Docstoc

Laporan Tablet Farmasi

Document Sample
Laporan Tablet Farmasi Powered By Docstoc
					                                     BAB I


                               PENDAHULUAN


I.1 Latar Belakang

        Rancangan dari suatu bentuk sediaan yang tepat memerlukan

    pertimbangan karakteristik fisika, kimia dan biologis dari semua bahan-bahan

    obat dan bahan-bahan farmasetik yang akan digunakan dalam membuat

    produk tersebut. Obat dan bahan-bahan farmasetik yang digunakan harus

    tercampurkan satu dengan yang lainnya untuk menghasilkan satu produk obat

    yang stabil, manjur, menarik, mudah dibuat dan aman. Produk harus dibuat

    dibawah kontrol kualitas yang tepat dan dikemas dalam wadah yang

    membantu stabilitas produk.

        Apabila pemakaian obat harus secara oral dalam bentuk kering, maka

    bentuk kapsul dan tablet yang paling sering digunakan keduanya efektif,

    memberikan kenyamanan dan kemantapan dalam penanganan, pengenalan

    dan pemakaian oleh pasien. Dari sudut pandang farmasetika bentuk sedian

    padat pada umumnya lebih stabil dari pada bentuk cair, sehingga bentuk

    sediaan padat ini lebih cocok untuk obat-obat yang kurang stabil.

        Banyaknya keuntungan yang didapatkan dari sediaan padat dalam bentuk

    tablet, walaupun proses pembuatannya yang cukup sulit namun kebanyakan

    sediaan tablet ini digunakan disenangi oleh pasien. Apalagi ditambah dengan

    mekanisme kerja dari tablet yang lebih cepat diabsorbsi sehingga cepat

    menimbulkan efek terapi.




                                        1
I.2 Rumusan Masalah

     Apa yang dimaksud dengan tablet?

     Apa keuntungan dan kerugian tablet?

     Apa komposisi dari tablet?

     Bagaimana cara membuat tablet?

I.3 Maksud dan Tujuan

     Maksud dan tujuan penyusunan laporan ini adalah sebagai berikut :

     Untuk mengetahui definisi, keuntungan, kerugian dari sediaan tablet.

     Untuk mengetahui pengolahan tablet sampai pada tangan pasien meliputi

          cara pembuatan, pencetakan, pengemasan, serta penyimpanan dalam

          bentuk tablet.

     Untuk menyelesaikan tugas laporan akhir sebagai syarat ketuntasan

          mengikuti praktikum farmasetika II.

     Memberi sumbangan ilmu pengetahuan khususnya tentang “TABLET”

          kepada praktikan-praktikan selanjutnya.

     Sebagai referensi bagi para peneliti lanjutan mengenai objek dan

          permasalahan yang sama.

I.4 Manfaat

          Laporan ini dibuat agar dapat menambah pengetahuan kita tentang tablet,

meliputi definisi, keuntungan dan kerugian, komposisi dan proses pembuatan

tablet.




                                          2
                                      BAB II

                          TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Teori Umum

   II.1.1 Pengertian Tablet

                  Tablet adalah sediaan padat mengandung satu atau lebih bahan

         obat dengan atau tanpa bahan pengisi. Berdasarkan cara pembuatannya

         dapat digolongkan sebagai tablet cetak dan tablet kempa. (Farmakope

         Indonesia edisi IV, 1995).

                  Tablet merupakan bahan obat dalam bentuk sediaan padat

         yang biasanya dibuat dengan penambhan bahan tambahan farmasetika

         yang sesuai. (Ansel versi terjemahan, 2005)

                  Tablet yang berbentuk kapsul umumnya disebut kaplet. Bolus

         adalah tablet besar yang digunakan untuk obat hewan besar. Bentuk

         tablet umumnya berbentuk cakram pipih/gepeng, bundar, segitiga,

         lonjong, dan sebagainya. Bentuk khusus ini dimaksudkan untuk

         menghindari, mencegah atau mempersulit pemalsuan dan agar mudah

         dikenal orang. Warna tablet umumnya putih. Tablet yang berwarna

         kemungkinan karena zat aktifnya memang berwarna. Tetapi ada juga

         tablet yang sengaja diberi warna agar tampak lebih menarik, mencegah

         pemalsuan, dan untuk membedakan tablet yang satu dengan tablet

         yang lain.




                                        3
               Pemberian etiket pada tablet harus mencantumkan nama tablet

     atau zat aktif yang dikandung, dan jumlah zat aktif (zat berkhasiat) tiap

     tablet.

II.1.2 Keuntungan Tablet (Lachman, Hal 644)

     1. Tablet merupakan bentuk sediaan yang utuh dan menawarkan

         kualitas terbaik dari semua bentuk sediaan oral untuk ketepatan

         ukuran serta variabilitas kandungan yang paling rendah

     2. Tablet merupakan bentuk sediaan yang ongkos pembuatannya

         paling rendah

     3. Tablet merupakan bentuk sediaan oral yang paling ringan dan

         paling kompak

     4. Tablet merupakan bentuk sediaan yang paling mudah dan murah

         untuk dikemas serta dikirim

     5. Pemberian tanda pengenal produk pada tablet paling mudah dan

         murah; tidak memerlukan langkah pekerjaan tambahan bila

         menggunakan permukaan pencetak yang bermonogram atau

         berhiasan timbul

     6. Tablet paling mudah ditelan serta paling kecil kemungkinan

         tertinggal   ditenggorokan,     terutama    bila    bersalut    yang

         memungkinkan pecah/hancurnya tablet tidak segera terjadi

     7. Tablet bisa dijadikan produk dengan profil pelepasan khusus,

         seperti penglepasan diusus atau produk lepas lambat




                                   4
     8. Tablet merupakan bentuk sediaan oral yang paling mudah untuk

         diproduksi secara besar-besaran

     9. Tablet merupakan bentuk sediaan oral yang memiliki sifat

         pencampuran kimia, mekanik dan stabilitas mikrobiologi yang

         paling baik

II.1.3 Kerugian Tablet (Lachman, Hal 645)

     1. Beberapa obat tidak dapat dikempa menjadi padat dan kompak,

         tergantung pada keadaan amorfnya, flokulasi, atau rendahnya berat

         jenis

     2. Obat yang sukar dibasahkan, lambat melarut, dosisnya cukup

         tinggi, absorbsi optimumnya tinggi melalui saluran cerna atau

         setiap kombinasi dari sifat diatas, akan sukar atau tidak mungkin

         diformulasi dalam bentuk tablet yang masih menghasilkan

         bioavailabilitas yang cukup

     3. Obat yang rasanya pahit, obat dengan bau yang tidak dapat

         dihilangkan atau obat yang peka terhadap oksigen atau kelembapan

         udara perlu pengapsulan atau penyelubungan dulu sebelum

         dikempa (bila mungkin) atau memerlukan penyalutan dulu

         ( Lachman jilid 2 edisi 3, 2008)

II.1.4 Penggolongan berdasarkan Metode Pembuatan

      Berdasarkan metode pembuatannya, dikenal beberapa jenis tablet,

      yaitu:




                                   5
1. Tablet Cetak

  Dibuat dari bahan obat dan bahan pengisi yang umumnya

  mengandung      laktosa   dan   serbuk    sukrosa    dalam   berbagai

  perbandingan. Massa serbuk dibasahi dengan etanol persentase

  tinggi. Kadar etanol tergantung pada kelarutan zat aktif dan bahan

  pengisi dalam sistem pelarut, serta derajat kekerasan tablet yang

  diinginkan. Massa serbuk yang lembab ditekan dengan tekanan

  rendah ke dalam lubang cetakan. Kemudian dikeluarkan dan

  dibiarkan kering. Tablet cetak agak rapuh sehingga harus hati-hati

  dalam    pengemasan       dan   pendistribusian.    Kepadatan   tablet

  bergantung pada ikatan kristal yang terbentuk selama proses

  pengeringan selanjutnya dan tidak bergantung pada kekuatan

  tekanan yang diberikan.

2. Tablet Kempa

  Dibuat dengan memberikan tekanan tingggi pada serbuk atau

  granul menggunakan cewtakan baja. Umumnya tablet kempa

  mengandung zat aktif, bahan pengisi, bahan pengikat, desintegran,

  dan lubrikan, tetapi dapat juga mengandung bahan pewarna dan lak

  (pewarna yang diabsorbsikan pada aluminium hidroksida yang

  tidak larut) yang diizinkan, bahan pengaroma, dan bahan pemanis.




                             6
3. Tablet Triturat

   Merupakan tablet cetak atau kempa berbentuk kecil, umumnya

   silindris, digunakan untuk memberikan jumlah terukur yang tepat

   untuk peracikan obat.

4. Tablet Hipodermik

   Adalah tablet cetak yang dibuat dari bahan yang mudah larut atau

   melarut sempurna dalam air, harus steril dan dilarutkan lebih

   dahulu sebelum digunakan untuk injeksi hipodermik.

5. Tablet Sublingual

   Digunakan dengan cara meletakkan tablet di bawah lidah sehingga

   zat aktif diserap secara langsung melalui mukosa mulut, dinerikan

   secara oral atau jika diperlupakan ketersediaan obat yang cepat

   seperti tablet nitrogliserin.

6. Tablet Bukal

   Digunakan dengan cara meletakkan tablet di antara pipi dan gusi,

   sehingga zat aktif diserap sacara langsung melalui mukosa mulut.

7. Tablet Efervesen

   Dibuat dengan cara dikempa. Selain zat aktif, tablet mengadung

   campuran asam (asam sitrat, asam tartrat) dan natrium bikarbonat,

   yang jika dilarutkan dalam air akan menghasilkan karbon dioksida.

   Tablet disimpan dalam wadah tertutup rapat atau dalam kemasan

   tahan lembab, dan pada etiket tertera informasi bahwa tablet ini

   tidak untuk ditelan.



                               7
      8. Tablet Kunyah

         Dimaksudkan untuk dikunyah, meninggal residu dengan rasa enak

         dalam rongga mulut. Diformulasikan untuk anak-anak, terutama

         formulasi multivitamin, antasida, dan antibiotik tertentu. Dibuat

         dengan cara dikempa, pada umumnya menggunkan manitol,

         sorbitiol, atau sukrosa sebagai bahan pengikat dan pengisi, serta

         mengadung     bahan    pewarna       dan   bahan   pengaroma   untuk

         meningkatkan penampilan dan rasa.

II.1.5 Tujuan Penyalutan Tablet

      1. Melindungi zat aktif yang bersifat higroskopis atau tidak tahan

         terhadap pemgaruh udara, kelembapan atau cahaya.

      2. Menutupi rasa dan bau yang tidak enak

      3. Membuat penampilan lebih baik dan menarik

      4. Mengatur tempat pelepasan obat dalam saluran cerna. Misalnya

         tablet enterik yang pecah di usus.

II.1.6 Komposisi Umum Tablet

      1. Zat aktif

      2. Excipient/zat tambahan :

           Zat Pengisi (diluent)

              Contoh : Lactosa, Amylum, sucrose.

           Zat Pengikat (binder)




                                    8
             Contoh : Akasia, Tragakan, Gelatin, derivat-derivat selulosa

             (metilselulosa, hidroksipropil metilselulosa, dan hidroksipropil

             selulosa), da n Polivinilpirolidon (PVP).

          Zat Penghancur (disintegran)

             Contoh : Natrium Karboksimetilselulosa (Na CMC)

          Lubricant dan/atau Glidan

             Contoh : Talk, Mg stearat, Asam stearat, Amilum

II.1.7 Metode Pembuatan Tablet

      1. Granulasi Basah (wet granulation)

         Yaitu memproses campuran zat aktif dan excipient menjadi

         partikel yang lebih besar dengan menambahkan cairan pengikat

         dalam jumlah tepat sehingga didapat massa yang lembab yang

         dapat digranulasi. Metode ini biasa digunakan jika zat aktif tahan

         terhadap lembab dan panas.

      2. Granulasi Kering (Slugging)

         Yaitu metode yang memproses partikel zat aktif dan excipient

         dengan mengempa campuran bahan kering menjadi massa padat,

         selanjutnya dipecah lagi untuk menghasilkan partikel yang

         berukuran lebih besar dari serbuk semula (granul). Prinsipnya

         adalah membuat granul secara mekanis tanpa bantuan bahan

         pengikat dan pelarut.




                                  9
      3. Kempa langsung

         Yaitu pembuatan tablet dengan mengempa langsung campuran zat

         aktif dan excipient kering tanpa melalui perlakuan awal terlebih

         dahulu. Metode ini merupakan metode paling mudah, praktis dan

         cepat pengerjaannya, namun hanya dapat digunakan pada kondisi

         zat aktif yang kecil dosisnya dan zat aktif yang tidak tahan

         terhadap panas dan lembab.

II.1.8 Syarat-syarat Tablet Menurut FI III dan FI IV

      1. Keseragaman ukuran (FI III)

         Diameter tablet tidak lebih dari tiga kali dan tidak kurang dari satu

         sepertiga kali tebal tablet.

      2. Kegunaan bobot dan keseragaman kandungan (FI IV)

         Keseragaman bobot ditetapkan sebagai berikut (FI III) :

         a. Timbang 20 tablet dan dihitung bobot rata-ratanya

         b. Jika ditimbang satu per satu, tidak boleh lebih dari dua tablet

            yang menyimpang dari bobot rata-rata lebih besar dari harga

            yang ditetapkan pada kolom A dan tidak boleh ada satu tablet

            yang bobotnya menyimpang dari bobot rata-rata lebih dari harga

            dalam kolom B.

         c. Jika perlu dapat diulang dengan 10 tablet dan tidak boleh ada

            satu tablet pun yang bobotnya menyimpang lebih besar dari

            bobot rata-rata yang ditetapkan dalam kolom A maupun kolom

            B.



                                    10
                                     Penyimpangan bobot rata-rata
          Bobot rata-rata
                                                dalam %
                tablet
                                          A                   B

              <25 mg                      15                  30

             26-150 mg                    10                  20

              151-300                     7,5                 15

              >300 mg                     5                   10



3. Waktu Hancur (FI III)

   Waktu hancur penting dilakukan jika tablet diberikan per oral,

   kecuali tablet yang harus dikunyah sebelum ditelan dan beberapa

   jenis tablet lepas-lambat dan lepas tunda. Untuk obat yang

   kelarutannya dalam air terbatas, uji disolusi akan lebih berarti

   daripada uji waktu hancur.

4. Kekerasan Tablet (FI III)

   Pengukuran    kekerasan      tablet   digunakan   untuk   mengetahui

   kekerasannya, agar tablet tidak terlalu rapuh atau terlalu keras.

   Kekerasan tablet erat hubungannya dengan ketebalan tablet, bobot

   tablet, dan waktu hancur tablet. Alat yang digunakan untuk

   pengukuran kekerasan tablet adalah hardness tester.

5. Keregasan Tablet (friability)

   Friability adalah persen bobot yang hilang setelah tablet diguncang.

   Penentuan keregasan atau kerapuhan tablet dilakukan terutama



                               11
pada waktu tablet akan dilapis (coating). Alat yang digunakan

disebut friability tester.

Caranya:

   Bersihkan 20 tablet dari debu, kemudian ditimbang (W1 gram)

   Masukkan tablet ke dalam alat friability tester untuk diuji

   Putar alat tersebut selama 4 menit

   Keluarkan tablet, bersihkan dari debu dan ditimbang kembali

   (W2 gram)

   Kerapuhan tablet yang didapat = W1 – W2 x 100%

                                     W1

Batas kerapuhan yang diperbolehkan maksimum 0,8%




                             12
                               BAB III

                            METODE KERJA

III.1 Alat

      Lumpang dan alu




      Timbangan analitik




      Sendok tanduk




      Sudip




                                 13
   Pipet




   Oven




   Tabung reaksi




   Pengayak




                    14
III.2 Bahan


      Aminophylin (250 mg)




      Laktosa (155 mg)




      Mg stearat (10 mg)




      Na CMC fase dalam (30 mg)




                                   15
      Na CMC fase luar (20 mg)




      Talk (10 mg)




      Kertas perkamen




III.3 Cara Kerja


   1. Disiapkan alat dan bahan




                                  16
2. Ditimbang semua bahan sesuai perhitungan




3. Amilum dibuat muchilago, dengan cara menambahkan sedikit demi sedikit

   air panas ke dalam 25 mg amilum, dicampur samapai terbentuk

   muchilago.




4. Digerus aminophylin dalam lumpang hingga halus,




                                 17
5. Ditambahkan Na CMC dan laktosa, digerus hingga halus dan homogen.




6. Ditambahkan muchilago amilum sedikit demi sedikit, digerus hingga

   homogen.




7. Dilakukan pengayakan basah terhadap massa basah dengan menggunakan

   pengayak basah.




                                18
8. Dilakukan pengeringan terhadap granul basah yang dihasilkan dengan

   menggunakan oven bersuhu 50 - 60° C selama 1 sampai 2 jam.




9. Dilakukan pengayakan kembali dengan menggunakan pengayak kering.




10. Dibuat bahan fase luar dengan menggerus talk dengan Na CMC hingga

   halus dan homogen.




                                 19
11. Ditambahkan fase luar tersebut ke dalam granul hasil pengayakan kering,

   kemudian tambahkan Mg stearat, dicampur hingga homogen.




12. Dievaluasi (dilakukan dengan pemampatan pada granul sebanyak 20 kalidi

   dalam tabung reaksi).




                                  20
                                           BAB IV


                                    PEMBAHASAN


IV.1 Resep asli

                              Dr.Abdussalam
                     S.I.K : 304/VI/Menkes/GTO
                  Alamat : Jl. Jend. Soedirman no.86
                    Limboto, Telp. (0435) 881700
                                           30 desember 2009


            R/         Aminofilin      250 mg
                       CMC                  6%
                       Amilum               5%
                       Laktosa              q.s
                       Mg                   2%
                       Talk                 2%
                       CMC                  3%
                      m.f. granul d.t.d No. X
                               ∫ t.d.d.I
            Pro       : Gledis

            Umur : 17 tahun

       Indikasi zat aktif

          o Bronchodilator yaitu obat yang merelaksasi dan mendilatasi

                 (melebarkan) saluran menuju paru-paru. Bronchodilatasi dapat

                 dicapai dengan cara merangsang sistem adrenergik dengan

                 adrenergika atau melalui penghambatan sistem kolinergik dengan

                 antikolinergika. (Obat-obat Penting : 606)



                                              21
o Antipasmodik yaitu zat-zat yang melepaskan kejang-kejang

o Diuretik yaitu Zat-zat yang dapat memperbanyak pengeluaran

   kemih (diuresis). Melalui kerja langsung terhadap ginjal.

   Aminofilin menstimulasi diresis dengan mempengaruhi ginjal

   secara tak langsung. (Obat-obat Penting : 488)

Efek farmakologi : Aminofilin berupa garam bersifat basa dan sangat

                    merangsang selaput lendir, sehingga secara oral

                    sering mengakibatkan gangguan lambung (mual,

                    muntah). Reabsorbsinya diusus buruk dan tak

                    teratur. Ekskresinya berlangsung sebagai asam

                    metil urat lewat kemih dan hanya 10% dalam

                    keadaan utuh. (Obat-obat Penting : 613)

Alasan penambahan jumlah excipent

o Amilum digunakan dalam pembuatan tablet sebagai pengikat

   karena dapat ,meningkatkan kobehifitas antar partikelserbuk

   sehingga memberikan kekompakkan dan daya tahan tablet.

   (konsetrasi amilum : 5-25 %). (teknologi sediaan farmasi).

o Na CMC digunakan sebagai penghancur karena memudahkan

   pecahnya atau hancurnya tablet dalam media air, sehingga pecah

   menjadi granul. Selanjutnya menjadi partikel-partikel penyusun

   sehingga akan meningkatkan kecepatan disolusi/kelarutan tablet.

   (konsentrasi Na CMC : 3 – 6%).




                            22
o Laktosa dapat menambah berat tablet agar sesuai dengan berat

   yang dikehendaki dan dapat dicetak dengan baik. Laktosa juga

   dapat memperbaiki pengikat dan pengaliran dari formulasi yang

   ada. Secara umum bahan pengisi berfungsi menambah bobot

   sehingga memiliki bobot yang sesuai untuk dikempa. Serta

   memperbaiki kompresibilitas daya kohesi sehingga dapat dikempa

   langsung.

o Talk pada pembuatan tablet digunakan sebagai glidan yaitu dengan

   mengurai friksi antara permukaan dinding/tepi tablet dengan die

   selama kompresi dan ejeksi. (konsentrasi talk : 1-10%).

o Mg stearat tetap digunakan sebagai lubrikan pada tablet karena

   mempunyai konsentrasi antara 0,25 – 5,0 %. Mg stearat stabil dan

   tahan jika berada ditempat yang dingin dan kering. (konsentrasi :

   0,25 – 5,0 %).

Incompatibility

o Na CMC dapat bercampur (tidak income) dala larutan asam pekat

   dan garam serta beberapa logam lainnya. Jadi Na CMC dapat

   bercampur (tidak income) dengan zat aktif yaitu aminophilyn

   karena aminophilyn masuk dalam golongan asam dan garam.

o Laktosa income (tidak bercampur) dengan aminophylin, asam

   amino, dan amfetamin.




                            23
         o Mg stearat tidak income (dapat bercampur) dengan aminophylin,

            karena Mg Stearat tidak dapat mengoksidasi asam. Sedangkan

            aminophylin adalah golongan asam.

         o Talk tidak income dengan aminophylin, karena talk hanya dapat

            income dengan senyawa golongan ammonium kuartener yang

            bermuatan positif, sedangkan aminophylin termasuk golongan

            asam.

IV.2 Uraian Bahan

          Aminofilin (Farmakope Indonesia III : 82)

            Nama lain       : Aminophyllinum

            Sinonim         : Aminofilina ,theofilina etillendiamina

            Rumus molekul : C16H24N10O4

            Pemerian        : butir atau serbuk; putih atau agak kekuningan;

                               bau lemah mirip amoniak

            Kelarutan       : larut dalam lebih kurang 5 bagian air, jika

                               dibiarkan   mungkin menjadi keruh; praktis

                               tidak larut dalam etanol (95%) P, dan dalam

                               eter P.

            Khasiat         : bronkhodilator, antispasmodik, diuretikum

            DM              : Sekali 500 mg, Sehari 1,5 g

            Penyimpanan     : Dalam wadah tertutup rapat, terlindung dari

                               cahaya




                                    24
 CMC ( Farmakope Indonesia IV : 175)

   Nama latin     : Carboxymetyl cellulosum natricum

   Sinonim        : Karboksimetil    selulosa    natricum,   garam

                    selulosa karboksimetil eter natrium

   Pemerian       : Serbuk atau granul; putih sampai krem;

                    higroskopik

   Kelarutan      : Mudah terdispersi dalam air, membentuk

                    larutan klorida, tidak larut dalam etanol, dalam

                    eter dan dalam pelarut organik lain

   Khasiat        : zat tambahan (penghancur)

   Penyimpanan    : Dalam wadah tertutup rapat

 Laktosa ( Farmakope Indonesia IV : 488)

   Nama Latin     : Lactosum

   Sinonim        : Saccarum lactis, gula susu, melkzuiker

   Rumus molekul : C12H22O11( anhidrat)

   Pemerian       : serbuk atau massa hablur; keras, putih krem;

                    tidak berbau dan rasa sedikit manis, stabil di

                    udara, tetapi mudah menyerap bau

   Kelarutan      : Mudah (dan pelan-pelan) larut dalam air dan

                    lebih mudah larut air mendidih; sangat sukar

                    larut dalam etanol; dan tidak larut dalam eter

   Khasiat        : Zat tambahan (zat pengisi)

   Penyimpanan    : Dalam wadah tertutup baik



                         25
 Amylum (Farmakope Indonesia III : 93)

   Nama latin     : Amylum manihot

   Sinonim        : Pati singkong

   Pemerian       : Serbuk     hablur,    kadang-kadang     berupa

                     gumpalan kecil; putih; tidak berbau; tidak

                     berasa

   Kelarutan      : Praktis tidak larut dalam air dingin dan dalam

                     etanol (95%) P

   Khasiat        : Zat tambahan (pengikat)

   Penyimpanan    : Dalam wadah tertutup baik

 Mg (Farmakope Indonesia III : 354)

   Nama latin     : Magnesium stearat

   Sinonim        : Magnesium stearat

   Pemerian       : Serbuk halus; putih; licin dan mudah melekat

                     pada kulit; bau lemah khas.

   Kelarutan      : Praktis tidak larut dalam air; dalam etanol (95

                     %) P dan dalam eter P

   Khasiat        : Antasidum; Zat tambahan (lubrikan)

   Penyimpanan    : Dalam wadah tertutup baik

 Talk ( Farmakope Indonesia III : 591)

   Nama latin     : Talcum

   Sinonim        : Talk




                         26
              Pemerian            : Serbuk hablur, sangat halus licin, mudah

                                      melekat pada kulit bebas dari butiran, warna

                                      putih atau putih kelabu

              Kelarutan           : Tidak larut dalam hampir semua pelarut

              Khasiat             : Zat tambahan (glidan)

              Penyimpanan         : Dalam wadah tertutup baik

IV.3 Perhitungan dosis

     DM Aminofilin            =        500 mg/1500 mg

     Untuk 35 tahun           =        35/24 x 500 mg           =    729,2 mg

     Sehari                   =        35/24 x 1500 mg          =    2187,5 mg

     1xP                      =        1 x 250 mg               =    250 mg

     %                        =        250/729,2 x 100%         =    34,28%

     3xP                      =        3 x 250 mg               =    750 mg

     %                        =        750/2187,5 x 100%        =    34,29%

IV.4 Perhitungan bahan

              Bobot 1 Tablet =         500 mg

              aminofilin          =    250 mg

               Fase Dalam 92% = 92/100 x 500 mg                = 460 mg

                 Aminofilin            = 250 mg

                 Na CMC       6%       = 6/100 x 500 mg         = 30 mg

                 Amilum       5%       = 5/100 x 500 mg         = 25 mg

                 Laktosa               = 460 – (250+30+ 25)= 155 mg




                                          27
              Total fase dalam    = 250 mg + 30 mg+ 25 mg +155 Mg = 460

              mg

               Fase luar

                 Mg stearat 2%    = 1/92 x 460 mg      = 10 mg

                 Talk        2%   = 2/92 X 460 mg      = 10 mg

                 Na cmc      4%   = 5/92 x 460 mg      = 20 mg +

                                                           40 mg

            Jadi, total fase dalam dan fase luar = 460 mg + 40 mg = 500 mg

              Untuk 5 tablet

                Fase Dalam

                Aminofilin        = 250 mg x 5      = 1250 mg

                Na cmc            = 30 mg x 5       = 150 mg

                Amylum            = 25 mg x 5       = 125 mg

                Lactosa           = 155 mg x 5      = 775 mg

                Fase Luar

                Mg stearat        = 10 mg x 5       = 50 mg

                Talk              = 10 mg x 5       = 50 mg

                Na CMC            = 20 mg x 5       = 200 mg

IV.5 Pembahasan

       Tablet merupakan bentuk sediaan padat yang mengandung satu atau lebih

bahan obat, dengan atau tanpa bahan pengisi. Pembuatan sediaan tablet dapat

dilakukan dengan tiga cara yaitu granulasi basah, granulasi kering dan kempa

langsung.



                                     28
          Pada praktikum kali ini dilakukan percobaan pembuatan tablet dalam skala

lab. Resep yang dibuat sediaan tablet hanya resep 2 yaitu tablet aminophilyn,

dimana bahan excipientya terdiri atas fase dalam yaitu Na CMC, laktosa, dan

amilum. Sedangkan untuk fase dalamnya yaitu Na CMC, talk, dan Mg stearat.

Pertama kali dilakukan dengan menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan,

kemudian menimbang bahan-bahan tersebut dan langsung membuat sediaan

tablet.

          Pada resep ini kita membuat dengan granulasi basah karena titik lebur dari

zat aktifnya yaitu aminophilyn di atas dari 60° C. Amilum pada resep ini

digunakan sebagai pengikat karena amilum memiliki kemampuan untuk dapat

mengikatkan zat aktif dengan excipient dan excopient dengan excipient. Amilum

dibuat muchilago terlebih dahulu karena titik lebur amilum di atas dari 60° C

yaitu 105° C. Penentuan konsentrasi dari bahan excipient pada resep ini tidak

tepat, karena jumlah penghancur pada fase dalam dan fase luar itu harus sama,

namun pada penentua resep ini konsentrasi penghancur dalam dan penghancur

luar tidak sama.

          Pada saat pengayakan basah hanya dilakukan dengan ayakan biasa, karena

keterbatasannya alat yang ada di laboratorium sehingga membuat jalannya

praktikum tidak berjalan dengan sempurna. Setelah proses pengayakan selesai

saatnya massa basah tadi dikeringkan dalam oven pada suhu 50° C sampai 60° C.

pemansan dalam oven dilakukan selama 1 sampai 2 jam, namun pada percobaan

kali ini dilakukan hanya ± 45 menit saja, karena pada saat memasukkan massa

basah ke dalam oven pada saat suhu 60° C.Jika akan menunggu 1 sampai 2 jam



                                          29
pemansan dalam oven akan membuat sediaan hangus dan percobaan menjadi

gagal.

         Pengayakan kering dilakukan setelah pemanasan selesai, kemudian

ditimbang hasilnya sebagai tahap evaluasi pertama. Setelah itu dimasukkan fase

luarnya yaitu Na CMC sebagai penghancur luar dan talk sebagai pelicin partikel

serta Mg stearat sebagai pelicin alat. Penggerusan yang dilakukan hingga sampai

homogen. Hasil akhir adalah evaluasi kembali dengan cara pemampatan granul.

Pada saat pemampatan granul dilakukan dengan cara memasukkan granul ke

dalam tabung rekasi dan dilihat volume granul itu kemudian tabung reaksi

tersebut di terpa diatas bidang rata selam 20 kali. Kemudian dilihat lagi volume

granul. Hasil yang didapatkan yaitu :

         %T = (V0-V1)V0 x 100%

            = (5,1 ml – 4 ml) / 5 ml x 100%

            = 1,1 / 5,1 x 100%

            = 21,56%

         Hasil yang kami dapatkan ternyata tidak memiliki aliran yang baik.

Sedangkan graul yang memiliki aliran yang baik hasil akhirnya harus dibawah

dari 20%. Banyaknya faktor yang menyebabkan hal ini terjadi, mungkin salah satu

faktornya adalah penentuan konsentrasi penghancur dalam dan panghancur luar

yang tidak sama. Pada percobaan ini dilakukan hanya sampai granul karena

keterbatasan alat pada laboratorium.




                                        30
                                   BAB V

                                 PENUTUP

V.1 Kesimpulan

    1. Memformulasi tablet perlu diperhatikan bahan aktif yang akan digunakan,

      sebab sifat zat aktif yang akan digunakan dapat menentukan metode yang

      akan digunakan dalam membuat tablet.

    2. Memformulasi tablet harus diperhatikan penentuan konsentrasi dari

      excipient karena dapat mempengaruhi pada sediaan.

V.2 Saran

      Untuk laboratorium diharapkan agar melengkapi peralatan yang akan

digunakan untuk praktikum, sehingga dapat membuat jalannya praktikum dengan

sempurna.




                                     31
                         DAFTAR PUSTAKA



1. Anthur, H.Kibbe. 2000. “Handbook Of Pharmaceutical Excipient Third

   Edition”. America Pharmaceutical Association: London

2. Anief, Moh. 2008. “Ilmu Meracik Obat”. Gadjah Mada University Press:

   Yogyakarta

3. DEPKES RI. 1979. “Farmakope Indonesia Edisi III”. Dirjen POM Depkes

   RI: Jakarta

4. DEPKES RI. 1995. “Farmakope Indonesia Edisi IV”. Dirjen POM Depkes

   RI: Jakarta

5. Howard, Ansel. 2005. “Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi” Universitas

   Indonesia Press: Jakarta

6. Lachman, Leon dkk. 2008. “Teori dan Praktek Farmasi Industri”.

   Universitas Indonesia Press: Jakarta

7. Syamsuni. 2007. “Ilmu Resep”. Buku Kedokteran: Jakarta




                                   32
                                  LAMPIRAN


1. Copy resep


                    Apotek : “APOTEK PERMATA”
                          Alamat : Jl. Aloe Saboe
                            Telp     : 8321110
                Apoteker : Robert Tungadi, S.Si., M.Si., Apt

                                  Gorontalo, 30 Desember 2009

                            APOGRAPH
            Resep Untuk         : Gladis
            Resep dari Dokter : Abdussalam
            Tanggal Resep        : 30-12-2009
            Nomor Resep          : 12
            Tanggal Copy Resep: 30-12-2009
                   R/ Fase dalam
                       Aminofilin 250 mg
                       CMC Na 6%
                       Amilum       5%
                       Laktosa      q.s
                       Fase Luar
                       Mg            2%
                       Talk          2%
                       CMC Na        4%
                       m.f granulae No.XX
                       S tdd I
                                                                             det
                                                                    Pcc
                        Cap Apotek
                                                           Paraf Apoteker


2. Etiket
                                       APOTIK PERMATA
                         Apoteker : ROBERT TUNGGADI S.Si,M.Si,Apt
                                      Alamat     : Jl.Aloe Saboe
                    Tanggal : 30 des 09                            No : 02
                    Nama : Gledis ( 17 thn)

                              3   X     1                          granul




                                            33

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:12327
posted:12/11/2010
language:Indonesian
pages:33