Documents
Resources
Learning Center
Upload
Plans & pricing Sign in
Sign Out

ETIKA SEORANG MUSLIM

VIEWS: 270 PAGES: 4

									                          ETIKA SEORANG MUSLIM
                          KEPADA DIRINYA SENDIRI

                                  Oleh Majdudin



       Seorang muslim ialah orang yang telah berikrar (berjanji) kepada dirinya
dengan rela hati menerima Allah sebagai Tuhannya, Islam adalah agamanya dan
Muhammad adalah utusannya. Karena itu ia rela menerima apa yang datang dari
Allah berupa perintah dan larangan yang dibingkai dalam sebuah agama dengan nama
Islam yang sumber ajarannya dari al-Qur'an dan hadits.
       Untuk mengetahui cara melaksanakan perintah dan menjauhi larangan Allah
atau ibadah sebagaimana yang tertulis dalam al-Qur'an, maka di utuslah seorang nabi
dan rasul yaitu Muhammad SAW sebagai penunutun ummat yang memiliki uswatun
hasanah (suri tauladan yang baik). Cara-cara yang dilakukan rasul inilah kemudian
disebut sunnah (hadits) rasul yang menjadi sumber pokok ajaran agama Islam setelah
al-Qur’an.
       Dalam melaksanakan al-Qur’an dan sunnah, seorang muslim tidak akan lepas
dari godaan syetan. Mereka dengan pasukannya akan terus menumpangi hawa nafsu
seorang muslim supaya lalai melaksanakan ajaran agama. Setelah kelalaian itu
menjadi kebiasaan maka seorang muslim akan mulai berani meninggalkan ajaran
agamanya. Hal inilah yang dikemudian dinamakan dosa, yaitu suatu perbuatan yang
melanggar ajaran agamanya.
       Perbuatan dosa ini kemudian akan berdampak negativ bagi diri seorag muslim
bahkan akan membinasakannya seperti umat-umat terdahulu sebelum umat nabi
Muhammad. Dia akan menerima siksaan Allah di dunia dan di akhirat, baik siksaan
lahir maupun batin. Siksaan lahir bisa berupa longsor, banjir besar, sakit yang tidak
sembuh-sembuh, usaha berdagang, bertani, yang selalu rugi dan lain sebagainya.
Adapun bentuk siksaan batin bisa berupa banyaknya harta namun tidak membuatnya
merasa tenang artinya selalu di hinggapi rasa takut kehilangan hartanya. Ia seorang
muslim mempunyai anak tetapi anaknya tidak taat kepadanya sehingga batinnya
merasa tersiksa dan lain sebaginya.
       Untuk mencegah datangnya siksa Allah itulah maka kewajiban seorang
muslim kepada dirinya ialah bertaubat kepada Allah, Muroqobah, muhassabah, dan
mujahadah.
Pertama Taubat
       Taubat ialah melepaskan diri dari semua prilaku yang melanggar ajaran
agama, seperti meninggalkan shalat, zakat, puasa di bulan ramadhan, zinah, judi,
mabuk, menghina, menindas oranglain. dan menyesali semua dosa yang telah
dilakukannya. Karena itu ia harus meminta ampunan dari Allah dan berjanji kepada
diri sendiri serta berjanji kepada Allah tidak akan melakukan dosa untuk yang kedua
kalinya. Bila suatu hari ia melakukan dosa dengan jenis dosa yang berbeda atau
masih sama dengan yang telah dilakukannya maka iapun harus bertaubat (meminta
ampunan) kembali kepada Allah seraya memohon pertolongan-Nya agar dijauhkan
dari perbuatan dosa tersebut. Prilaku semacam ini harus terus dilakukan sepanjang
hayat dan jangan pernah berputus asa dalam melakukan toubat, sebab bertaubat itu
lebih baik daripada tidak sama sekali. Begitu dosa dilakukan cepatlah bertaubat
(memohon ampun kepada-Nya) ubahnya seorang yang lapar, bila rasa lapar itu
datang maka cepatlah makan dan bila lapar itu datang lagi cepatlah makan karena bila
tidak makan akan merusak kesehatan. Demikianjuaga dengan taubat, jika manusia
tidak bertaubat padahal sudah jelas telah melakukan dosa maka siksa Allah akan
membinasakannya baik di dunia maupun di akhirat. Segala dosa adalah kotoran dan
setiap kotoran yang menempel harus dibersihkan meskipun nanti kotoran itu akan
menempel lagi, karena itu bertaubat adalah membersihkan diri dari segala dosa.
       Firman Allah dalam Al-Qur'an Surrah: At-Tahrim;8
       ”Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat
yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-
kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya
sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang
yang beriman bersama dengan dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan
dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: "Ya Tuhan kami,
sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; sesungguhnya Engkau
Maha Kuasa atas segala sesuatu".
“ Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman
supaya kamu beruntung” (An-Nuur; 31) Nabi saw bersabda: "Barang siapa yang
bertaubat sebelum matahari terbit dari barat, maka Allah menerima taubatnya".


Kedua Muroqobah
       Muroqobah ialah seorang muslim mengkondisikan dirinya merasa diawasi
Allah ta'ala setiap waktu hingga akhir kehidupannya. Nabi saw bersabda:
" Sembahlah Allah seolah-olah kamu melihatnya, jika kamu tidak bisa melihat-Nya
maka sesungguhnya Dia melihatmu" (muttafaq alaih)
”Dan ketahuilah bahwasanya Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu; maka
takutlah kepada-Nya, dan ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha
Penyantun.(Al-Baqarah: 235), Yunnus; 22


Ketiga muhassabah
       Muhassabah ialah mengevalusi atas amal perbuatannya, dengan cara
pembinaan, penyucian dan pembersihan diri. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an
Surrah Al-Hasyr: 18 : ”Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah
dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari
esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha
Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.
       Segala sesuatu yang dilakukan oleh diri seorang muslim maka muslim itu
harus mengevalusi prilakunya. Hal itu dilakukan terus menerus hingga dia
menemukan kesalahan-kesalahan yang telah dia perbuat kemudian di tindak lanjuti
dengan bertaubat dan perbaikan diri. Karena itu dalam islam sering diseru berulang-
ulang agar umat islam hendaklah bertakwa kepada Allah. Karena disinilah letaknya
nikmat memperbaiki diri dan dekat kepada Allah setelah dia menemukan dirinya
bersalah dan kembali kepada jalan Allah.
Keempat mujahadah.
       Mujahadah ialah bersungguh-sungguh memerangi hawa nafsu yang selalu
mengajak berpaling dari ajaran Allah sehingga orang yang dikuasai oleh nafsunya
senantiasa enggan melaksanakan perintah Allah. ”Dan aku tidak membebaskan diriku
(dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan,
kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang, (Q.S. Yusuf; 53)”
       Dan (ingatlah) Ibrahim, ketika ia berkata kepada kaumnya: "Sembahlah
olehmu Allah dan bertakwalah kepada-Nya. Yang demikian itu adalah lebih baik
bagimu, jika kamu mengetahui. (Q.S. Al-Ankabut; 6)

								
To top