Docstoc

TUGAS MAKALAH - DOC

Document Sample
TUGAS MAKALAH - DOC Powered By Docstoc
					            TUGAS MAKALAH
                ASKEB III
PAYUDARA BENGKAK,MERAH DAN TERASA NYERI
               (MASTITIS)




                 OLEH :


          ATY ANDRIATI
          NOVITA FUJIATI MOUTIA
          NURUL QAMARIAH RISTA A
          SULASTRI




             DIII KEBIDANAN
          FAKULTAS KESEHATAN
   UNIVERSITAS MUHAMADIYAH MATARAM




                                          1
                                                            DAFTAR ISI

   Bab I PENDAHULUAN

         A. latar belakang.............................................................................................................1

         B. rumusan masalah .....................................................................................................2

         C. tujuan penulisan .......................................................................................................3

   BAB II TINJAUAN PUSTAKA ...............................................................................................3

         A. definisi ASI ..................................................................................................................3

         B. manfaat ASI eksklusif .............................................................................................4

         C. beberapa istilah dalam pemberian ASI ...........................................................4

         D. keberhasilan pemberian ASI eksklusif ..............................................................4

         E. dukungan bidan dalam pemberian ASI ..........................................................5

         F. keunggulan ASI dan manfaat.............................................................................5

         G. usaha memperbanyak ASI ..................................................................................6

         H. cara menyusui yang benar ................................................................................7

         I.    tandda-tanda ASI cukup/penatalaksanaan ..............................................14

   BAB III PEMBAHASAN

    A.    konsep           payudara               bengkak(ZONGSTUING,ENGOERGEMENT                                                 OF           THE

          BREAST)……………………………………………………………….............................................15

         1.    DEFINISI ……………………………………………………………...........................................15

         2. penyebab payudara bengkak…………………………………….............................16

         3. tanda-tandanya…………………………………………………........................................16

         4. patologi………………………………………………………………..........................................16

         5. patofisiologi…………………………………………………………..........................................16

         6. pencegahan………………………………………………………….........................................17




                                                                                                                                                 2
         7. penanganan…………………………………………………………........................................17

    B.    MASTITIS………………………………………………………………...........................................21

         1.   definisi……………………………………………………………….........................................21

         2. jenis mastitis………………………………………………………........................................21

         3. gejala………………………………………………………………............................................22

         4. penyebab……………………………………………………………........................................23

         5. patofisiologi……………………………………………………….........................................26

         6. pencegahan………………………………………………………….....................................26

         7. penanganan……………………………………..………………….....................................27

   BAB IV PENUTUP

         A. Kesimpulan…………………………………….…………………….....................................34

         B. Saran…………………………………………………………………........................................34

   DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………….....................................35




                                                 i




                                                                                            3
                         KATA PENGANTAR



       Segala puji syukur kehadirat ALLAH SWT yang telah memberikan

kesempatan kepada kami sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ASKEB

NENONATUS yang berjudul “payudara bengkak merah dan terasa sakit saat

menyusui atau mastitis” tepat pada waktunya.

       Kami mengharapkan dengan adanya makalah ini dapat menambah

wawasan kita mengenai gangguan dan msalah dalam sistem reproduksi wanita

dan cara memberikan penanganannya .

       Kami menyadari dalam penyusunan makalah ini masih terdapat

kekurangan, untuk kami      mohon kritik dan saran yang membangun untuk

penyempurnanan makalah ini.




                                                                      4
BAB I

                                PENDAHULUAN



A.LATAR BELAKANG

Kegagalan dalam proses menyusui sering disebabkan karena timbulnya beberapa

masalah, baik masalah pada ibu maupun pada bayi. Pada sebagian ibu yang tidak

paham masalah ini, kegagalan menyusui sering dianggap problem pada anak saja.

Masalah dari ibu yang timbul selama menyusui dapat dimulai sejak sebelum

persalinan (periode antenatal), pada masa pasca persalinan dini, dan pasca masa

persalinan lanjut. Masalah menyusui dapat pula diakibatkan karena keadaan khusus.

Selain itu ibu sering benar mengeluhkan bayinya sering menangis, ayau “menolak”

menyusu, dsb yang sering diartikan bahwa ASInya tidak cukup, atau ASInya tidak

enak, tidak baik atau apapun pendapatnya sehingga sering menyebabkan

diambilnya keputusan untuk menghentikan menyusui.Masalah pada bayi umumnya

berkaitan dengan manajemen laktasi, sehingga bayi sering menjadi “bingung puting”

atau sering menangis, yang sering diinterprestasikan oleh ibu dan keluarga bahwa ASI

tidak tepat untuk bayinya.




                                                                                  5
                                         BAB II

                               TINJAUAN PUSTAKA

MANFAAT MENYUSUI

A S I : merupakan hal terpenting yang di perlukan bayi baru lahir untuk memenuhi

asupan nutrisi nya,dmn dalam asi banyak terkandung anti body.Zat-zat gizi yang

lengkap,Mudah di cerna, diserap secara efesien,Melindungi terhadap infeksi Biaya

lebih rendah dibanding asupan buatan



                                           MENYUSUI merupakan hal fisiologis
   Proses dan cara kerja menyusui :
                                           setelah terjadinya persalinan dimana
   •   1) Saat bayi mengisap, sejumlah
                                           fungsi dari menyusui itu sendiri adalah :
       sel syaraf di payudara ibu

       mengirimkan pesan ke                   •   Membantu bonding dan

       hipotalamus.                               perkembangan

   •   2) Ketika menerima pesan itu,          •   Membantu menunda kehamilan

       hipotalamus melepas „rem‟                  baru

       penahan prolaktin                      •   Melindungi kesehatan Ibu

   •   3-4) Untuk mulai menghasilkan

       ASI, prolaktin yang dihasilkan

       kelenjar pituitari merangsang

       kelenjar-kelenjar susu di

       payudara ibu.




                                                                                       6
      System kerja tubuh dalam proses menyusui



Oksitoksin
                                                                             Rangsangan sensorik (
dalam darah                                                                  indera sentuhan) dari
                                                                             puting




               Bayi
               menyusu
         •


                                                                         Merangsang
                                                                         rahim kontraksi

      REFFLEKS OKSITOKSIN

          Hormon ini dihasilkan oleh hipotalamus dan disimpan dalam kelenjar pituitari

         belakang. Saat diperlukan, oksitosin dilepaskan oleh kelenjar pituitari ketika

         menerima rangsangan syaraf dari hipotalamus

         •   Oksitosin masuk ke dalam darah menuju payudara, membuat otot-otot

             payudara mengerut disebut hormon oksitosin. Kejadian ini disebut refleks

             pengeluaran ASI, refleks oksitosin atau let down refleks.

         •   Selain perannya dalam pembentukan susu, hormon oksitosin memiliki tugas

             lain. Hormon ini memastikan terjadinya kerutan otot rahim saat persalinan

             sehingga memperlancar proses persalinan



                                                                                          7
                                      BAB III

                                  PEMBAHASAN

                   MASALAH-MASALAH DALAM MENYUSUI



A. Masalah Menyusui Masa Antenatal

       Pada masa antenatal, masalah yang sering timbul adalah: kurang/salah

informasiputting susu terbenam (retracted) atau putting susu datar.



A.1. Kurang / salah informasi

       Banyak ibu yang merasa bahwa susu formula itu sama baiknya atau malah

   lebih baik dari ASI sehingga cepat menambah susu formula bila merasa bahwa

   ASI kurang.



       Petugas kesehatanpun masih banyak yang tidak memberikan informasi pada

   saat pemeriksaan kehamilan atau saat memulangkan bayi. Sebagai contoh,

   banyak ibu/petugas kesehatan yang tidak mengetahui bahwa:

   - Bayi pada minggu-minggu pertama defekasinya encer dan sering, sehingga

       dikatakan bayi menderta diare dan sering kali petugas kesehatan menyuruh

       menghentikan menyusui. Padahal sifat defekasi bayi yang mendapat

       kolostrum memang demikian karena kolostrum bersifat sebagai laksans.

   - ASI belum keluar pada hari pertama sehingga bayi dianggap perlu diberikan

       minuman lain, padahal bayi yang baru lahir cukup bulan dan sehat

       mempunyai persediaan kalori dan cairan yang dapat mempertahankannya




                                                                              8
       tanpa minuman selama beberapa hari. Disamping itu, pemberian minuman

       sebelum ASI keluar akan memperlambat pengeluaran ASI oleh bayi menjadi

       kenyang dan malas menyusu.

   - Karena payudara berukuran kecil dianggap kurang menghasilkan ASI

       padahal ukuran payudara tidak menentukan apakah produksi ASI cukup

       atau kurang karena ukuran ditentukan oleh banyaknya lemak pada

       payudara sedangkan kelenjar penghasil ASI sama banyaknya walaupun

       payudara kecil dan produksi ASI dapat tetap mencukupi apabila manajemen

       laktasi dilaksanakan dengan baik dan benar.

Informasi yang perlu diberikan kepada ibu hamil/menyusui antara lain meliputi :

   - Fisiologi laktasi

   - Keuntungan pemberian ASI

   - Keuntungan rawat gabung

   - Cara menyusui yang baik dan benar

   - Kerugian pemberian susu formula

   - Menunda pemberian makanan lainnya paling kurang setelah 6 bulan.

A.2. Putting susu datar atau terbenam

       Putting yang kurang menguntungkan seperti ini sebenarnya tidak selalu

   menjadi masalah. Secara umum ibu tetap masih dapat menyusui bayinya dan

   upaya selama antenatal umumnya kurang berfaedah, misalnya dengan

   memanipulasi Hofman,

   menarik-narik puting, ataupun penggunaan brest shield dan breast shell. Yang

   paling efisien untuk memperbaiki keadaan ini adalah isapan langsung bayi yang




                                                                                  9
kuat. Maka sebaiknya tidak dilakukan apa-apa, tunggu saja sampai bayi lahir,

segera setelah pascalahir lakukan :

- Skin-to-skin kontak dan biarkan bayi mengisap sedini mungkin

- Biarkan bayi “mencari” putting kemudian mengisapnya, dan bila perlu coba

   berbagai posisi untuk mendapat keadaan yang paling menguntungkan.

   Rangsang putting biar dapat “keluar” sebelum bayi “mengambil”nya.

- Apabila putting benar-benar tidak bisa muncul, dapat “ditarik” dengan

   pompa putting susu (nipple puller), atau yang paling sederhana dengan

   sedotan spuit yang dipakai terbalik.

- Jika tetap mengalami kesulitan, usahakan agar bayi tetap disusui dengan

   sedikit penekanan pada areola mammae dengan jari sehingga terbentuk dot

   ketika memasukkan putting susu ke dalam mulut bayi.

- Bila terlalu penuh ASI dapat diperas dahulu dan diberikan dengan sendok

   atau cangkir, atau teteskan langsung ke mulut bayi. Bila perlu lakukan ini

   hingga 1-2minggu.




                                                                          10
B. Masalah Menyusui Pada Masa Pasca Persalinan Dini

      Pada masa ini, kelainan yang sering terjadi antara lain : putting susu datar,

   atau terbenam, putting susu lecet, payudara bengkak, saluran susu tersumbat dan

   mastitis atau abses.

B.1. Putting susu lecet

      Pada keadaan ini seringkali seorang ibu menghentikan menyusui karena

   putingnya sakit. Yang perlu dilakukan adalah :

   - Cek bagaimana perlekatan ibu-bayi

   - Apakah terdapat Infeksi Candida (mulut bayi perlu dilihat). Kulit merah,

      berkilat,kadang gatal, terasa sakit yang menetap, dan kulit kering bersisik

      (flaky) Pada keadaan putting susu lecet, yang kadang kala retak-retak atau

      luka, maka dapat dilakukan dengan cara-cara seperti ini :

   - Ibu dapat terus memberikan ASInya pada keadaan luka tidak begitu sakit.

   - Olesi putting susu dengan ASI akhir (hind milk), jangan sekali-sekali

      memberikan obat lain, seperti krim, salep, dan lain-lain.

   - Putting susu yang sakit dapat diistirahatkan untuk sementara waktu kurang

      lebih 1x24 jam, dan biasanya akan sembuh sendiri dalam waktu sekitar 2x24

      jam.

   - Selama putting susu diistirahatkan, sebaiknya SAI tetap dikeluarkan dengan

      tangan, dan tidak dianjurkan dengan alat pompa karena nyeri.

   - Cuci payudara sekali saja sehari dan tidak dibenarkan untuk menggunakan

      sabun.




                                                                                11
B.2. Payudara bengkak

  Dibedakan antara payudara penuh, karena berisi ASI, dengan payudara

  bengkak. Pada payudara penuh; rasa berat pada payudara, panas dan keras.

  Bila diperiksa ASI keluar,dan tidak ada demam. Pada payudara bengkak;

  payudara udem, sakit, puting kencang, kulit mengkilat walau tidak merah, dan

  bila diperiksa/isap ASI tidak keluar. Badan bisa demam setelah 24 jam. Hal ini

  terjadi karena antara lain produksi ASI meningkat,terlambat menyusukan dini,

  perlekatan kurang baik, mungkin kurang sering ASI dikeluarkan dan mungkin

  juga ada pembatasan waktu menyusui. Untuk mencegah maka diperlukan

  - menyusui dini

  - perlekatan yang baik

  - menyusui “on demand”/ Bayi harus lebih sering disusui. Apabila terlalu tegang,

     atau nayi tidak dapat menyusu sebaiknya ASI dikeluarkan dahulu, agar

     ketegangan     menurun.Dan     untuk   merangsang        reflex   Oxytocin   maka

     dilakukan:

          - Kompres panas untuk mengurangi rasa sakit.

          - Ibu harus rileks

          - Pijat leher dan punggung belakang (sejajar daerah payudara)

          - Pijat ringat pada payudara yang bengkak (pijat pelan-pelan kea rah

              tengah)

          - Stimulasi payudara dan putting Selanjutnya kompres dingin pasca

              menyusui, untuk mengurangi udem. Pakailah BH yang sesuai. Bila

              terlalu sakit dapat diberikan obat analgetik.




                                                                                    12
B.3. Mastitis atau abses payudara

   B.3.1 pengertian

      Mastitis adalah peradangan pada payudara. Payudara menjadi merah,

      bengkak kadangkala diikuti rasa nyeri dan panas, suhu tubuh meningkat. Di

      dalam terasa ada masa padat (lump), dan diluarnya kulit menjadi merah.

      Kejadian ini terjadi pada masa nifas 1-3 minggu setelah persalinan diakibatkan

      oleh sumbatan saluran susu yang berlanjut. Keadaan ini disebabkan

      kurangnya ASI diisap/dikeluarkan atau pengisapan yang tak efektif. Dapat

      juga karena kebiasaan menekan payudara dengan jari atau akrena tekanan

      baju/BH. Pengeluaran ASI yang kurang baik pada payudara yang besar,

      terutama pada bagian bawah payudara yang menggantung.

      mastitis dan abses payudara terjadi pada semua populasi,dengan atua tanpa

      kebiasaan menyusui.insiden dilaporkan bervariasi dari sedikit sampai 33%

      wanita menyusui tetapi biasanya dibawah 10% .kebanyakan penelitian

      memiliki keterbatasan metodologis yang besar, dan belum ada penelitian

      kohort prosfektif yang besar.angka insiden yang lebih tinggi berasal dr populasi

      tertentu.

      Insiden abses payudara juga sangat bervariasi dan sebagian besar perkiraan

      adalah      dari   penelitian   retropestif   pada   pasien     mastitis.walaupun

      demikian,menurut       beberapa     laporan   terutama   dari     Negara-negara

      berkembang, suatu abses dapat terjadi tanpa didahului mastitis yang nyata




                                                                                    13
B.3.2 Penyebab mastitis

  Dua penyebab mastitis adalah

     - stasis ASI dan infeksi.stasis ASI biasanya merupakan penyebab

         primer,yang dapat disertai atau berkembang menuju infeksiGunther

         pada tahun 1958 menyimpulkan dari pengamatan klinis bahwa mastitis

         di akibatkan oleh stagnasi ASI didalam         payudara, dn bahwa

         pengeluaran ASI yang efisien dapat mencegah keadaan tersebut.ia

         menyatakan bahwa infeksi,bila terjadi, bukan primer,

     - stagnasi ASI sebagai media pertumbuhan bakteri

  Thomsen dan kawan-kawan pada tahun 1984 menghasilkan bukti tambahan

  tentang pentingnya stasis ASI. Mereka menghitung leukosit dan bakteri dalam

  ASI dari payudara dengan tanda klinis mastitis dan mengajukan klasifikasi

  berikut ini

  pada studi acak mereka menemukan bahwa statis ASI (leukosit<10 dan

  bakteris <10) membutuhkan tindakan pemerasan ASI setelah menyusui, dan

  mastitis infeksiosa hanya dapat di obati dengan efektif dengan pemerasan ASI

  dan antibiotic sistemik. Tanpa pengeluaran ASI yang efektif, mastitis

  noninfeksiosa sering berkembang menjadi mastitis infeksiosa menjadi

  pembentukan abses

  thomsen dan kawan-kawan juga menghubungkan hitung sel dan bakteri

  dengan temuanm klinis, dan diketahui bahwa infeksi tidak mungkin di

  tentukan hanya dari tanda-tanda klinis

  stasis ASI terjadi jika ASI tidak dikeluarkan dengan efisien dari payudara.hal

  ini dapat terjadi bila payudara terbendung segera setelah melahirkan,atau



                                                                             14
  setiap bayi tidak menghisap asi, yang dihasilkan dr sebagian atau seluruh

  payudara.penyebabnya     termasuk    kenyutan    bayi   yang   buruk   pada

  payudara,penghisap yang tidak efketif,pembatasan frtekuensi atau durasi

  menyusui, dari sumbatan pada saluran ASI,       situasi lain yang merupakan

  prtedisposisi terhadap statis ASI,termasuk suplai ASI ang sangat berlebihan,

  atau menyusui untuk kembar dua atau lebih

B.4 bendungan payudara

     pengamatan pada hubungan antara benndungan payudara dan mastitis

     telah dilakukan selama beberapa tahun,walaupun kedua kondisi tersebut

     tidak selalu dapat dibedakan dengan jelas

     dalam sejarah “demam ASI” ,yang ditandai dengan ditensi payudara dan

     demam tinggi, telah diberikan pada abad ke-18.penyakit ini terjadi pada

     kira-kira hari ketiga setelah melahirkan,ketika ASI dihasilkan dan dpat

     merupakan akibat dari bendungan yang makin parah.james nelson tahun

     1753 menyatakan bahwa kondisi ini tidak terjadi bila bayi disuse segera

     setelah lahir, sehingga stasis ASI terhindarkan pentingnya pengeluaran ASI

     yang segera pada tahap awal mastitis, atrau kongesti, untuk mencegah

     perkembangan penyakit abses, juga telah di uraikan oleh naish tahun 1984.

     ia menyatakn bahwa isapan bayi adalah sarana pengeluaran ASI yang

     efektif




    B.4.1 frekuensi menyusui



                                                                            15
tahun 1952, Illingworth dan stone secara normal menunjukkan dalam

uji coba dengan control, bahwa insiden bendungan payudara dapat

dikurangi hingga stengahnya bila bayi disusui tanpa batas.pada tahun-

tahunbberikutnya, sejumlah peneliti lain juga mengamati bahwa bila

waktu untuk menyusui di jadwalkan.lebih sering terjadi bendungan

yang sering disertai mastitis dan kegagalan laktasi

hubungan antara pembatasan frekuensi dan durasi menyusui dan

mastitis telah diuraikan oleh beberapa penulis.banyak wanita

menderita mastitis bila mereka tidak menyusui, atau bila bayi mereka

tidak seperti biasanya,tertidur semalaman dan waktu antar menyusui

semakin lama

pentingnya kenyutan bayi yang baik pada payudara untuk

pengeluaran    ASI    jyang   efektif   pertamakali    diketahui   oleh

gunther.proses ini telah diteliti dan di perikan lebih lanjut dan teknik

saat ini telah dikembangkan dengan baik dan diperikan oleh penulis

lain.kenyutan yang buruk sebagai penyebab pengeluaran ASI yang

tidak efisien saat tehnik ini dianggap sebagai factor predisposisi utama

mastitis.teknik utuk menjamin kenyutan yang baik telah di lampirkan

dalam WHO/UNICEF

Nyeri putting dan putting pecah-pecah sering ditemukan bersama

dengan mastitis.penyebab nyeri trauma putting yang sering adalah

kenyutan yang buruk pada payudara, kedua kondisi ini dapat terjadi

bersama-sama sebagian karena mereka mempunyai asal mekanik

yang sama, selain itu, nyeri putting akan menyebabkan ibu




                                                                     16
         menghindar untuk menyusui pada payudara yang sakit dank arena itu

         mencetusakan statia ASI dan bendungan

B.4.2 sisi yang disukai dan penghisapan yang efisien

         dari studi-studi tentang payudara mana yang paling sering terkena

         mastitis diperoleh bukti lebih lanjut bahwa penyebab dasar mastitis

         adalah statis ASI karena sebab mekanis.telah diamati bahwa banyak

         ibu merasa lebih mudah untuk menyusui bayinya pada satu sisi

         payudara dibandingkan dengan payudara yang lain.selain itu telah

         dinyatakan bahwa kenyutan yang tidak tepat yang menyebabkan

         stasis ASI dan mastitis, lebih mungkin terjadi pada sisi payudara yang

         lebih sulit untuk menyusui.hal ini dianggap berkaitanm dengan status

         ibu adalah seorang yang kidal atau kinan. Walaupun telah diadakan

         beberapa penelitian tentang frekuensi payudara yang sering terkena

         namun tidak didapati

         Terakhir   terdapat   pada   sedikit   kasus   terkait   dengan   infeksi

         streptokokal neonatus, mastitis jarang ditemukan sebagai komplikasi

         demam tifoid dan infeksi salmonela lain.M. tuberculosis adalah

         penyebab mastitis lain yang jarang ditemukan.dalam populasi yang

         endemik tuberkulosis, M, tubercolosis dpt ditemukan pada kira-kira 1%

         dari kasus mastitis dan berkaitan dengan beberapa kasus tonsillitis

         tuberkulosis pada bayi, candida dan kriptokokus telah d laporkan

         sebagai penyebab mastitis jamur, tetapi mikroplasma dan klamidia

         btidak ditemukan.




                                                                               17
         Bakteri sering ditemukan dalam ASI dari payudara yang asimtomatik

         dinegara-negara industri dan berkembang.spektrum bakteri sering

         serupa    dengan    yang    ditemukan     di   kulit.contohnya,   marshal

         menemukan staph, epidermis, difteroid, dan sterftococus alpha-

         hemolitikus dan bonhemolitiikus.oleh karena iktu, studi bakteriologis

         berkomplikasi dengan kesulitan untuk mencegah kontaminasi dari

         bakterio kulit,,,,.walaupun teknik pengumpulan dilakukan dengan

         hati-hati,mhanya 50% biakan ASI bersifat steril,sedangkan yang

         lainmenunjukkan hitungan koloni normal dari 0-2.500 koloni per ml

B.4.3 koloni bakteri pada bayi dan payudara

    Kolonisasi bakteri pada bayi dan opayudara adalah proses normal yang

    terjadi segera setelah lahir. Saluran susu ibu dan nasofaring bayi terkolonisasi

    oleh berbagai organisme,beberapa diantaranya potensial bersifat patogenik,

    seperti staph.aereus.namun,kehadiran bakteri,bakteri tersebut tidak dengan

    sendirinya menyebabkan mastitis

    Bila ibu melakukan kontak yang erat dengan bayinya segera setelah lahir,

    ibu memindahkan organisme saluran nafas dan kulit dari strainnya kepada

    bayinya.organisme ini tumbuh dan membentuk populasi pada usus,kulit

    dan saluran nafas bayi.bila organisme flora komersial

B.4.4 mastitis puerperalis

    Masalah dapat timbul bila pertaman kali bayi dan ibu terpajan pada

    organisme yang tidak dikenal atau virulen,adalah ini paling sering terjadi

    dari rumah sakit dan infeksi silang atau perkembangan strain resisten, suatu

    untuk mastitis puerperalis sering terjadi pada perawatan rumah sakit industri



                                                                                 18
sejak tahun 1930an sampai 1960an.selama periode ini melhirkan dirumah

sakit menjadi lebih sering, menyusi menjadi tidak di anjurkan, dan era

antibotika sedang dmulai,peranan dominan infeksi dan transmisi stafilokokus

diantara petugas perawatan, bayi dan ibu telah berulang kali dtunjukkan

Mastitis epidemik telah di anggap sebagai penyakit yang didapat dari

rumah sakit yang disebabkan oleh strain staph,aereus resisten penisilin yang

sangat virulen.penyakit ini menjadi lebih jarang karena kemajuan antibiotik

dan penggunaan bakterisida yang lebih kuat untuk membersihkan rumah

sakit,tetapi penyakit ini juga menjadi lebih jarang karena praktik yang

menimbulkan stasis ASI menjadi kurang popular, seperti jadwal menyusui

yang dibatasi dan penghentian menyusui dari payudara dengan puting

pecah-pecah dan sejak bayi di rumah sakit mendapat rawat gabung

dengan ibunya dan tidak dirawat diruang perawatan

Bagaimana infeksi memasuki payudara belum diketahui.beberapa jalur

telah diduga yaitu melalui duktus laktiferus kedalam lobus dengan

ppenyebaran hematogen dan melalui fisura putting susu kedalam sistem

limfatik periduktal.frekuensi fisura putting susu telah dilaporkan meningkat

dengan adanya mastitis.dalam uji klinis random prospektif,livingstone

meneliti efek terpi antibitik pada wanita yang diobati dengan preparat

topikal,atau hanya dengan perbaikan teknik menyusui.oleh karena itu

kemungkinan mastitis dan puting pecah – pecah terjadi bersamaan karena

keduanya dapat mengakibatkan kenyutan yang buruk pada payudara

selain itu,seringkali fisura menjadi titik masuk infeksi

Hubungan antara infeksi candida pada puting dan mastitis,khususnya

mastitis berulang,telah diketahui. Mastitis akibat candida kadang-kadang


                                                                          19
    dilaporkan,khususnya pada wanita diabetik , tetapi hal ini sangat jarang

    terjadi.lebih sering puting pecah-pecah akibat dapat menjadi titik masuk

    infeksi bakteri.mungkin juga bila puting susu nyeri dan luka akibat kandida,

    , wanita tersebut menyusui dengan tidak efisien,sehingga menyebabkan

    stasis asi,namun kandidiasis sering terjadi setelah terapi antibioyik,dan dapat

    terjadi sebagai konsekuensi mastitis tidak langsung dari pada sebagai faktor

    predisposisi

    Nyeri payudara yang dalam seperti terbakar selama dan setelah menyusui

    sering diakibatkan oleh infeksi kandida pada saluran payudara,tetapi akhir-

    akhir ini staph.aereus telah diidentifikasi sebagai patogen penyebab nyeri

    dalam dan puting pecah-pecah.nyeri yang dalam dapat di akibatkan oleh

    infeksi pada saluran payudara, tetapi adanya kaitan dengan mastitis tetap

    belum jelas



B.4.5 faktor predisposisi

    ada sejumlah faktor yang telah diduga dapat meningkatkan resiko

    mastitis.sebagian besar bukti yang ada tetap bersifat anekdot.faktor-faktor

    tersebut kurang penting bila dibandingkan dengan teknik menyusui, yaitu

    kenyutan yang baik dan pengeluaran ASI yang efektif

     - umur :sebuah studi retrosfektif menunjukkan bahwa wanita dengan

         umur 21-35 tahun lebih sering menderita mastitis daripada wanita

         dibawah 21 dan diatas 35.studi prosfektif lain mengidentifikasi waita

         berumur 30-34 tahun memiliki insiden mastitis tertinggi, bahkan bila

         paritas dan kerja purnawaktu telah dikontrol



                                                                                20
           - paritas : primipara ditemukan sebagai faktor resiko pada beberapa

               studi tetap tidak pada studi lain

           - serangan sebelumnya : terdapat bukti yang kuat bahwa serangan

               mastitis pertama cenderung untuk berulang .pada beberapa studi 40-

               54 persen wanita pernah menderita satu atau lebih serangan

               sebelumnya,hal ini merupakan akibat dari teknik menyusui yang

               buruk yang tidak diperbaiki

           - melahirkan : komplikasi melahirkan dapat meningkatkan resiko

               mastitis, walaupun penggunaan oksitosin tidak meningkatkan resiko

           - gizi      : faktor gizi sering diduga sebagai predisposisi untuk

               mastitis,termasuk aupan garam dan lemak yang tinggi dan anemia

               tetapi bukti yang ada bersifat inkonklusif.gizi yang buruk juga telah

               diduga,khususnya status mikro nutrien yang buruk.antioksidan dari

               vitamin E,vitamin A, dan selenium diketahui mengurangi resiko pada

               hewan menyusui.uji coba suplementasi mikronutrien di tanzania

               menemukan bahwa minyak bunga matahari yag kaya vitamin E

               mengurangi tanda inflamasi payudara walaupun vitamin A dari

               minyak kelapa merah tidak

           - faktor kekebalan dalam ASI : faktor kekebalan dalam ASI dapat

               memberikan mekanisme per-

Ada dua jenis Mastitis yaitu :

   - yang hanya karena milk stasis adalah Non Infective Mastitis

   - iInfective Mastitis.




                                                                                   21
Lecet pada puting dan trauma pada kulit juga dapat mengundang infeksi bakteri.

Beberapa tindakan yang dapat dilakukan:

   - Kompres hangat/panas dan pemijatan

   - Rangsang Oxtocin; dimulai pada payudara yang tidak sakit, yaitu stimulasi

      putting,pijat leher-punggung, dan lain-lain.

   - Pemberian antibiotik; Flucloxacilin atau Erythromycin selama 7-10 hari.

   - Bila perlu bisa diberikan istirahat total dan obat untuk penghilang rasa nyeri.

   - Kalau sudah terjadi abses sebaiknya payudara yang sakit tidak boleh

      disusukan karena mungkin memerlukan tindakan bedah.



C. Masalah Menyusui Pada Masa Pasca Persalinan Lanjut

      Yang termasuk dalam masa pasca persalinan lanjut adalah sindrom ASI

      kurang,ibu bekerja.



   C.1. Sindrom ASI kurang

      Sering kenyataannya ASI tidak benar-benar kurang. Tanda-tanda yang

      “mungkin saja”



   ASI benar kurang antara lain:

      - Bayi tidak puas setiap setelah menyusui, sering kali menyusu, menyusu

          dengan waktu yang sangat lama. Tapi juga terkadang bayi lebih cepat

          menyusu. Disangka produksinya berkurang padahal dikarenakan bayi

          telah pandai menyusu.

      - Bayi sering menangis atau bayi menolak menyusu


                                                                                   22
   - Tinja bayi keras, kering atau berwarna hijau

   - Payudara tidak membesar selama kehamilan (keadaan yang jarang),

      atau ASI tidak“dating”, pasca lahir. Walaupun ada tanda-tanda tersebut

      perlu diperiksa apakah tanda-tanda tersebut dapat dipercaya.



Tanda bahwa ASI benar-benar kurang, antara lain :

      Cara mengatasinya disesuaikan dengan penyebab, terutama dicari pada

      ke 4 kelompok

faktor penyebab :

      - tehnik menyusui, keadaan ini yang paling sering dijumpai adalah

          masalah frekuensi, perlekatan, penggunaan dot/botol dan lain-lain

      - Faktor psikologis, juga sering terjadi

      - Faktor fisik ibu (jarang); a.I. KB, kontrasepsi, diuretic, hami , merokok,

          kurang gizi, dll

      - Sangat jarng, adalah factor kondisi bayi, missal : penyakit, abnormalitas

          dan lain-lain

Ibu dan bayi dapat saling membantu agar produksi ASI meningkat dan bayi terus

memberikan isapan efektifnya. Pada keadaan-keadaan tertentu dimana

produksi ASI memang tidak memadai maka perlu upaya yang lebih, misalnya

pada relaktasi, maka bila perlu dapat dilakukan pemberian ASI dengan

suplementer yaitu dengan pipa nasogastrik atau pipa halus lainnya yang

ditempelkan pada putting untuk diisap bati

dan ujung lainnya dihubungkan dengan ASI atau formula.




                                                                               23
C.2 Ibu yang bekerja

   Seringkali alas an pekerjaan membuat seseorang ibu berhenti menyusui.

   Sebenarnya

   ada beberapa cara yang dapat dianjurkan pada ibu menyusui yang bekerja :

      - Susuilah bayi sebelum ibu bekerja

      - ASI dikeluarkan untuk persediaan di rumah sebelum berangkat kerja

      - Pangosongan payudara di tempay kerja, setiap 3-4 jam

      - ASI dapat disimpan dilemari pendingin dan dapat diberikan pada bayi

          saat ibu bekerja dengan cangkir

      - Pada saat ibub dirumah, sesering mungkin bayi disusui, dang anti jadwal

          menyusuinya sehingga banyak menyusui di malah hari Keterampilan

          mengeluarkan ASI dan merubah jadwal menyusui sebaiknya telah mulai

          dipraktekkan sejak satu bulan sebelum kembali bekerja Minum dan

          makan makanan yang bergizi dan cukup selama bekerja dan selama

          menyusui nayinya.

Cara mengatasi :

   - Pengeluaran ASI :

          Keluarkan ASI sebanyak mungkin dan tampung ke cangkir atau

          tempat/teko yang

          bersih. Ada ibu yang dapat mengeluarkan sampai 2 cangkir (400-500 ml)

          atau lebih walaupun setelah bayi selesai menyusui. Tetapi meskipun hanya

          1 cangkir (200 ml) sudah bisa untuk pemberian 2 kali A 100 ml.

   - Penyimpanan ASI :




                                                                               24
     - 6-8 jam di temperature ruangan (19o-25 o C), bila masih kolostrum (susu

        awal,1-7hari) bisa sampai 12 jam

     - 1-2 hari di lemari es (4 oC)

     - Bertahun dalam “deep freezer” (-18 oC)

        ASI beku perlu dicairkan dahulu dalam lemari es 4 oC. ASI kemudian tidak

        boleh dimasakkan, hanya dihangatkan dengan merendam cangkir dalam

        air hangat.

D. Masalah Menyusui Pada Keadaan Khusus

    D.1 Masalah pada ibu

        a.Ibu melahirkan dengan bedah Caesar : Segera rawat gabung,jika

        kondisi ibu dan bayi membaik,dan menyusui segera.

        b. Ibu sakit : Ibu yang menderita Hepatitis dan AIDS, tidak

        diperkenankan untuk menyusui,namun pada masyarakat yang tidak

        dapat membeli PASI, ASI tetap dianjurkan.

        c. Ibu hamil : Tidak ada bahaya bagi ibu maupun janin, perlu

        diperhatikan untuk makan lebih banyak. Jelaskan perubahan yang dapat

        terjadi: ASI berkurang, kontraksi uterus.

    D.2. Masalah Pada Bayi

        a. Bayi sering menangis : Perhatikan sebab bayi menangis, jangan

        biarkan bayi menangis terlalu lama, puaskan menyusu.

            Sebab bayi menangis :

              - Bayi merasa tidak aman

              - Bayi merasa sakit



                                                                             25
    - Bayi Basah

    - Bayi kurang gizi

       Tindakan ibu : ibu tidak perlu cemas, karena akan mengganggu

       proses laktasi,perbaiki posisi menyusui, periksa pakaian bayi:

       apakah basah, jangan biarkan bayi menangis terlalu lama.

b.Bayi bingung putting

  Nipple Confusion adalah keadaan yang terjadi karena bayi mendapat

  susu formula dalam botol berganti-ganti dengan menyusu pada ibu.

  Terjadi karena mekanisme menyusu pada puting berbeda dengan

  botol.

  Tanda-tanda : mengisap puting seperti menghisap dot, menghisap

  terbutus-putus dan sebentar, bayi menolak menyusu.Tindakan: jangan

  mudah memberi PASI,jika terpaksa berikan dengan sendok atau pipet.

c. Bayi premature

  Susui dengan sering,walau pendek-pendek, rangsang dengan sentuh

  langit-langit bayi dengan jari ibu yang bersih, jika tidak dapat

  menghisap berikan dengan pipa nasogastrik, tangan, dan sendok.



 Uraian sesuai dengan umur bayi :

  - Bayi umur kehamilan < 30 mgg : BBL < 1250 gr. Biasanya diberi

      cairan infus selama 24-48 jam. Lalu diberikan ASI menggunakan

      pipa nasogastrik

  - Usia 30-32 mgg : BBL 1250 – 1500 gram.Dapat menerima ASI dari

      sendok, 2 kali sehari, namun masih menerima makanan lewat pipa,


                                                                   26
      namun lama kelamaan makanan pipa makin berkurang dan ASI

      ditingkatkan.

   - Usia 32-34 mgg : BBL 1500-1800 gram. Bayi mulai menyusui

      langsung dari payudara namun perlu sabar.

   - Usia > 34 mgg: BBL > 1800 gram.Mendapatkan semua kebutuhan

      dari payudara.



d. Bayi kuning

   Pencegahan : segera menyusui setelah lahir, dan jangan dibatasi atau

   susui sesering mungkin.Berikan bayi kolustrum, kolustrum mengandung

   purgatif ringan, yang membantu bayi untuk mengeluarkan mekonium.

   Bilirubin dikeluarkan melalui feses, jadi kolustrum berfungsi mencegah

   dan menghilangkan bayi kuning.



e. Bayi kembar

   Ibu optimis ASI nya cukup, susui dengan football position, susui pada

   payudara dengan bergantian untuk variasi bayi, dan kemampuan

   menghisap mungkin berbeda

F. Bayi sakit

   Tidak ada alasan untuk menghentikan pemberian ASI. Untuk bayi

   tertentu seperti diare, justru membutuhkan lebih banyak ASI untuk

   rehidrasi. Yakinkan ibu bahwa alam telah menyiapkan air susu bagi

   semua makhluk, sesuai dengan kebutuhan. Oleh karena itu semua ibu

   sebenarnya sanggup menyusui bayi kembar.


                                                                      27
G. Bayi sumbing

  Bayi tidak akan mengalami kesulitan menyusui, cukup dengan berikan

  posisi yang sesuai, untuk sumbing pallatum molle ( langit-langit lunak ),

  dan pallatum durum (langit-langit keras) Manfaat menyusui bagi bayi

  sumbing : melatih kekuatan otot rahang dan lidah,memperbaiki

  perkembangan bicara, mengurangi resiko terjadinya otitis media.

  Untuk bayi dengan palatoskisis ( celah pada langit-langit ) : Menyusui

  dengan posisi duduk, putting dan areola pegang saat menyusui, ibu jari

  ibu digunakan sebagai penyumbat lubang, kalau mengalami

  labiopalatoskisis, berikan ASI dengan sendok, pipet, dot panjang



H. Bayi dengan lidah pendek ( Lingual Frenulum )

  Keadaan ini jarang terjadi, dimana bayi mempunyai jaringan ikat

  penghubung lidah dan dasar mulut yang tebal dan kaku, sehingga

  membatasi gerak lidah, dan bayi tidak dapat menjulurkan lidah untuk

  menangkap puting. Cara menyusui : Ibu membantu dengan menahan

  kedua bibir bayi segera setelah bayi dapat menangkap puting dan

  areola dengan benar.

I. Bayi yang memerlukan perawatan

  Ibu ikut dirawat supaya pemberian ASI bisa dilanjutkan. Seandainya

  tidak memungkinkan, ibu dianjurkan untuk memerah ASI setiap 3 jam

  dan disimpan didalam lemari untuk kemudian sehari sekali daiantar




                                                                        28
kerumah sakit.Perlu ditandai pada botol waktu ASI tersebut

ditampung, sehingga dapat diberikan sesuai jam nya.




                                                        29
                                              BAB IV

                                            PENUTUP

KESIMPULAN

Dapat di simpulkan bahwa dari faktor yang menyebabkan permassalahan dalam

menyusui, bukan hanya dari faktor ibu saja,tp dari faktor bayinya juga berpengaruh,

seperti sistem kenyutan bayi yang kurang atau karena kelainan bawaan dari lahir

bayi, seperti palatolabioskisis yag menyebabkan bayi tidak bisa menyusu dengan

optimal, sehingga menyebabkan pihak ibu mengalami bendungan

payudara,bendungan payudara itu sendiri terjadi karena pengeluran ASI yang tidak

maksimal dan terjadilah mastitis/abses payudara sehingga bengkak dan

menyebabkan ibu enggan untuk menyusui bayinya karena rasa sakit yang di

rasakan oleh ibu,selain hal diatas bisa juga permasalahan tersebut timbul dari

kesalahan teknik ibu dalam menyusui dan personal hygiene yang kurang yang

akibatnya terjadi payudara lecet dan perih saat menyusui serta berakibat menjadi

permasalahan dalam menyusui




                                                                                   30
                             DAFTAR PUSTAKA

- Lauwers J, shienskie D, counseling the nursing mother: a lactation consultants

   guid.3rd ed. Boston,johns and bartlet,2000




                                                                                   31

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:10951
posted:12/11/2010
language:Indonesian
pages:31