Documents
Resources
Learning Center
Upload
Plans & pricing Sign in
Sign Out

Karakteristik Pestisida

VIEWS: 8,440 PAGES: 15

									                                KARAKTERISTIK PESTISIDA


A.    Karakteristik Pestisida
         Kata pestisida digunakan sebagai istilah umum bagi setiap bahan atau campuran
bahan yang dimaksudkan untuk memberantas adanya tanaman, hewan, serangga dan
sebagainya. Dan berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 3 tahun 1973 yang
dimaksudkan dengan pestisida adalah semua zat kimia dan bahan lain serta jasad renik
dan virus yang dipergunakan untuk yang berikut :
* Memberantas atau mencegah hama-hama dan penyakit-penyakit yang merusak
     tanaman, bagian-bagian tanaman atau hasil-hasil pertanian;
* Memberantas rerumputan;
* Mematikan daun dan mencegah hama-hama luar pada hewan-hewan piaraan dan
     ternak;
* Memberantas atau mencegah hama-hama air;
* Memberantas atau mencegah binatang-binatang dan jasad-jasad renik dalam
     rumah tangga, bangunan dan dalam alat-alat pengangkutan;
* Memberantas atau mencegah binatang-binatang yang dapat menyebabkan penyakit
     pada manusia atau binatang yang perlu dilindungi dengan penggunaan pada
     tanaman, tanah atau air.
        Pestisida dirancang sedapat mungkin hanya untuk memberantas spesies
sasarannya yaitu hama, nama-nama umum yang menunjukkan tipe pestisida, misalnya :
Akarisida untuk laba-laba dan kutu, Fungsida untuk fungi, Herbisida untuk rumput liar,
Insektisida untuk serangga, Larvisida untuk larva serangga atau organisme lain, Mitisida
untuk tungau, Molusisida untuk cacing atau Rodentisida untuk tikus, mencit atau
binatang-binatang pengerat lainnya. Cara kerja pestisida pada spesies sasaran dapat
berbagai cara, misalnya membunuh hama dengan menembus lapisan luar adalah racun
kontak, atau membunuh hama dengan ke lambung adalah racun lambung atau fumigan
yakni membunuh hama yang terbang di udara. Sementara untuk pestisida sistemik,
bahan-bahannya dapat diserap dan diangkut dengan cepat dalam jaringan tanaman
tanpa mempengaruhi tanaman itu, dapat menyerang hama pemakan tanaman.
B.    Pengelompokan Pestisida
        Pestisida dapat dikelompokkan sesuai dengan persamaan dalam rumus dasar
struktur molekulnya. Misalnya, semua pestisida yang termasuk dalam kelompok
Triazin(misalnya Atrazin,Ametrin, Simazin, Siromazin)mempunyai gugus Triazin (Triazin
ring) dalam persenyawaannya. Demikian pula, semua senyawa kimia dari golongan
Urea(misalnya Diuron, Metabromuron, Lufenuron, Diafentiuron) mempunyai gugus Urea
dalam struktur molekulnya. Senyawa kimia yang tergabung dalam kelompok yang sama
umumnya mempunyai kemiripan dalam sifat-sifat kimanya, meskipun sifat-sifat
khususnya, misalnya efek biologisnya dapat sangat berbeda.
Tabel
1.    Kelompok kimia fungisida
Kelompok                         Contoh
A. Non sistemik
     1. Senyawa anorganik        Senyawa belerang, senyawa tembaga
     2. Senyawa                  Fetin hidroksida
        organometalik            Maneb, mankozeb, probined, zined,ziram.
     3. Ditiokarbamat            Captan,folfet,kaptafol,ditalimfos
     4. Ftalimid                 Iprodion,prosinidon,vinklozolin.
     5. Dikarboksimid            Ditianon,dodin,diklofuanid,etridiazol,klorotalonil,thiram
     6. Lain-lain                .
B. Antibiotika                   Blastisidin,kasugamisin,polioksin B,validamisin,
C. Fungisida sistemik
     1. Organoposfat             Edinfenfos,kitazim,pirazofos,
     2. Benzimidazol             Benonil,karbendazim,tiofonat metil
     3. Karboksanilid            Karbiksin,pirakarbolit
     4. Fenilamida               Benalaksil,furalaksil,metalaksil,aksadisil,siprofuram
     5. Fosfit                   Alumunium fosetil
     6. Sterol inhibitor
        a. Triazol               Ditertanol,difenolkonazol,dinikonazol,heksakonazol,pen
                                 konazol,propikonazol,triadimenol,triadinefon
        b. Imidazol              Imazilil,prokloraz,
        c. Piridin               Pirefenox
        d. Pirimidin             Fenarimol,piperazin
      e. Morfolin              Fenpropimorf,tridemorf
   7. Lain-lain                Bupirimat,dimetomorf,etirimol,flutalonil,himexazol,isop
                               rofilan,kloroneb,pirokwilon,propamokarb,


2. Kelompok kimia fungisida dan akarisida
Kelompok                       contoh
1. Tiosianat,dinitrofenol      DNOC,dinitrofenol,dinocab,tiosianat etil,tiosianat metil
   dan fluoro setat            DBCP,fostoksin,kloropikrin,metilbromida
2. Insektisida anorganik dan   Nikotin,piretrum,rotenon,ryania,sabadilah
   fumigan
3. Insektisida botanis
4. Hidrokarbon berklor :
   a. DDT dan analog           BHC,DDT,dikofol,klorobenzilat,metoksiklor,TDE
   b. Siklodiens               Aldrin,dieldrin,endrin,endosulfan,heptaklor,klordan
   c. Terpenabeklor            Toksafen
5. Organofospat (OP) :
   a. Derifat alifatik         Asefat,forat,dimetoat,dikrotovos,malation,metanidofos
   b. Heterosiklik             Asinfosmetil,fention,klorpiripos,metidation
   c. Derifat fenil            Etil paration,fention,isofenfos,metilfaradion,profenofos
6. Karbamat
   a. Metil karbamat           Karbaril,
   b. Fenil karbamat           Metiokarb,propoksur
   c. Karbamat pirazol         Dimetilan,isolan,tyrolan
   d. Metil heterosiklik       Bendiokarb,karbofuran
   e. Oksin                    Aldikarb,metolil
7. Piretroid
   a. Light sensitive          Aletrin,tetrameti,resmetrin,
   b. Photostable              Sipermetrin,deltametrin,sihalotrin,difentrin,fenfalerat,t
                               au-flufalinat
8. Mikroorganisme
9. Kelompok urea               Bacillus thuringiensis (bakteria),beavuria bassiana
10.Lain-lain                   (jamur), steinernema sp (nematoda)
                               Diafentiuron,lufenorum,diflubensuron,fluvenoxuron,klo
                                rfluasulon,teflubensuron Inidakloprik (nitroguanidin),
                                siromazin,pinetrozin (priazin), buprofezin (tidiazin)




3. Kelompok kimia herbisida
Kelompok                        Contoh
Asam ariloksialkanoid           2.4-D; 2.4.5-T; MCPA ; diklorpro
Asam arilkarbolik               Dikambel,kloramben
Kelompok urea                   Diuron,fluometuron,klorbromuron,klorozuron,linuron,
Kelompok sulfonilurea           metabromuron,metabentiasuron,monuron,neburon
Kelompok urasil                 Klorsulfuron,metsulfuron,sinosulfuron
Kelompok triazinon              Ametrin,atrazin,azinprotrin,desmetrin,[ropazin,sianizin,
Kelompok dinitroanilin          sinazin,terbumeton
Kelompok kloroasetanilida       Asulam,barban,butilat,maulinat,tioberkat
Garam dipiridinum               Bromasil,lenasil,terbasil,hexanin,metamitron,metribuzi
Kelompok imidazol               n
Kelompok organofospat           Orizalin,trifluralin
                                Alaktrol,butakrol,dimetaklor,metoksiklor,metazaklor,pri
                                tilakrol,propaklor
                                Diquat,difensuquat,paraquat
                                Imazapyr,imazaquin
                                Glifospat,glufosinat
C. Penggolongan Pestisida
        Setiap pestisida atau produk perlindungan tanaman yang diperdagangkan terdiri
atas tiga bagian utama, yakni bahan aktif, bahan-bahan pembantu, dan bahan
pembawa. Bahan aktif adalah senyawa kimia atau bahan bioaktif lainnya
(mikroorganisme, ekstrak tumbuhan, dsb.) yang mempunyai efek pestisida (pesticidal
effect), yakni meracuni OPT atau efek biologi (biological effect).
        Apabila suatu bahan aktif merupakan suatu senyawa kimia, maka bahan aktif
tersebut diberi nama kimia (chemical name), yaitu nama yang didasarkan atas struktur
atau rumus kimia senyawa tersebut. Misalnya, nama dagang Brestan 60WP dan Polyram
80WP, bahan aktifnya mempunyai nama kimia Manganese ethylenebis (Dithio-
carbamat), nama dagang insektisida Curacron 500EC mempunyai nama kimia 0-4-
bromo-2-chlorophenyl 0-ethyl s-propyl phosphoro-thioate.
        Bahan aktif sering diberi nama umum atau nama generik (common name,
generic name) yang lebih singkat, lebih mudah diingat dan dimengerti oleh semua orang
yang berkecimpung dibidang pestisida. Contoh fungisida polyram 80WP dan Brestran
60WP mempunyai nama umum bahan aktif bernama maneb. Insektisida Curacron 500EC
mempunyai bahan aktif bernama profenofos. Bila bahan aktif pestisida adalah
mikroorgannisme, maka nama umunya cukup disebutkan nama spesies jasad reniknya.
Misalnya, insektisida Turex WP dan Delfin WP berbahan aktif Delta endotoksin dari
Bacillus thuringiensis(Bt).
        Dengan mengetahui kandungan bahan aktif masing-masing pestisida, maka kita
tidak perlu terlalu terikat pada suatu nama dagang, tetapi kita dapat memilihnya dari
berbagai nama dagang yang ada. Demikian halnya, bila kita hendak mencampur
pestisida, maka kita dapat menghindari mencampur dua atau lebih pestisida yang bahan
aktifnya sama.
1. Penggolongan pestisida menurut jasad sasaran
   - Insektisida, racun serangga (insekta)
   - Fungisida, racun cendawan / jamur
   - Herbisida, racun gulma / tumbuhan pengganggu
   - Akarisida, racun tungau dan caplak (Acarina)
   - Rodentisida, racun binatang pengerat (tikus dsb.)
   - Nematisida, racun nematoda, dst.
2. Penggolongan menurut asal dan sifat kimia
2.1. Sintetik
    a) Anorganik : garam-garam beracun seperti arsenat, flourida, tembaga sulfat dan
        garam merkuri.
    b) Organik :
        - Organo khlorin : DDT, BHC, Chlordane, Endrin dll.
        - Heterosiklik : Kepone, mirex dll.
        - Organofosfat : malathion, biothion dll.
        - Karbamat : Furadan, Sevin dll.
        - Dinitrofenol : Dinex dll.
        - Thiosianat : lethane dll.
          - Sulfonat, sulfida, sulfon.
          - Lain-lain : methylbromida dll.
2.2. Hasil alam : Nikotinoida, Piretroida, Rotenoida dll.
Penamaan pestisida (Nomenklatur)
Contoh :
I. Carbophenothion
II. Trithion (R)
III.(p-chlorophenylthio) methyl ] 0 , 0 -diethyl phosphorodithioate
IV.




Keterangan:
I. Nama umum (generik)
II. Nama dagang
III. Nama kimia
IV. Rumus (struktur) kimia


3. Cara masuk insektisida ke dalam tubuh serangga :
      * Melalui dinding badan, kulit (kutikel)
      * Melalui mulut dan saluran makanan (racun perut)
      * Melalui jalan napas (spirakel) misalnya dengan
      * fumigan.


D. Jenis racun pestisida
Dari segi racunnya pestisida dapat dibedakan atas:
      1. Racun sistemik, artinya dapat diserap melalui system organisme misalnya melalui
         akar atau daun kemudian diserap ke dalam jaringan tanaman yang akan
         bersentuhan atau dimakan oleh hama sehingga mengakibatkan peracunan bagi
         hama.
      2. Racun kontak, langsung dapat menyerap melalui kulit pada saat pemberian
         insektisida atau dapat pula serangga target kemudian kena sisa insektisida (residu)
         insektisida beberapa waktu setelah penyemprotan. Formulasi pestisida Pestisida
      dalam bentuk teknis (technical grade) sebelum digunakan perlu diformulasikan
      dahulu. Formulasi pestisida merupakan pengolahan (processing) yang ditujukan
      untuk    meningkatkan       sifat-sifat   yang   berhubungan   dengan   keamanan,
      penyimpanan, penanganan (handling), penggunaan, dan keefektifan pestisida.
      Pestisida yang dijual telah diformulasikan sehingga untuk penggunaannya
      pemakai tinggal mengikuti petunjuk-petunjuk yang diberikan dalam manual.
      Formulasi insektisida yang digunakan dalam pengawetan kayu dan pengendalian
      hama hasil hutan pada umumnya adalah dalam bentuk:
1. Untuk Penyemprotan (sprays) dan pencelupan (dipping)
1.1. Emulsifiable / emulsible concentrates (EC)
    EC (emulsible atau emulsifiable concentrates) adalah larutan pekat pestisida yang
    diberi emulsifier (bahan pengemulsi) untuk memudahkan penyampurannya yaitu
    agar terjadi suspensi dari butiran-butiran kecil minyak dalam air. Suspensi minyak
    dalam air ini merupakan emulsi. Bahan pengemulsi adalah sejenis detergen (sabun)
    yang menyebabkan penyebaran butir-butir kecil minyak secara menyeluruh dalam
    air pengencer. Secara tradisional insektisida digunakan dengan cara penyemprotan
    bahan racun yang diencerkan dalam air, minyak, suspensi air, dusting, dan butiran.
    Penyemprotan merupakan cara yang paling umum, mencakup 75 % dari seluruh
    pemakaian insektisida, yang sebagian besar berasal dari formulasi Emulsible
    Concentrates. Bila partikel air diencerkan dalam minyak (kebalikan dari emulsi)
    maka hal ini disebut emulsi invert. EC yang telah diencerkan dan diaduk hendaknya
    tidak mengandung gumpalan atau endapan setelah 24 jam.
1.2. Water miscible liquids (S)
    S (solution, larutan dalam air) merupakan larutan garam dalam air atau campuran
    yang jernih walaupun semula mengandung cairan lain misalnya alkohol yang dapat
    bercampur dengan air.
    - Water soluble concentrates (WSC)
    - Soluble concentrates (SC)
    - Wettable powder (WP)
    - Flowable suspension (F)
    - Water soluble powders (SP)
    - Ultra Low Volume Concentrates (ULV)
2. Dalam bentuk Dusts (D)
   Dusts (D) : Dusts, debu, tepung atau bubuk – merupakanformulasi pestisida yang
   paling sederhana dan yang paling mudah untuk digunakan. Contoh paling sederhana
   dari dust yang tidak di “encerkan” adalah tepung belerang yang digunakan untuk
   menekan hampi semua populasi serangga. Rayap Cryptotermes dapat dikendalikan
   populasinya dengan dusting.
   - Racun dust yang tidak diencerkan, misalnya langsung dioleskan pada bagian tiang
      yang akan ditanam (direct dust admixture)
   - Racun dengan pengencer aktif, misalnya belerang
   - Racun dengan pengencer inert, misalnya pyrophyllite
3. Fumigan misalnya kloropikrin untuk Cryptotermes
4. Umpan (baits)
      Insektisida teknis, adalah insektisida yang tidak diformulasikan (technical grade);
dianjurkan agar jangan sekali-sekali menggunakan secara langsung insektisida teknis
yang belum diformulasikan karena :
   - sangat berbahaya bagi pemakai (operator)
   - berbahaya bagi pihak lain (manusia dan jasad-jasad lain di sekitar)
   - mencemari sumber air
   - lebih mahal
   - sukar pengaplikasiannya
   - residu bertahan lama (bahaya terhadap lingkungan)
   - tidak dapat disimpan lama dan penyimpanannya menimbulkan masalah
   - kurang efektif’


Cara kerja racun
    1. Racun sel umum / protoplasma, misalnya logam-logam berat, arsenat dll.
    2. Racun syaraf :
       o Mempengaruhi keseimbangan ion-ion K dan Na dalam neuron (sel syaraf)
          dan merusak selubung syaraf : DDT dan OK lainnya
       o Menghambat bekerjanya ChE (ensim pengurai acethylcholine yaitu Choline
          Esterase) : semua OF dan KB
    3. Racun lain misalnya merusak mitokondria, sel darah dll.
    * Keterangan : OK - orgonokhlorin (chlorinated hydrocarbons) OF - organofofat
    (organophosphates atau fosfat organik) KB - karbamat (carbamates)
E. Resiko bagi lingkungan
   Resiko penggunaan pestisida terhadap lingkungan dapat digolongkan menjadi tiga
kelompok yaitu:
- resiko bagi orang, hewan atau tumbuhan yang bearada di tempat atau diekitar
   tempat pestisida digunakan.
- Bagi lingkungan umum, pestisida dapat mnyebabkan pencemaran lingkungan (tanah,
   air dan     udara) dengan segala akibatnya misalnya kematian hewan target,
   bioakumulasi/ biomagnifikasi.
- Khusus bagi lingkungan pertanian atau agroekosistem, penggunaan pestisida
   pertanian dapat menyebabkan hal-hal berikut;
   a. menurunnya kepekaan hama, penyebab penyakit dan gulma terhadap pestisida
      tertentu yang berpuncak pada resistensi hama, penyakit dan gulma terhadap
      pestisida.
   b. resurjensi hama, yakni fenomena meningkatnya serangan ham tertentu sesudah
      perlakuan dengan insektisida.
   c. timbulnya hama yang selama ini tidak penting.
   d. terbunuhnya musuh alami hama.
   e. perubahan flora, misalnya penggunaan herbisida secara terus menerus untuk
      mengendalikan gulma berdaun lebar akan merangsang perkembangan gulma
      berdaun sempit.
   f. meracuni tanaman bila salah menggunakannya.
      Di antara berbagai dampak negatif penggunaan pestisida tersebut di atas,
masalah residu pestisida pada hasil pertanian dewasa ini mendapat perhatian yang
makin serius bagi kepentingan nasional maupun internasional. Hal tersebut disebabkan
oleh antara lain:
- Makin meningkatnya kesadaran individu (konsumen) tentang pengaruh negatif
   residu pestisida pada hasil pertanian terhadap kesehatan manusia. Kesadaran ini
   telah muncul di negara-negara maju dan meluas ke negara-negara berkembang,
   termasuk Indonesia. Konsumen akan memilih hasil pertanian yang aman konsumsi
   (dalam hal ini yang bebas pestisida) atau kalau mengandung residu pestisida, maka
   kadarnya masih di bawah batas toleransi.
- Makin ketatnya persyaratan keamanan pangan, yang berakibat pada meningkatnya
   tuntutan terhadap mutu pangan (kualitas produk).
- Terjadinya hambatan perdagangan hasil pertanian terutama dalam ekspor. Masalah
   residu pestisida sudah menjadi persyaratan internasional yang ditetapkan oleh Codex
   Alimentarius Commision (CAC), yaitu komisi internasional yang dibentuk oleh FAO
   dan WHO yang khusus menangani masalah keamanan pangan.
- CAC telah menetapkan Maximum Residue Limits (MRLs) pestisida dan makin banyak
   negara yang menerapkannya. Indonesia juga telah mengatur Batas Maksimum
   Residu (BMR) pestisida pada hasil pertanian berdasarkan Keputusan Bersama
   Menteri Kesehatan dan Menteri Pertanian nomor : 881/MENKES/SKB/VIII/1996.
   tanggal 22 Agustus 1996711/Kpts/TP.270/8/96.


       Karena pengaruh penggunaan pestisida di lapangan terhadap timbulnya residu
pestisida pada hasil pertanian sangat besar, maka perlu dilakukan langkah-langkah
konkrit untuk mengendalikan penggunaan pestisida di lapangan agar residu pestisida di
lapangan dapat diotekan. Pada saat ini banyak pestisida yang beredar di masyarakat
yang tanpa melalui perizinan (illegal) yang digunakan masyarakat secara bebas tanpa
memperhatikan efek negatif yang ditimbulkannya maka dalam hal ini pemerintah
membuat peraturan pengawasan pestisida atas penyimpanan, peredaran, dan
penggunaannya untuk memimalisasi serta menghilangkan peredaran pestisida yang
illegal. Disamping itu, peraturan ini dimaksudkan untuk melindungi manusia, sumber-
sumber kekayaan perairan, flora dan fauna alami, untuk menghindari kontaminasi
lingkungan, serta untuk meningkatkan hasil produk pertanian yang berkualitas.
       Sesuai dengan prinsip-prinsip Pengendalian Hama Terpadu (PHT) sebagaimana
dinyatakan dalam Undang-Undang No. 12 Tahun 1992 tentang Sistem Budidaya
Tanaman, yang telah dijabarkan lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah No. 6 Tahun
1995 tentang Perlindungan Tanaman maupun Keputusan Menteri Pertanian Nomor
887/Kpts/OT.210/9/97 Tentang Pedoman Pengendalian OPT, penggunaan pestisida
dalam pengendalian OPT merupakan alternatif terakhir. Pengertian alternatif terakhir
adalah apabila semua teknik/cara pengendalian yang lain (misalnya cara bercocok
tanam, secara biologis, fisik, mekanis, genetik, dan karantina) dinilai tidak memadai.
Penggunaan pestisida sedapat mungkin dihindari. Namun demikian, apabila cara
pengendalian lain tidak memadai sehingga pestisida terpaksa digunakan, maka
penggunaannya harus secara baik dan benar yaitu dengan dikeluarkannya pertauran
pemerintah Republik Indonesia nomor 7 tahun 1973 tentang Pengawasa atas peredaran,
Penyimpanan dan Penggunaan Pestisida. Dampak negatif yang mungkin timbul
diusahakan sekecil mungkin, sedangkan manfaatnya diupayakan sebesar mungkin.
Untuk memperkecil dampak negatif penggunaan pestisida, dalam hal ini memperkecil
residu pestisida di lingkungan, dapat ditempuh langkah-langkah sebagai berikut:


F. Kesimpulan
   * Jenis pestisida yang akan digunakan harus tepat, yaitu disesuaikan dengan OPT
      (hama, penyakit, dan gulma) sasaran yang menyerang tanaman. menurut OPT
      sasaran yang akan dikendalikan, pestisida dapat dikelompokkan antara lain
      menjadi:
   * insekstisida (insecticide): untuk mengendalikan insekta (serangga)
   * fungisida (fungicide): untuk mengendalikan fungus (cendawan/jamur)
   * bakterisida (bactericide) : untuk mengendalikan bakteri
   * herbisida (herbicide) : untuk mengendalikan herba (gulma atau tumbuhan
      pengganggu)
   * nematisida (nematicide) : untuk mengendalikan nematode
   * pissisida (piscicide) : untuk mengendalikan ikan
   * moluskisida (moluscicide) : untuk mengendalikan molusca
   * akarisida (acaricide) : untuk mengendalikan akarina/tungau.
        Tiap kelompok pestisida tersebut pada umumnya mempunyai sifat tersendiri
dan tidak efektif terhadap OPT dari golongan yang lain, misalnya insektisida tidak dapat
mengendalikan cendawan atau gulma. Tetapi ada juga satu jenis pestisida yang
digolongkan kedalam lebih dari satu kelompok, misalnya disamping sebagai insektisida
juga sebagai nematisida, pissisida, dsb. Oleh karena itu, jenis pestisida yang dipilih harus
sesuai dengan OPT-nya. Kalau OPT-nya adalah serangga maka pilihlah insektisida, kalau
OPT-nya cendawan pilihlah fungisida dan seterusnya. Setelah memilih kelompoknya,
kemudian memilih jenis yang efektif untuk OPT sasaran yang ada. Walaupun sama
sebagai insektisida tetapi tidak berarti efektif atau tingkatan keefektifannya sama
terhadap semua serangga. untuk mengetahui pestisidanya, termasuk kelompok apa dan
efektif untuk OPT apa, dapat dibaca label pada kemasan pestisidanya.
        Kesalahan dalam memilih jenis pestisida berakibat tidak efektifnya pestisida
tersebut, misalnya OPT tidak terkendali dan tanaman tidak "sembuh". Hal ini
mendorong pengulangan aplikasi pestisida berkali-kali dalam jangka waktu pendek yang
dampaknya antara lain residunya tinggi. Sebaliknya, apabila jenis yang dipilih benar dan
efektif maka tidak diperlukan aplikasi ulangan lagi sehingga residunya rendah. Oleh
karena itu, OPT yang menyerang harus diamati secara cermat sebelum memilih jenis
pestisida yang tepat.
        Suatu pestisida tertentu mempunyai sifat fisiko kimia yang berbeda dengan yang
lainnya, walaupun kelompoknya sama. Ada jenis pestisida yang mudah teroksidasi,
tereduksi, terhidrolisa dan mengalami reaksi lain sehingga akan rusak atau bahkan
menjadi senyawa lain yang tidak berbahaya.
        Berdasarkan sifat fisiko kimianya ada pestisida yang tidak mudah rusak di alam,
sehingga tetap berada di alam dalam jangka waktu panjang (disebut persisten).
Sebaliknya, ada pestisida yang mudah rusak/berubah menjadi senyawa lain di alam
sehingga keberadaannya di alam hanya dalam waktu pendek (disebut non persisten).
Untuk mengukur mudah tidaknya suatu pestisida rusak/terurai di alam, digunakan
parameter waktu paruh (Decomposition Time-50 disingkat DT-50) atau senyawa
tersebut terurai di alam (dalam hal ini, unsur alam yang sering digunakan adalah tanah,
air, udara). DT-50 pestisida sangat beragam, dari jangka waktu jam sampai dengan
jangka waktu tahun.
        Decomposition Time-50 suatu jenis pestisida dapat berbeda dengan DT-50
pestisida lainnya, tetapi secara umum DT-50 pestisida adalah sebagai berikut: kelompok
organo klor lebih lama daripada organo fosfat, lebih lama daripada organo karbamat,
lebih lama daripada piretroid sintetik. Makin besar angka DT-50, artinya pestisida makin
sulit terurai, makin lama berada di alam. Sebaliknya, makin kecil angkanya, pestisida
tersebut makin mudah terurai di alam, sehingga residunya akan cepat berkurang.
        Untuk mengurangi residu pestisida, selain yang tepat jenis agar efektif, pestisida
yang dipilih hendaknya yang mempunyai DT-50 kecil (mudah rusak di alam). Namun,
informasi tentang DT-50 tidak mudah diperoleh karena tidak tercantum dalam label
pestisida, sehingga perlu dicari ke sumber lainnya, misalnya petugas perlindungan
tanaman pangan dan hortikultura atau pemilik produk.
    Aplikasi pestisida seharusnya hanya dilakukan pada waktu populasi atau intensitas
serangan OPT telah melampaui ambang ekonomi atau ambang pengendalian. Jangan
mengaplikasikan pestisida pada saat populasi atau intensitas serangan OPT masih di
bawah ambang ekonomi, atau secara reguler tanpa memperhatikan populasi/intensitas
serangan OPT, apalagi tidak ada serangan OPT. Hal ini dimaksudkan agar aplikasi
pestisida hanya pada waktu yang diperlukan dan tidak berlebihan.
          Selain   mempertimbangkan     ambang     ekonomi,     aplikasi   pestisida   perlu
memperhatikan stadia peka sebagian besar populasi OPT terhadap pestisida. Aplikasi
pestisida pada stadia peka akan lebih efektif walaupun dengan dosis rendah dan tidak
perlu diulang dalam jangka waktu pendek. Contoh: aplikasi pestisida untuk
mengendalikan ulat grayak sebaiknya dilakukan pada waktu larva berada pada instar 1--
3, karena larva pada instar berikutnya (instar 4--6) relatif lebih tahan terhadap pestisida.
Stadia yang relatif tahan pestisida pada umumnya adalah telur dan pupa.
          Dosis (liter atau kilogram pestisida per hektar tanaman) dan konsentrasi
(mililiter atau gram pestisida per liter cairan semprot) yang digunakan adalah dosis dan
konsentrasi minimum yang efektif terhadap OPT sasaran. Hal ini dimaksudkan agar
penggunaan pestisida tidak berlebihan dan residunya tidak tinggi. Di samping itu,
penggunaan pestisida yang berlebihan dapat mempercepat terjadinya resistensi.
Informasi tentang dosis dan konsentrasi efektif yang dianjurkan dapat dibaca pada label
masing-masing pestisida. Contoh: apabila dosis satu liter per hektar suatu pestisida
cukup efektif untuk mengendalikan OPT A, maka pestisida tersebut tidak perlu
diaplikasikan dengan dosis lebih daripada itu
          Dosis pestisida yang berlebihan tidak berpengaruh nyata terhadap efektivitas,
tetapi dampak negatif yang ditimbulkannya dapat berbeda nyata; terutama residu
pestisida, percepatan resistensi, pemborosan, dan pencemaran lingkungan hidup.
Perlu diupayakan semaksimal mungkin agar aplikasi pestisida diarahkan pada
sasarannya yang tepat, dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
- Tidak diaplikasikan pada bagian tanaman yang akan dikonsumsi. Apabila yang akan
   dikonsumsi adalah buahnya, maka aplikasi pestisida tidak diarahkan pada buah.
- Aplikasikan pestisida pada bagian tanaman yang terserang atau ada populasi OPT-
   nya.
       Hal ini dimaksudkan agar pestisida terfokus pada bagian tanaman yang
memerlukannya; sehingga efektif, efisien, dan tidak meninggalkan residu pada bagian
tanaman yang tidak perlu diaplikasi. Contoh: apabila serangan OPT terjadi di pangkal
batang, maka bagian yang diaplikasi pestisida cukup di pangkal batang saja, tidak
seluruh bagian tanaman.
          Alat aplikasi antara lain penyemprot/sprayer (hand sprayer, power sprayer, mist
blower) penghembus/ duster, dan pengabut-panas/fogger mempunyai kinerja dan
spesifikasi tertentu sesuai dengan tujuan penggunaan yang dirancang oleh pembuatnya.
Penerapan teknik aplikasi yang tepat memungkinkan berfungsinya alat tersebut secara
optimal. Informasi tentang hal tersebut biasanya tercantum pada leaflet/brosur masing-
masing.
          Penggunaan alat dan teknik aplikasi yang tepat lebih menjamin efektivitas dan
efisiensi. Apabila aplikasinya efektif, maka OPT terkendali. Untuk memperkecil
residunya, aplikasi pestisida tidak perlu diulang-ulang dalam jangka waktu pendek.
          Untuk mengetahui adanya residu pestisida sebagai salah satu dampak
penggunaan pestisida dengan memperhatikan cara-cara yang telah diuraikan di depan,
sebaiknya dilakukan pengujian kandungan residu pestisida pada hasil pertanian yang
akan dikonsumsi atau diperdagangkan.
          Pelaksanaan pengujian residu pestisida pada tahap-tahap pengambilan contoh,
pewadahan, pengiriman, penyimpanan, dan analisis di laboratorium harus mengikuti
Pedoman Pengujian Residu Pestisida pada Hasil Pertanian yang ditetapkan oleh lembaga
yang berwenang. Dalam hal ini, Komisi Pestisida telah menetapkan pedoman dimaksud,
yang diadopsi dari Codex Alimentarius Commission (CAC). Dengan adanya data hasil
pengujian residu pestisida, maka dapat diyakinkan apakah langkah-langkah yang telah
dilakukan sudah benar-benar menghasilkan residu pestisida yang sesedikit mungkin,
produk yang mengandung residu pestisida tersebut aman dikonsumsi, dan tidak
mengalami hambatan dalam perdagangannya.

								
To top