Docstoc

penyakit pada system pencernaan dalam kehamilan

Document Sample
penyakit pada system pencernaan dalam kehamilan Powered By Docstoc
					PENYAKIT PADA SYSTEM PENCERNAAN
          DALAM KEHAMILAN




     1|   http://www.submitlist.info
                                  BAB I
                           PENDAHULUAN


A. LATAR BELAKANG
    Kehamilan terjadi karena adanya proses pertemuan ovum/ sel telur yang
di keluarkan dari indung telur pada wanita reproduktif dengan sperma yang di
keluarkan dari testis pada laki-laki reproduktif yang kemudian bertemu dan
menjadi satu, hal ini disebut dengan konsepsi atau fertilisasi.
    Lamanya kehamilan mulai dari ovulasi sampai partus/ melahirkan adalah
kira-kira 280 hari (40 Minggu), dan tidak lebih dari 300 hari (43 Minggu).
Kehamilan 40 Minggu disebut kehamilan matur (cukup bulan), bila
kehamilan lebih dari 43 Minggu disebut kehamilan postmatur, sedangan
kehamilan antara 28 dan 36 Minggu disebut kehamilan premature.
    Kehamilan dibagi dalam 3 bagian yaitu kehamilan trimester 1 antara 0-
12 Minggu, kehamilan trimester 2 antara 12-28 Minggu dan kehamilan
trimester 3 antara 28-40 Minggu. Dalam trimester 1 kerangka janin dan alat-
alat gerak mulai dibentuk, trimester 2 kerangka janin dan alat-alat gerak telah
dibentuk tetapi belum sempurna dan viabilitas janin masih diragukan,
sedangkan janin yang dilahirkan dam trimester 3/ akhir telah viable (dapat
hidup).
    Pada wanita hamil terdapat beberapa tanda atau gejala, antara lain
sebagai berikut : amenorea (tidak haid), nausea (enek) dan emesis (muntah),
mengidam, pingsan, mammae menjadi tegang dan membesar, anoreksia,
sering kencing dan lain-lain. Selain hal tersebut di atas kehamilan juga
mempengaruhi system tubuh lainnya seperti pada system pencernaan yang
dapat mengalami perubahan dalam kehamilan, hal tersebut merupakan hal
yang biasa. Perubahan-perubahan tersebut umumnya tidak berarti dan tidak
berbahaya, dan dapat ditanggulangi dengan mudah dengan penerangan, obat-
obatan yang relatife ringan atau melalui pendekatan psikologik.




                  2|   http://www.submitlist.info
    Ada 3 faktor yang menyebabkan perubahan fungsi alat pencernaan
tersebut dalam kehamilan, yaitu perubahan hormonal, anatomic dan
fisiologik kehamilan, dan ketiga factor tersebut akan memberikan pengaruh
pada fungsi alat pencernaan.


B. TUJUAN
    1. Tujuan Umum
        Setelah mahasiswa mempelajari masalah penyakit pada system
        pencernaan dalam kehamilan ini mahasiswa dapat memahami dan
        mengetahuinya dengan baik.
    2. Tujuan Khusus
        Setelah mengetahui penyakit pada system pencernaan dalam
        kehamilan ini mahasiswa dapat :
        a. Mengetahui definisi penyakit pada system pencernaan dalam
           kehamilan.
        b. Mengetahui macam-macam penyakit pada system pencernaan
           dalam kehamilan.
        c. Mengetahui etiologi penyakit pada system pencernaan dalam
           kehamilan.
        d. Mengetahui pengaruhnya pada kehamilan.
        e. Mengetahui penatalaksanannya


C. MANFAAT
    1. Bagi mahasiswa
        a. Mahasiswa pernah mempelajari masalah penyakit pada system
           pencernaan dalam kehamilan.
        b. Mahasiswa mengetahui tentang semua penyakit pada system
           pencernaan dalam kehamilan.
        c. Mahasiswa mampu memberikan kepada orang lain tentang semua
           penyakit yang berhubungan dengan system pencernaan pada
           kehamilan.

                 3|   http://www.submitlist.info
2. Bagi pembaca
   a. Menambah pengetahuan dan wawasan bagi pembaca.
   b. Sebagai sarana bacaan bagi pembaca.
3. Bagi dosen
   a. Sebagai sarana pembelajaran dosen.
   b. Menambah pengetahuan dan wawasan dosen.




           4|   http://www.submitlist.info
                                BAB II
                                  ISI


A. PENYAKIT TRAKTUS DIGESTIVUS (SISTEM PENCERNAAN)
    Terdapatnya perubahan fungsi alat pencernaan dalam kehamilan adalah
hal yang biasa. Perubahan-perubahan tersebut umumnya tidak berarti dan
tidak berbahaya, dan dapat ditanggulangi dengan mudah dengan penerangan,
obat-obatan yang relatife ringan atau melalui pendekatan psikologik.
    Ada 3 faktor yang menyebabkan perubahan fungsi alat pencernaan
tersebut dalam kehamilan, yaitu perubahan hormonal, anatomic dan
fisiologik kehamilan, dan ketiga factor tersebut akan memberikan pengaruh
pada fungsi alat pencernaan. Selama kehamilan akan terjadi pula penurunan
geerakan saluran alat cerna karena tonus otot-otot alat pencernaan yang
berkurang, di samping itu terdapat pula perubahan letak serta penekanan yang
disebabkan oleh pembesaran rahim (uterus).
    Perasaan mual, muntah, nafsu makan menurun, ketidaksukaan pada
makanan tertentu atau pada bau-bauan tertentu merupakan keluhan yang
banyak terjadi pada awal kehamilan, tetapi hal tersebut dapat diobati dengan
menghindarkan makanan atau bau-bauan tersebut yang menyebabkan mual
dan muntah, dan dapat pula dengan obat-obatan yang relative ringan.
    Akan tetapi kadang-kadang keluhan wanita hamil tersebut sangat
berlebihan sehingga dapat membahayakan ksehatan atau jiwa wanita tersebut,
karena itu perlu dipikirkan penyebab lainnya yang ikut berperan sebagai
penyebabnya seperti seorang wanita hamil yang menginginkan makanan
tertentu yang tidak lazim dimakan orang umpamanya tepung kanji, makanan
mentah, garam dan sebagainya.
    Penyebab kelainan ini sangat erat hubungannya dengan factor social,
tingkat kebudayaan dan sebagainya, sehingga pengobatannya haruslah
melalui pendekatan psikologik dan kelainan seperti ini disebut pica (ngidam
dalam bahasa jawa). Begitu pula tak jarang disalahtafsirkan gejala-gejala
penyakit organ dalam rongga perut yang gawat dianggap sebagai gangguan

                 5|   http://www.submitlist.info
yang disebabkan oleh kehamilan adalah hal yang biasa, oleh karena itu perlu
diketahui pula kelainan dan penyakit-penyakit yang sering ditemuakan dalam
kehamilan yang erat hubungannya dengan alat pencernaan.


B. MACAM-MACAM PENYAKIT SISTEM PENCERNAAN
    Disini kita perlu mengetahui apa saja penyakit yang terjadi pada system
pencernaan pada wanita hamil yaitu antara lain :
1. MULUT
    a)   Ptialismus (syalorea, hipersaliva)
         Pada kehamilan trimester I, kemungkinan dijumpai produksi air
         ludah berlebihan dari biasa, sehingga menyebabkan wanita hamil
         tersebut sering membuang ludah. Produksi air ludah yang
         berlebihan ini disebut ptialismus. Hal ini karena ketidaksanggupan
         wanita tersebut menelan air ludahnya sebagai akibat dari perasaan
         mual. Pengobatan khusus tidak ada, cukup dengan pendekatan dan
         penerangan secara psikologik.
    b) Gingivitis dan epulis
         Dalam kehamilan seringkali gusi menjadi bengkak dan lemah serta
         mudah berdarah, terutama pada waktu gosok gigi atau sentuhan
         yang ringan lainnya. Hal ini karena pengaruh dari hormon estrogen
         yang meningkat.
         Seringkali timbul stomatitis dan gingivitis dalam kehamilan dan
         untuk itu perlu perawatan mulut agar selalu bersih selama
         kehamilan. Kadang-kadang ditemukan pula pembengkakan gusi
         setempat dan banyak mengandung pembuluh-pembuluh darah,
         sehingga mudah berdarah. Kelainan ini disebut epulis gravidarum.
         Pengobatan khusus tidak ada, dan setelah lahir epulis tersebut akan
         hilang sendirinya.




                 6|   http://www.submitlist.info
   c)   Caries dentis
        Dalam kehamilan sering dijumpai gingivitis dan caries dentis, akan
        tetapi tidaklah beralasan kehamilan sebagai penyebab meningkatnya
        kejadian caries dentis. Caries dentis sebelum hamil sudah ada, dan
        kekurangan kalsium akan memperburuk kerusakan giginya seperti
        juga terjadi sebelum hamil. Pengobatan yaitu dengan merawat gigi,
        mulut, serta mencukupi kebutuhan kalsium dalam kehamilan.
2. ESOFAGUS
   a)   Pirosis (heartburn, nyeri dada)
        Pirosis adalah perasaan nyeri di dada, karena masuknya isi lambung
        ke dalam esophagus bagian bawah. Keluhan sering ditemukan
        dalam kehamilan, terutama dalam posisi tengkurap, atau menelan
        sesuatu makanan tertentu atau obat. Pada kehamilan tua, hal ini
        sering terjadi karena adanya tekanan rahim yang membesar. Pada
        esophagus terjadi esofagitis, akan tetapi pada endoskopi tidak
        kelihatan ada tanda-tanda radang, hanya secara histologik dapat
        dilihat. Isi lambung tersebut berisi asam klorida, pepsin serta
        makanan. Pirosis biasanya tidak akan menimbulkan komplikasi
        seperti striktura, perdarahan karena waktunya sebentar saja.
        Pengobatan cukup dengan memberikan obat antacid, mengubah
        posisi tubuh dan menegakkan kepala serta mencegah tengkurap
        setelah   makan.    Keadaan    yang    lebih   berat   kadang-kadang
        menyebabkan        penderita   sulit   menelan,    ada    perdarahan
        (hematemesis), sebagai akibat esofagitis erosif.
   b) Esofagitis erosive
        Esofagitis erosive merupakan akibat yang gawat dari kembalinya isi
        lambung ke dalam esofagus, da tidak mempunyai hubungan dengan
        hiperemesis gravidarum. Gejala yang paling sering dijumpai ialah
        nyeri waktu menelan (disfagia) disertai pirosis. Hematemesis dapat
        terjadi, dan esofagoskopi menunjukkan erosi berdarah pada selaput
        lendir satu pertiga bawah esofagus.

                  7|   http://www.submitlist.info
       Penanggulangan sama dengan pirosis biasa. Apabila terjadi
       hematemesis penderita disuruh minum air es atau menelan es batu
       kecil-kecil. Biasanya kelainan ini sembuh sama sekali dengan
       sendirinya setelah melahirkan. Striktura esofagia yang sampai
       memerlukan dilatasi jarang terjadi.
  c)   Varises esovagei
       Varises esofagei akibat sirosis hepatis menjadi lebih besar dan lebih
       mudah pecah dalam kehamilan, karena hipervolemia kehamilan dan
       hipertensi portal.
3. LAMBUNG
  a)   Hernia hiatus diafragmatika
       Ialah masuknya bagian atas lambung ke dalam lubang diafragma.
       Kelainan ini sering dijumpaii dalam kehamilan, terutama dalam
       kehamilan trimester III, dan lebih sering pada multipara dalam usia
       lanjut. Kelainan ini akan sembuh sendiri, setelah anak lahir.
       Penderita akan mengeluh dengan gangguan pencernaan berupa
       pirosis, muntah, kadang-kadang hematesis, berat badan menurun,
       atau kadang-kadang tak ada keluhan sama sekali. Jika keluhan
       meningkat, mungkin ada hubungan dengan dua factor, yaitu wanita
       tersebut menderita hernia hiatus dan isi lambung yang bertambah
       besar. Hernia hiatus jarang mengalami strangulasi hernia dalam
       kehamilan, dan biasanya penderita mengeluh sesak nafas, sianotik,
       kadang-kadang sampai terjadi syok.
       Penanganannya adalah simptomatik, penderita ditidurkan setengah
       duduk, makanan diberikan dalam porsi kecil-kecil. Jika hernia
       tersebut diketahui sebelum hamil, maka penderita dapat menunda
       kehamilannya atau melakukan operasi lebih dahulu.




               8|   http://www.submitlist.info
   b) Ulkus peptikum
        Pada wanita yang mempunyai ulkus peptikum sebelum hamil,
        biasanya setelah hamil, penyakit akan mennjadi lebih baik, bahkan
        dapat sembuh. Terutama pada trimester I dan II karena rendahnya
        sekresi asam lambung dan meningkatnya produksi getah lambung,
        walaupun ulkus lebih hebat gejalanya dan yang sering dijumpai
        adalah kejang dan perih diperut bagian atas (yang dapat hilang
        dengan memakan makanan atau obat alkalis), rasa panas, rasa tak
        enak di daerah epigastrium. Gejala lebih sering terjadi atau
        dirasakan 2 atau 3 jam setelah makan. Perforasi jarang terjadi. Oleh
        karena itu penanganan ulkus peptikum dalam kehamilan umumnya
        konservatif, jarang atau hamper tidak ada dengan tindakan operatif.
   c)   Gastritis
        Diagnosis gastritis sering dibuat dalam kehamilan muda, hanya atas
        dasar keluhan penderita, seperti mual, muntah, tidak ada nafsu
        makan, nyeri di daerah epigastrium dan sebagainya. Sering
        dilakukan pemeriksaan radiologi oleh dokter untuk membuat
        diagnosis. Hal ini tentu tidak baik, karena sinar X, mempunyai
        pengaruh tidak baik pada janin. Oleh karena itu harus berhati-hati
        untuk membuat diagnosis gastritis. Bila hamil muda sedapat
        mungkin hindari pembuatan foto rontgen. Penderita diobservasi,
        dan ditentukan terapi konservatif seperti gastritis di luar kehamilan.
        Biasanya keluhan akan hilang setelah trimester I, bila disebabkan
        oleh kehamilan.
4. USUS HALUS
   a)   Ileus
        Diagnosis    dibuat   atas   dasar   gejala-gejala   muntah-muntah,
        konstipasi, bising usus meningkat seperti bunyi logam. Foto
        abdomen walaupun pemeriksaan X ray secara umum dilarang dalam
        kehamilan, pada keadaan tertentu diperlukan. Seperti pada ileus
        obstruktif, terlihat pada gambaran foto rontgen, usus di bagian

                9|   http://www.submitlist.info
     proksimal obstruksi melebar, dan ada bayangan permukaan cairan
     (fluid level). Tindakan operasi segera dilakukan apabila diagnosis
     telah dipastikan, terlambat melakukan tindakan akan memperburuk
     keadaan umum penderita, bahkan meningkatkan kematian.
     Dalam kehamilan biasa, tonus dan peristaltic usus berkurang,
     sehingga tak jarang menyebabkan konstipasi atau sulit buang air
     besar. Kadang-kadang dapat timbul gejala-gejala ileus peristaltik
     dalam kehamilan dan nifas, hal ini haruslah dibedakan dari ileus
     obstruktif dan peritonitis. Pada ileus peristaltik tanpa komplikasi
     lain seperti di atas, terapi untuk ini adalah konservatif, yaitu dengan
     memberikan infuse, dan makanan parenteral, pemasangan pipa
     hidung-lambung, dan cairan lambung diisap terus menerus, serta
     pemberian antibiotika, vitamin aneurin 25-30 mg intramuscular, dan
     biasanya dalam waktu 3-5 hari akan sembuh.
b) Volvulus
     Dengan makin tuanya kehamilan dan makin besarnya uterus, usus-
     usus halus dapat terputar pada pangkalnya, sehingga terjadi
     penjiratan (strangulasi) seluruh ileum. Akibatnyya sangat gawat dan
     menyebabkan kematian apabila tidak segera dikenal dan dioperasi.
     Keadaan lain yang dapat pula menyebabkab volvulus ialah
     perpanjangan mesokolon, hernia diafragmatik, perlekatan usus dan
     terdapatnya pita congenital di dalam rongga perut.
     Gambaran klinik berupa parut yang menunjukkan tanda-tanda
     gawat      mendadak (acute abdomen) terdiri atas gejala-gejala
     obstruktif usus disertai muntah-muntah yang hebat. Keadaan umum
     cepat memburuk akibat gangguan elektrolit dan keracunan, nadi
     sangat cepat dan suhu meningkat. Penderita harus segera dioperasi.
c)   Hernia
     Berbagai macam hernia yang dapat dijumpai dalam kehamilan
     seperti hernia inguinalis, femoralis, umbilikalis, dan sikatrisea yang
     biasanya tidak menimbulkan keluhan.

              10 |   http://www.submitlist.info
    Membesarnya uterus mendorong usus-usus lebih jauh dari cincin
    hernia, sehingga inkarserasi jarang terjadi dalam kehamilan, juga
    dalam persalinan kala II, walaupun wanita meneran-neran.
    Sebaliknya, dalam nifas cincin dapat menjadi lebih besar dan usus
    dapat masuk ke dalam kantong hernia. Gejala-gejala ileus pada
    hernia dapat timbul pada setiap saat dalam kehamilan dan nifas
    apabila ada perlekatan usus yang terjepit, terputar atau terrtarik.
    Penanganan hernia dalam kehamilan sama dengan di luar kehamilan
    apabila timbul gejala-gejala gawat. Dalam persalinan sebaiknya
    wanita tidak meneran terlalu kuat apabila kantong hernia bertambah
    besar, dan jika syarat-syarat sudah dipenuhi, persalinan diakhiri
    dengan ekstraktor vakum atau cunam.
d) Ileitis regional
    Ileitis regional, seperti yang dilaporkan oleh Crohn dan Yarmis,
    merupakan suatu proses granulomatus ileum bagian akhir yang
    tidak khas yang meliputi peradangan, nekrosis, ulserasi dan
    perparutan. Penyakit ini biasanya dijumpai pada orrang dewasa
    muda dan jarang pada wanita hamil. Gejala-gejala sangat bervariasi,
    tergantung pada lamanya penyakit, bersifat aktif dan luasnya ileum
    yang terkena proses, diantaranya nyeri perut, diare, demam ringan,
    terabanya tumor di perut, perdarahan dan perforasi usus. Anamnesis
    yang teliti dan pemeriksaan rontgen dapat menyokong diagnosis.
    Diagnosis pasti hanya dapat dibuat setelah perut dibuka. Pengaruh
    kehamilan pada ileitis regionalis tidak pasti dan sangat bervariasi,
    ada yang menjadi lebih baik dalam kehamilan, ada yang sama, ada
    pula yang menjadi buruk.
    Apabila penderita menunjukkan gejala-gejala yang berat dan reaksi
    negatif terhadap kehamilannya, maka bekerja sama dengan psikiater
    dapat dipertimbangkan abortus buatan walaupun jarang diperlukan.




            11 |   http://www.submitlist.info
5. USUS BESAR
   a)   Apendisitis akut
        Kejadian apendisitis akuta dalam kehamilan dan di luar kehamilan
        tidaklah berbeda. Kejadian perforasi lebih sering terjadi dalam
        kehamilan yaitu 1,5 sampai 3,5 kali dari wanita tidak hamil. Hal in
        karena diagnosis dini apendisitis akuta kadang-kadang sulit dibuat,
        sering meragukan atau dikacaukan oleh keadaan-keadaan lain
        seperti :
        1) Gejala dan tanda rasa mual, muntah, anoreksia, perut kembung,
            dan nyeri di perut sering dijumpai pula pada kelainan lain dari
            apendisitis.
        2) Adanya leukositosis fisiologik dalam kehamilan yang mungkin
            menyerupai jumlah leukosit pada apendisitis akuta.
        3) Pada akhir pertengahan usia kehamilan, apendisitis terletak di
            bagian kanan atas, sehingga gambaran klinis yang diberikan
            oleh apendisitis yang biasa tidak menunjukkan gambar yang
            seperti di luar kehamilan.
        4) Adanya relaksasi dinding perut pada kehamilan kanjut
            menyebabkab tanda-tanda nyeri, kekekuan dinding perut
            menjadi tak jelas.
        5) Tanda-tanda apendisitis akuta kadang diperlihatkan pula oleh
            kelainan-kelainan lain seperti pada kehamilan muda dengan
            adanya kista yang terputar, salpingitis akuta, rasa nyeri dari
            ligamentum rotundum pada kehamilan lebih lanjut, solusio
            plasenta pada tingkat permulaan, infeksi saluran kemih,
            persalinan premature, obstruksi usus haus. Pada masa nifas
            adanya endometritis atau adneksitis.
        Adanya rasa nyeri yang tiba-tiba di daerah periumbilikal yang
        menjalar ke daerah apendisitis, rasa mual, muntah-muntah yang
        tidak       pernah   sebelumnya   dirasakan,   maka   pertama-tama
        penyebabnya perlu dipikirkan karena apendisitis akuta. Wanita

                12 |    http://www.submitlist.info
    hamil dengan apendisitis akuta, harus segera dilaparotomi dan
    dilakukan apendiktomia tanpa memikirkan usia kehamilan. Insisi
    perlu dibuat lebih tinggi dari biasa yaitu paramedical kanan kira-
    kira setinggi fundus uteri. Manipulasi pada uterus gravidus ini
    sedapat mungkin dihindari, dan drain hanya dipasang apabila ada
    abses. Biasanya kehamilan ini akan terus berlanjut sampai saat
    persalinan. Bila apendisitis akuta dibuat pada kehamilan lebih dari
    34-35 minggu, dilakukan secsio sesarea dan apendektomi. Uterus
    yang membesar tersebut akan menyulitkan mencari apendiks
    disamping itu bila penderita masuk dalam persalinan pasca
    laparotomi, luka dapat terbuka kembali karena luka belum sembuh
    sempurna dan belum kuat. Bila terjadi perforasi dan abses
    dipertimbangkan    untuk    dilakukan   apendiktomia    dan   seksio
    histerektomia. Komplikasi yang sering atau mungkin dijumpai
    dalam kehamilan adalah abortus atau partus prematurus.
b) Colitis ulserosa
    Colitis ulserosa yang biasanya menahun merupakan suatu penyakit
    peradangan disertai ulkus-ulkus mulanya pada rectum, kemudian
    menjalar ke atas dan dapat sampai ke usus halus. Biasanya bagian
    usus yang terserang adalah mukosa dan sub mukosa. Gejala-gejala
    klinik terserang adalah diare dengan darah, nanah atau lendir, badan
    panas, leukositosis, takikardia, perut terasa tidak enak, malas makan
    dan berat badan menurun. Komplikasi penyakit ini mungkin dapat
    terjadi perforasi, perdarahan sehingga penderita jadi anemia,
    defisiensi vitamin dan protein.
    Pengaruh penyakit ini terutama pada kesehatan ibu, pada janin atau
    kehamilan tidak begitu banyak. Sedangkan pengaruh kehamilan
    pada penyakit ini dapat menimbulkan keadaan yang lebih berat,
    yaitu penyakit yang tadinya kurang aktif dapat jadi aktif, terutama
    pada trimester I dapat terjadi perforasi. Factor psikogenik dianggap
    mempunyai pengaruh penting pada colitis ulserasi ini, seperti

           13 |   http://www.submitlist.info
     perubahan-perubahan emosional, kecemasan, ketakutan dan lain-
     lain selama kehamilan.
     Terangkan dan perhatikan factor penyakit penderita, diet yang
     cukup mudah diserap, bila perlu diberi antidiare dan antibiotic.
     Mereka yang telah hamil, kehamilan dapat diteruskan, dan
     persalinan dapat pervaginam. Pada keadaan dimana anak sudah
     cukup, diharapkan ibu tidak hamil lagi dan ikut keluarga berencana,
     dapat dilakukan sterilisasi.
c)   Tumor ganas usus besar
     Tumor ganas usus besar biasanya karsinoma, jarang dijumpai dalam
     kehamilan. Penanggulangan tumor ganas usus besar dalam
     kehamilan ialah dengan operasi, sama seperti di luar kehamilan.
     Apabila operasi dilakukan dalam trimester II dan III, mungkin
     uterus dan isinya perlu diangkat untuk memudahkan operasi rectum.
     Pada penderita karsinoma kolon, bila kehamilannya sudah cukup
     bulan, dapat ditunggu partus per vaginam. Bila terdapat gejala-
     gejala obstruksi usus, mungkin diperlukan kolostomia sebelum
     persalinan atau operasi. Dalam kehamilan trimester III sebelum
     umur kehamilan 38 minggu pada penderita dengan karsinoma rekti
     dilakukan seksio histerektomia. Setelah bayi lahir lalu segera
     operasi rectum.
d) Megakolon
     Usus besar yang sangat meluas dan terisi penuh dengan skibala
     menyebabkan konstipasi yang kadang-kadang sangat sulit untuk
     diatasi.     Dalam    persalinan   megakolon   yang   penuh,   dapat
     menghalangi turunnya kepala, sehingga dapat terjadi rupture uteri.
e)   Diare akut
     Beberapa wanita mungkin mengeluh diare jika mereka mengalami
     perubahan dalam kebiasaan buang air besar dan menghasilkan feses
     yang lembut, sering dan kurang berbentuk. Ketika mengkaji
     riwayat, diare yang sebenarnya telah meningkatkan isi air dan

                14 |   http://www.submitlist.info
        mungkin telah meningkatkan isi mucus. Diare akut dominan
        infeksius, diare kronis, berlangsung lebih dari 2 minggu berurutan,
        dapat berakibat dari kondisi yang bermacam-macam, termasuk
        infeksi, pengobatan, penyakit kronis, sindrom malabsorpsi, stress,
        dan sindrom iritasi usus. Penyebab diare terkait infeksi termasuk
        spesies E. Coli, Salmonella, dan pejamu bakteri lain kebanyakan
        menyebar melalui makanan. E. Coli adalah penyebab diare tersering
        pada pelancong. Bakteri-bakteri ini dapat menyebabkan gejala
        sebagai akibat pelepasan toksin atau serangan langsung pada
        dinding usus. Dengan infeksi gastrointestinal bakteri ringan, demam
        tidak begitu tampak dibandingkan dengan penyakit virus. Seperti
        diare karena virus, tindakan simptomatik biasanya tepat bila
        penyebabnya     adalah   bakteri.   Penggunaan   antibiotic    dalam
        pengobatan diare sebaiknya didahului pembuktian kultur atau
        penyakit parah yang secara jelas penyebabnya adalah bakteri.




6. DAERAH ANUS
   a)   Pruritus ani
        Pruritus ani kadang-kadang dijumpai dalam kehamilan dan sangat
        mengganggu penderita. Rasa gatal dapat terbatas di daerah perianal
        atau menjalar lebih luas sampai di daerah kelamin, bagian dalam
        paha, dan pantat. Karena rasa gatal daerah itu digaruk dan
        menimbulkan/menambah iritasi kulit.
        Pruritus ani dapat dibagi dalam 2 golongan :
        1) Yang mempunyai sebab organic
           Disebabkab oleh fisura et fistula ani, proktitis, wasir, jamur,
           diabetes mellitus, alergi terhadap benang sintetik pakaian dalam,
           atau ukuran pakaian yang tidak sesuai.

               15 |    http://www.submitlist.info
   2) Yang disebabkab oleh factor psikogenik
         Disebabkan oleh konflik emosional dalam kehamilan yang
         berdasarkan ketidaknyamanan psiko seksual. Penanggulangan
         harus dimulai dengan menghilangkan/menghindarkan factor
         penyebabnya. Iritasi kulit akibat garukan diobati dengan salep
         kortison. Bila pengobatan tidak berhasil, dan tidak ditemukan
         sebab organic, maka sebaiknya dimintakan konsultasi pada
         psikiater.
b) Wasir (hemoroid)
   Dalam kehamilan dapat terjadi pelebaran vena hemoroidalis interna
   dan pleksus hemoroidalis eksterna, karena terdapatnya konstipasi
   dan     pembesaran      uterus.   Wasir     yang   kecil      kadang   tidak
   menimbulkan keluhan, dan yang besar dapat menimbulkan keluhan
   bahkan menimbulkan komplikasi hebat yaitu rasa nyeri serta
   perdarahan pada saat buang air besar, serta ada sesuatu yang keluar
   dari anus. Wasir dapat didiagnosis dengan mudah yaitu adanya
   keluhan rasa perih di daerah anus, perdarahan serta pada
   pengamatan ditemukan vena yang membengkak di anus atau di
   rectum.     Pada      hemoroid    interna   dan    eksterna     yang   tidak
   menimbulkan keluhan, tidak perlu diberi pengobatan, dan setelah
   melahirkan hemoroid tersebut akan mengecil sendirinya.
   Pada hemoroid yang besar, yang menjadi keluar baik dalam
   kehamilan atau masa nifas, yang menimbulkan keluhan, perlu
   dilakukan antara lain reposisi oleh dokter maupun oleh penderita
   sendiri, dengan menggunakan salep antihemoroid. Usahakan
   penderita agar memakan makanan yang lunak dan tidak meneran.
   Pada keadaan yang sudah berdarah, diberi anti-salep atau
   suppositoria. Tindakan sklerosing atau hemoroidektomi jarang
   diperlukan.




             16 |     http://www.submitlist.info
c)   Fissure ani
     Fisura ani merupakan kelainan yang sering dirasakan sangat nyeri
     dan terdiri atas luka-luka memanjang pada dinding belakang anus.
     Asalnya tidak diketahui dengan pasti, mungkin karena trauma pada
     mukosa dengan kriptitis, atau sebagai akibat pecahnya abses kista.
     Mula-mula rasa nyeri dialami pada waktu penderita buang air besar,
     sehingga penderita segan untuk ke belakang, kemudian rasa nyeri
     berlangsung sampai beberapa jam setelah defekasi. Fisura yang baru
     terjadi dapat sembuh secara spontan. Akan tetapi fisura menahun
     yang disertai peradangan menahun dengan banyak keluhan
     memerlukan eksisi lebar semua jaringan yang sakit, disertai insisi
     muskulus sfingter ani eksternus, juga pada wanita hamil.




            17 |   http://www.submitlist.info
                                 BAB III
                               PENUTUP



A. KESIMPULAN

      Kehamilan terjadi karena adanya proses pertemuan ovum/ sel telur
  yang di keluarkan dari wanita reproduktif dengan sperma yang di
  keluarkan dari laki-laki reproduktif yang kemudian bertemu dan menjadi
  satu, hal ini disebut dengan konsepsi atau fertilisasi.
      Kehamilan ini dibagi menjadi 3 yaitu kehamilan trimester 1 (0-12
  minggu), trimester 2 (12-28 minggu), dan trimester 3 (28-40 minggu).
  Dalam kehamilan nantinya memiliki keluhan dari setiap trimester
  walaupun nantinya ada yang sama dalam trimester tersebut keluhannya.
      Pada wanita hamil terdapat beberapa tanda atau gejala, antara lain
  sebagai berikut : amenorea (tidak haid), nausea (enek) dan emesis
  (muntah), mengidam, pingsan, mammae menjadi tegang dan membesar,
  anoreksia, sering kencing dan lain-lain. Selain hal tersebut di atas
  kehamilan juga mempengaruhi system tubuh lainnya seperti pada system
  pencernaan yang dapat mengalami perubahan dalam kehamilan, hal
  tersebut merupakan hal yang biasa. Perubahan-perubahan tersebut
  umumnya tidak berarti dan tidak berbahaya, dan dapat ditanggulangi
  dengan mudah dengan penerangan, obat-obatan yang relatife ringan atau
  melalui pendekatan psikologik.
      Ada 3 faktor yang menyebabkan perubahan fungsi alat pencernaan
  tersebut dalam kehamilan, yaitu perubahan hormonal, anatomic dan
  fisiologik kehamilan, dan ketiga factor tersebut akan memberikan
  pengaruh pada fungsi alat pencernaan. Pengaruhnya menyebabkan
  ketidaknyamanan antara lain :




                 18 |   http://www.submitlist.info
a.   Pada mulut
     1) Ptialismus (syalorea, hipersaliva)
     2) Gingivitis dan epulis
     3) Caries dentis
b.   Pada esofagus
     1) Pirosis (heartburn, nyeri dada)
     2) Esofagitis erosive
     3) Varises esovagei
c.   Pada lambung
     1) Hernia hiatus diafragmatika
     2) Ulkus peptikum
     3) Gastritis
d.   Pada usus halus
     1) Ileus
     2) Volvulus
     3) Hernia
     4) Ileitis regional
e.   Pada usus besar
     1) Apendisitis akut
     2) Colitis ulserosa
     3) Tumor ganas usus besar
     4) Megakolon
     5) Diare akut
f.   Pada daerah anus
     1) Pruritus ani
     2) Wasir (hemoroid)
     3) Fissure ani
     Semua itu sudah dijelaskan masing-masing dari pengertian, sebab,
penanganan dan sebagainya di atas.




                19 |   http://www.submitlist.info
B. SARAN
      Sebagai   tenaga kesehatan terutama bidan           harus benar-benar
  mengetahui tentang penyakit atau ketidaknyamanan yang terjadi pada
  system pencernaan dan system-sistem yang lainnya serta dapat mengetahui
  cara mengatasi ketidaknyamanan tersebut pada kehamilan baik pada TM 1,
  2, dan 3 yang sesuai dengan standar profesi yang ada dan berlaku demi
  kelancarannya dalam memberikan asuhan kebidanan, sehingga tidak
  mengakibatkan hal-hal yang tidak diinginkan terhadap keadaan bayi dan
  ibunya, oleh karena itu bidan harus mampu menerapakan asuhan yang
  diberikan baik secara fisik maupun psikologi ibunya.
      Kepada ibu-ibu hamil yang mengalami hal tersebut di atas sebaiknya
  jangan   menyepelekan      hal   tersebut,   sehingga     apabila   terjadi
  ketidaknyamanan di atas ibu harus segera memeriksakan diri atau
  berkonsultasi dengan bidan atau tenaga kesehataan lainnya demi
  kenyamanan ibu sendiri dan kesehatan buah hatinya.




                20 |   http://www.submitlist.info
                         DAFTAR PUSTAKA




Wiknjosastro, Hanifa dkk. 2007. Ilmu Kebidanan. Yayasan Bina Pustaka
     Sarwono Prawirohardjo : Jakarta.
Mochtar, Rustam. 1998. Sinopsis Obstetri ( Obstetri Fisiologi dan Obstetri
     Patologi) Jilid 1. EGC: Jakarta.




                21 |   http://www.submitlist.info

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:7398
posted:12/17/2010
language:Indonesian
pages:21