Docstoc

pendugaan bobot sapi

Document Sample
pendugaan bobot sapi Powered By Docstoc
					                             I.     PENDAHULUAN



1.1 Latar Belakang


Pendugaan umur dan berat badan seekor ternak menjadi sangat penting untuk
diketahui, khususnya bagi peternak bahkan mutlak. Keterampilan tersebut juga
seharusnya dimiliki oleh pengajar, dosen, dan tenaga-tenaga ahli lapangan
sehingga tidak terjadi kecurangan-kecurangan yang merugikan sebelah pihak.


Untuk mengatasi kendala yang dihadapi jika alat ukur untuk menimbang ternak
yang berkapasitas besar tidak tersedia, dapat dilakukan penaksiran bobot ternak
tersebut menggunakan dimensi tubuhnya, misalnya melalui lingkar dada karena
lingkar dada seekor ternak memiliki korelasi yang sangat kuat dengan bobot hidup
ternak tersebut..Manggung et al. (1981) dalam penelitianya dengan menggunakan
170 ekor sapi PO mengemukakan bahwa penaksiran bobot hidup sapi PO jantan
secara sederhana dan cukup baikadalah berdasarkan lingkar dada melalui rumus
BH = -675,47 + 5,862 LID. Putra (2001) menyatakan bahwa rumus BH =
0,000368 LID x PB 0,75 dapat diandalkan untuk menaksir bobot sapi jatan. Untuk
menentukan bobot tersebut dapat digunakan pita Dalton yang digunakan untuk
mengukur bobot sapi dan babi berdasarkan lingkar dada.


I. 2 Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum ini adalah:
1. Mahasiswa mengetahui cara pendugaan bobot tubuh ternak
2. Mahasiswa mengetahui bobot tubuh berdasarkan lingkar dada dengan
peresamaan regresi
                            II.     TINJAUAN PUSTAKA



Banyak cara yang bisa dilakukan dalam pendugaan umur ternak. Pertama,
wawancara dengan pemilik ternak. Cara tersebut sangat mudah dan relatif cepat,
tetapi umumnya tidak dapat dijawab sebab biasanya tidak dipelihara sejak lahir.
Kedua, mengamati catatan (recording). Pada pola pemeliharaan tradisional cara
ini sulit diperoleh, karena pemeliharaan komersial dengan tujuan pemeliharaan
yang baik juga tidak menutup kemungkinan menemui kegagalan sebab tidak
lengkapnya recording yang dimiliki. Ketiga, mengamati perkembangan bulu (pada
unggas). Keempat, mengamati lepasnya tali pusar. Kelima, mengamati munculnya
cincin tanduk (pada sapi betina yang sudah beranak). Keenam, mengamati
pertumbuhan gigi. Keterampilan tersebut berlaku juga ketika akan menentukan
pola pemeliharaan dipeternakan kita. Akankah diusahakan untuk breeding
(pembibitan) atau fattening (penggemukan).
Penentuan Umur Domba

               Kondisi Gigi Seri                    Perkiraan Umur
          Gigi seri susu sudah lengkap                   1 tahun
    2 gigi seri susu sudah berganti gigi tetap          1-2 tahun
    4 gigi seri susu sudah berganti gigi tetap          2-3 tahun
    6 gigi seri susu sudah berganti gigi tetap          3-4 tahun
    8 gigi seri susu sudah berganti gigi tetap          4-5 tahun
  Gigi seri tetap sudah mulai aus dan tanggal      Lebih dari 5 tahun



Ikhtisar Penentuan Umur Sapi
Waktu dilahirkan : enam atau semua gigi seri sudah timbul, sebagian besar masih
tertutup oleh gusi, terdapat sisi gerlach, gigi satu dan lainnya menutup seperti
genting, tali pusar basah, bantalan telapat fostal masih melekat, kuku (tracak)
belum memperlihatkan tanda-tanda pergeseran.
   4-5 hari : warna kebiruan dari gusi dan sisi. Gerlach sudah hilang, gigi dalam
    tengah timbul gigi ujung letaknya miring, bantalan telapak sudah lepas. Pada
    teracak kelihatan tanda pergeseran. Cincin teracak yang pertama kelihatan.
    Tali pusar jadi kering, pembentukan tanduk belum kelihatan.
   12-14 hari : semua gigi seri susu berada lengkap dan juga letaknya miring
    tidak lagi kelihatan. Tetapi beberapa gigi masih kelihatan bertumpuk seperti
    genting, gusi pada gigi dalam sudah mengerat, cincin tracak pertama hilang
    ditempat dimana tanduk akan tumbuh terdapat penebalan kulit ari yang terasa
    lembek.
   17 hari : gusi pada gigi dalam tengah sudah mengerut, tali pusar menjadi
    kering.
   21 hari : gusi pada gigi luar dalam sudah mengerut, tali pusar sudah putus,
    pada bekas luka pusar terdapat keropeng kulit.
   26 hari : pada seluruh gigi seri susu gusinya menyingsing dan kelihatan sisi
    tetap.
   1 bulan :.gigi susu seri tidak lagi bertumpuk, cincin kuku kedua kelihatan,
    lapisan kulit ari pada tempat dimana tanduk akan tumbuh menjadi keras.
   5 minggu : keropeng tali pusar terlepas, sedikit adanya inti tanduk
   2 bulan : pada gigi luar dalam terdapat tanda pergeseran, inti tanduk kelihatan
    terang dan masih dapat digerakkan.
   3 bulan : pada gigi luar dalam terdapat tanda pergeseran, inti tanduk tetap.
   10-12 bulan : gada gigi dalam bidang terasah meliputi seluruh bidang lidah.
    Bagian mahkota menjadi kecil, gigi tidak lagi bersentuhan satu sama lain.
    Tanduk pertama terbentuk dan terlepas.
   15 bulan : bidang terasah dari gigi tengah meliputi seluruh bidang lidah.
   1,5 tahun : gigi seri susu dalam tanggal.
   1 tahun 9 bulan : gigi lebar 2 buah tumbuh sempurna.
   2 tahun 3 bulan : tanggalnya gigi susu dalam tengah.
   2,5 tahun : gigi lebar 4 buah tumbuh sempurna.
   3 tahun : gigi lebar 6 buah tumbuh sempurna, 1 cincin tanduk terdapat
    dipangkal.
   3,5 tahun : tanggalnya gigi susu ujung.
      4 tahun : pergantian gigi selesai, gigi ujung belum terasah, terdapat 2 cincin
       tanduk.
      6 tahun : gigi ujung memperlihatkan tanda pergeseran, bidang terasah pada
       gigi dalam berurutan kegigi tengah luar bertambah lebar, 3 cincin tanduk.
      7-8 tahun : bidang terasah pada gigi dalam tengah dan gigi tengah luar
       meliputi separuh dari bidang lidah, jumlah cincin tanduk 5-6 buah. Lebar gigi
       mulai terang.
      10 tahun : bidang pergeseran berbentuk segi empat, kecuali pada gigi ujung,
       bintang gigi persegi empat pada gigi dalam dan gigi tengah bidang pergeseran
       mulai melekuk, jumlah cincin tanduk 8 buah.


   Penaksiran Bobot Badan

   Jumlah zat makanan yang dibutuhkan untuk hidup pokok sapi didasarkan pada
   bobot badan. Bobot badan sapi maupun ternak lainnya akan dapat diketahui
   dengan tepat, apabila sapi itu ditimbang dengan menggunakan timbangan sapi.
   Namun, harganya cukup mahal sehingga besar kemungkinan tidak terdapat
   dipeternak. Oleh karena itu, diperlukan alat pengukur selain timbangan tersebut,
   meskipun hasilnya tidak setepat timbangan sapi. Alat yang biasa digunakan
   adalah tongkat ukur dan pita ukur. Keduanya untuk mengukur lingkar dada sapi.
   Hasil pengukuran dituangkan dalam persamaan regresi. Lingkar dada memiliki
   hubungan erat dengan bobot badan.


      Sapi jantan
   B = 101,1 - 2,493 L + 0,02317 L2
      Sapi betina
   B = 601,8 - 9,033 L + 0,04546 L2
   Ket :


L = lingkar dada (cm)
Pengukuran lingkar dada dilakukan dengan mengatur terlebih dahulu posisi
berdiri sapi dengan tegak, sehinnga keempat kakinya terletak dalam segi empat
diatas bidang datar. (http://duniaternaks.blogspot.com/2010/08/pendugaan-umur-
berat-badan-sapi-dan.html)

Penafsiran berat badan sangat penting dilakukan oleh para pemilik ternak untuk
mengetahui bobot tubuh ternak. Cara ini merupakan cara lain untuk mengetahui
berat badan ternak selain penimbangan berat badan. Apabila setiap kali harus
selalu dilakukan penimbangan, hal ini dirasa kurang praktis di samping timbangan
itu jumlahnya terbatas.

Rumus penentuan berat badan sapi berdasar ukuran tubuh bertolak dari anggapan
bahwa tubuh ternak sapi berupa tong. Oleh karena itu, ukuran tubuh yang
digunakan untuk menduga bobot tubuh biasanya adalah panjang badan dan
lingkar dada. Rumus yang telah dikenal adalah rumus Schoorl yang
mengemukakan pendugaan bobot ternak sapi berdasarkan lingkar dada sebagai
berikut :

        Bobot badan (kg) = (lingkar dada (cm) + 22)2

                                       100

Rumus lain diturunkan oleh Scheiffer yang telah menggunakan lingkar dada dan
panjang badan dalam pendugaannya. Rumus itu sebagai berikut :

Bobot badan (lbs) = Lingkar dada (inchi)2 x Panjang badan (inchi)

                                       300

Selain itu penafsiran berat badan dapat pula dilakukan dengan pengamatan visual
yaitu memperkirakan berat badan ternak yang diamati. Cara lain yang dapat
dilakukan adalah dengan menggunakan DWT (Daily Cow Weighting Tape) yaitu
dengan melingkarkan DWT pada sternum 3-4 dan angka yang ditunjuk pada pita
ukur itu menunjukkan berat badan ternak. Cara penafsiran yang merupakan cara
untuk mengetahui berat badan ternak adalah penimbangan. Penimbangan
dilakukan dengan menggunakan timbangan ternak / neraca. Besar atau kecil,
stationer atau portabel, timbangan merupakan bagian yang sangat diperlukan
dalam tehnik-tehnik pengukuran, (Blakely and Bade, 1998).

Metode visual adalah suatu metode yang digunakan untuk menafsir berat badan
dengan melihat, mengamati keadaan sapi dengan baik, kemudian kita menafsir
berat sapi tersebut. Metode ini perlu kejelian dan latihan yang banyak supaya
taksirannya hampIr mendekati benar. Dan juga metode ini banyak dipakai oleh
para pedagang hewan (Buffran,1986). (http://wikipedia.com/pendugaan-berat-
badan-sapi.html)

Ukuran-Ukuran Untuk Hewan Ternak

I. Ukuran-Ukuran Tinggi

   1. Tinggi pundak, Yaitu jarak titik tertinggi pundak sampai ketanah

   2. Tinggi punggung, Yaitu jarak dari tajuk ruas punggung terkhir sampai tanah
       atau garis tegak lurus di belakang rusuk terakhir.

   3. Tinggi kelakang, Yaitu jarak titik tertinggi kelakang sampai ke tanah, titik
       ini terletak sedikit kebelakang permulaan tulang kelakang dan agak jauh di
       belakng garis yang menghubungkan sudut tulang pangkal paha.

   4. Tinggi pangkal ekor, Yaitu jarak dari titik di mana ekor meninggalkan
       badan sampai ke tanah.

II. Ukuran-Ukuran Panjang

   1. Panjang badan, Jarak lurus dari garis tegak lurus diadakan teoritis dari
       sikum (boeng) sampai benjol;an tulang tapis.

   2. Panjang kelakang, Jarak antara muka pangkal paha sampai benjolan tulang
       tapis
III. Ukuran-Ukuran Lebar

   1. Lebar dada

          Lebar dada muka ialah jarak antara kedua benjolan siku luar.
          Lebar dada rusuk ialah jarak antara rusuk kiri-kanan diukur di
           belakang tulang belikat.

   2. Lebar pangkal paha, jarak antara sisi luar sudut pangkal paha.

   3. Lebar tulang tapis, jarak antara sisi luar benjolan tulang tapis.

IV. Ukuran-Ukuran Dalam

   1. Dalam dada, jarak antara titik tertingi pundak dan tulang dada, diukur di
       belakang siku.

V. Ukuran-Ukuran Lingkar

   1. Lingkar dada, diukur melingkar dada dibelakang siku.

   2. Lingkar pipa, yakni diukur dengan pita ukur di tengah-tengah tulang pipa
       dari kaki kiri.

VI. Ukuran-Ukuran Kepala

   1. Panjang kepala, jarak dari puncak kepala sampai ke daging gigi seri.

   2. Lebar dahi




(http://dodee88.wordpress.com/2009/01/03/58/)
                         III. BAHAN DAN METODE




3.1 Alat dan Bahan

Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah pita ukur, kertas, kalkulator, dan
alat-alat tulis. Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah kambing
boerawa dan sapi PO.




3.2 Cara Kerja




    Pendugaan Bobot Badan kambing dan sapi

    Melakukan pengukuran panjang badan dan lingkar dada, tinggi pundak
       dengan menggunakan pita ukur pada setiap kambing dan sapi
    Menghitung bobot badan kambing dugaan dengan menggunakan rumus-
       rumus dugaan.
    Melakukan pengukuran panjang badan dan lingkar dada, tinggi pundak
       dengan menggunakan pita ukur pada setiap sapi dan kambing
                         IV. HASIL DAN PEMBAHASAN




IV. 1 Hasil pengamatan

Data hasil pengukuran bobot tubuh dan lingkar dada


    No       Lingkar Dada Bobot tubuh

   Sapi          (cm)         (kg)         Kuadrat Hasil

                 (X)          (Y)           X2       Y2        XY

    1                   150          240    22500    57600     36000

    2                   156          261    24336    68121     40716

    3                   140          175    19600    30625     24500

    4                   155          225    24025    50625     34875

    5                   154          276    23716    76176     42504

    6                   146          199    21316    39601     29054

    7               139.5       196.5 19460.25 38612.25 27411.75

    8                   127     167.5       16129 28056.25 21272.5

    9                                            0         0        0

    10                  140          190    19600    36100     26600

Jumlah ()         1307.5        1930 190682.25 425516.5 282933.3

 Rata-rata         130.75            193 19068.225 42551.65 28293.33
Koefisien regresi


b=


b=

b = 1.550480632

untuk mencari konstanta a

a=

a = 193 – (1.550480632 x 130.75)

a = -9.72534

untuk persamaan regresinya adalah ŷ = -9,69 + 1,55 LD

jadi, untuk perkiraan bobot badan dari lingkar dada adalah

Untuk sapi 9 tidak ada data.

sapi 1

           BB =

           BB =

           BB =

           BB = 295,84

           persamaan regresi: ŷ = -9,69 + 1,55 LD

           ŷ = -9,69 + (1,55) (150)
           ŷ = -9,69 + 232.5
           ŷ = 222,81
sapi 2

         BB =

         BB =

         BB =

         BB = 316,84
         persamaan regresi: ŷ = -9,69 + 1,55 LD
         ŷ = -9,69 + (1,55) (156)
         ŷ = -9,69 +
         ŷ = 232,11

sapi 3

         BB =

         BB =

         BB =

         BB = 262,44
         persamaan regresi: ŷ = -9,69 + 1,55 LD
         ŷ = -9,69 + (1,55) (140)
         ŷ = -9,69 + 217
         ŷ = 207,31

sapi 4

         BB =

         BB =

         BB =

         BB = 313,29
         persamaan regresi: ŷ = -9,69 + 1,55 LD
         ŷ = -9,69 + (1,55) (15)
         ŷ = -9,69 + 240,25 = 230,56
sapi 5

         BB =

         BB =

         BB =

         BB = 309,76
         persamaan regresi: ŷ = -9,69 + 1,55 LD
         ŷ = -9,69 + (1,55) (154)
         ŷ = -9,69 +
         ŷ = 229,01

sapi 6

         BB =

         BB =

         BB =

         BB = 282,24
         persamaan regresi: ŷ = -9,69 + 1,55 LD
         ŷ = -9,69 + (1,55) (146)
         ŷ = -9,69 + 226,3
         ŷ = 216,61

sapi 7

         BB =

         BB =

         BB =

         BB = 260,82
         persamaan regresi: ŷ = -9,69 + 1,55 LD
         ŷ = -9,69 + (1,55) (139,5)
         ŷ = -9,69 + 216,23 = 206,5
sapi 8

             BB =

             BB =

             BB =

             BB = 222,01
             persamaan regresi: ŷ = -9,69 + 1,55 LD
             ŷ = -9,69 + (1,55) (127)
             ŷ = -9,69 + 196,85
             ŷ = 187,16



sapi 10

             BB =

             BB =

             BB =

             BB = 262,44

             persamaan regresi: ŷ = -9,69 + 1,55 LD

             ŷ = -9,69 + (1,55) (140)
             ŷ = -9,69 + 217
             ŷ = 207,31




VI. 2 Pembahasan




          Menurut Y. Bambang Sugeng (2004) pemilihan bibit berdasarkan
penilaian bentuk luar akan semakin sempurna atau meyankinkan bila dengan
dilanjutkan pengukuran bagian-bagian tertentu seperti panjang tubuh, lebar dan
dalam dada, lingkar dada, dan sebagainya.
         Tinggi gumba merupakan ukuran tinggi sapi. Cara pengukuran kita
lakukan dari bagian tertinggi gumba ke tanah mengikuti garis tegak lurus. Tinggi
punggung atau kemudi diukur dari bagian punggung atau kemudi yang tertinggi
ke tanah mengikuti garis tegak lurus.Lebar dada adalah jarak antara sendi bahu
kiri dengan bahu kanan. Cara pengukuran kita lakukan dengan menarik garis
horizontal antara tepi luar sendi bahu kanan dan kiri atau antara rusuk kiri dan
kanan yang diukur di belakang tulang belikat.
         Lebar kemudi adalah jarak antara tepi sendi paha kiri dan kanan. Cara
pengukuran kita lakukan dengan menarik garis horizontal dari tepi luar sendi paha
kiri dan kanan. Ukuran ini merupakan besarnya tubuh sapi yang bersangkutan
untuk diukur melalu lingkar dada. Cara pengukuran kita lakukan dengan
menggunakan pita ukur atau raffia mengikuti lingkar dada atau tubuh di belakang
bahu melewati gumba. Dan, pada sapi berpunuk, pengukurannya tepat di belakang
punuk.
         Panjang badan merupakan jarak antara tepi depan sendi bahu dan tepi
belakang tulang tapis. Cara pengukuran kita lakukan dengan menarik garis
horizontal dari tepi depan sendi bahu sampai ke tepi belakang tulang tapis.
Panjang tungging merupakan jarak antara muka pangkal paha sampai tepi
belakang tulang tapis. Cara pengukuran kita lakukan dengan menarik garis
horizontal dari tepi luar pangkal paha sampai tepi belakang tulang tapis.
         Sedangkan Undang Santosa (2001) menyatakan bahwa pengukuran ukuran
tubuh ternak sapi dapat dipergunakan untuk menduga bobot badan seekor ternak
sapi dan sering kali dipakai juga sebagai parameter teknis penentuan sapi bibit
berbagai rumus penentuan bobot badan berdasarkan ukuran-ukuran tubuh telah
banyak diketahui, bahkan berbagai penelitian telah mengoreksi rumus tersebut
disesuaikan dengan keadaan lingkungan, pengaruh genetis, dan waktu.
         Rumus penentuan bobot badan berdasarkan ukuran tubuh bertolak dari
anggapan bahwa tubuh ternak sapi itu berupa sebuah tong. Oleh karena itu,
ukuran tubuh yang digunakan untuk menduga bobot tubuh biasanya adalah
panjang badan dan lingkar dada.
       Rumus yang telah dikenal adalah rumus Schoorl yang mengemukakan
pendugaan bobot badan ternak sapi berdasarkan lingkar dada sebagai berikut.


       Bobot Badan (kg) =

       Rumus lain yang diturunkan adalah Winter yang telah menggunakan
lingkar dada dan panjang badan dalam pendugaannya. Rumus itu seperti berikut.


       Bobot badan (lbs) =


       Dari data praktikum dapat dilihat bahwa antara perhitungan regresi antara
bobot tubuh nyata terdapat perbedaan hasil bobot tubuh regresi. Hal ini terjadi
karena kesalahan pengukuran dalam melihat pita ukur, selain itu sapi yang
bergerak terus juga dapat mengurangi keakuratan dalam pengukuran pita.
Perhitungan rumus Schoorl dengan bobot tubuh nyata juga terdapat perbedaan.
Hal ini dikarenakan oleh sebab yang sama yaitu, kesalahan dalam pengukuran
atau terlalu banyak gerakan sapi sehingga ketidakakuratan bobot tubuh terjadi.
Namun, jika hal tersebut dikesampingkan, perbandingan antara perhitungan
regresi dengan perhitungan Schoorl dengan melihat bobot sebenarnya maka
perhitungan regresi lebih dapat diterima karena hasilnya lebih mendekati dengan
bobot tubuh nyata.
           Perhitungan regresi didapat persamaan ŷ = -9,69 + 1,55 LD, maka
dapat dihitung pendugaan bobot tubuh dengan persamaan regresi dan
dibandingkan dengan bobot tubuh nyata yang hasilnya tidak jauh berbeda apabila
dihitung. Sedangkan untuk memperkirakan bobot tubuh menggunakan rumus
Schoorll, nilai pendugaan terlalu penyimpang dari bobot tubuh. Sehingga
persamaan regresi lebih baik daripada menggunakan rumus School untuk
pendugaan bobot tubuh.
                            V. KESIMPULAN




Adapun kesimpulan dari pembuatan laporan ini adalah

1. Untuk menduga bobot tubuh dapat dilakukan dengan cara pengukuran
   panjang badan, tinggi pundak, dan lingkar dada
2. Berdasarkan persaman regresi (ŷ = -9,69 + 1,55 LD) diperoleh bobot
   badan pada masing-masing sapi sebagai berikut:
      sapi 1 dengan lingkar dada 150 cm maka diperoleh bobot tubuh
       sebesar 222,81 kg
      sapi 2 dengan lingkar dada 156 cm diperoleh bobot tubuh 232,11 kg
      sapi 3 dengan lingkar dada 140 cm diperoleh bobot tubuh 207,31kg
      sapi 4 dengan lingkar dada 155 cm diperoleh bobot tubuh 230,56kg
      sapi 5 dengan lingkar dada 154 cm diperoleh bobot tubuh 229,01kg
      sapi 6 dengan lingkar dada 146 cm diperoleh bobot tubuh 216,61kg
      sapi 7 dengan lingkar dada 139.5 cm diperoleh bobot tubuh 206,54kg
      sapi 8 dengan lingkar dada 127 cm diperoleh bobot tubuh 187,16 kg
      sapi 10 dengan lingkar dada 140 cm diperoleh bobot tubuh 207.31 kg
                             DAFTAR PUSTAKA



Santosa, Undang. 2001. Tata Laksana Pemeliharaan Ternak Sapi. Jakarta:
       Penebar Swadaya.

Sugeng, Y.Bambang. 2004. Sapi Potong. Jakarta: Penebar Swadaya.

http://blogs.unpad.ac.id/SaulandSinaga/?p=227

http://disertasibambang.blogspot.com/2008/10/bab-iii.html

http://duniaternaks.blogspot.com/2010/08/pendugaan-umur-berat-badan-sapi-
       dan.html
http://dodee88.wordpress.com/2009/01/03/58/

http://wikipedia.com/pendugaan-berat-badan-sapi.html
PENDUGAAN BOBOT TUBUH DENGAN LINGKAR DADA

  (Laporan Praktikum Manajemen Ternak Usaha Daging)




                   Oleh Kelompok 5:

          Asep Sukmawan            0714061029

          Aan Nurhasanah           0814061001

          Fikri Syahputra          0814061039

          Ibnu Abi Aufa            0814061042

          Irma                     0814061043




              JURUSAN PETERNAKAN

                 FAKULTAS PERTANIAN

             UNIVERSITAS LAMPUNG

                            2010

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:4328
posted:12/11/2010
language:Indonesian
pages:18