KEBAHAGIAAN SINTETIS by jumanb

VIEWS: 15 PAGES: 2

More Info
									KEBAHAGIAAN YANG SINTETIS DAN YANG VOLATIL
Oleh: Jum’an

Seandainya ada sebuah mesin yang dapat dirancang demikian canggih dengan tempat
duduk untuk pemakainya dilengkapi dengan macam-mcam pencetan, puteran, kabel-
kabel, colokan dan helm yang dapat merangsang otak agar berfikir dan merasakan apa
saja yang kita inginkan. Rasa bahagia seorang pengantin baru, kepuasan seorang juara
dunia atau kenyamanan seorang Bill Gates. Pokoknya semua kenikmatan yang biasanya
kita sebut bahagia. Kalau saja mesin itu benar-benar ada, apakah anda berminat duduk
diatas kursi-bahagia itu untuk selamanya? Daripada menghadapi ketakutan, ketidak-
tentuan dan kekhawatiran hidup yang tak ada hentinya, why not? Kalau anda masih
ragu-ragu biarlah saya mencobanya lebih dulu, bismilah. Sejak dulu saya memang ingin
hidup senang bebas dari ancaman kehilangan kerja, tagihan yang tidak terbayar atau
rumah tergusur. Ingin rasanya hidup setiap saat bergairah, aman nyaman dan lega.

Nah sekarang saya duduk diatas kursi-bahagia ini, merasakan benar-benar kenikmatan
seorang pengantin baru. Persis seperti yang anda alami dulu atau nanti kapan-kapan.
Sendiri tanpa ada orang lain disekitar saya. Jangan tegur saya sebab saya bukan hanya
sekedar duduk diam tetapi sedang menikmati rasa pengantin baru. Memang kelihatan
aneh, cengar-cengir sendirian. Betapapun bahagianya rasa pengantin baru tapi berbeda
dengan benar-benar mengalaminya. Dengan pasangan disamping kita, tamu-tamu yang
menyalami, orkes dangdut yang menghibur dan anak-anak yang berseliweran. Yang
saya rasakan ini kebahagiaan sintetis namanya! Bukan yang asli. Tidak berbeda dengan
yang dirasakan penghisap ganja barangkali. Kebahagiaan sejati selalu memerlukan
orang lain tidak mungkin dialami sendirian. Kursi-bahagia ini tidak memberikan sesuai
dengan hidup yang saya idam-idamkan. Biar saya singkirkan saja mesin ini jauh-jauh.

Saya mau kebahagiaan sejati. Tetapi yang awet dan tahan lama bukan yang sekali
pakai lusuh atau seperti hujan yang sesekali turun lalu disusul oleh kemarau panjang.
Sekali naik gaji, tiga bulan sudah hilang rasanya menguap oleh kenaikan harga-harga.
“Mas, pernikahan saya hanya tiga bulan bahagianya, tigapuluh tahun selanjutnya penuh
sengsara”, begitu gurauan seorang teman saya. Meskipun itu hanya lelucon ada juga
benarnya bahwa rasa bahagia didunia ini bersifat volatile yaitu mudah menguap dan
cepat hilang. Adakah kebahagiaan yang bisa bertahan lama? Ataukah memang sudah
bawaan asal manusia yang cepat bosan? Pada tahun 1970 pernah dilakukan sebuah
penelitian yang terkenal. Sejumlah pemenang lotre di Amerika, dari yang menang
ratusan ribu sampai yang jutaan dolar, diikuti kehidupannya terus dari waktu ke waktu.
Ternyatai sesudah sekitar 18 bulan mereka sudah tidak lebih bahagia dari sebelum
mereka memenangkan lotre. Kebahagiaanya menurun kembali seperti semula.
Fenomena ini disebut hedonic adaptation yaitu kecenderungan manusia untuk dalam
waktu tidak lama kembali ketingkat kebahagiaan aslinya baik setelah mengalami suatu
guncangan drastis yang menyenangkan ataupun sebaliknya. Tiap orang seperti sudah
ada takaran kebahagiaannya sendiri. Apakah memang benar-benar demikian, wallohu
a’lam...

								
To top