HARMONISASI PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN MENGENAI PERIZINAN DALAM RANGKA MENDORONG INVESTASI DI KOTA SURAKARTA

Description

HARMONISASI PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN MENGENAI PERIZINAN DALAM RANGKA MENDORONG INVESTASI DI KOTA SURAKARTA

Shared by: pphfhuns
-
Stats
views:
883
posted:
12/5/2010
language:
Indonesian
pages:
155
Document Sample
scope of work template
							HARMONISASI PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN MENGENAI
PERIZINAN DALAM RANGKA MENDORONG INVESTASI DI KOTA
                         SURAKARTA




                        Penulisan Hukum
                             (Skripsi )

                    Disusun dan Diajukan untuk
    Melengkapi Sebagian Persyaratan guna Memperoleh Derajat S1
  dalam Ilmu Hukum Pada Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret
                            Surakarta


                              Oleh
                         Agus Rusmanto
                           E.1106081


                      FAKULTAS HUKUM
                UNIVERSITAS SEBELAS MARET
                         SURAKARTA
                              2010
                   PERSETUJUAN PEMBIMBING


                      Penulisan Hukum (Skripsi)


HARMONISASI PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN MENGENAI
PERIZINAN DALAM RANGKA MENDORONG INVESTASI DI KOTA
                            SURAKARTA


                                 Oleh
                           Agus Rusmanto
                              E. 1106081




 Disetujui untuk dipertahankan dihadapan Dewan Penguji Penulisan Hukum
      (Skripsi) Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret Surakarta




                      Surakarta, September 2010

                          Dosen Pembimbing




                           Waluyo S.H, M.Si
                      NIP. 196808131994031001
                        PENGESAHAN PENGUJI


                        Penulisan Hukum (Skripsi)
HARMONISASI PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN MENGENAI
PERIZINAN DALAM RANGKA MENDORONG INVESTASI DI KOTA
                                SURAKARTA

                                    Oleh
                                Agus Rusmanto
                                  E. 1106081

            Telah diterima dan dipertahankan di hadapan
              Dewan Penguji Penulisan Hukum (Skripsi)
        Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret Surakarta
                                    Pada :
                      Hari         : Kamis
                      Tanggal      : 7 Oktober 2010
                              DEWAN PENGUJI


 1. Dr. I. Gusti Ayu Ketut RH,S.H., M.M. :…………………………………
                      Ketua
 2. Wida Astuti,S.H                            :…………………………………
                  Sekretaris
 3. Waluyo S.H, M.Si                           : …………………………………
                      Aggota



                                 Mengetahui :
                                    Dekan




                        Moh Jamin, S.H., M.Hum.
                        NIP. 196109301986011001
                                 PERNYATAAN


       Nama : Agus Rusmanto
       NIM : E1106081


Menyatakan dengan sesungguhnya bahwa penulisan hukum (skripsi) berjudul :
HARMONISASI PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN MENGENAI
PERIZINAN DALAM RANGKA MENDORONG INVESTASI DI KOTA
SURAKARTA adalah betul-betul karya sendiri. Hal-hal yang bukan karya saya
dalam penulisan hukum (skripsi) ini diberi tanda citasi dan ditunjukkan dalam
daftar pustaka. Apabila kemudian hari terbukti pernyataan saya tidak benar, maka
saya bersedia menerima sanksi akademik berupa pencabutan penulisan hukum
gelar yang saya peroleh dari penulisan hukum (skripsi) ini.




                                                  Surakarta, September 2010
                                                   yang membuat pernyataan




                                                        Agus Rusmanto
                                                          E 1106081
                             MOTTO

v   Tak Ada Perubahan jika tak ada Progres di Dalam Pergerakan.
                             (Ras Muhammad, Penyanyi Reggae)


v   “Sing Sopo Ndhisiki Cidro, Ing Kono Wahyuning Kamulyan Bakal
    Sirno”
                                                      (Pepatah Jawa)


v   “Le, Dadi Uwong Ki Ojo Ngulatke Nduwur Terus,
      Mundak Kowe mengko dadi Uwong Kang Gemrangsang”

    ( Nak, Jadi orang itu jangan melihat keatas terus,
    karena kamu nanti bisa jadi orang yang serakah)
                                             (Pesan Kedua Orang Tuaku)


v   Totalitas tanpa batas ……..
                     (Tom House Community)
                     PERSEMBAHAN

Kupersembahkan sebuah tulisan sederhana ini sebagai wujud
        syukur, cinta, dan terima kasih kepada :

Allah SWT, Atas segala karunia rahmat dan nikmat yang telah
                      diberikan-Nya
 Ibu dan Bapak. Terima kasih atas semua waktu dan semua
          kasih sayang yang Kau curahkan padaku
  Almamater tercinta Fakultas Hukum Unioversitas Sebelas
                     Maret Surakiarta
                            KATA PENGANTAR


       Bismillahirrohmanirrohim
       Alhamdulillah, puji syukur khadirat Allah SWT, yang senantiasa
memberikan nikmat dan karunia-Nya, sehingga Penulisan Hukum (skripsi) yang
berjudul     “HARMONISASI       PERATURAN         PERUNDANG-UNDANGAN
MENGENAI PERIZINAN DALAM RANGKA MENDORONG INVESTASI
DI KOTA SURAKARTA” dapat terselesaikan.
       Penulisan hukum (skripsi) ini membahas mengenai harmonisasi Peraturan
Perundang-undangan mengenai perizinan di bidang investasi dan perkembangan
investasi di Kota Surakarta. Penulisan hukum ini dikhusukan pada harmonisasi
Perda Nomor 9 Tahun 2003 tentang Ijin Usaha Industri, Ijin Usaha Perdagangan
dan Tanda Daftar Gudang dengan Peraturan Perundang-undangan bidang
Investasi.
       Banyak hambatan yang menimbulkan kesulitan dari penyelesaian
Penulisan Hukum (skripsi) ini, namun berkat bantuan dari berbagai pihak syukur
alhamdulillah akhirnya kesulitan-kesulitan yang timbul dapat diatasi. Untuk itu
atas segala bentuk bantuan dan dorongan serta saran dari berbagai pihak,   maka
pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya
kepada :
1. Bapak Moh. Jamin, S.H., M.Hum selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas
   Sebelas Maret Surakarta yang telah memberikan ijin dan kesempatan kepada
   penulis untuk menyelesaikan penulisan hukum ini.
2. Ibu Siti Warsini, S.H, M.H selaku Pembimbing Akademik yang senantiasa
   membimbing penulis untuk lebih berprestasi.
3. Bapak Waluyo, S.H., M.Si selaku Pembimbing yang senantiasa memberikan
   bimbingan dan nasehatnya bagi penulis selama membimbing penulis dalam
   menyelesaikan penulisan hukum ini.
4. Segenap dosen dan karyawan Fakultas Hukum UNS yang telah membantu
   penulis dalam segala bentuk kegiatan dan aktivitas kemahasiswaan.
5. Bapak & Ibuku tercinta terimakasih sekali atas segalanya & maaf kalau sering
   buat kecewa. Untuk kedua kakakku Aisyah dan Sholikah tetap semangat ya,
   jangan pernah malu dan kecil hati meskipun kita hanya anak petani.
6. Untuk seseorang yang selalu ada dalam hari-hariku “Sinta Natalia”, engkaulah
   motivasiku, terimakasih atas kesetiaanya selama ini, juga untuk seluruh
   keluarga besar terimakasih sekali atas doa & dukungannya.
7. Sahabat-sahabat di PMII Surakarta Alfan, Ajik, Dalhar, Faqih, Widi, Ida, Ifa,
   Fika teruskan perjuangan, terima kasih semua telah memberikan pembelajaran
   yang bermakna akan arti sebuah perjuangan.
8. Teman-teman Keluarga Mahasiswa Pelajar Pati (KMPP) Surya, Fredy, Jojo,
   Lingga, Dul, Lingga, Nuansa teruskanlah perjuangan kita sebagai fasilitator
   mahasiswa Pati di Surakarta.
9. Untuk temen-temen di FH 06 ( pokoke harus lulus bareng), Dhohan, Adit, Pak
   Eko, Gamara, Yanuar, Herlina, temen2 parkiran, terimaksih buat kebersamaan
   kita selama ini. Anak-anak Kost Widuri (Bang Andre, Pak N’dut, Udjo, Kipli,
   Suryono, Tolib, Ulin, Budi dan Kuntho, Hakim) makasih banget, Mbahe Kost
   (Nyuwun ngapunten bayare telat Mbah ).
10. Semua pihak yang telah membantu penulis baik secara langsung maupun tidak
   langsung dalam penyelesaian penulisan hukum ini.
       Penulis menyadari bahwa penulisan hukum ini sangat jauh dari
kesempurnaan, untuk itu penulis mohon maaf yang sebesar-besarnya apabila
terdapat kesalahan dalam penyusunannya. Kritik dan saran yang bersifat
membangun akan penulis terima dengan lapang dada.
       Dan semoga penulisan ini memberikan manfaat yang sebesar-besarnya
bagi seluruh almamater Sebelas Maret dan pihak-pihak yang memerlukannya.




                                                    Surakarta, September 2010


                                                    Penulis
                                               DAFTAR ISI


HALAMAN JUDUL .................................................................................                i
HALAMAN PERSETUJUAN ...................................................................                        ii
HALAMAN PENGESAHAN ....................................................................                       iii
HALAMAN PERNYATAAN ...................................................................                        iv
HALAMAN MOTTO . ...............................................................................                v
HALAMAN PERSEMBAHAN .................................................................                         vi
KATA PENGANTAR .................................................................................             vii
DAFTAR ISI .............................................................................................      ix
DAFTAR TABEL ......................................................................................           xi
DAFTAR GAMBAR .................................................................................              xii
DAFTAR LAMPIRAN ..............................................................................               xiii
ABSTRAK ..................................................................................................   xiv
ABSTRACT ................................................................................................     xv


BAB I PENDAHULUAN
        A. Latar Belakang .............................................................................        1
        B. Perumusan Masalah .....................................................................             6
        C. Tujuan Penelitian .........................................................................         6
        D. Manfaat Penelitian ........................................................................         7
        E. Metode Penelitian ........................................................................          7
        F. Sistematika Penulisan ..................................................................           11


BAB II TINJAUAN PUSTAKA
        A. Kerangka Teori ............................................................................        13
             1. Tinjauan Umum mengenai Harmonisasi ..................................                         13
                  a) Aspek Pengaturan Perda ......................................................            15
                  b) Permasalahan dalam Pembentukan Perda .............................                       17
             2. Tinjauan Umum Tentang Pemerintahan Daerah ......................                              19
                  a) Pemerintah Daerah ............................................................           19
              b) Dewan Perwakilan Rakyat Daerah ....................................                             25
        3. Tinjauan Umum Tentang Investasi ...........................................                           26
              ................................................................................................
        4. Teori Hukum ...........................................................................               28
        5. Teori Investasi .........................................................................             29
   B. Kerangka Pemikiran ......................................................................                  33


BAB III HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
   A Deskripsi Lokasi Penelitian ..........................................................                      36
        1. Keadaan Secara Umum Kota Surakarta ..................................                                 36
   B     Harmonisasi Perda No 9 Tahun 2003 dengan
         PUU bidang investasi .................................................................                  37
        1. Deskripsi Peraturan Perundang-undangan ................................                               37
   C. Perkembangan Investasi di Kota Surakarta ..................................                                67
   D. Sinkronisasi Perda No 9 Tahun 2003 dengan PUU
        bidang investasi . ............................................................................          85
        1. Akibat hukum ketidaksinkronan Perda Nomor 9 Tahun 2003
             Dengan PUU bidang investasi . .................................................                     86
        2. Sinkronisasi Perda Nomor 9 Tahun 2003 dengan UU Nomor 32
             Tahun 2004 ..............................................................................           90
        3. Sinkronisasi Perda Nomor 9 Tahun 2003 dengan UU Nomor 33
             Tahun 2004 ..............................................................................           92
   E. Analisis Perkembangan Investasi di Kota Surakarta . ......................                                 94


BAB IV PENUTUP
   A. Kesimpulan ...................................................................................             97
   B. Saran .............................................................................................        98
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN- LAMPIRAN
                              DAFTAR TABEL


                                                                      Halaman

Tabel 3.1   Pertumbuhan Ekonomi Kota Surakarta Tahun 2001-2009 ..…… 48

Tabel 3.2   Pertumbuhan Sektor Ekonomi di Kota Surakarta 2004-2009 ......   49

Tabel 3.3   Prosentase penduduk bekerja menurut lapangan usaha ………… 50
                  DAFTAR GAMBAR


                                            Halaman

Gambar 1 Kerangka Pemikiran ………………………………………………   33
                                  ABSTRAK

AGUS RUSMANTO, E 1106081, 2010, HARMONISASI PERATURAN
PERUNDANG-UNDANGAN MENGENAI         PERIZINAN DALAM
RANGKA    MENDORONG INVESTASI DI KOTA SURAKARTA,
FAKULTAS HUKUM UNS.

        Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah sudah ada harmonisasi
peraturan perundang-undangan mengenai perizinan dan perkembangan investasi
di Kota Surakarta dalam kurun waktu 2004-2009.
        Penelitian ini dilihat dari tujuannya termasuk jenis penelitian hukum
normatif bersifat preskriptif dengan menggunakan metode kualitatif. Sumber data
berasal dari bahan hukum yaitu bahan hukum primer, sekunder dan tersier.
Sumber data primer yaitu bahan –bahan hukum yang mengikat. Sumber data
sekunder yaitu buku, literatur, peraturan perundang-undangan, laporan, arsip, dan
dari internet.
        Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data yang telah dilakukan maka
disimpulkan bahwa Pemerintah Kota Surakarta telah mengeluarkan Perda Nomor
9 Tahun 2003 tentang Ijin Usaha Industri, Ijin Usaha Perdagangan dan Tanda
Daftar Gudang, yang mana dalam penulisan ini disinkronkan dengan aturan
bidang investasi. Penelitian yang telah dilakukan terjadi disharmonisasi antara
Perda Nomor 9 Tahun 2003 ini dengan peraturan perundang-undangan di bidang
investasi dalam hal perizinan.
        Implikasi yuridis dari ketidakharmonisan Perda ini dapat dibatalkan dan
sudah tidak dapat diberlakukan lagi. Peraturan Daerah bisa menimbulkan
ketidakpercayaan yang berujung dengan konflik, antara aparat dengan pelaku
bisnis dan menimbulkan resistensi terhadap peraturan tersebut. Tetapi dengan
adanya pembaharuan di bidang investasi maka iklim investasi di Kota Surakarta
mengalami peningkatan.

Kata kunci: Harmonisasi, Peraturan Perundang-Undangan, Investasi
                                   ABSTRACT

Agus Rusmanto, E1106081, 2010, THE LAW AND REGULATIONS
HARMONIZATION OF SURAKARTA, Faculty of Law Sebelas Maret
University.
        This research aims to get the clear description of the laws and regulations
harmonization of licensing in order to encourage investment in Surakarta,
specialized to harmonization Perda No. 9 Year 2003 about Industrial License,
Trade Business License and Sign a List of Warehuoses with the rules of
investment and the investment development in Surakarta in the year of 2004-2009.
        The view if the purpose of this research includes the type of research is
prescriptive normative law by using qualitative methods. The sources come from
the primary, secondary and tertiary data source. Primary data sources are the
binding law. Secondary data sources are books, literature, legislations, reports,
archives and the internet.
        Based on the research result and data analysis, the researcher concludes
Perda No. 9 Year 2009 about Industrial License, Trade Business License and Sign
a List of Warehuoses has syncronization with laws and regulations in the
investment area. There is disharmony between Perda No. 9 Year 2003 and the
laws and regulations in the case of licensing.
        The juridical implications of that disharmony of Perda can be cancelled
and cannot be applied again. This regulation could lead to mistrust that led
conflicts, between apparatus with business people and causing resistance to these
rules. But with the existence of legislative reforms in the field of investment, there
is increasing of investment in Surakarta.

Keyword : harmonization, law and regulation, investment
                                      BAB I
                              PENDAHULUAN


                          A. Latar Belakang Masalah
        Satu topik yang cukup hangat dibicarakan saat ini adalah masalah
Investasi (Penanaman Modal). Pembicaraan tentang satu topik tersebut tidak
hanya dibicarakan oleh kalangan akademisi, birokrat maupun pelaku usaha bisnis,
akan tetapi juga di kalangan masyarakat awam. Untuk itu tidaklah mengherankan
jika di berbagai media, baik cetak     maupun elektronik, tidak habis-habisnya
mengupas masalah investasi dalam berbagai sudut pandang. Fenomena ini cukup
menarik untuk ditelusuri lebih lanjut, artinya apakah hal ini cukup penting dalam
menggerakkan roda perekonomian ataukah kehadiran investor akan menjadi
beban bagi masyarakat secara keseluruhan. Barangkali sejumlah pertanyaan masih
bisa dikemukakan dalam memandang arti pentingya kehadiran investor.
        Pemerintah daerah dalam rangka otonomi daerah dan memasuki era
global perlu jeli menangkap peluang guna menggali potensi daerah masing-
masing. Agar lebih mandiri secara ekonomi diharapkan Pemerintah Daerah
berhati-hati dalam menetapkan kebijakan supaya tidak membebani masyarakat
dan dunia usaha dengan pungutan-pungutan pajak-pajak dan retribusi lainnya.
Tanpa pertimbangan matang, hal tersebut akan berdampak pada tertutupnya
peluang Pemerintah Daerah untuk menarik investor baik secara domestik maupun
luar negeri sebanyak-banyaknya ke daerah. Seperti diketahui, pemodal atau
investor yang hendak menanamkan modal pada dasarnya berasal dari negara-
negara maju. Dalam perspektif bisnis, pelaku bisnis ingin melebarkan pasar
sehingga keuntungan bisa lebih meningkat, sebaliknya penerima modal ingin
tukar pengetahuan maupun teknologi.
        Disinilah aturan atau hukum mulai berperan, dalam arti apakah norma-
norma berinvestasi sudah memenuhi standart dalam lalu lintas pergaulan
internasional. Mencermati situasi inilah, maka Indonesia sebagai salah satu
anggota komunitas masyarakat internasional, merasa perlu menyesuaikan aturan
investasinya yang sudah berjalan empat puluh tahun lebih. Tepatnya pada akhir
April tahun 2007 yang lalu Pemerintah menerbitkan Undang-Undang Penanaman
Modal (UUPM) yakni Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007. Terbitnya undang-
undang ini, diharapkan dapat dijadikan sebagai salah satu aspek yang cukup
kompetitif dalam menarik investor untuk menanamkam modalnya di negeri ini,
khususnya di Kota Surakarta. Mengingat keberadaan undang-undang ini baru
beberapa tahun, maka agak sulit untuk menilai apakah sudah memadai atau tidak.
Tapi paling tidak dilihat dari kajian normatif, menarik untuk menganalisis
perkembangan pengaturan investasi sejak diterbitkannya Undang-Undang
Penanaman Modal Asing Tahun 1967 dan Undang-Undang Penanaman Modal
Dalam Negeri Tahun 1968 hingga diterbitkannya Undang-Undang Penanaman
Modal Tahun 2007.
        Dua tahun sejak diundangkannya Undang-Undang Penanaman tentang
Modal Tahun 2007, berbagai peraturan perundangan yang terkait dengan
penanaman modal terus digulirkan oleh pemerintah. Sebutlah misalnya, Undang-
Undang Nomor 29 Tahun 2009 tentang Kawasan Ekonomi Khusus (UUKEK),
Peraturan Presiden Nomor 27 Tahun 2009 tentang Pelayanan Terpadu Satu Pintu
(PTSP), Peraturan Presiden Nomor 90 Tahun 2007 Tentang Badan Koordinasi
Penanaman Modal (BKPM). Diterbitkannya serangkaian peraturan tersebut, tiada
lain dengan maksud supaya proses percepatan masuknya penanaman modal ke
Indonesia khususnya lagi ke berbagai daerah dapat segera terwujud. Hal ini dapat
dimaklumi, sebab aktifitas penanaman modal itu pada dasarnya ada di daerah.
Dilihat dari    sudut pandang ini, tidaklah berlebihan jika dikemukakan disini,
daerah mempunyai peran yang cukup strategis dalam mengundang investor masuk
ke daerahnya.
        Dalam praktek pelaksanaan otonomi daerah, Pemerintah Kota Surakarta
sebagai pelaksana pemerintahan di daerah mulai melakukan langkah-langkah
strategis dalam meningkatkan iklim investasi di daerahnya. Kota Surakarta atau
yang lebih sering dikenal dengan nama Kota Solo merupakan kota strategis
dengan berbagai potensi besar yang dimilikinya. Keberadaan Kota Surakarta
sebagai bagian dari kawasan Subosukowonosraten merupakan kawasan Eks
Karisidenan Surakarta yang meliputi 6 Kabupaten dan 1 kota (Surakarta, Boyolali,
Sukoharjo, Karanganyar, Wonogiri, Sragen dan Klaten) ini memiliki latar
belakang sosial, ekonomi, budaya sama dan memiliki potensi beragam yang
terintegrasi dalam satu kawasan strategis, berpeluang pariwisata, perdagangan,
dan investasi menjadi nilai lebih bagi Kota Surakarta dibandingkan kota lainnya di
Jawa Tengah. Sarana dan prasarana yang sudah cukup terpenuhi serta dukungan
kualitas Sumber Daya Manusia yang terus berkembang menjadikan Kota
Surakarta sebagai daerah yang patut untuk diperhitungkan keberadaannya di
Indonesia.
        Sejak tahun 2003 Pemerintah Kota Surakarta telah memiliki Rencana
Strategis Daerah Tahun 2003-2008 yang dikuatkan melalui Peraturan Daerah
(Perda) Nomor 16 Tahun 2003 tentang Rencana Strategis Daerah. Beberapa
kebijakan penting dari bidang pembangunan Kota Surakarta yang diitegaskan
dalam Rencana strategis tersebut meliputi bidang hukum, bidang administrasi
umum, bidang ekonomi, bidang politik, bidang keamanan dan perlindungan
masyarakat, bidang agama, bidang pendidikan, bidang iptek, bidang kesehatan,
bidang sosial, bidang kebudayaan, bidang sumber daya dan lingkungan hidup,
bidang pembangunan sarana dan prasarana kota, dan bidang komunikasi dan
media massa.
        Dari rencana strategis yang telah direncanakan oleh Pemerintah Kota
Surakarta, sektor ekonomi khususnya investasi di Kota Surakarta menjadi suatu
topik    yang cukup menarik untuk dikaji lebih mendalam. Dengan dukungan
masyarakat yang multikultural dan pusat kebudayaan Jawa serta letak geografis
yang srategis sebagai daerah jalur transportasi antara Jawa Tengah dengan Jawa
Timur maka Kota Surakarta menjadi pilihan berbagai bidang investasi. Di bidang
investasi perdagangan misalnya, Pemerintah Surakarta mengarahkan pada
kegiatan produksi serta menjamin kelancaran arus distribusi barang dan jasa,
memperkuat daya saing, mampu memanfaatkan dan memperkuat pangsa pasar
dalam negeri maupun luar negeri, dan membentuk harga yang wajar serta
melindungi kepentingan konsumen. Arahan tersebut tentunya didukung dengan
potensi maupun struktur ekonomi Kota Surakarta yang memang bertumpu pada
sektor industri pengolahan, perdagangan, rumah makan, dan hotel.
        Selain sektor perdagangan dan industri sektor Pariwisata Kota Surakarta
juga menjadi potensi besar yang patut untuk diperhitungkan pula. Keberadaan aset
cagar budaya Keraton Kasunanan dan Pura Mangkunegaran dan Museum yang
berada di Surakarta tentunya dapat menjadikan bukti dari eksistensi Surakarta
sebagai kota budaya. Kalau mau kita sadari begitu banyak budaya kita yang
menjadi nilai jual untuk pariwisata, salah satunya adalah Malam 1 Suro atau
Tahun Baru Islam. Potensi tersebut belum diolah oleh Pemkot Surakarta secara
maksimal, seperti halnya di Bali dengan hari raya Nyepinya. Objek wisata lainnya
misalnya Taman Satwa Taru Jurug, Kawasan Balekambang, dan Kampung Batik
yang berada di Laweyan dan Kauman juga menjadi pendukung modal pariwisata
di Kota Surakarta. Dalam kebijakannya pula Pemerintah Kota Surakarta telah
mengarahkan investasi di bidang pariwisata ini kearah perbaikan kualitas obyek
dan daya tarik wisata, perbaikan pelayanan dan sarana prasarana wisata, dan
peluang investasi pembangunan di bidang pariwisata.
        Rencana strategis 2003-2008 Pemerintah Kota Surakarta ini telah
menunjukkan hasil yang menggembirakan. Terbukti pada tahun 2005 iklim
investasi di Surakarta sudah memperlihatkan perkembangannya. Munculnya
pasar-pasar modern diantaranya Solo Grand Mall, Singosaren Mall, Beteng Trade
Centre, serta Pusat Grosir Solo dan sekarang sudah mulai banyak dibangun
apartement di Kota Surakarta menjadi bukti konkrit dari berkembangnya iklim
investasi bidang ekonomi di Surakarta.
        Terjadinya kompetisi antar daerah pasca pemberlakuan sistem otonomi
daerah khususnya dalam mendapatkan pemasukan dari pendapatan daerah, maka
solusi ataupun penyelesaiannya adalah perlunya wawasan kewirausahaan dari
perekonomian suatu daerah nantinya. Untuk menarik investasi ke daerah maka
pimpinan daerah dan pemberdayaan masyarakat daerah.              Pemberdayaan
masyarakat di sektor bisnis dan usaha tentunya tidak dapat dilepaskan juga dari
peranan penanam modal yang akan membantu meningkatkan diperlukan adanya
debirokratisasi perizinan karena pada keselanjutannya penanam modal akan
menanamkan modalnya dengan mudah hanya dengan daerah yang memberikan
fasilitas dan kemudahan khususnya pada sektor pelayanan perijinan, jaminan
keamanan dan dukungan masyarakat setempat. Kemudahan perijinan menjadi
suatu hal yang dominan diperlukan karena dalam kebiasaannya birokrasi di negeri
ini masih sering terbiasa dengan mekanisme yang cukup berbelit-belit dan rawan
akan berbagai penyimpangan. Dalam pengalaman-pengalaman sebelumnya saja
untuk mengurus perijinan usaha minimal seorang penanam modal harus
memerlukan waktu kurang lebih 157 hari hukum (Sentosa Sembiring, 2007 : 89).
Hal inipun masih diperparah lagi dengan berbagai pungutan maupun retribusi
daerah yang sangat memberatkan penanam modal.
        Di sisi lain, dengan semakin terbukanya arus informasi para investor pun
secara jeli melihat peluang, apakah daerah tujuan investasi sudah memberikan
berbagai kemudahan dalam menjalankan kegiatan investasi. Selain itu, apakah
Peraturan Daerah (Perda) yang dikeluarkan oleh Pemerintah Daerah (Pemda) telah
memberikan ruang gerak investasi yang cukup leluasa ataukah cukup
memberatkan? Jika ruang gerak atau lebih tepatnya Pemerintah Daerah lewat
Perda yang dikeluarkan tidak memberatkan investor, maka investor akan datang
ke daerah. Dan sebaliknya, jika Perda yang ada cukup memberatkan, investor
akan berpikir ulang, apa manfaat yang bisa diperoleh dengan berinvestasi.
         Berbagai survei penelitian yang dilakukan pasca diterbitkannya Undang-
Undang Pemerintahan Daerah Nomor 32 Tahun 2004, tampak bahwa berbagai
kebijakan yang diterbitkan oleh Pemda, masih cukup banyak yang masih
memberatkan investor. Oleh karena itu, sesuai dengan kewenangan yang diberikan
peraturan perundang-undangan, Pemerintah Pusat dalam hal ini Departemen
Dalam Negeri telah membatalkan sejumlah Perda yang bertentangan dengan
Peraturan Perundangan yang lebih tinggi. Dilihat dari sudut pandang ini,
Pemerintah Pusat sebenarnya cukup proaktif dalam menggerakkan kegiatan
investasi.
         Pembangunan perekonomian Kota Surakarta akan terdukung dengan
berkembangnya sektor perdagangan, industri dan pergudangan yang merupakan
bidang usaha saling berhubungan, maka penulis tertarik untuk mengkaji lebih
lanjut harmonisasi Perda Kota Surakarta Nomor 9 Tahun 2003 tentang Ijin Usaha
Industri, Ijin Usaha Perdagangan, dan Tanda Daftar Gudang dengan peraturan
perundang-undangan bidang investasi. Oleh karena itu, penulis mengambil judul
penulisan     hukum:    “HARMONISASI           PERATURAN          PERUNDANG-
UNDANGAN            MENGENAI           PERIZINAN         DALAM         RANGKA
MENDORONG INVESTASI DI KOTA SURAKARTA”.


                             B. Perumusan Masalah
          Berdasarkan latar belakang dapat dirumuskan masalah :
1. Apakah sudah ada harmonisasi Peraturan Perundang-undangan mengenai
     perizinan ?
2. Bagaimana perkembangan investasi di Kota Surakarta periode 2004 – 2009 ?


                               C. Tujuan Penelitian
          Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.   Tujuan Objektif
     a. Untuk mengetahui secara jelas apakah sudah ada harmonisasi peraturan
        perundang-undangan mengenai perizinan dalam penelitian ini dikhususkan
        Perda Kota Surakarta Nomor 9 Tahun 2003 tentang Ijin Usaha Industri,
        Ijin Usaha Perdagangan dan Tanda Daftar Gudang dengan aturan bidang
        investasi dalam mendorong investasi di Kota Surakarta.
     b. Untuk mengetahui secara jelas bagaimana perkembangan investasi di Kota
        Surakarta periode 2004-2009.




2. Tujuan Subjektif
     a. Untuk memperluas dan mengaplikasikan pengetahuan penulis di bidang
        hukum administrasi negara khususnya berkaitan dengan harmonisasi
        aturan mengenai perizinan dalam mendorong investasi di Kota Surakarta.
     b. Untuk mengetahui data dan informasi sebagai bahan utama dalam
        menyusun karya ilmiah untuk memenuhi persyaratan yang diwajibkan
          dalam meraih untuk gelar sarjana di bidang hukum pada Fakultas Hukum
          Universitas Sebelas Maret.


                                D. Manfaat Penelitian
            Penelitian ini tentunya sangat diharapkan adanya manfaat dan kegunaan
yang dapat diambil dalam penelitian tersebut. Adapun manfaat yang didapat dari
penelitian ini adalah :
1.   Manfaat Teoritis
     a.     Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran bagi
            pengembangan ilmu, khususnya terkait dengan hukum perdata dan bagi
            hukum administrasi negara secara lebih luas.
     b.     Bagi Pemerintah Kota Surakarta, penelitian ini diharapkan dapat
            dipergunakan sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan kebijakan
            pengaturan perizinan dalam mendorong investasi di Kota Surakarta.
2.   Manfaat Praktis
     a. Hasil penelitian ini dapat dipergunakan untuk memberikan sumbangan
            ilmu pengetahuan dan sebagai referensi bagi para pihak yang ingin
            meneliti permasalahan yang sama, khususnya dalam menganalisis
            harmonisasi peraturan perizinan dalam mendorong investasi.
     b. Meningkatkan penalaran, membentuk pola pikir yang dinamis, dan
            mengaplikasikan ilmu yang diperoleh oleh penulis selama di bangku
            perkuliahan.


                                E. Metode Penelitian
            Penelitian hukum adalah suatu proses untuk menemukan aturan hukum,
prinsip-prinsip hukum, maupun doktrin-doktrin hukum guna menjawab isu yang
dihadapi (Peter Mahmud Marzuki, 2006 : 35).
            Di dalam penelitian ini penulis menggunakan metode penelitian sebagai
berikut :
1.   Jenis Penelitian
              Berdasarkan penulisan judul dan rumusan masalah, penelitian ini
     termasuk dalam kategori penelitian hukum normatif. Penelitian hukum
     normatif adalah penelitian hukum yang dilakukan dengan cara meneliti bahan
     pustaka atau bahan data sekunder, yang terdiri dari bahan hukum primer,
     bahan hukum sekunder, dan bahan hukum tersier (Soerjono Soekanto, 2006 :
     52). Bahan-bahan yang telah diperoleh tersebut disusun secara sistematis,
     dikaji, kemudian ditarik suatu kesimpulan dalam hubungannya dengan
     masalah yang diteliti.
              Penelitian hukum normatif disebut juga penelitian hukum doktrinal
     yang membatasi penelitiannya kepada kajian yang metode kepustakaan.
     Sebagai penelitian hukum normatif, penelitian ini mencakup penelitian
     investarisasi hukum positif, asas-asas hukum, penelitian hukum klinis,
     sistematika peraturan perundang-undangan, sinkronisasi suatu perundang-
     undangan, sejarah hukum dan perbandingan hukum. Oleh karena itu, titik
     berat akan lebih banyak menelaah dan mengkaji data sekunder yang diperoleh
     dari penelitian dan teori-teori para ahli sehingga tidak diperlukan penyusunan
     atau perumusan hipotesis (Amiruddin & Zainal Asikin, 2004 : 120-132).
2.   Sifat Penelitian
              Penelitian yang dilakukan oleh penulis adalah bersifat preskriptif.
     Sebagai penelitian yang bersifat preskriptif, memberikan ganbaran mengenai
     harmonisasi Perda dengan Peraturan perundang-undangan bidang investasi
     dalam mendorong investasi di Kota Surakarta (Peter Mahmud Marzuki, 2006
     : 22).


3.   Pendekatan Penelitian
              Nilai ilmiah dalam suatu penyusunan karya ilmiah yang berisi
     mengenai pembahasan dan pemecahan masalah terhadap legal issue yang
     diteliti sangat tergantung pada cara pendekatan (approach) yang digunakan
     (Johny Ibrahim, 2006: 299). Dalam penyusunan penelitian ini peneliti
     menggunakan        pendekatan   perundang-undangan      (statue    approach).
     Menggunakan metode pendekatan ini perlu untuk memahami hierarki dan
     asas-asas dalam peraturan perundang-undangan. Peraturan yang relevan
     dengan perizinan dalam mendorong investasi adalah Undang-Undang Nomor
     25 Tahun 2007 Tentang Penanaman Modal, Peraturan Presiden Nomor 27
     Tahun 2009 tentang Pelayanan Terpadu Satu Pintu di Bidang Penanaman
     Modal, Surat Keputusan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal No:
     57/SK/2004 dan Peraturan Daerah Nomor 9 Tahun 2003 tentang Ijin Usaha
     Industri, Ijin Usaha Perdagangan dan Tanda Daftar Gudang.
4.   Jenis Data
            Jenis data yang dipakai dalam penelitian ini adalah data sekunder,
     yaitu data atau fakta yang digunakan oleh seseorang secara tidak langsung
     dan diperoleh melalui bahan-bahan dokumen-dokumen, peraturan perundang-
     undangan, laporan, makalah, teori-teori, bahan–bahan kepustakaan, dan
     sumber-sumber tertulis lainnya yang berkaitan dengan harmonisasi peraturan
     perundang-undangan mengenai perizinan dalam mendorong investasi di Kota
     Surakarta.
5.   Sumber Data
            Sumber data yang digunakan dalam penelitian normatif adalah sumber
     data sekunder yang meliputi bahan-bahan kepustakaan yang dapat berupa
     dokumen, buku-buku laporan, arsip, dan literatur yang berkaitan dengan
     masalah yang diteliti.
     Sumber data sekunder yang dipergunakan dalam penelitian ini meliputi:
     a.   Bahan hukum primer
                  Bahan hukum primer adalah bahan-bahan hukum yang mengikat.
          Bahan hukum primer yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
          1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
          2) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1985 tentang Perindustrian.
          3) Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan
              Peraturan Perundang-Undangan.
          4) Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan
              Daerah.
          5) Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan
              Keuangan Antara Pemerintah Pusat dengan Pemerintahan Daerah.
          6) Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal.
          7) Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 27 Tahun 2009
              tentang Pelayanan Terpadu Satu Pintu di bidang Penanaman Modal.
          8) Peraturan Daerah Nomor 9 Tahun 2003 tentang Ijin Usaha
              Perdagangan, Ijin Usaha Industri, Ijin Usaha Pergudangan.
          9) Surat Keputusan Kepala BKPM No: 57/SK/2004 tentang Pedoman
              dan Tata Cara Permohonan Penanaman Modal yang Didirikan dalam
              rangka Penanaman Modal Dalam Negeri dan Penanaman Modal
              Asing.
          10) Bahan hukum sekunder
                       Bahan hukum sekunder merupakan bahan hukum yang
              memberikan penjelasan mengenai bahan primer, meliputi : buku-
              buku, karya ilmiah, internet, dan wawancara.
          11) Bahan hukum tersier
                       Bahan hukum tersier adalah bahan hukum yang memberikan
              petunjuk    maupun penjelasan terhadap bahan hukum primer dan
              sekunder, yaitu kamus.
6.   Teknik Pengumpulan Data
            Teknik pengumpulan data yang akan digunakan dalam penelitian ini
     adalah studi kepustakaan. Studi kepustakaan dilakukan dengan identifikasi
     literatur berupa peraturan perundang-undangan, buku-buku, dokumen resmi,
     makalah, dan sumber lainnya yang berkaitan dengan penelitian ini.


7.   Teknik Analisis Data
            Untuk memperoleh jawaban terhadap penelitian hukum ini, digunakan
     silogisme deduktif dengan metode :
     a.   Interpretasi gramatikal, yaitu memberikan arti kepada suatu istilah atau
          perkataan sesuai dengan bahasa sehari-hari. Jadi, untuk mengetahui
          makna ketentuan undang-undang, maka ketentuan undang-uandang itu
      ditafsirkan atau dijelaskan dengan menguraikannya menurut bahasa
      umum sehari-hari (Sudikno Mertokusumo, 2004 : 57).
 b.   Interpretasi sistematis, yaitu menafsirkan peraturan perundang-undangan
      dengan menghubungkannya dengan peraturan hukum atau undang-
      undang lain atau dengan keseluruhan sistem hukum (Sudikno
      Mertokusumo, 2004 : 59).
             Sebagai premis mayor maka digunakan peraturan perundang-
  undangan yaitu : Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang
  Pananaman Modal, Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang
  Pemerintah Daerah, Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang
  Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah,
  Peraturan Presiden Nomor 27 Tahun 2009 tentang Pelayanan Terpadu Satu
  Pintu di Bidang Penanaman Modal, Peraturan Daerah Kota Surakarta
  Nomor 9 Tahun 2003 tentang Ijin Usaha Industri, Ijin Usaha Perdagangan
  dan Tanda Daftar Gudang.
   Untuk premis minor adalah :
   1) Peraturan Perundang-undangan mengenai perizinan dalam rangka
         mendorong investasi di Kota Surakarta.
   2) Perkembangan investasi di Kota Surakarta periode 2004-2009.
             Dengan silogisme maka diperoleh jawaban masalah atau simpulan
   mengenai kesesuaian mekanisme perizinan yang diatur dalam Perda No 9
   Tahun 2003 tentang Ijin Usaha Industri, Ijin Usaha Perdagangan, dan Tanda
   Daftar Gudang dengan aturan investasi dalam mendorong investasi di Kota
   Surakarta.
                          F. Sistematika Penulisan
          Untuk memberi gambaran secara menyeluruh dari penulisan hukum
maka dibuat suatu sistematika penulisan hukum. Adapun sistematika penulisan
hukum ini terdiri dari 4 (empat) bab yang tiap-tiap bab terdiri dari sub-sub
bagian    yang dimaksudkan untuk memudahkan pemahaman               terhadap
keseluruhan hasil penelitian ini. Sistematika penulisan hukum tersebut adalah
sebagai berikut.
        Dalam bab I menguraikan Pendahuluan yang meliputi : latar belakang
masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, metode
penelitian yang digunakan dalam penelitian hukum ini dan tentang sistematika
penulisan hukumnya.
        Dalam bab II, diuraikan mengenai kerangka teoritis tentang hal-hal
yang berkaitan dengan masalah yang akan diteliti, yang meliputi : kerangka
teoritis tentang hal-hal yang berkaitan dengan masalah yang diteliti,yang
meliputi: teori hukum, teori mengenai investasi, kerangka pemikiran.
        Dalam bab III ini membahas mengenai : apakah sudah ada
harmonisasi peraturan perundang-undangan mengenai perizinan, bagaimana
perkembangan investasi di Kota Surkarta periode 2004-2009.
        Dalam bab IV menguraikan mengenai kesimpulan atas perumusan
masalah yang diteliti, dan kemudian uraian Penulis mengenai saran yang ingin
disampaikan berdasarkan jawaban yang diuraikan dalam kesimpulan.
        Daftar pustaka berisi berbagai sumber pustaka yang dikutip dalam
penulisan hukum ini.
                                    BAB II
                           TINJAUAN PUSTAKA


                              A. Kerangka Teori

1. Tinjauan Umum mengenai harmonisasi
          Pembentukan      peraturan    perundang-undangan       adalah    proses
  pembuatan peraturan perundang-undangan yang pada dasarnya dimulai dari
  perencanaan,   persiapan,   teknik penyusunan,      perumusan,    pembahasan,
  pengesahan, pengundangan dan penyebarluasan. Di antara rangkaian proses di
  atas ada proses yang tidak disebutkan secara tegas tetapi mempunyai peran
  yang sangat penting , yaitu proses pengharmonisasian. Dengan demikian,
  pengharmonisasian merupakan salah satu rangkaian proses pembentukan
  peraturan perundang-undangan. Proses pengharmonisasian dimaksudkan agar
  tidak terjadi atau mengurangi tumpang tindih peraturan perundang-undangan.
          Pemikiran      harmonisasi     bermula      dari    Rudolf      Stamler
  (http://www.legalitas.org/?q=node/216) yang mengemukakan bahwa konsep
  dan prinsip-prinsip hukum yang adil mencakup “harmonisasi” antara maksud,
  tujuan dan kepentingan individu dengan maksud, tujuan dan kepentingan
  masyarakat umum. Dengan kata lain, hukum akan tercipta baik apabila
  terdapat keselarasan antara maksud, tujuan dan kepentingan penguasa
  (pemerintah) dengan masyarakat. Di sisi lain, Badan Pembina Hukum
  Nasional Kementrian Hukum dan HAM (Kemenkumham), memberikan
  pengertian harmonisasi hokum sebagai kegiatan ilmiah untuk menuju proses
  pengharmonisasian (penyelarasan/kesesuaian/keseimbangan) hukum tertulis
  yang mengacu pada nilai-nilai filosofos, sosiologis, ekonomis dan yuridis.
   a. Harmonisasi secara vertikal yaitu proses penyelarasan peraturan
      perundang-undangan yang berada dibawah diselaraskan dengan aturan
      yang ada di atasnya. Misalnya Perda diharmonisasikan dengan undang-
      undang, undang-undang diharmonisasikan dengan Undang-Undang Dasar.
b. Harmonisasi secara horizontal yaitu proses penyelarasan peraturan
    perundang-undangan      yang    sejajar    tingkatannya.   Misalnya   Perda
    diharmonisasikan    dengan     Perda,     undang-undang    diharmonisasikan
    dengan undang-undang.
          Penempatan harmonisasi (secara vertikal dan horizontal) dalam
proses pembentukan Perda dilakukan terhadap peraturan perundang-undangan
yang lebih tinggi, sederajat, dan pada nilai-nilai yang hidup di masyarakat,
serta sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Dalam proses ini diperlukan
langkah harmonisasi Perda sehingga terbentuk Perda               yang mampu
menciptakan kondisi kehidupan yang selaras (law as tool of social harmony).
          Penyerahan sebagian besar kewenangan pemerintahan kepada
pemerintah daerah, telah menempatkan pemerintah daerah sebagai ujung
tombak pembangunan nasional, dalam rangka menciptakan kemakmuran
rakyat secara adil dan merata. Dalam kaitan ini peran dan dukungan daerah
dalam rangka pelaksanaan peraturan perundang-undangan (PUU) sangat
strategis, khususnya dalam membuat Peraturan Daerah (Perda) dan peraturan
daerah lainnya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Bahwa dalam rangka tertib administrasi penyusunan produk hukum daerah,
perlu dilakukan penyeragaman jenis dan produk hukum daerah. Selain Perda
seperti yang disebutkan di atas produk hukum daerah lainnya terdiri atas :
a. Peraturan Daerah;
b. Peraturan Kepala Daerah;
c. Peraturan Bersama Kepala Daerah;
d. Keputusan Kepala Daerah; dan
e. Instruksi Kepala Daerah.
(Sumber Permendagri No 15 Tahun 2006)
        Pasal 18 ayat (6) Undang-Undang Dasar 1945 menyatakan bahwa
pemerintah daerah berhak menetapkan peraturan daerah dan peraturan-
peraturan lain untuk melaksanakan otonomi daerah dan tugas pembantuan.
Dalam kaitan ini maka sistem hukum nasional memberikan kewenangan
atributif kepada daerah untuk menetapkan Perda dan peraturan daerah lainnya,
dan Perda diharapkan dapat mendukung secara sinergis program-program
Pemerintah di daerah.
        Perda sebagaimana PUU lainnya memiliki fungsi untuk mewujudkan
kepastian hukum (rechtszekerheid, legal certainty). Untuk berfungsinya
kepastian hukum PUU harus memenuhi syarat-syarat tertentu antara lain
konsisten dalam perumusan dimana dalam PUU yang sama harus terpelihara
hubungan sistematik antara kaidah-kaidahnya, kebakuan susunan dan bahasa,
dan adanya hubungan harmonisasi antara berbagai peraturan perundang-
undangan.
        Pengharmonisasian PUU memiliki urgensi dalam kaitan dengan asas
peraturan perundang-undangan yang lebih rendah tidak boleh bertentangan
dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi, sehingga hal yang
mendasar dalam penyusunan rancangan peraturan daerah adalah kesesuaian
dan kesinkronannya dengan PUU lainnya.
a. Aspek pengaturan Perda
   1) Kedudukan dan Landasan Hukum
        Sesuai asas desentralisasi daerah memiliki kewenangan membuat
        kebijakan daerah untuk mengatur urusan pemerintahannya sendiri.
        Kewenangan daerah mencakup seluruh kewenangan dalam bidang
        pemerintahan, kecuali bidang politik luar negeri, pertahanan,
        keamanan, yustisi, moneter dan fiskal nasional, dan agama yang diatur
        dalam ketentuan Pasal 10 ayat (3) Undang-Undang Nomor 32 Tahun
        2004 tentang Pemerintahan Daerah.
        Jenis dan hierarki Peraturan Perundang-undangan adalah sebagai
        berikut:
        a)   Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
        b) Undang-Undang atau Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-
             Undang;
        c)   Peraturan Pemerintah;
        d) Peraturan Presiden;
        e)   Peraturan Daerah.
    (Sumber UU No 10 Tahun 2004)
            Dalam rangka harmonisasi, asas hierarki dilaksanakan
   melalui pembatalan perda oleh Pemerintah apabila bertentangan
   dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi dan/atau
   bertentangan dengan kepentingan umum. Asas hierarki juga
   menimbulkan lahirnya hak untuk menguji Perda tersebut baik secara
   formal   (formele     toetsingsrecht)   maupun   material   (materiele
   toetsingsrecht). Hak menguji formal adalah wewenang untuk menilai
   apakah suatu produk hukum telah dibuat melalui cara-cara
   (procedure) sebagaimana telah ditentukan atau diatur dalam PUU,
   sedangkan hak menguji material adalah suatu wewenang untuk
   menyelidiki dan kemudian menilai, apakah suatu produk hukum isinya
   sesuai dengan PUU yang lebih tinggi derajatnya, serta apakah suatu
   kekuasaan tertentu (verordenende macht) berhak mengeluarkan suatu
   peraturan tertentu.
2) Materi Muatan Perda
            Materi muatan Peraturan Daerah telah diatur dengan jelas
   dalam Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan
   Peraturan Perundang-undangan dan Undang-Undang Nomor 32 Tahun
   2004 tentang Pemerintahan Daerah. Pasal 12 UU 10 Tahun 2004
   menyatakan : Materi muatan Peraturan Daerah adalah seluruh materi
   muatan dalam rangka penyelenggaraan otonomi daerah dan tugas
   pembantuan, dan menampung kondisi khusus daerah serta penjabaran
   lebih lanjut peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. Pasal 6
   UU Nomor 10 Tahun 2004 jo Pasal 138 UU Nomor 32 Tahun 2004,
   menentukan materi Perda harus memperhatikan asas materi muatan
   PUU antara lain asas keseimbangan, keserasian, dan keselarasan, dan
   yang terpenting ketentuan Pasal 7 ayat (4) dan ayat (5) UU Nomor 10
   Tahun 2004 jo Pasal 136 ayat (4) UU Nomor 32 Tahun 2004 bahwa
   materi Perda dilarang bertentangan dengan kepentingan umum dan
   atau peraturan PUU yang lebih tinggi. Dalam penjelasan Pasal 136
      ayat (4) UU Nomor 32 Tahun 2004 dijelaskan bahwa ”bertentangan
      dengan kepentingan umum” adalah kebijakan yang berakibat
      terganggunya kerukunan antar warga masyarakat, terganggunya
      pelayanan umum, dan terganggunya ketentraman atau ketertiban
      umum serta kebijakan yang bersifat diskriminatif.
   3) Urgensi Harmonisasi Perda dengan PUU Lain
              Harmonisasi PUU adalah proses yang diarahkan untuk
      menuju keselerasan dan keserasian antara satu PUU dengan PUU
      lainnya sehingga tidak terjadi tumpang tindih, inkonsistensi atau
      konflik atau perselisihan dalam pengaturan. Dalam kaitannya dengan
      sistem asas hierarki PUU sebagaimana yang telah dijelaskan
      sebelumnya maka proses tersebut mencakup harmonisasi semua PUU
      termasuk Perda baik secara vertikal maupun horisontal.
              Dalam     Undang-Undang      No.10      Tahun    2004   tentang
      Pembentukan Peraturan perundang-undangan terdapat rambu-rambu
      yang mengarahkan pada pentingnya harmonisasi PUU untuk semua
      jenis PUU termasuk Perda. Pasal 5 Undang-Undang No.10 Tahun
      2004    tentang    Pembentukan      Peraturan       perundang-undangan
      menentukan PUU dinilai baik apabila telah memenuhi asas peraturan
      perundang-undangan yang baik antara lain kejelasan tujuan,
      kesesuaian antara jenis dan materi muatan, dapat dilaksanakan,
      kedayagunaan dan kehasilgunaan, dan kejelasan rumusan.
              Proses harmonisasi memerlukan ketelitian, kecermatan, dan
      keakuratan dalam mengidentifikasikan PUU yang terkait, analisis
      norma-norma yang dinilai bersesuaian atau bertentangan, serta
      ketepatan dalam menentukan pilihan-pilihan politik hukum dalam hal
      ditemukan ketidakcocokan konsepsi rancangan dengan ketentuan PUU
      lain.
b. Permasalahan dalam Pembentukan Perda
         Beragamnya     pertimbangan    pembatalan     Perda    hingga   kini
   tampaknya belum ada data konkrit mengenai faktor-faktor penyebab
terjadinya disharmonisasi Perda dengan PUU. Namun demikian jika
dicermati kemungkinan besar dalam setiap pembentukan perda bermasalah
terdapat satu atau lebih persoalan sebagai berikut :
1) Daerah menganggap dengan tidak adanya kerangka acuan yang jelas
       dalam membentuk Perda maka pembentukan Perda mengabaikan
       ketentuan-ketentuan prinsip mengenai asas dan materi muatan
       Pembentukan Perda sebagaimana ditetapkan UU No.10 Tahun
    2004       dan UU No.32 Tahun 2004.
2) Daerah memahami prinsip-prinsip pengaturan penyusunan Perda
       sesuai UU Nomor 10 Tahun 2004 dan UU Nomor 32 Tahun 2004
       namun kurang kapasitas pengetahuan dan pengalaman dalam
       melakukan teknik-teknik perumusan norma yang dinilai tidak
       bertentangan dengan peraturan perundang-undangan.
3) Kurangnya pemahaman dikalangan penyusun perda mengenai teknik
       penyusunan peraturan daerah yang antara lain disebabkan oleh
       kurangnya     pengalaman      penyusun     perda   mengenai   ilmu
    pengetahuan        perundang-undangan dan teknik penyusunan perda
    sesuai ketentuan peraturan perundnag-undangan.
4) Langkah-langkah pembinaan yang dilakukan oleh instansi Pusat
       kepada aparatur pemerintah daerah dalam penyusunan Perda
       kemungkinan belum optimal dan belum merata.
5) Belum adanya kerangka acuan yang jelas bagi daerah mengenai tata
       laksana harmonisasi Raperda sebagai salah satu instrumen penting
       dalam rangka menjaga harmonisasi Perda dengan PUU. Perpres
       tentang Tata Cara Mempersiapkan Perda hingga kini belum
       ditetapkan.
6) Bentuk-bentuk hubungan komunikasi, konsultasi, klarifikasi Raperda
       antara instansi Pemerintah dengan aparat terkait di daerah yang
       selama ini diterapkan kemungkinan kurang efektif.
7) Peran Gubernur dalam membina dan mengawasi penyelenggaraan
       pemerintahan kabupatan/kota kemungkinan belum optimal.
2.   Tinjauan Umum mengenai Pemerintahan Daerah
               Substansi Pemerintahan Daerah adalah pelaksanaan fungsi-fungsi
     pemerintahan daerah yang dilakukan oleh lembaga pemerintahan daerah yaitu
     Pemerintah Daerah dan Dewan Perwakilan Daerah (DPRD).
     a.   Pengertian tentang Pemerintah Daerah
                  Pemerintahan Daerah adalah hal yang universal karena dapat
          ditemukan baik pada    negara yang berbentuk federal maupun negara
          kesatuan (Rod Hague dan Martin Harrop, 2001: 211). Kedudukan
          pemerintah daerah dalam sistem negara kesatuan adalah subdivisi
          pemerintahan nasional. Pemerintah Daerah adalah Gubernur, Bupati, atau
          Walikota, Perangkat Daerah sebagai unsur penyelenggara pemerintahan
          daerah. Kepala Daerah dalam melaksanakan tugasnya dibantu oleh
          seorang Wakil Kepala Daerah, dan Perangkat Daerah.
                  Gubernur sebagai Kepala Daerah Provinsi berfungsi pula selaku
          Wakil Pemerintah di daerah dalam pengertian untuk menjembatani dan
          memperpendek rentang kendali pelaksanaan tugas dan fungsi Pemerintah
          termasuk dan pembinaan dan pengawasan terhadap        penyelenggaraan
          urusan pemerintahan pada strata pemerintahan kabupaten dan kota.
          Hubungan antara Pemerintah Daerah dan DPRD merupakan hubungan
          kerja yang kedudukannya setara dan bersifat kemitraan. Kedudukan yang
          setara bermakna bahwa antara lembaga pemerintahan daerah itu memiliki
          kedudukan yang sejajar, artinya tidak saling membawahi. Hal ini
          tercermin dalam membuat kebijakan daerah berupa Perda. Hubungan
          kemitraan bermakna bahwa antara Pemerintah Daerah dan DPRD adalah
          sama-sama mitra kerja dalam membuat kebijakan daerah untuk
          melaksanakan otonomi daerah sesuai dengan fungsi masing-masing
          sehingga antar kedua lembaga itu membangun suatu hubungan kerja yang
          sifatnya saling mendukung bukan merupakan lawan ataupun pesaing satu
          sama lain dalam melaksanakan fungsi masing-masing.
          1) Kepala Daerah
          Setiap daerah dipimpin oleh Kepala Daerah yang disebut
   Kepala Daerah. Kepala Daerah yang dimaksud untuk daerah Provinsi
   disebut Gubernur, untuk kabupaten disebut Bupati, dan untuk kota
   disebur    Walikota.    Jabatan   Kepala    Daerah   selaku   Kepala
   Pemerintahan Daerah sangatlah strategis, karena memegang peran
   sentral dalam alokasi sumber daya daerah. Oleh karena itu, sangatlah
   perlu semacam jaminan bahwa Kepala Daerah akan melaksanakan
   prinsip-prinsip tata penyelengaraan pemerintahan yang baik dan
   bersih (good and clean government). Kepala Daerah mempunyai
   kewajiban     juga     untuk   memberi     laporan   penyelenggaraan
   pemerintahan daerah kepada Pemerintah, dan memberikan laporan
   keterangan      pertanggungjawaban         kepada    DPRD,     serta
   mnginformasikan laporan penyelenggaraan kepada masyarakat.
   Yang dimaksud menginformasikan dalam ketentuan ini dilakukan
   melalui media yang tersedia di daerah dan dapat diakses oleh publik
   sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
2) Wakil Kepala Daerah
             Di masa lalu, tugas seorang Wakil Kepala Daerah hanya
   digariskan secara umum, yaitu membantu tugas Kepala Daerah, atau
   menggantikan tugas Kepala Daerah apabila Kepala Daerah
   berhalangan. Oleh karena itu muncul ironi bahwa seorang Wakil
   Kepala Daerah hanya bertugas sebagi “ban serep”. Wakil Kepala
   Daerah bertanggung jawab kepada Kepala Daerah. Prosedur seperti
   berarti bahwa tugas-tugas seorang Wakil Kepala Daerah berada
   dalam satu kesatuan yang utuh dan sinergis dengan tugas-tugas
   Kepala Daerah, yang kelak dipertanggungjawabkan secara bersama
   kepada DPRD. Wakil Kepala Daerah untuk Provinsi disebut Wakil
   Kepala Gubernur, untuk kabupaten disebut Bupati dan untuk kota
   disebut Wakil Walikota.
3) Perangkat Daerah
         Perangkat Daerah adalah organisasi atau lembaga pada
Pemerintah Daerah yang bertanggungjawab kepada Kepala Daerah
dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan di daerah. Dalam
penyelenggaraan daerah, Kepala Daerah dibantu oleh Perangkat
Daerah. Secara umum perangkat daerah terdiri dari unsur staff yang
membantu penyusunan kebijakan dan koordinasi, diwadahi dalam
lembaga sekretariat, unsur pendukung tugas Kepala Daerah dalam
penyusunan dan pelaksanaan kebijakan daerah yang bersifat spesifik,
diwadahi dalam lembaga dinas daerah. Pada daerah Provinsi,
Perangkat Daerah terdiri atas Sekretariat Daerah, Dinas Daerah, dan
Lembaga Teknis Daerah. Pada derah Kabupaten/Kota, Perangkat
Daerah terdiri atas Sekretariat Daerah, Dinas Daerah, Lembaga
Teknis Daerah, Kecamatan dan Kelurahan. Perangkat Daerah
dibentuk oleh masing-masing daerah berdasarkan pertimbangan
karakteristik, potensi dan kebutuhan daerah. Organisasi Perangkat
Daerah ditetapkan dengan Peraturan Daerah setempat, potensi, dan
kebutuhan daerah.
         Untuk lebih mengerti mengenai beberapa perangkat daerah
sebagai komponen pelaksana Pemerintahan di daerah berikut ini
diuraikan secara lebih rinci jelasnya :


a) Sekretariat Daerah.
              Sekretariat Daerah (Setda) adalah unsur pembantu
    pimpinan Pemerintah Daerah, yang dipimpin oleh Sekretaris
    Daerah (disingkat Sekda). Sekretaris Daerah bertugas membantu
    kepala      daerah     dalam      menyusun   kebijakan     dan
    mengkoordinasikan dinas daerah dan lembaga teknis daerah.
    Dalam pelaksanaan tugas dan kewajibannya, sekretaris daerah
    bertanggung jawab kepada Kepala Daerah. Sekretaris Daerah
    diangkat dari Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang memenuhi
    persyaratan. Sekretaris Daerah karena kedudukannya sebagai
pembina PNS di daerahnya. Sekretaris Daerah dapat disebut
jabatan paling puncak dalam pola karier PNS di Daerah.
Sekretaris Daerah ini dapat diklasifikasikan menjadi dua
tingkatan yaitu :
(1) Sekretariat Daerah Provinsi (Setdaprov)
               Sekretariat Daerah Provinsi (Setdaprov)merupakan
    unsur pembantu pimpinan Pemerintah Provinsi yang
    dipimpin oleh Sekretaris Daerah, berada di bawah dan
    bertanggung jawab kepada Gubernur. Sekretariat Daerah
    Propinsi        bertugas    membantu      Gubernur   dalam
    melaksanakan        tugas   penyelenggaraan   pemerintahan,
    administrasi, organisasi dan tata laksana serta memberikan
    pelayanan administrasi kepada seluruh Perangkat Daerah
    Provinsi. Sekretaris Daerah untuk provinsi diangkat dan
    diberhentikan oleh Presiden atas usul Gubernur. Sekretaris
    Daerah dibantu oleh beberapa asisten. Sekretariat Daerah
    Provinsi terdiri atas sebanyak-banyaknya 2 Asisten, dimana
    Asisten masing-masing terdiri dari 3 biro.
(2) Sekretariat Daerah Kabupaten/Kota
               Sekretariat Daerah Kabupaten/Kota merupakan
    unsur pembantu pimpinan Pemerintah Kabupaten/Kota
    yang dipimpin oleh Sekretaris Daerah, berada di bawah dan
    bertanggung jawab kepada Bupati/Walikota. Sekretariat
    Daerah Kabupaten/Kota bertugas membantu Gubernur
    dalam melaksanakan tugas penyelenggaraan pemerintahan,
    administrasi, organisasi dan tata laksana serta memberikan
    pelayanan administrasi kepada seluruh Perangkat Daerah
    Kabupaten/Kota. Sekretaris Daerah untuk kabupaten/kota
    diangkat dan diberhentikan oleh Gubernur atas usul
    Bupati/Walikota. Sekretariat Daerah Kabupaten/Kota terdiri
                atas sebanyak-banyaknya 3 Asisten; dimana Asisten
                masing-masing terdiri dari sebanyak-banyaknya 4 bagian.
3.   Dinas Daerah
                Dinas Daerah adalah unsur pelaksana Pemerintah Daerah.
     Daerah dapat berarti Provinsi, Kabupaten, atau Kota. Dinas Daerah
     menyelenggarakan fungsi: perumusan kebijakan teknis sesuai
     dengan lingkup tugasnya, pemberian perijinan dan pelaksanaan
     pelayanan umum, serta pembinaan pelaksanaan tugas sesuai dengan
     lingkup tugasnya. Lingkup tugas Dinas daerah ini dibedakan
     menjadi:
     (1) Dinas Daerah Provinsi
                   Dinas Daerah Provinsi merupakan unsur pelaksana
         Pemerintah Provinsi dipimpin oleh seorang Kepala yang berada
         di bawah dan bertanggung jawab kepada Gubernur melalui
         Sekretaris Daerah Provinsi. Dinas Daerah Provinsi mempunyai
         tugas melaksanakan kewenangan desentralisasi dan dapat
         ditugaskan untuk melaksanakan penyelenggaraan wewenang
         yang dilimpahkan oleh Pemerintah Pusat kepada Gubernur
         selaku Wakil Pemerintah dalam rangka dekonsentrasi.
                   Untuk melaksanakan kewenangan Provinsi di Daerah
         Kabupaten/Kota, dapat dibentuk Unit Pelaksana Teknis Dinas
         Daerah (UPTD) provinsi yang wilayah kerjanya meliputi satu
         atau     beberapa   Daerah   Kabupaten/Kota.   UPTD     tersebut
         merupakan bagian dari Dinas Daerah Provinsi.
                   Dinas Daerah Provinsi sebanyak-banyaknya terdiri atas
         10 Dinas, dan khusus untuk Provinsi DKI Jakarta sebanyak-
         banyaknya terdiri atas 14 Dinas. Setiap Daerah memiliki
         karakteristik yang berbeda-beda, sehingga penamaan atau
         nomenklatur Dinas Daerah dapat berbeda di tiap-tiap Provinsi.
     (2) Dinas Daerah Kabupaten/Kota
                   Dinas      Daerah Kabupaten/Kota     merupakan   unsur
          pelaksana Pemerintah Kabupaten/Kota dipimpin oleh seorang
          Kepala yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada
          Bupati/Walikota melalui Sekretaris Daerah. Dinas Daerah
          Kabupaten/Kota mempunyai tugas melaksanakan kewenangan
          desentralisasi.
                   Pada Dinas Daerah Kabupaten/Kota dapat dibentuk
          Unit Pelaksana Teknis Dinas Daerah (UPTD) Kabupaten/Kota
          untuk melaksanakan sebagian tugas Dinas yang mempunyai
          wilayah kerja satu atau beberapa kecamatan.Dinas Daerah
          Kabupaten/Kota sebanyak-banyaknya terdiri atas 14 Dinas, dan
          khusus untuk Provinsi DKI Jakarta sebanyak-banyaknya terdiri
          atas 14 Dinas. Setiap Daerah memiliki karakteristik yang
          berbeda-beda, sehingga penamaan atau nomenklatur Dinas
          Daerah dapat berbeda di tiap-tiap Kabupaten/Kota.
c. Lembaga Teknis Daerah
          Lembaga Teknis Daerah adalah unsur pelaksana Pemerintah
  Daerah. Daerah dapat berarti Provinsi, Kabupaten, atau Kota. Untuk
  daerah Provinsi, Lembaga Teknis Daerah dipimpin oleh seorang Kepala
  yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Gubernur melalui
  Sekretaris Daerah. Demikian pula untuk daerah Kabupaten/Kota,
  Lembaga Teknis Daerah dipimpin oleh seorang Kepala yang berada di
  bawah dan bertanggung jawab kepada Bupati/Walikota melalui
  Sekretaris   Daerah.      Lembaga   Teknis   Daerah   mempunyai   tugas
  melaksanakan tugas tertentu yang karena sifatnya tidak tercakup oleh
  Sekretariat Daerah dan Dinas Daerah dalam lingkup tugasnya. Tugas
  tertentu tersebut meliputi: bidang penelitian dan pengembangan,
  perencanaan, pengawasan, pendidikan dan pelatihan, perpustakaan,
  kearsipan dan dokumentasi, kependudukan, dan pelayanan kesehatan.
  Lembaga Teknis Daerah menyelenggarakan fungsi: perumusan kebijakan
  teknis sesuai dengan lingkup tugasnya, serta penunjang penyelenggaraan
   pemerintahan Daerah. Lembaga Teknis Daerah dapat berbentuk Badan,
   Kantor, dan Rumah Sakit. Contoh Lembaga Teknis Daerah adalah:
   Badan      Perencanaan    Pembangunan      Daerah     (Bappeda),   Badan
   Kepegawaian Daerah (BKD), Badan Pelayanan Kesehatan Rumah Sakit
   Daerah,       serta    Kantor     Satuan     Polisi     Pamong     Praja
   (http://www.w3c.org/TR/1999/REC-html401-19991224/loose.dtd).


b. Dewan Perwakkilan Rakyat Daerah (DPRD)
             Menurut Pasal 40 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004
  tentang Pemerintahan Daerah, DPRD merupakan lembaga perwakilan
  rakyat dan berkedudukan sebagai unsur penyelenggara Pemerintahan
  Daerah. Pasal 41 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 menetapkan
  bahwa DPRD memiliki fungsi legislasi, anggaran, dan pengawasan.
  DPRD melakukan fungsi kontrol terhadap kebijakan yang diambil Kepala
  Daerah berdasarkan hak-hak yang dipunyai, yaitu Hak Interpelasi, Hak
  Angket, Hak Manyatakan Pendapat.
  1) Hak Interpelasi :hak DPRD untuk meminta keterangan kepada Kepala
             Daerah mengenai kebijakan Pemerintah Daerah yang penting dan
             strategis yang berdampak luas pada kehidupan masyarakat,
             daerah dan negara.
  2) Hak Angket : pelaksanaan fungsi pengawasan DPRD dalam
             melakukan pnyidikan terhadap suatu kebijakan dari Kepala
             Daerah yang penting dan strategis dan berdampak luas kepada
             kehidupan masyarakat,    daerah dan negara       yang diduga
             bertentangan dengan peraturan perundang-undangan .
  3) Hak Menyatakan Pendapat : hak DPRD untuk menyatakan pendapat
             terhadap kebijakan Kepala Daerah atau kejadian biasa yang
             terjadi di daerah desertai dengan rekomendasi penyelesaiannya
             atau sebagai tindak lanjut pelaksanaan hak interpelasi dan hak
             angket.
3.    Tinjauan Umum mengenai Investasi
              Dalam berbagai kepustakaan ilmu hukum dapat ditemui istilah
     penanaman modal secara langsung dan tidak langsung. Jika ditelusuri lebih
     lanjut   paling tidak di Indonesia, keduanya muncul ketika pemerintah
     menerbitkan Undang-undang Nomor 1 Tahun 1967 tentang Penanaman
     Modal Asing (UUPMA) dan Undang-undang Nomor 6 tahun 1968 tentang
     Penanaman Modal Dalam Negeri (UUPMDN).
              Untuk mengetahui, apakah ada perbedaan makna antara penanaman
     modal dengan investasi, berikut dikutip berbagai pengertian investasi :
     Istilah Keuangan dan Investasi digunakan istilah investment (investasi) yang
     mempunyai arti :
     “Penggunaan modal untuk menciptakan uang, baik melalui sarana yang
     menghasilkan pendapatan maupun melalui ventura yang lebih berorientasi ke
     resiko yang dirancang untuk mendapatkan modal. Investasi dapat pula berarti
     menunjuk ke suatu investasi keuangan (dimana investor menempatkan uang
     kedalam suatu negara) atau menunjuk ke investasi suatu usaha atau waktu
     seseorang yang ingin menarik keuntungan dari keberhasilan pekerjaannya”.
              Ensiklopedi Ekonomi Keuangan Perdagangan, dijelaskan dengan
     istilah investment atau investasi, penanaman modal digunakan untuk :
     “Penggunaan atau pemakaian sumber-sumber ekonomi untuk produksi
     barang-barang produsen atau barang-barang konsumen. Dalam arti yang
     semata-mata bercorak keuangan, investment mungkin penempatan dana-dana
     dalam suatu perusahaan selama jangka waktu yang relatif panjang, supaya
     memperoleh suatu hasil yang teratur dengan maksimum keamanan”.
              Kamus Ekonomi dikemukakan, investment (investasi) mempunyai 2
     makna yaitu :
     “Pertama investasi berarti pembelian saham, obligasi dan benda-benda tidak
     bergerak, setelah dilakukan analisa akan menjamin modal yang dilekatkan
     dan memberikan hasil yang memuaskan. Faktor-faktor tersebut membedakan
     investasi dengan spekulasi. Kedua dalam teori ekonomi investasi berarti
pembelian alat produksi (termasuk di dalamnya benda-benda untuk dijual)
dengan modal berupa uang”.
           Hukum Ekonomi digunakan terminologi, investment, penanaman
modal, investasi yang berarti penanaman modal yang biasanya dilakukan
untuk jangka panjang misalnya berupa pengadaan aktiva tetap perusahaan
atau membeli sekuritas dengan maksud untuk memperoleh keuntungan.
           Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) disebutkan, investasi berarti
pertama, penanaman uang atau modal di suatu perusahaan atau proyek untuk
tujuan memperoleh keuntungan. Dan kedua, jumlah uang atau modal yang
ditanam.
           Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal
(UUPM) dikemukakan, penanaman modal adalah segala bentuk kegiatan
penanaman modal, baik oleh penanam modal dalam negeri maupun penanam
modal asing untuk melakukan usaha di wilayah Negarah Republik Indonesia
           Dari berbagai pengertian investasi seperti dikutip diatas, tampak
bahwa tidak ada perbedaan yang prinsipil antara investasi dengan penanaman
modal. Makna dari investasi atau penanaman modal adalah kegiatan yang
dilakukan seseorang atau badan hukum, menyisihkan sebagian pendapatannya
agar dapat digunakan untuk melakukan suatu usaha dengan harapan pada
suatu waktu tertentu akan mendapatkan hasil (keuntungan). Pengertian
Investasi adalah penanaman modal yang dilakukan oleh investor, baik
investor asing maupun domestik dalam berbagai bidang usaha yang terbuka
untuk investasi, dengan tujuan untuk memperoleh keuntungan.
           Untuk penulisan ini, kedua istilah tersebut akan digunakan secara
bergantian sesuai dengan konteks istilah apa yang dianggap paling tepat
digunakan. Secara yuridis formal istilah yang digunakan adalah Penanaman
Modal, namun dalam bahasa sehari-hari sering digunakan istilah investasi.
Istilah investasi dan penanaman modal merupakan istilah-istilah yang dikenal,
baik dalam kegiatan bisnis maupun dalam bahasa perundang-undangan.
Istilah investasi lebih populer dalam dunia usaha, istilah penanaman modal
lebih banyak digunakan dalam bahasa perundang-undangan. Di kalangan
     masyarakat luas kata investasi mempunyai pengertian yang lebih luas karena
     dapat mencakup baik investasi langsung (direct investment) maupun investasi
     tidak langsung ( portofolio investment), sedangkan penanaman modal lebih
     mempunyai konotasi kepada investasi langsung.


4.   Teori Hukum
             Pendekatan dari segi teori hukum (dalam arti luas) membagi ilmu
     hukum atas tiga lapisan utama, yakni dogmatik hukum, teori hukum (dalam
     arti sempit), dan filsafat hukum. Ketiga lapisan tersebut dalam penelitian dan
     praktek hukum membawa konsekuensi berbeda, karena masing-masing
     memiliki metode yang khas dengan sendirinya juga memiliki metode yang
     khas. Ketidakpahaman dari aspek teori hukum menyebabkan seseorang
     peneliti dikacaukan dengan beberapa peristilahan.
             Secara umum dapat dijelaskan bahwa hubungan antara dogmatik
     hukum, teori hukum (dalam arti sempit), dan filsafat hukum. Dogmatik
     hukum mempelajari peraturan dari segi teknis yuridis dan berbicara hukum
     dari segi hukum yang konkret, aktual, maupun potensial, serta melihat hukum
     dari perspektif internal. Sementara itu, lapisan teori hukum merupakan
     refleksi terhadap teknik hukum, tentang cara seorang ahli hukum berbicara
     hukum dan melihat hukum dari perspektif yuridis ke dalam bahasa non
     yuridis, sekaligus tentang alasan pembenaran terhadap hukum yang ada. Pada
     masa lalu teori hukum sering juga dinamakan ajaran hukum (rechtsleer) yang
     tugasnya, antara lain menerangkan berbagai pengertian dan istilah-istilah
     dalam hukum, menyibukkan diri dengan hubungan antara hukum dan logika,
     dan menyibukkan dengan metodologi. Pada satu sisi teori hukum
     mengandung filsafat ilmu dari ilmu hukum, sedangkan pada sisi lain teori
     hukum merupakan ajaran metode untuk praktik hukum. Di dalamnya, teori
     hukum mengarahkan perhatiannya pada pembentukan hukum (perundang-
     undangan) dan penemuan hukum (ajaran interpretasi).
             Kajian ilmiah teori hukum adalah analisis bahan hukum, metode, dan
     kritik ideologikal terhadap hukum. Analisis hukum di sini dimaksudkan
     bahwa menganalisis pengertian hukum, asas hukum, kaidah hukum, sistem
     hukum, dan berbagai konsep yuridis, seperti konsep yuridis tentang subjek
     hukum, objek hukum, perjanjian, perikatan, hubungan kerja, perbuatan
     melanggar hukum, delik dan sebagainya. Sedangkan metodologi hukum
     meliputi epistimologi hukum, metode penelitian dalam ilmu hukum dan teori
     hukum, metode pembentukan hukum, metode penerapan hukum, metode
     penemuan hukum, teori argumentasi hukum (penalaran hukum), dan ilmu
     perundang-undangan. Dalam teori hukum, kritik ideologikal terhadap hukum
     adalah menganalisis kaidah hukum untuk mengungkapkan kepentingan
     ideologi yang melatarbelakanginya.


5.   Teori umum mengenai Investasi
              Di era masa kini arus pergerakan modal dari satu tempat ke tempat
     lain begitu cepat. Hal ini dapat dimaklumi mengingat berbagai informasi
     dapat diakses dengan cepat pula. Demikian juga halnya bagaimana peluang
     investasi di tempat lain dapat diketahui dengan cepat. Jika demikian halnya,
     apa alasan yang mendasari para investor mau menanamkan modalnya keluar
     negeri? Untuk menjawab pertanyaan ini, dalam berbagai kepustakaan hukum
     investasi yang mencoba menjelaskan apa alasan pihak nvestor melakukan
     investasi keluar negeri. Demikian juga apa alasannya negara mau menerima
     dan bahkan mengundang investor asing masuk ke negaranya. Adapun
     berbagai teori tentang investasi antara lain dikemukakan oleh :
     a.   Muhammad Zaidun, mengemukakan : dalam ilmu hukum investasi ada
          varian pemikiran dalam memahami kebijakan investasi yang dapat dipilih
          menjadi dasar pertimbangan/kebijakan hukum investasi dari sisi
          kepentingan negara penerima modal (host country), yakni Pertama: Neo
          Classical Economic Theory. Teori ini sangat ramah dan menerima
          dengan tangan terbuka terhadap masuknya investasi       asing,   karena
          investasi asing dianggap sangat bermanfaat bagi host country; Kedua,
          Dependensy Theory. Teori ini menolak masuknya investasi asing dapat
          mematikan investasi domestik serta mengambil alih posisi dan peran
     investasi domestik dalam perkonomian nasional. Investasi asing juga
     dianggap banyak menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat baik
     terhadap pelanggaran. Hak-Hak Asasi Manusia (HAM) ataupun
     linkungan; Ketiga, pandangan yang mewakili kelompok ” jalan tengah”
     yang lebih dikenal dengan the middle path theory. Penganut teori ini
     memandang investasi asing selain bermanfaat (positif) juga menimbulkan
     dampak (negatif), karena itu negara harus berperan untuk mengurangi
     dampak negatif malalui berbagai kebijakan hukum yang diterapkan
     antara lain melalui panapisan (screening) dalam perijinan dan upaya
     sungguh-sungguh dalam penegakan hukum.
b.   Oentoeng Soeropati, mengemukakan untuk mengetahui gejala atau
     kegiatan investasi asing ada sejumlah teori yang dapat digunakan   antara
     lain :
     1) Teori Siklus Kehidupan Produk, product life cycle theory yang
          dipelopori oleh Raymond Vernon, 1996 dan L.T.Well, 1969.
          Menurut penganut teori ini perdagangan internasional dilakukan
          beberapa tahapan.
     2) Teori Pertumbuhan Modal, yang sering juga disebut sebagai teori
          klasik. Tokoh-tokohnya antara lain: (1) Adam Smith yang
          mengemukakan perkembangan ekonomi memerlukan spesialisasi
          atau pembagian kerja; (2) David Richardo, pemerintah tidak boleh
          mencampuri kegiatan perdagangan dan investasi dan harus selalu
          mengupayakan pasar yang bebas.
     3) Teori lingkaran setan, visciocus circle yang dipelopori oleh Ragner
          Nuske. Menurut penganut teori ini, paling tidak ada dua lingkaran
          penyebab terjadi investasi yakni, pertama kurangnya modal,
          pendapatan dan tabungan. Hal ini juga terjadi karena kecilnya
          investasi pemerintah. Peluang investasi swasta sempit.
     4) Teori dorongan besar, big push yang dipelopori oleh PN. Rodan
          1961. Menurut penganut paham ini, investasi hanya bisa berjalan jika
          pemerintah menyediakan dana yang besar.
     5) Teori tahapan pertumbuhan yang dipelopori oleh W.W.Rostow.
         Menurut penganut paham ini perkembagan ekonomi suatu negara
         melalui beberapa tahapan. Untuk itu tidak terlalu dipersoalkan antara
         investasi pemerintah dan swasta.
     6) Teori Neoklasik yang dipelopori oleh Kaplinsky, 1984. Menurut
         penganut paham ini, investasi asing diperlukan dalam upaya
         pengembangan perdagangan dan pembangunan di suatu negara.
     7) Teori organisasi industri. Menurut teori ini investasi asing juga bisa
         dianggap sebagai suatu pengorganisasian industri (industrial
         organization) oleh suatu perusahaan ke luar negeri.
c.   Panji Anaraga mengemukakan, apa alasan yang mempengeruhi
     penanaman modal asing mau menanamkan modalnya di luar negeri, ada
     beberapa teori yang bisa memberikan jawaban terhadap ini, antara lain:
     1) Faktor lingkungan dan internalisasi yang dipelopori oleh Alan M.
         Rugman. menurut penganut paham ini, paling tidak ada 3 jenis
         variabel lingkungan yang menjadi perhatian penanam modal yakni,
         Pertama: ekonomi, Dalam hal ini pemodal mencoba melihat
         keterkaitan antara modal, tenaga kerja. Selain itu juga dikaitkan
         dengan teknologi, sumber daya alam yang tersedia dan sumber daya
         manusia; dan Kedua: Non ekonomi, dalam hal ini dianalisis dengan
         situasi lingkungan budaya, kondisi sosial politik negara tujuan
         berinvestasi; dan Ketiga adalah Pemerintahan, dalam hal ini coba
         dianalisis sampai seberapa jauh campur tangan pemerintah dalam
         bisnis   internasional.   Selain   faktor   lingkungan   juga   dilihat
         internalisasi atau keunggulan dari perusahaan penanam modal.
         Dengan mengetahui keunggulan sendiri, persaingan dalam berbisnis
         dapat dimenangkan.
     2) Teori siklus produk yang dipelopori oleh Vernon. Menurut panganut
         pandangan ini, siklus produk mengikuti tahapan-tahapan tertentu.
         Produk baru merupakan hasil dari kegiatan penelitian dan
         pengembangan oleh perusahaan yang bersangkutan.
         Dari berbagai teori investasi sebagaimana yang dikemukakan oleh
para ahli di atas tampak bahwa, investor dalam menanamkan modalnya di
luar negeri selain ada faktor kemudahan yang diberikan oleh negara tuan
rumah penerima modal juga faktor internal atau dalam negeri pemodal
tersebut, antara lain bahan baku semakin sempit. Selain itu, investor juga
ingin memperluas pemasaran produksi lebih luas. Oleh karena itu, perlu dicari
alternatif   lain yakni melakukan ekspansi keluar negeri. Dalam suasana
seperti ini, sangat ideal jika kedua belah pihak yakni investor maupun negara
penerima modal mendapatkan manfaat dengan kehadiran investor di negara
penerima modal.


                       B. Kerangka Pemikiran

                                   UUD 1945


                           UU No 32 Tahun 2004
                           UU No.33 Tahun 2004
                           UU No 10 Tahun 2004         harmonis
                           UU No 5 Tahun 1984
                           UU No 25 Tahun 2007


                   Peraturan Presiden No 27 Tahun 2009




    Surat Keputusan Kepala BKPM                  Perda No. 9 Tahun 2003
      Nomor: 57/SK/2004
                                 Investasi
                      Gambar 1. Kerangka Pemikiran


Keterangan Bagan :
        Pemberlakuan Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang
Pemerintahan Daerah, telah membuka kembali jalan bagi daerah-daerah untuk
mengatur dirinya sendiri dalam bidang-bidang tertentu, seperti sosial,
ekonomi, dan kebudayaan, yang selama ini diatur oleh pusat. Otonomi lebih
dilihat sebagai sebuah proses peralihan dari pusat ke daerah-daerah yang
otonom. Agar tujuan utama otonomi daerah tercapai, maka diperlukan
instrumen untuk menjadi sumber legitimasi dalam membentuk kebijakan
publik. Dalam hal ini, Peraturan Daerah (Perda) merupakan produk hukum
lokal diharapkan mampu menjadi sarana untuk menjamin kepastian hukum
dan ketertiban hukum bagi penyelenggaraan pemerintahan daerah. Secara
konkrit, Bagir Manan (1994: 17-22) menunjuk Perda sebagai salah satu
bentuk peraturan perundang-undangan mengemban 4 (empat) fungsi sebagai
berikut: (1) Fungsi penciptaan hukum; (2) Fungsi pembaruan hukum; (3)
Fungsi integrasi pluralisme sistem hukum; dan (4) Fungsi kepastian hukum.
        Menurut Sanyoto Usman (2002:245), di dalam penyelenggaraan
otonomi daerah terdapat 4 (empat) pemegang peran (stakeholder) yaitu
pemerintah, komunitas politik, pelaku bisnis, dan masyarakat sipil. Fungsi
pemerintah, termasuk pemerintah daerah, adalah mengatur, memberi
pelayanan, dan memfasilitasi kebutuhan stakeholder yang lain sehingga
tercipta situasi yang kondusif bagi setiap upaya menciptakan kesejahteraan
masyarakat. Kemudian, komunitas politik melakukan fungsi yang terkait
dengan pembentukan pemerintah, pembuatan peraturan perundang-undangan,
pendidikan politik, dan memperkuat kepemimpinan di tingkat lokal.
Selanjutnya, pelaku bisnis adalah komunitas yang kegiatan ekonomi
(terutama yang berorientasi profit atau mencari keuntungan), menciptakan
kesempatan kerja, memberikan kredit; di samping membayar pajak dan
retribusi bagi pendapatan daerah. Adapun masyarakat sipil merupakan
kalangan yang difasilitasi, dilayani, dan diberdayakan. Salah satu kewenangan
yang diberikan kepada Pemerintah Daerah adalah mengenai pengelolaan
penanaman modal. Hanya saja sebagaimana pelaksanaan kewenangan
tersebut terdapat berbagai interpretasi dari masing-masing pemerintah daerah.
Hal ini dapat dimaklumi, sebab calon investor masih bersifat menunggu (wait
and see), apakah peraturan investasi yang terkait dengan investasi
memberatkan    ataukah    menguntungkan     investor.   Dalam   pelaksanaan
kewenangan tadi pemerintah daerah         bisa membuat peraturan daerah
mengenai perijinan untuk membuka peluang bagi para investor, sehingga para
investor tidak ragu-ragu dalam menanamkan modal di daerah karena tidak
bisa dipungkiri aktifitas investasi sendiri banyak terjadi di daerah. Dalam
penulisan ini, yang dikaji mengenai Perda Kota Surakarta Nomor 9 Tahun
2003 mengenai ijin usaha industri, ijin usaha pedagangan, dan tanda daftar
gudang dengan peraturan perundang-undangan bidang investasi apakah sudah
sejalan atau tidak dalam hal mekanisme permohonan perijinan dalam
mendorong investasi di Kota Surakarta.
        Secara teoritis dengan diundangkannya Undang-undang Nomor 32
Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, Kepala Daerah dalam hal ini
Gubernur dan ataupun Bupati/Walikota diberi otoritas untuk mengelola
daerahnya secara otonom. Dilihat dari sudut pandang ini, pemerintah daerah
berpeluang besar untuk menarik calon investor masuk ke daerah. Di sisi lain,
bagi investor sendiri adanya kebijakan otonomi daerah bisa membandingkan
daerah mana yang paling memberi peluang dalam melakukan invetasi. Para
investor dalam menanamkan modal perhitungannya adalah bisnis. Oleh
karena itu, para investor dalam menanamkan modalnya selalu melihat adanya
peluang bisnis juga mempelajari berbagai aturan atau tepatnya Peraturan
Daerah (Perda) tempat tujuan investor akan melakukan investasi. Tampaknya
disinilah problematikanya yang harus diperhitungkan oleh para pembuat
kebijakan di daerah, apakah Perda yang mengatur tentang kegiatan investasi
di daerah tersebut tidak memberatkan bagi calon investor? Dalam sudut
pandang investor sebenarnya cukup sederhana, jika tidak mendatangkan
keuntungan buat apa melakukan investasi. Dalam suasana seperti ini, bisa saja
terjadi dilematis. Dengan demikian, jika aturan yang dikeluarkan terlalu pro
kepada pebisnis, masyarakat menganggap pemerintah tidak memerhatikan
kepentingan rakyat dan lingkungan. Di sisi lain, jika tidak memerhatikan
kepentingan pelaku usaha, pelaku usaha enggan menanamkan modalnya.
Adanya tarik menarik kepentingan dalam hal ini adalah mencoba mengajak
semua pihak, apakah solusi yang terbaik dalam membangun daerah.
                                     BAB III
                HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
                                  A. Hasil Penelitian
1. Deskripsi Lokasi Penelitian
   a. Keadaan Umum Kota Surakarta
            Kota Surakarta yang juga sangat dikenal sebagai Kota Solo,
     merupakan sebuah dataran rendah yang terletak di cekungan lereng
     pegunungan Lawu dan pegunungan Merapi dengan ketinggian sekitar 92 m
     diatas permukaan air laut.
           a. Luas Wilayah
              Luas      Wilayah        Kota     Surakarta    adalah    +44,06
              Km² .
           b. Letak Wilayah
              Kota Surakarta terletak diantara 110 45` 15" - 110 45` 35" Bujur
              Timur dan 70` 36" - 70` 56" Lintang Selatan.
           c. Perbatasan
              Kota Surakarta berbatasan langsung dengan:
              1. Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Karanganyar dan
                 Kabupaten Boyolali.
              2. Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Sukoharjo dan
                 Kabupaten Karanganyar.
              3. Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Sukoharjo dan
                 Kabupaten Karanganyar.
              4. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Sukoharjo.

              Wilayah Kota Surakarta terbagi dalam 5 Kecamatan, 51 Kelurahan.
     Jumlah RW tercatat sebanyak 595 dan jumlah RT sebanyak 2.669. Dengan
     jumlah KK sebesar 134.811 KK, maka rata-rata jumlah KK setiap RT
     berkisar sebesar 50 KK setiap RT.
              Jumlah penduduk Kota Surakarta berdasarkan hasil Estimasi
      Survei Penduduk Antar Sensus (2005) Tahun 2008 Penduduk kota
      Surakarta mencapai 522.935 jiwa dengan rasio jenis kelamin sebesar
      89.68; yang artinya bahwa pada setiap 100 penduduk perempuan terdapat
      sebanyak 89 peduduk laki-laki. Tingkat kepadatan penduduk kota
      Surakarta pada tahun 2008 mencapai 12.849 jiwa/km2. Tahun 2008
      tingkat kepadatan penduduk tertinggi terdapat di kecamatan Serengan yang
      mencapai angka 19.899. Dengan tingkat kepadatan yang tinggi akan
      berdampak pada masalah-masalah sosial seperti perumahan, kesehatan dan
      juga tingkat kriminalitas. Jumlah penduduk bekerja di kota Surakarta pada
      tahun 2008 mencapai 251.101, atau sebesar 48,01% dari seluruh penduduk
      kota Surakarta. Penduduk wanita yang bekerja mencapai angka sebesar
      43,99% dari penduduk yang bekerja. Ini menunjukkan bahwa peran
      perempuan     di   kota   Surakarta   cukup   tinggi   dalam   peningkatan
      kesejahteraan keluarga. Meningkatnya jumlah penduduk ini disebabkan
      oleh urbanisasi dan pertumbuhan ekonomi ( Sumber Bappeda Surakarta
      2010).


2. Harmonisasi Peraturan Perundang-undangan mengenai perizinan
   a. Deskripsi Peraturan Perundang-undangan di Indonesia

               Teori normatif tentang hukum yang dikemukakan oleh Hans
      Kelsen bersifat dasar yang konsepsinya adalah Grundnorm. Grundnorm
      merupakan semacam penggerak sistem hukum, yang menjadi dasar
      mengapa      hukum        harus   dipatuhi    dan      yang    memberikan
      pertanggungjawaban mengapa hukum harus dilaksanakan. Stufenbau
      theory melihat tatanan hukum sebagai suatu proses menciptakan sendiri
      norma-norma umum sampai pada yang lebih konkret, serta sampai pada
      yang paling konkret dari tata urutan peraturan perundang-undangan. Di
      Negara Republik Indonesia terdapat hierarki peraturan perundang-
      undangan yang dalam hierarkinya tercantum dalam Undang-Undang
      Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-
      undangan.
       Jenis-jenis Peraturan Perundang-undangan di Negara Republik
Indonesia berdasarkan Undang-Undang No. 10 Tahun 2004 Pasal 7 adalah
sebagai berikut:
a. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
b. Undang-undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang;
c. Peraturan Pemerintah;
d. Peraturan Presiden;
e. Peraturan Daerah meliputi :
   1) Peraturan Daerah Provinsi dibuat oleh Dewan Perwakilan Rakyat
       Daerah bersama dengan Gubernur;
   2) Peraturan Daerah kabupaten/kota oleh Dewan Perwakilan Rakyat
       Daerah Kabupaten/kota bersama Bupati/Walikota;
   3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pembuatan peraturan
       Desa/peraturan yang setingkat diatur dengan Peraturan Daerah
       Kabupaten/kota yang bersangkutan.
   4) Jenis Peraturan Perundang-undangan diakui keberadaannya dan
       mempunyai kekuatan hukum mengikat sepanjang diperintahkan oleh
       peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi.
   5) Kekuatan hukum peraturan perudangan adalah sesuai dengan hierarki
       di atas.
1) Undang-undang dan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-
   undang
           Undang-undang merupakan peraturan perundang-undangan yang
   tertinggi di Negara Republik Indonesia, yang di dalam pembentukannya
   dilakukan oleh dua lembaga, yaitu Dewan Perwakilan Rakyat dengan
   persetujuan Presiden seperti ditetapkan sebagai berikut:
   Dalam Pasal 5 ayat (1),
          (1). Presiden berhak mengajukan rancangan undang-undang kepada
                  Dewan Perwakilan Rakyat,
   dan Pasal 20 UUD 1945
             (1). Dewan Perwakilan Rakyat memegang kekuasaan membentuk
                 undang-undang.
             (2) Setiap rancangan undang-undang dibahas oleh Dewan
                 Perwakilan Rakyat dan Presidan untuk mendapatkan peretujuan
                 bersama.
             (3). Jika rancangan undang-undang itu tidak mendapatkan
                 persetujuan bersama, rancangan undang-undang itu tidak boleh
                 diajukan lagi dalam persidangan Dewan Perwakilan Rakyat
                 masa itu.
             (4). Presiden mengesahkan rancangan undang-undang yang telah
                 disetujui bersama untuk menjadi undang-undang.
             (5). Dalam hal rancangan undang-undang yang telah disetujui
                 bersama tersebut tidak disahkan oleh Presiden dalam waktu 30
                 hari semenjak rancangan undang-undang tersebut disetujui,
                 rancangan undang-undang tersebut sah menjadi undang-undang
                 dan wajib diundangkan.
             Sebagai peraturan yang dibentuk oleh lembaga Legislatif (Dewan
      Perwakilan Rakyat      dengan   persetujuan Presiden),   undang-undang
      merupakan peraturan yang tertinggi yang didalamnya telah dapat
      dicantumkan sanksi pidana dan sanksi pemaksa, serta merupakan peraturan
      yang sudah dapat langsung berlaku dan mengikat.
2)   Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang (PERPU)
           Di samping undang-undang yang merupakan peraturan perundang-
     undangan yang tertinggi di Indonesia, dikenal pula adanya peraturan yang
     mempunyai hierarki setingkat dengan undang-undang, sesuai dengan
     ketentuan Pasal 22 UUD 1945.
     Pasal 22 UUD 1945 menentukan sebagai berikut:
           (1). Dalam hal ikhwal kegentingan yang memaksa, Presiden berhak
               memaksa, Presiden berhak menetapkan peraturan pemerintah
               sebagai pengganti undang-undang.
           (2). Peraturan Pemerintah itu harus mendapat persetujuan Dewan
               Perwakilan Rakyat dalam persidangan berikut.
           (3). Jika tidak mendapat persetujuan maka Peraturan Pemerintah itu
               dicabut.
           Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang ini ditetapkan oleh
    Presiden dalam hal ikhwal kegentingan yang memaksa yang harus segera
    diatasi, karena pada saat itu Presiden tidak dapat mengaturnya dengan
    undang-undang, yang untuk membentuknya memerlukan waktu yang relatif
    lebih lama dan melalui prosedur yang bermacam-macam.


3) Peraturan Pemerintah (PP)
          Peraturan Pemerintah adalah peraturan perundang-undangan yang
   dibentuk oleh Preiden untuk melaksakan undang-undang berdasarkan
   ketentuan Pasal 5 ayat 2 UUD 1945 yang menentukan sebagai berikut, bahwa
   ”Presiden menetapkan Peraturan Pemerintah untuk menjalankan undang-
   undang sebagaimana mestinya”.
          Peraturan Presiden adalah peraturan perudang-undangan yang dibentuk
   oleh Presiden berdasarkan ketentuan Pasal 4 ayat (1) UUD 1945 sebelum dan
   sesudah perubahan yang berbunyi sebagai berikut bahwa ” Presiden Republik
   Indonesia memegang kekuasaan pemerintah menurut Undang-Undang Dasar”.
          Dengan adanya kekuasaan pemerintah tersebut, Presiden mempunyai
   kekuasaan untuk mengatur segala sesuatu di Negara Republik Indonesia,
   hanya saja kekuasaan mengatur ini mempunyai suatu batasan sesuai dengan
   Pasal 5 ayat (1) UUD 1945, yang menyebut bahwa apabila Presiden akan
   membentuk undang-undang harus dilakukan bersama Dewan Perwakilan
   Rakyat, dengan perkataan lain apabila Presiden hendak mengatur dalam jalur
   undang-undang, Presiden harus membentuknya bersama Dewan Perwakilan
   Rakyat, sedangkan apabila Presiden hendak mengatur jalur eksekutif, dapat
   dilaksanakan dengan pembentukan suatu Keputusan Presiden atau disebut
   dengan Peraturan Presiden.
4) Peraturan Menteri (PERMEN)
         Adalah suatu peraturan perundang-undangan yang setingkat lebih
   rendah dari Peraturan Presiden. Kewenangan menteri untuk membentuk suatu
   Peraturan Menteri ini bersumber dari Pasal 17 UUD 1945 yang berbunyi:
          (1). Presiden dibantu oleh menteri-menteri negara;
          (2). Menteri-menteri itu diangkat dan diberhentikan oleh Presiden;
          (3). Setiap menteri membidangi urusan tertentu dalam pemerintahan;
          (4). Pembentukan, pengubahan, dan pembubaran kementerian negara
                diatur dalam undang-undang.
         Oleh karena menteri-menteri negara itu adalah pembantu-pembantu
   Presiden yang menangani bidang-bidang tugas pemerintahan yang diberikan
   kepadanya.
5) Peraturan Daerah Provinsi
          Kewenangan pembentukan Peraturan Daerah ini merupakan suatu
   pemberian kewenangan untuk mengatur daerahnya sesuai dengan Pasal 136
   Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah yang
   isinya yaitu:
          (1). Perda ditetapkan oleh Kepala Daerah setelah dapat persetujuan
                 bersama DPRD;
          (2). Perda dibentuk dalam rangka penyelenggaraan otonomi daerah
                 provinsi/kabupaten/kota dan tugas pembantuan;
          (3). Perda sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) merupakan
                 penjabaran lebih lanjut dari peraturan perundang-undangan yang
                 lebih tinggi dengan memperhatikan ciri khas masing-masing
                 daerah;
          (4). Perda sebagaimana dimksud dalam ayat (1) dilarang bertentangan
                 dengan kepentingan umum dan/atau peraturan perundang-
                 undangan yang lebih tinggi;
          (5). Perda sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) berlaku setelah
                 diundangkan dalam lembaran daerah.
6) Peraturan Gubernur/Kepala Daerah Provinsi
            Dibentuk berdasarkan Pasal 146 Undang-Undang Nomor 32 Tahun
   2004 yang berbunyi:
          (1). Untuk melaksanakan Perda dan atas kuasa peraturan perundang-
               undangan, kepala daerah menetapkan peraturan kepala daerah dan
               atau putusan kepala daerah.
          (2). Peraturan Kepala Daerah dan atau keputusan kepala daerah
               sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilarang bertentangan dengan
               kepentingan umum, Perda, dan peraturan perundang-undangan
               yang lebih tinggi.
  7)   Peraturan Daerah Kabupaten Kota
               Kewenangan pembentukan Peraturan Daerah Kabupaten/Kota ini
       merupakan pemberian wewenang untuk mengatur daerahnya sesuai Pasal
       136 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan
       Daerah. Pembentukan suatu perda kabupaten/kota dapat juga merupakan
       kelimpahan wewenang dari suatu peraturan perundang-undangan yang
       lebih tinggi.
               Berdasarkan pada pengertian peraturan perundang-undangan di
       atas, maka Keputusan Walikota, Kepala Daerah misalnya                yang
       memperoleh delegasi dari perda termasuk pengertian peraturan perundang-
       perundangan (tingkat daerah). Menurut Hans Klasen bahwa peraturan
       perundang-undangan      tingkat   daerah   diartikan   sebagai   peraturan
       perundang-undangan yang dibentuk oleh Pemerintah Daerah yang
       berwenang membuat peraturan perundang-undangan tingkat daerah.
               Penyelenggaraan kebijakan pemerintah daerah merupakan tindak
       lanjut dari kebijakan pemerintah pusat dalam rangka pemerataan
       pembangunan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang diarahkan
       unuk meningkatkan pelayanan dan pemberdayaan daerah dalam rangka
       kesejahteraan masyarakat.
               Fungsi Perda merupakan fungsi yang bersifat atribusi yang diatur
       berdasarkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan
Daerah, terutama Pasal 136 dan juga merupakan fungsi delegasi dari
peraturan perundang- undangan yang lebih tinggi.
       Fungsi Perda ini dirumuskan dalam Pasal 136 Undang-Undang
Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah sebagai berikut:
  1.    Menyelenggarakan Peraturan dalam rangka penyelenggaraan
        otonomi daerah dan tugas pembantuan;
  2.    Menyelenggarakan pengaturan sebagai penjabaran lebih lanjut
        peraturan   perundang-undangan     yang      lebih   tinggi     dengan
        memperhatikan ciri khas masing-masing daerah;
  3.    Menyelenggarakan pengaturan hal-hal yang tidak bertentangan
        kepentingan umum;
  4.    Menyelenggarakan pengaturan hal-hal yang tidak bertentangan
        dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. Yang
        dimaksud disini adalah tidak bertentangan dengan peraturan
        perundang-undangan di tingkat pusat.
       Peraturan    Perundang-undangan     tingkat     daerah     merupakan
peraturan perundang-undangan yang dibentuk oleh Pemerintah Daerah.
Peraturan Perundang-undangan tingkat daerah secara luas mencakup
peraturan perundang-undangan yang dibentuk oleh satuan Pemerintah
Pusat di daerah atau peraturan perundang-undangan yang dibentuk oleh
Pemerintah Pusat yang berlaku pada suatu wilayah tertentu.
       Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan
Daerah dibentuk     dalam   rangka    penyelenggaraan        otonomi,    tugas
pembantuan dan merupakan penjabaran lebih lanjut dari peraturan yang
lebih tinggi dengan memperhatikan ciri khas masing-masing daerah.
       Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan
Daerah memberikan wewenang kepada pemerintah daerah untuk membuat
peraturan daerah, yang tentu saja diharapkan lebih mengakomodir
kepentingan masyarakat di masing-masing daerah. Wewenang tersebut
tertuang dalam beberapa pasal yang berkaitan dengan beberapa pasal yang
berkaitan dengan masalah peraturan daerah, yaitu:
          1. Raperda dapat berasal dari legislatif maupun eksekutif (Pasal 140
              UU No. 32 Tahun 2004);
          2. Perda ditetapkan oleh kepala daerah setelah mendapatkan
              persetujuan DPRD (Pasal 136 (1));
          3. Perda dibentuk dalam ragka      penyelenggaraaan otonomi, tugas
              perbantuan dan merupakan penjabaran lebih lanjut dari peraturan
              yang lebih tinggi dengan memperhatikan ciri khas masing-masing
              daerah (Pasal 136 (3) UU No. 32 Tahun 2004);
          4. Perda tidak boleh bertentangan dengan kepentingan umum dan atau
              peraturan yang lebih tinggi (Pasal 136 (4) UU No. 32 Tahun 2004);
          5. Masyarakat berhak memberikan masukan secara lisan atau tertulis
              dalam rangka penyiapan atau pembahasan Raperda (Pasal 139 UU
              No. 32 Tahun 2004);
          6. Peraturan Kepala Daerah dan atau Keputusan Kepala Daerah
              ditetapkan untuk melaksanakan perda (Pasal 146       UU No. 32
              Tahun 2004);
          7. Perda dapat memuat kententuan biaya paksaan penegakan hukum
              atau pidana paling lama enam bulan atau denda sebanyak-
              banyaknya Rp. 50.000.000,- (Pasal 143 UU No. 32 Tahun 2004);
          8. Perda berlaku setelah diundangkan dalam lembaran daerah (Pasal
              136 UU No. 32 Tahun 2004).
b. Deskripsi Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan
   Daerah
   1. Dasar Hukum
         Yang menjadi Landasan Yuridis sebagai dasar pembentukan aturan ini
   diantaranya adalah sebagai berikut:
            a) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
            b) Ketetapan MPR Republik Indonesia Nomor X/MPR/1998 tentang
               pokok-pokok       reformasi   pembangunan      dalam     rangka
               penyelamatan dan normalisasi kehidupan nasional sebagai haluan
               negara;
       c) Ketetapan MPR Republik Indonesia Nomor XI/MPR/1998 tentang
           penyelenggaraan negara yang bersih dan bebas korupsi, kolusi
           dan nepotisme;
       d) Ketetapan MPR Republik Indonesia Nomor XV/MPR/1998
           tentang penyelenggaraan otonomi daerah, pengaturan, pembagian
           dan pemanfaatan sumber daya nasional yang berkeadilan, serta
           perimbangan keuangan pusat dan daerah dalam rangka Negara
           Kesatuan Republik Indonesia;
       e) Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1999 tentang Susunan dan
           Kedudukan Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan
           Rakyat dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.
2. Latar Belakang
       Dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan daerah sesuai dengan
amanat Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945
dimana pemerintahan daerah yang mengatur dan mengurus sendiri urusan
pemerintahan menurut asas otonomi dan tugas pembantuan, diarahkan untuk
mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan,
pelayanan, pemberdayaan dan peran serta masyarakat, serta meningkatkan
daya saing daerah dengan memperhatikan prisip demokrasi, pemerataan,
keadilan, keistimewaan dan kekhususan suatu daerah dalam sistem Negara
Kesatuan Republik Indonesia.
3. Sistematika
   (1). Bab I tentang Ketentuan Umum
   (2). Bab II tentang Pembentukan Daerah dan Kawasan Khusus
   (3). Bab III tentang Pembagian Urusan Pemerintahan
   (4). Bab IV tentang Penyelenggaraan Pemerintahan
   (5). Bab V tentang Kepegawaian Daerah
   (6). Bab VI tentang Peraturan Daerah dan Peraturan Kepala Daerah
   (7). Bab VII tentang Perencanaan Pembangaunan Daerah
   (8). Bab VIII tentang Keuangan Daerah
   (9). Bab IX tentang Kerja Sama dan Penyelesaian Perselisihan
   (10). Bab X tentang Kawasan Perkotaan
   (11). Bab XI tentang Desa
   (12). Bab XII tentang Pembinaan dan Pengawasan
   (13). Bab XIII tentang Pertimbangan dalam Kebijakan Otonomi Daerah
   (14). Bab XIV tentang Ketentuan lain-lain
   (15). Bab XV tentang Ketentuan Peralihan
   (16). Bab XVI tentang Ketentuan Penutup
4. Substansi
     Substansi     Undang-Undang    Nomor       32    Tahun    2004     tentang
Pemerintahan Daerah mencakup:
      1. Ketentuan umum berisi penjelasan mengenai definisi Pemerintah
          Pusat,   Pemerintah   Daerah,    Pemerintahan       Daerah,   Dewan
          Perwakilan Rakyat Daerah, otonomi daerah, daerah otonom,
          desentralisasi, dekonsentrasi, tugas pembantuan, peraturan daerah,
          peraturan kepala daerah, desa, perimbangan keuangan antara
          pemerintah pusat dan pemerintah daerah, anggaran pendapatan dan
          belanja daerah, pendapatan daerah, belanja daerah, pembiayaan,
          pinjaman daerah, kawasan khusus, pasangan calon kepala daerah
          dan calon wakil kepala daerah, komisi pemilihan umum daerah,
          panitiaan pemilihan kecamatan, kampanye;
      2. Pembentukan daerah dan kawasan khusus dijabarkan mengenai
          pembentukan kepala daerah dan kawasan khusus;
      3. Pembagian urusan pemerintahan terdiri atas pasal yang mengatur
          penyelenggaraan       pemerintahan,        asas     penyelenggaraan
          pemerintahan, hak dan kewajiban daerah, pemerintah daerah,
          kepala daerah dan wakil kepala daerah, larangan bagi kepala
          daerah dan wakil kepala daerah, pemberhentian kepala daerah dan
          wakil kepala dearah, tindakan penyidikan terhadap kepala daerah
          dan wakil kepala daerah, tugas gubernur sebagai wakil pemerintah
          anggota dewan perwakilan rakyat daerah, penghentian atar waktu
          anggota dewan perwakilan rakyat daerah, pemilihan kepala daerah
   dan   wakil   kepala   daerah,   penetapan pemilih,    kampanye,
   pemungutan suara, penetapan calon terpilih dan pelantikan,
   ketentuan pidana, perangkat daerah;
4. Kepegawaian daerah terdiri atas pasal yang mengatur managemen
   pegawai negeri sipil daerah;
5. Peraturan daerah dan peraturan kepala daerah terdiri atas pasal
   yang mengatur kewenanagan daerah otonom untuk membuat
   peraturan daerah;
6. Perencanaan pembangunan daerah terdiri atas pasal yang mengatur
   rencana pengembangan dan pembangunan daerah otonom sebagai
   satu kesatuan dalam sisitem perencanaan pembangunan nasional;
7. Keuangan daerah terdiri atas pasal yang mengatur penyelenggaraan
   otonomi menjadi tanggung jawab penuh dari daerah otonom
   mencakup ketentuan umum, pendapatan belanja dan pembiayaan,
   surplus dan defisit APBD, pemberian intensif dan kemudahan
   investasi, BUMD, pengelolaan barang daerah, APBD, perubahan
   APBD,     pertanggungjawaban     pelaksanaan   APBD,    evaluasi,
   pelaksannan tata usaha keuangan daerah;
8. Kerja sama dan penyelesaian perselisihan terdiri atas pasal yang
   mengtur bentuk kerja sama antar daerah otonom dan penyelesaian
   masalah yng terjadi secara musyawarah mufakat;
9. Kawasaan perkotaan terdiri atas pasal yang mengatur kota sebagai
   daerah otonom;
10. Desa terdiri dari pasal yang mengatur ketentuan umum, pemerintah
   desa, badan pemusyawaratan desa, lembaga lain, keuangan desa,
   kerja sama desa;
11. Pembinaan dan pengawasan terdiri dari pasal yang mengatur hak
   dan kewajiban yang dimiliki pemerintah pusat dan daerah otonom;
12. Pertimbangan dalam kebijakan otonomi daerah terdiri atas pasal
   yang mengatur kewenangan Presiden untuk membentuk suatu
      dewan yang bertugas memberikan saran dan pertimbangan
      terhadap kebijakan otonomi daerah;
  13. Ketentuan lain-lain terdiri atas pasal yang mengatur ketentuan bagi
      daerah istimewa dapat diberikan otonomi khusus sesuai undang-
      undag ini;
  14. Ketentuan peralihan terdiri atas pasal yagng mengatur ketentuan
      peraturan lain yang berkaitan dengan pemerintah daerah tetap
      berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan undang-undang ini;
  15. Ketentuan penutup terdiri atas pasal yang mengatur undang-undang
      ini berlaku sejak diundangkannya dan adanya         jangka waktu
      selama dua tahun bagi peraturan-peraturan untuk dilakukan
      penyesuaian atas undang-undang ini.
           Substansi Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 Jo Undang-
   Undang Nomor 32 Tahun 2004 disinkronkan dengan Pasal 146 bahwa
   untuk melaksanakan peraturan daerah dan atas kuasa peraturan
   perundang-undangan, kepala daerah menetapkan peraturan kepala
   daerah selain itu aturan ini juga menyebutkan peraturan kepala daerah
   tidak boleh bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang
   lebih tinggi.
3. Deskripsi Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Tata
   Cara Pembentukan Peraturan Perundang-undangan
      1. Dasar Hukum Pembentukan Undang-Undang Nomor 10
      Tahun 2004
          Landasan filosofis pembentukan aturan ini adalah Undang-
  Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945.
  2. Latar Belakang Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004
          Yang melatarbelakangi dibentuknya undang-undang ini adalah
  mengingat ketentuan yang berkaitan denga pembentukan peraturan
  perundang-undangan dalam perkembangannya sudah tidak sesuai lagi
  dengan hukum ketatanegaraan Republik Indonesia sehingga untuk
  lebih meningkatkan koordinasi dan kelancaran proses pembentukan
peraturan perundang-undangan maka Negara Republik Indonesia
sebagai negara yang berdasar atas hukum perlu memiliki peraturan
mengenai pembentukan peraturan perundang-undangan.
3. Sistematika Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004
       Undang-undang ini terdiri atas beberapa pasal yang dibagi atas
beberapa sub bab yaitu sebagai berikut:
1. Bab I tentang Ketentuan Umum;
2. Bab II tentang asas Peraturan Perundang-undangan;
3. Bab III tentang Materi Muatan;
4. Bab IV tentang Perencanaan Penyusunan Undang-undang;
5. Bab V tentang Pembahasan dan Pengesahan Rancangan Undang-
   undang;
6. Bab VI tentang Pembahasan dan Pengesahan Rancangan Peraturan
   Daerah;
7. Bab VII tentang Teknik         Penyusunan Peraturan Perundang-
   undangan;
8. Bab VIII tentang Pengundangan dan Penyebarluasan;
9. Bab IX tentang Partisipasi Masyarakat;
10. Bab X tentang Ketentuan Lain-lain;
11. Bab XI tentang Ketentuan Peralihan;
12. Bab XII tentang Ketentuan Penutup.
4. Substansi Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004
       Substansi undang-undang ini adalah tentang pembentukan
peraturan perundang-undangan sebagai berikut:
       1. Ketentuan umum terdiri atas berbagai definisi tentang
           pembentukan peraturan perundang-undangan, peraturan
           perundang-undangan,        undang-undang,          peraturan
           pemerintah     pengganti       undang-undang,      Peraturan
           Pemerintah,   Peraturan    Presiden,   Peraturan    Daerah,
           Peraturan Desa, Program Legislasi, Program Legislasi
   Daerah,     Pengundangan,      Materi   Muatan   Peraturan
   Perundang-undangan;
2. Asas peraturan perundang-undangan yang didalamnya
   menguraikan mengenai asas-asas pembentukan peraturan
   perundang-undangan;
3. Materi muatan yang harus disertakan dalam setiap
   pembentukan peraturan perundang-undangan;
4. Perencanaan penyusunan peraturan peundang-undangan
   memuat tentang program legislasi dalam setia pembentukan
   peraturan perudang-undangan;
5. Pembentukan peraturan perundang-undangan terdiri atas
   pasal yang menguraikan persiapan pembentukan peraturan
   perundang-undangan, persiapan pembentukan peraturan
   pemerintah pengganti undang-undang, rancangan Peraturan
   Pemerintah         Pengganti    Undang-undang,   Peraturan
   Pemerintah dan Presiden, persiapan pembentukan peraturan
   daerah;
6. Pembahasan dan pengesahan rancangan undang-undang
   yang diuraikan dalam beberapa bab mengenai pembahasan
   rancangan undang-undang di Dewan Perwakilan Rakyat
   dan pengesahan;
7. Pembahasan dan pengesahan rancangan peraturan daerah
   yang diuraikan dalam pembahasan rancangan Peraturan
   Daerah di Dewan Perwakilan Rakyat, penetapan;
8. Teknik      penyusunan      peraturan   perundang-undangan
   mengatur mengenai teknik penyusunan;
9. Pengundangan dan penyebarluasan terbagi dalam beberapa
   pasal     yang   mengatur    mengenai   pengundangan   dan
   penyebarluasan peraturan perundang-undangan;
10. Partisipasi masyarakat dijabarkan dalam satu pasal yang
   didalamnya mengatur mengenai aturan dimana masyarakat
              berhak memberikan masukan lisan atau tertulis dalam
              rangka penyiapan atau pembahasan rancangan peraturan
              perundang-undangan;
          11. Terbagi dalam tiga ketentuan yang terbagi atas ketentuan
              lain-lain, ketentuan peralihan dan ketentuan penutup.
           Dari ketentuan undang-undang yang akan disinkronkan dalam
   penelitian ini adalah ketentuan mengenai hierarki peraturan perundang-
   undangan yang tercantum dalam Pasal 7 yaitu:
        1. Undang-Undang          Dasar    Negara        Republik   Indonesia
           Tahun1945;
        2. Undang-undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-
           undang;
        3. Peraturan Pemerintah;
        4. Peraturan Presiden;
        5. Peraturan Daerah.
4. Deskripsi Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007                       tentang
   Penanaman Modal
  1. Dasar Hukum
    Landasan filosofi undang-undang ini adalah Undang-Undang Dasar
  Negara Republik Indonesia Tahun 1945 khususnya Pasal 4 ayat (1),
  Pasal 5 ayat (1), Pasal 18 ayat (1), serta Pasal 33.
  2. Latar Belakang
          Sesuai dengan amanat yang tecantum dalam Ketetapan Majelis
  Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Nomor XVI/MPR/1998
  tentang politik ekonomi dalam rangka demokrasi ekonomi, kebijakan
  penanaman     modal     untuk    mempercepat      pembangunan     ekonomi
  indonesia diperlukan peningkatan penanaman modal untuk mengolah
  potensi ekonomi menjadi kekuatan ekonomi menjadi kekuatan ekonomi
  rill dengan menggunakan modal yang berasal, baik dalam negeri
  maupun luar negeri, dalam rangaka mewujudkan masyarakat adil dan
  makmur berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia 1945 perlu dilaksanakan pembangunan ekonomi
nasional yang berkelanjutan dengan berdasarkan demokrasi ekonomi
untuk mencapai tujuan.
3. Sistematika
   Undang-undang ini terdiri atas beberapa pasal yang dibagi atas
beberapa sub bab yaitu sebagai berikut:
      a) Bab I tentang Ketentuan Umum;
      b) Bab II tentang Asas dan Tujuan;
      c) Bab III tentang Kebijakan Dasar Penanaman Modal;
      d) Bab IV tentang Bentuk Badan Usaha dan Kedudukan;
      e) Bab V tentang Perlakuan Terhadap Penanaman Modal;
      f) Bab VI tentang Ketenagakerjaan;
      g) Bab VII tentang Bidang Usaha;
      h) Bab VIII tentang Pengembangan Penanaman Modal Bagi
        Usaha Mikro, Kecil, Menengah dan Koperasi;
      i) Bab IX tentang Hak, Kewajiban dan Tanggung Jawab
        Penanaman Modal;
      j) Bab X tentang Fasilitas Penanaman Modal;
      k) Bab XI tentang Ketentuan Pengesahan dan Perijinan
        Perusahaan;
      l) Bab XII tentang Koordinaasi dan Pelaksanaan Kebijakan
        Penanaman Modal;
      m)Bab XIII tentang Penyelenggaraan Urusan Penanaman Modal;
      n) Bab XIV tentang Kawasan Ekonomi Khusus;
      o) Bab XV tentang Penyelesaian Sengketa;
      p) Bab XVI tentang Sanksi;
      q) Bab XVII tentang Ketentuan Peralihan;
      r) Bab XVIII Tentang Ketentuan Penutup.
  4. Substansi
        Undang-undang ini terbagi menjadi beberapa pasal yang isinya
  memuat antara lain sebagai berikut:
a. Ketentuan umum yang didalamnya berisi definisi penanaman
   modal, penanaman modal dalam negeri, penanaman modal
   asing, penanam modal, penanam modal dalam negeri,
   penanam modal asing, modal, modal asing, modal dalam
   negeri, pelayanan terpadu satu pintu, otonomi daerah,
   pemerintah pusat, pemerintah daerah.
b. Asas dan tujuan didalamnya dirumusan mengenai asas-asas,
   tujuan penyelenggaraan penanaman modal.
c. Kebijakan penanaman modal didalamnya termuat tujuan
   pemerintah menetapkan kebijakan dasar penanaman modal.
d. Bentuk badan usaha dan kedudukan badan usaha.
e. Perlakuan terhadap penanaman modal dimana pemerintah
   harus memberikan perlakuan yang sama kepada semua
   penanam modal.
f. Bidang ketenagakerjaan memuat tentang hubungan kerja dan
   proses penyelesaian sengketa jika terjadi konflik.
g. Bidang    usaha    yang    menjelaskan    mengenai       kegiatan
   penanaman modal.
h. Pengembangan penanaman modal bagi usaha mikro, kecil,
   menengah dan koperasi.
i. Hak dan kewajiban serta tanggung jawab penanaman modal.
j. Kewajiban     pemerintah     memberikan      fasilitas    kepada
   penanaman modal.
k. Pengesahan dan peiinan perusahaan yang mengenai prosedur
   penanaman modal dalam rangka menanamkan modalnya.
l. Koordinasi dan kebijakan pelaksanaan kebijakan penanaman
   modal mengenai tugas badan koordinasi penanaman modal.
m. Penyelenggaraan urusan penanaman mengenai pembagian
   kewenangan atara pusat dan daerah dalam bidang penanaman
   modal.
    n. Penetapan secara tersendiri kawasan ekonomi khusus dalam
        penetapan kebijakan penanaman modal.
    o. Penyelesaian sengketa merumuskan tentang penyelesaian
        konflik jika terjadi pertentangan kepentingan.
    p. Pencantuman sanksi jika terjadi pelanggaran.
    q. Ketentuan     peralihan   yang     memuat    tntang   perjanjian
        internasional, bilateral, regional maupun multilateral dalam
        bidang penanaman modal.
         Dari ketentuan undang-undang ynag sudah dijelaskan secara
  garis besarnya, yang disinkronkan adalah pasal 25 mengenai
  memperoleh ijin melalui pelayanan terpadu satu pintu.


5. Deskripsi Undang-undang Nomor 5 Tahun 1984                 tentang
  Perindustrian
  1. Dasar Hukum
    a. Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 5 ayat (1), Pasal 20 ayat (1),
       Pasal 27 ayat (2), dan Pasal 33;
    b.Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1967 tentang pokok-pokok
       perkoperasian;
    c. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1970 tentang keselamatan
       kerja;
    d.Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang pokok-pokok
       pemerintahan di daerah;
    e. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang ketentuan-
       ketentuan pokok pengelolaan lingkungan;
    f. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 1982 tentang ketentuan-
       ketentuan pokok      pertahanan keamanan Negara Republik
       Indonesia.
2. Latar Belakang
          Arah pembangunan jangka panjang di bidang ekonomi
  dalam pembangunan nasional adalah tercapainya struktur ekonomi
  yang seimbang yang didalamnya terdapat kemampuan dan
  kekuatan industri yang maju yang didukung oleh kekuatan dan
  kemapuan pertanian yang tangguh, serta merupakan pangkal tolak
  bagi bangsa indonesia untuk tumbuh dan berkembang atas
  kekuatannya sendiri. Untuk mencapai sasaran pembangunan di
  bidang ekonomi dalam pembangunan nasional, industri memegang
  peranan yang menentukan dan oleh karenanya perlu lebih
  dikembnagkan secara seimbang dan terpadu dengan meningkatkan
  peran serta masyarakat secara aktif seta mendayagunakan secara
  optimal seluruh sumber daya alam, manusia, dan dana yang
  tersedia. Dengan tujuan pembangunan nasional adalah untuk
  mewujudkan suatu masyarakat adil dan makmur yang merata
  materil dan spiritual beradasarkan pancasila, serta bahwa hakekat
  pembangunan nasional adalah pembanguna manusia indonesia
  seutuhnya maka landasan pelaksanaan pembangunan nasional
  adalah pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, berdasarkan
  hal-hal tersebut di atas dan untuk memberikan dasar yang kokoh
  bagi pengaturan, pembinaan, dan pengembangan industri secara
  mantap dan berkesinambungan serta belum adanya perangkat
  hukum     yang secara menyeluruh mampu melandasinya, perlu
  dibentuk Undang-undang Perindustrian.
3. Sistematika
  a) Bab I tentang Ketentuan Umum
  b) Bab II tentang Landasan dan Tujuan Pembangunan Industri
  c) Bab III tentang Pembangunan Industri
  d) Bab IV tentang Pengaturan, Pembinaan, dan Pengembangan
      Industri
  e) Bab V tentang Izin Usaha Industri
  f) Bab VI tentang Teknologi Industri, Desain Produk Industri,
       Rancangan Bangun dan Perekayasaan Industri
  g) Bab VII tentang Wilayah Industri
  h) Bab VIII tentang Industri dalam Hubungannya dengan Sumber
       Daya Alam dan Lingkungan Hidup
  i) Bab IX tentang Penyerahan Kewenangan dan Urusan tentang
       Industri
  j) Bab X tentang Ketentuan Pidana
  k) Bab XI tentang Ketentuan Peralihan
  l) Bab XII tentang Penutup
4. Substansi
  a. Ketentuan umum menjabarkan mengenai definisi perindustrian,
     industr, kelompok industri, cabang industri, jenis industri,
     bidang usaha industri, perusahaan industri, bahan mentah, bahan
     baku industri, barang setengah jadi, barang jadi, teknologi
     industri, teknologi yang tepat guna, rancang bangun industri,
     perekayasaan industri, standar industri.
  b. Landasan dan tujuan pembangunan industri.
  c. Penetapan pemerintah mengenai pembangunan industri.
  d. Kewajiban pemerintah dalam pengaturan, pembinaan, dan
     pengembangan industri.
  e. Ijin usaha industri.
  f. Wilayah industri.
  g. Kewajiban menjaga keseimbangan antara perusahaan dengan
     sumber daya alam.
  h. Penyerahan kewenangan usaha industri kepada daerah.
  i. Sanksi pidana.
  j. Ketentuan peralihan yang didalamnya mengatur, bahwa semua
     peraturan perundang-undangan yang berhubungan dengan
     perindustrian yang tidak bertentangan dengan undang-undang
          ini tetap berlaku selama belum ditetapkan penggantinya
          berdasarkan undang-undang ini.
          Dari ketentuan undang-undang di atas yng akan dilakukan
   sinkronisasi adalah Pasal 23 mengenai penyerahan kewenangan
   kepada daerah dalam hal bidang usaha industri.


6. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 27 Tahun 2009
   tentang Pelayanan Terpadu Satu Pintu di Bidang Penanaman
   Modal
   a. Dasar Hukum
     1)     Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
            1945 pasal 4 ayat (1);
     2)     Undang-Undang       Nomor      32   Tahun     2004         tentang
            Pemerintahan Daerah;
     3)     Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman
            Modal;
     4)     Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi
            dan Transaksi Elektronik;
     5)     Undang-Undang       Nomor    14     Tahun    2008      Keterbukaa
            Informasi Publik;
     6)     Peraturan Pemerintah Tahun 2007              tentang       tentang
            Pembagian     Urusan     Pemerintahan       antara     Pemerintah,
            Pemerintahan DaerahProvinsi, dan Pemerintahan Daerah
            Kabupaten/Kota;
     7)     Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang
            Organisasi Perangkat Daerah;
     8)     Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 2008 tentang
            Pedoman Pemberian Intensif dan Pemberian Kemudahan
            Penanaman Modal di Daerah.
b. Latar Belakang Masalah
        Untuk melaksanakan ketentuan Pasal 26 ayat (3) Undang-
Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal perlu
menetapkan Peraturan Presiden tentang Pelayanan Terpadu Satu
Pintu di Bidang Penanaman
c. Sistematika
  1)   Bab I tentang Ketentuan Umum
  2)   Bab II tentang Asas, Tujaun dan Ruang Lingkup
  3)   Bab III tentang Tolok Ukur PTSP di bidang Penanaman Modal
  4)   Bab IV tentang Penyelenggaraan PTSP di bidang Penanaman
       Modal
  5)   Bab V tentang Tata Cara Pelaksanaan PTSP di bidang
       Penanaman Modal
  6)   Bab VI tentang Pembinaan Penyelenggaran PTSP di bidang
       Penanaman Modal
  7)   Bab VII tentang Tim Pertimbangan PTSP di dalam Penanaman
       Modal
  8)   Bab VIII tentang Sistem Pelayanan Informasi dan Perizinan
       Investasi secara Elektronik
  9)   Bab IX tentang Pembiayaan
  10) Bab X tentang Pelaporan
  11) Bab XI tentang Koordinasi Penyelenggaraan PTSP
  12) Bab XII tentang Ketentuan Peralihan
  13) Bab XIII tentang Ketentuan Penutup
d. Substansi
  1) Ketentuan umum merumuskan beberapa definisi mengenai
       penanaman modal, Badan Koordinasi Penanaman Modal,
       persetujuan   penanaman       modal,   perizinan   pelaksanaan
       persetujuan penanaman modal, sistem pelayanan satu atap;
  2) Penyelenggaran penanaman modal;
  3) Permohonan persetujuan proyek dalm rangka penanaman modal.
       Menentukan bahwa pelayanan persetujuan, perizinan dan fasilitas
       penanaman modal dalam rangka penanaman modal dilaksanakan
       melalui pelayanan satu pintu.


7. Peraturan Daerah Nomor 9 Tahun 2003 tentang Ijin Usaha
   Industri, Ijin Usaha Perdagangan dan Tanda Daftar Gudang
  a.   Dasar hukum
       1) Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1992 tentang Lalu Lintas
           dan Angkutan;
       2) Undang-Undang Nomor 9, Undang-undang Nomor 16 Tahun
           1950 tentang pembentukan daerah-daerah kota besar dalam
           lingkungan Provinsi Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat dan
           Daerah Istimewa Yogyakarta;
       3) Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1961 tentang Barang;
       4) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1965 tentang Penetapan
           Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 5
           Tahun 1962 tentang Perubahan Peraturan Pemerintah Pengganti
           Undang-undang;
       5) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara
           Pidana;
       6) Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1981 tentang Wajib Daftar
           Perusahaan;
       7) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian;
       8) Undang-Undang Tahun 1995 tentang Usaha Kecil;
       9) Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah
           dan Retribusi Daerah;
       10) Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah
           Daerah.
  b.   Latar belakang masalah
        Perdagangan, industri dan pergudangan merupakan bidang usaha
  yang saling berhubungan sekaligus merupakan sektor pendukung
perekonomian Kota Surakarta, sehingga dengan demikian diperlukan
pengaturan agar dapat menumbuhkan iklim yang konduksif dalam
berusaha sekaligus memberikan ketenangan, ketertiban, dan kepastian
dalam berusaha maka perlu ditetapkan aturan ini.
c.   Sistematika
 1) Bab I tentang Ketentuan Umum
 2) Bab II tentang Ketentuan Perizinan dan Pendaftaran;
 3) Bab III tentang Kewenangan Perizinan
 4) Bab IV tentang Permohonan dan Pendaftaran Ijin Usaha Industri,
     Ijin Usaha Perdagangan dan Tanda Daftar Gudang;
 5) Bab V tentang Perubahan, Penggantian, dan Daftar Ulang Ijin
     Usaha Industri, Ijin Usaha Perdagangan, dan Tanda Daftar Gudang;
 6) Bab VI tentang Penyimpanan Barang;
 7) Bab     VII    tentang      Informasi   Industri,    Perdagangan,   dan
     Pergudangan;
 8) Bab VIII tentang Pembinaan dan Pengawasan;
 9) Bab IX tentang Retribusi;
 10) Bab X tentang biaya operasional;
 11) Bab XI tentang Sanksi Administrasi;
 12) Bab XII tentang Penyidikan;
 13) Bab XIII tentang Ketentuan Pidana.
d.   Substansi
 1) Dalam ketentuan umum menjelaskan tentang definisi daerah,
     pemerintah kota, dinas, kepala dinas, pejabat, badan, industri,
     perusahaan     industri,    perdagangan,    gudang,    usaha,   barang
     dagangan, investasi perusahaan industri, kekayaan bersih usaha,
     perluasan perusahaan industri, ijin usaha industri, ijin usaha
     perdagangan, tanda daftar gudang, retribusi, surat ketetapan
     retribusi daerah, surat tagihan retribusi daerah;
 2) Ketentuan perizinan dan pendaftaran menjabarkan mengenai izin
     usaha idustri izn usaha perdagangan dan tanda daftar gudang;
3) Kewenangan perizinan oleh kepala dinas;
4) Jangka waktu permohonan dan pendaftaran izin usaha, industri,
    izin usaha perdagangan dan tanda daftar gudang;
5) Perubahan, penggantian dan daftar ulang izin usaha industri dan
    tanda daftar gudang jika sudah tidak sesuai lagi maka wajib
    melakukan perubahan;
6) Prosedur peyimpanan barang yamg dilakukan oleh orang atau
    badan hukum;
7) Setiap orang atau badan hukumwajib memberikan informasi
    mengenai industri perdagangan dan pergudangan;
8) Pembinaan dan pengawasan memuat tentang retribusi, cara
    menguur tingkat penggunaan jasa dan prinsip yang dianut dalam
    penetapan struktur dan besarnya tarif, wilayah pemungutan, masa
    retribusi dan retribusi terutang dn tata cara pemungutan dan
    pembayaran, keberatan, pengurangan, keringan dan pembesasan
    retribusi, pengembalian kelebihan pembayaran, tata cara penagihan
    dan kadarluwarsa penagihan;
9) Pengenaan biaya operasional sebesar 5%;
10) Sanksi administrasi;
11) Ketentuan    penyidikan   didalamnya     mencakup    kewenangan
    penyidik;
12) Ketentuan pidana bagi tindak pelanggaran;
13) Ketentuan peralihan yang di dalamnya menerangkan tentang
    jangka waktu ijin usaha industri, ijin usaha perdagangan,dan tanda
    daftar gudang.
    Dalam peraturan daerah ini yang akan dikaji ada dalam pasal 11
yaitu kewenangan pemberian ijin usaha industri dilimpahkan kepada
kepala dinas.
8. Surat Keputusan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal
   Nomor: 57/SK/2004 tentang Pedoman dan Tata Cara Permohonan
   Penanaman Modal yang Didirikan dalam Rangka Penanaman
   Modal Dalam Negeri dan Penanaman Modal Asing
  a.    Dasar Hukum
       1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1967 tentang Penanaman
          Modal Asing;
       2) Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1968 tentang Penanaman
          Modal Dalam Negeri;
       3) Undang-Undang      Nomor       7    Tahun   1983   tentang    Pajak
          Penghasilan;
       4) Undang-Undang      Nomor       8    Tahun   1983   tentang    Pajak
          Pertambahan Nilai Barang;
       5) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1995 tentang Perseroan
          Terbatas;
       6) Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1995 tentang Usaha Kecil;
       7) Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan;
       8) Undang-Undang       Nomor          13   Tahun      2003      tentang
          Ketenagakerjaan.
  b.    Latar Belakang Masalah
          Peningkatan efektifitas dalam menarik penanam modal untuk
  melakukan investasi di Indonesia.
  c.    Substansi
         1. Ketentuan umum yang berisi definisi badan koordinasi
             penanaman modal, permohonan penanaman modal baru,
             permohonan      perluasan       penanaman    modal,    perluasan
             penanaman modal di subsektor tanaman pangan dan
             perkebunan, permohonan perubahan penanaman modal,
             persetujuan PMDN, persetujuan PMA, persetujuan perluasan,
             persetujuan perubahan, izin kegiatan kantor perwakilan
             perusahaan asing, perizinan pelaksanaan, persetujuan fasilitas
              penanaman       modal,     angka    pengenal importir       terbatas,
              keputusan tentang pengesahan rencana penggunaan tenaga
              kerja asing, keputusan tentang izin memperkerjakan tenaga
              kerja asing, izin usaha tetap, izin usaha tetap perluasan,
              perubahan status, merger, laporan kegiatan penanaman modal,
              usaha kecil;
          2. Calon penanaman modal wajib mengajukan permohonan
              kepada kepala BKPM;
          3. Petunjuk teknis pelaksanaan penanaman modal.
          Aturan di atas disinkronkan dengan pasal 2 dimana calon
   penanam modal wajib mengajukan permohonan melalui kepala badan
   koordinasi penanaman modal.


9. Proses Legislasi Peraturan Daerah
          Pembahasan rancangan perturan daerah menurut Undang-
   Undang Nomor 10 Tahun 2004 di DPRD bersama Gubernur atau
   Bupati/Walikota, pembahasan tersebut dilakukan malalui tingkat-tingkat
   pembicaraan. Tingkat-tingkat pembicaraan ini dilakukan dalam rapat
   komisi/panitia/alat kelengkapan DPRD yang khusus menangani di
   bidang legislasi dan rapat paripurna.
          Rancangan peraturan daerah dapat ditarik kembali sebelum
   dibahas bersama-sama oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dan
   Gubernur/Walikota,        rancangan     tersebut     dapat   ditarik   kembali
   berdasarkan    persetujuan     bersama        DPRD     dan    Gubernur     atau
   Bupati/Walikota. Rancangan peraturan daerah yang telah disetujui
   bersama oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dan Gubernur atau
   Bupati/Walikota disampaikan oleh pimpinan Daerah kepada Gubernur
   atau Bupati/Walikota untuk ditetapkan menjadi peraturan daerah.
   Penyampaian rancangan peraturan daerah dilakukan dalam jangka waktu
   paling lambat 7 hari terhitung sejak tanggal persetujuan bersama.
          Rancangan peraturan daerah tersebut di atas ditetapkan oleh
   Gubernur atau Bupati/Walikota dengan membubuhkan tanda tangan
   dalam jangka waktu paling lambat 30 hari sejak rancangan peraturan
   daerah tersebut disetujui bersama oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah
   dan Gubernur atau Bupati/Walikota. Dalam hal rancangan Peraturan
   Daerah tidak ditandatangani oleh Gubernur atau Bupati/Walikota dalam
   waktu 30 hari sejak rancangan peraturan daerah tersebut disetujui
   bersama, maka rancangan peraturan daerah tersebut sah menjadi
   Peraturan Daerah dan wajib diundangkan.
          Peraturan perundang-undangan tingkat daerah adalah peraturan
   perundang-undangan yang dibentuk oleh pemerintah daerah atau salah
   satu unsur pemerintah daerah yang berwenang membuat peraturan
   perundang-undangan tingkat daerah. Peraturan perundang-undangan
   tingkat daerah secara luas mencakup peraturan perundang-undangan
   yang dibentuk oleh satuan pemerintah pusat di daerah atau peraturan
   perundang-undangan yang dibentuk oleh pemerintah pusat yang berlaku
   untuk daerah atau wilayah tertentu. Menurut Pasal 136 (3) Undang-
   Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Peraturan
   daerah dibentuk dalam rangka penyelenggaraan otonomi, tugas
   pembantuan dan merupakan penjabaran lebih lanjut dari peraturan yang
   lebih tinggi dengan memperhatikan ciri khas masing-masing daerah.


10. Legislasi daerah dalam penyusunan Peraturan Daerah
            Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan
   Daerah dibentuk berdasarkan amanat UUD 1945 Pasal 18 mengenai
   mekanisme      penyelenggaraan     pemerintah     di    daerah.    Dalam
   penyelenggaraan pemerintahan di daerah dikenal tiga asas didalamnya,
   yaitu: asas desentralisasi, asas dekonsentrasi, dan asas tugas pembantuan.
          Pasal 18 Undang-Undang Negara Republik Indonesia Tahun
   1945, pemerintah daerah berwenang untuk mengatur dan mengurus
   sendiri urusan pemerintahannya menurut asas otonomi dan tugas
 pembantuan.pemberian otonomi luas kepada daerah diarahkan untuk
 mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat, tetapi tetap
 memperhatikan prinsip demokrasi, pemerataan, keadilan, keistimewaan
 dan kekhususan serta potensi dan keanekaragaman daerah dalam
 kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia.
         Pasal 1 butir 7 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004
 menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan ”asas desentralisasi adalah
 penyerahan wewenang pemerintaan oleh pemerintah pusat kepada
 daerah otonom untuk mengatur dan mengurus pemerintahan dalam
 sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia”.
          Pasal 1 butir 8 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004
 menyatakan bahwa yang dimaksud dengan ”asas dekonsentrasi adalah
 pelimpahan wewenang pemeritahan oleh pemerintah pusat kepada
 Gubernur sebagai wakil pemerintah dan/atau kepada instansi vertikal di
 wilayah tertentu”.
         Pasal 1 butir 9 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004
 menyatakan bahwa yang dimaksud dengan “asas tugas pembantuan
 adalah penugasan dari pemerintah pusat kepada daerah dan/atau desa
 serta pemerintah kabupaten/kota kepada desa untuk melaksanakan tugas
 tertentu”.
        Dengan demikian, pemeritah daerah memiliki kewenangan untuk
membuat kebijakan yang berfungsi untuk memberi pelayanan, peningkatan
peran serta, prakarsa, dan pemerdayaan masyarakat yang bertujuan pada
peningkatan kesejahteraan rakyat di masing-masing daerah otonom.
        Penyelenggaraan pemerintahan daerah dalam melaksanakan tugas,
wewenang, kewajiban dan tanggung jawabnya serta atas amanat peraturan
perundang-undangan yang lebih tinggi, dapat menetapkan kebijakan-
kebijakan daerah yang dirumuskan melalui peraturan daerah dan peraturan
kelapa daerah. Kebijakan daerah tersebut tidak boleh bertentangan dengan
peraturan perundang-undangan lain yang lebih tinggi dan kepentingan
umum.
Peraturan Daerah dibuat oleh DPRD bersama-sama dengan pemerintah
daerah, artinya inisiatif dapat berasal dari DPRD maupun pemerintah
daerah. Khusus peraturan daerah tentang APBD rancangannya disiapkan
oleh pemerintah daerah yang telah mencakup keuangan DPRD, untuk
dibahas bersama DPRD. Peraturan daerah dengan ketentuan daerah
lainnya yang bersifat mengatur diundangkan dan menetapkannnya dalam
Lembaran Daerah.
        Pengertian peraturan daerah menurut Undang-Undang Nomor 10
Tahun 2004 adalah peraturan perundang-undangan yang dibentuk oleh
Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dengan persetujuan bersama Kepala
Daerah. Peraturan Daerah sebagai salah satu jenis peraturan perundang-
undangan di Indonesia termasuk dalam hirarki peraturan perundang-
undangan, dapat dilihat dalam Pasal 7 ayat (1) sebagai berikut:
        1. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945;
        2. Undang-undang/ Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-
           undang;
        3. Peraturan Pemerintah;
        4. Peraturan Presiden;
        5. Peraturan Daerah.
        Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan
Peraturan Perundang-undangan juga mengatur mengenai penyusunan
Perda   sebelum dibentuk.        Pembentukan program      legislasi daerah
merupakan perintah dari Pasal 15 ayat (2) Undang-Undang Nomor 10
Tahun 2004 yang menyatakan bahwa:
        ”Perencanaan penyusunan Perda dilakukan dalam suatu proses
legislasi daerah”. Dengan demikian, proses pembentukan peraturan
daerah harus terlebih dahulu melalui proses penetapan program legislasi
daerah, dimana pembentukan peraturan daerah merupakan bagian dari
pembangunan di daerah yang mencakup pembangunan sistem hukum
daerah yang dilakukan mulai dari perencanaan atau program secara
nasional, terpadu dan sistematis.
              Pasal 1 angka 10 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang
       Pembentukan Peraturan Perundang-undangan merumuskan program
       legislasi daerah sebagai instrumen perencanaan program pembentukan
       peraturan daerah yang disusun secara berencana, terpadu dan sistematis.
       Program legislasi daerah diadakan supaya dalam pembentukan peraturan
       perundang-undangan di tingkat daerah dapat dilaksanakan secara
       terencana. Dalam program legislasi daerah perlu menetapkan mengenai
       pokok materi yang hendak diatur serta kaitannya dengan peraturan
       perundang-undangan lain diatasnya. Dengan demikian, penyusunan
       program legislasi daerah harus disusun bersama DPRD serta Kepala
       Daerah. Di samping itu pula program legislasi daerah dimaksudkan untuk
       menjaga agar produk peraturan perundang-undangan daerah tetap berada
       dalam kesatuan sistem hukum nasional.
               Peraturan   mengenai tata     cara   mempersiapkan   rancangan
       peraturan daerah yang berasal dari Kepala Daerah dalam Pasal 26
       Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 dikatakan bahwa”rancangan
       peraturan daerah dapat berasal dari DPRD atau gubernur, atau
       bupati/walikota, masing-masing sebagai kepala pemerintahan daerah
       provinsi, kabupaten atau kota”. Pengaturan tersebut dapat dipahami
       bahwa rancangan perturan daerah dapat diajukan oleh Kepala Daerah dan
       DPRD, tata cara mempersiapkan rancangan peraturan daerah yang bersal
       dari kepala daerah diatur dengan peraturan presiden.
               Pasal 28 ayat (1) Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004
       menentukan bahwa ”rancangan peraturan daerah dapat disampaikan oleh
       anggota, komisi, gabungan komisi atau alat kelengkapan khusus yang
       menangani legislasi DPRD”.


3. Perkembangan Investasi di Kota Surakarta periode tahun 2004-2009
        Munculnya era otonomi daerah dengan ditandai keluarnya Undang-
  Undang Nomor 22 Tahun 1999 yang diganti Undang-Undang Nomor 32 Tahun
  2004 tentang Pemerintahan Daerah berdampak langsung terhadap pengelolaan
maupun kemajuan suatu daerah kedepannya. Kemajuan suatu daerah sebagai
konsekuensi adanya otonomi daerah tidak bisa dilepaskan dari keberadaan
investor yang berinvestasi di daerah. Tidak kalah penting juga untuk
diperhatikan dari pelaksanaan otonomi daerah adalah bagaimana strategi
Pemerintah Daerah dalam meningkatkan efisiensi dan efektivitas pengelolaan
sumber daya keuangan daerah dalam rangka peningkatan kesejahteraan dan
pelayanan kepada masyarakat.

      Berdasarkan misi dan tujuan Pemerintah Daerah (Pemda) yang ada,
maka salah satu pendapat dalam pelaksanaan otonomi daerah adalah Pemda
harus mempunyai sumber-sumber keuangan yang memadai untuk membiayai
penyelenggaraaan otonominya. Kapasitas keuangan daerah akan sangat
menentukan kemampuan Pemda dalam menjalankan fungsi-fungsinya, seperti:
fungsi pelayanan masyarakat (public service function), fungsi pelaksanaan
pembangunan (development function), dan fungsi perlindungan kepada
masyarakat (protective function).

         Untuk mencapai tujuan ideal tersebut, Pemerintah Daerah mau tidak
mau harus mengedepankan upaya menumbuhkan investasi di daerahnya
sebagai sumber pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan. Investor
potensial dapat berasal dari pengusaha daerah itu sendiri maupun pengusaha
luar daerah, bahkan pengusaha dari luar negeri. Siapa pun calon investornya,
syarat utama berkembangnya investasi di suatu daerah adalah adanya iklim
investasi yang sehat dan kondusif. Persyaratan utama dari iklim investasi
seperti itu adalah adanya aturan yang jelas, tidak adanya ekonomi biaya tinggi
dan alur birokrasi yang tidak berbelit-belit sehingga calon investor yang hendak
berinvestasi tidak ragu-ragu untuk menanamkan modalnya karena didaerah
tujuan tersebut ada suatu suatu kepastian yang mengatur untuk berinvestasi.

         Keberadaan investor memang tidak dapat dilepaskan dari perijinan
investasi di daerah yang diberlakukan oleh Pemerintah Daerah yang terkait.
Kemudahan perijinan investasi di daerah, merupakan faktor utama dalam
mewujudkan terlaksananya kerjasama yang menguntungkan antar kedua pihak
yakni investor dan Pemerintah Daerah. Prosedur perijinan yang praktis dan
tidak berbelit-belit, merupakan suatu harapan bagi para investor untuk
pengembangan usahanya. Masalah perijinan usaha sebagai bagian dari
pelayanan publik yang diberikan oleh Pemda merupakan aspek yang
menentukan bagi kondusifitas iklim usaha di daerah. Dalam pelaksanaan fungsi
pelayanan masyarakat (public service), Pemerintah Daerah dihadapkan pada
masalah pengambilan keputusan investasi publik. Alokasi belanja untuk
investasi publik harus mendapat perhatian yang lebih besar dibandingkan
dengan belanja rutin untuk membayar gaji pegawai, belanja barang dan jasa,
perjalanan dinas dan pengeluaran rutin lainnya.

         Pembinaan dan pengembangan investasi daerah, paling tidak memiliki
dua pihak yang berpengaruh secara langsung yaitu; 1) aparatur pembina
investasi, 2) pelaku usaha/investor. Kedua belah pihak tesebut masih sering
terjadi ketidaksepadanan, terutama dalam wawasan bisnis, manajemen dan
masalah teknis lainnya. Untuk itu upaya peningkatan pembinaan dan
pengembangan sumber daya manusia yang profesional, mandiri dan menguasai
wawasan bisnis sangat diperlukan. Upaya-upaya lainnya adalah melakukan
berbagai temu usaha untuk kesepadanan wawasan antara aparatur pembina
dengan pelaku bisnis/investor. Kesepadanan dimaksud dapat optimal jika kedua
belah pihak memahami, menghayati, dan mengamalkan bisnis dan investasi,
keahlian manajemen dan penguasaan ketrampilan teknis pengembangan
investasi.

       Dalam pelaksanannya selama ini, investor atau calon investor dalam
proses mengurus ijin usaha harus melalui suatu alur yang sangat panjang.
Investor yang akan menanamkan modalnya paling tidak harus menunggu waktu
150 hari untuk mengurus segala perizinan dan tahapan yang harus dilalui.
Mengingat alur birokrasi yang sudah barang tentu berbelit-belit dan
mengganggu iklim kondusif dalam dunia investasi maka untuk menumbuhkan
kegiatan investasi dan pelayanan investasi, pemerintah membuat aturan bidang
investasi yang baru yaitu pelayanan perizinan secara satu atap. Kegiatan
investasi pelayanan satu atap ini lahir dengan keluarnya Keputusan Presiden
Nomor 29 Tahun 2003. Lahirnya Keppres tersebut dilatarbelakangi suasana
euforia Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah
yang sekarang telah diubah menjadi Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004.

      Secara umum kondisi perekonomian nasional telah mengarah pada
kondisi yang lebih baik, meskipun masih diwarnai situasi politik yang belum
kondusif.   Adanya   kebijakan-kebijakan    pemerintah   dibidang   ekonomi
memberikan tanda kearah perbaikan ekonomi yang lebih baik.
      Sejalan dengan kondisi ekonomi nasional, kinerja ekonomi Surakarta
tahun 2009 mengalami peningkatan yaitu sebesar 5,90 persen lebih rendah
dibandingkan tahun 2008 (5,69 persen).
      Pertumbuhan ekonomi Kota Surakarta pada tahun 2009 secara agregat
cukup dinamis. Sejak terjadinya krisis pada pertengahan tahun 1997 dan tahun
1998, pertumbuhan ekonomi tahun tersebut menurun drastis sekitar minus
13,93 persen. Namun demikian pada periode 2001 sampai 2008, perekonomian
Surakarta menunjukan adanya perbaikan yaitu tumbuh berkisar 4-6 persen
(Bapeda Kota Surakarta: 2008).
  Tabel: 1.3 Pertumbuhan Ekonomi Kota Surakarta Tahun 2001-2009
    Tahun                                Pertumbuhan Ekonomi(persen)
    2001                                 4,12
    2002                                 4,97
    2003                                 6,11
    2004                                 5,80
    2005                                 5,15
    2006                                 5,43
    2007                                 5,83
    2008                                 5,69
    2009                                 5,90
      Tahun 1998, dimana pada tahun tersebut terjadi puncak krisis ekonomi,
hampir semua sektor mengalami laju pertumbuhan negatif. Dalam tahun 1999
ditandai mulai membaiknya perekonomian,seluruh sektor ekonomi berhasil
bangkit dengan laju pertumbuhan positif. Selanjutnya tahun 2000 sampai 2009
seluruh sektor ekonomi sudah menunjukkan kearah positif. Pada tahun 2008,
sektor bangunan mengalami pertumbuhan yang paling besar dibandingkan
dengan sektor ekonomi lainnya, yaitu sebesar 10,27 persen. Sedangkan sektor
pertanian merupakan sektor dengan pertumbuhan terendah yaitu sebesar -1,14
persen. Sedangkan pada tahun 2009 sektor listrik, gas dan air bersih
mengalamipertumbuhan yang paling besar dibandingkan dengan sektor
ekonomi lainnya yaitu sebesar 8,13 persen. Sedang sektor pertambangan dan
penggalian merupakan sektor yang pertumbuhannya terendah sebesar 2,24
persen.
Tabel 23. Pertumbuhan Sektor Ekonomi di Kota Surakarta 2004-2009


     Sektor                                    Tahun
                    2004      200      2006        2007      2008    2009
        (1)           (2)      (3)       (4)           (5)    (6)     (7)
  1. Pertanian      -2,37     0,88     1,20        1,54      -1,14   1,19
  2. Pertambangan   -0,72     3,34     -0,21       2,31      4,22    -2,24
  3. Industri       6,07      1,47     2,25        3,46      2,32    2,94
  4. Listrik,Gas,   7,61      4,45     9,25        5,56      6,35    8,13
     Air
  5. Bangunan       1, 44     8,24     5,85        9,64      10,27   7,30
  6. Perdagangan,   8,01      7,58     6,93        6,36      7,52    6,35
     Hotel,
     Restoran
  7. Pengangkutan, 7,52       5,48     5,96        6,00      4,92    7,75

     Komunikasi
  8. Keuangan,      5,65      6,74     6, 20       5, 93     5,73    7,11

     Persewaan,
     JsPerusahaan
                    4,54      4,79     6,97        6,20      5,22    7,05
  9. Jasa-jasa
                    5,80      5,15     5,43        5,82      5,69    5,90



     TOTAL

Sumber : PDRB Kota Surakarta Tahun 2009

        Dari beberapa tahun yang lalu sampai tahun 2006, sektor industri
  pengolahan masih merupakan sektor yang menjadi andalan yang terbesar di
  Kota Surakarta. Tetapi dua tahun terakhir 2007, 2008, Industri Pengolahan
  sumbangannya terhadap total Pendapatan Domestik Rasional Bruto (PDRB)
  Kota Surakarta pada tahun 2008 yaitu sebesar 23,27 persen, nomor dua paling
tinggi dibanding dengan sektor lain. Dimana tahun-tahun sebelumnya selalu
paling tinggi.

      Selanjutnya yang memberikan sumbangan terbesar adalah sektor
perdagangan, hotel dan restoran, ketiga adalah sektor Bangunan, pada tahun
2008 masing-masing memberikan sumbangan sebesar 25,12 persen dan 14,44
persen. Pertambangan/Penggalian dan Pertanian merupakan sektor yang
memberikan sumbangan terkecil yakni hanya sebesar 0.04 persen dan 0,06
persen.

      Secara keseluruhan, dalam lima tahun terakir tidak terjadi pergeseran
struktur ekonomi yang berarti, masing-masing sektor masih dalam posisi yang
sama. Hanya sektor Industri digeser oleh sektor Perdagangan.

    Sektor industri dalam kelangsungannya diharapkan mempunyai peranan
yang cukup besar dalam upaya mempercepat proses pemulihan ekonomi pasca
badai krisis ekonomi yang melanda Indonesia, melalui peranannya baik dalam
hal besaran nilai tambah maupun dalam penyerapan tenaga kerja. Melihat
kondisi tersebut, Pemerintah Kota Surakarta perlu untuk segera memanfaatkan
dan menggunakan potensi yang dimiliki daerah melalui pemberdayaan industri
kecil dan menengah maupun industri rumah tangga.

     Geliat bisnis di Kota Surakarta ternyata tidak berakhir sampai disitu saja.
Kota Surakarta yang dikenal sebagai kota perdagangan dan industri ternyata
tetap mampu menjaga eksistensinya sebagai kota yang kondusif untuk
berinvestasi. Iklim usaha Surakarta yang cenderung kondusif tersebut
menjadikan daya terik tersendiri bagi kalangan investor untuk berinvestasi di
Kota Surakarta. Untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi di Surakarta serta
mewujudkan target Surakarta sebagai daerah Pro Investasi di Jawa tengah,
Pemerintah Kota Surakarta mengeluarkan aturan yang sangat mendukung dan
memberi jaminan kepastian hukum. Hal ini dilakukan bukan tanpa alasan.
Jaminan akan iklim yang kondusif dalam berusaha, kepastian hukum serta
pelayanan yang prima dalam           perijinan merupakan rangsangan bagi para
investor untuk berinvestasi di Kota Surakarta.


 1) Peluang / Potensi Ekonomi dan Investasi di Kota Surakarta
           Visi Kota Surakarta adalah “Terwujudnya Kota Sala sebagai kota
    budaya yang bertumpu pada potensi perdagangan, jasa, pendidikan,
    pariwisata, dan olah raga”. Dari Visi Kota Surakarta tadi dapat diketahui
    bahwa arah kedepan dari Kota Surakarta adalah mewujudkan kota berbasis
    pada dunia bisnis dan ekonomi serta tetap berlandaskan pada nilai-nilai
    budaya kedaerahan. Hal ini tentunya sangat beralasan mengingat Kota
    Surakarta atau yang lebih dikenal dengan sebutan Kota Sala telah dikenal
    sebagai Kota Bisnis dan Kota Budaya dengan berbagai sentra bisnis dan
    cagar budaya yang masih terjaga keberadannya. Dilihat dari komposisi dan
    prosentase penduduk bekerja menurut lapangan usaha maka dapat
    digambarkan sebagai berikut:
     Tabel 3.3 Prosentase penduduk bekerja menurut lapangan usaha
      NO            SEKTOR LAPANGAN USAHA                           JUMLAH (%)
       1                   Pertanian, Kehutanan                          0.86
       2                       Pertambangan                              0,08
       3                    Industri pengolahan                          21,41
       4                    Listrik, Gas dan Air                         0,74
       5                         Bangunan                                3,43
       6          Perdagangan, Rumah Makan dan Hotel                     45,69
       7                  Angkutan, Pergudangan                          5,38
       8                    Keuangan, Asuransi                           1,19
       9                       Jasa-jasa lain                            21,22
                                JUMLAH                                   100

     (http://www.surakarta.go.id/solo/index.php?option=isi&task=view&id=7&Itemid=4.


           Dari tabel di atas terlihat potensi Kota Surakarta yang menonjol di
    bidang Industri Pengolahan, Perdagangan, dan Pariwisata. Sektor industi
di Kota Surakarta, terutama didukung oleh industri menengah dan kecil.
Kedua jenis industri tersebut pada dasarnya sudah memiliki langganan
baik di dalam maupun luar negeri. Mengingat target terwujudnya Kota
Surakarta sebagai Kota Bisnis dan Budaya tersebut maka Pemerintah Kota
Surakarta telah merangkai berbagai strategi untuk mewujudkannya.
Dengan memahami dan mencermati faktor-faktor internal maupun
eksternal dilihat dari aspek kekuatan, kelemahan, maupun peluang yang
ada maka strategi pembangunan Kota Surakarta antara lain dijabarkan
melalui optimalisasi peran strategis Kota Surakarta sebagai pusat
pelayanan dan industri jasa bagi daerah sekitarnya dengan memanfaatkan
akses ketiga tempat pertumbuhan, yaitu Yogyakarta, Semarang, dan
Surabaya sebagai jalur perdagangan ekspor dan impor. Langkah-langkah
yang dilakukannya antara lain dengan membuka peluang sebesar-besarnya
kerjasama yang saling menguntungkan dengan daerah lain termasuk
dengan pihak swasta maupun masyarakat.

     Dalam     rangka    mengoptimalkan      peran    masyarakat    dalam
pembangunan antara lain dilakukan dengan membuka peluang bagi
pemberdayaan dan partisipasi masyarakat dalam perencanan, pelaksanaan,
dan pengawasan terhadap pembangunan, sehingga mendorong tumbuhnya
rasa memiliki dan cinta masyarakat terhadap Kota Surakarta. Selain itu
perlu dilakukan adanya revitalisasi ekonomi masyarakat di segala bidang
dalam rangka peningkatan kualitas sumber daya manusia, membuka
peluang usaha, penyediaan lapangan kerja dan peningkatan pendapatan
masyarakat.

     Melihat kondisi sumber daya alam maupun sumber daya manusia di
Kota Surakarta yang begitu potensial, maka perkembangan di bidang
ekonomi maupun investasi perlu untuk diarahkan agar pembangunan di
Kota Surakarta bisa tertata dengan baik. Potensi-potensi investasipun perlu
untuk dikembangkan lebik lanjut. Dari potensi yang ada tersebut dapat
diuraikan peluang-peluang sektor ekonomi di Kota Surakarta dapat
diklasifikasikan menjadi beberapa bidang yaitu :

a. Bidang Perdagangan.
         Kota    Surakarta   memiliki    struktur   perekonomian       sebagai
    perekonomian jasa. Kegiatan di bidang jasa ini yang paling menonjol
    di Kota Surakarta adalah kegiatan perdagangan. Posisi strategis Kota
    Surakarta yang terletak di jalur strategis transportasi utara dan selatan
    Jawa, memungkinkan Kota Surakarta menjadi kota transit yang ramai
    dituju.

         Fasilitas pasar sebagai penggerak transaksi perdagangan antar
    konsumen dan produsen perlu ditingkatkan dalam rangka menguatkan
    peranan Surakarta sebagai kota jasa. Saat ini Surakarta sangat
    berpotensi dengan didukung keberadaan beberapa pasar di Surakarta
    baik Pasar Tradisional maupun Pasar Modern berupa pusat-pusat
    perbelanjaan modern (Mall) yang baru-baru ini berdiri di Surakarta. Di
    Kota Surakarta sampai saat ini tercatat terdapat 38 buah pasar
    tradisional, yang terdiri dari 5 unit kategori besar, 9 Unit kategori
    menengah, dan 24 unit kategori kecil. Disamping itu keberadaan pusat
    perbelanjaan atau sering dikenal dengan sebutan Mall seperti Solo
    Grand Mall, Solo Square, Pusat Grosir Solo, Beteng Trade Center,
    Matahari Singosaren, Lotte Mart menjadi daya tarik tersendiri bagi
    akses perdagangan di Kota Surakarta.

        Berdasarkan analisis internal tentang kekuatan dan kelemahan
    internal dalam rangka pengembangan perdagangan serta analisis
    eksternal tentang peluang dan hambatan eksternal yang berkaitan
    dengan pengembangan perdagangan dapat disimpulkan bahwa masih
    terdapat banyak peluang kegiatan investasi di bidang perdagangan,
    antara lain berupa investasi sarana prasarana yang terdiri dari:
            1) Pemeliharaan bangunan/gedung pasar,
            2) Peralatan/perlengkapan kebersihan pasar,
            3) Peralatan/perlengkapan fasilitas pasar,
            4) Pengembangan jaringan informasi, dokumentasi dan
               komputerisasi,
            5) Pengadaan armada kebersihan sampah pasar,
            6) Pengembangan Solo Trade Centre

       Selain investasi berupa sarana prasarana tersebut, juga perlu
   dilakukan penguatan kelembagaan dengan investasi :

            1) Pembinan himpunan / paguyuban / komunitas/asosiasi
               pedagang pasar,
            2) Pembinaan petugas keamanan / satpam pasar,
            3) Pembinaan Koperasi Pedagang Pasar,
            4) Pengembangan media informasi dan pelayanan kepada
               para pedagang,
            5) Pembinaan koperasi pedagang pasar
                                             (Bapeda, 2005:IV-14 - IV-16)
b. Bidang Industri
      Melihat potensi di bidang perindustrian dapat diketahui terjadi
   peningkatan pada sektor industri. Hal ini terlihat dari meningkatnya
   kontribusi sektor industri pada pembentukan PDRB Kota Surakarta.

      Industri berpotensi yang menjadi unggulan sekaligus primadona di
   Kota Surakarta dan berusaha untuk terus dikembangkan antara lain
   adalah: tekstil, makanan, minuman, penerbitan, percetakan            dan
   furniture. Berdasarkan nilai produksi, industri tekstil menempati
   urutan pertama, kemudian diikuti jenis industri penerbitan, percetakan
   pada urutan kedua dan jenis industri makanan dan minuman
   menempati urutan ketiga.
      Berdasarkan analisis internal tentang kekuatan dan kelemahan
   internal dalam rangka pengembangan perindustrian serta analisis
   eksternal tentang peluang dan hambaan eksternal yang berkaitan
   dengan pengembangan perindustrian dapat disimpulkan bahwa masih
   terdapat banyak peluang kegiatan invesasi dibidang perindustrian,
   antara lain berupa investasi sarana prasarana yang terdiri dari :

       1) Penataan area industri,
       2) Peningkatan Hardware dan Software Produk Industri,
       3) Peningkatan dan pengembangan akses industri dengan
            membangun jalan dan jembatan,
       4) Pembangunan gedung pusat data dan informasi,
       5) Peningkatan sarana produksi industri (mesin-mesin).

       Selain investasi di bidang sarana-prasarana tersebut, perlu usaha
   penguatan kelembagaan industri dengan investasi antara lain:

       1) Pembinaan jaringan kemitraan industri antara pelaku industri,
            asosiasi pengusaha sejenis, Kamar Dagang dan Industri daerah
            serta Pemerintah daerah,
       2) Penjadwalan pameran industri,
       3) Temu usaha (Business Gathering)

c. Bidang Pariwisata

      Peraturan Daerah Nomor 6 Tahun 2001 tentang Susunan dan Tata
   Kerja Perangkat Daerah Kota Surakarta menetapkan bahwa untuk
   urusan kepariwisataan diserahkan kepada Dinas Pariwisata Seni dan
   Budaya     (Diparsenibud)   Kota Surakarta.      Tugas dan          kegiatan
   Diparsnibud Kota Surakarta meliputi :

              1) Pengembangan usaha akomodasi wisata, rekreasi, dan
                  hiburan umum,
          2) Pembinaan Pelaku Wisata,
          3) Pengendalian dan pengembangan aset budaya,
          4) Pemasaran Wisata,
          5) Penyelenggaraan penyuluhan.

   Keberadaan Kota Surakarta sebagai Kota sejarah dan Kota Budaya
menjadi magnet tersendiri untuk menarik wisatawan datang ke
Surakarta. Berbicara sektor pariwisata di Kota Surakarta dapat
dikatakan sangat strategis mengingat keberadaan Kota Surakarta di
Pusat Pemerintahan Eks Karisidenan Surakarta dan didukung pula
dengan keberadaan beberapa objek wisata disekeliling daerah ini yang
mampu    menjadi pendukung pengembangan sektor pariwisata.
Berbagai macam cagar budaya dan objek wisata terkenal yang terdapat
di Kota Surakarta ini antara lain         Kraton Kasunanan, Puro
Mangkunegaran, Museum Radya Pustaka, Taman Wisata Sriwedari,
Gedung Wayang Orang Sriwedari, Taman Satwa Taru Jurug, dan
Taman Balekambang, Gladag Langen Bogan (Galabo), Ngarsopuro
Night Market.

   Pengembangan sektor Pariwisata di Surakarta sangatlah potensial.
Hal ini disebabkan karena di Kota Surakarta tersedia juga sarana
prasarana penunjang wisata diantaranya restoran, hotel, dan prasarana
komunikasi. Sarana restoran di Kota Surakarta mulai dari restoran
modern sekelas Kentucky Fried Chicken, Texas Chicken, Pizza Hut,
makanan Khas Solo seperti Ayam Bakar Wong Solo, Timlo Sastro,
Srabi Notosuman, Roti Mandarin dan makanan tradisional khas Solo
lainnya terdapat di restoran maupun warung-warung makan di segala
penjuru Kota Surakarta. Demikian juga sarana akomodasi di Kota
Surakarta berupa hotel dan tempat penginapan yang berkelas
internasional terdapat di kota Surakarta semisal Hotel Lor In, Agas
Hotel, The Sunan Hotel, Novotel, dan Hotel Ibis, Hotel Sahid Jaya,
Best Westerm Premiers, Hotel Orchid dan sebagainya. Sektor
Pariwisata di Surakartapun ditunjang dengan keberadaan infrastruktur
di   bidang    komunikasi     dengan     adanya   beberapa     perusahaan
telekomunikasi seperti PT Telkom Ltd, Indosat Ltd, Excel Comindo
Ltd, yang berkantor dan melakukan kegiatan operasionalnya di Kota
Surakarta. Hal lain yang tak kalah pentingnya adalah, pengembangan
sektor pariwisata di Kota Surakarta ini juga didukung dengan
kemudahan akses transportasi dengan keberadaan terminal kelas A
yaitu terminal Tirtonadi, Stasiun Kereta Api di Balapan, Purwosari
dan Jebres, serta Bandara Udara Adi Sumarmo. Selain itu, di Kota
Surakarta juga tersedia transportasi wisata yaitu Kereta Jaladara yang
melintas dari Stasiun Purwosari sampai Stasiun Sangkah.

     Berdasarkan analisis internal tentang kekuatan dan kelemahan
internal dalam pengembangan pariwisata serta analisis eksternal yang
dilakukan     oleh   Bapeda     Kota     Surakarta     berkaitan   dengan
pengembangan pariwisata dapat disimpulkan bahwa masih terdapat
banyak peluang kegiatan investasi di bidang pariwisata, antara lain
berupa investasi sarana prasarana yang terdiri dari :

            1) Penataan taman Sriwedari sebagai Taman Rekreasi
               Budaya/ Cultural Park,
            2) Penataan Taman Balekambang sebagai Taman Rekreasi
               Anak/ Children Park,
            3) Penataan Taman Satwa Taru Jurug,
            4) Pengembangan Museum Radya Pustaka,
            5) Renovasi Gedung Wayang Orang Sriwedari,
            6) Pembangunan Gedung Seni Budaya sebagai pusat
               kreativitas para seniman di Kota Surakarta,
            7) Pemugaran      Segitiga    Emas:      Slompretan-Srikaton-
               Ngarsopuro,
            8) Pemugaran Segitiga Perak: Gladag-Pagelaran-Pasar
               Gede,
             9) Penyediaan tempat informasi dan komunikasi wisata,
             10) Penyusunan paket-paket wisata,
             11) Pengembangan fasilitas penunjang pariwisata, travel
                 agent, hotel, rumah makan, dan lain sebagainya.

       Disamping bidang-bidang yang telah disebutkan tadi peluang
   investasi lainnya di Kota Surakarta masih terbuka lebar. Beberapa
   bidang yang cukup menarik untuk investasi antara lain pada bidang
   pendidikan, bidang kesehatan, bidang aset daerah, bidang transportasi,
   dan bidang sarana prasarana lainnya.


                          B. Pembahasan
        Penanaman modal yang dimaksudkan dalam Undang-Undang
Nomor 25 Tahun 2007 tentang penanaman modal yaitu bahwa
penanaman modal di Indonesia yang berupa penanaman modal dalam
negeri dapat dilakukan dalam bentuk badan usaha yang berbentuk badan
hukum, tidak berbadan hukum atau usaha perseorangan, atau penanaman
modal, sedangkan penanaman modal asing wajib dalam bentuk perseroan
terbatas berdasarkan hukum Indonesia dan berkedudukan di dalam
wilayah Negara Repubik Indonesia.
        Pengesahan dan perizinan perusahaan diatur dalam bab XI
mengenai pengesahan dan perizinan perusahaan, pengesahan pendirian
badan usaha penanaman modal dalam negeri yang berbentuk badan
hukum atau tidak berbadan hukum dilakukan sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan. Perusahaan penanaman modal yang akan
melakukan kegiatan uasaha wajib memperoleh izin sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan dari instansi yang memiliki
kewenangan, izin tersebut diperoleh melalui pelayanan terpadu satu pintu.
        Pelayanan terpadu satu pintu bertujuan mambantu penanam
modal dalam memperoleh kemudahan pelayanan, fasilitas fiskal, dan
informasi mengenai penanaman modal, pelayanan terpadu satu pintu
dilakukan oleh lembaga atau instansi yang berwenang di bidang
penanaman modal yang mendapat pendelegasian atau pelimpahan
wewenang dari lembaga atau instansi yang memiliki kewenangan
perijinan atau non perizinan di tingkat pusat atau daerah atau lembaga
atau instansi yang berwenang yang mengeluarkan perizinan dan non
perijinan di provinsi atau kabupaten/kota.
           Kedudukan badan koordinasi penanaman modal dalam rangka
koordinasi pelaksanaan kebijakan dan pelayanan penanaman modal,
badan koordinasi penanaman modal mempunyai tugas dan fungsi sebagai
berikut:
1. Melaksanakan tugas dan koordinasi pelaksanaan kebijakan bidang
   penanaman modal;
2. Mengkaji dan mengusulkan kebijakan pelayanan penanaman modal;
3. Menetapkan norma, standar dan prosedur pelaksanaan kegiatan dan
   pelayanan penanaman modal;
4. Mengembangkan peluang dan potensi penanaman modal di daerah
   dengan memberdayakan badan usaha;
5. Membuat peta penanaman modal Indonesia;
6. Mempromosikan penanaman modal;
7. Mengembangkan sektor usaha penanaman modal melalui pembinaan
   penanaman       modal,    antara    lain   meningkatkan     kemitraan,
   meningkatkan daya saing, menciptakan persaingan usaha yang sehat
   dan menyebarkan informasi yang seluas-luasnya dalam lingkup
   penyelenggaraan penanaman modal;
8. Membantu       penyelesaian   berbagai     hambatan   dan   konsultasi
   permasalahan yang dihadapi penanam modal dalam menjalankan
   kegiatan penanaman modal;
9. Mengkoordinasi penanam modal dalam negeri yang menjalankan
   kegiatan penanaman modalnya di luar wilayah Indonesia;
10. Mengkoordinasi dan melaksanakan pelayanan terpadu satu pintu.
        Dalam melaksanakan tugas dan fungsinya serta pelayanan
terpadu satu pintu, badan koordinasi penanaman modal harus melibatkan
perwakilan secara langsung dari setiap sektor dan daerah terkait dengan
pejabat yang mempunyai kompetensi dan kewenangan. Penyelenggaraan
urusan penanaman modal:
1. Pemerintah dan/atau pemerintah daerah menjamin kepastian dan
   keamanan berusaha bagi pelaksanaan penanaman modal;
2. Pemerintah daerah menyelenggarakan urusan penanaman modal yang
   menjadi kewenangannya, kecuali urusan penanaman modal yang
   menjadi urusan pemerintah;
3. Penyelenggaraan urusan pemerintah di bidang penanaman modal yang
   merupakan urusan wajib pemerintah daerah didasarkan pada kiteria
   eksternalitas, akuntabilitas, dan efesiensi pelaksanaan kegiatan
   pelaksanaan penanaman modal;
4. Penyelenggaraan penanaman modal yang ruang lingkupnya lintas
   provinsi menjadi urusan pemerintah provinsi;
5. Penyelenggaraan penanaman modal yang ruang lingkupnya berada
   dalam        satu   kabupaten/kota   menjadi   urusan    pemerintah
   kabupaten/kota;
6. Dalam urusan pemerintah di bidang penanaman modal, yang menjadi
   kewenangan pemerintah adalah:
  a. Penanaman modal terkait dengan sumber daya alam yang
      tidakterbarukan dengan tingkat resiko kerusakan lingkungan yang
      tinggi;
  b. Penanaman modal pada bidang industri yang merupakan prioritas
      tertinggi pada skala nasional;
  c. Penanaman modal yang terkait dengan fungsi pemersatu dan
      penghubung antar wilayah atau ruang lingkupnya lintas provinsi;
  d. Penanaman modal yang terkait pada pelaksanaan strategi;
  e. Penanaman modal asing dan penanaman modal yang menggunakan
      modal asing, yang berasal dar pemerintaha negara lain, yang
      didasarkan perjanjian yang dibuat oleh pemerintah negara lain,
      yang didasarkan perjanjian yang dibuat oleh pemerintah dan
      pemerintah negara lain;
  f. Bidang penanaman modal lain yang menjadi urusan pemerintah
      menurut undang-undang.
       Dalam urusan pemerintah di bidang penanaman modal menjadi
kewenangan       pemerintah.    Pemerintah   menyelenggarakan        sendiri,
melimpahkannya kepada gubernur selaku wakil pemerintah, atau
menguasai pemerintah kabupaten/kota.
       Dalam      Undang-Undang      Nomor        6   Tahun   1968   tentang
Penanaman Modal Dalam Negeri menentukan bahwa izin usaha diatur
oleh pemerintah kecuali diatur oleh undang-undang. Sedangkan Undang-
Undang Nomor 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian menentukan bahwa
setiap pendirian perusahaan industri baru maupun setiap perluasannya
wajib memperoleh izin usaha industri, pemberian izin usaha industri
terkait dengan pengaturan, pembinaan, dan pengembangan industri.
       Keputusan       Presiden   Nomor      29       Tahun   2004   tentang
Penyelenggaraan Penanaman Modal Dalam Rangka Penanaman Modal
Dalam Negeri Melalui Sistem Pelayanan Satu Atap. Keputusan tersebut
menentukan bahwa penyelenggaraan penanaman modal terdiri atas
bidang-bidang:
   a) Kebijakan dan perencanaan pengembangan penanaman modal;
   b) Promosi dan kerjasama penanaman modal;
   c) Pelayanan, dan persetujuan, perijinan, dan fasilitas penanaman
      modal;
   d) Pengendalian pelaksanaan penanaman modal;
   e) Pengelolaan sistem informasi penanaman modal.
       Pasal 4 menentukan bahwa Gubernur/Bupati/Waliokota sesuai
dengan kewenangan pelayanan persetujuan, perizinan dam fasilitas
penanaman modal. Dalam Pasal 6 menentukan Kepala BKPM dalam
melaksanakan sistem pelayanan satu atap berkoorsinasi dengan instansi
yang membina bidang usaha penanaman modal.
        Surat Keputusan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal
Nomor: 57/SK/2004 tentang Pedoman dan Tata Cara Permohonan
Penanaman Modal yang didirikan dalam rangka Penanaman Modal
Dalam Negeri dan Penanaman Modal Asing. Pasal 2 menentukan bahwa
calon penanam modal yang akan melakukan kegiatan penanaman modal
dalam rangka Penanaman Modal Dalam Negeri dan Penanaman Dalam
Negeri wajib mengajukan permohonan kepada kepala BKPM dan surat
persetujuan atas permohonan penanaman modal dalam rangka Penanaman
Modal dalam negeri dan Penanaman Modal Asing ditandatangani oleh
Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal.
        Peraturan Daerah Nomor 9 Tahun 2003 tentang Ijin Usaha
Industri. Peraturan Daerah ini merupakan salah satu peraturan untuk
masuknya penanaman modal ke daerah Kota Surakarta, tata cara
permohonan perizinan untuk masuknya penanaman moda. Untuk
melakukan permohonan pendaftaran izin usaha industri yaitu ditunjukkan
kepada Walikota melalui Kepala Dinas paling lama 5 hari kerja terhitung
sejak penyerahan permohona kepada Kepala Dinas atau pegawai dinas
yang   ditunjuk    wajib   melakukan     pemeriksaan     lokasi,   dalam
pemeriksaannya harus dituangkan dalam Berita Acara Pemeriksaan.
Apabila terjadi penolakan maka Kepala Dinas wajib memberitahukan
alasan penolakan kepada pemohon dalam jangka waktu 5 hari kerja
terhitung mulai tanggal pembuatan Berita Acara Pemeriksaan. Dari
beberapa peraturan perundang-undangan tentang Investasi yang telah
ditunjukkan. Hal yang ingin diteliti oleh penulis yaitu tentang Peraturan
Daerah Nomor 9 Tahun 2003 tentang Ijin Usaha Industri, Ijin Usaha
Perdagangan da Tanda Daftar Gudang yang merupakan salah satu aturan
yang masuknya investor baik itu dalam rangka Penanaman Modal Dalam
Negeri. Dalam Peraturan Daerah ini perizinan dilakukan tidak melalui
Unit Satu Atap akan tetapi melalui Departemen atau melalui dinas yang
ditunjukkan dalam Pasal 13 yaitu bahwa Permohonan Ijin Usaha Industri,
Ijin Usaha Perdagangan dan Tanda daftar Gudang ditujukan kepada
Walikota melalui Kepala Dinas bukan melalui Unit Satu Atap.
       Wewenang penerbitan izin berada pada pemerintah mulai dari
tingkat pusat maupun tingkat daerah (termasuk juga pemerintah daerah
Kota Surakarta), dan tersebar diberbagai sektor kegiatan seperti
penanaman modal, pertambangan, usaha industri, dan pariwisata.
Keadaan ini sering mengakibatkan suatu kegiatan memerlukan beberapa
ijin yang dikeluarkan beberapa instansi yang berbeda-beda, meskipun
dasar pertimbangannya sama, seperti untuk pembinaan, pengaturan,
pengendalian dan pengawasan atas kegiatan bersangkutan. Disamping itu,
sering terjadi suatu ijin menjadi syarat bagi terbitnya ijin yang lain,
sehingga tidak jarang cenderung menimbulkan tumpang tindih perijinan
sehingga menarik bila melakukan sinkronisasi sistem perijinan di bidang
usaha yang berlaku dan diterapkan di kota Surakarta.
       Teori normatif tentang hukum dikemukakan oleh Hans kelsen.
Teori Hans Kelsen bersifat dasar adalah konsepsinya mengenai
Grundnorm. Grundnorm merupakan semcam bensin yang menggerakan
seluruh sistem hukum, yang menjadi dasar mengapa hukum harus
dipatuhi   dan   yang      memberikan   pertanggungjawaban    mengapa
hukumharus dilaksanakan. Stufenbau theory melihat tata hukum sebagai
suatu proses menciptakan sendiri norma-norma, dari norma-norma umum
sampai pada yang lebih konkret.


1. Sinkronisasi antara Peraturan Daerah Nomor 9 Tahun 2003
  tentang Ijin Usaha Industri, Ijin Usaha Perdagangan dengan
  Peraturan Perundang-undangan dibidang Investasi.
           Setelah dilakukan penelitian maka telah ditemukan bahwa
  terjadi ketidaksinkronan antara Peraturan Daerah Nomor 9 Tahun 2003
  dengan beberapa peraturan perundang-undangan tentang investasi
  yaitu sebagai berikut:
   1. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman
      Modal. Menyatakan bahwa perizinan perusahaan penanaman
      modal yang akan melakukan kegiatan usaha wajib memperoleh
      izin melalui pelayanan terpadu satu pintu dimana pelayanan
      terpadu satu pintu bertujuan untuk membantu penanaman
      modal dalam memperoleh kemudahan pelayanan, fasilitas
      fiskal dan informasi mengenai penanaman modal.
   2. Surat Keputusan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal
      Nomor: 57/SK/2004 tentang Pedoman dan Tata Cara
      Permohonan Penanaman Modal yang didirikan dalam rangka
      Penanaman Modal Dalam Negeri dan Penanaman Modal
      Asing. Menentukan bahwa dalam aturan mengenai pelaksanaan
      penanaman modal wajib mengajukan permohonan kepada
      kepala badan koordinasi penanaman modal, kedudukan badan
      koordinasi penanaman modal dalam kaitannya dengan proses
      penanaman modal di daerah yaitu proses penanaman modal
      asing melalui badan koordinasi penanaman modal pusat.
   3. Keputusan   Presiden   Nomor    29   Tahun   2004       tentang
      Penyelenggaraan    Penanaman     Modal     Dalam      Rangka
      Penanaman Modal Dalam Negeri Melalui Sistem Pelayanan
      Satu Atap. Menentukan bahwa pelayanan persetujuan, perijinan
      dan fasilitas penanaman modal dalam rangka PMA dan PMDN
      dilaksanakan melalui pelayanan satu atap. Gubernur sesuai
      dengan kewenangannya dapat melimpahkan kewenangan
      pelayanan persetujuan, perizinan dan fasilitas penanaman
      modal. Kepala badan koordinasi penanaman modal dalam
      melaksanakan sistem pelayanan satu atap berkoordinasi dengan
      instansi yang membina bidang usaha penanaman modal.
       Sedangkan Peraturan Daerah Nomor 9 Tahun 2003 sebagai
salah satu syarat aturan untuk masuknya penanaman modal asing dan
penanaman modal dalam negeri menentukan lain bahwa untuk
     perijinan harus melewati kepala dinas atau melewati pegawai dinas
     padahal yang terjadi di kota Surakarta untuk ijin penanaman modal
     adalah melalui unit satu atap bukan lagi melalui dinas maka
     berdasarkan asas Lex Superior derogat legi inferior menentukan
     hukum yang lebih tinggi mengalahkan hukum yang lebih rendah
     sehingga dengan ketentuan ini maka dapat dikatakan bahwa Peraturan
     Daerah Nomor 9 Tahun 2003 tentang Ijin Usaha Industri, Ijin Usaha
     Perdagangan dan Tanda Daftar Gudang perlu dilakukan revisi karena
     sudah tidak relevan dengan penyelenggaraan pemerintah dibidang
     penanaman modal di kota Surakarta.


2. Akibat Hukum atas Ketidaksinkronan antara Peraturan Daerah
  Nomor 9 Tahun 2003 dengan Peraturan Perundang-undangan
  tentang investasi diatasnya.
          Setelah ditemukan bahwa terjadi ketidaksinkronan antara
   Peraturan Daerah Nomor 9 Tahun 2003 dengan peraturan perundang-
   undangan tentang investasi diatasnya maka menurut asas lex superior
   derogat legi inferior maka peraturan daerah perlu adanya revisi karena
   sudah ada revisi Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang
   Penanaman Modal. Jika suatu Perda tidak sinkron dengan peraturan
   diatasnya dan masih diberlakukan maka akan terjadi kesewenang-
   wenangan birokrat dalam menerbitkan ijin karena tidak ada ukuran baku
   dari peraturan daerah sehingga terjadi tumpang tindih aturan, terlebih
   dalam peraturan daerah tidak ada penjelasan maka tidak bisa dihindarkan
   adanya multi interpretasi.
        Secara mekanisme bahwa peraturan daerah yang disimpulkan
   bermasalah oleh pemerintah, maka peraturan daerah tersebut dapat
   dibatalkan. Setelah dilakukan pembatalan oleh pemerintah dalam hal ini
   adalah pemerintah pusat, maka peraturan daerah yang dimaksud harus
   dicabut oleh daerah yang bersangkutan. Terhadap mekanisme UU No. 32
   Tahun 2004 pertanyaan yang muncul adalah apakah pemerintah yang
mendapatkan     wewenang        atributif      untuk     membatalkan      atau
menangguhkan berlakunya Perda. Sebagai salah satu produk peraturan
perundang-undangan yang bertentangan dengan peraturan perundang-
undangan yang lebih tinggi.
     Alasan pembenar adanya wewenang pemerintah untuk menunda
dan membatalkan berlakunya suatu peraturan daerah, dapat dilihat dari
karakteristik penyelenggaraan pemerintah (Murtir Jeddawi, 2005: 46):
1.   Bahwa wewenang penyelenggaraan               pemerintah daerah muncul
     dari prinsip pemencaran wewenang pemerintah, artinya dalam
     negara kesatuan pada dasarnya penyelenggaraan semua tugas
     pemerintahan negara menjadi tanggung jawab pemerintah pusat.
     Namun     untuk   kepentingan          efisiensi,   efektivitas   tuntutan
     demokratisasi, tugas-tugas tersebut sebagian diserahkan pada
     satuan pemerintahan daerah dan tanggung jawab keseluruhan tetap
     pada pemerintahan pusat.
2.   Pembuatan peraturan perundang-undangan tingkat daerah hanya
     berkaitan dengan urusan runah tangga daerah. Satuan pemerintah
     daerah tidak diperkenankan        membuat peraturan di luar ruang
     lingkup wewenangnya.
3.   Berkedudukan hukum daerah adalah sub sistem negara kesatuan.
     Sebagai sub sistem negara kesatuan. Sebagai sub sistem, maka
     tugas dan wewenang satuan pemerintah dan negara.
4.   Pengawasan dimaksudkan untuk koordinasi dan integrasi tugas-
     tugas dan kebijaksanaan pemerintahan secara keseluruhan.
     Dengan demikian, dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah,
pemerintah yang memiliki wewenang pengawasan hanyalah pengawasan
represif. Artinya produk hukum yang telah ditetapkan memiliki kekuatan
berlaku lebih dahulu, kemudian dilakukan kajian terhadap keabsahannya.
Dengan penjelasan tersebut, maka dalam kajjian ini lebih menekankan
pada pengawasan ditinjau dari segi kedudukan lembaga pemerintah
daerah yaitu pengawasan internal dan pengawasan eksternal.
 1) Pengawasan internal adalah pengawasan yang dilakukan oleh suatu
     badan yang secara kelembagaan termasuk dalam kelembagaan itu
     sendiri.
 2) Pengawasan eksternal adalah pengawasan yang dilakukan oleh
     lembaga yang secara kelembagaan berada di luar lembaga itu sendiri.
     Pengawasan internal dengan melihat Pasal 1 huruf D UU No. 32
Tahun 2004,      bahwa    pemerintah    daerah   adalah   penyelenggaraan
pemerintahan daerah otonom oleh pemerintah daerah dan DPRD menurut
asas desentralisasi, maka DPRD dengan fungsi pengawasan yang dimiliki
termasuk    dalam    kategori   lembaga    pengawasan      internal   dalam
penyelenggaraan otonomi daerah Pasal 69 UU No. 32 Tahun 2004, bahwa
kepala daerah atas persetujuan DPRD dalam rangka penyelenggaraan
otonomi daerah dan penjabaran lebih lanjut peraturan perundang-undangan
lebih tinggi. Demikian pula Pasal 19 ayat (1) huruf F UU No. 32 Tahun
2004 menegaskan bahwa salah satu hak DPRD adalah mengajukan
rancangan peraturan daerah. Dari kedua pasal dapat disimpulkan bahwa
DPRD memiliki wewenang dalam proses penetapan suatu perda. Dengan
demikian, fungsi pengawasan yang dimiliki seharusnya berlaku secara
efektif, dalam arti mengotrol rancangan peraturan daerah yang diajukan
pemerintah daerah, dengan tolak ukur peraturan perundang-undangan yang
lebih tinggi dengan kepentingan masyarakat. Dengan banyaknya peraturan
daerah bermasalah termasuk peraturan daerah yang berkaitan dengan
penanaman modal, memberi kesimpulan bahwa fungsi pengawasan
internal yang dimiliki DPRD terhadap penyelenggaraan pemerintahan
daerah berdasarkan desentralisasi tidak berjalan efektif. Hal tersebut dapat
disebabkan antara lain kesamaan orientasi antara pemerintah daerah
dengan DPRD dalam hal peningkatan pendapatan daerah, dengan harus
menetapkan perda yang bertentangandengan peraturan perundang-
undangan yang lebih tinggi dan kepentingan masyarakat. Dengan keadaan
tersebut berarti DPRD tidak mendayagunakan fungsi pengawasan yang
dimiliki, yaitu tidak melakukan upaya preventif terhadap peraturan daerah,
salain fungsi anggaran dan fungsi legislasi.
         Pengawasan eksternal apabila dilihat dari struktur pemerintahan
dapat dilihat dari Pasal 24 C UUD 1945 bahwa Mahkamah Konstitusi
berwenang mengadili pada tingkat pertama dan terakhir dan putusnya
bersifat final untuk menguji undang-undang terhadap UUD 1945.
Sementara pada      Pasal 24 ayat (1) UUD 1945, menyebutkan bahwa
Mahkamah Agung berwenang mengadili dalam tingkat kasasi, menguji
peraturan perundang-undangan di bawah undang-undang terhadap undang-
undang seperti peraturan pemerintah, keputusan presiden, dan peraturan
daerah. Mahkamah Agung mempunyai wewenang menguji peraturan
perundang-undangan di bawah undang-undang atas alasan bertentangan
dengan     peraturan   perundang-undangan      yang   lebih   tinggi   atau
pembentukannya tidak memenuhi ketentuan yang berlaku. Peraturan
perundang-undangan yang dinyatakan tidak sah, tidak mempunyai
kekuatan hukum mengikat.
         Dalam kaitan itu, Pasal 114 ayat (1) UU No. 32 Tahun 2004 bahwa
pemerintah dapat membatalkan peraturan daerah dan keputusan kepala
daerah    yang bertentangan dengan kepentingan umum, Peraturan
perundang-undangan lainnya.
         Maka dalam menerbitkan peraturan daerah dalam pembuatannya
pasti mengacu pada asas-asas umum pemerintahan yang baik, yaitu:
a. Bahwa dalam melakukan suatu perbuatan administrasi, aparat yang
  berwenang dalam membuat peraturan daerah dilarang mempunyai
  kepentingan dengan perbuatan hukum;
b. Dalam mengeluarkan keputusan-keputusan untuk melakukan perbuatan
  administrasi dalam kewenangannya untuk membuat peraturan daerah
  tidak boleh bertentangan dengan kepentingan masyarakat;
c. Dalam melakukan suatu perbuatan hukum harus berdasarkan fakta-fakta
  yang benar;
  d. Bahwa dalam mengeluarkan suatu produk hukum, bedasarkan asas
    keseimbangan menolak pemerintah untuk bertindak sewenang-wenang.
    Selain itu, pemerintah dituntut untuk bertindak secara bijak, tepat, dan
    hati-hati;
  e. Setiap tindakan harus diarahkan kepada tujuan yang telah ditetapkan
    oleh peraturan perundang-undangan;
  f. Aparat pemerintah dalam hal ini adalah pembuat peraturan daerah
    dalam melaksanakan tugas-tugasnya hendaknya berpandangan jauh ke
    depan. Pemerintah harus dapat meramalkan dengan tepat gejala-gejala
    yang memungkinkan timbul yang dapat menunjang serta berkaitan
    dengan langkah ini diharapkan akan selalu sesuai dengan situasi dan
    kondisi;
  g. Merupakan kewajiban bagi aparat pemerintah dalam menciptakan
    produk-produk hukum, hendaknya menghayati dan memperhatikan rasa
    keadilan, kesadaran hukum dan kebudayaan yang hidup dalam
    masyarakat. Dengan demikian produk hukum yang dihasilkan tidak
    hanya berdasarkan kesadaran hukum penguasa saja, akan tetapi
    merupakan perpaduan yang serasi antara kesadaran hukum penguasa
    dan kesadaran hukum masyarakat.


3. Sinkronisasi Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang
  Pemerintahan Daerah dengan Peraturan Daerah Nomor 9 Tahun
  2003 tentang Ijin Usaha Industri, Ijin Usaha Perdagangan dan Tanda
  Daftar Gudang
         Sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia
  menurut Undang-Undang Dasar 1945 memberikan keleluasaan kepada
  daerah untuk menyelenggarakan otonomi daerah yang ditunjukkan dalam
  Pasal 18 ayat 2, yaitu pemerintah daerah provinsi, daerah kabupaten dan
  kota mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintah menurut asas
  otonomi daerah dan tugas pembantuan.
       Efisiensi dan efektivitas penyelenggaraan pemerintahan daerah
perlu ditingkatkan dengan lebih memperhatikan aspek-aspek hubungan
antar susunan pemerintah dan atau pemerintahan daerah, potensi dan
keanekaragaman daerah, peluang dan tantangan persaingan global dengan
memberikan kewenangan yang seluas-luasnya kepada daerah disertai
dengan pemberian hak dan kewajiban menyelenggarakan otonomi daerah
dalam kesatuan sistem penyelenggaraan pemerintah negara.
       Dalam kenyataannya, Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999
tidak sesuai lagi dengan perkembangan keadaan ketatanegaraan dan
tuntutan penyelenggaraan otonomi daerah maka kemudian disahkan
undang-undang baru yaitu Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang
Pemerintahan Daerah. Pemerintah daerah dalam era otonomi dalam hal ini
berwenang untuk membuat peraturan daerah untuk mengatur pemerintahan
daerahnya, hal ini tercantum dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun
2004 bahwa pemerintah daerah menyelenggarakan urusan pemerintahan
yang menjadi kewenangan daerah, pemerintah daerah menjalankan
otonomi seluas-luasnya untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan
pemerintah      berdasarkan   asas   otonomi.   Penyelenggaraan    urusan
pemerintahan dibagi berdasarkan kriteria eksternalitas, akuntabilitas, dan
efesiensi dengan memperhatikan keserasian hubungan antar susunan
pemerintahan.
       Tata cara pembuatan perda bahwa dalam rangka penyelenggaraan
otonomi daerah bahwa perda ditetapkan oleh kepala daerah setelah
mendapat persetujuan dari DPRD. Perda tersebut merupakan penjabaran
dari undang-undang yang lebih tinggi dengan memperhatikan ciri khas
masing-masing daerah. Dalam tahap menyiapkan peraturan daerah
tersebut, masyarakat berhak memberikan masukan lisan atau tertulis dalam
rangka penyiapan atau pembahasan rancangan perda, aturan tersebut
disampaikan kepada pemerintah paling lama 7 hari setelah ditetapkan dan
tidak boleh bertentangan dengan kepentingan umum dan peraturan
perundangan yang lebih tinggi karena dapat dibatalkan oleh pemerintah.
         Dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan daerah disusun
  perencanaan pembangunan daerah sebagai satu kesatuan dalam sistem
  perencanaan pembangunan nasional, hal tersebut disusun oleh pemerintah
  daerah provinsi, kabupaten/kota sesuai dengan kewenangan yang
  dilaksanakan oleh Badan Perencanaan Pembangunan Daerah.
            Dari ketentuan tata cara pembuatan Perda di atas bahwa Perda
  Nomor 9 Tahun 2003 sudah memenuhi syarat pembentukan Perda. Akan
  tetapi dari segi substansi perda tersebut harus disesuaikan dengan undang-
  undang penanaman modal yang baru dimana perijinan harus melalui Unit
  Pelayanan Terpadu bukan lagi melalui Dinas atau Departemen.


4. Sinkronisasi Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang
  Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan
  Daerah      Daerah dengan Peraturan Daerah Nomor 9 Tahun 2003
  tentang     Ijin Usaha Industri, Ijin Usaha Perdagangan dan Tanda
  Daftar Gudang.
             Pengaturan mengenai pembagian daerah, struktur dan pengaturan
  mengenai hierarkis antara Pemenrintah Pusat dan Pemerintah Daerah
  merupakan roh dari Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang
  Pemerintahan Daerah. Penyelenggaraan pemerintah berdasarkan asa
  desentralisasi dan dekonsentrasi serta tugas pembantuan dan prinsip
  pemerintahan daerah yang melaksanakan otonomi secara seluas-luasnya
  harus tetap dalam semangat koridor memperkokoh Negara Kesatuan
  Republik Indonesia.
             Berbagai upaya telah dilakukan Pemerintah Pusat untuk
  mendorong penanaman modal baik yang berasala dari dalam negeri maupu
  luar negeri antara lain melalui penyederhanaan prosedur penanaman
  modal. Desentraliasasi beberapa kewenangan penanaman modal serta
  peninjauan dalam daftar negatif investasi secara berkala. Kebijakan-
  kebijakan yang diambil oleh Pemerintah tertuang dalam peraturan
  perundang-undangan tentang penanaman modalpun mengalami perubahan
yang sangat drastisseiring adanya otonomi yang diberikan kepada daerah.
Deberlakukannya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang
Pemerintahan Daerah yang kemudian diganti dengan Undang-Undang
Nomo 32 Tahun 2004 dan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang
Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah
Daerah yang kemudian diganti dengan Undang-Undang Nomor 33 Tahun
2004 pada substansinya telah memperluas wewenang daerah, termasuk
hal-hal yang menjadi sumber-sumber pendapatan daerah. Penanaman
modal yang sebelumnya menguntungkan Pemerintah Pusat saja, kini pada
era   otonomi daerah       sangat    menguntungkan      Pemerintah    Daerah.
Pemerintah Daerah mempunyai perimbagan keuangan dengan Pemerintah
Pusat, sehingga Pemerintah Daerah dapat meningkatkan pembangunan dan
mengontrol perekonomian daerah melalui pendapatan-pendapatan daerah.
Oleh karena itu Pemerintah Daerah dituntut untuk dapat mengambil
kebijakan dalam mendorong dan mengatur mengenai penanaman modal
(investasi) di daerah.
         Secara politis, peergeseran penyelenggaraan pemerintahan dari
sentralisasi ke desentralisasi tersebut akan meningkatkan kemampuan dan
tanggung jawab politik daerah, membangun proses demokratisasi, dan
kosolidasi   integral    nasional.   Secara    administratif   akan   mampu
meningkatkan kemampuan daerah dalam merumuskan perencanaan dan
pertanggungjawaban publik. Secara ekonomi akan mampu membangun
keadilan di semua daerah, memcegah eksploitasi pusat terhadap daerah,
serta meningkatkan kemampuan daerah memberikan public goods and
services. Agat tujuan otonomi daerah tadi dapat tercapai, maka diperlukan
instrumen pemerintahan untuk menjadi sumber legitimasi dalam mebentuk
kebijakan publik.
         Dalam hal ini Perda merupakan produk hukum lokal yang
diharapkan mampu         menjadi     sarana   hukum    bagi penyelengaraan
pemerintahan daerah. Dalam hal ini Pemerintah Kota Surakarta telah
membuat instrumen hukum yakni Peraturan Daerah Nomor 9 Thaun 2003
   tentang Ijin Usaha Industri, Ijin Usaha Perdagangan dan Tanda Daftar
   Gudang sebagai jalan masuknya penanaman modal baik dalam rangka
   Penanaman Modal Asing ataupun Penanaman Modal Dalam Negeridi Kota
   Surakarta. Dengan demikian dapat menambah pendapatan daerah sehingga
   dapat membiayai sendiri daerahnya untuk peningkatan pembanguan daerah
   dalam rangka pelaksanaan otonomi daerah. Perlu diperhatikan pelaksanaan
   otonomi daerah adalah bagaimana srategi Pemerintah Daerah dalam ralam
   menignkatkan efisiensi dan efektifitas pengelolaan sumber daya keuangan
   daerah dalam rangka peningkatan kesejahteraan dan pelayanan kepada
   masyarakat.   Pembentukan      Undang-Undang      tentang    Perimbangan
   Keuangan antara Pemerintah Pusat dengan Pemerintahan Daerah
   dimaksudkan     untuk mendukung pendanaan atas penyerahan urusan
   kepada Pemerintah Daerah yang diatur dalam Undang-Undang tentang
   Pemerintah Daerah. Pendanaan tersebut menganut prinsip money follows
   function, yang mengandung makna bahwa pendanaan mengikuti fungsi
   pemerintahan yang menjadi kewajiban dan tanggung jawab masing-
   masing tingkat pemerintahan.
            Dari ketentuan tata cara pembuatan Perda di atas bahwa Perda
   Nomor 9 Tahun 2003 sudah memenuhi syarat pembentukan perda. Akan
   tetapi dari segi substansi perda tersebut harus disesuaikan dengan undang-
   undang penanaman modal yang baru dimana perijinan harus melalui Unit
   Pelayanan Terpadu bukan lagi melalui Dinas atau Departemen.


5. Analisis Perkembangan Investasi di Kota Surakarta
            Di   era   liberalisasi   perdagang    yang   ditandai   dengan
   megacompetition, investor semkain leluasa dalam berinvestasi. Untuk itu
   penerima modal harus menyiapkan berbagai sarana dalam menarik
   investor. Senakain tampak bahwa bahwa di era globalisasi ini, persaingan
   dalam merebut investor semakiun terbuka dan semakin kompetisi. Oleh
   karena itu, dalam upaya menarik investor, tidak hanya mengandalkan
   keunggulan komparatif semata, akan tetapi harus dapat mencipotakan
iklim investasi yang kondusif. Perlu kiranya dikemukakan disini bahwa
kondusivitas dalam berinvestasi tidak saja pada waktu akan melakukan
investasi      akan tetapi sepanjang waktu dalam arti tujuan investasi
memelihara agar iklim investasi tetap kondusif. Untuk iyu peran serta
masyarakat sangat penting untuk turut serta menjaga kondusivitas iklim
investasi.
             Debagaiman yang dikemukakan oleh Bagir Manan, salah satu
konsep dari globalisasi adalah meletakkan segala kegiatan dan hubungan
ekonomi pada peran masyarakat. Berdasarkan kopsep kesiapan hukum
harus, di satu pihak diarahkan pada mempersiapkan masyarakat untuk
menjadi pelaku ekonomi yang utama termasuk hubungan-hubungan
ekonomi global. Pada saat ini, yang terpenting adalah kesiapan aturan
hukum yang dapat lebih memeberdayakan agar menjadi pelaku ekonomi
yang mandiri yang mamapu bersaing dengan pelaku ekonomi lain yang
leboh memberdayakan agar pelaku ekonomi yang mandiri, mampu
bersaing dengan pelaku ekonomi lain.
             Untuk meningkatkan pelayanan kepada investor, dalam Pasal 25
ayat (5) Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman
Modal secara tegas dikemukakan, pelayanan dilakukan secara terpadu
dalam satu pintu. Apa yang diinginkan oleh pembetuk undang-undang
tersebut, cukup ideal untuk mengurus berbagai perizinan dalam rangka
manjalankan kegiatan penanaman modal, para calon investor tidak perlu
mendatangi berbagai instansi pemberi izin. Sebagaimana yang dijabarkan
dalam Pasal 26 ayat (1) Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang
Penanaman Modal, Pelayanan Terpadu Satu Pintu bertujuan membantu
penanam modal dalam memperoleh kemudahan pelayanan, fasilitas fiskal,
dan informasi mengenai penanaman modal. Jika dilihat dari tataran
normatif tentu hal ini cukup menggembirakan bagi calon investor. Disebut
demikian, karena segala sesuatu tang menjadi kebutuhan investor dapat
dijelaskan secara komprehensif oleh petugas yang telah diberi kewenangan
untuk itu. Hal ini juga ditegaskan dalam Pasal 26 ayat (2) UUPM,
pelayanan terpadu satu pintu dilakukan oleh lembaga atau instansi yang
berwenang di bidang penanaman modal yang mendapat pendelegasian
perizinan dan nonperizinan di tingkat pusat atau lembaga atau instansi
yang berwenang mengeluarkan perizinan dan nonperizinan di provinsi atau
kebupaten/kota.
         Penjabaran lebih lanjut perihal pelayanan terpadu satu pintu
diatur dalam Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 27 Tahun
2009 tentang Pelayanan Terpadu Satu Pintu atau One Stop Service di
bidang Penanaman Modal. Kebijakan One Stop Service di Pemerintah
Kota Surakarta yang dijalankan oleh Unit Pelayanan Terpadu (UPT) Kota
Surakarta terbukti telah membantu meningkatkan nilai investasi di Kota
Surakarta.
         Syarat umum berkembangya investasi di suatu daerah adalah
adanya iklim investasi yang sehat dan kondusif. Persyaratan utama dari
iklim investasi seperti itu adalah adanya aturan yang jelas, tidak hanya
adanya ekonomi biaya tinggi dan alur birokrasi yang tidak berbelit-belit
sehingga calon investor yang hendak berinvestasi tidak ragu-ragu untuk
menanamkan modalnya karena di daerah tujuan terseut ada suatu kepastian
yang mengatur untuk berinvestasi. Oleh karena itu, tampaknya harus
diubah dalam mengelola investasi yang semula bersifat pasif ke arah
proaktif. Dengan kata lain, pemerintah dan pihak-pihak yang terkait
dengan pengelolaan investasi perlu menyamakan persepsi, bahwa
kehadiran     investor   sangat   penting   dalam   menggerakkan     roda
perekonomian nasional. Artinya, kehadiran investor tidaklah semata-mata
demi kepentingan pemerintah dan pengusaha, tetapi juga untuk
masyarakat.
         Bagi pebisnis sebenarnya, yang dibutuhkan kecepatan, ketepatan,
dan ukuran yang jelas dalam melakukan sesuatu. Berbagai peraturan dalam
rangka menggiatkan investasi telah diterbitkan oleh pejabat yang diberi
otoritas untuk itu. Yang harus segera distupadukan adalah persepsi tentang
arti pentingnya kehadiran investor bagi daerah. Dengan adanya persepsi
yang sama, diharapkan dapat menjalankan bisnisnya sesuai dengan koridor
hukum. Berdasarkan pandangan di atas, tampak bahwa adanya suatu
undang-undang tidak otomatis akan berjalan sengan sendirinya, akan tetapi
harus diikuti dengan pranata hukum lainnya. Namun juga harus disadari
dengan berjalannya penegakan hukum tidaklah semata-mata bergantung
kapada aparat yang menjalankannya, akan tetapi juga dipengaruhi oleh
budaya hukum adalah sikap manusia terhadap hukum dan sistem hukum,
kepercayaan, nilai, serta harapannya.
                            BAB IV
                          PENUTUP


                          A. Kesimpulan
       Setelah melihat pada hasil penelitian dan pembahasan, penulis
mengambil kesimpulan sebagai berikut :
1. Belum terjadi harmonisasi antara Perda Nomor 9 Tahun 2003 dengan
   aturan bidang investasi lainnya. Peraturan Daerah Nomor 9 Tahun
   2003 tentang Ijin Usaha Industri, Ijin Usaha Perdagangan dan Tanda
   daftar Gudang tidak bertentangan dengan asas lex superior legi
   inferior dengan Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang
   Pemerintahan Daerah, akan tetapi mengenai mekanisme perizinan
   mengalami pertentangan dengan aturan investasi diantaranya adalah
   adalah Undang-undang Nomor 25 Tahun 2007, Keputusan Presiden
   Nomor 29 Tahun 2004, Surat Keputusan Kepala Badan Koordinasi
   Penanaman     Modal    No.57/SK/2004    mengenai    perizinan   yang
   mekanismenya melalui Unit Pelayanan Terpadu sehingga menurut
   penelitian Perda ini dianggap sudah tidak dapat diberlakukan atau
   perlu direvisi dengan Perda baru dimana mekanisme perizinannya
   tidak lagi melalui dinas atau departemen akan tetapi sesuai dengan
   Undang-undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal
   yaitu melalui Unit Pelayanan Terpadu.
2. Dengan adanya aturan bidang investasi yang baru kegiatan investasi di
   Kota Surakarta mengalami peningkatan setelah dilakukan reformasi di
   bidang pelayanan perizinan yang sekarang ditangani Unit Pelayanan
   Terpadu (PTSP) atau yang lebih popular dikenal dengan One Stop
   Service.
                        B. Saran


1. Pemerintah daerah, dalam membuat setiap kebijakan harus
   menyertakan ahli-ahli hukum yang berpengalaman, baik hukum
   nasional maupun internasional.Untuk dapat memberi masukan atau
   setidaknya mengisi kekurangan yang terdapat dalam suatu
   peraturan.
2. Untuk meningkatkan hubungan pelaksanaan wewenang pemerintah
   daerah dengan upaya mendorong investasi diperlukan penataan dan
   pengaturan kembali hubungan wewenang antara pemerintah pusat,
   pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten kota yang berkaitan
   dengan investasi dengan titik berat lebih banyak wewenang
   diletakkan pada daerah, Kabupaten/Kota.
                            DAFTAR PUSTAKA

Dari Buku

A. Abdurrachman. 1991. Ensiklopedi Ekonomi Keuangan Perdagangan. Jakarta :
      Pradnya Paramita.

Amiruddin dan Zainul Asikin. 2004. Pengantar Metode Penelitian Hukum.
      Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.

Bapeda Kota Surakarta. 2009. Kota Surakarta Dalam Angka 2008. Surakarta:
      Bapeda Kota Surakarta.

Bapeda Kota Surakarta 2009. Produk Domestik Regional Bruto Kota Surakarta
      Tahun 2009. Surakarta: Bapeda Kota Surakarta.

Jeddawai Murtir. 2005. Kajian Beberapa Peraturan Daerah tentang Penanaman
      Modal Memacu Investasi di Era Otonomi Daerah. Yaya : UII Press.

Jhonny Ibrahim.2006.Teori dan Metodologi Penelitian Hukum Normatif. Malang:
      Banyumedia Publising.

Peter Mahmud Marzuki. 2006. Teori dan Metodologi Penelitian Hukum Normatif.
       Malang: Bayumedia Publishing.

Rasyidah Rakhmawati,2003.Hukum Penanaman Modal di Indonesia. Malang :
       Bayumedia Publishing.

Sentosa Sembiring.2009.Hukum Investasi.Bandung : Margahayu Permai.

Sudikno Mertokusumo. 2004. Mengenal Hukum (Suatu Pengantar). Yogyakarta :

      Liberty Yogyakarta.

Syaukani.HR.2002. Otonomi Daerah Dalam Negara Kesatuan.Yogyakarta.
      Pustaka Pelajar.

Soerjono Soekanto. 1984. Peranan Ilmu Hukum Dalam Pembangunan.Surabaya :
       Makalah Simposium Peranan Ilmu Hukum Dalam Pembangunan
       Indonesia.

Winarno Surachmat. 1982. Pengantar Penelitian Ilmiah Dasar (Metode dan
      Teknik). Bandun
Dari Makalah

Bagir Manan. 1994. “Fungsi dan Materi Peraturan perundang-undangan”
      Makalah. Disampaikan pada Penataran Dosen Pendidikan Tinggi dan
      Latian Kemahiran Hukum, pada 11 November 1994 di Lampung.

Dari Jurnal

David Woodward. 1996. Effect of globalization and libetalization on poverty :
      concept and issues”. Dalam Globalization and Liberalization: Effect of
      International Economic Relations on Poverty. UNCTAD NY and
      Genewa.. Hlm. 65.

Ridway Delisa A dan Mariya A Thalib. 2003. Globalization and Development
      Free: Trade Foreign Aid, Investment and The Rule of Law”, California
      Western International Lae Journal, Vol 33.

Sunyoto Usman. 2002. Otonomi Daerah, Desentralisasi, dan Demokrasi. Jurnal
      Unisia No.46/XXV/ III/2002.Yogyakarta : Universitas Islam Indonesia.

Dari Undang-undang

Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1967 Tahun 1967 Jo Undang-Undang Nomor 11
      Tahun 1970 tentang Penanaman Modal Asing.

Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1968 Jo Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1970
      tentang Penanaman Modal Dalam Negeri.

Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1985 tentang Perindustrian.

Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan
            Perundang-Undangan.

Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 Perubahan atas Undang-undang Nomor
      22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah.

Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara
      Pemerintah Pusat dengan Pemerintahan Daerah.

Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal.

Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 27 Tahun 2009 tentang Pelayanan
       Terpadu Satu Pintu di bidang Penanaman Modal.
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 15 Tahun 2006 tentang Produk Hukum
       Daerah.

Surat Keputusan Kepala BKPM No: 57/SK/2004 tentang Pedoman dan Tata Cara
       Permohonan Penanaman Modal yang Didirikan dalam rangka Penanaman
       Modal Dalam Negeri dan Penanaman Modal Asing.

Peraturan Daerah Kota Surakarta No 9 Tahun 2003 tentang Ijin Usaha, Industri,
       Ijin Usaha Perdagangan dan Tanda Daftar Gudang.

Peraturan Daerah No. 16 Tahun 2003 tentang Rencana Strategis Kota Surakarta di
       bidang Ekonomi.

Dari Internet

BKPM, 2006. http://bkpm.go.id/ [ 17 Maret 2010 Pukul 06.35 ].

Perkembangan Investasi PMDN dan PMA di Jawa Barat tahun.2005. http://
      westjavainvest.com. [19 Maret 2010 Pukul 06.35].

www://surakarta.go.id_(28 Juli 2010 Pukul 10.00).

http://www.w3c.org/TR/1999/REC-html401-19991224/loose. [19 Maret 2010
Pukul 10.00].
LAMPIRAN
                LEMBARAN DAERAH KOTA SURAKARTA
             NOMOR : 14 TAHUN : 2003 SERI : B NOMOR : 5

                    PEMERINTAH KOTA SURAKARTA

                PERATURAN DAERAH KOTA SURAKARTA

                        NOMOR 9 TAHUN 2003


                              TENTANG

            IJIN USAHA INDUSTRI, IJIN USAHA PERDAGANGAN
                     DAN TANDA DAFTAR GUDANG


                       WALIKOTA SURAKARTA,

Menimbang        : a. bahwa perdagangan, industri dan pergudangan
                      merupakan bidang usaha yang saling berhubungan
                      sekaligus     merupakan   sektor    pendukung
                      perekonomian Kota Surakarta, sehingga dengan
                      demikian diperlukan pengaturan agar dapat
                      menumbuhkan iklim yang kondusif dalam berusaha
                      sekaligus memberikan ketenangan, ketertiban dan
                      kepastian dalam berusaha;

                   b. bahwa dengan ditetapkannya Peraturan Pemerintah
                      Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan
                      Pemerintah dan Kewenangan Propinsi Sebagai
                      Daerah Otonom, pengaturan, pembinaan dan
                      peningkatan pelayanan di bidang perdagangan,
                      industri dan pergudangan merupakan wewenang
                      Pemerintah Kota Surakarta sebagai daerah otonom;

                   c. bahwa untuk maksud sebagaimana tersebut pada
                      huruf a dan huruf b di atas, perlu ditetapkan
                      Peraturan Daerah yang mengatur mengenai I jin
                      Usaha I ndustri, I jin Usaha Perdagangan dan Tanda
                      Daftar Gudang.




                                  1
Mengingat   : 1. Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1950 tentang
                 Pembentukan Daerah-daerah Kota Besar Dalam
                 Lingkungan Propinsi Jawa Timur, Jawa Tengah,
                 Jawa Barat dan Daerah Istimewa Yogyakarta;

             2. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1961 tentang
                Barang (Lembaran Negara Tahun 1961 Nomor 215);

             3. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1965 tentang
                Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-
                Undang Nomor5 Tahun 1962 tentang Perubahan
                Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang
                Nomor 2 Tahun 1960 tentang Pergudangan Menjadi
                Undang-Undang (Lembaran Negara Tahun 1965
                Nomor 54);

             4. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang
                Hukum Acara Pidana (Lembaran Negara Tahun 1981
                Nomor 76, Tambahan Lembaran Negara Nomor
                3209);

             5. Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1982 tentang Wajib
                Daftar Perusahaan (Lembaran Negara Tahun 1982
                Nomor 7, Tambahan Lembaran Negara Nomor
                3214);

             6. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1984 tentang
                Perindustrian (Lembaran Negara Tahun 1984 Nomor
                22, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3480);

             7. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1992 tentang Lalu
                Lintas Dan Angkutan Jalan (Lembaran Negara Tahun
                1992 Nomor 42, Tambahan Lembaran Negara
                Nomor 3274);

             8. Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1995 tentang
                Usaha Kecil (Lembaran Negara Tahun 1995 Nomor
                74, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3611);

             9. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang
                Pajak Daerah Dan Retribusi Daerah (Lembaran
                Negara Tahun 1997 Nomor 41, Tambahan
                Lembaran Negara Nomor 3685) yang telah diubah
                dengan Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2000
                tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 18
                Tahun 1997 (Lembaran Negara Tahun 2000 Nomor
                246, Tambahan Lembatan Negara Nomor 4048);



                            2
10. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang
    Pemerintah Daerah (Lembaran Negara Tahun 1999
    Nomor 60, Tambahan Lembaran Negara Nomor
    3839);

11. Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 1993
    tentang Prasarana Dan Lalu Lintas Jalan (Lembaran
    Negara Tahun 1993 Nomor 63);

12. Peraturan Pemerintah Nomor 13 Tahun 1995
    tentang I jin Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun
    1993 tentang Prasarana Dan Lalu Lintas Jalan
    (Lembaran Negara Tahun 1993 Nomor 63);

13. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000
    tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan
    Propinsi Sebagai Daerah Otonom (Lembaran Negara
    Tahun 2000 Nomor 54, Tambahan Lembaran
    Negara Nomor 3952);

14. Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2001
    tentang Retribusi Daerah (Lembaran Negara Tahun
    2001 Nomor 119, Tambahan Lembaran Negara
    Nomor 4139);

15. Peraturan Daerah Kotamadya Daerah Tingkat I I
    Surakarta Nomor 4 Tahun 1984 tentang Penetapan
    Lokasi dan Pengelolaan Pusat Pergudangan Kota di
    Kentingan;

16. Peraturan Daerah Kotamadya Daerah Tingkat I I
    Surakarta Nomor 3 Tahun 1988 tentang Penyidik
    Pegawai Negeri Sipil Di Lingkungan Pemerintah
    Daerah Kotamadya Daerah Tingkat II Surakarta;

17. Peraturan Daerah Kotamadya Daerah Tingkat I I
    Surakarta Nomor 18 Tahun 1993 tentang Rencana
    Umum Tata Ruang Kota (RUTRK) Kotamadya
    Daerah Tingkat II Surakarta Tahun 1993-2013);

18. Peraturan Daerah Kota Surakarta Nomor 6 Tahun
    2001 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja
    Perangkat Daerah Kota Surakarta.




               3
                         Dengan Persetujuan

       DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KOTA SURAKARTA

                           MEMUTUSKAN

Menetapkan   : PERATURAN DAERAH KOTA SURAKARTA TENTANG I JI N
               USAHA I NDUSTRI , I JI N USAHA PERDAGANGAN DAN TANDA
               DAFTAR GUDANG.



                                       BAB I

                                 KETENTUAN UMUM

                                       Pasal 1

              Dalam Peraturan Daerah ini yang dimaksud dengan :
              1. Daerah adalah Kota Surakarta;
              2. Pemerintah Kota adalah Walikota beserta perangkat
                 daerah otonom yang lain sebagai Badan Ekesekutif
                 Daerah;
              3. Walikota adalah Walikota Surakarta;
              4. Dinas adalah Dinas Perindustrian, Perdagangan dan
                 Penanaman Modal Kota Surakarta;
              5. Kepala Dinas adalah kepala Dinas Perindustrian,
                 Perdagangan dan Penanaman Modal Kota Surakarta;
              6. Pejabat adalah Pegawai Negeri Sipil yang diberi tugas
                 tertentu di bidang Retribusi Daerah sesuai dengan
                 Peraturan Perundang-undangan yang berlaku;
              7. Badan adalah sekumpulan oarng dan/ atau modal yang
                 merupakan kesatuan yang melakukan usaha yang
                 meliputi bentuk usaha Perseroan Terbatas, Perseroan
                 Komanditer, Badan Usaha Milik Negara, Badan Usaha
                 Milik Daerah, Koperasi, Firma, Kongsi dan bentuk usaha
                 lainnya;
              8. I ndustri adalah kegiatan ekonomi yang mengolah bahan
                 mentah, bahan setengah jadi dan/ atau barang jadi
                 menjadi barang dengan nilai yang lebih tinggi untuk
                 penggunaannya termasuk kegiatan rancang bangundan
                 rekayasa industri;
              9. Perusahaan industri adalah badan usaha atau perorangan
                 yang melakukan kegiatan dibidang usaha industri;




                                  4
10. Perdagangan adalah kegiatan jual beli barang dan/ atau
    jasa yang dilakukan terus menerus dengan tujuan
    mengalihkan hak atas barang atau menyediakan jasa
    dengan disertai imbalan atau kompensasi dalam bentuk
    apapun;
11. Gudang adalah suatu ruangan tidak bergerak yang dapat
    ditutup untuk dipakai khusus sebagai tempat penyimpan
    barang dagangan (komoditi), bahan baku baik barang
    setengah jadi atau suku cadang atau barang dalam
    proses atau barang lainnya untuk proses produksi;
12. Usaha Pergudangan adalah usaha dibidang jasa
    penyimpanan barang yang dilakukan terus menerus
    dengan disertai imbalan atau kompensasi dalam bentuk
    apapun;
13. Barang Dagangan (komoditi) adalah semua barang yang
    diperdagangkan atau untuk diperdagangkan;
14. I nvestasi Perusahaan I ndustri adalah besarnya modal
    yang ditanamkan dalam suatu perusahaan industri tidak
    termasuk tanah dan bangunan tempat usaha;
15. Kekayaan Bersih Usaha adalah nilai jual kekayaan usaha
    (asset) dikurangi kewajibannya, tidak termasuk tanah
    dan bangunan tempat usaha;
16. Perluasan perusahaan industri selanjutnya disebut
    Perluasan adalah penanaman jenis industri, komoditi
    industri dan/ atau kapasitas produksi lebih 30% (tiga
    puluh perseratus) dari kapasitas produksi yang telah
    diijinkan;
17. I jin Usaha I ndustri disingkat I UI adalah ijin untuk
    melaksanakan kegiatan industri;
18. I jin Usaha Perdagangan disingkat I UP adalah ijin untuk
    melaksanakan        perdagangan      dan/ atau    usaha
    Pergudangan;
19. Tanda Daftar Gudang disingkat TDG adalah tanda daftar
    sebagai bukti Pendaftaran Gudang;
20. Retribusi adalah pungutan Daerah sebagai pembayaran
    atas jasa atau pemberian ijin usaha industri, usaha
    perdagangan dan/ atau tanda daftar gudang yang khusus
    disediakan dan/ atau diberikan oleh Pemerintah Daerah
    untuk kepentingan orang pribadi atau Badan;
21. Surat Ketetapan Retribusi Daerah selanjutnya disingkat
    SKRD adalah surat ketetapan yang menentukan besarnya
    retribusi terutang;
22. Surat Tagihan Retribusi Daerah selanjutnya disingkat
    STRD adalah surat untuk melakukan tagihan retribusi
    dan/ atau sanksi administrasi berupa bunga dan/ atau
    denda.




                     5
                            BAB II

        KETENTUAN PERIJINAN DAN PENDAFTARAN

                       Bagian Pertama

                     Ijin Usaha Industri

                           Pasal 2

(1) Setiap pendirian Perusahaan I ndustri yang berada di
    Daerah wajib memeiliki I jin Usaha I ndustri yang
    selanjutnya disebut IUI.

(2) Setiap orang atau Badan pemegang I UI hanya dapat
    menjalankan kegiatan usahanya sesuai dengan yang
    tercantum dalam IUI yang dimiliki.

(3) I UI sebagaimana dimaksud ayat (1) Pasal        ini terdiri
    dari :
    a. Ijin Usaha Industri Kecil;
    b. Ijin Usaha Industri Menengah;
    c. Ijin Usaha Industri Besar.


                           Pasal 3

I UI sebagaimana dimaksud Pasal 2 ayat (3) Peraturan
Daerah ini didasarkan pada besarnya nilai investasi
perusahaan industri dengan klasifikasi sebagai berikut :
a. I jin Usaha I ndustri Kecil bagi usaha industri dengan nilai
    investasi paling banyak Rp.200.000.000,- (dua ratus juta
    rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan;
b. I jin Usaha I ndustri Menengah bagi usaha industri dengan
    nilai investasi Rp.200.000.000,- (dua ratus juta rupiah)
    sampai dengan Rp. 1.000.000.000,- (satu milyar rupiah)
    tidak termasuk tanah dan bangunan;
c. I jin Usaha I ndustri Besar bagi usaha industri dengan nilai
    investasi di atas Rp. 1.000.000.000,- (satu milyar rupiah)
    tidak termasuk tanah dan bangunan.


                           Pasal 4

(1) Dikecualikan dari kewajiban memperoleh I UI , bagi
    usaha industri kecil perorangan yang dijalankan oleh
    pribadi sendiri, mempekerjakan anggota rumah tangga,
    termasuk industri tertentu dalam kelompok industri kecil


                      6
    serta tidak berbentuk badan hukum/ persekutuan
    dengan investasi industri di bawah Rp. 5.000.000,-
    (lima juta rupiah), Perusahaan Penanaman Modal Asing
    dan Penanaman Modal Dalam Negeri berdasarkan
    peraturan perundangan yang berlaku, Warga Negara
    Asing dan Badan Hukum Asing, Perusahaan Negara dan
    atau Perusahaan Jawatan, BUMN, BUMD berdasarkan
    peraturan perundangan yang berlaku, Cabang atau
    Perwakilan Perusahaan yang mempergunakan I UI yang
    dikeluarkan oleh Pemerintah Pusat.

(2) Usaha industri sebagaimana dimaksud ayat (1) Pasal ini
    dapat diberikan I UI jika dikehendaki oleh yang
    bersangkutan.


                        Bagian Kedua

                 Ijin Usaha Perdagangan

                           Pasal 5

(1) Setiap pendiri usaha perdagangan yang berada di
    Daerah wajib memiliki I jin Usaha Perdagangan yang
    selanjutnya disebut IUP.

(2) Setiap orang atau Badan pemegang I UP hanya dapat
    menjalankan kegiatan usahanya sesuai dengan yang
    tercantum dalam IUP yang dimiliki.

(3) IUP sebagaimana dimaksud ayat (1) Pasal     ini terdiri
    dari :
    a. Ijin Usaha Perdagangan Kecil;
    b. Ijin Usaha Perdagangan Menengah;
    c. Ijin Usaha Perdagangan Besar.


                           Pasal 6

I UP sebagaimana dimaksud Pasal 5 ayat (3) Peraturan
Daerah ini didasarkan pada klasifikasi besarnya kekayaaan
bersih usaha Perdagangan, sebagai berikut :
a. I jin Usaha Perdagangan Kecil bagi perdagangan dengan
    kekayaan bersih usaha paling banyak Rp.200.000.000,-
    (dua ratus juta rupiah);
b. I jin Usaha Perdagangan Menengah bagi perdagangan
    dengan kekayaan bersih usaha di atas Rp.200.000.000,-



                    7
   (dua ratus juta rupiah) sampai dengan Rp. 500.000.000,-
   (lima ratus juta rupiah);
c. I jin Usaha Perdagangan Besar bagi perdagangan dengan
   kekayaan bersih usaha di atas Rp. 500.000.000,- (lima
   ratus juta rupiah).


                            Pasal 7

(1) Dikecualikan dari kewajiban memperoleh I UP, bagi
    pedagang keliling, pedagang asongan, pedagang kaki
    lima dan atau pedagang dengan kekayaan bersih usaha
    paling banyak Rp. 2.000.000,- (dua juta rupiah),
    Perusahaan Penanaman Modal Asing dan Penanaman
    Modal     Dalam    Negeri    berdasarkan peraturan
    perundangan yang berlaku, Warga Negara Asing dan
    Badan Hukum Asing, Perusahaan Negara dan atau
    Perusahaan Jawatan, BUMN, BUMD berdasarkan
    peraturan perundangan yang berlaku, Cabang atau
    Perwakilan Perusahaan yang mempergunakan I UP yang
    dikeluarkan oleh Pemerintah Pusat.

(2) Usaha perdagangan sebagaimana dimaksud ayat (1)
    Pasal ini dapat diberikan I UP jika dikehendaki oleh yang
    bersangkutan.


                         Bagian Ketiga

                   Tanda Daftar Gudang

                            Pasal 8

(1) Setiap pemilik/ pengusaha gudang yang berada di
    Daerah wajib memiliki Tanda Daftar Gudang yang
    selanjutnya disebut TDG.

(2) Setiap orang atau Badan pemegang TDG hanya dapat
    menjalankan kegiatan usahanya sesuai dengan yang
    tercantum dalam TDG yang dimiliki.

(3) TDG sebagaimana dimaksud ayat (1) Pasal ini terdiri
    dari :
    a. TDG Tetap;
    b. TDG Sementara.




                     8
                         Pasal 9

TDG sebagaimana dimaksud Pasal 8 ayat (3) Peraturan
Daerah ini diklasifikasikan menurut lokasi berdasarkan
Rencana Umum Tata Ruang Kota (RUTRK), sebagai berikut :
a. TDG Tetap bagi gudang yang letaknya sesuai dengan
   peruntukan lahan berdasarkan RUTRK;
b. TDG Sementara bagi gudang khusus untuk menyimpan
   persediaan barang dagangan komoditi yang sesuai
   dengan I UP dan atau I UI terletak di luar peruntukan
   lahan berdasarkan RUTRK dengan luas lebih dari 24 m²
   serta tidak untuk usaha perdagangan.


                        Pasal 10

Dikecualikan dari kewajiban memperoleh TDG bagi Gudang
milik atau berada di bawah penguasaan Pengusaha
Pelabuhan Laut, Darat, Bandar Udara, Gudang milik atau di
bawah penguasaan dan digunakan untuk kepentingan
Pemerintah serta gudang di kawasan berikat.


                        BAB III

                KEWENANGAN PERIJINAN

                        Pasal 11

(1) Kewenangan pemberian IUI, IUP atau TDG berada pada
    Walikota.

(2) Walikota dapat melimpahkan kewenangan sebagaimana
    dimaksud ayat (1) Pasal ini kepada Kepala Dinas.


                        Pasal 12

(1) I UI , I UP atau TDG Tetap berlaku selama orang atau
    Badan pemegang ijin masih melakukan kegiatan usaha
    dengan kewajiban daftar ulang sekali tiap 3 (tiga)
    tahun.

(2) TDG Sementara berlaku selama 3 (tiga) tahun dan
    dapat diperbaharui tiap 3 (tiga) tahun.




                    9
                         BAB IV

   PERMOHONAN DAN PENDAFTARAN IUI, IUP DAN TDG

                        Pasal 13

(1) Permohonan I UI , I UP atau TDG ditujukan kepada
    Walikota melalui Kepala Dinas.

(2) Paling lama 5 (lima) hari kerja terhitung sejak
    penyerahan permohonan sebagaimana dimaksud ayat
    (1) Pasal ini, Kepala Dinas atau Pegawai Dinas yang
    ditunjuk wajib melakukan pemeriksaan lokasi.

(3) Paling lama 5 (lima) hari kerja terhitung sejak
    pelaksanaan pemeriksaan, hasil pemeriksaannya harus
    dituangkan dalam Berita Acara Pemeriksaan.

(4) Dalam hal tidak terdapat alasan penolakan permohonan
    IUI, IUP atau TDG, Walikota wajib menerbitkan IUI, Iup
    atau TDG dalam jangka waktu paling lama 5 (lima) hari
    kerja terhitung sejak tanggal pembuatan Berita Acara
    Pemeriksaan.


                         Pasal 14

(1) Dalam hal terdapat alasan bagi penolakan IUI, IUP atau
    TDG Kepala Dinas wajib memberitahukan alasan
    penolakan kepada Pemohon dalam jangka waktu paling
    lambat 5 (lima) hari kerja terhitung mulai tanggal
    pembuatan Berita Acara Pemeriksaan.

(2) Pemohon dalam jangka waktu paling lama 10 (sepuluh)
    hari kerja terhitung mulai tanggal pemberitahuan
    sebagaimana dimaksud ayat (1) Pasal ini dapat
    melakukan perbaikan.

(3) Dalam hal perbaikan permohonan telah dilakukan,
    Walikota wajib menerbitkan I UI , I UP atau TDG paling
    lama 5 (lima) hari kerja terhitung sejak tanggal
    penyerahan permohonan.

(4) Dalam hal Pemohon tidak mengajukan perbaikan
    permohonan paling lambat 5 (lima) hari kerja setelah
    jangka waktu sebagaimana dimaksud ayat (2) Pasal ini
    berakhir.



                   10
(5) Ketentuan tata caradan    persyaratan permohonan
    sebagaimana dimaksud Pasal 13 ayat (1) Peraturan
    Daerah ini, diatur lebih lanut dengan Keputusan
    Walikota.


                           BAB V

 PERUBAHAN, PENGGANTIAN DAN DAFTAR ULANG IUI, IUP
                    DAN TDG


                      Bagian Pertama

                Perubahan IUI, IUP dan TDG

                          Pasal 15

Setiap orang atau Badan pemegang I UI yang melakukan
perubahan investasi perusahaan dan atau perubahan
kegiatan usaha industri dan atau melakukan perluasan
industri sehingga tidak sesuai lagi dengan I UI yang dimiliki,
wajib mengajukan permohonan perubahan IUI.


                          Pasal 16

Setiap orang atau Badan pemegang I UP yang melakukan
perubahan kekayaan bersih usaha dan atau perdagangan
sehingga tidak sesuai lagi dengan I UP yang dimiliki wajib
mengajukan permohonan perubahan IUP.


                          Pasal 17

Setiap orang atau Badan pemegang TDG yang melakukan
pemindahan lokasi dan atau perubahan jenis komoditi yang
disimpan sehingga tidak sesuai lagi dengan TDG yang
dimiliki, wajib mengajukan permohonan perubahan TDG.


                          Pasal 18

Ketentuan tata cara dan persyaratan permohonan
sebagaimana dimaksud Pasal 15, 16 dan 17 Peraturan
Daerah ini diatur lebih lanjut dengan Keputusan Walikota.




                     11
                           Pasal 19

(1) Terhadap permohonan perubahan I UI , I UP atau TDG,
    Walikota setelah mendengar pertimbangan Kepala
    Dinas wajib mengambil keputusan mengabulkan atau
    menolak permohonan perubahan paling lama 5 (lima)
    hari kerja terhitung sejak tanggal penerimaan
    permohonan perubahan IUI, IUP atau TDG.

(2) Permohonan perubahan I UI , I UP atau TDG yang
    ditolak, dapat memperbaiki dalam jangka waktu paling
    lama 10 (sepuluh) hari kerja terhitung sejak
    penerimaan penolakan.

(3) Ketentuan tata cara dan persyaratan permohonan
    sebagaimana dimaksud ayat (1) Pasal ini diatur lebih
    lanjut dengan Keputusan Walikota.


                         Bagian Kedua

               Penggantian IUI, IUP dan TDG

                           Pasal 20

(1) Orang atau Badan pemegang I UI , I UP atau TDG dan
    dikemudian hari I UI , I UP atau TDG yang dimiliki hilang
    atau   rusak,     wajib      mengajukan    permohonan
    penggantian IUI, IUP atau TDG.

(2) Walikota setelah mendengar pertimbangan Kepala
    Dinas wajib menerbitkan I UI , I UP atau TDG Pengganti,
    sesuai dengan permohonan paling lama 5 (lima) hari
    kerja terhitung sejak tanggal pemerimaan permohonan.

(3) Ketentuan tata cara dan persyaratan permohonan
    sebagaimana dimaksud ayat (1) Pasal ini diatur lebih
    lanjut dengan Keputusan Walikota.




                    12
                        Bagian Ketiga

              Daftar Ulang IUI, IUP dan TDG

                          Pasal 21

(1) Daftar ulang I UI , I UP atau TDG dilakukan dengan
    mengajukan permohonan kepada Walikota melalui
    Kepala Dinas.

(2) Terhadap permohonan Daftar Ulang sebagaimana
    dimaksud ayat (1) Pasal ini, Kepala Dinas mencatat dan
    memberikan kepada Pemohon sticker daftar ulang.

(3) Ketentuan tata cara dan persyaratan permohonan
    sebagaimana dimaksud ayat (1) Pasal ini diatur lebih
    lanjut dengan Keputusan Walikota.


                          Pasal 22

(1) Dalam hal TDG Sementara habis masa berlakunya,
    orang atau Badan pemegang TDG Sementara dalam
    jangka waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari kerja
    terhitung sejak tanggal berakhirnya TDG Sementara
    wajib mengajukan permohonan.

(2) Ketentuan tata cara dan persyaratan permohonan
    sebagaimana dimaksud ayat (1) Pasal ini diatur lebih
    lanjut dengan Keputusan Walikota.



                           BAB VI

                 PENYIMPANAN BARANG

                          Pasal 23

(1) Penyimpanan barang yang dilakukan oleh orang atau
    Badan harus dilakukan dalam Gudang yang berijin.

(2) Jumlah barang yang disimpan dalam gudang
    merupakan stock atau persediaan berjalan untuk
    memenuhi kebutuhan atau permintaan pasar dalam
    jangka waktu paling lama 3 (tiga) bulan berdasarkan
    tanggal pencatatan.



                   13
(3) Orang ataua Badan dapat memiliki stock barang atau
    persediaan barang di luar barang kebutuhan pokok di
    gudang melebihi waktu sebagaimana dimaksud ayat (2)
    Pasal ini berdasarkan Surat Keterangan Penyimpanan
    Barang (SKPB) yang dikeluarkan Walikota.


                        Pasal 24

(1) Untuk memperoleh Surat Keterangan Penyimpanan
    Barang (SKPB), orang atau Badan harus mengajukan
    permohonan kepada Walikota melalui Kepala Dinas
    disertai dengan alasan-alasannya.

(2) Paling lama 5 (lima) hari kerja sejak diterima
    permohonan sebagaimana dimaksud ayat (1) Pasal ini,
    Kepala Dinas menunjuk Pegawai Dinas untuk
    melakukan pemeriksaan dan hasilnya dituangkan dalam
    Berita Acara Pemeriksaan.

(3) Walikota dalam jangka waktu paling lama 5 (lima) hari
    kerja setelah diterimanya Berita Acara Pemeriksaan
    wajib memutuskan mengabulkan atau menolak
    permohonan untuk menerbitkan Surat Keterangan
    Penyimpanan Barang.

(4) Walikota dalam memutuskan untuk menerima atau
    menolak permohonan Surat Keterangan Penyimpanan
    Barang mempertimbangkan       secara cermat faktor-
    faktor :
    a. Kebiasaan yanglazim dilaksanakan oleh orang atau
       Badan yang bersangkutan dalam penyediaan stock
       barang atau persediaan;
    b. Jenis dan sifat barang berkaitan dengan masa
       simpan dan masa penjualan;
    c. Sistem yang dianut oleh orang atau Badan yang
      bersangkutan dalam penyediaan persediaan barang;
    d. Kecepatan perputaran barang dan maksud atau
       tujuan penyimpanan barang;
    e. Pertimbangan kondisi daerah atau lokasi.




                   14
                          BAB VII

INFORMASI INDUSTRI, PERDAGANGAN DAN PERGUDANGAN

                         Pasal 25

(1) Setiap orang atau Badan, penegang I UI , I UP dan/ atau
    TDG wajib menyampaikan informasi usaha berdasarkan
    ijin yang dimiliki, secara berkala kepada Walikota
    melalui Kepala Dinas tiap 6 (enam) bulan sekali dan
    dilakukan pada setiap tanggal 31 Juli dan tanggal 31
    Januari.

(2) I nformasi sebagaimana dimaksud ayat (1) Pasal ini
    meliputi data sebagai berikut :
    a. Pemegang IUI, data yang dikirim :
         identitas orang atau Badan dan/ atau perubahannya,
         jenis dan jumlah produksi, asal bahan baku, negara
         tujuan ekspor, jumlah dan macam mesin, jumlah
         tenaga kerja.
    b. Pemegang IUP, data yang dikirim :
         identitas orang atau Badan dan/ atau perubahannya,
         jenis dan macam komoditi, negara tujuan ekspor,
         jumlah tenaga kerja.
    c. Pemegang TDG, data yang dikirim :
         I dentitas orang atau Badan dan/ atau perubahannya,
         kapasitas gudang, jenis, macam dan jumlah barang
         yang tersimpan, lama waktu penyimpanan,
         Kota/ Daerah asal barang yang disimpan, jumlah
         tenaga kerja.



                         BAB VIII

              PEMBINAAN DAN PENGAWASAN

                         Pasal 26

(1) Pembinaan Perusahaan I ndustri, Perdagangan dan
    usaha Pergudangan dilakukan oleh Dinas.

(2) Pembinaan sebagaimana dimaksud ayat (1) Pasal ini
    meliputi pembinaan dibidang peningkatan kualitas
    sumber daya manusia, promosi dan pemasaran dan
    pemanfaatan teknologi.




                    15
                         Pasal 27

(1) Pengawasan dilakukan oleh Dinas.

(2) Pengawasan sebagaimana dimaksud ayat (1) Pasal ini
    dilakukan terhadap ketaatan dalam pelaksanaan
    ketentuan-ketentuan dalam IUI, IUP atau TDG.


                         BAB IX

                     RETRIBUSI

                     Bagian Pertama

       Nama, Obyek, Subyek Dan Golongan Retribusi

                         Pasal 28

Pungutan Retribusi atas jasa pelayanan yang disediakan
untuk menerbitkan I UI , I UP atau TDG dinamakan Retribusi
IUI, IUP atau TDG.


                         Pasal 29

(1) Obyek Retribusi I UI , I UP atau TDG adalah pelayanan
    penerbitan IUI, IUP dan TDG.

(2) Pelayanan sebagaimana dimaksud ayat (1) Pasal ini
    meliputi pelayanan pemberian :
    a. IUI, IUP dan TDG baru;
    b. IUI, IUP dan TDG perubahan;
    c. IUI, IUP dan TDG penggantian;dan
    d. IUI, IUP dan TDG daftar ulang.


                         Pasal 30

Subyek Retribusi adalah orang atau badan yang memperoleh
pelayanan perijinan sebagaimana dimaksud Pasal 29 ayat (2)
Peraturan Daerah.




                   16
                           Pasal 31

Retribusi I UI , I UP dan TDG termasuk golongan Retribusi
Perijinan Tertentu.


                         Bagian Kedua

 Cara Mengukur Tingkat Penggunaan Jasa Dan Prinsip Yang
   Dianut Dalam Penetapan Struktur Dan Besarnya Tarif


                           Pasal 32

Tingkat penggunaan jasa diukur berdasarkan lokasi
peruntukan tanah menurut Rencana Umum Tata Ruang
Kota, Klas Jalan, luas bangunan, nilai investasi/kekayaan
bersih usaha, Sumber Daya Manusia dan mesin yang
digunakan.


                           Pasal 33

Prinsip yang dianut dalam penetapan tarif retribusi
didasarkan    pada     tujuan    untuk  menutup      biaya
penyelenggaraan I UI , I UP atau TDG dan mengganti biaya
pelayanan, pengawasan serta pengendalian di lapangan.


                         Bagian Ketiga

                Struktur Dan Besarnya Tarif

                           Pasal 34

(1) Struktur tarif terdiri dari tingkat penggunaan jasa dalam
    pelayanan dan penyelenggaraan I UI , I UP atau TDG dan
    tarif dasar retribusi.

(2) Besarnya tarif retribusi ditetapkan berdasarkan
    perkalian jumlah score tingkat penggunaan jasa dengan
    tarif dasar retribusi.

(3) Score tingkat penggunaan jasa dan tarif dasar retribusi
    sebagaimana dimaksud ayat (2) Pasal ini sebagaimana
    tercantum dalam Lampiran yang merupakan bagian tak
    terpisahkan dengan Peraturan Daerah ini.



                    17
                      Bagian Keempat

Wilayah Pemungutan, Masa Retribusi dan Retribusi Terutang


                            Pasal 35

Wilayah pemungutan retribusi diseluruh wilayah daerah.


                            Pasal 36

Masa retribusi IUI, IUP dan TDG sebagai berikut :
a. IUI, IUP dan TDG baru selama masih melakukan kegiatan
   usaha;
b. IUI, IUP dan TDG daftar ulang selama 3 (tiga) tahun;
c. I UI , I UP dan TDG perubahan setiap kali terjadi
   perubahan;
d. I UI , I UP dan TDG penggantian setiap kali terjadi
   penggantian karena hilang atau rusak.


                            Pasal 37

Saat Retribusi terutang adalah pada saat diterbitkan SKRD.


                          Bagian Relima

          Tata Cara Pemungutan dan Pembayaran

                            Pasal 38

(1) Pemungutan Retribusi tidak dapat diborongkan.

(2) Retribusi dipungut dengan menggunakan SKRD.


                            Pasal 39

(1) Pembayaran Retribusi dilakukan di Kas Daerah atau di
    tempat lain yang ditunjuk oleh Walikota sesuai waktu
    yang ditentukan dengan menggunakan SKRD.

(2) Apabila pembayaran Retribusi dilakukan di tempat lain
    yang ditunjuk, hasil pembayaran Retribusi harus disetor
    ke Kas Daerah dalam waktu selambat-lambatnya 1 x 24
    jam hari kerja.


                     18
                          Pasal 40

(1) Setiap pembayaran Retribusi dicatat dalam buku
    penerimaan dan diberikan tanda bukti pembayaran.

(2) Bentuk, isi, kwalitas, ukuran buku penerimaan dan
    tanda bukti pembayaran sebagaimana dimaksud ayat
    (1) Pasal ini, diatur lebih lanjut dengan Keputusan
    Walikota.


                     Bagian Keenam

                         Keberatan

                         Pasal 41

(1) Orang atau Badan mengajukan keberatan atas
    besarnya retribusi sebagaimana ditetapkan dalam
    SKRD.

(2) Keberatan diajukan kepada Walikota melalui Kepala
    Dinas dalam jangka waktu paling lama 2 (dua) bulan
    sejak tanggal SKRD diterbitkan, kecuali dalam hal
    keadaan diluar kekuasaan orang atau Badan yang
    bersangkutan.

(3) Pengajuan    keberatan tidak menunda        kewajiban
    membayar     retribusi dan pelaksanaan      penagihan
    retribusi.

(4) Ketentuan tata cara dan persyaratan permohonan
    sebagaimana dimaksud ayat (1) Pasal ini diatur lebih
    lanjut dengan Keputusan Walikota.


                          Pasal 42

(1) Walikota melalui Kepala Dinas dalam jangka waktu
    paling lama 6 (enam) bulan harus memberi keputusan
    yang berupa menolak atau menerima seluruhnya atau
    sebagian atau menambah besarnya retribusi terhutang
    atas keberatan yang diajukan.

(2) Apabila jangka waktu sebagaimana dimaksud ayat (1)
    Pasal ini telah lewat dan Walikota melalui Kepala Dinas
    tidak memberikan keputusan, maka keberatan yang
    diajukan dianggap diterima.


                    19
                     Bagian Ketujuh

   Pengurangan, Keringanan dan Pembebasan Retribusi

                         Pasal 43

(1) Walikota atas permohonan orang atau Badan selaku
    wajib retribusi dapat memberikan pengurangan,
    keringanan atau pembebasan retribusi.

(2) Ketentuan tata cara dan persyaratan permohonan
    sebagaimana dimaksud ayat (1) Pasal ini diatur lebih
    lanjut dengan Keputusan Walikota.


                    Bagian Kedelapan

           Pengembalian Kelebihan Pembayaran

                         Pasal 44

(1) Atas kelebihan pembayaran retribusi, Wajib Retribusi
     dapat    mengajukan    permohonan     pengembalian
     kelebihan pembayaran kepada Walikota.

(2) Ketentuan tata cara dan persyaratan permohonan
     sebagaimana dimaksud ayat (1) Pasal ini diatur lebih
     lanjut dengan Keputusan Walikota.


                   Bagian Kesembilan

     Tata Cara Penagihan Dan Kadaluwarsa Penagihan

                         Pasal 45

(1) Surat teguran atau surat peringatan sebagai awal
    tindakan pelaksanaan penagihan retribusi dikeluarkan
    dan disampaikan kepada orang atau Badan yang
    bersangkutan 5 (lima) hari kerja terhitung sejak jatuh
    tempo pembayaran.

(2) Ketentuan tata cara pemberian surat teguran
    sebagaimana dimaksud ayat (1) Pasal ini diatur lebih
    lanjut dengan Keputusan Walikota.




                   20
                         Pasal 46

(1) Penagihan   setelah jangka waktu sebagaimana
    dimaksud Pasal 45 ayat (1) Peraturan Daerah ini, orang
    atau Badan selaku wajib retribusi terutang.

(2) Ketentuan tata cara penagihan sebagaimana dimaksud
    ayat (1) Pasal ini diatur lebih lanjut dengan Keputusan
    Walikota.


                         Pasal 47

(1) Hak untuk melakukan penagihan retribusi terutang
    kadaluwarsa setelah lewat waktu 3 (tiga) tahun
    terhitung sejak saat terhutangnya retribusi.

(2) Jangka waktu kadaluwarsa sebagaimana dimaksud ayat
    (1) Pasal ini tertanggung dengan diterbitkannya Surat
    Teguran atau Surat Peringatan atau pengakuan hutang
    yang dibuat oleh orang atau Badan selaku wajib
    retribusi yang bersangkutan.


                          BAB X

                   BIAYA OPERASIONAL

                         Pasal 48

Dinas sebagai pelaksana penarikan retribusi I UI , I UP dan
TDG diberikan biaya operasional sebesar 5% dari seluruh
penerimaan.


                          BAB XI

                  SANKSI ADMINISTRASI

                         Pasal 49

(1) Sanksi pembekuan I UI , I UP atau TDG dilakukan oelh
    Walikota, dalam hal :
    a. I UI , I UP dan/ atau TDG diperoleh berdasarkan
       keterangan yang tidak sesuai dengan keterangan
       yang ada;




                    21
     b. Tidak     melaksanakan   kewajiban    memberikan
        informasi sebagaimana dimaksud Pasal 25 Peraturan
        Daerah ini;
     c. Tidak atau belum melaksanakan kewajiban dalam
        hal    lingkungan hidup dan/ atau menimbulkan
        kerusakan atau pencemaran lingkungan;
     d. Melakukan kegiatan usaha selain yang ditetapkan
        dalam IUI, IUP dan/atau TDG.

(2) Pembekuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)
    Pasal ini, dilaksanakan setelah dilakukan teguran tertulis
    sebanyak tiga kali berturut-turut dengan tenggang
    waktu tiap 5 (lima) hari kerja.


                          Pasal 50

Sanksi pencabutan IUI,IUP atua TDG dilakukan oleh Walikota
dalam hal :
a. Teguran tertulis sebagaimana dimaksud Pasal 49 ayat (2)
   Peraturan Daerah ini tidak dilaksanakan.
b. Terjadi penyalagunaan IUI, IUP atau TDG.
c. Melakukan perbuatan melanggar            hukum dalam
   melaksanakan usaha berdasarkan Putusan Pengadilan
   yang telah berkekuatan hukum tetap.


                          Pasal 51

Sanksi Penutupan Usaha dilakukan oleh Walikota dalam hal :
a. Terjadi likuidasi atas perusahaan industri, usaha
   perdagangan atau usaha pergudangan.
b. Penetapan pembubaran Badan Usaha Perusahaan
   I ndustri, Perdagangan atau Usaha Pergudangan oleh
   Pengadilan Negeri yang telah memiliki kekuatan hukum
   tetap.
c. Merusak lingkungan hidup.


                          Pasal 52

Dalam hal orang atau Badan sebagai wajib retribusi tidak
membayar retribusi tepat waktunya atau kurang membayar
dikenakan sanksi administrasi berupa denda sebesar 2%
(dua perseratus) tiap bulan dari retribusi yang terutang atau
kurang dibayar dan ditagih dengan menggunakan STRD.




                     22
                          BAB XII

                        PENYIDIKAN

                        Pasal 53

(1) Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu di lingkungan
    Pemerintah Daerah diberi wewenang khusus sebagai
    penyidik untuk melakukan penyidikan tindak pidana di
    bidang retribusi daerah sebagaimana dimaksud dalam
    Undang-Undang Hukum Acara Pidana yang berlaku.

(2) Wewenang Penyidik sebagaimana dimaksud ayat (1)
    Pasal ini adalah :
    a. Menerima, mencari, mengumpulkan dan meneliti
       keterangan atau laporan berkenaan dengan tindak
       pidana sebagaimana ayat (1) Pasal ini agar
       keterangan atau laporan tersebut menjadi lengkap
       dan jelas;
    b. Meneliti, mencari dan mengumpulkan keterangan
       mengenai orang pribadi atau badan tentang
       kebenaran perbuatan yang dilakukan sehubungan
       dengan tindak pidana tersebut;
    c. Meminta keterangan dan tanda bukti dari pribadi
       atau badan sehubungan dengan tindak pidana
       tersebut;
    d. Memeriksa       buku-buku,   catatan-catatan dan
       dokumen-dokumen lain yang berkenaan dengan
       tindak pidana tersebut;
    e. Melakukan penggeledahan untuk mendapatkan
       bahan bukti pembukuan, pencatatan dan dokumen-
       dokumen lain serta melakukan penyitaan terhadap
       barang bukti tersebut;
    f. Meminta bantuan tenaga ahli dalam rangka
       pelaksanaan tugas penyidikan tindak pidana
       tersebut;
    g. Menyuruh berhenti dan/ atau melarang seseorang
       meninggalkan ruangan atau tempat pada saat
       pemeriksaan sedang berlangsung dan memeriksa
       identitas orang dan/ atau dokumen yang dibawa
       sebagaimana dimaksud huruf e;
    h. Memotret seseorang yang berkaitan dengan tindak
       pidana tersebut;
    i. Memanggil orang untuk didengar keterangannya
       dan diperiksa sebagai tersangka atau saksi;
    j. Menghentikan penyidikan;




                   23
    k. Melakukan tindakan lain yang perlu untuk
       kelancaran penyidikan tindak pidana tersebut
       menurut         hukum       yang       dapat
       dipertanggungjawabkan.

(3) Penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
    memberitahukan       dimulainya   penyidikan     dan
    menyampaikan hasil penyidikannya kepada Penuntut
    Umum melalui Penyidik Pejabat Polisi Negara Republik
    I ndonesia sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam
    Undang-Undang Hukum Acara Pidana.


                         BAB XIII

                   KETENTUAN PIDANA

                          Pasal 54

(1) Barang siapa yang melanggar ketentuan sebagaimana
    dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) dan (2), Pasal 5 ayat
    (1) dan (2) atau Pasal 8 ayat (1) dan (2) serta Pasal 15,
    16, 17 Peraturan Daerah ini dipidana dengan pidana
    penjara paling lama 6 (enam) bulan atau denda
    paling banyak Rp. 5.000.000,- (lima juta rupiah).

(2) Tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
    Pasal ini adalah Pelanggaran.



                          BAB XIV

                  KETENTUAN PERALIHAN

                          Pasal 55

I jin Usaha I ndustri, I jin Usaha Perdagangan atau Tanda
Daftar Gudang yang telah dimiliki oleh orang atau Badan
sebelum Peraturan Daerah ini ditetapkan tetap berlaku
dalam jangka waktu paling lama 3 (tiga) bulan setelah
Peraturan Daerah ditetapkan harus diperbaharui untuk
disesuaikan dengan Peraturan Daerah ini.




                    24
                                            BAB X

                                   KETENTUAN PENUTUP

                                           Pasal 56

                Hal-hal yang belum diatur dalam Peraturan Daerah ini,
                sepanjang mengenai pelaksanaannya diatur lebih lanjut
                dengan Keputusan Walikota.


                                           Pasal 57

                Peraturan Derah     ini     mulai     berlaku   pada   tanggal
                diundangkan.

                Agar supaya setiap orang dapat mengetahuinya,
                memerintahkan pengundangan Peraturan Daerah ini dengan
                penempatannya dalam Lembaran Daerah Kota Surakarta.


                                         Ditetapkan di : Surakarta
                                         Pada tanggal : 28 Agustus 2003

                                               WALIKOTA SURAKARTA

                                                         Cap ttd

                                                    SLAMET SURYANTO



Diundangkan di Surakarta
Pada tanggal 1 September 2003

Sekretaris Daerah Kota Surakarta


            Cap ttd

  Drs. QOMARUDDIN, MM
     NIP. 500 043 090


LEMBARAN DAERAH KOTA SURAKARTA TAHUN 2003 NOMOR 14 SERI B
NOMOR 5




                                    25
                           LAMPIRAN : PERATURAN DAERAH KOTA SURAKARTA
                                      NOMOR    : 9 TAHUN 2003
                                      TANGGAL : 28 AGUSTUS 2003



SCORE TINGKAT PENGGUNAAN JASA DAN TARIF DASAR RETRIBUSI


Lokasi :                                                              Score

 1.     Peruntukan lahan untuk Industri, Perdagangan, Gudang            1
 2.     Peruntukan lahan selain untuk Industri, Perdagangan, Gudang     3

Klas Jalan :
 1.   Kelas I                                                          5
 2.   Kelas II                                                         3
 3.   Kelas III                                                        1

Investasi industri/kekayaan bersih usaha/modal

 1.     Kurang dari Rp. 5.000.000,-                                    0
 2.     Rp. 5.000.001,-     s/d Rp.     50.000.000,-                   1
 3.     Rp. 50.000.001,-    s/d Rp.    200.000.000,-                   2
 4.     Rp. 200.000.001,- s/d Rp.      400.000.000,-                   3
 5.     Rp. 400.000.001,- s/d Rp.      600.000.000,-                   5
 6.     Rp. 600.000.001,- s/d Rp.      800.000.000,-                   7
 7.     Rp. 800.000.001,- s/d Rp. 1.000.000.000,-                      9
 8.     Di atas Rp. 1.000.000.000,-                                    10

Luas Bangunan

 1.     0 M²    sampai       24 M²                                     0
 2.     24 M²    s/d        50 M²                                      1
 3.     51 M²    s/d        100 M²                                     2
 4.     101 M² s/d          250 M²                                     3
 5.     251 M² s/d          500 M²                                     5
 6.     501 M² s/d          1.000 M²                                   6
 7.     1.001 M² s/d        2.500 M²                                   8
 8.     Di atas 2.500 M²                                               10

SDM dan/atau mesin

1.   kurang dari 6 orang tanpa mesin
2.   lebih dari 6 orang tanpa mesin
3.   kurang dari 6 orang pakai mesin
4.   6 orang pakai mesin
5.   lebih 6 orang pakai mesin


                                        26
Besarnya trif retribusi untuk : Perubahan :
40% dari besarnya tariff retribusi baru;

Besarnya tariff retribusi untuk : Penggantian :
20% dari besarnya tariff retribusi baru

Perubahan tarif retribusi untuk Daftar Ulang :
60% dari besarnya retribusi baru

Tarif dasar Retribusi :
Rp. 30.000,- (tiga puluh ribu rupiah)



                                              WALIKOTA SURAKARTA

                                                    Cap ttd

                                               SLAMET SURYANTO




                                        27
                             PENJELASAN

                                  ATAS

                  PERATURAN DAERAH KOTA SURAKARTA

                        NOMOR 9 TAHUN 2003

                              TENTANG

           IJIN USAHA INDUSTRI, IJIN USAHA PERDAGANGAN
                    DAN TANDA DAFTAR GUDANG


I. PENJELASAN UMUM

        Pembangunan perekonomian di Kota Surakarta akan sangat
  terdukung dengan berkembangnya sektor perdagangan, industri dan
  pergudangan yang merupakan bidang-bidang usaha yang saling
  berhubungan.

         Bahwa untuk menumbuhkan iklim yang kondusif untuk berusaha
  sekaligus memberikan ketenangan, ketertiban dan kepastian hukum
  sebagai wadah membangun ekonomi Kota Surakarta, maka adalah
  merupakan     wewenang       Pemerintah  Kota  Surakarta    untuk
  menyelenggarakan pengaturan pembinaan dan pengawasan bidang
  perdagangan, industri dan pergudangan.

         Sehubungan dengan hal tersebut diatas, maka disusunlah
  Peraturan Daerah ini yang bertujuan untuk mengatur penyelenggaraan
  perijinan di bidang usaha industri, usaha perdagangan dan pergudangan,
  sehingga dengan demikian Pemerintah Kota Surakarta dapat sekaligus
  membina dan mengawasi penyelenggaraan usaha-usaha oleh masyarakat.


II. PENJELASAN PASAL DEMI PASAL

  Pasal 1 s/d 7             : Cukup Jelas

  Pasal 8 ayat (1)          : Gudang Wajib TDG adalah gudang milik
                              pengusaha industri yang digunakan untuk
                              menyimpan hasil produksi, gudang milik
                              pengusaha     Toko/ Toserba/ Departement
                              Store yang digunakan untuk menyimpan
                              stock barang dagangan, gudangmilik
                              Rumah Sakit, gudang milik Rumah
                              Makan/Restoran, Gudang Hotel, dll.



                                   28
Pasal 8 ayat (2) s/d         : Cukup Jelas
Pasal 33

Pasal 34 ayat (1)            : Struktur tarif dasar retribusi terdiri dari :
                               a. Biaya pembuatan formulir dan blanko
                                   ijin.
                               b. Biaya pembuatan ijin;
                               c. Biaya pemeriksaan lapangan;
                               d. Biaya pengawasan lapangan;
                               e. Biaya       administrasi     lain/ monitoring
                                   (teguran-peringatan-SKRD-STRD);
                               f. Biaya pemeliharaan dokumen;
                               g. Biaya       administrasi     lain/ monitoring
                                   (teguran-peringatan-SKRD-STRD);
                               h. Biaya pemeliharaan dokumen;

Pasal 34 ayat (2)             :    Cukup Jelas.

Pasal 34 ayat (3)             :

Cara menghitung besarnya Retribusi :
Tarif Dasar Retribusi Ijin Baru : Rp.30.000,- (tiga puluh ribu rupiah)

Besarnya retribusi investasi di atas Rp. 5.000.000,- s/ d Rp. 50.000.000,-
sebagai berikut :
1. lahan peruntukan industri, perdagangan dan gudang            (1)
2. Kelas jalan III                                              (1)
3. Investasi di atas Rp.5.000.000,- s/d Rp. 50.000.000,-        (1)
   (perdagangan : diatas Rp.2.000.000,- s/d 50.000.000,-)             (1)
4. Luas Bangunan dibawah 24 M²                                  (0)
5. SDM dan/atau Mesin dibawah 6 orang tanpa mesin               (0)
   Jumlah score = Industri                                      (3)
                     Perdagangan                                      (3)

Besarnya tarif retribusi = jumlah score X tarif dasar :
Industri = (3) x Rp.30.000,- = Rp.90.000,- (sembilan puluh ribu rupiah)

Perdagangan (3) x Rp.30.000,- = Rp.90.000,- (sembilan puluh ribu rupiah)

Besarnya retribusi dengan investasi/kekayaan bersih usaha
Rp. 50.000.001,- s/d Rp. 200.000.001,- sebagai berikut :
1. lahan peruntukan industri, perdagangan dan gudang               (1)
2. Kelas jalan III                                                 (1)
3. Investasi di atas Rp. 50.000.001,- s/d Rp. 200.000.001          (2)
4. Luas Bangunan dibawah 24 M²                                     (1)
5. SDM dan/atau Mesin dibawah 6 orang tanpa mesin                  (1)
Jumlah score =                                                     (6)



                                    29
  Besarnya tarif retribusi = jumlah score x tarif dasar
                           = (6) x Rp. 30.000,-
                             = Rp.180.000,- (Seratus Delapan Puluh Ribu
                               Rupiah)

  Besarnya retribusi dengan invetasi / kekayaan bersih usaha di          atas
  Rp. 1.000.000.000 :
  lahan peruntukan industri, perdagangan dan gudang        (3)
  Kelas jalan I                                                          (5)
  Investasi di atas Rp. 50.000.001,- s/d Rp. 200.000.001   (10)
  Luas Bangunan dibawah 24 M²                              (10)
  lebih 6 orang pakai mesin                                (7)
  Jumlah score =                                           (35)

  Besarnya Terif Retribusi       = jumlah score x tarif dasar
                                 = (35) x Rp.    30.000,-
                                 = Rp. 1.050.000,- (satu juta lima puluh ribu
                                   rupiah

  Pasal 35 s/d 36            :   Cukup Jelas

  Pasal 37                   :   SKRD diterbitkan oleh Walikota

  Pasal 38 s/d 58            :   Cukup Jelas


III. PENJELASAN LAMPIRAN

    KELAS JALAN

    JALAN KELAS I :
    Adalah jalan Arteri yang dapat dilalui kendaraan bermotor termasuk
    muatan dengan ukuran lebar tidak melebihi 2.500 milimeter, ukuran
    panjang tidak melebihi 18.000 milimeter dan muatan sumbu terberat
    yang diijinkan lebih berat dari 100 ton.

    Untuk Kota Surakarta Jalan Kelas I antara lain adalah :
    1. Jalan Brig.Jend Slamet Riyadi;
    2. Jalan Jend. Urip Sumoharjo;
    3. Jalan Kolonel Sutarto;
    4. Jalan Ir. Sutami;
    5. Jalan L.U. Adi Sucipto

    JALAN KELAS II :
    Adalah jalan Arteri yang dapat dilalui kendaraan bermotor termasuk
    muatan dengan ukuran lebar tidak melebihi 2.500 milimeter, ukuran
    panjang tidak melebihi 18.000 milimeter dan muatan sumbu terberat
    yang diijinkan 100 ton.


                                        30
Untuk Kota Surakarta Jalan Kelas II antara lain adalah :
1. Jalan Jendral Ahmad Yani;
2. Jalan Dr. Rajiman;
3. Jalan Kyai Mojo;
4. Jalan Veteran;
5. Jalan Untung Suropati;
6. Jalan KH. Samanhudi;
7. Jalan Kebangkitan Nasional;
8. Jalan Muh Yamin;
9. Jalan Hadiwijaya;
10. Jalan AM Sangaji;
11. Jalan Kapt. Pattimura;
12. Jalan K.H.A Wachid Hasyim;
13. Jalan Prof K.H. Kahar Muzakir;
14. Jalan Ronggowarsito;
15. Jalan Mgr. Sugiyopranoto;
16. Jalan Yosodipuro;
17. Jalan Dr. Sahardjo, SH;
18. Jalan R.M. Said;
19. Jalan Laks. RE. Martadinata;
20. Jalan Ir.Juanda Kartawijaya;
21. Jalan Sutan Syahrir;
22. Jalan Menteri Supeno;
23. Jalan Jendral Basuki Rahmat;
24. Jalan Suryo;
25. Jalan Sam Ratulangi;
26. Jalan Dr. Setia Budi;
27. Jalan RW. Monginsidi;
28. Jalan Sultan Hasanuddin;
29. Jalan Adi Sumarmo;
30. Jalan Mr. Sartono
31. Jalan Mayor Kusmanto;
32. Jalan Mayor Sumaryo;
33. Jalan Demangan;
34. Jalan Dr.P.Lumban Tobing;
35. Jalan Abdul Rahman Saleh;
36. Jalan Tentara Pelajar;
37. Jalan Maria Walandaw Marimis;
38. Jalan Arif Rahman Hakim;
39. Jalan Prof WZ Johanes;
40. Jalan Gajah Suranto;
41. Jalan R. Dewi Sartika;
42. Jalan KI Hajar Dewantara;
43. Jalan Kalilarangan;
44. Jalan Sumpah Pemuda;
45. Jalan Ki Mangun Sarkoro;
46. Jalan Kyai Gede Solo;
47. Jalan RM. Suryopranoto;


                                 31
48. Jalan Arifin;
49. Jalan Abdul Muis;
50. Jalan Mayjend Di. Panjaitan;
51. Jalan Kusumoyudan;
52. Jalan Imam Bonjol;
53. Jalan Teuku Umar;
54. Jalan Kartini;
55. Jalan KH. Ahmad Dahlan;
56. Jalan Kom. Yos Sudarso;
57. Jalan P. Diponegoro;
58. Jalan Jendarl Gatot Subroto;
59. Jalan Dr. Padmonegoro;
60. Jalan Brig. Jend Sudiarto;
61. Jalan Reksoniten;
62. Jalan Jamsaren;
63. Jalan Honggowongso;
64. Jalan Gajah Mada;
65. Jalan Bayangkara;
66. Jalan Dr. Wahidin Sudirohusodo;
67. Jalan Dr. Muwardi;
68. Jalan Mayjend Haryono;
69. Jalan Perintis Kemerdekaan;
70. Jalan KH. Agus Salim;
71. Jalan Prof Dr.R.Suharso;
72. Jalan Letjen Suprapto;
73. Jalan Tagore;
74. Jalan Trikora;
75. Jalan Kapt. Piere Tendean;
76. Jalan Kol. Sugiyono;
77. Jalan Letjen Sutoyo;
78. Jalan Letjen S. Parman;
79. Jalan Brigjend Katamso;
80. Jalan Dr. Cipto Mangun Kusumo;
81. Jalan Prof Dr. Supomo;
82. Jalan HOS Tjokroaminoto;
83. Jalan Muh. Husni Thamrin;
84. Jalan Dr. Sutomo;
85. Jalan Musium;
86. Jalan Kh. Hasyim Asyari;
87. Jalan Sampangan;
88. Jalan Cut Nyak Dhien;
89. Jalan Jagalan;
90. Jalan Gotong Royong;
91. Jalan SISKS Pakubuwono;
92. Jalan Alun-alun Utara;
93. Jalan Pangeran Wijil;
94. Jalan KS. Tubun;
95. Jalan Joko Tingkir;


                                32
96. Jalan Kepatihan;
97. Jalan Nayu;
98. Jalan KH. Maskur;
99. Jalan Mr. Iskaq Cokrohadisuryo;
100. Jalan Samsurijal;
101. Jalan Subekti Pusponoto;
102. Jalan M. Saleh Werdisastro;
103. Jalan Monumen 45;
104. Jalan K. Kasunanan;
105. Jalan Kalitan;
106. Jalan Wora-Wari;
107. Jalan Sutowijoyo;
108. Jalan Kalingga;
109. Jalan Jayawijaya.

JALAN KELAS III :
Adalah jalan arteri yang dapat dilalui kendaraan bermotor termasuk
muatan dengan ukuran lebar tidak melebihi 2.500 milimeter, ukuran
panjang tidak melebihi 18.000 milimeter dan muatan sumbu terberat
yang diijinkan 8 ton.

Untuk Kota Surakarta, Jalan Kelas III adalah :
Semua Jalan di Kota Surakarta diluar klasifikasi Jalan Klas I dan Klas II.



                            ===888===




                                  33
34