninya
dengan cara :
 Memberi perlindungan dari penyakit menular, mencakup pelayanan air
     bersih, sanitasi, persampahan, drainase, hygiene perorangan dan
     pemukiman, keamanan makanan, bangunan yang aman terhadap
     transmisi penyakit.
 Meningkatkan perlindungan terhadap kecelakaan dan penyakit kronis
     dengan memperbaiki konstruksi dan bahan bangunan rumah,
     pencemaran di dalam rumah, penggunaan rumah sebagai tempat kerja.
 Member perlindungan terhadap penyakit kejiwaan dengan mengurangi
     tekanan jiwa dan social akibat rumah.
 Meningkatkan kesehatan dalam lingkungan perumahan dengan
     memperhatikan ketersediaan pelayanan keperluan sehari-hari dan
     pekerjaan di dekat rumah.
 Meningkatkan pemanfaatan rumah sehingga dapat meningkatkan
     kesejaheraan yaitu pemanfaatan rumah data memberi dampak
     kesehatan yang maksimal pada penghuninya.
 Memberi perlindungan terhadap populasi yang menyandang risiko tinggi
     yaitu anak-anak dan wanita, masyarakat dengan rumah substandard,
     masyarakat yang tersisih dan mobil, manula, penderita penyakit khronis
     dan yang cacat.
 Penyebarluasan pentingnya aspek kesehatan rumah sehingga yang
     berwenang dapat memasukkan aspek-aspek kesehatan tersebut ke
     dalam kebijakan pembangunan pemukiman.



          Kesehatan Lingkungan/Dinorimantho/dec2010                 Page 3
   Meningkatkan kebijakan social ekonomi yang menunjang tata guna
    tanah dan pemukiman sehingga kesehatan fisik, mental dan social
    dicapai secara maksimal.
 Meningkatkan proses pembangunan social ekonomi, mulai dari
    perencanaan, pengelolaan, pengaturan tata guna lahan daerah urban,
    peraturan pemukiman desain dan konstruksi rumah, pelayanan
    terhadap masyarakat dan pemantauan kontinyu.
 Meningkatkan penyuluhan serta kualitas profesi kesehatan masyarakat
    dan profesi yang membangun pemukiman, penyediaan perumahan dan
    penggunaan rumah untuk meningkatkan kesehatan.
 Meningkatkan partisipasi masyarakat untuk memenuhi kebutuhan
    pemukiman secara swadaya, gotong royong dan kooperatif.
Pada lembaga pendidikan dan latian terdapat dua populasi yaitu yang
mengikuti dan yang melaksanakan pendidikan dan latihan. Populasi yang
mengikuti pendidikan dan latihan suatu lembaga pendidikan sangat
bervariasi baik dari sisi usia dan ketahanan tubuh terhadap masuknya
penyakit. Kualitas gedung sekolah atau lembaga pendidikan perlu
disesuaikan dengan keperluan berbagai populasi dalam lembaga tersebut,
seperti ukuran meja dan bangku yang sesuai dengan usia peserta didik dan
latihan, pencahayaan, suhu kelas, kebisingan, sarana olah raga,
keselamatan anak dari lalu lintas, dan sebagainya.
Pada lembaga yang umum disebut dengan rumah sakit merupakan tempat
berkumpulnya orang sakit, orang yang merawat dan orang-orang yang
berkepentingan dengan lembaga rumah sakit. Sehingga dapat dikatakan
bahwa rumah sakit terdiri dari 2 (dua) populasi yaitu yang sehat dan yang
sakit. Kegiatan suatu rumah sakit dapat digolongkan menjadi beberapa
kegiatan kuratif, prefentif dan rehabilitasi. Secara garis besar kegiatan
tersebut dibagi sebagaimana berikut ini :
 Rawat jalan seperti poliklinik, kesejahteraan ibu dan anak, keluarga
    berencana, pemeriksanaan periodic (general check up), gigi.
 Rawat inap seperti rawat inap interne, anak, mata, bedah, kebidanan,
    paru-paru, jantung, rawat intensif dan lain-lain.
 Rawat gawat darurat
 Pelayanan medik seperti ruang operasi dan ruang persalinan
 Pelayanan penunjang medik seperti laboratorium klinis, radiologi,
    farmasi dan fisioterapi.
 Pelayanan penunjang non medic seperti ruang cuci, dapur, administrasi,
    rumah tangga dan personalia.
 Penelitian, Pendidikan dan pelatihan jika ada
Mengingat jenis perawatan yang dilakukan sangat bermacam-macam,
maka kualitas gedung beserta isinya harus sesuai dengan berbagai
keperluan ini agar fungsi rumah sakit dapat berjalan dengan lancar.
Dalam melaksanakan aktifitas dan fungsinya, kegiatan rumah sakit
menimbulkan berbagai buangan dan sebagian dari buangan tersebut
merupakan limbah berbahaya atau B3 seperti :
 Limbah infeksius yang terdiri dari exkreta, peralatan gelas, specimen
    laboratorium, bekas balutan, jaringan busuk dan lain-lain.
 Limbah tajam seperti pecahan peralatan gelas seperti thermometer,
    jarum bekas dan alat suntik.


          Kesehatan Lingkungan/Dinorimantho/dec2010               Page 4
   Limbah plastik, bekas kemasan obat dan barang, cairan infus, spuite
    sekali pakai/disposable, perlak.
 Limbah jaringan tubuh seperti sisa amputasi, plasenta yang tidak etis
    dibuang sembarangan.
 Limbah sitotoxik yaitu obat pembunuh sel yang digunakan untuk
    mengobati penyakit kanker.
 Limbah kimia dari laboratorium dan apotik
 Limbah radioaktif
 Limbah cucian pakaian
 Limbah dapur
 Limbah domestik.
Seluruh limbah tersebut dapat bersifat padat, cair maupun gas. Untuk itu
dalam pengelolaan limbah rumah sakit tersebut harus dilakukan sesuai
dengan jenis limbahnya.
Pada perusahaan atau industri juga terdapat sejumlah populasi yang
mempunyai tujuan yang sama. Secara umum diperusahaan atau industri
merupakan kelompok umur dewasa muda dan cukup sehat untuk bekerja
dan berhadapan dengan bahan baku ataupun proses dan bahan jadi yang
dapat mempengaruhi kesehatannya. Secara garis besar dalam industri
terdapat beberapa bahan berbahaya yang dikelompokkan menjadi factor
kimia, fisika, biologi dan ergonomi. Agar tujuan usaha industri dapat
tercapai dengan baik dan tidak menimbulkan masalah baru, maka perlu
pengelolaan tersendiri, dimana kualitas bangunan dan isinya perlu
disesuaikan dengan proses produksi agar efisiensi dan tidak
mempengaruhi kesehatan pekerjanya. Dalam banyak hal, usaha
pencegahan penyakit mempunyai peranan penting, beberapa penyakit
yang mungkin timbul akibat kerja kebanyakan tidak bersifat reversible,
misalnya ketulian karena bising atau kerusakan syaraf, ginjal, hati dan
karena zat kimia. Agar dapat mencegah munculnya penyakit ini maka
terdapat banyak upaya untuk mengendalikannya seperti pengendalian
kebisingan, mengendalikan uap zat kimia yang berbahaya, ventilasi dan
sebagainya. Disamping itu fasilitas dasar akan sanitasi dan air bersih harus
senantiasa diperhatikan.
Fasilitas angkutan atau transportasi dapat menimbulkan terjadinya
penularan penyakit pada orang yang berada pada satu kendaraan yang
sama. Disamping itu kepadatan, ventilasi, kebersihan dan perilaku
penumpang selama berada dalam kendaraan (misal tidak merokok) perlu
juga mendapatkan perhatian. Penularan penyakit selama perjalanan telah
lama dikonstantir orang, yaitu dimulai sejak jaman caravan yang berjalan
dari eropa barat ke eropa timur dan sebaliknya. Penyakit Pest adalah
salah satu penyakit terkenal yang ikut menjalar sesuai dengan berjalannya
caravan, demikian pula penyakit cholera dari Asia ke Timur Tengah, yang
berjalan sesuai dengan perjalanan jemaah haji. Juga kendaraan dapat
membawa serta insekta penyebar penyakit. Agar dapat mencegah
penularan, setiap kendaraan perlu diperiksa sanitasinya. Baik angkutan
darat, laut dan udara, kualitas lingkungan pelabuhan, bandara, maupun
terminal juga harus memenuhi persyaratan kebersihan. Penyediaan air
bersih, sanitasi, udara, persampahan dan insidensi penyakit bawaan
lingkungan seperti malaria harus memenuhi standar yang ada.


          Kesehatan Lingkungan/Dinorimantho/dec2010                  Page 5
   Kesehatan lingkungan hotel, motel dan tempat penginapan sebagai
   bangunan untuk umum perlu juga mendapatkan perhatian. Mulai dari
   kualitas bangunan, utilitas, peralatan atau sarana, suplai makanan,
   kesehatan pekerja, kamar mandi buangan dan desinfeksi tempat atau
   barang-barang bekas pakai orang sebelum dapat digunakan oleh orang
   lain. Fasilitas penginapan ini dapat merupakan sarana penularan penyakit
   apabila tidak dikelola secara professional. Kebersihan dan kesehatan hotel
   dan motel juga dapat mempengaruhi minat wisatawan.

2. Pembuangan limbah padat atau persampahan
   Lingkungan litosfir dapat digunakan orang untuk membuang sampah yang
   bersifat padat. Selain itu pada saat ini tanah juga digunakan untuk
   membuang sampah yang berbahaya baik cair maupun padat. Yang
   dimaksud dengan sampah adalah segala sesuatu yang tidak lagi
   dikehendaki oleh yang setiap orang dan bersifat padat. Sampah ini ada
   yang mudah membusuk dan ada pula yang tidak mudah membusuk. Yang
   membusuk dapat terdiri zat-zat organik sisa sayuran, sisa daging, daun dan
   lain-lain. Sedangkan yang tidak mudah membusuk dapat berbentuk plastik,
   kertas, logam, karet ataupun abu, bahan bangunan bekas dan lain-lain.
   Sampah dapat dibedakan berdasarkan sifat biologi dan sifat kimianya untuk
   mempermudah dalam proses pengelolaannya, sebagai berikut :
    Sampah yang dapat membusuk seperti sisa makanan, daun, sampah
       kebun, pertanian dan lain-lain.
       Jenis sampah ini dikenal dengan nama garbage, yang mudah
       membusuk dikarenakan adanya aktivitas mikroorganisme. Dengan
       demikian dalam pengelolaannya membutuhkan kecepatan, baik dalam
       pengumpulan maupun dalam pembuangannya. Pembusukan sampah
       ini akan menghasilkan gas metan, gas H2S yang bersifat racun bagi
       tubuh. Selain beracun H2S juga berbau busuk sehingga secara estetika
       tidak dapat diterima, jadi penumpukan sampah yang membusuk tidak
       dapat dibenarkan. Di negara berkembang seperti di Indonesia sampah
       kebanyakan terdiri dari sampah yang mudah membusuk. Tetapi bagi
       lingkungan sampah ini relative kurang berbahaya karena dapat terurai
       dengan sempurna menjadi zat-zat anorganik yang berguna bagi
       fotosintesa tumbuhan. Hanya saja orang harus mengangkut dan
       membuangnya ditempat yang aman dengan kecepatan yang lebih
       daripada kecepatan membusuknya di dalam cuaca daerah tropis.
    Sampah yang tidak mudah membusuk seperti kertas, plastik, karet,
       gelas, logam dan lain-lainnya.
       Dalam bahasa inggris sering disebut dengan refuse, biasanya terdiri
       dari kertas-kertas, plastic, logam, gelas, karet dan lainnya yang tidak
       dapat membusuk atau sulit membusuk. Jenis sampah ini apabila
       memungkinkan sebaiknya didaur ulang sehingga dapat bermanfaat
       kembali baik melalui proses ataupun secara langsung. Apabila tidak
       dapat di daur ulang, maka diperlukan proses untuk memusnahkannya
       seperti pembakaran tetapi hasil dari proses pembakaran ini masih
       memerlukan penanganan lebih lanjut.




             Kesehatan Lingkungan/Dinorimantho/dec2010                 Page 6
  Sampah berupa abu/debu.
   Sampah ini biasanya berupa debu atau abu hasil pembakaran, baik
   pembakaran bahan bakar maupun sampah. Sampah seperti ini
   tentunya tidak membusuk, tetapi dapat dimanfaatkan untuk
   mendatarkan tanah atau penimbunan. Selama tidak mengandung zat
   yang beracun maka abu ini pun tidak terlalu berbahaya terhadap
   lingkungan dan masyarakat. Hanya, karena ukuran debu atau abu
   relative lebih kecil, maka fraksi dengan ukuran < 10 mikron data
   memasuki saluran pernafasan yang dapat menimbulkan penyakit
   Pneumoconiosis.
 Sampah yang berbahaya bagi kesehatan seperti sampah yang berasal
   dari industri yang menggunakan bahan kimia atau zat fisis yang
   berbahaya.
   Yang dimaksud dengan sampah berbahaya (B3) merupakan sampah
   yang karena jumlah atau konsentrasinya atau karena sifat kimia, fisika
   dan mikrobiologi dapat :
   a. Meningkatkan mortalitas dan morbilitas secara bermakna, atau
       menyebabkan penyakit yang tidak reversible ataupun sakit berat
       yang pulih atau reversibel.
   b. Berpotensi menimbulkan bahaya sekarang maupun dimasa
       mendatan terhadap kesehatan atau lingkungan apabila tidak diolah,
       dipindahkan (transport), disimpan dan dibuang dengan baik dan
       benar.
   Sampah ini tergolong semua jenis sampah yang mengandung bahan
   beracun baik bagi masyarakat maupun bagi flora dan fauna, sampah
   jenis ini biasanya terdiri dari zat kimia organik maupun anorganik serta
   logam berat. Secara prinsip kebanyakan dihasilkan dari buangan
   industri pengolahan. Sampah jenis ini sebaiknya dikelola oleh suatu
   organisasi atau badan yang berwenang dan dibuang sesuai dengan
   peraturan yang berlaku disuatu wilayah atau kawasan. Sampah jenis ini
   tidak dapat dicampurkan dengan sampah kota biasa.
Secara kuantitas dan kualitas, sampah dipengaruhi oleh berbagai kegiatan
dan taraf hidup masyarakat, beberapa faktor yang dapat mempengaruhi
kedua hal tersebut antara lain :
 Jumlah penduduk, secara logika semakin bertambah jumlah penduduk
   pada suatu kawasan, maka akan menimbulkan atau menghasilkan
   sampah yang banyak pula. Pengelolaan sampah ini juga berpacu
   dengan pertambahan jumlah penduduk.
 Keadaan sosial ekonomi, semakin tinggi kondisi sosial ekonomi
   masyarakat, semakin banyak jumlah perkapita sampah yang akan
   dibuang. Kualitas sampah juga semakin banyak sifatnya yang tidak
   dapat membusuk. Perubahan kualitas sampah ini tergantung pada
   bahan yang tersedia, peraturan yang berlaku serta kesadaran
   masyarakat akan permasalahan sampah. Peningkatan kesejahteraan
   akan dapat meningkatkan pula kegiatan konstruksi, pembaruan
   pembangunan gedung, transportasi, produk pertanian, industri dan lain-
   lain sehingga menimbulkan kosekuensi logis bertambahnya volume dan
   jenis sampah.




          Kesehatan Lingkungan/Dinorimantho/dec2010                 Page 7
   Kemajuan teknologi, dapat memberikan dampak yang cukup signifikan
    terhadap kualitas dan kuantitas sampah, karena penggunaan bahan
    baku yang semakin banyak dan bermacam-macam jenisnya. Hal ini
    juga memberikan pengaruh pada pengepakan atau pengemasan pada
    setiap produk manufaktur yang bermacam-macam pula jenisnya.
    Pengaruh sampah terhadap kesehatan dapat dikelompokkan menjadi
    efek secara langsung dan tidak langsung. Efek secara langsung
    merupakan efek yang disebabkan karena kontak secara langsung
    dengan sampah tersebut. Misalnya sampah beracun, sampah yang
    korosif terhadap tubuh, yang karsinogenik, teratogenik sehingga dapat
    menimbulkan penyakit. Selain itu terdapat pula sampah yang
    mengandung kuman pathogen sehingga dapat menimbulkan penyakit.
    Sampah ini dapat berasal dari limbah rumah tangga maupun limbah
    yang dihasilkan dari wilayah komersial atau daerah industri.
    Sedangkan pengaruh secara tidak langsung yang dapat dirasakan oleh
    masyarakat akibat proses pembusukan, pembakaran dan pembuangan
    sampah. Dekompisisi sampah biasanya terjadi secara aerobic,
    dilanjutkan secara fakultatif dan secara anaerobic apabila oksigen telah
    habis. Dekompisisi anaerobic akan menghasilkan cairan yang disebut
    dengan lindi (leachate) beserta gas, dimana cairan ini mengandung zat
    padat tersuspensi yang sangat halus dan hasil penguraian mikroba,
    biasanya terdiri atas Ca, Mg, Na, K, Fe, Khlorida, Sulfat,Phosfat, Zn, Ni,
    CO2, H2O,N2,NH3, H2S,asam organic dan H2. Tergantung dari
    kualitas sampah maka di dalam cairan lindi atau leachate dapat pula
    terdapat mikroba pathogen, logam berat dan zat berbahaya lainnya. Zat
    organik seperti khlorida sulit sekali berkurang sekalipun terjadi proses
    atenuasi di dalam tanah. Proses atenuasi dalam tanah dapat berupa
    proses pertukaran ion, adsorpsi, pembentukan kompleks, filtrasi,
    biodegradasi dan persipitasi. Oleh karenanya, khlorida dan zat pada
    terlarut dapat digunakan sebagai indicator untuk mengikuti aliran lindi.
    Efek tidak langsung dapat berupa penyakit bawaan vector yang
    berkembang biak dalam sampah. Sampah bila ditimbun secara
    sembarangan dapat digunakan sebagai sarang tikus dan lalat. Penyakit
    bawaan sampah sangat luas baik yang menular maupun tidak menular,
    dapat juga berupa akibat kebakaran, keracunan dan lain-lain. Tabel di
    bawah ini akan memberikan gambaran beberapa penyakit yang dapat
    ditimbulkan oleh sampah.




           Kesehatan Lingkungan/Dinorimantho/dec2010                  Page 8
               Tabel 3. Beberapa penyakit bawaan sampah.
            Nama penyakit                     Penyebab penyakit
Bawaan lalat :
Dysenterie aasillaris                    Shigella shigae
Dysenterie amoebica                      Entamoeba histolytica
Thypus abdominalis                       Salmonella typhi
Cholera                                  Vibrio cholera
Ascariasis                               A. lumbricoides
Ancylostomiasis                          A. duodenale
Penyakit bawaan Tikus
Pest                                     Pasteurella pestis
Leptospirosis icterohaemorrhagica        Streptpbacillus monilliformis
Keracunan Metan :
Carbon monoxica, dioxide, hydrogen
sulfide, logam berat dan lain-lain
     Sumber : Benenson,A.,1970 (7) dalam Juli Soemirat Slamet
                 (Kesehatan Lingkungan), 2000.


 Beberapa pertimbangan dalam pengelolaan sampah perlu didasarkan atas
 seperti :
         Untuk mencegah terjadinya penyakit
         Konservasi sumber daya alam
         Mencegah gangguan estetika
         Memberi intensif untuk daur ulang atau pemanfaatan
         Bahwa kuantitas dan kualitas sampah akan meningkat
 Hingga saat ini sampah telah menjadi suatu permasalah yang kompleks
 dan terjadi disetiap wilayah di Indonesia maupun di beberapa Negara
 dikarenakan berbagai faktor seperti :
     Cepatnya perkembangan teknologi yang lebih cepat daripada
        kemampuan masyarakat untuk mengelola dan memahami persoalan
        persampahan.
     Meningkatnya taraf hidup masyarakat yang tidak diikuti oleh
        keseimbangan pengetahuan tentang persampahan.
     Meningkatnya biaya operasional, pengelolaan dan kostruksi disegala
        bidang termasuk persampahan.
     Kebiasaan pengelolaan sampah yang tidak efisien, tidak benar yang
        dapat menimbulkan permasalahan pencemaran udara, tanah, air,
        menimbulkan turunnya harga tanah karena daerah yang turun kadar
        estetikanya, baud an memperbanyak populasi lalat dan tikus.
     Kegagalan dalam daur ulang ataupun pemanfaatan kembali barang
        bekas. Juga ketidakmampuan orang dalam memelihara peralatan
        dan barang sehingga cepat rusak, atau produk manufaktur yang
        sangat rendah mutunya sehingga cepat menjadi sampah.
     Semakin sulitnya memperoleh lahan sebagai tempat pembuangan
        akhir sampah, selain tanah serta formasi tanah yang tidak cocok
        bagi pembuangan sampah juga terjadi kompetisi yang semakin
        kompleks dalam penggunaan tanah.




          Kesehatan Lingkungan/Dinorimantho/dec2010                  Page 9
       Semakib banyaknya masyarakat yang keberatan bahwa daerahnya
        digunakan sebagai pembuangan tanah.
     Kurangnya pengawasan dan pelaksanaan peraturan
     Sulitnya menyimpan sampah sementara yang cepat membusuk
        karena cuaca yang panas untuk beberapa wilayah di daerah tropis.
     Sulitnya mencari partisipasi masyarakat untuk membuang sampah
        pada tempatnya dan memelihara kebersihan.
     Pembiayaan yang tidak memadai, mengingat bahwa sampai saat ini
        kebanyakan sampah dikelola oleh jawatan pemerintah.
     Pengelolaan sampah kurang memperhatikan faktor teknis dan non
        teknis seperti partisipasi masyarakat dan penyuluhan tentang hidup
        sehat dan bersih.
Teknik pembuangan sampah dapat dilihat dari sumber penghasil sampah
hingga sampai di tempat pembuangan akhir, dimana usaha pertama adalah
mengurangi sampah di sumbernya baik dari segi kuantitas maupun kualitas
dengan :
     Meningkatkan pemeliharaan dan kualitas barang sehingga tidak
        cepat menjadi sampah.
     Meningkatkan efisiensi penggunaan bahan baku
     Meningkatkan penggunaan bahan yang dapat terurai dengan
        alamiah, misalnya pembungkus plastik diganti dengan pembungkus
        kertas atau daun sesuai dengan produk yang dikemasnya.
Selanjutnya pengelolaan ditujukan pada pengumpulan sampah sejak dari
penghasil atau produsen hingga tempat pembuangan akhir (TPA) dengan
membuat tempat pembuangan sementara (TPS), transportasi yang sesuai
lingkungan dan pengelolaan pada TPA. Sebelum dimusnahkan atau
dihancurkan sampah dapa pula diolah terlebih dahulu dengan memperkecil
volume untuk didaur ulang atau dimanfaatkan kembali. Dengan
mempertimbangkan jenis sampah, maka pengolahan dapat dilakukan
dengan :
     Composting, baik bagi jenis garbage, hanya yang perlu diperhatikan
        adalah konsentrasi dan perbandingan nitrogen, phosphor dan kalium
        (NPK), minat konsumen akan kompos atau tempat atau lahan untuk
        kegiatan composting serta kelayakan sosial ekonomisnya.
     Insenerasi untuk refuse, perlu diperhatikan adalah kualitas sampah
        yang ada, korosivitas jenis refuse dan kelayakan             sosial
        ekonomisnya.
     Proses lainnya seperti pembuatan bahan bangunan dari buangan
        industri yang mempunyai sifat seperti semen dan lainnya.
Apapun jenis pengelolaan sampah, baik dalam skala besar maupun skala
kecil, bila harus mencapai tujuannya yaitu lingkungan dan masyarakat yang
sehat maka factor-faktor utama yang harus diperhatikan adalah peran serta
masyarakat. Masyarakat harus mengerti dan mau berpartisipasi bila perlu
juga berubah sikap sehingga bersedia membantu mulai dari pengurangan
volume sampah, perbaikan kualitas sampah, membuang sampah pada
tempatnya, membersihkan tempat sampah sampai pada penyediaan lahan
dan pemusnahan sampah. Tanpa partisipasi masyarakat, program
persampahan tidak akan tuntas pengelolaannya.



          Kesehatan Lingkungan/Dinorimantho/dec2010                 Page 10
3. Kesehatan radioaktif yang berhubungan dengan penggunaan mineral
   radioaktif, sinar-sinar radioaktif baik indutri maupun pusat penelitian
   dan rumah-rumah sakit.
   Yang dimaksud dengan radioktivitas adalah suatu proses dimana material
   yang mempunyai nucleus atau inti tidak stabil mengalami disintegrasi
   spontan dan melepas energi. Proses ini disebut sebagai decay/paruh/luruh.
   Proses disintegrasi ini disertai atau ditandai oleh adanya emisi radiasi
   seperti partikel alpha, beta dan sinar gamma.
   Sebagaimana diketahui bahwa atom mempunyai nucleus atau inti yang
   dikelilingi oleh orbit-orbit electron. Nukleus sendiri terdiri atas proton dan
   neutron. Proton bermuatan positif sangat kecil, tetapi mempunyai massa
   2000xmassa electron. Neutron bersifat netral, massanya = massa proton +
   electron. Electron adalah massa yang sangat kecil, bermuatan
   negatif/positif. Nomor atom suatu zat sama dengan jumlah proton dan
   neutron. Selain itu dikenal istilah isotope, yaitu elemen yang mempunyai
   nomor atom sama, tetapi berbeda dalam nomor massa dan mempunyai
   sifat kimia yang sama. Isotope yang tidak stabil disebut isotop radioaktif
   atau radionuklid. Mineral di dalam lingkungan kebanyakan mempunyai
   nucleus yang stabil, artinya kekuatan yang mengikat semua partikel di
   dalam nucleus setimbang sehingga sulit dipecah. Nucleus yang tidak stabil
   kebanyakan mempunyai jumlah neutron yang lebih banyak dari jumlah
   proton, sehingga intinya mudah pecah atau berdistegrasi.
   Sinar alpha merupakan partikel yang terdiri dari 2 (dua) proton dan 2(dua)
   neutron atau sama dengan atom helium, tanpa electron. Partikel alpha ini
   diemisikan dengan kecepatan tinggi tetapi juga dapat kehilangan energi
   dan mempunyai daya tembus yang sangat rendah. Radiasi beta adalah
   radiasi yang terdiri atas aliran-aliran electron yang mempunyai daya
   tembus yang sedang dan kecepatan yang tinggi. Radiasi gamma adalah
   radiasi elektromagnetik dapat menembus sangat dalam dan mempunyai
   kecepatan yang tinggi.
   Disamping ketiga sinar yang berasal dari material radioaktif tersebut,
   dikenal juga sinar Rontgen atau sinar X yang berasal dari energi listrik.
   Sinar ini mempunyai sifat yang sama dengan sinar gamma, tetapi panjang
   gelombangnya lebih besar dari sinar gamma. Sinar X ini dibuat dalam
   tabung vakum yang berisi dua elektroda dengan perbedaan potensial
   tinggi. Bila listrik dialirkan maka akan terjadi aliran electron yang bila
   sampai pada anoda akan melepas energi yaitu sinar X.
   Reaksi nuklir dapat terjadi secara spontan ataupun dibuat (induced).
   Reaksi spontan terjadi apabila nucleus tidak stabil, sedangkan yang buatan
   terjadi akibat bombardemen dengan partikel kecepatan tinggi seperti fast
   neutrons, slow neutrons dan deuterons atau sinar gamma. Neutron-neutron
   bisa dibuat dengan melakukan bombardemen dengan 4HE, 3H. reaksi
   yang terjadi bsa berupa fisi, neutron capture, aktivasi dan transmutasi.
   Yang dimaksud dengan fisi adalah suatu proses dimana nucleus yang
   berat pecah menjadi beberapa bagian yang hampir sama. Fisi dapat terjadi
   akibat bombardemen sehingga neutron diabsorsi, nucleus menjadi aktif,
   berpulsasi dan pecah menjadi beberapa bagian yang hampir sama.




              Kesehatan Lingkungan/Dinorimantho/dec2010                  Page 11
Adapula proses yang disebut dengan fusi, yaitu bersatunya beberapa
nucleus ringan membentuk satu nucleus berat. Hal ini dapat dilaksanakan
dengan mendekatkan nucleus-nucleus tadi di dalam tabung akselerator.
Energi yang dikeluarkan sangat besar, misalnya dentritium dalam satu
gallon air dapat memproduksi 150 kali energi dari satu gallon minyak bumi.
Sinar radioaktif sangat berbahaya bagi kesehatan, karena dapat merusak
sel dan jaringan tubuh, mulai dari yang sangat ringan seperti rontoknya
rambut sampai terjadinya kanker. Lebih berbahaya lagi apabila sinar tadi
mengenai sel-sel genetik karena dapat menimbulkan sterilisasi dan mutasi.
Efek yang terjadi terhadap sel somatic sangat tergantung pada dosis yang
diterima. Sebagai dasar efek suatu radiasi dapat diperkirakan pada table di
bawah ini :

    Table 4. Dosis dan efek radiasi terhadap sel somatic manusia
          Dosis (r)                     Efek
        750           LD100
        400-600       LD50 dalam satu bulan
        200-400       Beberapa meninggal, cacat
        50-200        Lekas lelah, kelainan gambaran darah
  Sumber : Ehler dan Steel.,1969 (10) dalam Juli Soemirat Slamet
                  (Kesehatan Lingkungan), 2000.

Efek yang tercantum pada table di atas merupakan efek akut ataupun
subakut, sedangkan efek kronis seperti mutasi dan kanker tidak
dinyatakan.
Memperhatikan factor bahaya radiasi tersebut maka pengelolaan
lingkungan harus dilaksanakan secara seksama dan hati-hati. Perhatian
diutamakan ditujukan pada karyawan atau pekerja yang mungkin terpapar
sewaktu bekerja dan masyarakat umum yang mungkin terpapar buangan
atau bocoran. Cara pengelolaan tersebut dapat didasarkan pada :
Jarak, mengingat aktivitas sinar berbanding terbalik dengan jarak kuadrat
Waktu pemaparan yang sebaiknya dibuat minimum.
Perpanjangan jarak tidak saja merupakan jarak fisik tetapi dapat dilakukan
dengan memasang prisai atau menjauhkan pekerja dari radiasi dengan
melakukan otomatisasi suatu kerja.
Disamping itu baku mutu atau standar pemaparan yang menentukan dosis
maksimum yang diperbolehkan bagi pekerja dan masyarakat seperti tabel
di bawah ini :




          Kesehatan Lingkungan/Dinorimantho/dec2010                 Page 12
                Tabel 5. Dosis maksimum radiasi yang diperbolehkan
        Organ/jaringan             Pekerja              Masyarakat umum
                                   (rem/th)                 (rem/th)
   Seluruh tubuh, kelenjar            5                        0,5
   kelamin dan sumsum           Dmax = 5 (N-18)
   tulang
   Kulit, tulang dan kelenjar          30                       3
   gondok
   Lengan atas, tangan, kaki,          75                      7,5
   mata kaki
   Lain-lain                           15                      1,5
         Sumber : Ehler dan Steel.,1969 (10) dalam Juli Soemirat Slamet
                         (Kesehatan Lingkungan), 2000.

      Kegiatan pemantauan adalah satu aktivitas yang sangat penting dalam
      pengelolaan lingkungan. Beberapa hal yang perlu dilakukan dalam
      pemantauan antara lain :
           Tingkat radioaktivitas alamiah
           Apakah terjadi perubahan-perubahan dalam tingkat radioaktivitas
           Apakah terjadi kebocoran
           Penentuan standar.
      Pemantauan juga dilakukan diluar industri atau gedung untuk meneliti
      pengaruhnya terhadap lingkungan, misalnya diperiksanya radioaktivitas
      udara, tanah, air, lumpur, tumbuhan, makanan dan lain-lain. Hal ini
      terutama penting dilakukan pembuangan sisa unsure radioaktif ke
      lingkungan.


Sumber Pustaka :
Juli Soemirat Slamet, 2000.,Kesehatan Lingkungan, Gadjah Mada University
Press, Yogyakarta.




                 Kesehatan Lingkungan/Dinorimantho/dec2010                Page 13

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:1613
posted:12/22/2010
language:Indonesian
pages:13