Docstoc

Atresia Oeshopagus

Document Sample
Atresia Oeshopagus Powered By Docstoc
					                                   BAB I
                               PENDAHULUAN
a) Latar belakang
           Atresia Oeshopagus adalah perasaan nyeri di dada, karena masuknya isi
   lambung kedalam eshopagus bagian bawah. Keluhan sering ditemukan dalam
   kehamilan, terutama dalam posisi tengkurap, atau menelan sesuatu makanan
   tertentu atau obat. Pada kehamilan tua, mungkin kelainan ini agak sering
   dijumpai karena pengaruh tekanan rahim yang membesar. Pada eshopagus
   terjadi esofagitis, akan tetapi pada endoskopi tidak kelihatan ada tanda-tanda
   radang,hanya secara histologik dapat dilihat isi lambung tersebut berisi asam
   klorida, pepsin serta makanan. Irosis biasanya tidak akan menimbulkan
   komplikasi seperti striktura, perdarahan, karena waktunya sebentar saja.
   Pengobatan cukup dengan memberikan obat antasid, mengubah posisi tubuh
   dan menegakkan kepala serta mencegah tengkurap setelah makan.
   Keadaan yang lebih berat, kadang-kadang menyebabkan penderita sulit
   menelan, ada pendarahan (Hematemisis) sebagai akibat terjadi esofagitis erosit.
   Pengobatannya tetap seperti diuraikan diatas.Insidensi tertinggi terdapat di
   Finlandia yaitu 1 kasus dalam 2500 kelahiran hidup.(3)

   Penyebab
           Apa yang menyebabkan fistula tracheoesophageal dan atresia
   esophagus?Sebagai janin tumbuh dan berkembang di rahim ibunya sebelum
   lahir, sistem organ yang berbeda mengembangkan dan jatuh tempo. Trakea dan
   kerongkongan mulai berkembang sebagai salah satu tabung tunggal. Pada
   sekitar empat sampai delapan minggu setelah pembuahan, membentuk dinding
   antara kerongkongan janin 'dan trakea untuk memisahkan mereka menjadi dua
   tabung yang berbeda. Jika tembok ini tidak merupakan benar, fistula TE dan /
   atau atresia esofagus dapat terjadi.

            Seberapa sering masalah ini terjadi?
   Sekitar satu dari 3000-5000 bayi di Amerika Serikat lahir dengan satu atau kedua
   masalah ini.
   Yang bayi mengembangkan fistula tracheoesophageal atau atresia esophagus?
   Berbagai permasalahan tersebut tidak dianggap diwariskan. Namun, mereka
   sering terlihat bila bayi telah cacat lahir lainnya, seperti:
    *Trisomi13,18,atau21.
    * Masalah saluran pencernaan lain (seperti hernia diafragma, atresia duodenum,
   atau anusimperforata).
    * Masalah jantung (seperti defek septum ventrikel, tetralogi fallot, atau patent
   ductus arteriosus)
    * Ginjal dan masalah saluran kemih (seperti tapal kuda atau ginjal polikistik,
   ginjal tidak ada.(3)




                                       1
b) Permasalahan ( Tanda dan gejala )
          Keluhan sering ditemukan dalam kehamilan, terutama dalam posisi
   tengkurap, atau menelan sesuatu makanan tertentu atau obat. Pada kehamilan
   tua, mungkin kelainan ini agak sering dijumpai karena pengaruh tekanan rahim
   yang membesar. Pada eshopagus terjadi esofagitis, akan tetapi pada endoskopi
   tidak kelihatan ada tanda-tanda radang, hanya secara histologik dapat dilihat.
   Isi lambung tersebut berisi asam klorida, pepsin serta makanan. Irosis biasanya
   tidak akan menimbulkan komplikasi seperti striktura, perdarahan, karena
   waktunya sebentar saja. Pengobatan cukup dengan memberikan obat antasid,
   mengubah posisi tubuh dan menegakkan kepala serta mencegah tengkurap (2)




                                      2
                                 BAB II
                              KONSEP DASAR

a) Definisi
         Atresia Oeshopagus adalah perasaan nyeri di dada, karena masuknya isi
   lambung kedalam eshopagus bagian bawah.

b) Etiologi
           Hingga saat ini, teratogen penyebab kelainan ini masih belum diketahui.
   Terdapat laporan yang menghubungkan atresia esofagus dalam keluarga.
   Terdapat 2% resiko apabila saudara telah terkena kelainan ini. Kelainan ini juga
   dihubungkan dengan trisomi 21, 13 dan 18. angka kejadian pada anak kembar
   dinyatakan 6 X lebih banyak dibanding bukan kembar.
           Saat ini, banyak yang percaya bahwa perkembangan terjadinya atresia
   esofagus tidak berhubungan dengan genetik. Debat mengenai proses
   embriopatologi ini terus berlangsung, akan tetapi hanya sedikit perkembangan
   yan didapat. Teori His lama menyatakan lateral infolding membagif ore g u t
   menjadi esofagus dan trakea, tetapi penemuan di bidang embriologi manusia
   tidak mendukung teori ini.
           Pada tahun 1984, O’Rahily menyatakan bahwa terdapat fix cephalad point
   dari pemisahan trakeoesofageal, dengan elemen dari trakeobronkial dan
   esofageal memanjang menuju kaudal. Teori ini kurang cocok untuk atresia
   esofagus, tetapi menjelaskan TEF sebagai defisiensi aau kegagalan mukosa
   esofagus, sebagai pertumbuhan linear organ pada pembelahan selular dari epitel
   esofagus.
           Pada tahun 1987, Kluth menyatakan septal trakeoesofageal memegang
   peranan penting dalam perkembangan atresia esofagus. Berdasar proses
   embriopatologik dalam perkembangan meskipun masih tahap awal, tetapi telah
   terjadi diferensiasi antara trakea dan esofagus, dimana jarak diantara keduanya
   terlalu dekat sehingga tidak terjadi pemisahan. Ia juga menyatakan bahwa
   gangguan vaskularisasi juga dapat berperan dalam terjadinya aresia esofagus
   ataupun fistula.
           Pada tahun 2001 Oxford dan lainnya menyatakan bahwa kesalahan posisi
   ventral ektopik dari notochord pada embrio berusia 21 hari gestasi dapat
   menyebabkan gangguan lokus gen, gangguan apoptosis pada foregut dan jenis
   jenis atresia esofagus. Kondisi ini dapat terjadi karena variasi pengaruh
   teratogen pada masa gestasi awal seperti kembar, paparan racun, atau
   kemungkinan aborsi.




                                       3
   2.3 Variasi Atresia Esofagus
          Terdapat variasi dalam atresia esofagus berdasar klasifikasi anatomi.
   Menurut Gross of Boston, variasi atresia esofagus beserta frekuensinya adalah
   sebagai berikut:1
   • Tipe A – atresia esofagus tanpa fistula atau atresia esofagus murni (10%)
   • Tipe B – atresia esofagus dengan TEF proksimal (<1%)
   • Tipe C – atresia esofagus dengan TEF distal (85%)
   • Tipe D – atresia esofagus dengan TEF proksimal dan distal (<1%)
   • Tipe E – TEF tanpa atresia esofagus atau fistula tipe H (4%)
   • Tipe F – stenosis esofagus kongenital (<1%)


c) Pato Fisiologi

         Janin dengan atresia esofagus tidak dapat menelan cairan amnion
   dengan efektif. Pada janin dengan atresa esofagus dan TEF distal, cairan
   amnion akan mengalir menuju trakea, ke fistula kemudian menuju usus. Akibat
   dari hal ini dapat terjadi polihidramnion. Polihidramnion sendiri dapat
   menyebabkan kelahiran prematur. Janin seharusnya dapat memanfaatkan cairan
   amnion, sehingga janin dengan atresia esofagus lebih kecil daripada usia
   gestasinya.

          Neonatus dengan atresia esofagus tidak dapat menelan dan
   menghasilkan banyak air liur. Pneumonia aspirasi dapat terjadi bila terjadi
   aspirasi susu, atau liur. Apabila terdapat TEF distal, paru-paru dapat terpapar
   asam lambung. Udara dari trakea juga dapat mengalir ke bawah fistula ketika
   bayi menangis, atau menerima ventilasi. Hal ini dapat menyebabkan perforasi
   gaster takut yang seringkali mematikan. Penelitian mengenai manipulasi
   manometrik esofagus menunjukkan esofagus distal seringkali dismotil, dengan
   peristaltik yang jelek atau anpa peristaltik. Hal ini akan menimbulkan berbagai
   derajat disfagia setelah manipulasi yang berkelanjutan menuju refluks esofagus.

         Trakea juga terpengaruh oleh gangguan embriogenesis pada atresia
   esofagus. Membran trakea seringkali melebar dengan bentuk D, bukan C seperti
   biasa. Perubahan ini menyebabkan kelemahan sekunder ada struktur

                                      4
anteroposterior trakea atau trakeomalacia. Kelemahan ini akan menyebabkan
gejala batuk kering dan dapat terjadi kolaps parsial pada eksirasi penuh. Sekret
sulit untuk dibersihkan dan dapat menjurus ke pnemona berulang. Trakea juga
dapat kolaps secara parsial ketika makan, setelah manipulasi, atau ketika terjadi
refluks gastroesofagus; yang daat menjurus ke kegagalan nafas; hipoksia, bakan
apnea (1)




                                    5
                                 BAB III
                              PENGELOLAAN

          Atresia Esopagus biasanya banyak mengeluarkan ludah yang sangat
  banyak, terbatuk, bahkan tersedak setelah berusaha menelan makanan, sianosis
  (kulit kebiruan), tidak mau menyusui. Jika bayi mengalami atresia sejak lahir,
  bayi tidak dapat menelan apapun termasuk ludah yang dikeluarkan oleh kelenjar
  ludah yang berada didalam mulut, bahkan cairan yang berada dimulutnya
  biasanya akan dimuntahkan kembali atau masuk kedalam saluran nafas, dan
  akan mengaggu sistem pernafasan secara tiba-tiba, keadaan ini akan berakibat
  fatal jika tidak teratasi. Penyebab atresia eshopagus adalah kelainan bawaan
  pada                              saluran                         pencernaan.

         Diagnosa yang dapat ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil
  pemeriksaan pada atresia esophagus adalah :
  1) Biasanya disertai Hidramnion (60%).Dapat dilakukan katerisasi dengan
  karakter 6 -10, jika saat pemasangan kateter dan berhenti pada jarak kurang dari
  10cm, maka diduga atresia esopagus.
  2) Setelah diberi minum, bayi batuk dan sianosis karena aspirasi cairan kedalam
  saluran nafas.
  3) Pada bayi baru lahir timbul sesak nafas di sertai dengan air liur yang keluar ,
  maka diduga merupakan gejala dari atresia eshopagus.
  4) Diagnosa dapat dibuat fhoto toraks yang akan menunjukan gambaran kateter
  terhenti pada tempat atresia

a. Penanganan

  Tindakan yang harus dilakukan yaitu pemasangan kateterisasi kedalam
  eshopagus dan bila mungkin dilakukan hisapan secara terus menerus, setelah
  itu ditidurkan setelah duduk untuk anak fistula trekeo-esofagus, dan untuk yang
  tanpa fistula diletakkan dengan posisi kepala lebih rendah.

b. Penanganan Pasca Operasi.

  Pada anak yang telah dilakukan operasi dapat diberi makan campuran
  sebungkus entresol dengan 70ml air matang dan sebungkus peptisol dengan
  700ml air matang, sehingga jumlah cairan menjadi 1500ml, dan 1 ml 1/3 kkl
  dengan cara melalui pipa makanan. Pipa makanan yang digunakan adalah pipa
  silastik poliuretan.pada pemasangan anak di posisikan miring kekanan dan di
  pertahankan selama 5-15 menit.(2)




                                       6
                                   BAB IV
                                  PENUTUP

a) Kesimpulan
          Atresia Oeshopagus adalah perasaan nyeri di dada, karena masuknya isi
   lambung kedalam eshopagus bagian bawah. Keluhan sering ditemukan dalam
   kehamilan, terutama dalam posisi tengkurap, atau menelan sesuatu makanan
   tertentu atau obat.

b) Saran
          Pada bayi yang atresia esofagus sebaiknya pertahan kan posisi bayi atau
   pasien dalam posisi tengkurap, bertujuan untuk meminimalkan terjadinya
   aspirasi, pertahankan keefektifan fungsi respirasi, kemudian dilakukan tindakan
   pembedahan.




                                       7
7

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Stats:
views:730
posted:12/20/2010
language:Indonesian
pages:7