Documents
Resources
Learning Center
Upload
Plans & pricing Sign in
Sign Out
Get this document free

THE TAO OF ISLAM

VIEWS: 1,150 PAGES: 15

									                          THE TAO OF ISLAM



A. PENDAHULUAN

        Gerakan Feminisme Barat yang berkembang pada abad 18 di mana

  diwarnai dengan tuntutan kebebasan dan persamaan hak agar para perempuan

  dapat menyamai para pria dalam bidang sosial, ekonomi, dan kekuasaan

  politik.

        Teori Feminisme yang menonjolkan keunggulan kualitas feminisme itu

  disebut Ecofeminisme dimana teori ini dipengaruhi oleh Filsafat yang

  berkembang di Barat yaitu Ecopylosopy atau Ecosopy. Ecofeminism alam

  yang disebut bumi pertiwi adalah merupakan sumber dari segala sesuatu yang

  berada pada filsafat Eksistensialisme, Ecofeminism menganggap manusia

  mempunyai esensi abadi yaitu kesadaran di mana kesadaran itu integral dari

  alam, esensi keseluruhannya adalah satu. Namun peradaban modern dikatakan

  telah memisahkan kesadaran manusia dari alam sehingga segala sesuatunya

  menjadi terfragmentasi di mana manusia menjadi objek dan subjek maka

  terjadilah penguasaan dan eksploitasi alam oleh manusia.

        Diferensiasi dari segala sesuatu baik dalam diri manusia atau pun alam

  dikarenakan manusia telah begitu memuja “Tuhan Maskulin” dan kurang

  memuja Tuhan “Feminim” akibatnya manusia mengindentifikasi dirinya

  dengan “The Father God”.

        Di mana ada makna kesatuan dan makna dualitas yang berasal dari

  kesatuan dengan menggunakan Asmaul Husna, dimana membagi nama-nama

  Tuhan menjadi dua; Jalal (Maskulin) dan Jamal (feminim) di mana Tuhan
  dengan nama-namanya adalah keseimbangan yang agung, kuasa dan sebagai

  yang dekat, penerima dari korespondensi muncul fluralitas yang semuanya

  dicakup dalam proses penciptaan makrokosmos dan manusia sebagai

  mikrokismos menerangkan makna dan tujuan dualitas dimana tujuan dualitas

  ditampakkan melalui adanya lawan kebaikan dari segala sesuatu: langit-Bumi,

  atas- bawah, Tuhan- manusia, raja- abadi, Cahaya-gelap, baik-buruk,

  feminine-maskulin.



B. BIODATA

        Sachoko Murata adalah Profesor Studi-Studi agama pada Departemen

  of Comferative Studies di State Unersity of York at Stony Brook, Amerika

  Serikat. Mendapat gelar Ph.D di bidang hukum Islam Fakultas Teologi

  Universitas Teheren, Iran.



C. RINGKASAN DARI BUKU

  Ringkasan isi dari buku The Tao Of Islam adalah:

        Pemikiran Cina dalam Islam menjelaskan alam semesta dalam batasan-

  batasan kerangka Yin dan Yang yang bisa dipahami sebagai prinsip-prinsip

  eksistensi yang bersifat aktif dan resentatif atau pria dan wanita. Yin dan dan

  Yang merangkul satu sama lain dalam keselarasan dan keterpaduan Yin dan

  dan Yang sebagai gerakan perubahan karna itu seluruh alam semesta berubah

  setiap saat.

        Sifat Yin dan Yang memperkenalkan karakteristik tertentu Yin dan Yin

  dan Yang menegaskan dan membedakan mereka menegaskan dan
membedakan mereka Yang, Yang dihubungkan dengan laki-laki aktif dan

langit. Ia berwarna putih, tinggi dan meluas Yang juga mengacu pada

immateri dan energi dimana unsur Yang api dan panas. Yin berhubungan

dengan perempuan Fasif, dan interior, ia berwarna gelap, bertemperatur dingin

dan bergerak kebawah dimana unsur Yin adalah air, yang mana selalu

ditegaskan dalam Thaotching air selalu mencari daratan yang lebih rendah .

Yin yang dikaitkan dengan immaterial bumi dan Matahari.

      Taoisme sering memperlakukan Yin lebih baik dari Yang, karena

percaya bahwa diri lebih rendah datanglah yang lebuh tingggi namun

keduanya pada akhirnya termanifestasi melalui lingkaran kehidupan.

Pemisahan yang sangat halus karena hampir dalam banyak Yin selalu ada

kadar Yang dan dalam banyak Yang terdapat beberapa Yin.

      Polaritas teologis dalam terma-terma Islam dunia (kosmos) bisa

didefinisikan sebagai “segala sesuatu selain dari Allah”. Tanpa berbagai

kualifikasi spesial atau temporal, secara khusus dalam tradisi intelektual tidak

ada sesuatu pun yang secara terpisah dari hubungan dengan Allah hubungan

inilah yang membentuk sebuah presfektif. Di dalam presfektif ini bisa dicapai

pemahaman yang benar. Di dalam satu pengertian Tuhan secara tak terbatas

adalah berada jauh di luar kosmos dimana “Allah tidak bisa di bandingkan

dengan segala sesuatu yang ada”, Allah benar-benar tidak bisa dijangkau

oleh setiap makhluknya dan berada jauh dengan pemahaman mereka”.

Sebagaimana firman Allah (Q.S. 37:180) “Segala puji bagi Allah, Tuhan yang

tak terjangkau, jauh diatas apa yang mereka sifatkan¨ atau dalam (Q.S. 42:11)

“Tidak asa sesuatu pun yang serupa dengan-Nya”.
      Tuhan menurut Al-Arabi adalah Tuhan yang tidak mungkin dan

mustahil bisa dicintai karna ia terlalu jauh dan tidak bisa di pahami akan tetapi

Tuhannya Al-Quran, Nabi, dan otoritas-otoritas spiritual adalah Tuhan yang

benar-benar bisa dicintai karena begitu memperhatikan mahluk-mahluknya.

Sebagai mana dikatakan Al-Quran “Dia mencintai mereka dan mereka pun

mencintai-Nya”. (Q.S. 5: 54) kecintaan Allah pada makhluk melahirkan

kecintaan makhluk pada Allah. Tuhan yang penuh kasih sayang dan cinta ini

bisa di pahami dengan menggunakan istilah teologis, Tuhan haruslah bisa

diserupakan dengan makhluknya. kita bisa mengetahui dan mengenal dengan

sifat-sifat manusia. Dia adalah pandangan tentang keberadaan Tuhan dalam

segala sesuatu sebagai mana dalam Al-Quran “Kemanapun kamu menghadap

kan wajahmu di situ wajah Allah” di mana teologi negatif atau pun positif di

perlukan untuk melahirkan pemahaman yang benar tentang Realitas ilahi.

Peranan Convencius pada Yang dan menitik beratkan tao pada Yin dimana

Tao sendiri didominasi oleh salah satu. Mereka berpendapat bahwa Dia adalah

Tuhan yang pemarah dan terus menerus memberikan peringatan tentang

adanya neraka dan siksa, Dia adalah penguasa yang jauh, mendominasi, maha

kuasa, yang perintah-perintahnya harus di taati dan dipatuhi. Sifat-sifatnya

adalah sifat-sifat seorang ayah yang keras, dan otoriter, sebaliknya otoritas-

otoritas yang menaruh perhatian pada dimensi spiritual Islam terus menerus

mengikatkan komunitas muslim atas sabda Nabi mereka berpandangan

rahmat, cinta, kelembutan dan realitas eksistensi yang menapikan dan bahwa

semuanya pada akhirnya akan menang. Tuhan bukanlah seorang ayah yang

keras akan tetapi seorang ibu yang hangat dan penuh kasih sayang.
        Pemikiran Islam tentang Tuhan berpusat pada nama-nama Allah: Maha

kuasa, Maha terjangkau, Maha besar, Maha agung, Maha pemaksa, Maha

pencipta, Maha tiggi, Maha raja, Maha pemarah, Maha pembalas, Maha

penghancur, maha pemusnah, maha penyiksa. Kesemuanya adalah nama

keagungan (Jalal) semuaitu adalah ada di dalam Yang.

        Sebaliknya Allah maha indah, maha dekat, maha pengasih, Maha

penyayang, Maha kasih, maha lembut dan maha pengampun, maha pemaaf,

maha pemberi hidup, maha pemberi kekayaan, dan maha pemberi, semuanya

itu dikenal sebagai keindahan (Jamal) semuanya itu adalah nama-nama Yin

karena menekankan kepasrahan kepada kehendak yang di inginkan pada pihak

lain.

        Al-Quran berulangkali menegaskan bahwa segala sesuatu adalah tanda-

tanda (Ayat) Allah, dalam artian bahwa segala sesuatu menggambarkan

hakikat dan realitas Allah, dimana segala alam semesta sebagai refleksi nama-

nama dan sifat-sifat Allah, dimana nama-nama itu melukiskan berbagai

kualitas, semisal Keagungan, Keindahan, dan Kehidupan, Pengetahuan.

        Di dalam hadis terkenal mengapa Allah menciptakan kosmos (alam

semesta) Allah berfirman “Aku adalah khazanah tersembunyi dan aku ingin

diketahui. Karena itu lalu aku menciptakan makhluk agar aku bisa di

ketahui”. karena itu dunia adalah lokus atau tempat dimana khazanah

tersembunyi diketahui oleh makhluk melalui alam semesta, Allah bisa

diketahui, dan di alam semesta ini yang ada hanyalah ciptaan, maka ciptaan-

ciptaan itu, sendirilah yang memberitahu ihwal adanya hazanah tersembunyi

diketahui oleh makhluk. Banyak ahli kosmologi menggunakan istilah seperti
zhuhur (manifestasi) dan tajalli (Pengungkapan diri) untuk menjelaskan

hubungan dunia dengan Allah, melalui kosmos juga, Allah mengungkapkan

dirinya kepada makhluk-makhluknya itu sendiri manifestasi nama-nama dan

sifat-sifat Allah. Nama-nama Yin dan Yang dalam pandangan ahli kosmologi

bekerja secara harmonis guna melahirkan kosmos. Sebagaimana Rumi

mengungkapkan ketika merujuk pada dua jenis nama, yang kualitasnya

dominan “kekerasan dan kelembutan berpadu, dan dunia kebaikan serta

kejahatan pun lahir dari keduanya”.

      Para teolog mengetahui sebuah rujukan pada dua jenis nama Allah

dalam Al-Qur’an sebagai ungkapan “Dua Tangan Allah” mereka memandang

ini adalah sebagai simbol bagi hubungan antara ketakter bandingan dan

keserupaan, atau keagungan dan keindahan. Al- Quran menyatakan hanya

manusia sajalah di antara segenap makhluk yang diciptakan dengan dua

tangan Allah (QS: 38:78) ini di baca sebagai kiasan pada kenyataan bahwa,

sebagaimana dikatakan oleh Nabi Adam diciptakan dalam bentuk Tuhan

sendiri, karena itu manusia memanifestasikan seluruh nama-nama Allah, baik

nama-nama yang melukiskan kekerasan maupun nama-nama kelembutan,

malaikat-malaikat diciptakan dengan tangan kanan Allah dan setan diciptakan

dengan tangan kiri Allah dan hanya manusialah yang mewakili gambaran

lengkap realitas Ilahi, segala sesuatunya memberikan gambaran dan citra yang

tidak sempurna yang di dominasi oleh suatu tangan atau tangan yang lainya.

Hanya manusialah yang diciptakan dengan keseimbangan sempurna dari dua

jenis nama. Karena realitas Allah yang di ungkapkan melalui kosmos bisa di

lukiskan dengan digambarkan oleh sifat-sifat yang bertolak belakang maka
kosmos itu sendiri bisa dilihat sebagai sekumpulan besar dari segenap hal

yang bertentangan. Dua tangan Allah sibuk membentuk segala sesuatu yang

ada. karenanya rahmat, kemurkaan, kekerasan, dan kelembutan, kehidupan

dan kematian, keagungan, kehinaan,dan segala sifat yang bertentangan dengan

diri Allah diperlihatkan dalam seluruh eksistensi.

      Kosmos adalah sebuah pola hubungan yang senantiasa bergeser dan

berbuah di antara tanda-tanda Allah, yang merupakan tempat manifestasi, bagi

nama-namanya. Alam semesta diciptakan dan dipelihara melalui aktivitas

sifat-sifat ilahi yang saling bertentangan yang memperlihatkan aktivitas

prinsip tunggal.

      Allah berfirman dalam Al-Qur’an “Dan segala sesuatu kami ciptakan

berpasang-pasangan” (Q.S: 53:49) segala sesuatu di alam semesta adalah

berpasang pasangan beberapa pasangan yang disebutkan dalam Al-Quran

pasangan ini meliputi pena dan lembaran yang secara spesifik merupakan

simbol-simbol Islam langit dan bumi yang ternyata punya kesejajaran.

      Pena dan lembaran dalam beberapa ayat Al-Qur’an diantaranya

“Bahkan yang mereka dustakan adalah al-Quran mulia dalam lembaran

terjaga”. (Q.S: 58:21) dan “Bacalah? Dan Tuhanmu adalah Maha pemurah,

yang mengajar melalui pena, mengajar manusia apa yang tidak

diketahuinya”. (Q.S: 68:1) kualitas yang berhubungan dengan pena jelas

mempunyai tipe Yang sementara diistilahkan menamakan Yin. Segala sesuatu

dalam kosmos memiliki kualitas Yin dan Yang.

      Makhluk spiritual yang pertama disebut dengan nama pena karna ia

mempunyai sisi yang aktif dan maskulin sifatnya. Karena wajah pena selalu
menatap alam semesta. Ia menulis di atas lembaran, sebaliknya realitas

spiritual pertama disebut akal paling tidak sebagian disebabkan oleh adanya

sisi yang reseptif dan feminin dalam sifatnya yang sifatnya akal adalah

mengikat, membahu, membelenggu.

      Kualitas feminin dan maskulin dalam buku ini lebih diartikan sebagai

kualitas perangai, bukan lahiriah kasat mata. Pada intinya kualitas maskulin

adalah aktif dan feminis adalah fasif menerima dan berserah diri setiap

manusia dimana hirarki manusia adalah jiwa, raga, ruh. Di mana jiwa yang

menyerahkan dirinya pada yang lebih rendah (materi, dunia, sifat-sifat

negatif,) adalah sifat feminin yang negatif (sifat yang menerima, menyerah,

rendah). Sedangkan jiwa yang menyerahkan dirinya pada yang lebih tinggi

yaitu akal dan ruh, Tuhan adalah sifat Fenminim positif (menyerah hanya

kepada yang lebih tinggi) jiwa yang ingin berkuasa, mendominasi

meninggikan diri, mempertahankan diri adalah sifat Maskulin yang negatif.

Sementara jiwa yang ingin mengalahkan nafsu marah dan ingin naik mencapai

nafsu mutmainnah yang damai bersama Tuhan adalah sifat Maskulin positif.

Jiwa yang tenang dan damai bersama Tuhan ini adalah jiwa ksatria yang telah

melebur dalam akal dimana manusia itu telah melebur dalam ruh aktif yang

dapat mengontrol dan menguasai jiwa dan raga agar selaras dengan cahaya ruh

dan akal.

      Begitu pun ada anggapan bahwa sumber dari penafsiran “negative”

tentang perumpamaan adalah pada proses penciptaan Adam dan Hawa

beberapa ayat Al-Qur’an dan Hadist mengatakan bahwa kaum perempuan

diciptakan dari dan untuk pria. Misalnya dua ayat Al-Quran “Hai sekalian
manusia bertakwalah kepada Tuhan yang telah menciptakan kamu dari

seorang diri dan darinya Tuhan menciptakan istrinya”. (Q.S 4: 1) “Dan dia

menciptakan kamu dari diri yang satu dan darinya dia menciptakan istrinya

agar dia merasa senang kepadanya”. Dan juga Hadist “Berilah perhatian baik

terhadap wanita, karena sesungguhnya mereka diciptakan dari tulang iga,

dan yang paling bengkok dalam tulang iga adalah yang paling atas”.

Sebenarnya hal yang serupa juga ada pada kitab injil bahwa hawa diciptakan

dari tulang rusuk Adam. Bagi fara feminis semuanya itu mengimplikasikan

bahwa seolah-olah perempuan adalah makhluk kedua.

     Hubungan antara langit dan bumi adalah hubungan antara Yin dan

Yang, pria dan wanita suami dan istri seperti yang diungkapkan Rumi “Dalam

pandangan akal Langit adalah pria dan bumi adalah wanita”.

     Perkawinan dalam masyarakat, di mana hubungan seksual sebagai

bagian alamiah dan normal bagi ciptaan Tuhan yang baik Sebagai mana

Firman Allah S.W.T “Dan segala-galanya kami ciptakan serba berpasang-

pasangan agar kamu dapat merenungkan kekuasan kami”. (Q.S: 51:49) dan

hadits “Perkawinan adalah sunahku barang siapa tidak bertindak sejalan

dengan sunahku tidak termasuk golonganku, seseorang yang telah menikah

telah mendapatkan separuh dari agamanya, maka hendaklah dia takut kepada

Tuhan yang mendapatkan separuh yang lainnya. Dan besar diantara peghuni

neraka adalah para bujangan. Tidak ada mahligai yang dibangun dalam

Islam yang lebih di cintai Tuhan dibandingkan dengan perkawinan.

Seseorang pria muslim tidak akan mendapatkan keuntungan yang lebih besar

dari padanya seorang istri muslim yang membuatnya bahagia ketika dia
  mendatangkannya, mematuhinya ketika dia menyurhnya dan melindungi diri

  sendiri dan harta miliknya ketika dia jauh darinya”. Dan “Istri-istrimu adalah

  pakaianmu, dan Engkau adalah pakaian mereka”.

  Dia berpendapat perkawinan dibolehkan dengan alasan bukan untuk

  memuaskan nafsu seseorang.

        Derajat pria dan wanita sebagaimana dalam firman Allah S.W.T. “Kaum

  pria satu derajat lebih tinggi dari pada mereka kaum wanita”. Dalam

  persaksian satu banding dua dalam waris pun juga begitu, ini secara tekstual

  sedangkan tafsirannya sebagaimana Al-Arabi berpendapat kesadaran akan

  kelemahan seseorang dan posisi Yin dalam hubungan dengan nyata

  merupakan keadaan dari penghambaan untuk mengaktualkan sifat-sifat Yang

  yang berkaitan dengan khalifahan, jadi kaum pria dapat diperdayakan oleh

  keadaan alamiah untuk memproyeksikan dan memamerkan sipat Yang.

  Melekatkan sifat-sifat Yang pada diri sendiri adalah berbahaya karena semua

  sifat itu adalah milik Allah. Adapun hakikat “derajat” yang dimiliki kaum pria

  atas wanita itu adalah berkenan dengan sifat-sifatnya derajat itu bersifat

  ontologism (Wujud) sehingga ia tidak hilang.



D. METODELOGI

        Pendekatan yang dipakai untuk menjelaskan relasi gender adalah

  dengan memakai presfektif kosmologi Islam seperti firman Allah “dan segala-

  galanya kami ciptakan serba berpasangan”. (Q.S. 51:49) misalnya bumi dan

  langit, pasangan yang sering disebut-sebut dalam Al-Qur’an dimana makna

  dari dari kata langit adalah “yang lebih tinggi, paling atas dan merupakan
bagian   dari   pada   sesuatu   sedangkan    bumi     adalah   menghasilkan,

membuahkan bersikap lembut ketika di injak dan diduduki”. dan pendekatan

tasawuf dan filsafat, serta konsep-konsep ajaran taonisme disamakan dengan

ajaran Islam padahal ajarannya pun berbeda dimana ajaran taonisme itu

biasanya menyelaraskan diri dengan kosmologi (alam) dimana alam

merupakan mata air bagi tao dengan memahaminya alam dan sifat dasar

kemanusiaan kita, maka akan menemukan Tao, alam dapat menjadi lentera

yang membimbing jalan menuju tao.

      Mengenai relasi gender yang dikaitkan dengan kosmolgi yang

dihubungkan dengan wahyu dimana ini bukan hal mudah dimana harus

dipikirkan dengan sangat matang karna boleh jadi sedikit kesalahan akan

dapat menimbulkan neraka dunia. Sebagaimana Ki Hadjar Dewantara dalam

bukunya kebudayaan mengungkapkan dalam agama kita akan mendapatkan

syarat-syarat yang perlu dan berfaidah untuk mengetahui soal perempuan,

akan tetapi oleh karena agama itu hanya menerangkan pokok dan asal ilmu

Tuhan, maka perlu sekali orang masih mempergunakan rasa pikirannya

sendiri, Tuhan memberi rasa, fikirannya sendiri pada manusia itu dengan

maksud memerdekakan hidup untuk memikirkan dan merasakan segala hal

dan kejadian berhubungan dengan “keadaannya” itulah yang harus senantiasa

diingat baik di kanan maupun di kiri yaitu “Kodrat”.

      Mengenai Nafs, Kualitas feminin dan maskulin dalam buku ini lebih

diartikan sebagai kualitas perangai, bukan lahiriah kasat mata. Pada intinya

kualitas maskulin adalah aktif dan feminis adalah pasif menerima dan berserah

diri setiap manusia dimana hirarki manusia adalah jiwa, raga, ruh. Dimana
jiwa yang menyerahkan dirinya pada yang lebih rendah (materi, dunia, sifat-

sifat negatif,) adalah sifat feminin yang negatif (sifat yang menerima,

menyerah, rendah). Sedangkan jiwa yang menyerahkan dirinya pada yang

lebih tinggi yaitu akal dan ruh, Tuhan adalah sifat Fenminim positif

(menyerah hanya kepada yang lebih tinggi) jiwa yang ingin berkuasa,

mendominasi meninggikan diri, mempertahankan diri adalah sifat Maskulin

yang negatif. Sementara jiwa yang ingin mengalahkan nafsu marah dan ingin

naik mencapai nafs mutma’innah yang damai bersama Tuhan adalah sifat

Maskulin positif. Jiwa yang tenang dan damai bersama Tuhan ini adalah jiwa

ksatria yang telah melebur dalam akal dimana manusia itu telah melebur

dalam ruh aktif yang dapat mengontrol dan menguasai jiwa dan raga agar

selaras dengan cahaya ruh dan akal. Dalam hal ini Annemarie Schimmel

dalam bukunya Aspek feminine dalam Spiritualitas Islam mengungkapkan

Nafs adalah kata benda feminin biasanya kata Nafs mewakili keras kepala,

kuda, ular, anjing hitam, perempuan penggoda dan lain sebagainya, tetapi

konsep mengenai jiwa wanita dimana telah memperkaya literatur Islam

contohnya yang paling terkenal dalam literatur adalah sosok siti Zulaikha

yang menenggelamkan dirinya dalam cinta pada ketampanan Yusuf, dia

disucikan melalui penderitaan panjang untuk menjadi seperti yang mungkin

dikatakan oleh seorang Nafs lawammah akhirnya dia disatukan dengan Nafs

Mutma’innah. Kemudian mengenai perkawinan saling menutupi saling

mengganti dimana suami berbicara satu sama lain kepada Alter-ego dan setiap

diri melindungi kehormatan pasangannya. Hal ini memperlihatkan betapa

baiknya prinsip Yin dan Yang dalam hubungan kebersamaan suami istri.
E. KONTEKS SEKARANG

        Gerakan feminisme Barat pada priode 1960 dan 1970-an diwarnai oleh

  tuntutan kebebasan dan persamaan hak agar para perempuan dapat menyamai

  pria dalam bidang sosial, ekonomi, pendidikan, dan kekuasaan politik. Kini

  telah banyak perempuan yang masuk kedunia maskulin dan berkiprah

  bersama-sama pria. Dibalik keberhasilan ini banyak yang menyatakan bahwa

  perempuan yang telah masuk kedunia maskulin, tetapi juga mengaopsi nilai-

  nilai maskulin yang dikritikan sehinggga banyak perempuan yang menjadi

  Male Clone (tiruan pria).

        Para feminisme baik Marxisme dia beranggapan bahwa sistem

  Patriarkis dianggap berasal dari keluarga yang menempatkan perempuan pada

  posisi domestik dan pengasuhan. Pembebasan perempuan dari peran domestik

  harus dilakukan agar dapat menjunjung terciptanya masyarakat tanpa kelas.

  Feminisme liberal bergerak dalam usaha untuk mengubah undang-undang dan

  hukum agama yang dianggap merugikan perempuan misalnya mereka

  menggugat undang-undang yang mengatakan suami sebagai kepala keluarga.

        Kalau kita melihat pada sejarah Islam bagaimana peran yang dimainkan

  oleh istri pertama Rasul, Khadijah “ibu kaum mukminin” dalam

  perkembangan spiritualnya hal yang sangat nyata, Dia memberi Rosul

  kekuatan   dalam    menghadapi    pengalaman    yang   menegangkan     dan

  mengguncang hatinya ketika dia menerima wahyu yang pertama karena beliau

  percaya akan kerasulan suaminya. Berikutnya istri termuda Aisyah bukan saja

  memainkan peran politis yang penting, tetapi juga merupakan sumber yang

  banyak hadist dengan cara menginformasikan tentang kebiasaan, ucapan
Rosul.

     Menurut    KI   Hajar    Dewantara    dalam    bukunya   kebudayaan

mengungkapkan persoalan perempuan adalah persoalan yang penting

diseluruh dunia, sebenarnya hidup perempuan itu semata-mata mengandung

lambing kesempurnaan hidup manusia di dunia dan soalperempuan uang tidak

boleh di hilangkan adalah kodratnya inilah keadaan yang nyata yang hak dan

juga sebenarnya harus menjadi penunjuk jalan untuk sekalian orang yang

wajib memikirkan soal perempuan. Persamaan kak yang sekarang di gaungkan

itu lama-kelamaan akan menimbulkan keadaan-keadan yang tidak cocok

dengan kodratnya perempuan, lama kelamaan mereka bukan hanya meminta

haknya saja tetapi persamaan dalam setiap hak. misalnya dalam berpakaian

bergaya dll. Inilah gambaran realita yang sekarang.jangan lupa tubuh

perempuan itu berbeda sekali dengan tubuh laki-laki karena perbedaan itu

berhubungan dengan kodrat perempuan. Kodrat perempuan adalah sebagai

ibu. Dalam kedudukan itu perempuan adalah berdiri sejajar dan bersamaan

derajat dengan laki-laki misalnya dalam bidang pendidikan dan lain

sebagainya.
                           DAFTAR PUSTAKA



Annemarie Schimmel,                   Asfek Feminin dalam          Spritualitras
  1998                                Islam, Mizan Bandung

Annelen Simkis, C Alexander Simkis,   Belajar Tao dalam sepuluh langkah,
  2002                                Saujana Yogyakarta.

KI Hadjar Dewantara,                  Kebudayaan, Majlis Luhur persatuan
   1967                               Taman Siswa Yogyakarta

Ratna Megawangi,                      Jangan Biarkan        Berbeda,     Mizan,
  2000                                Bandung

Sashiki Murata,                       The Tao OF Islam, Mizan, Bandung
   1997

Internet,                             url: http://msi-
                                      uii.net/default.asp?menu=forum&status=baca
                                      &id=91

								
To top