; Islam emansipatoris dan dinamika gerakan perempuan
Documents
Resources
Learning Center
Upload
Plans & pricing Sign in
Sign Out
Your Federal Quarterly Tax Payments are due April 15th Get Help Now >>

Islam emansipatoris dan dinamika gerakan perempuan

VIEWS: 303 PAGES: 6

  • pg 1
									      ISLAM EMANSIPATORIS DAN DINAMIKA GERAKAN PEREMPUAN
                                  Oleh mohammad Ijudin


 Heteroginitas dan pluralitas manusia adalah sebuah rahmat Allah SWT yang perlu disyukuri
oleh setiap manusia yang mukallaf. Semua yang tereksistensi adalah sebuah kenikmatan yang
sangat luar biasa, yang secara langsung menyuruh manusia untuk mentafakuri segala realitas
yang terwujud.
 Kelahiran Islam adalah untuk melakukan emansipasi dan liberasi terhadap kebodohan yang
membelenggu manusia. Gerakan humanisasi oleh Nabi membangun pondasi yang kokoh
untuk memanusiakan manusia, mengembalikan manusia pada essensinya sebagai makhluk
rasional yang mempunyai aturan hukum, sebagai makhluk universal. Dengan eskatologis principle
Nabi membangun sebuah formasi sosial berlandaskan the right and justice dimana semua
manusia adalah sama tanpa membedakan status gender, sosial, etnik, bangsa, maupun bahasa.
Yang membedakanya adalah ukuran kemuliaan disisi Tuhan yang maha Esa yaitu prestasi dan
kualitas tanpa membedakan gender maupun etnik ( 49;13).
 Emansipatoris adalah revolusi prioritas yang di hembuskan oleh sang Rasul, untuk
membebaskan manusia dari mata rantai ekspolitasi karena hegemoni kekuasaan suatu
kelompok, baik gender dan etnik. Islam memposisikan manusia dalam formasi yang sama
mempunyai peran, hak dan kewajiban yang sama, yang membedakannya adalah kualitas dan
kuantitas peranannya dalam membentuk formasi sosial.
 Kata emansipasi berasal dari bahasa latin emancipatio yang berarti "pembebasan dari sebuah
kekuasaan", (kamus popular). Dengan demikian bisa di deskripsi bahwa emansipasi adalah
sebuah gerakan pembebasan dari seorang atau kelompok yang ter-ternegasikan dan termarginal-
kan, dari hegemoni maupun dominasi kelompok yang berkuasa. Gerakan emansipasi timbul
karena menginginkan adanya sebuah revolusi dari sebuah kondisi yang imperialis kearah
liberalis, dari sentralistik ke desentralistik. Gerakan emansipasi berakar dari sebuah kelompok
poletar yang termarginalkan yang menghendaki sebuah pengakuan terhadap eksistensinya.
 Islam dan emansipatoris mempunyai sebuah close relation, yang satu merupakan identitas
yang lainnya, begitupun sebaliknya, emansipasi adalah gerakan revolusi Islam itu sendiri.
"Islam adalah agama yang menganut tentang egalitarian dan human equality bahwa pluralitas
manusia adalah rahmat Tuhan, bukan merupakan sebuah pembeda derajat suatu kelompok
etnik ataupun gender, semua adalah sama, yang membedakannya adalah kualitas dedikasinya
terhadap dalam membentuk kesalehan individu dan social (49;13)".
 Misi kenabian Muhammad membawa sebuah a big change dalam peradaban manusia, sebuah
revolusi terjadi dalam sejarah peradaban manusia, ketika orientasi hidup manusia berubah
secara drastis, peralihan dari masa era kegelapan (dzulumat) ke masa era pencerahan (Annur)
 Dengan demikian Islam emansipatoris adalah, gerakan liberasi dan emansipasi dimana
manusia tidak bisa tunduk manusia lain, selain kepada kebenaran Tuhan dan manusiapun
harus menolak berbagai bentuk ketidakadilan dan hanya untuk menerima dan
memperjuangkan kebenaran dan keadilan.
 Ketidak-adilan terutama eksploitasi dan penindasan manusia selalu terjadi disepanjang
sejarah manusia, begitupun sampai saat ini, hal tersebut tidak bisa lepas dari tabiat manusia
yang bersifat prudensial. Saat ini negasi suatu kelompok terhadap kelompok lain masih terjadi,
bahkan merambat sampai kedalam berbagai sendi-sendi kehidupan manusia, baik dalam
kehidupan politik, social, budaya bahkan agama sekalipun


 Rasisme, borjoisme-poletarisme, feodalisme-coolisme, kastaisme adalah cerita sejarah manusia yang
selalu membeda-bedakan kelas dengan status sosial gender dan etnik. Yang paling mencuat
sampai saat ini adalah masalah kapitalisme dan rasisme yang cukup meracuni peradaban
manusia saat ini. Egoisme kaum putih (white ethnic) atas kaum hitam (black ethnic) masih saja
terjadi seperti dalam dunia sepakbola kasus rasisme sering jadi tontonan biasa. Hal yang
mungkin paling mewabah adalah kapitalisme, baik ekonomi, pendidikan maupun politis.
Kapitalisme melahirkan ketidakadilan sosial sehingga muncullah monopoli, elitisme,
individualisme, borjoisme dan berbagai istilah yang mendiskreditkan suatu kelompok
manusia tertentu. Globalisasi telah membuat keberhasilan manusia dan sekaligus mencemari
peradabannya itu sendiri. Ketidak pedulian sosial dari kaum intelektual, hartawan dan
penguasa menjadikan sebuah ketidakadilan sosial.
   Islam mengajarkan sebuah pluralitas sosial bahwa manusia tercipta secara heterogen dan
hal itu bukan merupakan sebuah pembeda derajat dan martabat manusia. Tapi merupakan
sebuah kelebihan masing-masing, meskipun memiliki kebebasan tapi tidak untuk saling
mendiskreditkan dan menegasikan tapi untuk sharing-take and give. Islam tidak memandang
perbedaan suku, bangsa maupun kelompok sosial tertentu, sehingga Islam itu sangat
menghargai adanya hak asasi manusia (al'Haqq-al-Syakhsiyah) yang digemborkan oleh barat,
tapi dengan catatan hal itu tidak melampui batas aturan transendensi.
  kapitalisme ekonomi yang melahirkan borjoisme dan termasuk kehidupan hedonisme telah
menyebabkan kekacauan sosial. Ketertindasan kaum miskin-papa menjadi issu mendunia
sejajar dengan mendunianya kagemerlapan kaum penguasa, pegusaha, dan para kaum
selebrity, suatu yang kontradiktif.
  Manusia selain merdeka juga memiliki ambisi tak terbatas (hawa nafsu) yang cenderung
merugikan orang lain dan juga dirinya sendiri. Maka selain kemerdekaan, persamaan hak
antara sesama manusia harus di tegakkan. Islam menuntut persamaan antar manusia
(egalitarian), Persaudaraan universal (universal brotherhood), kesetaraan (equality), keadilan sosial
(social justice) dan keadilan ekonomi (economical justice).dengan demikian Islam menegakan hak-
hak substansial manusia.
  Tuhan sebagai kebenaran dan keadilan mutlak mengajarkan bahwa kepemilikan hanyalah
sebuah fungsi sosial, manusia hanya dipercayakan dengan sebagai apa dia. Yang dimiliki
hanya sebuah kepercayaan (trust) atau simpanan (invest), dia hanya punya hak untuk
menggunakan bukan menyalahgunakan, buat menanam bukan kapitalis, mengembangkan
bukan monopoli, menggunakan sebatas kebutuhannya.(57:7). Dalam kepemilikan si kaya ada
hak untuk si miskin, dalam kesejahteraan si kaya ada bagian untuk mensejahterakan si miskin.
Begitupun kekayaan negara tidak ditinggalkan ditangan orang-orang tertentu (minoritas)
tetapi harus berputar diantara semua individu, yang memiliki komunitas yang sama; bukan
ditangan minoritas yang berkuasa diatas kaum mayoritas (59:7). Itulah kebenaran mutlak.
Keadilan ekonomi harus dirasakan oleh seluruh komunitas tanpa mengenal kelas sosial.
Jelaslah bahwa Islam memberikan sebuah kebebasan aksi sosial dan ekonomi tetapi
kebebasan tersebut dibatasi oleh aturan kebenaran atas nama keadilan mutlak.
  Dengan adanya Islam emansipatoris dalam ekonomi dan sosial, kekacauan social (social
clutter) dan kekacauan ekonomi (economical clutter) tidak akan terjadi. Dengan kesadaran dan
kesalehan sosial yang terbentuk maka suatu bangsa akan maju dan bermartabat.
  Emansipatorisme Islam pada dasarnya pengakuan terhadap kebebasan (liberasi) tetapi tidak
lepas dari sebuah aturan sosial. Emansipatorisme Islam adalah pengakuan terhadap
persamaan (egalitarian), Persaudaraan universal (universal brotherhood), kesetaraan (equality),
keadilan sosial (social justice) dan keadilan ekonomi (economical justice) semua konsep tersebut
adalah untuk membangun sebuah formasi sosial yang yang berkonsep civil society
  Formasi sosial yang menganut civil society adalah yang ditopang oleh emansipatorisme
Islam, yang dalam tataran praksisnya perlu adanya sinergitas kesadaran dan kehendak (will)
antara pemerintah dan yang diperintah, penguasa dan rakyat, sipil dan militer, sehingga tanpa
adanya kesadaran universal tentunya konsep civil societynya Nabi tidak akan pernah terwujud.
Dengan demikian islam emansipatoris haru diperjuangkan dan senantiasa dikibarkan oleh
setiap elemen yang mempunyai kesadaran tanggung jawab moral. Tugas manusia adalah
untuk melakukan humanisasi; memanusiakan manusia, untuk menjadi seorang abid dan
khalifah.


Gender Menurut Pandangan Islam
    Gender adalah hal yang sangat substansi dalam kelangsungan hidup manusia, tetapi
dalam dinamika kehidupan manusia selalu saja menjadi sebuah polemik karena
perbedaan persepsi dan perbedaan peran dalam sosial. hal ini menjadi perhatian semua
kalangan baik masyarakat kaum awam, akademisi, intelektual sampai kaum politisi, tentu
saja hal inipun direspons oleh kaum perempuan dengan gerakan emansipasi yang
memperjuangkan hak-haknya yang selalu dipandang sebagai "the second class" dalam
kehidupan. Mereka menginginkan sebuah peranan yang sama dengan kaum adam.
    Istilah gerakan perempuan yang lebih dikenal dengan istilah emansiapsi wanita lahir
bersamaan dengan meletusnya revolusi Francis di akhir abad ke-XVIII. Ketika eropa
gencar dengan program pembebasan akal dari belenggu theology gereja, maka lahirlah
faham pencerahan (renaissance) di Itali yang melahirkan kesadaran baru bagi bangsa
eropa. Maka bersamaan dengan lahirnya faham liberalis-sosial politik kaum perempuan
eropapun bangkit untuk memperjuangkan hak-haknya, dari sinilah awal gerakan
feminisme individualis dengan dipelopori Mary Wollstonecraft di Inggris dengan
bukunya " A vindication of the rights of women" pada tahun 1792. sebelumnya diawali
oleh ketidakpuasan mereka terhadap hasil konferensi di Eropa abad XIV yang membahas
wanita sebagai manusia atau hewan? Dengan hasil keputusan bahwa wanita bukan
mahluk bernyawa hanya sebagai pelengkap kehidupan laki-laki.
    Dari sinilah muncul berbagai aliran feminisme seperti gerakan feminisme sosialis non
marxis (1860-1935) oleh Charlotte Perkins Gilman, di Rusia muncul aliran feminisme
marxis (1872-1952) oloeh Alexandra Kollontai. Kemudian aliran Radicalisme yang
dirintis para wanita karir diera pasca perang dunia ke-II yang bermula dengan terbitnya
buku filsuf eksistensialis wanita Simone de Bezoir yang menganjurkan wanita untuk
tidak kawin, gerakan ini dikenal dengan istilah "woman lib" yang menantang "sexisme"
dan "patriarkhi". Hingga saat ini mithos bahwa laki-laki lebih tinggi dari pada derajat
perempuan terus menghiasi sejarah peradaban manusia, hal ini terjadi karena manusia
banyak tidak memahami essensi dan eksistensi dirinya sendiri sebagai mahluk yang
mengemban tugas transendensi yang merupakan sebuah peraturan primordial.
    Sejak lahir Islam sudah menggembor-gemborkan emansipasi wanita, yang pada saat
kelahiran Islam wanita hanyalah sebagai sapi perahan laki-laki bahkan kehadirannyapun
dianggap sebagai sebuah aib besar. Sungguh sebuah perlakuan yang sangat tidak
manusiawi. Islam mendudukan wanita pada derajatnya yang paling tinggi, dengan
berbagai kelebihan kodratnya sebagai perempuan, perempuan mempunyai kedudukan dan
peranan yang sama dengan kaum laki-laki dalam melakukan kegiatan sosial, sehingga
tidak ada istilah second sex ataupun second class yang membeda-bedakan kelas manusia
itu sendiri.
    Gerakan feminisme yang beraliran modernitas saat ini banyak sekali mengalami
kerancuan dalam mekanismenya yang justru perempuan banyak yang telah meninggalkan
dan melawan kodratnya sendiri. Banyaknya wanita yang tidak mau mengandung,
pergaulan bebas remaja wanita dijustifikasi sebagai bagian emansipasi. Dengan justifikasi
HAM, wanita menghinakan dan mendiskreditkan kodratnya sendiri, karena ia telah
menjual harga dirinya dan kehormatan ke public khususnya kaum adam. Padahal menurut
konteks Islam bahwa derajat wanita sama dengan laki-laki dengan tidak melampui batas
kodratnya sebagai wanita, justru penerimaan atas kelebihan kodratnya merupakan sebuah
kelebihan dan kehormatan kaum perempuan itu sendiri.
    Wanita dalam Issu politis kontemporer sering dikesampingkan kemampuannya tak
terkecuali oleh kalangan religius. Al'Qur'an menceritakan banyak cerita tentang
kemampuan kaum wanita seperti Bilqis dan Maryam, Aisyah binti abu-Bakr dan Fatimah
binti Muhammad adalah tokoh-tokoh politik yang sangat berpengaruh dan perannya
sangat mempengaruhi peradaban dan budaya manusia pada saat itu. Sehingga seorang
imam al'Arabi mendudukan wanita sebagai seorang yang sangat istimewa denagn
kelabihannya yang tidak dimiliki oleh laki-laki sehingga tiga orang wanita dijadikannya
sebagai guru spiritualnya.
   Dengan demikian Islam memposisikan wanita dalam peran yang sama, emansipasi
wanita adalah kebebasan wanita dalam berperan tetapi peran yang tidak menghilangkan
kodratnya sendiri sebagai manusia feminine sebagai sebuah kesadaran identitas.

								
To top