Ringkasan Kisah Nabi Muhammad Saw by zirlyfera

VIEWS: 22,947 PAGES: 8

Ringkasan kisah Nabi Muhammad Saw

More Info
									                         Kisah Nabi Muhammad SAW

Kelahiran pribadi yang tepuji
       Masa kenabian Isa AS telah berlalu. Dua belas pengikutnya yang telah
menyebar ke berbagai penjuru negeri telah wafat pula. Sedikit demi sedikit ajaran
para Nabi yang berisi seruan untuk menyembah Allah dilupakan umat manusia.
Begitu juga yang terjadi di negeri Mekah.
       Di negeri tempat tegaknya baitullah ini, ajaran Ibrahim, Musa, Isa dan para
Nabi terdahulu tak diindahkan lagi. Kehidupan manusia saat itu penuh dengan
kebobrokan. Patung-patung berhala dianggap sebagai tuhan manusia. Anak
perempuan biasa dikubur hidup-hidup. Budak dihalalkan dan menjadi lambang
kekayaan. Setiap manusia yang punya harta, kedudukan serta darah bangsawan
dapat berlaku semena-mena terhadap manusia lainnya. Padahal masyarakat saat
itu pandai berdagang, cerdas bersyair, pintar beternak. Tak heran, masa itu
dikenal sebagai masa jahiliyah, masa kebodohan.
       Memang, ka’bah masih dihormati sebagai tempat mulia oleh masyarakat dari
berbagai negeri, tetapi beratus-ratus berhala justru di tempatkan di dalamnya.
Berhaji, juga thawaf mengelilingi ka’bah pun masih dilakukan, tetapi doa dan
persembahan dipanjatkan kepada patung-patung berhala Latta, Uza dan Manat.
       Di tengah suasana seperti inilah pada suatu hari, di bulan Rabiul Awwal,
tahun 570 masehi, seorang bayi mulia dilahirkan. Bayi yang terlahir dari pasangan
yang Aminah dan Abdullah ini diberi nama Muhammad, yang berarti orang yang
terpuji.
       Menjelang kelahiran Muhammad beberapa peristiwa menakjubkan terjadi.
Beberapa bagian istana Kisra yang berada di Parsi runtuh. Di negeri ini pula api
abadi yang selalu dijaga agar menyala oleh para penyembah api, kaum Majusi,
padam. Namun yang paling menakjubkan adalah gagalnya              rencana tentara
Abrahah untuk menghancurkan Ka’bah.
       Abrahah adalah seorang raja di negeri Habasyah. Ia adalah pemeluk agama
Nasrani yang gemar menyombongkan diri. Pada saat ia mendengar bahwa Ka’bah
masih saja dijadikan tempat berziarah bagi masyarakat dari berbagai penjuru
negeri, ia membangun gereja besar sebagai tandingan Ka’bah, namun tidak
mendapat perhatian masyarakat. Maka, dengan penuh kecewa dan kesal, Abrahah
memutuskan untuk menyerang Mekah dan menghandurkan Ka’bah.
       Abrahah berangkat membawa tentara-tentara yang terlatih dalam jumlah
besar. Mereka yakin akan dapat menaklukkan Mekah dan menghancurkan Ka’bah
dengan mudah karena mereka tidak sekedar menunggang kuda tetapi mengendarai
gajah.
       Tetapi, Allah berkehendak lain. Baru saja Abrahah mendekati wilayah Mekah,
serombongan burung ababil terbang melintas di atas tentara Abrahah dengan
membawa batu-batu kecil. Burung-burung bernama Ababil ini menjatuhkan batu-
batu itu tepat di atas kepala pasukan Abrahah. Tak lama, pasukan bergajah itu
hancur lebur dan kalah binasa.
       Dengan kejadian ini, tahun kelahiran Nabi Muhammad pun dikenal sebagai
tahun gajah.
Anak yatim yang istimewa
       Muhammad dilahirkan sebagai anak yatim, karena ayahnya meninggal dunia
saat ia masih dalam kandungan. Setelah lahir, sebagaimana kebiasaan masyarakat
Mekah, seorang anak hanya beberapa saat saja disusui oleh ibu kandungnya.
Setelah itu, mereka biasa diserahkan pada ibu susu yang biasanya merupakan
wanita-wanita desa.
       Masyarakat masa itu meyakini, bahwa lingkungan serta udara yang lebih
bersih dan terjaga di desa memberikan pengaruh lebih baik bagi perkembangan
seorang anak. Maka Muhammad pun disiapkan untuk diserahkan pada seorang ibu
susu.
       Sayang, hingga sore menjelang, tak seorang ibu susu pun mau mengambil
Muhammad. Mereka enggan mengambilnya setelah mengetahui bahwa bayi itu
adalah seorang yatim, padahal mereka sangat ingin mendapatkan upah yang layak
dari orangtua si bayi.
       Hingga akhirnya, setelah hari memasuki senja, dan para wanita desa ini
bermaksud kembali ke tempat tinggal mereka, Halimah binti Abu Dzu’aib, seorang
calon ibu susu yang belum juga mendapatkan seorang bayi untuk diasuh,
memutuskan untuk mengambil bayi yatim bernama Muhammad itu. Begitu
mengambil Muhammad sebagai ibu asuh, wanita asal Bani Sa’d ini segera saja
mendapati banyak kemudahan yang membuatnya terheran-heran. Unta mereka
yang sudah tua, kurus dan hanya mampu berjalan lambat-lambat, tiba-tiba saja
menjadi bugar, kuat dan penuh dengan air susu. Halimah dan suaminya minum
susu unta hingga kenyang. dan ketika unta mereka berderap cepat meninggalkan
unta-unta rekan mereka yang lain, tahulah mereka bahwa bayi yatim yang mereka
bawa ini sungguh seorang bayi yang istimewa.

Pemuda yang jujur
       Sekitar lima tahun dalam asuhan Halimah asal bani Sa’d, yang dikenal
kemudian sebagai Halimatus Sa’diyah, Muhammad kembali ke dalam pengasuhan
ibundanya tercinta. Sayang, baru sebentar ia melepas rindu pada sang ibu, dalam
perjalanan pulang dari berziarah ke makam ayahnya, sang ibu pun meninggal
dunia di sebuah desa kecil bernama Abwa.
       Sepeninggal ibunya, Muhammad diasuh oleh kakeknya, Abdul Muthalib,
pemimpin kaum Quraisy di Mekah. Sang kakek begitu cinta kepada cucunya yang
yatim piatu ini dan tak segan mengajaknya dalam berbagai pertemuan bersama
tokoh-tokoh Mekah. Sayang, hanya sekitar dua tahun Muhammad menikmati
kebersamaan dengan sang kakek. Abdul Muthalib wafat dan Muhammad pun diasuh
oleh pamannya, Abu Thalib.
       Bersama Abu Thalib, Muhammad dibesarkan dengan penuh kasih sayang. Ia
dicintai, diasuh, dididik dan diperlakukan persis sebagaimana anak kandungnya
sendiri.
       Dalam masa-masa ini Muhammad tumbuh menjadi seorang pemuda yang
cakap, cerdas dan baik hati. Ia santun, senang menolong dan jujur. Dengan
perangainya yang baik ini, Paman-paman Muhammad mencintainya, kerabat-
kerabat menyayanginya, dan masyarakat pun mengagumi pribadinya. Begitu luhur
budi pekertinya hingga masyarakat pun mejulukinya sebagai Al-Amin, orang yang
terpercaya.
        Sebagai pedagang, Abu Thalib sering melakukan perjalanan bisnis ke
berbagai penjuru negeri. Tak jarang ia membawa serta keponakannya Muhammad
untuk membantunya berdagang. Abu Thalib mengamati, setiap kali ia mengajak
Muhammad berdagang, maka keuntungan berlipat ganda selalu didapatnya. Betapa
tidak, sebagai pemuda yang cakap, santun dan jujur, Muhammad mampu
memuaskan hati pelanggan hingga mereka senang melakukan hubungan dagang
dengannya. Semakin dewasa, Abu Thalib bahkan beberapa kali mempercayakan
urusan bisnisnya ditangani sendiri oleh Muhammad.
       Kejujuran dan kecakapan Muhammad terdengar pula oleh seorang wanita
pengusaha bernama Khadijah. Ia pun mempercayakan kafilah dagangnya pada
Muhammad dan mendapati bahwa ia selalu mendapatkan keuntungan yang besar.
Semakin hari Khadijah semakin mengagumi pribadi pemuda Muhammad sehingga
ia pun meminta tolong pada kerabatnya untuk mencari tahu apakah Muhammad
bersedia menikah dengannya. Muhammad bersedia dan beberapa waktu kemudian
dengan diantarkan paman dan kerabatnya Muhammad pun melamar Khadijah.
Pada saat pernikahan dilangsungkan, Muhammad berusia 25 tahun dan Khadijah 40
tahun.

Menjadi Rasulullah
      Pasangan suami isteri Muhammad dan Khadijah hidup tentram dan bahagia.
Tiga anak lelaki dan tiga anak perempuan yang kemudian yang lahir dari rahim
Khadijah melengkapi kebahagiaan mereka. Muhammad pun hidup dengan memiliki
kecintaan yang sangat mendalam pada isteri dan anak-anaknya.
      Di saat banyak lelaki Mekah yang berlaku sewenang-wenang pada isterinya,
Muhammad sangat santun dan penuh kasih sayang pada isterinya. Di saat
kebanyakan anak perempuan yang lahir dikubur hidup-hidup karena dianggap
sebagai aib yang memalukan, Muhammad justru bangga pada anak-anak
perempuannya. Si bungsu Fatimah bahkan sering digendong, diciumi dan
dibawanya berpergian kesana-kemari.
      Meski hidup di tengah masyarakat jahiliyah, Muhammad tak sekalipun
mengikuti kebiasaan dan perilaku mereka. Ia tidak menyembah berhala, tidak
berlaku sewenang-wenang, tidak berjudi juga tidak meminum khamr. Setelah
berkeluargapun keluarganya tumbuh dalam kesucian yang sama. Mereka menjadi
keluarga yang harmonis tanpa dikotori adat kebiasaan jahiliyah.
      Menjelang empat puluh tahun, Muhammad yang sering bertafakur,
merenung memikirkan upaya menyadarkan kaummnya dari kebiasaan buruk,
sering menyendiri ke Gua Hira, diiringi bekal dan doa tulus dari Khadijah. Hingga
suatu hari Allah mengirimkan Malaikat Jibril yang membawa wahyu surat Al-Alaq
ayat 1 sampai 5. Mulai saat itu pula Muhammad bin Abdullah diangkat menjadi Nabi
dan Rasul Allah.

Menyebarkan dakwah Islam
       Begitu diangkat menjadi Nabi, maka Khadijahlah orang pertama yang
menyatakan keimanan kepadanya. Khadijah tentu saja mempercayai ajaran yang
diserukan Muhammad. Bukan saja karena ia adalah suaminya, tetapi juga karena
ia mengenal dengan baik pribadi Muhammad sejak sebelum menikahinya.
Muhammad adalah Al-Amin, pribadi tanpa cela yang terpercaya. Setelah Khadijah,
keluarga dekatnya pun beriman kepada Nabi Muhammad, yaitu ketiga anaknya
yang masih hidup, Ummi Kultsum, Ruqayah dan fatimah, anak asuhnya Zaid bin
Haritsah, serta sepupunya yang masih belia Ali bin Abi Thalib. Di luar keluarga
dekatnya, beberapa kenalan dan sahabatnya juga beriman kepadanya, diantaranya
Abu Bakar.
      Pada masa-masa awal ini, dakwah Islam masih dilakukan secara sembunyi-
sembunyi. Secara pribadi dan perlahan-lahan, beberapa kenalan mulai diajak untuk
mengikuti seruan Nabi Muhammad, menyembah Allah semata dan memurnikan
ketaatan hanya kepadaNya. Dengan seruan ini berarti, tidak ada lagi penghambaan
kepada berhala dan kepada manusia. Tiada lagi kesewenangan dan perbedaan
kemuliaan seseorang berdasarkan harta, tahta dan garis keturunan. Kesantunan,
kejujuran dan keadilan dijunjung tinggi, kehidupan dimuliakan, sehingga mereka
yang masuk Islam tidak lagi mengubur anak perempuannya hidup-hidup.
      Dalam masa sembunyi-sembunyi ini, kaum kafir Quraisy sesungguhnya
sudah mulai mendengar bahwa Muhammad membawa ajaran yang berbeda dari
ajaran nenek moyang mereka. Kaum kafir Quraisy mulau gelisah, tetapi mereka tak
dapat berbuat apa-apa karena Nabi Muhammad berdakwah diam-diam.

Tantangan dan rintangan dakwah
      Kira-kira tiga tahun lamanya Rasulullah menyebarkan Islam secara
sembunyi-sembunyi. Umat Islam pun semakin banyak jumlahnya hingga kaum
kafir Quraisy semakin curiga dengan apa yang dilakukan oleh Muhammad dan
kawan-kawannya.
      Pada akhirnya Allah menurunkan perintah agar dakwah islam dilakukan
secara terang-terangan. Maka dimulailah seruan terbuka kepada umat manusia
untuk beriman kepada Allah dan RasulNya serta taat pada setiap perintah dan
larangan Allah dan RasulNya.
      Beitu dakwah terang-terangan ini berlangsung, kaum kafir Quraisy segera
saja melakukan perlawanan. Mereka membantah, mencemooh bahkan menyiksa
umat Islam. Betapapun baiknya pribadi Rasulullah dan para pengikutnya, begitu
mereka diminta untuk taat kepada Allah dan Rasulnya mereka menolak. Mereka
tidak mau meninggalkan ajaran nenek moyang mereka dalam menyembah berhala
dan mereka tidak mau nafsu dunia mereka dibatasi seperti berzina, berjudi,
memperbudak manusia, minum khamer dan lainnya.
      Saat melawan Rasul dan umat Islam, mereka tak henti-hentinya melakukan
ejekan, hinaan dan gangguan. Mereka menyebut Muhammad sebagai tukang sihir,
orang gila dan Al-Qur’an hanyalah dongengan orang-orang masa lalu. Mereka juga
kerap memukul, melempari dan mencambuki orang yang diketahui masuk Islam.
Terutama bila orang itu adalah budak mereka, atau orang miskin yang tidak punya
harta, kedudukan dan kerabat yang bisa melindungi mereka. Lebih buruk lagi,
mereka bahkan berani menyatakan Muhammad, yang pribadi selama hidupnya tak
pernah tercela dan diberi julukan oleh kaumnya sendiri sebagai Al-Amin, orang
yang terpercaya, dinyatakan sebagai pendusta.
      Bahkan Rasulullah yang dilindungi Abu Thalib dan didukung harta dari
Khadjah pun tak luput dari ganggung. Ia pernah ditimpuki batu, dilempari kotoran
hewan dan rintangi duri-duri saat berjalan menuju Ka’bah.

Pemboikotan yang menyesakkan
      Meski cobaan datang bertubi-tubi, Rasulullah Muhammad dan para
sahabatnya tetap tegar di jalan Islam. Bahkan, ketika melalui pamanya Abu Thalib,
Rasul dibujuk oleh pemuka-pemuka Quraisy dengan kekayaan berlimpah dan
kedudukan yang tinggi asalkan beliau mau berhenti berdakwah, Rasul dengan
tegas namun santunnya menjawab,
      “Wahai Pamanku, demi Allah, andaikan mereka meletakkan matahari di
tangan kananku, dan bulan di tangan kiriku agar aku meninggalkan dakwah ini,
maka sekali-kali aku tidak akan meninggalkannya, hingga Allah memenangkanku
atau aku ikut binasa bersama dakwah ini.”
      Takjublah sang paman mendengar jawaban keponakan yang dicintainya ini.
Apalagi ia tahu betul bahwa Muhammad tetaplah Al-Amin, pemuda terpercaya yang
hidupnya tiada cela.
      Maka, dengan senyum penuh kasih, Abu Thalib memberikan perlindungannya
kepada Muhammad sepanjang hidupnya dan meminta para pemuka Quraisy yang
menunggu jawaban atas bujukan mereka untuk segera meninggalkan rumahnya
      Begitu mengetahui bahwa mereka gagal menghentikan dakwah Muhammad,
dan bahkan gagal membujuk Abu Thalib untuk tidak memberikan perlindungan
pada Muhammad, kaum kafir Quraisy membuat rencana keji. Mereka bersepakat
dengan kaum-kaum lain untuk memboikot umat Islam dan menempatkan mereka
pada satu lembah yang terpencil. Mereka dilarang membantu umat Islam,
berdagang dengan umat Islam, menikah dengan umat Islam bahkan sekedar
memberi makan, minum, berkunjung, bahkan sekedar berbicara pun dilarang,
kecuali mereka bersedia menyerahkan Nabi Muhammad untuk dibunuh.
      Sejak kesepakatan kaum kafir itu ditempelkan di pintu Ka’bah, dimulailah
masa pemboikotan yang sangat memberatkan umat Islam. Mereka terkungkung di
tempat terpencil, dijauhkan dari sanak saudara dan kerabat, tidak dapat melakukan
jual beli dan tidak dapat memohon bantuan apapun. Akibatnya, semakin hari
perbekalan mereka semakin menipis dan kelaparan pun mulai mengancam
kelangsungan hidup umat Islam.
      Hampir tiga tahun berlalu. Kondisi umat Islam benar-benar memprihatinkan.
Mereka kelaparan, banyak yang menjadi lemah, sakit, bahkan meninggal dunia.
Sementara itu, sanak saudara dari orang-orang yang diboikot ini mulai resah.
Sebagian mereka yang masih memiliki rasa kasih tak sanggup melihat penderitaan
kerabat mereka. Dari satu dua orang, akhirnya terkumpulan sekitar sepuluh orang
yang bertekad akan membatalkan pemboikotan. Maka pergilah mereka menuju
Ka’bah untuk merobek piagam pemboikotan itu. Tetapi, alangkah terkejutnya
mereka menemukan bahwa piagam itu telah habis dimakan rayap kecuali satu kata
yang berbunyi bismikallahuma (dengan namaMu ya Allah). Maka usailah masa
pemboikotan ini.

Tahun kesedihan
       Hanya beberapa bulan setelah masa pemboikotan berakhir, paman
Rasulullah yang selama ini menjadi pelindungnya meninggal dunia. Selang
beberapa bulan kemudian, isteri tercinta Rasulullah, teman hidupnya, pemupuk
semangatnya, penopang dana dakwahnya, Khadijah ra, wafat pula.
       Betapa sedihnya hati Rasulullah dengan kepergian dua orang yang amat
dikasihinya ini. Sementara bagi kaum kafir, wafatnya Abu Thalib dan Khadijah
justru membuka peluang besar bagi mereka untuk semakin menekan dakwah Rasul
dan menyakiti dirinya beserta sahabat-sahabatnya. Maka tekanan demi tekanan
kembali dirasakan umat Islam secara bertubi-tubi. Begitu mendalamnya duka
Rasulullah pada saat itu sehingga tahun itu dinamakan sebagai tahun kesedihan
atau tahun duka cita.
      Meski demikian, Rasul dan para sahabat tidak menjadi lemah iman. Benar
bahwa pemuka Quraisy, pelindung Rasulullah, Abu Thalib telah tiada. Benar bahwa,
teman sejati dan penopang dakwah yang mulia, Khadijah sudah wafat. Tetapi,
keimanan yang teguh dari Rasul dan sahabatnya meyakini bahwa Allahlah penolong
dan pemberi perlindungan yang sesungguhnya. Maka, tak surut sedikitpun
semangat mereka dalam menyebarkan Islam.
      Bahkan, Rasulullah mulai mendatangi suku-suku, kabilah-kabilah serta
anggota masyarakat dari berbagai penjuru negeri untuk didakwahi. Beliau
berdakwah pada masyarakat kota Thaif, kaum Bani Ghifar, Bani Hanifah, Bani Kalb,
dan kepada pemuda-pemuda dari Yastrib yang datang untuk melangsungkan haji.
Sebagian dari mereka yang diseru Rasulullah menolak ajakannya untuk masuk
Islam, tetapi tidak sedikit pula yang beriman dan pulang ke kampung halaman
masing-masing dengan membawa semangat berdakwah.

Meninggalkan Mekah
       Semakin bersemangat Rasul dan sahabatnya berdakwah, semakin
bersemangat pula kaum kafir Quraisy menyakiti mereka. Tidak sedikit yang
mengalami siksa fisik yang berat hingga menemui ajalnya. Sebagaimana yang
diterima oleh keluarga Amr bin Yasir.
       Karena mereka teguh beriman kepada Allah, sang ayah, Yasir dan isterinya
Sumayyah dibunuh secara keji setelah terlebih dahulu disiksa secara bertubi-tubi.
Anak mereka Amr, turut pula disiksa bahkan harus menyaksikan kematian ayah
bundanya di depan matanya.
       Siksaan demi siksaan yang semakin keras mulai membuat umat Islam tak
berdaya. Mereka tetap tegar beriman, tetapi mereka kadang merasa tak sanggup
bila harus menghadapi siksa dan melihat kematian orang tercinta di depan mata.
       Berdasarkan wahyu dari Allah, maka Rasulullah pun menetapkan sudah
saatnya bagi kaum muslimin untuk meninggalkan kampung halaman mereka,
Mekah dan mencari tempat hidup yang lebih baik, yang lebih menentramkan hidup
dan dakwah mereka.
       Berdasarkan pengamatan Rasulullah selama beberapa waktu, ditambah pula
beberapa pemuda Yastrib sudah beriman dan telah giat berdakwah di tengah
kaumnya, maka dipilihlah Yastrib yang kini dikenal sebagai Madinah sebagai kota
tujuan hijrah.
       Serombongan demi serombongan umat Islam pun berangkat hijrah ke
Yastrib. Tentu saja kesedihan melanda hati mereka. Betapa tidak, mereka harus
meninggalkan tanah kelahiran yang mereka cintai, meninggalkan kerabat dan
sanak saudara yang sesungguhnya masih mereka kasihi, dan juga meninggalkan
segala harta benda yang tidak mungkin dibawa dalam perjalanan jauh menuju
Yastrib. Tetapi demi mempertahankan agama dan kehidupan mereka, dengan
basmallah mereka kuatklan diri untuk melangkah meninggalkan kampung halaman.
Selamat tinggal Mekah…

Hijrahnya Rasul
      Ketika serombongan demi serombongan umat Islam hijrah ke Madinah,
betapa marahnya kaum kafir Quraisy. Maka sedapat mungkin mereka menghalang-
halangi setiap orang yang ingin berhijrah dan mereka bahkan berencana untuk
membunuh Rasulullah yang saat itu masih berada di Mekah.
      Ketika rencana pembunuhan Rasulullah semakin matang, perintah Allah pada
Rasul untuk berhijrah pun tiba. Maka Rasul pun bersiap-siap berangkat dengan
menunjuk Abu Bakar sebagai teman perjalanannya.
      Namun, pada saat itu, kaum kafir Quraisy sudah menyiapkan rencana
membunuh Rasulullah, bahkan mereka sudah menyiapkan orang-orang di sekitar
rumah Rasul, untuk membunuhnya di waktu malam.
      Dengan izin Allah, Rasul mengetahui rencana ini dan menyiapkan satu taktik
untuk mengelabui mereka. Dimintanya Ali untuk tidur di tempat tidurnya dan
perlahan, dengan mengucap bismillah Rasul menaburi pasir ke arah orang-orang
yang berjaga di sekitar rumahnya.
      Subhanallah, ketika Rasulullah melangkah keluar dari rumah, tidak satupun
dari mereka yang dapat melihatnya, sehingga ketika mereka pada akhirnya masuk
mendobrak pintu dan bermaksud menyergap Rasul di pembaringannya, mereka
sangat terkejut mendapati di sana hanya ada Ali bin Abi Thalib.

Membangun Madinah
       Setibanya di Madinah, Rasulullah segera membangun masjid sebagai
bangunan pertama yang didirikannya. Penduduk Madinah dan para sahabat yang
telah lebih dahulu berhijrah bahu membahu mebantunya bekerja. Mereka semua
bergotong royong dengan penuh kesungguhan dan keikhlasan.
       Penduduk Madinah memang telah lama menanti-nanti kedatangan Rasulullah
SAW. Selama ini, berkat dakwah para sahabat dan pemuda Yastrib yang dulu pergi
ke Mekah, mereka telah menjadi golongan mukminin. Tetapi mereka belum pernah
berjumpa dengan Rasul sehingga kedatangan Rasulullah disambut dengan penuh
sukacita.
       Di Madinah inilah umat Islam bisa hidup dengan damai dan tentram. Mereka
bisa berdagang, membangun keluarga, juga beribadah dengan leluasa. dan dengan
keleluasaan ini dakwah Islam pun semakin menyebar di segenap penjuru negeri.
       Lewat para dutanya, Rasul mengirim surat ajakan untuk beriman pada Allah
kepada berbagai kaum, kabilan bahkan kerajaan. Sebagian menolak, tetapi tidak
sedikit pula yang menerima Islam dan menjadi penolong agamaNya.
       Sementara itu, kaum kafir Mekah yang tidak suka dengan perkembangan
dakwah Islam, terus saja mencoba mencari masalah. Dengan bantuan orang
munafik dan yahudi mereka terus saja memusuhi Islam dan menghalangi gerak
dakwah umat Islam.
       Dalam kurun waktu 10 tahun Rasulullah hijrah, dakwah Islam menyebar
bahkan hingga ke negeri Persia dan Romawi. Tercatat pula beberapa kali
peperangan besar melawan penyerangan kaum kafir, yahudi dan munafik yang
berakhir dengan kemenangan umat Islam, seperti perang Badar, Uhud, Khandak,
dan Ahzab.

Selamat jalan wahai Nabi Allah…
      Setelah 10 tahun membangun Madinah, sampailah keinginan para sahabat
untuk dapat kembali pulang ke kampung halaman. Mereka sudah merasa yakin dan
mantap untuk kembali datang ke tanah kelahiran. Rasulullah, berdasarkan wahyu
Allah pun menyetujui keinginan para sahabat yang telah lama memendam rindu
pada kampung halaman mereka.
       Dengan niat baik dan penuh kasih sayang, Rasul dan para sahabat
menyiapkan pasukan menuju Mekah. Bukan untuk memulai peperangan, melainkan
untuk mendapatkan kembali hak mereka di negeri Mekah dulu. Bagaimanapun
mereka adalah kelahiran Mekah, penduduk Mekah, dan tak pernah lupa akan tanah
kelahiran mereka.
       Dulu umat Islam pergi meninggalkan Mekah dengan kondisi terusir dan
teraniaya, tetapi Allah telah membalikkan keadaan sehingga mereka bisa kembali
dengan kondisi kuat dan penuh kejayaan. Kebencian dan kemurkaan kaum kafir
Quraisy tak mampu ditunjukkan. Kehadiran pasukan Islam yang besar jumlahnya,
penuh semangat dan tekad membuat mereka tidak berani melakukan perlawanan,
apalagi siksaan seperti di masa lalu.
       Tetapi, Rasulullah yang langsung memimpin penaklukan kota Mekah ini sama
sekali tidak menyimpan dendam dan memanfaatkan situasi untuk menyiksa balik
penduduk Mekah. Yang diucapkan Rasulullah kepada kaum kafir Quraisy yang
berbondong-bondong datang menyerahkan diri hanyalah satu pesan singkat saja,
“Pada hari ini tidak ada cercaan bagi kali, maka pergilah kalian kemana saja,
karena sesungguhnya kalian adalah orang-orang yang bebas.”
       Sesudah masa penaklukan kota Mekah, Rasulullah tidak berlama di sana.
Rasulullah kembali ke Madinah sebagai kota pusat pemerintahan Islam. Dakwah
Islam semakin meluas, dan perjalanan panjang misi Rasul pun sudah mendekati
akhir…
       Di tengah umat Islam yang semakin banyak dan kukuh dengan keimanan
mereka, ayat terakhir yaitu ayat ke 3 dari surat Al Maidah pun diturunkan, “ Pada
hari ini telah Kusempurnakan bagi kalian agama kalian dan telah kucukupkan
kepada kalian nikmatKu, dan telah kuridhai Islam itu menjadi agama bagi kalian.”
Setelah ayat ini turun, tahulah sahabat Abu Bakar bahwa Rasulullah akan segera
meninggalkan mereka untuk selama lamanya.
       Benarlah, beberapa hari setelah itu Nabiyullah Muhammad Saw pun jatuh
sakit hingga menemui ajalnya pada tanggal 12 Rabiul’Awal tahun ke 11 Hijriah.
       Para sahabat, bumi, langit dan segala isinya berduka cita. Namun, seperti
janji Allah, agama Islam tidaklah menjadi lemah dengan kepergian Rasulullah Saw,
“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang Rasul, sungguh telah berlaku
sebelumnya beberapa orang Rasul. Apakah jika dia wafat atau terbunuh kalian
akan berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang,
maka ia tidak akan dapat mendatangkan musibah walau sedikitpun dan Allah akan
memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (Ali Imran: 144)
       Selamat jalan duhai Nabiyullah, selamat jalan wahai Rasul Allah…semoga
kami selalu dapat menjadi umatmu yang istiqomah di jalanNya.

								
To top