Docstoc

PERAN MEDIA KOMUNIKASI DALAM PEMBANGUNAN PETERNAKAN

Document Sample
PERAN MEDIA KOMUNIKASI DALAM PEMBANGUNAN PETERNAKAN Powered By Docstoc
					PERAN MEDIA KOMUNIKASI DALAM

  PEMBANGUNAN PETERNAKAN




              Oleh :

            Jerisco M S

           200110080109




       FAKULTAS PETERNAKAN

      UNIVERSITAS PADJADJARAN

            SUMEDANG

               2010
                                     BAB 1

                               PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

        Sektor pertanian merupakan sektor penting dalam struktur perekonomian
nasional. Pada tahun 2003 sektor pertanian mampu menyerap 46 persen tenaga
kerja. Karena itu, adalah wajar bila sektor pertanian dijadikan sebagai penggerak
utama (prime mover) pembangunan nasional. Disamping mampu menghasilkan
bahan pangan untuk kebutuhan pokok yang murah, bergizi tinggi dan terjangkau,
sektor pertanian juga telah berperan penting sebagai sumber pendapatan, sebagai
bentuk investasi dan menyediakan lapangan kerja.

        Konstribusi sektor pertanian terhadap pendapatan domestik brutto (PDB)
riil tahun 2003 adalah sebesar 15,83 persen, berada di bawah sektor industri
(26,07 persen) dan perdagangan (15,95 persen). Angka tersebut menujukkan
betapa urgennya dan strategisnya sektor pertanian dalam pembanguan nasional.

        Sub sektor peternakan memainkan peran penting dalam pembangunan
pertanian. Kontribusi sub-sektor peternakan terhadap sektor pertanian dan produk
domestik brutto pada tahun 2001 masing-masing adalah 11% dan 1,9% (Utoyo,
2002). Karenanya tidaklah mengherankan jika sub sektor peternakan diharapkan
sebagai sektor pertumbuhan baru, baik dalam bidang pertanian maupun
pertumbuhan ekonomi nasional. Cukup signifikannya sumbangan sub sektor
peternakan antara lain disebabkan oleh jumlah populasi tenak yang besar,
pemilikannya yang sangat luas dan peranannya yang multiguna.

       Komoditi peternakan dikenal sebagai komoditi yang memiliki banyak
manfaat. Produk utama ternak (daging, susu dan telur) merupakan sumber bahan
pangan yang bergizi tinggi dan dikonsumsi anggota rumah tangga. Ternak
berperan penting dalam program ketahanan pangan rumah tangga petani, terutama
bagi petani ternak di pedesaan. Sebagian ternak juga menghasilkan tenaga yang
dapat digunakan dalam mengolah lahan pertanian.

       Ternak juga berperan sebagai sumber uang tunai, sebagai sumber
pendapatan dan sebagai salah satu bentuk investasi (tabungan hidup) yang dapat
diuangkan sewaktu dibutuhkan. Ternak juga bermanfaat dalam kegiatan
keagamaan: misalnya pelaksanaan ibadah qurban tentu juga membutuhkan ternak
sapi, domba ataupun kambing. Ternak lokal tersebut tidak hanya pemilikannya
yang tersebar luas di tangan petani pedesaan, juga telah berperan penting dalam
masa krisis ekonomi.
       Kemajuan dalam sub sektor peternakan tidak hanya ditunjang oleh
peternak itu sendiri, tetapi juga komponen-komponen pendukung penyebaran
informasi mengenai peternakan itu sendiri seperti media informasi yang diperoleh
untuk menunjang kemajuan sub sector peternakan.



1.2 Permasalahan

        Petenakan dalam kemajuannya tak luput dari permasalahan –
permasalahan yang ada.Permasalahan sekaligus yang sedang dan akan dihadapi
dalam sub sector peternakan adalah semakin bertambahnya kebutuhan pangan
berkaitan dengan produk ternak, tuntutan peningkatan kualitas dan kontinuitas
produk peternakan yang benar-benar memiliki keunggulan dan daya saing
tinggi.Tingkat pengetahuan, ketrampilan dan kemampuan sebagian besar peternak
kecil masih kurang, sehingga dalam pengelolaan usahanya masih banyak yang
kurang intensif dan hanya sebagai usaha sambilan Issue nasional tentang wabah
penyakit flu burung , penyakit anthrax dan formalin memberikan dampak negative
terhadap :

• Produk peternakan ( daging, susu, telor ) : Permintaan dan Nilai jualnya
menurun, sehingga peternak mengalami kerugian .

• Keresahan masyarakat konsumen karena takut tertular atau takut dampak negatif
formalin terhadap kesehatan tubuh.

       Adanya issue nasional, informasi tentang kemajuan teknologi peternakan,
tak lepas dari peran pers sebagai media komunikasi. Yang menjadi pertanyaan
adalah, sejauh mana pers berperan aktif dalam pembangunan dalam bidang
peternakan?
                                    BAB II

                             KERANGKA TEORI



       Pers adalah lembaga sosial (social institution) atau lembaga
kemasyarakatan yang merupakan subsistem dari system pemerintahan di negara
dimana ia beroperasi, bersama-sam dengan subsistem lainnya.Ditinjau dari teori
system, pers merupakan system terbuka yang probabilistic. Terbuka artinya
bahwa pers tidak bebas dari pengaruh lingkungan , tetapi di pihak lain pers juga
mempengaruhi lingkungan probabilistic berarti hasil operasinya juga tidak dapat
diduga secara pasti.

        Pers di Indonesia menganut system khas Indonesia yaitu pers Pancasila
yang oleh Dewan pers dalam sidangnya ke-25 didefinisikan sebagai “pers yang
orientasi, dan sikap dan tingkah lakunya berdasarkan nilai-nilai Pancasila dan
Undang-undang Dasar 1945”.Fungsi,tugas dan kewajiban pers tercantum dalam
Undang-undang RI nomor 21 tahun 1982 pasal 2 yang berbunyi sebagai berikut:

(1) Pers nasional adalah alat Perjuangan nasional dan merupakan mass media
yang bersifat aktif, dinamis kreatif, edukatif informatoris dan mempunyai fungsi
kemasyarakatan pendorong dan pemupuk daya piker kritis dan progresif meliputi
segala perwujudan kehidupan masyarakat Indonesia.

(2) Pers Nasional bertugas dan berkewajiban :

• Melestarikan dan memasyarakatkan Pancasila sebagaimana termaktub dalam
pembukaan Undang-undang dengan pedoman penghayatan pancasila.

• Memperjuangkan pelaksanaan amanat penderitaan rakyat berlandaskan
demokrasi pancasila.

• Memperjuangkan kebenaran dan keadilan atas dasar kebebasan pers yang
bertanggung jawab.

• Menggelorakan semangat pengabdian perjuangan bangsa , memperkokoh
persatuan dan kesatuan nasional, mempertebal rasa tanggung jawab dan disiplin
nasional, membantu serta menggairahkan partisipasi rakyat dalam pembangunan.

• Memperjuangkan terwujudnya tata internasional baru di bidang Informasi dan
Komunikasi atas dasar kepentingan Nasional dan percaya kepad kekuatan diri
sendiri dalam menjamin kerja sama Regional dan internasional khusunya di
bidang pers.
(3) Dalam rangka meningkatkan peranannya dalam pembangunan, pers berfungsi
sebagai penyebar informasi yang objektif, menyalurkan aspirasi rakyat,
meluaskan komunikasi dan partisipasi masyarakat serta melakukan control sosila
yang konstruktif. Dalam hal ini perlu dikembangkan interaksi positif antar
pemerintah, pers dan masyarakat.

       Pers Pancasila juga tidak menganut kebebasan positif seperti yang dianut
oleh system tanggung jawab social yang lahir dari konsep kemerdekaan positif,
yaitu bebas untuk, bebas untuk mencapai tujuan melalui pernyataan
pendapat.Yang dianut oleh pers pancasila bukan bebas dari dan bebas untuk,
melainkan bebas dan, yaitu bebas dan bertanggung jawab sebagaimana tercantum
dalam definisi pers pancasila.

        Pers sebagai media komunikasi massa adalah subsistem dari system social
yang kompleks.Karena merupakan subsystem sosial, maka pertautan
(relationship) unsure-unsur yang terlibat melalui pers menjadi komplek pula.

• Unsur pertama adalah lembaga per situ sendiri.Banyak pertautannya:
SIUPP,Ideologi Negara,Undang-undang Dasar Negara besrta undang-undang
yantg berkaitan dengan pers,pembiayaan perburuhan, dan lain sebagainya.

• Unsur kedua adalah komunikator yang terdiri dari wartawan dan anggota
masyarakat atau pejabat pemerintah penulis artikel, pengisi “ruang pembaca
penulis”, atau pemasang iklan.

• Unsur ketiga adalah pesan atau informasi yang harus disiarkan, disebabkan harus
universal, mengenai apa saja yang terdapat dan terjadi di bawah matahari; tentang
apa saja yang menarik perhatian dan memenuhi kepentingan pembaca.

• Unsur keempat adalah sasaran yang terdiri bukan saja dari masyarakat tetapi
juga pemerintah.Kompleksnya sasaran disebabkan keanekaragaman individu-
individu pembaca dalam hal kepentingan, cita-cita, kesenangan, status social,
jenis pekerjaan,umur,taraf pendidikan, tingkat kebudayaan, suku bangsa, agam,
dan juga umur.

        Semua unsur dengan segala factor yang bertautan dengannya merupakan
suatu totalitas, kait mengait tak terpisahkan. Wartawan bukan Saja komunikator,
juga anggota masyarakat.Pembaca bukan saja sasaran , ia juga
komunikator.Demikian         pula,      pemerintah    selain   sasaran    juga
komunikator.Jurnalistik pembangunan adalah jurnalistik yang membangun
masyarakat , pemerintah dan per situ sendiri. Yang mendasari suksesnya misi
jurnalistik pembangunan adalah factor saling percaya mempercayai diantara
ketiga dimensi tersebut.
                                     BAB III

                                PEMBAHASAN



        Faktor – faktor yang mendukung kemajuan dalam bidang peternakan
adalah kelancaran penyampaian informasi, seperti media komunikasi dan berbagai
penyuluhan.Secara umum, peran media pers adalah menyampaikan informasi.
Informasi yang bagaimana ? Dalam konteks pembangunan, jelas informasi yang
bermanfaat dan menjadi penunjang suksesnya pembangunan. Yaitu bermanfaat
bagi pelaku, pendukung maupun bagi masyarakat umum yang akan sama-sama
menikmati hasil dari proses pembangunan tersebut. Esensinya di sini, informasi
yang disampaikan, baik informasi berupa rangkaian peristiwa maupun informasi
mengenai capaian-capaian prestasi dari sebuah proses pembangunan, harus
membangun pemahaman masyarakat mengenai nilai positif pembangunan yang
tengah berlangsung dalam kehidupan bangsanya. Peran media pers adalah
mencerdaskan kehidupan bangsa. Peran ini dimungkinkan terkait dengan karakter
yang melekat pada lembaga ini (media pers), yaitu mengkomunikasikan gagasan-
gagasan, temuan-temuan, analisis-analisis – semuanya mengenai berbagai hal –
untuk dapat didiskusikan dan dirumuskan hasilnya, dan pada gilirannya boleh
diharapkan akan memperluas wawasan serta pengetahuan masyarakat yang hidup
di tengah-tengah arus terus berkembangnya ilmu dan teknologi dalam pergaulan
internasional. Membentuk pendapat umum (public opinion) adalah peran lain
yang melekat pada media pers. Peran ini tidak lepas dari kebijakan pemberitaan
(penyampaian informasi, penyaluran opini, dll) setiap media pers dengan pesan-
pesan tersiratnya yang dapat mempengaruhi pendapat serta sikap masyarakat
terhadap sesuatu isu atau kepentingan.

       Dengan kemampuannya ini tidak diragukan menjadikan media pers
sebagai salah satu pilar demokrasi – dengan titik berat menjadikan dirinya forum
untuk mengekspresikan pendapat masyarakat. Mengiringi perannya membentuk
pendapat umum, pers tidak kalah penting juga memiliki kapasitas melakukan
koreksi atau kritik atas sesuatu kebijakan atau keadaan. Peran ini dapat dilakukan,
dan masyarakat melihatnya sebagai misi, berdasar negara kerja pers yang terbiasa
melakukan investigasi dan pengkajian bersifat kritis terhadap setiap masalah.
Peran melakukan koreksi dan menyampaikan kritik tak lepas dari posisi pers
sebagai lembaga yang bersifat negara dent. Dengan menyebutkan sejumlah peran
media pers sebagaimana digambarkan di atas, masih juga ditambahkan sederetan
peran lain yang dapat dilakukan lembaga ini, -- sebut saja misalnya peran
melakukan peringatan dini (early warning), melakukan pencerahan, sebagai agen
pembaharuan, dan lain-lain, yang semuanya itu terkait dengan tanggungjawab
media pers dalam ikut mensukseskan pembangunan di berbagai lapangan.

        Lalu, dimana peranan Pers Peternakan? Harus diakui, pers peternakan
berada pada tataran praktis, berada di kalangan pembaca yang terbatas, dan pada
umumnya untuk mereka yang terlibat pada kegiatan produksi (peternakan) :
peternak, pengusaha sarana produksi peternakan, jajaran departemen teknis
pertanian/peternakan, mahasiswa peternakan/kedokteran hewan, peneliti dibidang
peternakan. Paling hanya itu! Sehingga pers peternakan memang lebih sebagai
media penyuluh pertanian/peternakan. Sungguhpun begitu, keberadaan media
peternakan bukannya tidak penting bagi komunitas tersebut. Apalagi seperti
disebutkan di atas, usaha peternakan telah mencapai tahap industri. Sehingga
sebagai media penyampai informasi dan pembentuk opini negara tetap sangat
penting – setidaknya bagi komunitas produsen tersebut. Dalam kaitannya dengan
era pasar bebas – apakah itu WTO ataukah „pakta‟ ASEAN – CINA yang baru
terbentuk, media pers peternakan hendaknya memberi pencerahan, tidak malah
latah, maunya ikut memprovokasi agar meningkatkan daya saing, tapi malah
menakut-nakuti. Bukankah sebelum WTO disepakati produk-produk dari manca
negara telah merambah di dalam negeri? Bukankah sebelum kesepakatan ASEAN
– Cina 2010 produk-produk Cina telah membanjiri pasar dalam negeri? Ya, untuk
dapat memanfaatkan sebaik-baiknya era pasar bebas, tidak ada jalan lain kecuali
meningkatkan daya saing industri di dalam negeri, tapi konsentrasi pada
pemenuhan kebutuhan pasar di dalam negeri juga tidak terlalu salah Cina pada
awalnya pastilah berkonsentrasi memenuhi kebutuhan pangan rakyatnya yang ± 1
milyar itu, kemudian setelah surplus baru menggelinding dengan sendirinya
sebagai eksportir. Sebagai contoh, rakyat Cina dari dulu sampai sekarang sangat
menyukai cakar ayam dan sayap, sampai sekarang pula impor Cina untuk kedua
jenis potongan ayam ini sangat tinggi. Tetapi, Cina pastilah berpikir, agar
agroindustri peternakannya tidak ambruk dan neraca perdagangannya sehat, maka
ekspor potongan ayam yang lain harus dilakukan secara gencar pula – sebagai
negara ekspor daging dada-nya yang juga tinggi.Kecukupan protein nabati dan
hewani rakyat Thailand sudah pasti mendorong Negeri Gajah Putih ini menjadi
eksportir produk pertaniannya. Amerika Serikat saja untuk produk unggas lebih
80% untuk pasar domestiknya. Jadi, untuk Indonesia bagaimana? Penuhi dulu
kebutuhan dalam negeri, cukupi pangan & gizi 120 juta rakyat Indonesia – secara
adil dan merata. Tingkatkan konsumsi protein hewani asal ternak, maka akan
tercipta pola pengembangan dan budidaya peternakan nasional. Kita butuh sebuah
blue print sehingga tahu arah. Katakanlah, agribisnis peternakan ini akan kita
desain dengan sasaran utama yakni mencukupi kebutuhan protein hewani rakyat
Indonesia. Kemudian melihat pertumbuhan peternakan negara lain yang demikian
cepat, dan negara kita merupakan potensi pasar yang selalu diincar, maka
pelaksanaan konsep pembangunan peternakan di dalam negeri perlu akselerasi.
Segala distorsi ekonomi harus dihilangkan, dan kita harus berpikir efisien. Sebab
itu jangan dipolitisasi, jangan dipertentangkan antara besar dengan yang kecil,
karena kita akan berbicara ekonomis dan tidak ekonomis. Kalau harus besar baru
ekonomis, maka kita harus berpikir menjadi besar. Dengan begitu, akhirnya
muncul solusi untuk menjadi besar itu dari yang kecil-kecil. Barangkali dengan
bersatu, berkelompok atau berkoperasi.
                                    BAB IV

                         KESIMPULAN DAN SARAN



• Banyak factor yang mendukung kemajuan bidang peternakan, di antaranya
adalah media komunikasi sebagai penyampai informasi kepada peternak. Namun
kemajuan media tidaklah seimbang apabila juga tidak diikuti dengan kemampuan
dan pemahaman peternak dalam mengaplikasikan informasi yang diperoleh
tersebut. Oleh karena itu diperlukan adanya penyuluhan pada peternak dengan
pembinaan secara kontinyu untuk menggugah peranan partisipasi peternak
terhadap usaha yang dimilikinya.

• Masih perlu ditambahkan pelatihan untuk meningkatkan kemampuan SDM
peternak secara periodik. Untuk memfasilitasi kegiatan tersebut perlu adanya
dukungan kegiatan berupa penyuluhan massal, pelatihan, demplot/kaji terap, studi
banding dan bantuan stimulan yang memadai melalui media komunikasi dengan
adanya dukukungan kegiatan berupa penyuluhan masal, penyebaran brosur-
brosur, liflate, spanduk,baliho ,penyuluhan melalui media elektronik , temu wicara
/ sarasehan , bakti sosial dan lain – lainya sehingga terlaksana gerakan
penggulangan partisipatif di seluruh masyarakat.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:2132
posted:12/12/2010
language:Indonesian
pages:9