Docstoc

Polusi Tanah _ Air Tanah _sahnohilhami_

Document Sample
Polusi Tanah _ Air Tanah _sahnohilhami_ Powered By Docstoc
					                Pendahuluan
   Apakakah yang dimaksud dengan pencemarana
    tanah ?. Menurut Peraturan Pemerintah RI
    No.150 tahun 2000 tentang Pengendalian
    kerusakan tanah untuk produksi bio massa:
    ”Tanah adalah salah satu komponen lahan
    berupa lapisan teratas kerak bumi yang terdiri
    dari bahan mineral dan bahan organik serta
    mempunyai sifat fisik, kimia,biologi dan
    mempunyai kemampuan menunjang kehidupan
    manusia dan makhluk hidup lainnya.”
    Penyebab Pencemaran Daratan
    Kemajuan Industri dan teknologi yang berkembang pesat
     dapat menimbulkan pencemaran daratan. Pencemaran
     daratan relatif lebih mudah diamati bila dibandingkan
     dengan udara maupun air. Secara garis besar pencemaran
     daratan dapat disebabakan oleh :

   Faktor internal, yaitu yang disebabkan oleh peristiwa alam
    seperti letusan gunung berapi yang memuntahkan debu,
    pasir, batu dan bahan vuklanik lainnya yang menutupi dan
    merusak daratan sehingga menjadi tercemar. Pencemaran
    karena faktor internal ini tidak terlalu menjadi beban,
    karena dianggap sebagai musibah bencana alam.

   Faktor eksternal, yaitu pencemaran karena ulah aktivitas
    manuasia. Pencemaran ini yang perlu mendapat perhatian
    yang seksama dan sunguh-sungguh agar daratan tetap
    dapat memberikan daya dukungnya bagi kehidupan
    manusia.
                        Tetapi apa yang terjadi, akibat
                        klegiatan manusi,banyak terjadi
                        kerusakan tanah. Di dalam PP 150
                        th 2000 disebabkan bahwa “
                        Kerusakan tanah untuk produksi
                        biomassa adalah berubahnya sifat
                        dasar tanah yang melampaui kriteria
                        baku kerusakan tanah “
Apakah penyebab pencemaran tanah tersebut?
Tanah merupakan bagian penting dalam menunjang kehidupan
makhluk hidup di muka bumi. Seperti kita ketahui rantai makan,
sebagian besar dari makanan kita berasal dari permukaan tanah.
Oleh sebab itu, sudah menjadi kewajiban kita menjaga
kelestarian tanah agar tetap dapat mendukung kehidupan
dimuka bumi ini.Akan tetapi, sebagaimana halnya pencemaran
air dan udara, pencemaran tanah pun akibat kegiatan manusia
juga.
Timbunan sampah dapat mengganggu/ mencemari
karena: lindi (air sampah), bau dan estika dan juga
menutupi permukaan tanah sehingga tanah tidak bisa
dimanfaatkan.
Selain itu dapat menghasilkan gas nitrogen dan asam
sulfida, adanya zat mercury, chrom dan arsen dapat
menimbulkan gangguan terhadap biota tanah,
tumbuhan, merusak struktur permukaan dan tekstur
tanah. Limbah lain seperti oksida logam, baik yang
terlarut maupun tidak akan dapat menjadi racun.

 Sampah anorganik tidak ter-biodegradasi, yang
 menyebabkan lapisan tanah tidak dapat ditembus
 oleh akar tanaman dan tidak tembus air sehingga
 peresapan air dan mineral yang dapat
 menyuburkan     tanah    hilang  dan     jumlah
 mikroorganisme di dalam tanahpun akan
 berkurang akibatnya tanaman sulit tumbuh
 bahkan mati karena tidak memperoleh makanan
 untuk berkembang
Tidak jauh berbeda dengan udara dan air,
daratanpun dpat mengalami pencemaran.
Daratan mengalami penc. apabila ada
bahan-bahan asing, baik yang bersifat
organik maupun yang anorganik, yang
berada dipermukaan tanah sehingga
menyebabakan daratan menjadi rusak.
Sehingga tidak dapat memberikan daya
dukung bagi kehidupan manusia, untuk
pertanian,pertenakan,         kehutanan
maupun untuk pemukiman sehingga
sasaran peningkatan kualitas hidup, tidak
dapat tercapai.
    Penyebab Pencemaran Daratan
    Kemajuan Industri dan teknologi yang berkembang pesat
     dapat menimbulkan pencemaran daratan. Pencemaran
     daratan relatif lebih mudah diamati bila dibandingkan
     dengan udara maupun air. Secara garis besar pencemaran
     daratan dapat disebabakan oleh :

   Faktor internal, yaitu yang disebabkan oleh peristiwa alam
    seperti letusan gunung berapi yang memuntahkan debu,
    pasir, batu dan bahan vuklanik lainnya yang menutupi dan
    merusak daratan sehingga menjadi tercemar. Pencemaran
    karena faktor internal ini tidak terlalu menjadi beban,
    karena dianggap sebagai musibah bencana alam.

   Faktor eksternal, yaitu pencemaran karena ulah aktivitas
    manuasia. Pencemaran ini yang perlu mendapat perhatian
    yang seksama dan sunguh-sungguh agar daratan tetap
    dapat memberikan daya dukungnya bagi kehidupan
    manusia.
Kemajuan industri dan teknologi ternyata telah
menambah jenis limbah manusia yang semula
sebagian besar bersifat organik bertambah
dengan yang bersifat anorganik. Bagaimana
peranan atau pengaruh kemajuan industri dan
teknologi terhadap macam limbah yang
dihasilkan dapat dilihat contoh komposisi bahan
yang digunakan oleh industri mobil pada tahun
1966 dan tahun 1986. Mobil yang telah rusak
dan dibuang akan menghasilkan limbah sesuai
dengan konposisi bahan yang digunakan dalam
pembuatannya. Adapun komposisi bahan yang
digunakan seperti tabel di bawah ini:
Tabel Komponen pencemar daratan Kota

             Komponen       Prosentase
    Kertas                      41
    Limbah bahan Makanan        21
    Kaca                        12
    Logam/besi                  10
    Plastik                     5
    Kayu                        5
    Karet/kulit                 3
    Kain                        2
    dll                         1

    Sumber Wisnu.A.W,1995
                Masalah daur ualang Sampah
Luas daratan yang terbatas terasa semakin sempit dengan bertambahnya
jumlah penduduk yang memerlukan lahan untuk daerah pemukiman. Untuk
menunjang kehidupan, daratan diambil utk keperluan lahan pertanian, daerah
industri dan penimbunan Sampah. Daerah yang digunakan sebagai TPA akan
bertambah luas, krn. jlh limbah kegiatan manusia selalu bertambah dari hari
kehari.

Walaupun sudah disediakan TPA , namun selalu memerlukan areal yang selalu
bertambah sehingga luas lahan yang lain akan terus berkurang.

Maka pemanfaatan kembali limbah padat ternyata banyak memberikan
keuntungan bagi kehidupan manusia.

Dari sisi lain diharapkan agar industri selalu menekan produk-produknya untuk
menghindari atau memperkecil menggunakan pembungkus yang bersifat
anorganik.
Bahan buangan anorganik dipisahkan dari bahan organik dan
   dikumpulkan sesuai dengan sifat dan jenisnya. Misalnya
   semua jenis logam(besi,aluminium,seng,tembaga dll.)
   dikumpulkan menjadi satu, dipisahkan dari bahan buangan
   gelas dan plastik untuk memudahkan proses daur ulang
   bahan buangan tersebut. Pemisahan sudah dimulai sejak
   bahan    buangan      akan   dijadikan limbah,   dengan
   menyediakan tempat limbah(sampah) yang sudah dibagi
   sesuai dengan sifat dan jenisnya. Cara ini akan sangat
   membantu proses daur ulang, sehingga menjadi bahan
   yang masih dapat dimanfaatkan lagi bagi kehidupan
   manusia.
Beberapa unsur penting dalam pengelolaan transportasi
   sampah (limbah padat) :
1. Jarak atau rute transportasi
2. Peralatan & kendaraan yang dipakai
3. Kapasitas angkut
4. Kecepatan & bahan bakar
Biaya akan ekonomis bila nilai indek transportasi (IT)
   semakin kecil , sementara IT adalah :
                  jumlahoran g x waktu
             IT 
                     tonase x jarak
Beberapa teknik dalam pengolahan limbah padat
   (sampah)
a. Composting
b. Recycling
c. Reused
d. Incinerator
e. Sanitary land fill
Untuk membuat biaya pengolahan supaya lebih
murah dan mudah perlu digalakkan suatu
konsep Kawasan Industri Sampah (KIS).
Dimana pada dasarnya konsep ini adalah tidak
hanya memikirkan bagaimana cara penanganan
untuk menghindari kontak dengan manusia ,
tetapi bagaimana agar melihat sampah itu
sebagai salah satu sumberdaya alam.
        Pencemaran Air Tanah

Pencemaran air tanah di ibu kota DKI
  sudah sampai pada tingkat
  mengkhawatirkan. Berdasarkan data yang
  diperoleh dari Badan Pengelolaan
  Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD)
  Propinsi DKI Jakarta menyebutkan, air
  tanah Jakarta sudah tercemar oleh Bakteri
  Escherichia coli (Bakteri e coli). Bahkan,
  tingkat pencemaran sudah mencapai 80
  persen.
         Intrusi Air Laut
  Beberapa wilayah mempunyai air tanah
   dengan kadar garam tinggi, gejala ini
 terjadi adalah secara alamiah atau akibat
 aktivitas manusia. Pada beberapa akifer,
adalah air laut yang terjebak dalam proses
    pembentukan daratan, seperti pada
   daratan endapan pantai atau berada
      dalam formasigeologi pada saat
              pembentukannya
         Proses masuknya air laut
  menggantikan air tawar disebut sebagai
   intrusi air laut. Hal ini sudah terjadi di
   beberapa tempat, terutama di wilayah
 pantai seperti di Belanda (Ernest, 1969),
 Long Island USA (Luscinzky, 1966) dan di
Indonesia walaupun masih diperdebatkan,
   diduga telah terjadi di wilayah Jakarta
  (Soenarto, 1988), Semarang (Kodoatie,
1996). Intrusi air laut ini menyebabkan air
      tanah menjadi turun kualitasnya
            Pengaruh Salinitas
 Kadar garam(NaCl) atau salinitas akibat intrusi air laut
 terhadap air tanah akan merugikan pemakai air tanah.
  Sebagai contoh batas maksimum kandungan khlorida
 menurut peraturan Mentri Kesehatan RI no 416 tahun
 1990 untuk air minum adalah 250 mg/L dan 500 mg/L
                    untuk air bersih.
Akibat intrusi, kadar khlorida dapat melebihi nilai tersebut
   dan menimbulkan rasa asin. Sedangkan nilai ambang
  rasa asin yang umumnya dapat diterima oleh manusia
   untuk air minum berkisar 600 mg/l khlorida. Dengan
 demikinan, air kadar khlorida di atas 600 mg/L praktis
tidak dapat digunakan untuk sumber air minum maupun
  air bersih, walaupun kandungan garam sampai jumlah
          tertentu diperlukan oleh tubuh manusia.
            Hening Darpito
       Direktur Penyehatan Air dan
       Sanitasi Direktorat Jenderal
    Pemberantasan Penyakit Menular
      dan Penyehatan Lingkungan
      (PPMPL) Mengatakan bahwa



 Pencemaran air tanah di wilayah DKI Jakarta semakin
 parah. Hal ini membuat air ledeng dan air sumur bor
  tidak memenuhi syarat sebagai air minum.Tingginya
pencemaran air mengakibatkan bakteri patogen, seperti
        E coli, masih terdapat dalam air ledeng.
 Analisa resiko akibat air tanah
         terkontaminasi
Kontaminan yang terkandung dalam air tanah, terutama
yang dikategorikan sebagai bahan beracun dan berbahaya
(B3) mempunyai potensi dalam menyebabkan ganguan pada
manusia dan lingkungan. Seringkali kontaminan dalam tanah
dan air tanah terdapat dalam konsentrasi yang rendah dan
sulit terdeteksi. Banyak manusia yang tidak menyadari
bahwa paparan yang menerus atau yang bersifat kronis dari
suatu kontaminan akan mengakibatkan gangguan kesehatan
yang baru dirasakan setelah bertahun-tahun. Paparan
terhadap kontaminan yang berasal dari tanah dan air tanah
dapat melalui mulut karena meminum air yang
terkontaminasi atau melalui pernapasan karena menghirup
udara yang mengandung uap kontaminan tersebut.
     Empat langkah untuk mengkaji resiko
     kontaminan yang berbahaya (National
    Academic of sciences dan Environmental
       Protection Agency atau EPA ) sbb;

    Identifikasi gangguan dan sumber
     gangguan dari kontaminan
    Analisis jalur dari kontaminan
    Analisis toksitasnya, dan
    Karakterisasi resiko
   Identifikasi gangguan dan sumber gangguan dari
                 kontaminan yang ada

Keberadaan kontaminan di dlm tanah dan air tanah umumnya
bersama-sama dgn kontaminan yg lain yg jlhnya mungkin
puluhan atau malah bisa ratusan. Sebagai contoh, tumpahan
bensin ke dalam air tanah akan mencemari tanah dan air
tanah minimal ada 60 senyawa hidrokarbon yang telah
teridentifikasi dalam bensin, apalagi bila pencemar tersebut
berasal dari tempat pembuangan akhir sampah (TPA).


Karena jumlah kontaminan yang ada mingkin sangat banyak,
maka mengevaluasi satu-demi satu setiap kontaminan menjadi
tidak atau kurang realitis atau . Untuk itu perlu dicari
kontaminan satu atau lebih yang dominan yang dapat
dijadikan sebagai kontaminan pengganti (surrogate
contaminant ).
   Prosedur awal untuk memnentukan kontaminan pengganti yang
    berbasis pada skor kimia adalah sebagai berikut Watts,(1998):


1. Pilih atau pisahkan data kontaminan berdasarkan mediumnya,seperti
   tanah, campuran padatan/lumpur, air tanah, air permukaan atau
   udara
2. Tabulasikan nilai rata-rata dan kisaran konsentrasi kontaminan.
3. Tampilkan data dosis referensi untuk kontaminan non-karsinogen
   dan faktor kemiringan untuk kontaminan karsinogen
4. Tentukan skor kimia untuk setiap kontaminasi. Formula yang umum
   digunakan untuk menghitung skor tersebut adalah sebagai berikut :
                 R i j = Ci j Ti j
Dimana :         R i j = skor untuk kontaminan i dalam medium j
                 Ci j = konsentrasi kontaminan i dalam medium j
                 Ti j = Nilai toksisitas dari kontaminan i dlm medium j
                          ( dalam SF atau RfD)
a. Kontaminan non-karsinogenik:
     R i j = Cmax / RfD
               dimana : C max = konsentrasi maksimum
                        RfD = dosis acuan mg/(kg-hari)

b. Kontaminan karsinogenik:
           R i j = SF . Cmax
        dimana : C max = konsentrasi maksimum
                  SF = faktor kemiringan dari kurva kejadian kanker
                         Sebagai fungsi dosis paparan (kg-hari)/mg

Dengan demikian, skor kimia total adalah :
         R j = R 1 j + R 2 j + R 3 j + .......+ R i j
Dimana : R j = total faktor resiko untuk medium j
          R 1 j + .... + R i j = faktor resiko utk kontaminan 1 sampai i
                                 dalam Mediun j

5. Urutkan atau buat peringkat kontaminan berdasarkan nilai kimianya untuk
   semua jalur paparan ( mis. : melalui mulut atau hidung)
6. Pilih senyawa/kontaminan yang mencakup 99% dari sektor total.
Tabel. nilai RfD dan SF utk beberapa kontaminan terpilih
             Kontaminan              RfD         SF                Kontaminan            RfD         SF

    Benzene                      -           0,029      Aldrin                        3.10-5     17

    Toluene                      0,2         -          Carbaryl                      0,1        -

    Etilbenzene                  0,1         -          Dieldrin                      5.10-5     16

    Xylene                       2,0         -          DDT                           5.10-4     0,34

    Anthracen                    0,3         -          Hexachlorobenzene             8.10-4     1,6

    Flouren                      0,04        -          Lindane                       3.10-4     -

    Pyrene                       0,03        -          Malathion                     0,02       -

    Acetone                      0,1         -          Atrazine                      0,035      -

    Metil Etil ketone            0,6         -          2,4-D                         0,1        -

    Carbon tetrachloride         7.10-4      0,13       2,4,5-T                       0,1        -

    Chloroform                   0,01        0,0061     Trifluralin                   0,0075     0,007

    Perchloroethylene            0,01        -          Phentachlorophenol            0,03       0,12

    1,1,2 TCA                    0,004       0,0057     Chlorobenzene                 0,02       -

    2,4,6 Trichlorophenol        -           0,011      2,4-Dichlorophenol            0,003      -

    2,4,6 Trinitrotoluene        5.10-4      0,03       Hexachloropentadien           0,007      -

    PCB 1016                     7.10-5      -          Phenol                        0,6        -

    Bromoforom                   0,02        0,0079     Arsen(organik)                3.10-4     1,5

    Dichlorvos                   5.10-4      0,29       Boron                         0,09       -

    Molybdenum                   0,005       -          Cadmium                       5.10-4     -

    Hidrogen sulfida             0,003       -          Chromium(VI)                  0,005      -

    Heptachlor                   5.10-4      4,5        Tembaga sianida               0,005      -

    Methylmercury                1.10-4      -          Mangan                        0,005      -

                   EPA (1995) : RfD dalam satuan mg/(kg-hari), sedangkan SF dalam (kg-hari)/mg
  Contoh
  Hasil analisa terhadap kontaminan dalam suatu sampel tanah yang
  mengalami pencemaram hidrokarbon adalah sebagai berikut

                 Kontaminan   Konsentrasi dalam tanah(C),
                                 mg/kg
                 Benzene                  150
                 Toluen                    10
                 Etilbenzen               170
                 Xylene                   200
                 Anthracen                 15
                 Flourence                320
                 Pyrene                   270



Tentukanlah kontaminan penggantinya:
Disini hanya benzene yg bersifat karsinogen yg menggunakan
persamaan R i j = SF . Cmax Sedangkan kontaminan lainnya
tidak bersifat karsinogen persamaannya R i j = Cmax / RdF
digunakan untuk menghitung skor kimia (R). Hasil perhitungan R
dan peringkatnya disajikan dalam tabel berikut ini:
  Kontaminan          RfD    SF             R       Peringka
                                                         t
Benzena           -         0,029   (150x0,029         6
                                      )=4,35
Toluen            0,2         -     (10/0,2) = 50      5
Ethylbenzen (3)   0,1         -     1700               3
Xylene            2,0         -     100                4
Antrhacen         0,3         -     50                 5
Fluorence (2)     0,04        -     8000               2
Pyrene (1)        0,03        -     9000               1

Dari tabel jawaban di atas diketahui bahwa 3 kontaminan,
yaitu pyrene,flourene dan ethylbenzene dapat digunakan
sebagai kontaminan pengganti, karena ketiganya mempunyai
skor kimia 18700, yang berarti mencakup 99% dari total skor
18904,35
       Evaluasi terhadap paparan kontaminan




Paparan kontaminan bisa terjadi pada siapa saja,
dengan efek pada kesehatan yang tidak terduga.
Untuk itu diperlukan suatu metode atau prosedur
untuk memperkirakan seberapa besar paparan
tersebut, frequensi serta lamanya paparan dan rute
paparan. Dalam hal paparan kontaminan tanah dan
air tanah,rute kontaminan yang masuk kepada
manusia sebagian besar melalui mulut dan hidung,
akibat menghirup uap kontaminan yang volatil.
Salah satu faktor penting dalam evaluasi paparan kontaminan adalah
bagaimana memperkirakan jumlah kontaminan yang masuk kedalam tubuh
manusia atau terpapar pada manusia. Persamaan untuk menghitung
asupan kontaminan yang dianjurakan oleh EPA adalah sebagai berikut
(Watts,1998)
      CxIRxFPxWP             1
   I=            x                 dimana :
          BT                WR
I = intake atau asupan kontaminan harian (mg/Kg-hari)
C = konsentrasi kontaminan rata-rata selama periode pangamatan(mg/L
    untuk kontaminan dari air, atau mg/m3 untuk kontaminan dari udara
        IR = Jumlah medium yang tertelan persatuan waktu (L/hari)
        FP = frequensi paparan (hari/tahun)
        WP=Lama waktu paparan (tahun)
        BT =Berat tubuh yang terpapar (kg)
        WR=waktu perata,dimana paparan dirata-ratakan (hari)
Contoh soal
Suatu sumur dalam di dataran tinggi yang digunakan untuk sumber air
minum mengandung 0,25 mg/L mangan (Mn). Tentukanlah berapa asupan (I)
pada seorang manusia dewasa dengan berat tubuh 70 Kg,untuk waktu
paparan selama 30 tahun, yang meminum rata-rata 2L/hari air sumur tsb.



         I=
                CAxIRxFPxWP
                   BTxWR
              0,25 mg / Lx 2 L / harix365 har / tahunx30 tahun
                              70 Kgx10950 hari
                0,00714mg/Kg-hari
   Karakteristik resiko akibat
            paparan
Karakteristik resiko dapat dinyatakan dalam
bentuk perhitungan resiko baik dari
kontaminan karsinogenik maupun non-
karsinogenik terhadap penerima yang
mungkin terpapar oleh kontaminan.
a. Kontaminan non-karsinogenik
Untuk kontaminan yang non-karsinogenik, resiko
dihitung berdasarkan suatu indek yang disebut indek
gangguan atau hazard indek (HI). Nilai HI dihitung
dengan formula sebagai berikut (Watts,1998):

        HI = I/RfD

dimana I dan RfD mempunyai satuan seperti
persamaan sebelumnya. Nilai HI dari satuan
komulatif dari semua kontaminan seyogianya  1,
yang berarti resiko akibat paparan masih bisa
diterima. Sebaliknya bila nilai HI  1, penerima
paparan akan mempunyai resiko mendapat akibat
buruk dari paparan tersebut.
   Contoh:
   Dari seorang dewasa yang meminum air sumur
    (contoh sebelumnya) yang       mengandung Mn
    0,25 mg/L, tentukanlah indek gangguan HI yang
    ditimbulkan, bila diasumsikan hanya kontaminan
    Mn yang berada dalam air minum tersebut.
   Jawab.
   Dari jawaban contoh sebelumnya diperoleh I =
    0,00714 mg/Kg-hari. Dari tabel Rfd dan SF
    diperoleh nilai RfD untuk Mangan adalah 0,005
    mg/Kg-hari, sehingga :
             HI = 0,00714/0,005 = 1,428
   Nilai HI  1, yang berarti orang meminum air
    sumur tersebut mempunyai resiko terhadap
    kesehatan pemakainya.
b. Kontaminan karsinogenik
Untuk kontaminan karsinogenik, resiko terkena
kanker merupakan fungsi dari asupan harian kronis
dan faktor kemiringan (slope factor/SF), dengan
formula sebagai berikut (Watts,1998):
              Resiko = CDI x SF
Dimana :
  CDI = asupan kronis harian (chronic daily intake),
         mg/Kg-hari

Untuk persamaan Resiko = CDI x SF, nilai resikonya
maksimum diperbolehkan adalah 1x 10-6
Contoh Soal
Diketahui suatu populasi terpapar oleh kontaminan benzene
dalam air minum. Bila diketahui CDI dari populasi tersebut
rata-rata peorangnya 5,8 x 10-5 mg/Kg-hari, perkirakanlah
resiko populasi tersebut terkena kanker akibat paparan
kontaminan tersebut.
Dari tabel RfD & SF, SF benzene adalah 0,029 kg-hari/mg.
Nilai resiko terkena kanker akibat paparan adalah :
                   Resiko = CDI x SF
                          = 5,8 x 10-5 x 0,029 = 1,682 x 10-6

Nilai resiko ternyata lebih dari 1 x 10-6 , yang berarti paparan
tersebut mempunyai potensi menyebabkan kanker dan tidak
dapat diizinkan.
Perkiraan resiko terhadap kanker dan gangguan
kesehatan seperti yang ditimbulkan umumnya
berdasarkan studi terhadap binatang yang
diekstrapolasikan kepada manusia.

Dengan semakin banyaknya senyawa kimia yang
dibuat atau yang ditemukan, maka penentuan
resiko atau gangguan terhadap kesehatan akibat
paparan kontaminan akan bertambah sulit,
karena mungkin efek senergi dari kontaminan-
kontaminan yang berada dalam suatu medium
yang belum terdeteksi.

Selain itu rute atau port of entry kontaminan
juga tidak hanya memlalui mulut dan
pernapasan, tetapi juga melalu absorbsi oleh
kulit   akibat   kaontak   langsung    dengan
kontamianan

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:4058
posted:12/16/2010
language:Indonesian
pages:37