Docstoc

Kriteria Perencanaan Metode Produksi Artificial Lift

Document Sample
Kriteria Perencanaan Metode Produksi Artificial Lift Powered By Docstoc
					                  KRITERIA PERENCANAAN METODE PRODUKSI
                                      ARTIFICIAL LIFT


       Perencanaan metode produksi sembur buatan suatu lapangan minyak
dipengaruhi oleh karakteristik reservoir. Karakteristik reservoir meliputi sifat fisik
batuan, sifat fisik fluida dan kondisi reservoir.
       1. Batuan Reservoir.
       Bila hanya satu lapisan produktif, maka semua cara produksi dapat
       dipergunakan, sedangkan apabila lapisan produksi lebih dari satu, dengan
       menggunakan comingle completion semua cara produksi dapat dipergunakan
       dengan multiple completion, semua cara produksi dapat dipergunakan kecuali
       electric submercible pump.
          Pada formasi kurang kompak akan mempunyai masalah terproduksinya
       pasir, dimana dengan adanya aliran produksi kepermukaan maka pasir
       tersebut akan terikat oleh aliran fluida produksi. Apabila menggunakan cara
       produksi dengan pompa sucker rod maupun electric submersible pump ( ESP
       ) , maka pasir-pasir ini akan mengakibatkan goresan-goresan yang tajam pada
       plunger pump ,sehingga akan mengakibatkan kerusakan dan turunnya
       efesiensi pompa . Sedangkan cara produksi dengan menggunakan gas lift
       ,pasir yang terproduksi tidak merusak kebanyakan instalasi gas lift .
       Apabila sumur tersebut tidak menghasilkan gas yang cukup banyak sehingga
       tidak memungkinkan menggunakan gas lift, maka ESP dapat digunakan tetapi
       dibatasi sampai derajat kepasiran tertentu, yaitu dengan menggunakan
       impeller atau diffuser khusus yang terbuat dari ni – resist.
       2. Fluida reservoir.
       Dalam memproduksikan minyak maka air formasi akan ikut terproduksi .
       Adanya air formasi ini akan menyebabkan terjadinya endapan (scale) . Scale
       adalah senyawa dalam bentuk padatan sebagai hasil reaksi antara ion-ion
       tertentu yag terdapat dalam suatu sistem larutan. Pada prinsipnya scale akan
terjadi apabila air mengandung ion-ion yang mampu membentuk senyawa
yang kelarutannya terbatas dan terjadinya perubahan kondisi atau komposisi
air yang dapat memperkecil larutan. Senyawa tersebut dapat membentuk
sistem suspensi dengan air dan akan terbentuk sumbatan-sumbatan pada
beberapa tempat atau senyawa tersebut dapat melekat pada pipa. Macam-
macam scale yang berat adalah senyawa-senyawa CaC03,CaS04 dan BaS04.
Dengan adanya scale penggunaan gas lift dan ESP akan sulit. .Sedangkan
pada metode sucker rod endapan atau scale dapat ditreatment dengan mudah.
Untuk minyak jenis parafin dimana titik tuangnya tinggi maka dengan adanya
penurunan temperatur sepanjang aliran, akan menyebabkan minyak tersebut
membeku , sehingga dapat menyumbat aliran minyak di pipa, karena parafin
ini terbentuk sebagai hasil dari penurunan tekanan , temperatur dan perubahan
komposisi minyak mentah pada weaktu diproduksikan. Disamping itu adanya
GOR yang tinggi dan meningkatnya WOR akan mempercepat adanya
endapan parafin. Endapan-endapan parafin biasanya dapat terjadi pada flow
line,tubing lubang sumur maupun di dalam formasi . Adanya endapan ini
sebagai akibat tersumbatnya pori-pori batuan dan rusaknya sumur-sumur
pompa     karena adanya endapan parafin dalam tubing, sehingga apabila
digunakan plunger fits ( rongga antara plunger dan core barrel ) yang kecil,
maka plunger akan cepat aus. untuk itu apabila viskositas minyak tinggi,
maka sebaiknya dipergunakan plunger fits yang besar, sehingga efisiensi
pompa akan tinggi . Pada dasarnya cara produksi dengan pompa dapat dipakai
baik itu pompa sucker rod maupun pompa ESP. tetapi ESP labih baik
digunakan karena ESP menghasilkan panas sehingga dapat menurunkan
viskositas   fluida     produksi,   hal   ini   akan   membantu   sumur   dalam
menyelesaikan masalah parafin.
3. Kondisi reservoir.
Temperatur juga erat hubunganya dengan cara produksi. Apabila suatu sumur
mempunyai temperatur yang tinggi, maka biasanya digunakan cara produksi
       dengan ESP ( Electric submersible pump ). Tetapi harus diperhatikan type
       kabel yang dipergunakan, dimana harus disesuaikan dengan temperatur
       formasinya. Untuk sumur bertemperatur tinggi (lebih dari 250        F ) perlu
       dipasang epoxi untuk melindungi kabel,o-ring, dan seal (gasket) tersebut.
       Data-data reservoir tersebut diperoleh dari hasil pengumpulan data, seperti
       dari analisa core, well logging, well testing serta analisa fluida reservoir.
       Disamping itu juga perlu didukung oleh data lainnya, seperti jenis perangkap
       reservoir, sifat fasa hidrokarbon dan jenis mekanisme pendorong reservoir.
Adanya komponen yang membentuk reservoir, seperti batuan reservoir, fluida
reservoir dan kondisi reservoir merupakan cermin dari karakteristik reservoir.
Dimana satu sama lainnya akan saling berkaitan yang mana akan mempengaruhi
jenis, jumlah serta kemampuan mengalir dari hidrokarbon pada reservoir tersebut.
       Perhitungan perkiraan reservoir, dimulai dengan perhitungan perkiraan
cadangan, dimana dalam perhitungan perkiraan cadangan ada beberapa metode yang
dapat digunakan, yaitu metode volumetris, metode material balance dan metode
decline curve. Dimana masing-masing metode mempunyai syarat atau batasan
sendiri-sendiri.
       Untuk perhitungan perilaku reservoir dimana peramalan perilaku dari
reservoir memerlukan data perubahan tekanan yang akan menunjukkan kelakuan
tertentu dari perilaku reservoir tersebut. Dan dengan batuan data struktur bawah
permukaan akan dapat ditentukan jenis perangkap reservoir yang akan membantu
dalam peramalan perilaku reservoir.
       Metode produksi dengan sembur alam dipergunakan apabila kemampuan
sumur alami dapat mengangkat minyak dan gas ke permukaan dengan sistem ukuran
rangkaian tertentu. Atau dapat digambarkan dengan suatu kurva maka antara kurva
IPR dan kurva choke performance harus berpotongan. Bila grafik IPR tidak
berpotongan dengan grafik tubing performance ataupun choke performance, ini
menandakan bahwa sumur tersebut sudah tidak mampu lagi berproduksi dengan
ukuran tubing maupun choke yang bersangkutan, sehingga digunakan secara
pengangkatan buatan (Artificial Lift).
        Penggunaan metode gas lift ataupun pompa dapat dilihat dari bentuk kurva
IPR-nya. Apabila grafik IPR membentuk garis lurus berarti bahwa tekanan reservoir
dari sumur tersebut masih berada di atas tekanan bubble pointnya sehingga fluida
produksi berupa cairan. Oleh sebab itu akan lebih efektif apabila digunakan metode
pompa. Sedangkan grafik IPR membentuk garis lengkung ini berarti tekanan
reservoir sudah di bawah tekanan bubble pointnya sehingga sudah terdapat gas yang
terbebaskan dan terproduksikan. Oleh sebab itu akan lebih efektif bila digunakan
metode gas lift.
        Grafik IPR akan berubah terhadap waktu produksi, karena tekanan
reservoirnya lama kelamaan menurun sesuai dengan jumlah minyak yang terproduksi
sehingga grafiknya akan mengalami penurunan. Maka dari itu besarnya produktivitas
suatu sumur tergantung dari penurunan tekanan reservoirnya maupun besarnya
tekanan aliran dasar sumur. Kecepatan penurunan tekanan tergantung dari jenis
mekanisme pendorong karena menyangkut energi ataupun tenaga yang dikandung
dari reservoir.
        Dari perhitungan peramalan perilaku reservoir dapat dibuat suatu kurva
pressure performance maupun production. Dengan menggunakan metode peramalan
perilaku reservoir seperti material balance maupun decline curve dapat diperkirakan
harga tekanan reservoir pada waktu tertentu sesuai dengan rate produksi yang
diinginkan. Dari hasil peramalan ini variabel tekanan dapat digunakan untuk
membuat suatu kurva IPR untuk tiap-tiap sumur. Dengan adanya penurunan tekanan
seperti yang telah dijelaskan diatas, maka dapat dibuat suatu kurva IPR yang baru
sehingga peramalan IPR dapat dibuat. Bentuk kurva peramalan IPR juga tergantung
dari jenis mekanisme pendorongnya.
        Sumur dapat diproduksikan secara sembur alam apabila tekanan reservoirnya
masih mampu untuk mengangkat fluida dari reservoir ke permukaan atau dengan
mengimbangi kehilangan tekanan yang terjadi di dalam media berpori, didalam pipa
vertikal, ketika aliran melewati bean, didalam pipa horizontal serta tekanan kerja
separator. Besarnya kehilangan tekanan didalam media berpori dapat disebabkan oleh
rate produksi yang tidak sesuai dengan kemampuan dari suatu reservoir. Bila rate
produksi besar, maka pressure drawdown juga besar. Akibat pressure drawdown yang
besar akan menyebabkan penurunan produktivitas formasi. Apabila penurunan
pressure drawdown terus berlangsung, maka Pwf akan kecil, efek dari kecilnya Pwf
akan menyebabkan terbebaskannya gas yang semula terlarut dalam fluida dimana hal
ini akan terjadi apabila Pwf sampai atau melampaui tekanan saturasi dari gas. Dengan
terbebaskannya gas ini maka akan menyebabkan perubahan sifat fisik dari fluida,
yaitu naiknya viscositas dari fluida.
       Bila tekanan reservoir sudah tidak mampu lagi untuk mengangkat fluida
formasi ke permukaan, maka langkah selanjutnya adalah memilih metode
pengangkatan buatan yang sesuai dengan kondisi reservoirnya. Dalam merencanakan
pengangkatan buatan, harus diperhatikan terlebih dahulu mengenai aras kerja cairan
(untuk pompa) atau titik keseimbangan (untuk gas lift) yaitu keseimbangan cairan
dalam annulus sehingga cairan tersebut tidak dapat mengalir lagi. Dari hubungan
antara aras kerja cairan dengan Pwf berarti aras kerja cairannya besar, hal ini
disebabkan karena dengan kecilnya Pwf berarti drawdown besar sehingga cairan akan
mengalir dengan laju yang besar.
       Viscositas dari fluida formasi sangat berpengaruh terhadap pemilihan metode
produksi. Untuk fluida yang mempunyai viscositas tinggi, penggunaan continous gas
lift akan membantu menurunkan viscositas. Dengan injeksi gas terus menerus maka
viscositas fluida akan dapat dipertahankan rendah pada waktu terjadi aliran.
       Dalam melakukan pemilihan pengangkatan buatan, jenis batuan reservoir juga
merupakan hal yang penting untuk diperhatikan. Hal ini dilakukan untuk menghindari
terjadinya problem-problem produksi yang akan terjadi. Metode gas lift akan sesuai
digunakan untuk reservoir batu pasir. Hal ini disebabkan reservoir batu pasir
merupakan reservoir yang prospek memungkinkan terjadinya problem kepasiran
terutama batuan yang unconsolidated, sedangkan untuk menangani problem kepasiran
dengan cara gas lift akan lebih mudah. Berbeda dengan pompa, bila terjadi problem
kepasiran maka pompa akan terendam dalam pasir sehingga akan menyebabkan
kerusakan pompa.
       Pengaruh mekanisme pendorong terutama terletak pada besarnya GLR yang
dihasilkan dari reservoir. Besarnya GLR dari suatu sumur akan menentukan
pemilihan cara pengangkatan buatan. Untuk sumur dengan GLR yang tinggi, cara
yang ideal adalah cara gas lift. Sedangkan untuk sumur yang memiliki GLR yang
rendah, cara produksi yang ideal adalah cara pompa.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags: thesis
Stats:
views:2069
posted:12/15/2010
language:Indonesian
pages:6
Description: well production, engineering, petroleum, artificial lift, method