Docstoc

teknik penampungan semen

Document Sample
teknik penampungan semen Powered By Docstoc
					TEKNIK PENAMPUNGAN SEMEN

 (Makalah Teknologi Reproduksi)




             Irma

          0814061043




   JURUSAN PTERNAKAN

   FAKULTAS PERTANIAN

  UNIVERSITAS LAMPUNG

             2010
Inseminasi buatan adalah pemasukan atau penyampaian semen ke dalam saluran
kelamin betina dengan menggunakan alat-alat buatan manusia, jadi bukan secara
alami (Toelihere,R.M, 1977). Inseminasi buatan merupakan salah satu metode
perkawinan secara buatan yang dilakukan sengaja oleh manusia dengan
memasukkan semen kedalam organ kelamin ternak betina.

Sejarah Inseminasi buatan yaitu Anthony Van Leeuwenhook penemu mikroskop
merupakan orang yang pertama kali mengamati spermatozoa dengan pembesaran
di bawah mikroskop. Hal ini memicu adanya penelitian-penelitian lanjutan.
Sedangkan Spallanzani dianggap sebagi penemu inseminasi buatan karena laporan
ilmiahnya yang berjumlah 1780 telah menunjukkan adanya kesuksesan dalam
melakukan inseminasi buatan pada anjing.

Pada tahun 1899, Ivanoff dari Rusia memelopori penelitian IB pada burung, kuda,
sapi dan domba. Ia dikenal sebagai orang pertama yang sukses melakukan IB pada
sapi. Breeding Sapi Mass di Rusia merupakan breeding yang pertama kali
menerapkan IB dengan hasil 19,800 keturunan sapi perah pada tahun 1931.
Denmark merupakan negara pertama yang membuat asosiasi IB pertama pada
tahun 1936. E.J. Perry dari New Jersey mengunjungi fasilitas IB di Denmark
kemudian pada tahun 1938 mendirikan organisasi IB pertama di Amerika Serikat
di Perguruan Tinggi Pertanian Negeri New Jersey. Industri IB di amerika serikat
telah tumbuh dengan cepat. Pada tahun 1970 USDA melaporkan telah melakukan
IB pada 7,344,420 sapi perah yang merupakan 46% dari populasi sapi perah.

Keuntungan terbesar penggunaan IB adalah dapat termanfaatkannya secara
maksimal genetik pejantan unggul. Dengan kawin alam satu sapi hanya dapat
mengawini kurang dari 100 ekor betina per tahun. Pada tahun 1968, Satu pejantan
unggul dapat menyediakan lebih dari 60.000 semen untuk IB. Penggunaan IB
dapat mengurangi penyebaran penyakit genital. Keuntungan lain adalah dapat
diketahuinya lebih awal jika ada pejantan infertil, pengurangan penggunaan
pejantan tua, terjadinya pejantan pincang dan berkurangnya penggunaan pejantan
yang sulit dikendalikan.
Ada beberapa kerugian dari penggunaan IB yaitu diperlukannya ketepatan deteksi
birahi oleh manusia. Sukses Atau gagalnya IB tergantung pada seberapa baik
petugas dapat melakukan IB. Dalam IB diperlukan tenaga kerja, fasilitas, dan
keterampilan khusus.

Inseminasi atau deposisi semen ke dalam saluran reproduksi ternak betina merupakan
salah satu langkah akhir dalam kegiatan inseminasi buatan. Pencurahan semen ke dalam
saluran reproduksi ternak betina mamalia dilakukan dengan maksud agar sel telur yang
diovu-lasikan ternak betina tersebut dapat dibuahi oleh sperma sehingga ternak betina
menjadi bunting dan melahirkan anak. Sedangkan pada ternak unggas betina supaya
menghasilkan telur fertil yang selanjutnya dapat ditetaskan.
Inseminasi/ deposisi semen harus dilaksanakan pada saat yang tepat, yaitu pada saat
ternak betina (mamalia=sapi, domba, kerbau, dsb) itu sedang dalam puncak berahi.
Sedangkan ada ternak unggas dilakukan pada ternak betina yang sedang berada dalam
periode bertelur.


Inseminasi/ deposisi semen pada ternak mamalia besar (sapi, kerbau)
dilakukan dengan metode recto-vaginal. Inseminasi/ deposisi semen pada ternak
mamalia kecil (domba, kambing) menggunakan metode vaginoscope atau speculum.
Inseminasi/ deposisi semen pada ternak unggas betina dilakukan dengan metode
pengurutan untuk mencuatkan vagina keluar dari rongga kloaka. Semen yang
diinseminasikan dapat dalam bentuk semen cair atau semen beku. Aplikator (alat
untuk menyampaikan semen) atau insemination gun untuk semen cair berbeda dengan
untuk semen beku.

Adapun salah satu metode yang secara umum sering digunakan untuk
menampung semen pada sapi dan kerbau adalah dengan menggunkan alat bantu
yang sering disebut dengan vagina buatan. Vagina buatan dapat menampung
semua ejakulat, dan ejakulat ini sendiri dapat tertampung secara menyeluruh dan
proses ini dapat tertampung dengan mudah cepat dan bersih.
Dalam metode vagina buatan digunakan salah satu bahan yang sangat berperan
penting untuk memudahkan proses pengambilan semen. Adapun bahan yang
sangat berperan penting tersebut adalah bahan pelican. Tanpa adanya bahan
pelicin dalam vagina buatan akan sangat mempengaruhi hasil ejakulasi dan
penjantan juga akan merasakan kesakitan, tidak nyaman, serta susah untuk
melakukan ejakulasi dan ditakutkan proses pengambilan semen kedepanya
penjantan sudah tidak mau lagi.

Pengenceran semen sangat memungkinkan untuk inseminasi buatan lebih banyak
dan merupakan salah satu cara untuk dapat mempertahankan daya tahan dari
fertilisasi sebelum air mani disemprotkan kedalam alat kelamin betina pada waktu
birahi. Sementara pengenceran itu sendiri merupakan proses dari penanaman
semen cair yang mana dalam pembuatan bahan pengencer perlu diketahui syarat –
syarat sebelum melakukan pembuatan bahan pelicin.

Syarat – syarat dari bahan pelicin adalah harus dapat memiliki sifat yang non
fisik, maksudnya adalah harus dapat memiliki kemampuan untuk membuahi dan
mudah untuk disimpan dan mampu menjamin kehidupan spermatozoa yang mana
untuk memudahkan dalam proses pengamatan nantinya.

Fungsi dari bahan pelicin ini adalah sebagai bahan yang dioleskan kedalam vagina
buatan yang bertujuan untuk dapat membantu dan memudahkan saat proses
pengambilan semen berlangsung, memperbanyak volume, sebagai sumber nutrisi
bagi sperma dan bakteriustatik serta bakteriside,fungsi bahan pelican lainya
adalah untuk membersihkan atau menetralkan saluran kencing yang akan dilewati
oleh sperma yang bertujuan agar saluran tersebut benar – benar bersih dari
kotoran dan air mani agar spermatozoa dapat memiliki kualitas yang baik dan
tinggi dan yang paling penting adalah untuk mempermudah proses masuknya
penis kedalam vagina buatan.
Adapun metode penampungan semen adalah:

1.    Metode Pengurutan
      Penampungan semen dengan metode pengurutan atau masase mulai
      diperkenalkan oleh Case pada tahun 1925, diikuti oleh Miler dan Evans
      pada tahun 1934. Teknik yang dilakukan adalah memasukan tangan 18-25
      cm kedalam rectum dan mengurut kelenjar-kelenjar vesicularis dan
      ampulae dari depan ke belakang. Penguturan selama dua menit akan
      menghasilkan semen.


      Indikasi pemakaian metode masase ini apabial sapi pejantan unggul tetapi
      impoten, tidak mau atau tidak sanggup berkopulsai secara alam atau tidak
      dapat melayani vagina buatan. Akan tetapi semen yang diperoleh dengan
      metode ini mempunyai kualitas rendah karena cenderung untuk
      berkontaminasi dengan urine dan jasad-jasad renik pada preputium,
      mempunyai sekresi kelenjar-kelenjar vesicularis dalam perbandingan yang
      lebih tinggi, atau memilki ketidakseimbangan komponen-komponennya
      dengan semen yang diejakulasikan.

      Cara massage pada ternak unggas dimulai dengan mengurut disertai
      sedikit penekanan mulai dari bagian leher menuju ke ekor. Proses
      pengurutan tersebut dilakukan berulang-ulang, sehingga ayam tampak
      terangsang. Setelah tangan kolektor mencapai ekor, maka bagian kloaka
      ibu jari dan jari telunjuk kolektor menekan kloaka sehingga papillae
      keluar. Setelah papillae menonjol maka dilakukan penekanan hingga
      semen terpancar.

2.    Metode Elektroejakulasi
      Percobaan pertama untuk menimbulkan ejakulasi melalui rangsangan
      listrik pada ternak dilakukan oleh Gunn dari Australia pada domba pada
     tahun 1936. Teknik ini kemudian dimodifikasi dan diterapkan pada sapi
     secara berhasil oleh banyak peneliti. asukkan Dziuk (1945) penggunaan
     suatu batang karet yang dimasukkan kedalam rectum. Batang karet
     tersebut berukuran panjang 60 cm dan berdiameter kurang lebih 4,5 cm
     antara satu dengan yang lainnya. Sesudah diberi pelicin, batang karet
     tersebut dimasukkan 30 – 40 cm ke dalam rectum dan dipegang pada
     pangkalnya diluar anus dan ditekankan pada dasarnya.


     Rambut-rambut preputium sebaiknya digunting dan daerah sekitarnya di
     cuci. Memancing atau merangsang pejantan atau pemeriksaan rectal
     terhadap kelenjar-kelenjar pelengkap sebelum elektroejakulasi sangat
     membantu penampungan suatu contoh semen yang baik. Semen dapat
     ditambah dengan suatu corong ke dalam tabung sperma. Setiap pejantan
     harus di perlakukan sebagai satu individu
     Dan harus di perhatikan sewaktu dialiri listrik. Kurang lebih 90% sapi-sapi
     pejantan akan berereksi, mengeluarkan penisnya dan mengejakulasikan
     sejumlah semen tertentu.


     Elektroejakulator merupakan suatu alat pembentu yang berharga di
     samping vagina buatan pada stasion-stasion insiminasi buatan dalam
     penampungan semen secara rutin pada sapi-sapi jantan yang bermutu
     tinggi tetap pincang, lumpuh, cedera, lamban, impoten atau tidak dapat
     menaiki pemancing.


3.   Metode Vagina Buatan
     Penggunaan vagina buatan adalah suatu metode yang dipakai secara umum
     dan meluas untuk penampungan semen pejantan sapi perah atau sapi
     potong pada pusat-pusat insiminasi buatan. Vagina buatan dapat mengatasi
     kerugian-kerugian yang diperoleh dengan pengurutan dan
     elektroejakulator atau koleksi semen secara langsung dari dalam vagina
     hewan betina. Vagina buatan mudah dibuat dan sederhana untuk dipakai.
       Dengan menggunakan vagina buatan dapat diperoleh semen yang bersih,
       maksimal dan spontan keluar.


       Untuk mengatasi pengaruh jelek sinar matahari dan hawa dingin terhadap
       semen, peneliti-peneliti dari Cornell membuat vagina buatan dengan
       penampungan semen didalam slongsongan karet sehingga terlindung dari
       suhu dingin. Bentuk vagina buatan ini secara umum hamper sama dengan
       bentuk-bentuk terdahulu, kecuali corong karet yang di tempatkan hamper
       di sepanjang vagina buatan bagian dalam dengan penempatan gelas semen
       di bagian ujung corong karet tersebut. Data yang dikumpulkan oleh
       peneliti-peneliti ini menyatakan bahwa bentuk vagina buatan ini
       mempertahankan motilitas spermatozoa sapi lebih baik pada waktu
       pengumpulan semen di musim dingin (Toelihere 1977).

Mengingat ternak jantan yang akan dijadikan sumber semen harus memiliki kondisi badan
yang sehat dan nafsu seksual yang baik, maka sebaiknya kita mengutamakan metode
penampungan semen menggunakan vagina tiruan pada ternak mamalia (sapi, kerbau, kuda,
domba, dan kambing). Sedangkan pada ternak unggas (ayam dan kalkun) pelaksanaannya
akan lebih mudah menggunakan metode pengurutan.
                                 DAFTAR PUSTAKA



http://mandala-manik.blogspot.com/2009/04/bab-ii.html

http://jokosawitono.blogspot.com/2010/03/kali-ini-saya-mau-berbagi-sedikit-ilmu.html

http://iskandarm.wordpress.com/tag/sapi/

http://fathiinkhoiriyah.wordpress.com/2009/03/01/produksi-semen-beku/

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:4847
posted:12/11/2010
language:Indonesian
pages:8