Docstoc

pembelajaran SD

Document Sample
pembelajaran SD Powered By Docstoc
					                        Pembelajaran PAI ..... (Nurhilaliati dan Ayip rosyidi)




   PEMBELAJARAN PAI PADA KELAS I SD
          SE-KOTA MATARAM

              Nurhilaliati dan Ayip Rosyidi

Abstrak: Salah satu permasalahan besar yang dihadapi oleh
bangsa Indonesia umumnya dan dunia pendidikan khususnya
adalah merosotnya moral peserta didik. Diasumsikan bahwa
faktor pemicunya adalah ketidakberesan dalam sistem
pendidikan, terlebih lagi dalam pembelajaran. Tidak ayal lagi
berbagai upaya dilakukan oleh pemerintah guna membenahi
“benang kusut” pendidikan tersebut. Sebut saja misalnya
pengembangan kurikulum yang berimbas pada keseluruhan
proses pembelajaran yang meliputi kondisi, strategi dan
evaluasi. Akan tetapi, usaha itu belum dapat menuai hasil
seperti yang diidamkan. Terbukti sampai hari ini semua
kalangan masih mengeluhkan tentang mutu out-put lembaga
pendidikan (formal), mulai dari ketidaksiapan untuk dipakai di
masyarakat sampai dengan kebobrokan moral. Penelitian ini,
yang dilakukan pada jenjang SD (kelas I), menunjukkan bahwa
proses pembelajaran (PAI hanya satu contoh) belum terlaksana
dengan optimal, yang dikarenakan oleh hambatan internal
maupun eksternal, seperti alokasi waktu, dana, personalia dan
lingkungan sosial.

Kata kunci: pembelajaran PAI, kondisi, strategi, evaluasi
            pembelajaran, hambatan internal, eksternal




                              1
Jurnal Penelitian Keislaman, Vol. II, No. 2, Juni 2006: 261-272



PENDAHULUAN
        Pendidikan (Islami) yang bertujuan untuk menginformasikan,
mentransformasikan dan menginternalisasikan nilai-nilai islami
diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran dan mengembangkan
segi kehidupan spiritual yang baik dan benar dalam rangka
mewujudkan pribadi muslim seutuhnya. Untuk itu perlu disusun
strategi yang mantap, berupa langkah pembelajaran yang disusun
secara sistematis dan terencana dan dapat pula berupa keteladanan
guru yang berperan sebagai the life model bagi para peserta didiknya.
        Dewasa ini, dunia pendidikan seakan tiada hentinya menuai
kritikan dari berbagai kalangan, yaitu tentang ketidakmampuannya
dalam melahirkan alumni yang berkualitas manusia Indonesia
seutuhnya seperti cita-cita luhur bangsa dan yang diamanatkan oleh
Undang-undang Pendidikan itu sendiri yaitu “manusia yang
beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME serta berakhlak mulia,
sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara
yang demokratis dan bertanggung jawab”.1
        Kekurangberhasilan pendidikan dapat terjadi pada hampir
semua jenjang dan jenis pendidikan, yang dimulai dari lembaga
pendidikan dasar. Permasalahannya terletak antara lain pada
kekurangmampuan guru dalam mempersiapkan materi ajar dengan
baik, memilih metode yang tepat untuk mentransfer materi pelajaran,
memilih media yang tepat serta melaksanakan evaluasi hasil
pembelajaran dengan fair.
        Pada jenjang pendidikan dasar, agar dapat menyampaikan
materi pelajaran dengan baik diperlukan keterampilan seorang guru,
supaya materi tersebut menjadi sesuatu yang menarik, dapat
dimengerti dan tidak menjenuhkan. Dan inilah yang menjadi kendala
utama yang dihadapi oleh sebagian besar guru SD, terutama yang
mengajar di kelas rendah. Padahal di jenjang pendidikan ini
diperlukan guru yang mampu, bukan saja secara intelektual, tetapi
juga yang piawai mengelola pembelajaran serta sabar dalam
menghadapi siswa.
        Mengajar PAI atau nilai moral lainnya di kelas rendah SD
harus dilakukan secara benar dan tepat. Karena masa ini merupakan
masa pembentukan dan fondasi bagi keberagamaan anak pada masa
selanjutnya. Namun seringkali guru dihadapkan pada kenyataan
bahwa siswa memiliki latar pengetahuan keagamaan yang berbeda,

         1
             UU SISDIKNAS Nomor 20 Tahun 2003

                                             2
                                    Pembelajaran PAI ..... (Nurhilaliati dan Ayip rosyidi)



yang bisa saja disebabkan oleh perbedaan miring sosial, kebisaaan
keluarga dan kualitas intelektual anak.
        Kesulitan utama yang dihadapi oleh guru PAI adalah ketika
menyampaikan materi pelajaran dalam bahasa yang dapat dipahami
oleh anak, dan bagaimana membuat ajaran agama yang abstrak
dapat hidup dalam kekongkritan dunia mereka. Seperti ketika
menyampaikan materi tauhid, surga, neraka, kiamat, pahala dan
sebagainya, yang terangkum dalam materi aqidah, akhlak, ibadah
dan mu’amalah.
        Kesulitan lain adalah kekurang mampuan guru untuk
mengoptimalkan serta menyeimbangkan ketiga ranah pendidikan
sebagaimana yang terdapat dalam taksonomi Bloom (kognitif, afektif
dan psikomotor). Dan selama ini, telah cukup dimaklumi bahwa
kekurang berhasilan dunia pendidikan diawali dari kekurang
mampuan guru dalam menanamkan hal-hal tersebut secara benar
dan tepat, seimbang dan terpadu.
        Pemerintah pun telah mengupayakan berbagai macam cara
guna meminimalisir berbagai masalah tersebut. Akan tetapi masih
saja kinerja dunia pendidikan dipertanyakan orang. Entah pada sisi
mana kekeliruan terjadi. Dan yang pasti apa yang diresahkan oleh
semua kalangan, menjadi bagian dari kegelisahan akademik dari
penelitian ini yang kemudian dirangkum dalam tiga pertanyaan,
yaitu bagaimana kondisi pembelajaran, strategi pembelajaran dan
evaluasi pembelajaran PAI pada kelas I SD se-Kota Mataram?.

METODE PENELITIAN
       Fokus penelitian ini adalah proses penyampaian materi dalam
pembelajaran PAI. Untuk itu, maka pendekatan kualitatif2 dengan
metode deskriptif-analitis3 digunakan untuk mempelajari perilaku
subjek penelitian yang berbentuk ungkapan verbal, cara pandang
dan sikapnya. Baru kemudian data tersebut diungkapkan secara
cermat, detail, fokus dan disertai analisis mendalam. Adapun metode
yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah interview,

        2
            Bogyan dan Taylor seperti dikutip Moleong mendefinisikan pendekatan
kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-
kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. Lexy J.
Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2001), 3
          3
            Metode deskriptif-analitis adalah menuturkan dan menafsirkan data yang
ada dengan melakukan analisis secara mendalam. Winarno Surakhmad, Pengantar
Penelitian Ilmiah, (Bandung: Tarsito, 1994), 134-40

                                          3
Jurnal Penelitian Keislaman, Vol. II, No. 2, Juni 2006: 261-272



observasi dan dokumentasi. Teknik analisis deskriptif-kualitatif dengan
logika induktif diterapkan untuk menganalisis data, yaitu dengan
mendeskripsikan konsep, kategori dan sebagainya dengan bertumpu
pada logika yang diberangkatkan dari realitas khusus ke arah
kenyataan umum.
        Penelitian ini mengambil lokasi di SD se-Kota Mataram.
Pemilihan lokasi didasarkan pada klasifikasi (yang secara tidak sadar
dilakukan oleh masyarakat) level sekolah (unggulan, menengah,
terbelakang). Meskipun di Kota Mataram ada 50-an SD, akan tetapi
keterpilihan ketujuh SD bukan representasi dari jumlah tersebut,
melainkan didasarkan pada klasifikasi yang dimaksud. Dalam hal ini
di Kecamatan Cakranegara dan Ampenan hanya dipilih masing-
masing dua sekolah. Sementara di Mataram dipilih tiga sekolah yang
masuk kriteria tersebut di atas.

HASIL DAN PEMBAHASAN
      Berdasarkan Teori,4 permasalahan, dan pertanyaan penelitian,
maka hasil penelitian akan membicarakan tentang kondisi
pembelajaran, strategi pembelajaran dan evaluasi hasil pembelajaran.

Kondisi Pembelajaran
        Pembicaraan tentang kondisi pembelajaran ini meliputi
materi dan persiapan mengajar guru PAI, peserta didik, dan kendala
yang dihadapi. Ketiga poin ini akan dikemukakan satu persatu.
        Materi dan persiapan mengajar guru PAI. Materi yang
diberikan kepada kelas I SD masih merupakan ajaran pokok yang
sangat mendasar dan sederhana, diberikan secara garis besar diserta
sedikit penjelasan yang dapat ditangkap oleh keterbatasan logika
anak. Penekanan dari setiap materi masih terbatas pada pengenalan,
pemberian pengetahuan dan penanaman nilai.5
        Secara keseluruhan materi PAI di kelas I SD yang diajarkan
dalam dua semester terbagi dalam sebelas topik sebagai berikut:
Rukun Iman; Syahadatain; Hafalan alQur’an; Adab belajar; Adab

         4
           Salah satu buku yang membicarakan tentang ini adalah yang ditulis oleh
Muhaimin, et.al., Strategi Belajar Mengajar Penerapannya dalam Pembelajaran
Pendidikan Agama, (Surabaya: Citra Media, 1996). Buku ini antara lain
mengemukakan bahwa dalam suatu proses pembelajaran melibatkan tiga variable
atau factor yang akan menentukan kegiatan tersebut, yaitu kondisi, strategi dan
evaluasi hasil pembelajaran.
         5
           Observasi terhadap semua lokasi penelitian.

                                             4
                                 Pembelajaran PAI ..... (Nurhilaliati dan Ayip rosyidi)



makan minum; Hafalan alQur’an surat pilihan; Rukun Islam; Kisah
rasul I; Kisah Rasul II; Adab tidur; Thaharah.6
         Dalam beberapa tahun terakhir, kesebelas materi tersebut
belum mengalami perubahan. Karena itu, hampir semua guru PAI
yang diteliti tidak ada yang membuat Satuan Pelajaran (Satpel) dan
Rencana Pelajaran (RP) baru. Mereka hanya menggunakan Satpel
dan RP yang telah digunakan pada kelas sebelumnya, tentu saja
dengan penyesuaian seperlunya. Menurut salah seorang guru, hal ini
dilakukan demi efisiensi dan waktu yang ada lebih baik digunakan
untuk mempelajari materi tambahan.7
         Mencermati kesebelas materi di atas, maka dapat dikatakan
sudah sesuai dengan standar teori pendidikan dan psikologi yang
sudah ditetapkan, yaitu sudah sesuai dengan tingkat perkembangan
psikologis peserta didik. Di mana secara kognitif, materi tersebut
baru berada pada tahap pengenalan dan pemberian pengetahuan
dasar tentang ajaran Islam, seperti mengenalkan Rukun Islam, Rukun
Iman, Syahadatain, menghafal surat pendek pilihan. Secara
psikomotorik, siswa sudah dibisaakan berkelakuan sesuai dengan
adab yang islami, seperti bagaimana adab makan dan minum, adab
belajar dan adab tidur. Selain ranah kognitif dan ranah psikomotorik,
yang paling penting dibina dan ditumbuhkembangkan oleh guru
PAI adalah segi afeksi siswa, dalam hal siswa sudah dibisaakan
memberi salam kepada guru, orang tua dan temannya; menghormati
orang yang lebih tua dan menyayangi teman sebaya dan yang lebih
muda, selain itu kepada siswa juga dibisaakan meminta maaf kalau
melakukan kesalahan dan memberi maaf kalau ada teman yang
memintanya.
         Persiapan yang dilakukan oleh guru terutama yang berkaitan
dengan materi yang akan disampaikan dalam kelas, merupakan
faktor penting yang dapat memotivasi siswa dalam proses
pembelajaran. Kalau guru tidak memiliki persiapan, dapat dipastikan
bagaimana keberlangsungan suatu pembelajaran. Meskipun materi
yang akan disampaikan merupakan materi yang telah dipakai untuk
mengajar pada kelas sebelumnya, tetapi guru harus senantiasa
memperbaharui ilmu pengetahuan serta wawasannya. Selain itu,
kekurangsiapan juga akan membuat guru tidak mampu
mengendalikan suasana kelas, karena disibukkan dengan mengajar

       6
           GBPP dan Buku Ajar PAI Kelas I SD
       7
           Guru PAI SDN No. 16 Ampenan (wawancara tanggal 18 Agustus 2005)

                                       5
Jurnal Penelitian Keislaman, Vol. II, No. 2, Juni 2006: 261-272



sambil melihat buku pegangan misalnya. Keadaan ini masih saja
ditemukan dalam proses pembelajaran di SD.8
        Peserta didik. Peserta didik yang diteliti pada ketujuh
sekolah sangat beragam, entah usia, pendidikan pra-sekolah, tingkat
responnya terhadap materi yang sedang disampaikan guru, status
ekonomi keluarga dan lingkungan sosialnya.
        Secara usia, siswa kelas I di sekolah tersebut cukup bervariasi,
mulai dari umur lima sampai sembilan tahun. Beragamnya usia para
siswa ini dipengaruhi oleh beberapa kondisi seperti, ada siswa yang
ketinggalan kelas; ada orang tua yang memalsukan usia anaknya
dengan maksud, semakin cepat anak disekolahkan akan semakin
cepat orang tua lepas tanggung jawab dalam mengawasi anaknya;
dan juga ada sekolah yang menetapkan usia siswa yang diterimanya
dengan batasan minimal dan batasan maksimal. Kaitannya dengan
ini, memang sebaiknya anak yang berusia enam-delapan tahun lah
yang duduk di kelas I. Karena secara psikologis kalau dikaitkan
dengan materi yang diberikan di kelas I, adalah materi untuk anak
yang berusia sekian. Dan kalu diberikan kepada anak yang berusia
kurang dari itu, kemungkinan besar anak belum memahaminya, atau
sebaliknya, ketika diberikan kepada anak yang usianya lebih dari itu,
maka anak akan bosan.
        Dalam kaitannya dengan pendidikan pra-sekolah pun,
kecuali SDN 26 Mataram, hanya sedikit siswa kelas I yang pernah
mengikuti STK. Keadaan ini ditentukan oleh faktor ekonomi keluarga
dan ketidaktahuan orang tua tentang arti pentingnya pendidikan
pra-sekolah. Kondisi inilah yang membuat sekolah-sekolah tersebut
“terpaksa” menerima siswa yang belum mengikuti STK, meskipun
ini akan merupakan pekerjaan yang sangat berat dalam proses
pendidikannya nanti. Padahal, di TK anak-anak antara lain diajarkan
cara bersosialisasi dengan orang lain. Selain itu juga kepada anak
sudah dikenalkan huruf dan angka serta hal lain yang sangat
mendasar sebagai modal untuk pendidikan di SD. Siswa kelas I SD
yang sebelumnya tidak mengikuti STK kebanyakan sangat
merepotkan guru, baik katika mengajarkan angka dan huruf, lebih-
lebih ketika mengajarkan cara bergaul. Karena semestinya di SD anak
sudah membaca dan meningkatkan lagi apa yang sudah didapatkan
sebelumnya. Akan tetapi yang ditemukan di hampir semua lokasi
penelitian hanya 30% siswa saja yang pernah STK. Dapat diramalkan

         8
             seperti yang disaksikan peneliti di beberapa lokasi.

                                             6
                            Pembelajaran PAI ..... (Nurhilaliati dan Ayip rosyidi)



bagaimana guru SD menghadapi input siswa yang masih betul-betul
“bahan mentah”.
        Tingkat respon siswa terhadap materi yang sedang
disampaikan guru juga sangat beragam dan tidak ditentukan oleh
faktor di sekolah mana siswa yang bersangkutan belajar. Respon
siswa terhadap materi sangat bersifat individual. Sebagai contoh, di
sekolah yang maju seperti SDN 26 pun ada siswa yang kurang
respon terhadap materi pelajara yang sedang disampaikan, dan di
sekolah-sekolah yang terbelakang pun ada ditemukan siswa yang
brilliant. Terlepas dari itu semua, pada hampir semua sekolah
ditemukan kenyataan bahwa anak perempuan lebih respon terhadap
pelajaran ketimbang anak laki-laki. Respon siswa terhadap pelajaran
dipengaruhi oleh banyak faktor, antara lain faktor fisik-biologis,
psikologis dan juga lingkungan belajar.
        Fisik-biologis dapat berupa anak sedang tidak enak badan,
cacat fisik permanen, secara inteligensi anak memang kurang bila
dibanding dengan temannya dan sebagainya. Faktor psikologis dapat
berupa anak sedang punya masalah dengan keluarga atau teman,
anak bosan dengan materi atau bisa juga terhadap cara mengajar
guru dan sebagainya. Sedangkan faktor lingkungan dapat berupa
lingkungan tempat asal yang tidak mendukung kegitan belajar siswa,
lingkungan sekolah yang tidak strategis, suasana kelas yang kurang
nyaman, kebersihan yang tidak terjaga dan sebagainya.
        Berdasarkan tingkat ekonomi keluarga, maka siswa-siswa
pada semua sekolah dapat dirata-ratakan pada tingkat menengah ke
bawah, yang pekerjaan orang tuanya berkisar pada PNS, ABRI,
wiraswasta, petani, buruh dan pekerjaan serabutan lainnya. Di mana
tingkat ekonomi dan pekerjaan orang tua ini akan sangat
mepengaruhi kinerja dalam keseluruhan proses pendidikan.
Ekonomi dan pendapatan keluarga akan menentukan apakah sebuah
keluarga dapat memenuhi kebutuhan pokok keluarganya, seperti
pangan, sandang, dan .papan. Kalau ketiga kebutuhan tidak dapat
dipenuhi dengan baik, akan mengganggu kelancaran sekolah anak,
karena ada anak yang harus bekerja membantu orang tuanya
memenuhi nafkah keluarga, ada juga anak yang kekurangan gizi,
yang kesemuanya dapat mengganggu kegiatan belajar anak.
        Faktor Penghambat yang dihadapi. Hambatan-hambatan
yang dihadapi oleh sekolah yang diteliti, secara garis besar dapat
berupa hambatan internal (alokasi waktu, media pembelajaran,
personalia dan dana)dan hambatan eksternal (lingkungan hidup

                                  7
Jurnal Penelitian Keislaman, Vol. II, No. 2, Juni 2006: 261-272



seperti kondisi sosial budaya). Pada umumnya masalah yang
dihadapi oleh guru PAI adalah masalah alokasi waktu, dana dan
media pembelajaran serta siswa yang belum bisa membaca latin.
Hambatan lain yang dapat ditemukan pada hampir semua sekolah
(kecuali SDN 26 Mataram) adalah kurang adanya dukungan dari
pihak orang tua siswa. Ketika anak sudah disekolahkan, maka
tanggung jawab diserahkan sepenuhnya kepada sekolah, padahal
waktu yang efektif untuk proses pendidikan di sekolah hanya sekitar
tujuh sampai delapan jam. Selain hambatan tersebut ada juga
hambatan lain yang bersifat situasional, yang kadang berbeda pada
setiap sekolah seperti jumlah siswa yang banyak, sedangkan guru
hanya satu orang

Metode dan Strategi Pembelajaran PAI pada Kelas I.
       Materi pelajaran yang hendak ditransfer kepada peserta didik
melalui kegiatan pembelajaran hendaknya menggunakan metode
dan strategi yang tepat. Ketepatan metode dan strategi sangat
membantu siswa dan guru dalam mencapai tujuan pembelajaran
yang telah ditetapkan. Metode merupakan cara yang digunakan guru
untuk menyampaikan materi, sedangkan strategi pembelajaran
adalah langkah-langkah yang dipilih oleh guru dalam
menyampaikan materi pelajaran. Dengan demikian, antara metode
dan strategi pembelajaran harus berjalan seiring dan saling
membantu. Penggunaan suatu metode tanpa pemilihan strategi yang
tepat akan membuat metode tersebut monoton dan membosankan,
sebaliknya strategi tanpa metode tidak akan bisa berjalan. Bisaanya
hambatan yang dihadapi guru adalah menyesuaikan               antara
keduanya dengan materi pelajaran. Kadang metode yang dipilih
sudah tepat, tetapi strategi yang digunakan kurang tepat, demikian
seterusnya.
       Apa yang ditemukan di lapangan penelitian, yaitu
kekurangmampuan guru untuk memadukan metode dan strategi
dengan baik. Hampir semua guru hanya menggunakan metode
mengajar secara monoton. Hal tersebut dikarenakan kekurangtahuan
mereka tentang ilmunya, yang mana semestinya dapat dipelajari
mereka dari buku-buku yang ada. Atau pihak sekolah              bisa
mengadakan workshop dan semacamnya bagi guru-guru tersebut
untuk mengenalkan dan mempelajari serta meningkatkan metode
dan strategi pembelajaran yang akan digunakan.


                                             8
                                 Pembelajaran PAI ..... (Nurhilaliati dan Ayip rosyidi)



         Apa yang ditemukan pada hampir semua sekolah yang
diteliti, kaitannya dengan metode dan strategi pembelajaran adalah
penggunaan metode “klasik” seperti ceramah, Tanya-jawab dan
penugasan. Menariknya, di antara guru-guru tersebut ada juga yang
menggunakan nyanyian (yang sesuai)untuk menyampaikan materi,
ketika siswanya mulai jenuh dan tidak memperhatikan pelajaran.9
Cara tersebut menujukkan cukup jitu untuk menarik perhatian dan
membangkitkan motivasi siswa. Sedangkan strategi yang umumnya
dijumpai adalah guru memulai dengan membacakan materi dan
diikuti oleh siswa, lalu menjelaskan materi kemudian diselingi
dengan Tanya-jawab yang diulang-ulang supaya siswa dapat
menghafalnya. Kadang-kadang ada juga guru yang menuliskan
materi pelajaran di papan tulis, yang kemudian dibacanya dan
siswa diminta membacanya baik secara individu maupun secara
berkelompok.
         Ketika pembelajaran berlangsung dalam kelas, guru PAI
tersebut ada yang mengajar dengan “santai” dan tanpa beban,
namun ada juga guru yang sangat repot dan kesusahan dalam
mengendalikan kelas. Berdasarkan pengamatan, ternyata keadaan itu
sangat tergantung dari kepiawaian guru dalam penggunaan bahasa,
memilih metode dan strategi yang sesuai untuk menyampaikan
pelajaran. Karena di antara para guru PAI ada yang memiliki
kedekatan emosional secara alami dengan siswa, dan sebaliknya ada
guru yang susah untuk membangun kondisi tersebut, yang pada
akhirnya berakibat pada kekacauan kelas.
         Terlepas dari metode apapun yang dipilih oleh seorang guru,
yang penting diperhatikan dalam pembelajaran dan transfer ajaran
agama terhadap anak adalah pembisaaan, keteladan dan
transinternalisasi. Dalam hal ini anak dibisaakan mengikuti berbagai
kegiatan keagamaan atau dibisaakan dalam suasana keagamaan yang
diiringi dengan keteladanan. Hal ini juga karena mengingat pesan
UU       SISDIKNAS      yang    mengatakan      bahwa    pendidikan
diselenggarakan dengan memberi keteladanan, membangun
kemauan dan mengembangkan kreatifitas peserta didik dalam proses
pembelajaran.10 Pada tahap berikutnya baru diberi pengertian



       9
           Seperti yang dilakukan oleh guru PAI di SDN 16 Ampenan dan SDN 25
Mataram
       10
            UU SISDIKNAS No. 20 Tahun 2003

                                       9
Jurnal Penelitian Keislaman, Vol. II, No. 2, Juni 2006: 261-272



tentang ajaran dan norma-norma keagamaan untuk dapat dipatuhi
dengan baik.11

Evaluasi Hasil Pembelajaran PAI

       Rangkaian terakhir yang harus dilakukan oleh guru dari
keseluruhan proses pembelajaran adalah melakukan evaluasi
terhadap materi yang pernah diajarkan, untuk mengetahui sudah
sampai dimana pemahaman dan penguasaan siswa terhadap materi
tersebut dan juga sebagai feed-back bagi guru untuk perbaikan proses
pembelajaran berikutnya.12
       Secara ideal, dalam proses pembelajaran semestinya
menggunakan beberapa rangkaian evaluasi seperti evaluasi formatif
dan sumatif. Akan tetapi dengan alasan-alasan tertentu, terkadang
yang dapat dilakukan oleh guru hanya sebagiannya saja.13
       Semua sekolah yang diteliti tidak pernah menggunakan pre-
test dan bahkan post-test untuk menilai siswanya. Guru hanya
menggunakan hasil mid semester dan semester saja untuk menilai.
Sedangkan dalam teknik evaluasi, karena hampir semua siswa kelas I
belum lancar membaca (kecuali SDN 26 Mataram), maka kebanyakan
guru menggunakan gabungan tes lisan dan tes tertulis, tetapi ada
juga yang melakukan dengan cara lain, seperti penilaian portofolio
dan menghafal.
       Pelaksanaan gabungan tes lisan dan tertulis dilakukan dengan
cara guru membacakan soal, siswa mendengarkan dan memahami,


         11
            Abu Ahmadi, Psikologi Perkembangan (Jakarta: Rineka Cipta, 1991),
73. Buku lain yang dapat dibaca berkaitan dengan strategi penanaman ajaran agama
kepada anak adalah: Tim Dosen IAIN Malang, Dasar-daasar Kependidikan Islam
(Surabaya: Karya Abditama, 1996), Abdurahman Saleh Abdullah, Educational
Theory: A Qur’anic Outlook (Makkah: Umm alQura University, tt), Muhaimin,
et.al., Wacana Pengembangan Pendidikan Islam (Yogyakarta: Pustaka Pelajar dan
PSAPM, 2003), dan M. Chabib Thoha, Kapita Selekta Pendidikan Islam
(Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996).
         12
              Kelompok yang paling berkepentingan dengan kegiatan evaluasi
pembelajaran ini adalah guru, siswa, dan sekolah. Suharsimi Arikunto, Dasar-dasar
Evaluasi Pendidikan (Jakarta: Bumi Aksara, 2001), 6-8.
         13
            Dalam pelaksanaannya, evaluasi hasil pembelajaran dapat dilakukan
secara lisan, tertulis, dan perbuatan. Pemilihan teknik yang digunakan tergantung
pada berbagai factor seperti waktu yang tersedia, dana, dan peralatan yang
diperlukan serta sifat materi yang akan dinilai. Noehi Nasution dan Adi Suryanto,
Modul Evaluasi Pengajaran (Jakarta: Pusat Penertbitan UT, 2002), 126

                                            10
                              Pembelajaran PAI ..... (Nurhilaliati dan Ayip rosyidi)



kemudian menuliskan huruf B bila pernyataan benar dan huruf S
bila pernyataan salah. Sedangkan yang menggunakan evaluasi lisan
melakukannya dengan cara guru membacakan pertanyaan untuk
setiap siswa, siswa mendengarkan dan memahami lalu menjawabnya
secara lisan pula. Adapun evaluasi hafalan dilaksanakan untuk
materi seperti surat-surat pilihan yang dilakukan dengan cara siswa
maju satu-persatu dan menghafal. Selain cara-cara tersebut, ada juga
sekolah yang menggunakan tes tertulis yang berupa soal
multiplechoice.
         Menilik jenis dan cara pelaksanaan evaluasi hasil
pembelajaran seperti yang diterapkan oleh sekolah-sekolah yang
diteliti, maka dapat dikatakan bahwa baru hasil belajar yang
termasuk ranah kognitif saja yang banyak mendapat perhatian,
sedangkan kedua ranah yang lain baru mendapatkan sedikit tempat.
Dari sini maka tidak heran bila kepemilikan siswa terhadap suatu
ilmu tidak atau kurang utuh.

SIMPULAN
        Berdasarkan hasil analisis terhadap unsur-unsur yang
terdapat dalam ketiga variable pembelajaran (karakteristik
pembelajaran, strategi pebelajaran dan evaluasi hasil pembelajaran),
maka pembelajaran PAI pada kelas I SD se-Kota Mataram belum
optimal. Belum optimalnya pembelajaran tersebut disebabkan oleh
hambatan internal maupun hambatan eksternal, seperti alokasi
waktu, media pembelajaran, personalia (guru), dana dan lingkungan
sosial-budaya peserta didik.
        Dari sekian hambatan yang ada, nampaknya baru hambatan
yang berkaitan dengan alokasi waktu dan lingkungan sosial-budaya
siswa yang memiliki solusi, yaitu dengan mengadakan kegiatan
IMTAQ setiap minggu, dimana kegiatannya meliputi Dhuha
berjama’ah, yasinan, dan kultum yang melibatkan siswa, guru,
kepala sekolah, Komite Sekolah, dan pengawas secara bergiliran.

DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, Abdurahman Shaleh, Educational Theory: A Qur’anic
          Outlook (Makkah: Umm alQura University, tt.).
Ahmadi, Abu, Psikologi Perkembangan (Jakarta: Rineka Cipta, 1991).
Arikunto, Suharsimi, Prosedur Penelitian (Jakarta: Rineka Cipta, 1998).
------------------------, Dasar-dasar Evaluasi pendidikan (Jakarta: Bumi
          Aksara, 2001).

                                   11
Jurnal Penelitian Keislaman, Vol. II, No. 2, Juni 2006: 261-272



GBPP dan Buku Ajar PAI Kelas I SD.
Huberman dan Miles, Analisis Data Kualitatif, ter. (Jakarta: UI Press,
          1992).
Moleong, Lexy J., Metodologi Penelitian Kualitatif (Bandung: Remaja
          Rosdakarya, 2001).
Muhaimin, et.al., Strategi Belajar Mengajar Penerapannya dalam
          Pembelajaran Pendidikan Agama (Surabaya: Citra Media, 1996).
------------, Wacana Pengembangan Pendidikan Islam (Yogyakarta:
          Pustaka Pelajar dan PSAPM, 2003).
Nasutian, Noehi, dan Adi Suryanto, Modul Evaluasi Pengajaran
          (Jakarta: Pusat Penerbitan UT, 2002).
Singarimbun, Masri, dan Sofian Effendi, Metode Penelitian Survai
          (Jakarta: LP3ES, 1995).
Surakhmad, Winarno, Pengantar Penelitian Ilmiah (Bandung: Tarsito,
          1994).
Thoha, M. Chahib, Kapita Selekta Pendidikan Islam (Yogyakarta:
          Pustaka Pelajar, 1996).
Tim Dosen IAIN Malang, Dasar-dasar Kependidikan Islam (Surabaya:
          Karya Abditama, 1996).
UU SISDIKNAS Nomor 20 Tahun 2003.




                                            12

				
DOCUMENT INFO
Categories:
Tags:
Stats:
views:818
posted:12/18/2010
language:Malay
pages:12