Docstoc

Teori Kritis dan Feminisme dalam HI

Document Sample
Teori Kritis dan Feminisme dalam HI Powered By Docstoc
					                                                                    Tugas Final Mata Kuliah Teori-teori HI


AFIF MUHAMMAD
E13109252
Jurusan Ilmu Hub. Internasional
FISIP UNHAS



A.     TEORI KRITIS (CRITICAL THEORY)

       Istilah teori kritis sebenarnya telah diperkenalkan pertama kali pada tahun 1930-an
oleh Max Horkheimer. Namun baru mulai masuk dan berpengaruh dalam studi Hubungan
Internasional pada pertengahan tahun 1980. Teori kritis ini dikembangkan oleh kumpulan
para ilmuwan Jerman, yang dikenal dengan nama “Mazhab Frankfurt”. Mazhab ini
berkembang di Jerman menjelang PD I hingga PD II. Karena tekanan dari Nazi, mereka
terpaksa pindah ke tempat perasingan di Amerika Serikat. Para ilmuwan ini antara lain Max
Horkheimer, Theodor Adorno, Herbert Marcuse dan Erich Fromm. Mereka kemudian inilah
yang dikenal sebagai generasi pertama dari teori kritis. Generasi kedua dari aliran ini adalah
Jurgen Habermas. Jurgen Habermas cukup identik dengan teori kritis ini karena tergabung ke
dalam Institut Penelitian Sosial di Universitas Frankfurt, yang didirikan kembali oleh
Horkheimer dan Adorno pasca PD II.

       Teori kritis ini di dalam HI sangat berkaitan dengan ide-ide pemikiran dari Marx.
Oleh karena itu akan ada banyak kesamaan antara teori kritis ini dengan strukturalisme,
disebabkan karena keduanya sangat dipengaruhi oleh Marxisme. Namun tentunya tetap
terdapat perbedaan antara teori kritis ini dengan strukturalisme.

       Setidaknya ada dua hal yang menyatukan para pemikir teori kritis, antara para teoritisi
kritis generasi pertama dan teorotisi generasi kedua. Hal yang pertama adalah kekecewaan
mereka terhadap situasi masyarakat pasca kapitalisme di Eropa. Di mana setelah kapitalisme
berlaku di Eropa, ideologi yang dominan ini (baca:liberalsme) sangat berpengaruh terhadap
terciptanya kesenjangan sosial yang besar. Liberalisme dianggap tidak dapat menggambarkan
dan menjelaskan tentang karateristik manusia dan masyarakat secara umum, tetapi hanya
mencerminkan sudut pandang kelas penguasa/borjuis. Ketika mereka ditanya tentang
kehidupan dari para pekerja atau buruh, tentu akan muncul kata-kata seperti tertindas atau
eksploitatif. Dengan demikian liberalisme adalah sebuah pemahaman atau penjelasan yang
dominan tentang dunia yang kemudian memperkuat dukungan bagi perkembangan
kapitalisme yang sifatnya eksploitatif tersebut.

        Hal yang kedua adalah bahwa mereka kecewa lantaran ide-ide marxisme dibakukan
menjadi komunisme yang kemudian dikuasai oleh partai komunis (lenin, stalin). Ide-ide
marxisme seperti : kapitalisme adalah suatu sistem yang eksploitatif terhadap kelas pekerja,
di adaptasi oleh komunisme tadi menjadi suatu ideologi. Hal-hal yang menjadi perhatian
komunisme adalah seperti di atas, sehingga sama dengan marxisme, komunisme ini sangat
deterministik ekonomi. Deterministik ekonomi karena menekankan seluruh persoalan yang
ada di masyarakat adalah persoalan dengan dasar dan basis ekonomi. Jika kita menelusuri
segala persoalan, maka akar dan pokok dari masalah tersbut adalah ekonomi, itulah anggapan
mereka. Bahwa permasalahan ideologi, politik, budaya dan lainnya hanya masalah yang
merefleksikan ekonomi. Dari detrministik ekonomi inilah yang tidak disukai oleh kritikal
teori ini.

        Berbeda dengan strukturalis yang fokus dengan kesenjangan dan eksploitasi, teroi
krtis lebih banyak menekankan pada pentingnya budaya dan ideologi di dalam
melanggengkan interaksi antara kelas-kelas sosial tertentu. Teori kritis juga berpendapat
bahwa semua pengetahuan itu di pengaruhi oleh latar belakang orang yang menemukan dan
mengkonstruksikannya. Ideologi adalah pemahaman menyeluruh terhadap suatu realitas yang
ada, menurut teori kritis pemahaman menyeluruh tersebut dibentuk oleh individu yang
terbatas dakam memahami realitas yang ada. Bahwa individu tersebut sangat dipengaruhi
oleh latar belakangnya dalam melihat sesuatu.

        Bagi teoriyisi kritis, pengetahuan haruslah dapat netral. Tidak seperti dekarang di
mana pengetahuan tersebut tidak netral baik secara moral maupun secara politis dan ideologi.
Semua pengetahuan dengan begitu mencerminkan kepentingan dari para analisnya.
Pengetahuan    selalu   bias   karena   merupakan   perspektif   sosial   dari   orang   yang
mengkonstruksinya. Dengan begitu, teori kritis melihat pengetahuan akhirnya menuju kepada
suatu kecenderungan yang sarat akan kepentingan, nilai-nilai, kelompok-kelompok,
golongan-golongan, kelas-kelas, bangsa-bangsa tertentu, dan seterusnya. Robert Cox (1981)
bahkan mengatakan “theory is always for someone and has purpose”.

        Teori kritis pada akhirnya tidak mau berurusan dengan prinsip umum, mereka tidak
mau membuat teori-teori besar yang kemudian menjadi main paradigm di dalam masyarakat.
Karena menurut mereka, suatu ide apalagi yang berkaitan dengan pengetahuan dan kehidupan
masyarakat haruslah sifatnya membebaskan, dan tidak boleh menjadi dogma dan menjadi
suatu yang mutlak. Karena pada hakekatnya pengetahuan tersebut terus berkembang dan
berubah, tidak menjadi sesuatu yang kekal.

       Menurut teori kritis, teori itu haruslah emansipatoris. Maksudnya teori itu hendaknya
tidak hanya menginterpretasikan (menjelaskan) tentang fakta yang terjadi, tetapi juga
memberikan solusi yang dapat mengubah situasi (emansipatoris, membebaskan). Oleh
karenanya teori kritis ini memberikan jalan untuk meningkatkan kapasitas manusia for self
determination.

       Teori kritis ini selalu curiga (kritis), ia selalu menaruh pertanyaan terhadap segala
sesuatu yang ada. Kasarnya, ia selalu mencari dark side dari setiap hal. Misalnya kapitalisme,
mereka percaya bahwa kapitalisme di samping keberhasilan mereka membuat misalnya
ekonomi negara membaik, keuntungan didapatkan, dll mempunyai dark side. Misalnya sifat
eksploitasi kapitalisme yang tenyata membuat menderita para kelas buruh, dan membuat
kesenjangan yang jaun antara kelas borjuis dan proletar.

       Toeri kritis ini memang membuat para pemikir positivis untuk berpikir kembali
mengenai ide-ide normatif yang membangun plotik dunia lewat “kritik-krtik” mereka.
Mereka juga menunjukkan adanya hubungan yang erat antara pengetahuan dan politik yang
kemudian berujung pada konflik kepentingan. Tetapi dari itu semua bukan berarti toeri kritis
tidak mempunyai masalah ataupun kritik-kritik. Kritik yang pertama ditujukan keoada teori
kritis adalah bahwa mereka tidak bisa menyelesaikan masalahnya sendiri, yaitu terjebak
menjadi mazhab. Banyak yang kemudian menjadikan teori kritis ini menjadi sebuah ideologi
yang berlaku umum, menjadi dogma di masyarakat (meskipun hanya sebagian kecil
akademisi saja), dan bisa saja menjadi suatu pemahaman yang status quo.

       Yang kedua adalah teori kritis seakan menegasikan pernyataan mereka bahwa
pengetahuan adalah hasil interpretasi orang yang mengkonstruksinya berdasarkan
pengalaman hidupnya. Bahwa teori kritis ini sendiri pun adalah hasil interpretasi orang
berdasarkan pengalaman hidupnya yang di mana orang ini sangat terbatas dalam memahami
realitas yang ada.

       Yang ketiga bahwa teori kritis tidak bisa memisahkan antara teori dan praktek
(praksis). Teori kritis mengatakan bahwa ilmu itu tidak bisa bebas nilai. Pengetahuan itu
haruslah bisa menetapkan sesuatu yang secara moral benar dan adil bagi seluruh masyarakat.
Tapi hal itu sangat sulit dilakukan bahkan meski melalui proses dialog antar subjektif. Hasil
yang paling mungkin adalah konsepsi „masyarakat‟ yang sangat kebarat-baratan, menurut
kelas menengah dan gender, yang berkedok sebagai sudut pandang yang universal yang
sekali lagi ternyata hanya mewakili kelompok ataupun golongan tertentu.




B.     FEMINISME

       Feminisme mulai masuk ke studi Hubungan Internasional pada akhir tahun 1980-an.
Walupun demikian, feminisme dalam hubungan internasional mempergunakan suatu tradisi
pemikiran feminis yang sangat beragam yang berasal dari jaman delapan belas abad yang lalu
(Jill Steans:2009).

       Feminisme atau yang sering dikenal dengan sebutan emansipasi berasal dari bahasa
latin yang berarti perempuan. Menurut Kamla Bhasin dan Nighat Said Khan, feminisme
adalah suatu kesadaran akan penindasan dan pemerasan terhadap perempuan dalam
masyarakat, di tempat kerja dan dalam keluarga, serta tindakan sadar perempuan maupun
lelaki untuk mengubah keadaan tersebut. Sedangkan menurut Yubahar Ilyas, feminisme
adalah kesadaran akan ketidakadilan gender yang menimpa kaum perempuan, baik dalam
keluarga maupun masyarakat, serta tindakan sadar oleh perempuan maupun lelaki untuk
mengubah keadaan tersebut.

       Ada tiga ciri feminisme, yaitu :
1.     Menyadari akan adanya ketidakadilan gender
2.     Memaknai bahwa gender bukan sebagai sifat kodrati
3.     Memperjuangkan adanya persamaan hak.


       Terdapat beberapa cara dalam menggolongkan pemikiran feminisme ini. Namun yang
utama dan merupakan main paradigm dari feminisme ini sendiri adalah feminisme liberal,
feminisme sosialis, dan feminisme radikal. Kita akan membahas lebih banyak tentang ke-3
mazhab feminis tersebut.

       Yang pertama feminisme liberal. Ialah pandangan yang menempatkan perempuan
yang memiliki kebebasan secara penuh dan individual. Aliran ini menyatakan kebebasan dan
kesamaan berakar pada rasionalitas dan pemisahan antara dunia privat dan publik. Setiap
manusia punya kapasitas untuk berpikir dan bertindak secara rasional, begitu pula pada
perempuan. Akar ketertindasan dan keterbelakangan pada perempuan disebabkan oleh
kesalahan perempuan itu sendiri. Perempuan harus mempersiapkan diri agar mereka bisa
bersaing di dunia dalam kerangka "persaingan bebas" dan punya kedudukan setara dengan
lelaki.

          Tokoh aliran ini adalah Naomi Wolf, sebagai "Feminisme Kekuatan" yang merupakan
solusi. Kini perempuan telah mempunyai kekuatan dari segi pendidikan dan pendapatan, dan
perempuan harus terus menuntut persamaan haknya serta saatnya perempuan bebas
berkehendak tanpa tergantung pada lelaki.

          Feminisme liberal mengusahakan untuk menyadarkan wanita bahwa mereka adalah
golongan tertindas. Pekerjaan yang dilakukan wanita di sektor domestik dikampanyekan
sebagai hal yang tidak produktif dan menempatkan wanita pada posisi sub-ordinat. Budaya
masyarakat Amerika yang materialistis, mengukur segala sesuatu dari materi, dan
individualis sangat mendukung keberhasilan feminisme. Wanita-wanita tergiring keluar
rumah, berkarier dengan bebas dan tidak tergantung lagi pada pria.

          Yang kedua adalah feminisme sosialis. Sebuah faham yang berpendapat "Tak Ada
Sosialisme tanpa Pembebasan Perempuan. Tak Ada Pembebasan Perempuan tanpa
Sosialisme".

          Feminisme sosialis berjuang untuk menghapuskan sistem pemilikan. Lembaga
perkawinan yang melegalisir pemilikan pria atas harta dan pemilikan suami atas istri
dihapuskan seperti ide Marx yang menginginkan suatu masyarakat tanpa kelas, tanpa
pembedaan gender. Kaum feminis sosialis mengembangkan suatu analisa mengenai
hubungan antara kapitalisme, pembagian tenaga kerja berdasarkan jenis kelamin yang sedang
berlaku, dan kesenjangan yang dialami oleh perempuan akibat dari hal tersebut.

          Hal terpenting dari posisi feminis sosialis adalah argumen mereka yang menjelaskan
bahwa kemunculan kapitalisme sebagai suatu sistem sosial yang dan ekonomi melahirkan
suatu pembagian yang nyata antara ruang publik di dunia kerja dan ruang privat di rumah dan
keluarga. Hal ini kemudian juga menimnbulkan apa yang disebut dengan „kerja‟ dan
„produksi‟ yang merupakan „pekerjaan‟ laki-laki‟ dan proses lainnya adalah „pekerjaan
perempuan‟ yang dianggap rendah dan diremehkan. Hal-hal seperti inilah yang
diperjuangkan oleh kaum feminisme sosialis.
       Yang ketiga adalah feminis radikal. Trend ini muncul sejak pertengahan tahun 1970-
an di mana aliran ini menawarkan ideologi "perjuangan separatisme perempuan". Pada
sejarahnya, aliran ini muncul sebagai reaksi atas kultur seksisme atau dominasi sosial
berdasar jenis kelamin, di Barat pada tahun 1960-an, utamanya melawan kekerasan seksual
dan industri pornografi. Pemahaman penindasan laki-laki terhadap perempuan adalah satu
fakta dalam sistem masyarakat yang sekarang ada.

       Kaum feminisme radikal mengkritik feminisme liberal dan sosialis, karena mereka
menganggap keduanya adalah sebagai pihak yang mendorong perempuan untuk meniru laki-
laki atau hal-hal yang menjadi „nilai laki-laki‟. Aksi peniruan tersebut pada akhirnya menurut
feminisme radikal, akan berakibat pada berkurangnya karakter, nilai-nilai dan peran-peran
yang feminim.

       Bagi kaum radikal, wilayah-wilayah kehidupan yang secara konvensional ditandai
oleh partikularisme dan cinta, sebenarnya ditandai oleh subordinasi dan dominasi laki-laki
terhadap perempuan. Dari pemahaman ini, tidak ada jala lain selain perubahan dalam ranah-
ranah kehidupan yang paling pribadi dan intim dalam hubungan manusia tersebut, untuk bisa
meraih kebebasan perempuan.

       Sebagai contoh dari perjuangan kaum feminisme, kita mengambil contoh revolusi
Nikaragua. Pada 19 Juli 1979 di Nikaragua tejadi sebuah revolusi yang sangat berbau
nasionalis dan anti-imperialis. Pada saat yang sama terdapat masyarakat-masyarakat yang
sangat berkelakuan macho dan berhasil mendirikan organisasi-organisasi perempuan. Mereka
memperjuangkan hak-hak mereka, isu „kerja ganda sehari‟ dan kekerasan rumah tangga yang
sebelumnya dianggap suatu hal yang „normal‟. Perjuangan mereka nampaknya tidak berhasil,
tetapi stidaknya memberikan rangsangan terhadap perdebatan tentang isu-isu yang mereka
bawa tadi.

       Dari contoh di atas kita dapat mengkategorikannya sebagai perjuangan feminisme
radikal. Karena mereka memperjuangkan apa yang sebenarnya menjadi hak mereka tidak
peduli laki-laki ataupun perempuan. Mereka layak mendapatkan penghormatan dan bukannya
kekerasan. Dari contoh di atas juga bisa kita lihat bahwa perjuangan yang dilakukan bukan
untuk meniru „pekerjaan laki-laki‟ atupun „nilai-nilai laki-laki‟, seperti yang di kritik oleh
kaum feminisme radikal kepada feminisme liberal dan feminisme sosialis.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Stats:
views:937
posted:12/20/2010
language:Indonesian
pages:6