Docstoc

Kumpulan Puisi

Document Sample
Kumpulan Puisi Powered By Docstoc
					                                            Membuat tubuh-tubuh kerdil itu
           KUMPULAN PUISI
                                            Tak punya arti dibawah kuasa-Nya

BIRUNYA BIRU
                                            Ribuan wajah diterjang tsunami

    INIKAH KIAMAT ?                         Adalah wajah-wajah kita yang terhempas

                                            Oleh gelombang laut, bagai raksasa
Pagi itu ………
                                            Melumat perkotaan
Dua enam Desember dua ribu empat
                                            Melumat pedesaan
Lamunan panjang tiba-tiba tersentak
                                            Melumat Tanah Rencong
Nalar dan angan-angan menggurita
                                            Ribuan ekspresi wajah memelas
Dengan sejuta misteri
                                            Mencari perlindungan, meminta
Tentang ribuan mayat bergelimpangan
                                            pertolongan
Antara reruntuhan bangunan
                                            Sedang matahari seperti tergelincir
Dan puing-puing berserakan
                                            Menerpa bumi, retak-retak dan kelabu

Mulut terkunci rapat, rapat sekali          Segalanya gelap

Segumpal rasa terpojok jauh                 Segalanya pekat

Merapat dan meratap
                                            Dari sisa-sisa napas yang mengepak lelah
Pada sudut-sudut hati yang sangat dalam
                                            Nadi berdenyut semakin tak nyata
Tak mampu menguntai keprihatinan
                                            Sangat kelam, sangat kelam
Sepotong puisi pilu, syair lagu sendu
                                            Dari bibir yang pucat masih sempat teruntai
Kehilangan nada, kehilangan makna
                                            Sebuah kalimat pasrah dibawah kuasa-Nya
Lukisan ekspresi dari ketakutan
                                            ” Tuhan ..... inikah kiamat ?
Yang tiba-tiba meraksasa di seantero bumi
                                            Yang terkandung dalam firman-Mu ?
Sebagai akhir dari segala langkah   Disana tak ada nelayan menanti

Dan perbuatan yang salah”
                                    Sementara gemuruh yang dahsyat

Bone, 26 – 12 - 2004
                                    Membawa berita tentang alam yang murka

                                    Langitpun berduka
LANGITPUN BERDUKA
                                    Matahari berduka
Sekejap kehilangan
                                    Bulan dan bintang berduka
Suami kehilangan isteri
                                    Lalu kita membalut luka
Isteri kehilangan suami
                                    Menekan gunda, menekan air mata
Anak kehilangan ibu bapak
                                    Disini .....
Ibu bapak kehilangan anak
                                    Sepotong bumi disepuh pilu
Kakek dan nenek kehilangan cucu
                                    Tak ada kekuatan
Cucu kehilangan kakek dan nenek
                                    Yang mampu menghalau bencana
Semua kehilangan semua
                                    Menolak malapetaka
Sekejap Nangru Aceh Darussalam
                                    Semua tak berdaya
Berantakan diguncang gempa
                                    Kehilangan tenaga
Luluh lantak diterjang gelombang
                                    Bone, 27 – 12 – 2004
Tidak ada yang tersisa
                                    SEJUTA DAUN RONTOK

Rata dengan tanah                   Di atas tanah gembur

Kapal tak lagi merapat dipantai     Kelabu dan berbencah

Tempat maut berlabuh                Kita gali liang-liang pekuburan

Bersama kabut hitam menggumpal      Bagi ribuan mayat tanpa kain kafan


                                    Rintihan kelaparan
Dan jerit-jerit kesakitan               Tak lagi berfungsi sebagai mantra

Mencekik batang leher                   Dan azimat kesaktian

Menyumbat sisa-sisa napas               Membendung bencana

Kepedihanpun semakin mengendap          Menolak malapetaka

Merobek kelam                           Dari alam yang murka

Dilubuk hati makin dalam, makin dalam
                                        Maut, tiba-tiba menyambar dan membentur

Sejuta daun kering diterpa angin        Bagai halilintar memecah gunung

Rontok berguguran                       Mengobrak - abrik segala yang ada

Terapung diatas gelombang               Hingga tangan-tangan perkasa

Terbawa arus ke laut lepas              Lunglai dan terkulai

Makin jauh, makin lusuh                 Berhenti membelai

Bone, 28 – 12 - 2004
                                        Masih adakah panorama alam yang

MEREKA TERKAPAR KAKU                    menarik hati

                                        diatas bumi ini ?
Sepanjang jalan dan lorong

Kota Banda Aceh dan Meulaboh            Atau seruling anak-anak gembala


Ribuan mereka terkapar kaku             Yang melantumkan irama klassik dan
                                        purba
Juga dia bocah-bocah tak berdosa
                                        Jawabnya, sedencing napas yang nyaris
Kakek dan nenek renta                   terputus

Semua lemas                             Berkata dalam bayangan maut yang hitam

Bercampur lumpur                        sangat hitam


Kalimat-kalimat bertuah para leluhur    Panorama alam dan seruling anak-anak
                                        gembala
Adalah duka nestapa                        Tercaplok oleh takdir

Menggamit dalam diri
                                           Tuhan………

Hati yang menggeluti sedesah napas
                                           Diujung desah napasnya

yang berdarah
                                           Diakhir detak jantungnya

Takbir......mengagumkan kebesaran-Nya      Meluncur dengan tulus takbir dan tahmid

Tahmid......memuji kemuliaan-Nya           “ Laa ilaha illallah “

Adalah jeritan yang tumpah
                                           Mereka tak punya kekuatan

Merambati celah-celah hidup yang semakin
                                           Mereka tak lagi memiliki kekuasaan
rapuh
                                           Buat membentuk pertahanan dan
Namun alam seperti tak mau mengerti        perlindungan

Gempa tetap saja bergetar                  Agar dapat menolak segalanya

Gelombang tetap saja menerjang
                                           Kini mereka terkapar kaku

Menyapu perkotaan
                                           Terimalah disisi-Mu

Meluluh lantakkan pedesaan
                                           Dalam sorga-Mu

Akankah lahir seketika, mu’jizat dan       Yang sejuk
keajaiban
                                           Kekal abadi disana
Sementara di padang rumput
                                           Amien ya Rabbal alamin
Di alur-alur sungai
                                           Bone, 29 – 12 2004
Diendapan lumpur

Di lembah-lembah dan pegunungan            BERI AKU SETEGUK AIR

Mengendap mayat-mayat mereka               Dalam berita pagi media elektronik

                                           Dan head line koran-koran lokal
Kutangkap satu-satu wajah itu           untuk membasahi kerongkonganku yang
                                        kering ”
Lesu dalam derita
                                        Dalam menatap wajah-wajah kering itu

Lesu dalam duka
                                        Tiba-tiba nalarku buyar seperti dalam
                                        mimpi
Kutatap dalam-dalam
                                        Semua jadi bayang-bayang hitam
Bersama geliat naluri
                                        ................................. menakutkan
Lalu kutanam sedalam jiwa yang lara
                                        Lusuh dan tercabik-cabik dalam genangan
Sementara sukma dari syair-syair yang
                                        duka
kugubah

Syahdu menyayat hati                    Kutangkap lalu kutatap satu-satu


Melebur pedih                           Ternyata wajah-wajah itu


Dibawah tenda-tenda pengungsian         Adalah wajah kita yang berlumuran darah


Wajah-wajah itu memelas                 30 – 12 -2004


Mengulur tangan-tangan gemetar          DIBAWAH LANGIT BIRU


Untuk disapa, untuk dipapah             Pemandangan ini sangat mengerikan


Lalu kurangkai sebaris puisi duka       Air bah menyapu bumi hingga lenyap


Walau kutahu                            Membentuk genangan air mata bercampur
                                        darah
Sejuta keprihatinan tak akan mampu
                                        Seperti kisah nabi Nuh
Membalut lukanya yang menganga
                                        Dalam menebus dosa-dosa kaumnya
Berdarah dan bernanah
                                        Bumi menjerit terkikis-kikis
”Beri aku seteguk air yang jernih dan
bening                                  Lalu mati ..... tak mampu menggeliat

                                        Akhirnya semua terlempar dan terhempas
Pada pelataran kering berbatu              Buat ditempa seindah ilusi

                                           Hingga senja yang merah
Di Nangru Aceh Darussalam

                                           Datang buat menjemput dirinya
Terdengar jerit histeris memilukan hati

Isak tangis dan teriakan menyayat kalbu    Di Nangru Aceh Darussalam

Semua berlari....... entah mau kemana      Sebaris generasi, sisa-sisa bencana

Akhirnya hilang satu-satu                  Merangkak lelah buat menata masa depan

Ditelan laut                               31- 12 – 2004

Dijemput maut                              BIRUNYA BIRU LAUT ACEH


Laut biru memuntahkan gelombang            Deru baling-baling helikopter
tsunami
                                           Terbang rendah diatas tenda-tenda
Bumipun menggetarkan gempa sangat          pengungsian
dahsyat
                                           Bunyi sirene kapal-kapal perang
Seperti saja murka, membentur segalanya
                                           Yang merapat pelan dari pantai ke pantai
Hingga habis                               gersang

Tak tersisa                                Adalah angin sejuk, angin kehidupan

                                           Berhembus sepoi-sepoi basah
Dibawah langit biru

                                           Membawa segenggam ilusi
Laut seakan membeku

                                           Buat menyulam pelabuhan dengan pelangi
Menanti pagi, menanti matahari

                                           Bagi pengungsi-pengungsi Aceh
Lalu sebaris generasi, sisa-sisa bencana

Merangkak pelan dalam kelelahan            Dibawah tenda, mereka menunggu

Mencari kembali sekeping bumi yang retak   Dengan napas lelah tersendat-sendat

Dan pokak poranda                          Dan denyut nadi terputus-putus
Seteguk air bening dan sesuap nasi putih
                                           LULUH DITERPA BENCANA
Bakal menyambung hidupnya yang tinggal

sepemggal                                  Sepenggal kalimat istigfar


Menyumbat tenggorokannya                   Masih sempat meluncur dari mulutku

                                           Ketika tubuhku yang kerdil ini
Deru baling-baling helikopter
                                           Luluh diterpa bencana
Dan bunyi sirene kapal-kapal perang
                                           Bumi dan laut
Menyentak tidurnya yang lelap

Hingga mimpinya buyar dan patah            Kalimat ini


Mereka berlarian                           Adalah kekesalan dan penyesalan


Menadah botol-botol air mineral            Yang mengumpat diriku habis-habisan


Merebut kardus-kardus indomie              Atas tingkah dan keangkuhan


Biskuit dan roti tawar                     Yang pernah bertengger dijiwaku


Dengan napas lelah melangkah terhuyung     Hingga nyaris membenamkan


Menjemput pakaian bekas                    Segala pengakuan


Selimut dan perban pembalut luka           Akan kebesaran dan keagungan-Nya


Dari tangan-tangan relawan kemanusiaan     Benaca ini sangat kejam, sangat kejam


Disini, diatas bumi ini                    Tapi tak ada yang mampu menolaknya


Birunya biru, laut Aceh                    Sebab dari kedahsyatannya melumat bumi


Mulai membentuk bianglala warna warni      Mengobrak abrik segalanya


Tentang hidup yang mulai menggeliat        Menyentak hatiku, menyentak jiwaku


Diujung mimpi                              Sudut-sudut kelabu dan ruang-ruang


1 – 1 - 2005
Yang kelam, sangat kelam                    Mengalir dari sebuah telaga

                                            Hingga mencampakkan dirinya
Dilubuk hati yang paling dalam

                                            Buat menggeluti kemanusiaan
Tergugah dan melahirkan sejuta pengakuan

Tentang diriku yang kerdil, sangat kerdil   Tangannya yang berotot kekar

Bagai debu jalanan                          Mencakar-cakar tumpukan sampah di
                                            pantai
Yang melekat dikaki kebesaran-Nya
                                            Mengacak-acak puing-puing bangunan di
Tuhan .....                                 perkotaan

Dari bencana dahsyat ini                    Juga di selah-selah pegunungan

Memenggal segala tingkahku                  Mobil-mobil keropos berkarat

Yang angkuh                                 Perabot-perabot peot berhamburan

Yang kikir                                  Yang membuat wajah Tanah Rencong

Yang malas                                  Luka parah dan mengerikan

Yang kejam
                                            Diangkatnya ribuan mayat yang terjepit

Yang boros
                                            Antara reruntuhan bangunan dan di alur-

Yang yah...                                 alur


Yang akh...                                 sungai


Yang hmm....                                Diendapan lumpur yang kental


2 – 1 – 2005                                Mayat-mayat dengan luka menganga


MENCAKAR – CAKAR PANTAI                     Dan wajah yang tak lagi bisa dikenali


Pancaran mata air yang bening               Teriknya matahari dan derasnya hujan


Adalah sebuah ilusi, bisikan hati nurani    Adalah payung yang menaungi dirinya
Dinginnya malam yang menusuk            Mencari jejak gempa dan gelombang
jantungnya                              tsunami


Adalah selimut yang membalut tubuhnya   Relawan Kemanusiaan

Namun tak nanpak gurat-gurat kelesuan   Betapa mulia jasamu

Dan kerut-kerut penyesalan              Betapa tinggi maknamu

Membayang diwajahnya                    Terlukis abadi

                                        Pengabdianmu
Dia Relawan Kemanusiaan

                                        3 – 1 – 2005
Membawa hati nurani yang bening


Dia Relawan Kemanusiaan                 BACALAH SEPOTONG DARI AYAT-
                                        AYATNYA
Membawa naluri yang jernih

Mengabdi dan mengabdi                   Bicaralah...... !

Tanpa menghitung jari                   Kalau saja laut dan bumi bisa bicara

Tanpa menghitung peri                   “Bacalah sepotong dari ayat-ayat-Nya

                                        Tentang kehidupan di dunia fana ini
Kecuali segenggam niat suci

                                        Pergantian siang dan malam
Mengumpal dihatinya

                                        ----- setelah kesulitan berlalu
Untuk mengabdikan apa yang dia miliki

                                        pasti muncul kemudahan”
Relawan Kemanusiaan

                                        Bernyanyilah …… ¡
Dari berbagai profesi

                                        Kalau saja angin dan rumput bisa
Melangkah gontai menyusuri lembah,
                                        bernyanyi
Mendaki gunung
                                        “Selamat tinggal kekasih Allah
Menyeberangi sungai, memanjat tebing
                                        Syuhada-syuhada Tanah Rencong
batu
Menuju Jannatin Naim                        Bisa berteriak

Becanda dengan bidadari”                    “Bedamailah di atas bumi

                                            Jalin keakraban yang murni
Berpuisilah ......!

                                            Antara sesama umat bersaudara”
Kalau saja lumpur dan bebatuan bisa
berpuisi
                                            Berdoalah……. ¡
”Badai duka semoga cepat berlalu
                                            Kalau saja sepotong hati yang pilu masih
Bersama sejuta kepedihan                    bisa

Agar diesok pagi                            berdoa

Dapat kugapai kembali                       “Ya Allah

Kedamaian abadi                             Jernihkan hati mereka

Di bumi”                                    Yang berperang

                                            Yang memperkosa
Berbisiklah ...... !

                                            Yang merampok
Kalau saja mawar dan melati bisa berbisik

                                            Yang menindas
”Mengapa angin tak lagi berhembus

                                            Yang menipu
Membawa berita kehidupan

                                            Yang memeras
Padahal disini, di pantai ini

                                            Agar mereka kembali kejalan yang benar
Nelayan-nelayan berdiri

                                            Mengikuti segala kehendak-Mu
Menatap bayang-bayang hitam

                                            Menjauhi segala larangan-Mu”
Tentang perahu dan kapal yang karang”

                                            Bersyukurlah ......!
Berteriaklah …… ¡

                                            Kalau saja semua umat manusia bisa
Kalau saja bulan dan matahati
                                            bersyukur
Serta bintang-bintang
Maka bencana dan nikmat                  Senyumnya membingkai pedih dan nyeri

Dalam merenda kehidupan ini
                                         Nampak ada pergulatan raga yang pecah

Pasti luluh dalam kesadaran
                                         Dan patah

Yang hakiki
                                         Dari usianya yang masih sangat belia

4 - 1 – 2005
                                         Dari tubuh kecilnya yang sangat lemah

                                         Dia menampung rasa tak berdaya
SERIBU BIDADARI
                                         Menyusuri lorong-lorong duka
(Pengakuan paling tulus buat; MAHARANI
AULIA)
                                         Meninggalkan ayah dan bunda

Dalam pandangan mata batin               Dengan luka menganga

Walau samar-samar dalam kegelapan
                                         Maharani Aulia !

Namun tetap terbayang
                                         Adalah bait-bait puisi

Sorotan matanya yang tajam
                                         Yang lahir dari sejuta hati nurani

Menembus cakrawala
                                         Maharani Aulia !
Melukis bianglala
                                         Adalah permata bermutu intan baiduri
Dia bergerak, lincah sekali
                                         Meluruhkan geliat naluri dan mimpi

Bermain bersama teman sebayanya
                                         Tentang gemuruh membentur sunyi

Merebut boneka lucu
                                         ”Tidurlah yang panjang
Berlari dan menari
                                         Melelap warna bianglala
Memegang setangkai melati
                                         Dilangit yang biru”
Sambil bernyanyi dan berpuisi
                                         Ketika keajaiban tercipta
Dalam pandangan mata batin
Derai angin pagi menjemput bias-bias       Semua hati nurani terpanggil
mentari
                                           Menyapa dan memapah mereka
Dan awan hitam yang menggumpal
                                           Yang tersisa dari amukan bencana
diudara

                                           Akupun menulis sepenggal puisi pilu
Bergerak pelan menuju pembukitan

                                           Kubaca sendiri dalam hati
Buat mengangkat senja yang terapung-
apung
                                           Walau kutahu.............

Dalam pandangan mata batin                 Puisi ini tak punya arti

Kulihat Maharani Aulia                     Tak punya sukma untuk mengobati
                                           kepedihan
Memegang setangkai melati

                                           Yang menggerogoti alur-alur kehidupan
Sementara dibalik pintu syorga

                                           Bagi mereka yang dibalut derita
Berbaris seribu bidadari

                                           Namun tetap saja kuharap
Menjemput kedatangannya

                                           Sepemggal puisi pilu
Maharani Aulia

                                           Dapat membelai hati menyulam mimpi
Juga teman-teman sebayanya

                                           Bagi mereka yang tersisa terjangan
Adalah permata hati nurani
                                           gelombang tsunami
Tidurlah yang pulas
                                           Dan getaran gempa yang dahsyat
Menanti ..... kami.......
                                           Kuharap puisi-puisi ini
                            5 – 1 – 2005
                                           Bagaikan embun basah

                                           Sejuk dihati
SEPENGGAL PUISI PILU

                                           Menyambut pagi
Ketika ribuan tangan terulur

                                                                       6 – 1 – 20
Buat membalut luka Aceh
DI LAUT YANG PERNAH MURKA              Agar darah-darah yang tercecer

                                       Mengendap lebih dalam
Besok pagi
                                       7 – 1 – 2005
Bila mentari tersenyum di upuk timur

Akan kutabur bunga warna warni         DALAM BENCANA INI


Di laut yang pernah murka              (Semoga terbaca oleh mereka yang bertikai)


Agar segala duka dan lara              Tragedi ini adalah sebuah teka-teki

Tenang dan mengendap di dasarnya       Buat kita renungi


Besok pagi                             Sangat pedih, sangat memilukan hati


Bila senja mulai bersulam warna        Bencana demi bencana
lembayung
                                       Selalu saja menimpa negeri ini
Aku akan bersujud pasrah
                                       Menolak segala pinta
Di bumi yang pernah mengamuk
                                       Melabrak segala cinta
Agar segala cinta
                                       ”Mari kita membagi rasa dalam bencana ini
Mekar kembali diatasnya
                                       Kepedihan dan kemiskinan, atau setitik
Besok pagi                             harapan

Aku akan kembali bercanda              menggapai pantai”

Dengan laut
                                       Apa yang harus dilakukan bila dalam
Dengan bumi                            sekejap

Dengan angin                           Semua hati pada lari mencari kesaksian

Dengan awan                            yang serba palsu

Dengan bulan dan bintang               Melangkahi mayat-mayat berkaparan

Dengan matahari dan langit             Sepanjang jalan dan lorong-lorong kota
Mencium bau busuk menyengat hidung            hati nurani ???

Dipesisir pantai dan alur-alur sungai
                                              Luka dari bencana ini

Di padang datar dan puncak-puncak
                                              Dapatkah kita balut dengan sebuah solusi
gunung
                                              Menguntai kasih, memendam emosi
Kita temukan setumpuk saja-sajak sepi
                                              Agar keakraban kembali terpatri
Menggeliat untuk menggapai ekor sebuah
                                              Abadi dalam arti
mimpi

                                              Abadi dalam diri
Tentang igauan panjang seorang bocah
ingusan                                       ........ s e n d i r i

Mengumpat bencana dengan tangisnya            8 – 1 – 2005
yang sesak

Sementara garis-garis cakrawala
                                              DIATAS PUING-PUING CINTA
Menukik ke pantai dan hancur
                                              Dipuncak langit yang biru
---- bersama dongeng purba yang kering ----
                                              Bayang-bayang maut datang tiba-tiba
Tragedi ini adalah sisa-sisa keperkasaan
                                              Melalap belantara hingga rata
masa lampau
                                              Bagai halilintar memecah pegunungan
Dunia semakin renta, semakin renta
                                              Bulan dan bintang berguguran
Tak dapat meluluhkan segala kebencian
                                              Kesendirian begitu sepi dan sunyi
Yang berlarut tanpa ujung
                                              Gema dan kebisingan musik hilang pelan-
Tragedi ini adalah isak tangis                pelan

Dan jeritan histeris anak-anak bangsa         Dibenam kegelapan nalar

Yang terjepit antara kekerasan dan            Dan angan-angan
kebekuan
                                              Dalam kecemasan diguyur kelam
Mimpi semakin kelabu dan bisu                            ...........................................perlahanlah !

Gundapun mengeras                                        Getaran bumi yang pecah ;

Membentuk gundukan tanah                                 ...........................................berhentilah !

Terasing dari matahari dan bulan                         ”Sebab semua itu membuat hati ini semakin
                                                         pilu,
Kemahiran merangkai cerita lucu
                                                         kalau itu adalah pertanda datangnya
Hilang ditelan halusinasi menyeramkan
                                                         ekor dari malapetaka
Seperti menatap bayang-bayang hitam
                                                         yang pernah menimpa negeri ini
diangkasa

                                                         Sesungguhnya ketenangan telah kugapai
Setelah itu, kitapun lalu berpelukan

                                                         Dari keterasinganku
Diatas puing-puing cinta

                                                         Dengan hiruk pikuknya dunia
Yang hancur terbentur

                                                         Yang semakin kacau”
Lebur jadi kubur
                                                         10 – 1 – 2005
9 – 1 – 2007

                                                         SETELAH GELOMBANG SURUT – I

EKOR DARI SEBUAH MALAPETAKA
                                                         Setelah gelombang surut

Gumpalan awan merah, diangkasa bebas ;                   Yang menghapus ekor senja kemarin

........................................beraraklah !     Laut kembali tenang, kembali damai

Deru angin di pedusunan ;                                Burung-burung camarpun mengepak lelah

.........................................gemulailah !    Mengitari kelam, amat kelam

Curah hujan di pegunungan ;                              Sebab di pantai ini

..........................................gerimislah !   Nelayan-nelayan tergeletak mati

Hempasan ombak di pantai ;
                                                         Sebelum bencana menimpa pantai ini
Seribu kedamaian lahir disini              SETELAH GELOMBANG SURUT – III

Tempat buruh-buruh pelabuhan
                                           Pepohonan dan rerumputan

Menghitung uang recehan
                                           Tumbuh kembali diatas bumi

Dari upahnya memanggang tubuh
                                           Yang terkulai

Membanting tulang, membanting harga diri
                                           Setelah gelombang surut

Demi dirinya dan anak isteri
                                           Bumi ini kembali damai

Setelah gelombang berlalu                  Dan damai ini……………

Pantai ini                                 Abadi

Sepi                                       13 – 1 – 2005

11 – 1 - 2005                              SEMUA DICEKIK RINDU


                                           Kita semua tertegun dan merenung
SETELAH GELOMBANG SURUT – II
                                           Memandangi laut tak berombak

Walau menyimpan luka dan duka              Yang pernah membawa badai

Tetapi..................                   Menyapu kehidupan di bumi

Setelah gelombang surut
                                           Kita semua dicekik rindu, didera hati pilu

Semua pasrah dibawah kuasa-Nya
                                           Karena dari laut tak berombak

Walau semua kehilangan
                                           Melambai seribu sajak kembara

Tetapi...................
                                           Tersenyum memandangi dirinya ditepi

Generasi yang tersisa                      pantai


Pasti bangkit kembali                      Di pantai ini seorang bocah bertutur

Melangkah tergesah berpacu dengan waktu    Dalam kalimat yang sangat lugu

12 – 1 – 2005                              Merangkai cerita purba yang usang
Tentang sepotong bumi berpeluh            Diguncang gempa, diterjang gelombang
                                          raksasa
Diujung paling barat Nusantara
                                          Dari bumi dan laut yang meraksasa
Seribu tahun kemudian
                                          Jerit histeris, tangis pilu terdengar dimana-
Sepotong bumi berpeluh, berdarah
                                          mana

Tetap akan dituturkan
                                          Semua terbirit mencari perlindungan

Oleh bocah-bocah mendatang
                                          Semua berteriak minta pertolongan

Sebagai cerita yang mengerikan
                                          Hidup, ya...... hidup itu
14 – 1 – 2005
                                          Dicarinya diselah ruang dan waktu
DIKEPUNG MISTERI
                                          Tapi secercah harapan untuk

Hati tersentak, lalu galau                menggapainya


Mulut terkunci, lalu kaku                 Terasa semakin kabur dan semakin jauh

Denyut nadi berhenti, lalu beku           Pudar dalam bayangan

Disitu ada maut                           Pupus dalam angan-angan

Mengintai dari ujung lorong yang sempit   Hidup terasa sangat getir dan pahit


Jari-jari tangan dingin gemetar           Tetapi tetap juga dicarinya


Hati terbungkam dikepung misteri          Sebab hidup itulah yang membuatnya
                                          berlari
Harus memulai dengan kalimat apa?
                                          Terbirit memanjat dinding batu yang terjal

Buat menguntai keprihatinan dan
                                          Melompati jurang yang dalam dan
kepedihan
                                          merenangi

Melihat mereka terkapar-kapar
                                          sungai

Di Tanah Rencong
                                          Akhirnya............
Maut tetap juga menjemputnya               WAJAH-WAJAH DIBAWAH TENDA

15 – 1 – 2005
                                           Wajah-wajah itu
SEMOGA TERPATRI ABADI
                                           Adalah wajah kita, wajah bangsa

Benci dan dengki                           Menggeliat dibawah tenda

Semoga terkikis habis                      Antara hidup dan mati

Dalam lubuk hati setiap makhluk yang       Dari setetes darah lukanya
bernama
                                           Dan sedesah napasnya
Manusia
                                           Yang nyaris terhenti

Damai yang abadi                           ”Ucapkan salam buat menyapa mereka

Semoga terpatri abadi                      Ulurkan tangan buat memapah mereka

Dalam jiwa manusia yang beriman kepada-    Yang menggeliat kesakitan
Nya
                                           Dibawah tenda yang kumal”
Bencana demi bencana

Semoga berakhir menimpa bumi ini           Beri apa saja, tegur kapan saja

Agar manusia yang beriman kepada-Nya       Yang dapat membuat dirinya kembali tegak

Saling memberi, saling memperingati        Yang dapat membuat nadinya berdenyut

Kejalan yang benar dan damai               Yang dapat membuat napasnya berdesah
                                           kembali
Hidup penuh kedamaian
                                           Sebab diatas kehancuran bumi ini
Semoga tercapai oleh mereka
                                           Akan tanggal semua duka
Yang pernah didera derita berkepanjangan
                                           Dan esok pagi bersama matahari
Dari kesesatan ilusi membelenggu naluri
                                           Dapat meneguk kembali setetes air yang
16 – 1 – 2005
                                           bening
Dapat menghirup kembali kelembutan      Yang belum juga ditemukan

Udara yang segar
                                        Seorang ayah berambut kusam

17 – 1 – 2005
                                        Melangkah gontai, memandang liar

CERITA DARI ACEH
                                        Menatap satu-satu wajah dibawah tenda

Seorang kakek dengan gurat-gurat usia   Kalau disitu terselip
yang renta
                                        Wajah isteri dan anak-anaknya
Bermimpi indah, mengigau panjang
                                        Yang belum ada kabar beritanya
Menebar senyum, menyebut seuntai nama
                                        Seorang relawan kemanusiaan yang
Ternyata nama-nama itu
                                        berjaket

Adalah nama dari anak cucunya yang
                                        loreng
hilang
                                        Membongkar puing-puing bangunan
Ditelan bencana bumi ini
                                        Mencakar-cakar lumpur yang mengendap
Seorang bocah bermain boneka
                                        Mencari mayat-mayat tertimbun
Sambil menekan tangisnya
                                        Seorang dokter muda berbaju putih
Yang terisak putus-putus
                                        Membalut luka menganga dan berdarah
Memanggil ibu dan bapaknya
                                        Sementara diwajahnya yang bening
Yang raib entah kemana
                                        Tergurat pengabdian yang tulus
Seorang ibu berwajah kusut
                                        Seorang guru sukarela berkerudung biru
Menyusuri jalan dan lorong kota
                                        Bercanda dengan bocah-bocah ingusan
Siapa tahu, diantara mayat-mayat
berkaparan                              Dibawah pohon yang rimbun

Terdapat mayat suami dan anak-anaknya   Beralaskan plastik kumal

                                        Sementara dilubuk hatinya yang dalam
Berkobar-kobar naluri kemanusiaan          Mengakhiri sengketa

Tut Wuri Handayani semboyannya             Yang panjang tak berujung


Seorang ulama’ berjubah putih              Mestinya kita mengumpat hati nurani

Bertasbih dan berzikir, menyejukkan hati   Yang mengeras seperti batu

Menyeru umat untuk berdamai                Lalu kita dengarkan bocah-bocah ingusan

Saling memperingati kejalan yang benar     Bertutur dengan mimik yang lucu

18 – 1 – 2005                              ”Ini dongeng purba

MELIHAT WAJAH KITA YANG                    Yang melukiskan kejayaan negeri ini
BOPENG
                                           Dimasa lampau”

Diujung barat Nusantara                                                  19 – 1 – 2005

Sepotong bumi bersimbah darah              MEMOLES KEMBALI SEPOTONG BUMI

Diamuk gempa, diterjang badai
                                           Dibawah tenda-tenda pengungsian
Hancur dan porak poranda
                                           Ribuan terlentang pasrah, tak berdaya

Disini, diatas bumi yang tercabik-cabik    Yang haus,…..minta seteguk air

Kita berdiri dan berkaca                   Yang lapar,……minta sesuap nasi

Pada cermin raksasa, cermin diri           Yang luka,…….minta secarik pembalut

Melihat wajah kita yang bopeng dan tak     Yang berduka,........minta setitik hiburan
lengkap
                                           Sementara diluar tenda
Disini kita bangun terminal
                                           Anak-anak lincah berlari dan bernyanyi
Kita bertolak dari sini
                                           Seperti tak mengerti bencana demi bencana
Melewati jalan berbatu
                                           Yang melanda negeri ini
Di terminal ini pula kita kembali
Hingga hancur berkeping-keping          Dengan rupa lebih indah

                                        Dari hari kemarin
Diwajahnya tak terlihat

                                        Sebelum bencana
Gurat-gurat

                                        Melanda negeri
Kesedihan

                                        20 – 1 – 2005
Kepedihan

Kepiluan                                KEPADA YANG KHALIQ

Kerinduan                               (Sedencing doa dikaki mimbar)

Kesengsaraan
                                        Akbar.....Allahu Akbar.....Allahu Akbar
Kemelaratan
                                        Dikaki mimbar masjid Baitur Rahman
Ketidak mampuan
                                        Kota Banda Aceh
Dan juga tak nanpak diwajahnya
                                        Hembusan angin pagi, dingin menyejuk
Gurat-gurat                             hati

Kebencian                               Seperti berbisik membelai nurani

Kedengkian                              Di langit dan di bumi

Kekesalan                               Seluruh makhluk sujud berserah diri

Keangkuhan                              Mengagungkan kebesaran-Nya

                                        Memuji kemuliaan-Nya
Bila malam tiba membalut hatinya yang
dingin                                  Laa ilaaha illallah

Mereka tertidur pulas hingga bermimpi   Pengakuan yang sangat tulus kepada yang
indah                                   khaliq

Membagi rasa, membagi segala            Allahu Akbar Walillahil Hamd

Buat memoles kembali sepotong bumi
Sejuknya angin pagi membalut luka                                     Ribuan kami berbaring kaku
melipur
                                                                      Menyepi tak punya arti
duka lara
                                                                      Kami hanya segenggam bayang-bayang
Hingga sedih dan pedih
                                                                      Tak bisa bangkit dan berdiri
Hilang dibenam iman dan taqwa
                                                                      Kaki dan tangan kami semuanya rontok
Allahu Akbar Walillahil Hamd
                                                                      Disini kami hanya mendengar
Dari bumi Tanah Rencong yang luluh
lantak                                                                Suara-suara gemuruh

Semua bersujud memohon ampunan-Nya                                    Sementara sunyi dan sepi bersua jadi satu

Tuhan...... beri kekuatan, agar diesok pagi
                                                                      Tetapi.............

Wajah-wajah itu kembali ceria
                                                                      Walau kami terbaring kaku

Napas-napas itu kembali berdesah
                                                                      Tetap mencoba untuk bertutur

Jantung-jantung itu kembali berdetak
                                                                      Menyampaikan kalimat bertuah

”Penglihatan kembali jernih                                           Dengan suara yang parau putus-putus

Pendengaran kembali tajam”                                            Kepada umat sejagat ;

...................................................................   ”Ulurkan tangan buat berdamai

Allahu Akbar, Tuhan yang memiliki langit                              Dengan bumi

dan bumi !                                                            Dengan laut

                                                                      Dengan matahari dan bulan

                                                                      Dengan bintang dan awan
DARI LIANG-LIANG PEKUBURAN
                                                                      Dengan segala yang ada”

Dari liang-liang pekuburan massal                                     Karena itu adalah sedencing dari napas
                                                                      kami
Di Nangru Aceh Darussalam
Yang terbaring kaku di liang-liang            Meratapi teja yang merah-merah kuning

pekuburan maal                                Yang tinggal sejengkal menghiasi bumi


                                              Rangkaian doa yang tak sempat terucap

                                              Membara dan membahana
DOA YANG TAK SEMPAT
TERUCAPKAN                                    Dalam naluri yang putih


                                              ”Tuhan.........timpakan kepadaku
Alangkah sulitnya perjalanan ini
                                              Nikmat dari kasih sayang-Mu
Bagai memanjat bukit terjal dan licin
                                              Jangan timpakan kepadaku
Akhirnya mencampakkan diri ini
                                              Laknat dari kemurkaan-Mu”
Pada suatu tempat yang asing dan
menakutkan                                                                    23 – 1 – 2005

Memekik........ hingga denyut nadi berhenti
                                              ANAK-ANAK ACEH DIPANGKUAN
Tinggal segenggam doa yang tak sempat         KITA
terucap

Dari nasib terkatung-katung mencari           Anak-anak Aceh..............
sesuatu
                                              Adalah lembaran-lembaran bening
Yang kabur antara gelap dan samar
                                              Tanpa noda, tanpa noktah
Sementara matahari menukik tergesah
                                              Adalah kertas putih tanpa coretan hitam
Sujud ke peraduannya
                                              ------ hitam dan merah --------------

Suara-suara yang parau                        Tak ada garis-garis yang nyata

Melambung ke garis lengkung langit yang       Melingkari dirinya
biru

                                              Disini, tangan-tangan kita menulis dan
Awan jingga seperti tertegun
                                              melukis
Wajah kita, wajah bangsa                  Yang masih sangat belia

                                          Tergurat garis-garis budaya yang nyata
Anak-anak Aceh................

                                          Terbayang sendi-sendi iman yang kokoh
Adalah logam mulia bermutu emas murni

Dari kandungan Tanah Rencong yang asri    Anak-anak Aceh dipangkuan kita

Bagai manikam dan intan baiduri           Belai rambutnya dengan sentuhan budaya

Adalah bibit unggul                       Rangkul tubuhnya dengan dekapan

                                          ------------ iman dan taqwa---------------
Yang ditabur diatas tanah gembur dan
subur                                     Sapa jiwanya dengan napas kebangsaan

Akar-akarnya menembus bumi, kokoh
                                          Dalam tidurnya yang lelap dimalam kelam
sekali

                                          Terdengar samar-samar alunan irama purba
Anak-anak Aceh dipangkuan kita
                                          Menyulam desah napasnya yang masih
Biarkan mereka tertidur pulas             terisak

Sampai larut dalam mimpi yang indah       ”Aku anak Indonesia, pewaris sepotong
                                          bumi
Tentang matahari dan pelangi

                                          Diujung paling barat Nusantara”
Di pantai ini

                                          Mari kita lindungi mereka
Adalah anak-anak bangsa

                                          Dari segala bencana
Yang bakal tumbuh dan berakar

                                                                           24 – 1 – 2005
Di atas sekeping bumi

Warisan leluhurnya yang asri
                                          KUTUTUP SEMENTARA LEMBARAN
Jangan campakkan eksistensinya            DUKA

Buat menyentuh bianglala diluar dirinya
                                          Pagi ini …………..

Sebab dalam denyut nadinya
                                          Dua lima Januari dua ribu lima
Genap tiga puluh hari luka Aceh                               KUMPULAN PUISI

Yang berdarah dan bernanah                    ANG BERSUMBER DARI SALAH SATU
                                                              SENIMAN TEATER
Walau masih pedih dan pilu
                                                   DARI TANAH RENCONG ACEH
Tapi lembaran-lembaran duka
                                                                 TAHUN 2005
Yang kutulis setiap hari
                                                                       Note
Kututup buat sementara
                                                       Sebagai Penerbitan Ulang pada Blogsite Saya

Sebab terasa aku nyaris kekeringan air mata   Mohon Maaf Dan yang jelas dalam Bentuk kalimat dan

                                              kata itu tidak ada dimodrenisasi . Sebagai bahan Inspirasi
Buat melukiskan semua derita , duka dan
                                              bagi kaula muda untuk berekspresi dalam menulis dan
lara
                                              berkarya seni


Esok pagi .................                   Yatno Zigana s http://yatno-yatno.blogspot.com/


Bila embun mulai membasahi bumi

Akan kutulis lebih banyak lagi

Tentang Aceh yang bangkit dari
kehancuran

Tentang Aceh yang jauh dari kemiskinan

Tentang Aceh yang aman dari kekacauan

Tentang Aceh yang terhindar dari segala
bencana


Semoga.....................

A m in !

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:2504
posted:12/17/2010
language:Malay
pages:25