Docstoc

MAKALAH IMS

Document Sample
MAKALAH IMS Powered By Docstoc
					INFEKSI MENULAR SEKSUAL (IMS)




              Oleh:

           Kelompok 3

         1. Nichlatul Rohmah
                  2.
                         KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Alloh SWT. bahwa penulis telah
menyelesaikan tugas makalah PPS 2010 dengan membahas penyakit
IMS dalam bentuk makalah.

Dalam penyusunan tugas, tidak sedikit hambatan yang penulis hadapi.
Namun penulis menyadari bahwa kelancaran dalam penyusunan materi
ini tidak lain berkat bantuan, dorongan dan bimbingan orang tua,
sehingga kendala-kendala yang penulis hadapi teratasi. Oleh karena itu
penulis mengucapkan terima kasih kepada :

  1. Kakak Panitia PPS 2010 yang telah memberikan tugas, petunjuk,
     kepada penulis sehingga penulis termotivasi dan menyelesaikan
     tugas ini.
  2. Orang tua yang telah turut membantu, membimbing, dan
     mengatasi berbagai kesulitan sehingga tugas ini selesai.

Semoga materi ini dapat bermanfaat dan menjadi sumbangan pemikiran
bagi pihak yang membutuhkan, khususnya bagi penulis sehingga tujuan
yang diharapkan dapat tercapai, Amiin.
                             PENGESAHAN

MAKALAH KESEHATAN IMS ATAU INFEKSI MENULAR SEKSUAL

                                     Oleh

                                Kelompok 3



Diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan tugas dalam program
                            PPS 2010

                                 Semarang

                         Disetujui dan disahkan

                Pada tanggal.....................................
                                             DAFTAR ISI

Halaman Judul........................................................................................1

Kata Pengantar.......................................................................................2

Pengesahan............................................................................................3

Daftar Isi..................................................................................................4

BAB 1

Pendahuluan...........................................................................................5

                                       A. Latar Belakang.........................................6
                                       B. Rumusan Masalah....................................7
                                       C. Tujuan.......................................................8
                                       D. Manfaat.....................................................9

BAB 2

Pembahasan........................................................................................10

                                       A. Kajian Teori............................................10
                                       B. Analisis...................................................12

BAB 3

Penutup................................................................................................15

Kesimpulan...........................................................................................17

Implikasi................................................................................................18

Saran....................................................................................................19

Daftar Pustaka......................................................................................20
                               BAB I

                         PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Penyakit menular seksual adalah penyakit yang menyerang manusia
dan binatang melalui transmisi hubungan seksual, seks oral dan seks
anal. Kata penyakit menular seksual semakin banyak digunakan,
karena memiliki cakupan pada arti' orang yang mungkin terinfeksi,
dan mungkin mengeinfeksi orang lain dengan tanda-tanda
kemunculan penyakit. Penyakit menular seksual juga dapat ditularkan
melalui jarum suntik dan juga kelahiran dan menyusui. Infeksi
penyakit menular seksual telah diketahui selama ratusan tahun.

Menurut tahun 1999 WHO memperkirakan, 340 juta kasus baru PMS
dapat disembuhkan (sifilis, gonore, klamidia dan trikomoniasis) terjadi
setiap tahun di seluruh dunia pada orang dewasa berusia 15-49
tahun. (Ini adalah data yang tersedia yang terbaru. Baru perkiraan
sampai dengan tahun 2005 sedang dalam pengembangan untuk
publikasi            menjelang                akhir             2007.)

Di negara-negara berkembang, IMS dan komplikasi mereka di
peringkat lima teratas kategori penyakit yang dewasa mencari
perawatan kesehatan. Infeksi dengan IMS dapat menyebabkan
gejala akut, infeksi kronis dan konsekuensi tertunda serius seperti
infertilitas, kehamilan ektopik, kanker leher rahim dan kematian
mendadak bayi dan orang dewasa.

Di Indonesia, infeksi menular seksual yang paling banyak ditemukan
adalah syphilis dan gonorrhea. Prevalensi infeksi menular seksual di
Indonesia sangat tinggi ditemukan di kota Bandung, yakni dengan
prevalensi infeksi gonorrhea sebanyak 37,4%, chlamydia 34,5%, dan
syphilis 25,2%; Di kota Surabaya prevalensi infeksi chlamydia 33,7%,
syphilis 28,8% dan gonorrhea 19,8%; Sedang di Jakarta prevalensi
infeksi gonorrhea 29,8%, syphilis 25,2% dan chlamydia 22,7%. Di
Medan, kejadian syphilis terus meningkat setiap tahun. Peningkatan
penyakit ini terbukti sejak tahun 2003 meningkat 15,4% sedangkan
pada tahun 2004 terus menunjukkan peningkatan menjadi 18,9%,
sementara pada tahun 2005 meningkat menjadi 22,1%. Setiap orang
bisa tertular penyakit menular seksual. Kecenderungan kian
meningkatnya penyebaran penyakit ini disebabkan perilaku seksual
yang bergonta-ganti pasangan, dan adanya hubungan seksual
pranikah dan diluar nikah yang cukup tinggi. Kebanyakan penderita
penyakit menular seksual adalah remaja usia 15-29 tahun, tetapi ada
juga bayi yang tertular karena tertular dari ibunya (Lestari, 2008).
Tingginya kasus penyakit infeksi menular seksual, khususnya pada
kelompok usia remaja, salah satu penyebabnya adalah akibat
pergaulan bebas. Sekarang ini di kalangan remaja pergaulan bebas
semakin meningkat terutama di kota-kota besar. Hasil penelitian di 12
kota besar di Indonesia termasuk Denpasar menunjukkan 10-31%
remaja yang belum menikah sudah melakukan hubungan seksual.
Pakar seks juga spesialis Obstetri dan Ginekologi dr. Boyke Dian
Nugraha di Jakarta mengungkapkan, dari tahun ke tahun data remaja
yang melakukan hubungan seks bebas semakin meningkat. Dari
sekitar 5% pada tahun 1980-an, menjadi 20% pada tahun 2000.
Kisaran angka tersebut didapat dari berbagai penelitian di beberapa
kota besar di Indonesia. Kelompok remaja yang masuk ke dalam
penelitian tersebut umumnya masih bersekolah di Sekolah Menengah
Atas (SMA) atau mahasiswa. Namun dalam beberapa kasus juga
terjadi pada anak-anak yang duduk di tingkat Sekolah Menengah
Pertama               (SMP)              (Rauf,               2008).
Pengetahuan tentang infeksi menular seksual dapat ditingkatkan
dengan pemberian pendidikan kesehatan reproduksi yang dimulai
pada usia remaja. Pendidikan kesehatan reproduksi di kalangan
remaja              bukan            hanya               memberikan
pengetahuan tentang organ reproduksi, tetapi juga mengenai bahaya
akibat pergaulan bebas, seperti penyakit menular seksual dan
kehamilan yang belum diharapkan atau kehamilan berisiko tinggi
(BKKBN, 2005). Oleh karena itu, penelitian ini perlu dilakukan untuk
mendapatkan bagaimana gambaran pengetahuan dan sikap remaja
terhadap infeksi menular seksual agar dapat diketahui apakah
diperlukan tambahan pendidikan kesehatan reproduksi bagi remaja
dalam upaya menghambat peningkatan insidens infeksi menular
seksual di kalangan remaja dewasa ini.



B. Rumusan Masalah
   Berdasarkan latar belakang tersebut diatas maka penulis
   merumuskan masalah “Apakah pencegahan yang tepat dan efektif
   untuk pasien yang tertular Infeksi Menular Seksual atau yang
   sering disebut dengan IMS?”
C. Tujuan
      1. Tujuan Umum
         Mengetahui bagaimana penularan dan peningkatan infeksi
         menular seksual atau IMS dan peningkatannya di Indonesia
      2. Tujuan Khusus
             Berikan informasi dan pendidikan kesehatan
              reproduksi untuk melindungi diri. Indonesia merupakan
              salah satu dari 178 negara yang telah menandatangani
              rencana aksi Konferensi Internasional Kependudukan
              dan Pembangunan (ICPD, tahun 1994). Rencana aksi
              ICPD mengisyaratkan bahwa “negara-negara di dunia
              di dorong untuk menyediakan informasi yang lengkap
              kepada remaja mengenai bagaimana mereka dapat
              melindungi diri dari kehamilan yang tidak diinginkan
              dan HIV/ AIDS”.
             Sebagian besar perilaku reproduksi yang tidak sehat
              pada remaja terjadi secara spontan (tidak
              direncanakan) dan berdasarkan informasi yang tidak
              tepat dan akurat. Maka cara terbaik saat ini adalah
              mempersiapkan remaja untuk mampu melindungi diri
              dari resiko reproduksi yang tidak sehat dengan
              memberikan informasi dan keterampilan tentang
              bagaimana mereka dapat mempraktekkan perilaku
              reproduksi yang sehat dan bertanggung-jawab.
             Kurikulum berbasis kompetensi saat ini merupakan
              peluang yang sangat penting guna mendorong
              pemberian informasi dan keterampilan untuk
              menerapkan perilaku reproduksi yang sehat di sekolah.
              Peluang ini harus dimanfaatkan dengan balk. Secara
              kreatif dapat dikembangkan model pemberian
              informasi dan keterampilan yang sesuai dengan
              kebutuhan dan karakter sekolah. Berbagai pihak dapat
              diajak bekerja sama untuk mengembangkan model
              pemberian informasi dan keterampilan tersebut.
              Kegiatan ini dapat dipadukan dengan berbagai
              kegiatan mata kuliah atau ekstrakulikuler baik di
              sekolah maupun di perkuliahan. Setiap kita dapat
              berperan.
             Kemitraan adalah kata kunci. Mari kita galang
              dukungan dan sumber daya yang dibutuhkan untuk
              melakukan aksi ini. Remaja harus dilindungi dari resiko
              reproduksi yang tidak sehat.
D. Manfaat
      STRATEGI GLOBAL UNTUK PENCEGAHAN DAN
        PENGENDALIAN IMS
      Memberikan informasi seputar infeksi menular seksual
        kepada masyarakat dalam berbagai umur.
      Sebagai informasi awal untuk pelaksanaan pendidikan
        seksual bagi masyarakat dalm berbagai kalangan dan umur
        khususnya bagi bagian penyakit kelamin dan kulit untuk
        dapat memberikan informasi yang jelas cara pencegahan
        dan penanggulangan IMS atau Infeksi Menular Seksual
        kepada masyarakat umum.
      Sebagai informasi kepada masyarakat tentang pentingnya
        menjaga kesehatan baik dalam maupun luar.
                                 BAB II

                             PEMBAHASAN

     A. Kajian Teori

IMS adalah infeksi yang sebagian besar menular lewat hubungan
seksual dengan pasangan yang sudah tertular. Hubungan seks ini
termasuk hubungan seks lewat liang senggama, lewat mulut (oral) atau
lewat dubur (anal).

IMS juga disebut penyakit kelamin atau penyakit kotor. Namun itu hanya
menunjuk pada penyakit yang ada di kelamin. Istilah Infeksi Menular
Seksual lebih luas maknanya, karena menunjuk pada cara
penularannya. Tanda-tandanya tidak selalu ada di alat kelamin. Tanda-
tandanya juga ada di alat penglihatan, mulut, saluran pencernaan,
hati,otak dan bagian tubuh lainnya.

Contohnya HIV/AIDS dan Hepatitis B yang menular lewat hubungan
seks, tetapi penyakitnya tidak bisa dilihat dari alat kelaminnya. Artinya,
alat kelaminnya masih tampak sehat meskipun orangnya membawa bibit
penyakit-penyakit ini.

IMS SINDROM DAN PENDEKATAN SYNDROMIC UNTUK
MANAJEMEN PASIEN

Meskipun berbagai patogen penyebab IMS, beberapa dari mereka
menimbulkan tumpang tindih serupa atau penampilan klinis, dikenal
sebagai tanda-tanda (apa yang individu atau penyedia layanan
kesehatan melihat pada pemeriksaan) dan gejala (apa pasien merasa,
seperti sakit atau iritasi) . Beberapa tanda-tanda dan gejala yang mudah
dikenali dan konsisten, memberikan apa yang dikenal sebagai sindrom
yang menandai adanya satu atau beberapa patogen. Sebagai contoh,
debit dari uretra pada pria dapat disebabkan oleh gonore saja, klamidia
sendirian atau keduanya bersama-sama.


Pendekatan syndromic adalah pendekatan ilmiah yang berasal dan
menawarkan perawatan diakses dan segera yang efektif. Pendekatan
syndromic menggunakan diagram alur untuk membimbing diagnosis dan
pengobatan yang lebih akurat dari diagnosa berdasarkan penilaian klinis
saja, bahkan di tangan berpengalaman, dan lebih hemat biaya untuk
beberapa sindrom dari penggunaan tes laboratorium. Namun,
kekhususan dari pendekatan ini untuk vagina rendah untuk gonore dan
klamidia dan memperlakukan semua perempuan dengan debit vagina
untuk infeksi rahim (seperti jika mereka memiliki penyebab menular
seksual untuk debit) telah menyebabkan tingkat yang tidak bisa diterima
atas-perawatan di beberapa pengaturan. Wanita dengan vagina yang
abnormal harus ditangani terutama untuk infeksi vagina, dan perawatan
untuk gonore dan klamidia hanya disertakan sesuai dengan prevalensi
atau resiko patogen ini. Organisme menyebabkan setiap sindrom
tertentu perlu ditentukan secara lokal dan diagram alur disesuaikan
sesuai.



Selain pemantauan, teratur setiap organisme menyebabkan sindrom
harus dilakukan secara berkala untuk memvalidasi rekomendasi
perawatan.



Bahaya IMS

     IMS membuat kita sakit-sakitan
     IMS membuat kita mandul
     IMS bisa merusak penglihatan, otak dan hati
     IMS bisa ditularkan pada bayi
     IMS bisa menyebabkan kita mudah tertular HIV
     IMS tertentu seperti HIV dan Hepatitis B, bisa menyebabkan
      kematian.



Jenis-jenis IMS

     Ada banyak jenis-jenis IMS dan berikut jenis-jenis IMS (penulis
      akan menambah daftar penyakit IMS satu persatu karena
      jumlahnya banyak), klik pada nama penyakitnya maka akan
      menuju halaman baru yang merunut pada penjelasan tentang
      penyakit tersebut



ms ada banyak sekali jenisnya. Beberapa diantaranya yang paling
penting adalah :

     GO atau kencing nanah
     Klamidia
     Herpes kelamin
     Sifilis atau raja singa
     Jengger ayam
     Hepatitis
     HIV/AIDS




Penyebab Bakteri

     Bacterial Vaginosis (BV) – not officially an STD but affected by
      sexual activity.
     Chancroid (Ulkus mole)
     Donovanosis (Granuloma inguinale or Calymmatobacterium
      granulomatis)
     Gonorrhea (GO atau kencing nanah).
     Klamidia
     Lymphogranuloma venereum (LGV) (Chlamydia trachomatis
      serotypes L1, L2, L3.)
     Non-gonococcal urethritis (NGU)
     Staphylococcal infection
     Syphilis, Sifilis, Raja Singa

Penyebab Virus

     Adenoviruses
     Cervical cancer, Kanker serviks
     Condiloma akuminata, Jengger ayam
     Hepatitis A
     Hepatitis B
     Hepatitis C
     Hepatitis E (transmisi via fecal-oral)
     Herpes simpleks – Herpes 1,2
     HIV/AIDS
     Human T-lymphotropic virus (HTLV)-1
     Human T-lymphotropic virus (HTLV)-2
     Human Papilloma Virus (HPV)
     Molluscum Contagiosum Virus (MCV)
     Mononucleosis – Cytomegalovirus CMV – Herpes 5
     Mononucleosis – Epstein-Barr virus EBV – Herpes 4
     Sarkoma kaposi, Kaposi’s sarcoma (KS) – Herpes 8

Penyebab Parasit

     Pubic lice, colloquially known as “crabs” (Phthirius pubis)
     Scabies (Sarcoptes scabiei)

Penyebab Protozoa

     Trichomoniasis

Infeksi-infeksi perut yang ditularkan melalui jalur seksual (anal-oral
contamination / fecal-oral)

     Penyebab      bakteri:    Shigella,   Campylobacteriosis,     dan
      Salmonellosis.
     Penyebab virus : Hepatitis A, Adenoviruses.
     Parasit : Giardia lamblia, Entamoeba histolytica,             dan
      Cryptosporidiosis, Kriptosporidiosis.

Infeksi-infeksi mulut yang (kemungkinan) bisa ditularkan melalui
jalur seksual
     Common colds, influenza, infeksi Staphylococcal,
      Escherichia_coli_O157:H7, Adenoviruses, Human Papillomavirus,
      Herpes Zoster, Hepatitis B and the yeast Candida albicans.




Gejala – gejala IMS

IMS seringkali tidak menampakkan gejala, terutama pada wanita.
Namun ada pula IMS yang menunjukkan gejala-gejala umum sebagai
berikut :

     Keluarnya cairan dari vagina, penis atau dubur yang berbeda dari
      biasanya,
     Rasa perih, nyeri atau panas saat kencing atau setelah kencing,
      atau menjadi sering kencing,
     Adanya luka terbuka, luka basah di sekitar kemaluan atau sekitar
      mulut (nyeri ataupun tidak),
     Tumbuh seperti jengger ayam atau kutil di sekitar alat kelamin,
     Gatal-gatal di sekitar alat kelamin,
     Terjadi pembengkakan kelenjar limfa yang terdapat pada lipatan
      paha,
     Pada pria, kantung pelir menjadi bengkak dan nyeri,
     Pada wanita, sakit perut bagian bawah yang kambuhan (tetapi
      tidak ada hubungannya dengan haid),
     Mengeluarkan darah setelah berhubungan seks, dan
     Secara umum merasa tidak enak badan atau demam.

IMS tidak dapat dicegah dengan :

     Meminum minuman beralkohol seperti bir dan lain-lain.
     Meminum antibiotik seperti supertetra, penisilin dan lain-lain,
      sebelum atau sesudah berhubungan seks, tidak ada satu obat pun
      yang ampuh untuk membunuh semua jenis kuman IMS secara
      bersamaan (kita tidak tahu jenis IMS mana yang masuk ke tubuh
      kita). Semakin sering meminum obat-obatan secara sembarangan
      malah akan semakin menyulitkan penyembuhan IMS karena
      kumannya menjadi kebal terhadap obat.
     Mendapatkan suntikan antibiotik secara teratur, pencegahan
      penyakit hanya dapat dilakukan oleh antibodi di dalam tubuh kita.
     Memilih pasangan seks berdasarkan penampilan luar (misalnya,
      yang berkulit putih bersih) atau berdasarkan usia (misalnya, yang
      masih muda), anak kecil pun dapat terkena dan mengidap bibit
      IMS, karena penyakit tidak membeda-bedakan usia dan tidak
      pandang bulu.
     Membersihkan/mencuci alat kelamin bagian luar (dengan cuka, air
      soda, alkohol, air jahe, dll) dan bagian dalam (dengan odol,
      betadine atau jamu) segera setelah berhubungan seks.

Penanganan IMS yang Benar

        3. Segera pergi ke dokter untuk diobati

     Jangan mengobati IMS sendiri tanpa mengetahui penyakit apa
      yang menyerang kita (jenis IMS sangat banyak dan ada
      kemungkinan terjadi komplikasi), dibutuhkan tes untuk
      memastikan IMS yang diderita.
     Jangan minum obat sembarangan. Obat IMS berbeda-beda,
      tergantung jenis IMS yang diderita
     Jangan pergi berobat ke dukun atau tukang obat. Hanya dokter
      yang tahu persis kebutuhan obat untuk IMS yang diderita.
      Penggunaan herbal bisa dilakukan (sebaiknya) jika ada yang
      mengawasi/penanggungjawab.

        4. Ikuti saran dokter

Jangan menghentikan minum obat yang diberikan dokter meskipun sakit
dan gejalanya sudah hilang. Jika tidak diobati dengan tuntas (obat
dikonsumsi sampai habis sesuai anjuran dokter) , maka kuman
penyebab IMS akan kebal terhadap obat-obatan.

        5. Jangan berhubungan seks selama dalam pengobatan IMS

Hal ini berisiko menularkan IMS yang diderita kepada pasangan seks
Anda.

        6. Jangan hanya berobat sendiri saja tanpa melibatkan
           pasangan seks (khususnya pasangan sah)

Pasangan seksual Anda juga harus diperiksa dan berobat ke dokter.
Jika tidak, IMS yang diderita akan ulang-alik dari kita ke pasangan kita,
kemudian dari pasangan kita ke kita dan seterusnya. Kedua belah pihak
harus disembuhkan agar tidak saling menulari kembali.
Pencegahan IMS

Pencegahan penyebarluasan IMS hanya dapat dilakukan dengan cara :

  1. Anda jauhi seks, tidak melakukan hubungan seks (abstinensi),
     atau
  2. Bersikap saling setia, tidak berganti-ganti pasangan seks
     (monogami) dan saling setia, atau
  3. Cegah dengan memakai kondom, tidak melakukan hubungan seks
     berisiko (harus selalu menggunakan kondom).
  4. Tidak saling meminjamkan pisau cukur dan gunting kuku.
  5. Edukasi, embuskan informasi mengenai HIV/AIDS dan IMS
     kepada kawan-kawan Anda.

     B. Analisis

       PMS DAN PENCEGAHAN KOMPLIKASI SERIUS PADA
       WANITA

       PMS merupakan penyebab utama infertilitas dicegah, terutama
       pada wanita. Antara 10% dan 40% wanita dengan infeksi
       klamidia yang tidak diobati mengembangkan gejala penyakit
       radang panggul. Pasca-infeksi kerusakan tuba bertanggung
       jawab untuk 30% sampai 40% kasus infertilitas perempuan.
       Selain itu, wanita yang pernah menderita penyakit radang
       panggul adalah 6 sampai 10 kali lebih mungkin untuk
       mengembangkan ektopik (tuba) kehamilan dibandingkan
       dengan mereka yang tidak, dan 40% sampai 50% dari
       kehamilan ektopik dapat dikaitkan dengan penyakit radang
       panggul sebelumnya. Infeksi dengan jenis tertentu dari human
       papillomavirus dapat mengarah pada perkembangan kanker
       kelamin, kanker serviks terutama pada wanita.


       PMS DAN HASIL YANG MERUGIKAN KEHAMILAN

       Infeksi menular seksual yang tidak diobati berhubungan dengan
       infeksi kongenital dan perinatal pada neonatus, terutama di
       daerah di mana tingkat infeksi tetap tinggi.
Pada wanita hamil dengan sifilis awal yang tidak diobati, 25%
dari kehamilan menyebabkan bayi lahir mati dan 14% kematian
neonatal - sebuah kematian perinatal secara keseluruhan
sekitar 40%. prevalensi Sifilis pada ibu hamil di Afrika,
misalnya, berkisar antara 4% sampai 15%. Sampai dengan
35% dari kehamilan di antara perempuan dengan hasil infeksi
gonokokal diobati di aborsi spontan dan kelahiran prematur,
dan sampai dengan 10% kematian perinatal. Dengan tidak
adanya profilaksis, 30% sampai 50% dari bayi yang lahir dari
ibu dengan gonore tidak diobati dan sampai 30% dari bayi yang
lahir dari ibu dengan infeksi klamidia yang tidak diobati akan
mengembangkan infeksi mata serius (Oftalmia neonatorum),
yang dapat menyebabkan kebutaan jika tidak diobati dini.
Diperkirakan, di seluruh dunia, antara 1000 dan 4000 bayi yang
baru lahir menjadi buta setiap tahun karena kondisi ini.

PMS DAN HIV

Hadirnya colitis atau non-ulseratif yang tidak diobati (mereka
IMS yang menyebabkan luka atau mereka yang tidak)
meningkatkan risiko infeksi kedua akuisisi dan transmisi HIV
dengan faktor hingga 10. Jadi, pengobatan prompt untuk IMS
adalah penting untuk mengurangi risiko infeksi HIV. Mengontrol
PMS sangat penting untuk mencegah HIV pada orang berisiko
tinggi, serta masyarakat umum.

PENCEGAHAN PMS

Cara yang paling efektif untuk menghindari terinfeksi atau
transmisi infeksi menular seksual adalah untuk menjauhkan diri
dari hubungan seksual (misalnya, oral, vagina, atau seks anal)
atau untuk melakukan hubungan seksual hanya dalam
hubungan jangka panjang yang saling monogami dengan yang
tidak terinfeksi mitra. Pria kondom lateks, jika digunakan secara
konsisten dan benar, sangat efektif dalam mengurangi
penularan HIV dan infeksi menular seksual lainnya, termasuk
gonore, infeksi klamidia dan trikomoniasis.

IMS TANPA GEJALA

Beberapa infeksi menular seksual sering terjadi tanpa gejala.
Sebagai contoh, sampai dengan 70% dari perempuan dan
proporsi yang signifikan dari laki-laki dengan gonokokal dan /
atau infeksi klamidia mungkin mengalami gejala sama sekali.
Kedua gejala dan infeksi tanpa gejala dapat menyebabkan
perkembangan komplikasi serius, seperti garis besar di atas.


UTAMA SINDROM PMS UMUM ADALAH:

Discharge uretra
Ulkus Genital
Inguinal Pembengkakan (bubo, yang merupakan
pembengkakan di pangkal paha)
Pembengkakan skrotum
Vaginal discharge
Lower sakit perut
Neonatal infeksi mata (conjunctivitis yang baru lahir)
Metode tradisional mendiagnosa PMS adalah dengan tes
laboratorium. Namun, seringkali tidak tersedia atau terlalu
mahal harganya. Sejak tahun 1990 WHO telah
merekomendasikan pendekatan syndromic untuk diagnosis dan
manajemen IMS pada pasien dengan tanda-tanda secara
konsisten menyajikan diakui dan gejala IMS tertentu.
                             BAB III

                           PENUTUP

     A. Kesimpulan
        Bahwa IMS adalah infeksi yang sebagian besar menular
        lewat hubungan seksual dengan pasangan yang sudah
        tertular. Hubungan seks ini termasuk hubungan seks lewat
        liang senggama, lewat mulut (oral) atau lewat dubur (anal).
        Pencegahan penyebarluasan IMS hanya dapat dilakukan
        dengan cara :

1. Anda jauhi seks, tidak melakukan hubungan seks (abstinensi),
   atau
2. Bersikap saling setia, tidak berganti-ganti pasangan seks
   (monogami) dan saling setia, atau
3. Cegah dengan memakai kondom, tidak melakukan hubungan seks
   berisiko (harus selalu menggunakan kondom).
4. Tidak saling meminjamkan pisau cukur dan gunting kuku.
5. Edukasi, embuskan informasi mengenai HIV/AIDS dan IMS
   kepada kawan-kawan Anda.

     B. Implikasi


     Pengendalian IMS tetap menjadi prioritas untuk WHO. Majelis
     Kesehatan Dunia mengesahkan strategi global untuk
     pencegahan dan pengendalian IMS pada Mei 2006. Strategi ini
     mendesak semua negara untuk mengontrol transmisi PMS
     dengan menerapkan sejumlah intervensi, termasuk yang
     berikut:

     Pencegahan dengan mempromosikan perilaku seksual yang
     lebih aman;
     Umum akses ke kondom berkualitas dengan harga terjangkau;
     Promosi jalan dini untuk pelayanan kesehatan oleh orang-orang
     yang menderita IMS dan oleh mitra mereka;
     Inklusi pengobatan IMS dalam pelayanan kesehatan dasar;
     Layanan khusus untuk populasi dengan sering atau perilaku
     seksual yang tidak direncanakan berisiko tinggi - seperti pekerja
seks, remaja, jarak jauh truk-drivers, personil militer, pengguna
substansi dan tahanan;
Pengobatan IMS yang benar, yaitu penggunaan obat yang
benar dan efektif, pengobatan mitra seksual, pendidikan dan
nasihat;
Penapisan klinis pasien asimtomatik, mana layak; (misalnya
sifilis, klamidia);
Penyisihan konseling dan tes sukarela untuk infeksi HIV;
Pencegahan dan perawatan sifilis kongenital dan neonatal
conjunctivitis; dan
Keterlibatan semua pihak terkait, termasuk sektor swasta dan
masyarakat dalam pencegahan dan perawatan IMS.

C.   Saran
        Perlunya        pemerintah    untuk      meningkatkan
          kesejahteraan      kesehatan   masyarakat     melalui
          penyuluhan dari tiap desa ke kota agar masyarakat
          tidak buta akan penyakit IMS atau yang sering dikenal
          dengan Infeksi Menular Seksual karena kurangnya
          penyuluhan terhadap masyarakat
        memberikan informasi kepada mayarakat dari berbagai
          kalangan,golongan dan umur tentang penanggulangan
          dan pencegahan Penyakit Infeksi Menular Seksual
          untuk kemajuan kesehatan di Indonesia
        memperbanyak tenaga kerja ahli dalam bidang
          penyakit kulit dan kelamin
        memberikan informasi yang jelas tentang pengobatan
          Penyakit Infeksi Menular Seksual bagi masyarakat dari
          berbagai kalangan,golongan dan umur.
                          DAFTAR PUSTAKA

www.google.co.id

http://www.pppl.depkes.go.id/catalogcdc/kamus.asp.htm
http://www.penyakitmenular.info/search_info.asp.

http://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20081114013911AAY0
e84

http://dutasekolah.org/site3/?p=5

http://www.infeksi.com/articles.php?lng=in&pg=4826

http://id.wikipedia.org/wiki/Penyakit_menular_seksual

http://www.google.co.id/#hl=id&biw=1503&bih=601&q=infeksi+menular+
seksual+di+indonesia&aq=1&aqi=g4&aql=&oq=infeksi+menular+seksual
+&gs_rfai=&fp=b40a4039d7ed5af4

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:8253
posted:12/10/2010
language:Indonesian
pages:20