Docstoc

laporan kulap pangandaran

Document Sample
laporan kulap pangandaran Powered By Docstoc
					LAPORAN KULIAH LAPANGAN PANGANDARAN
       BIOSISTEMATIKA (BI-2104)




              Disusun oleh :
            Nur Syifa Rashida
                10609032


                 Asisten
             Tri Cita Hutomo
        Okta Noviantina (10607050)




        PROGRAM STUDI BIOLOGI
  SEKOLAH ILMU DAN TEKNOLOGI HAYATI
     INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
                  2010
                                         BAB I
                                   PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang
      Indonesia adalah negara kepulauan yang sangat tinggi keanekaragaman hayatinya.
Diversitas, varietas dan variabilitas hewan dan tumbuhan merupakan hal yang paling utama
dalam hidup, yang merefleksikan kompleksitas, keunikan, keutuhan ekosistem alam
(Mohammad, 2010). Tetapi dari semua keanekaragaman tersebut, masih banyak yang belum
teridentifikasi. Oleh karena itu, dilakukan kuliah lapangan biosistematika ke Pangandaran
yang memiliki ekosistem yang beragam.
      Pangandaran dipilih sebagai objek pengamatan karena merupakan sebuah taman wisata
alam yang memiliki diversitas hewan dan tumbuhan yang sangat tinggi. Taman Wisata Alam
Pangandaran memiliki berbagai flora dan fauna langka seperti Bunga Raflesia Padma,
banteng, rusa, dan berbagai jenis kera. Hutan wisata pangandaran juga berfungsi sebagai
kawasan konservasi. Kawasan ini mempunyai fungsi sebagai penyedia sumber plasma nutfah
yang dapat dilakukan untuk kegiatan sebagai penelitian, pendidikan menunjang kegiatan
pengembangan budi daya flora dan fauna, serta kegiatan-kegiatan lain yang berkaitan dengan
sosial budaya.
      Kuliah lapangan perlu dilakukan sebagai sarana penunjang pembelajaran materi
perkuliahan dan praktikum biosistematik yang telah dijalani selama satu semester. Kuliah
lapangan juga berfungsi untuk mempelajari suatu ekosistem dan spesies yang ada di
dalamnya dengan lebih nyata dan gamblang.




1.2 Tujuan
2   Menentukan spesies yang dominan yang terdapat pada Cagar Alam Pangandaran.
3   Menentukan spesies yang unik pada ekosistem estuari.
                                            BAB II
                                     TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Pangandaran
       Pangandaran merupakan sebuah taman wisata alam yang terletak di Desa
Pangandaran, Kecamatan Pangandaran, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Wilayah ini terletak
pada kawasan hutan wisata seluas 37,70 ha dan berada dalam pengelolaan SBKSDA Jawa
Barat II. Taman Wisata Alam Pangandaran memiliki berbagai flora dan fauna langka seperti
Bunga Raflesia Padma, banteng, rusa, dan berbagai jenis kera. Taman Wisata ini terletak
berhimpitan dengan kawasan konservasi Cagar Alam Pangandaran. Secara geografis, tempat
ini terletak pada 7o 30’ LS dan 108o 30’ BT. Wilayah ini terletak pada ketinggian 0 sapai
dengan 75 meter diatas permukaan laut. Luas Blok Pemanfaatan adalah sekitar 20 ha.
       Keadaan tropografi Taman Wisata Alam Panga ndaran bervariasi mulai dari landai
hingga berbukit. Jenis tanah didaerah ini adalah jenis podsol kuning, podsol kuning merah,
latosol coklat, dan lotosol. Taman Wisata Alam Pangandaran bersuhu sekitar 25 o C – 30o C,
memiliki kelembabab udara 80%-90% dengan curah hujan rata-rata 3196 mm/tahun. Curah
hujan di daerah ini paling tinggi terjadi pada bulan Oktober hingga Maret, sedangkan curah
hujan terendah terjadi pada bulan Juli sampai September. Air pada kawasan taman wisata ini
berasal dari sumber mata air Sungai Cikamal dan Sungai Cirengganis. Walaupun pada musim
kemarau, kedua sungai ini tidak pernah kering.
       Kawasan TWA Pangandaran terbagi menjadi beberapa tipe ekosistem yaitu:
Pantai pasir putih timur dan barat merupakan pantai dengan hamparan lautnya yang luas dan
didominasi oleh terumbu karang yang ditumbuhi oleh biota laut sebagai sarana bagi
pendidikan dan penelitian biota laut serta kegiatan menyelam ataupun snorkelling.


1.     Hutan pantai (Beach forest)
Terletak di tepi pantai, hutan pantai adalah hutan dengan formasi barringtonea yang
didominasi oleh tumbuhan jenis Butun (Barringtonia asiatica), Nyamplung (Callophylum
innophylum), Pandan laut (Pandanus tectorius) dan Waru laut ( Hibiscus tilliceus).
Daerah pantai merupakan perbatasan antara ekosistem laut d an ekosistem darat. Karena
hempasan gelombang dan hembusan angin maka pasir dari pantai membentuk gundukan ke
arah darat. Setelah gundukan pasir itu biasanya terdapat hutan yang dinamakan hutan pantai.
Hutan pantai merupakan landasan yang sempit dari area atau tanah hutan di sepanjang pesisir
pantai.
2.        Ekosistem lamun (Seagrass ecosystem)
Lamun berada di pesisir pantai putih pangandaran dengan pasirnya yang halus dan berwarna
putih. Air lautnya bersih dengan berbagai fauna dari golongan mollusca, seperti bivalvia dan
gastropoda serta hewan aquatik lainnya seperti bulu babi, kepiting, udanf, bintang mengular,
dan bintang laut yang indah. Berbagai terumbu karang juga mendominasi kawasan ini.
Ganggang laut dan rumput laut (Thalassia sp) juga banayk ditemukan di lamun.
Lamun (Seagrass) adalah satu-satunya kelompok tumbuh-tumbuhan berbunga yang hidup di
lingkungan laut. Padang lamun merupakan tempat berlindung dan tempat mencari makan
ikan, vertebrata, dan sebangsanya. Ekosistem ini berinteraksi dengan terumbu karang dan
mangrove.
3.        Hutan dataran rendah (lowland forest)
Kondisi hutan adatran rendah didominasi oleh jenis tumbuhan alam mulai tumbuhan bawah
hingga pepohonan, epifit dan parasit dengan diameter pohon 50 cm atau lebih, seperti
kokosan monyet, laban, marong, dan kisegel. Fauna yang terdapat di kawasan ini seperti
Macaca fascicularis, dan Tupaii javanica.
Hutan ini terletak di sebelah pesisir pantai. Pada hutan di TWA Pangandaran ini terdapat gua-
gua, baik gua buatan maupun gua yang terbentuk secara alami.
4.        Hutan wisata
Hutan wisata masih merupakan jenis hutan dataran rendah, hanya saja hutan ini khusus
dikelola untuk tujuan wisata. Sehingga pemeliharaan hutan ini berbeda dengan hutan dataran
rendah yang telah disebutkan di atas yang dibiarkan tumbuh secara alami.
5.        Padang Cikamal
Padang cikamal adalah padang rumput seluas 20 ha atau biasa disebut juga dengan padang
penggembalaan. Didominasi oleh pepohonan yang tak terlalu tinggi, perdu, herba, dan
rerumputan, seperti Melastomaceae malabathricum, rumput teki (Kyllinga monocephala), dan
alang-alang (Impenata cylindrica). Fauna yang dominan adalah banteng (Bos javanicus), rusa
(Cervus timorensis), dan insekta kecil seperti belalang dan jangkrik, dan burung-burung
seperti Burung Kangkareng (Antharacoceros convexus) dan rangkong (Buceros rhinoceros).
Cikamala merupakan padang penggembalaan. Ekosistem ini berupa padang rumput dan
semak yang cukup luas terhampar di puncak bukit.
6.        hutan bukit
hutan bukit adalah hutan yang berada di daerah pegunungan dimana temperaturnya yang
cukup rendah. Pohonnya tinggi-tinggi dengan batangmya yang kurus dan memnajang, daun
bermebun dan didominasi oleh liana dan Psychotria montana. Banyak terdapat fauna jenis
reptil seperti kadal. Dan juga insekta kecil.
hutan bukit atau hutan dataran tinggi terletak di sebelah atas padang cikamal. Pohon-pohon
pada kanopi membentuk lapisan yang paling atas.
7.       Estuari
Estuari berasal dari kata aetus yang artinya pasang-surut. Estuari didefinisikan sebagai badan
air di wilayah pantai yang setengah tertutup, yang berhubungan dengan laut bebas. Oleh
karena itu ekosistem ini sangat dipengaruhi oleh pasang surut dan air laut bercampur dengan
air darat yang menyebabkan salinitasnya lebih rendah daripada air laut. Muara sungai, rawa
pasang-surut, teluk di pantai dan badan air di belakang pantai pasir temasuk estuari.
Lingkungan estuari umumnya ditumbuhi dengan tumbuhan khas yang disebut mangrove.
Tumbuhan ini mampu beradaptasi dengan genangan air laut yang kisaran sainitasnya cukup
lebar. Sebagai lingkungan pearairan yang mempunyai kisaran salinitas yang cukup lebar,
estuari mmenyimpan berjuta keunikan yang khas. Hewan- hewan yang hidup pada lingkungan
perairan ini adalah hewan yang mampu beradapatasi dengan kisaran salinitas tersebut. Dan
yang paling penting adalah lingkungan perairan estuari merupakan lingkungan yang sangat
kaya akan nutrien yang menjadi unsur terpenting bagi pertumbuhan phytoplankton. Kawasan
estuari digunakan sebagai daerah istirahat bagi perjalanan panjang jutaan burung dalam
upayanya mencari daerah yang ideal untuk perkembangannya. Sebagai kawasan yang sangat
kaya akan unsur hara, estuari dikenal dengan sebutan daerah pembesaran (nursery ground)
bagi berjuta ikan, invertebrata (Crustacean, bivalvia, echinodermata, annelida, dan masih
banayk lagi kelompok infauna).


     2.2 Konsep Tentang Taksa
     2.2.1 Tumbuhan

     Tumbuhan adalah organisme yang termasuk dalam kingdom Plantae. Di dalamnya
     terdapat banyak organisme yang dikenal seperti pepohonan, rerumputan, paku-pakuan,
     lumut, semak dan sebagainya. Tumbuhan bersifat autotrof yaitu menghasilkan
     makanannya sendiri dari bahan organik d engan bantuan cahaya matahari. Namun ada juga
     sebagian kecil yang heterotrof. Karena autotrof maka umumnya tumbuhan memiliki
     kloroplas untuk memproses makanannya. Hidupnya menetap karena tidak memiliki organ
    gerak, tumbuh di suatu substrat dengan ukuran & bentuk sesuai dengan kondisi
    lingkungannya, tumbuhan juga tidak memiliki sistem saraf sehingga kurang peka terhadap
    rangsang. tumbuh-tumbuhan dapat dibagi menjadi beberapa divisi, antara lain :


   Divisi Thallophyta : tumbuhan yang memiliki thallus termasuk diantaranya adalah
    golongan jamur / fungi, bakteri dan ganggang / alga.


   Divisi Bryophyta : meliputi golongan lumut- lumutan

   Divisi Pteridophyta : meliputi golongan paku-pakuan


   Divisi Spermatophyta : meliputi golongan tumbuhan berbiji baik tumbuhan berbiji keping
    satu (monokotil) maupun dua (dikotil)

    Berdasarkan morfologi atau susunan tubuh tumbuhan bisa dibedakan lagi atas dua jenis
    kelompok, yakni :

   Thallophyta : Tumbuhan yang belum memiliki daun, akar dan batang yang jelas.


   Cormophyta : Tumbuhan yang batang, akar dan daun sudah jelas yang meliputi tiga divisi
    selain thalophita yaitu bryophita, pteridophita dan spermatophita.

    2.2.2 Amfibi
    Amfibi terdiri atas 3 ordo, yaitu Caudata, Gymnophiona (Sesilia), dan Anura atau katak.
    ordo Caudata dan Gymnophiona jarang ditemukan di Asia tenggara, sedangkan Anura
    sangat umum ditemukan di Indonesia. Katak mudah dikenali dari tubuhnya yang tampak
    seperti berjongkok dengan empat kaki untuk melompat, leher tidak jelas, dan tanpa ekor.
    Kaki belakang lebih panjang dari kaki depannya. Matanya sangat besar (relatif terhadap
    tubuhnya), dengan pupil mata horizontal atau vertikal. Beberapa jenis katak emiliki pupil
    berbentuk berlian atau segi empat. Beberapa karakter morfologi yang perlu diperhattikan
    pada katak di antaranya ujung jari, selaput di antara jari, kulit tubuh (tekstur maupun
    struktur khusus pada kulit, seperti lipatan), gigi. Kondisi bagian-bagian tubuh ini
    menggambarkan karakter kualitatif dari katak. Amfibi merupakan hewan vertebrata yang
    hidup di dua alam; yakni di air dan daratan. Amfibi memilki kulit yang berlendir dan
    merupakan hewan yang berdarah dingin. Amfibi bekembang biak dengan pembuahan
    eksternal. Jantung amfiibi terdiri atas tiga ruang yakni dua serambi dan satu bilik.
2.2.3 Burung
Burung (aves) adalah organisme dalam golongan vertebrata. Menurut teori evolusi burung
merupakan kerabat dekat reptilia. Ada lebih dari 9000 spesies burung diseluruh dunia dan
dibagi menjadi 30 ordo berdasarkan kesamaan karakteristik struktur anatomi, morfologi
dan material genetiknya. Secara anatomi hampir setiap bagian tubuhnya termodifikasi
untuk meningkatkan kemampuan terbang. Tulang-tulang burung memiliki struktur internal
seperti spons yang terhubung dengan pundi pundi udara untuk membantu pernafasan
selama terbang, dengan rangka yang memiliki rentang sayap yang relatif panjang
dibanding dengan panjang tubuhnya. Ciri khas utama burung adalah bulu sebagai bagian
penutup tubuh yang membentuk tubuh menjadi aerodinamis, juga sebagai isolator untuk
menjaga panas tubuh karena burung tergolong hewan endotermik.
2.2.4 Mamalia
Mamalia merupakan binatang menyusui yang merupakan kelompok kelas hewan
vertebrata yang bercirikan adanya kelenjar susu. Kelas Mamalia tersebar atas 46 ordo 425
famili dan lebih dari 5000 genus. Ciri yang dimiliki mamalia antara lain : Tubuh biasanya
diliputi bulu atau rambut yang lepas secara periodik, kulit banyak yang mengandung
kelenjar, yaitu kelenjar sebaceous, keringat, dan susu. Memiliki alat pendengar berupa
daun telinga. Memiliki 4 anggota gerak atau kaki. Jantung sempurna terbagi atas empat
ruangan (dua atrium, dua ventrikel). Eritrositnya tidak berinti, biasanya bulat. Bernafas
dengn pulmo (paru-paru). Suhu tubuh teteap (homoiothermis). Fertilisasi terjadi di dalam.
Telur memiliki membran embrionik (amnion, chorion, dan alanthois). Umumnya hewan
mamalia merupakan turunan dari monotremata dan hewan berplasenta atau berka ntung
(therian).
2.2.5 Ikan
Ikan merupakan hewan vertebrata yang hidup di daerah perairan. Klasifikasi ikan dibagi
atas dua kelompok besar yakni Agnatous dan Gnasthostomous. Agnatous memilki ciri
utama tidak memilki rahang dan alat gerak berpasangan. Agnathous terdiri dari dua kelas
yaitu kelas myxini yaitu yang memilki empat pasang tentakel pada mulutnya dan kelas
Cephalaspidomorphi yakni memilki tipe mulut penghisap. Sedangkan Gnathostomous
memilki ciri utama memilki rahang dan alat gerak yang berpasangan. Gnathostomous
terdiri dari dua kelas yakni Chondrichthyes atau yang kerangkanya tersusun dari tulang
rawan dan memilki sirip ekor dengan lobus bagian atas yang lebih besar, tidak memilki
kantung renang atau paru-paru. Sedangkan Osteichthyes memilki karakter kerangka yang
tersusun dari tulang, Memilki operkulum dan insang. Ikan bernafas dengan menggunakan
insang akan tetapi pada ikan jenis mamalia bernafas dengan menggunakan paru-paru. Ikan
juga merupakan hewan berdarah dingin akan tetapi ada beberapa jenis ikan yang
merupakan ikan berdarah panas terutama pada ikan jenis mamalia.. Sirip digunakan ikan
untuk berenang dengan cepat di air. Sebagian besar ikan berkembang biak dengan cara
bertelur.
2.2.6 Serangga
Insecta (serangga) merupakan bagian dari Filum Arthropoda, yaitu kelompok hewan yang
memiliki kaki dan badan yang bersegmen, serta eksoskeleton. Filum Arthropoda sendiri
terdiri atas 4 kelas, yaitu Crustacea, Myriapoda, Arachnida, dan Insekta. Secara umum
serangga dibagi menjadi sekitar 29-30 ordo. Serangga secara umum dapat dikenali melalui
3 bagian tubuhnya yaitu kepala, thorax dan abdomen. Di kepala terdapat sepasang antenna
sebagai alat peraba dan pencium, dan sepasang mata faset. Serangga pada umumnya
bertelur, yamg diletakkan satu-satu atau perkelompok. Telurnya diletakkan ke dalam suatu
kotak bernama ooteka. Serangga betina biasanya dilengkapi dengan ovipositor, yaitu alat
untuk meletakkan telur. Telur akan menetas menjadi larva yang bentuknya sangat berbeda
dengan serangga dewasa. Setelah beberapa kali berganti kulit, larva akan berkembang
menjadi kepompong dan keluar menjadi serangga dewasa. Daur hidup yang mengalami
kepompong disebut metamorfosis sempurna. Contoh serangga yang mengalami
metamorfosis sempurna adalah kupu-kupu, lalat, dan kumbang. Pada metamorfosis tidak
sempurna, telur akan menetas menjadi anakan yang menyerupai serangga dewasa yang
disebut nimfa. Setelah beberapa kali berganti kulit, nimfa akan berkembang menjadi
serangga dewasa. Contoh serangga yang mengalami metamorfosis tidak sempurna adalah
belalang dan jangkrik.
Sebagian besar serangga adalah pemakan tumbuhan, biji-bijian, serangga lain, darah
manusia dan binatang lain. Serangga dapat hidup secara soliter maupun berkoloni.
Serangga dapat ditemukan di berbagai habitat lingkungan hidup, baik daratan maupun
perairan. Di darat serangga dapat hidup di pohon, semak, permukaan maupun dalam tanah,
atau hidup parasit di binatang lain.
2.2.7 Moluska
Moluska adalah salah satu kelompok binatang invertebrata atau binatang tidak bertulang
belakang. Kata moluska berasal dari kata latin mollis yang berarti lunak. Tubuh moluska
yang lunak dapat memproduksi zat kapur yang kemudian membentuk cangkang yang
keras dan berfungsi sebagai pelindung tubuhnya. Moluska merupakan hewan triploblastik
selomata. Tubuh moluska tidak bersegmen dan merupakan hewan yang simetri bilateral.
Memiliki kaki yang dipakai untuk bertahan di substrat. Anato mi dari moluska mirip
dengan vertebrata dan sering dikaitkan dengan adanya hubungan evolusi.
Moluska menempati habitat yang beragam yaitu darat, sawah, danau, sungai, muara
sungai (estuari), hutan bakau, padang lamun, terumbu karang, dan laut dalam. Beberapa
jenis moluska dapat dikonsumsi oleh manusia sebagai salah satu sumber protein hewani.
Moluska berkembangbiak dengan cara bertelur, dan ada juga yang melahirkan seperti
gastropoda famili Viviparidae dan Thiaridae.
Filum moluska terbagi menjadi 8 kelas, antara lain Caudofoveata, Aplacophora,
Polyplacophora, Monoplacophora, Bivalvia (kerang-kerangan), Scaphopoda, Gastropoda
(siput-siputan), Cephalopoda (gurita, cumi-cumi, dan sotong).
2.2.8 Echinodermata
Echinodermata berasal dari kata Echios yang berarti duri, dan dermal yang berarti kulit.
Echinodermata merupakan hewan yang memiliki habitat di laut, serta tubuhnya memiliki
simetri radial. Hewan ini sudah memiliki sistem pencernaa n yang. Sistem gerak dengan
menggunakan kaki ambulakral. Secara umum, echinodermata mempunyai 5 lengan dan
mempunyai kemampuan autotomi, yaitu ekmampuan untuk membentuk kembali organnya
yang terputus. Echinodermata bernapas melalui insang. Sistem syaraf be rupa cincin syaraf.
Reproduksi secara generatif. Filum Echinodermata dibagi menjadi 5 kelas yaitu :
Asteroidea (bintang laut), Ophiuroidea (bintang ular laut), Crinoidea (lili laut),
Echinoidea, Holothuroidea.
2.2.9 Alga
Alga termasuk kedalam domain Eucarya. Alga dibagi atas alga prokariotik dan alga
eukariotik. Cynaobacteria (alga hiaju-biru) adalah contoh dari alaga prokariotik.
Sedangkan alga eukariotik contohnya adalah Chlorophyta, Phaeophyta, Chrysophyta,
Rhodophyta, Euglenophyta, Pyrrophyta(Dinoflagelata) dan Cryptophyata. Pengelompokan
ini didasari atas komposisi pigmen, komponen dinding sel, jumlah flagelata, sistem
reprodukasi dan jenis cadangan karbohidratnya. Alga memiliki kekerabatan yang dekat
dengan tumbuhan karena memilki klorofil sehingga organisme ini bersifat autotrof sama
seperti tumbuhan.
                                           BAB III
                                   METODOLOGI
3.1 Waktu penelitian
3.1.1   Waktu pengamatan
          Tanggal            Kegiatan                           Waktu kegiatan

          26 November 2010   Mengamati         burung      di 05.00-07.00
                             ekositem pantai pasir putih
                             Sampling invertebrata,Algae        07.00-09.00
                             dan Ikan di ekosistem pantai
                             pasir putih
                             Sampling       serangga     dan 13.30-15.30
                             pemasangan pit fall trap di
                             ekosistem padang rumput
                             cikamal
                             Mengamati burung sore di 15.45-17.30
                             ekosistem hutan pantai

                             Mengamati               Mamalia    19.00-21.00
                             noktural       dan      sampling
                             herpetofauna di sungai dan
                             gua
          27 November 2010   Mengamati        Burung     dan 04.50-07.00
                             Vertebrata lain di Rengganis
                             Eksplorasi, pengamatan dan 07.00-13.00
                             sampling flora dan fauna di
                             ekosistem      hutan     dataran
                             rendah
                             Sampling serangga pada pit 13.00-15.00
                             fall trap di ekosistem padang
                             rumput cikamal
                             Sampling      herpetofauna di 19.00-21.00
                             sungai dan pemasangan light
                                traps di rengganis


3.1.2   Waktu analisis dan penyusunan laporan
           Tanggal              Kegiatan                          Waktu kegiatan

           26 November 2010     Preservasi sample Algae,          11.00-12.00
                                Invertebrata Laut, dan Ikan

           27 November 2010     Preservasi sampel                 16.00-18.00

           1 Desember 2010- Mendeskripsikan spesimen
           17 Desember 2010     yang                   tersisa,
                                mengidentifikasi spesimen,
                                mengawetkan          spesimen,
                                dan mendisplay spesimen

           1 Desember 2010- Pembuatan Laporan
           17 Desember 2010



3.2 Metode pengamatan burung dan mamalia
   3.2.1 Burung
   Burung diamati di pantai pasir putih dan di hutan pantai dengan menggunakan binokuler
   pada pagi dan sore hari. Karakter morfologi burung yang terlihat dicatat dan digambar
   atau difoto. Selanjutnya, diidentifikasi menggunakan buku acuan.
   3.2.2 Mamalia
   Mamalia yang jaraknya jauh untuk diamati, seperti contohnya di atas pohon, diamati
   menggunakan binokular. Untuk yang jaraknya dekat, dapat langsung diamati, difoto,
   dicatat karakter morfologinya. Pengamatan mamalia bisa dilakukan di siang hari maupun
   di malam hari karena mamalia ada yang hidup nokturnal (aktif di malam hari) dan aktif di
   siang hari. Selanjutnya mamalia diidentifikasi dengan menggunakan buku acuan.


3.3 Pengamatan koleksi dan preservasi herpetofauna
    3.3.1 Koleksi
Koleksi herpetofauna dilakukan pada malam hari. Alat-alat yang dibutuhkan adalah
headlamp, blowpipe (Karet gelang), dan tongkat ular. Headlamp diposisikan berada di
antara allis agar cahaya lampu yang dipantulkan oleh mata hewan dapat teramati dengan
mudah. Blowpipe digunakan untuk menembak hewan yang berada di atas pohon agar
jatuh. Tongkat ular dipakai untuk menangkap ular berukuran besar. Setelah hewan
ditangkap, hewan dimasukkan ke dalam plastik yang diberi substrat dan sedikit air untuk
kelas amphibi. Dan kantong kain untuk Kelas Reptilia.

3.3.2 Pengamatan

Metode pengamatan yang dilakukan adalah VES (Visual Encounter Survey). Keadaan
awal lingkungan ketika dimulai pengamatan, dan keadaan akhir lingkungan per lu dicatat.
Selanjutnya, saat spesimen ditemukan, hal yang perlu dicatat adalah waktu ditemukan,
jenis hewan, jenis kelamin, SVL, dan substrat tempat hewan ditemukan.

3.3.3 Pengawetan

Spesimen dibunuh dengan cara menyuntikkan alkohol 96% atau formalin 4% p ada
bagian tengkuk spesimen agar larutan alkohol atau formalin dapat langsung mencapai
otak. Segera setelah penyuntikkan, dilakukan pengaturan posisi tubuh spesimen agar
mudah untuk dideskripsi dan diidentifikasi. Setelah itu, pengawetan dapat dilakukan
dengan cara merendam tubuh spesimen pada cairan alkohol 70% atau formalin 4%. Pada
botol tempat awetan spesimen disimpan, diberi keterangan seperti yang tertera di label
etiket.

3.4 Pengamatan, koleksi, dan preservasi ikan, alga, dan inve rtebrata laut
3.4.1 Koleksi Alga
Alga dan rumput laut yang berada di perairan ditangkap secara aktif. Alga dipilih yang
sudah lengkap dan dewasa untuk dikoleksi agar memudahkan identifikasi dan deskripsi.
Pengkoleksian dilakukan mulai dari tepi pantai hingga tubir, dan ditarik garis lurus.
3.4.2 Pengamatan dan Koleksi Ikan
Spesimen ditangkap dengan mengguanakan saringan ikan di sekitar terumbu karang.
Spesimen disimpan sementara di plastik yang berisi air. Lalu dibuat catatan yang isinya
berisi informasi seperti pada label etiket.
3.4.3 Koleksi dan Preservasi
Spesimen dimasukkan ke dalam alkohol 70% atau formalin 4% untuk membunuh
spesimen tersebut. Setelah itu, spesimen diidentifikasi dan dideskripsi. Lalu, spesimen
didisplay dan diberi keterangan seperti pada label etiket.




3.5Koleksi Serangga
3.5.1 Pengambilan langsung
Alat yang digunakan pada metode pengambilan langsung adalah sweeping net. Sweeping
net dipakai untuk menangkap serannga yang terbang, khususnya ordo lepidopptera dan
odonata. Spesimen yang tertangkap dibunuh dengan cara menekan thoraxnya, kemudian,
dimasukkan ke kertas samson agar sayap spesimen tidak rusak. Untuk spesimen kupu-
kupu, didisplay di spreading board agar sayap terlihat jelas dan tidak rusak.
3.5.2 Pit Fall Trap
Pada metode Pit Fall Trap digunakan cup plastik yang dimasukan ke lubang dalam
tanah, lalu cup diisi oleh alkohol / kloroform sebanyak 1/3 bagian. Sekitar cup dibuat
sedemikian rupa sehingga tersamarkan dengan lingkungan sekitar. Diatas cup diberi atap
agar cup tidak kehujanan.
3.5.3 Light Trap
Perangkat Light Trap dipasang di malam hari dari mulai senja hingga terbit fajar.
Serangga nokturnal (aktif pada malam hari) akan tertarik oleh cahaya lampu yang
dikeluarkan dari light trap dan mendekati cahaya lampu. Ketika light trap telah dicapai
maka serangga akan terbentur oleh dinding dan jatuh ke dasar yang telah diisi oleh
alkohol. Serangga yang terperangkap lalu diambil pada pagi hari.
3.5.4 Fogging
Alat fogging dinyalakan kemudian digantungkan pada dahan pohon.Serangga yang
berada di sekitar blower akan pingsan akibat asap/kabut yang keluar dari blower.
Serangga yang terkumpul kemudian dimasukan dalam botol atau kertas samson sesuai
dengan ordo masing- masing serangga.
3.5.6     Pengamatan di ekosistem pilihan
Pada pengamatan di ekosistem pilihan metode yang dilakukan berdasarkan taksa yang
ada. pengamatan kelompok dua dilakukan di estuari sehingga taksa yang dapat diamati
adalah serangga, amphibi, reptil, tumbuhan dan mamalia. Untuk metode pengamatan,
koleksi dan preservasi serangga, burung, dan mamalia sudah di bahas pada subbab
sebelumnya.
                                         BAB IV
                     HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN


4.1 Spesies Umum di Pangandaran

   Berikut merupakan rekapitulasi jumlah spesies yang disampling dan diamati oleh seluruh
   kelompok kuliah lapangan biosistematik.

                                Taksa        Jumlah Spesies
                          Amphibi                         11
                          Aves                            33
                          Mamalia                         10
                          Chromista                        3
                          Plantae                        128
                          Arthropoda                     213
                          Reptilia                         9
                          Mollusca                        51
                          Pisces                           7
                          Echinodermata                    4
      Tabel 4.1 Tabel Jumlah Spesies yang Diamati dan Disampling di Pangandaran




     Diagram 4.1 Diagram Jumlah Spesies yang Diamati dan Disampling di Pangandaran
   4.1 Penjelasan Spesies Umum yang Terdapat di Pangandaran
          Mamalia dan Burung
     Burung yang sering ditemukan di Pantai Pasir putih adalah Burung Kuntul Karang
     (Egretta sacra), dan Burung Cikalang kecil (Fregata ariel). Burung-burung tersebut
     berhabitat di daerah pesisir. Burung-burung ini kadang bertengger di batu karang untuk
     mengintai mangsanya. Makanan utamanya adalah ikan, dapat dilihat dari struktur paruh
     dan kakinya yang mendukung untuk memangsa ikan di laut. Ukuran tubuhnya yang
     relatif besar, pola terbangnya yang mengikuti angin, adalah suatu bentuk adapatsi
     morfologi untuk dapat hidup di habitat pesisir pantai.aktivitas burung-burung ini
     cenderung aktif di pagi hari dan sore hari

Mamalia yang ditemukan di Pangandaran diantaranya Macaca fascicularis (monyet), Cervus
timorensis (rusa), kelelawar, lutung, tupai, Tragulus javanicus (kancil), Hystrix javanica
(landak), dll. Karakter morfologi mamalia diantaranya : badan ditutupi oleh bulu, mempunyai
cuping telinga, mempunyai kelenjar mamae, mamalia betina melahirkan dan menyusukan
anak, bernafas melalui paru-paru, dan merupakan hewan homoiterm. Karakter morfologi ini
mendukung karakter ekologi tempat hewan tersebut tinggal. Macaca sp, merupakan mamalia
yang tinggal secara berkoloni di CA/TWA Pangandaran. Makanannya bervariasi mulai dari
serangga, kepiting, dedaunan, bunga, buah, sampa i dengan jamur, disesuaikan dengan
keanekaragaman habitatnya. Macaca merupakan hewan diurnal (aktif di siang hari) dan tidak
terlihat menampakkan diri saat malam hari.


   4.2 Penjelasan Spesies yang Terdapat di Ekosistem Estuari
   1. Tumbuhan
   Taksonomi
   Kingdom : Plantae
   Divisi : Magnoliophyta
   Kelas : Magnoliopsida
   Ordo : Malvanales
   Famili : Malvaceae
   Genus : Thespesia                              (Keena, 2000)
   Spesies : Thespesia populnea
   Karakter morfologi : pohon tinggi 2-10 m, daun bertangkai panjang, bentuk bulat telur,
   rata 7-24 kali 5-16 cm. Rata seperti kulit pada pangkalnya. Daun muda bersisik coklat
rapat. daun kelopak tambahan 3, sangat kecil, cepat ro ntok. kelopak berbentuk seperti
mangkok, 12-14 mm panjangnya. Mahkota berbentuk lonceng, panjangnya 6-7 cm.
Kuning muda di tengah ungu, berbintik tua, kemudian berubah menjadi merah, dengan
getah kuning. Tabung benang sari lebih pendek dari mahkota, lurus, seluruhnya tertutup
dengan kepala sari. bakal buah beruang 5, dengan getah kuning, ruang bakal berbiji 4.
-buah berbentuk bola pipih sampai bentuk telur lebar, diameter 2,5-4,5 cm. Biji berambut
tumbuh di daerah pantai yang tidak berawa, di sebelah dalam dari hutan pasang.


2. Mamalia
   Taksonomi
   Kingdom : Animalia
   Filum : Chordata
   Kelas : Mamalia
   Ordo : Artiodactyla
   Famili : Cervidae
   Genus : Cervus                               sumber :
   Spesies : Cervus timorensis
   Deskripsi : Rusa memiliki bulu coklat yang dominan, dengan warna putih di bagian
   ekor dan bawah perut. Rusa jantan umumnya lebih besar dari betina dan memiliki
   tanduk yang bercabang. Rusa memiliki tinggi badan 91-102 cm dengan berat badan
   103-105 kg.
   Perilaku : Rusa hidup secara soliter, namun kadang berkelompok. Di dalam koloni,
   rusa betina sering terlihat sedang mancari makan bersama anaknya. Rusa aktif pada
   siang hari dan malam hari, tetapi pada malam hari, rusa lebih suka bebrsembunyi.
   Rusa sudah teradaptasi dengan lingkungan yang didominasi manusia, sehingga tidak
   takut lagi terhadap keberadaan manusia.
   Ekologi : Pada pengamatan mamalia di TWA-CA Pangandaran, rusa ditemukan di
   estuari, hutan dataran rendah dan hutan wisata.
   Persebaran geografis : tersebar dari Jawa ke arah timur menuju Bali, dan Timor di
   Indonesia. Terdapat juga di daerah India dan daratan Australia.


3. Aves di pantai pasir putih
Taxonomi :
Kingdom : animalia
Filum : Chordata
Kelas : Aves
Ordo : ciconiiformes
Famili : ardeidae
Genus : Egretta                                  (Wilson, 2002)
Spesies : Egretta sacra
Nama lain : Kuntul karang
Deskripsi : berukuran agak besar (38cm) berwarna putih atau abu-abu arang. Dijumpai
dalam 2 bentuk warna. Warna yang lebih umum adalah abu-abu merata dengan jambul
pendek dan dagu keputihan (sering tidak terlihat di lapangan) perbedaannya dengan
kuntul besar : ukuran lebih besar, kepala dan leher lebih langsing; dengan kuntul lainnya :
tungkai kehijauan dan relatif lebih pendek. Paruh pucat, iris kuning, paruh kuning pucat,
kaki hijau.
Suara         : Kuakan mendengkur parau sewaktu dan “arrrk “ ketika terkejut
Penyebaran global: kawasan pesisir asia timur, pasifik barat, dan Indonesia sampai
P.Irian, Australia< dan Selandia Baru
Penyebaran lokal dan status: trdapat di seluruh Sunda Besar. Umumnya terdapat di
terumbu karang (bila air surut) dan pantai pasir di pulau-pulau lepas pantai
Kebiasaaan: Hampir selalu ditemukan di sepanjang pantai. Beristirahat pada karang, atau
pada pinggirnya yang curang. Berburu di tepi air, memangsa ikan kecil sambil berdiri
diam atau berjalan-jalan di air dangkal. Jarang ditemukan di gosong pasir di muara
sungai. Bersarang di atas tanah pada tumpukan karang, di atas semak, atau pada pohon
pendek.
Lokasi penangkapan: pantai pasir putih PANGANDARAN


4. Reptilia di Estuari
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Reptilia
Ordo : Squamata
Famili : Agamidae
Genus : Draco                                    sumber : commons.wikimedia.org
Spesies : Draco volans
Lokasi ditemukan : hutan dataran rendah
   Deskripsi : Tubuh bagian dorsal berwarna abu-abu dengan corak gelap, bagian vebtral
   berwarna kecoklatan dengan abu-abu muda, bagian atas membran terbang pada jantan
   berwarna jingga, pada leher bagian dalam terdapat alur lingkaran berwarna hitam lunak
   membulat, jari kiri dan kanan berjumlah 5.
   Ekologi : ditemukan di zona intertidal pada tepi laut, dengan ketinggian 57 meter di atas
permukaan laut.
   Geografi : Terdapat di India, Kanada, Thailand, Vietnam, Singapura, Peru, Filipina, dan
Malaysia. Di Indonesia terdpat di pulau Jawa, Bali, Sulawesi, dan Kalimantan.
(zipcodezoo.com)
   Status konservasi : tidak dilindungi.


   5. Amphibia di Sungai Cikamal
       Taksnomi
    Kingdom : Animalia
    Filum : Chordata
    Kelas : Amphibia
    Ordo : Anura
    Famili : Megophryidae
    Genus : Leptobrachium                           (sumber : species.wikimedia.org)
    Spesies : Leptobrachium hasseltii
    Deskripsi : ditemukan di sungai, mata besar dan melotot, ujung jari berdiskus, berselaput,
    punggung berwarna kehitaman, dengan bercak-bercak bulat gelap, permukaan perut
    keputih-putihan dengan bercak hitam, timpanium tersembunyi. Habitat di genangan air
    dan tempat yang lembap. Memiliki mata di bagian dorsolateral kepala, menghadap ke
    depan. Mulut berada di bagian ventral menghadap ke bawah. Di ujung mulut terdapat
    “tonjolan” seperti bibir yang tebalnya 0,1 mm. Tonjolan tersebut memiliki 4 lipatan ke
    arah lateral. Bagian dalam mulut bergeligi banyak.
    Status konservasi : tidak dilindungi
   Geografi : terdapat di Indonesia, Malaysia, dan Thailand.


   6. Insecta
       Taksonomi
       Kingdom : Animalia
       Filum : arthropoda
       Kelas : Insecta
       Ordo : Blattodea
       Famili : Blaberidae                               sumber :
       Genus : Pycnoscelus
       Spesies : Pycnoscelus surinamensis
       Deskripsi : berwarna coklat kehitaman, dengan kepala yang bersinar kehitaman.
       pemakan tumbuhan, merayap di tanah, reproduksinya parthenogenetic. Jarang
       ditemukan spesies jantan. Kecoak dewasa dapat hidup selama satu tahun,
       Ekologi : Pada perumahan, dibawah kayu yang lembap,
       Geografi : merupakan hewan asli Indo-Malaysia. (godofinsects.com)


   7. Tectus niloticus
   Taksonomi:
   Kingdom : Animalia
   Filum : Mollusca
   Kelas : Gastropoda
   Ordo : Vetigastropoda
   Famili : Trochidae
   Genus : Tectus
   Spesies : Tectus niloticus                     sumber :
   Deskripsi : ukuran 31 mm. Putaran dekstral. Hiasan cangkang berupa bintil garis sejajar
   sealur dengan putaran cangkang. Pusat cangkang berbentuk celah. Bentuk putaran
   menerus. Jumlah lingkaran cangkang 9 kali. Cangkang berwarna dasar putih tulang
   dengan bercak berwarna merah tua.


   8. Insecta
Taksonomi
Kingdom : animalia
Filum : arthropoda
Kelas : Insecta
Ordo : Lepidoptera
Famili : Nymphalidae
Genus : Cupha                               Sumber :
Spesies : Cupha arias
Deskripsi : Cupha arias ini mempunyai tipe mulut siphoning, dan tipe sayap sisik. Sayap
membentuk pola dimana bagian pinggir, sayap beerwarna coklat, bagian tengah kuning
muda, dan bagian dekat toraks berwarna kuning muda. Selain itu, terdapat bintik-bintik
coklat pada bagian pinggir sayap.
          (www.fimnh.ufi.edu/butterflies/neotropica)
    9. Alga
    Taksonomi
    Kingdom : Plantae
    Divisi : Phaeophyta
    Kelas : Phaeophyceae
    Ordo : Fucales
    Famili :Sargassaceae
    Genus : Turbinaria
Spesies : Turbinaria conoides
Deskripsi : Batang silindris, tegak, kasar, terdapat bekas-bekas percabangan. Holdfast berupa
cakram kecil dengan terdapat perakaran yang berekspansi radial. Percabangan berputar
sekeliling batang utama. daun merupakan kesatuan yang terdiri dari tangkai dan lembaran
Ekologi : Umumnya terdapat di daerah rataan terumbu, menempel pada batu.
Geografi : Tersebar luas di perairan Indonesia.
(iptek.net.id)
    10.
11. Molusca
Kingdom : animalia
Filum : Mollusca
Kelas : Gastropoda
Ordo : Archaeogastropoda
Famili : Trochidae
Genus : Trochus
Spesies : Trochus californicus
Deskripsi : ukuran cangkang besar kurang lebih 4 cm, putaran cangkang ke kanan.
Bentuk cangkang bulat. Pusar lebar, bentuk mulut cangkang lonjong dengan tipe tidak
menerus. Jumlah ulir 4,5.




Kingdom : animalia
Filum : Mollusca
Kelas : Gastropoda
Ordo : Sorbeoconcha
Famili : Cypraeidae
Spesies : Cypraea (Eosaria) annulus
Deskripsi : Berwarna hijau, putaran cangkang dekstral, ukuran sedang, bentuk mulut
perbani sempit, jenis pusar celah, memiliki cincin berwarna oranye.


Kingdom : animalia
Filum : Mollusca
Kelas : Gastropoda
Ordo : Pulmonata
Famili : camaenidae
Genus : Pseudopartula
Spesies : Pseudopartula galericulum
Deskripsi : putaran cangkang dekstral, berukuran kecil, bentuk mulut bundar, jenis pusar
celah, bentuk cangkang bulat, cangkang berwarna putih transparan, tipe mulut menerus
dengan jeda.


Kingdom : animalia
Filum : Mollusca
Kelas : Gastropoda
Ordo : Orthogastropoda
Famili : Haliotoide
Genus : Halliotis
Spesies : Halliotis dissona
Deskripsi : Kulit cembung, dibulatkan menjadi bentuk oval dan kerang mungkin sangat
melengkung atau sangat rata, berbentuk telinga dengan 2 atau 3 whorls. Tubuh lingkaran
memiliki serangkaian lubang empat sampai sepuluh, tergantung pada spesies-dekat
anterior margin. Teedapat insang dan operkulum.
Warna kulit sangat bervariasi dari spesies. Nacre yang warna-warni yang melapisi bagian
dalam dari cangkang bervariasi dalam warna dari putih keperakan, menjadi merah muda,
merah hijau merah, hingga Haliotis iris, yang memperlihatkan sebagian besar dalam biru,
hijau dan ungu.
Kira-kira 1/3 dari berat daging, 1/3 adalah jeroan, dan 1/3 adalah shell.
Distribusi : distribusinya di seluruh dunia, di sepanjang perairan pantai dari setiap benua,
kecuali pantai alantik amerika selatan, karibia, dan pantai timur amerika serikat. Sebagian
besar spesies ditemukan di perairan dingin, lepas pantai belahan selatan selandia baru,
afrika selatan dan australia, dan barat amerika utara dan jepang di belahan bumi Utaa.




Draco


Rana
Kingdom : animalia
Filum : Chordata
Kelas : Amphibia
Ordo : anura
Famili : Ranidae
   Genus : Rana
   Spesies : Rana chalconota
   Nama lain : kongkang kolam, polypedates junghuhni, rana tyleri.




   Tumbuhan di
   Kingdom : plantae
   Divisi : Magnoliophyta
   Kelas : Magnoliopsida
   Ordo : Lecythidales
   Famili : Lecythidaceae
   Genus : Barringtonia
   Spesies : Barringtonia asiatica
   Deskripsi : habitus pohon, tinggi 5-17 m. Daun duduk, bulat telur terbalik, bentuk
memanjang atau bentuk lanset, kerapkali dengan ujung dan pangkal membulat, 20-60 kali 10-
24 cm, yang besar kerapkali berselang dengan yang kecil, tepi rata, gundul, serupa kulit,
mengkilat. Daun penumpu kecil tak berarti, bunga beraturan, bertangkai panjang, dalam
pandan yyang etgak, di ujung berbunag 4-20. Daun pelindung dan anak daun pelindung kecil,
lekas rontok. Tabung kelopak bentuk corong, persegi empat, boleh dikatakan tidak muncul
lebih atas dari bakal buah, tinggi lk 1 cm, tepi sebelum mekar tertutup, kemudian bertaju 2-3.
Daun mahkota kebanyakan 4, pangkalnya melekat pada tabung benang sari, oval, lebar,
putih, panjang 5-8 cm. Benang sari dan tangkai putik putih dengan ujung merah. Tangkai
terluar panjang lk 10 cm. Yang terdalam lk 3 cm. Tonjolan dasar bunga datar. Bakal buah
kerapkali beruang 4. Tangkai putik panjang 12-15 cm. Buah serupa piramida lebar, bersegi
4, coklat, tinggi lk 10 cm. Denagn dinding tebal berupa serabut kayu. Taju kelopak dan
tangkai putik panjang dan tetap tunggal. Terdapat di sepanjang pantai berpasir dan berbatu, di
pedalaman. Kadang-kaddang dipakai sebagai pohon hias.




   Tumbuhan hutan wisata
   Kingdom : Plantae
   Divisi : Lycopodiophyta
   Kelas : Lycopodiopsida
   Ordo : Sellaginellales
   Famili : Sellaginellaceae
   Genus : Sellaginella
   Spesies : Sellaginella plana Hieron
   Deskripsi : merupakan tumbuhan perdu dan habitusnya semak, memiliki batang berka yu
dan bercabang-cabang, berdaun tunggal, mahkota bunganya berbentuk terompet dan
berwarna putih atau ungu.


   Melastoma
   Kingdom : Plantae
   Divisi : Magnoliophyta
   Kelas : Magnoliopsida
   Ordo : Myrtales
   Famili : Mealstomataceae
   Genus : Melastoma L.
   Spesies : Melastoma malabathricum L.
   Deskripsi : Tumbuhan yang toleran dengan sinar matahari sehingga dapat tumbuh liar di
daerah seperti di lereng gunung, semak belukar, dan lapangan yang tidak terlalu gersang.
Biasanya ditemukan     hingga ketinggian 1.650 dpl. Habitusnya perdu. Berdaun tunggal.
Bentuk daunnya elips memanjang sampai lonjong. Filotaksisnya berhadapan bersilang.
Permukaan daun berambut bila diraba terasa kasar. Pangkal daun membulat, tepi daun rata,
ujung daun meruncing. Bunganya merupakan bunga majemuk atau perbungaan berwarna
ungu kemerah- merahan. Buahnya dapat dimaakn dan mempunyai biji berukuran kecil.
Merupakan tanaman tahunan. Tinggi dapat mencapai 2 meter.




   Tumbuhan di padang lamun
   Kingdom : Plantae
   Kelas : Phaeophyceae
   Ordo : Fucales
   Famili : Sargassaceae
   Genus : sargassum
   Spesies : Sargassum duplicatum J.Ag
   Deskripsi : Thallus bulat pada batang utama dan agak gepeng pada percabangan,
permukaan halus atau licin. Percabangan dichotomous dengan daun bulat lonjong, pinggir
bergerigi, tebal dan duplikasi (double edged). Vesikel melekat pada batang daun, bulat telur
atau elips. Tumbuh menempel pada batu di daerah terumbu, terutama di bagian pinggirr luar
rataan terumbu yang sering terkena ombak.


    Kingdom : Plantae
    Kelas : Phaeophyceae
    Ordo : Fucales
    Genus : Turbinaria
    Spesies : Turbinaria ornata
    Deskripsi : perbedaan dengan jenis lainnya, jenis ini memiliki daun yang umumnya
seperti corong dengan pinggir bergerigi. Karakteristik jenis ini adalah pinggir daunnya
membentuk bbibir dengan bagian tengah daun melengkung ke dalam. Tumbuh tersebar luas
di perairan indonesia terutama di perairan terumbu karang . termasuk jenis algae yang umum
didapat di perairan Indonesia.


.


Microhyla palmipes
Taksonomi ;
Kingdom ; animalia
Filum : chordata
Kelas : amphibia
Ordo : Anura
Famili : Microhylideae
Genus : Microhyla
Spesies : Microhyla palmipes
Deskripsi : karakter morfologi yang ditemukan antara lain ukuran tubuh yang kecil, kurang
dari 3 mm, jari tangan dan kaki membessar pada ujungnya, terdapat lekuk sirkum marginal,
2/3 3/4 jari kaki berselaput renang, mempunyai tuberkell dan tak berdiskus. Struktur kullit
halus tanpa bintil-bintil, warna kecoklatan dengan pola kepala anak panah ganda, sisi
kehitaman. Spesimen ini ditemukan di aerah sungai cikamal. Hewan ini termasuk hewan
nocturnal, yakni hewan yang aktif pada malam hari. Makanannya berupa serangga kecil,
terutama serangga dan rayap.
Status konservasi : berdasarkan status IUCN, keberadaan hewan ini sudah sangat jarang
ditemukan dan hampir punah.




   Mollusca
   Taksonomi :
   Kingdom : Animalia
   Filum : Moluska
   Kelas : Gastropda
   Ordo : Littorinimorpha
   Famili : Cypraeidae
   Genus : Cypraea
   Spesies : Cypraea pallidula
   Deskripsi : ukuran yang teramati 24,5 mm, berwarna putih kekuningan terang dengan
   bercak putih pada bagian punggungnya. Berbentuk lonjong, bagian celah mulutnya
   memiliki gigi.




   Kingdom : Animalia
   Filum : Chordata
   Kelas : Reptilia
   Ordo : Squamata
   Famili : Geckonidae
   Genus : Cryptodactylus
   Spesies : Cryptodactylus marmoratus
   Deskripsi : kepala besar dengan depressed. Bagian kepala bergranular dengan tuberkel
   kecil. Pada bagian dekat leher, granules sangat kecil. Lubang telinga berbentuk oval.
   Bagian dorsal penuh dengan granules kecil dan juga keeled kecil dan rounded. Sisik
   ventral kecil-kecil, halus, cycloid, dan imbricates. Punggung berwarna coklat muda
   dengan spot berwarna coklat tua dan sering membentuk cross. Pada bagian kepala
   terdapat seperti tanda berwarna gelap. Pada bagian ekor dengan annuli berwarna coklat
   tua. Pada jantan dewasa biasanya berukuran 59-78 mm. Dan betina dewasa 83-82,2 mm.
Gecko ini banyak tersebar di sekitar kawasan gunung halimun. Habitatnya di sekitar
hutan hujan ataupun kawasan terbuka di sekitar hutan hujan. Biasanya terdapat pada
daerah dengan ketinggian 700-1500 meter dan biasanya tidak jauh dari daerah aliran air
yang kuat dan berbatu. Persebarannya di sekitar indonesia, new guinea.




Kingdom : Animalia
Filum : chordata
Kelas : Reptilia
Ordo : squamata
Famili : Scincidae
Genus : Spenomorphus
Spesies : Spenomorphus sanctum
Deskripsi : moncong pendek, lubang telinga oval dan lebih kecil dari diameter mata.
Panjang buntut 1 atau setengah kali dari panjang badan. Kaki kuat dan kaki depan dan
belakang dapat saling menempel. Warna dorsal cokelat terang dengan garis vertebral
berwarna putih silver yang dimulai dari depan kepala sampai ujung buntut, sisinya
berwarna hitam dengan warna bercak putih. Warna ventral kehijauan atau putih. Biasanya
jantan memiliki panjang 46-46,5 mm dan betina 50,8 cm.
Kadal ini termasuk aboreal lizard. Habitatnya pada hutan dataran rendah hingga
ketinggian 800 meter. Penyebarannya sekitar Malaysia barat, Sumatra, dan Jawa.


Spesies spesial :
Macaca fascicularis
Taksonomi :
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : mamalia
Ordo : Primata
Famili : Cercopithecidae
Genus : Macaca
Spesies : Macaca fascicularis
Deskripsi :
Tubuhnya berukuran 40-50 cm (tiidak termasuk ekor), dan berat badan sekitar 3-7 kg.
Seluruh tubuhnya ditutupi rambut berwarna coklat muda keabu-abuan, kecuali wajah,
telapak tangan, dan kaki. Warna itu terlihat semakin memucat pada bagian ventralnya.
Berwajah abu-abu kecoklatan denagn kumis di bagian pipinya. Matanya menghadap
kedepan untuk penglihatan. Hidungnya rata dan lubang hidup sempit dan dekat satu sama
lainnya (catarrhine condition). Bagian dada dan perutnya ditutupi rambut berwarna abu-
abu putih. Memiliki gigi seri yang berbentuk seperti sekop, gigi taring cukup jelas dan
gigi geraham yang berbentuk bilophodont. Rumus struktur giginya adalah I 2/2, C 1/1,
PM 2/2, dan M 3/3. Ekornya lebih panjang dari tubuh, berukuran sekitar 60 cm, berwarna
coklat abu-abu. Di bagian kepalanya terdapat kumpulan rambut seperti jambul yang
disisir ke atas. Matanya berwarna kuning tua. Daerah disekitar matanya berwarna putih
keperakan, terlihat seperti memakai eye shadow. Spesies ini memiliki domorfisme
seksual antara jantan dan betinanya. Jantan berukuran tubuh lebih besar dari betina.
Merupakan omnivora, memakan baik hewan maupun tumbuhan. Makanannya bervariasi
mulai dari serangga, kepiting, dedaunan, bunga, buah, sampai dengan jamur, disesuaikan
denagn keanekaragaman habitatnya. Macaca dijumpai memakan tanah dalam jumlah
yang kecil untuk memenuhi kebutuhan mineralnya. Hidup berkelompok dimana dalam
satu kelompok terdapat puluhan ekor macaca dengan beberapa pejantan. Namun
demikian, terdapat macaca yang hidup sendirian, tampak terpisah dari kelompoknya.
Menurut literatur, macaca jantan dengan kematangan seksual akan memisahkan diri dari
kelompok dimana ia dilahirkan dan dibesarkan untuk bergabung dengan kelompok sosial
yang baru. Pejantan mencapai kematangan seksual pada usia sekitar 6 tahun, sedangkan
betina mulai mengalami kematangan seksual pada usia sekitar 4 tahun.
Perilaku : aktif pada siang hari. Macaca fascicularis dewasa betina selalu mengayomi
anaknya kemanapun dia pergi, hingga anaknya dirasa mampu untuk hidup mandiri.
Macaca fascicularis umumnya hidup di populasi yang memiliki jumlah individu jantan
lebih banyak daripada individu betinanya. Satu grup umumnya beranggotakan 30
individu. Pada tahap pematangan seksual, individu jantan akan meninggalkan grup
keluarganya dan bergabung dengan grup individu dewasa lain atau grup sosial yang baru.
Sejak individu jantan keluar dari grup keluarga, aktivitas individu betina akan lebih
terfokus untuk mencari makan/memangsa. Ketika individu jantan berpindah grup dan
menentukan tempat atau wilayah untuk bertempat tinggal, ia mungkin akan menempati
posisi sebagai pimpinan dalam suatu grup. Keberhasilan dalam perebutan posisii ini
ditandai dengan berhasil direbutnya daerah tempat tinggal individu betina. Kondisi ini
akan terlihat sebagai aktivitas yang sangat agresif dan individu/individu dewasa yang
terlibat didalamnya biasanya terluka karena bertarung dalam perebutan tempat tinggal.
Meskipun terdapat agresi diantara individu jantan, spesies ini memiliki karakteristik
perilaku pertarungan grup yang cukup jarang. Interaksi antar grup umumnya
dihindari/ketika grup- grup ini bertemu, grup yang lebih kuat umumnya akan mengusir
grup yang bukan termasuk anggotanya untuk keluar dari areanya. Suara-suara yang
melengking keras dan gemerisik pada dahan adalah salah satu pertanda kebearadaan
interaksi dalam spesies ini. Individu jantan dan betina pada umumnya menggunakan
komunikasi pergerakan mulut. Pergerakan mulut terbuka ini memperlihatkan taring
mereka pada musush sambil menarik-narik telinga dan hidung ke depan ke belakang
dengan ototnya. Seekor alpha jantan biasanya adalah seekor pemimpin dalam agresi dari
90% aktivitas di dahan-dahan pohon. Di dalam grup, hirarki kepemimpinan d idominasi
oleh individu jantan. Hirarki ini dipengaruhi oleh faktor umur, ukuran tubuh, dan keahlian
dalam berkelahi. Sejak individu betina tetap tetap berada di dalam grup, kondisi grup
ralatif stabil. Individu betina memiliki kecenderungan mengikat anggo ta-anggota
kelompok karena sifat maternalnya. Ini adalah salah satu hal yang menjadikan individu
wanita memiliki posisi dalam hirarki grup. Individu betina beraktivitas sebagai pengasuh
bagi individu anak-anak. Terdapat dua tipikal pengasuh dalam sebuah grup, pengasuh
biasa dan pengasuh khusus. Pengasuh biasa pada umumnya sering diserang, lebih sering
berinteraksi secara agresif dan memiliki akses terbatas untuk memperoleh makanan.
Macaca berekor panjang memiliki keunikan dibanding primata non manusia lain karena
mereka menunjukkan kemampuan lebih dalam belajar/kebiasaan/perilaku. Perilaku ini
diamati dari kemampuannya mmengambil makanan. Pada saar-saat khusus, individu
betina dewasa mencelupkan buah ke dalam sungai untuk kemudian dimakan. Tindakan
ini ditujukan mungkin untuk membersihkan pasir yang terdapat dalam buah.
Merupakan hewan omnivora dan mengeksploitasi berbagai macam tipe makanan,
tergantung persediaan makanan yang terdapat pada habitatnya. Rata-rata waktu yang
dibutuhkan oleh macaca untuk makan adalah 18,3 menit. Rata-rata seekor macaca
berkelahi 20 kali dalam sehari. Makanan yang mereka makan pada umumnya berupa
buah-buahan, kepiting, bunga, serangga, jamur, rumput, dan tanah liat. Tanah liat
mungkin untuk dimakan karena kandungan potassium yang terdapat didalamnya
meskipun sedikit. Bagaimanapun, 96% waktu makannya dalam sehari dihabiskan untuk
memakan buah. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa macaca memilih buah-buahan
berdasarkan kemudahannya untuk dikoyak dan warna buah tersebut. Predator untuk
spesies ini belum diketahui. Selalu berada di bawah pohon, terkadang naik ke atas pohon,
memakan makanan yang ada di sekitarnya. Termasuk dari orang-orang yang berada di
sekitar lokasi (hutan pantai dan lamun). Kadang menyerang balik jika diserang. Sering
yerlihat sedang kawin lebih dari satu kali.
Ekologi
Ditemukan pada habitat tropis yang beragam, mulai dari hutan primer, hutan pantai,
daerah berawa atau dekat dengan badan air, tepi sungai/danau dan daerah lahan pertanian.
Maupun pada habitat yyang terganngu.
Di pangandaran, mamalia inni sering ditemukan di daerah estuari, dataran rendah dan
hutan pantai.
Hewan ini bertindak sebagai predator bagi spesies lain. Kondisi ini berpengaruh pada
jummlah populasinya dan populasi spesies yang dimangsanya dala m satu ekosistem.
Merupakan predator yang penting bagi ekosistem, dan mungkin memiliki beberapa
dampak yang sangat kuat bagi spesies yang dimangsanya.
Persebaran geografis : macaca fascicularis banyak ditemukan di Asia tenggara, daerah
Burma, Filipina, Indonesia, India, Vietnam, dan Thailand. Mereka banyak ditemukan di
sepanjang wilayah timur.
Status konservasi
Macaca dinyatakan sebagai spesies yang dilindungi, karena adanya perburuan liar,
menyempitnya habitat yang ditinggali, penyelundupan, dan perburuan untuk dijadikan
makanan.


BAB V
KESIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA


Mohamed A. Ayyad; Amal M. Fakhry and Abdel-Raouf A. Moustafa, Plant biodiversity
in the Saint Catherine area of the Sinai Peninsula, Egypt. Biodiversity and Conservation,
2000, 9:265-281.
Sentra-edukasi.com/2010/echinodermata.html.     Echinodermata.    Diakses tanggal 17
Desember 2010.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:5743
posted:12/17/2010
language:Indonesian
pages:31