Docstoc

Aqidah-Pelajaran berharga dari Iedul Qurban

Document Sample
Aqidah-Pelajaran berharga dari Iedul Qurban Powered By Docstoc
					Penulis : Al Ustadz Abu Hamzah Al Atsari
Kategori : Aqidah
Pelajaran berharga dari „Iedul Qurban

Meski baru saja „Iedul Adha atau „Iedul Qurban meninggalkan kita dan walau setahun
kemudian kita akan bertemu dengannya lagi --Insya Allah--, „Iedul Qurban telah
menyimpan pelajaran yang sangat berharga bagi kita dan kaum Muslimin di manapun
berada, yang takkan pernah hilang dan lepas dari diri kita sekalipun dimakan rentang
waktu.

Berkurban tidaklah semata-mata menyembelih hewan pada waktu „Iedul Qurban,
walaupun kata qurban secara bahasa adalah hewan yang disembelih waktu Adha --
sedangkan menurut istilah : qurban ialah hewan yang dikhususkan pada waktu yang
dikhususkan dan syarat-syarat yang dikhususkan pula dengan niatan qurbah
(mendekatkan diri kepada Allah)-- tetapi di balik itu semua tersimpan sesuatu yang
berharga yang keabsahan kurbannya tergantung padanya, bahkan ia sebagai syarat bagi
ibadah-ibadah lainnya. Pelajaran berharga itu adalah tauhid, ikhlas semata untuk Allah.

Ketahuilah bahwa kedudukan tauhid dalam ibadah kedudukan wudlu di dalam shalat,
yang tidak sah shalat seseorang jika tidak memiliki wudlu, demikian pula tidak sah
ibadah seseorang kecuali dengan tauhid. Perhatikanlah ketika Allah Subhanahu wa Ta'ala
berfirman :

“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah.” (QS. Al Kautsar : 2)

Allah memerintahkan Rasul-Nya, Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam agar
menjadikan shalatnya dan sembelihannya ikhlas untuk Allah saja, tidak ada serikat bagi-
Nya (lihat Tafsir Ibnu Katsir 2/600). Allah Subhanahu wa Ta'ala juga berfirman :

Katakanlah : “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk
Allah, Rabb semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya. Dan demikian itulah yang
diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri
(kepada Allah).” (QS. Al An‟am : 162-163)

Menyembelih hewan kurban adalah salah satu syiar Islam terbesar di mana pada hari itu
adalah hari kemenangannya ahli tauhid yang Allah perintahkan agar mereka menyelisihi
kaum musyrikin dalam peribadahannya dan penyembelihannya. Allah Subhanahu wa
Ta'ala berfirman :

”Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyembah sembahan-sembahan
selain Allah yang tiada dapat memperkenankan doanya sampai hari kiamat dan mereka
lalai dari memperhatikan doa mereka? Dan apabila manusia dikumpulkan (pada hari
kiamat) niscaya sembahan-sembahan itu menjadi musuh mereka dan mengingkari
pemujaan-pemujaan mereka.” (QS. Al Ahqaf : 5-6)
Dan Allah Subhanahu wa Ta'ala juga berfirman :

Dan (ingatlah) hari di waktu Allah menyeru mereka seraya berkata : “Di manakah
sekutu-sekutu-Ku yang dahulu kamu katakan?” Berkatalah orang-orang yang telah tetap
hukuman atas mereka : “Ya Tuhan kami, mereka inilah orang-orang yang kami sesatkan
itu, kami telah menyesatkan mereka sebagaimana kami (sendiri sesat, kami menyatakan
berlepas diri (dari mereka) kepada Engkau, mereka sekali-kali tidak menyembah kami.”
Dikatakan (kepada mereka) : “Serulah olehmu sekutu-sekutu kamu.” Lalu mereka
menyerunya maka sekutu-sekutu itu tidak memperkenankan (seruan) mereka dan mereka
melihat adzab, (mereka ketika itu berkeinginan) kiranya mereka dahulu menerima
petunjuk. (QS. Al Qashash : 62-64)

Perintah berkurban adalah perintah yang disyariatkan oleh Allah. Allah berfirman :

“Dan bagi tiap-tiap umat telah kami syariatkan penyembelihan (qurban) supaya mereka
menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah dirizkikan Allah kepada
mereka, maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu
kepada-Nya. Dan berilah khabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada
Allah).” (QS. Al Hajj : 34)

Ia juga sebagai sunnah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam yang sangat ditekankan.
Cukuplah yang demikian itu ditunjukkan dengan firman Allah :

“Barangsiapa yang mentaati Rasul itu sesungguhnya ia telah mentaati Allah.” (QS. An
Nisa‟ : 80)

“Dan Kami turunkan kepadamu Al Qur‟an agar kamu menerangkan kepada umat
manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka.” (QS. An Nahl : 44)

Kemudian dalam berkurban, syiar yang paling besar yang terkandung di dalamnya ialah
bahwa ia sebagai millah (ajaran/agama) Ibrahim yang kita diperintahkan untuk
mengikutinya. Allah berfirman :

Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh
kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang
mempersekutukan (Tuhan). (Lagi) yang mensyukuri nikmat-nikmat Allah, Allah telah
memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus. Dan Kami berikan kepadanya
kebaikan di dunia. Dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang
yang shalih. Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) : “Ikutilah agama
Ibrahim seorang yang hanif dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang
mempersekutukan Tuhan.” (QS. An Nahl : 120-123)

Demikian jelaslah bagi siapa saja yang mengetahui dan memperhatikan ayat-ayat ini
bahwa millahnya Nabi Ibrahim adalah millah hanifiyah yakni satu ajaran yang dibangun
di atas landasan tauhid dan berpaling dari kesyirikan, beribadah hanya kepada Allah saja,
dan mengikhlaskan agama untuk-Nya. Hingga dengan ini beliau dijuluki sebagai seorang
imam. Oleh karena itu syiar yang besar dan pelajaran yang berharga dari „Iedul Qurban
adalah tauhid. Yang dituntut seluruh kaum Muslimin untuk menancapkan akidah tauhid
ini dalam jiwanya dan beramal dengan tuntunan-tuntunan kalimat tauhid laa ilaaha
illallah tersebut. Karena itu kewajiban yang pertama dan terakhir dalam Islam.

Ingatlah! Ketika Nabi Ibrahim berkata kepada bapaknya : “Wahai bapakku, mengapa
kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat, dan tidak dapat
menolong kamu sedikitpun? Wahai bapakku, sesungguhnya telah datang kepadaku
sebagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu, maka ikutilah aku niscaya aku
akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus. Wahai bapakku, janganlah kamu
menyembah syaithan, sesungguhnya syaithan itu durhaka kepada Tuhan Yang Maha
Pemurah. Wahai bapakku, sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan ditimpa adzab
dari Tuhan Yang Maha Pemurah. Maka kamu menjadi kawan bagi syaithan.” (QS.
Maryam : 42-45)

Demikianlah tauhid dan dakwah kepada tauhid menjadi syiar dan inti dakwahnya Nabi
Ibrahim dan Nabi setelah Rrasul-Rasul lainnya.

Nabi Nuh „Alaihis Salam sebagai Rasul yang pertama diutus, beliau berkata kepada
kaumnya : “Sesungguhnya aku akan memberi peringatan yang nyata bagi kamu agar
kamu tidak menyembah selain Allah. Sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa
adzab pada hari yang sangat menyedihkan.” (QS. Hud : 25-26)

Nabi Hud „Alaihis Salam berkata kepada kaumnya (Aad) : “Hai kaumku, sembahlah
Allah! Sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia.” (QS. Hud : 50)

Nabi Shalih „Alaihis Salam berkata kepada kaumnya (Tsamud) : “Hai kaumku,
sembahlah Allah! Sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia.” (QS. Hud : 61)

Nabi Syuaib „Alaihis Salam berkata kepada kaumnya (Madyan) : “Hai kaumku,
sembahlah Allah! Sekali-kali tiada Tuhan bagimu selain Dia.” (QS. Hud : 74)

Begitu juga dengan Nabi kita, Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam menyeru
kepada kita tauhid dan melarang dari berbuat syirik :

“Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfaat dan tidak pula
memberi mudlarat kepadamu selain Allah. Sebab jika kamu berbuat yang demikian itu
maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang dhalim.” (QS. Yunus
: 106)

Allah telah memperjelas lagi dalam ayat yang lain tentang tugas yang diemban oleh para
Rasul :

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan) :
“Sembahlah Allah saja dan jauhilah taghut!” (QS. An Nahl : 36)
Dan Kami tidak mengutus seorang Rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan
kepadanya : “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang haq) melainkan Aku. Maka sembahlah
olehmu sekalian akan Aku.” (QS. Al Anbiya‟ : 25)

Setelah kita mengetahui bahwa pelajaran yang berharga dari „Iedul Qurban adalah tauhid,
millah-nya Nabi Ibrahim, satu hal lagi yang juga pelajaran penting bagi kita ialah
kesabaran serta keteguhan hati Nabi Ibrahim dalam mendakwahkan dan membela akidah
tauhid. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman :

Sesungguhnya telah ada suri tauladan bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang
bersama dia ketika mereka berkata kepada kaum mereka : “Sesungguhnya kami berlepas
diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari kekafiranmu
dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya
sampai kamu beriman kepada Allah saja.” Kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya :
“Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak
sesuatupun dari kamu (siksaan) Allah.” Ibrahim berkata : “Ya Tuhan kami, hanya kepada
Engkaulah kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali.” (QS. Al
Mumtahanah : 4)

“Sesungguhnya pada mereka itu (Ibrahim dan umatnya) ada teladan yang baik bagimu
(yaitu) bagi orang yang mengharap (pahala) Allah dan (keselamatan pada) hari kemudian.
Dan barangsiapa yang berpaling maka sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Kaya lagi
Maha Terpuji.” (QS. Al Mumtahanah : 6)

Sungguh besar anugerah yang Allah berikan kepada kita berupa petunjuk agama yang
lurus. Allah Subhanahu wa Ta'ala memerintahkan Nabi-Nya, Muhammad Shallallahu
'Alaihi Wa Sallam untuk mengabarkan nikmat yang Allah berikan padanya dari hidayah
shirathal mustaqim millatu Ibrahim :

Katakanlah : “Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Tuhanku kepada jalan yang lurus,
yaitu agama yang benar, agama Ibrahim yang lurus, dan Ibrahim itu bukanlah termasuk
orang-orang yang musyrik.” (QS. Al An‟am : 161)

Bukan hanya itu saja, tetapi Allah juga memuliakan para pengikut millahnya Ibrahim dan
menghinakan orang-orang yang membencinya. Allah berfirman :

Dan tidak ada yang benci kepada agama Ibrahim melainkan orang yang memperbodoh
dirinya sendiri dan sungguh Kami telah memilihnya di dunia dan sesungguhnya dia di
akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang shalih. Ketika Tuhannya berfirman
kepadanya : “Tunduklah, patuhlah.” Ibrahim menjawab : “Aku tunduk patuh kepada
Tuhan semesta alam.” (QS. Al Baqarah : 130-131)

Dengan keistimewaan „Iedul Qurban ini hendaknya kita lebih mendekatkan diri kepada
Allah dengan ketakwaan. Allah berfirman :

“Daging-daging (unta) dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai keridlaan Allah,
tetapi ketakwaan darimulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah
menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayahnya
kepada kamu. Dan berilah khabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS.
Al Hajj : 37)

Dan semoga kita senantiasa menjadi orang-orang yang menjunjung tinggi syiar-syiar
Allah.

“Dan barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Allah maka sesungguhnya itu timbul dari
ketakwaan hati.” (QS. Al Hajj : 32)

Di samping itu, semoga kita juga orang-orang yang senantiasa mengamalkan firman
Allah :

“Barangsiapa yang mengharap pertemuan dengan Rabbnya maka hendaklah beramal
dengan amalan yang shalih dan tidak menyekutukan-Nya dalam beribadah kepada-Nya
dengan sesuatu apapun.”

Wal „Ilmu „Indallah.

Walhamdulillahi Rabbil „Alamin.

(Dikutip dari Buletin Al Wala‟ Wal Bara‟, dengan judul asli "Pelajaran Berharga Dari
„Iedul Qurban", ditulis oleh Al Ustadz Abu Hamzah Al Atsari, dari Syarhul Mumti‟
7/455 karya Ibnu Utsaimin rahimahullah), diterbitkan oleh : Yayasan As Salafiyyah, Jln.
Sekelimus VII nomor 11 Bandung Telp. (022) 7563451. Pembina Al Ustadz Abu
Hamzah Yusuf (Murid Syaikh Muqbil Al Wadi‟i rahimahullah). Pemesanan : Shalih, Jln.
Sekelimus VII nomor 11 Bandung Telp. (022) 7563451, @ Rp. 100 ,- (min. 50 eks))

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:32
posted:12/18/2010
language:Indonesian
pages:5