Docstoc

Tuhan Guru yang Malang

Document Sample
Tuhan Guru yang Malang Powered By Docstoc
					                   TUHAN-TUHAN GURU YANG MALANG
                                   Oleh: Moh. Aniq Kh.B.


“The art of living successfully consists of being able to hold two opposite ideas in tension at
the same time. First, to make a long term plans as if we were going to live forever. And
second, to conduct ourselves daily as if we were going to die tomorrow”. (Al-Ghozaly)

Sejak kecil saya diajari bagaimana menghargai orang lain dan bisa rumangsa. Belajar untuk
menghargai dan introspeksi diri adalah interrelasi yang mampu menaklukkan derasnya sifat
tinggi hati dan rumangsa bisa lan bener. Dalam kehidupan sosial, kita seharusnya tidak
membawa nama Tuhan untuk menjadi bahan perdebatan sehingga menganggap yang lainnya
sesat dan salah. Namun, kita seharusnya menyuguhkan jati diri kita sebagai makhluk agar
bermanfaat bagi makhluk yang lain. Bukankah semua agama juga mengajarkan untuk
menghargai?
       Mungkin dalam kasus tertentu saja kita boleh beradu argumen tentang lintas agama.
Namun, sekali lagi hal tersebut hanya terbatas pada orientasi agama, bukan untuk mengklaim
satu sama lain. Semua boleh berpihak bahwa kebenaran hanya milik masing-masing. Akan
tetapi, titik temu dari semuanya adalah satu yakni Tuhan.
       Bagi saya, Tuhan hanyalah produk figur imajinasi kuat manusia yang menjadikan
ikatan primordial manusia, yaitu agama. Manusia bisa meyakini kehadiran Tuhan karena dia
tahu bahwa Tuhan itu ada. Sebaliknya, manusia tidak menganggap Tuhan itu ada karena dia
tidak meyakini kehadiranNya. Entah itu dalam pengertian Tuhan sebagai sesembahan atau
hanya tempat pinta. Kita mengenal kata “longan” yang dalam bahasa Jawa berarti sesuatu
yang ada di balik ranjang. Pikiran dan hati kita tahu bahwa longan itu pasti di bawah ranjang.
Tetapi setelah kita membuktikan dengan membalikkan ranjang atau memindahkannya, kita
pasti bertanya-tanya dimana longan itu berada. Itulah yang saya sebut imajinasi kuat manusia
sehingga mampu untuk menempatkan Tuhan di hati kita. Tanpa ada hati manusia tak akan
pernah mampu mencari keberadaan Tuhan.
       Sebagai orang yang beragama, saya yakin bahwa kebanyakan dari kita sudah
membalikkan Tuhan sebagai awal dan Tuhan sebagai akhir. Awal dan akhir adalah sebuah
penempatan yang bersifat tartib, yakni yang awal harus ditempatkan di awal dan yang akhir
harus ditempatkan di akhir. Bukankah selama ini kita sudah salah meletakkan mana Tuhan
awal dan Tuhan akhir. Dengan kata lain, mana yang didahulukan antara Tuhan sebagai
sesembahan ataukah Tuhan sebagai tempat pinta?
       Saat ini kita sedang berada dalam dunia skeptis; dunia yang selalu mengundang
luhing nagari. Pelbagai masalah frontal telah menjadi bahan terkini. Apalagi pendidikan yang
terus berbanjir masalah belum ada solusi yang pasti. Dan bahkan guru pun menjadi momok
kehidupan pendidikan. Sementara laju mutu sekolah dan prestasi anak didik juga menjadi
induk permasalahan pendidikan.
       Diskursus sertifikasi juga turut mengundang banyak kontroversi, yaitu antara setuju
dan tidak setuju. Pihak yang setuju mengatakan sertifikasi dapat membawa perubahan baik
secara kepribadian maupun profesionalitasnya. Namun, pihak yang tidak setuju mengatakan
apakah sertifikasi guru dapat menjamin pendidikan di Indonesia akan bagus. Hal ini
tampaknya menjadikan kening kerut antara ikut sertifikasi guru atau tidak.
       Saya sendiri berduka cita terhadap guru-guru non-PNS di desa-desa. Mereka harus
mengeluarkan ratusan ribu rupiah hanya untuk menghadiri seminar-seminar nasional dan
mendapatkan sertifikat. Padahal gaji yang diperolehnya setiap bulan belum seberapa
dibandingkan    pengeluaran     untuk   mengikuti   sertifikasi.   Kasihan,   dikasihani,   atau
dikasihankan?
       Nampaknya hiruk pikuk diskursus sertifikasi guru akan berkelanjutan entah sampai
kapan. Saya paham bahwa tujuan sertifikasi guru dan dosen adalah untuk mengukur
kompetensi dan meningkatkan kualitas. Tetapi saya belum menjumpai ada program-program
khusus pra-sertifikasi untuk memberikan atau meningkatkan kompetensi daripada guru atau
dosen. Bukankah mereka harus diberi ilmu dulu sebelum diuji?
For the Sake of Certification
       Permasalahan lain yang turut mengimbas adalah terjadinya disharmoni antar guru
sebagaimana pernyataan salah satu guru agama berikut:
      “sertifikasi guru kuwi mung nggawa cilakaning sapadha-padha. Aku iki sing wis
      pirang-pirang taun mulang mung tamatan SPG ya durung lulus sertifikasi. Bocah
      kuwi sing lagi lulus sarjana dilulusna. Nek cara pinter ya luwih pinter aku, ra bener
      kabeh….”
Apa yang dilontarkan di atas merupakan kekhawatiran saya terhadap program sertifikasi.
Lebih-lebih kompetensi guru hanya diukur dari setumpuk kertas. Sangat tidak masuk akal
jika kemampuan sebagai pendidik dimaknai dari selembar sertifikat. Dari sinilah diskriminasi
atau aspek keadilan masih belum terasa. Inilah yang saya maknai dengan gagah-gagahan.
       Beberapa penelitian tentang kinerja guru pasca sertifikasi pun menghasilkan data yang
sama, yaitu belum memenuhi kompetensi. Apalagi jika hal itu dikaitkan dengan hasil UN
yang menurun. Corak pendidikan semacam ini perlu didandani secara maksimal. Saya berani
mengatakan bahwa banyak guru-guru yang tersertifikasi minim membaca. Dengan kata lain,
guru yang tersertifikasi belum tentu lebih hebat dari yang tidak sertifikasi.
       Menurut saya perlu adanya pelatihan-pelatihan, pendidikan-pendidikan formal atau
informal dan sejenisnya kepada guru maupun dosen sebelum uji sertifikasi. Tidak boleh
kecewa jika hasilnya sama malangnya dengan UN atau jauh lebih malang. Wallahu a’lamu
bishshowab.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:25
posted:12/21/2010
language:Indonesian
pages:3
Description: Diskursus sertifikasi juga turut mengundang banyak kontroversi, yaitu antara setuju dan tidak setuju. Pihak yang setuju mengatakan sertifikasi dapat membawa perubahan baik secara kepribadian maupun profesionalitasnya. Namun, pihak yang tidak setuju mengatakan apakah sertifikasi guru dapat menjamin pendidikan di Indonesia akan bagus. Hal ini tampaknya menjadikan kening kerut antara ikut sertifikasi guru atau tidak.