hukum pertumbuhan dan perkembangan

Shared by: kmutiah4
Categories
Tags
-
Stats
views:
9753
posted:
12/11/2010
language:
Indonesian
pages:
23
Document Sample
scope of work template
							                                      BAB I

                                PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

       Selama rentang kehidupan manusia, telah terjadi banyak pertumbuhan dan
perkembangan dari mulai lahir sampai meninggal dunia. Dari semua fase
perkembangan manusia tersebut, salah satu yang paling penting dan paling menjadi
pusat perhatian adalah masa remaja. Para orang tua, pendidik, dan para tenaga
professional lainnya mencoba untuk menerangkan dan melakukan pendekatan yang
efektif untuk menangani para remaja ini. Lalu ada apakah di masa remaja ini?
Seberapa besarkah pentingnya untuk menangani masa remaja dan seberapa besar
pengaruhnya untuk kehidupan dimasa depan individu tersebut?

       Masa remaja yang dimaksudkan merupakan periode transisi antara masa anak-
anak dan masa dewasa. Batasan usianya tidak ditentukan dengan jelas, sehingga
banyak ahli yang berbeda dalam penentuan rentang usianya. Namun, secara umum
dapat dikatakan bahwa masa remaja berawal dari usia 12 sampai dengan akhir usia
belasan ketika pertumbuhan fisik hampir lengkap.

B. Rumusan Masalah


   1. Apa pengertian pertumbuhan dan perkembangan psiko-fisik?
   2. Apa faktor-faktor yang berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan
       Psiko-Fisik?
   3. Apa hukum dan tugas-tugas perkembangan?
   4. Bagaimana karakteristik pertumbuhan dan perkembangan remaja?
   5. Apa saja jenis-jenis kebutuhan remaja dan bagaimana cara pemenuhannya?


C. Tujuan Masalah
   1. Untuk menjelaskan apa pengertian dari pertumbuhan dan perkembangan
       Psiko-Fisik.
   2. Untuk mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh terhadap pertumbuhan dan
       perkembangan Psiko-Fisik.
                                          1.
                                                                             2.
   3. Untuk mengetahui hukum dan tugas-tugas perkembangan.
   3. Untuk mengetahui karakteristik pertumbuhan dan perkembangan para remaja.
   4. Untuk mengetahui jenis-jenis kebutuhan remaja dan cara pemenuhannya.


D. Sistematika Penulisan

       Pada Bab I berisi Latar belakang Masalah, Rumusan masalah, Tujuan
Masalah, dan Sistematika Penulisan. Pada Bab II adalah Pembahasan yang berisi
Pengertian Pertumbuhan dan Perkembangan, Tugas-Tugas Perkembangan, Hukum-
Hukum Pertumbuhan dan Perkembangan, Definisi Remaja untuk Masyarakat
Indonesia, Kebutuhan Remaja, Masalah, dan Konsekuensinya, Usaha-Usaha
Pemenuhan Kebutuhan Remaja dan Implikasinya dalam Penyelenggaraan Pendidikan.
Pada Bab III Penutup berisi Kesimpulan dan Saran.
                                        BAB II
               PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN REMAJA

A. Pengertian Pertumbuhan dan Perkembangan

        Dalam kehidupan anak ada dua proses yang beroperasi secara kontinu, yaitu
pertumbuhan dan perkembangan. Kedua proses ini tidak bisa dipisahkan dalam
bentuk-bentuk yang secara pilah berdiri sendiri-sendiri; akan tetapi bisa dibedakan
untuk maksud lebih memperjelas penggunaannya.

        Pertumbuhan berkaitan dengan perubahan kuantitatif yang menyangkut
peningkatan ukuran dan struktur biologis. Pertumbuhan adalah perubahan secara
fisiologis sebagai hasil dari proses pematangan fungsi-fungsi fisik yang berlangsung
secara normal pada anak         yang sehat, dalam perjalanan waktu           tertentu.
Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan yang kurang normal pada organisme
ada bermacam-macam, yaitu:

Pertama, faktor-faktor yang terjadi sebelum lahir. Misal: kekurangan nutrisi pada ibu
dan janin; janin terkena virus, keracunan sewaktu bayi ada dalam kandungan, dan
lain-lain.

Kedua, faktor ketika lahir atau saat kelahiran. Faktor ini antara lain adalah
intracranial haemorage atau pendarahan pada bagian kepala bayi yang disebabkan
oleh tekanan dari dinding rahim ibu sewaktu ia dilahirkan dan oleh efek susunan saraf
pusat, karena proses kelahiran bayi dilakukan dengan bantuan tang (tangver-lossing).

Ketiga, faktor yang dialami bayi sesudah lahir, antara lain oleh karena pengalaman
traumatik pada kepala, kepala bagian dalam terluka karena kepala bayi (janin)
terpukul, atau mengalami serangan sinar matahari (zonnestiek).

Keempat, faktor psikologis antara lain oleh karena bayi ditinggalkan ibu, ayah atau
kedua orang tuanya. Sebab lain ialah anak-anak dititipkan pada suatu lembaga, seperti
rumah sakit, rumah yatim piatu, yayasan perawatan bayi, dan lain-lain.
Konsep perkembangan dikemukakan oleh Werner (1957) sebagai berikut:

                                         3.
                                                                                          4.

“Perkembangan    sejalan    dengan    prinsip     orthogenetis,     bahwa      perkembangan
berlangsung dari keadaan global dan kurang berdiferensiasi sampai ke keadaan
dimana diferensiasi, artikulasi, dan integrasi meningkat secara bertahap.” Proses
diferensiasi itu diartikan sebagai prinsip totalitas pada diri anak; bahwa dari
penghayatan totalitas itu lambat laun bagian-bagiannya menjadi semakin semakin
nyata dan bertambah jelas dalam kerangka keseluruhan.

       Menurut Nagel (1957), perkembangan merupakan pengertian dimana terdapat
struktur yang terorganisasikan dan mempunyai fungsi-fungsi tertentu, oleh karena itu
bilamana terjadi perubahan struktur baik dalam organisasi maupun dalam bentuk,
akan mengakibatkan perubahan fungsi.

       Menurut Schneirla (1957), perkembangan adalah perubahan-perubahan
progresif dalam organisasi organisme, dan organisme ini dilihat sebagai sistem
fungsional dan adaptif sepanjang hidupnya. Perubahan-perubahan progresif ini
meliputi dua faktor yakni kematangan dan pengalaman.

       Spiker   (1966)     mengemukakan         dua    macam      pengertian    yang   harus
dihubungkan dengan perkembangan, yakni:

1) Ortogenetik, yang berhubungan dengan perkembangan sejak terbentuknya
individu yang baru dan seterusnya sampai dewasa.

2) Filogenetik, yakni perkembangan dari asal-usul manusia sampai sekarang ini.
Perkembangan perubahan fungsi sepanjang masa hidupnya menyebabkan perubahan
tingkah laku dan perubahan ini juga terjadi sejak permulaan adanya manusia. Jadi
perkembangan ortogenetik mengarah ke suatu tujuan khusus sejalan dengan
perkembangan     evolusi    yang     mengarah         kepada   kesempurnaan        manusia.
Bijou dan Baer (1961) mengemukakan perkembangan psikologis adalah perubahan
progresif yang menunjukkan cara organisme bertingkah laku dan berinteraksi dengan
lingkungan.

       Rumusan lain tentang arti perkembangan dikemukakan oleh Libert, Paulus,
dan Strauss (Singgih, 1990: 31), yaitu bahwa: “Perkembangan adalah proses
                                                                                    5.

perubahan dalam pertumbuhan pada suatu waktu sebagai fungsi kematangan dan
interaksi dengan lingkungan.”

       Perkembangan dapat juga dilukiskan sebagai suatu proses yang kekal dan
tetap yang menuju ke arah suatu organisasi pada tingkat integrasi yang lebih tinggi,
berdasarkan proses pertumbuhan, kematangan, dan belajar (Monks, 1984: 2)
Perubahan-perubahan meliputi beberapa aspek, baik fisik maupun psikis. Perubahan
tersebut dapat dibagi menjadi 4 kategori utama:

1. Perubahan dalam Ukuran
   Perubahan dapat berbentuk pertambahan ukuran panjang atau tinggi maupun berat
   badan.

2. Perubahan dalam Perbandingan
   Dilihat dari sudut fisik terjadi perubahan proporsional antara kepala, anggota
   badan, dan anggota gerak. Perubahan secara proporsional juga terjadi pada
   perkembangan mental. Perbandingan antara yang tidak riil, yang khayal dengan
   hal-hal yang rasional semakin lama semakin besar.

3. Berubah untuk Mengganti Hal-Hal yang Lama
   Kebiasaan untuk melakukan sesuatu tanpa bisa menahan diri dan menunda emosi
   sedikit demi sedikit akan hilang. Kebiasaan bayi untuk merangkak kalau
   mengambil sesuatu akan menghilang sesuai dengan meningkatnya kemampuan-
   kemampuan motorik dan berganti dengan jalan.

4. Berubah untuk Memperoleh Hal-Hal yang Baru
   Banyak hal yang baru diperoleh selama perkembangan sesuai dengan keadaan dan
   tingkatan/tahapan perkembangannya. Ketika dilahirkan, bayi belum mempunyai
   gigi dan beberapa waktu kemudian (kalau sudah sampai waktunya atau umurnya)
   gigi tersebut akan tumbuh. Dengan demikian, bayi memperoleh atau menambah
   sesuatu yang baru yang sebelumnya belum ada atau belum dimiliki.
                                                                                   6.

B. Tugas-Tugas Perkembangan

       Perkembangan merupakan suatu proses yang menggambarkan perilaku
kehidupan sosial psikologi manusia pada posisi yang harmonis di dalam lingkungan
masyarakat yang lebih luas dan kompleks. Oleh Havighurst perkembangan tersebut
dinyatakan sebagai tugas yang harus dipelajari, dijalani, dan dikuasai oleh setiap
individu dalam perjalanan hidupnya, atau dengan perkataan lain perjalanan hidup
manusia ditandai dengan berbagai tugas perkembangan yang harus ditempuh.

       Havighurst (Garrison, 1956: 14-15) mengemukakan 10 jenis tugas
perkembangan remaja, yaitu:

1) mencapai hubungan dengan teman lawan jenisnya secara lebih memuaskan dan
matang;
2) mencapai perasaan seks dewasa yang diterima secara sosial;
3) menerima keadaan badannya dan menggunakannya secara efektif;
4) mencapai kebebasan emosional dari orang dewasa;
5) mencapai kebebasan ekonomi;
6) memilih dan menyiapkan suatu pekerjaan;
7) menyiapkan perkawinan dan kehidupan berkeluarga; mengembangkan
keterampilan dan konsep intelektual yang perlu bagi warga negara yang kompeten;
9) menginginkan dan mencapai tingkah laku yang bertanggung jawab secara sosial;
dan
10) menggapai suatu perangkat nilai yang digunakan sebagai pedoman tingkah laku.

C. Hukum-Hukum Pertumbuhan dan Perkembangan

       Bagi setiap makhluk hidup, sejak kelahirannya dan dalam menjalani
kehidupan seterusnya terdapat dasar-dasar dan pola-pola kehidupan yang berlaku
umum sesuai dengan jenisnya. Di samping itu terdapat pula pola-pola yang berlaku
khusus sehubungan dengan sifat-sifat individualnya. Pola kehidupan yang
dimaksudkan bisa dipergunakan sebagai patokan untuk mengenal ciri perkembangan
                                                                                           7.

anak-anak. Lingkungan dan latar belakang kebudayaan masing-masing bangsa
mempengaruhi pola pertumbuhan dan perkembangan bangsa itu.

   Hukum-hukum perkembangan itu antara lain:
1. Hukum Cephalocoudal

       Hukum ini berlaku pada pertumbuhan fisik yang menyatakan bahwa
pertumbuhan fisik dimulai dari kepala ke arah kaki. Bagian-bagian pada kepala
tumbuh lebih dahulu daripada bagian-bagian lain. Hal ini sudah terlihat pada
pertumbuhan pranatal, yaitu pada janin. Seorang bayi yang baru dilahirkan
mempunyai bagian-bagian dan alat-alat pada kepala yang lebih "matang" daripada
bagian-bagian tubuh lainnya. Bayi bisa menggunakan mulut dan matanya lebih cepat
daripada anggota badan lainnya. Baik pada masa perkembangan pranatal, neonatal,
rnaupun anak-anak, proporsi bagian kepala dengan rangka batang tubuhnya mula-
mula kecil dan makin lama perbandingan ini makin besar.

2. Hukum Proximodistal

       Hukum Proximodistal adalah hukum yang berlaku pada pertumbuhan fisik,
dan menurut hukum ini pertumbuhan fisik berpusat pada sumbu dan mengarah ke
tepi. Alat-alat tubuh yang terdapat di pusat, seperti jantung, hati, dan alat-alat
pencernaan lebih dahulu berfungsi daripada anggota tubuh yang ada di tepi. Hal ini
tentu saja karena alat-alat tubuh yang terdapat pada daerah pusat itu lebih vital
daripada misalnya anggota gerak seperti tangan dan kaki. Anak masih bisa me-
langsungkan kehidupannya bila terjadi kelainan-kelainan pada anggota gerak, akan
tetapi bila terjadi kelainan sedikit saja pada jantung atau ginjal bisa berakibat fatal.

3. Perkembangan Terjadi dari Umum ke Khusus

       Pada setiap aspek terjadi proses perkembangan yang dimulai dari hal-hal yang
umum, kemudian secara sedikit demi sedikit meningkat ke hal-hal yang khusus.
Terjadi proses diferensiasi seperti dikemukakan oleh Werner. Anak lebih dahulu
mampu menggerakkan lengan atas, lengan bawah, tepuk tangan terlebih dahulu
daripada menggerakkan jari-jari tangannya.
                                                                                    8.

4. Perkembangan Berlangsung dalam Tahapan-Tahapan Perkembangan

       Dalam perkembangan terjadi penahapan yang terbagi-bagi ke dalam masa-
masa perkembangan. Pada setiap masa perkembangan terdapat ciri-ciri perkembangan
yang berbeda antara ciri-ciri yang ada pada suatu masa perkembangan dengan ciri-ciri
yang ada pada masa perkembangan yang lain.

       Ada aspek-aspek tertentu yang tidak berkembang dan tidak meningkat lagi,
yang hal ini disebut fiksasi. Aspek intelek pada anak-anak tertentu yang memang
secara konstitusional terbatas, pada suatu saat akan relatif berhenti, tidak bisa atau
sulit berkembang dan dikembangkan.

       Contoh penahapan dalam perkembangan manusia itu antara lain meliputi:
masa pra-lahir, masa jabang bayi (0 – 2 minggu), masa bayi (2 minggu – 1 tahun),
masa anak pra-sekolah (1 – 5 tahun), masa sekolah (6 – 12 tahun), masa remaja (13 –
21 tahun), masa dewasa (21 – 65 tahun), dan masa tua (65 tahun ke atas).

5. Hukum Tempo dan Ritme Perkembangan

       Tahapan perkembangan berlangsung secara berurutan, terus-menerus dan
dalam tempo perkembangan yang relatif tetap serta bisa berlaku umum. Justru
perbedaan-perbedaan waktu, yaitu cepat-lambatnya sesuatu penahapan perkembangan
terjadi, atau sesuatu masa perkembangan dijalani, menampilkan adanya perbedaan-
perbedaan individu.

       Dalam praktek sering terlihat dua hal sebagai petunjuk keterlambatan pada
keseluruhan perkembangan mental, yakni:

a) Jika perkembangan kemampuan fisiknya untuk berjalan jauh tertinggal dari
patokan umum, tanpa ada sebab khusus pada fungsionalitas fisiknya yang terganggu.
b) Jika perkembangan kemampuan berbicara sangat terlambat dibandingkan dengan
anak-anak lain pada masa perkembangan yang sama. Seorang anak yang pada umur
empat tahun misalnya masih mengalami kesulitan dalam berbicara, mengemukakan
                                                                                   9.

sesuatu dan terbatas perbendaharaan kata, mudah diramalkan anak itu akan
mengalami kelambatan pada seluruh aspek perkembangannya.

6. Hukum Konvergensi Perkembangan

       Pandangan pendidikan tradisional di masa lalu berpendapat bahwa hasil
pendidikan yang dicapai anak selalu di hubung-hubungkan dengan status pendidikan
orang tuanya. Menurut kenyataan yang ada sekarang ternyata bahwa pendapat lama
itu tidak sesuai lagi dengan keadaan. Pandangan lama ini dikuasai oleh aliran
nativisme yang dipelopori Schopen Hauer yang berpendapat bahwa manusia adalah
hasil bentukan dari pembawaan.

7. Hukum Rekapitulasi

       Perkembangan jiwa anak adalah ulangan kembali secara singkat dari
perkembangan manusia di dunia dari masa berburu hingga masa industri. Teori ini
berlangsung dengan lambat secara berabad-abad. Jika pengertian rekapitulasi ini
ditransfer ke psikologi perkembangan, dapat dikatakan bahwa perkembangan jiwa
anak mengalami ulangan ringkas dari sejarah kehidupan umat manusia.

       Selanjutnya hukum rekapitulasi ini membagi masa seorang anak itu mejadi 4
masa, yaitu:

      Masa memburu dan menyamun

Masa ini dialami ketika anak berusia sekitar 8 tahun. Tanda-tandanya, misalnya anak
senang menangkap-nangkap dalam permainannya, memanah dan menembaki
binatang. Dan tanda-tanda yang lainnya adalah misalnya, senang bermain kejar-
kejaran, perang-perangan, dan bermain panah-panahan.

      Masa menggembala

Masa ini dialami ketika anak berusia sekitar 10 tahun. Tanda-tandanya misalnya, anak
senang memelihara binatang seperti ayam, kambing, kelinci, dan sebagainya.
                                                                                     10.

      Masa bercocok tanam

Masa ini dialami anak ketika ia berusia sekitar 12 tahun. Tanda-tandanya misalnya,
senang berkebun dan menyiram kembang.

      Masa berdagang

Masa ini dialami anak ketika ia berusia sekitar 14 tahun. Tanda-tandanya misalnya,
senang bertukar-tukaran perangko dengan teman, berkirim-kiriman foto dengan
sesama sahabat pena, dan lain sebagainya.

D. Remaja: Karakteristik Pertumbuhan dan Perkembangannya

       Remaja itu sulit didefinisikan secara mutlak. Oleh karena itu, dicoba untuk
memahami remaja menurut berbagai sudut pandangan, antara lain menurut hukum,
perkembangan fisik, WHO, sosial psikologi, dan pengertian remaja menurut
pandangan masyarakat Indonesia.

1. Remaja Menurut Hukum

       Dalam    hubungan    dengan    hukum,    tampaknya    hanya   undang-undang
perkawinan saja yang mengenal konsep “remaja” walaupun tidak secara terbuka. Usia
minimal untuk suatu perkawinan menurut undang-undang disebutkan 16 tahun untuk
wanita dan 19 tahun untuk pria (Pasal 7 Undang-Undang No.1/1974 tentang
Perkawinan).

2. Remaja Ditinjau dari Sudut Perkembangan Fisik

       Dalam ilmu kedokteran dan ilmu-ilmu lain yang terkait, remaja dikenal
sebagai suatu tahap perkembangan fisik dimana alat-alat kelamin manusia mencapai
kematangannya. Masa pematangan fisik ini berjalan kurang lebih 2 tahun dan
biasanya dihitung mulai menstruasi (haid) pertama pada anak wanita atau sejak anak
pria mengalami mimpi basah (mengeluarkan air mani pada waktu tidur) yang pertama
kali. Khusus berkaitan dengan kematangan seksual merangsang remaja untuk
memperoleh kepuasan seksual. Hal ini dapat menimbulkan gejala onani atau
                                                                                   11.

masturbasi. Kartini Kartono (1990: 217) memandang gejala onani ini sebagai
tindakan remaja yang negatif, karena gejala ini merupakan usaha untuk mendapatkan
kepuasan seksual yang semu (penodaan diri).

3. Batasan Remaja Menurut WHO

       Remaja adalah suatu masa pertumbuhan dan perkembangan dimana:
1) Individu berkembang dari saat pertama kali ia menunjukkan tanda-tanda seksual
sekundernya sampai saat ia mencapai kematangan seksual.
2) Individu mengalami perkembangan psikologi dan pola identifikasi dari kanak-
kanak menjadi dewasa.
3) Terjadi peralihan dari ketergantungan sosial-ekonomi yang penuh kepada keadaan
yang relatif lebih mandiri (Muangman, yang dikutip oleh Sarlito, 1991: 9)

4. Remaja Ditinjau dari Faktor Sosial Psikologis

       Salah satu ciri remaja di samping tanda-tanda seksualnya adalah:
“Perkembangan psikologis dan pada identifikasi dari kanak-kanak menjadi dewasa”.
Puncak perkembangan jiwa itu ditandai dengan adanya proses perubahan dari kondisi
“entropy” ke kondisi “negen-tropy” (Sarlito, 1991: 11).

       Entropy adalah keadaan dimana kesadaran manusia masih belum tersusun
rapi. Walaupun isinya sudah banyak (pengetahuan, perasaan, dan sebagainya), namun
isi-isi tersebut belum saling terkait dengan baik, sehingga belum bisa berfungsi secara
maksimal. Isi kesadaran masih saling bertentangan, saling tidak berhubungan
sehingga mengurangi kerjanya dan menimbulkan pengalaman yang kurang
menyenangkan buat orang yang bersangkutan.

       Negentropy adalah keadaan dimana isi kesadaran tersusun dengan baik,
pengetahuan yang satu terkait dengan perasaan atau sikap. Orang dalam keadaan
negentropy ini merasa dirinya sebagai kesatuan yang utuh dan bisa bertindak dengan
tujuan yang jelas, ia tidak perlu dibimbing lagi untuk bisa mempunyai tanggung
jawab dan semangat kerja yang tinggi.
                                                                                     12.

5. Definisi Remaja untuk Masyarakat Indonesia

       Menurut Sarlito (1991), tidak ada profil remaja Indonesia yang seragam dan
berlaku secara nasional. Masalahnya adalah karena Indonesia terdiri dari berbagai
macam suku, adat dan tingkatan sosial-ekonomi, maupun pendidikan. Sebagai
pedoman umum untuk remaja Indonesia dapat digunakan batasan usia 11 – 24 tahun
dan belum menikah. Pertimbangan-pertimbangannya adalah sebagai berikut:

1) Usia 11 tahun adalah usia dimana pada umumnya tanda-tanda seksual sekunder
mulai tampak (kriteria fisik).
2) Di banyak masyarakat Indonesia, usia 11 tahun sudah dianggap akil balik, baik
menurut adat maupun agama, sehingga masyarakat tidak lagi mempermalukan mereka
sebagai anak-anak (kriteria sosial).
3) Pada usia tersebut mulai ada tanda-tanda penyempurnaan perkembangan jiwa
seperti tercapainya identitas diri, tercapainya fase genital dari perkembangan kognitif
maupun moral.
4) Batas usia 24 tahun merupakan batas maksimal, yaitu untuk memberi peluang bagi
mereka yang sampai batas usia tersebut masih menggantungkan diri pada orang lain,
belum mempunyai hak-hak penuh sebagai orang dewasa (secara tradisi).
5) Status perkawinan sangat menentukan, karena arti perkawinan masih sangat
penting di masyarakat Indonesia secara menyeluruh. Seorang yang sudah menikah
pada usia berapa pun dianggap dan diperlakukan sebagai orang dewasa penuh, baik
secara hukum maupun dalam kehidupan masyarakat dan keluarga.

       WHO menetapkan batas usia 19-20 tahun sebagai batasan usia remaja. WHO
menyatakan walaupun definisi di atas terutama didasarkan pada usia kesuburan
wanita, batasan tersebut berlaku juga untuk remaja pria, dan WHO membagi kurun
usia dalam 2 bagian yaitu remaja awal 10-14 tahun dan remaja akhir 15-20 tahun.
PBB sendiri menetapkan usia 15-24 tahun sebagai usia pemuda (youth) dalam rangka
keputusan mereka untuk menetapkan tahun 1985 sebagai Tahun Pemuda
Internasional.
Seorang remaja berada pada batas peralihan kehidupan anak dan dewasa. Tubuhnya
                                                                                    13.

kelihatan sudah “dewasa”, akan tetapi bila diperlakukan seperti orang dewasa ia gagal
menunjukkan kedewasaannya. Pada remaja sering terlihat adanya:

1) Kegelisahan: Keadaan yang tidak tenang menguasai diri si remaja. Mereka
mempunyai banyak macam keinginan yang tidak selalu dapat dipenuhi.
2) Pertentangan: Pada umumnya timbul perselisihan dan pertentangan pendapat dan
pandangan antara si remaja dan orang tua. Selanjutnya pertentangan ini menyebabkan
timbulnya keinginan remaja yang hebat untuk melepaskan diri dari orang tua.
3) Berkeinginan besar untuk mencoba segala hal yang belum diketahuinya. Mereka
ingin mencoba apa yang dilakukan oleh orang dewasa. Malapetaka akan dialaminya
sebagai akibat penyaluran yang tidak ada manfaatnya.
4) Keinginan menjelajah ke alam sekitar yang lebih luas, misalnya melibatkan diri
dalam kegiatan-kegiatan pramuka, kelompok atau himpunan pecinta alam, dan
sebagainya.
5) Mengkhayal dan berfantasi: Khayalan dan fantasi remaja banyak berkisar
mengenai prestasi dan tangga karier.
6) Aktivitas berkelompok: Kebanyakan remaja-remaja menemukan jalan keluar dari
kesulitan-kesulitannya dengan berkumpul-kumpul melakukan kegiatan bersama,
mengadakan penjelajahan secara berkelompok.

E. Jenis-Jenis Kebutuhan dan Pemenuhannya

       Sebagai makhluk psiko-fisik manusia memiliki kebutuhan-kebutuhan fisik dan
psikologis, dan sebagai makhluk individu dan makhluk sosial, manusia mempunyai
kebutuhan individu (yang juga dikenal sebagai kebutuhan pribadi) dan kebutuhan
sosial kemasyarakatan. Dengan demikian, maka setiap individu tentu memiliki
kebutuhan, karena ia tumbuh dan berkembang untuk mencapai kondisi fisik dan sosial
psikologis yang lebih sempurna dalam kehidupannya.

       Kebutuhan dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu kebutuhan primer
dan kebutuhan sekunder. Kebutuhan primer pada hakikatnya merupakan kebutuhan
biologis atau organik dan umumnya merupakan kebutuhan yang didorong oleh motif
asli. Contoh: makan, minum, bernapas, dan kehangatan tubuh. Sedangkan kebutuhan
                                                                                     14.

sekunder umumnya merupakan kebutuhan yang didorong oleh motif yang dipelajari,
seperti misalnya kebutuhan untuk mengejar pengetahuan, kebutuhan untuk mengikuti
pola hidup bermasyarakat, kebutuhan akan hiburan, alat transportasi, dan
semacamnya.
Klasifikasi kebutuhan menurut Cole dan Bruce (1959) (Oxendine, 1984:227)
membedakan kebutuhan menjadi dua kelompok, yaitu kebutuhan fisiologis dan
kebutuhan psikologis. Pengelompokkan ini sejalan dengan yang dikemukakan oleh
Murray (1938) (Oxendine, 1984:227) yang diajukan dengan istilah yang berbeda,
yaitu kebutuhan viscerogenic dan kebutuhan psychogenic.

        Kebutuhan   sosial    psikologis   seseorang     individu     terus   mengalami
perkembangan sesuai dengan perkembangan kondisi kehidupannya yang semakin luas
dan kompleks. Freud mengemukakan bahwa sikap dan perilaku manusia didorong
oleh faktor seksual (dorongan seksual). Pandangan Freud tentang konsep diri juga
dikaitkan dengan teori libido seksual ini. Ia mengemukakan bahwa prinsip
kenikmatan senantiasa mendasari perkembangan sikap dan perilaku manusia, dan
dengan prinsip itu ia menyatakan bahwa faktor pendorong utama perilaku manusia
adalah dorongan seksual. Semua bentuk perilaku manusia dikaitkan dengan upaya
untuk mencapai kenikmatan atau kepuasan seksual. Namun Freud menjadi terkenal
sehubungan dengan pandangannya yang pada pokoknya menyatakan bahwa
perkembangan manusia terjadi pertentangan antara kebutuhan insting pribadi dan
tuntutan masyarakat. Dalam pendekatannya terhadap pembentukan kepribadian,
Freud   mengemukakan      perlunya   penyelesaian      pertentangan    tersebut   dengan
pendekatan analisis psikologik, sehingga oleh karenanya teori Freud itu terkenal
dengan teori psikoanalisis.

        Menurut teori Freud, struktur kepribadian seseorang berunsurkan tiga
komponen utama, yaitu: id, ego, dan superego. Ketiganya merupakan faktor-faktor
penting yang mendorong terbentuknya sikap dan perilaku manusia serta struktur
pribadi. Teori psikoanalisis Freud diawali dengan mengemukakan asumsi bahwa
dorongan utama yang pada hakekatnya berada pada id, senantiasa akan muncul pada
setiap perilaku. Id dikenal sebagai insting pribadi dan merupakan dorongan asli yang
dibawa sejak lahir. Id merupakan sumber kekuatan insting pribadi yang bekerja atas
                                                                                 15.

dasar prinsip kenikmatan yang pada proses berikutnya akan memunculkan kebutuhan
dan keinginan. Ego adalah komponen kepribadian yang praktis dan rasional;
berdasarkan egonya manusia mencari kepuasan atau kenikmatan berdasarkan
kenyataan. Jadi, ego adalah komponen pribadi yang mewakili kenyataan, berfungsi
menghambat munculnya dorongan asli (id) secara bebas dalam berbagai bentuk.
Dengan demikian, tugas ego adalah menyelaraskan pertentangan yang terjadi antara
id dan tuntutan sosial. Superego merupakan bagian dari konsep diri, yang di dalamnya
terkandung kata hati yang bekerja sesuai dengan sistem moral dan ideal.

1. Mengapa Manusia Berperilaku?

       Untuk menjawab pertanyaan ini digunakan dua pendekatan, yaitu pendekatan
organismik (internal) dan pendekatan lingkungan (eksternal). Pembicaraan tentang
motif dan/atau motivasi merupakan bagian yang akan ditinjau secara khusus dalam
bagian ini, yang berarti uraian bagian ini menitikberatkan bahwa motif itu merupakan
faktor mendorong manusia bertingkah laku. Perilaku didorong oleh motif. Hal ini
tidak berarti bahwa kita mengesampingkan faktor lingkungan, tetapi seperti kita
ketahui bahwa motivasi dan lingkungan pada dasarnya berinteraksi, dengan demikian
persoalan lingkungan akan dengan sendirinya tercakup di dalam uraian ini.

2. Kebutuhan Dasar Manusia

       Pada bayi atau pada kehidupan manusia kecil, perilakunya didominasi oleh
kebutuhan-kebutuhan biologis yakni kebutuhan untuk mempertahankan diri.
Kebutuhan ini disebut deficiency need artinya kebutuhan untuk pertumbuhan dan
memang diperlukan untuk tetap hidup (survival). Kemudian, pada masa kehidupan
berikutnya, muncul kebutuhan untuk mengembangkan diri. Berkembangnya
kebutuhan ini terjadi karena pengaruh faktor lingkungan dan faktor belajar.

       Secara lengkap kebutuhan dasar seorang individu dapat digambarkan sebagai
berikut:

1. Kebutuhan jasmaniah, termasuk keamanan dan pertahanan diri
                                                                                   16.

2. Kebutuhan akan perhatian dan kasih sayang Kebutuhan yang terkait dengan
    pertahanan diri, khususnya pemeliharaan dan pertahanan diri, bersifat individual.

3. Kebutuhan untuk memiliki.

4. Kebutuhan     aktualisasi     diri   Kebutuhan   yang   terkait   langsung   dengan
    pengembangan diri yang relatif kompleks, abstrak, dan bersifat sosial.

       Hierarki kebutuhan di atas sejalan dengan teori kebutuhan yang dikemukakan
Maslow (Lefton, 1982: 171), yaitu:

-   kebutuhan aktualisasi diri

-   kebutuhan kognitif

-   kebutuhan penghargaan

-   kebutuhan cinta kasih

-   kebutuhan keamanan

-   kebutuhan jasmaniah (fisiologi)

       Menurut Lewis dan Lewis (1993) kegiatan remaja atau manusia itu didorong
oleh berbagai kebutuhan, yaitu:
a. kebutuhan jasmaniah,
b. kebutuhan psikologi,
c. kebutuhan ekonomi,
d. kebutuhan sosial,
e. kebutuhan politik,
f. kebutuhan penghargaan, dan
g. kebutuhan aktualisasi diri

F. Kebutuhan Remaja, Masalah, dan Konsekuensinya

       Masa remaja merupakan masa peralihan dari masa anak-anak menuju masa
dewasa. Hall (dalam Liebert dan kawan-kawan, 1974: 478) memandang bahwa masa
                                                                                   17.

remaja ini sebagai masa “storm and stress”. Ia menyatakan bahwa selama masa
remaja banyak masalah yang dihadapi karena remaja itu berupaya menemukan jati
dirinya (identitasnya) – kebutuhan aktualisasi diri. Beberapa jenis kebutuhan remaja
dapat diklarifikasikan menjadi beberapa kelompok kebutuhan, yaitu:

a) kebutuhan organik, yaitu makan, minum, bernapas, seks;

b) kebutuhan emosional, yaitu kebutuhan untuk mendapatkan simpati dan pengakuan
   dari pihak lain;

c) kebutuhan berprestasi atau need of achievement, yang berkembang karena
   didorong untuk mengembangkan potensi yang dimiliki dan sekaligus
   menunjukkan kemampuan psikofisis; dan

d) kebutuhan untuk mempertahankan diri dan mengembangkan jenis.

G. Masalah dan Konsekuensinya

       Beberapa masalah yang dihadapi remaja sehubungan dengan kebutuhan-
kebutuhannya dapat diuraikan sebagai berikut:
1) Upaya untuk dapat mengubah sikap dan perilaku kekanak-kanakan menjadi sikap
dan perilaku dewasa, tidak semuanya dapat dengan mudah dicapai baik oleh remaja
laki-laki maupun perempuan.
2) Seringkali para remaja mengalami kesulitan untuk menerima perubahan-perubahan
fisiknya. Hanya sedikit remaja yang merasa puas dengan tubuhnya. Hal ini
disebabkan pertumbuhan tubuhnya dirasa kurang serasi.
3) Perkembangan fungsi seks pada masa ini dapat menimbulkan kebingungan remaja
untuk memahaminya, sehingga sering terjadi salah langkah dan perilaku yang
menentang norma.
4) Dalam memasuki kehidupan bermasyarakat, remaja yang terlalu mendambakan
kemandirian, dalam arti menilai dirinya cukup mampu untuk mengatasi problema
kehidupan, kebanyakan akan menghadapi berbagai masalah, terutama masalah
penyesuaian emosional, seperti perilaku over acting , “lancang”, dan semacamnya.
5) Harapan-harapan untuk dapat berdiri sendiri dan untuk hidup mandiri secara sosial
                                                                                   18.

ekonomis akan berkaitan dengan berbagai masalah untuk menetapkan pilihan jenis
pekerjaan dan jenis pendidikan.
6) Berbagai norma dan nilai yang berlaku di dalam hidup bermasyarakat merupakan
masalah tersendiri bagi remaja; sedang di pihak remaja merasa memiliki nilai dan
norma kehidupannya yang dirasa lebih sesuai.

H. Usaha-Usaha Pemenuhan Kebutuhan Remaja dan Implikasinya dalam
   Penyelenggaraan Pendidikan

       Pemenuhan kebutuhan fisik atau organik merupakan tugas pokok. Kebutuhan
ini harus dipenuhi, karena hal ini merupakan kebutuhan untuk mempertahankan
kehidupannya agar tetap tegar. Realisasi hal ini di sekolah adalah pendidikan
kesehatan, pendidikan jasmani, dan pentingnya usaha kesehatan sekolah (UKS).

       Khusus kebutuhan seksual, yang hal ini juga merupakan kebutuhan fisik
remaja, usaha pemenuhannya harus mendapatkan perhatian khusus dari orang tua,
terutama ibu. Pendidikan seksual di sekolah dan terutama di dalam keluarga harus
mendapatkan perhatian. Sekolah sekali-sekali mendatangkan ahli atau dokter untuk
memberikan ceramah tentang masalah-masalah remaja, khususnya masalah seksual.

       Untuk mengembangkan kemampuan hidup bermasyarakat dan mengenalkan
berbagai norma sosial, amat penting dikembangkan kelompok-kelompok remaja
untuk berbagai urusan, seperti kelompok olah raga, kelompok seni dan musik, dan
semacamnya. Pada kesempatan sekolah menyelenggarakan acara-acara tertentu
seperti malam pertemuan, atau perpisahan sekolah, ada baiknya anak-anak ditugasi
untuk ikut mengurus atau dimasukkan sebagai panitia penyelenggara.
                              KATA PENGANTAR


       Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat serta
hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini dengan
judul “Hukum Pertumbuhan dan Perkembangan”.
       Makalah ini diajukan sebagai salah satu syarat untuk mengikuti Ujian Akhir
Paket (UAP) STKIP Kusuma Negara.
       Penulisan makalah ini tidak akan terselesaikan apabila tidak didukung dan
dibantu oleh berbagai pihak, baik dukungan moril maupun bantuan pemikiran dan
sarannya. Untuk itu penulis mengucapkan terima kasih kepada :
       1. Bapak A. Supriatna, S. Pd, M. Pd. selaku pengelola STKIP Kusuma
          Negara.
       2. Bapak Drs, Taufik, M.. Pd. sebagai Dosen Pembimbing.
       3. Rekan-rekan mahasiswa STKIP Kusuma Negara khususnya jurusan
          Matematika yang telah membantu memberikan sumber dan acuan dalam
          pembuatan makalah ini.
       4. Semua pihak yang telah membantu menyelesaikan makalah ini yang tidak
          dapat penulis sebutkan satu per satu.


       Semoga semua kebaikan yang telah diberikan, mendapat balasan dan pahala
dari Allah SWT.
       Harapan penulis semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang
membutuhkan serta bagi para pembaca. Penulis mohon maaf apabila dalam penulisan
makalah ini terdapat banyak kekurangan. Saran dan kritik sangat kami harapkan guna
kesempurnaan makalah ini dimasa yang akan datang. Semoga Allah SWT senantiasa
memberikan rahmat dan hidayah-Nya untuk kita semua. Amin.




                                                    Tangerang, 06 November 2010
                                                     Penulis




                                             i.
                               DAFTAR ISI


KATA PENGANTAR ……………………………………………………...                           i
DAFTAR ISI ………………………………………………………………..                            ii
BAB I PENDAHULUAN
  A. Latar Belakang Masalah …………………………………………...                  1.
  B. Rumusan Masalah …………………………………………………..                       1.
  C. Tujuan Masalah ……………………………………………………..                       1.
  D. Sistematika Penulisan ………………………………………………                    2.


BAB II PEMBAHASAN
  A. Pengertian Pertumbuhan dan Perkembangan ……………………            3.
  B. Tugas-Tugas Perkembangan ………………………………………                    6.
  C. Hukum-Hukum Pertumbuhan dan Perkembangan ………………             6.
  D. Remaja: Karakteristik Pertumbuhan dan Perkembangannya …..   10.
  E. Jenis-Jenis Kebutuhan dan Pemenuhannya ………………………            13.
  F. Kebutuhan Remaja, Masalah, dan Konsekuensinya ……………..       16.
  G. Masalah dan Konsekuensinya …………………………………….                  17.
  H. Usaha-Usaha Pemenuhan Kebutuhan Remaja dan Implikasinya
     dalam Penyelenggaraan Pendidikan ……………………………….              18.


BAB III PENUTUP
  A. Kesimpulan …………………………………………………………..                         19.
  B. Saran ………………………………………………………………….                            19.


DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………………..                           20.




                                 ii.
                        MAKALAH
Diajukan sebaga salah satu syarat untuk mengikuti Ujian Akhir Paket (UAP)




                          Dosen Pembimbing :
                           Drs. Taufik, M. Pd.


                            DISUSUN OLEH


    KELOMPOK 3 :          SITI AISAH
                          MUHATA
                          MUTIAH KHAIRUNNISA




SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (STKIP) KUSUMA
                               NEGARA
                       PB. JENDRAL SUDIRMAN
                              2010 / 1431 H
                                     BAB III
                                    PENUTUP
A. Kesimpulan


          Dari pembahasan makalah di atas, dapat disimpulkan bahwa dalam
kehidupan anak ada dua proses yang beroperasi secara kontinu, yaitu pertumbuhan
dan perkembangan. Kedua proses ini tidak bisa dipisahkan dalam bentuk-bentuk yang
secara pilah berdiri sendiri-sendiri, akan tetapi bisa dibedakan untuk maksud lebih
memperjelas penggunaannya. Di samping itu terdapat pula pola-pola yang berlaku
khusus sehubungan dengan sifat-sifat individualnya. Pola kehidupan yang
dimaksudkan bisa dipergunakan sebagai patokan untuk mengenal ciri perkembangan
anak-anak. Lingkungan dan latar belakang kebudayaan masing-masing bangsa
mempengaruhi pola pertumbuhan dan perkembangan bangsa itu.

   Hukum-hukum perkembangan antara lain:
1. Hukum Cephalocoudal

2. Hukum Proximodistal

3. Perkembangan Terjadi dari Umum ke Khusus

4. Perkembangan Berlangsung dalam Tahapan-Tahapan Perkembangan

5. Hukum Tempo dan Ritme Perkembangan

6. Hukum Konvergensi Perkembangan

7. Hukum Rekapitulasi



B. Saran

         Kami sadar bahwa dalam penulisan makalah ini terdapat banyak kekurangan,
Untuk itu, saran dan kritik yang bersifat membangun sangat kami harapkan demi
kesempurnaan makalah ini. Semoga makalah kami dapat bermanfaat bagi semua
pihak.

                                        19.
                             DAFTAR PUSTAKA




Hurlock B Elizabeth.1978.Perkembangan Anak Jilid 1. Jakarta : Erlangga

Semiawam R.Cony. 1998.Perkembangan dan Belajar Peserta Didik.UNY

Sobur Alex.2009.Psikologi Umum. Bandung : Pustaka Setia

Sunarto.H dan Hartono.1994.Perkembangan Peserta Didik.Jakarta




                                      20.