Docstoc

SEDIAAN PADAT DAN INJEKSI DIII FARMASI

Document Sample
SEDIAAN PADAT DAN INJEKSI DIII FARMASI Powered By Docstoc
					                         periode[2010/2011]
Tugas makalah kelompok



     Sediaan Padat dan injeksi




                                    DIII FARMASI
                                FAKULTAS KESEHATAN
                          UNIVERSITAS MUHAMADIYAH MATARAM
                    2



             TUGAS
MAKALAH SEDIAAN PADAT DAN INJEKSI




                 OLEH :
           YULIA GITA SASTIA Z




               DIII FARMASI
           FAKULTAS KESEHATAN
   UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MATARAM




                                      2
                                 3



                              KATA PENGANTAR




      Segala puji syukur kehadirat ALLAH SWT yang telah memberikan

kesempatan kepada kami sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang

berjudul “SEDIAAN PADAT DAN INJEKSI” tepat pada waktunya.

      Kami mengharapkan dengan adanya makalah ini dapat menambah

wawasan kita mengenai gangguan dan msalah dalam sistem reproduksi wanita

dan cara memberikan penanganannya .

      Kami menyadari dalam penyusunan makalah ini masih terdapat

kekurangan, untuk kami    mohon kritik dan saran yang membangun untuk

penyempurnanan makalah ini.




                                                                     3
                                   4



                              DAFTAR ISI
BAB I
PENDAHULUAN
  1. Latar belakang …………………………………………………………………4
  2. Rumusan masalah ………………………………………………………………6
  3. Maksud dan tujuan ………….…………………………………………………6
  4. Ruang lingkup ………………………………………………………………….7
BAB II
PEMBAHASAN SEDIAAN PADAT DAN INJEKSI
  A. Sediaan padat…….. ……………………………………………………………8
      A.1 klasifikasi
             a. tablet……….……………….….………………………………………8
             b. pemakaian sediaan tablet ……………………………………………8
             c.jenis-jenis tablet ………………………………………………………9
             d.formulasi dan disain tablet …………………………………………10
      A.2 pendekatan sistematis disain tablet ...……………………………………10
             a. factor-faktor yang mempengaruhi …..…………………………….10
             b. komponen tablet ………………………….…………………………11
      A.3 metode pembuatan …………………… ……….…………………………12
             a. cetak langsung ……………………………………………………….12
             b. tidak langsung …………………………….…………………………13
      A.4 permasalahan pada pembuatan tablet
             a.capping ………………………………………..………………………16
             b. laminating ……………………………………………………………17
             c. picking dan sticking …………………………...…………………….17
             d. mottling ………………….………………………..………………….17
             e.wiahkering …………………………………………..………………..18
             f.variasi …………………………………………………..……………..18
             g. deining …………………….…………………………………………18
   B. SEDIAAN INJEKSI
      B.1 pengertian ………………………………………………………….………20
      B.2 intravena …………………………………………………………………...21
      B.3 beerapa contoh injeksi …………………………………………………….22
             B.3.a injeksi antibiotic untuk meningitis ……………………………..22
             B.3.b injeksi antibiotic golongan beta laktam ………………………..23
             B.3.c injeksi oxytocin …………………………………………………..24
             B.3.d injeksi vitamin C …… …………………………………………..24
             B.3.e injeksi digoksin …………………………………………………..25
             B.3.f injeksi klopronazin……………………………………………….26
             B.3.g injeksi antiradang ……………………………………………….26
BAB III
  A. Kesimpulan
      1. Sediaan padat ………………...……………………………………………28
      2. Sediaan injeksi ……………………………………………………………..28
  B. Saran ……………………………………………………………………………29
DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………………………….30



                                                                     4
5




    5
                                          6



BAB I
PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang Masalah



    Manusia tak pernah berhenti melakukan berbagai macam penelitian untuk

    mendapatkan fakta yang tepat dan akurat tentang obat. Mereka juga mencari tahu

    tentang bentuk sediaan, cara pembuatan dan berbagai hal yang ada kaitannya

    dengan obat. Obat yang beredar di masyarakat ada berbagai macam jenis. Bentuk

    yang dibuat disesuaikan dengan tujuan pemakaiaannya. Bentuk sediaan obat tidak

    hanya tablet, tetapi ada beberapa bentuk sediaan lainnya.Namun demikian, jika

    kita melihat kenyataan bahwa obat dengan bentuk sediaan cair dan semi solid

    dapat dirasakan faedahnya, tetapi minat seorang formulator terhadap sediaan

    padat tidak menurun.Berpijak dari kenyataan tersebut, maka penulis dapat

    mengambil kesimpulan bahwa obat dengan bentuk sediaan padat (tablet)

    merupakan bagian penting dalam masyarakat. Karena bentuk sediaan ini efisien

    dan bisa dikonsumsi dengan mudah oleh masyarakat.

    Sedangkan Sterilisasi adalah proses yang dirancang untuk menciptakan keadaan

    steril. Secara tradisional keaadan sterill adalah kondisi mutlak yang tercipta

    sebagai akibat penghancuran dan penghilangan semua mikroorganisme hidup.

    Konsep ini menyatakan bahwa steril adalah istilah yang mempunyai konotasi

    relative, dan kemungkinan menciptakan kondisi mutlak bebas dari

    mikroorganisme hanya dapat diduga atas dapat proyeksi kinetis angka kematian

    mikroba.

    Ampul adalah wadah berbentuk silindris yang terbuat dari gelas yang memiliki



                                                                                     6
                                     7



ujung runcing (leher) dan bidang dasar datar. Ukuran nominalnya adalah 1, 2, 5,

10, 20 kadang-kadang juga 25 atau 30 ml. Ampul adalah wadah takaran tunggal,

oleh karena Produk steril adalah sediaan terapetis dalam bentuk terbagi-bagi yang

bebas dari mikroorganisme hidup. Pada prinsip ini termasuk sediaan parenteral

mata dan iritasi. Sediaan parenteral ini merupakan sediaan yang unik diantara

bentuk obat terbagi-bagi, karena sediaan ini disuntikan melalui kulit atau

membran mukosa kebagian dalam tubuh. karena sediaan mengelakkan garis

pertahanan pertama dari tubuh yang paling efisien, yakni membran kulit dan

mukosa, sediaan tersebut harus bebas dari kontaminasi mikroba dan dari

komponen toksis,dan harus mempunyai tingkat kemurnian tinggi atau luar biasa.

Semua komponen dan proses yang terlibat dalam penyediaan dalam produk ini

harus dipilih dan dirancang untuk menghilangkan semua jenis kontaminasi apakah

fisik, kimia, mikrobiologis.

total jumlah cairannya ditentukan pemakaian dalam satu kali pemakaiannya untuk

satu kali injeksi. Menurut peraturan ampul dibuat dari gelas tidak berwarna, akan

tetapi untuk bahan obat peka cahaya dapat dibuat dari bahan gelas berwarna

coklat tua. Ampul gelas berleher dua ini sangat berkembang pesat sebagai ampul

minum untuk pemakaian peroralia

Ampul merupakan wadah takaran tunggal sehingga penggunaannya untuk satu

kali injeksi. Ampul dibuat dari bahan gelas tidak berwarna akan tetapi untuk

bahan obat yang peka terhadap cahaya, dapat digunakan ampul yang terbuat dari

bahan gelas berwarna coklat tua.




                                                                                7
                                       8




2. Perumusan Masalah

   Berdasarkan latar belakang masalah diatas, beberapa hal yang perlu digali dalam

   pembahasan makalah kali ini adalah :

3. Maksud dan tujuan

   Maksud dari penulis membuat makalah ini adalah untuk memenuhi salah satu

   tugas mata diklat Mengelola Proses Produksi Farmasi Padat (MPPFP). Sebelum

   melaksanakan suatu kegiatan terlebih dahulu agar pelaksanaannya terarah pada

   tujuan yang di tentukan. Adapun tujuan penulis menyusun makalah ini yaitu

   untuk menambah ilmu pengetahuan khususnya pada mata diklat Mengelola

   Proses Produksi Farmasi Padat (MPPFP).

   Oleh sebab itu, akhirnya penyusun merasa tertarik untuk mencoba membahas

   dalam makalah ini dengan judul “Sediaan Farmasi Padat (Tablet)”.

   Dari perumusan masalah diatas, maka yang menjadi tujuan pembuatan makalah

   ini :

      - Pengertian Tablet

      - Pemakaian sediaan tablet

      - Jenis-jenis tablet

      -. Formulasi dan disain tablet

      -. Zat tambahan

      -. Metode Pembuatan tablet




                                                                                  8
                                           9



         -. Uji-uji sifat granul

         -. Uji-uji kualitas tablet jadi

         -. Permasalahan pada pembuatan tablet

         -. Pengemasan dan penyimpanan tablet



4. Ruang Lingkup Pembahasan

     Dalam pembahasan ini mencakup seluruh kerangka dan tujuan masalah yang

     disampaikan. Dengan mengambil materi dari berbagai sumber. Sumber tersebut

     tentunya berisi materi yang ada kaitannya dengan masalah Sediaan Farmasi Padat

     (Tablet). Serta banyak penjelasan yang diambil untuk pelengkap pembahasan ini

     sehingga, materi akan terbentuk secara teratur dan mudah untuk difahami.




                                                                                     9
                                        10



                                       BAB II

                                  PEMBAHASAN

                        SEDIAAN PADAT DAN INJEKSI



A. SEDIAAN PADAT

A.1. klasifikasi dari jenis sediaan padat

A.1.a Pengertian Tablet

     Pengertian tablet menurut FI III (Farmakope Indonesia III) adalah sediaan padat

     kompak cetak yang dibuat secara kempa cetak yang berbentuk tabung, pipih,

     silkuler, permukaannya bisa rata atau cembung, mengandung 1 jenis obat atau

     lebih dengan atau tanpa zat tambahan.

   b.Pemakaian Sediaan Tablet

     Cara pemakaian sediaan tablet yang paling sering digunakan oleh masyarakat

     ialah “per-oral” atau melalui mulut kemudian masuk ke saluran cerna.

     Sebenarnya cara penggunaan sediaan tablet tidak hanya per-oral, tetapi ada

     beberapa macam cara lainnya, diantaranya :

         - Oral (melalui mulut kemudian masuk ke saluran cerna)

         - Sublingual (tablet disimpan di bawah lidah)

         - Bukal (di antara pipi dan gusi)

         - Vaginal (vagina)




                                                                                  10
                                     11



c. Jenis-Jenis Tablet

  Tablet tidak hanya memiliki cara pemakaian yang berbeda-beda, tetapi jenis

  tablet juga memiliki banyak macamnya. Berikut ini jenis-jenis tablet beserta

  pengertiannya :

     - Tablet kompresi adalah tablet yang di buat dengan sekali penekanan

         untuk menjadi berbagai bentuk dan ukuran.

     - Tablet kompresi ganda adalah tablet yang di buat dengan dua kali

         penekanan. Tablet ini suka di sebut tablet kompresi berlapis.

     - Tablet salut adalah tablet yang di salut dengan penyalut tertentu.

         Contohnya dengan penyalut gula (tablet gula), dengan selaput tipis atau

         lapisan polimer (tablet salut selaput), dengan lapisan yang tidak larut

         dalam lambung tetapi larut dalam usus (tablet salut enterik)

     -   Tablet bukal atau sublingual adalah tablet bukal adalah tablet yang di

         gunakan dengan cara di sisipkan di pipi, sedangkan tablet sublingual

         adalah tablet yang di gunakan dengan cara disisikan di bawah lidah.

     - Tablet kunyah adalah tablet lembut yang langsung hancur ketika di

         kunyah atau dibiarkan melarut dalam mulut

     -   Tabet effervescent adalah tablet yang di buat dengan di kempa yang

         selain zat aktif, juga mengandung campuran asam dan natrium

         bikarbonat yang mampu melepasakan gas karbondioksida ketika

         bercampur dengan air.

     - Tablet triturat adalah tablet kempa berbentuk kecil di buat secara

         kompresi dan biasanya mengandung sejumlah kecil bahan obat,



                                                                                   11
                                       12



            umumnya silindris di gunakan untuk mamberikan jumlah terukur yang

            tepat untuk peracikan .

        -   Tablet hipodemik adalah tablet yang di buat dari bahan yang mudah

            larut dalam air. Dulu biasanya di gunakan untuk membuat sediaan

            injeksi hipodemik.

        - Tablet dengan pelepasan terkendali adalah tablet yang pelepasan bahan

            aktifnya berlangsung secara terkendali dan secara ideal, proses tersebut

            diharapkan dapat berlangsung pada laju yang konstan tanpa tergantung

            pada pH dan kandungan ion semua bagian saluran cerna.



    d. Formulasi dan disain tablet

        Formulasi dan disain tablet ialah suatu proses dimana seorang formulator

        menjamin bahwa sejumlah obat berada dalam suatu sediaan yang dapat

        menentukan obat dengan kecepatan dan waktu tertentu di tempat kinerjanya.

        Supaya proses ini dapat berjalan dengan baik, maka harus memperhatikan

        beberapa hal yang berkaitan atau berpengaruh pada proses ini. Berikut ini

        hal-hal yang mempengaruhi formulasi dan disain tablet :

A.2.Pendekatan sistematis disain tablet

A.2.a. Faktor-faktor yang mempengaruhi jenis eksipien yang digunakan :

    - Preformulasi

    - Tujuan pengobatan

    - Pasar atau market

    - Ekonomis



                                                                                  12
                                     13



- Kualitas proses dan produk, meliputi : Keseragaman bobot dan

    air,Kekerasan, Friabilitas, Waktu hancur,Kadar air, Kecepatan disolusi,

    Bioavailabilitas

b. Komponen tablet

Secara umum bentuk sediaan tablet mangandung :

  - Zat aktif

  - Zat Tambahan

        Dari pengertian diatas dapat dilihat bahwa dalam pembuatan tablet

        membutuhkan dua komponen yang penting. Zat tambahan merupakan

        salah satu komponen yang digunakan untuk pembuatan tablet. Zat

        tambahan yang digunakan, secara garis besar dibagi menjadi 5 macam,

        yaitu :

            1. Zat pengisi

                  Contoh zat pengisi yang biasa digunakan, yaitu : Laktosa,

                  Amilum, Manitol, Sorbitol,Avicel

            2. Zat pengikat

                  Contoh zat pengikat yang biasa digunakan, yaitu : Gom

                  arab,Tragacant, Amilum, Etosel, Sukrosa

            3. zat pelicin

                  Contoh zat pelicin yang biasa digunakan ada 2 macam : zat

                  pelicin yang tidak larut dalam air : Mg. Stearat, Al. stearat, Ca.

                  stearat,Talk,Asam stearat,Farapin




                                                                                  13
                                          14



                       - zat pelicin yang larut dalam air : Asam adipatDi l-

                       leusin,Griseril tri asetat,Mg lauril sulfat, PEG,Na benzoat

                  4. Zat penghancur

                       Contoh zat penghancur yang biasa digunakan, yaitu : Amilum,

                       Turunan selulosa,Musilago amili

                  5. Zat warna, pewangi, dan pemanis



A.3 Metode Pembuatan tablet

   Metode pembuatan tablet secara garis besar ada 2 macam :

A.3.a Cetak langsung

   Cetak langsung adalah merupakan proses dan waktu yang sangat sederhana akan

   tetapi bahan-bahan yang digunakan sangatlah mahal.

   prosesnya :

   - Pengayakan bahan-bahan

   - Penimbangan dan pencampuran

   - pencetakan

   Keuntungan :

    - Waktu dan peralatan lebih sederhana

    - Tidak memerlukan bahan pengikat

   - Disolusi dan waktu hancur lebih cepat karena tidak ada bahan pengikat

    - Tidak memerlukan air dan panas

   Kerugian :




                                                                                     14
                                         15



    - Tidak semua zat aktif bisa dicetak langsung



A.3.b Tidak langsung (proses granulasi)

    Merupakan salah satu metode dalam pembuatan tablet secara kempa tidak langsung

    dan metoda kempa langsung.

    Granulasi dibagi menjadi dua :

    - Granulasi basah, Proses:

     1. Pengayakan bahan

     2. Penimbangan dan pencampuran bahan

     3. Pembuatan bahan pengikat

     4. Penambahan bahan pengikat pada campuran

     5. Pengayakan dengan mesh 14

     6. Pengeringan granulasi basah

     7. Pengayakan dengan mesh 16

     8. Penambahan zat pengikat

     9. Pencetakan

     Keuntungan :

          - Memperbaiki daya kohesi dan kompresibilitas

         - Memberikan distribusi dan keseragaman kandungan zat aktif yang baik

          - Dapat mengurangi kehalusan serbuk

          - Penampilan tablet menjadi lebih baik

     Kerugian :




                                                                                 15
                                      16



 - Banyak tahapan kerjanya

 - Ada zat pengikat yang mempengaruhi pelepasan obat

  - Tidak bisa untuk zat aktif yang tidak tahan terhadap panas dan air

 - Kemungkinan terjadi kontaminasi lebih dibandingkan dengan cetak langsung



- Granulasi kering

Proses granulasi kering :

   1. Pengayakan bahan-baha

   2.   Penimbanga

   3.   Pencetakan tablet besar

   4. Pengayakan granulasi basa

   5.   Pengayakan dengan mesh-1

   6.   Penambahan zat pengikat

   7.   Pencetakan

Keuntungan :

   - Tidak diperlukan panas dan air

   - Peralatan lebih sederhana

   - Waktu lebih singkat

Kerugian :

   - Penampilan tablet kurang baik

   - Keseragaman isi kurang baik

   - Dibutuhkan lebih banyak zat pelicin




                                                                          16
                                       17



Uji-uji sifat granul :

   - Waktu hancur

   - Sudut diam

   - Pengetapan

   - Distribusi ukuran partikel

Uji-uji kualitas tablet jadi

      a. Uji keseragaman bobot

      Caranya :

      - Ditimbang 20 tablet lalu dihitung rata-ratanya

      - Ditimbang satu persatu

      b. Uji kerapuhan

      Caranya :

      - Ditimbang 20 tablet lalu dimasukan ke dalam alat yaitu friability tester.

      - kemudian alat itu diputar selama 4 menit dengan kecepatan 25 RPM

      - Dibebas debukan

      - Ditimbang.

      - Hitung presentase kehilangan beratnya. Gunakan rumus :

      (Friabilitas = a1 - a2)

       dimana a2 x 100%

      c. Uji waktu hancur

      Caranya :

      - Keranjang berisi tablet di masukan ke dalam air dengan suhu 36-370C

      - Lalu keranjang tersebut di naik turunkan 30 kali permeni




                                                                                    17
                                           18



          d. Uji kekerasan

          Caranya :

          - 5 tablet diuji dengan menggunakan alat yaitu strong cobb

          - Simpan tablet di antara anyil dan punch

          - Tekan knobb sedikit demi sedikit

          - Lihat skala yang ada pada alat saat tablet pecah

          e. Uji disolusi

          Caranya :

          - Menggunakan alat yang disebut dengan disolution tester

          - Tablet di masukan ke dalam cairan seperti asam lambung

          - Kemudian di putar, lalu selang waktu tertentu sampel tersebut diuji

          f. Uji keseragaman kadar zat aktif

          Caranya :

          - 20 tablet ditimbang lalu digerus

          - Lalu diuji dengan menggunakan alat yaitu spektrofotometer

A.4 Permasalahan pada pembuatan tablet

A.4.a Capping :

Capping yaitu terpisahnya sebagian atau seluruhnya permukaan atas atau bawah tablet

dari tubuh tablet

Faktor-faktor penyebabnya adalah :

     - Bahan pengikat yang tidak cocok

     - Jumlah fines yang berlebihan

     - Masa cetak yang masih basah




                                                                                  18
                                         19



     - Tekanan yang berlebihan

     - Granul terlalu kering

     - Permukaan punch dan die yang kasar

     - Bentuk pisik zat berkhasiat

     - Pemasangan punch bawah yang tidak tepat



A.4.b Laminating :

Laminating yaitu terpisahnya tablet menjadi dua lapisan atau lebih.

A.4.c Picking dan sticking :

Picking dan sticking yaitu terkelupasnya permukaan tablet akibat menempelnya bagian

tablet pada permukaan punch.

Faktor-faktor penyebabnya adalah :

     - Jumlah lembab yang berlebih

     - Julah lubrikan yang tidak tepat

     - Pengaruh bahan pembantudengan titik leleh yang rendah

     - permukaan punch yang kasar

     - Kekeliruan dalam pemilihan bahan pengikat

     - Humidity relatif ruang cetak

A.4.d Mottling :

Mottling yaitu tidak meratanya distribusi bahan pewarna sehingga tablet tampak

adanya bercak pada permukaan tablet lainnya dimana bahan pewarna tersebut merata.

Faktor-faktor penyebabnya adalah :




                                                                                 19
                                            20



          - Hasil urai zat aktif

          - Warna zat berkhasiat yang tidak sama dengan bahan pembantu

          - Migrasi bahan pewarna

 A.4.e Whiskering :

  Whiskering yaitu adanya misai yang tipis pada permukaan atas maupun permukaan

 bawah tablet.

 Faktor-faktor penyebabnya adalah :

          - Presici punch dengan die yangtidak sesuai lagi

          - Berat kasarnya permukaan punch pada bagian sisi punch sebelah atas

A.4.f Variasi

Faktor-faktor penyebabnya adalah :

          - Ukuran dan distribusi granul yang akan dicetak

          - Aliran yang buruk

          - Pencampuran yang tidak baik

          - Punch



          7. Kekerasan variasi

          Kekerasan variasi yaitu tergantung dari bobot zat khasiat dan jarak antara

          permukaan punch bawah dan permukaan punch atas pada saat terjadi

          pencetakan.

 A.4.g Deining :

 Deining yaitu pelengketan pada die atau cetakan tablet atau pengeluaran tablet yang

 susah.




                                                                                       20
                                         21



Pengemasan dan penyimpanan tablet



A.5 Pengemasan tablet yang baik adalah

      - Tersimpan dalam wadah tertutup rapat

      - Disimpan ditempat dengan kelembapan yang rendah

      - Terlindung dari temperatur tinggi.




                                                          21
                                           22




B. SEDIAAN INJEKSI

B.1 pengertian

  Injeksi adalah sediaan steril yang disuntikkan dengan cara merobek jaringan ke dalam

  kulit atau melalui kulit atau melalui selaput lender. Umumnya hanya larutan obat

  dalam air yang bisa diberikan secara intravena. Suspensi tidak bisa diberikan karena

  bahaya hambatan pembuluh kapiler. Suspensi air, minyak dan larutan minyak

  biasanya tidak dapat diberikan secara subkutan, karena akan timbul rasa sakit dan

  iritasi. Jaringan otot mentolerasi minyak dan partikel-partikel yang tersuspensi cukup

  baik, di dalam minyak sehingga jaringan tersebut merupakan satu-satunya rute yang

  biasanya cocok untuk minyak dan suspensi dalam minyak

  Injeksi telah digunakan untuk pertama kalinya pada manusia sejak tahun 1660,

  meskipun demikian perkembangan pertama injeksi semprot baru berlangsung pada

  tahun 1852, khususnya pada saat dikenalkannya ampul gelas, untuk

  mengembangkannya bentuk aplikasi ini lebih lanjut. Ampul gelas secara serempak

  dirumuskan oleh apoteker LIMOUSIN (Perancis) dan FRIEDLAENDER (Jerman)

  pada tahun 1886.

      Hal-hal yang perlu diperhatikan antara dalam keadaan:

          • Tidak perlu pengawet karena merupakan takaran tunggal

          • Tidak perlu isotonis

          • Diisi melalui buret yang ujungnya disterilkan terlebih dahulu dengan

          • alkohol 70 %

          • Buret dibilas dengan larutan obat sebelum diisi.




                                                                                      22
                                           23



       a) Persyaratan dalam larutan injeksi :

             Kerja optimal dan sifat tersatukan dari larutan obat yang diberikan secara

             parenteral hanya akan diperoleh jika persyaratan berikut terpenuhi :

             Sesuainya kandungan bahan obat yang dinyatakan di dalam etiket dan

             yang ada dalam sediaan, tidak terjadi penggunaan efek selama

             penyimpanan akibat perusakan obat secara kimia dan sebagainya.

       b) Penggunaan wadah yang cocok, yang tidak hanya memungkinkan sediaan

             tetap steril tetapi juga mencegah terjadinya antaraksi antarbahan obat dan

             material dinding wadah.

       c) Tersatukan tanpa terjadinya reaksi. Untuk beberapa faktor yang paling

             menentukan: bebas kuman, bebas pirogen, bebas pelarut yang secara

             fisiologis, isotonis , isohidris, bebas bahan melayang.



B.2.Intravena

  Merupakan larutan yang dapat mengandung cairan yang tidak menimbulkan iritasi

  yang dapat bercampur dengan air, volume 1 ml sampai 10 ml. Larutan ini biasanya

  isotonis dan hipertonis. Bila larutan hipertonis maka disuntikkan perlahan-lahan.

  Larutan injeksi intravena harus jernih betul, bebas dari endapan atau partikel padat,

  karena dapat menyumbat kapiler dan menyebabkan kematian. Penggunaan injeksi

  intravena tidak boleh mengandung bakterisida dan jika lebih dari 10 ml harus bebas

  pirogen.

  Pemberian obat intramuscular menghasilkan efek obat yang kurang cepat, tetapi




                                                                                    23
                                        24



  biasanya efek berlangsung lebih lama dari yang dihasilkan oleh pemerian lewat IV.

  Syarat pemerian obat secara IM :

      • dapat berupa larutan, air, minyak, atau suspensi. Biasanya dalam bentuk air

      lebih cepat diabsorbsi dari pada bentuk suspensi dan minyak.

      • dilakukan dengan cara memasukkan ke dalam otot rangka

      • tempat penyuntikan sebaiknya sejauh mungkin dari syaraf- syaraf utama dan

      pembuluh-pembuluh darah utama.

      • pada orang dewasa, tempat yang paling sering digunakan utnuk suntik IM,

      adalah seperempat bagian atas luar otot gluteus max. pada bayi, daerah glutel

      sempit dan komponen utama adalah lemak, Bukan otot

      • tempat suntikan lebih baik dibagian atas atau bawah deltoid, karena lebih

      jauh dari syaraf radial.

      • Volume yang umum diberikan IM, sebaiknya dibatasi maximal 5 mili, bila

      disuntuikan didaerah glutel dan 2 ml bila di deltoid.



B.3 Beberapa contoh Injeksi

B.3.a Injeksi Antibiotik untuk Meningitis

    Meningitis merupakan peradangan meningen biasanya disebabkan bakteri atau

    virus.Bakteri yang dapat menimbulkan penyakit ini adalah antara lain :

    Haemophilus influenzae, Neisseria meningitidis, Streptococcus pneumoniae,

    Mycobacterium tuberculosis. Sedangkan virus yang dapat menyebabkan

    meningitis antara lain: virus coxsackie, virus gondongan dan virus

    koriomeningitis limfositik.




                                                                                    24
                                          25



   Ampisilin merupakan salah satu antibiotik yang dapat digunakan untuk mengobati

   meningitis. Penggunaanya biasa dikombinasi dengan sulbaktam untuk

   meningkatkan aktivitas nya. Dosis lazim yang digunakan adalah: 1,5 gr – 3gr

   kombinasi antara ampisilin dengan sulbaktam dengan perbandingan 2:1.

   berdasarkan literatur 375 mg kombinasi tersebut larut dalam 1 ml air. Sehingga

   bentuk sediaan yang dipakai adalah ampul rekonstitusi karena ampisilin tidak

   stabil pada air pada waktu yang lama.



B.3.b Injeksi Antibiotik Golongan Beta Laktam

   Suspensi kering adalah sediaan khusus dengan preparat berbentuk serbuk kering

   yang baru dirubah menjadi suspensi dengan penambahan airr sesaat sebelum

   digunakan.

   Kebanyakan dari obat-obat yang dibuat dari campuran kering untuk suspensi oral

   adalah obat-obat anatibiotik karena obat-obat seperti antibiotik tidak stabil untuk

   disimpan dalam periode tertentu dengan adanya cairan pembawa air maka lebih

   sering diberikan sebagai campuran serbuk keringuntuk dibuat suspensi pada

   waktu pada waktu akan diberikan. Alasan pembuatan suspensi kering salah

   satunya adalah karena obat-obat tertentu tidak stabil secara kimia bila ada dalam

   larutan tapi stabil bila disuspensi.

   Suspensi kering dibuat dengan granulasi maupun tanpa granukasi. Granulasi

   adalah suatu metode yang memperbesar ukuran partikel serbuk guna memperbaiki

   sifat alir serbuk.




                                                                                   25
                                          26



 Persyaratan pada sebuah granulat sebaiknya :

     o Dalam bentuk dan warana yang sedapat mungkin teratur

     o Memiliki sifat alir yang baik

     o Tidak terlalu kering

     o Hancur baik dalam air

     o Menunjukkan kekompakan mekanis yang memuaskan

B.3.c Injeksi Oxytocin (Intramuskular)

     Oksitosin (ŏk'sĭ-tō'sĭn) (bahasa Yunani: "kelahiran cepat") adalah hormon pada

     manusia yang berfungsi untuk merangsang kontraksi yang kuat pada dinding

     rahim/uterus sehingga mempermudah dalam membantu proses kelahiran.

     Injeksi oksitosin adalah larutan steril dalam pelarut yang sesuai, bahan yang

     mengandung hormon polipeptida yang mempunyai sifat yang menyebabkan

     kontraksi otot rahim, otot vaskular, dan otot halus lain, yang dibuat dengan

     sintesis atau diperoleh dari globus posterior kelenjar pituitaria hewan peliharaan

     sehat yang biasa dimakan.

B.3.d Injeksi Vitamin C

     Vitamin C tidak boleh diberikan secara oral kepada pasien dalam kondisi tertentu

     seperti pasien penderita maag. Namun pada keaadaan defisiensi vitamin C pasien

     tersebut harus segera diberikan suplemen vitamin C. Oleh sebab itu vitamin c

     dibuat dalam bentuk sediaan injeksi. Injeksi intravena vitamin C dapat

     menyebabkan pusing dan pingsan, oleh sebab itu vitamin C dibuat dalam bentuk

     injeksi intra muscular, walaupun pemmberian secara IM akan meninggalkan rasa




                                                                                     26
                                         27



     sakit ditempat suntikan. Pemerian obat IM memberikan efek obat yang kurang

     tepat, tetapi biasanya efek berlangsung lebih lama dari yang dihasilkan

B.3.e Injeksi Digoksin ( Intravena )

     Injeksi Digoxin adalah larutan steril digoksin dalam pelarut yang sesuai. Digoksin

     merupakan glikosida kardiotonik yang diperoleh dari daun Digitalis lanata.

     Digoksin, manfaatnya pada gagal jantung kongestif terutama karena efek

     peningkatan kontraktilitas jantung, sehingga menyebabkan peningkatan curah

     jantung sehingga tekanan vena berkurang dan akan mengurangi gejala bendungan.

     Selain itu juga menyebabkan perlambatan denyut ventrikel dan fibrilasi dan flutter

     atrium, namun pada dosis toksik dapat menimbulkan aritmia. Injeksi digoksin

     dibuat dalam bentuk suspensi, karena digoksin merupakan zat aktif yang tidak

     larut dalam air. Agar larut dan stabil maka digunakan zat tambahan yaitu

     suspending agent. Suspending agent yang digunakan adalah CMC Na

     (Carboxymetylcellulosa natrium) dengan konsentrasi 0,05 – 0,75 %, digunakan

     dalam konsentrasi yang rendah agar dapat bercampur dengan darah dan tidak

     menghambat aliran darah.

     Zat pengisotonis tidak digunakan dalam sediaan ini karena voleme sediaan kecil

     yaitu 1 ml. Zat pengawet juga tidak digunakan karena sediaan ini merupakan

     dosis tunggal. Sebelum dicampur dengan suspending agent, digoksin digerus

     terlebih dahulu agar ukuran partikelnya lebih kecil dan seragam sehingga lebih

     mudah terdispersi dan tidak mengendap ketika digunakan. Rute pemberian adalah

     secara intravena yang menimbulkan efek lebih cepat daripada intramuscular atau




                                                                                    27
                                           28



      subcutan karena digoksin merupakan obat jantung yang efeknya harus cepat selain

      itu pemberian intramuscular dapat menimbulkan nyeri yang hebat dan nekrosis.



B.3.f Injeksi Klopromazin (Intramuscular)

      Injeksi klorpromazin adalah sediaan larutan steril yang mengandung klorpromazin

      hidroklorida dalam air injeksi yang diberikan



B.3.g Injeksi Anti Radang – Anti Rematik

      Dexamethason mempunyai kegunaan sebagai anti inflamasi. Dexamethason

      dibuat sediaan injeksi karena untuk mendapatkan efek yang lebih cepat. Wadah

      yang digunakan berbentuk ampul karena sediaan injeksi dexamethason

      merupakan sediaan dosis tunggal dimana pemakaiannya hanya untuk satu kali.

      Pengawet harus ditambahkan untuk menjaga tumbuhnya mikroba sehingga

      sterilitas tetap terjaga.



B.3.h Injeksi Teofilin



Cara sterilisasi :

        • Aminofilin merupakan kompleks 2:1 dari Teofilin dan etilendiamin

        • Teofilin sebagai z.a untuk antiasma

        • Etilendiamin digunakan agar terbentuk kompleks aminofilin yang mudah larut

        dalam air

        • Bentuk pemberian adalah injeksi iv yang digunakan dalam wadah dosis




                                                                                   28
                                   29



tunggal ampul

• Tidak perlu ditambahkan pengawet karena sediaan dalam wadah dosis tunggal

• Sterilisasi akhir dengan autoklaf karena zat tetap stabil pada pemanasan tinggi




                                                                              29
                                            30



                                        BAB III

                                       PENUTUP




A. Kesimpulan

A.1 Sediaan padat

  Melalui pembahasan diatas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa :

  1. Proses pembuatan tablet berbeda-beda.

  2. Jenis tablet yang beredar banyak macamnya.

  3. Setiap sediaan obat memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.

A.2 Sediaan injeksi

    Sterilisasi adalah proses yang dirancang untuk menciptakan keadaan steril. Secara

    tradisional keaadan sterill adalah kondisi mutlak yang tercipta sebagai akibat

    penghancuran dan penghilangan semua mikroorganisme hidup.Biasanya sterilisasi

    dapat dimasukkan kedalam ampul yang hanya dapat digunakan hanya satu kali

    injeksi.

    Injeksi adalah sediaan steril yang disuntikkan dengan cara merobek jaringan ke

    dalam kulit atau melalui kulit atau melalui selaput lender. Umumnya hanya larutan

    obat dalam air yang bisa diberikan secara intravena. Suspensi tidak bisa diberikan

    karena bahaya hambatan pembuluh kapiler. Suspensi air, minyak dan larutan minyak

    biasanya tidak dapat diberikan secara subkutan, karena akan timbul rasa sakit dan

    iritasi

    Larutan injeksi mempunyai persyaratan tertentu . Banyak macam-macam bahan




                                                                                        30
                                           31



  injeksi yang dapat disterilisasi satu diantaranya adalah injeksi teofilin sebagai obat

  anti asma

B.Saran

Melalui pembahasan diatas maka di sarankan untuk :

  1. Dalam pemilihan proses pembuatan, sesuaikan dengan sifat zat aktifnya.

  2. Untuk memilih jenis tablet yang akan dibuat harus sesuai dengan tujuan

  pembuatan..

  3. Dalam setiap proses pembuatan obat gunakan jenis sediaan obat yang paling

  sesuai dengan tujuan pembuatan.




                                                                                       31
                                            32



                                 DAFTAR PUSTAKA




- C. Ansel, Howard. Edisi ke-4 1989. PENGANTAR BENTUK SEDIAAN FARMASI :

Universitas Indonesia Press (UIP).

- Materi yang di diberikan oleh guru mata diklat dan dipelajari kelas XI Farmasi 5

Semester1. tahun ajaran 2005-2006




                                                                                     32

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:7073
posted:12/11/2010
language:Indonesian
pages:32
Description: mengenai jenis obat2an dan cairan yang di injeksikan