Docstoc

Laoran Akhir EKPD 2010 Provinsi Sulawesi Tenggara oleh Universitas haluoleo

Document Sample
Laoran Akhir EKPD 2010 Provinsi Sulawesi Tenggara oleh Universitas haluoleo Powered By Docstoc
					                  Laporan Akhir EKPD Provinsi Sultra  2010 
 

                              KATA PENGANTAR

       Peraturan Presiden No. 7 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan
Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2004-2009 telah selesai dilaksanakan.
Sesuai dengan Peraturan Pemerintah (PP) No. 39 Tahun 2006 tentang Tata Cara
Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan, pemerintah
(Bappenas) berkewajiban untuk melakukan evaluasi untuk melihat sejauh mana
pelaksanan RPJMN 2004-2009 di daerah. Bappenas dalam melakukan evaluasi
berkerja sama dengan 33 Perguruan Tinggi Negeri di Indonesia untuk melaksanakan
kegiatan evaluasi di daerah masing-masing.
       Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah (EKPD) tahun 2010 di Provinsi
Sulawesi Tenggara secara umum bertujuan; untuk mengevaluasi pelaksanaan
RPJMN 2004-2009 dan menganalisis kontribusi pada pembangunan di daerah; dan
untuk menganalisis keterkaitan prioritas/program (outcome) dalam RPJMN 2010-
2014 dengan prioritas/program yang ada dalam Rencana Pembangunan Jangka
Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi dengan menggunakan pendekatan diskripsi
kuantitatif dengan memperhatikan kaidah-kaidah SMART (Specific, Measurable,
Attainable, Relevant, dan Timely).
       Pencapaian hasil yang optimal hanya dapat dilakukan jika kegiatan evaluasi
ini didukung oleh tim yang multidisipliner. Tim EKPD Sulawesi Tenggara tahun 2010
didukung oleh tim yang berlatar belakang ilmu ekonomi sumberdaya alam,
menajemen sumberdaya pesisir, ilmu penyuluhan dan pemberdayaan masyarakat,
ilmu adminitrasi pemerintah, ilmu sosial dan           pendidikan, ilmu ekonomi
pembangunan dan Kesehatan Masyarakat.
       Laparan ini diharapkan dapat dijadikan pedoman bagi tim evaluasi dalam
melakukan kegaiatn evaluasi dan sebagai bahan Tim sekretariat Nasional untuk
melakukan Berkoordinasi dengan tim evaluasi provinsi untuk mengetahui
perkembangan pekerjaan dan memastikan perkembangan pekerjaan sesuai dengan
waktu yang ditetapkan
       Kami mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah
memberikan masukan dalam rangka memperlancar kegiatan EKPD ini. Secara
khusus kami mengucapkan terima kasih kepada semua stakeholders daerah dan
pusat yang telah memberikan kontribusi pemikiran, informasi dan data sebagai
bahan penyusunan laporan akhir EKPD 2010.

                                                 Kendari,    Desember 2010
                                                 Rektor Universitas Haluoleo,




                                                  Prof. Dr. H. Usman Rianse
                                                 NIP. 19620204 198703 1 004
                        Laporan Akhir EKPD Provinsi Sultra  2010 
 


                                                  DAFTAR ISI


KATA PENGANTAR ……………….…..….…………………………………….…...…. i

DAFTAR ISI ………………………………………………..…………………………….. ii

BAB I PENDAHULUAN ………………………………………………………………… 1
       1.1 Latar Belakang ...................………………………………………………. 1
       1.2 Tujuan dan Keluaran Evalusi ….………………………………………….                                                             2

BAB II HASIL EVALUASI PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 …….......………                                                         3
       A. Agenda Pembangunan Indonesia Yang Aman dan Damai ……….…..                                                     3
           1. Indikator .......................................................................................        4
                1.1. Indeks Kriminal ......................................................................           4
                 1.2. Indikator Persentase Penyelesaian Kasus Kejahatan
                       Konvensional ........................................................................          5
                 1.3. Persentase Penyelesaian Kasus Kejahatan Transnasional ..                                        6
           2. Analisis Pencapaian Indikator ………………………………………..                                                          6
           3. Rekomendasi Kebijakan ………………………………………………                                                                9
       B. Mewujudkan Indonesia Yang Adil dan Demokratis ..............................                                10
           1. Indikator .........................................................................................     10
                1.1. Pelayanan Publik ...................................................................             10
                 1.2. Indikator Demokrasi Publik ....................................................                 10
            2. Analisis Pencapaian Indikator ………………………………………… 13
                2.1 Indikator Pelayanan Publik .....................................................                  13
                2.2 Persentase Kab/Kota Memiliki Perda Pelayanan Satu Atap...                                         20
                2.3 Persentase SKPD Provinsi Memiliki Pelaporan Keuangan WTP 22
            2. Analisis Pencapaian Indikator Demokrasi Publik ............................                            24
            3. Rekomendasi Kebijakan .................................................................                38
       C. Agenda Meningkatkan Kesejahteraan Rakyat .....................................                              41
          1. Indikator ............................................................................................   41
             1.1. Indikator Pendidikan ..................................................................             41
             1.2. Indikator Kesehatan ...................................................................             43
             1.3. Indikator Keluarga Berencana ..................................................                     48
             1.4. Indikator Makro Ekonomi dan Investasi.....................................                          50
             1.5. Infrastruktur ……………………………………………………….                                                                52
                         Laporan Akhir EKPD Provinsi Sultra  2010 
 

            1.6 Indikator Pertanian ………………………………………………….                                                           53
            1.7. Indikator Kehutanan ...................................................................           55
            1.8. Indikator Kelautan ……………………………………………………                                                          56
            1.9. Indikator Kesejahteraan Sosial …………………………………….                                                   57
         2. Analisis Pencapaian Indikator …………………………………………..                                                      59
         3. Rekomendasi Kebijakan .....................................................................           85
            3.1. Indikator Pendidikan ...................................................................         85
            3.2. Indikator Kesehatan dan Keluarga Berencana ............................                          85
            3.3. Indikator Makro Ekonomi .............................................................            86
            3.4. Indikator Pertanian, Kehutanan dan Kelautan..............................                         87
            3.5. Indikator Kesejahteraan Sosial ....................................................               88

BAB III. RELEVANSI RPJMN 2010-2014 DENGAN RPJMD PROVINSI
         SULAWESI TENGGARA ...............................................................……                       89
           1. Pengantar .......................................................................................    89
           2. Tabel Relevansi RPJM Nasional dan RPJMD Sulawesi Tenggara..                                          89
           3. Rekomendasi ..................................................................................      105

BAB IV. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI ................................................                               109

          1. Kesimpulan .....................................................................................     109

          2. Rekomendasi ..................................................................................       110
                  Laporan Akhir EKPD Provinsi Sultra  2010 
 

                                         DAFTAR TABEL

                                                                                                       Hal

Tabel 2     Persentase Umur Harapan Hidup Penduduk                                       di Sulawesi 45
            Tenggara .......................................................................................

Tabel 3     Persentase Angka Kematian Bayi di Provinsi Sulawesi Tenggara                                46

Tabel 4      Persentase Prevalensi Gizi Buruk di Sulawesi Tenggara                                      46

Tabel 5     Persentase Prevalensi Gizi Kurang di Sulawesi Tenggara                                      47

Tabel 6     Persentase penduduk ber-KB (contraceptive prevalence rate) di 48
            Provinsi Sulawesi Tenggara

Tabel 7.    Laju Pertumbuhan Penduduk di Provinsi Sulawesi Tenggara                                     49

Tabel 8.    Kinerja Makro Ekonomi Sulawesi Tenggara (2004-2009)                                         50

Tabel 9.    Perkembangan Investasi Domestik dan Investasi Asing di 51
            Sulawesi Tenggara

Tabel 10.   Perkembangan Kondisi Jalan di Sulawesi Tenggara                                             52

Tabel 11.   Nilai Tukar Petani (NTP) di Sulawesi Tenggara Tahun 2008-2009                               54

Tabel 12.    PDRB Sektor Pertanian Atas Dasar Harga Berlaku (Rp. Juta)                                  55

Tabel 13.   Persentase Luas lahan rehabilitasi dalam hutan terhadap lahan
            kritis di Sulawesi Tenggara dan Nasional Tahun 2004-2008      55

Tabel 14.   Capaian indicator keluaran (output) jumlah tindak pidana
            perikanan di Sulawesi Tenggara dan Nasional Tahun 2004- 56
            2009

Tabel 15.   Luas Kawasan Konservasi Laut                     di Sulawesi Tenggara               dan 57
            Nasional Tahun 2004-2009

Tabel 16.   Persentase Penduduk Miskin Di Sulawesi Tenggara 2004-2009                                   57

Tabel 17.   Tingkat Pengangguran Terbuka di Provinsi Sulawesi Tenggara
            Tahun 2004-2009                                            58

Tabel 18.   Jumlah Tenaga Kerja Menurut Perusahaan (Sedang dan Besar) 58
            Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun 2004-2009

Tabel 19.   Evaluasi Relevansi RPJMN 2010-2014 dengan RPJMD Provinsi 90
            Sulawesi    Tenggara   2008-2013   dari  Aspek  Prioritas
            Pembangunan dan Program Aksi
                       Laporan Akhir EKPD Provinsi Sultra  2010 
 




                                          DAFTAR GAMBAR

                                                                                                                 Hal

Gambar 1        Persentase    Kasus     Konvensional      yang  terselesaikan
                dibandingkan yang dilaporkan di Polda Sultra …………………….. 6
Gambar 2        Persentase Kasus Kejahatan Transnasional yang terselesaikan
                selama tahun 2004-2009 ............................................................... 7
Gambar 3        Persentase kasus korupsi terselesaikan di Polda Sultra, tahun
                2005-2009 ……………………………………………………………... 16
Gambar 4        Persentase Kasus Tindak Pidana Korupsi pada Kejaksaan
                Tinggi Sulawesi Tenggara yang ditangani dibanding dengan
                yang dilaporkan dalam kurun waktu 2004-2009 …………………... 17

Gambar 5        Persentase jumlah SKPD di Sultra yang laporan keuangannya
                WTP ............................................................................................... 20
Gambar 6        Perkembangan Capaian Angka Usia Harapan Hidup Penduduk
                Sulawesi Tenggara dalam kurun Waktu 2005 sampai dengan
                2009 ............................................................................................... 23

Gambar 7.       Angka Kematian Bayi/1000 Kelahiran Hidup di Sulawesi
                Tenggara Selama Lima Tahun Terakhir (Tahun 2005-2009) ........ 23
Gambar 8.       Angka kematian ibu melahirkan/100.000 kelahiran hidup (KH) .....                                   24
                Gambar 10. Persentase angka melek huruf perempuan berusia
                di atas 15 tahun, Sultra tahun 2004-2009 ...................................... 25
Gambar 11.      Grafik Persentase Perempuan dalam Angkatan Kerja ..................                                26
Gambar 12 Persentase Jumlah Perempuan di DPRD se Sultra, periode
.         tahun 2004-2009 dan 2009-2014 ................................................... 27
Gambar 13       Persentase APK dan AMH ............................................................. 58
Gambar 14.      Persentase APS dan AMH …………………………………………...                                                         59
Gambar 15.      Persentase APS dan AMH …………………………………………...                                                         60
Gambar 16       Trend Angka Kematian Bayi di Provinsi Sulawesi Tenggara .........                                  61
Gambar 17       Trend penduduk ber-KB (contraceptive prevalence rate) di
                Provinsi Sulawesi Tenggara .......................................................... 63
Gambar 18       Trend Laju Pertumbuhan Penduduk di Provinsi Sulawesi
                Tenggara ....................................................................................... 65
Gambar 19.      Laju Pertumbuhan Ekonomi di Sulawesi Tenggara ......................                               66
Gambar 20.      Laju Pertumbuhan Ekonomi di Sulawesi Tenggara ......................                               68
Gambar 21       Laju Inflasi di Sulawesi Tenggara .................................................                69
                    Laporan Akhir EKPD Provinsi Sultra  2010 
 

Gambar 22.   Nilai Realisasi Investasi PMA di Sulawesi Tenggara ...................                            71
Gambar 23.   Nilai Realisasi Investasi PMDN di Sulawesi Tenggara ................                              72
Gambar 24.   Persentase Jalan Nasional Dalam Kondisi Baik di Sultra .............                              74
Gambar 25.   Persentase Jalan Nasional Dalam Kondisi Sedang di Sultra ........                                 75
Gambar 26.   Persentase Jalan Nasional Dalam Kondisi Rusak di Sultra ..........                                76
Gambar 27.   Kondisi Jalan Nasional di Sulawesi Tenggara Tahun 2007 ..........                                 76
Gambar 28.   Kondisi Jalan Nasional Tahun 2009 di Sulawesi Tenggara ..........                                 77
Gambar 29    Nilai Tukar Petani (NTP) Provinsi Sulawesi Tenggara...................                            78
Gambar 30    Persentase Luas Lahan Rehabilitasi dalam Hutan terhadap
             Lahan Kritis ................................................................................... 79
Gambar 31    Persentase Penduduk Miskin Provinsi Sulawesi Tenggara 2004-
             2009 .............................................................................................. 80
Gambar 32    Tingkat pengangguran terbuka Provinsi Sulawesi Tenggara
             2004-2009 ..................................................................................... 81
Gambar 32    Daya serap tenaga kerja menurut perusahaan di Provinsi Sulwesi
             Tenggara 2004-2009 ..................................................................... 82
Gambar 34    Analisis dengan indikator pendukung ............................................                  82
                   Laporan Akhir EKPD Provinsi Sultra  2010 
 


                                                                BAB I
                                                         PENDAHULUAN

1.1 . Latar Belakang
         Menurut Undang-Undang (UU) No. 25 Tahun 2004 tentang Sistem
Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN), kegiatan evaluasi merupakan salah
satu dari empat tahapan perencanaan pembangunan yang meliputi penyusunan,
penetapan, pengendalian perencanaan serta evaluasi pelaksanaan perencanaan.
Sebagai suatu tahapan perencanaan pembangunan, evaluasi harus dilakukan
secara sistematis dengan mengumpulkan dan menganalisis data serta informasi
untuk menilai pencapaian sasaran, tujuan dan kinerja pembangunan dilaksanakan.
Peraturan Presiden No. 7 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka
Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2004-2009 telah selesai dilaksanakan. Sesuai
dengan Peraturan Pemerintah (PP) No. 39 Tahun 2006 tentang Tata Cara
Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan, pemerintah
(Bappenas) berkewajiban untuk melakukan evaluasi pelaksanan RPJMN 2004-2009.
         Di dalam pelaksanaan evaluasi dilakukan dua bentuk yang berkaitan
dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN). Pertama
adalah evaluasi atas pelaksanaan RPJMN 2004-2009 dan yang kedua penilaian
keterkaitan antara RPJMD dengan RPJMN 2010-2014. Metode yang digunakan
evaluasi adalah Evaluasi ex-post. Evaluasi ex-post bertujuan untuk melihat
efektivitas (hasil dan dampak terhadap sasaran) dengan mengacu pada 3 (tiga)
agenda RPJMN 2004 - 2009 (agenda Aman dan Damai; Adil dan Demokratis; serta
Meningkatkan Kesejahteraan Rakyat). Untuk mengukur kinerja yang telah dicapai
dalam pelaksanaan ketiga agenda tersebut, diperlukan identifikasi dan analisis
indikator pencapaian.
         Metode yang digunakan dalam evaluasi relevansi RPJMD Provinsi dengan
RPJMN 2010-2014 adalah membandingkan keterkaitan 11 prioritas nasional dan 3
prioritas lainnya dengan prioritas daerah serta mengidentifikasi potensi lokal dan
prioritas daerah yang tidak ada dalam RPJMN 2010-2014. Prioritas nasional dalam
RPJMN 2010-2014 adalah 1) Reformasi Birokrasi dan Tata Kelola, 2) Pendidikan, 3)
Kesehatan, 4) Penanggulangan Kemiskinan, 5) Ketahanan Pangan, 6) Infrastruktur,
7) Iklim Investasi dan Iklim Usaha, 8) Energi, 9) Lingkungan Hidup dan Pengelolaan
Bencana, 10) Daerah Tertinggal, Terdepan, Terluar, & Pasca-konflik, 11)
Kebudayaan, Kreativitas dan Inovasi Teknologi dan 3 prioritas lainnya yaitu 1)


 
                                        1
                   Laporan Akhir EKPD Provinsi Sultra  2010 
 


Kesejahteraan Rakyat lainnya, 2) Politik, Hukum, dan Keamanan lainnya, 3)
Perekonomian lainnya.
         Hasil dari EKPD 2010 diharapkan dapat memberikan umpan balik pada
perencanaan pembangunan daerah untuk perbaikan kualitas perencanaan di
daerah. Selain itu, hasil evaluasi dapat digunakan sebagai dasar bagi pemerintah
dalam mengambil kebijakan pembangunan daerah.
         Pelaksanaan EKPD dilakukan secara eksternal untuk memperoleh masukan
yang lebih independen terhadap pelaksanaan RPJMN di daerah. Berdasarkan hal
tersebut, Bappenas cq. Deputi Evaluasi Kinerja Pembangunan melaksanakan
kegiatan EKPD yang bekerja sama dengan 33 Perguruan Tinggi selaku evaluator
eksternal dan dibantu oleh stakeholders daerah.


1.2. Tujuan dan Keluaran Evaluasi
Tujuan kegiatan evaluasi adalah:
1. Untuk mengevaluasi pelaksanaan RPJMN 2004-2009 dan menganalisis
    kontribusi pada pembangunan di daerah;
2. Untuk menganalisis keterkaitan prioritas/program (outcome) dalam RPJMN 2010-
    2014 dengan prioritas/program yang ada dalam Rencana Pembangunan Jangka
    Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi. Keluaran yang diharapkan dari kegiatan
    evaluasi meliputi: Tersedianya dokumen evaluasi pencapaian pelaksanaan
    RPJMN 2004-2009 untuk setiap provinsi dan tersedianya dokumen evaluasi
    keterkaitan RPJMD Provinsi dengan RPJMN 2010-2014.




 
                                        2
                      Laporan Akhir EKPD Provinsi Sultra  2010 
 


                                                    BAB II
                HASIL EVALUASI PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009

A. AGENDA PEMBANGUNAN INDONESIA YANG AMAN DAN DAMAI

               Dua dari tiga visi utama pembangunan Indonesia tahun 2004 – 2009
    adalah terwujudnya kehidupan masyarakat, bangsa, dan negara yang aman,
    bersatu, rukun dan damai; serta terwujudnya masyarakat, bangsa, dan negara
    yang menjunjung tinggi hukum, kesetaraan, dan hak asasi manusia. Untuk
    mewujudkan visi dimaksud telah dijabarkan sasaran target dan program
    pembangunan nasional sebagaimana dicanangkan dalam RPJMN 2004-2009.
               Dalam upaya membangunan Indonesia yang aman dan damai misalnya
    telah digariskan berbagai rancangan kebijakan seperti peningkatan kemampuan
    pertahanan Negara dengan maksud untuk meningkatkan profesionalisme aparat
    keamanan baik dalam hal modernisasi peralatan pertahanan negara dan
    teknologi pendukungnya, dan mereposisi peran TNI dalam kehidupan sosial-
    politik,    mengembangkan     secara   bertahap    dukungan   pertahanan,   serta
    meningkatkan kesejahteraan prajurit dalam upama memaksimalkan kinerja
    aparat keamanan dalam menjalankan tugas pokok dan funsinya.
               Pemerintah secara nasional telah menelorkan berbagai bentuk program
    terkait dalam rangka mewujudkan visi di atas terutama dalam kaitannya dengan
    peningkatan rasa aman dan damai diantaranya peningkatan keamanan,
    ketertiban dan penanggulangan kriminalitas mulai dari perkotaan sampai         di
    pelosok tanah air, yang diwujudkan melalui penegakkan hukum dengan tegas,
    adil, dan tidak diskriminatif; meningkatkan kemampuan lembaga keamanan
    negara; meningkatkan peran serta masyarakat untuk mencegah kriminalitas dan
    gangguan       keamanan    dan   ketertiban   di   lingkungannya   masing-masing,
    menanggulangi dan mencegah tumbuhnya permasalahan yang berkaitan dengan
    penggunaan dan penyebaran dan konsumsi narkoba, baik dalam negeri maupun
    transnasional, meningkatkan kesadaran akan hak-hak dan kewajiban hukum
    masyarakat, serta memperkuat kerjasama internasional untuk memerangi
    kriminalitas dan kejahatan lintas Negara secara umum.




 
                                           3
                    Laporan Akhir EKPD Provinsi Sultra  2010 
 


1. Indikator
    1.1. Indeks Kriminal
           Dalam banyak fakta, upaya membangun dan mewujudkan rasa aman dan
    damai di kalangan masyarakat terus dilakukan dan telah menunjukkan kemajuan.
    Pada level nasional terutama di daerah tempat persembunyian kelompok
    terorisme telah berhasil diungkap dan diawasi secara ketat oleh aparat
    keamanan terutama kepolisian. Hanya saja, dalam fakta lainnya, di berbagai
    daerah termasuk di Sulawesi Tenggara sampai tahun 2009 ini, masih saja terjadi
    berbabagi kejahatan bagi kejahatan konvensional maupun dan perompakan
    sumber daya alam seperti ilegal loging dan ilegal fishing yang sampai saat ini
    masih menjadi permasalahan yang belum dituntaskan.
           Berbagai kejahatan konvensional seperti tindakan kriminalitas (pencurian
    dan perampokan) masih terus terjadi. Kasus seperti itu tentu saja sangat
    menghawatirkan karena menggangu rasa aman dan ketentraman hidup dalam
    masyarakat di daerah. Praktek ilegal loging hasil hutan terus terjadi selama tahun
    2004 hingga 2009, terutama pencurian kayu jati di Kabupaten Muna, Sulawesi
    Tenggara yang telah merugikan Negara,           merusak lingkungan hidup dan
    ekosistem penyangka kelestarian sumber mata air bagi masyarakat. Selain itu,
    kejahatan transnasional juga terus terjadi sampai di daerah yang tidak
    berbatasan langsung dengan Negara lain seperti Sulawesi Tenggara, berupa
    penyelundupan barang bekas, antar negara dari Singapura ke Indonesia, dan
    penjualan hasil hutan seperti rotan ke Singapur dan malaysia masih terjadi.
           Beberapa penyebab adanya berbagai kejahatan itu antara lain perilaku
    hidup masyarakat yang tidak patuh aturan, dorongan untuk memperkaya diri
    sendiri, termasuk karena desakan ekonomi sebagai alasan klasik yang menjadi
    penyebab lahirnya berbagai kajahatan dalam masyarakat. Luas wilayah
    dibandingkan jumlah aparat keamanan masih terbatas, anggaran operasional
    dan peralatan teknologi terbatas masih menjadi alasan (pada level pusat maupun
    daerah), mengapa praktek kejahatan baik konvensional maupu transnasional
    terus terjadi. Namun hal itu bukanlah satu-satunya penyebab yang membuat
    kejahatan terus berlangsung. Hal yang paling utama adalah komitmen dan
    profesionalisme aparat keamanan (TNI, Polisi dan Bantuan Polisi) dalam
    menjalankan tupoksi dalam memberikan perlindungan terhadap asset Negara
    dan kehidupan masyarakat belum maksimal.



 
                                          4
                     Laporan Akhir EKPD Provinsi Sultra  2010 
 


             Kasus illegal loging yakni penebangan secara liar kayu jati yang terjadi di
    Pulau Muna Sulawei Tenggara, terkesan lebih disebabkan oleh kurang
    profesionalnya    aparat   keamanan,              termasuk     penguasa    setempat    dalam
    mengawal potensi hasil hutan. Bahkan ada fenomena bahwa ada sejumlah
    oknum aparat yang seharusnya mengamankan hasil hutan, justru tutup mata
    dengan praktek penebangan kayu jati secara liar yang terjadi di wilayah itu.
             Khusus kasus terorisme yang menjadi kekhawatiran nasional tidak terjadi
    di Sulawesi Tenggara. Fenomena yang terjadi adalah isu-isu provokasi yang
    menjurus pada konflik horizontal antar kelompok yang terjadi selama periode
    tahun 2004-2009. Kasus ini sering terkait dengan pelaksanaan Pilkada langsung,
    yang seringkali mencuat di permukaan ketika pertarungan politik dalam pilkada
    melahirkan ketidakpuasan diantara para pendukung calon kepala daerah, baik
    dalam proses pemilihan Walikota, Bupati maupun pemilihan Gubernur. Bentuk
    kerawanan yang lain adalah konflik antar kelompok pemuda di kota Kendari yang
    sering mengarah pada konflik antar etnik di kota Kendari. Peluang terjadinya
    konflik horizontal antar etnik sangat terbuka di Kota ini karena watak kesukuan
    masih dominan dan dipegang teguh oleh masing-masing kelompok-kelompok
    etnik dalam masyarakat Kota Kendari seperti (Tolaki, Muna, Bugis, Makassar,
    Buton,    Mekongga),    dan     nilai-nilai       pluralisme    dalam     masyarakat   belum
    terkonsolidasi secara baik.


    1.2. Indikator Persentase Penyelesaian Kasus Kejahatan Konvensional
             Persentase    jumlah     penyelesaian          kasus     kejahatan    konvensional
    berfluktuasi. Jumlah kasus terselesaikan pada tahun 2005 sebanyak 55,54%,
    tahun 2006 sebesar 56,04%, dari jumlah kasus dilaporkan sebanyak 4675 kasus.
    Pada tahun 2007 terjadi penurunan persentase jumlah kasus kejahatan
    konvesnional yang terselesaikan yakni menjadi 53,52% dari                      jumlah kasus
    dilaporkan sebanyak 6.359 kasus yang dilaporkan. Pada tahun 2008 kembali
    mengalami peningkatan menjadi 59,74% kasus yang terselesaikan, dan terus
    naik menjadi 64,70% dari jumlah kasus yang dilaporkan pada tahun 2009.
    Beberapa kritik masyarakat atas proses penyelesaian kasus-kasus kejahatan
    konvesional di daerah ini adalah masih lambannya aparat kepolisian dalam
    merespon laporan masyarakat selain proses penyelesaian kasus yang tidak
    tranparan, yang disertai dengan adanya biaya-biaya ekstra yang dibebankan
    kepada masyarakat.


 
                                                  5
                     Laporan Akhir EKPD Provinsi Sultra  2010 
 




    1.3. Persentase Penyelesaian Kasus Kejahatan Transnasional
            Persentase penyelesaian hukum atas kasus kejahatan transnasional juga
     menunjukkan perubahan angka yang tidak linier. Salah satu persoalan hukum
     yang menjadi perhatian pemerintah di daerah ini adalah praktek kejahatan
     transnasional yang melibatkan warga dari berbagai Negara seperti kasus migran
     gelap dari Filipina sempat menarik perhatian publik di daerah ini. Penyelesaian
     kasus-kasus yang melibatkan warga Negara dari berbagai Negara seringkali
     mengalami hambatan dalam penyelesaiannya karena belum ada perjanjian
     ekstradisi antar pemerintah RI dengan Negara asal warga yang mempunyai
     masalah pelanggaran hokum.
            Sulawesi Tenggara      merupakan salah satu daerah di Indonesia yang
     tingkat kejahatan transnasionalnya relative rendah, dengan kasus-kasus utama
     hanya pada masalah pelanggaran keimigrasian, narkotika dan perdagangan
     antar negara. Pada tahun 2005, jumlah kasus tindak kejahatan transnasional
     yang terselesaikan dibandingkan dengan yang dilaporkan sebesar 90,00%, tahun
     2006 sebesar 65,79 %, tahun 2007 sebesar 57,53%,              tahun   2008 sebesar
     52,08%, dan tahun 2009 sebesar 87,88%              dari 66 kasus yang dilaporkan.
     Perubahan angka persentase yang berfluktuasi itu disebabkan oleh jumlah
     laporan   kejahatan    konvesional      yang   berfluktuasi   pula    serta   tingkat
     penyelesaiannya     tidak   didasarkan      pada     tahun    kalender    melainkan
     mengutamakan tingkat kemudahan dalam penyelesaiannya.


    2. Analisis Pencapaian Indikator
            Beberapa indikator yang digunakan untuk mengukur keberhasilan
     pembangunan aman dan damai dalam kaitannya dengan indeks kriminalitas
     adalah persentase penyelesaian kasus kejahatan konvensional dan persentase
     penyelesaian kasus kejahatan transnasional yang terjadi diberbagai wilayah di
     tanah air. Di Sulawesi Tenggara, selama tahun 2004 sampai dengan 2009,
     kinerja aparat kemanan dalam menyelesaikan kasus kejahatan konvesional dan
     kejahatan transnasional berfluktuasi.




 
                                             6
                    Laporan Akhir EKPD Provinsi Sultra  2010 
 


           Berdasarkan data yang diperoleh dari Kepolisian Daerah (Polda)
    Sulawesi   Tenggara    tahun   2010,   tingkat   penyelesaian   kasus   kejahatan
    konvensional disajikan dan dianalisis dalam bentuk grafik sebagai berikut:




    Sumber: diolah dari data sekunder Polda Sultra, 2010.
    Gambar 1. Persentase Kasus Konvensional yang terselesaikan dibandingkan
                yang dilaporkan di Polda Sultra

           Berdasarkan grafik pada Gambar 1 terlihat bahwa penyelesaian kasus
    tindak kejahatan konvensional masih relative rendah dan berfluktuasi atau tidak
    terjadi peningkatan yang linier selama kurun waktu tahun 2005 sampai dengan
    2009. Kondisi itu terkait dengan naik turunnya jumlah kasus yang dilaporkan.
    Pada tahun 2007 terjadi penurunan kinerja penyelesaian kasus yakni 53,52%
    dari jumlah dilaporkan. Penyebabnya oleh antara lain karena naiknya jumlah
    kasus yang dilaporkan sementara jumlah aparat tidak bertambah secara dramatis
    seiring peningkatan jumlah kasus dilaporkan. Dengan kata lain, jumlah kasus
    yang dilaporkan meningkat, sementara jumlah aparat kepolisian di daerah ini
    tidak meningkat secara drastis. Sebagai catatan, bahwa peningkatan jumlah
    anggota polisi dan alokasi anggaran setiap tahun yang terus meningkat belum
    menunjukkan perubahan dan dampak yang signifikan terhadap perkembangan
    jumlah kejahatan yang terjadi. Alokasi anggaran terus meningkat, namun
    kejahatan juga semakin bertambah. Pada hal idealnya, semakin banyak jumlah
    aparat polisi, semakin tinggi alokasi anggaran operasional seharusnya semakin
    rendah pula jumlah kasus kejahatan konvesional yang terjadi dalam masyarakat.


 
                                           7
                   Laporan Akhir EKPD Provinsi Sultra  2010 
 


               Tingkat penyelesaian kasus kejahatan konvesional menggambarkan
       hal yang serupa. Terjadi fluktuasi presentase tingkat penyelesaian kasus
       kejahatan transnasional yang dilakukan oleh aparat khususnya aparat
       kepolisisan daerah Sulawesi Tenggara. Secara jelas digambarkan dalam
       grafik pada gambar 2 berikut.




    Sumber: Diolah dari data sekunder Polda Sultra (2010)
    Gambar 2. Persentase Kasus Kejahatan Transnasional yang terselesaikan
                selama tahun 2004-2009

           Berdasarkan grafik pada Gambar 2 terlihat adanya penurunan tingkat
    penyelesaian kasus transnasional yang terjadi di wilayah Kepolisian Daerah
    Sulawesi    Tenggara.   Dalam      grafik   terlihat   bahwa   jumlah   kasus   yang
    terselesaikan pada tahun 2007 (57,58%) dan tahun 2008 (52,08%). Penurunan
    persentase jumlah kasus yang diselesaikan dibandingkan yang dilaporkan terus
    meningkat. Hal itu tidak sejalan dengan target kinerja yang ditetapkan kepolisian
    yakni memaksimalkan pelayanan masyarakat. Lambannya penyelesaian kasus
    transnasional disebabkan oleh keterlibatan warga Negara dan jumlah aparat
    yang masih terbatas. Selain itu target penyelesaikan kasus tidak didasarkan
    pada tahun kalender, melainkan tergantung pada skala prioritas dikaitkan
    dengan tingkat kerumitan atau kemudahan dalam penyelesaian setiap kasus
    yang dilaporkan oleh masyarakat.




 
                                            8
                   Laporan Akhir EKPD Provinsi Sultra  2010 
 


3. Rekomendasi Kebijakan

         Berbadasarkan hasil evaluasi kinerja pemerintahan daerah di Sulawesi
    Tenggara khususnya mengenai pelaksanaan agenda pembangunan Indonesia
    yang aman dan damai menunjukkan kinerjanya masih relative rendah. Untuk itu
    beberapa hal yang perlu mendapat perhatian untuk memaksimalkan kinerjanya
    ke depan adalah sebagai berikut:
    1. Perlu   keseriusan   aparat     kepolisian   dalam   penanganan   kasus-kasus
       kejahatan konvensional termasuk perlu melakukan tindakan prefentif agar
       kasus kejahatan dapat berkurang. Karena frekwensi tindak kejahatan
       konvesional terus meningkat di daerah ini, maka peran aparat keamanan
       untuk meningatkan pengamanan termasuk penyelesaian kasus-kasus
       kejahatan perlu terus ditingkatkan, selain penanganan masalah kemiskinan
       dan pengangguran yang seringkali dianggap menjadi pemicu lahirnya
       tindakan kriminalitas seperti pencurian dan perampokan.
    2. Penanganan kasus transnasional, termasuk penyelesaian kasus yang
       melibatkan WNI di luar negeri seperti pelanggaran keimigrasian perlu
       ditangani secara serius. Upaya yang perlu dilakukan adalah memberikan
       berbagai penyuluhan terkait dengan aturan-aturan keimigrasian, penyuluhan
       perdagangan lintas Negara kepada para pemilik kapal di daerah yang sering
       menyelundupkan barang dari dan ke Singapura agar mereka mengetahui
       dalam mematuhi aturan keimigrasian dan ekspor-inpor barang sehingga tidak
       merugikan Negara atau daerah
 




 
                                           9
                   Laporan Akhir EKPD Provinsi Sultra  2010 
 


B. MEWUJUDKAN INDONESIA YANG ADIL DAN DEMOKRATIS


    1. Indikator
    1.1. Pelayanan Publik
           Beberapa faktor penyebab rendahnya kualitas pelayanan umum kepada
    masyarakat antara lain karena penyalahgunaan kewenangan dan atau karena
    adanya berbagai penyimpangan atau korupsi, rendahnya kinerja aparatur, belum
    memadainya     sistem    kelembagaan       (organisasi)   dan      ketatalaksanaan
    pemerintahan, rendahnya kesejahteraan PNS, serta banyaknya peraturan
    perundang-undangan yang sudah tidak sesuai dengan perkembangan keadaan
    dan tuntutan pembangunan.
           Rendahnya    kualitas   pelayanan    publik   terlihat    dari   antara   lain
    pembangunan prasarana umum seperti jalan raya (jalan provinsi dan jalan
    kabupaten) yang belum memadai (banyak yang rusak), fasilitas air bersih dan
    listrik yang masih terbatas. Ketiga hal itu, sampai saat ini masih menjadi
    permasalahan utama dan belum terselesaikan di Sulawesi Tenggara sejak awal
    pelaksanaan otonomi daerah, terutama pada tahun 1999 hingga tahun 2009.
    Pada hal salah satu esensi dari otonomi daerah adalah dalam rangka mendorong
    percepatan pembangunan dan pelayanan publik. Namun demikian diakui pula
    bahwa beberapa aspek layanan publik yang lain mulai dibenahi dan
    menunjukkan kinerja yang baik, seperti pelayanan kesehatan, penyelenggaran
    pendidikan, pelayanan administrasi dan pelayanan perizinan.


    1.2. Indikator Demokrasi Publik

           Beberapa isu utama yang menjadi perhatian dan sekalgus permasalahan
    dalam pembangunan demokrasi adalah masih lemahnya kelembagaan politik
    lembaga penyelenggara Negara, lembaga-lembaga kemasyarakatan belum
    tertata, masih rendahnya internalisasi nilai-nilai demokratis dalam kehidupan
    berbangsa dan bernegara seperti tingginya tindakan kekerasan atau konflik
    horizontal antar kelompok-kelompok politik, politik uang,       persoalan-persoalan
    masa lalu yang belum tuntas seperti pelanggaran HAM berat, tindakan-tindakan
    kejahatan politik, adanya ancaman terhadap komitmen persatuan dan kesatuan
    dan adanya kecenderungan unilateralisme dalam hubungan internasional.
    Disamping masalah-masalah pokok tersebut di atas, berbagai permasalahan


 
                                        10
                    Laporan Akhir EKPD Provinsi Sultra  2010 
 


    mendasar yang menuntut perhatian khusus pembangunan ke depan adalah: (1)
    masih lemahnya karakter bangsa; (2) belum terbangunnya sistem pembangunan,
    pemerintahan, dan pembangunan yang berkelanjutan; (3) belum berkembangnya
    nasionalisme, rendahnya keberpihakan pada rakyat kecil, demokrasi dan
    kekerasan dalam politik, dan ketidak adilan distribsi ekonomi antar struktur dalam
    masyarakat; (4) belum terejawantahnya nilai-nilai utama kebangsaan; 5) belum
    berkembangnya sistem yang memungkinkan masyarakat untuk mengadopsi dan
    memaknai nilai-nilai kontemporer secara bijaksana; (6) kegamangan dalam
    menghadapi     masa     depan;     serta    (7)   rentannya     sistem    pembangunan,
    pemerintahan, dan kenegaraan dalam menghadapi perubahan.
           Sistem demokrasi yang dianut Indonesia haruslah selaras dengan nilai-
    nilai demokrasi Pancasila, bukan demokrasi liberal seperti banyak dianut oleh
    Negara demokrasi liberal lainnya. Penerapan demokrasi pancasila lebih condong
    pada system demokrasi sosialis, yang memberikan peluang bagi intervensi
    Negara dalam mendorong percepatan pembangunan yang terkait dengan
    kepentingan strategis masyarakat atau dalam hal terjadi ketimpangan struktural.
    Hal itu berbeda dengan sistem demokrasi liberal yang secara esensil, segala
    sesuatunya, termasuk layanan publik yang menguasai hajat hidup orang banyak,
    termasuk menyangkut kepentingan kelompok minoritas diserahkan pada
    mekanisme      pasar.   Konsep     mekanisme       pasar      secara     absolute    hanya
    menguntungkan      pemilik   modal,    sementara      yang     lemah     atau     kelompok
    masyarakat marginal akan semakin tertinggal dan terpinggirkan.
           Konsep pembangunan berwawasan gender merupakan bagian dari upaya
    mengatasi ketimpangan struktural antara laki-laki dan perempuan dalam
    hubungan sosial dan pelayanan publik dalam kerangka membangun demokrasi
    yang partisipatif secara luas dan perwujudan nilai-nilai HAM. Salah satu tujuan
    dan sasaran penting dari pembangunan berwawasan gender adalah peningkatan
    kualitas hidup yang setara antara perempuan dan laki-laki. Hal itu hanya bisa
    dicapai dengan cara melakukan peningkatan kapabilitas dasar secara seimbang
    antara laki-laki dan perempuan. Hal itu dapat dilakukan dalam berbagai aspek
    seperti peningkatan akses yang setara dalam pelayanan pendidikan, pelayanan
    kesehatan secara baik dan kegiatan ekonomi. Karena itu, indikator yang
    digunakan untuk mengukur keberhasilan pembangunan demokrasi adalah
    semakin tingginya aksebilitas dan keterlibatan perempuan dalam layanan publik
    (pendidikan,   kesehatan     dan    pemberdayaan        ekonomi)       dan      keterlibatan


 
                                               11
                     Laporan Akhir EKPD Provinsi Sultra  2010 
 


    perempuan dalam proses-proses politik, kebijakan pemerintahan dan kegiatan
    yang terkait dengan upaya mewujudkan kesetaraan perempuan dan laki-laki.
          Pemerintah Sulawesi Tenggara menetapkan suatu kerangka kebijakan
    pembangunan gender dengan tujuan antara lain meningkatkan kesetaraan
    perempuan dan laki-laki dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Melalui
    kebijakan yang ada, berbagai lembaga yang terkait secara struktural maupun
    fungsional mempunyai tugas dan peran untuk memperjuangkan terwujudnya
    kesetaraan dan keadilan gender. Dalam Renstrada pembangunan gender
    ditetapkan beberapa target dan sasaran yang hendak dicapai dalam kurun waktu
    20004-2009. Sasaran dimaksud adalah: (a) mewujudkan kemitrasejajaran antara
    perempuan dan laki-laki melalui jalinan pola sikap dan perilaku yang saling
    peduli, saling menghargai, saling menghormati dan saling mengisi, baik di tingkat
    keluarga, masyarakat, maupun dalam proses pembangunan; (b) meningkatkan
    stabilitas dan kontrol yang memungkinkan perempuan sebagai mitra sejajar laki-
    laki untuk bersama-sama berperan dalam pembangunan sesuai dengan kodrat
    dan martabatnya, tanpa melupakan peran bersama dalam mewujudkan keluarga
    sejahtera yang beriman sehat dan bahagia; (c) memberdayakan lembaga-
    lembaga pengelola kemajuan perempuan agar lebih berperan, berkualitas dan
    mandiri yang diwujudkan melalui program-program GDI (Gender Development
    Indeks) seperti perbaikan layanan kesehatan, pendidikan dan pemberdayaan
    ekonomi, dan program GEM (Gender Empowerment Meassurement) seperti
    pemberdayaan politik perempuan dan aksebiitas dalam jabatan professional dan
    pengambilan keputusan; (d) meningkatkan perlindungan terhadap perempuan
    untuk mencegah terjadinya diskriminasi dan tindakan pelecehan atau kekerasan
    terhadap perempuan dan anak; (e) terjaminnya keadilan gender dalam berbagai
    peraturan    perundang-undangan        dan      kebijakan     publik;   (f)   menurunnya
    kesenjangan pencapaian pembangunan antara perempuan dan laki-laki yang
    diukur dengan angka GDI dan GEM.
           Pencapaian kinerja dalam GDI dan GEM diukur menggunakan beberapa
    indikator   seperti   aksebilitas   terhadap      pelayanan     kesehatan,    pendidikan,
    keberdayaan     ekonomi,     partisipasi    dan    peran    politik   perempuan,   posisi
    perempuan      dalam    pengambilan        kebijakan   dalam     pemerintahan.     Dalam
    peningkatan kesetaraan gender, upaya pembangunan di Sulawesi Tenggara
    diarahkan untuk meningkatkan mutu dan pelayanan kesehatan, pendidikan
    gratis, pemberdayaan ekonomi dan mendorong partisipasi politik warga dalam


 
                                               12
                    Laporan Akhir EKPD Provinsi Sultra  2010 
 


    proses-proses pengambilan keputusan dalam pembangunan guna menghasilkan
    pembangunan yang mampu mengatasi permasalahan sesuai kebutuhan riil
    seluruh lapisan masyarakat. Dalam bidang kesehatan, upaya itu dilakukan
    melalui berbagai kebijakan seperti pengobatan gratis di Puskesmas serta
    pemberian obat secara cuma-cuma untuk jenis obat tertentu. Sementara dalam
    bidang pendidikan dilakukan dengan memberikan kesempatan yang sama antara
    anak laki-laki dan perempuan untuk mengenyam pendidikan mulai dari SD
    sampai dengan perguruan tinggi. Sementara dalam pemberdayaan ekonomi,
    memberikan kesempatan luas kapada kelompok usaha kecil rumah tangga dan
    usaha menengah untuk mendapatkan permodalan guna meningkatkan kapasitas
    usahanya.
             Dalam bidang politik, upaya peningkatan peran perempuan dalam politik
    juga menjadi perhatian organisasi politik dengan memberikan akses kepada
    perempuan untuk ikut dalam partai politik atau menjadi calon legislatif termasuk
    menduduki posisi penting dalam organisasi birokrasi. Dalam kebijakan yang
    disebutkan terakhir ini seringkali dihambat oleh penguasa lokal yang           tidak
    menempatkan perempuan dalam posisi penting di birokrasi karena sistem
    promosi dalam birokrasi seringkali lebih didominasi oleh pertimbangan dukungan
    politik, selain persayaratan yang harus dipenuhi dalam jabatan karir di birorkrasi.


    2. Analisis Pencapaian Indikator
    2.1. Indikator Pelayanan Publik
             Salah satu problem dalam pemberdayaan pegawai di Sulawesi Tenggara
    dalam kaitannya dengan pemberdayaan perempuan adalah proses rekruitmen
    yang tidak mengutamakan perempuan. Proses penerimaan CPNS misalnya lebih
    diwarnai oleh adanya pungutan liar kepada para CPNS, sehingga yang diterima
    hanya mereka yang memiliki kemampuan untuk membayar sejumlah uang
    kepada pihak penentu, sementara dalam lingkungan masyarakat sendiri, kaum
    laki-laki selalu lebih diutamakan dibandingkan dengan perempuan. Selain itu
    proses    pembinaan,    pengembangan        dan   promosi   pegawai   selalu   lebih
    mengutamakan kepentingan politik, pendekatan primordial dan pendekatan KKN.
    Politisasi birokrasi dan sistem promosi yang KKN telah merusak tatanan birokrasi
    dan menjadikan kinerja aparat birokrasi menjadi lemah dan berdampak pada
    rendahnya kualitas pelayanan publik.



 
                                           13
                        Laporan Akhir EKPD Provinsi Sultra  2010 
 


           Berkembangnya permasalahan seperti di atas setidaknya disebabkan
    oleh dua faktor utama. Pertama, praktek korupsi dan KKN para aparat yang terus
    berlanjut. Kedua, penyalahgunaan kekuasaan termasuk karena adanya politisasi
    birokrasi oleh penguasa demi merebut atau mempertahankan kekuasaan.
    Praktek korupsi yang terus berlanjut dalam berbagai lini di pemerintahan daerah
    (yang penyelesaiannya selalu tidak tuntas dan sanksi bagi koruptor lemah) telah
    menelantarkan pembangunan. Berbagai sarana dan prasarana dasar seperti
    jalan raya, air bersih dan pangan yang menjadi kebutuhan utama masyarakat
    kurang diperhatikan.
           Praktek seperti itu diperparah oleh adanya penyalahgunaan Anggaran
    Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) atau korupsi demi memenuhi
    kebutuhan pribadi dan kelompok tertentu sehingga alokasi anggaran tidak
    mencapai tujuannya. Proses pengelolaan keuangan daerah yang buruk, dan
    terjadinya berbagai penyimpangan, memiliki keterkaitan dengan mentalitas dan
    moralitas pejabat publik yang rendah. Selain itu kapasitas SDM aparat yang
    rendah juga menjadi penyebab utama adanya penyimpangan. Pada saat yang
    sama, masih ada keengganan dari penguasa lokal untuk merumuskan kebijakan
    yang memberikan kemudahan dalam penyelenggaraan pelayanan publik.
           Pada sisi      lain, pelayanan publik seringkali tidak berjalan baik karena
    anggaran yang salah kelola atau memang sengaja dikorupsi oleh pengelola dan
    penguasa lokal. Penyimpangan anggaran di daerah masih banyak dilakukan.
    Penyalahgunnaan APBD di daerah dilakukan melalui berbagai cara seperti
    penyimpangan dari aturan, tidak konsisten dalam perencanaan, pemborosan
    anggaran, dan alokasi anggaran yang tidak pro rakyat serta pelaksanaan
    anggaran   fiktif    yakni   sebuah   proyek   pembangunan    hanya   ada   dalam
    perencnanaan dan dilaporkan dalam dokumen, tetapi tidak dilaksanakan.
           Beberapa       indikator   keberhasilan   pelayanan   public   adalah;   1)
    meningkatnya rasa keadilan dan tidak adanya diskriminasi dalam penegakkan
    hukum terutama terhadap kasus-kasus korupsi keuangan Negara/daerah yang
    diperuntukan bagi masyarakat dan pelayanan publik; 2) adanya pengelolaan
    keuangan daerah yang baik dan benar guna mendorong terselengarakannya
    pembangunan secara maksimal; 3) adanya peraturan daerah (Perda) untuk
    menjamin terselenggaranya pelayanan secara baik seperti Perda pelayanan satu
    atap atau pelayanan satu pintu; serta 4) kualitas kinerja Satuan Kerja Perangkat
    Daerah (SKPD) dalam pengelolaan keuangan di daerah.


 
                                            14
                  Laporan Akhir EKPD Provinsi Sultra  2010 
 


         Sasaran yang hendak dicapai pemerintah provinsi Sulawesi Tenggara
    dalam bidang pelayanan publik dalam periode tahun 2004-2009 mencakup:
    (a) berkurangnya secara nyata praktek korupsi pada birokrasi dan dimulai pada
    tataran pejabat yang paling atas; (b) terciptanya sistem kelembagaan dan
    ketatalaksanaan pemerintahan       yang bersih, effisien, efektif, transparan,
    profesional dan akuntabel; (c) terhapusnya aturan, peraturan dan praktek yang
    sifatnya diskriminatif terhadap warga negara, kelompok atau golongan
    masyarakat; (d) terwujudnya peningkatan kapasistas aparatur pemerintah
    daerah melalui peningkatan dan pengembangan pendidikan formal dan
    pendidikan   informal;   (e)   tercitanya   mekanisme   pelayanan    birokrasi
    pemerintahan daerah yang lebih efektif, efisien, partisipatif, transparan dan
    akuntabel melalui sistem pelayanan satu atap atau satu pintu yang mempunyai
    kekuatan hukum dalam bentuk Peraturan Daerah (Perda).
         Komitmen pemerintah provinsi Sulawesi Tenggara untuk memberantas
    tindak pidana korupsi, sebagaimana ditetapkan dalam Renstrada 2004-2009,
    ternyata belum dapat diwujudkan. Berbagai kendala yang dihadapi dalam
    pemberantasan tindak pidana korupsi di daerah ini antara lain : (a) Masih
    kurangnya dukungan masyarakat dalam memberi keterangan atau kesaksian
    dalam upaya mengungkap kasus tindak pidana korupsi. Hal ini disebabkan oleh
    perlindungan saksi yang belum dijamin oleh pemerintah. (b) Masyarakat
    cenderung menghindar untuk menjadi saksi karena tidak dinilai merepotkan
    dimulai sejak mencari keterangan oleh petugas sampai pada persidangan yang
    dinilai tidak memberikan manfaat atau buang-buang waktu saja; (c) Kemampuan
    petugas penyidik yang masih terbatas sehingga pembuktian secara hukum atas
    suatu kasus, kadang-kadang memakan waktu lama, bahkan ada yang di SP3-
    kan karena dianggap tidak cukup bukti; (d) Belum transparannya penanganan
    kasus korupsi yang melibatkan para pejabat lokal, dan rasa percaya masyarakat
    terhadap penegak hukum masih rendah; (e) Para penguasa lokal belum
    memperlihatkan sistem keteladanan dalam menjalankan tugasnya sebagai
    aparat pemerintah; (f) undang-undang yang mengharuskan alat bukti suatu
    kasus tindak pidana korupsi, harus lebih dari satu menjadi kendala, sebab
    meskipun pembuktian cukup kuat tetapi kalau hanya satu alat bukti, belum
    memenuhi syarat hukum dilanjutkan ke penuntutan/peradilan.




 
                                        15
                  Laporan Akhir EKPD Provinsi Sultra  2010 
 


    1. Persentase Jumlah Kasus Korupsi Tertangani

        Keberhasilan capaian indikator pemberantasan tindak pidana korupsi,
    ditentukan oleh antara lain: (a) Kemandirian lembaga-lembaga peradilan dalam
    penanganan    kasus-kasus   korupsi      seperti   kepolisian,   kejaksanaan   dan
    pengadilan; (b) Tidak ada pilih kasih dalam penyelesaian kasus korupsi;
    (c) Transparansi dalam proses penanganan kasus; (d) Komitmen aparat hukum
    dalam menjalankan tugas yang menjamin rasa keadilan masyarakat.
        Upaya peningkatan penegakan hukum kasus tindak pidana korupsi di
    Kejaksanaan Tinggi dan Polda Sultra terus dibenahi. Peningkatan penegakan
    hukum itu terlihat dari beberapa indikator yang sejalan dengan sasaran
    pemerintah daerah. Namun pencapaian indikator itu secara umum belum sesuai
    dengan target yang ditetapkan. Faktor menentu keberhasilan pemberantasan
    tindak pidana korupsi di Sulawesi Tenggara terlihat dari: a) Kemandirian
    lembaga peradilan dalam penanganan kasus tindak pidana korupsi             sangat
    positif. Protes masyarakat kepada lembaga peradilan atas sinyalemen intervensi
    pihak penguasa dalam penanganan kasus korupsi semakin berkurang dalam
    kurun waktu 2004-2009; b) Diskriminasi penanganan kasus tindak pidana
    korupsi pada tahap penyelidikan (Polisi) dan Penyidikan (Jaksa) masih tetap
    mewarnai mas media di daerah ini.
        Penanganan kasus korupsi dengan modus gratifikasi yang melibatkan
    mantan Walikota Kendari dan Wakil Walikota Kendari yang diproses sejak tahun
    2008 terkesan diskriminatif. Kasus gratifikasi mantan walikota yang nilainya
    lebih besar, tersendat-sendat, sangat lamban dan mengundang keterlibatan
    massa melakukan demonstrasi, menekan pihak kejaksaan agar serius
    menangani kasus. Kasus gratifikasi mantan Wakil Walikota Kendari yang
    nilainya lebih kecil, berjalan lebih cepat sampai pemutusan kasus dan
    penahanan di rumah tahanan Kelas II Kendari (Kendari Pos, 30/20/2009).
        Kasus lain, dugaan kasus korupsi Bupati Bombana yang melibatkan Haikal
    Atikurrahman (anak Bupati) telah dilaporkan oleh masyarakat Bombana disertai
    bukti-bukti awal terkait dugaan korupsi APBD (Rp 7,6 milyar). Ternyata belum
    ada kejelasan penanganannya oleh Kejaksaan Tinggi Sulawesi Tenggara. Pada
    hal tekanan publik berupa unjuk rasa dari komponen masyarakat Bombana
    (Komite untuk Demokrasi, Keadilan dan Transparansi Anggaran sudah
    dilakukan (Kendari Pos, 27 Okt.2009); c) Transparansi penanganan kasus



 
                                        16
                  Laporan Akhir EKPD Provinsi Sultra  2010 
 


    tindak pidana korupsi oleh penegak hukum          di Kejaksaan Tinggi Sultra,
    memperlihatkan indikasi tidak transparan. Laporan yang diterima pihak
    Kejaksaan Tinggi Sultra dari berbagai komponen masyarakat tentang dugaan
    tindak pidana korupsi beberapa Bupati Kepala Daerah selama kurun waktu 2004
    - 2009, antara lain Bupati Muna, Bupati Konawe, Bupati Konawe Selatan, Bupati
    Bombana dan Bupati Buton Utara, belum ada kejelasan status penanganannya
    hingga kini (Antara lain Kendari Pos, 27 Oktober 2009); d) Profesionalisme
    aparat dalam mewujudkan rasa keadilan masyarakat dalam keputusannya
    masih menjadi sorotan masyarakat di daerah ini. Kasus dugaan korupsi APBD
    Bombana tahun 2007-2008 sebesar Rp. 7,6 milyar melibatkan anak kandung
    Bupati Bombana (Haikal Atikurrahman), telah di SP3 kan oleh pihak Kejaksaan
    Tinggi Sualwesi Tenggara. Keputusan tersebut dinilai tidak adil oleh masyarakat
    Bombana karena pelakunya memperkaya diri sendiri, proses penangannya tidak
    transparan (Kendari Pos, 27 Oktober 2009).
        Keberhasilan pemberantasan tidak pidana korupsi di Sulawesi Tenggara
    selama tahun 2004 s/d 2009 dapat dilihat dari kinerja Kepolisian Daerah dan
    Kejaksaan Tinggi Sulawesi Tenggara dalam menangani kasus-kasus korupsi di
    daerah ini. Dari beberapa data/informasi diperoleh keterangan sebagai berikut:
    1. Persentase kasus korupsi yang tertangani dibandingkan yang dilaporkan di
        Polda Sultra. Data dari Polda Sultra tahun 2010 diketahui bahwa sejak
        tahun 2005 hingga tahun 2009 persentase penyelesaian kasus korupsi
        yang masuk di Polda Sultra bervariasi. Tahun 2005, jumlah kasus
        terselesaikan 100%. Tahun 2006 kasus yang masuk 5 kasus tidak satupun
        terselesaikan (0,00%). Tahun 2007 kasus korupsi terselesaikan 33,33%
        dari 6 (enam) kasus dilaporkan. Tahun 2008 jumlah terselesaikan sebesar
        200% dari jumlah kasus masuk tahun yang sama, dan berhasil
        menyelesaikan kasus tahun sebelumnya. Tahun 2009 sebanyak 100,00%
        terselesaikan dari 12 kasus dugaan korupsi yang masuk. Secara jelas
        terlihat dalam grafik (gambar 3).




 
                                            17
                Laporan Akhir EKPD Provinsi Sultra  2010 
 




       Sumber : Polda Sultra 2010
       Gambar 3 Persentase kasus korupsi terselesaikan di Polda Sultra, tahun
                 2005-2009

               Dari grafik pada gambar 3 terlihat adanya fluktuasi persentase
       penyelesaian kasus kosupsi yang masuk di Polda Sulawesi Tenggara
       dalam waktu 2005-2009. Tahun 2006, 2007 dan 2008 terjadi peningkatan,
       sementara pada tahun 2009 terjadi penurunan drastis. Hal itu disebabkan
       oleh antara lain: 1) proses penyelesaian kasus yang sengaja diulur-ulur
       karena adanya intervensi atau karena ada kepentingan tertentu sekaligus
       menandakan lemahnya kinerja aparat; 2) karena memang kasusnya rumit
       sehingga tidak cukup waktu untuk diselesaikan dalam waktu 1 tahun,
       karenanya nanti pada tahun berikut baru dapat terselesaikan. Tahun 2008
       mengalami kenaikan 200% karena ternyata kasus yang masuk pada
       tahun 2006 baru dapat diselesaikan pada tahun 2008, sehingga
       persentase kasus yang terselesaikan lebih besar dari pada jumlah kasus
       korupsi yang masuk do Polda pada tahun yang sama.


    2. Persentase penyelesaian kasus dibanding dilaporkan di Kejaksanaan
      Tinggi Sultra. Tingkat penyelesaian kasus di Kejati Sultra tahun 2004-2008
      berfluktuasi. Sayangnya, sampai laporan ini dibuat, belum diperoleh data
      kinerja penyelesaian kasus korupsi di Kejati Sultra pada tahun 2009. Ada
      kesan bahwa aparat kejaksanaan menutup diri untuk tidak memberikan
      informasi tentang kinerjanya dalam penangan masalah korupsi di daerah
      ini. Hal itu setidaknya terlihat, ketika tim evaluasi berulang kali berhubungan



 
                                       18
               Laporan Akhir EKPD Provinsi Sultra  2010 
 


    dengan pemegang data, dimana pemegang data tidak memberikan
    informasi dan kepastian tentang penyelesaian kasus korupsi pada tahun
    2009. Gambar 4 menyajikan kinerja Kejati Sultra dibandingkan dengan
    kinerja nasional dalam hal penyelesaian kasus dugaan tindak pidana
    korupsi antara tahun 2004 sampai tahun 2009.




    Ket: warna merah prestasi nasional, dan biru prestasi Sulawesi Tenggara
    Sumber: diolah dari data sekunder Kejaksanaan Tinggi Sultra, 2009.

    Gambar 4 Persentase Kasus Tindak Pidana Korupsi pada Kejaksaan Tinggi
             Sulawesi Tenggara yang ditangani dibanding dengan yang
             dilaporkan dalam kurun waktu 2004-2009

    Berdasarkan    grafik   pada     Gambar   4   terlihat   persentase   tingkat
    penyelesaikan kasus korupsi di Kejadi Sultra masih berada di bawah
    prestasi nasional dan pada tahun 2006 terjadi penurunan (hanya 44,44). Hal
    itu dapat disebabkan oleh antara lain : 1) Kemampuan petugas penyidik
    yang masih terbatas sehingga pembuktian secara hukum atas suatu kasus,
    kadang-kadang memakan waktu lama, bahkan ada yang di SP3-kan karena
    dianggap tidak cukup bukti; 2)    Belum adanya transparansi penanganan
    kasus korupsi yang melibatkan para pejabat local dan tidak jelas target
    penyelesaian suatu kasus korupsi oleh aparat kejaksanaan; 3) Lambannya
    tingkat penyelesaikan kasus yang disebabkan oleh adanya intervensi demi
    kepentingan materi atau kekuasaan;4) undang-undang atau peraturan yang
    tidak mengharuskan target waktu dalam penyelesaikan sebuat kasus, dan
    mengharuskan alat bukti suatu kasus tindak pidana korupsi, harus lebih dari
    satu menjadi kendala , sebab meskipun pembuktian cukup kuat tetapi kalau
    hanya satu alat bukti, belum memenuhi syarat hukum dilanjutkan ke


 
                                     19
                    Laporan Akhir EKPD Provinsi Sultra  2010 
 


       penuntutan pengadilan, dan ini memperlambat proses penyelesaian kasus.
       Empat hal itu juga yang menyebabkan lambannya kinerja penyelesaian
       kasus-kasus dugaan korupsi di Sulawesi Tenggara terutama kasus dugaan
       korupsi yang melibatkan bupati dan keluarga (kasus di Kabupaten
       Bombana), dan mantan Wali Kota dan Wakil Walikota Kendari (2001-2007).
                Lambannya penyelesaian kasus-kasus dugaan korupsi di lembaga
       hukum, dan tidak transparannya proses penanganan kasus dugaan korupsi
       oleh para aparat penegak hukum telah memberikan dampak pada antara
       lain semakin merosotnya kepercayaan publik terhadap eksistensi lembaga
       hukum yang ada di daerah dan rasa pesimistik selalu muncul dari kalangan
       masyarakat atas penyelesaian kasus-kasus korupsi di daerah.


    2. Persentase Kab/Kota Memiliki Perda Pelayanan Satu Atap.

                Isu utama terkait dengan perlunya pengaturan pelayanan satu atap
       atau proses perizinan satu pintu adalah untuk memberikan jaminan
       kepastian berusaha bagi para investor atau penguasa kecil di daerah.
       Gagasan untuk melahirkan sistem pelayanan cepat satu atap muncul ketika
       di banyak daerah ditemukan adanya peraturan perundang-undangan yang
       belum mencerminkan keadilan, keberpihakan pada rakyat, kesetaraan,
       penghormatan dan perlindungan terhadap hak asasi manusia (HAM) dalam
       pemberian pelayanan. Selain itu masih banyak peraturan yang tumpang
       tindih    serta   belum   adanya    konsistensi     pemerintah    daerah    dalam
       mengimplementasikan       kebijakan      nasional    terkait   dengan    kepastian
       pemberian pelayanan public di daerah. Hal itu berdampak pada tidak
       kondunsifnya iklim usaha yang pada gilirannya dapat menghambat proses
       peningkatan investasi, kurangnya penciptaan lapangan kerja baru dan
       lambannya peningkatan pendapatapan dan kejahteraan masyarakat daerah.
                Pemerintah   daerah   di     Sulawesi      Tenggara     masih   berupaya
       memperbaiki kualitas pelayanan publik melalui kebijakan pelayanan terpadu
       satu atap atau satu pintu. Hal ini ditandai dengan mulai adanya pemerintah
       kota yang menetapkan kebijakan sistem pelayanan satu atap atau sistem
       pelayanan terpadu satu pintu melalui penetapan peraturan daerah (Perda)
       selama kurun waktu 2004-2009. Jumlah kabupaten kota yang menerapkan
       sistem pelayanan satu atap yang dituangkan dalam peraturan daerah masih



 
                                           20
               Laporan Akhir EKPD Provinsi Sultra  2010 
 


    terbatas (16,67%) dari 12 kabupaten/kota yang ada di Sulawesi Tenggara
    sampai tahun 2009.
           Kedua kota dimaksud adalah: 1) Pemerintah Kota Kendari melalui
    Perda No 14 2008 tentang Prosedur/Mekanisme dan Standar Waktu
    Penyelenggaraan Pelayanan Terpadu Satu Pintu. Secara konsep, pemkot
    Kendari mulai memperkenalkan sistem pelayanan satu atap sejak tahun
    2002 dengan melibatkan 12 jenis perizinan yang dikelola oleh berbagai
    dinas/instansi. Tahun 2008 dalam Perda yang ada menjadi 40 jenis
    perizinan dan sampai tahun 2009 menjadi 67 jenis perizinan yang dikelola
    dengan sitem pelayanan satu atap; 2) Pemerintah kota Bau-Bau melalui
    Perda No 6 Tahun 2008 tentang Organisasi Tata Kerja Pelayanan Perizinan
    Terpadu Kota Bau-Bau menerapkan sistem pelayanan satu atap, mencakup
    12 jenis perizinan.
           Masalah yang dihadapi pemerinatah daerah kabupaten/kota dalam
    mewujudkan pelayanan satu atap, adalah keterbatasan sumber daya
    manusia/aparatur yang memiliki kemampuan teknis serta dukungan
    perangkat informasi teknologi baik perangkat keras maupun perangkat lunak
    yang belum tersedia secara baik, dan yang ada pun belum dikelola secara
    profesional serta belum berkesinambungan.
         Kebijakan pemerintah Sulawesi Tenggara melalui Renstra 2004-2009
    yang menggariskan pentingnya iklim kondunsif bagi berkembangan investasi
    di daerah melalui kemudahan perizinan, mengalami hambatan dalam
    implementasinya karena tidak semua kewenangan perizinan berada di
    provinsi, melainkan diserahkan pada pemerintah kabupatan/kota. Sementara
    masing-masing pimpinan atau kepala daerah memiliki orientasi kebijakan,
    permasalahan, karakter dan kebijakan yang berbeda-beda. Pelaksanaan
    pelayan satu atap tergantung dari ada tidaknya kemauan atau komitmen
    para Bupati/Walikota untuk mengefektifkan sistem pelayanan kepada
    masyarakat atau dunia usaha. Selain itu, tarik menarik kepentingan dan ego
    sektoral para pimpinan SKPD juga menjadi salah satu penyebab masih
    kurangnya inisiatif pemerintah kabupaten/kota yang dimotori oleh para
    pimpinan SKPD untuk menetapkan Perda sistem pelayanan satu atap.
           Belum adanya Perda tentang pelayanan satu atap membuat
    pelayanan publik khususnya dalam administrasi perizinan menjadi lebih
    lama, memerlukan biaya lebih besar, seringkali menyulitkan dan bahkan


 
                                    21
                    Laporan Akhir EKPD Provinsi Sultra  2010 
 


       menghambat bertumbuhkembangnya investasi dan dunia usaha di daerah.
       Hal itu disebabkan oleh karena sistem pelayanan melewati banyak SKPD
       atau dinas yang masing-masing memiliki SOP yang berbeda-beda dengan
       ego sektoralnya masing-masing.


    3. Persentase    SKPD     Provinsi    Memiliki   Laporan     Keuangan   Tanpa
       Penyimpangan (WTP)
          Salah satu kriteria yang digunakan untuk mengukur baik tidaknya kinerja
    penyelenggaraan pemerintahan termasuk di daerah adalah dengan melihat
    kinerja pengelolaan di setiap daerah. Pemerintahan terus mendorong upaya
    perbaikan kinerja pengelolaan keuangan daerah guna mendorong efektivitas
    dan efisiensi penggunaan anggaran negara, serta menghindari penyalahgunaan
    anggaran    Negara/daerah     demi    tercapainya   tujuan   pembanguan   dan
    memaksimalkan pelayanan masyarakat. Hal itu sangat beralasan karena dalam
    banyak fakta, sejak pelaksanaan otonomi daerah, praktek korupsi dan
    penyimpangan keuangan Negara/daerah juga ikut bergeser dari pusat ke
    daerah dan terus berlanjut hingga saat ini.
          Secara konseptual/redaksional dalam Renstra Sultra tahun 2004-2009
    menjelaskan perlunya penerapan prinsip-prinsip tata kelola pemerintahan yang
    baik (good governance) dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. Namun
    selama kurum waktu ini, komitmen para aparat pemerintah setempat dalam
    mewujudkan pengelolaan anggaran daerah yang baik sesuai dengan prinsip-
    prinsip good governance dan sesuai konsep anggaran kinerja masih lemah.
          Jumlah     SKPD Provinsi yang memiliki Pelaporan keuangan Tanpa
    penyimpangan masih terbatas. Pada level pemerintah provinsi sendiri selama
    tahun 2005 hingga tahun 2009 selalu mendapatkan predikat disklaimer (tanpa
    komentar) atas laporan pengelolaan keuangan pemerintah Provinsi Sulawesi
    Tenggara (BPK RI Perwakilan Sulawesi Tenggara Tahun 2009).
          Pada tahun 2004 jumlah SKPD provinsi yang memiliki pelaporan
    pengelolaan keuangan tanpa penyimpangan tidak diketahui karena data tidak
    tersedia. Demikian pula pada tahun 2005 dan tahun 2006. Tahun 2007
    persentase jumlah SKPD yang tidak melakukan penyimpangan dalam
    pengelolaan keuangan sebanyak 82%, dari 41 SKPD. Namun pada tahun 2008
    dan 2009 sangat menghawatirkan, karena tidak satupun SKPD yang memiliki
    kinerja pengelolaan tanpa penyimpangan. Dengan kata lain, seluruh SKPD pada


 
                                         22
                   Laporan Akhir EKPD Provinsi Sultra  2010 
 


    tahun tersebut melakukan penyimpangan atau melakukan kesalahan dalam
    pengelolaan keuangan terutama dalam pengelolaan anggaran dana hibah,
    termasuk dalam hal pengelolaan penganggaran belanja lainnya.
             Tipikal kesalahan yang terjadi dalam pengelolaan keuangan daerah
    disebabkan oleh ketidaktahuan, sengaja mengalihkan pos anggaran pada
    kegiatan lain, penempatan anggaran daerah pada rekening pribadi, proses
    utang piutang yang tidak terkontrol, pembukuan yang tumpang tindih,
    pengeluaran uang dari kas daerah yang tidak sesuai SOP dan SAP sehingga
    sulit dipertanggungjawabkan. Selain itu, kemampuan pengelola yang minim
    setelah adanya perubahan SAP baru, serta lemahnya komitmen aparat
    mengelola anggaran secara transparan, akuntabel, bertanggungjawab, efektif
    dan efisien sesuai peruntukannya.
             Berbagai akibat yang ditimbulkan karena kesalahan pengelolaan
    keuangan daerah di berbagai SKPD di daerah ini adalah: 1) penggunaan
    anggaran belanja yang tidak tepat sasaran; 2) merugikan keuangan daerah;
    3) hasil kegiatan tidak dapat dimanfaatkan secara tepat waktu; 4) pemborosan
    anggaran daerah; 5) keterlambatan dalam penerimaan kas Negara/daerah;
    6) tidak sesuai peruntukannya, tidak tepat sasaran sehingga rawan
    disalahgunakan;      7)   kesalahan    dalam   pembukuan;     8)   operasionalisasi
    pemerintahan terhambat; 9) daerah kehilangan penerimaan; 10) penggunaan
    anggaran tidak realistis antara jumlah anggaran yang dikelola dengan waktu
    yang tersedia; 11) keterlambatan dalam pelaporan; 12) laporan keuangan
    kurang akurat; 13) penyajian anggaran tidak menggambarkan kondisi yang
    sebenarnya; 14) realisasi anggaran tidak sesuai dengan perencanaan;
    15) kesulitan mengetahui jumlah realisasi anggaran perjenis kegiatan (tumpang
    tindih    pembukuan;      16)   pengelolaan      utang-piutang     sulit    dipantau;
    17) pembatalan kegiatan karena pengalihan anggaran ke tempat/pos lain;
    18) pimpinan sulit mengontrol kas dan tempat menyimpan keuangan daerah.
             Kesalahan   pengelolaan      daerah   tersebut   dalam    jangka    panjang
    berdampak pada kegagalan pelaksanaan pembangunan dan pelayanan publik.
    Hal itu sekaligus menggambarkan kegagalan pemerintah provinsi dalam
    mewujudkan visi dan misi pembangunan yang telah ditetapkannya selama lima
    tahun kepemimpinan, sebagaimana dijanjikan pada saat kampanye dalam
    proses seleksi pemilihan kepala daerah setiap lima tahun.




 
                                           23
                    Laporan Akhir EKPD Provinsi Sultra  2010 
 




    2. Analisis Pencapaian indicator Demokrasi Publik

            Tiga indikator utama yang digunakan untuk mengukur keberhasilan
    pembangunan demokrasi publik di tingkat lokal antara lain membaiknya angka
    GDI    (Gender-related   Development       Index)    dan    angka     GEM      (Gender
    Empowerment      Measurement),     dan     partisipasi   politik   perempuan    dalam
    pelaksanaan pemilihan umum di daerah.

    1. Indikator Gender Development Index (GDI).
            Untuk mengukur pencapaian indeks pembangunan gender (Gender
    Development Index/GDI),menggunakan kriteria sebagai berikut: a) akses
    perempuan terhadap pelayanan kesehatan yang baik, diamati dari aspek: 1)
    angka harapan hidup; 2) angka kematian ibu melahirkan; dan 3) angka kematian
    bayi. b) akses perempuan terhadap pelayanan pendidikan yang indikatornya
    dilihat dari: 1) tingkat melek huruf; 2) rata-rata lama sekolah. c) akses perempuan
    terhadap kegiatan ekonomi yakni perempuan dalam angkatan kerja.
            Data dari Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana
    Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun 2009 diketahui sebagai berikut:
    1. Angka usia harapan hidup. Angka Harapan Hidup penduduk perempuan di
       Sulawesi Tenggara pada tahun 2005 adalah 66,8 dan tahun 2006 rata-rata
       67,0. Tahun 2007 tetap 69,0 tahun (Indonesia 70,5 tahun). Tahun 2008
       mencapai 70,1 dan tahun 2009 mengalami perubahan menjadi 71,64 di atas
       rata-rata nasional yakni 71,04 tahun.




          Sumber: Diolah dari data sekunder Badan Pemberdayaan Perempuan dan
                  Keluarga Berencana (BPP dan KB) Prov. Sultra, 2010




 
                                          24
                   Laporan Akhir EKPD Provinsi Sultra  2010 
 


       Gambar 5. Perkembangan Capaian Angka Usia Harapan Hidup Penduduk
                 Sulawesi Tenggara dalam kurun Waktu 2005 sampai dengan
                 2009
           Pencapaian Angka Harapan Hidup (AHH) penduduk di Sulawesi
       Tenggara, menunjukkan peningkatan yang konsisten selama lima tahun
       terakhir (tahun 2005 sampai dengan 2009) dan bahkan sempat melampui
       pencapaian nasional. Pencapaian ini tidak lepas dari upaya dinas (SKPD)
       terkait dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat di daerah. Alokasi
       anggaran yang proporsional dan pemberian pelayanan kesehatan gratis serta
       penyuluhan mengenai pola hidup sehat yang dilakukan secara terus menerus
       merupakan    faktor-faktor   yang    mendorong   dan   menentukan    dalam
       mewujudkan pencapain peningkatan usia harapan hidup penduduk setempat.
    2. Angka kematian bayi/1000 kelahiran hidup (kh). Angka kematian bayi
       selama tahun 2004 sampai dengan 2009 mengalami fluktuasi. Tahun 2004
       angka kematian bayi sebanyak 33 jiwa/1000kh, tahun 2005 sebanyak 34
       jiwa/1000kh, tahun 2006 mengalami penurunan menjadi 32 jiwa/kh. Pada
       tahun 2007 kembali mengalami kenaikan menjadi 41 jiwa/1000kh, dan tahun
       2008 kembali menurun menjadi 35 jiwa/1000kh sedangkan tahun 2009 tetap
       sebanyak 35 jiwa/1000kh.




       Sumber: diolah dari data sekunder BPP dan KB Provinsi Sultra, 2010

       Gambar 6. Angka Kematian Bayi/1000 Kelahiran Hidup di Sulawesi
               Tenggara Selama Lima Tahun Terakhir (Tahun 2005-2009

              Berdasarkan grafik pada Gambar 6 terlihat bahwa tahun 2007 terjadi
       kenaikan angka kematian bayi. Hal itu terkait dengan naik turunnya tingkat
       kepedulian orang tua dalam memperhatikan derajat kesehatan anak,


 
                                           25
                  Laporan Akhir EKPD Provinsi Sultra  2010 
 


       memeriksakan anak di Puskesmas secara gratis, serta kurang konsistennya
       pembinaan kesehatan yang dilakukan oleh para aparat di lapangan. Pada hal
       anggaran perbaikan untuk pelayanan kesehatan terus meningkat dari tahun
       ke tahun, dan perubahan jumlah anggaran selalu meningkat secara linier.
              Kebijakan pemerintah daerah konsisen dalam mengalokasikan
       anggaran kesehatan, namun para aparat di lapangan belum maksimal
       menunjukkan kinerjanya. Hal itu juga terkait dengan banyaknya kasus-kasus
       penyimpangan dalam pengelolaan anggaran kesehatan sesuai temuan BPK
       di daerah. Alokasi anggaran yang tidak tepat sasaran atau karena korupsi di
       tingkat pengelola juga menjadi penyebab lemahnya kinerja aparat fungsional
       kesehatan yang ada di lapangan. Sebab dana operasional seringkali
       mengalami pengurangan sebelum sampai di tangan aparat pengelola. Di
       tingkat aparatur sendiri, faktor rendahnya pendapatan aparat pegawai
       seringkali menjadi alasan yang menjadi penyebab rendahnya kualitas
       pelayanan yang diberikan kepada masyarakat. Alasannya, mereka harus
       mencari sumber pendapatan lain di luar pekerjaan sesungguhnya.


    3. Angka kematian ibu melahirkan. Angka kematian ibu melahirkan/100.000
       kelahiran hidup (kh)    selama tahun 2004 sampai dengan 2009 juga
       berfluktuasi. Tahun 2005 angka kematian ibu melahirkan sebanyak 302
       jiwa/1000.000kh, tahun 2006 menjadi 304/100.00kh, pada tahun 2007
       menjadi 302/100.000kh, dan tahun 2008 menjadi 228/100.000 kh, serta tahun
       2009 menjadi 302/100.000kh.




       Sumber: diolah dari data sekunder BPP dan KB Provinsi Sultra, 2010

       Gambar 7. Angka kematian ibu melahirkan/100.000 kelahiran hidup (KH)



 
                                       26
                   Laporan Akhir EKPD Provinsi Sultra  2010 
 




              Berdasarkan grafik pada gambar 7 terlihat bahwa tahun 2009 terjadi
       kenaikan angka kematian ibu melahirkan. Hal itu antara lain disebabkan oleh
       rendahnya kesadaran para ibu hamil untuk memeriksakan diri di Puskesmas
       secara gratis. Pola pelayanan Puskesmas secara gratis kurang dimanfaatkan
       oleh masyarakat setempat, terutama di daerah yang kurang memahami
       pentingnya pemeriksaan kesehatan ibu yang sedang hamil. Di Kabupaten
       Muna termasuk daerah yang rendah kesadarannya memeriksakan diri di
       Puskesmas, hanya mengandalkan dukun. Dan ternyata, kasus kematian ibu
       melahirkan juga yang paling banyak terjadi di Kabupaten Muna dari seluruh
       kasus kematian ibu hamil pada tahun 2009.


    4. Tingkat melek huruf.      Tingkat melek huruf penduduk perempuan yang
       berusia di atas 15 tahun dibandingkan dengan penduduk dalam usia yang
       sama. Tahun 2005 sebanyak 87,2%, tahun 2006 tetap pada angka 87,2%,
       tahun 2007 menjadi 87, 5%, meningkat menjadi menjadi 87,98% pada tahun
       2008, serta tahun 2009 menjadi 87,90% (BPP dan KB Sultra 2010). Secara
       rinci digambarkan dalam grafik berikut:




       Sumber: diolah dari data sekunder BPP dan KB Provinsi Sultra, 2010

       Gambar 8. Persentase angka melek huruf perempuan berusia di atas 15
                  tahun, Sultra tahun 2004-2009




 
                                         27
                  Laporan Akhir EKPD Provinsi Sultra  2010 
 


             Berdasarkan grafik pada Gambar 8 terlihat bahwa angka melek huruf
      penduduk perempuan yang berusia di atas 15 tahun menunjukkan
      peningkatan, seiring terus meningkatkan perbaikan sistem penyelenggaraan
      pendidikan, alokasi anggaran yang memadai serta pemberantasan buta
      aksara yang terus dilakukan dari tahun ke tahun. Kenaikan itu dipicu oleh
      membaiknya kinerja penyelenggaraan pendidikan dan pelaksanaan program-
      program pendataan yang baik sehingga data yang sebelumnya tidak
      terjangkau dalam laporan mulai dapat disajikan dalam laporan capaian
      kinerja penyelenggaraan pendidikan baik pendidikan formal maupun
      pendidikan non formal seperti kejar paket.


    5. Akses perempuan terhadap peluang kerja atau perempuan dalam
      angkatan kerja. Data yang ada tahun 2005 menunjukkan bahwa akses
      perempuan terhadap peluang kerja sebanyak 37,3% dan laki-laki sebanyak
      62,7% dari total angkatan kerja. Pada tahun 2006 menurun menjadi 35,5%.
      Pada tahun 2007     tetap pada angka 35,5%, dan menurun menjadi 31,5%
      pada tahun 2008, sedangkan pada tahun 2009 tetap pada angka 31,5% dari
      total angkatan kerja di Sulawesi Tenggara sebanyak 243.068 orang (BPP dan
      KB Sultra, 2009). Lebih jelasnya digambarkan dalam grafik berikut:




      Sumber: diolah dari data sekunder BPP dan KB Provinsi Sultra, 2009
      Gambar 9. Grafik Persentase Perempuan dalam Angkatan Kerja




 
                                        28
                    Laporan Akhir EKPD Provinsi Sultra  2010 
 


            Dibandingkan dengan kaum laki-laki, jumlah perempuan dalam
    angkatan kerja selama lima tahun terakhir (tahun 2005 sampai dengan 2009)
    menunjukkan angka yang terus menurun. Salah satu penyebab menurunnya
    angka-angka yang tersajikan dalam laporan ini (menurut informan) adalah
    sistem pendataan yang tidak berkesinambungan serta kurang tersedianya
    data-data di setiap SKPD terkait, yang memiliki kewenangan dalam
    pembinaan dan pengembangan ketenagakerjaan. Penyajian data resmi
    mengenai        capain    kinerja    dalam   pembinaan,    pengembanngan      dan
    penempatan tenaga kerja di daerah terbatas. Penurunan jumlah angkatan
    kerja perempuan juga disebabkan oleh meningkatnya jumlah angkatan kerja
    laki-laki, dimana kuantitas peserta laki-laki dalam kegiatan pelatihan selalu
    dominan dibandingkan dengan perempuan. Karena itulah maka rasio jumlah
    angkatan kerja laki-laki terus meningkat sementara rasio jumlah angkatan
    kerja perempuan terus menurun setiap tahunnya.


    2. Indikator GEM.
           Lembaga yang bertanggung jawab dalam                 bidang pemberdayaan
    perempuan di daerah ini, baru terbentuk secara formal pada tahun 2006.
    Dengan demikian data yang disajikan dalam laporan evaluasi ini terkait
    pelaksanaan program GEM, hanya meliputi data tahun 2006-2009. Data
    untuk tahun sebelumnya tidak ditemukan dalam kegiatan pengumpulan data
    evaluasi ini.
           Untuk      mengetahui        keberhasilan   pelaksanaan     pemberdayaan
    perempuan Gender Empowerment Measurement (GEM) digunakan beberapa
    indikator seperti persentase keterlibatan perempuan di parlemen, keterlibatan
    perempuan dalam dunia kerja profesional serta besaran upah kerja minimum
    yang diterima perempuan pada sektor non pertanian. Data pada Badan
    Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana Sultra Tahun 2010
    diketahui sebagai berikut:


    a. Indeks Keterlibatan Perempuan di Parlemen
         Keterlibatan        perempuan     di    parlemen     (DPRD)   Provinsi   dan
    Kabupaten/Kota se-Sulawesi Tenggara. Jumlah perempuan di DPRD
    seSulawesi pada pada periode masa kerja (tahun 2004 - 2009) sebanyak
    12,7% dari total anggota legislatif sebanyak 220 orang. Pada periode masa


 
                                           29
                 Laporan Akhir EKPD Provinsi Sultra  2010 
 


    kerja (tahun 2009 – 2014) sebanyak 14,73%, dari total anggota legislatif 224
    orang (BPP dan KB, Sultra, 2010). Secara grafik digambarkan sebagai
    berikut:




        Sumber: diolah dari data sekunder BPP dan KB Sultra, 2010.

        Gambar 10 . Persentase Jumlah Perempuan di DPRD se Sultra, periode
                     tahun 2004-2009 dan 2009-2014

           Berdasarkan grafik pada Gambar 10 menunjukan bahwa jumlah
    anggota legislatif perempuan meningkat dari periode masa kerja 2004-2009
    ke periode masa kerja 2009, namun perubahan yang terjadi belum signifikan
    dibandingkan dengan target kuota perempuan di parlemen sebesar 30% dari
    jumlah anggota legislatif di masing-masing daerah. Target kuota perempuan
    yang harapkan dapat menjadi anggota legislatif minimal sebanyak 30%.
    Salah satu pertimbangan, mengapa perlu jumlah anggota DPRD perempuan
    lebih besar di legislatif, karena DPRD merupakan lembaga yang merumuskan
    kebijakan sehingga dengan banyaknya anggota DPRD perempuan, maka
    keputusan di DPRD berkaitan dengan kebijakan pembangunan daerah lebih
    pro perempuan dan anak atau minimal bisa netral atau tidak diskriminatif.


    b. Perempuan dalam dunia kerja professional;
           Indikator lain menggambarkan keberhasilan implementasi kebijakan
    pemberdayaan perempuan adalah jumlah perempuan dalam dunia kerja
    profesional. Karena katerbatasan data yang menjelaskan posisi perempuan
    dalam sebagai kerja professional menjadikan sulit untuk menjadikan informasi
    ini secara tuntas.




 
                                     30
                Laporan Akhir EKPD Provinsi Sultra  2010 
 


           Data jumlah perempuan sebagai pekerja professional baik di birokrasi
    maupun dalam bidang lainnya belum lengkap. Selama tahun 2004-2009
    hanya data dua tahun yang ada yaitu data tahun 2005 sebesar 38,8% dan
    tahun 2006 sebesar 40,76%. Dalam jabatan eksekutif mulai dari gubernur,
    bupati, walikota, eselon II, eselon III, eselon IV, camat, lurah dan kepala desa
    perbandingan laki-laki dan perempuan masih didominasi oleh kaum laki-laki.
    Data tahun 2009 diketahui bahwa jabatan eksekutif, jumlah perempuan masih
    rendah yakni baru sekitar 10,76% sementara laki-laki 89,24% dari total posisi
    jabatan eksekutif di Sulawesi Tenggara sebanyak 3.130 jabatan. Demikian
    pula posisi dalam jabatan professional di lembaga peradilan seperti jaksa dan
    hakim masih didominasi oleh laki-laki. jumlah perempuan sebanyak 21,81%
    dan laki-laki 78,19% (BPP dan KB Provinsi Sultra, 2010).
           Masih rendahnya jumlah perempuan yang menempati jabatan
    struktural di pemerintahan disebabkan oleh antara lain: 1) masih kurangnya
    kepedulian penguasa wilayah untuk memanfaatkan tenaga perempuan
    selaku pembantunya dalam menjalankan roda pemerintahan; 2) kalaupun
    penguasanya peduli, masih sedikit perempuan yang mampu melanjutkan di
    pendidikan lebih tinggi sehingga posisi mereka selalu dikesampingkan dalam
    birokrasi pemerintahan.


    c. Upah Pekerja Perempuan Sektor NonPertanian.
           Ketersediaan     data,   menjadi    penyebab     sulitnya   mengangkat
    perkembangan besaran upah kerja minimal perempuan selama tahun 2005
    sampai 2009 sesuai kebutuhan laporan evaluasi ini. Data yang tersedia pada
    BPP dan KB Sultra tahun 2010 menggambarkan jumlah upah minimal yang
    diterima perempuan dalam lapangan usaha sektor non pertanian mengalami
    perubahan selama kurun waktu tahun 2005 dan 2006. Tahun 2005 sebesar
    621,9 sedangkan tahun 2006 menjadi 932,4 atau meningkat sebesar 49,93%.
           Upah kerja minimal yang diterima perempuan sektor non pertanian
    menggambarkan besarnya gaji yang diterima perempuan dalam berbagai
    lapangan pekerjaan dimana mereka bekerja, dan dapat didata secara jelas.
    Seiring dengan semakin ketatnya pemberlakuan Upah Minimum Regional
    (UMR) menjadikan gaji perempuan yang bekerja di sektor non pertanian juga
    semakin membaik selain semakin baiknya posisi-posisi yang ditempati
    perempuan dalam dunia kerja professional.


 
                                      31
                 Laporan Akhir EKPD Provinsi Sultra  2010 
 


           Keberhasilan pembangunan gender di daerah dicirikan oleh semakin
    mengecilnya kesenjangan antara indek pembangunan manusia (IPM) atau
    Human Develoment Index (HDI) secara keseluruhan dengan Indeks
    Pembangunan Gender atau Gender Development Index (GDI) dan Indeks
    Pemberdayaan Gender atau Gender Empowerment Measurement (GEM).
           Sebagai gambaran, indek pembangunan manusia (IPM) Sulawesi
    Tenggara tahun 2005 mencapai 67,5 (Nasional 69,6) dan tahun 2006 IPM
    naik menjadi 67,8 masih di bawah Nasional (70,1) pada tahun yang sama.
    Secara umum, angka perolehan GDI dan GEM Sulawesi Tenggara
    dibandingkan dengan Nasional masih rendah, dan masih jauh dibawah IPM.
    Tahun 2006, angka Gender Develoment Index (GDI) Sulawesi Tenggara
    sebesar 61,4 sementara Nasional sebesar 65,3. Sedangkan angka Gender
    Empowerment Measurement (GEM) tahun 2005 sebesar 53,4 sementara
    (nasional 61,3) dan tahun 2006, menjadi 55,3 (Nasional 61,8) (BPP dan KB
    Provinsi Sultra, 2010). Perolehan posisi Sultra dibandingkan dengan provinsi
    lain masih berada pada urutan 26 dari 33 provinsi dan GDI berada pada
    posisi 17 dari 33 provinsi tahun 2008 sementara tahun 2006 berada pada
    posisi 16 dari 32 provinsi.
           Untuk mengejar ketertinggalan dalam pembangunan gender, perlu
    terus didukung oleh kebijakan yang dijalankan secara terus menerus dan
    konsisten, sumber daya aparat yang memadai baik kuantitas mapun kualitas,
    pengembangan system pembinaan dan penguatan kelembagaan dalam
    bidang pemberdayaan gender, dukungan anggaran yang memadai, system
    koordinasi lintas SKPD terkait, basis data online dan selalu terbarukan, serta
    komitmen pada pelaksana dan para pemangku kepentingan untuk terus
    menjalankan     tugas,   peran,   dan   fungsinya   secara   maksimal     dan
    berkelanjutan. Hal itu akan mudah terwujud jika diikuti pula dengan
    pemberian reward yang memadai serta punishment yang setimpal atas
    prestasi atau kegagalan dalam menjalankan tugas dan tanggungjawab oleh
    masing-masing pihak.
           Faktor atau kendala utama yang menjadi penyebab ketertinggalan
    Sulawesi Tenggara dalam pembangunan gender adalah dukungan anggaran
    yang terbatas, yang hanya menggantungkan diri pada dari pemerintah pusat.
    Hal itu disebabkan karena PAD (pendapata asli daerah) yang terbatas. Selain
    itu penempatan skala prioritas pembangunan dan alokasi anggaran juga


 
                                      32
                      Laporan Akhir EKPD Provinsi Sultra  2010 
 


         belum menempatkan pembangunan gender sebagai perhatian utama.
         Program gender hanya secara implisit berada di setiap SKPD yang terkait
         dan seringkali kurang menjadi perhatian pokok dari SKPD bersangkutan,
         terutama terkait dengan penyediaan basis data yang lengkap sesuai
         kebutuhan dana terus menerus. Praktek aparat pengelolaan anggaran yang
         masih     saja   menyimpang        juga    menjadi     akar    permasalahan     yang
         menyebabkan tidak maksimalnya pengelolaan program dan anggaran
         berbasis gender seperti dalam pembangunan kesehatan, pendidikan dan
         pemberdayaan ekonomi kerakyatan.


    3.   Indikator Partisipasi dalam Pemilu di Daerah
                 Indikator partisipasi politik masyarakat dalam pemilihan umum di
         daerah baik dalam pemilihan kepala daerah, pemilihan anggota legislatif
         maupun pemilihan presiden menjadi ukuran keberhasilan pembangunan
         demokrasi lokal. Pemerintah provinsi menunjukan komitmennya untuk
         mendorong tingkat partisipasi masyarakat dalam pemilihan kepala daerah,
         pemilihan legislatif dan pemilihan presiden di daerah khususnya dalam kurun
         waktu 2004-2009.
                 Kebijakan pembangunan politik dan demokrasi Provinsi Sulawesi
         Tenggara tahun 2004-2009, dijabarkan dalam rencana strategis daerah
         (Renstrada) yang mempunyai sejumlah target dan sasaran sebagai berikut:
         Pertama, mengembangkan iklim dan budaya politik yang demokratis dengan
         mengaktualisasikan      prinsip    persamaan,        kesetaraan,    kebebasan   dan
         keterbukaan      yang   berbasis    pada    pada      konstitusi   dalam   kehidupan
         masyarakat; Kedua, meningkatkan pendidikan politik dan partisipasi politik
         masyarakat dengan mengembangkan komunikasi politik yang lebih sehat
         menuju terwujudnya budaya politik yang kondusif terhadap kehidupan
         masyarakat dan pembangunan; Ketiga, meningkatkan kemandirian partai-
         partai politik agar dapat melaksanakan fungsinya dalam meningkatkan
         kesadaran dan partisipasi politik masyarakat; Keempat, meningkatkan dan
         memantapkan pemahaman warga negara mengenai wawasan kebangsaan,
         jati diri bangsa, pembauran bangsa dengan mengaktualisasikan dalam
         kehidupan berbangsa dan bernegara dilandasi ketahanan bangsa yang kuat,
         bermuara dan berfokus pada kokohnya persatuan dan kesatuan bangsa serta
         utuhnya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).


 
                                              33
                  Laporan Akhir EKPD Provinsi Sultra  2010 
 


          Target dan sasaran pembangunan bidang politik yang ditetapkan oleh
    pihak pemerintah di daerah ini, sejalan dengan terget dan sasaran nasional
    yang tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional
    (RPJMN) 2004-2009, yang sasarannya meliputi: (a) terlaksananya peran dan
    fungsi lembaga penyelenggara negara dan lembaga kemasyarakatan sesuai
    dengan   konstitusi   dan   peraturan   perundang-undangan      berlaku;   (b)
    meningkatnya partisipasi masyarakat dalam proses pengambilan keputusan
    politik; (c) terlaksananya pemilihan umum yang demokratis, jujur, dan adil
    tahun 2009.
         Sesuai dengan Renstrada (2004-2009) kebijakan pembangunan politik
    Sulawesi Tenggara meliputi: (a) mengembangkan iklim dan budaya politik
    yang demokratis dengan mengaktualisasikan prinsip persamaan, kesetaraan,
    kebebasan dan keterbukaan yang berbasis pada pada konstitusi dalam
    kehidupan masyarakat; (b) meningkatkan pendidikan politik dan partisipasi
    politik masyarakat dengan mengembangkan komunikasi politik yang lebih
    sehat menuju terwujudnya budaya politik yang kondusif terhadap kehidupan
    masyarakat dan pembangunan; (c) meningkatkan kemandirian partai-partai
    politik agar dapat melaksanakan fungsinya dalam meningkatkan kesadaran
    dan partisipasi politik masyarakat; (d) meningkatkan dan memantapkan
    pemahaman warga negara mengenai wawasan kebangsaan, jati diri bangsa,
    pembauran bangsa dilandasi ketahanan yang kuat, bermuara pada kokohnya
    persatuan dan kesatuan bangsa serta utuhnya NKRI. Kebijakan tersebut
    sesuai dengan kebijakan pemerintah yang dijawantahkan dalam bentuk
    penyelenggaraan pemilihan umum di daerah seperti Pemilu legislatif, Pilpres
    secara langsung dan Pilkada langsung.


    a. Indikator Partisipasi Dalam Pemilu Legislatif.
         Indikator ini diarahkan pada upaya pencapaian target dan sasaran
    pembangunan di bidang politik sebagai tertuang dalam Renstrada (2004-
    2009) yakni: (a) mengembangkan iklim dan budaya politik yang demokratis
    dengan mengaktualisasikan prinsip persamaan, kesetaraan, kebebasan dan
    keterbukaan    yang   berbasis   pada   pada   konstitusi   dalam   kehidupan
    masyarakat; (b) meningkatkan pendidikan politik dan partisipasi politik
    masyarakat dengan mengembangkan komunikasi politik yang lebih sehat
    menuju terwujudnya budaya politik yang kondusif terhadap kehidupan


 
                                      34
                Laporan Akhir EKPD Provinsi Sultra  2010 
 


    masyarakat dan pembangunan; (c) meningkatkan kemandirian partai-partai
    politik agar dapat melaksanakan funmgsinya dalam meningkatkan kesadaran
    dan partisipasi politik masyarakat; (d) meningkatkan dan memantapkan
    pemahaman politik warga Negara. Kebijakan ini sesuai dengan kebijakan
    pemerintah pusat yang selanjutnya dioperasionalisasikan dalam bentuk
    program dan kegiatan dalam bentuk penyelenggaraan Pilkada Provinsi,
    Pilkada Legislatif dan Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden.
         Tingkat partisipasi wajib pilih bervariasi antara pemilu legislatif tahun
    2004 dengan pemilu legislatif tahun 2009.      Data pada Komisi Pemilihan
    Umum Daerah (KPUD) Provinsi Sulawesi Tenggara memperlihatkan bahwa
    jumlah wajib pilih terdaftar dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT) dalam Pemilu
    2004 sebanyak 1.320.562 orang. Sedangkan jumlah wajib pilih yang
    menggunakan hak pilihnya sebanyak 1.263.426 orang, menunjukkan bahwa
    partisipasi wajib pilih dalam Pemilu legislatif 2004 sebesar 96% dan yang
    golput hanya sebesar 4%. Rendahnya angka golput tersebut menunjukkan
    meningkatnya kesadaran warga dalam menggunakan hak pilihnya serta
    membaiknya kinerja KPUD dan dukungan pemerintah daerah dalam
    penyelenggaraan pemilu legislatif. Dalam Pemilu legislative tahun 2009,
    jumlah wajib pilih terdaftar dalam Daftar Pemili Tetap (DPT) sebanyak
    1.901.060 orang dan yang menggunakan haknya sebanyak 1.484.636 orang,
    dengan angka partisipasi pemilih sebesar 78%, atau golput sebanyak 22%.
         Peningkatan jumlah wajib pilih terdaftar yang golput atau tidak
    menggunakan hak pilihnya pada Pemilu legislatif 2004 ke Pemilu Legislatif
    2009 sebesar 18%. Kesadaran warga menggunakan hak pilih menurun
    antara lain karena adanya kampanye golput untuk tidak memilih akibat
    berkurangnya kepercayaan warga terhadap kinerja anggota DPRD di daerah
    ini. Penurunan itu juga disebabkan oleh antara lain lemahnya kinerja KPUD
    Provinsi dalam mempersiapkan, melaksanakan dan mendorong partisipasi
    warga dalam Pemilu legislatif, selain semakin kurangnya dukungan
    pemerintah daerah dalam mensosialisasikan pelaksanaan Pemilu legislatif
    2009.
         Fenomena menunjukkan bahwa di setiap TPS di wilayah Provinsi
    Sulawesi Tenggara, banyak wajib pilih yang hadir dan berkeinginan untuk
    menyalurkan hak suaranya tetapi ditolak oleh petugas KPPS karena tidak
    memiliki kartu suara. Secara umum dapat dikatakan bahwa tingkat kesadaran


 
                                     35
                Laporan Akhir EKPD Provinsi Sultra  2010 
 


    dan partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan pemilu di Sulawesi
    Tenggara cukup tinggi, tetapi tidak dibarengi dengan kemampuan kerja
    penyelenggara pemilu, baik KPU Daerah maupun pemerintah daerah dalam
    mempersiapkan penyelenggaraan pemilu. Kelemahan yang paling menonjol
    adalah pada tahapan pemutakhiran data yang tidak dilakukan secara optimal
    dan profesional. Fenomena menunjukkan, banyak pemilih yang terdaftar dan
    mendapat kartu undangan dalam penyelenggaraan pemilu legislatif 2004
    yang lalu, ternyata tidak terdaftar lagi dan tidak mendapat kartu undagan
    pemilu dalam penyelenggaraan pemilu legislatif tahun 2009.


    b. Indikator Partisipasi Pilpres Langsung
           Capaian indikator penyelenggaraan Pilpres langsung oleh KPUD,
    tingkat partisipasi wajib pilih dan kualitas pelaksanaan Pilpres tahun 2004 dan
    tahun 2009 berbeda. Data pada Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD)
    Provinsi Sulawesi Tenggara menunjukan bahwa jumlah wajib pilih dalam
    Daftar Pemilih Tetap (DPT) pada tahun 2004 sebanyak 1.329.652 orang dan
    yang menggunakan hak pilihnya sebanyak 1.313.823 orang dengan tingkat
    partisipasi sebesar 98% dan wajib pilih yang golput sebesar 2%. Pada Pilpres
    tahun 2009, jumlah wajib pilih yang terdaftar dalam Daftar Pemilih Tetap
    (DPT) sebanyak 1.908.679 orang, yang menggunakan haknya sebanyak
    1.565.918 orang dengan tingkat partisipasi sebesar 82%, atau jumlah golput
    sebanyak 18%. Terdapat penurunan tingkat partisipasi masyarakat dalam
    Pilpres tahun 2009 dibandingkan tahun 2004 dengan angka golput naik
    sebesar 16%. Tingkat partisipasi masyarakat dalam Pilpres tahun 2004
    tergolong sangat tinggi dan hanya kategori tinggi pada tahun 2009. Kondisi
    itu sekaligus menunjukkan berkurang kualitas kinerja KPUD Provinsi
    Sulawesi Tenggara dalam penyelenggaraan Pilpres 2009 meskipun masih
    relative baik dan berjalan sukses.
           Indikator partisipasi masyarakat dalam Pemilihan Presiden Secara
    langsung (Pilpres langsung) diarahkan pada upaya pencapaian target dan
    sasaran pembangunan bidang politik sesuai Renstrada (2004-2009) yang
    target dan sasarannya mencakup: (a) mengembangkan iklim dan budaya
    politik yang demokratis dengan mengaktualisasikan prinsip persamaan,
    kesetaraan, kebebasan dan keterbukaan yang berbasis pada pada konstitusi
    dalam kehidupan masyarakat; (b) meningkatkan pendidikan politik dan


 
                                         36
                Laporan Akhir EKPD Provinsi Sultra  2010 
 


    partisipasi politik masyarakat dengan mengembangkan komunikasi politik
    yang lebih sehat menuju terwujudnya budaya politik yang kondusif terhadap
    kehidupan masyarakat dan pembangunan; (c) meningkatkan kemandirian
    partai-partai politik agar dapat melaksanakan fungsinya dalam meningkatkan
    kesadaran dan partisipasi politik masyarakat; (d) meningkatkan dan
    memantapkan pemahaman warga negara Republik Indonesia mengenai
    wawasan kebangsaan, jati diri bangsa, pembauran bangsa dengan
    mengaktualisasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dilandasi
    ketahanan bangsa yang kuat, bermuara dan berfokus pada kokohnya
    persatuan dan kesatuan bangsa serta utuhnya NKRI. Ini sesuai dengan
    kebijakan   pemerintah       yang    dioperasionalisasikan   dalam   bentuk
    penyelenggaraan Pimilihan Umum Legislatif Pemilihan Presiden dan Wakil
    Presiden dan Pilkada Langsung.
           Salah satu penyebab tingginya jumlah wajib pilih yang tidak memilih
    atau golput adalah kurang optimalnya kinerja KPUD dalam melakukan
    pemutakhiran daftar pemilu tetap (DPT). Fakta menunjukkan bahwa di
    banyak TPS di wilayah Sulawesi Tenggara, wajib pilih hadir dan berkeinginan
    untuk menyalurkan hak suaranya tetapi ditolak oleh petugas KPPS karena
    tidak terdaftar dalam DPT.


    c. Indikator Partisipasi Pilkada Langsung
         Indikator partisipasi dalam penyelenggaraan pemilihan kepala daerah
    secara langsung (Pilkada langsung) yakni dalam pemilihan gubernur dan
    wakil gubernur Sulawesi Tenggara menunjukkan tingkat partisipasi wajib pilih
    positif. Jumlah pemilih dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT) dengan wajib pilih
    yang menggunakan hak pilihnya dalam Pilgub tahun 2007 yang lalu tidak jauh
    berbeda. Data dari KPUD Provinsi Sulawesi Tenggara terlihat bahwa jumlah
    wajib pilih terdaftar dalam DPT sebanyak 1.565.918 orang dan yang
    menggunakan hak pilihnya sebanyak 1.390.489 orang dengan tingkat
    partisipasi sebesar 88% dan yang tidak menggunakan hak pilih atau golput
    sebanyak 12% dari total wajib pilih. Angka goput ini tergolong rendah jika
    dibandingkan dengan wajib pilih yang golput dalam Pilgub dan Wagub di
    daerah lain seperti Sulawesi Selatan mencapai 38% dan beberapa daerah di
    pulau Jawa berkisar 38% sampai 40% dari total wajib pilih.




 
                                        37
                     Laporan Akhir EKPD Provinsi Sultra  2010 
 


              Rendahnya angka golput dalam penyelenggaraan pemilu selalu terkait
       dengan belum maksimalnya kinerja KPUD dalam penyelenggaraan Pemilu,
       dukungan pemerintah yang lemah serta kesadaran masyarakat berpartisipasi
       yang rendah. Golput merupakan bagian hak politik warga, yang seringkali
       dilakukan karena mereka merasa tidak puas dengan kinerja wakil mereka
       diparlemen. Golput dalam konteks ini merupakan bagian dari protes warga
       atau     kinerja   pemerintahan   dan    politisi   yang   tidak   memihak   dan
       menguntungkan rakyat.
              Lemahnya kinerja KPUD dalam Pilgub terlihat dari antara lain di banyak
       TPS terdapat wajib pilih yang hadir dan berkeinginan menyalurkan hak
       suaranya tetapi ditolak oleh petugas KPPS karena tidak memiliki kartu suara.
       Dalam kasus ini, terlihat bahwa tingkat kesadaran dan partisipasi masyarakat
       dalam Pilgub tinggi namun tidak dibarengi dengan kemampuan kerja KPUD
       dan pemerintah daerah dalam mempersiapkan penyelenggaraan pemilu.
       Tahap pemutahiran data peserta pemilu yang tidak optimal dan professional
       menjadi salah satu penyebab. Banyak pemilih yang terdaftar dan mendapat
       kartu undangan dalam Pilpres dan Wakil Presiden tahun 2004, ternyata tidak
       terdaftar dan tidak mendapat kartu undagan dalam Pilgub dan Wagub tahun
       2007.      Sebaliknya ada sejumlah kartu undangan pemilih bagi warga
       masyarakat yang telah meninggal dunia Penomena ini menunjukkan
       buruknya kinerja KPU Daerah dan pemerintah daerah dalam mempersiapkan
       penyelenggaraan pemilu.


    3. Rekomendasi Kebijakan
              Berbadasarkan hasil evaluasi kinerja pemerintahan daerah di Sulawesi
    Tenggara dengan sejumlah indikator         yang digunakan,     khususnya mengenai
    pelaksanaan agenda pembangunan Indonesia yang aman dan damai serta
    pelaksanaan pembangunan yang adil dan demokratis maka terlihat masih ada
    sejumlah indikator pembangunan yang kinerjanya masih sangat minim
    pencapaiannya.
              Terkait dengan agenda pembangunan Indonesia yang aman dan damai,
    beberapa hal yang perlu mendapatkan perhatian untuk memmaksimalkan kinerja
    pengelolaan pemerintahan daerah ke depan adalah sebagai berikut:




 
                                          38
                        Laporan Akhir EKPD Provinsi Sultra  2010 
 


    1. Perlu keseriusan dalam penanganan kasus-kasus kejahatan konvensional
       termasuk perlu melakukan tindakan prefentif agar kasus kejahatan dapat
       berkurang. Frekwensi tindak kejahatan konvesional terus meningkat di
       daerah    ini,    sehingga   peran   aparat   keamanan   untuk   meningkatkan
       pengamanan termasuk penyelesaian kasus-kasus kejahatan perlu terus
       ditingkatkan.
    2. Penanganan kasus transnasional, termasuk penyelesaian kasus yang
       melibatkan WNI di luar negeri seperti pelanggaran keimigrasian perlu
       ditangani secara serius. Upaya yang perlu dilakukan adalah memberikan
       berbagai penyuluhan terkait dengan aturan-aturan keimigrasian, termasuk
       masalah-masalah perdagangan lintas Negara yang sering terjadi antar
       daerah dengan Singapura maupun Malaysia yang seringkali merugikan
       Indonesia.
         Terkait dengan pelaksanaan agenda pembangunan yang adil dan
    demokratis, beberapa indikator yang perlu mendapatkan perhatian adalah
    sebagai berikut:
    1. Penanganan kasus-kasus korupsi perlu terus dilakukan tanpa pandang bulu,
       tanpa diskriminasi, terutama korupsi-korupsi besar yang merugikan negara
       dan daerah.
    2. Perlu peningkatkan kinerja aparat dalam pengelolaan keuangan daerah agar
       penggunaan anggaran APBD tepat sasaran, sesuai aturan, memberikan
       manfaat bagi masyarakat, dengan menerapkan prinsip-prinsip tatakelola
       pemerintahan yang baik dalam pengelolaan keuangan daerah, disertai
       peningkatkan kualitas pengawasan baik pengawasan internal (melekat)
       maupun pengawasan fungsional dan pengawasan oleh pemerintah pusat.
    3. Semakin banyaknya masalah dalam proses pengelolaan SDM aparat
       terutama dalam proses rekruitmen yang penuh KKN, pembinaan dan promosi
       yang sarat kepentingan politik, maka sudah saatnya proses pengelolaan
       SDM aparat di pemerintah daerah ditangani oleh pemerintah pusat, atau tidak
       didesentralisasikan.
    4. Perlu peningkatan profesionalisme dan komitmen aparat penegak hukum
       dalam menyelesaikan kasus korupsi agar pelaku dapat memperoleh shock
       therapy, memberikan efek jera dan menciptakan rasa keadilan masyarakat
       dalam penanganan kasus korupsi yang sangat merugikan rakyat;




 
                                            39
                  Laporan Akhir EKPD Provinsi Sultra  2010 
 


    3. Perlu adanya komitmen pemerintah daerah untuk menaikkan jumlah
       anggaran pembangunan dan pelayanan publik untuk meningkatkan kualitas
       pelayanan kesehatan, pendidikan dan pemberdayaan ekonomi rakyat
       terutama bagi kaum perempuan yang selama ini masih relatif rendah;
    4. Perlu meningkatkan pengembangan sistem pelayanan satu atap di setiap
       kabupaten/kota diiringi dengan kebijakan penguatan kapasitas aparat dan
       pengadaan peralatan penunjang seperti IT dan metode kerja efektif;
    5. Perlu   pembenahan    kelembagaan     terkait   pembangunan   gender   dan
       Pemberdayaan gender seperti pembenahan struktur organisasi, peraturan,
       rekruitmen aparat yang profesional, sistem koordinasi lintas SKPD yang
       menjamin tercapainya target Gender Development Indeks (GDI) dan Gender
       Empowerment Meassurement (GEM) sesuai target nasional.
    6. Perlu perbaikan sistem rekruitmen dan pembenahan kinerja KPUD dalam
       proses penyelenggaraan Pemilu di daerah untuk menghindari adanya
       intervensi kekuasaan dalam proses-proses pemilihan di daerah terutama
       dalam pelaksanaan Pilkada secara langsung.
 




 
                                        40
                    Laporan Akhir EKPD Provinsi Sultra  2010 
 




C. AGENDA MENINGKATKAN KESEJAHTERAAN RAKYAT


    1. Indikator
    1.1. Indikator Pendidikan
           Untuk mengukur keberhasilan dan kemajuan pembangunan di bidang
    pendidikan ada beberapa indikator yang dapat digunakan antara lain indikator
    Angka Partisipasi Murni Tingkat SD (APM SD/MI), Angka Partisipasi Kasar
    Tingkat SD (APK SD/MI), rata-rata nilai akhir tingkat SMP, rata-rata nilai akhir
    tingkat sekolah menengah, angka putus sekolah tingkat SD, angka putus sekolah
    tingkat SMP, angka putus sekolah tingkat sekolah menengah, angka melek
    huruf, persentase guru yang layak mengajar terhadap duru seluruhnya tingkat
    SMP, dan persentase guru layak mengajar terhadap guru seluruhnya tingkat
    sekolah menengah. Kesepuluh indikator tersebut merupakan indikator yang
    terukur yang dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan pemerintah untuk
    merumuskan dan menetapkan kebijakan pendidikan, baik di tingkat pusat
    maupun daerah.
           Berdasarkan data profil pendidikan Sulawesi Tenggara ditemukan data
    dari ke sepuluh indikator sebagai berikut :
    1. Angka Partisipasi Murni (APM) Tingkat SD. Angka Partisipasi Murni (APM)
       SD/MI mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Pada tahun 2004, APM
       SD/MI sebesar 90,18 persen, tahun 2005 APM SD/MI sebesar 90, 57 persen,
       tahun 2006 APM SD/MI sebesar 92,26 persen, tahun 2007 APM SD/MI
       sebesar 93,64 persen, tahun 2008 APM SD/MI sebesar 94,24 persen, dan
       tahun 2009 APM SD/MI sebesar 95,52 persen.
    2. Angka Partisipasi Kasar (APK) Tingkat SD. Angka Partisipasi Murni (APM)
       SD/MI mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Pada tahun 2004, APM
       SD/MI sebesar 90,18 persen, tahun 2005 APM SD/MI sebesar 90, 57 persen,
       tahun 2006 APM SD/MI sebesar 92,26 persen, tahun 2007 APM SD/MI
       sebesar 93,64 persen, tahun 2008 APM SD/MI sebesar 94,24 persen, dan
       tahun 2009 APM SD/MI sebesar 95,52 persen.
    3. Rata-rata nilai akhir tingkat SMP. Rata-rata nilai akhir tingkat SMP di Provinsi
       Sulawesi Tenggara 5 tahun terakhir mengalami peningkatan dan perbaikan
       dari waktu ke waktu. Rata-rata nilai akhir tingkat SMP pada tahun 2004



 
                                          41
                   Laporan Akhir EKPD Provinsi Sultra  2010 
 


       mencapai 4,09, tahun 2005 meningkat menjadi 5,67, tahun 2005 dan tahun
       2006 serta tahun 2007 tidak mengalami perubahan masih pada rata-rata
       pada angka 5,67. Baru tahun 2008 mengalami peningkatan menjadi 6,35,
       dan pada tahun 2009 meningkat lagi menjadi 6,50.
    4. Rata-rata nilai akhir tingkat sekolah menengah (SMA/SMK/MA). Rata-rata nilai
       akhir tingkat sekolah menengah di Provinsi Sulawesi Tenggara 5 tahun
       terakhir terus meningkat. Rata-rata nilai akhir tingkat sekolah menengah
       tahun 2004 mencapai sebesar 4,30, tahun 2005 meningkat menjadi 5,55,
       tahun 2006 meningkat lagi menjadi 5,74, tahun 2007 meningkat lagi menjadi
       6,32, tahun 2008 meningkat lagi meskipun tidak besar menjadi 6,33, dan
       tahun 2009 meningkat menjadi 6, 70.
    5. Persentase angka putus sekolah tingkat SD. Jumlah angka putus sekolah
       tingkat SD di Provinsi Sulawesi Tenggara dari waktu ke waktu terus
       mengalami penurunan, tetapi pada tahun 2005 angka putus sekolah tingkat
       SD jumlahnya relatif besar dibandingkan dengan tahun 2004, 2005, 2006,
       2007, 2008, dan 2009. Jumlah angka putus sekolah tingkat SD tahun 2004
       sebesar 1,29 persen, tahun 2005 meningkat jumlahnya menjadi 8,18 persen,
       tahun 2006 menurun menjadi 1,57 persen, tahun 2007 menurun lagi menjadi
       1,35 persen, tahun 2008 menurn lagi menjadi 0,55 persen, dan tahun 2009
       menurun lagi menjadi 0,36 persen.
    6. Persentase angka putus sekolah tingkat SMP. Jumlah angka putus sekolah
       tingkat SMP di provinsi Sulawesi Tenggara 5 tahun terakhir mengalami
       penurunan yang cukup signifikan. Pada tahun 2004, jumlah angka putus
       sekolah tingkat SMP di daerah ini mencapai sebesar 8,46 persen dan
       menurun pada tahun 2005 menjadi 3,71 persen. Tahun 2006 jumlahnya
       meningkat tetapi tidak terlalu besar menjadi4,35 persen, tahun 2007 menurun
       lagi menjadi 3,46 persen, tahun 2008 menurun lagi menjadi 0,88 persen serta
       tahun 2009 menurun menjadi 0,61 persen.
    7. Persentase angka putus sekolah tingkat sekolah menengah (SMA/SMK/MA).
       Jumlah angka putus sekolah tingkat sekolah menengah di Provinsi Sulawesi
       Tenggara 5 tahun terakhir mengami fluktuasi naik turun. Tahun 2005, jumlah
       angka putus sekolah tingkat sekolah menengah di daerah ini mencapai 6,39
       persen, menurun cukup signifikan pada tahun 2005 menjadi 2,20 persen,
       tahun 2006 jumlahnya naik menjadi 3,19 persen, tahun 2007 naik lagi




 
                                        42
                    Laporan Akhir EKPD Provinsi Sultra  2010 
 


       menjadi 5,66 persen, tetapi pada tahun 2008 menurun cukup signifikan
       menjadi 0, 40 persen, dan tahun 2009 menurun lagi menjadi 0,32 persen.
    8. Persentase angka melek huruf. Jumlah angka melek huruf di Provinsi Sulawesi
       Tenggara berdasarkan data berbasis profil pendidikan Provinsi Sulawesi
       Tenggara tahun 2004-2009, menunjukkan bahwa Angka Melek Aksara 15
       tahun keatas mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Pada tahun 2004,
       Angka Melek Aksara sebesar 90,70 persen, tahun 2005 sebesar 90, 30
       persen, tahun 2006 sebesar 91,30 persen, tahun 2007 sebesar 91,30 persen,
       tahun 2008 sebesar 90,78 persen, dan tahun 2009 sebesar 93,80 persen.
    9. Persentase guru layak mengajar terhadap guru seluruhnya tingkat SMP.
       Jumlah guru layak mengajar sesuai dengan UU Nomor 14 Tahun 2005
       tentang Guru dan Dosen bahwa guru SD, SMP, dan SMA minimal
       berkualifikasi pendidikan sarjana (S1) di Provinsi Sulawesi Tenggara
       mengalami perbaikan dan peningkatan. Jumlah guru layak mengajar tingkat
       SMP pada tahun 2004 di daerah ini mencapai 81,64 persen, tahun 2005
       mencapai 81,54 persen, tahun 2006 me4ncapai 80,92 persen, tahun 2007
       naik menjadi 91,30 persen, tahun 2008 menjadi 67, 43 persen, dan tahun
       2009 menjadi 88,31 persen.
    10. Persentase guru layak mengajar terhadap guru seluruhnya tingkat sekolah
       menengah (SMA/SMK/MA). Jumlah guru yang layak mengajar tingkat
       sekolah menengah di Provinsi Sulawesi Tenggara mengalami peningkatan
       dari waktu ke waktu. Pada tahun 2004 jumlah guru yang layak mengajar di
       tingkat sekolah menengah mencapai 81,64 persen, tahun 2005 meningkat
       menjadi 84, 82 persen, tahun 2006 meningkat lagi menjadi 86, 81 persen,
       tahun 2007 meningkat lagi menjadi 90, 15 persen, tahun 2008 relatif sama
       dengan tahun sebelumnya yakni mencapai 90, 29 persen, dan tahun 2009
       meningkat menjadi 93,46 persen.


       1.1.     Indikator Kesehatan
              Kesehatan merupakan salah satu komponen      yang sangat mendasar
    dalam rangka meningkatkan kualitas sumber daya manusia adalah berkaitan
    dengan kondisi existing kesehatan masyarakat. Seperti halnya Pemerintah
    Daerah yang memiliki komitmen untuk terus meninkatkan kualitas pendidikan di
    daerah ini, Pemerintah Daerah Sulawesi Tenggara juga memiliki komitmen
    untuk meningkatkan kualitas derajat kesehatan masyarakat di daerah ini.


 
                                         43
                   Laporan Akhir EKPD Provinsi Sultra  2010 
 


    Komitmen tersebut dapat dilihat dari ditetapkannya rencana strategis daerah
    (Renstrada) di bidang kesehatan yang memuat beberapa kebijakan di bidang
    kesehatan antara lain; (i) meningkatkan jumlah, jaringan, dan kualitas pusat-
    pusat pelayanan kesehatan yang ditujukan untuk pemerataan pelayanan
    kesehatan masyarakat, terutama di daerah terpencil serta pengembangan dan
    relokasi fasilitas Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Provinsi Sulawesi
    Tenggara sebagai pusat kesehatan rujukan yang memadai sesuai tuntutan
    perkembangan Iptek kesehatan, (ii) mengembangkan sistem jaminan kesehatan
    masyarakat yang berprinsip keadilan sebagai pengejawantahan cara pandang
    dari paradigma sakit ke paradigma sehat sejalan dengan visi Indonesia Sehat
    2010. sejalan dengan komitmen tersebut akan ditingkatkan mutu pelayanan
    kesehatan perorangan lanjutan dengan prioritas pembebasan biaya pelayanan
    kesehatan kelas III pada RSUD Kabupaten/Kota dan RSUD Provinsi Sulawesi
    Tenggara, (iii) meningkatkan pemahaman akan pentingnya kesehatan dan
    menerapkan pola hidup sehat guna terciptanya perilaku hidup bersih dan sehat
    mulai dari tatanan individu, keluarga, dan masyarakat serta pemberdayaan
    masyarakat dalam pembangunan kesehatan. Kebijakan tersebut kemudian
    dijabarkan kepada beberapa progam dan kegiatan.
           Meskipun Pemerintah Daerah memiliki komitmen sebagaimana yang
    tertuang di dalam rencana strategis daerah (Renstrada), tetapi secara umum
    masalah utama yang dihadapi oleh Pemerintah Daerah Provinsi Sulawesi
    Tenggara di bidang kesehatan adalah berkaitan dengan masih rendahnya
    kualitas kesehatan penduduk. Hal ini dapat dilihat dari masih tingginya angka
    kematian ibu melahirkan dan angka kematian bayi. Selain itu, proporsi balita
    yang menderita gizi kurang masih tinggi dan masih seringnya terjadi kasus gizi
    buruk. Usia harapan hidup masih belum begitu baik. Angka kematian akibat
    penyakit   menular   masih    cukup    tinggi   serta   kecenderungan   semakin
    meningkatnya penyakit tidak menular. Masalah lainnya yang masih dihadapi
    oleh Pemerintah Daerah Provinsi Sulawesi Tenggara adalah berkaitan dengan
    terjadinya kesenjangan kualitas kesehatan dan akses terhadap pelayanan
    kesehatan yang bermutu dan kinerja pelayanan kesehatan yang rendah (LAKIP
    Dinas Kesehatan 2008). Untuk melihat kondisi existing kesehatan masyarakat
    dapat diukur dan dilihat dari beberapa indikator, antara lain; umur harapan hidup
    (UHH), angka kematian bayi (AKB), angka kematian ibu (AKI), prevalensi gizi
    buruk, prevalensi gizi kurang, dan persentase tenaga kesehatan perpenduduk.


 
                                          44
                   Laporan Akhir EKPD Provinsi Sultra  2010 
 


           Adapun pencapaian indikator output dan outcomes Provinsi Sulawesi
    secara berturut-turut dapat dijelaskan sebagai berikut.


    a. Umur Harapan Hidup (tahun)
          Berdasarkan data pada Kantor Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi
    Tenggara, umur harapan hidup penduduk Tahun 2004-2009 dapat dilihat pada
    Tabel 2.
    Tabel 2. Persentase Umur Harapan Hidup Penduduk di Sulawesi Tenggara
          Tahun         Persentase Umur Harapan Hidup Penduduk
           2004                               66
           2005                               66,8
           2006                               67
           2007                               69,1
           2008                               70
           2009                               70,4
    Sumber : Kantor Dinas Kesehatan Sultra dan Bappenas


           Indikator umur harapan hidup penduduk yang dicapai oleh Pemerintah
    Daerah Provinsi Sulawesi Tenggara menunjukkan capaian masih lebih
    rendah/di bawah dari capaian nasional. Umur harapan hidup penduduk di
    Sulawesi Tenggara pada tahun 2004 mencapai 66 tahun, dan mengalami
    kenaikan relatif sedikit menjadi 66,8 tahun 2005, tahun 2006 naik 67 tahun,
    tahun 2007 naik 69,1 tahun dan pada tahun 2008 naik menjadi 70 tahun. tahun
    2009 mengalami peningkatan dengan tahun sebelumnya yakni 70,4 tahun.


    b. Angka Kematian Bayi (per 1.000 kelahiran hidup)
          Berdasarkan data pada Kantor Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi
    Tenggara, Persentase Angka Kematian Bayi Tahun 2004-2009 dapat dilihat
    pada Tabel 3




 
                                         45
                    Laporan Akhir EKPD Provinsi Sultra  2010 
 




      Tabel 3.Persentase Angka Kematian Bayi di Provinsi Sulawesi Tenggara
               Tahun                     Angka Kematian Bayi (AKB)
               2004                                     34
               2005                                     38
               2006                                     31
               2007                                     41
               2008                                  29,1
               2009                                  11,6
      Sumber : Dinkes Prov.Sultra, Bappenas


          Angka kematian bayi digambarkan sebagai salah satu indikator
    pembangunan bidang kesehatan, sehinggga         jika di suatu daerah terdapat
    kematian bayi tinggi maka daerah tersebut dapat dikategorikan sebagai daerah
    rawan. Sulawesi tenggara merupakan daerah yang telah memberikan perhatian
    yang sangat besar terhadap kasus ini.


    c. Gizi Buruk (%)
         Berdasarkan data pada Kantor Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi
    Tenggara, prevalensi gizi buruk Tahun 2004-2009 dapat dilihat pada Tabel 4
    Tabel 4 Persentase Prevalensi Gizi Buruk di Sulawesi Tenggara
       Tahun                      Persentase Prevalensi Gizi Buruk
      2004
      2005                                       10,04
      2006                                       2,65
      2007                                       3,50
      2008                                       3,50
      2009                                       3,50
    Sumber : Kantor Dinas Kesehatan Sultra dan Bappenas

             Penentuan status gizi masyarakat dapat dilihat dengan prevalensi gizi
    buruk. terjadinya gizi buruk dapat disebabkan oleh berbagai faktor, misalnya
    adanya penyakit infeksi yang menyebabkan gangguan kesehatan secara




 
                                        46
                  Laporan Akhir EKPD Provinsi Sultra  2010 
 


    individual. disamping itu dapat juga disebabkan karena adanya faktor
    predisposisi yang mempercepat terjadinya berbagai gangguan kesehatan.


    d. Gizi Kurang (%)

          Berdasarkan data pada Kantor Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi
    Tenggara, prevalensi gizi kurang Tahun 2004-2009 dapat dilihat pada Tabel 5.
    Tabel 5. Persentase Prevalensi Gizi Kurang di Sulawesi Tenggara
        Tahun                     Persentase Prevalensi Gizi Kurang
        2004
        2005                                     19,34
        2006                                     13,64
        2007                                     18,20
        2008                                     18,20
        2009                                     18,20
    Sumber : Kantor Dinas Kesehatan Sultra dan Bappenas


    Prevalensi gizi kurang masyarakat Sulawesi Tenggara memperlihatkan adanya
    penurunan yang sangat signifikan dari tahun ke tahun.          penurunan ini
    disebabkan karena telah munculnya berbagai program kesehatan yang
    langsung mengarah pada masyarakat.            program tersebut berasal dari
    pemerintah pusat dan pemerintah daerah, sehingga masalah gizi kurang dapat
    diatasi. Disamping itu masalah gizi juga merupakan masalah Nasional yang
    sangat mempengaruhi suatu bangsa. Provinsi Sulawesi Tenggara dari tahun ke
    tahun telah berhasil menangani terjadinya kasus gizi kurang.


    e. Persentase Tenaga Kesehatan per Penduduk (%)

           Berdasarkan data pada Kantor Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi
    Tenggara, tenaga kesehatan per penduduk Tahun 2004-2009 tidak tersedia.
    Indikator persentase tenaga kesehatan per penduduk satu tahun terakhir di
    Provinsi Sulawesi Tenggara masih sangat kurang. Data yang ada pada Kantor
    Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tenggara menunjukkan bahwa tenaga
    kesehatan yang ada pada tahun 2008 masih kurang dan belum sesuai dengan
    target yang ditetapkan. Selengkapnya mengenai persentase tenaga kesehatan



 
                                        47
                   Laporan Akhir EKPD Provinsi Sultra  2010 
 


    per penduduk tahun 2008 dapat dirinci sebagai berikut : (i) tenaga dokter
    spesialis baru mencapai 3,5/100.000 penduduk dari target 6/100.000 penduduk,
    tenaga dokter umum baru mencapai 14,63/100.000 penduduk dari target
    40/100.000 penduduk, dokter gigi baru mencapai 2,26/100.000 penduduk,
    tenaga apoteker baru mencapai 5,13/100.000 penduduk dari target 10/100.000
    penduduk, Sarjana Kesehatan Masyarakat baru mencapai 23,76/100.000
    penduduk dari target 107/100.000 penduduk, tenaga paramedis keperawatan
    sudah mencapai 118/100.000 penduduk dari target 117/100.000 penduduk, dan
    tenaga kebidanan baru mencapai 55,06/100.000 penduduk dari target
    100/100.000 penduduk.


    1.2. Indikator Keluarga Berencana
    a. Contraceptive Prevalence Rate (%)

          Berdasarkan data pada Kantor Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi
    Tenggara, Persentase penduduk ber-KB (contraceptive prevalence rate) Tahun
    2004-2009 dapat dilihat pada Tabel 6.
    Tabel 6. Persentase penduduk ber-KB (contraceptive prevalence rate) di
            Provinsi Sulawesi Tenggara
              Tahun              Penduduk ber-KB (contraceptive prevalence
                                 rate)
              2004                                 60,1
              2005                                65,31
              2006                                68,02
              2007                                70,68
              2008                                63,83
              2009                                69,69
      Sumber : Dinkes Prov.Sultra, Bappenas


    Program Keluarga Berencana (KB) merupakan program Nasional yang
    bertujuan untuk menekan angka kelahiran penduduk, provinsi Sulawesi
    Tenggara dalam menjalankan program ini secara tehnis bekerjasama dengan
    pihak Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional Prov.Sultra yang secara
    kelembagaan merupakan lembaga pemerintah pusat yang ditempatkan di setiap
    provinsi di Indonesia.




 
                                         48
                   Laporan Akhir EKPD Provinsi Sultra  2010 
 


    b. Pertumbuhan Penduduk (%)
          Berdasarkan data pada kantor Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi
    Tenggara, laju pertumbuhan penduduk tahun 2004-2009 dapat dilihat pada
    Tabel 7.
      Tabel 7. Laju Pertumbuhan Penduduk di Provinsi Sulawesi Tenggara
               Tahun              Laju Pertumbuhan Penduduk
               2004                                  0,8
               2005                                  2,72
               2006                                  1,99
               2007                                  1,47
               2008                                  2,14
               2009                                  2,09
      Sumber : Dinkes Prov.Sultra, Bappenas


    Laju pertumbuhan penduduk erat kaitannya dengan keluarga berencana, oleh
    karena itu salah satu cara untuk menekan laju pertumbuhan penduduk maka
    program keluarga berencana haruslah dilaksanakan secara komprehensif.


    c. Total Fertility Rate (%)

           Indikator angka kematian bayi 6 tahun terakhir di Provinsi Sulawesi
    Tenggara mengalami penurunan. Angka kematian bayi (AKB) pada tahun 2004
    mencapai 67 per seribu kelahiran hidup, kemudian menurun pada tahun 2005
    menjadi 41 per seribu kelahiran hidup, menurun lagi pada tahun 2006 menjadi
    32 per seribu kelahiran hidup, tetapi pada tahun 2007 naik kembali menjadi 41
    per seribu kelahiran hidup, dan pada tahun 2008 mencapai 39 per seribu
    kelahiran hidup. Hal ini menunjukkan bahwa pembangunan bidang kesehatan di
    Provinsi Sulawesi Tenggara memberikan hasil yang baik dan berdampak pada
    peningkatan derajat kesehatan di daerah ini. Begitu pula indikator umur harapan
    hidup (UHH) penduduk yang dicapai oleh Pemerintah Daerah Provinsi Sulawesi
    Tenggara dari tahun ke tahun mengalami peningkatan.




 
                                        49
                      Laporan Akhir EKPD Provinsi Sultra  2010 
 


    1.4. Indikator Makro Ekonomi

              Untuk mengetahui kinerja ekonomi suatu negara, maka dapat diketahui
    melalui beberapa indikator makro ekonomi. Indikator makro ekonomi ini dapat
    dilihat perkembangannya untuk jangka waktu tertentu, demikian halnya pada
    tingkat     daerah   (provinsi)     dapat    dilakukan     penilaian     terhadap    kinerja
    pembangunan ekonomi di daerah dengan melihat indikator makro ekonomi di
    daerah. Provinsi Sulawesi Tenggara salah satu yang menjadi objek dalam
    peniliain kinerja pembangunan ekonominya. Penilaian kinerja ini dapat dilihat
    kinerja pembangunan ekonomi melalui indikator makro ekonomi dari tahun 2004
    – 2009 pada Tabel 8.
    Tabel 8. Kinerja Makro Ekonomi Sulawesi Tenggara (2004-2009)
       Ekonomi
                         2004     2005           2006        2007      2008             2009
         Makro
     Laju
     Pertumbuhan         7,51         7,31       7,68        7,96          7,27         7,57
     Ekonomi (%)
     Persentase
     Ekspor
                         17,92    16,62          28,70       27,47     24,66            22,98
     terhadap
     PDRB (%)
     Pendapatan
     Perkapita        5.340.428 6.612.777 7.628.241 8.837.210 10.686.343           12.364.463
     (Rupiah)
       Laju Inflasi
                         7,72     21,45          10,57       7,53      15,28            4,60
            (%)
    Sumber : BPS Sultra, 2010


    1.3. Indikator Investasi

              Investasi merupakan unsur penting dalam proses pembangunan
    ekonomi suatu wilayah. Meningkatnya investasi dapat memberikan dampak atau
    stimulus ekonomi suatu daerah karena dengan adanya investasi maka lapangan
    pekerjaan akan terbuka, dengan demikian banyak tenaga kerja akan terserap,
    peningkatan pendapatan masyarakat akan meningkat pada akhirnya daya beli
    juga meningkat. Meningkatnya daya beli masyarakat akan sangat membantu
    peningkatan ekonomi lebih lanjut sebab para pengusaha akan terdorong untuk


 
                                                50
                       Laporan Akhir EKPD Provinsi Sultra  2010 
 


    melakukan ekspansi usaha karena pertimbangan jika mereka meningkatkan
    produksinya maka akan dapat terserap oleh pasar atau ada pembeli.
               Banyak aspek pertimbangan dalam melakukan investasi seperti aspek
    sumber daya yang tepat dikembangkan di suatu daerah, infrastruktur,
    keamanan, kenyamanan, kemudahan perizinanan aspek-aspek tersebut akan
    menjadi pertimbangan pengusaha dalam menghitung profit yang mungkin
    diperoleh. Oleh karena itu perkembangan investasi disuatu daerah sangat
    penting untuk mempertimbangan aspek kebutuhan dalam penilaian untuk
    berinvestasi di suatu daerah. Lebih jelasnya perkembangan investasi domestik
    dan investasi asing di Sulawesi Tenggara dapat dilihat pada Tabel 9 berikut :
    Tabel 9. Perkembangan Investasi Domestik dan Investasi Asing di Sulawesi
             Tenggara
             Investasi      2004     2005         2006       2007       2008      2009
     Nilai Realisasi
     Investasi PMDN (Rp.     0,00    0,00         0,00      2.768,90   3.600,61   26,48
     Milyar)
     Nilai Persetujuan
     Rencana Investasi      393,00   0,00        2.040,00   3.673,80     na        na
     PMDN (Rp.Milyar)
     Nilai Realisasi
     Investasi PMA (US$      0,10    0,00         0,40        0,00      3,80      0,40
     Juta)
     Nilai Persetujuan
     Rencana Investasi       1,00    9,00         1,50       10,90       na        na
     PMA (US$ Juta)
     Realisasi
     penyerapan tenaga       6,00    0,00         60,00       0,00      51,00      na
     kerja PMA
    Sumber: BPMD Sultra 2010.




 
                                            51
                   Laporan Akhir EKPD Provinsi Sultra  2010 
 


    1.4. Infrastruktur

                Dalam rangka menunjang pembangunan ekonomi di Sulawesi
    Tenggara, maka ketersedian sarana infrastruktur sangat penting, sebab dengan
    ketersediaan infratsruktur jalan yang baik akan memberikan          efek positif
    terhadap perkembangan investasi disuatu daerah. Ketersedian jalan yang baik
    akan memperlancar distribusi baik untuk kebutuhan konsumsi masyarakat
    maupun untuk kelancaran pergerakan supply input dari suatu daerah ke daerah
    lain. Di Sulawesi Tenggara penyedian perbaikan infrastrutur jalan juga menjadi
    perhatian    pemerintah   dalam     pembangunannya     terutama     jalan–jalan
    penghubung dengan provinsi lain dan jalan penghubungan antar kabupaten.
    Baiknya jalan yang menghubungkan antara provinsi Sulawesi Tenggara dengan
    provinsi Sulawesi Selatan maupun Sulawesi Tengah, akan sangat membantu
    dalam pertukaran barang dan jasa di daerah ini. Perkembangan perbaikan jalan
    di Sulawesi Tenggara disajikan dalam Tabel 10.
    Tabel 10. Perkembangan Kondisi Jalan di Sulawesi Tenggara
        Infrastruktur      2004       2005    2006     2007     2008       2009
     Persentase Jalan
     Nasional dalam        69,47      66,75   37,26    26,89    18,69      56,12
     Kondisi Baik (%)
     Persentase Jalan
     Nasional dalam        17,23      24,17   38,55    41,30    47,83      21,07
     Kondisi Sedang (%)
     Persentase Jalan
     Nasional dalam        13,29      9,08    24,19    31,82    33,48      22,81
     Kondisi Rusak (%)
     Persentase Jalan
     Provinsi dalam        55,12      31,99   16,36    11,70    15,95      25,03
     Kondisi Baik (%)
     Persentase Jalan
     Provinsi dalam        31,76      24,21   46,63    29,91    28,75      24,41
     Kondisi Sedang (%)
     Persentase Jalan
     Provinsi dalam        13,11      44,86   37,01    57,75    55,30      50,56
     Kondisi Rusak (%)
    Sumber: Dinas PU Sultra, 2010




 
                                        52
                  Laporan Akhir EKPD Provinsi Sultra  2010 
 


    1.6. Indikator Pertanian
    a. Nilai Tukar Petani (NTP)
         Nilai Tukar Petani merupakan salah satu indikator untuk mengukur tingkat
    kesejahteraan petani. Nilai Tukar Petani (NTP) adalah rasio antara indeks
    harga yang diterima petani (IT) dengan indeks harga yang dibayar petani (IB)
    yang dinyatakan dalam persentase. Indeks harga yang diterima petani (IT)
    adalah indeks harga yang menunjukkan perkembangan harga         produsen atas
    hasil produksi petani. Indeks harga yang dibayar petani (IB) adalah indeks
    harga yang menunjukkan perkembangan harga            kebutuhan rumah tangga
    petani, baik kebutuhan untuk konsumsi rumah tangga maupun kebutuhan untuk
    proses produksi pertanian. Secara umum NTP menghasilkan 3 pengertian ;
    1. NTP > 100 berarti NTP pada suatu periode tertentu lebih baik dibandingkan
       dengan NTP pada tahun dasar.
    2. NTP = 100 berarti NTP pada suatu periode tertentu sama dengan NTP pada
       tahun dasar.
    3. NTP < 100 berarti NTP pada suatu periode tertentu menurun dibandingkan
       NTP pada tahun dasar.
             Secara konsepsional NTP adalah pengukur kemampuan tukar barang-
    barang (produk) pertanian yang dihasilkan petani dengan barang atau jasa yang
    diperlukan untuk konsumsi rumah tangga dan keperluan dalam memproduksi
    produk pertanian atau Nilai Tukar Petani (NTP) merupakan salah satu indikator
    untuk melihat tingkat kemampuan/daya beli petani di pedesaan. Nilai Tukar
    Petani (NTP) juga menunjukkan daya tukar (term of trade) dari produk pertanian
    dengan barang dan jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi.
    Semakin tinggi nilai tukar petani secara relatif semakin kuat pula tingkat
    kemampuan/daya beli petani.
             Pemantau atau perhitungan Nilai Tukar Petani (NTP) di Sulawesi
    Tenggara secara efektif dilakukan mulai tahun 2008. Perhitungan Nilai Tukar
    Petani (NTP) dilakukan per bulan, sehingga secara rinci Nilai Tukar Petani di
    Sulawesi Tenggara dapat dilihat pada tabel 11 berikut;




 
                                        53
                   Laporan Akhir EKPD Provinsi Sultra  2010 
 


    Tabel 11. Nilai Tukar Petani (NTP) di Sulawesi Tenggara Tahun 2008-2009
                                                  Tahun
          Bulan                       2008                          2009
     Januari                          99.3                         102.63 
     Febuari                         98.77                         105.23 
     Maret                           104.19                        105.75 
     April                           108.19                        106.52 
     Mei                             108.15                        106.45 
     Juni                            108.38                        106.54 
     Juli                            105.37                        107.36 
     Agustus                         105.27                        108.96 
     September                       103.88                        109.59 
     Oktober                         104.04                        109.74 
     November                        102.71                        109.69 
     Desember                        102.63                        109.93 
     Rata-rata                      104.24                        107.37 
    Sumber : BPS Sulawesi Tenggara 2010


    b. Produk Domestic Regional Bruto (PDRB) Sektor Pertanian
           Produk Domestic Regional Bruto (PDRB) adalah sebagai jumlah nilai
    tambah bruto yang dihasilkan oleh seluruh unit usaha dalam wilayah tertentu,
    atau jumlah nilai barang dan jasa akhir yang dihasilkan oleh seluruh unit
    ekonomi. PDRB atas dasar harga berlaku menggambarkan nilai tambah barang
    dan jasa yang dihitung dengan menggunakan harga pada setiap tahun,
    sedangkan PDRB atas dasar harga konstan menunjukan nilai tambah barang
    dan jasa yang dihitung menggunakan harga pada satu tahun tertentu sebagai
    dasar, dalam perhitungan ini digunakan tahun 2000. PDRB atas dasar harga
    berlaku dapat digunakan untuk melihat pergeseran struktur ekonomi, sedangkan
    harga konstan digunakan untuk mengetahui pertumbuhan ekonomi dari tahun ke
    tahun., PDRB merupakan indikator untuk mengatur sampai sejauh mana
    keberhasilan pemerintah dalam memanfaatkan sumber daya yang ada dan dapat
    digunakan sebagai perencanaan dan pengambilan keputusan.
           Produk Domestic Regional Bruto (PDRB) sektor pertanian adalah
    sebagai jumlah nilai tambah bruto yang dihasilkan oleh sektor pertanian dalam
    wilayah tertentu, atau jumlah nilai barang dan jasa akhir yang dihasilkan oleh
    sektor pertanian. Produk PDRB sektor pertanian atas dasar harga berlaku
    menggambarkan nilai tambah barang dan jasa sektor pertanian yang dihitung
    dengan menggunakan harga pada setiap tahun, sedangkan PDRB atas dasar



 
                                        54
                    Laporan Akhir EKPD Provinsi Sultra  2010 
 


    harga konstan menunjukan nilai tambah barang dan jasa sektor pertanian yang
    dihitung menggunakan harga pada satu tahun tertentu sebagai dasar, dimana
    dalam perhitungan ini digunakan tahun 2000         PDRB sektor pertanian atas
    dasar harga berlaku dapat digunakan untuk melihat pergeseran struktur ekonomi
    pada sektor pertanian, sedangkan harga konstan digunakan untuk mengetahui
    pertumbuhan ekonomi pada sektor pertanian dari tahun ke tahun. Berdasarkan
    data yang diperoleh di BPS Provinsi Sulawesi Tenggara PDRB sektor pertanian
    atas dasar harga berlaku dapat dilihat pada tabel 12 berikut ;
    Tabel 12 PDRB Sektor Pertanian Atas Dasar Harga Berlaku (Rp. Juta)
       Tahun      PDRB Sektor Pertanian Atas Dasar Harga Berlaku (Rp. Juta)
       2004                                   4,2
       2005                                   5,5
       2006                                   6,2
       2007                                   6,8
       2008                                   8,1
       2009                                   9,0
    Sumber : Diolah dari BPS Sulawesi Tenggara


    1.7. Indikator Kehutanan
    Persentase Luas Lahan Rehabilitasi dalam Hutan terhadap Lahan Kritis
          Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara dalam penanganan lahan kritis
    telah menunjukan seriusan yang berarti. Berdasarkan data yang diperoleh dari
    Dinas Kehutanan Provinsi Sulawesi Tenggara persentase luas lahan rehabilitasi
    dalam hutan terhadap lahan kritis terjadi peningkatan yang sangat siginifikan dari
    tahun 2004 sebesar 0,48 persen meningkat menjadi 0,89 persen pada tahun
    2008. Jika dibandingkan dengan persentase kenaikan secara nasional maka
    penanganan lahan kritis di Provinsi Sulawesi Tenggara jauh di atas persentasi
    Nasional. Secara rinci dapat dilihat pada Tabel 13 berikut ;
     Tabel 13. Persentase Luas Lahan Rehabilitasi Dalam Hutan Terhadap Lahan
               Kritis di Sulawesi Tenggara dan Nasional Tahun 2004-2008
                    Persentase Luas lahan rehabilitasi dalam hutan terhadap lahan
      Tahun
                                               kritis
                             Prov. Sultra                       Nasional
       2004                     0.48                              1.03
       2005                     0.99                              0.93
       2006                     0.84                              0.83
       2007                     1.29                              0.26
       2008                     0.89                              0.26
       2009                     0.89                              0.26
     Sumber : Dishut Provinsi Sulawesi Tenggara dan Bappenas 2009



 
                                          55
                    Laporan Akhir EKPD Provinsi Sultra  2010 
 




    1.8. Indikator Kelautan
    a. Jumlah Tindak Pidana Perikanan

            Arah kebijakan pembangunan kelautan dan perikanan di Provinsi
    Sulawesi Tenggara diarahkan pada upaya Peningkatan pengawasan dan
    keamanan wilayah pesisir dan perairan laut dari ancaman perusakan dan
    pencurian hasil-hasil laut. Hasil pemantauan dan pengawasan Dinas Kelautan
    dan Perikanan Provinsi Sulawesi Tenggara dalam kurun waktu tahun 2004
    sampai 2009 telah ditemukan beberapa pelanggaran yang dilakukan masyarakat
    yang tergolong tindak pidana. Jumlah tindak pidana perikanan di Provinsi
    Sulawesi Tenggara terus meningkat. Pada Tahun 2004 jumlah tindak pidana
    perikanan berjumlah 55 kasus meningkat tajam pada tahun 2008 sebanyak 100
    kasus. Jika dibandingkan dengan jumlah kasus secara nasional pada tahun
    2004 sebanyak 200 kasus dan tahun 2007 sebanyak 154, artinya pada tingkat
    nasional menunjukan penurunan jumlah tindak pidana perikanan. Secara rinci
    capaian indikator keluaran (output) jumlah tindak pidana perikanan di Provinsi
    Sulawesi Tenggara dan Nasional dapat dilihat pada tabel 14 berikut ;
     Tabel 14. Capaian indikator keluaran (output) jumlah tindak pidana perikanan di
              Sulawesi Tenggara dan Nasional Tahun 2004-2009
                                      Jumlah Tindak Pidana Perikanan
       Tahun
                             Prov. Sultra                        Nasional
        2004                       55                               200
        2005                       60                               174
        2006                       78                               139
        2007                       91                               116
        2008                      100                               62
        2009*                       -                                -
    Sumber : Dishut Provinsi Sultra dan Bappenas 2009, 2009* data belum tersediah

    b. Luas kawasan konservasi laut
            Capaian indikator keluaran (output) Luas kawasan konservasi laut
        Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara melalui Dinas Kelautan dan
        Perikanan sejak tahun 2004 sampai 2008 tidak ada perubahan luasan yaitu,
        1.507.800. Pada tingkat Nasional terjadi penurunan dari 2006 seluas
        5.556.999,44 turun menjadi 5.423.216,70 pada tahun 2007. Secara rinci
        Capaian indikator keluaran (output) luas kawasan konservasi laut di Provinsi
        Sulawesi Tenggara dan Nasional dapat dilihat pada Table 15 berikut ;



 
                                          56
                     Laporan Akhir EKPD Provinsi Sultra  2010 
 


    Tabel 15.Luas Kawasan Konservasi Laut di Sulawesi Tenggara Tahun 2004-
             2009
        Tahun                       Di Sulawesi Tenggara (ha)
        2004                                1.507.800
        2005                                1.507.800
        2006                                1.507.800
        2007                                1.507.800
        2008                                1.507.800
        2009                                1.507.800
       Sumber : Dishut Provinsi Sulawesi Tenggara 2010

    1.9. Indikator Kesejahteraan Sosial
     a. Persentase penduduk miskin
               Berdasarkan data BPS Provinsi Sulwesi Tenggara, bahwa persentase
    penduduk miskin di Provinsi Sulawesi Tenggara dapat dilihat pada Tabel 16
    berikut:
     Tabel 16. Persentase Penduduk Miskin di Sulawesi Tenggara 2004-2009
                                                                Persentase
                       Jumlah Penduduk Penduduk Miskin
         Tahun                                               Penduduk Miskin
                           (Orang)            (Orang)
                                                                   (%)
         2004               1.911.103         418.532             21,90
         2005               1.960.697         420.570             21,45
         2006               2.001.818         467.825             23,37
         2007               2.031.532         433.325             21,33
         2008               2.075.000         405.248             19,53
         2009               2.118.300         400.994             18,93
    Sumber : BPS Provinsi Sulawesi Tenggara 2010 (diolah)

               Berdasarkan Tabel 16 tampak bahwa dalam kurun waktu 2004-2009
    persentase penduduk miskin mengalami perkembangan yang semakin menurun
    setiap tahunnya, kecuali pada periode 2005-2006 mengalami peningkatan
    sebesar 1.92 %, di mana pada tahun 2005 persentase penduduk miskin sebesar
    21.45% dan pada tahun 2006 meningkat menjadi 23.37%.


     b. Tingkat Pengangguran Terbuka
                Yang dimaksud dengan pengangguran terbuka adalah seluruh
      angkatan kerja yang mencari pekerjaan, baik yang mencari pekerjaan
      pertama kali maupun yang pernah bekerja sebelumnya. Berdasarkan data
      Biro Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Tenggara tahun 2010, tingkat
      pengangguran terbuka di Provinsi Sulawesi Tenggara, kurun waktu 2004–
      2009 terlihat pada tabel 17 di bawah ini.



 
                                        57
                 Laporan Akhir EKPD Provinsi Sultra  2010 
 



     Tabel 17. Tingkat Pengangguran Terbuka di Provinsi Sulawesi Tenggara
               Tahun 2004-2009
                       Angkatan                              Tingkat
                                        Pengangguran
        Tahun            Kerja                           Pengangguran
                                       Terbuka (orang)
                        (orang)                            terbuka (%)
         2004           914.229            85.455              9,35
         2005           886.546            79.081              8,92
         2006           924.763            89.441              9,67
         2007           955.763            61.162              6,40
         2008           963.338            58.253              6,05
         2009           986.096            53.067              5,38
     Sumber : BPS Sultra 2010 (diolah)

            Berdasarkan Tabel 17 , tampak bahwa dalam kurun waktu 2004-2009
     tingkat pengangguran terbuka mengalami perkembangan yang semakin
     menurun setiap tahunnya, kecuali pada periode 2005-2006 mengalami
     peningkatan sebesar 0.75 %, di mana pada tahun 2005 persentase penduduk
     miskin sebesar 8.92% dan pada tahun 2006 meningkat menjadi 9.67%.


    c. Analisis indikator Pendukung
            Oleh karena alokasi anggaran untuk penanggulangan kemiskinan
     tidak tersedia datanya, maka indikator pendukung yang digunakan adalah
     daya serap tenaga kerja pada perusahaan skala sedang/besar. Berdasarkan
     data Biro Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Tenggara tahun 2010,
     jumlah tenaga kerja yang bekerja pada perusahaan (sedang dan besar) di
     Provinsi Sulawesi Tenggara kurun waktu 2004 – 2009 terlihat pada Tabel 18
     di bawah ini.
     Tabel 18  Jumlah Tenaga Kerja Menurut Perusahaan (Sedang dan Besar)
               Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun 2004-2009
                    Angkatan Kerja     Jumlah Tenaga    Daya Serap Tenaga
        Tahun
                        (orang)         Kerja (orang)       Kerja (%)
         2004           914.229             6712              0,73
         2005           886.546             5121              0,58
         2006           924.763             3039              0,33
         2007           955.763             5210              0,55
         2008           963.338             5473              0,57
         2009           986.096             6263              0,64
     Sumber : BPS Sultra 2010 (diolah)




 
                                      58
                     Laporan Akhir EKPD Provinsi Sultra  2010 
 


    2. Analisis Pencapaian Indikator
       a. Indikator Pendidikan

               Analisis pencapaian indikator pendidikan akan dilakukan pada              3
       indikator pendidikan yang menjadi fokus perhatian dari agenda pembangunan
       untuk      meningkatkan   kesejahteraan     rakyat,    yakni   persentase   Angka
       Partisipasi Murni (APM) tingkat SD, Angka Partisipasi Kasar (APK) tingkat
       SD, dan Angka Melek Huruf (AMH) dapat dijelaskan melalui diagram sebagai
       berikut.




                                     GRAFIK APK dan AMH

         130.00
         120.00
         110.00
         100.00
          90.00                                                                    APK
                                                                                   AMH
          80.00
          70.00
          60.00
          50.00
                     2004    2005     2006        2007       2008     2009



       Sumber : Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Tenggara
       Gambar 11. Persentase APK dan AMH


               Berdasarkan data pada Gambar 11 menunjukan bahwa pada tahun
       2004 dan 2005 APK SD mengalami stagnasi pada kisaran 105 persen,.
       Kondisi ini tersebar pada 12 kabupaten/kota di Provinsi Sulawesi Tenggara.
       Masih stagnasi APK pada tahun 2004 dan 2005 tesebut disebabkan
       kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pendidikan masih rendah serta
       perhatian pemerintah daerah terhadap pembangunan pendidikan masih
       kurang. Tahun 2008 persentase Angka Partisipasi Kasar (APK) SD
       mengalami peningkatan sebesar 4 persen karena dukungan alokasi dana
       APBD untuk pendidikan mengalami peningkatan, melalui program dan
       kegiatan pendidikan. Tahun 2009 menunjukkan perkembangan yang



 
                                             59
                Laporan Akhir EKPD Provinsi Sultra  2010 
 


    menggembirakan Angka Partispasi Kasar (APK) SD mencapai 115 persen.
    Hal ini disebabkan selain kesadaran masyarakat untuk menyekolahkan
    anaknya tinggi, juga banyak anak usia sekolah yang seharusnya duduk di
    bangku SD (7-12 tahun), tetapi sebagian dari usia tersebut sudah ada yang
    duduk di bangku SMP. Kondisi ini berimplikasi terhadap peningkatan jumlah
    murid usia 7-12 tahun dibangku SMP. Kondisi ini pula berdampak pada
    meningkatnya angka melek huruf di daerah ini sebagaimana grafik di atas.

                                GRAFIK APS dan AMH

       130.00
       120.00
       110.00
       100.00

        90.00                                                             APS
                                                                          AMH
        80.00
        70.00
        60.00
        50.00
                2004     2005     2006     2007     2008    2009




    Sumber : Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Tenggara
    Gambar 12. Persentase APS dan AMH


           Berdasarkan data pada Gambar 12 menunjukan bahwa pada tahun
    2004, 2005, dan 2006 APS SD mengalami stagnasi pada kisaran 90 persen,.
    Kondisi ini tersebar pada 12 kabupaten/kota di Provinsi Sulawesi Tenggara.
    Masih stagnasi APS pada tahun 2004, 2005, dan 2006 tersebut disebabkan
    partisipasi masyarakat terhadap pendidikan masih kurang, terutama di daerah-
    daerah terpencil di wilayah kepulauan Sulawesi Tenggara. Tahun 2008
    persentase Angka Partisipasi Sekolah (APS) SD mengalami peningkatan
    sebesar 5 persen dari tahun 2006 karena program wajib belajar 9 tahun
    mendapatkan perhatian dan dukungan dana dari pemerintah. Program wajib
    belajar 9 tahun mulai direspon oleh masyarakat, termasuk masyarakat
    kepulauan di 4 kabupaten. Tahun 2009 menunjukkan perkembangan, Angka
    Partispasi Sekolah (APS) SD mencapai 98,30 persen. Hal ini disebabkan
    Pemerintah Daerah telah meningkatkan dana APBD sektor pendidikan melalui



 
                                     60
                   Laporan Akhir EKPD Provinsi Sultra  2010 
 


    program peningkatan Biaya Operasional Pendidikan (BOP). Melalui kebijakan
    pembebasan Biaya Operasional Pendidikan (BOP) dalam RPJMD Sulawesi
    Tenggara, maka diharapkan secara bertahap penduduk usia sekolah jenjang
    pendidikan dasar dan menengah terus meningkat tanpa dibebani dengan
    berbagai macam pungutan di sekolah.



                                       GRAFIK APM dan AMH

      130.00

      120.00
      110.00
      100.00

       90.00                                                                      APM
                                                                                  AMH
       80.00
       70.00
       60.00

       50.00
                 2004         2005      2006        2007    2008     2009




    Sumber : Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Tenggara
    Gambar 13. Persentase APS dan AMH


               Berdasarkan data pada Gambar 13 menunjukan bahwa, pada tahun
    2004, 2005, 2006 APM SD cenderung tetap pada angka 92 persen. Kondisi
    ini tersebar pada 12 kabupaten/kota di Provinsi Sulawesi Tenggara. Masih
    stagnasi APM SD pada tahun 2004, 2005, dan 2006 tersebut disebabkan
    jumlah usia SD 7-12 tahun di daerah-daerah terpencil mengalami kesulitan
    untuk mengakses pendidikan dasar, terutama di Kabupaten Wakatobi.
    Tahun 2008 persentase Angka Partisipasi Murni (APM) SD mengalami
    peningkatan karena dukungan alokasi dana APBD untuk pendidikan
    mengalami peningkatan. Mulai RPJMD bidang pendidikan, tahun 2008
    ditetapkan sebagai awal pelaksanaan pendidikan gratis di daerah ini sesuai
    dengan visi dan misi Gubernur Kepala Daerah Sulawesi Tenggra terpilih
    Nur    Alam,        SE.    Tahun    2009        menunjukkan    perkembangan   yang
    menggembirakan Angka Partispasi Murni (APM) SD mencapai 98 persen. Hal
    ini disebabkan mulai dilaksanakannya program pendidikan gratis melalui
    pembebasan Biaya Operasional Pendidikan (BOP) di 12 kabupaten/kota di


 
                                               61
                 Laporan Akhir EKPD Provinsi Sultra  2010 
 


    Provinsi Sulawesi Tenggara. Ada 9 komponen Biaya Operasional Pendidikan
    yang   dibebaskan     dari   tanggung   jawab    orang   tua   murid   meliputi:
    (1) pendaftaran siswa baru, (2) pengadaan buku teks, bahan ajar, dan lembar
    kerja siswa, (3) pemberian insentif guru, (4) pengembangan profesi guru,
    (5) pembiayaan perpustakaan dan administrasi sekolah, (6) pembiayaan
    kegiatan ekstra kurikuler, (7) pengadaan alat peraga dan bahan praktikum
    laboratorium, (8) pembiayaan ujian sekolah dan ulangan, dan (9) perawatan,
    langganan daya, dan jasa. Selain itu, mulai tahun 2009 Pemerintah Daerah
    mencanangkan wajib belajar pendidikan 12 tahun.


    b. Kesehatan
           Analisis pencapaian indikator kesehatan dalam agenda meningkatkan
    kesejahteraan rakyat pada evaluasi kenerja pembangunan tahun 2010 ini di
    fakuskan pada 3 (tiga) indikator yaitu indikator angka kematian bayi (ABK),
    Persentase    penduduk ber-KB (contraceptive prevalence rate), dan Laju
    pertumbuhan penduduk Angka kematian bayi digambarkan sebagai salah
    satu indikator pembangunan khususnya pembangunan bidang kesehatan,
    sehinggga jika di suatu daerah terdapat kematian bayi tinggi maka daerah
    tersebut dapat dikategorikan sebagai daerah rawan. Sulawesi Tenggara
    merupakan daerah yang telah memberikan perhatian yang sangat besar
    terhadap kasus ini. lebih jelas dapat dilihat pada Gambar 16 berikut ini :




    Gambar 14     Trend Angka Kematian Bayi di Provinsi Sulawesi Tenggara




 
                                       62
                 Laporan Akhir EKPD Provinsi Sultra  2010 
 




           Berdasarkan data tersebut, jumlah kematian bayi di Provinsi Sulawesi
    Tenggara tahun 2004-2009 berfluktuasi. Tahun 2004 terdapat Angka
    Kematian Bayi (AKB) sebesar 34 persen per seribu kelahiran hidup. Tahun
    2005 sebesar 38 persen per seribu kelahiran hidup, tahun 2006 sebesar 31
    persen per seribu kelahiran hidup, tahun 2007 sebesar 41 persen per seribu
    kelahiran hidup. Ini disebabkan karena masyarakat di Provinsi Sulawesi
    Tenggara masih sangat percaya dengan keberadaan dukun beranak dalam
    melakukan    pertolongan    persalinan,   sehingga   banyak   ibu melahirkan
    mengalami berbagai macam persoalan persalinan. Kegagalan ini diawali dari
    program nasional Health Mother Health Baby (HMBH) yang melatih dukun
    beranak untuk melakukan pertolongan persalinan, dalam program ini dukun
    beranak diberikan alat kesehatan untuk melakukan pertolongan persalinan,
    sehingga tugas dari bidan desa diambil alih oleh dukun beranak.
    Kecenderungan kematian bayi yang berfluktuasi tidak berarti AKB di Provinsi
    Sulawesi Tenggara mengalami peningkatan, hal ini dikarenakan jumlah
    kematian bayi yang dapat dipantau tenaga kesehatan. Disamping itu, jumlah
    kematian yang dilaporkan sangat dipengaruhi oleh kelengkapan laporan dan
    pencatatan kematian program dinas kesehatan kabupaten/kota.
           Tahun 2008 terdapat jumlah kematian bayi sebesar 29,1 persen per
    seribu kelahiran hidup. Pada tahun ini jumlah kematian bayi mengalami
    penurunan dari tahun sebelumnya, penurunan ini disebabkan karena
    program pemerintah provinsi Sulawesi Tenggara telah melakukan pelayanan
    kesehatan gratis. Ini sangat membantu bagi ibu-ibu hamil dalam mengakses
    pusat pelayanan kesehatan.
           Tahun 2009 kembali mengalami penurunan sebesar 11,6 persen per
    seribu kelahiran hidup, ini merupakan dampak positif dari program
    pemerintah   yang   terus    digalakkan   dengan     mendekatkan   pelayanan
    kesehatan kepada masyarakat. Berdasarkan indikator pelayanan kesehatan
    terutama pelayanan kesehatan yang berhubungan dengan pelayanan
    kesehatan bayi di Provinsi Sulawesi Tenggara, pada umumnya menunjukkan
    peningkatan, yaitu meluasnya jangkauan pelayanan kesehatan pada
    masyarakat khususunya upaya KIA/KB, promosi kesehatan, pencegahan dan
    pemberantasan penyakit menular, upaya perbaikan gizi keluarga, lingkungan




 
                                      63
                Laporan Akhir EKPD Provinsi Sultra  2010 
 


    sehat, dan pelayanan kesehatan ibu dan anak yang didukung dengan
    penempatan bidan di desa.


    c.   Indikator Keluarga Berencana

            Program Keluarga Berencana (KB) merupakan program nasional
    yang bertujuan untuk menekan angka kelahiran penduduk, provinsi Sulawesi
    Tenggara dalam menjalankan program ini secara tehnis bekerjasama dengan
    pihak Badan koordinasi Keluarga Berencana Nasional Provinsi Sulawesi
    Tenggara yang secara kelembagaan merupakan lembaga pemerintah pusat
    yang ditempatkan di setiap provinsi di Indonesia. Pada indikator Keluarga
    Berencana yang menjadi fakus analisis adalah Persentase penduduk ber-KB
    (contraceptive prevalence rate) dan laju pertumbuhan penduduk.
            Persentase    penduduk ber-KB (contraceptive prevalence rate)        di
    provinsi Sulawesi Tenggara dapat dilihat pada Gambar 15 berikut ini :




         Gambar 17    Trend penduduk ber-KB (contraceptive prevalence rate) di
                      Provinsi Sulawesi Tenggara

           Berdasarkan data tersebut persentase penduduk ber-KB di Provinsi
    Sulawesi Tenggara terjadi secara fluktuatif dan berada pada kisaran 60,1
    persen – 70,68 persen.     Tahun 2004 berjumlah 60,1 persen, tahun 2005
    sebesar 65,31 persen, tahun 2006 sebesar 68,02 persen. ini disebabkan
    karena kabupaten/kota yang ada diprovinsi Sulawesi Tenggara telah
    melaksanakan program KB yang bekerjasama dengan BKKBN provinsi dan
    kabupaten/kota.
           Tahun 2007 mengalami peningkatan yang sangat tinggi yakni sebesar
    70,68 persen. peningkatan ini disebabkan karena cakupan pelayanan peserta
    KB aktif yang terdapat dibeberapa kabupaten/kota khusunya penggunaan


 
                                     64
                Laporan Akhir EKPD Provinsi Sultra  2010 
 


    metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP) dan non metode kontrasepsi
    jangka panjang telah dipahami penggunaannya oleh masyarakat.
           Tahun 2008 kembali mengalami penurunan sebesar 63,83 persen.
    Penurunan ini disebabkan karena program KB kembali mengalami hambatan
    oleh   karena   tanggung   jawab     pelaksanaan   program   KB     diserahkan
    sepenuhnya kepada BKKBN kabupaten/kota yang dulunya masuk dalam
    bagian integral dari BKKBN Pusat, sehingga banyak kegiatan BKKBN
    kabupaten/kota yang tidak berjalan karena terhambat pada alokasi dana yang
    sangat terbatas dengan wilayah kerja yang luas maka program KB
    mengalami penurunan.
           Tahun 2009 terjadi peningkatan sebesar 69,69 persen dari tahun
    sebelumnya. Peningkatan ini disebabkan karena program nasional tentang
    KB kembali digalakkan oleh pemerintah provinsi Sulawesi Tenggara. Di
    provinsi   Sulawesi   Tenggara     kebijakan   program   keluarga   berencana
    diarahkan pada upaya pemberdayaan pemerintah daerah kabupaten/kota
    dalam pelaksanaan program tersebut berdasarkan semangat otonomi
    daerah. Namun demikian, tidak dapat dipungkiri dalam kenyataannya pasca
    otonomi daerah pelaksanaan program KB masih banyak mengalami kendala
    hampir di semua kabupaten/kota di Sulawesi Tenggara. Sumber kendala
    pada dasarnya bermuara dari lemahnya keberadaan lembaga pengelola KB
    tingkat kabupaten/kota dan berkurangnya tenaga lini lapangan. Selain itu,
    komitmen pemda kabupaten/kota masih dirasa sangat lemah dalam
    mendukung pelaksanaan program KB di daerahnya masing-masing.
           Trend penduduk ber-KB (contraceptive prevalence rate) di Provinsi
    Sulawesi Tenggara mengalami peningkatan pada tahun 2009. Peningkatan
    kesadaran penduduk dalam menggunakan KB akan memberikan konstribusi
    yang besar dalam pembangunan kesehatan. Misalnya dengan ber KB dapat
    menurunkan angka kematian bayi dan kematian ibu saat persalinan. Dari
    kasus kematian ibu dan bayi yang ada di provinsi Sulawesi Tenggara
    ditemukan penyebabnya terlalu sering melahirkan. Pencapaian pendududuk
    ber KB juga merupakan perhatian dunia melalui program millennium
    development goals (MDGs).
           Pada Laju pertumbuhan penduduk erat kaitannya dengan keluarga
    berencana, oleh karena itu salah satu cara untuk menekan laju pertumbuhan
    penduduk maka program keluarga berencana haruslah dilaksanakan secara


 
                                       65
                  Laporan Akhir EKPD Provinsi Sultra  2010 
 


      komprehensif. Lebih jelas laju pertumbuhan penduduk Di provinsi Sulawesi
      tenggara dapat dilihat pada Gambar 16 berikut ini :




    Gambar 16 Trend Laju Pertumbuhan Penduduk di Provinsi Sulawesi Tenggara
             Berdasarkan Gambar 18 laju pertumbuhan penduduk di Provinsi
      Sulawesi Tenggara tahun 2004 sebesar 0,8 persen. Hal ini memberikan
      gambaran bahwa pertambahan penduduk di Provinsi Sulawesi Tenggara
      sangat lambat, gambaran ini dapat bermakna bahwa di Provinsi Sulawesi
      Tenggara program KB telah berhasil dengan baik, ataukah adanya masalah
      yang muncul akibat tingkat mortalitas seperti : 1) Semakin bertambahnya
      Angka Harapan Hidup itu berarti perlu adanya peran pemerintah di dalam
      menyediakan fasilitas penampungan. 2) Perlunya perhatian keluarga dan
      pemerintah didalam penyediaan gizi yang memadai bagi anak-anak (Balita).
             Tahun 2005 meningkat menjadi 2,72 persen, ini disebabkan karena
      munculnya masalah lain yang lebih spesifik, yaitu angka fertilitas dan angka
      mortalitas yang relatif tinggi. Kondisi ini dianggap tidak menguntungkan dari
      sisi pembangunan ekonomi. Selanjutnya tahun 2006 kembali mengalami
      penurunan sebesar 1,99 persen dan tahun 2007 mengalami hal yang sama
      yakni terjadi penurunan sebesar 1,47 persen.      penurunan ini disebabkan
      karena terjadinya penurunan fertilitas yang terkait dengan (keberhasilan)
      pembangunan sosial dan ekonomi, yang juga sering diklaim sebagai salah
      satu bentuk keberhasilan kependudukan, khususnya di bidang keluarga
      berencana di provinsi Sulawesi Tenggara.
             Tahun 2008 mengalami peningkatan sebesar 2,14 persen dan tahun
      2009 kembali menurun dari tahun sebelumnya menjadi 2,09 persen. Dalam
      perspektif yang lebih luas, persoalan fertilitas tidak hanya berhubungan
      dengan jumlah anak sebab aspek yang terkait di dalamnya sebenarnya
      sangat kompleks dan variatif, misalnya menyangkut perilaku seksual,


 
                                        66
                  Laporan Akhir EKPD Provinsi Sultra  2010 
 


    kehamilan tak dikehendaki, aborsi, PMS, kekerasan seksual, dan lain
    sebagainya yang tercakup di dalam isu kesehatan reproduksi. Masalah lainya
    adalah jumlah penduduk yang besar dan distribusi yang tidak merata. Hal itu
    diperkuat dengan kenyataan bahwa kualitas penduduk masih rendah
    sehingga penduduk lebih diposisikan sebagai beban daripada modal
    pembangunan. Logika seperti itu secara makro digunakan sebagai landasan
    kebijakan untuk mengendalikan laju pertumbuhan penduduk secara mikro hal
    itu juga digunakan untuk memberikan justifikasi mengenai pentingnya suatu
    keluarga melakukan pengaturan pembatasan jumlah anak.
            Laju pertumbuhan penduduk yang terjadi di Provinsi Sulawesi
    Tenggara mengalami penurunan. Dalam pembangunan laju pertumbuhan
    penduduk memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap perencanaan
    pembangunan kesehatan. Laju pertumbuhan penduduk juga memiliki
    keterkaitan   dengan    penduduk      ber   KB.   Jika   kesadaran     penduduk
    menggunakan KB meningkat maka dampak positifnya laju pertumbuhan
    penduduk bisa ditekan. Dampak positif dari laju pertumbuhan penduduk yakni
    pencegahan berbagai penyakit dapat dicegah dengan menggunakan
    pendekatan pencegahan berbasis wilayah. Misalnya penyakit Demam
    Berdarah Dengue (DBD), penyakit menular ( TBC, Hepatitis, PMS)


    d.   Indikator Makro Ekonomi
             Pada Indikator Makro Ekonomi ada 3 (tiga) Indikator yang menjadi
    fokus analisis yaitu indikator laju pertumbuhan ekonomi, pendapatan per
    kapita (dalam juta rupiah) dan laju inflasi. Analisis dari tiga indikator tersebut
    masing-masing dijelaskan sebagai berikut ;
    1. Lajut pertumbuhan ekonomi. Kinerja pertumbuhan ekonomi di Sulawesi
         Tenggara sejak tahun 2004 hingga tahun 2009 sangat berfluktuatif,
         namun hal tersebut masih memiliki tingkat pertumbuhan ekonomi yang
         relatif cukup tinggi dibandingkan dengan beberapa daerah provinsi di
         Indonesia lainnya. Dengan tingkat pertumbuhan ekonomi rata-rata diatas
         7% merupakan indikator yang cukup baik bagi kinerja          pembangunan
         ekonomi di Sulawesi Tenggara. Lebih Jelasnya laju pertumbuhan
         ekonomi Sulawesi Tenggara dalam kurun waktu 2004-2009 dapat dilihat
         paga Gambar 17 berikut ;




 
                                       67
              Laporan Akhir EKPD Provinsi Sultra  2010 
 




    Sumber: BPS Sultra, 2010
    Gambar 17. Laju Pertumbuhan Ekonomi di Sulawesi Tenggara


           Tingkat   pertumbuhan    ekonomi       tersebut    yang    memberikan
    kontribusi terbesar bersumber dari sektor pertanian pada tahun 2007
    sebesar 36%. Hal tersebut dimungkinkan mengingat sektor ini didukung
    dengan kondisi alam yang kaya akan sumberdaya kehutanan, perikanan dan
    kondisi alam yang cocok untuk dikembangkannya tanaman perkebunan
    maupun areal persawahan. Sektor penyumbang terbesar lainnya adalah
    sektor perdagangan, perhotelan dan restoran pada tahun 2007 sebesar
    15%. Tinggginya kontribusi sektor perdagangan, perhotelan dan restoran di
    Sulawesi Tenggara karena meningkatnya permintaan terhadap sektor
    tersebut hal ini sebagai dampak adanya peningkatan kesejahteraan
    masyarakat yang diindikasikan dengan semakin meningkatnya tingkat
    pendapatan per kapita masyarakat di Sulawesi Tenggara.
           Adanya fluktuasi tingkat pertumbuhan ekonomi meskipun tidak
    besar fluktuasi tersebut, namun perlu untuk dicermati pada tahun 2005 hal
    ini disebabkan karena saat tersebut dipengaruhi oleh kenaikan harga minyak
    dunia yang berdampak terhadap pertumbuhan ekonomi di Sulawesi
    Tenggara. Kenaikan harga minyak dunia tersebut membawa dampak
    ekonomi yaitu terjadinya penurunan produksi karena kenaikan harga-harga.
    Kenaikan harga ini tentunya memberikan dampak terhadap permintaan
    barang dan jasa menurun dan pada akhirnya juga kembali pada penurunan
    pendapatan domestik regional bruto (PDRB). Sedang pada tahun 2008 juga
    terjadi penurunan pertumbuhan ekonomi di Sulawesi Tenggara. Penurunan
    pertumbuhan    tersebut   sebagai    dampak     adanya   krisis   global   yang


 
                                    68
                    Laporan Akhir EKPD Provinsi Sultra  2010 
 


         berdampak langsung terhadap penurunan ekspor Sulawesi Tenggara,
         terutama ekspor yang bersumber dari sektor pertambangan dan perikanan.
                 Pertumbuhan ekonomi pada tahun 2008 terjadi penurunan, namun
         tidak cukup berarti dalam mempengaruhi secara keseluruhan kinerja
         ekonomi di Sulawesi Tenggara. Pada sektor pertanian relatih stabil sebagai
         pemberi kontribusi terbesar bagi perekonomian Sulawesi Tenggara,
         sehingga pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tenggara dapat dengan cepat
         menyesuaikan ketika krisis ekonomi global mulai pulih pada tahun 2009.
    2.   Pendapatan per kapita. Pendapatan per kapita merupakan salah satu ukuran
         tingkat kesejahteraan masyarakat di suatu wilayah. Pendapatan per kapita di
         provinsi Sulawesi Tenggara sejak tahun 2004 hingga tahun 2009,
         menunjukkan perkembangan yang cukup baik, hal tersebut ditandai dengan
         meningkatnya kesejahteraan masyarakat dari tahun ke tahun. Geliat
         ekonomi yang terjadi di provinsi Sulawesi Tenggara telah menunjukkan hasil
         yang cukup signifikan dengan tingkat pertumbuhan ekonomi rata-rata diatas
         7% sejak tahun 2004 hingga tahun 2009, telah membawa konsekwesi
         pendapatan perkapita yang meningkat dan ditandai denga menurunnya
         tingkat penduduk miskin di Sulawesi Tenggara dalam beberapa tahun
         terakhir. Data penurunan kemiskinan pada tahun 2006 sebanyak 466.700
         menjadi 435.900 pada tahun 2009. Disamping hal tersebut juga ditandai
         dengan menurunya tingkat pengangguran di Sulawesi Tenggara pada tahun
         2006 masih sebesar 9,67% menjadi 4,74% pada tahun 2009. Lebih jelasnya
         pendapatan per kapita di Sulawesi Tenggara dapat dilihat pada Gambar 19 ;




         Sumber: BPS Sultra, 2010
          Gambar 18. Laju Pertumbuhan Ekonomi di Sulawesi Tenggara



 
                                         69
                 Laporan Akhir EKPD Provinsi Sultra  2010 
 




           Berdasarkan Grafik pada Gambar 18 menunjukan bahwa sejak tahun
    2008 pendapatan perkapita di Sulawesi Tenggara sudah berada di atas
    10.000.000 per jiwa per tahun. Implikasi peningkatan pendapatan per kapita
    tersebut akan memberikan dampak positif terhadap iklim investasi karena
    kemampuan atau daya beli masyarakat akan lebih baik, jika didukung dengan
    tingkat inflasi yang stabil.
           Tingkat pendapatan per kapita di Sulawesi Tenggara yang terus
    meningkat akan memberikan dampak yang lebih baik pada tingkat
    kesejahteraan yang riil dimasyarakat. Makna yang diberikan dengan adanya
    kenaikan pendapatan per kapita tersebut bahwa tingkat kesejahteraan
    penduduk secara rata-rata lebih baik dari tahun sebelumnya, karena adanya
    kenaikan produk domestik regional bruto (PDRB) yang tinggi. Jika
    pendapatan per kapita penduduk terus mengalami peningkatan, maka akan
    memberikan dampak positif bagi perkembangan ekonomi di Sulawesi
    Tenggara, sebab pada akhirnya sektor-sektor ekonomi akan bergerak karena
    peningkatan daya beli (purchasing power) penduduk. Peningkatan daya beli
    ini akan mendorong para pengusaha untuk meningkatkan investasinya
    karena adanya jaminan permintaan masyarakat yang tercermin dengan
    semakin meningkatnya pendapatan masyarakat di Sulawesi Tenggara.


    3. Laju Inflasi
          Tingkat Inflasi di Sulawesi Tenggara relatif berpluktusi seperti yang
    ditunjukan pada gambar 19 berikut ;




       Sumber: BPS Sultra, 2010.
       Gambar 19. Laju Inflasi di Sulawesi Tenggara


 
                                     70
                 Laporan Akhir EKPD Provinsi Sultra  2010 
 


             Pada tahun 2005 tingkat inflasi sebesar 21,45% dan tingkat inflasi ini
    berada di atas rata-rata Nasional sebesar 17,11%. Tingginya angka inflasi
    tersebut tidak terlepas dari dampak adanya peningkatan harga minyak di
    pasar    internasional.   Peningkatan     harga   minyak   tersebut   mendorong
    peningkatan harga-harga karena secara umum karena harga minyak di
    dalam negeri juga meningkat sebagai dampak peningkatan harga minyak
    dunia. Demikian halnya pada tahun 2008 inflasi di provinsi Sulawesi
    Tenggara juga mengalami peningkatan, meskipun sejak tahun 2005 telah
    mengalami penurunan hingga 2007, namun karena adanya pengaruh krisis
    global telah memberikan dampak terhadap laju inflasi di Sulawesi Tenggara.
    Kemudian pada tahun 2009 dimana laju inlasi di Sulawesi Tenggara telah
    menurun hingga mencapai 4,6%. Penurunan inflasi dipicu dengan adanya
    perbaikan kondisi perekonomian global yang mulai membaik. Penurunan laju
    Inflasi tersebut akan sangat membantu meningkatkan daya beli masyarakat
    dan pada khirnya akan dapat mendorong iklim Investasi karena daya beli
    masyarakat yang baik.


    e. Indikator Investasi
            Pada Indikator Investasi yang menjadi fokus analisis adalah indicator
    Realisasi Penanaman Modal Asing (PMA) dan Realisasi Penanaman Modal
    Dalam Negeri (PMDN). Penjelasan masing-masing indikator yang menjadi
    fokus analisis adalah sebagai berikut ;
     1. Realisasi Penanaman Modal Asing (PMA). Jika dilihat dari aspek
         investasi asing yang masuk di Sulawesi Tenggara, dari total rencana
         investasi sebesar 1060113137 US$, ternyata realisasi investasi pada
         tahun 2008 dan 2009 masing-masing hanya 3,8 juta US$ dan 0,40 juta
         US$. Investasi tersebut dilakukan di beberapa kabupaten dan kota yaitu
         kabupaten Muna, Konawe Selatan, Kota Kendari, dan Kota Bau-Bau.
         Meskipun terdapat beberapa rencana investasi yang potensil untuk
         dilakukan di Kabupaten Kolaka, namun data menunjukkan bahwa
         investasi tersebut belum terealisasi pada tahun 2008 dan 2009 dengan
         total rencana investasi 10,8 juta US$.
              Investasi yang dilakukan umumnya berada pada kabupaten induk
         sebelum pemekaran. Dan di wilayah pemekaran kabupaten dan kota
         umumnya investasi asing belum ada realisasi hingga tahun 2009,


 
                                       71
               Laporan Akhir EKPD Provinsi Sultra  2010 
 


        meskipun dari data rencana investasi di wilayah daerah pemekaran
        sudah ada, namun sampai sejauh ini belum ada realisasi. Beberapa hal
        yang mungkin menjadi pertimbangan utama bagi investor ada
        keterbatasan infrastruktur pendukung seperti: sarana transportasi darat
        dan kesiapan pelabuhan yang belum memadai, disamping hal tersebut
        juga kebutuhan listrik masih sangat terbatas khususnya di daerah
        pemekaran.




          Sumber: BPMD Sultra, 2010
          Gambar 20. Nilai Realisasi Investasi PMA di Sulawesi Tenggara

           Berdasarkan gambar 20 terilihat bahwa tahun 2008 peningkatan
       realisasi investasi asing mengalami peningkatan yang berarti hal tersebut
       tidak terlepas dari besarnya kontribusi investasi asing budidaya mutiara
       dan industri pembekuan ikan laut dengan masing masing realisasi
       sebesar 11,4 juta US$ dan 1,6 juta US$. Pada tahun 2009 realisasi
       investasi asing mengalami penurunan dimana investasi asing tersebut
       hanya dilakukan pada investasi budidaya mutiara di kabuapten Konawe
       Selatan dan di kabupaten Muna, sedang di kota Kendari terdapat
       investasi asing khususnya dalam industri pembekuan ikan laut.
    2. Realisasi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN). Salah satu faktor
       yang memberikan dampak yang signifikatan terhadap peningkatan
       Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) di Sulawesi Tenggara yaitu
       besarnya investasi yang dilakukan oleh PT Aneka Tambang sebesar lebih
       dari 2 triliun pada tahun 2008 di Kabupaten Kolaka, Hal lain yang
       menyebabkan peningkatan investasi dalam negeri di Sulawesi Tenggara
       adalah adanya investasi yang dilakukan di Kabupaten Konawe Utara



 
                                    72
            Laporan Akhir EKPD Provinsi Sultra  2010 
 


    pada usaha perkebunan kelapa sawit yang dilakukan oleh beberapa
    pengusaha. Namun jika dilihat dari jumlah usaha yang diinvestasikan
    masih banyak terfokus di Kota Kendari. Banyaknya investasi yang
    dilakukan di Kota Kendari tidak terlepas Kota Kendari sebagai pusat
    Pemerintahan    di   Provinsi   Sulawesi   Tenggara   sehingga   fasilitas
    pendukung untuk beberapa jenis usaha yang dinvestasikan sangat
    mendukung jika dibandingkan jika usaha tersebut diinvestasikan didaerah
    lain di Sulawesi Tenggara. Investor ketika akan melakukan investasi
    disuatu daerah hal yang sangat penting manjadi pertimbangannya adalah
    dengan melihat ketersedian infrastruktur pendukung usahanya, sebab
    dengan ketersedian infrastruktur pendukung usahanya akan mengurangi
    biaya operasional perusahaan. Sehingga para pengusaha lebih tertarik
    untuk berinvestasi di kota kendari dibandingkan didaerah lain di wilayah
    Sulawesi Tenggara.
    Selain sektor pertambangan dan perkebunan, di sektor perikanan juga
    menjadi perhatian para investor di daerah ini dalam menanamkan
    modalnya, mengingat wilayah Sulawesi Tenggara sebagian besar berada
    di wilayah pesisir sehingga sangat potensil untuk dikembangkan oleh para
    investor. Beberapa investor telah menanamkan modalnya yang bergerak
    disektor pertanian di Kabupaten Muna, Kota Kendari, dan di kabupaten
    Buton. Khusus untuk investasi dalam pengolahan kayu dan investasi
    perkebunan kakao terdapat di Kabupaten Kolaka dan Kabupaten Kolaka
    Utara. Sedangkan Investasi Perkebunan tebu dan pengolahannya
    dilakukan di Kabupaten Konawe Selatan.




    Sumber : BPMD Sultra, 2010
    Gambar 21. Nilai Realisasi Investasi PMDN di Sulawesi Tenggara




 
                                    73
              Laporan Akhir EKPD Provinsi Sultra  2010 
 


          Perkembangan data Penanaman Modal Dalam Negeri di Sulawesi
    Tenggara seperti yang terlihat pada gambar 21 menunjukkan bahwa
    tahun 2008 PMDN mengalami peningkatan yang cukup tinggi hal tersebut
    disebabkan      adanya      realisasi   investasi    yang    dilakukan   pada
    pertambangan dan sektor perkebunan terutama perkebunan kelapa sawit
    di Kabupaten Konawe Utara maupun di kabupaten Kolaka. Namun pada
    tahun 2009 terjadi penurunan realisasi investasi meskipun terdapat
    rencana investasi namun belum sampai pada realisasi investasi pada
    tahun 2009. Meskipun terdapat investasi yang dilakukan pada tahun 2009
    namun hal itu tidak memberikan dampak signifikan dibandingkan dengan
    besarnya realisasi investasi yang dilakukan pada tahun 2008 yang
    mengalami peningkatan yang cukup besar.


    a.     Infrastruktur
          Pada Indikator Infrastruktur yang menjadi fokus analisis adalah
    panjang jalan nasional dalam kondisi baik, sedang dan buruk. Penjelasan
    masing-masing kondisi jalan nasional di Provinsi Sulawesi Tenggara
    adalah sebagai berikut :
    1. Jalan nasional dalam kondisi baik. Untuk menjamin distribusi barang
         dari daerah provinsi Sulawesi Tenggara ke daerah lain dan dari
         daerah lain ke provinsi Sulawesi Tenggara, maka perlu ada
         peningkatan fasilitas infrastruktur, baik pelabuhan laut , pelabuhan
         udara, jembatan dan jalan yang menghubungkan antara satu provinsi
         dengan provinsi lainnya. Terkait dengan program pemerintah untuk
         menjamin     ketersedian     infrastruktur,    maka    pihak   pemerintah
         menyadari hal tersebut sehingga salah satu program pemerintah yang
         menjadi fokus pembangunannya adalah dengan meningkatkan
         kualitas jalan nasional, sebab dengan perbaikan dan peningkatan
         jalan nasional, disamping akan meningkatkan distribusi barang, juga
         akan memberikan motivasi kepada para investor untuk melakukan
         investasi di daerah ini.




 
                                     74
             Laporan Akhir EKPD Provinsi Sultra  2010 
 




    Sumber: Dinas PU Sultra, 2010
    Gambar 22. Persentase Jalan Nasional Dalam Kondisi Baik di Sultra


         Pada Gambar 22 menunjukkan adanya peningkatan persentase jalan
    nasional yang baik pada tahun 2008 hanya sebesar 18,69% menjadi 56,12
    % pada tahun 2009. Dari data tersebut dapat dikemukakan bahwa
    peningkatan   perbaikan   jalan    tersebut   terutama   pada   jalan   yang
    menghubungkan antara provinsi Sulawesi Tenggara dengan provinsi
    Sulawesi Selatan. Perbaikan tersebut menjadi fokus pemerintah daerah
    mengingat jalur tersebut sangat berarti bagi kepentingan pembangunan
    ekonomi di Sulawesi Tenggara. Implikasi yang ditimbulkan dengan adanya
    perbaikan jalan tersebut pergerakan arus barang dari Provinsi Sulawesi
    Tenggara ke Provinsi Sulawesi Selatan dan sebaliknya cukup lancar saat
    ini. Pergerakan arus barang tersebut terutama barang atau produk hasil
    pertanian yang berasal dari provinsi Sulawesi Tenggara, sebaliknya
    barang jadi umumnya berasal dari Provinsi Sulawesi Selatan.




 
                                  75
                  Laporan Akhir EKPD Provinsi Sultra  2010 
 


     2. Jalan Nasional Dalam Kondisi Sedang. Jalan nasional           di Sulawesi
         Tenggara dalam kondisi sedang dapat dilihat pada gambar berikut :




         Sumber: Dinas PU Sultra, 2010
         Gambar 23. Persentase Jalan Nasional Dalam Kondisi Sedang di Sultra


         Pada    Gambar 23 menunjukkan bahwa jalan Nasional dalam kondisi
         sedang terjadi penurunan pada tahun 2009 yaitu hanya sebesar 21,07%,
         dibandingkan dengan jalan nasional pada tahun 2008 masih cukup tinggi
         yaitu sebesar 47,83% untuk ukuran kondisi jalan sedang. Penurunan
         kondisi jalan sedang tentunya sejalan dengan meningkatnya persentase
         jalan   yang   baik   di   provinsi   Sulawesi   Tenggara.   Jalan   yang
         menghubungkan antara provinsi Sulawesi Tenggara dengan provinsi
         Sulawesi Selatan relatif baik, dibandingkan jalan yang menghubungkan
         antara provinsi Sulawesi Tenggara dengan provinsi Sulawesi Tengah.
         Umumnya jalan antara Sulawesi Tenggara dengan Sulawesi Tengah
         dalam kondisi yang memprihatinkan.
    3.   Jalan Nasional Dalam Kondisi Rusak. Kondisi jalan rusak nasional di
         provinsi sulawesi tenggara persentasenya lebih kecil dibandingkan dengan
         kondisi jalan yang baik dan kondisi jalan sedang, Namun jalan tersebut
         masih dapat dilalui kendaraan. Jika dilihat jalan nasional yang ada di
         sulawesi tenggara maka dapat dikemukakan bahwa terdapat dua jalur
         yang menghubungkan di dua provinsi, yaitu yang menhubungkan dengan
         provinsi sulawesi selatan dan provinsi sulawesi tengah. Jalan rusak
         umumnya terjadi di    jalur jalan nasional yang menghubungkan dengan
         sulawesi tengah.




 
                                        76
            Laporan Akhir EKPD Provinsi Sultra  2010 
 




    Sumber: Dinas PU Sultra, 2010
    Gambar 24. Persentase Jalan Nasional Dalam Kondisi Rusak di Sultra


    Pada Gambar 24 menunjukan bahwa persentase kondisi jalan rusak sejak
    tahun 2006 hingga tahun 2008 cenderung mengalami kenaikan persentase
    jalan rusak, dari data menunjukkan bahwa pada tahun 2006 persentase
    jalan rusak sebesar 24,19% menjadi 33,48%. Akan tetapi pada tahun 2009
    persentase kondisi jalan yang rusak telah mengalami penurunan yang
    cukup signifikan menjadi 22,81%. Hal tersebut sejalan dengan program
    pemerintah untuk memperbaiki infrastruktur jalan dalam rangka menarik
    para investor ke daerah provinsi Sulawesi Tenggara. Secara umum dapat
    kita bandingkan prosentase kondisi jalan nasional di Provinsi Sulawesi
    Tenggara dari Tahun 2007 dan tahun 2009 seperti yang diperlihat pada
    Gambar 25 dan Gambar 26.




     Sumber: Dinas PU, 2010
    Gambar 25. Kondisi Jalan Nasional di Sulawesi Tenggara Tahun 2007




 
                                 77
                  Laporan Akhir EKPD Provinsi Sultra  2010 
 




         Sumber: Dinas PU, 2010
     Gambar 26. Kondisi Jalan Nasional Tahun 2009 di Sulawesi Tenggara


          Pada Gambar 25, dikemukakan bahwa               persentase kondisi jalan
    nasional pada tahun 2007, menunjukkan bahwa persentase jalan nasional yang
    baik hanya 26%, kondisi jalan sedang sebesar 41%, dan persentase kondisi
    jalan yang rusak sebesar 31%. Hal yang berbeda pada tahun 2009 (lihat
    Gambar 26) dimana persentase jalan nasional yang baik sebesar           56 %,
    sementara jalan nasional kondisi sedang sebesar         21%, dan kondisi jalan
    nasional yang rusak hanya sebesar         22%. Jadi terdapat perbaikan yang
    signifikan terhadap kondisi jalan nasional di sulawesi tenggara.


    b. Indikator Pertanian
         Pada indikator pertanian yang menjadi fokus analisis adalah Nilai Tukar
    Petani (NPT).    Nilai Tukar Petani merupakan salah satu indikator untuk
    mengukur tingkat kesejahteraan petani. Berdasarkan data dari BPS Provinsi
    Sulawesi Tenggara data perkembangan NTP seperti yang diperlihatkan pada
    Gambar 27.




 
                                        78
              Laporan Akhir EKPD Provinsi Sultra  2010 
 




    Sumber: Diolah dari data BPS Provinsi Sulawesi Tenggara
    Gambar 27 Nilai Tukar Petani (NTP) Provinsi Sulawesi Tenggara.


         Nilai Tukar Petani di Provinsi Sulawesi Tenggara efektif dilakukan
    perhitungan sejak pertengahan Tahun 207. Pada Gambar 29 menunjukan
    bahwa NTP dari bulan ke bulan mengalami kenaikan yang relatif kecil. Nilai
    Tukar Petani di Provinsi Sulawesi Tenggara pada tahun 2008 adalah 99,3
    pada bulan Januari dan 102.63 dengan nilai rata-rata NTP dalam tahun
    2008 adalah 104.24. Pada Tahun 2009 berkisar dari 102.63 pada bulan
    Januari dan 109.93 pada bulan Desember dengan nilai rata-rata NTP
    dalam tahun 2009 adalah 107.37. Rata-Rata NTP di Provinsi Sulawesi
    Tenggara dari Tahun 2008 ke Tahun 2009 mengalami peningkatan sekitar
    3.00 %. Peningkatan ini disebabkan oleh kenaikan harga dan permintaan
    produk pertanian yang berakibat pada peningkatan pendapatan petani.


    c. Indikator Kehutanan
          Pada indikator kehutanan yang menjadi fokus analisis adalah
    persentase luas lahan rehabilitasi dalam hutan terhadap lahan kritis.
    Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara dalam penanganan lahan kritis
    telah menunjukan keseriusan yang berarti. Berdasarkan data yang
    diperoleh dari Dinas Kehutanan Provinsi Sulawesi Tenggara persentase
    luas lahan rehabilitasi dalam hutan terhadap lahan kritis terjadi peningkatan
    yang sangat siginifikan dari tahun 2004 sebesar 0,48 persen meningkat



 
                                    79
                   Laporan Akhir EKPD Provinsi Sultra  2010 
 


       menjadi 0,89 persen pada tahun 2008, sedangkan data tahun 2009 belum
       tersedia.   Persentase luas lahan rehabilitasi dalam hutan terhadap lahan
       kritis di provinsi Sulawesi Tenggara dapat digambarkan dalam bentuk
       grafik, seperti yang nampak pada gambar 29:




       Sumber : Dishut Provinsi Sulawesi Tenggara 2010
       Gambar 29. Persentase Luas Lahan Rehabilitasi dalam Hutan terhadap
                  Lahan Kritis

       Berdasarkan data pada gambar 29 menunjukan bahwa pada tahun 2005
       dan tahun 2007 menunjukan peningkatan         luas lahan rehabilitasi dalam
       hutan terhadap lahan kritis di Sulawesi Tenggara. Kondisi tersebut antara
       lain disebabkan     oleh semakin gencarnya pemerintah melaksanakan
       Program Nasional Gerarakan Rehabilitasi Lahan di Sulawesi Tenggara.
       Pada tahun 2008 dan sampai sekarang terjadi penurunan karena program
       Gerhan sudah berakhir atau tidak diprogramkan lagi dan lahan-lahan yang
       dulunya merupakan lokasi gerhan oleh masyarakat diolah kembali sebagai
       lahan pertanian tanaman semusim.
 

    d. Indikator Kesejahteraan Sosial
    1. Analisis Persentase Penduduk Miskin
              Pada Indikator kesejahteraan sosial adalah indikator persentase
     penduduk miskin dan indikator tingkat pengangguran terbuka. Penjelasan
     masing-masing indikator kesejahteraan sosial adalah sebagai berikut :
     1. Indikator persentase penduduk miskin berdasarkan data BPS Provinsi
         Sulwesi Tenggara, bahwa indikator output persentase penduduk miskin



 
                                      80
               Laporan Akhir EKPD Provinsi Sultra  2010 
 


       di Provinsi Sulawesi Tenggara dapat dilihat grafik, persentase penduduk
       miskin dapat digambarkan sebagai berikut:




      Gambar 30. Persentase Penduduk Miskin Provinsi Sulawesi Tenggara
                 2004-2009

             Berdasarkan gambar 30, tampak bahwa dalam kurun waktu 2004-
      2009 persentase penduduk miskin mengalami perkembangan yang
      semakin menurun setiap tahunnya, kecuali pada periode 2005-2006
      mengalami peningkatan sebesar 1.92 %, di mana pada tahun 2005
      persentase penduduk miskin sebesar 21.45% dan pada tahun 2006
      meningkat menjadi 23.37%.


    2. Indikator tingkat pengangguran terbuka. Tingkat pengangguran terbuka
      yang dimaksud adalah seluruh angkatan kerja yang mencari pekerjaan,
      baik yang mencari pekerjaan pertama kali maupun yang pernah bekerja
      sebelumnya. Berdasarkan data Biro Pusat Statistik (BPS) Provinsi
      Sulawesi Tenggara tahun 2010, tingkat pengangguran terbuka di Provinsi
      Sulawesi Tenggara, kurun waktu 2004–2009 terlihat pada grafik, tingkat
      pengangguran terbuka di Provinsi Sulawesi Tenggara tahun 2004-2009
      dapat digambarkan sebagai berikut:




 
                                   81
               Laporan Akhir EKPD Provinsi Sultra  2010 
 




    Gambar 31. Tingkat pengangguran terbuka Provinsi Sulawesi Tenggara
                2004-2009


          Berdasarkan gambar 31, tampak bahwa dalam kurun waktu 2004-
    2009 tingkat pengangguran terbuka mengalami perkembangan yang semakin
    menurun setiap tahunnya, kecuali pada periode 2005-2006 mengalami
    peningkatan sebesar 0.75 %, di mana pada tahun 2005 persentase penduduk
    miskin sebesar 8.92% dan pada tahun 2006 meningkat menjadi 9.67%.
          Oleh karena alokasi anggaran untuk penanggulangan kemiskinan
    tidak tersedia datanya, maka indikator pendukung yang digunakan adalah
    daya serap tenaga kerja pada perusahaan skala sedang/besar. Berdasarkan
    data Biro Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Tenggara tahun 2010,
    jumlah tenaga kerja yang bekerja pada perusahaan (sedang dan besar) di
    Provinsi Sulawesi Tenggara kurun waktu 2004 – 2009 terlihat pada grafik
    daya serap tenaga kerja menurut perusahaan besar/sedang di Provinsi
    Sulawesi Tenggara tahun 2004-2009 dapat digambarkan sebagai berikut:




 
                                   82
               Laporan Akhir EKPD Provinsi Sultra  2010 
 




      Gambar 32. Daya serap tenaga kerja menurut perusahaan di Provinsi
                Sulwesi Tenggara 2004-2009

          Berdasarkan data tingkat penduduk miskin, tingkat pengangguran
    terbuka dan jumlah tenaga kerja menurut perusahaan besar/sedang, dapat
    ditentukan persentase penduduk miskin, tingkat pengangguran terbuka dan
    daya serap tenaga kerja menurut perusahaan besar/sedang yang disajikan
    pada Gambar berikut :




    Gambar 34. Analisis dengan indikator pendukung


            Gambar 34 tampak bahwa persentase penduduk miskin dan tingkat
    pengangguran terbuka dalam periode 2004-2009 secara keseluruhan
    mengalami perkembangan yang semakin menurun, kecuali dalam periode
    2005-2006 mengalami peningkatan yaitu, untuk penduduk miskin sebesar
    1.92% dan untuk tingkat pengangguran terbuka sebesar 1.75%. Hal ini
    mengindikasikan bahwa pelaksanaan pembangunan di Provinsi Sulawesi
    Tenggara dalam kurun waktu 2005-2006 berjalan tidak efektif. Kondisi


 
                                   83
                Laporan Akhir EKPD Provinsi Sultra  2010 
 


    tersebut dibarengi dengan menurunnya daya serap tenaga kerja menurut
    perusahaan skala sedang/besar yang dalam periode yang sama mengalami
    penurunan sebesar 0.25%. Hal ini terjadi sebagai akibat terjadi peningkatan
    harga BBM pada tahun 2005. Dengan peningkatan harga BBM tersebut telah
    menyebabkan harga bahan baku yang digunakan perusahaan meningkat
    pula yang pada gilirannya berakibat pada pemutusan hubungan kerja (PHK)
    atau berhentinya perusahaan menjalankan aktivitasnya. Akibat selanjutnya
    adalah meningkatnya tingkat pengangguran terbuka dan jumlah penduduk
    miskin di Sulawesi Tenggara. Dan guna memenuhi kebutuhan hari-hari dari
    para penganggur tersebut maka satu-satunya jalan adalah dengan memasuki
    sektor informal.
           Tahun 2008 persentase penduduk miskin mengalami penurunan
    dibanding tahun sebelumnya yakni dari 21,33% pada tahun 2007 menjadi
    19,53% pada tahun 2008. Kecuali itu, pada kurun waktu yang sama angka
    pengangguran terbuka menurun pula sebesar 0,35 % atau dari 6,40% pada
    tahun 2007 menjadi 6,05% pada tahun 2008. Penurunan persentase
    penduduk miskin dan tingkat pengangguran terbuka ini dibarengi pula dengan
    meningkatnya daya serap tenaga kerja pada perusahaan besar/sedang
    sebesar 0,02% pada kurun waktu yang sama. Kondisi ini menunjukkan
    bahwa pembangunan yang berlangsung di Sulawesi Tenggara telah mulai
    efektif kembali. Artinya, dengan pergantian kepemimpinan pada tahun 2008
    telah membawa daya tarik tersendiri bagi para investor untuk menanamkan
    modalnya di daerah ini.
           Selanjutnya, pada tahun 2009 angka penduduk miskin dan tingkat
    pengangguran terbuka semakin menurun, yakni masing-masing 18,93% dan
    5,38%. Hal ini merupakan salah satu keberhasilan pemerintah Sulawesi
    Tenggara melalui penyelenggaraan program penanggulangan kemiskinan
    yang dikenal dengan nama Bangun Kesejahteraan Masyarakat (Bahteramas).
    Selain itu, ditunjang pula oleh semakin kondusifnya iklim berusaha di daerah
    ini. Ini ditunjukkan dengan meningkatnya daya serap tenaga kerja pada
    perusahaan besar/sedang sebesar 0,07%.




 
                                     84
                       Laporan Akhir EKPD Provinsi Sultra  2010 
 


3. Rekomendasi Kebijakan
    3.1. Indikator Pendidikan
         Berdasarkan data capaian indikator pendidikan di daerah ini, maka ada
    beberapa indikator capaian yang perlu ditingkatkan, yakni berkaitan dengan
    Angka Partisipasi Murni (APM) tingkat SD. Oleh karena itu, ada beberapa saran
    sebagai berikut.
    1. Pemerintah       Daerah     Sulawesi      Tenggara      perlu   terus     meningkatkan
        pemerataan dan perluasan akses pendidikan dasar dan menengah pada 12
        kabupaten/kota, khususnya diprioritaskan pada Kabupaten Buton Utara,
        Wakatobi, Konawe Selatan, dan Bombana serta Konawe Utara.
    2. Pemerintah Daerah perlu memiliki komitmen yang tinggi untuk menurunkan
        angka buta aksara dan meningkatkan program wajib belajar (wajar) 9 tahun
        dan program peningkatan keaksaraan fungsional. Apabila program-program
        tersebut berjalan dengan baik, maka Angka Partisipasi Murni (APM) SD akan
        meningkat.
    3. Pemerintah       Daerah    perlu      konsisten   untuk   menetapkan       pembiayaan
        pendidikan melalui APBD Sultra sebesar 20 persen sebagaimana amanat
        Pasal 31 UUD 1945. Selain itu, bagi Pemerintah Pusat perlu meningkatkan
        alokasi dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS), dana dekonsentrasi, dan
        Dana      Alokasi     Khusus   (DAK)        melalui   APBN.    Pemerintah     Daerah
        Kabupaten/Kota yang tersebar pada 12 kabupaten/kota perlu menetapkan
        secara konsisten untuk merealisasikannya 20 persen dari APBD untuk
        pembangunan pendidikan.
    4. Pemerintah Daerah Provinsi Sulawesi Tenggara dan Pemerintah Daerah
        Kabupaten/Kota yang tersebar di Provinsi Sulawesi Tenggara perlu
        menghentikan perpindahan tugas jabatan dari tenaga fungsional guru
        menjadi     pejabat    struktural.    Pemerintah      Pusat    melalui    Kementerian
        Pendayagunaan Aparatur Negara dan Kementerian Pendidikan Nasional
        perlu menetapkan regulasi kepegawaian bagi tenaga pendidik (guru).


    3.2. Indikator Kesehatan dan Keluarga Berencana
        Berdasarkan data angka kematian bayi, penduduk ber-KB (contraceptive
    prevalence rate) dan laju pertumbuhan penduduk di daerah ini, maka ada
    beberapa indikator capaian yang perlu ditingkatkan, yakni sebagai berikut :



 
                                               85
                   Laporan Akhir EKPD Provinsi Sultra  2010 
 


    1. Pemerintah daerah perlu meningkatkan pelatihan kemitraan dukun beranak
       dengan bidan desa. Dan meningkatkan jumlah tenaga bidan yang disebar di
       desa-desa, terutama di daerah terpencil dan pulau-pulau kecil, meningkatkan
       pembangunan prasarana kesehatan, terutama Polides yang tersebar di desa-
       desa se Sulawesi Tenggara dan pemberian insentif bagi tenaga kesehatan,
       terutama bagi dokter spesialis dan tenaga bidan yang bertugas di daerah-
       daerah terpencil.
    2. Pemerintah daerah perlu meningkatkan peran BKKBN kabupaten/kota dalam
       melakukan pelayanan penduduk ber-KB. Dan memberikan dukungan dana
       APBD untuk pelaksanaan program KB pada setiap kabupaten/kota, Serta
       meningkatkan        jumlah tenaga Petugas Lapangan Keluarga Berencana
       (PLKB) dan memperkuat kader-kader KB di desa-desa melalui pelatihan-
       pelatihan, dan pendidikan yang memadai sehingga pengetahuan dan
       wawasan kader-kader KB di desa-desa semakin luas dan memadai.


    3.3. Indikator Makro Ekonomi
    Berdasarkan data-data yang diperoleh dari berbagai sumber tentang indikator
    makro ekonomi selajutnya dianalisis maka pemerintah perlu;
    1. Untuk menjamin tingkat pertumbuhan ekonomi di provinsi Sulawesi
       Tenggara, maka pemerintah sebaiknya fokus pada pengembangan ekonomi
       yang berbasis kerakyatan, mengingat potensi ekonomi disektor pertanian dan
       perikanan cukup besar dan merupakan pemberi kontribusi terbesar terhadap
       PDRB Sulawesi Tenggara. Dengan meningkatkan produktivitas produksi
       disektor pertanian, perkebunan dan perikanan dan dikembangkannya industri
       pengolahan untuk menambah nilai tambah hasil produksi pertanian,
       perikanan dan perkebunan. Hal tersebut akan dapat menyerap tenaga kerja
       yang lebih banyak dan pendapatan masyarakat akan lebih baik sehingga
       kemiskinan bisa berkurang.
    2. Sektor pertambangan perlu dikembangkan guna meningkatkan pendapatan
       asli daerah dan juga guna membuka kesempatan kerja bagi masyarakat di
       daerah ini. Di provinsi sulawesi tenggara memiliki potensi sumber daya
       pertambangan yang cukup untuk pengolahan tambang nikel, emas, dan aspal
       buton. Namun pengembangan tersebut perlu untuk memperhatikan aspek
       penataan ruang sehingga pengembangan pertambangan tersebut tidak




 
                                        86
                   Laporan Akhir EKPD Provinsi Sultra  2010 
 


       menimbulkan dampak lingkungan atau dampak lain dalam wilayah Sulawesi
       Tenggara.
    3. Guna mendorong para investor masuk menanamkan investasinya di provinsi
       Sulawesi Tenggara, maka hal yang urgen saat ini adalah meningkatkan
       fasilitas infrastruktur seperti jalan yang baik, penyedian pelabuhan kontainer,
       jembatan, listrik yang memadai bagi kebutuhan pendirian pabrik. Disamping
       itu dari aspek perizinan perlu dipermudah sehingga para investor terdorong
       untuk melanjutkan investasinya di daerah ini. Khusus untuk ketersediaan
       jalan pemerintah tidak hanya memperhatikan jalan nasional akan tetapi
       memberi     keseimbangan     perbaikan    pada    jalan   provinsi    sehingga
       keseimbangan pembangunan dapat terpelihara.
    4. Kepastian hukum terhadap izin yang telah dikeluarkan perlu mendapat
       perhatian pemerintah, sehingga ada jaminan hukum bagi investor jika masuk
       ke daerah ini. Jika pemerintah telah menyetujui perizinan investasi yang
       tentunya mempertimbangkan aspek pengelolaan lingkungan untuk menjamin
       jika ada pihak yang berkeinginan menggagalkan setiap kegiatan investor.


3.4. Indikator Pertanian, Kehutanan dan Kelautan.

      Pemerintah dalam meningkatkan peran sektor pertanian, kehutanan dan
      kelautan pada Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan menjaga kelestarian
      lingkungan, maka pemerintah perlu:
      1. Meningkatan pengawasan atau proteksi terhadap produk-produk pertanian
         yang masuk ke wilayah atau keluar wilayah Sulawesi Tenggara secara
         ilegal.
      2. Meningkatkan     kesadaran    masyarakat    akan   akibat   dari   kerusakan
         lingkungan dan mengefektifkan Undang-Undang Agraria tentang lahan
         yang tidak dikelola.
      3. Meningkatkan pengawasan dan penegakan hukum terhadap tindak pidana
         disektor pertanian, kehutanan dan kelautan yang humanis dan secara
         berkelanjutan.
      4. Tetap memprogram gerakan rehabilitasi lahan kritis dengan manajemen
         yang lebih baik dari sebelumnya, serta menindak masyarakat pelaksana
         Gerhan yang melanggar aturan, terutama pelaksana proyek.




 
                                         87
                 Laporan Akhir EKPD Provinsi Sultra  2010 
 




    3.5. Indikator Kesejahteraan Sosial
         Kesejahtraan masyarakat merupakan cita-cita mulia bangsa yang perlu
    didukung oleh semua stakeholders pembangunan. Salah satu indikator tingkat
    kesejahteraan     adalah    jumlah   masyarakat      yang      hidup      dibawah    garis
    kemiskinan, dan oleh karena itu pemerintah dalam rangka meningkatkan
    kesejahteraan sosial maka perlu ;
    1.    Penanggulangan        kemiskinan        yang   lebih     serius     dan    menjadi
         tanggungjawab semua pihak. Semua pihak harus bahu membahu untuk
         mengatasi masalah kemiskinan. Pemerintah, swasta, dan kelompok
         masyarakat       lainnya   harus        membangun       sinergitas    dan      secara
         terkoordinasi.
    2. Upaya penyediaan data yang lengkap mengenai keluarga miskin sampai
         tingkat desa/kelurahan. Berapa anaknya, berapa yang sekolah, berapa
         penghasilannya, kondisi kesehatannya, dan pendidikannya. Di samping
         itu perlu pemisahan data antara keluarga hampir miskin, miskin, dan
         sangat miskin. Ini dimaksudkan agar dalam pemberian bantuan benar-
         benar tepat sasaran dan sesuai dengan porsinya masing-masing.
    3. Meningkatkan kesempatan kerja formal yang sifatnya sangat terbatas
         menjadikan sektor informal sebagai satu-satunya pilihan bagi mereka
         yang belum terserap pada lapangan kerja di sektor formal. Ini berarti
         sektor informal merupakan tempat tertampungnya banyak tenaga kerja.
         Maka dari itu, di samping pemerintah daerah tetap mengusahakan agar
         selalu tersedia lapangan kerja secara memadai, juga harus melihat
         bahwa sektor informal perlu dibenahi melalui intervensi kebijakan yang
         mampu memberikan kelestarian dan pengembangan usaha mereka.




 
                                            88
                   Laporan Akhir EKPD Provinsi Sultra  2010 
 




                                                                      BAB III
                                            RELEVASI RPJMN 2020-2014 DENGAN
                                          RPJMD PROVINSI SULAWESI TENGGARA

    1. Pengantar
           Keberhasilan pembangunan di segala bidang secara nasional dapat
    tercapai jika semua pemangku kepentingan (stake-holder) merasa bertanggung
    jawab dan memiliki (sense of belonging). Begitu pula berkaitan dengan program-
    program pembangunan di bidang pendidikan secara nasional dapat diwujudkan
    jika semua pemangku kepentingan (stake-holder), baik di tingkat pusat maupun
    di daerah bertekad dan bertanggung jawab untuk melaksanakan program
    tersebut. Prioritas dan program aksi pembangunan nasional pada tiga agenda
    nasional yaitu Indonesia Aman dan Damai, Indonesia Adil dan demokrasi dan
    Meningkatkan Kesejahteraan Rakyat dapat tercapai sasarannya jika didukung
    oleh program aksi pembangunan di tingkat daerah, baik provinsi maupun
    kabupaten/kota. Program-program aksi pembangunan di tingkat provinsi
    Sulawesi Tenggara dan kabupaten/kota se Provinsi Sulawesi Tenggara perlu
    menyesuaikan dan mendukung prioritas dan program aksi pembangunan
    nasional yang ditetapkan oleh pemerintah pusat. Dengan demikian, program aksi
    pembangunan di Provinsi Sulawesi Tenggara akan relevan dengan prioritas dan
    program aksi pembangunan nasional yang ditetapkan oleh pemerintah pusat.
    Dengan   demikian    akan   terjadi    sinergisitas   antara   program   dan   aksi
    pembangunan nasional antara pemerintah pusat dan daerah.


2. Tabel Relevasi RPJM Nasioanl dan RPJMD Sulawesi tenggara
           Berdasarkan hasil identifikasi dan analisis relevasi/keterkaitan prioritas
    pembangunan dan program aksi antara RPJMN 2010-2014 dengan RPJMD
    Sulawesi Tenggara, maka dapat dibuat Tabel berikut :




 
                                           89
                        Laporan Akhir EKPD Provinsi Sultra  2010 
 




    Tabel 19. Evaluasi Relevansi RPJMN 2010-2014 dengan RPJMD Provinsi Sulawesi
           Tenggara 2008-2013 dari Aspek Prioritas Pembangunan dan Program Aksi
             RPJMN 2010 – 2014                   RPJMD 2008 – 2013
                                                                              Anali
    No Prioritas    Program Aksi     Prioritas              Program Aksi
                                                                               sis     Penjelasan Terhadap
         Pem-                         Pem-
                                                                              Kuali      Analisis Kualitatif
        bangun                      bangunan
                                                                              tatif
          an
    (1)   (2)             (3)           (4)                      (5)            (6)              (7)
     1   Prioritas 1 : Reformasi Birokrasi dan Tata Kelola
                 Otonomi Daerah: Revitali-        Otonomi daerah,
                 Penataan Otoda sasi              keuangan daerah dan
                 melalui:           Pemerin- reformasi birokrasi:
                                    tahan
                                    Daerah
                  Penghentian/Pem              Penataan daerah otonom       Tidak ‐ Pemerintahan Sultra
                   -batasan                       baru                        Ada      mendukung rencana
                   pemekaran                    Program Penyelenggaraan               pemekaran provinsi
                   wilayah                        Otonomi Daerah                       provinsi Buton Raya
                  Peningkatan                  Program Peningkatan dan       Ada Kinerja pengelolaan
                   efisiensi dan                 pengembangan pengelolaan           keuangan daerah
                   efektivitas                   keuangan daerah                    disclaimer menurut hasil
                   penggunaan                   Program pembinaan dan              pemeriksaan BPK RI,
                   dana                          fasilitasi pengelolaan             terjadi inefisiensi, salah
                   perimbangan                   keuangan kabupaten & kota          sasaran, penyimpangan
                   daerah                       Program peningkatan                alokasi & irasional.
                                                 koordinasi penyusunan              Peningkatan pengelo-
                                                 APBD, Dana Dekon dan juga          laan keuangan melalui
                                                 pembantuan di pusat                koordinasi dan
                                                Peningkatan pengembangan           konsultasi di pusat,
                                                  sistem pelaporan capaian          perbaikan manajemen,
                                                  kinerja dan keuangan              transparansi dan
                                                Peningkatan kapasitas              akuntabilitas merupakan
                                                  sumber daya aparatur              upaya mewujudkan
                                                Peningkatan akuntabilitas          perbaikan kinerja
                                                  dalam proses pemerintahan         pengelolaan keuangan
                                                  dan pembangunan                   daerah.
                 Penyempurnaa                ‐ Program pembinaan          Ada  Pembinaan pilkada,
                  n pelaksanaan                  Pilkada                         pendidikan politik
                  pemilihan                   ‐ Program pendidikan politik       masyarakat,
                  kepada daerah                  masyarakat                      perbaikan proses
                                              ‐ Program perbaikan proses         politik dan
                                                 politik                         penguatan
                                              ‐ Penyempurnaan dan                kelembagaan
                                                 penguatan kelembagaan           demokrasi juga
                                                 demokrasi                       mengarah pada
                                                                                 penyempurnaan
                                                                                 pelaksanaan pilkada
                Regulasi:
                 Percepatan                   Program peningkatan            Ada Peningkatan kualitas
                  harmonisasi                   jaringan system hukum              dan kuantitas produk
                  dan                           daerah                             mengarah pada
                  sinkronisasi                 Program peningkatan                perbaikan isi Perda
                  peraturan per-                kualitas dan kuantitas             atau aturan agar
                  UU-an di tingkat              produk hukum daerah                singkron dengan
                  pusat dan                    Program peningkatan                Per- UU- an yang
                  peraturan                     bantuan hukum dalam                ada dan mampu
                  daerah                        penyelesaian sengketa              mewujudkan
                  selamabat-                    baik di dalam maupun di            Perda/raturan



 
                                                 90
                      Laporan Akhir EKPD Provinsi Sultra  2010 
 


                 lambatnya th              luar negeri                       pelaksanaan
                 2011                                                        otonomi daerah
    (1)   (2)          (3)         (4)                   (5)           (6)            (7)
                Penegakkan                 Hukum Daerah
                hukum
                 Peningkatan              Peningkatan kapasitas    Tida Peningkatan profe-
                  integrasi dan             dan kualitas SDM biro    k    sionalisme aparat,
                  integritas                hukum Setda provinsi     Ada disiplin, koordinasi,
                  penerapan                Program peningkatan           akuntabilitas dan
                  dan                       penyelenggaraan               transparansi merupa-
                  penegakan                 akuntabilitas kinerja         kan program pening-
                  hukum oleh               Peningkatan                   katan integritas untuk
                  seluruh                   penyelenggaraan               tindakan prefentif
                  lembaga dan               koordinasi penyidikan         agar tidak tidak terjadi
                  aparat hukum              pegawai negeri sipil          penyimpangan hukum
                                            (PPNS)
                                           Sistem informasi yang         Penegakan hukum
                                            transparan dan akuntabel      oleh lembaga dan
                                           Program peningkatan           aparat hukum seperti
                                            disiplin aparatur             jaksa, hakim dan
                                           Peningkatan                   kepolisian diluar
                                            profesionalisme tenaga        kewenangan
                                            pemeriksa dan aparatur        pemerintah daerah
                                            pengawasan
               Data Kependudukan
               Penetapan                  Program pengembangan      Ada  Penataan data
                 Nomor Induk                kemitraan bidang                kependudukan
                 Kependudukan               kependudukan                    bimbingan tekni
                 dan Pengem-               Program bimtek                  kependudukan dan
                 bangan Sistem              kependudukan                    pengembangan
                 Informasi dan             Program penataan data           kemitraan akan
                 Administrasi Ke-           kependudukan                    menunjang
                 pendudukan dgn                                             pelaksanaan
                 aplikasi pertama                                           pengembangan
                 pd kartu Tanda                                             SIAK dan
                 Penduduk                                                   penetapan NIK
                 Selam- bat-                                                yang menjadi
                 lambatnya pada                                             program nasional.
                 2011.
    2     PRIORITAS 2. PENDIDIKAN                                       
               Peningkatan       Pendi    Peningkatan Angka       Ada Secara spesifik
                Angka Partisipasi dikan     Partisipasi Murni (APM)      menunjukkan
                Murni (APM)                 Pendidikan Dasar, APK,       bahwa di dalam
                Pendidikan                  dan APS                      dokumen RPJMD
                Dasar                      Peningkatan APM, APK,        Sultra termuat
               Peningkatan                 dan APS SMP/sederajat        program aksi
                APM                        Peningakatan APM, APK,       pembangunan
                SMP/sederajat               APS SMA/sederajat            pendidikan sebagai
               Peningakatan               Peningkatan dana BOP         tindak lanjut
                APM                         melalui pengadaan buku       program aksi
                SMA/sederajat               teks, bahan ajar, dan        pembangunan
               Pemantapan/                 lembar kerja siswa dan       nasional.
                rasionalisasi               insentif guru               Ada beberapa
                implementasi               Pengembangan dan pe-        program aksi
                BOS                         manfaatan ICT untuk         pembangunan
               Penurunan harga             sistem informasi            pendidikan di daerah
                                            persekolahan dan            ini yang ditonjolkan


 
                                             91
                       Laporan Akhir EKPD Provinsi Sultra  2010 
 


                 buku standar di             pembelajaran, pengem-         (menjadi perhatian
    (1   (2)              (3)
                 tingkat sekolah     (4)                   (5)
                                             bangan e-learning TV-     (6) khusus Pemda(7)
     )           dasar dan mene-             Edukasi dan E-dukasi net      Sultra), yakni Pembe-
                 ngah sebesar 30-           Peningkatan APK               basan Biaya Opera-
                 50 % selambat-              pendidi-kan tinggi (PT)       sional Pendidikan
                 lambatnya 2012              dan mendu-kung                (BOP) untuk mendu-
                Penyediaan                  pembukaan PT                  kung keberadaan
                 sambungan inter-           Pemberian beasiswa            dana BOS dari Peme-
                 net bercontent              unggulan bagi mahasiswa       rintahPusat.Kebijakan
                 pendidikan ke se-           S1, S2, dan S3 di Unhalu      dan / atau program
                 kolah tingkat               dan Perguruan tinggi lain     aksi ini dituangkan di
                 menengah                   Memberikan dukungan           dalam Peraturan
                 selambat-                   dana bagi pendirian prodi     Gubernur Sultra No.
                 lambatnya 2012              kedokteran di Unhalu          24 Tahun 2008.
                 dan terus                  Memberikan dukungan           Program Bahteramas,
                 diperluas ke                dana bagi pendirian prodi     dukungan terhadap
                 tingkat SD                  farmasi di Unhalu dan         peningkatan APK
                Peningkatan APK             prodi lainnya                 Pendidikan Tinggi
                 pendidikan tinggi          Penerapan model               menjadi komitmen
                Penerapan                   pembela-jaran yang            Pemda Sultra antara
                 metodologi                  bersifat induktif,            pemberian beasiswa
                 pendi-dikan tidak           kesetaraan unggulan           unggulan bagi maha-
                 berupa                      serta penerapan sistem        siswa yang beprestasi
                 pengajaran demi             ujian kompetensi (bukan       untuk S1,S2,dan S3.
                 kelulusan ujian             academic test) dan test       Selain itu membantu
                Pemberdayaan                penempatan                    pembukaan Prodi
                 kepala sekolah             Pembinaan musyawarah          Kedokteran dan
                 sebagai manajer             Kerja Kepala Sekolah          Farmasi serta mem-
                 sistem                      (KKS) dan Kelompok            programkan satu
                 pendidikan yang             Kengawas Sekolah (KPS)        doktor satu desa.
                 unggul                     Pengembangan                  Pembebasan BOP
                Revitalisasi                Penelitian Tindakan           mendukung program
                 peran pengawas              Kepala Sekolah (PTS)          aksi yang termuat di
                 sekolah sebagai             oleh KPS                      dalam RPJMD Sultra,
                 entitas quality            Meningkatkan peranserta       sekaligus dapat
                 assurance                   masyarakat dalam              meningkatkan APM,
                Mendorong                   pembangunan pendidikan        APK, dan APS SD
                 aktiva-si peran            Mengefektifkan LPMP,          dan SMP, mening-
                 Komite Sekolah              Dewan Pendidikan              katkan persentase
                 untuk menjamin              Provinsi, kabupaten/kota      kelulusan, persentase
                 keterli-batan               se Sultra                     melek huruf, dan
                 stakeholder                Pelatihan penyusunan          mengurangi angka
                 dalam proses                kurikulum (KTSP)              putus sekolah pada
                 pembelajaran               Peningkatan kualifikasi       jenjang SD dan SMP.
                Penataan ulang              dan kompetensi pendidik       Ada beberapa
                 kurikulum                   dan pengelolaan               program aksi di dalam
                 sekolah                     sekolah.                      RPJMN dijabarkan
                                            Penyelenggaraan               lebih rinci oleh
                Peningkatan
                                             sertifikasi pendidik dan      program aksi pada
                 kualitas guru,
                                             tenaga kependidikan           RPJMD Sultra, seperti
                 pengelolaan, dan
                                            Diklat model                  Peningkatan kualitas
                 layanan sekolah
                                             pembelajaran yang             guru, pengelolaan,
                                             berbasis ICT                  dan layanan sekolah
                                            Diklat PTK bagi tenaga
                                             pendidik (guru)




 
                                             92
                       Laporan Akhir EKPD Provinsi Sultra  2010 
 


 

    (1)   (2)          (3)            (4)               (5)             (6)          (7)
    3.    PRIORITAS 3 : KESEHATAN
              Kesehatan Masyarakat
              Pelaksanaan        Sumber  Program Pencegahan         Ada Program kesehatan
              Program            Daya       penyakit menular;             masyarakat menjadi
                                 Manusia
              Kesehatan                    Program Penyehatan            prioritas pembangu-
                                 :
              Preventif Terpadu Fungsi      lingkungan;                   nan kesehatan prov.
                                 Keseha-  Program Promosi                Sultra. program ini
                                 tan        kesehatan;
                                                                          merupakan program
                                           Program Akselerasi
                                            Penyelenggaraan               dasar dalam rangka
                                            kesehatan ibu dan anak;       meningkatkan derajat
                                           Program Perbaikan Gizi        kesehatan
                                            Masyarakat;                   masyarakat
              Keluarga Berencana
              Peningkatan                 -                         Tidak Program ini secara
              kualitas dan                                          ada kuantitatif tidak
              jangkauan layanan                                            masuk dalam
              KB melalui                                                   program pemerin-
                                                                           tah provinsi sultra,
                                                                           namun program ini
                                                                           telah dijalankan oleh
                                                                           pemerintah pusat
                                                                           melalui BKKBN
                                                                           Provinsi Sultra,
              Obat :
              Pemberlakuan         SDM : - Program Pengobatan       Ada Program tersebut
              Daftar Obat          Fungsi     bebas biaya;                 dilaksanakan mela-
              Esensial Nasional    Keseha - Program Penyediaan             lui program unggu-
              sebagai dasar        tan        obat dan perbekalan          lan pemerintah
              pengadaan obat di               kesehtan serta               prov.sultra, yakni
              Indonesia dan                   pengawasan obat dan          pengobatan gratis
              pembatasan harga                makanan;                     masyarakat kurang
              obat generik                                                 mampu. ini berlaku
              bermerek pd 2010;                                            diseluruh kabupaten
                                                                           /kota se sultra.
              Asuransi Kesehatan
              Nasional :
              Penerapan Asuransi SDM : - Pengembangan Sistem Ada Secara nasional
              Kesehatan Nasional Fungsi       Jaminan Kesehatan;           asuransi kesehatan
              untuk seluruh      Keseha                                    bagi masyarakat
              keluarga miskin    -tan                                      telah dilaksanakan,
              dengan cakupan                                               di provinsi sultra
              100% pada 2011                                               program ini telah
              dan diperluas                                                masuk dalam
              secara bertahap                                              program unggulan
              untuk keluarga                                               pemerintah provinsi
              Indonesia lainnya                                            sultra melalui
              antara 2012-2014                                             program
                                                                           “bahteramas”




 
                                              93
                     Laporan Akhir EKPD Provinsi Sultra  2010 
 


 

    (1)   (2)        (3)           (4)              (5)             (6)          (7)
    4. PRIORITAS 4: PENANGGU-LANGAN KEMISKINAN
            Bantuan Sosial       Bahte- Kesejahteraan Sosial
            Terpadu              ramas
            Integrasi                   Mencakup program          Ada   Merupakan
             perlindungan sosial           penyuluhan dan                 program prioritas
             berbasis keluarga             pendataan,                     Pemprov
             yang mencakup               Pemberdayaan fakir              Sulawesi
             program Bantuan               miskin, komunitas adat         Tenggara
             Langsung Tunai                terpencil dan                  .Tujuannya untuk
            Bantuan pangan,               penyandang masalah             membantu
             jaminan sosial                kessos (PMKS),                 masyarakat dan
             bidang kesehatan,           Pemberdayaan                    keluarga kurang
             beasiswa bagi                 kelembaga-an kessos,           mampu dalam
             anak keluarga                 bantuan dan jaminan            menjangkau
             berpendapatan                 kessos,                        akses pelayanan
             rendah, Pendidikan          Peningkatan pelayanan           dasar guna
             Anak Usia Dini                kesehatan terutama bagi        memenuhi
             (PAUD) dan                    penduduk miskin                kebutuhan
             Parenting                   Program pengobatan              dasarnya.
             Education mulai               bebas biaya
             2010 dan program            Program sekolah gratis
             keluarga harapan            Program pendidikan
             diperluas menjadi             anak usia dini (PAUD)
             program nasional            Perluasan dan
             mulai 2011 – 2012             pengembangan
                                           kesempatan kerja
                                         Program penyelesaian
                                           konflik pertanahan
            PNPM Mandiri :              Peningkatan Pember-
                                        dayaan Masyarakat
             Penambahan                 Peningkatan              Ada    Program yang
              anggaran PNPM               pemanfaatan sumber              secara nasional
              Mandiri                     daya alam dan teknologi         diluncurkan sejak
                                          tepat guna berwawasan           tahun 2007 ini, di
                                          lingkungan                      Sulawesi
                                         Peningkatan koordinasi          Tenggara juga
                                          dan pembinaan block             telah
                                          grant desa                      dilaksanakan dan
                                         Bantuan langsung                pada daerah-
                                          masyarakat melalui              daerah yang
                                          P2KP-PNPM                       mendapatkan
                                         Peningkatan keberdaya-          program tersebut
                                          an masyarakat pedesaan          ada penambahan
                                          dan PNPM perdesaan              dana dari APBD.
                                          atau kelurahan                  Contoh, misalnya
                                         Program penataan                Kabupaten
                                          lingkungan permukiman           Konawese
                                         Program pemberdayaan            Selatan
                                          komunitas perumahan




 
                                          94
                       Laporan Akhir EKPD Provinsi Sultra  2010 
 


 

    (1) (2)            (3)            (4)                  (5)         (6)                 (7)
              Kredit Usaha Rak-               Pengembangan
              yat (KUR)                       KUMKM
               Pelaksanaan                  Program pengembangan Ada             Program tersebut
                penyempurnaan                kewirausahaan,                       untuk mendukung
                mekanisme                     Peningkatan koordinasi             peningkatan akses
                penyaluran KUR                 instansi terkait dalam             UMKM dan koperasi
                mulani 2010 dan                pemberdayaan koperasi              ini, di Sultra juga
                perluasan                      dan UMKM                           telah menjadikannya
                cakupan     KUR               Pengembangan fasilitasi            sebagai program
                mulai 2011                     pembiayaan dan usaha               unggulan. Dalam
                                               simpan pinjam                      pelaksanaannya,
                                              Program peningkatan                program ini telah
                                               kualitas kelembagaan               dilakukan melalui
                                               koperasi dan UMKM                  kegiatan pelatihan,
                                              Penyediaan dana                    penyaluran kredit,
                                               bergulir termasuk KUR              usaha peningkatan
                                               bagi penguatan                     jangkaun nasabah,
                                               permodalan KMUKM                   dan lain-lain.
              Tim Penanggulan                Lembaga
              Kemiskinan                     Penanggulangan
                                             Kemiskinan Daerah
               Revitalisasi                  Pembentukan lembaga Ada            Di Prov. Sultra
                Komite Nasional                penanggulangan                     penunggalan
                penanggulangan                 kemiskinan daerah                  kemiskinan secara
                Kemiskinan     di              (LPKD)                             intensif melalui
                bawah koordinasi              Program kemitraan                  peningkatan kualitas
                Wakil Presiden                 dalam pelayanan                    SDM melalui
                                               kesehatan masyarakat               pelatihan, diskusi,
                                              Program pemberdayaan               seminar dan
                                               kelembagaan kessos                 pengefektifan
                                              Program pemberdayaan               kerjasama antara
                                               zakat,                             pemerintah dengan
                                              Program peningkatan                kelompok
                                               kualitas                           masyarakat lainnya
                                               penanggulangan                     serta melakukan
                                               kemiskinan                         monev secara
                                                                                  berkelanjutan.
    5   PRIORITAS 5 :PROGRAM AKSI DIBIDANG PANGAN
              Lahan,                SDA      Ketahanan Pangan dan
              Pengembangan          Dan LH   Revitalisasi Pertanian,
              Kawasan dan Tata               Perikanan, dan Kehutanan
              Ruang Pertanian
              Penataan Regulasi              Fasilitas Kepemilikan          Ada   Sertifikasi lahan
              untuk menjamin                 Lahan Pertanian dalam                pertanian merupakan
              kepastian atas                 bentuan program                      hal penting bagi
              lahan pertanian                Sertifikasi lahan                    masyarakat & bagi
                                                                                  pemerintah dapat
              Pengembangan                   Peningkatan produksi dan             meningkatkan
              areal pertanian                produktivitas tanaman                PAD.Selain itu
              barus seluas 2 juta            pangan melalui                       Pemerintah berusa-
              hektar, penertiban             intensifikasi,ekstensifikasi         ha meningkatkan
              serta optimalisasi             dan diversifikasi                    produksi dan
              penggunaan lahan                                                    produktivitas melalui
              terlantar                      Fasiliatas Pemanfaatan               diversifikasi serta


 
                                               95
                       Laporan Akhir EKPD Provinsi Sultra  2010 
 

    (1) (2)            (3)          (4)               (5)               (6)              (7)
                                          lahan pertanian melalui             menyediakan regu-
                                          program; Sosialisasi                lasi tentang sapro-
                                          tentang ketahanan                   di, KUT, pemasaran,
                                          pangan Konservasi                   harga dasar dan
                                          &Optimasi Lahan                     ketahanan pangan.
              Inftrastruktur
              Pembangunan dan              Peningkatan pemanfaa-     ada      Pemerintah
              pemeliharaan                 tan air irigasi secara             Sulawesi Tenggara
              sarana transportasi          efisien, efektif dan               memiliki komitmen
              dan angkutan,                berkelanjutan                      yang kuat untuk
              pengairan, jaringan          Pengembangan/Rehabili-            pembuatan,
              listrik, serta                tasi Jaringan Irigasi             rehabilitasi dan
              teknologi                     Tanah Dangkal dan                 mengembangakan
              komunikasi dan                Dalam,Irigasi Tetes dan           pemanfaatan air
              system informasi              Springkler.                       irigasi secara
              nasional yang                Pembuatan Embung,                 efisien, efektif dan
              melayani daerah-              Sumur Resapan dan                 berkelanjutan,
              daerah sentral                Dam Parit                         membuka
              produksi pertanian           Program Pembinaan dan              keterisolasian
              demi peningkatan             Pengembangan                       sentra produksi
              kualitas produksi            Ketenagalistrikan                  yang selama ini
              serta kemampuan              Koordinasi pengadaan &            sulit diakses,
              pemasarannya;                 Pengembangan fasilitas            misalnya
                                            Ketenagalistrikan                 pembangan jalan
                                           Peningkatan kelancaran             tani dan jalan
                                           arus Transportasi                  produksi.
                                            Pembangunan Jalan                Pembangunan
                                             Usa-ha Tani & Jalan              pelabuhan kapal
                                             Produksi                         rakyat, feri
                                            Program Pembangu-                penyebrang-an
                                             nan Sarana, Prasarana            antar daerah,
                                             dan Fasilitas Angkutan           pembukaan dan
                                             Laut, darat & udara              pemeliharaan jalan
                                           Program Peningkatan                antar daerah.
                                           dan Pengembangan Pos               Pada Bidang
                                           dan Telematika, yang               komunikasi dan
                                           melalui kegiatan : Penga-          kelistrikan
                                           wasan dan Pengendalian             pemerintah telah
                                           Pos dan Telekomunikasi;            melakukan
                                                                              kerjasama dengan
                                          Program Pengembang-                 berbagai pihak
                                          an, pemerataan dan                  dalam rangka
                                          peningkatan kualitas                menyediakan
                                          sarana dan prasarana pos            system informasi
                                          dan telematika, yang                yang dapat
                                          meliputi kegiatan :                 memperlancar
                                           Pengawasan Izin Amatir            komunikas antar
                                            Radio;                            daerah yang
                                           Pengadaan                         dukung dengan
                                            peralatan/perlengkapan            program
                                            operasional Postel dan            penyediaan energy
                                            Telematika;                       listrik yang dapat
                                                                              memenuhi
                                           Sosialisasi dan Koor-
                                                                              kebutuhan
                                            dinasi penggunaan
                                                                              masyarakat.
                                            frekuensi dan perangkat
                                            radio serta jasa titipan.



 
                                            96
                      Laporan Akhir EKPD Provinsi Sultra  2010 
 


    (1) (2)             (3)           (4)                (5)              (6)           (7)
              Penelitian dan
              Pengembangan
              Peningkatan upaya             Peningkatan penyebar-         Ada    Kegiatan
              penelitian dan                luasan Informasi dan                pengkajian,
              pengembangan                  rekayasa teknologi                  penelitian dan
              bidang pertanian              Tanaman Pangan                      pengembangan
              yang mampu                     Penyebarluasan                    bidang pertanian
              menciptakan benih               informasi teknologi               terus dilakukan
              unggul dan hasil                tanaman pangan                    untuk mendung
              penelitian lainnya             Pelatihan & pengem-               ketersedian pangan
              menuju kualitas dan             bangan teknologi                  dan penggunaan
              produktifitas hasil             tanaman pangan                    lahan secara
              pertanian nasional             Kajian teknologi spesifik         berkelanjutan.
              yang tinggi                     lokasi
                                            Fasilitasi penanganan
                                            teknologi Peternakan
                                            melalui kegiatan ;
                                             Pengadaan fasilitas
                                              Teknologi Peternakan
                                              Tepat Guna.
                                             Pelatihan dan Bimbing-
                                              an pengoperasian
                                              teknologi peternakan
                                              tepat guna.
              Investasi, Pembiayaan
              dan Subsidi
              Dorongan untuk                Penciptaan iklim              Ada Pemerintah Provinsi
              investasi pangan,             investasi yang Kondusif           Sultra memberikan
              pertanian dan                 melalui kegiatan;                 pelayanan kepada
              industry perdesaan             Survey ketersediaan             investor dibidang
              berbasisi produk                lahan petani                    pertanian secara
              local oleh pelaku              Survey lands Potensi            optimal. Keterse-
              usaha dan                       lahan untuk PBN/PBS             diaan pangan bagi
              pemerintah,                    Melayani perizinan              masyarakat meru-
              penyediaan                      usaha perkebunan                pakan salah satu
              pembiayaan                                                      perhatian utama
              terjangkau                     Pengembangan industri            pemerintah melalui
                                             penglolaan hasil                 peningkatan
                                             pertanian                        penyediaan dan
                                             skala kecil dan rumah            penyauluran sara-
                                             tangga                           na dan prsarana
                                             Fasilitasi                      pertanian dalam arti
                                              Pengembangan                    luas. Kegiatan
                                              Kelembagaan Petani              pengkajian dan
                                              Kelompok Tani.                  penelitian juga terus
                                             Penyusunan Data Base            dilakukan untuk
                                              Statistik Sarana dan            mendung
                                              Prasarana Pengolahan            ketersedian pangan
                                              Hasil Pertanian.                dan penggunaan
                                             Penyusunan Road Map             lahan secara
                                              Pengolahan Hasil                berkelanjutan.
                                              pertanian.
                                             Penguatan Modal
                                              Usaha Pengolahan
                                              Hasil Pertanian.



 
                                              97
                      Laporan Akhir EKPD Provinsi Sultra  2010 
 


    (1) (2)             (3)        (4)                (5)              (6)            (7)
              Pangan dan Gizi
              Peningkatan                 Fasilitas pengembangan              Kuantitas dan
              kualitas gizi dan           diversifikasi komoditas             kualitas produk
              keanekaragaman              dilahan pertanian melalui           pertanian
              pangan melalui              kegiatan;                           merupakan
              peningkatan pola            Pengembangan                       perhatian yang
              pangan harapan               tanaman sela perkebu-              serius oleh Dinas
                                           nan dgn tananan pangan             Pertanian,
                                          Peningkatan Indeks                 terutama
                                           pertanaman padi-                   tamanan pangan.
                                           palawija-padi                      Demikian juga
                                          Pengembangan pertain-              program
                                           an terpadu tanaman                 Penganekaraga-
                                           dengan ternak                      man pangan
                                          Sosialisasi kegiatan               terus digalakan
                                           Peningkatan penyuluhan             dengan
                                           diversifikasi                      memafaatkan
                                                                              bahan pangan
                                         Peningkatan produksi                 local.
                                         beragam sesuai pola
                                         konsumsi yang bergizi
                                         dan berimbang melalui
                                         kegiatan ;
                                          Pembinaan dan
                                           Pengembangan
                                           Konsumsi dan
                                           Keamanan Pangan.
                                          Gerakan Percepatan
                                           Penganekaragaman
                                           Pangan Masyarakat.
                                          Mengembangkan
                                           Teknologi Pengolahan
                                           dan Produk Pangan

                                         Kajian analisis konsumsi
                                         pangan melalui kegiatan ;
                                          Kajian Pengembangan
                                           Makanan Tradisional
                                          Kerjasama dengan
                                           Perguruan Tinggi.
                                          Kajian Analisis
                                           Keamanan Konsumsi
                                           Pangan.
                                          Peningkatan Nilai
                                           Tambah Pangan Lokal
              Adaptasi
              Perubahan Iklim.
              Pengambilan                                             Tidak
              langkah-langkah                                         ada
              kongkrit terkait
              adaptasi dan
              antisipasi system
              pangan dan
              pertanian terhadap
              perubahan iklim



 
                                           98
                  Laporan Akhir EKPD Provinsi Sultra  2010 
 


    (1) (2)      (3)        (4)                  (5)           (6)           (7)
     6 PRIORITAS 6 : INFRASTRUKTUR
          Tanah dan Tata      Tata
          Ruang               Ruang
          Konsolidasi                  Program Pendayagunaan Ada     Dalam rangka
          Kebijakan                    Tata Ruang, yang              penetaan ruang,
          Pananganan dan               meliputi kegiatan :           saat ini sedang
          pemanfaatan tanah            Pelaksanaan sosialisasi      dilakukan revisi
          untuk kepentingan             penataan ruang dan
          umum secara                                                RTRW guna
                                        pelayanan informasi pada
          menyeluruh di                 masyarakat;                  menyesuaikan
          bawah satu atap              Peningkatan kapasitas        penataan ruang
          dan pengelolaan               aparat legislatif dan        yang sudah perlu
          tata ruang secara             eksekutif terutama dalam     untuk
          terpadu                       pengendalian                 penyesuain
                                        pemanfaatan ruang;           dalam
                                       Pemantapan koordinasi
                                                                     pembangun,
                                        dan konsultasi antara
                                        pusat dan daerah, antar      terutama terkait
                                        daerah, antar lembaga        dengan
                                        eksekutif dan legislatif,    pengembangan
                                        serta dengan lembaga         pertambangan
                                        dan organisasi masyara-      agar tidak terjadi
                                        kat yang terkait dalam       dampak negatif
                                        kegiatan penataan ruang;
                                                                     terhadap
                                      Program Pengembangan
                                      Wilayah, yang meliputi         lingkungan di
                                      kegiatan :                     wilayah Sultra
                                       Fasilitasi kepada pelaku
                                        usaha untuk memper-
                                        oleh informasi pasar;
                                       Fasilitasi pengembang-
                                        an SDM yang produktif
                                        dan berdaya saing,
                                        melalui pendampingan
                                        dan pelatihan;
                                       Pemberian dorongan
                                        terhadap peningkatan
                                        koordinasi, sinkronisasi,
                                        dan kerjasama baik
                                        secara vertikal maupun
                                        horizontal.
                                       Program Pengembangan
                                       Perkotaan dan Perdesa-
                                       an, yang meliputi kegiatan
                                       Pembinaan pengelolaan
                                        kota-kota besar;
                                       Fasilitasi pengembangan
                                        kota-kota menengah dan
                                        kecil;
                                       Pembinaan peningkatan
                                        fungsi kawasan perkotaan
                                        dan perdesaan.




 
                                        99
                       Laporan Akhir EKPD Provinsi Sultra  2010 
 


 

    (1) (2)              (3)          (4)                 (5)             (6)           (7)
              Perhubungan:
              Pembangunan                    Progran Peningkatan     Ada       Untuk mendukung
              jaringan prasarana              Sarana dan Prasarana              kinerja pemerintah
              dan penyediaan                  Aparatur,                         dalam pelayanan
              sarana transportasi            Program Pengembangan              perhubungan tidak
              antarmoda dan                   Prasarana dan Fasilitas           hanya melihat dari
              antarpulau yang                 Transportasi laut darat           aspek fisik
              terintergrasi sesuai            dan udara dan Penyusu-            perhubungan akan
              dengan system                   nan Kebijakan, norma,             tetapi juga dari
              transportasi Nasio-             standard dan prosedur             aspek pelayanan,
              nal dan Cetak Biru              bidang perhubungan                pengembangan
              Transportasi Multi-             serta Raperda;                    SDM dan pening-
              moda dan penuru-               Program Rehabilitas dan           katan kualitas
              nan tingkat kecela-             Pemeliharaan Prasarana            fasilitas perhu-
              kaan transportasi               dan fasilitas LLAJ,.              bungan, seperti
              pada 2014 lebih                Program penelitian dan            peningkatan
              kecil dari 50%                  pengembangan perhu-               kualitas pelabuhan
              keadaan saat ini.               bungan laut darat &               laut, darat &
                                              udara.                            udara.
              Pengendalian Banjir
              Penyelesaian                   Program Pengendalian       Ada Dalam rangka
              pembangunan                      banjir melalui Kegiatan       meningkatkan
              prasarana                        Perkuatan tebing dan          kualitas lingkung-
              pengendalian banjir                                            an agar terhindar
                                               pengamanan Daerah
                                                                             dari banjir peme-
                                               Aliran sungai (DAS);          rintah memprog-
                                                                             ramkan perbaik-
                                                                             an daerah aliran
                                                                             sungai yang
                                                                             rawan banjir.
              Transpotasi Perkotaan
                                                                         Tidak Pemerintah saat
                                                                         ada ini pembangunan
                                                                               transpotasi
                                                                               diarahkan pada
                                                                               pembangunan
                                                                               transportasi antar
                                                                               daerah
     7        PRIORITAS 7: IKLIM INVESTASI DAN IKLIM USAHA
              Kepastian Hukum
              Reformasi regulasi         Peningkatan kapasitas          Ad     Melalui konsis-
              secara bertahap             kelembagaan untuk              a      tensi terhadap
              ditingkat nasional          implementasi                          upaya untuk
              dan daerah                  penyederhanaan                        memastikan
                                          prosedur perizinan serta              produk
                                          menjamin kepastian                    pemerintah
                                          usaha                                 terhadap izin
                                                                                yang dikeluarkan
                                                                                pemerintah
                                                                                menjamin atas
                                                                                apa yang
                                                                                dikeluarkan
                                                                                tersebut.



 
                                              100
                       Laporan Akhir EKPD Provinsi Sultra  2010 
 


    (1) (2)             (3)         (4)                 (5)               (6)           (7)
              Kebijakan
              Ketenagakerjaan
              Sinkronisasi        Kebija    Program Perluasan dan        Ada Program pening-
              kebijakan           -kan      pengembangan                     katan jumlah
              ketenagakerjaan     Keten     kesempatan kerja;                penyerapan tena-
              dan iklim usaha     agaker    Program Peningkatan              ga kerja melalui
              dalam rangka        jaan      kualitas dan produktivitas       program bantuan
              memperluas                    tenaga kerja;                    keuangan desa/
              penciptaan                    Program Perlindungan             kelurahan dan
              lapangan kerja                dan pengembangan                 peningkatan pro-
                                            lembaga tenaga kerja;            duktivitas perta-
                                            Program Peningkatan              nian merupakan
                                            kualitas dan produktivitas       fokus pemerintah
                                            tenaga kerja;                    dan pemerintah
                                            Program Peningkatan              juga konsisten
                                            kesempatan kerja;                terhadap kebija-
                                            Program Perlindungan             kan yang terkait
                                            dan pengem bangan                dengan hak-hak
                                            lembaga ketenagakerjaan          tenaga kerja
    8 PRIORITAS 8 : ENERGI
          Energi Alternatif
          Peningkatan                       Program Pembinaan dan        Ada    Pemerintah provisi
          pemanfaatan                       Pengembangan                        Sultra sudah
          energy terbarukan                 Ketenagalistrikan                   mulai
          termasuk energy                   Koordinasi                         memperhatikan
          alternative                        Pengembangan                       ke-tercukupan
          geothermal                         Ketenagalistrikan                  kebu-tuhan listrik
          sehingga mencapai                 Sosialisasi                        dengan
          2.000 MW pada                      Pengembangan Energi                mengadakan
          tahun 2012 dan                     Alternatif                         mesin-mesin
          5.000 MW pada                     Pembinaan dan                      genset dan
          2014                               pengawasan usaha                   sosialisasi
                                             Ketenagalistrikan                  pengembangan
                                             Kab./Kota                          dan penggunaan
                                                                                Energi alternatif
                 Hasil ikutan dan turunan minyak bumi/gas
              Revitalisasi Industri                                      Tidak Di Sulawesi
              Pengolahan hasil                                           ada Tenggara belum
              ikutan minyak bumi                                               ada industry
              dan gas sebagai                                                  pengelahan
              bahan baku industry                                              minyak bumi.
              tekstil, pupuk dan
              industry hilir lainnya
                 Konservasi Menuju penggunaan gas
               Perluasan program                                         Tidak Di Sultra masih
               konversi minyak                                           ada menggunakan
               tanah ke gas                                                    kompor minyak
               sehingga                                                        tanah & kampor
               mencakup 42 juta                                                gas tabung 12 kg
               Kepala Keluarga                                                 & program konvesi
               pada 2010                                                       minyak tanah &
                                                                               penggunaan
                                                                               bahan gas alam
                                                                               belum
                                                                               diprogramkan..



 
                                             101
                      Laporan Akhir EKPD Provinsi Sultra  2010 
 


    (1) (2)        (3)        (4)            (5)        (6)                                         (7)
          Penggunaan gas
          alam sebagai
          bahan bakar
          angkutan umum
          perkotaan di
          Palembang,
          Surabaya dan
          Denpasar
    9 PRIORITAS 9 : LINGKUNGAN HIDUP DAN PENGELOLAAN BENCANA
              Perubahan Iklim          - ...........................................
              Peningkatan              - ........................................... Tidak Di Sulawesi
              pengelolaan lahan                                                      ada Tenggara tidak
              gambut                                                                       ada lahan
                                                                                           gambut
              Peningkatan hasil        - ...........................................
              rehabilitasi seluas
              500.000 ha
              pertahun
              Penekanan laju           - ...........................................
              deforestasi secara
              sungguh-sungguh
              Pengendalian Kerusakan
              Lingkungan
              Penurunan beban           Pengendalian                                  ada   Secara spesifik
              pencemaran                 Pencemaran &                                        pemerintah tidak
              melalui                    Perusakan LH                                        memprogramkan
              pengawasan                Perlindungan &                                      Penurunan
              ketaatan                   Konservasi Sumberdaya                               beban
              pengendalian               Alam                                                pencemaran
              pencemaran air            Pengembangan                                        melalui
              limbah emisi di 680        Kapasitas Pengelolaan                               pengawasan
              kegiatan industry          Sumberdaya Alam dan                                 ketaatan
              dan jasa pada 2010           LH                                                pengendalian
              dan terus berlanjut       Pengembangan Kapasitas                              pencemaran air
                                           Pengelolaan SDA dan LH                            limbah emisi di
                                        Penataan Hukum dan                                  680 kegiatan
                                           Instrumen Pengendalian                            industry dan jasa
                                           Dampak Lingkungan                                 pada 2010 dan
                                          Peningkatan Ketaatan                              terus berlanjut.
                                           Masyarakat dan Pelaku                             Pemerintah Prov.
                                           Usaha/Kegiatan terhadap                           Sultra sangat
                                           Peraturan Perundang                               konsen terhadap
                                           undangan LH
                                                                                             pengelolaan LH
                                          Peningkatan Koordinasi &
                                                                                             secara
                                           Kemitraan dalam
                                           Pengelolaan LH                                    berkelajutan
                                          Pengembangan Pendidikan
                                           Etika dan Moral Lingkungan
                                          Pembinaan Masyarakat
                                           pada Kawasan Rawan
                                           Dampak Lingkungan
                                          Peningkatan Kualitas dan
                                           Akses Informasi SDA dan
                                           LH




 
                                           102
                          Laporan Akhir EKPD Provinsi Sultra  2010 
 


 

    (1) (2)            (3)          (4)                        (5)                        (6)          (7)
            Sistem peringatan             - ...........................................
            Dini
            Penjaminan fungsi             - ........................................... Tidak
            System Peringatan                                                           ada
            Dini Tsunami dan
            System Peringatan
            Dini Cuaca mulai
            2010 & seterusnya,
            serta system
            System Peringatan
            Dini Iklim
            Penanggulangan                - ...........................................
            Bencana:
            Peningkatan                   - ...........................................
            kemampuan
            penanggulangan
            becana
    10  PRIORITAS        10   DAERAH      TERDEPAN                 TERLUAR,
        TERTINGGAL DAN PASCA KONFLIK
            Keijakan :                     - ..........................................
           Pelaksanaan Kebi-               - .......................................... Tidak Prov. Sultra
           jakan khusus dalam                                                           ada tidak berbatasan
           bidang infrastruktur &                                                              langsung dengan
           pendukung kesejah-                                                                  Negara lain
           teraan lainnya
            Keutuhan Wilayah               - ..........................................
            Penyelesaian                   - .......................................... Tidak Provinsi
            pemetaan wilayah                                                            ada Sulawesi
            perbatasan RI                                                                      Tenggara tidak
            dengan Malaysia,                                                                   berbatasan
            Papua Nugini,                                                                      langsung dengan
            Timur Leste dan                                                                    Negara lain
            Filipinan pada 2010
            Daerah Tertinggal              - ..........................................
            Pengetasan paling              - ..........................................
            lambat 2010
    11 PRIORITAS 11 KEBUDAYAAN, KREATIFITAS DAN INOVASI
    .  TEKNOLOGI
            Perawatan :
            Penetapan dan        Kebu- Program pengembangan                            Ada Pengelolaan ke-
              pembentukan         dayaan nilai budaya                                         kayaan budaya
              pengelolaan         dan    Program pengelolaan                                 merupakan bagian
              terpadu untuk       Pariwi- kekayaan budaya                                     dari cagar budaya
              pengelolaan cagar sata     Program pengelolaan                                 yang perlu
              budaya                        keragaman budaya                                  dikembangkan
                                         Program pengembangan                                Pengelolaan ke-
            Revitalisasi                   kerjasama pengelolaan                             kayaan & kera-
              museum dan                    kekayaan budaya                                   gaman budaya
              perpustakaan di                                                                 belum optimal,
              seluruh Indonesia                                                               serta kegiatan
              sebelum Oktober                                                                 pelestarian nilai
              2014                                                                            budaya belum
                                                                                              maksimal.


 
                                                    103
                       Laporan Akhir EKPD Provinsi Sultra  2010 
 


 

    (1) (2)           (3)             (4)                        (5)                       (6)            (7)
              Sarana :                       - ..........................................
              Penyediaan sarana             Peningkatan sarana dan                       Ada Pengembangan
              yang memadai bagi               prasarana aparatur                                kemitraan,
              pengembangan,                 Pengembangan destinasi                             dukungan sarana
              pendalaman dan                  pariwisata                                        dan prasarana
              pagelaran seni                Pengembangan kemitraan                             serta pengem-
              budaya di kota                Pengembangan kerajinan                             bangan kerajinan
              besar dan ibu kota              khas daerah                                       khas daerah
              Kabupaten                                                                         pendukung
              selambat-                                                                         pengembangan,
              lambatnya Oktober                                                                 pendalaman dan
              2012                                                                              pagelaran seni
                                                                                                budaya nasional
              Kebijakan :                    - ..........................................
              Peningkatan                   Menciptakan kondisi yang                      Ad Pemerintah
              perhatian dan                   dapat mendorong                              a    provinsi
              kesertaan                       partisipasi masyarakat di                         mendorong
              pemerintah dalam                bidang pariwisata                                 lahirnya inisiatif
              program-program               Meningkatkan promosi                               dan partisipasi
              seni budaya yang                dan sarana pariwisata                             masyarakat dalam
              diinisiasi oleh                 sehingga tercipta iklim                           pengembangan
              masyarakat dan                  kondunsif bagi pengem-                            seni dan
              mendorong                       bangan Obyek Daerah                               pariwisata daerah
              berkembangannya                 Tujuan Wisata Sultra                              selaras dengan
              apresiasi terhadap            Meningkatkan                                       kebijakan nasional
              kemajemukan                     pengembangan daerah                               yang memberi
              budaya                          tujuan wisata untuk                               perhatian dan
                                              menarik kunjungan                                 kesertaan dalam
                                              wisatawan                                         program seni
                                            Menciptakan kondisi yang                           budaya yang
                                              dapat mendorong                                   diinisasi
                                              partisipasi masyarakat di                         masyarakat
                                              bidang pariwisata
              Inovasi Teknologi              - ..........................................
              Peningkatan                    Mengembangkan                               Tidak Belum ada
              penanggulangan                  kerajinan khas daerah                       ada program yang
              komparatif yang                 sehingga dapat menjadi                             bernuansa inovasi
              mencakup pengelo-               daya tarik wisata                                  dalam
              laan sumber daya               Program pengembangan                               pengembangan
              maritime menuju                 wisata maritime                                    teknologi, program
              ketahanan energy,                                                                  pengembangan
              pangan dan antisi-                                                                 wisata maritime di
              pasi peruahan iklim ;                                                              daerah baru
              dan pengembangan                                                                   mengandalkan
              penguasaan tekno-                                                                  keunggulan
              logi dan kreativitas                                                               komparatif semata.
              pemuda




 
                                               104
                     Laporan Akhir EKPD Provinsi Sultra  2010 
 




3. Rekomendasi
    a. Rekomendasi Terhadap RPJMD Provinsi Sulawesi Tenggara
      Rencana Pembanguna Jangka Menengah Daerah (RPJMD) merupakan
      pedoman pemerintah daerah dalam melaksanakan proses pembangunan yang
      terarah    dan      berkelanjutan.     RPJMD      Provinsi    Sulawesi      Tenggara
      menggambarkan arah kebijakan umum pembangunan Sulawesi Tenggara
      dalam jangka waktu tertentu yang harus di pedomani oleh seluruh pemerintah
      Kabupaten/Kota. Pemerintah Kabupaten/Kota dalam menyusun Rencana
      Pembanguna sebaiknya mengikuti arah kebijakan recana pembangunan
      daerah provinsi. Oleh karena itu, RPJMD Provinsi harus disusun dengan
      memperhatikan potensi dan         karakteristik daerak kabupaten/Kota dalam arti
      yang luas. RPJMD Provinsi Sulawesi Tenggara sekarang ini terkesan belum
      memperhatikan potensi dan skala prioritas/kebutuhan kabupaten, terutama
      kabupaten-kabupaten yang hasil pemekaran. Sebagai bahan masukan dalam
      pelaksanaan dan penyusunan RPJMD selanjutnya perlu diperhatikan hal
      sebagai berikut ;
      1. Pemerintah provinsi tetap memelihara kesinambungan setiap kebijakan dan
        program pembangunan yang telah ditetapkan dari RPJMD yang lalu,
        sekarang dan yang akan datang terutama program-program jangka panjang
        yang belum terselesaikan sesuai visi, misi, tujuan dan sasaran yang
        ditetapkan dalam RPJP Provinsi
      2. Dalam    menjaga        kesinambungan       setiap   kebijakan     dan    program
        pembangunan yang telah ditetapkan dari RPJMD, maka Pemerintah provinsi
        sebaiknya dalam penyusunan RPJMD                 selalu memperhatikan dengan
        sungguh-sungguh potensi dan karakteristik serta skala kebutuhan prioritas
        pemerintah        provinsi,   Kota   dan   Kabupaten       dengan   menggunakan
        pendekatan         partisipatif serta memperhatikan katerkaitan/relevansinya
        dengan visi jangka menengah dan panjang pembangunan nasional agar
        tujuan pembangunan nasional dapat diwujudkan di daerah secara
        berkelajutan;
      3. Pemerintah provinsi dalam menyusunan RPJMD perlu menetapkan skala
        prioritas pembangunan yang dimungkinkan dapat dicapai dalam jangka
        waktu tertentu, terutama pada bidang pengembangan sumberdaya manusia



 
                                             105
                      Laporan Akhir EKPD Provinsi Sultra  2010 
 


        (agama,       pendidikan    dan    kesehatan),     pembangunan        infrastruktur,
        pengelolaan sumberdaya alam, penciptaan lapangan kerja, pelayanan prima
        dan      pengelolaan   keuangan       yang   trasnparan   dan     akuntabel    yang
        berlandaskan pada kepentingan masyarakat secara umum dan bukan
        dilandasi oleh kepentingan politik segelintir orang atau kelompok tertentu,
        sehingga program-program tersebut mencirikan prinsip dari, oleh dan untuk
        rakyat
      4. Pemerintah provinsi dalam menyusunan RPJMD perlu mengoptimal
        keterlibat para stakeholders diluar birokrasi, terutama pemuka agama dan
        masyarakat,      pelaku    ekonomi,     Lembaga    Swadya   Masyarakat        dalam
        penyusunan rumusan akhir RPJMD, dengan demikian akan meminimalkan
        rumusan RPJMD yang menuasan politik.
      5. Pemerintah Daerah perlu mendorong lebih giat lagi peran swasta, dunia
        usaha, masyarakat dan industri untuk berpartisipasi dalam perencanaan,
        pelaksanaan,      pembiayaan      dan    pemelihrahan     pembangunan         secara
        berkelanjutan.
      6. Dalam perencanaan, pembiayaan dan pelaksanaan RPJMD perlu koordinasi
        antar Sekretarian Daerah Provinsi dengan Satuan Kerja Pemerintah Daerah
        (SKPD) dan antar SKPD se-provinsi, SKPD Provinsi dengan SKPD daerah
        Kabupaten/kota serta membangun jalur konsultasi yang efektif, efisien,
        produktif dan berkelanjutan antara pemerintah provinsi dengan Pemerintah
        Pusat, sehingga tidak terjadi kesalahfahaman dan tumpang tindis kegiatan
        dan pembiayaan terhadap satu kegiatan pada lokasi yang sama.


    b. Rekomendasi Terhadap RPJMN
      Rencana Pembanguna Jangka Menengah Nasional (RPJMN) sebagai acuan
      semua pemerintah provinsi dalam menyusun dan melaksanakan proses
      pembangunan serta memanfaatkan dan memelihara hasil pembangunan yang
      terarah dan berkelanjutan. RPJMN disusun berdasarkan potensi dan
      karakteristik   masyarakat     secara     nasional   yang   dapat    mengakomodir
      keanekaragaman yang dimiliki Negara Kesatuan Republik                Indonesia dari
      berbagai bidang kehidupan. Oleh karena itu, dalam menyusun RPJMN perlu
      diperhatikan hal-hal sebagai berikut ;
      1. Pemerintah pusat dalam penyusunan RPJMN harus memperhatikan
          dengan sungguh-sungguh potensi nasional dan karakteristik bangsa serta


 
                                           106
                Laporan Akhir EKPD Provinsi Sultra  2010 
 


       keanekaragaman suku, agama dan budaya serta kekayaan alam yang
       tersebar diseluruh pelosok Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan
       tetap memperhatikan cita-cita bangsa Indonesia yang telah dicantumkan
       dalam UUD 1945.
    2. Pemerintah Pusat tetap memelihara kesinambungan setiap kebijakan dan
       program pembangunan yang telah ditetapkan dan dilaksanakan dulu,
       sekarang dan yang akan dilaksanakan ke depan terutama program jangka
       panjang yanga belum terselesaikan sesuai visi, misi, tujuan dan sasaran
       yang ditetapkan dalam RPJP Nasional dan UUD 1945 .
    3. Pemerintah pusat dalam menyusunan RPJMN perlu menetapkan skala
       prioritas pembangunan yang dimungkinkan dapat dicapai dalam jangka
       waktu tertentu, terutama pada bidang pengembangan sumberdaya
       manusia (agama, pendidikan dan kesehatan), pembangunan infrastruktur,
       pengelolaan sumberdaya alam, penciptaan lapangan kerja, pelayanan
       prima dan pengelolaan keuangan yang trasnparan dan akuntabel yang
       berlandaskan pada kepentingan masyarakat secara umum dan bukan
       dilandasi oleh kepentingan politik segelintir orang atau kelompok tertentu,
       sehingga program-program tersebut mencirikan prinsip dari, oleh dan
       untuk rakyat..
    4. Pemerintah Pusat dalam menyusunan RPJMN perlu mengoptimal
       keterlibat para stakeholders diluar birokrasi, terutama pemuka agama dan
       masyarakat, pelaku ekonomi, Lembaga Swadya Masyarakat, terutama
       dalam menyusun rumusan akhir RPJMN, sehingga RPJMN yang
       dilahirkan dapat dilaksanakan dan diawasi oleh seluruh stakeholders
       pembangunan.
    5. Pemerintah pusat terus mendorong lebih giat lagi peran swasta, dunia
       usaha, masyarakat dan industri untuk berpartisipasi dalam pelaksanaan,
       pembiayaan dan pemelihrahan pembangunan secara berkelanjutan.
    6. RPJMN harus mampu menerjemahkan keragaman permasalahan dan
       potensi daerah. Karena itu referensi utama dalam perumusan RPJMN
       seyogyanya merujuk pada informasi dari daerah melalui         Musrenbang
       yang dipadukan dengan hasil-hasil kajian mendalam secara akademik oleh
       lembaga riset perguruan tinggi maupun badan-badan pemerintah yang
       ada di setiap kementrian dan tentu saja harus dapat menerjemahkan visi
       jangka panjang pembangunan nasional.


 
                                     107
              Laporan Akhir EKPD Provinsi Sultra  2010 
 


    7. Dalam perencanaan, pembiayaan dan pelaksanaan RPJMN perlu
      membangun koordinasi dan kerjasama yang kuat antar kementerian
      sehingga tidak terjadi kesalahfahaman dan tumpang tindis kegiatan dan
      pembiayaan terhadap satu kegiatan pada lokasi yang sama. .




 
                                  108
                   Laporan Akhir EKPD Provinsi Sultra  2010 
 




                                                                   BAB III
                                              KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

1. Kesimpulan

    1. Secara umum Rencana Jangkah Menengah Nasional dengan Rencana
       Jangkah    Menengah     Daerah    Provinsi   Sulawesi   Tenggara     memiliki
       keterkaitan/relevansi, artinya bahwa pemerintah daerah provinsi Sulawesi
       Tenggara dalam menyusun Jangkah Menengah Daerah telah memperhatikan
       Rencana Jangkah Menengah Nasional.
    2. Secara umum kebijakan, kegiatan dan program yang tertuang didalam
       Jangkah Menengah Daerah Provinsi Sulawesi Tenggara dan Rencana
       Jangkah Menengah Nasional belum dapat memberikan dampak yang
       signifikan terhadap perbaikan kehidupan masyarakat dalm arti luas.
    3. Secara umum kendala dan sekaligus tantang yang dihadapi pemerintah
       daerah dalam menjalankan Rencana Jangkah Menengah Daerah Nasional di
       Provinsi Sulawesi Tenggara adalah terletak pada implementasi kegiatan yang
       tidak   sesuai perencanaan, professional, efektik, efisien, transparan dan
       akuntabel serta kebanyakan salah sasaran dan sarah dengan pratek Kolusi,
       Korupsi dan Nepotisme (KKN).
    4. Kebijakan pemerintah pusat tentang Pendendalian dan Pengawasan
       lingkungan hidup, pemanfaatan bahan enegi alternative, pengembangan
       industry pada karya, penegakan hukum, pemberantasan korupsi dan
       pengelolaan keuangan daerah yang efektif, efisien, transpara dan akuntabel
       belum membumi di daerah Sulawesi Tenggara.
    5. Program Evaluasi Kinerja Pembanguna Daerah yang dilaksanakan oleh
       Badan Perencanaan Pembangunan Nasional ini sangat bermanfaat sebagai
       bahan masukan terhadap pemerintah pusat dan pemerintah Daerah dalam
       rangka perbaikan dan penyempurnaan rencana pembangunan selajutnya. .




 
                                        109
                       Laporan Akhir EKPD Provinsi Sultra  2010 
 




    2. Rekomendasi

      1. Pemerintah pusat dan pemerintah daerah provinsi terus mempertahan dan
         meningkatkan singkronisasi antara Rencana Jangka Menengah Nasional
         dengan Rencana Jangka Menengah Daerah Provinsi Sulawesi Tenggara,
         agar visi, misi, tujuan dan sasaran Rencana Jangka Menengah Nasional dan
         Rencana Jangka panjang Nasional membumi ke daerah-daerah provinsi.
      2. Pemerintah pusat dan pemerintah daerah provinsi terus meningkatkan
         koordinasi dan konsultasi dalam penyusunan, pelaksanaan dan pengawasan
         pelaksanaan      pembangunan     secara   efektif,   efisien,   transparan,   dan
         akuntabel secara berkelanjutan sehingga tidak terjadi timpang tidis kegiatan
         dan pembiayaan pada lokasi tertentu..
      3. Pemerintah pusat dan pemerintah daerah provinsi terus meningkatkan
         kualiatas     sumberdaya     aparatur   untuk    melaksanakan        tugas    dan
         tanggungjawab secara efektif, efisien, transparan, dan akuntabel secara
         berkelanjutan sehingga dalam implementasi pelaksanaan kegiatan tidak
         salah proses/urus dan salah sasaran.
      4. Pemerintah pusat dan pemerintah daerah provinsi perlu meningkatkan
         kerjasama yang solid dalam hal penegakan hukum, pemberatasan pratek
         Kolusi,     Korupsi   dan   Nepotisme   (KKN)    dan    pengendalian     dampak
         lingkungan.
      5. Pemerintah pusat dan pemerintah daerah provinsi perlu meningkatkan
         kerjasama yang solid dan trasnparan dalam hal pengelolaan keuangan
         Negara dan daerah agar dalam penggunaan keuangan menjadi efektif,
         efisien, transpara dan akuntabel.
      6. Program Evaluasi Kinerja Pembanguna Daerah yang dilaksanakan oleh
         Badan Perencanaan Pembangunan Nasional ini perlu dilakukan secara
         berkelanjutan dengan memperhatikan tingkat kewajaran pembiayaan
         berdasarkan kondisi geografi dan social masyarakat di setiap daerah.
      7. Pemerintah pusat dalam menyusun rencana Evaluasi Kinerja Pembangunan
         Daerah perlu melakukan koordinasi yang memadai dengan pemerintah
         daerah sehingga tidak menyulitkan Tim EKPD dalam pengumpulan data
         yang diperlukan.




 
                                           110
                    Laporan Akhir EKPD Provinsi Sultra  2010 
 


                               DAFTAR PUSTAKA

BPS. 2005. Sulawesi Tengara Dalam Angka.

BPS. 2006. Sulawesi Tengara Dalam Angka.

BPS. 2007. Sulawesi Tengara Dalam Angka.

BPS. 2008. Sulawesi Tengara Dalam Angka

BPS. 2009. Sulawesi Tengara Dalam Angka

Bappeda, 2008. Rencana Pembangunan Jangka Menengah             Daerah (RPJMD)
          Provinsi Sulawesi Tenggara. Kendari

BKKBN, 2008. Laporan Akuntabilitas   Kinerja Pemerintah Badan Koordinasi
         Keluarga Berencana Nasional Sulawesi Tenggara.Kendari

Dwiyanto, Agus (Editor).2006. Mewujudkan Good Governance Melalui Pelayanan
           Publik. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

Diknas, 2008. Laporan Akuntabilitas Kinerja Pemerintah Dinas Pendidikan Nasional
            Sulawesi Tenggara. Kendari

Dinkes, 2008. Laporan Akuntabilitas Kinerja Pemerintah Dinas Kesehatan Sulawesi
            Tenggara Kendari
.
Dinkes, 2009. Profil Kesehatan. Dinas Kesehatan Sulawesi Tenggara. Kendari

Kuncoro. M. 2000. Ekonomi Pembangunan; Teori, Masalah dan Kebijakan.

Mardiasmo.2002. Otonomi & Manajemen Keuangan Daerah: Good Governance,
           Democratization, Tranparancy, Public Policy. Yogyakarta: Andi.

    Perpres.RI. No. 5 Tahun 2010. Tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah
                Nasional (RPJMN) 2010-2014

Siagian, S.P. 1998. Administrasi Pembangunan. Jakarta: CV. Haji Masagung.

T. Bintoro. 2000. Good Governance: Paradigma Baru Manajemen Pembangunan.
             Jakarta: U.I. Press.

T. Bintoro & Mustopadidjaja. 1998. Teori dan Strategi Pembangunan Nasional.
            Jakarta: Gunung Agung.

T. Moeljiarto. 1993. Politik Pembangunan Sebuah Analisis, Konsep, Arah dan
             Strategi. Yogyakarta: PT. Tiara Wacana.

Local Governance Assessment: A Case Study at Kabupaten Klaten. Yogyakarta:
           Master in Public Policy and Administration Program UGM. 2006.




 
                                      111

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:4548
posted:12/13/2010
language:Malay
pages:119