Docstoc

Zat Fisik Pencemar Udara

Document Sample
Zat Fisik Pencemar Udara Powered By Docstoc
					                          ZAT FISIK PENCEMAR UDARA




Zat pencemar fisis yang sering dijumpai adalah : kebisingan, sinar elektromagnetik,
sinar radioaktif.

   1. Kebisingan
      Bising merupakan gabungan dari berbagai suara yang tidak dikehendaki ataupun
      yang mempunyai risiko merusak kesehatan. Pada saat ini kebisingan merupakan
      salah satu penyebab penyakit lingkungan yang penting. Pada sekitar tahun 70an
      di Amerika Serikat, tingkat kebisingan kota bertambah dengan 1 dB pertahun
      dan 10 dB per dekade, dimana penyebab utamanya adalah bertambahnya jalan
      bebas hambatan (freeways) di perkotaan, peningkatan kepadatan lalu lintas
      udara, perubahan dari pesawat berpropeler menjadi pesawat jet, bertambahnya
      aktivitas konstruksi dan bertambahnya mekanisasi baik di daerah permukiman
      maupun di daerah perindustrian seperti sepeda motor, pemotong rumput
      bermotor dan peralatan pembersih rumah bermotor, mesin cuci dan peralatan
      masak bermotor. Semakin cepat pergerakan peralatan semakin tinggi taraf
      kebisingan yang ditimbulkan. Akibat dari mekanisasi dan elektrifikasi peralatan
      ini adalah meningkatnya jumlah penderita ketulian akibat kebisingan. Di Amerika
      Serikat, meningkatnya jumlah penderita ketulian akibat kebisingan pada 90 dB
      menderita ketulian,sementara di Swedia, pada tahun 1973 didapat 5000 kasus
      gangguan pendengaran sementara pada tahun 1977 kasus mengalami kenaikan
      menjadi 16000 orang, atas dasar tersebut, Amerika Serikat membuat peraturan
      perundang-undangan yang mengatur emisi kebisingan (Noise Control Act of
      1972). Permasalahan yang dihadapi adalah sumber kebisingan di jalan raya,
      udara, industri konstruksi dan dari perumahan sendiri.
      Di Indonesia yang masih dalam taraf pembangunan, taraf kebisingan akan terus
      meningkat, terutama di jalan raya dan industri. Tingkat kebisingan di beberapa
      kota besar di Indonesia di berbagai daerah kegiatan sebagaimana tabel 1.
      Tabel tersebut menunjukkan bahwa batas maksimum yang diijinkan untuk
      semua kegunaan lahan praktis pernah dilampaui, terutama untuk daerah
      transportasi. Dengan demikian dapat diharapkan bahwa pengaruhnya terhadap
      kesehatan masyarakatpun akan semakin bertambah banyak di kemudian hari
      karena taraf pembangunan akan meningkat terus, kecuali ada usaha untuk
      mengendalikannya.
      Khusus bagi industri, dimana tenaga produktif bekerja, kebisingan tidak boleh
      menimbulkan cacat yang dapat mengurangi tingkat produktifitas Negara, apalagi
      karena lingkungan kerja tersebut dirancang dan diberlakukan oleh manusia



Properti @dinorimantho/zat fisis pencemar udara/des2010                     Page 1
     sehingga apabila terjadi cacat, maka manusia tersebutlah yang salah
     melaksanakan perancangan pada ruang kerjanya.

     Tabel 1. Kisaran Hasil Pengukuran Tingkat Kebisingan Menurut Peruntukan
                        di Beberapa Kota Besar di Indonesia

      Kota                            Peruntukan dB Max
                       A          B          C          D          E
                  (80) dB(A) (70) db(A) (50) dB(A) (70) db(A) (70) dB(A)
  Jakarta           62-82      60-88      56-78      58-78      50-75
  Bogor             70-80      44-84      50-82      57-62      52-58
  Bandung           69-83      72-78      42-45      50-70      58-80
  Semarang          58-80      65-80      55-70      38-60      55-65
  Yogyakarta        52-66         -       55-70        53       55-70
  Surabaya          68-88      77-83      50-83      52-70      51-65
  Denpasar          70-83      64-84      55-80      51-82      58-66
  Medan             70-85      55-80      50-75      60-75      50-57
  Palembang         60-82      60-85      49-60      50-80         -
  Banjarmasin       70-80      70-80      50-76      60-74         -
  Makasar           55-76      70-75      40-75      58-65         -
  Pontianak         60-65      72-80      50-65      65-75         -
  Cirebon           66-75      60-70      54-60      65-75      58-70
  Manado            75-78      74-78      52-55      60-65         -
  Balikpapan        75-82      75-82      65-75         -          -
     Keterangan :
     A = Daerah Perdagangan
     B = Daerah Transportasi
     C = Daerah Pemukiman
     D = Daerah Industri
     E = Daerah Rekreasi
     Sumber Suratmo,Gunarwan F.,Analisis Mengenai Dampak Lingkungan,
     Yogyakarta :Gadjah Mada University Press, 1990. Dalam Juli Soemirat
     Slamet,Kesehatan Lingkungan, Yogyakarta :Gadjah Mada University Press,
     1994.


  2. Sinar Elektromagnetik
     Secara alamiah di dalam troposfir terdapat sinar Ultra Violet, tetapi tidak dalam
     jumlah yang besar. Dengan rusaknya lapisan Ozon, maka lebih banyak sinar
     Ultra Violet yang dapat memasuki troposfir. Dalam jumlah kecil, sinar ini baik
     bagi tubuh karena dapat membantu dalam pembentukan vitamin D. Efek




Properti @dinorimantho/zat fisis pencemar udara/des2010                      Page 2
     samping sinar Ultra Violet terhadap kesehatan tergantung pada spektrumnya,
     dimana :
         Spektrum elektromagnetik antara 4000 – 3000 Å disebut sinar hitam,
           radiasinya dapat meningkatkan jumlah pigmen dalam kulit.
         Ultra Violet dengan panjang gelombang 3200 – 2800 Å disebut daerah
           erythema, yaitu dapat membuat kulit menjadi merah. Pada dosis kecil ,
           Ultra Violet daerah ini tidak terlalu berpengaruh tetapi dalam dosis besar
           maka kulit dapat terbakar dan kulit akan melepuh. Ultra Violet daerah ini
           juga dapat memberikan efek kornea menjadi sakit. Mata seolah-olah
           terdapat pasir di dalamnya.
         Ultra Violet dengan panjang gelombang antara 2800 – 2200 Å bersifat
           bakterisidal dan sering digunakan untuk desinfektan air maupun udara.
         Ultra Violet dengan panjang gelombang 2200 – 1700 Å adalah yang
           paling efisien membentuk ozon. Efek kronis penyinaran dengan Ultra
           Violet adalah terbentuknya kanker kulit.

  3. Sinar Zat Radioaktif
     Sumber-sumber zat-zat radioktif secara alamiah selain cosmos, adalah
     pertambangan zat-zat radioaktif. Sumber buatan zat radioaktif termasuk buangan
     reactor nuklir, sisa-sisa pembakaran batu bara dan minyak bumi (dalam jumlah
     yang kecil), detonasi bom nuklir serta kebocoran-kebocoran reactor nuklir seperti
     yang pernah terjadi di Chernobyl. Isotop radioaktif digunakan di berbagai industri,
     pertanian, kedokteran dan penelitian.
     Efek kesehatan radioaktivitas dapat dipelajari dari “eksperimen alam: yang
     terlanjur terjadi pada saat perang dunia ke dua yaitu sejak dijatuhkannya bom
     atom di Hiroshima dan Nagasaki. Mereka yang tidak mati terbakar, kebanyakan
     menderita kanker darah (leukemia) termasuk bayi-bayi yang masih dalam
     kandungan. Selain itu didapat banyak anak lahir cacat, keguguran, katarak
     karena radiaso, tumor kelenjar ludah dan lain-lain penyakit akibat radiasi
     (radiation sickness). Kelainan karena zat radioaktif dalam dosis rendah
     ditemukan diantara mereka yang mendapat pemaparan karena kerja, atau
     pemaparan diagnostic ataupun terapi.



Sumber :

     Juli Soemirat Slamet,Kesehatan Lingkungan, Yogyakarta :Gadjah Mada
     University Press, 1994.




Properti @dinorimantho/zat fisis pencemar udara/des2010                        Page 3

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:445
posted:12/22/2010
language:Indonesian
pages:3