JANGAN KAU BUNUH ANAK-ANAKMU by jumanb

VIEWS: 39 PAGES: 2

More Info
									JANGAN KAU BUNUH ANAK-ANAKMU
Oleh: Jum’an

Kalau anda menggugel bayi di wc maka anda akan menemukan banyak sekali berita
tentang orang perempuan yang melahirkan atau membuang bayi di wc, kebanyakan
dari kehamilan yang tidak dikehendaki. “Bayi merah ditemukan petugas di wc pesawat
di bandara Manila”. “Bayi umur dua jam tergantung di pintu wc pompa bensin Tambora
Jakarta Utara”. “Siti janda pembantu asal Brebes melahirkan bayi di wc rumah majikan
lalu membuangnya ketempat sampah di Klender”. “Ade siswi SMA kelas 1 melahirkan di
wc rumahnya dan mebuangnya di wc sekolah di Surabaya. Menurut yang pernah saya
baca sebagian mereka menyangka hanya merasa mulas ingin buang air besar ternyata
mulas lain, lalu panik, lalu…kemudian.. akhirnya..

Tahukah betapa nilai yang mereka anggap seonggok daging lunak yang dibuang ke wc
dan tempat sampah itu? Sebuah tunas kehidupan penuh keajaiban yang dirancang oleh
pencipta jagat raya. Penuh dengan jaringan syaraf dan urat darah yang sangat halus
untuk merasakan dan menyalurkan zat-zat pertumbuhan. Prosesor kecil ultra-canggih
seberat 350 gram didalam kepala dengan 150 milyar sel didalamnya sebagai penggerak
kehidupan, sistim antibody untuk melawan penyakit serta roh yang ditiupkan untuk
melanjutkan kehidupan abadi kelak. Makhluk kecil ini bukan asal dibuat saja. Sesudah
diciptakan lalu disempurnakan, ditakdirkan dan diberi petunjuk oleh Maha Penciptanya.
Lalu kau cekik dan kau buang dia ke tempat sampah? Laknatulloh!

Infantisida, pembunuhan bayi yang makin banyak terjadi bagaimanapun merupakan
sebagian dari tanda-tanda zaman. Zaman sekarang telah memudahkan kejahatan keji
ini berjangkit dan merebak. Ahli hukum Michelle Oberman penulis buku “When Mothers
Kill” melihatnya sebagai respon terhadap perkembangan sosial dan kendala mengasuh
anak. Seorang siswi SMA ketika terlalu malam belajar bersama seorang teman prianya,
terjebak oleh suasana yang menggoda fantasi. Terjadilah yang tidak seharusnya terjadi.
Benih dalam rahim terlanjur tumbuh meskipun tidak dikehendaki, diingkari atau ditutup-
tutupi. Siswi SMA ini tidak akan sanggup menerima akbatnya: ia bakal dikucilkan dari
lingkungan keluarga, dikeluarkan dari sekolah, dicibir teman dan tetangga, tak ada lagi
masa depan baginya. Janin dalam perut ini harus dimusnahkan sesudah atau sebelum
lahir. Satu-satunya jalan yang toh rasanya direstui oleh zaman ini. Masih banyak
skenario versi lain menuju infantisida. Kemiskinan, ketidak-adilan sosial, momok
mengasuh anak semuanya menyebabkan stress dan akan bertambah stress pada saat
hamil dan melahirkan.

Menurut Dario Maestripieri pakar dalam Comparative Human Development, stress
selama kehamilan sebenarnya adalah baik dan merupakan mekanisme penyesuaian diri.
Kelenjar adrena mengeluarkan hormon cortisol kedalam aliran darah yang menaikkan
produksi glukosa dan membantu metabolisme lemak, protein dan karbohidrat menjadi
bahan tenaga yang siap pakai. Jadi stress merupakan penyesuaian tubuh menghadapi
kesulitan tiba-tiba dan bagi wanita hamil merupakan proteksi terhadap keselamatan
bayi yang akan dilahirkan. Pada kehamilan normal saja, peningkatan cortisol dalam
darah sudah cukup tingi. Kalau masih harus ditambah ketegangan lain seperti yang
dihadapi siswi SMA diatas maka menjadi berlebihan dan berbahaya. Maestripieri dalam
penelitiannya menemukan bahwa stress yang berlebihan pada saat kehamilan dan
melahirkan ini erat hubungannya sebagai faktor pemicu infantisida.

“..Jangan kau bunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kami akan memberi rizki
kepadamu dan kepada mereka...” Begitu bunyi ayat 151 surat Al an’am. Bila kehamilan
dan persalinan berasal dari pernikahan yang dridloi dan stress-free maka ayat itu akan
menjadi jaminan yang harus dipercaya.

								
To top