pembenihan nila by mymathematicalromanc

VIEWS: 2,904 PAGES: 25

									Laporan Praktikum              Hari/Tanggal : Kamis/ 18 November 2010
M.K Dasar-Dasar Akuakultur     Asisten      : 1. Tyas Setyoaji
                                              2. Uthami N.
                                              3. Nur Aqil
                                              4. Asep Bulkini
                                              5. Fatima Rosniar




                    PEMBENIHAN IKAN NILA
                      Oreochromis niloticus




                                Oleh:
                             HASANUDIN
                              H34070012




         DEPARTEMEN BUDIDAYA PERAIRAN
      FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
            INSTITUT PERTANIAN BOGOR
                       2010
                                   I. PENDAHULUAN



I.1 Latar Belakang
           Kurun waktu 2010-2014, produk perikanan budidaya ditargetkan naik
hingga 353%, dari 5,26 juta ton menjadi 16,89 juta ton. 1 Salah satu ikan yang
digenjot pertumbuhannya adalah ikan nila. Ikan nila merupakan komoditas
budidaya yang memiliki prospek pasar yang sangat baik. Budidaya dengan media
air atau sering disebut juga dengan aquakultur adalah kegiatan untuk
memproduksi biota akuatik di lilngkungan terkontrol untuk mendapatkan
keuntungan. Akuakultur berasal dari bahasa inggris Aquaculture (aqua=perairan,
culture =budidaya). Oleh karena itu akuakultur dapat didefinisikan menjadi
menjadi campur tangan manusia untuk meningkatkan produktivitas perairan
budidaya.
           Salah satu ikan produksi air tawar yang prospektif untuk dikembangkan
adalah ikan nila (Oreochromis Niloticus). Ikan nila merupakan salah satu
komoditas penting perikanan budidaya air tawar di Indonesia. Menurut sejarahnya
ikan nila pertama kali didatangkan dari Taiwan ke Balai Penelitian Perikanan Air
Tawar, Bogor pada tahun 1969. Setahun kemudian ikan ini mulai disebarkan ke
beberapa daerah. Budidaya ikan nila disukai karena ikan nila mudah dipelihara,
laju pertumbuhan dan perkembangbiakannya cepat, serta tahan terhadap gangguan
hama dan penyakit. Kemampuan untuk bereproduksi ikan nila cukup tinggi,
antara 2-3 bulan dari bibit, ikan nila sudah dewasa dan dapat menghasilkan telur
setiap bulan satu kali.
           Salah satu faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dari ikan nila adalah
kualitas benih. Benih yang berkualitas akan tumbuh dengan baik pada lingkungan
yang optimal. Benih dengan kualitas tinggi dihasilkan dari indukan yang unggul
seperti memiliki tingkat fekunditas yang tinggi dan berasal dari indukan yang
sengaja dipelihara untuk usaha pembenihan.
           Berdasarkan uraian di atas maka dipilihnya ikan nila dalam praktikum kali
ini dikarenakan ikan nila mudah dibudidayakan dan kegiatan pe mbenihannya

1
    Majalah Agrina vol.5 – no.122, 2 maret 2005 hal.5
relatif mudah. Kegiatan pembenihan yang dimaksud adalah pemeliharaan induk
untuk menumbuhkan dan mematangkan gonad sehingga ikan nila dapat memijah
dan menghasilkan larva. Kenudian larva nila dipelihara sampai berumur yang
tepat dengan ukuran panjang dan bobot tertentu sebelum ditebar di habitat yang
lebih luas. Namun demikian dalam pembenihan juga harus memahami dan
memperhatikan aspek-aspek yang menunjang dan mendukung proses pembenihan
tersebut, aspek –aspek yang dimaksud seperti kualitas air, ketersediaan dan kadar
nutrisi dalam pakan, suhu dan sebagaianya. Hal ini perlu diperhatikan karena
larva merupakan stadia paling kritis dalam siklus hidup ikan nila, sehingga sangat
rentan dan mudah mengalami kematian.


1.2 Tujuan
       Tujuan dari praktikum ini adalah membantu mahasiswa untuk mengetahui
prinsip-prinsip pembenihan ikan nila dan membantu mahasiswa untuk dapat
memproduksi benih ikan nila.
                          II. TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Biologi ikan Nila
          Ikan nila (Oreochromis niloticus) merupakan jenis ikan air tawar yang
memiliki sifat mouth breeder atau memelihara telur dan larva dalam mulut.
Klasifikasi ikan nila menurut Dr. Trewavas (Suyanto, 2003 Dalam Siti maryam.
2010.) adalah sebagai berikut:
Kingdom                 : Animalia
Phyllum                 : Chordata
Kelas                   : Osteichtes
Ordo                    : Percomorphi
Familia                 : Cichlidae
Genus                   : Oreochromis
Spesies                 : Oreochromis niloticus
          Ikan nila memiliki bentuk tubuh memanjang, ramping dan relatif pipih.
Panjang total (mulut hingga ekor) bisa mencapai 30 cm. Sirip punggung (dorsal)
dengan 16-17 duri (tajam) dan 11-15 jari-jari (duri linak) dan sirip dubur (anal)
dengan 3 duri dan 8-11 jari- jari (Bardach et al., 1972 dalam Ade Hermawan
2010). Tubuh berwarna kehitaman atau keabuan, dengan bebrapa pita gelap
melintang (belang) yang makin mengabur pada ikan dewasa. Ekor bergaris-garis
tegak, 7-12 buah. Tenggorokan, sirip dada, sirip perut, sirip ekor dan ujung sirip
punggung dengan warna merah atau kemerahan (atau kekuningan) ketika musim
berbiak (Bardach et al., 1972 dalam Ade Hermawan 2010) Ikan nila juga
memiliki kemampuan adaptasi yang baik dalam berbagai jenis air, tahan terhadap
perubahan lingkungan, bersifat omnivor, mampu mencerna makanan secara
efisien, memiliki pertumbuhan yang cepat serta tahan terhadap penyakit (Suyanto,
2003 Dalam Siti maryam. 2010.).         Ikan   nila bersifat omnivor dan dapat
memanfaatkan fitoplankton, zooplankton, bakteri dan detritus sebagai pakan. Ikan
nila juga diketahui memiliki kemampuan untuk memfilter fitoplankton dengan
diameter kurang dari 5 µm di perairan (Lovell, 1989 Dalam Siti maryam. 2010.).
Ikan nila berasal dari Sungal Nil dan danau-danau sekitarnya. Sekarang ikan ini
telah tersebar ke negara- negara di lima benua yang beriklim tropis dan subtropis.
Sedangkan di wilayah yang beriklim dingin, ikan nila tidak dapat hidup baik.
Bibit ikan didatangkan ke Indonesia secara resmi oleh Balai Penelitian Perikanan
Air Tawar pada tahun 1969. Setelah melalui masa penelitian dan adaptasi, barulah
ikan ini disebarluaskan kepada petani di seluruh Indonesia. Nila adalah nama khas
Indonesia yang diberikan oleh Pemerintah melalui Direktur Jenderal Perikanan.
Ciri pada ikan nila adalah garis vertikal yang berwarna gelap di sirip ekor
sebanyak enam buah. Garis seperti itu juga terdapat di sirip punggung dan sirip
dubur. Sedangkan ikan mujair tidak memiliki garis-garis vertikal di ekor, sirip
punggung, dan di sirip dubur. Seperti halnya ikan nila yang lain, jenis kelamin
ikan nila yang masih kecil, belum tampak dengan jelas. Perbedaannya dapat
diamati dengan jelas setelah bobot badannya mencapai 50 gram. Ikan nila yang
berumur 4-5 bulan (100-150 gram) sudah mulai kawin dan bertelur (Suyanto,
2003 Dalam Siti maryam. 2010.).
       Menurut (Suyanto, 2003 Dalam Siti maryam. 2010.) Tanda nila jantan,
warna badan lebih gelap dari betina, bila waktunya mijah, bagian tepi sirip
berwarna merah cerah, sifatnya galak terutama terhadap jantan lainnya. Alat
kelamin berupa tonjolan (papila) di belakang lubang anus. Pada tonjolan itu
terdapat satu lubang untuk mengeluarkan sperma. Tulang rahang melebar ke
belakang yang memberi kesan kokoh. Bila tiba waktunya memijah, sperma yang
berwarna putih dapat dikeluarkan dengan pengurutan perut ikan ke arah belakang.
Sisik nila jantan lebih besar dari pada nila betina. Sisik di bawah dagu dan perut
berwarna gelap. Sirip punggung dan ekor bergaris yang terputus putus. Sedangkan
Tanda nila betina, alat kelaminnya berupa tonjolan di belakang anus. Namun pada
tonjolan itu ada 2 lubang. Lubang yang depan untuk mengeluarkan telur, sedang
lubang belakang untuk mengeluarkan air seni. Warna tubuh lebih cerah dibanding
dengan jantan dan gerakannya lamban. Bila telah mengandung telur yang matang
(saat hampir mijah), perutnnya tampak membesar. Namun bila perutnya di urut
tidak ada cairan atau telur yang keluar. Sisik di bawa h dagu dan perut berwarna
putih/cerah. Sirip punggung dan ekor bergaris garis tidak terputus putus.
       Ikan nila akan tumbuh       secara baik dalam habibat yang mendukung.
Habibat yang sesuai untuk pemeliharaan ikan nila adalah air dengan beberapa
parameter, antara lain: suhu oksigen terlarut (DO), nilai pH dan slinitas. Kisaran
sushu optimal dalam pemeliharaan ikan nila berkisar antara 25-30°C (Hepher and
Pruginin, 1981 Dalam Siti Maryam. 2010). Ikan nila masih dapat bertahan hidup
pada perairan dengan kadar oksigen terlarut (DO) lebih rendah dari 5 mg/L,
namun DO minimum yang harus dipertahankan dalam pemeliharaan nila harus
lebih tinggi dari 3 mg/L. Ikan nila dapat hidup pada kisaran pH antara 6,0-8,5.
Namun pertumbuhan optimalnya terjadi pada pH 7,0-8,0 (Suyanto, 2003 Dalam
Siti maryam. 2010.). Ikan nila dapat hidup di lingkungan air tawar, air payau, dan
air asin. Kadar garam air yang disukai antara 0-35 ppm. Dan kandungan amoniak
yang dapat ditolerir oleh ikan nila adalah kurang dari 0.02 mg/L. Pengelolaan
kualitas air penting untuk mendukung pertumbuhan dan reproduksi ikan yang
dibudidayakan.    lingkungan peraiaran berpengaruh terhadap kesehatan ikan.
Kondisi yang tidak sesuai akan menimbulkan stress pada ikan sehingga ikan
mudah terserang penyakit.


2.2 Pembenihan Ikan Nila
       Pemilihan induk yang baik diperlukan agar benih yang dihasilkan
memiliki kualitas yang baik. Pedoman praktis ciri-ciri induk ikan nila yang baik
antara lain: Umur antara 4 – 5 bulan dan bobotnya antara 500 – 600 g. Induk ikan
nila yang selama pemeliharaan diberi pakan bermutu tinggi dalam jumlah yang
cukup dan sudah didesinfeksi agar bebas dari jasad penyakit. Induk jantan yang
telah matang gonad berwarna hitam kelam, bagian dagu putih, alat kelamin
meruncing dengan warna putih bersih dan ujung sirip ekor dan sirip punggung
berwarna merah cerah. Induk betina yang telah matang gonad mempunyai badan
yang berwarna hitam kelam, bagian dagu putih.
       Rasio jantan dan betina padat penebaran induk 1 ekor/m2 atau 1
ekor/1,5m2 . Perbandingan jantan:betina = 1:2. Kolam pemeliharaan induk juga
berfungsi sebagai kolam pemijahan. Untuk memudahkan pengelolaannya, kolam
sebaiknya berupa kolam tanah yang luasnya 100m2 . Kepadatan kolam induk
sebaiknya hanya 2 ekor/m2 . Jika kolam terlalu padat maka produksi telur dan
frekuensi pemijahannya rendah.
       Proses Pemijahan terjadi bila induk-induk jantan dan betina sudah
dipelihara bersama selama 1 minggu maka air kolamnya perlu diatur agar terjadi
pemijahan. Pagi hari air kolam disurutkan hingga tersisa 20 cm. Mala m hari
kolam diairi lagi hingga mencapai 60-70 cm. Perubahan kedalaman air tersebut
biasanya akan merangsang pemijahan. Ikan jantan yang terangsang untuk
memijah biasanya akan menunjukkan perubahan warna badan. Badannya lebih
hitam dan siripnya kemerahan. Induk jantan ini juga bergerak aktif mencari
pasangan. Sedangkan ikan betina tidak menunjukkan perubahan warna yang
mencolok. Namun, kalau kandungan telurnya telah cukup masak maka induk
betina mau berpasangan.
          Bila telah mendapatkan pasangan, ikan jantan membuat cekungandi dasar
kolam sebagai tempat pemijahan. Cekungan terbentuk bulat cekung dengan garis
tengah kira-kira 30-50 cm, atau tergantung ukuran induk ikan. Setelah cekungan
selesai dibuat, pasangan ikan nila melakukan pemijahan pada saat matahari akan
terbenam. Selama proses pemijahan induk betina berada di tengah cekungan.
Kemudian induk jantan mendekati induk betina dan pada saat itu induk betina
mengeluarkan telurnya. Telur ini tergolek di dasar cekungan dan dalam waktu
yang bersamaan ikan jantan menghamburkan spermanya di situ dan terjadilah
pembuahan (fertilisasi) telur.
          Jumlah Larva Yang Dihasilkan Tiap Induk atau Pelepasan telur terjadi
beberapa kali dalam jarak waktu beberapa menit. Waktu yang diperlukan untuk
pemijahan tidak lebih dari 10-15 menit. Sekali bertelur induk ikan nila dapat
mengeluarkan telur sebanyak 300-3000 butir, tergantung berat dan umur induk
betina. Induk muda yang pertama kali bertelur kemampuan bertelurnya masih
sedikit. Makin tua umurnya makin besar kemampuan bertelurnya. Namun, induk
yang terlalu tua juga kurang baik mutu anak-anaknya. Setelah telur menetas, maka
tlur akan berubah menjadi larva. Pada fase ini ikan mengalami fase kritis dalam
hidupnya karena bentuk tubuh larva yang kecil dan bukaan mulutnya juga kecil,
sehingga hanya pakan alami yang dapat menjadi asupan gizi pada larva tersebut.
Tingkat kelangsungan hidup benih (Survival Rate) yang ideal untuk larva ikan
nila adalah 90% 2 . Dimana 90% larva dapat melangsungkan hidupnya ke fase
benih kemudian fase juvenile.



2
    Jakarta Post 2010
       Pada fase benih dilakukan sortasi sesuai ukuran benih ikan nila itu sendiri
dari ukuran dibawah 3 cm, ukuran 3-5 cm dan ukuran lebih dari 5 cm. sortasi itu
sendiri adalah pemilihan atau pemisahan ikan berdasarkan berat warna, kesehatan,
persyaratan fisik tertentu, hal ini bertujuan untuk menyeragamkan ukuran benih,
sehingga diharapkan hasil panen ikan nila menjadi seragam.
                      III. BAHAN DAN METODE


3.1 Waktu dan Tempat
       Praktikum dilaksanakan di Laboratorium Lapangan Budidaya Perairan,
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Pelaksanan
penelitian tersebut berlangsung mulai tanggal 2 September 2010 sampai dengan 6
November 2010 dengan waktu praktikum antara pukul 15.00 – 18.00 WIB.


3.2 Alat dan Bahan
       Alat yang digunakan untuk praktikum pembenihan ikan nila ini adalah
sebuah wadah berupa bak beton (semen) dengan dimensi panjang 3 m, lebar 2 m
dan   tinggi 1 m yang digunakan sebagai tempat pemeliharaan dan tempat
pemijahan. Timbangan digunakan untuk menimbang indukan dan jumlah pakan
yang harus diberikan untuk ikan nila. Ember dan sikat          digunakan untuk
pembersihan bak, dan pengisian air bak. Seser digunakan untuk mengambil larva
dari bak dan aerator digunakan untuk menambah kadar DO pada air kolam
pemijahan.
       Bahan yang digunakan dalam praktikum pembenihan adalah ikan nila
yang berjumlah 12 ekor, dengan rasio tiga jantan dan sembilan betina. Pakan
digunakan untuk makanan bagi ikan indukan. Selain itu bahan yang digunakan
dalam praktikum ini adalah air yang berfungsi sebagai media tumbuh dan
pemijahan induk ikan nila.


3.3 Prosedur Kerja
3.3.1 Persiapan Wadah
       Tahap- tahap persiapan wadah terdiri dari pengeringan bak, pembersihan
dan pengisian air.   Kegiatan pada kegiatan pengeringan bak, air dikeluarkan
dengan membuka outlet dan bak dijemur dibawah terik matahari. Pembersihan
bak dilakukan dengan mencuci dan membilas bak dengan air hingga bersih.
Pengisian air dilakukan dengan memompa air dari bak penampungan hingga
ketinggian 25 cm dan dicampur dengan air yang berasal dari kolam lele (air hijau)
hingga ketinggian 50 cm.
3.3.2 Pemilihan Induk
       Pemilihan induk dilakukan untuk mendapatkan induk yang memiliki
ukuran, bobot dan kematangan gonad yang tepat. Hal yang dilakukan dalam
pemilihan induk adalah menimbang bobot ikan, mengukur panjang ikan dan
memilih jantan dan betinanya sebanyak 3 jantan dan 9 betina.


3.3.3 Penebaran
       penebaran induk dilakukan pada pagi atau sore hari ketika udara tidak
panas sehingga metabolisme ikan nila dapat ditekan. Selain itu hal ini dilakukan
untuk menghindari stres pada induk.       Induk ikan nila yang akan ditebar,
sebelumnya diseleksi terlebih dahulu morfologi dan kelaminnya. Setelah
diseleksi, berat induk ditimbang untuk menentukan banyaknya pakan yang akan
diberikan setiap hari. Setelah itu dilakukan aklimatisai sebelum induk ditebar.
Aklimatisasi dapat dilakukan dengan cara memasukan air kolam sedikit demi
sedikit kedalam wadah pengangkut induk. Dalam penebaran induk jumlah
indukan yang ditebar adalah 12 ekor dengan rasio perbandingan jantan dan betina
adalah 3:1.


3.3.4 Pemeliharaan Induk
       Pemeliharaan induk dilakukan dengan pemberian pakan. Pakan yang
diberikan pada praktikum adalah berupa pelet apung. Pelet diberikan dengan
frekuensi pemberian pakan pada induk ikan nila adalah dua kali sehari yaitu pada
jam 07.00 pagi dan jam 17.00 sore, sebanyak 2-3% dari total bobot tubuh ikan.
Asusmsi yang digunakan dalam pemberian apakan adalah pertambahan berat total
induk tidak terjadi sehingga banyaknya pakan yang perlu diberikan sama.


3.3.5 Pemanenan Larva
       Kegiatan pemanenan dilakukan dengan cara diserok ataupun dengan
pengeringan bak, kemudian benih dimasukan ke dalam baskom dan dihitung
jumlah dari larva yang dihasilkan, setelah dihitung benih dimasukan ke dalam
akuarium pemeliharaan larva.
3.3.6 Pengelolaan Kualitas Air
       Pengelolaan kualitas air dilakukan dengan prinsip memasukan zat yang
bermanfaat (misalnya: O 2 ) ke dalam wadah pemeliharaan dan mengeluarkan yang
tidak bermanfaat atau bahkan merugikan (seperti: feses, ammonia, CO 2 , dan lain-
lain). Kegiatan pengelolaan kualitas air yang dilakukan berupa pemberian aerasi
dengan memasukan udara (O2 ) ke dalam air sehingga kandungan oksigen terlarut
(DO) menjadi meningkat. Aerasi umumnya digunakan untuk mengatasi terjadinya
penurunan konsentrasi oksigen dalam kolam budidaya (Boyd, 1982 Dalam Siti
Maryam. 2010). Kadar oksigen yang rendah dapat menyebabkan penurunan nafsu
makan yang selanjutnya berpengaruh terhadap pertumbuhan ikan. Selain aerasi
pengelolaan air dilakukan juga dengan penggantian air dengan cara disipon yaitu
penggantian air sebanyak 10%. Tujuan dari penyiponan adalah mengeluarkan sisa
pakan dan feses yang mengendap serta zat-zat yang bersifat racun bagi ikan
seperti amoniak yang dapat menurunkan nafsu makan pada ikan, bahkan
menyebabkan kematian jika konsentrasinya mencapai 0,2 mg/L (Popma dan
Lovshin, 1996).


3.4 Analisis Data
3.4.1 Tingkat Kelangsungan Hidup (Larva)
       Tingkat kelangsungan hidup dapat diukur dengan menghitung Survival
rate (SR). SR adalah persentase jumlah ikan terakhir yang bertahan hidup dari
banyaknya ikan awal. Survival rate (SR) memiliki rumus sebagai berikut
(Huisman, 1987 Dalam Anwar sipayung, Dedi. 2010.):




Keterangan:
SR     : Survival Rate (Tingkat Kelangsungan Hidup)
Nt     : Populasi ikan hari ke-t (ekor)
N0     : Populasi ikan hari ke-0 (ekor)
3.4.2 FR Koreksi
       Menurut pedoman praktikum dasar-dasar akuakultur, feeding rate (FR)
yang diberikan pada indukan nila adalah 2-3%. Artinya pakan yang diberikan
adalah 2-3% dari total biomassa indukan yang ditebar.

                          Σ Pakan = FR x Biomassa



       Untuk mengetahui FR yang seharusnya didiaplikasikan kepada indukan
adalah dapat dihitung dengan menghitung FR koreksi.

               FR koreksi =                     x 100%


      Σ Pakan actual per hari = Σ Pakan berdasarkan FR - Σ Pakan sisai
                          IV. HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1 Hasil
       Hasil yang akan dianalisis dari praktikum yang selama ini dilakukan ialah
mengenai tingkat kelangsungan hidup (survidal rate) larva nila dan FR koreksi
dari indukan ikan nila.
4.1.1 Tingkat Kelangsungan Hidup (Larva)

                  Survival Rate Larva Ikan Nila (%)
  94                      92.7444795
                                                                    91.6115913
  92
                                       90.2439024
  90
  88    87.1571072

  86
                                                     84.1341795
  84
  82
  80
  78
            BDP              MSP          THP            PSP           ITK


                   Gambar 1. Grafik Survival rate larva ikan nila
       Grafik diatas menujukan nilai tingkat kelangsungan hidup dari ikan nila
dari tiap departemen yang berada di fakultas perikanan IPB. Tingkat
kelangsungan hidup dari larva yang tertinggi dihasilkan oleh departemen MSP
dengan nilai 92,7444795% artinya hanya 7,2555205% larva yang mati dari jumlah
total. Sedangkan departemen PSP memperoleh nilai tingkat kelangsungan hidup
larva terkecil, yaitu 84, 1341795%. Dan BDP memperoleh nilai tingkat
kelangsungan hidup sebesar 87,1571072%. Yaitu dari 1604 yang mampu bertahan
hidup sebanyak 1398 , atau dengan kata lain ada sekitar 206 ekor larva ikan yang
mati. Nilai tingkat kelangsungan hidup larva ikan nila dari departemen yang
lainnya yaitu THP sebesar 90,2439024%, dan ITK sebesar 91,6115913%.
                  SURVIVAL RATE LARVA IKAN NILA DEPARTEMEN BDP


                           206;
                         12,8429%



                                                                     Larva Hidup
                                                                     Larva Mati


                                     1398;
                                    87,1571%




      Gambar 2. Grafik lingkaran Survival rate larva ikan nila survival rate
                               Departemen BDP

       4.1.2 FR Koreksi
Tabel 1 jumlah kosumsi pakan.
Keterangan                                                   Bobot (gram)
Σ Pakan yang disiapkan                                       2.310
Σ Pakan aktual (Σ Pakan yang disiapkan – Σ pakan sisa)       1.246
Σ Pakan actual perhari (pemberian pakan selama 21 hari)      59,3 gram/ hari
Biomassa akhir induk                                         7320 gram

FR Koreksi =                                                 0,8 %


       Nilai FR koreksi dari praktikum adalah sebesar 0,8 %. Hasil dari
pembagian antara pakan aktual dengan biomassa dan hasilnya dikali 100%, yaitu
              .


4.2 Pembahasan
       Praktikum pembenihan ikan nila melibatkan12 ekor induk ikan nila, tetapi
setelah satu minggu penebaran terdapat satu ekor induk yang mati, hal ini
dikarenakan       induk tersebut sudah lemah dan stress sehingga tidak dapat
beradaptasi (aklimatisasi) dengan lingkungannya yang baru. Selain itu faktor yang
dapat mempengaruhi keberlangsungan hidup indukan yaitu padat tebar, kepadatan
indukan dapat mempengaruhi persaingan dalam mendapatkan makanan.. Faktor
selanjutnya yaitu proses pemberian pakan. Hal ini juga berpengaruh karena pada
pada proses pemberian pakan, pemberian pakan yang berlebihan dapat
menyebabkan pencemaran kondisi kualitas air pada kolam pembenihan. Pakan
yang komposisinya terdapat unsur nitrogen, bereaksi dengan air dan menghasilkan
amoniak yang menyebabkan meningkatnya kadar amoniak pada perairan, yang
tidak dapat ditoleransi oleh ikan nila. kandungan amoniak untuk ikan nila adalah
kurang dari 0.02 mg/L. Unsur nitrogen ini berasal dari protein yang terkandung
pada kandungan pakan yang mana komposisi proteinnya sebesar 24-26 %.
Pengelolaan kualitas air dapat dijaga dennagn mengatur bahan organik kandungan
bahan organik dalm jumlah yang tinggi dapat mencemari lingkungan kolam
karena mengakibatkan turunnya kadar oksigen , meningkatkan karbon dioksida
dan kekeruhan.
       Tujuan dari praktikum pembenihan adalah memproduksi benih ikan nila.
Fase kehidupan ikan nila meliputi telur, larva, benih, juvenille, dewasa dan induk.
Fase larva merupakan fase kritis dalam kehidupan ikan nila, karena ukuran
tubuhnya sangat kecil dan bukaan mulutnya juga kecil sehingga hanya pakan
alami yang cocok untuk pakan larva, seperti: daphnia, rotifera, artemia, dll.
Karena fase ini sangat kritis, maka pemeliharaan larva perlu dilakukan dengan
hati-hati. Salah satu usaha untuk menumbuhkan pakan alami adalah dengan
pemupukan, dalam praktikum ini pemupukan digantikan dengan mencampurkan
air kolam hijau dengan air dari tandon sebesar 50%:50%.
       Tingkat kelangsungan hidup larva (Survival rate) adalah jumlah ikan
hidup yang hidup hingga akhir pemeliharaan. Usaha pembenihan difokuskan
kepada mempertahankan jumlah larva yang mampu bertahan hidup, sehingga
benih yang akan dipanen dapat dioptimalkan. Mempertahankan SR sangat penting
dalam pembenihan karena dengan SR yang tinggi maka jumlah larva yang mati
semakin sedikit dan keuntungan yang dihasilkan menjadi lebih besar.
       Dalam praktikum pembenihan ini, Departemen BDP memperoleh nilai SR
sebesar 87,1571072%. Yaitu dari 1604 yang mampu bertahan hidup sebanyak
1398 , atau dengan kata lain ada sekitar 206 ekor larva ikan yang mati. Angka ini
cukup besar untuk usaha pembenihan ikan nila, walaupun masih dibawah angka
90%. Faktor-faktor yang mempengaruhi kelangsungan hidup larva dalam
praktikum kali ini dapat dibagi dua, diantaranya kondisi larva dan kondisi
lingkungan. Kondisi larva diantaranya ketahanan tubuh larva yang masih lemah
sehingga tidak mampu beradaptasi dengan lingkungan yang baru (aklimatisasi).
Dan faktor lingkungan diantaranya karena padat tebar, kualitas air yang kurang
terjaga seperti kadar amoniak hasil dari pakan dan feses ikan (nitrogen) yang
mengendap.
       Untuk memnuhi asupan makanan bagi indukan dilakukan dengan
pemberian pakan berupa pellet dengan FR sebesar 2%.Teknik pemberian pakan
dilakukan dengan metode at satiation dan restriction yaitu dengan penyediaan
pakan sebanyak 2% dari biomassa indukan dan diberikan kepada indukan sampai
indukan kenyang dan pemberian pakan dilakukan frekuensi dua kali dalam satu
hari yaitu pagi dan sore..Pemberian pakan dihentikan ketika ikan kenyang hal ini
dilakukan agar pakan tidak bersisa dan tidak menjadi racun bagi ikan.
       Feeding rate atau FR dalam praktikum pembenihan ini adalah sebesar 2%
sesuai dengan literature, artinya jumlah pakan yang diberikan per hari adalah
sebanyak 2% dari total biomassa ikan. Pada pelaksanaan pemberian pakan untuk
induk nila, dengan jumlah pemberian pakan dengan FR 2%, masih terdapat sisa
pakan yang tidak dimakan oleh induk nila.Pemberian pakan dilakukan selama 21
hari, dan sisa pakan yang masih terdesia diakhir pembenihan adalah 1.064 gram.
Dengan adanya sisa pakan pada akhir pembenihan menunjukan adanya kesalahan
dalam pengaplikasian pemberian pakan dari FR awal. Oleh karena itu perlu
adanya FR koreksi untuk mengetahui FR yang seharusnya agar penyediaan pakan
bisa lebih efisien. FR koreksi merupakan hasil bagi antara pakan actual (Σ pakan
yang disediakan – Σ pakan sisa) dibagi dengan biomassa ikan..
       Nilai FR koreksi untuk indukan nila Departemen BDP adalah sebesar
0,8%. Hal ini menyimpang dari FR yang ditetapkan yaitu sebesar 2%.Perbedaan
nilai FR tersebut, dikarenakan pemberian pakan yang tidak benar, seperti tergesa-
gesa, dan tidak tepat waktu. Kemudian ketika ikan telah memijah keadaan ikan
indukan nila betina akan mengurangi konsumsi pakan karena sedang memelihara
telur dan larva (mouth breeder), indukan nila betina akan berpuasa, sehingga
hanya induk jantan saja yang mengkonsumsi pakan yang disediakan. Ole h karena
itu pakan yang tersisa akan lebih banyak yang menyebabkan nilai FR koreksi
lebih kecil dari 2%.
                    V. KESIMPULAN DAN SARAN


5.1 Kesimpulan
       Berdasarkan hasil pembahasan diatas, dapat disimpulkan bahwa produksi
benih ikan nila ini bisa dikatakan berhasil karena pada akhir proses penelitian,
diperoleh larva yang berjumlah 1398 ekor dari 1604 ekor atau tingkat
kelangsungan hidup larvanya sebesar 87,1571072%. Dengan praktikum ini dapat
memberi pengetahuan baru kepada para mahasiswa tentang prinsip-prinsip
pembenihan ikan Nila.


5.2 Saran
       Prinsip-prinsip pembenihan dalam praktikum ini sudah baik, namun dalam
pengaplikasiannya mungkin tidak semua mahasiswa dapat menerapkannya
dengan benar karena terbatasnya sarana dan prasarana dalam praktikum, sehingga
mahasiswa kurang memiliki rasa tanggung jawab dalam pelaksanaan kegiatan
praktikum.
                          DAFTAR PUSTAKA


Ade Hermawan. 2010. Deteksi sel donor ikan gurame Osphronemus gouramy
       pada larva ikan nila Oreochromis niloticus sebagai resipien dengan teknik
       PCR. [Skripsi]. Bogor : Program Studi Teknologi Hasil Perairan, Fakultas
       Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.
Anwar sipayung, Dedi. 2010. Sex reversal pada ikan nila merah Oreochromis sp.
       melalui pemberian propolis yang dicampur dalam pakan buatan. [skripsi]
       Bogor : Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas
       Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.
Badan Pengkajian Teknologi Pertanian. 2000. Pembenihan dan Pembesaran
       Ikan Nila Gift.      Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian,
       Departemen Pertanian.
Fajarwati, EN. 2006. Aspek eko-biologi ikan lalawak (Barbodes balleroides) pada
       berbagai ketinggian tempat di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat.
       [Skripsi].   Bogor : Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan,
       Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.
Lesmana, DS, Dermawan I. 2001. Budi Daya Ikan Hias Air Tawar Populer.
       Jakarta : Penebar Swadaya.
Rohaedi, E. 2002. Toksisitas air waduk Saguling terhadap benih ikan mas
       (Cyprinus carpio), benih ikan nila (Oreochromis sp.) dan benih ikan patin
       (Pangasius hypopthalmus).        [Skripsi].    Bogor : Program Studi
       BudidayaPerairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut
       Pertanian Bogor.
Siti maryam. 2010. Budidaya super intensif ikan nila merah Oreochromis Sp.
       Dengan teknologi bioflok: Profil kualitas air, kelangsungan hidup dan
       pertumbuhan. [skripsi]. 2010. Program Studi BudidayaPerairan, Fakultas
       Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.
Susanto, H. 2006. Budi Daya Ikan di Perkarangan. Jakarta : Penebar Swadaya.
                                  LAMPIRAN



Lampiran 1. Data Pemberian pakan
                                                          Jumlah Pakan
 Hari                         Jumlah Pakan Aktual
              Tanggal                                    Berdasarkan FR
 ke-                                (gram)
                                                             (gram)
   1         01/10/2010                  50                    110
   2         02/10/2010                  80                    110
   3         03/10/2010                  50                    110
   4         04/10/2010                  35                    110
   5         05/10/2010                  60                    110
   6         06/10/2010                   0                    110
   7         07/10/2010                  90                    110
   8         08/10/2010                  30                    110
   9         09/10/2010                  75                    110
  10         10/10/2010                  45                    110
  11         11/10/2010                  40                    110
  12         12/10/2010                  40                    110
  13         13/10/2010                  40                    110
  14         14/10/2010                  70                    110
  15         15/10/2010                  24                    110
  16         16/10/2010                  60                    110
  17         17/10/2010                  40                    110
  18         18/10/2010                  50                    110
  19         19/10/2010                  50                    110
  20         20/10/2010                  50                    110
  21         21/10/2010                  85                    110
            Total                      1.064                  2.310

Rumus perhitungan jumlah pakan :

                 Jumlah Pakan = Berat rata-rata induk (W) x FR


        Perhitungan Jumlah pakan
           Bobot rata-rata induk nila = 458,75 gr
           Biomassa                  = 458,75 gr x 12
                                      = 5.505 gr
           FR                        = 2%
   ∑ pakan                   = 2% x 5.505 gr
                              = 110,1 gr ≈ 110 gr per hari


Perhitungan FR koreksi untuk induk nila
   Data induk nila setelah panen larva
    Bobot ikan jantan         = 680 gr
                                               Sampling @ 1 ekor
    Bobot ikan betina         = 540 gr
    Bobot rata-rata induk nila = 610 gr
    Biomassa akhir induk      = 610 gr x 12
                              = 7.320 gr
   Data jumlah pakan
    ∑ total pakan             = ∑ pakan per hari x lama pemeliharaan
                              = 110 gr x 21 hari
                              = 2.310 gr
    ∑ sisa pakan              = 1.064 gr
    ∑ pakan aktual            = ∑ total pakan - ∑ sisa pakan
                              = 2.310 gr – 1.064 gr
                              = 1.246 gr
    ∑ pakan aktual per hari   = 1.246 gr/21 hari
                              = 59,3 gr/hari
   FR koreksi                = ∑ pakan aktual per hari/biomassa x 100%
                              = 59,3 gr/7.320 gr x 100%
                              = 0,8%
Lampiran 2. Data SR perharinya (disertai contoh perhitungan)
       Data panen larva awal (No) pada tanggal 14 Oktober 2010
           Akuarium I                = 799 ekor
           Akuarium II               = 805 ekor
           Jumlah larva awal (No)    = 799 + 805
                                      = 1.604 ekor


       Data panen larva akhir (Nt) pada tanggal 06 November 2010
           Ulangan I                 = 73 ekor
           Ulangan II                = 949 ekor
           Ulangan III               = 181 ekor
           Ulangan IV                = 195 ekor
           Jumlah larva akhir (Nt)   = 73 + 949 + 181 + 195
                                      = 1.398 ekor


       Perhitungan Survival Rate (SR)
       SR      = Nt/No x 100%
               = 1.398 ekor/1.604 ekor x 100%
               = 87,16%
Lampiran 3. Data jumlah larva nila selama pemeliharaan
        Departemen             No (ekor)     Nt (ekor)   SR (%)
BDP                              1.604         1.389     87,157
MSP                               634           588      92,744
THP                               369           333      90,244
PSP                              1.103          928      84,134
ITK                              1.967         1.802     91,612
Lampiran 4. Dokumentasi Pembenihan




          Gambar 3. Induk nila jantan (kiri) dan nila betina (kanan)




                           Gambar 4. Indukan nila




          Gambar 5. Kolam Pemijahan dan Pemeliharaan induk nila
Gambar 6. Akuarium Pemeliharaan Larva Nila




    Gambar 7. Proses Pemanenan Benih

								
To top