Docstoc

HAM.rtf_ Islam dan Barat dalam Perspektif

Document Sample
HAM.rtf_ Islam dan Barat dalam Perspektif Powered By Docstoc
					                       HAM; Islam dan Barat dalam Perspektif ∗
                                Oleh: Rahmat Sahid

        Membicarakan menganai Hak Asasi Manusia adalah pintu masuk menuju
perdebatan yang komplek pada saat ini. Karena, bila berbicara mengenai Hak Asasi
Manusia dalam dunia modern saat ini, maka kita dihadapkan pada perdebatan antara
universalisme HAM dan relativisme budaya. Universalisme HAM dianggap terwujud
dalam Universal Declration of Human Rights yang mewakili tradisi dunia Barat yang
menjunjung tinggi konsep kebebasan dan individualisme. Sedangkan di dunia Timur
konsep mengenai tanggung jawab dan komunitas lebih dominan. Hal inilah yang
melahirkan teori relativisme budaya yang salah satu bentuk perwujudannya
terkandung dalam Cairo Declaration on Human Rights in Islam. Dalam Deklarasi
Kairo yang diberlakukan untuk Negara-Negara Anggota Organisasi Konferensi Islam
ini dinyatakan bahwa setiap manusia memiliki hak untuk mendapatkan perlindungan
dari eksploitasi dan pemaksaan, dan untuk mendapatkan kebebasan dan hak untuk
hidup yang selaras dengan Islam. Bahwa setiap orang secara individual dan ummah
secara bersama-sama bertanggung jawab untuk melindungi hak-hak ini.
        Hal inilah yang dijamin dalam Islam sejak 15 abad yang lalu. Dalam andangan
Islam, ada Lima Tujuan Ajaran atau yang biasa popular disebut Maqooshidu Al-
Syari'atu Al-Khomsah, yakni melindungi agama, melindungi akal, melindungi jiwa,
melindungi harta, dan melindungi keturunan. Penjabaran dari Lima Tujuan Syariah
tersebut ialah Islam menjamin hak hidup; keamanan diri; kemerdekaan; perlakuan
yang sama (non diskriminasi); kemerdekaan berfikir, berekspresi, keyakinan dan
beribadah; perkawinan; kemerdekaan hukum; asas praduga tak bersalah; perlindungan
dari kekejaman; hak memperoleh suaka; kebebasan berserikat dan berkumpul;
berprofesi dan bekerja; hak memilih, memperoleh dan menentukan hak milik; tiada
seorangpun yang dapat dihukum berdasarkan hukum yang berlaku surut, dan
sebagainya.
        Keadilan hukum menurut ajaran Islam adalah keadilan yang diperoleh setiap
individu, tanpa memandang status sosial, etnisitas, dan agama, melalui pengadilan
formal yang menerapkan asas legalitas, sehingga semua orang berada pada posisi
yang sama di hadapan Allah dan hukum. Keadilan dan persamaan adalah nilai moral
yang melekat dalam hukum yang diturunkan oleh Allah SWT. Segala bentuk
diskrimanasi ras, warna kulit, agama, budaya, ideologi politik, keturunan, etnis atau
status sosial sangat dilarang dalam konsep negara hukum yang menjamin persamaan
semua manusia di hadapan hukum.
        Persamaan (equality) ini merupakan konkretisasi perlindungan hak individu
yang meliputi hak untuk hidup (right to life), hak untuk kebebasan (right to liberty),
dan hak milik (right to property). Perlindungan ini bertujuan agar setiap orang dapat
memperoleh akses keadilan. Semua ini menuntut ditegakkannya rule of law tanpa
pandang bulu dan adanya independensi lembaga peradilan dalam semua jenjang dan
pelaksanaannya.
        Pada dasarnya Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia PBB sejalan dengan
pandangan Islam di atas. Namun perbedaan antara konsep universalitas HAM dengan
relativisme budaya melahirkan sudut pandang yang berbeda ketika berhadapan

∗
    Disampaikan pada Seminar Umum "Hak Azasi Manusia: Islam dan Barat dalam Perspektif" yang
    diadakan oleh Forum Mahasiswa Peduli Perubahan Komunitas Mahasiswa Ciamis (FMPP KM
    Ciamis), pada tanggal 28 Juli 2007. di Gedung DPRD Kab. Ciamis


                                              1
dengan isu-isu krusial yang muncul dalam tataran praktis. Hal ini bisa kita lihat
misalnya dalam Islam, bila seseorang dalam menjalankan hak asasinya menimbulkan
pelanggaran terhadap hak asasi orang lain, maka ia dapat dihukum. Sedangkan dalam
Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia PBB, jika ada hukum atau hukuman yang
berbenturan dengan hak asasi seseorang, maka hukum atau hukuman tersebut harus
dihapus, tanpa memandang latar belakang historis, sosial ekonomi, dan kultur
setempat. Padahal setiap negara memiliki keanekaragaman masing-masing yang
dilatarbelakangi oleh kondisi sosial ekonomi, budaya, dan tingkat perkembangannya.
Misalnya keanekaragaman dalam falsafah atau dalam sistem hukum pidananya yang
dapat bersifat memberikan pembalasan atau perlindungan.
        Perbedaan di atas hanyalah salah satu masalah pokok yang dihadapi dalam
upaya untuk melembagakan ide-ide pemajuan dan perlindungan hak asasi manusia
dan untuk mengimplementasikan prinsip-prinsip hak asasi manusia itu dalam tataran
praktis di lapangan. Dari segi substansinya, Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia
PBB tidak seluruhnya dapat diterima sebagai sesuatu yang universal menurut
kacamata warisan kemanusiaan di semua belahan dunia. Di negara-negara Dunia
Ketiga misalnya, pengalaman mereka sebagai bekas negara jajahan atau pemerintahan
yang otoriter membuat masyarakatnya lebih menghormati nilai-nilai yang mereka
miliki sendiri dan memandangnya sebagai nilai-nilai yang terbaik, sehingga setiap
usaha untuk memasukkan nilai-nilai baru yang terdengar asing, seperti Hak Asasi
Manusia, akan mendapat resistensi.
        Di sinilah sebenarnya keistimewaan Islam lebih menonjol dibandingkan dalam
perspektif Barat dalam melihat HAM. Di antara keistimewaan agama Islam adalah
bahwa agama ini selalu selaras dengan semua dimensi kehidupan manusia, di segala
zaman dan segala tempat. Di antara dimensi sosial yang tak luput dari pandangan
Islam adalah masalah hak asasi manusia. Meskipun isu tentang HAM baru
dimunculkan dunia Barat sekitar 60 puluh tahun yang lalu dan Deklarasi HAM baru
ditandatangani tahun 1948, namun sesungguhnya Islam sejak ribuan tahun lalu telah
mengajarkan prinsip-prinsip HAM kepada umat manusia.
        Tuhan menciptakan manusia sebagai makhluk yang terbaik dan khalifah Allah
di muka bumi. Atas alasan ini, manusia layak untuk menerima penghormatan serta
memiliki hak-hak yang istimewa. Pada prinsipnya, HAM adalah hak-hak yang
dimiliki manusia karena kedudukannya sebagai manusia. Sehingga dalam hal ini,
warna kulit, ras, bahasa, dan etnik sama sekali tidak boleh mempengaruhi
terpenuhinya hak-hak tersebut, karena hak-hak itu asasi dan universal.
        Berkaitan dengan hal ini, Hasan Rahimpour Azgadi, seorang cendekiawan
Iran mengatakan “Kita sebagai muslim harus mempercayai bahwa kita dapat memiliki
sebuah sistem HAM yang universal, tanpa memperdulikan etnis atau ras. Karena,
nabi-nabi Tuhan termasuk Nabi Muhamamd SAW adalah nabi bagi semua umat.”
Alamah Muhamamd Taqi Ja’fari almarhum, seorang filsuf asal Iran, menyatakan
bahwa ada lima tiang utama yang harus selalu ditegakkan dalam sepanjang sejarah
manusia, yaitu kehidupan yang layak, kemuliaan manusia, pendidikan dan
pengajaran, kebebasan, dan kesetaraan setiap orang di hadapan hukum.”
        Keistimewaan HAM yang lain dalam pandangan Islam adalah keselarasannya
dengan fitrah manusia. Dengan kata lain, nilai-nilai hak-hak manusia dalam Islam
selalu sejalan dengan fitrah manusia. Sebagain di antara nilai-nilai ini adalah keadilan,
sikap baik kepada orang lain, penghormatan kepada orangtua, usaha untuk mencapai
kemerdekaann, dan lain-lain. Nilai-nilai HAM yang sesuai dengan fitrah manusia
artinya tidak terbatas pada bangsa tertentu saja, dan dapat diterapkan bagi semua
bangsa di dunia.


                                           2
        Oleh karena itu, bila kita menginginkan terbentuknya suatu UU universal
berkaitan dengan HAM, penyusunan UU ini harus memperhatikan kehendak-
kehendak fitrah manusia. Sementara itu, bila kita menilik lebih jauh pada Deklarasi
HAM versi Barat, kita akan melihat bahwa pola pikir Barat-lah yang menjadi acuan.
Hal ini bisa kita lihat misalnya, di dalam deklarasi ini disebutkan adanya pengakuan
terhadap hak asasi individu, seperti kebebasan berpendapat, bekerja, memiliki tempat
tinggal, hak untuk mendapatkan keamanan, dan lain-lain, dan semua hak-hak itu
diakui oleh semua agama samawi. Namun, dalam Deklarasi HAM Internasional 1948
sama sekali tidak disebutkan, apakah pendudukan atau penjajahan terhadap sebuah
bangsa merupakan pelanggaran HAM atau tidak? Apakah perampokan sumber daya
alam suatu bangsa atau pelecehan terhadap hak-hak asasi suatu masyarakat, dihitung
sebagai pelanggaran HAM atau tidak? Jika saja Deklarasi HAM Internasional
menyebutkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan ini, dengan segera akan terambil
kesimpulan bahwa negara-negara Barat penyusun deklarasi ini adalah pelaku
pelanggaran HAM terbesar di dunia, akibat segala penjajahan yang dilakukannya di
berbagai penjuru dunia.
        Dalam pandangan Islam, hak asasi manusia dipandang dari berbagai segi
secara menyeluruh. Menurut Islam, setiap individu memiliki hak asasi yang jelas.
Namun, individu ini tentu saja merupakan bagian dari sebuah masyarakat dan
karenanya, dia harus menjaga hak-hak masyarakat itu. Oleh karena itu, pemerintah
harus melindungi hak-hak invidu dan masyarakat sekaligus. Bahkan, dalam Islam,
hak-hak yang harus dilindungi oleh pemerintah adalah termasuk hak-hak hewan-
hewan dan tumbuh-tumbuhan. Dengan demikian, dalam pandangan Islam, manusia
bertanggung jawab atas dirinya sendiri, masyarakat, dan alam sekitarnya.
        Penekanan Islam terhadap pelaksanaan kewajiban dan pemenuhan hak adalah
poin penting yang tidak banyak diperhatikan oleh Deklarasi HAM versi Barat. Dalam
Deklarasi HAM 1948, yang lebih banyak dibicarakan adalah hak-hak individu belaka,
namun tidak disebutkan kewajiban individu terhadap masyarakat. Padahal, manusia
yang memiliki kehendak dan kemampuan, bagaimana mungkin hidup di dunia tanpa
ada tanggung jawab terhadap dunia tempatnya hidup?
        Dalam pandangan Islam, landasan dari UU HAM adalah fitrah manusia.
Dengan demikian, segala sesuatu yang berada di luar fitrah manusia tidak bisa
dianggap sebagai hak asasi. Selain itu, dalam HAM menurut pandangan Islam, prinsip
hidup dan kehidupan memiliki peran penting. Hidup adalah sebuah amanat Ilahi dan
tidak boleh disia-siakan begitu saja.
        Salah satu prinsip penting HAM dalam Islam adalah melindungi kehormatan
dan kemuliaan semua manusia. Dalam pandangan Islam, manusia adalah makhluk
terbaik dan khalifah Allah di muka bumi. Dengan demikian, Islam tidak sekedar
mengakui hak hidup manusia di muka bumi, tetapi bahkan mensyaratkan agar
manusia hidup di muka bumi secara layak dan mulia. Artinya, Islam tidak
menghendaki ada sebagian manusia yang hidup terhina, direndahkan, atau
didiskriminasi oleh sebagian manusia yang lain.
        Poin penting lain yang menjadi pembeda antara HAM dalam pandangan Islam
dengan HAM dalam pandangan Barat adalah poin kebebasan. Pada dasarnya, Islam
dan Barat memiliki kesamaan pandangan, yaitu bahwa kebebasan adalah hak asasi
manusia. Namun, Islam memandang bahwa kebebasan adalah alat untuk mencapai
kesempurnaan dan kemuliaan manusia. Tetapi, kebebasan dalam Islam memiliki
batasan. “Kebebasan dalam pandangan Islam adalah kebebasan bersyarat, yaitu
kebebasan tidak boleh melanggar kebebasan orang lain, kebebasan tidak boleh



                                         3
menyeret manusia kepada kejahatan, dan kebebasan tidak boleh menghalangi manusia
untuk mencapai kesempurnaannya.”
        Sebaliknya, kebebasan dalam pandangan Barat tidak memiliki batas selain
bahwa kebebasan seseorang tidak boleh melanggar kebebasan orang lain. Akibatnya,
di negara-negara Barat, kebebasan diterapkan tanpa kendali. Bahkan lebih ironisnya,
paham kebebasan dalam kaca mata Barat diterapkan sebagai kebebasan bagi
pemerintah Barat untuk melakukan berbagai perilaku hegemoni, infiltrasi, invasi, dan
penjajahan. Pemerintah negara-negara adidaya Barat tidak saja melanggar HAM yang
selama ini mereka gembar-gemborkan, bahkan juga memanfaatkan HAM sebagai alat
untuk mencapai kepentingan mereka. Dengan standar yang mereka buat sendiri,
pemerintah Barat memberi penilaian tentang pelaksanaan HAM di negara-negara lain
dan kemudian memberikan sanksi, seperti embargo ekonomi atau tekanan politik.
        Tentu saja, negara-negara yang menerima tekanan dan bahkan embargo dari
Barat dengan dalih pelanggaran HAM, adalah negara-negara yang tidak mau
mematuhi keinginan-keinginan Barat. Salah satu contoh dalam hal ini adalah
Republik Islam Iran. Selama ini, Republik Islam Iran selalu menolak campur tangan
dan infiltrasi AS dan selama itu pula, Iran menerima berbagai tekanan, embargo, dan
propaganda buruk yang dilancarkan AS. Padahal, bila dilihat secara objektif, kasus-
kasus pelanggaran HAM yang dituduhkan AS terhadap Iran tidak ada bukti
kebenarannya.
        Sebaliknya, betapa banyak kita lihat hari ini, pelanggaran HAM yang
dilakukan oleh negara-negara Barat, terutama AS, namun tidak mendapatkan
tanggapan yang semestinya. Misalnya, pelanggaran HAM yang sangat nyata
dilakukan oleh AS di Penjara Abu Ghraib dan Guantanamo, dibiarkan saja oleh
negara-negara Barat lainnya. Meskipun ada kecaman dari berbagai pihak, namun pada
prakteknya, tidak ada tindakan nyata apapun yang mereka lakukan dalam
menghentikan pelanggaran HAM yang dilakukan oleh AS itu. Dengan demikian,
dapat disimpulkan bahwa HAM dalam pandangan Barat adalah masih semu.
Sebaliknya, HAM dalam pandangan Islam adalah HAM yang lebih universal dan
hakiki yang seharusnya diterapkan oleh umat manusia sedunia.
        Akan tetapi, bukan berarti HAM dalam pandangan Islam akan menjamin
bahwa hak individu dan hak masyarakat akan terpenuhi dengan begitu saja. Karena
dalam perjalanannya, justru seringkali nilai-nilai keadilan dan kebebasan yang
mendukung terciptanya keadilan dan kesamaan dalam Islam dimanipulasi oleh elite-
elite agama untuk kepentingan kekuasaan. Sehingga pada prakteknya HAM dalam
Islam hanya dijadikan slogan-slogan kosong.
        Dengan memahami bahwa hak asasi manusia adalah fitrah dari manusia itu
sendiri, maka sebenarnya titik tekan yang paling esensial di antara pandangan Islam
dan Barat adalah pengaplikasian atau realisasi dari nilai-nilai yang dikandung di
dalamnya. Karena tanpa pengaplikasian nilai-nilai tersebut, maka semulia dan
sesempurna apapun konsep yang ditawarkan, baik oleh Islam maupun yang tertuang
dalam Deklarasi Universal HAM akan menjadi sia-sia. Wallohu A’lam




                                         4

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:1957
posted:12/11/2010
language:Indonesian
pages:4