Docstoc

Mahasiswa, Rebana, dan Dakwah

Document Sample
Mahasiswa, Rebana, dan Dakwah Powered By Docstoc
					                       MAHASISWA, REBANA, DAN DAKWAH
                           Oleh Mohammad Aniq Kh.B.

        “Bismillahirrohmanirrohim”
        Itulah lafal presidif untuk berbagai urusan. Barangsiapa yang tidak memulai segala
sesuatu dengannya, niscaya sesuatu itu akan putus sebelum dilakukannya. “kullu amrin dzi
balin la yubdau fihi bi bismillahirrohmanirrohim fahuwa aqtho‟, wa fi riwayatin fahuwa
ajdzam, wa fi riwayatin fahuwa abtar.” Pengertian filosofis yang dapat kita ambil adalah
bahwa segala sesuatu yang akan kita kerjakan seharusnya melibatkan Allah sebagai object
contact agar sesuatu itu akan menjadi produk yang diridloi. Oleh karena itu, agama islam
sudah mengatur dan mengajarkannya.
        Keprihatinan yang sering kita rasakan dan kita jumpai adalah kecenderungan
memisahkan kehidupan dari agama. Dengan kata lain mengatur kehidupan tanpa asas-asas
agama. Sering kali saya memberikan pengertian bahwa agama adalah ikatan primordial
manusia dengan Allah Subhanahu Wata‟ala. Ikatan yang dimaksud adalah hubungan bathin
dari diri manusia dengan Allah sehingga segala sesuatu yang berhubungan dengan tindakan
manusia dapat segera dikontakkan kepada Allah yang maha mendengar dan maha melihat.
Kehidupan itu yang sering kita definiskan dengan “sekular”
        Tak dapat dielakkan, kita cenderung berada di bawah naungan kehidupan yang
sekular dan bahkan menganut paham hedonis yang sebenarnya bertentangan dengan nilai-
nilai islam. Menurut Mohammad Quthb, sekularisme adalah iqomah alhayati „ala ghayri
asasin min addin, yaitu mengatur kehidupan dengan tidak berasaskan agama (islam). Atau
dalam bahasa yang lebih tajam, sekularisme menurut Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani adalah
memisahkan agama dari segala urusan kehidupan (fashl ad-din „an al-hayah) (Syaikh
Taqiyuddin an-Nabhani, Nizhâm Al-Islâm, hal. 25). Dalam bidang seni, misalnya, ulah
generasi muda islam saat ini cenderung liar dalam bermain music dan bernyanyi.
        Ada beberapa kemungkinan yang menyebabkan mereka berulah demikian. Pertama,
mungkin mereka berkiblat kepada penyanyi yang justru mental dan perilakunya bejat dan
tidak beradab yang tidak sesuai dengan nilai-nilai islam. Kedua, di tengah kondisi dan situasi
hedonistik seperti saat ini mereka sulit atau jarang menemukan pemusik islami yang menjadi
teladan. Dengan demikian, sekularisme sebenarnya tidak sekedar terwujud dalam pemisahan
agama dari dunia politik, tetapi juga nampak dalam pemisahan agama dari urusan seni
budaya, termasuk seni musik dan seni vokal.
        Kondisi ini harus segera diakhiri dengan jalan mendobrak dan merobohkan sistem
kehidupan sekuler yang ada, lalu di atas reruntuhannya kita bangun sistem kehidupan Islam,
yaitu sebuah sistem kehidupan yang berasaskan semata pada Aqidah Islamiyah sebagaimana
dicontohkan Rasulullah Saw dan para shahabatnya. Inilah solusi fundamental dan radikal
terhadap kondisi kehidupan yang sangat rusak dan buruk sekarang ini, sebagai akibat
penerapan paham sekularisme yang kufur. Namun demikian, di tengah perjuangan kita
mewujudkan kembali masyarakat Islami tersebut, bukan berarti kita saat ini tidak berbuat
apa-apa dan hanya berpangku tangan menunggu perubahan. Tidak demikian. Kita tetap wajib
melakukan Islamisasi pada hal-hal yang dapat kita jangkau dan dapat kita lakukan, seperti
halnya bermain musik dan bernyanyi sesuai ketentuan Islam dalam ruang lingkup kampus
kita atau lingkungan kita.

Halal atau haram?
       Menampik perseteruan pendapat yang berbeda antara halal dan haramnya bermain
musik, melagukan (menyanyikan) ataupun membuat lagu, perlu adanya kepahaman diri
dalam menafsirkan Al-Quran dan Al-Hadits. Pemahaman diri dalam membuat interpretasi tak
lepas dari hukum-hukum yang mempelajari tentang ilmu Al-Qur‟an dan Al-Hadits
(Mustholah Alhadits).
         Memang ada beberapa pendapat yang menerangkan halal dan haramnya musik dan
nyanyian. Ada kalanya dalil yang diambil dari Al-Quran dan Al-Hadits. Namun, semua itu
adalah bentuk interpretasi dan kita harus mengetahuinya. Di satu sisi kadangkala kita
menemukan hadits yang menyebutkan kehalalannya dan di sisi lain juga keharamannya.
Padahal keduanya sama-sama shohih. Bagaimana solusinya?
         Imam Syafi‟i mengatakan bahwa tidak dibenarkan dari Nabi Saw ada dua hadits
shahih yang saling bertentangan, di mana salah satunya menafikan apa yang ditetapkan yang
lainnya, kecuali dua hadits ini dapat dipahami salah satunya berupa hukum khusus sedang
lainnya hukum umum, atau salah satunya global (ijmal) sedang lainnya adalah penjelasan
(tafsir). Pertentangan hanya terjadi jika terjadi nasakh (penghapusan hukum), meskipun
mujtahid belum menjumpai nasakh itu (Imam asy-Syaukani, Irsyadul Fuhul Ila Tahqiq al-
Haq min „Ilm al-Ushul, hal. 275).
         Karena itu, jika ada dua kelompok dalil hadits yang nampak bertentangan, maka sikap
yang lebih tepat adalah melakukan kompromi (jama‟) di antara keduanya, bukan menolak
salah satunya. Jadi kedua dalil yang nampak bertentangan itu semuanya diamalkan dan diberi
pengertian yang memungkinkan sesuai proporsinya. Itu lebih baik daripada melakukan tarjih,
yakni menguatkan salah satunya dengan menolak yang lainnya. Dalam hal ini Syaikh Dr.
Muhammad Husain Abdullah menetapkan kaidah ushul fiqih:
         Al-„amal bi ad-dalilaini walaw min wajhin awlâ min ihmali ahadihima
“Mengamalkan dua dalil walau pun hanya dari satu segi pengertian— lebih utama daripada
meninggalkan salah satunya.” (Syaikh Dr. Muhammad Husain Abdullah, Al-Wadhih fi Ushul
Al-Fiqh, hal. 390).
         Prinsip yang demikian itu dikarenakan pada dasarnya suatu dalil itu adalah untuk
diamalkan, bukan untuk ditanggalkan (tak diamalkan). Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani
menyatakan:
         Al-ashlu fi ad-dalil al-i‟mal lâ al-ihmal “Pada dasarnya dalil itu adalah untuk
diamalkan, bukan untuk ditanggalkan.” (Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, Asy-Syakhshiyah
al-Islamiyah, juz 1, hal. 239).
         Atas dasar itu, kedua dalil yang seolah bertentangan di atas dapat dipahami sebagai
berikut: bahwa dalil yang mengharamkan menunjukkan hukum umum nyanyian. Sedang dalil
yang membolehkan, menunjukkan hukum khusus, atau perkecualian (takhsis), yaitu bolehnya
nyanyian pada tempat, kondisi, atau peristiwa tertentu yang dibolehkan syara‟, seperti pada
hari raya. Atau dapat pula dipahami bahwa dalil yang mengharamkan menunjukkan
keharaman nyanyian secara mutlak. Sedang dalil yang menghalalkan, menunjukkan bolehnya
nyanyian secara muqayyad (ada batasan atau kriterianya) (Dr. Abdurrahman al-Baghdadi,
Seni Dalam Pandangan Islam, hal. 63-64; Syaikh Muhammad asy-Syuwaiki, Al-Khalash wa
Ikhtilaf an-Nas, hal. 102-103).

Mahasiswa, Rebana, dan Dakwah
        Tiga kata di atas barangkali sudah cukup mewakili pola perkembangan seni islami di
kalangan kampus. Sebenarnya musik rebana sudah mempunyai karakter yang berbeda dari
yang lain. Dengan nuansa roh islaminya atas pembawaan sholawat dan do‟a justru menjadi
ladang dakwah untuk masyarakat umum. Dakwah dapat dilakukan melalui gema musik
rebananya. Bahkan, di kalangan santri maupun pemotor musik islami sudah banyak
memunculkan album rebana klasik maupun modern. Mulai pada tahun 1998 album sholawat
dari group Annabawiyyah, Arroudloh, Muqtashidin, Mohabbatain langitan Jawa Timur,
group Audul Marom dari demak dan rebana-rebana sekitarnya mulai mendobrak dunia musik
islami. Tak hanya di Jawa saja, seluruh dunia pun mempunyai musik islami yang bertajuk
sholawat dan do‟a. Bahkan di dunia perguruan tinggi, rebana pun sudah mulai menampakkan
keeksisannya dalam mendakwahkan islam kepada masyarakat kampus.
       Hal tersebut penting sekali untuk dikembangkan mengingat modernitas kampus yang
berupa-rupa, jalur rebana menjadi sosok malaikat seni yang bertujuan striving (menegakkan)
atau memberikan pola seni islami di kampus. Sudah barang tentu civitas rebana harus
mengerti akan pola dan sistem penerapan rebana di kampus. Artinya, pemahaman tentang
budaya dan rebana yang diterapkan di kampus penting untuk dipahami secara komprehensif,
bukan dilihat dari sisi testimoni kaku (menjustifikasi ataupun menghukumi dalam pandangan
sepihak). Misalnya, mahasiswa dapat menyuguhkan rebana berbentuk klasik yang berasal
dari beberapa daerah baik itu rebana hadhroh, rodad, banjar, dan minang ataupun dengan
bentuk modern sehingga mahasiswa mampu untuk membawa misi dakwah dalam
mengembangkan islam di kalangan kampus khususnya dan masyarakat umumnya demi i‟lai
kalimatillah sampai akhir zaman. Semoga berhasil.
sil.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:184
posted:12/21/2010
language:Indonesian
pages:3
Description: Tiga kata di atas barangkali sudah cukup mewakili pola perkembangan seni islami di kalangan kampus. Sebenarnya musik rebana sudah mempunyai karakter yang berbeda dari yang lain. Dengan nuansa roh islaminya atas pembawaan sholawat dan do’a justru menjadi ladang dakwah untuk masyarakat umum. Dakwah dapat dilakukan melalui gema musik rebananya. Bahkan, di kalangan santri maupun pemotor musik islami sudah banyak memunculkan album rebana klasik maupun modern.