Aspek Penting Dalam Pengelolaan Jaringan Telekomunikasi Yaitu Aspek Technology, Proses Dan People - PDF by jdw44147

VIEWS: 310 PAGES: 23

More Info
									      KEBIJAKAN E-LEARNING
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
                  (Klasiber.uii.ac.id)




                      Disusun oleh:
          Tim E-Learning Universitas



         Universitas Islam Indonesia
                            Mei 2007
                                              DAFTAR ISI


DAFTAR ISI .................................................................................................... 2
1. PENDAHULUAN ......................................................................................... 3
2. PETA E-LEARNING DI UII.......................................................................... 6
3. RAMBU-RAMBU KEBIJAKAN .................................................................... 7
4. KEBIJAKAN DASAR E-LEARNING ............................................................ 8
   4.1. Konsep E-learning ................................................................................ 8
   4.2. Tujuan .................................................................................................. 9
   4.3. Manfaat ................................................................................................ 9
5. IMPLEMENTASI ....................................................................................... 10
   5.1. Infrastruktur Teknologi Informasi ........................................................ 10
   5.2. Content Management ......................................................................... 10
   5.3. Kebijakan Akademik ........................................................................... 11
   5.4. Sistem Pembelajaran ......................................................................... 11
6. PENGEMBANGAN DAN PENGENDALIAN E-LEARNING UII ................. 12
   6.1. Pengembangan dan Pengendalian Infrastruktur E-Learning UII ........ 13
   6.2. Pengendalian Proses Pembelajaran dan Mahasiswa ........................ 13
7. MANAJEMEN PENGELOLAAN WEBSITE E-LEARNING UII .................. 13
8. PENDEKATAN DALAM PELAKSANAAN E-LEARNING UII ..................... 13
9. KONFIGURASI SISTEM E-LEARNING UII............................................... 14
   9.1. Konfigurasi E-Learning UII ................................................................. 14
   9.2. Arsitektur dan Desain E-Learning UII ................................................. 15
        9.2.1. Arsitektur Aplikasi ..................................................................... 15
        9.2.2. Fitur Aplikasi ............................................................................. 17
        9.2.3. Integrasi E-learning UII dengan Existing System ..................... 17
        9.2.4. Alur Data dan Interaksi User .................................................... 20
        9.2.5. Arsitektur Hardware dan Jaringan ............................................ 21
        9.2.6. DNS Sistem E-Learning UII ...................................................... 22
10. KESIMPULAN ......................................................................................... 23
11. REKOMENDASI ..................................................................................... 23
12. REFERENSI ........................................................................................... 23
1. PENDAHULUAN
       Issue penting pada abad millennium adalah globalisasi. Para ahli telah
banyak memberikan pengertian tentang makna globalisasi. Giddens (2001)
menyebutkan bahwa issue tersebut berkaitan dengan tesis bahwa kita
sekarang hidup dalam satu dunia. Selanjutnya Miarso dkk. (1998) menulis
bahwa salah satu fenomena yang muncul dalam era globalisasi adalah
adanya dominasi budaya yang kuat dan agresif terhadap budaya yang lemah
dan pasif. Budaya yang kuat dan agresif adalah budaya yang bersifat
progesif dengan ciri antara lain adalah penggunaan teknologi yang
senantiasa berkembang serta kemampuan dalam mengembangkan dan
menyerap ilmu dan pengetahuan yang banyak dan cepat. Dengan demikian
globalisasi akan meningkatkan cakrawala intelektual dengan semakin
banyaknya informasi yang tersedia dan dapat dengan mudah diperoleh, juga
akan meningkatkan interaksi antara warga dunia baik secara langsung
maupun tidak langsung.
       Teknologi Informasi sebagai kunci pada era globalisasi, telah
berkembang sangat pesat sehingga memungkinkan setiap orang untuk
mengakses informasi secara instant dalam berbagai bentuk. Dryden (2001)
menyebutkan bahwa teknologi informasi menjadi sebab terjadinya revolusi di
bidang bisnis, kehidupan rumah tangga, pekerjaan, manajemen, pendidikan
dan aspek kehidupan yang lain. Hal ini didukung oleh kenyataan
meningkatnya penggunaan komputer dan teknologi di masyararakat dengan
ciri:
1. komputer akan menjadi barang yang biasa sebagaimana TV dan radio
2. kecenderungan keberadaan komputer di setiap rumah, paling tidak
     prosentase dosen dan mahasiswa yang memiliki komputer akan
     meningkat setiap tahun.
3. Koneksi antar komputer kedalam jaringan lokal atau internet akan
     semakin mudah dan murah
4. E-mail akan semakin lazim digunakan sebagai alat komunikasi formal
     ataupun informal.
5. Semakin banyaknya sumber informasi yang tersedia dalam bentuk digital.

     Selanjutnya secara bertahap, Negroponte (1999) memprediksi bahwa
komputer-komputer pribadi akan terhubung kepada jutaan komputer lain
dalam suatu jaringan sehingga menjadi suatu kekuatan baru yang menjadi
dasar bagi munculnya ekonomi berbasis pada knowledge (K-Economy).
Kekuatan teknologi informasi akan mengarah pada koneksi daripada
komputasi. Dalam hal ini Dryden (2001) mengutip pendapat dari Kevin Kelly,
editor majalah Wired, bahwa ekonomi dunia baru dipengaruhi oleh runtuhnya
mikrokosmos chip dan meledaknya telekosmos koneksi. Sehingga K-
Economy akan digerakkan oleh kemampuan koneksi komputer bukannya
komputasi.
      Dengan kemajuan teknologi informasi, maka hampir setiap aspek
kehidupan manusia, baik yang bersifat pribadi ataupun publik/sosial telah
berubah dengan orientasi pada penggunaan teknologi informasi. Negroponte
(1999) memberikan ilustrasi bahwa kehidupan menusia pada abad tersebut
telah berubah menjadi bit-bit digital. Segala hal yang terkait dengan sarana
kelengkapan manusia seperti, buku, majalah, musik, koran didapat dengan
mudah dalam wujud digital lewat deretan bit 0 dan 1.Selanjutnya sebagai
sarana interaksi, teknologi web telah menjadi alternative utama proses
komunikasi segala jenis informasi. Bill Gates (2000) menyebutkan bahwa
salah satu ciri utama masyarakat pada abad teknologi informasi adalah
adanya gaya hidup berorientasi web (web based).
      Kecenderungan tersebut juga dirasakan oleh institusi pendidikan. Untuk
kepentingan itulah telah banyak program yang diluncurkan oleh pemerintah
sebagai upaya untuk mengenalkan teknologi informasi kepada dunia
pendidikan. Adanya program Jardiknas, Inherent, GDLN, adalah sebagian
dari komitmen pemerintah untuk menyiapkan infrastruktur yang akan
mendukung dunia pendidikan menghadapi era teknologi informasi. Dalam
dunia pendidikan, media teknologi yang berupa video interaktif, hypertext,
multimedia, website telah digunakan untuk pentransmisian materi ajar.
Penggunaan media teknologi ini mengacu pada e-learning, yang dapat
diartikan sebagai pembelajaran yang disampaikan dengan komputer melalui
CD-ROM, DVD, internet, atau intranet untuk menunjang tercapainya tujuan
pembelajaran baik secara perseorangan atau kelompok.
      Perkembangan yang pesat dari teknologi informasi juga telah merubah
paradigma pendidikan. Dengan teknologi informasi aliran informasi dan
pengetahuan dapat diperoleh dengan mudah tanpa hambatan batas ruang
dan waktu. Selain itu sumber-sumber ilmu pengetahuan pun tidak lagi
terbatas pada lembaga-lembaga formal. Dosen dan Guru akan lebih
berfungsi sebagai mediator untuk akses ilmu daripada sebagai sumber ilmu.
Bahkan proses belajar mengajar tidak lagi dibatasi oleh ruang-ruang kelas
secara fisik tetapi berubah ke dalam ruang-ruang kelas maya (cyberclass/
virtual class).
      Dari sisi lain, kemajuan teknologi informasi juga telah menjadi tulang
punggung bagi wujudnya globalisasi. Konsep globalisasi mau tidak mau akan
berpangaruh bagi budaya yang berkembang dimasyarakat, antara lain :
meningkatnya interaksi antara warga dunia, semakin mudahnya akses
informasi, semakin luasnya cakrawala intelektual, keterbukaan dan
demokratisasi. Maka dunia pendidikan sebagai blue print bagi masyarakat
masa depan harus dapat mengantisipasi berbagai realitas yang berkembang
di masyarakat menyangkut issue teknologi informasi, globalisasi. Globalisasi
akan berpengaruh pada budaya belajar dosen dan mahasiswa. Dengan
akses internet setiap setiap saat dan komunikasi jaringan komputer maka
akan muncul suatu budaya baru dalam belajar : anytime anywhere learning.
Dengan budaya tersebut maka dosen dan mahasiswa akan berubah menjadi
sosok manusia yang memiliki hasrat dan keinginan untuk terus menerus
belajar (longlife learning). Internet akan memberikan fasilitas utama untuk
terbentuknya model-model pembelajaran baru, seperti active learning dan
collaborative learning.
     Dengan kenyataan adanya perkembangan teknologi informasi, maka
mau tidak mau institusi pendidikan harus        melakukan     reengineering
sejumlah proses dalam lingkungannya. Reengineeering dapat diartikan
sebagai langkah untuk menelaah kembali segala sistem pendidikan
konvensional sehingga menjadi berorientasi pada teknologi informasi. Dalam
proses rengineeering tersebut teknologi bukan dipandang sebagai musuh
yang akan menggantikan peran manusia tetapi dipandang sebagai alat yang
akan meningkatkan efisiensi dan efektifitas institusi. Reengineering
diperlukan mengingat teknologi informasi telah melahirkan suatu paradigma
baru dalam pendidikan yang berorientasi pada: new style education, new
education programs, new education service, corporate education, alumni
service, yang muncul karena adanya kebutuhan baru dalam masyarakat
serta tersedianya teknologi.
     Pendidikan sebagai proses utama perguruan tinggi secara umum akan
melibatkan 3 aktifitas :
1. Content           : materi yang disiapkan oleh dosen
2. Packaging         : mata kuliah yang ditawarkan
3. Distribution      : presentasi kepada mahasiswa

     Dengan dukungan teknologi informasi, maka ketiga aktifitas tersebut
dilakukan dengan cara:
1. Content         : dengan kualitas materi terbaik
2. Packaging       : flexible namun tetap dalam rambu-rambu
3. Distribution    : secara local atau global dengan bantuan teknologi

      Globalisasi telah memicu kecenderungan pergeseran dalam dunia
pendidikan dari pendidikan tatap-muka yang konvensional ke arah
pendidikan yang lebih terbuka. Pendidikan masa mendatang akan bersifat
lebih luwes (flexible), terbuka, dan dapat diakses oleh siapa saja yang
memerlukannya tanpa pandang faktor jenis, usia, maupun pengalaman
pendidikan sebelumnya. Selain itu pendidikan pada masa mendatang akan
lebih ditentukan oleh jaringan informasi yang memungkinkan interaksi &
kolaborasi, pendidikan masa mendatang juga akan berorientasi pada
Computer-based Multimedia Communication (CMC) yang bersifat sinkron &
asinkron dan Information and Communication Technology (ICT). Dengan
demikian, dapat dikatakan bahwa peran dan perkembangan teknologi
informasi di bidang internet telah mempercepat aliran ilmu pengetahuan yang
dapat menembus batas-batas dimensi ruang, birokrasi, dan waktu. Teknologi
internet telah mampu menjangkau dan mendekatkan informasi kepada
penerima informasi yang secara fisik terletak di lokasi yang sangat jauh.
Dalam penerapan di bidang publikasi, teknologi website menjadi media yang
efektif dan efisien bagi layanan pembelajaran secara real time bagi setiap
kampus.
      Jiwa dari integrasi pendidikan dengan teknologi informasi bukanlah
belajar mengenal teknologi, tetapi belajar dengan teknologi. Penggunaan
teknologi diharapkan dapat meningkatkan proses dalam pendidikan maupun
hasil dari pendidikan tersebut. Dengan jiwa tersebut maka mutu pendidikan
akan dapat terjaga dan berkesinambungan. Schacter telah membuat suatu
report tentang ‘The impact of Education Technology on Student
Achievement”. Dalam laporan tersebut Schacter menyebutkan sejumlah hasil
positif dari pelajar/mahasiswa, guru dan dosen dalam menguasai ilmu
dengan bantuan teknologi dibandingkan dengan cara konvensional. Survey
tersebut juga menyebutkan sejumlah hasil negatif, dan disimpulkan bahwa
hasil negatif tersebut berawal dari kenyataan : ‘a lot of people think about
the technology first and the education later’. Dengan kata lain, gagap
teknologi adalah permasalahan utama. Maka semakin cepat terbiasa dengan
teknologi akan semakin cepat menghindarkan diri dari gagap teknologi.


2. PETA E-LEARNING DI UII
      Secara institusi, UII berusaha untuk memasukkan unsur Teknologi
Informasi dalam berbagai proses dan aktivitas institusi. UII bahkan telah
bertekad untuk menjadikan Teknologi Informasi sebagai competitive
advantage. BSI (Badan Sistem Informasi), adalah lembaga di UII yang
diberikan amanah untuk memberikan layanan terhadap berbagai kebutuhan
institusi terkait dengan Sistem Informasi dan Teknologi Informasi. Dalam hal
ini BSI berusaha untuk memfasilitasi semua kebutuhan institusi, yaitu dalam
hal :
a. Pengajaran dan pembelajaran : BSI akan memfasilitasi proses
   pengajaran dan pembelajaran dengan produk dan layanan sistem
   informasi yang dikelola dan dihasilkan.
b. Penelitian : BSI akan memfasilitasi proses penelitian dengan produk dan
   layanan sistem informasi yang dikelola dan dihasilkan disamping
   membuka pintu pemanfaatan infrastruktur Pusinfo untuk penelitian.
c. Administrasi : BSI akan mengembangkan dan mengelola produk dan
   layanan sistem informasi untuk mendukung administrasi organisasi.
d. Infrastruktur dan telekomunikasi :         BSI akan menyediakan dan
   mengelola infrastruktur dan telekomunikasi pendukung.

     Terkait dengan layanan di bidang pengajaran dan pembelajaran, hingga
saat ini fasilitas yang telah disiapkan oleh BSI terfokus pada administrasi
pengajaran/akademik. Dengan aplikasi yang diintegrasikan ke dalam portal
UII (UNISYS), maka proses-proses adminitrasi akademik telah dapat
menghubungkan mahasiswa, dosen, bank, orang tua dan bagian administrasi
dalam satu layanan terpadu. Namun demikian layanan yang langsung
menyentuh proses pembelajarannya masih belum sepenuhnya disediakan
oleh BSI.
      Untuk kepentingan itulah maka beberapa program studi, lewat berbagai
program hibah yang diterimanya dari Dikti mencoba untuk membangun
sistem yang akan mendukung langsung proses belajar mengajar. Berikut ini
dijadikan Tabel berbagai aktivitas prodi untuk menyiapkan aplikasi teknologi
informasi dalam proses pembelajarannya.

Tabel Data Implementasi TI di tingkat prodi

 Prodi                Program Hibah           Nama         Keterangan
                                              Program
 Teknik Informatika   A2 Dikti                Klasiber
 Teknik Arsitektur    A3 Dikti                Twiki
 Teknik Lingkungan    A2 Dikti
 Psikologi            Hibah Internal UII
 Kedokteran           Hibah A1 Dikti

     Dalam hal ini prodi lebih berkepentingan untuk mengimplementasikan
sejumlah program berbasis teknologi informasi / e-learning karena output
yang dihasilkan dari program-program tersebut dikaitkan dengan kompetensi
pada kurikulum.      Dengan demikian percepatan penggunaan teknologi
informasi dalam proses pembelajaran dipicu oleh kebutuhan prodi dalam
menyesuaikan tuntutan kurikulum. Salah satu dampak dari implementasi
tersebut adalah munculnya karakter e-learning di setiap prodi yang
mengimplementasikannya. Dari sisi lain kondisi ini memberikan gambaran
belum adanya program terintegrasi di tingkat insitusi dalam hal penggunaan
teknologi informasi untuk proses pembelajaran.


3. RAMBU-RAMBU KEBIJAKAN
     Mengapa UII perlu melakukan pembelajaran melaui web E-Learning.
Untuk menjawab UU No. 20 Tahun 2003 Sistem Pendidikan Nasional, yaitu
”pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan”, mengurangi angka putus
kuliah, meningkatkan kemampuan belajar mandiri mahasiswa, mengurangi
jumlah dosen dan pertimbangan efisien dalam pengelolaan pembelajaran.
     Pendidikan jarak jauh, diatur dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan
Nasional Nomor 20 tahun 2003, pasal 31, sebagai berikut :
a. Pendidikan jarak jauh dapat diselenggarakan pada semua jalur, jenjang,
    dan jenis pendidikan.
b. Pendidikan jarak jauh berfungsi        memberikan layanan pendidikan
    kepada kelompok masyarakat yang tidak dapat mengikuti pendidikan
    secara tatap muka atau reguler.
c. Pendidikan jarak jauh diselenggarakan dalam berbagai bentuk, modus,
    dan cakupan yang didukung oleh sarana dan layanan belajar serta sistem
    penilaian yang menjamin mutu lulusan sesuai dengan standar nasional
    pendidikanak
d. Ketentuan mengenai          penyelenggaraan pendidikan jarak jauh
   sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) diatur
   lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.


4. KEBIJAKAN DASAR E-LEARNING
     Perkembangan dan kemajuan penggunaan teknologi informasi sangat
memungkinkan untuk menjangkau pembelajar di luar ruang kelas, termasuk
pemanfaatan internet, sangat signifikan untuk merealisir sistem pembelajar
jarak jauh ataupun e-learning. Untuk itu, Universitas Islam Indonesia sudah
harus mengembangkan dan menerapkan serta mengoperasionalkan konsep
sistem pembelajaran jarak jauh yang didukung teknologi informasi internet
yang dapat      digunakan oleh mahasiswa UII dan dapat menjangkau
pembelajar seluruh nusantara sesuai dengan visi UII ”rahmatan lil alamin”.

4.1. Konsep E-learning
     E-Learning (Electronic Learning), proses pembelajaran dengan
menggabungkan prinsip-prinsip dalam proses pembelajaran dengan
teknologi. Menurut Michael Purwadi (2003) perangkat elektronik yang
dimaksud dalam hal ini adalah perangkat elektronik yang ada kaitannya
dengan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dan multimedia (CD ROM,
Video Tape, Televisi, dan Radio).
      E-learning adalah proses pembelajaran yang difasilitasi dan didukung
melalui pemanfaatan teknologi informasi dan internet. E-Learning tidak lagi
hanya terbatas pada proses pembelajaran yang sifatnya statis, stand alone,
dan satu arah, tetapi telah meluas menjadi proses pembelajaran yang
sifatnya dinamis, collaborative, dan multimedia.
      Secara khusus, e-learning mempunyai ciri-ciri, antara lain (1) memiliki
content yang relevan dengan tujuan pembelajaran, (2) menggunakan metode
instruksional, misalnya penyajian contoh dan latihan, (3) menggunakan
elemen-elemen seperti kata-kata dan gambar-gambar untuk menyampaikan
materi pembelajaran, dan (4) membangun pemahaman dan kemampuan
yang terkait dengan tujuan pembelajaran baik secara perseorangan atau
kelompok (Clark & Mayer, 2003).
      Keunggulan pembelajaran melalui e-Learning, menciptakan peluang
interaktivitas mahasiswa menjadi lebih meningkat. Tidak ada batasan waktu
dan tempat dan mahasiswa menjadi lebih bertanggung jawab akan
kesuksesannya. Maka, untuk pelaksanaan e-learning UII, diperlukan :
1. dukungan dari top manajemen,
2. komitmen dan sumber dana,
3. kebutuhan fasilitas pendukung infrastruktur teknologi informasi (hardware,
    software dan jaringan komputer)
4. Infrastruktur akses Internet
5. Kesiapan tenaga-tenaga mumpuni yang diwadahi dalam unit kerja khusus
   E-Learning untuk melaksanakan dan mengelola pembelajaran tersebut.
6. Salah satu point reengineering pada universitas adalah penyediaan
   contents berbasis teknologi internet via e-Learning yang akan
   meningkatkan keunggulan kompetitif universitas dan menjawab visi UII
   ”rahmatan lil alamin”.
7. Mengubah paradigma dan budaya proses pembelajaran, dengan
   menempatkan mahasiswa sebagai pelaku pembelajaran atau student
   centre. Sedangkan posisi dosen sebagai motivator, moderator, dan
   fasilitator dalam proses pembelajaran.
8. Melakukan pengembangan content pembelajaran, meliputi kurikulum,
   silabi, satuan acara perkuliahan, outline materi, evaluasi, dan tujuan
   pembelajaran.
9. Dosen menyiapkan materi kuliah, berupa modul, handout dalam media
   eloktronik secara multi media. Bagi dosen yang masih memerlukan
   asistensi akan dibantu oleh suatu Unit Kerja Khusus yang menangani E-
   Learning.

4.2. Tujuan
   Tujuan sistem pembelajaran melalui e-learning UII, yaitu :
   1. Meningkatkan kualitas pembelajaran mahasiswa UII.
   2. Mengubah budaya mengajar dosen dan belajar mahasiswa pasif
      kepada budaya belajar aktif, sehingga terbentuk independent learning.
   3. Memperluas basis dan kesempatan belajar untuk masyarakat.
   4. Mengembangkan dan memperluas produk dan layanan baru.

4.3. Manfaat
   Manfaat dan dampak yang diperoleh dari pembelajaran melalui e-
   learning, adalah :
   1. Perubahan budaya belajar dan peningkatan mutu pembelajaran
      mahasiswa dan dosen UII.
   2. Perubahan pertemuan pembelajaran yang tidak terfokus pada
      pertemuan (tatap muka) di kelas, tetapi juga pertemuan yang tidak
      dibatasi oleh ruang dan waktu melalui fasilitas e-learning UII.
   3. Tersedianya materi pembelajaran di media elektronik melalui website
      e-learning UII yang mudah diakses dan dikembangkan oleh
      mahasiswa dan masyarakat.
   4. Pengkayaan materi pembelajaran sesuai dengan kemajuan dan
      perkembangan ilmu pengetahuan dan kemajuan teknologi.
   5. Menciptakan competitive positioning dan meningkatkan brand image
   6. Meningkatkan kualitas pembelajaran dan kepuasan pembelajar serta
      kualitas pelayanan.
   7. Mengurangi biaya operasi dan meningkatkan pendapatan
   8. Interaktivitas mahasiswa meningkat (tidak ada batasan waktu)
   9. Mahasiswa menjadi lebih bertanggung jawab akan kesuksesannya
      (Learner oriented).


5. IMPLEMENTASI
      Untuk mereasilasikan program E-Leraning UII diperlukan langkah-
langkah stratejik yang diklasifikasikan dalam beberapa aspek, yaitu
infrastruktur teknologi informasi, pengelolaan materi E-Learning, kebijakan
Akademik dan sistem pembelajaran.

5.1. Infrastruktur Teknologi Informasi
      Implementasi E-Learning sangat membutuhkan dukungan infrastruktur
teknologi informasi yang handal, karena akan digunakan Online 24 jam tiap
hari dengan kapasitas dan kapabilitas yang memenuhi kebutuhan institusi
sesuai dengan perkembangan Universitas dan lingkungan bisnis, dimana
suatu organisasi tidak akan dapat lepas dari pengaruhnya, termasuk Industri
Pendidikan Tinggi. Infrastruktur Teknologi Informasi ini meliputi perangkat
jaringan, hardware, software serta akses Internet. Adapun beberapa hal yang
diperlukan dalam menunjang implementasi E-Learning dari aspek ini adalah
diantaranya sbb:
1. memperluas akses jaringan on campus dan off campus
2. menyiapkan kapasitas akses internet
3. tersedianya public access untuk semua dosen dan mahasiswa
4. menyediakan laboratorium komputer yang online 24 jam di lingkungan
    kampus
5. Berorientasi ke aplikasi open source
6. mudah di-customize oleh pengguna
7. memiliki tingkat reliabilitas yang tinggi dan terintegrasi dengan layanan
    sistem informasi lainnya.

5.2. Content Management
     Pengelolaan materi E-Learning sangat dibutuhkan dalam rangka untuk
menciptakan dan memelihara materi kuliah yang selalu up-to-date sesuai
dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Hal ini diperlukan suatu unit
kinerja khusus dalam upaya untuk mengelola materi yang sudah dalam
bentuk softcopy dan berbasis multi media. Hal ini tentunya memerlukan suatu
keahlian.
Beberapa hal yang akan dilakukan dalam aspek ini adalah:
   1. Pelatihan program yang terpadu untuk peningkatan kemampuan TIK
       dosen
   2. Pelatihan program yang terpadu untuk peningkatan TIK mahasiswa
5.3. Kebijakan Akademik
Implementasi E-Learning membutuhkan kebijakan akademik yang kondusif
dari waktu ke waktu agar secara bertahap dan cepat E-Learning di UII dapat
segera diadopsi dan terjaga keberlangsungannya, sehingga dalam hal ini
diperlukan beberapa faktor yang perlu diperhatikan diantaranya adalah:
1. Kebijakan Akademik
   a. kebijakan yang mendukung fleksibiltas e-learning
   b. kebijakan yang akan menjadi paying implementasi e-learning
2. Keberlangsungan
   a. terkontrolnya progress implementasi e-learning
   b. menjadi front office aplikasi e-learning
   c. menjadi penghubung antara dosen-mahasiswa-sistem-administrasi

5.4. Sistem Pembelajaran
     Sistem kuliah dilakukan dengan pertemuan di ruang kelas (tatap muka)
sebanyak 80%, dan tidak terbatas ruang dan waktu melalui internet sebanyak
20%. Adapun detail dari sistem tersebut adalah sebagai berikut:
1. Pertemuan Tatap Muka (80%)
   Pembelajaran secara tatap muka antara mahasiswa dengan dosen di
   kelas diwajibkan 80%, dengan content dan berbagai metode dan
   pendekatan pembelajaran yang digunakan dosen. Para mahasiswa
   diharuskan hadir dan aktif dalam pertemuan di kelas.            Kegiatan
   pertemuan meliputi : kegiatan perkuliahan, kegiatan laboratorium,
   kegiatan toturial, studi lapangan, dan dosen tamu.
2. E-learning proses (20%)
   Pembelajaran melalui e-learning UII diwajibkan minimal 20% dari
   pertemuan satu semester. Peluang pertemuan dalam e-learning UII tidak
   dibatasi waktu dan tempat, sehingga memungkinkan pertemuan melalui
   internet jauh lebih banyak dari pertemuan secara tatap muka di kelas.
   Para mahasiswa diharuskan aktif mengakses materi kuliah, berdialog
   dengan dosen, berdialog dengan teman lewat website e-learning UII.
   Pembelajaran melalui e-learning UII, meliputi :
   a. mengakses materi kuliah
   b. mengerjakan tugas
   c. diskusi
   d. membaca penugasan
   e. presentasi materi
   f. dialog antara dosen dengan mahasiswa
   g. dialog antara mahasiswa dengan sumber belajar
   h. dialog di antara mahasiswa melalui e-learning UII
   i. mahasiswa dapat mengakses bahan kuliah atau materi lain yang
       sesuai dengan materi kuliah untuk menjawab pertanyaan dalam
       diskusi atau mengerjakan tugas dengan mengakses sumber secara on
       line.
   j.   Evaluasi dimaksudkan untuk melakukan penilaian (assesment) bagi
        mahasiswa yang mengikuti proses pembelajaran melalui e-learning.

   3) Mata Kuliah
      a. Mata kuliah-mata kuliah Universitas (Ibadah dan akhlak, Aqidah,
         Studi Kepemimpinan Islam, Pemikiran dan Peradaban Islam,
         Pendidikan Pancasila, Pendidikan Kewarganegaraan, Bahasa
         Inggris, dan Kewiusahaan) yang didesain untuk pembelajaran
         melalui e-learning UII.
      b. Mata kuliah-mata kuliah lain, yang dipersiapkan untuk
         pembelajaran melalui e-learning UII.
      c. Memilih materi kuliah yang terbaik di UII dan diproduksi secara
         profesional, yang dapat digunakan internal maupun dijual ke
         institusi-institusi lain.
      d. Materi ajar, diproduksi dalam bentuk multimedia (teks, gambar,
         audio, video, animasi).

   4) Pengelolaan Sistem Pembelajaran
      Proses pengelolaan sistem melalui website - e-learning UII, meliputi :
      a. Pengembangan Dosen
         Mengubah budaya proses pembelajaran konvensional kepada
         proses pembelajaran e-learning UII. Diperlukan kemampuan
         knowledge, skill dan attitude dalam mengajar dengan
         menggunakan website e-learning UII.
      b. Pengembangan Materi
         Dalam mempersiapkan pembelajaran melalui e-learning UII, perlu
         dilakukan penataan ulang kurikulum, satuan acara perkuliahan,
         membuat outline materi kuliah, dan membuat materi ajar dalam
         multi media. Membuat rencana aktivitas dosen dan aktivitas
         mahasiswa yang sangat fokus dan mengacu kepada sumber
         belajar dari e-learning UII dan website lain. Dosen harus membuat :
         1) Outline modul dalam media power point, word dan acrobat.
         2) Course outline terdiri dari :
              peta konsep,
              materi pokok,
              supporting materi,
              online reading,
              topik diskusi dan tugas yang dikemas dalam bentuk multi
                media.


6. PENGEMBANGAN DAN PENGENDALIAN E-LEARNING UII
     Agar pelaksanaan e-learning UII dapat berjalan dengan lancar dan baik
diperlukan beberapa hal yang menyangkut pengembangan dan pengendalian
terhadap infrastruktur E-Learning dan proses pembelajaran dan mahasiswa.
6.1. Pengembangan dan Pengendalian Infrastruktur E-Learning UII
    Infrastruktur E-Learning Jaringan harus dikembangkan dan dikendalikan
secara baik dalam mendukung implemantasi e-learning UII dalam rangka
menjaga reliabilitas sistem E-Learning. Adapun beberapa hal yang berkaitan
dengan infrastruktur sistem E-Learning, yaitu :
a. Pengembangan dan pengendalian hardware
b. Pengembangan dan pengendalian software
c. Pengembangan dan pengendalian jaringan
d. Pengendalian content
e. Organisasi dan pengendalian infrastruktur.

6.2. Pengendalian Proses Pembelajaran dan Mahasiswa
     Pengendalian proses pembelajaran dan mahasiswa dapat dilakukan
dengan beberapa langkah di bawah ini agar pelaksanaan E-Learning dapat
berjalan lebih lancar. Adapun aspek-aspek yang perlu dilakukan adalah sbb:
a. Pengaturan dan persiapan jadwal
b. Persiapan peralatan dan sarana pembelajaran melalui website e-learning
   UII.
c. Persiapan dan disain materi yang di-upload oleh mahasiswa.
d. Pemantauaan, pengendalian dan evaluasi pelaksanaan proses e-learning
   UII.


7. MANAJEMEN PENGELOLAAN WEBSITE E-LEARNING UII
     Untuk melakukan perencaanaan, pengelolaan, mengembangkan dan
mengendalikan      website e-learning UII, dibentuk suatu unit khusus
(devisi), yang bertanggung jawab untuk :
   a. Mengembangkan strategi pembelajaran melalui e-learning UII.
   b. Menjalankan strategi pelaksanaan e-learning UII.
   c. Mengelola dan mengendalikan pelaksanaan e-learning UII
   d. Memonitoring dan mengevaluasi pelaksanaan e-learning UII tentang
      content, dosen, mahasiswa dan mekanisme pelaksanaan.
   e. Mengevaluasi infrastruktur, menyangkut hardware, software e-learning
      UII.

8. PENDEKATAN DALAM PELAKSANAAN E-LEARNING UII
      Agar pelaksanaan e-learning UII dapat berjalan dengan baik, maka perlu
ada langkah dan usaha pendekatan yang dilakukan, yaitu :
a. Sosialisasi kepada dosen dan mahasiswa tentang e-learning UII (tentang
    tujuan, manfaat, mekanisme dan kemudahan menggunakan website e-
    learning UII).
b. Melakukan pertemuan berkala dengan dosen dan mahasiswa untuk
    mengevaluasi kesulitas penggunaan e-learning UII.
c. Mendorong program studi dan dosen untuk mengembangkan content
   kuliah dengan menggunkan multi media untuk di-upload ke e-learning UII.
d. Terus mengevaluasi dan membenahi sistem, fasilitas, hardware, software,
   bandwidth, jaringan, materi kuliah, dan dosen.


9. KONFIGURASI SISTEM E-LEARNING UII
     Konfigurasi sistem E-Learning dalam bagian ini akan terdiri dari
konfigurasi sistem E-Learning secara umum yang kemudian akan dibahas
secara lebih detail dalam arsitektur dan desain dari E-Learning UII.

9.1. Konfigurasi E-Learning UII
    Pemakai sistem e-learning dalam hal ini mahasiswa dan dosen dapat
mengakses ke sistem dengan menggunakan piranti lunak browser.




                                                   Dosen




                          Mahasiswa


               Gambar 1: Struktur Sistem (Ana & Elan, 2000)

    Konfigurasi sistem E-Learning ini berbasis client/server. Sebagai sistem
penunjang pembelajaran berbasis kolaborasi di internet, pada dasarnya
harus memiliki bagian-bagian sebagai berikut (Ana & Elan, 2000):
a. Collaboration, untuk melakukan kerjasama antar mahasiswa dalam
   pemecahan masalah yang berkaitan dengan materi kuliah. Kolaborasi ini
   dapat diwujudkan dalam bentuk diskusi atau tanya-jawab dengan
   memanfaatkan fasilitas internet yang umum dipakai misalnya: e-mail,
   BBS, chatting, dikembangkan sesuai dengan kebutuhan aplikasi yang
   akan dibuat.
b. Database, untuk menyimpan materi pelajaran dan record-record yang
   berkaitan dengan proses belajar-mengajar khususnya proses kolaborasi.
c. Web Server, merupakan bagian mengatur akses ke sistem dan mengatur
   tampilan yang diperlukan dalam proses pendidikan. Termasuk pula
   pengaturan keamanan sistem.

9.2. Arsitektur dan Desain E-Learning UII
Adapun arsitektur dan desain E-Learning UII dalam penjelasan ini akan
dibagi kedalam beberapa bagian yaitu: arsitektur aplikasi, fiture aplikasi,
integrasi dengan sistem yang ada serta desain infrasturktur jaringannya.
Selanjutnya dibawah ini akan disajikan secara lebih detail.

9.2.1. Arsitektur Aplikasi


                                 WEB
                             INTERACTIVE



                                                   SOUND & VISION
   PACKAGING                                        (CONFERENCE)



                                 RULES




     LEARNING                                             OTHER
      OBJECT                                             RESOURCE



                              DIGITAL
                              LIBRARY

                      Gambar 2. Arsitektur E-learning UII
                  (P. Carnaby National Library Of New Zealand)
Arsitektur aplikasi yang dikembangkan pada E-Learning UII diilustrasikan
dalam gambar dibawah ini (gambar 2). Gambar tersebut menjelaskan tentang
arsitektur E-Learning yang akan diadopsi oleh UII sebagai landasan desain e-
Learning UII. Dibawah ini akan disajikan lebih detal bagian-bagian dari desain
tersebut.
9.2.1.1. Learning Object
      Learning object adalah sistem database material pembelajaran
(Learning Material) untuk bahan-bahan yang mendukung pembelajaran
(diktat, handout, presentasi, tugas dan lain-lain) dalam bentuk digital yang
didatabasekan menjadi resource dari sistem E-leaning.
      Databse ini bersifat reusable dimana resource tersebut dapat digunakan
lagi pada periode akademik berikutnya dan juga oleh berbagai mata kuliah
yang membutuhkan.
      Spesifikasi: untuk tahap awal: menggunakan file directoy server dengan
script PHP pada system opersai windows 2000 server yang siap dimigrasi ke
linux platform. Sedangkan untuk tahap pengembangan akan menggunakan
database MySQL.

9.2.1.2. Digital Library (Pengembangan)
     Digital library merupakan database bahan referensi (buku-buku, journal-
journal, makalah dan lain-lain) yang telah didigitalkan. Sistem ini terintegrasi
dengan sistem perpustakaan dan dapat menjadi link resource system E-
learning.
     Spesfikasi : menggunakan database atau file directory server.

9.2.1.3. Other Resource
      Other resource merupakan link database resource e-learning dari pihak
lain di luar UII yang dapat berupa resource dari internet atau system lain yang
bekoneksi dengan UII.
      Spesifikasi : menggunakan hyperlink (terintegrasi bila memungkinkan).

9.2.1.4. Packaging
     Sistem ini digunakan untuk menyusun resource-resource menjadi suatu
paket distribusi ke mahasiswa/pengguna sesuai matakuliah yang
bersangkutan.
     Spesifikasi : menggunkan web interface dan database MySQL.

9.2.1.5. Web Interface
     Web Interface digunakan sebagai antarmuka pengguna dengan system
E-learning sehingga dapat diakses melalui intra/internet.Web ini diakses
melalui portal Unisys.
     Spesifikasi : mengunakan script PHP dengan web server IIS (windows)
yang siap dimigrasi ke platfotrm Linux.


9.2.1.6. Sound and Vision Realtime (pengembangan)
     Sistem ini merupakan infrastruktur baik hardware (jaringan) maupun
software yang dialokasikan khusus untuk melakukan real time conference.
     Spesifikasi : menyesuaikan perkembangan teknologi informasi dan
komunikasi.
9.2.1.7. Rules
     Sistem ini merupakan system untuk mengatur user, course, dan aturan-
aturan lain dalam e-learning. Rules terintegrasi dengan system yang sudah
ada.
     Spesifikasi : menggunakan database MySQL dan Script PHP, COM+
untuk integrasi dengan existing system.

9.2.2. Fitur Aplikasi
    Dalam fitur aplikasi ini akan dibahas tentang fitur standard dan
pengembangan sistem E-Learning UII. Adapun lebih detailnya adalah
sebagai berikut:

9.2.2.1. Fitur Standar E-learning
Adapun fitur standar yang ada adalah sebagai berikut:
a. Distrubsi Materi Pembelajaran
   Fasilitas untuk mendistribusikan bahan-bahan kuliah kepada mahasiswa.
   Mahasiswa dapat mendownload bahan-bahan tersebut.
b. Forum Disikusi
   Forum diskusi digunakan untuk diskusi antara peserta kuliah (dosen,
   mahasiswa). Dalam forum ini dosen dapat menentukan topik-topik untuk
   didiskusikan dan mahasiswa juga dapat membuat topik-topik sendiri.
c. Pemberian, pengumpulan, dan penilaian tugas
   Dosen dapat memberikan tugas melalui sistem e-learning UII dan
   mahasiswa dapat mengumpulkan tugas dengan cara mengupload file
   pekerjaannya untuk dinilai.

9.2.2.2. Fitur Pengembangan
Adapun fitur yang dapat dikembangkan dalam sistem E-Lerning UII adalah:
a. Berita dan Jurnal sesuai program studi
   Dapat disajikan berita-berita program studi maupun journal-journal ilmiah
   serta opini.
b. Email integrasi
   Berita atau pengumuman melalui e-learning di dsitribusikan ke e-mail
   pengguna.
c. Penilaian rating
   Penilaian terhadap kuantitas akses pengguna untuk mengetahu keaktifan
   penggunaan e-learning.
d. Conference
   Pengembangan e-learning dengan fasilitas video-conference.

9.2.3. Integrasi E-learning UII dengan Existing System
    Sistem E-learning UII terintegrasi dengan Sistem Informasi UII
sebagaimana disajikan dalam gambar 3. Integrasi tersebut meliputi :
a. User/Pengguna
   User/Pengguna menggunakan Id User dan Password yang sama pada
   saat menggunakan sistem aplikasi UII (UNISYS)
b. Portal
   Web E-learning UII diakses melalui Portal UII (UNISYS).
c. Data-data Akademik (mata kuliah, program studi, fakultas, dosen,
   mahasiswa, rencana studi)
   Dosen secara otomatis akan dapat memonitor aktifitas mahasiswa yang
   mengikuti mata kuliahnya. Dalam hal ini aktifitas mahasiswa yang
   mengakses sistem E-Learning UII.




                                  E-LEARNING


                                               - Data Mata Kuliah
           - Data User
                                               - Data Program Studi dan Fakultas
           - Session Management
                                               - Data Dosen
                                               - Data Mahasiswa
                                               - Data RAS




   USER MANAGEMENT                                                  SIM AKADEMIK




       Gambar 3. Integrasi Data E-learning dengan Existing System
Gambar 4. Login di Portal UNISYS




 Gambar 5. Menu Portal Unisys
                      Gambar 6. Web E-learning UII


9.2.4. Alur Data dan Interaksi User
      Adapun alur data dan interaksi user dalam sistem E-Learning UII
disajikan dalam gambar 7 sebagai berikut.
                                               Student




                                                         WEB INTERFACE


     Admin


                           RULES
                       ( User, Course,
                         Silabus, dll)

Organizational Role


                                         PACKAGING




 LEARNING OBJECT
                                                                         DIGITAL LIBRARY
  (Learning Mateial)
                                                                                       OTHER RESOURCE




                                                Dosen             PUSTAKAWAN


                            Gambar 7. Alur Data dan Interaksi User



9.2.5. Arsitektur Hardware dan Jaringan
    Desain arsitektur hardware dan jaringan disajikan dalam gambar 8 di
bawah ini.
                                                                  INTERNET




                   Digital   Learning
                                         Rules
                   Library    Object
                                        Database
                  Database   Database
                                                                                User
                                                            Radio tower


                      E-Learning System
                                                                                 LAN




              MIDDLE TIER SERVER          WEB SERVER




                                                                          WEB SERVER PORTAL
DATA IMPOR                                                                      UNISYS


                                   LOGIN SESSION INTEGRATION
                                                                 Existing System


                                                                               User     Akademik
                                                                             Database   Database

                                                       MIDDLE TIER SERVER




         Gambar 8. Arsitektur Hardware dan Jaringan E-Learning UII


9.2.6. DNS Sistem E-Learning UII
     Domain Name Serice (DNS) dari sistem E-Learning UII adalah
klasiber.uii.ac.id
10. KESIMPULAN
   1. Konsep E-Learning UII telah selesai disusun, selanjutnya siap
      disosialisasikan dan diimplementasikan UII.
   2. Penyempurnaan Konsep E-Learning UII            ini dilakukan sambil
      implementasi disesuaikan dengan kondisi riel yang ada di UII.
   3. Perlu dibentuk suatu Unit Kerja Khusus (selevel devisi) yang
      menangani E-Learning.


11. REKOMENDASI
   1. Perlu adanya Tim kecil di level Universitas untuk melakukan
      pengawalan sosialisasi dan implementasi E-Learning UII.
   2. Tim Kecil akan bekerja hingga terbentuknya Unit Kerja Khusus E-
      Learning.
   3. Tim Kecil juga berkewajiban membuat konsep kerja Unit Kerja Khusus
      E-Learning UII.

                                                         Tim E-Learning UII

12. REFERENSI

Ana Hadiana dan Elan Djaelani (2000), Sistem Pendukung e-Learning di
     Web, http://www.Informatika.lipi. go.id/sistem-pendukung-e-learning-di-
     web.
Carnaby National Library Of New Zealand
     http://www.ifla.org/IV/ifla70/papers/085e-Carnaby.pdf)
Clark, R.C. dan Mayer, R E. (2003), E-Learning and the science of
     instruction: Proven guidelines for consumers and designers of
     multimedia learning, Pfeiffer, San Francisco.
Dryden Gordon and Jeannette Vos (2001), Revolusi Cara Belajar, Edisi
     Lengkap, Penerbit Kaifa, Bandung.
Gates, Bill (2000), Business @ The Speed Of Thougt, PT. Gramedia Pustaka
     Utama, Jakarta.
Giddens, Anthony (2001), Runaway World, PT. Gramedia Pustaka Utama,
     Jakarta.
Miarso, Yusufhadi, dan Harsono Taoepratjeka (1998), Dokumen Nusantara
     21 : Pendidikan, Yayasan Litbang Telekomunikasi Indonesia (YLTI),
     Jakarta.
Michael A. Purwoadi dan Wenwen Ruswendi (2003), Kutahu : Prototipe
     Perangkat Lunak Pendukung Pembelajaran Melalui Jaringan Elektronik,
     purwoadi@inn.bppt.go. id, wenwen@inn.bppt.go.id
Negroponte, Nicholas (1999), Being Digital, Penerbit Mizan, Bandung.
Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem
     Pendidikan Nasional, Departemen Pendidikan Nasional Indonesia
     Jakarta, 2003.

								
To top